Buku 72

VERSI CORRECTED PROOF

RADEN Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia telah mencoba menerobos hutan itu, tetapi memang terlampau sulit, sehingga lebih cepat baginya untuk melingkar di sebelah hutan liar ini. Namun dengan demikian ia telah kehilangan buruannya dan justru menemukan perkemahan Pandan Wangi di pinggir hutan itu.

“Memang sulit sekali,” berkata Sutawijaya, “tetapi jika aku menunggu sampai besok, maka aku akan kehilangan lagi.”

“Sama saja bagi Raden,” berkata Pandan Wangi, “Raden tidak akan menemukannya, meskipun Raden berusaha mencarinya malam ini.”

Sekali lagi Sutawijaya mengangguk sambil berkata, “Tetapi sama saja artinya. Dan arti itu adalah, aku kehilangan lagi buruanku.”

Pandan Wangi melihat kekecewaan yang dalam di wajah Raden Sutawijaya. Tetapi tentu tidak ada yang dapat menolongnya. Hutan yang liar itu menyimpan seribu kemungkinan yang tidak dapat diperhitungkan. Apalagi di malam hari.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Rudita yang duduk mendengarkan percakapan itu menjadi ngeri. Seandainya mereka benar-benar akan memasuki hutan itu di malam hari, maka ia akan menjadi beku karenanya.

Rudita itu terkejut ketika ia mendengar aum harimau di tengah-tengah hutan. Sejengkal ia bergeser mendekati Pandan Wangi. Sedang Prastawa yang mendengar suara itu juga justru mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak pergi dari tempat duduknya. Ia lebih senang duduk di antara para pengiringnya daripada duduk bersama-sama dengan Rudita, meskipun ia sudah tidak curiga lagi terhadap para pengawal Raden Sutawijaya.

Dalam pada itu, maka mereka pun sempat juga menghirup minuman panas yang dihidangkan oleh para pengiring dan bahkan makanan yang sudah dihangatkan. Nikmat sekali.

“Baiklah,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “aku akan ikut berstirahat di sini. Besok pagi-pagi benar, aku akan menyerahkan arah perjalananku kepada kalian. Apakah aku akan kembali atau aku akan mencari terus orang-orang yang selalu membuat kerusuhan di Mataram itu.”

Dan hampir di luar sadarnya Swandaru berkata, “Bagaimana jika kita pergi bersama mencarinya di seluruh hutan ini. Mungkin mereka memang bersarang di dalam hutan ini.”

“Tergantung kepada Pandan Wangi. Jika aku diizinkan, aku masih akan mencarinya di dalam hutan ini. Alangkah berterima kasihnya Mataram jika kalian pergi bersamaku.”

Sejenak tidak ada yang menyahut. Rudita yang duduk di sebelah Pandan Wangi menjadi termangu-mangu. Lalu katanya, “Raden, tetapi bukankah orang-orang itu sudah tidak berada di Mataram lagi?”

“Siapa?” bertanya Sutawijaya pula.

“Orang-orang yang Raden cari.”

“Sudah aku katakan, mereka telah menyeberang sungai itu, dan berada di atas Tanah Perdikan Menoreh.”

“Jika demikian sebenarnya Raden sudah tidak perlu bersusah payah lagi. Biar sajalah mereka pergi ke mana mereka kehendaki. Tetapi bukankah dengan demikian berarti mereka sudah tidak mengganggu daerah Mataram lagi?”

“Ya, sekarang mereka memang tidak mengganggu daerah Mataram lagi. Tetapi entahlah besok pagi. Atau bahkan mungkin, sekarang ini mereka telah menyeberang ke Timur dan mulai lagi mengganggu orang-orang yang tinggal di daerah yang masih agak sepi.”

Rudita mengerutkan keningnya. Katanya, “Tentu tidak, Raden. Mereka tentu sudah lari ketakutan, jika mereka mengetahui Raden sedang mengejarnya.”

Sutawijaya memandang Rudita sejenak. Jawabnya kemudian, “Ya. Mereka tentu akan lari ketakutan.”

Rudita tidak mengerti tanggapan Raden Sutawijaya yang sebenarnya. Kenapa tiba-tiba saja ia mengiakan kata-katanya. Namun dengan demikian ia menjadi terdiam.

Dalam pada itu, Agung Sedayu-lah yang berkata, “Jika Pandan Wangi menyetujui, aku bersedia besok pagi memasuki hutan ini untuk mencari jejak. Sekaligus berburu binatang buas. Bukankah tidak banyak bedanya? Namun jika kita kurang hati-hati, kitalah yang justru akan diburu oleh orang-orang itu, seperti kita hampir saja menjadi mangsa seekor ular naga.”

Swandaru memandang Pandan Wangi pula seolah-olah sedang menunggu. Ialah yang paling berwenang menentukan, apakah ia sependapat atau tidak.

Setelah merenung sejenak, maka Pandan Wangi pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah. Kita besok pergi bersama-sama.”

“Jangan pergi,” Rudita mencoba mencegahnya, “biarlah mereka pergi, Pandan Wangi. Tetapi sebaiknya kita menunggu di sini bersama para pengiring.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya seperti kepada adiknya yang kecil ketika merengek minta mainan, “Kau sajalah yang tinggal di sini bersama beberapa orang pengiring yang akan menunggui kuda kita dan menyediakan makan kita seperti sekarang ini.”

“Tetapi sebaiknya kau tidak pergi.”

“Aku ingin pergi, Rudita. Akulah tuan rumah di sini. Akulah yang paling pantas mengantarkan tamu-tamu yang menjelajahi daerah Tanah Perdikan Menoreh.”

“Tetapi mereka bukan tamu. Mereka adalah orang-orang yang ingin berperang.”

“Dan kita adalah orang-orang yang sedang berburu. Kita sudah sepakat untuk berburu di hutan liar itu,” jawab Pandan Wangi, “dan kita sekarang mendapat kawan yang cukup banyak. Bukankah semakin banyak kawan kita, perjalanan kita akan menjadi semakin aman?”

Rudita memandang wajah Pandan Wangi dengan gelisah. Agaknya Pandan Wangi pun sudah tidak mau mendengarkan kata-katanya lagi. Ia menyesal, bahwa ia sudah ikut di dalam rombongan, bukan saja berburu di daerah yang liar, tetapi orang-orang itu rasa-rasanya seperti orang-orang liar juga, yang sedang berkelahi melawan alam di jaman-jaman manusia hidup di daerah hutan-hutan yang lebat. Hidup di dalam jaman perburuan tiada henti-hentinya. Membunuh dan dibunuh binatang buas dan sesama manusia.

“Kini mereka pun sedang berburu manusia,” berkata Rudita di dalam hatinya.

Namun Rudita tidak akan dapat mencegah orang-orang yang masih saja suka berburu itu. Sedang untuk tinggal di perkemahan itu pun rasa-rasanya terlalu ngeri. Beberapa orang pengiring yang tinggal tentu tidak setangkas Pandan Wangi. Dan tentu tidak akan dapat membidik mata ular dengan lemparan tombak.

“Di daerah yang buas memang sebaiknya berada di antara orang-orang yang garang seperti mereka itu untuk menyelamatkan diri,” berkata Rudita di dalam hatinya.

“Pandan Wangi,” berkata Rudita kemudian, “baiklah jika demikian. Jika kau pergi, aku pun akan pergi. Apalagi jika menurut penilaianmu semakin banyak orangnya, akan menjadi semakin aman.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi jalan terlalu sulit di tengah-tengah hutan itu.”

“Itulah yang menyenangkan, Rudita. Kita sudah terlalu lama hidup dalam kesenangan. Hampir tidak pernah berbuat apa-apa, sehingga sekali-sekali kita harus melatih diri kita sendiri mengatasi kesulitan jasmaniah. Berburu di hutan liar ini adalah cara yang baik untuk itu.”

“Kalian memang mencari kesulitan. Jika kalian ingin, kalian tentu dapat menyediakan uang untuk mengupah beberapa orang untuk mendapatkan binatang buruan yang kalian kehendaki. Kijang, rusa atau kancil. Bahkan harimau loreng sekalipun asal uang itu cukup banyak.”

“Juga dapat untuk berburu orang-orang bersenjata sekalipun. Tetapi kita tidak yakin bahwa usaha itu akan dapat hasil baik seperti yang kita harapkan,” potong Sutawijaya.

“Tentu itu bukan persoalan kita, Raden. Jika kita sudah mengadakan pembicaraan, maka itu harus berhasil. Jika tidak, kita tidak usah membayarnya.”

“Mungkin hal semacam itu dapat dilakukan di dalam perburuan binatang. Sebelum kita mendapat macan loreng, kita tidak akan memberikan upahnya,” sahut Sutawijaya. “Tetapi tidak bagi perburuan orang-orang bersenjata.”

“Apa bedanya, Raden?” bertanya Rudita. “Tentu kita juga tidak akan membayar upahnya, jika mereka tidak berhasil menangkap orang yang kita cari.”

“Memang kita tidak usah membayar upahnya. Tetapi kehilangan buruan, nilainya belipat dari upah yang harus kita bayarkan,” jawab Raden Sutawijaya. “Bukan sekedar seperti binatang buruan yang banyak jumlahnya.”

Rudita tidak menyahut lagi. Dipandanginya saja Raden Sutawijaya sejenak, lalu kepalanya pun tertunduk, namun agaknya Rudita itu masih belum mengerti maksud Sutawijaya.

“Rudita,” berkata Sutawijaya seperti seorang guru yang sabar mengajari muridnya yang terlampau bebal, “setiap binatang yang sama nilainya dapat dikatakan sama bagi kita. Macan loreng yang satu akan sama saja nilainya dengan macan loreng yang lain. Seekor rusa tidak banyak berbeda dengan rusa yang lain pula. Tetapi tentu tidak orang-orang bersenjata itu. Sekelompok orang bersenjata yang aku cari akan sangat berbeda nilainya dengan sekelompok yang bersenjata di sekitar perapian ini, meskipun aku hampir saja keliru. Dan tentu berbeda pula dengan sekelompok yang lain lagi yang mungkin akan kita jumpai di sepanjang perjalanan kita. Karena itu, sulit bagi kita untuk mengupah orang-orang yang sanggup berburu manusia bersenjata seperti pemburu-pemburunya itu sendiri, meskipun hal itu dapat juga sekali-sekali terjadi. Tetapi sudah tentu tidak dalam kedudukan seperti kita sekarang ini.”

Rudita tidak menjawab lagi. Bagaimanapun juga, ia tidak akan dapat mencegah perburuan yang menegangkan itu. Meskipun demikian, ia pun tidak berani tinggal di perkemahan itu tanpa Pandan Wangi.

“Bagaimana jika justru orang-orang yang diburu itu yang akan memburu aku dan para pengiring yang tugas di sini,” berkata Rudita di dalam hati. Namun demikian sama sekali tidak berkata apa pun juga.

Ketika Rudita kemudian terdiam, maka yang lain mulai berbicara. Swandaru yang sudah menahan hati terlampau lama itu berkata, “Baiklah kita mempergunakan sisa malam ini untuk beristirahat sebelum kita besok menyelusuri hutan belukar yang lebat itu. Dengan orang-orang bersenjata yang tidak kita kenal, maka hutan lebat di pinggir Praga ini tentu tidak akan kalah berbahayanya dari Mentaok, meskipun hutan ini tidak terlalu luas.”

“Aku sependapat,” berkata Raden Sutawija. “Kita dapat tidur sejenak. Mudah-mudahan bukan kita yang kemudian dikepung oleh sepasukan orang-orang bersenjata itu. Dan baru akan kita cari besok pagi.”

“Kuda-kuda kami adalah penjaga yang paling baik. Mereka akan segera membangunkan kami jika ada seseorang yang datang.”

“Orang-orangku akan berjaga-jaga,” berkata Sutawijaya.

“Bagus sekali. Giliranku adalah berjaga-jaga menjelang pagi. Jika demikian, maka aku tidak perlu lagi melakukannya. Aku akan menitipkannya saja kepada para pengikut Raden Sutawijaya dan kuda-kuda kami itu,” gumam Swandaru.

“Sst,” Agung Sedayu berdesis.

Swandaru berpaling. Dipandanginya Agung Sedayu sejenak tanpa mengerti maksudnya, kenapa ia berdesis.

“Kau samakan saja mereka dengan kuda-kuda kita,” bisik Agung Sedayu.

“O,” Swandaru menutup mulutnya, seakan-akan ingin menahan kata-katanya yang tersisa.

Demikianlah, maka mereka pun segera mencari tempat untuk beristirahat. Sebagaimana orang-orang yang biasa bertualang, maka Sutawijaya pun segera mendapatkan tempat di atas rerumputan yang kering.

“Raden,” berkata Rudita, “kenapa Raden berbaring di tempat yang kotor itu. Marilah, silahkan Raden berbaring di atas tikar ini bersama aku, dan biarlah Pandan Wangi mempergunakan yang selembar lainnya. Biarlah anak-anak itu mencari tempat mereka masing-masing.”

Swandaru hanya memandang Rudita sejenak. Tetapi ia tidak menghiraukannya lagi, karena ia pun sama sekali tidak mempergunakan sehelai tikar pun. Demikian juga Agung Sedayu, dan apa lagi Prastawa.

Tetapi ternyata bahwa Sutawijaya menolak, katanya, “Aku biasa tidur di mana pun juga tanpa lambaran, rumput kering adalah alas yang lebih hangat dari sehelai tikar pandan. Karena itu, biarlah aku tidur di sini saja bersama-sama dengan yang lain.”

“Ah,” desah Rudita, “tetapi tidak enak bagiku. Seakan-akan aku berderajat lebih tinggi dari Raden. Karena itu silahkan Raden tidur di sini.”

Sutawijaya tertawa. Katanya, “Kau terlalu baik hati. Kau mencoba untuk menghormati orang lain yang menurut pendapatmu pantas dihormati. Tetapi biarlah aku di sini. Itu bukan salahmu. Aku sendirilah yang menentukan.”

Rudita tidak menyahut lagi. Tetapi untuk beberapa lamanya ia mengawasi saja Raden Sutawijaya yang berbaring di rerumputan kering dekat perapian. Demikian juga para pengiringnya yang segera bertebaran mencari tempat masing-masing. Namun demikian beberapa orang masih tetap duduk di tempatnya untuk berjaga-jaga, karena bahaya dapat datang setiap saat, selagi mereka tidur dengan nyenyak.

Malam itu ternyata tidak ada sesuatu yang menarik perhatian. Agung Sedayu dan Swandaru tidak perlu lagi bertugas di akhir malam. Bahkan keduanya sempat tidur dengan pulasnya, karena di perkemahan itu rasa-rasanya menjadi semakin aman dengan kehadiran Raden Sutawijaya bersama para pengiringnya.

Namun dalam pada itu Rudita-lah yang ternyata tidak dapat memejamkan matanya sama sekali. Bukan saja karena ia merasa segan kepada Raden Sutawijaya, yang menurut gambarannya adalah seorang putera sultan yang berkuasa di seluruh Pajang, namun hatinya juga digelisahkan karena besok mereka harus melanjutkan perburuan mereka. Bukan saja berburu binatang buas, tetapi juga berburu manusia. Manusia yang bersenjata lebih tajam dari taring harimau yang paling ganas.

Ketika kemudian fajar menyingsing, maka mereka pun segera bangkit dan membenahi diri. Beberapa orang dari mereka pun segera memperbesar nyala perapian dan menjerang air untuk minum.

Sementara itu. Pandan Wangi pun mendahului orang-orang lain pergi ke belik di bawah pohon yang besar itu. Kemudian baru yang lain berturut-turut membersihkan diri mereka.

“Apakah kau tidak akan mandi?” bertannya Pandan Wangi kepada Rudita.

“Aku tidak dapat pergi sendiri. Aku belum mengetahui letaknya.”

“He, kenapa sendiri? Bukankah semua juga pergi ke belik itu?”

“Aku tidak mau bersama dengan mereka.”

“Kenapa?”

Rudita menggelengkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia bertanya, katanya, “Pandan Wangi, apakah setelah semuanya selesai, kau mau mengantarkan aku?”

“Ah,” Pandan Wangi tidak dapat menahan senyumnya, katanya, “apakah kau tidak malu ditertawakan oleh orang-orang lain?”

“Mereka tidak akan mentertawakan. Aku tidak dapat berbuat lain daripada itu.”

Pandan Wangi menjadi iba juga kepada anak manja itu. Karena itu maka katanya, “Baiklah. Marilah, agaknya semuanya sudah hampir selesai. Jika kita sampai di tempat itu, maka semuanya tentu sudah kembali ke perkemahan ini. Tetapi sudah barang tentu aku tidak dapat mendekati belik itu apabila yang lain baru mandi.”

“Ah, jika begitu, nanti saja setelah mereka selesai sama sekali.”

“Itu akan membuang waktu.”

Rudita memandang wajah Pandan Wangi dengan tatapan mata yang sayu, sehingga akhirnya Pandan Wangi berkata, “Baiklah. Kita menunggu sejenak.”

Demikianlah, setelah langit semakin terang barulah semuanya selesai mandi. Dan barulah Pandan Wangi mengantarkan Rudita pergi ke belik itu. Seperti seorang ibu mengantar anaknya ke pakiwan di malam hari.

Ternyata Rudita hanya mencuci mukanya. Namun demikian badannya merasa segar dan rasa-rasanya kekuatannya menjadi bertambah-tambah.

Tetapi ia menjadi heran melihat Pandan Wangi yang sama sekali tidak memperhatikannya. Yang diperhatikan justru rerumputan dan gerumbul-gerumbul perdu di sekitar belik itu.

“Apa yang menarik perhatianmu, Pandan Wangi?” bertanya Rudita.

Pandan Wangi tidak menyabut. Tetapi sesuatu memang sangat menarik perhatiannya.

Sejenak Rudita menjadi termangu-mangu. Dipandanginya saja Pandan Wangi yang kadang-kadang berjongkok, kadang-kadang menyibakkan dedaunan perdu.

Akhirnya Rudita justru menjadi khawatir, sehingga sekali lagi ia bertanya, “Pandan Wangi, apa yang kau lihat?”

Pandan Wangi hanya berpaling sejenak, namun kemudian ia kembali merenungi gerumbul-gerumbul di sekitarnya.

Rudita meniadi semakin cemas. Bahkan ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah Pandan Wangi telah kesurupan demit belik itu?”

Tetapi sejenak kemudian, Pandan Wangi itu memanggilnya, “Rudita, kemarilah.”

Dengan tergesa-gesa Rudita mendekat, meskipun beberapa langkah dari Pandan Wangi ia berhenti sambil memperhatikan gadis itu. Tetapi agaknya gadis itu tidak sedang kemasukan hantu.

“Apa yang kau perhatikan?”

“Kemarilah, lihatlah.”

“Apa?”

“Rerumputan ini.”

“He, kemana kau?” bertanya Rudita ketika ia melihat Pandan Wangi menyelusuri sesuatu.

“Telapak kaki di atas rerumputan. Ranting-ranting perdu yang berpatahan.”

“Ah, tentu orang-orang yang pergi ke belik ini lebih dahulu dari kita.”

“Mereka tidak akan sampai sejauh ini. Semula aku menduga demikian. Tetapi ketika aku perhatikan, maka ada sebuah jalur yang panjang. Tentu segerombolan orang telah lewat melalui tempat ini. Dari dalam hutan dan berbelok menyelusuri hutan perdu ini.”

“Ah, darimana kau tahu.”

“Lihat. Bekas-bekas kaki dan ranting yang patah ini datangnya dari arah itu dan kemudian menuju ke arah ini. Lihat, jalur ini adalah jalur yang panjang. Memang mungkin satu dua orang di antara mereka singgah ke belik itu, karena ada jalur yang pergi ke sana dan meninggalkan belik itu. Tetapi aku yakin, tentu bukan telapak kaki orang-orang kita sendiri, yang datang kemari setelah gelap semalam dan pagi tadi mereka pergi ke belik ini selagi masih gelap. Mereka tidak akan menyelusuri tempat ini dalam jalur yang panjang. Tetapi mereka juga tidak sempat melihat bekas-bekas ini karena gelap.”

“Ah, sudahlah, Pandan Wangi. Kau telah mencari persoalan. Jika kau yakin demikian, kau tidak perlu mengatakan kepada siapa pun.”

“Kenapa?”

“Tentu hal-hal yang sebenarnya bukan persoalan kita, akan dikupas, diurai dan dibicarakan panjang lebar, kemudian mereka akan segera memburunya.”

Pandan Wangi tidak segera menyahut. Dan karena Pandan Wangi masih terdiam, Rudita bertanya, “Pandan Wangi, kenapa manusia harus saling memburu, tidak ubahnya seperti binatang buas di hutan? Siapa yang paling kuat, ialah yang berhak menentukan kehendaknya. Apakah itu masih harus berlaku di dalam jaman ini?”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Seharusnya memang tidak, Rudita. Kita tidak boleh saling bertengkar dan apalagi saling memburu. Tetapi bahwa manusia mempunyai sifat mempertahankan dirinya itu adalah wajar sekali. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Seperti halnva dengan kita sekarang. Tentu kita tidak akan mencampuri persoalan orang-orang bersenjata itu, jika mereka tidak melanggar hak kita. Kita tidak tahu, akibat apa yang dapat timbul karena pelanggaran yang mereka lakukan di atas Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi sudah tentu akibat yang tidak kita inginkan. Nah, kita sekarang sedang mempertahankan diri.”

“Mungkin keteranganmu dapat dimengerti Pandan Wangi. Tetapi bagaimana dengan Raden Sutawijaya? Orang-orang yang mungkin dianggapnya melanggar haknya telah meninggalkan daerah Malaram. Kenapa ia masih juga mengejarnya, dan karena itu kau pun merasa hakmu dilanggar?”

“Rudita,” jawab Pandan Wangi, “apa yang dilakukan itu pun sebenarnya salah satu bentuk pula dari pembelaan diri. Menurut Raden Sutawijaya, jika ia tidak berhasil menangkap orang-orang itu, maka pelanggaran-pelanggaran masih akan terus terjadi. Orang-orang itu masih saja akan menusuk Mataram dengan caranya setiap saat yang tidak terduga-duga. Itulah sebabnya, maka Raden Sutawijaya mencari mereka sebagai satu cara untuk membela dirinya, membela daerah yang sedang dibukanya itu.”

“Dan kau tidak berbuat apa-apa atas pelanggaran yang dilakukan olehnya pula?”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, “Jadi, bagaimana menurut pendapatmu? Apakah aku harus bertindak atas Raden Sutawijaya?”

“Tentu tidak, Pandan Wangi. Jangan. Ia adalah putera Sultan Pajang, meskipun putera angkat.”

“Jadi bagaimana?”

“Kau dapat berbuat serupa terhadap orang-orang lain itu. Mereka tidak mengganggu Tanah Perdikan Menoreh. Persoalannya adalah persoalan Mataram dengan orang-orang itu. Kita tidak usah mencampurinya.”

Pandan Wangi memandang Rudita sejenak, lalu, “Sayang Rudita, aku berpendapat, mereka dapat mengganggu kita di sini. Itulah sebabnya, aku bersedia ikut mencari mereka dan jika mungkin menyelesaikan semua persoalannya, sehingga tidak berkepanjangan.”

Rudita memandang wajah Pandan Wangi dengan tatapan mata yang suram. Namun ia tidak dapat memaksa Pandan Wangi untuk mengurungkan niatnya.

Pandan Wangi sebenarnya merasa kasian juga melihat tingkah laku Rudita. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa pun untuk menolongnya. Apalagi ia yakin, bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang dianggapnya bermanfaat bagi Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, agar Rudita tidak mempersoalkannya berkepanjangan, maka Pandan Wangi pun kemudian berkata, “Rudita, mungkin kita tidak usah pergi ke mana pun.”

Rudita memandang Pandan Wangi sambil bertanya, “Maksudmu?”

“Aku mengharap orang-orang itu hanya sekedar bermalam di tempat yang tersembunyi. Pagi ini mereka akan segera kembali lewat jalan ini pula.”

“He,” tiba-tiba saja wajah Rudita menjadi tegang, “apakah mereka akan lewat jalan ini pula?”

“Mungkin sekali.”

Rudita menjadi gelisah. Tiba-tiba saja ia berkata, “Marilah kita kembali ke perkemahan kita, Pandan Wangi.”

“Kita menunggu sebentar. Jika mereka lewat, kita tidak perlu mencarinya lagi.”

“Kita berdua?”

“Bukankah kita mempunyai banyak kawan?”

“Tetapi mereka tidak berada di sini.”

“Aku akan memanggil kawan-kawan kita, sementara kau bertempur melawan mereka, agar mereka tidak meninggalkan tempat ini.”

“Tidak. Aku tidak ingin berkelahi. Aku tidak sampai hati melukai apalagi membunuh sesama.”

“Jadi, kau sajalah yang memanggil mereka. Aku yang berkelahi.”

“Jangan, jangan. Sebaiknya kita kembali saja ke perkemahan.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Jika kau menghendaki demikian, apa boleh buat.”

Keduanya pun kemudian segera kembali ke perkemahan. Rudita yang cemas, bahwa orang-orang yang lewat itu akan kembali lagi, berjalan dengan tergesa-gesa. Setiap kali ia berpaling dan berkata, “Cepatlah sedikit, Pandan Wangi.”

Pandan Wangi harus menahan senyumnya melihat tingkah laku Rudita. Tetapi ia tidak mau membuat anak muda itu menjadi semakin sakit hati.

Demikianlah, akhirnya mereka pun sampai ke perkemahan ketika orang-orang yang ada diperapian yang masih menyala itu sudah menghirup air minum mereka yang hangat.

Pandan Wangi dan Rudita pun kemudian duduk pula di antara mereka. Setiap kali Rudita memandang sikap Swandaru dan Agung Sedayu yang dianggapnya tidak pantas di hadapan seorang putera Sultan Pajang. Bahkan Pandan Wangi pun agaknya menganggap Raden Sutawijaya itu kawan bermain saja. Namun ia masih menahan hatinya dan karena itu, ia masih berdiam diri saja.

Seperti yang diduga oleh Rudita, bahwa Pandan Wangi memang senang mencari persoalan, maka gadis itu pun kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya itu kepada orang-orang yang ada di sekitar perapian itu.

“Kau memang ingin mencari perkara,” desis Rudita, “seharusnya kau diam saja.”

“Ah, aku harus mengatakannya. Bukankah sudah menjadi keputusan kita untuk mencarinya. Jika aku tidak mengatakan, bahwa aku melihat jejak itu, kita nanti akan pergi ke arah yang salah.”

“Itu lebih baik. Jika kita tidak menemukannya, maka kita tidak akan berselisih dengan mereka.”

Pandan Wangi yang mengetahui perasaan Rudita itu, hanya tersenyum saja. Namun diteruskannya ceriteranya tentang jejak yang dilihatnya itu.

“Aku ingin melihatnya,” tiba-tiba saja Raden Sutawijaya berkata.

“Nanti sajalah,” cegah Swandaru, “kita menghangatkan badan kita dengan makanan dan minuman panas ini. Kemudian kita tidak hanya sekedar melihat jejak itu. Tetapi kita sudah siap untuk berangkat mencarinya.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita mempersiapkan diri. Kita akan berangkat dan langsung memburu orang-orang itu.”

Demikianlah orang-orang yang ada di perkemahan itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka makan minum secukupnya karena mereka sadar, bahwa mereka akan melakukan sebuah perburuan yang gawat.

“Makanlah, Rudita,” berkata Pandan Wangi, “jika kau ingin ikut bersama kami. Mungkin malam hari kita baru kembali ke perkemahan ini, atau bahkan besok atau lusa.”

“Ah,” desah Rudita, “ayah dan ibu tentu menanti kedatanganku dengan cemas.”

“Apakah kau ingin pulang lebih dahulu? Biarlah seorang pengiring mengantarkanmu.”

“Kau sajalah, Pandan Wangi. Antarkan aku pulang dahulu.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak mungkin, Rudita, aku sudah siap berangkat bersama sekelompok kecil ini. Mudah-mudahan aku segera dapat kembali.”

Rudita termangu-mangu. Katanya kemudian, “Jika kau pergi, aku pun ikut bersamamu.”

Swandaru mengangkat bahunya. Tetapi ia tidak berkata apa pun juga. Prastawa yang menjadi semakin jemu melihat sikap anak muda itu hanya dapat berdesis perlahan-lahan.

“Jika demikian, bersiaplah. Kita akan segera berangkat.”

Sementara itu, para pengiring Pandan Wangi dan pengawal dari Mataram pun segera bersiap. Hanya tiga orang saja yang tinggal di perkemahan menunggui kuda-kuda yang tertambat dan menyiapkan makan dan minum apabila setiap saat kelompok kecil itu datang.

Sejenak kemudian, maka sekelompok pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu pun segera berangkat meninggalkan perkemahan kecil di pinggir hutan yang lebat. Kini bagi mereka yang penting tidak lagi ingin berburu binatang, tetapi mereka akan berburu manusia. Namun tentu saja bukan sekedar untuk melepaskan hasrat untuk membunuh, atau perbuatan kejahatan yang serupa. Yang penting bagi mereka adalah memelihara kedamaian di daerah masing-masing. Tetapi bahwa yang damai itu masih harus diperjuangkan dengan cara yang keras adalah suatu keadaan yang masih harus di tempuh.

Yang mula-mula mereka datangi adalah belik kecil tempat mereka mengambil air dan membersihkan diri. Mereka ingin melihat jejak yang telah dilihat oleh Pandan Wangi.

Ternyata seperti Pandan Wangi, mereka mengambil kesimpulan, bahwa jejak itu benar-benar jejak sekelompok orang-orang yang berjalan menyusup di antara hutan perdu. Tentu merekalah orang yang sedang dicari oleh Sutawijaya. Jika orang-orang itu bukan orang-orang yang dengan sengaja melalui jalan yang tidak diketahui orang lain, maka mereka tidak akan mengambil jalan itu.

“Kita sudah menemukan jejaknya,” berkata Raden Sutawijaya, kemudian, “jagalah agar kita tidak kehilangan.

“Tetapi mereka tentu sudah jauh sekali,” sahut Swandaru.

“Kita akan mencobanya. Tetapi jika kita kehilangan jejak ini, kita benar-benar tidak akan dapat menduga sama sekali, ke mana mereka akan pergi.” Sutawijaya berhenti sejenak, lalu, “Seandainya kita tidak menemukan orang-orangnya, asal kita dapat menggambarkan jalur jalan yang mereka tempuh, sehingga mereka dapat menimbulkan kekacauan di pinggir-pinggir tanah yang sedang kami garap itu, maka kami akan dapat mengambil sikap.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Sutawijaya itu berkata seterusnya, “Nah, mumpung masih pagi. Kita sebaiknya berangkat sekarang. Aku mempunyai beberapa orang yang ahli di dalam menyelusuri jejak.”

Demikianlah, maka dua orang pengawal Sutawijaya yang dianggap cukup berpengalaman di dalam hal menyelusuri jejak telah berjalan di depan. Mereka mengikuti bekas-bekas kaki di rerumputan yang berpatahan. Kemudian ranting-ranting perdu yang disibakkan, dan bekas-bekas yang lain yang dapat diketemukan.

Di belakang kedua orang penyelusur jejak itu berjalan Sutawijaya bersama Agung Sedayu, sedang di belakangnya Swandaru bersama Prastawa. Di belakang Swandaru, Rudita berjalan dekat di sebelah Pandan Wangi. Seakan-akan ia tidak dapat berpisah lagi dengan gadis itu. Tetapi pada saat itu, perasaan Rudita sama sekali tidak sedang menilai kecantikan gadis itu, namun ia merasa paling aman berada di dekat Pandan Wangi.

Di belakang mereka berjalanlah para pengawal Raden Sutawijaya dan beberapa orang pengiring dari Tanah Perdikan Menoreh.

Ternyata bahwa mereka tidak terlalu sulit untuk mengikuti jejak itu. Agaknya orang-orang yang menyingkir dari Mataram karena tekanan yang berat dari para pengawal tanah yang baru tumbuh itu, sama sekali tidak menyangka, bahwa mereka akan diikuti jejaknya, ternyata mereka sama sekali tidak berusaha melakukan penyamaran atas jejak mereka. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Bahkan ada di antara mereka yang dengan senjata tajam, menyentuh pohon-pohon perdu, sehingga bekasnya tampak jelas sekali. Luka-luka baru pada pohon perdu itu masih mengembun getah.

Demikianlah mereka berjalan terus. Karena mereka tidak menerobos hutan yang lebat, maka perjalanan mereka agak lebih cepat daripada apabila mereka berjalan, di dalam hutan yang masih liar itu.

“Mereka berjalan sepanjang pinggiran hutan ini,” berkata salah seorang dari kedua orang yang mengenal jejak gerombolan itu.

“Ya. Itulah yang aneh,” sahut Pandan Wangi yang mendengar kata-kata itu.

“Kenapa aneh?” bertanya Sutawijaya.

“Jika kita berjalan terus dengan arah ini, kita akan sampai ke bukit padas yang keputih-putihan itu. Tidak ada sebuah desa pun yang terletak di kaki bukit itu.”

“Jika kita berbelok ke Timur?”

“Kita akan menerobos ujung hutan ini dan kita akan sampai ke tepi Kali Praga.”

“Apakah hutan itu memotong bukit yang membujur ke Timur itu?”

“Bukit itu tidak sampai ke pinggir Kali Praga.”

“Apakah yang ada di antaranya?”

“Tidak pernah disentuh oleh kaki manusia. Tetapi itu adalah kelanjutan hutan yang liar ini.”

“Itulah yang sangat menarik. Di tempat yang jarang disentuh kaki manusia. Aku justru ingin melihatnya. Mungkin di tempat itu terdapat sarang dari gerombolan yang sedang kita cari.”

“Aku kira tidak,” sahut Pandan Wangi, “daerah itu sulit sekali didapatkan air bersih. Jika kita menggali tanah, maka akan keluar airnya juga. Tetapi air itu berwarna kemerah-merahan dan berbau tanah kapur.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Air adalah kebutuhan pokok bagi kehidupan. Mungkin air berbau tanah kapur itu dapat menyegarkan pepohonan yang sesuai, tetapi tentu tidak bagi manusia. Ia tidak akan dapat hidup dengan air yang kotor, apabila di daerah lain masih dapat diketemukan air yang jernih dengan mudah.

Namun demikian, iring-iringan itu masih berjalan terus. Jejak yang mereka ikuti justru menjadi semakin jelas. Agaknya orang-orang itu menjadi semakin yakin, bahwa tidak akan ada orang lain yang akan lewat jalan itu.

Karena itulah, maka jalan mereka pun menjadi semakin cepat menuju ke daerah yang belum mereka kenal sama sekali.

Namun tiba-tiba Agung Sedayu yang memperhatikan kaadaan tempat itu dengan saksama mulai berpikir. Semakin lama justru dilihatnya jalur yang seakan-akan sebuah jalan setapak. Rerumputan bagaikan menyibak sebelah-menyebelah dan kadang-kadang didapatkannya seakan-akan sebuah tangga batu cadas.

Tetapi belum lagi ia mengatakan sesuatu, Raden Sutawijaya telah menggamitnya sambil berkata, “Kau melihat sesuatu yang kurang wajar di daerah ini.”

Belum lagi Agung Sedayu menjawab, hampir berbareng Swandaru dan Pandan Wangi berdesis, “Ya. Ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian.”

“Jalur ini,” sambung Agung Sedayu.

Ternyata anak-anak muda itu hampir berbareng merasakan sesuatu yang mereka anggap tidak pada tempatnya. Seharusnya semakin jauh mereka berjalan, maka daerah itu menjadi semakin sulit dilalui dan jejak pun menjadi semakin sukar ditelusuri. Tetapi ternyata yang mereka temui adalah sebaliknya.

Karena itulah, maka mereka pun segera berhenti. Raden Sutawijaya memberi isyarat kepada dua orang kepercayaannya untuk mendekat bersama dua orangnya vang berjalan di depan. Selain mereka, maka Agung Sedayu, Swandaru, Pandan Wangi, dan Prastawa pun berkerumun pula mengelilinginya.

“Kita bersama-sama telah melihat sesuatu yang mencurigakan,” berkata Raden Sutawijaya. “Sudah barang tentu, bahwa kita tidak boleh terjebak dalam perangkap mereka.”

Orang-orang yang mengerumuninya mengangguk-anggukkan kepala.

“Apakah salah seorang dari kalian mengetahui makna dari keadaan ini?” bertanya Sutawijaya lebih lanjut.

Sejenak orang-orang yang mengerumuninya berdiam diri. Orang-orang yang mengawal Sutawijaya itu tampaknya ragu-ragu meskipun agaknya ada juga yang akan mereka katakan.

“Raden Sutawijaya,” berkata Agung Sedayu kemudian, “agaknya kita memang sedang berjalan ke suatu tempat yang meskipun jarang sekali, tetapi sekali-sekali pernah juga dilalui orang.”

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun di luar sadarnya, ia memandang kepada Pandan Wangi yang sedang merenungi jejak yang sedang diikutinya.

“Agaknya memang demikian,” katanya kemudian, “tetapi aku belum pernah mendengar laporan tentang daerah ini, tentang orang-orang yang sering melalui jalan ini menuju ke tempat yang agaknya belum aku kenal. Pegunungan itu merupakan batas dari jarak jelajah para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Daerah seberang pegunungan itu, dan hutan yang liar yang menyilang pegunungan itu adalah daerah tidak bertuan. Maksudku, daerah itu bukan lagi termasuk daerah Tanah Perdikan Menoreh, meskipun sudah tentu masih termasuk di dalam kekuasaan Pajang. Sedangkan hutan yang liar itu pun demikian juga kedudukannya. Itulah sebabnya, kami tidak dapat mengatakan sesuatu yang mungkin ada di balik pegunungan itu dan di dalam hutan yang masih sangat liar dan buas. Yang mungkin tidak kalah liarnya dengan Alas Mentaok.”
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 27 November 2008 at 21:57  Comments (79)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-72/trackback/

RSS feed for comments on this post.

79 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Ngger kitab ini sudah ada tanda-tanda dan isyarat yang kelihatan, seperti yang terlihat ini….

    Kitab 72: jilid72

    “Ki Waskita mendesis setelah melihat isyarat itu.

    “Tapi kelihatannya masih ada satu laku lagi yang harus kita lakukan biar dapat kita gayuh kitab ini. Ini kitab yang kelihatan tapi tak dapat kita sentuh.”

    Swanduru menyela, “Kenapa Ki?”

    “Mungkin Yang mbaurekso masih ingin menahannya sampai waktunya Ngger'” Jawab Ki Waskita

  2. Saya paling sreg dg uraian Ki IS

  3. Wah, kitab 72 ternyata mengandung ilmu Ada dan Tiada….

  4. Iya nie Ki Gede kitab 72 emang penuh dengan misteri sampai2 ga bisa segera di unduh…
    i’ll wait lah pokok e…

  5. Cara downloadnya:
    Tekan CTR + ALT + SHIFT + ; + —> + = klik kanan pilih refresh…… tunggu lagi sampai yang akan didownload memberikan tanda di mouse terus klik kanan baru save as djv

  6. Wach masih belum bisa nie Ki Gede…

  7. Hutan 72 masih diselimuti gelapnya malam walapun sdh nampak sesuatu ygbergerak2.
    Mudah2an Ki GD segera menemukan jalan terobosnya

  8. wah…kalau benar memang dari WP-nya udah gak bisa, harus dicari solusi jitu…
    apa tidak sebaiknya sementara menggunakan jasa online file sharing semacam rapidshare dkk…???

  9. Ki Gede, misale file nya di Zip or di pecah jg ga bisa?

  10. klo nama filenya aja gimana Ki Gede, jadi hanya link nya aja. semacam https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/12/jilid71.doc
    terus kl mau download biar di copy paste ke address bar nya browser masing2

  11. klo nama filenya aja gimana Ki Gede, jadi hanya link nya aja. semacam hxxp://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/12/jilid71.doc
    terus kl mau download biar di copy paste ke address bar nya browser masing2

  12. Waduh keturun aku…gak ono le gugah….
    wah wis ditinggal konco2, jaga neng gardu 72.
    Ki GeDe…nyuwun tulung, pripun carane dumuki gardu 72.
    Sampun kula coba mencari-cari kok mboten saget2….
    Tulung Ki GeDe…tulung…pripuncarane……

  13. Nggih Ki Gede…
    Wordpress itu versi 2.7. Sebetulnya tidak terlalu banyak perubahan, dan semestinya teknik yang Ki Gede sebutkan bisa berhasil…

    Coba dioprek dulu deh 😉

    Kasihan, para cantrik udah mesen 15 wedang jahe lho.

  14. @atas:
    emang semua cantrik lom ada yg isa kok

    hiks

  15. “Waduuuh,…. Kalian jangan berdiam diri saja. Cobalah cari jalan keluar yang lain. Aku tidak mau bermalam dihutan. Sebab aku harus segera melaporkan kepada Ki Argapati masalah ular naga sepanjang 72 ini” ujar Rudita kepada para cantrik yang masih terpana dengan fenomena 72.

  16. “Wangi, kalau lelah biarlah engkau tinggalkan ayahmu yang baru bisa beristirahat setelah tubuhnya diforsir untuk melawan racun yang ke 72. Sebaiknya kau juga beristirahat walaupun hanya sekejap. Baringkan tubuhmu agar peredaran darahmu menjadi normal. Untuk sementara biarlah ayahmu aku yang menjaganya.
    Mudah2an tubuh ki Gede dan Obat yang aku berikan mampu mengeluarkan racun yang ke 72 itu.”
    “Kiai apakah racun itu dapat dikeluarkan malam ini juga?” Pandan Wangi bertanya setengah berbisik.
    “Sangat tergantung ngger, tergantung pada kekuatan tubuh Ki Gede. Sebab obat yang aku berikan fungsinya hanya untuk merangsang bekerjanya zat antibody yang ada di dalam tubuh Ki Gede sendiri.” jawab Ki Truno Podang berbisik pula “Dan jangan lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa ya Ngger, karena tanpa rahmat dan karunia-NYA segala upaya macam apapun tidak ada artinya”.
    “Baiklah kiai saya minta diri dulu”
    “Silahkan, …… silahkan Ngger, …….”

  17. Rame… rame… banyak yang menunggu terbitnya matahari di hari ke-72. Sabar, pasrah dan ikhlas tampak mewujud di wajah-wajah yang lelah walau bermalam-malam tidak tidur. Hilir mudik pasukan serta para senopati ADBM yang meronda di alas yang masih sangat wingit.
    Aku melewati loncatan waktu hanya untuk ikut melihat dan mengikuti perubahan zaman tanah jawa, hmm… cobaan sedang dihadapi para ADBM mania.

  18. Nih untungnya punya baby, sambil jagain bisa ngunduh kitab 72 pertama. Thx Ki GD

  19. Untung belum tertidur….bisa dapat petunjuk dari Ki GeDe jurus-jurusnyang rumit di kitab 72

    Matur suwun Ki GeDe….

  20. Pancen leres….. akhirnya dapat dihidangkan oleh Pandan Wangi sekaitan izin oleh Ki DD Menoreh. Hayoo sanak kadang… kita nikmati mumpung sego liwet masih anget… .
    Mohon diizinkan menikmatinya wahai para ADBM Mania, kami dari Pasukan SAGA BARONG ingin meneguk sedikit tetesan ilmu yang edap-edapi di tlatah JawaDwipa ini.

    # maap Ki Harry .. URL Anda kita hapus. Bukan begitu cara nulis URL.

    • Salam saga

  21. ada yg rumahnya Pajang nggak ya?
    kalo ada mo tanya neh…
    masjidnya ki ageng Ngenis itu sebelah mananya pasar Jongke ya

  22. Ayo…. maju tak gentar…., jurus 71 wis metu, meski durung kewaca lontare, sing penting ngunduh jurus 72 ne sisan, muaremm…. wis seminggu luwih posone je….

  23. Mantap… Panembahan agung mulai disebut-sebut, Siap-siap kyai Gringsing..

  24. mohon maap kalo OOT.
    mau nanya, yg pake nama Kiai Sogo Welang itu beneran mas Harry Panca yg ada di tipi itu ya?
    Saga Barong itu apa ya?
    terima kasih.

  25. Lha Cantrik padhepokan sing kagungan ngelmu kaya Panembahan Agung sapa ya…..?????
    Apa Ki Pandanalas, apa Ki Menggung, apa mas Risang….???

    • ke-3-nya masih berstatus “BAKAL CALON”……belom resmi
      menjadi peWARIS elmu,

      tunggu 15 taun lagi….hiiikSS,

      • wah Ki Gun tak uber, jebul mlayu mrene

        • njih Mbah_Man…..urun komen ben ANA jejak2 ning keNE,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: