Buku 64

Demikianlah Swandaru dan Agung Sedayu benar-benar telah mengelilingi Kademangan Sangkal Putung tanpa ada yang dilampauinya. Terutama padukuhan-padukuhan yang terdekat dengan induk Kademangan, yang telah mengirimkan beberapa orang anak-anak mudanya untuk pergi ke Sangkal Putung, berdiri berderet-deret ditepi parit.

Dalam pada itu, di Kademangan Ki Demang Sangkal Putung masih berbicara sejenak dengan para bebahu Kademangan dan kedua orang guru yang tinggal di Kademangan itu pula, Kiai Gringsing dan Sumangkar. Tetapi karena malam menjadi semakin larut, maka para bebahu yang lainpun segera minta diri pula.

“Swandaru masih belum mencapai separo perjalanannya” desis Ki Jagabaya “kasihan anak itu.”

Ki Demang tidak menyahut. la hanya tersenyum saja ia tahu benar, bahwa keadaan di Kademangan ini sudah cukup baik, sehingga tidak akan ada bahaya diperjalanan.

Kecuali kalau karena lelah dan kantuk, anak itu dilemparkan oleh kudanya. Tetapi Swandaru dan Agung Sedayu adalah penunggang kuda yang baik.

Demikianlah, setelah Kademangan itu menjadi sepi, Kiai Gringsing dan Sumangkar duduk diserambi gandok. Pendapa Kademangan telah menjadi lengang dan dihalamanpun tidak ada lagi anak-anak muda yang berkeliaran, selain beberapa orang yang berada di gardu. Keduanya masih belum dapat tidur jika Swandaru dan Agung Sedayu masih belum datang kembali.

Namun selain kedua anak-anak muda itu, keduanya melihat keadaan yang berkembang didaerah Selatan ini dengan sudut pandangan mereka sendiri. Meskipun demikian agaknya keduanya mendapatkan beberapa persesuaian penilaian atas keadaan itu.

“Mudah-mudahan goncangan-angan atas nilai peradaban ini tidak berkembang terus” berkata Kiai Gringsing “sebab dengan demikian keadaan akan semakin goyah, sejalan dengan perkembangan hubungan yang memburuk antara Pajang dan Mataram. Menurut Agung Sedayu, diantara para prajurit Pajang telah berkembang suatu pandangan yang sangat buruk terhadap Mataram. Bahkan ada diantara perwira yang tidak dapat mempergunakan nalarnya lagi.”

“Kesan keseluruhan, ada kecurigaan yang semakin lama semakin memuncak” sahut Sumangkar.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu “Dan disini kita menemukan goncangan-goncangan semacam itu pula, meskipun dari segi yang berbeda. Jika anak-anak muda itu tidak terkendali, maka jika terjadi sesuatu antara Mataram dan Pajang, yang seharusnya masih mungkin dikendalikan, namun api itu pasti sudah membakar jiwa anak-anak muda yang masih belum punya pegangan hidup itu. Mereka tidak akan menyadari arti dari persoalannya, tetapi mereka akan menjadi minyak yang paling peka terhadap api itu.”

“Itulah yang mencemaskan” berkata Sumangkar kemudian ”suasana yang berkembang mirip sekali dengan keadaan menjelang Pajang berdiri. Saling curiga mencurigai, saling mendendam dan berkelahi tanpa sebab.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ternyata Sumangkar yang pernah tinggal di Kepatihan Jipang memandang keadaan ini bukan saja dipermukaannya. Bukan saja riak-riak kecil diatas wajah air yang bergetar karena angin. Tetapi Sumangkar sudah menilai arus yang mengalir dibawah gelombang yang katon.

Dan Kiai Gringsingpun sebenarnya menjadi sangat cemas pula. Jika para prajurit Pajang tidak lagi mempunyai kepercayaan terhadap kehadiran Mataram, maka pengaruhnya pasti akan meluas.

Tetapi keduanya kini tidak mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu. Keduanya bukan orang-orang istana dan bukan pula perwira tertinggi prajurit Pajang. Karena itu, mereka hanya dapat berharap, agar para pemimpin di Pajang mampu mengendalikan dirinya, sehingga persoalannya dengan Mataram dapat diselesaikan sewajarnya.

Demikianlah keduanya untuk beberapa lamanya masih saja berbincang. Meskipun tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk ikut menentukan perkembangan keadaan secara pasti, tetapi mereka berketetapan hati akan menempug segala cara jikalau mungkin, untuk membantu menjernihkan suasana.

“Tetapi Sultan Pajang ternyata bukan seorang yang teguh memegang pendirian” berkata Sumangkar tiba-tiba.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sumangkar adalah adik seperguruan Patih Mantahun dari Jipang yang dikalahkan oleh Sultan Pajang, sehingga penilaiannya pasti masih dipengaruhi oleh keadaannya itu.

Namun Sumangkar melanjutkan” Aku adalah orang yang paling lunak menghadapi Pajang pada saat Jipang masih kuat. Aku memang berpengharapan, bahwa Sultan Pajang yang sekarang akan dapat mengembangkan kebesaran Demak yang hancur karena setiap orang ingin berkuasa. Setiap orang merasa dirinya berhak dan mampu memerintah. Tetapi yang terjadi adalah kehancuran yang hampir tidak dapat ditolong lagi. Dalam keadaan yang gawat itu tampil Adiwijaya. Adipati Pajang. Namun setelah ia berhasil mewarisi kekuasaan Demak, maka pemerintahan yang dipimpinnya sama sekali tidak berkembang. Orang-orang yang paling penting disekitarnya, ternyata telah pergi. Meskipun orang-orang itu lahir dari celah-celah rakyat kecil, tetapi kemampuan mereka dalam olah kanuragan dan tata pemerintahan memberikan banyak keuntungan bagi Pajang dan bagi Adiwijaya sendiri. Tetapi orang-orang itu kini tidak ada lagi diistana. Mereka telah berada di Pati dan Mataram yang baru dibuka.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah lama ia bergaul dengan Sumangkar. Tetapi jarang sekali ia menyatakan pendapatnya tentang pemerintahan Pajang. Kini agaknya ia tidak dapat menahan kecewa yang mendesak didalam hatinya terhadap Sultan Adiwijaya.

Tetapi Kiai Gringsing tidak banyak menanggapinya dalam keadaan yang semakin parah, Sumangkar pasti tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya dahulu. Dan seakan-akan terbayang dimatanya kata-kata hatinya ”Jika Arya Penangsang yang berhasil menduduki tahta, keadaan akan berbeda.”

Namun bagi Kiai Gringsing, baik Arya Penangsang maupun Adiwijaya, ternyata terdapat kelemahan-kelemahan yang mengganggu perkembangan negeri ini. Adiwijaya yang membinasakan Arya Penangsang dengan dorongan Ratu Kalinyamat, yang bahkan telah menyediakan dua orang gadis cantik buatnya, kini semakin dalam tenggelam dalam kebesarannya sendiri. Adiwijaya sibuk dengan persoalan-persoalan pribadinya, sehingga pemerintahannya seakan-akan telah dikesampingkan. Sejak Pajang berkuasa, maka tidak ada perubahan penting yang tumbuh dan tidak ada pembaharuan dapat menguntungkan rakyatnya.

Tetapi itu tidak berarti bahwa jika Arya Penangsang memegang pimpinan, Jipang akan mampu mengangkat bekas daerah kekuasaan Demak menjadi suatu negara besar. Arya Penangsang memang lebih lincah dan cita-citanya pasti melambung tinggi.

Tetapi ia adalah orang yang keras hati yang pasti akan lebih mementingkan kekerasan dari pembicaraan-pembicaraan yang baik.

Tiba-tiba Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, sehingga Sumangkar berpaling kepadanya. Tetapi Kiai Gringsing tidak berkata apapun juga.

“O” desis Sumangkar “apakah aku sudah berbicara terlampau banyak ?”

“Tidak, tidak” cepat-cepat Kiai Gringsing menyahut. Aku senang mendengar pendapatmu tentang Pajang, Pati dan Mataram. Dengan demikian barulah kau tampak, bahwa kau bukan sekedar seorang juru masak Tohpati dihutan-hutan rindang itu.
Tetapi kau benar-benar adik seperguru Patth Mantahun dari Jipang.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku telah mendapat pengampunan khusus dari Pajang. Saat itu Pemanahanlah yang membawa aku menghadap Sultan Adiwijaya. Dan aku merasa sangat berterima kasih. Sultan Adiwijaya memang seorang yang sabar dan menaruh kasihan kepada rakyatnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih menunggu, kelanjutan dari kata-kata Sumangkar. Namun Sumangkar tidak berkata apapun.

Sekali lagi Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tentu kalimat Sumangkar itu masih ada kelanjutannya. Ia pasti akan memperbandingkan sifat-sifat yang baik yang ada pada Adiwijaya dan kelemahan-kelemahannya. Tetapi kata-kata yang sudah disusunnya itu ditelannya kembali.

Justru karena itu, maka Kiai Gringsinglah yang berkata “Sultan Adiwijaya memang seorang yang sabar dan menaruh banyak belas kasihan. Tetapi cita-citanya yang meledak-ledak dimasa mudanya tiba-tiba terhenti diantara isteri-istri dan selir-selirnya.”

“Ah.”

“Memang bukan kau yang mengatakannya. Tetapi aku.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menanggapinya. Bagaimanapun juga ia masih selalu dibayangi oleh keadaannya beberapa saat yang lampau. Bagaimanapun juga ia berada didalam pasukan Tohpati yang telah mengeraskan hatinya, melawan Pajang sepeninggal Arya Penangsang.

Kiai Gringsingpun tidak mempersoalkannya lagi. Iapun sadar, bahwa Sumangkar pasti masih belum dapat dibawa berbicara terbuka sepenuhnya. Ia pasti belum dapat mengatakan seluruhnya yang tersimpan didalam hati. Juga karena ia merasa berhutang budi kepada Sultan Pajang, tetapi juga kepada Ki Gede Pemanahan.

Meskipun demikian, pandangan yang tajam dari kedua orang tua itu, mendapatkan tanggapan dan penilaian yang serupa tentang Pajang meskipun sebagian masih disimpan didalam hati.

Bahkan penilaian mereka sampai juga kepada Pangeran Benawa, Putera Sultan Pajang yang seharusnya diangkat menjadi Putera Mahkota. Tetapi menilik sikapnya yang lemah, ia tidak akan mungkin dapat mengangkat Pajang melampaui ayahnya, Sultan Adiwijaya. Pangeran Benawa adalah putera yang sangat dikasihi oleh ayah bundanya. Namun dengan demikian, Pangeran itu menjadi manja dan kehilangan kesempatan untuk menempa diri didalam linigkungan, yang lebih keras. Seperti kerasnya tantangan yang dihadapi oleh pajang saat itu.

Pangeran Benawa menganggap bahwa perjuangan ayahnya telah sampai pada titik akhir. Seakan-akan semuanya sudah tercapai. Seakan-akan Pajang telah menjadi tenang dan bahkan tertidur nyenyak.

Pangeran Benawa tidak mengena kerasnya benturan perjuangan membuka Alas Mentaok. Tidak melihat gejolak gelombang dipesisir yang diperintah oleh para Adipati
Tidak mendengar desau angin yang menghembus lajar para nelayan dan lebih-lebih lagi pedagang asing yang merapat dipantai, meskipun sampai juga ditelinganya, bagaimana perjuangan leluhurnya, Pangeran Pati Unus yang menjelajahi lautan.

Bergesernya pemerintahan dari Demak masuk kedaerah yang semakin dalam telah memisahkan Pajang dari keakraban dengan buih lautan.

“Pusat pemerintahan tidak perlu berada dipantai” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya “tetapi pimpinan pemerintahan harus menyadari, betapa pentingnya air lautan bagi tanah ini.”

Dan hidup yang dilingkungi oleh gemerlapnya istana dan cantiknya wanita telah memisahkan Adiwijaya dan Puteranya dari kerasnya gelombang dan pepohonan hutan.
Terlebih-lebih lagi, Pajang tidak berhasil menguasai hasrat hidup dan kesatuan pandangan hidup yang tercermin di dalam persoalan-persoalan kecil di Sangkal Putung dan Jati anom. Namun persoalan-persoalan kecil itu tumbuh justru pada jalur arus antara Pajang dan Mataram.

Dalam pada itu, kedua orang-orang tua yang seakan-akan lelap dalam angan-angan masing-masing itu terkejut ketika mereka mendengar derap kuda memasuki halaman.

“Mereka datang” berkata Ki Sumangkar. Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya sambil berdiri diikuti oleh Sumangkar. Keduanyapun kemudian luar dari gandok, menyongsong kedua anak-anak muda yang baru datang setelah mengelilingi seluruh Kademangan. Namun dalam pada itu, langitpun sudah mulai semburat merah. Hampir fajar.

“Perjalanan yang menyenangkan” Swandaru meloncat turun dari kudanya sambil tersenyum. Ketika seseorang datang kepadanya, maka diserahkannya kudanya-sama sekali dengan kuda Agung Sedayu yang telah turun pula.

“Aku hampir tertidur dipunggung kuda” Swandaru meneruskan. “Untunglah aku tidak seorang diri, sehingga ada kawan berbicara ditengah-tengah bulak yang dingin.

“Beristirahatlah” Berkata Kiai Gringsing kepada kedua muridnya.

“Aku akan mencuci kaki” desis Agung Sedayu sambil melangkah ke pakiwan bersama Swandaru. Tetapi langkah mereka berhenti dilongkangan ketika mereka melihat Sekar Mirah berdiri dipintu butulan

“Kau tidak mengajak aku” ia bersungut-sungut.

“Jangan mencari perkara. Mengelilingi Kademangandimalam hari terasa sangat melelahkan. Tidur sajalah”

“Bukankah kau baru saja berkelahi” sahut Swandaru

“Sayang, Wita tidak bersungguh-sungguh.”

Sekar Mirah tidak menyahut. Tetapi ketika ia mencari sesuatu dibawah kakinya, Swandaru segera berlari meninggalkannya langsung ke pakiwan dibelakang rumah.

Agung Sedayu masih berdiri termangu-mangu. la belum sempat herbicara banyak dengan gadis itu sejak ia kembali dari Alas Mentaok, karena ia segera pergi ke Jati Anom dan begitu ia kembaii, ia sudah dihadapkan pada anak-anak muda yang berkumpul dipendapa, bahkan persoalan kentongan itupun telah merampas perhatiannya. Dihari berikutnya, suasana Kademangan diliputi oleh kegelisahan karena pokal Wita pula, sehingga waktunya seakan-akan terampas habis untuk ikut berbicara tentang kemungkinan yang bakal terjadi. Apalagi semalaman ia harus bersembunyi di kandang, memanjat pohon dan mengelilingi Kademangan diatas punggung kuda.

Tetapi keduanya tidak berbicara apapun. Namun sentuhan tatapan mata merekalah yang banyak melontarkan isi hati masing-masing.

Tiba-tiba saja Sekar Mirah melangkah surut, masuk kedalam sambil berkata “Selamat tidur kakang.”

Agung Sedayu mengangguk kaku. Sebelum ia menjawab, pintu itu sudah tertutup.

Perlahan-lahan ia melangkah menyusul Swandaru dengan kepala tunduk. Terbayang kesibukan yang akan segera terjadi di Jati Anom jika kakaknya kawin kelak. Setelah itu, jalan telah terbuka pula baginya.

Setelah membersihkan dirinya, maka iapun kemudian kembali kepada gurunya, menyusul Swandaru yang telah lebih dahulu. Sejenak mereka menunggu gurunya yang juga pergi kepakiwan bersama Ki Sumangkar untuk kemudian bersama-sama menghadap Tuhannya, dalam suatu saat yang khusuk.

Setelah selesai, barulah Agung Sedayu dan Swandaru pergi beristirahat, berbaring-baring sejenak didalam bilik gandok itu.

Mereka bangkit ketika gurunya masuk keruangan itu bersama Ki Sumangkar, namun gurunya segera berkata “Berbaringlah. Kau perlu beristirahat.”

“Kami tidak terlalu lelah” jawab Agung Sedayu.

“Tidak. Kau tentu lelah. Seandainya tidak, berbaringlah. Aku tidak akan membicarakan masalah yang berat. Aku hanya akan berbicara saja untuk mengisi waktu sampai matahari naik.”

Agung Sedayu ragu-ragu sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata “Maaf, kami berbaring.”

“Ya, berbaringlah.”

Swandarupun menyahut “Tetapi dengan berbaring, aku dapat tertidur tanpa aku sadari,”

“Tidurlah jikakau mengantuk.”

Swandaru tersenyum. Tetapi ia memang lebih senang berbaring daripada duduk dibibir amben bambunya, setelah hampir semalam suntuk ia duduk diatas punggung kuda.

“Bagaimana dengan anak-anak muda itu?” bertanya Kiai Gringsing kemudian.
“Tidak apa-apa guru” jawab Swandaru “meskipun mereka masih berkeliaran dan berkumpul di-gardu-gardu, tetapi mereka sudah dapat ditenangkan.”

“Kehadiranmu memang dapat menenangkan mereka, meskipun kekecewaan masih tetap ada didalam hati. Namun mereka merasa kau perhatikan, sehingga meskipun malam telah larut, kau kunjungi mereka digardu-gardu.”

“Ya.”

“Jadikanlah suatu pengalaman” berkata Kiai Gringsing “anak-anak muda yang sudah bergerak, tetapi tidak mendapat sasaran, kadang-kadang dapat menumbuhkan persoalan tersendiri. Namun demikian, didalam keadaan yang semakin gawat ini, cobalah memelihara ikatan yang telah ada.”

Swandaru mengerutkan keningnya.

“Disadari atau tidak disadari, Sangkal Putung akan tersentuh oleh perkembangan hubungan antara Pajang dan Mataram. Jika hubungan itu semakin baik, daerah inipun akan menjadi semakin baik, tetapi jika hubungan itu memburuk, maka daerah ini akan mengalami kesulitan pula, karena daerah ini berada dijalur lurus antara Pajang dan Mataram.”

Swandaru mengerutkan keningnya. la menyadari, bahwa persoalan Pajang dan Mataram pasti akan mempengaruhi Kademangannya. Persoalan Jipang dan Pajangpun menyangkut keamanan dan ketenteraman Sangkal Putung, apalagi Mataram dan Pajang.

Justru karena Sangkal Putung merupakan daerah yang subur, maka Sangkal Putung akan dapat dijadikan daerah perbekalan yang mantap. Baik Mataram maupun Pajang didalam keadaan yang memburuk, memerlukan daerah perbekalan.

“Karena itu Swandaru” berkata Kiai Gringsing “sebelum persoalan yang menyangkut daerah ini menjadi semakin gawat, meskipun bukan itu yang kami harapkan, maka Kau lebih dahulu dapat menyiapkan dirimu sendiri dan Agung Sedayu. Maksudku, sebelum kau terlibat didaliam persoalan yang berlarut-larut tanpa diketahui ujung dan lebih baik kau selesaikan dahulu persoalan-persoalan pribadimu.

Tiba-tiba hampir berbareng Swandaru dan Agung Sedayu bangkit. Hampir berbarengan pula keduanya bertanya “Maksud guru?”

“Tentu persoalan-persoalan kalian berdua sebagai anak-anak muda. Bukankah menurut Agung Sedayu, anakmas Untara juga hampir menginjak masa baru didalam hidupnya ? Nah, jika demikian, Swandaru dan Agung Sedayupun dapat segera menyusulnya. Tetapi tentu terlebih dahulu, persoalan-persoalan yang menyangkut adat upacara harus dipenuhi.”

Kedua anak-anak muda itu menundukkan kepalanya,”Maksudku, setelah anakmas Untara selesai, ayahmu Swandaru, harus segera datang ke Menoreh. Ki Gede Menoreh pasti sudah terlampau lama menunggu. Apalagi ia kini menjadi cacat. Tentu ia memerlukan seseorang yang akan segera menjadi pelindung Pandan Wangi. Berbareng dengan itu, anakmas Untarapun harus menghadap Ki Demang Sangkal Putung, untuk minta secara resmi, agar Sekar Mirah diperkenankan hidup bersama Agung Sedayu.”

(***)

This is unproof version

From Kasdoelah’s Collection
Retype: Goenas
Date: 11-28-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 23 November 2008 at 07:23  Comments (83)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-64/trackback/

RSS feed for comments on this post.

83 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Pandan Alas!…..”

    “Hadir…… paling ngarep”

    • Wah…..wis patang taun kepungkur 😐

      • Patang tahun punjul 6 jam

  2. Bondan nomor 2 lho…

  3. Halah, ..kok masih sepi?
    (celingak-celinguk, ..)

    Mbalik ae nang gandok no 62, sopo ngerti wis mulai dibagek raskit (=rangsum kitap) ..

  4. Mancing di lapak empat neh. Pasti dapet ikan adbm
    64 ki-LoH.

  5. yo’opo iki kok podho ngantri ndek kene seh?yo wis aku tak melok antri pisan yo

  6. Aku yo melu ngantri jg ach…

  7. Jaman gemiyen (dulu) saya nunggu adbm 1 bulan 1 jilid dengan sabar. Total 396 jilid= +/- 400 bln atau +/- 33 th?
    Sekarang saya sudah sepuh nunggu ADBM 1 jilid 1 hari saja kok nggak sabar ya……hehe

    Matur nuwun para kisanak pengasuh padepokan ADBM

  8. Nyuwun sewu Ki DeDe…saya ikut ngantri dengan sabar dan sekalian absen….

    Matur suwun kagem Ki Dede beserta para cantrik…

    GD: Hla mbok monggo. Yang tertib dan jangan sampai membuat kisruh ya.

  9. Sepertinya daku harus ikut ngantri nih….

    Daku ABSEN Ki Lurah…

  10. absen pagi2

  11. Ki Slamet76,… lah cantrik2 engkang nenggo2 wonten padepokan niki pancenipun injih sampun sepuh2 koq, tuwin sampun pernah mengikuti serial meniko.

    Menawi sak niki taksih kathah engkang ngangsu kawruh wonten padepokan, jalaranipun injih badhe “menyempurnakan” kawaskitanan engkang sampun dangu mboten dipun asah.

    Menawi kepareng, sakjatosipun panjenengan meniko yuswonipun pinten njih…?

  12. nyuwun sewu ki gede……
    perkembangan retype sakmeniko sampun dugi pundi nggih..

    nembe wangsul saking “Dinas Luar”,
    wah.. jebul kula pun ketinggalan kalih jilit.

    GD: Komplit sudah s/d Jilid 61. Jilid 62 lagi digarap sama Ki Pedo, 63 oleh Ki Prastawa. Tapi yg sudah sempat diposting kalau nggak salah baru s/d Jilid 56 apa 57. Apa mau pesen jilid 64?

  13. oke… siap

  14. Ki Pandanalas,
    Waduh, nyuwun ngapunten kulo mboten saget kromo (maklum kawit lahir dumugi sakmeniko kulo manggen teng luar Jateng & Jatim). Sakmeniko kulo mpun 51….hehe, nek penjenengan pinten?

  15. Sekarang ada virus yang mengancam di sekeliling kita. Ganas, tidak terdeteksi oleh alat-alat kedokteran yang canggih dan belum ada antivirus yang mampu mendeteksi varian virus itu. Hanya para ahli sepakat untuk menamai virus tersebut adalah varian baru jenis virus yang menyerang otak manusia dengan nama “VIRUS ADBM”

  16. Ikut duduk manis

    ngantri

    Ki KontosWedul

  17. Mo kena virus mo enggak yang penting ikut ngantri…

  18. Betul,virus itu selalu menjakiti diriku.
    Paling tidak beberapa kali setiap harinya.
    Pagi hari aku demam,kemudian tengah hari demam lagi,sore demam sampai malam biasanya demam lagi.
    Pernah suatu hari demam itu menjangkiti sampai 10x,kalo tidak salah pada saat nunggu datengnya jilid 57.
    Obatnya ???.
    Bila cover sudah muncul,biasanya agak mendingan.
    Nah ini aku demam lagi..nungguin jilid 64.

    Pusiiing…..

  19. Jam pat setangah limo
    sewidak papat dalem tenggo ki DD

    nuwunsewu tiyang luar jawi namung saget ngrusuhi kemawon
    nyuwun pangapunten kiai

  20. heem… kini aku cuma bisa mengangguk-angguk lagi…
    kenapa demam bisa mengerti akan waktu?

  21. Matur Suwun Ki Slamet, salam tepang. Sak jatosipun njih boso kromo kulo takseh belepotan (mpun suwi mbukak alas teng Swarnabumi nanem jagung sinambi nglatih Pandan Wangi).
    Nyuwun ngapunten dumateng poro cantrik menawi kromonipun campur bawur. (Wong boso kromonipun niki autodidak midangetaken pagelaran wayang kulit)

    Nek umur kulo njih namung benten sekedik. Kulo mpun 34 thn, … Mekaten Ki Slamet…pareng badhe budal ngudi dunungipun jilid 64

  22. Monggo2 ingkan badhe dherek ngupoyo ingkang saking branangipun manah kito sedoyo..supados enggal2 ngleremaken sedoyo ingkan wigati mandap wontening sanubaru ingkang sumeleh, sumenbyak.mbok bilih sumangke kito sedoyo kedah ngandarbeni manah ikang wiyar amargi saking laminipun para pambagya lan pamiarso hanenggani rawuhipun ingkang katelak satrio piningit jilid 64.

  23. Jilid 63 berceritera tentang persiapan tawuran antara ….
    Kalo Polisi jaman sekarang, untuk mengatasi demo biasanya ditangkap (diamankan) dulu provokatornya (Wito).
    Apa ini yang nantinya di jilid 64 yang akan dipakai SHM sebagai jalan keluarnya. Kita tunggu saja jilid 64 itu.
    Regards,
    Ki Truono Podang

  24. barusan nengok langsung ada ransum kitab 64. makasih ki Gde

  25. Tengkiu Ki DD..

  26. //..yach.. biar kata Ki Gde Menoreh orang sakti sing pilih tanding, pinunjuling apapak, lan sing mumpuni olah kanuragan, ning nek lagi ngantuk piye maneh..yo sare to..!
    Untung cantrik2e akeh sing nunggoni, durung sakpenginang lehe sare dumadakan kroso wis digugah..mak gragab, karepe nyandak mouse ngurupke komputer, jebule sing kesenggol gelas isine wedang kopi..wedange kopi mutahi jenang alot sing didekek cedhake gelas lan diwadahi piring kertas..akhire ora enak kabeh..sambi ucek2 mripat..jenang alot dipliriti alon2, sebab ketemplekan kertas sing dianggo tatakan, kanti pangarep2 sebagian isih iso dirasake enak..
    Kanti sareh, Ki Gde ngendiko marang cantrike sing sebagian kroso wedi, malah ono sing mlipir2 ngadohi kamar kerjane Ki Gde..”Cantrikku kabeh sing tak tresnani, suk maneh nek arep nggugah aku, ojo nganggo dihoyog-hoyog awakku yo..Keporo sesuk tuku jam beker bae, dimen aku ora pati kaget..”
    Cantrik sing paling tuwo, mangsuli ora kalah sarehe “Nyuwun sewu ngapunten Ki, mawantu-wantu boten njarag bade ngagetaken Ki Gde, namung ing pangangkah bade ngaturi uningo, bilih wekdal sampun radi telat anggenipun ngedalaken kitab wulangreh jilid 63 lan salajengipun”
    “Hhmm..Yo, yo..aku yo wis rumongso, ning yo kuwi ojo dho nggege mongso, lha wong jenenge wae kitab kanuragan..nek kowe kabeh dho kesusu..malah tondone ra keconggah, duno dungkape malah tumpang suh ngelmune, sebab poro winasis, para sarjono, lan poro sudibyo, wis nate medhar sabdo manowo ngelmu iku kelakone kanti laku..lha nek lakumu wae dho isih timak-timik, rak tondone malah ora tekan sedyo, sebab sedyone dho mbalenjani.. rak ngono to?”
    Cantrik kabeh dho manthuk-manthuk tondo setuju, nanging karo nggatekke astane Ki Gde..sing nggregeli, karo grayah-grayah nyandak permen sing rasane kopi…//

  27. matur nuwun kiai

  28. matur nuwun ki gede

  29. Welah kok soyo sue sing ngometari soyo sitik.?(28 comment)
    Biyen naliko ngenteni njedule jilid 57 iku nganti 130 comment luwih…
    Btw matur nuwun sanget kulo aturaken dateng Ki DD.

    Salam

  30. setor jilit 64

    “BEBAHU Kademangan Semangkak agaknya telah mengalami kesulitan mengendalikan anak-anak mudanya. Tetapi masih juga dapat dicoba” berkata paman Wita.

    GD: ….. dst (sudah dipindah ke pendopo utama. Suwun Ki Goenas)

  31. Suasana menjadi semakin panas. Ki Jagabaya Semangkak yang tidak banyak berbicara seperti kebiasaannya sehari, melangkah maju dengan wajah yang membara. Tiba-tiba saja ia memutar kerisnya sambil berteriak “Kalian, kalian akan melawan aku?”

    GD: ….. dst (sudah dipindah ke pendopo utama)

  32. Demikianlah Swandaru dan Agung Sedayu benar-benar telah mengelilingi Kademangan Sangkal Putung tanpa ada yang dilampauinya. Terutama padukuhan-padukuhan yang terdekat dengan induk Kademangan, yang telah mengirimkan beberapa orang anak-anak mudanya untuk pergi ke Sangkal Putung, berdiri berderet-deret ditepi parit.

    GD: … dst (sudah dipindah ke pendopo)

  33. Napak tilas , ………………..

    • nginthil sak wingkinge Ki HaryaoM.

      • nginthil mburine ki mbleh

        • Nderek menginthili karo nginjen Sekar Mirah gojeg , Mugo ora konangan karo Agung Sedayu ..

          • ouw ouw kamu ketahuan …

            • Wela ki Kertoyuda nembe jelungan , he he he he …….

              • He..gelungan ?
                ..mboten..ah.. 😳

                • Harak kecandhak ….

  34. Mlayu dhisik ah ( wedi dibandhem klompene Sekar mirah )

    • halah…paling mlayu…nyedek-i 😀

      • Sinten niku sing dicedhaki ??????????

        • ki satpam

          • HAh ..????????

            • huduk ta ki

              • Ya nggak la yooww , la wong podho nduwene bedhil .

                • hihaaaa bedile sing swarane ra banter kae to

  35. Bedil opo pistol…? 😀

    • wah ki kartu ki jaaaan mesti detil pertanyaane

  36. Bedul…eh…betul ! 😀

    • Leres ki , bedhile pancen ra iso muni , ning niki bedhil saestu niku lho sing nggo golek manuk emprit

      • wah waaah manuke ki bumi isok nggo nggolek bedil ?
        mantap tenan 😀

        • pancen oye , lha wingi niku angsal bedhil sing keno nggo nginjen barang niko lho .

          • lha niku bedhile wonten tatone nopo mboten ki ?

            • wonten Ki AS,
              gambare kupu2
              (kupu2 yg lucu)

              Lha njenengan kok pirsa ?
              mirsani teng pundi to Ki..?

              • Hayo kadenangan yen sih dho seneng nginjen ihik..ihik..ihik…….

                Monggo ki Menggung sareng-sareng sami nginjen ihik..ihik..ihik …

                • tulung injenke ki mangku, mangke kulo tenggo sms mawon

                • Mengko pas trimone…bukansms? 😀

  37. Nggo ki sms pun dikirim niku lho sms e pun saged diinjen

    • halah sing ketok malah susuh gagak hahahaaaa

      • Ngagem tesmak ki mangke nak saged cetho welo-welo …….

        • sms tesmak teng pundi….!!?? kulo tumut pesen
          setunggal.

          nggo nginjen ben jelas, kinclong-kinclong welo2

          • Ki Menggung lan ki Gembleh kulo njih pun esen ning semayane bibar Riyadin .

            • Lha menawi bakda Riyadin selak Ni Sinden’e mBlayu lho Ki Mangku.
              Terus tesmak’e badhe dingge nginjen napa..?

              • Ature ki Abdus ngge nginjen nopo mawon sing saged diinjen , utama niku lho gambar sing njero S.M.S

                • Bukansms…???

                  • b
                    u
                    k
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    n

                    • 😀

                    • k
                      i

                      k
                      a
                      r
                      t
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u

              • Lho…taksih bukan tho….berarti buaan..sms 😀

                • Walah sekesuk njepluk udan ra terang .

                • Wah..sekesuk panjenengan di udani Ki…? 😀

                  • Senes di udani ki Menggung ning di trocohi

                    • r
                      a

                      d
                      i
                      u
                      d
                      a
                      n
                      i

                      w
                      o
                      n
                      g

                      m
                      a
                      l
                      a
                      h

                      n
                      g
                      u
                      d
                      a
                      n
                      i

                      k
                      o
                      k

  38. Wah iki yo kleru neh , la wong sarunge ki Menggung yo melu teles kabeh ngono kok .

    • jiaaah ojo banter-banter ki, ndak krungu ki satpame

      • bisik-bisik wae

        • ssssssssssssssttttttttttttttttt


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: