Buku 64

Suasana menjadi semakin panas. Ki Jagabaya Semangkak yang tidak banyak berbicara seperti kebiasaannya sehari, melangkah maju dengan wajah yang membara. Tiba-tiba saja ia memutar kerisnya sambil berteriak “Kalian, kalian akan melawan aku?”

Anak-anak muda Semangkak itu terhenti sejenak, namun kemudian Wita berteriak pula “Menepilah Ki Jagabaya. Aku hanya memerlukan gadis itu, agar Swandarulah yang kelak menjemputnya.”

Orang-orang tua yang marah dipendapa itu justru terbungkam. Tetapi mereka tentu tidak akan membiarkan semuanya itu berlangsung, apapun yang akan terjadi atas diri mereka. Karena itu, tanpa berjanji, merekapun mulai bergerak melebar, seakan-akan ingin menahan arus gelombang yang menghantam tebing.

Tetapi anak-anak muda Semangkak itu bagaikan sedang mabuk tuak. Tidak ada cara untuk menahan mereka.

Namun demikian, tiba-tiba semua orang yang ada dihalaman itu tergetar ketika mereka mendengar suara seorang gadis yang melengking “Aku setuju.”

Suara itu benar-benar telah mengejutkan setiap telinga yang mendengarnya, Apalagi ketika mereka kemudian melihat Sekar Mirah naik kependapa dari arah samping.

“Mirah” desis Ki Demang Sangkal Putung.

“Aku sependapat dengan usul Wita. Biarlah ia membawa aku. Atau laki-laki yang manapun juga dari Semangkak.”

“Mirah” wajah Ki Demang menjadi merah. “Tetapi aku mempunyai syarat.”

“Apa syaratmu” Wita berteriak.

“Hanya laki-laki yang mampu memaksa aku dengan kekerasan yang dapat membawa aku ke Semangkak. Tetapi laki-laki itu harus laki-laki jantan, yang berani bertindak atas tanggung jawabnya sendiri.”

Halaman Itu bagaikan dicengkam oleh kesenyapan yang tajam. Setiap orang menahan nafasnya sambil memandang Sekar Mirah yang berdiri ditengah-tengah pendapa, dalam cahaya samar-samar lampu minyak.

“Mirah” terdengar suara lain berdesis. Agaknya Sumangkar yang mengikuti peristiwa itu menjadi cemas pula.

Sekar Mirah hanya berpaling, tetapi ia tidak surut. Bahkan ia berkata selanjutnya “Nah, laki-laki Semangkak yang manakah yang akan membawa aku serta ?”

Setiap orang masih saja terheran-hera. Mereka sama sekali belum mengetahui maksud Sekar Mirah itu, sementara Sumangkar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Temyata perasaan Sekar Mirahpun telah terlanjur menyala seperti anak-anak Semangkak yang datang kerumahnya itu.

Ki Demang di Sangkal Putungpun kemudian menyadari, bahwa ia sudah berbuat suatu kesalahan. Yang selama ini diperhatikan dan dijaganya agar tidak melonjak adalah perasaan anak-anak mudanya, Atas usaha Swandaru, anak-anak muda itu dapat dikendalikan. Tetapi Ki Demang dan para bebahu Sangkal Putung agaknya telah lupa, bahwa disamping anak-anak muda itu masih ada seorang lagi yang perlu diperhatikan. Orang itu adalah anak gadisnya, Sekar Mirah.

Tetapi kini sudah terlambat. Sekar Mirah sudah berada dipendapa. Bahkan telah menantang anak-anak muda Semangkak yang datang kerumahnya.

Dalam pada itu anak-anak muda Semangkak masih dicengkam oleh keheranan. Mereka belum tahu pasti maksud Sekar Mirah. Karena itu, maka Witapun bertanya pula

“Jelaskan madsudmu Mirah.”

“Baik” Sekar Mirah mendekat tanpa ragu-ragu. Ternyata bahwa pakaian Sekar Mirah membuat anak-anak muda Semangkak semakin heran. Sekar Mirah berpakaian seperti seorang laki-laki. Meskipun ia tidak memakai ikat kepala, tetapi rambutnya telah disanggulnya tinggi-tinggi dan diikatnya erat-erat.

“Wita” berkata Sekar Mirah “kau sudah beberapa lama berada di Sangkal Putung. Tentu tidak akan kami duga, bahwa kau pada suatu saat akan datang membawa kawan-kawanmu. Tetapi itu sudah terjadi. Sekarang, kita lanjutkan persetujuan kita. Kalau kau mau membawa aku, bawalah. Tetapi syaratnya, kalau kau dapat mengalahkan aku.”

Wajah Wita menjadi merah sesaat. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia mendapat tantangan dari seorang gadis. Dari Sekar Mirah. Dan apalagi ketika Sekar Mirah melanjutkan “Jika kau menang, taruhannya adalah diriku. Apapun yang akan kau perbuat, Karena aku adalah barang taruhan. Tetapi kalau kau kalah, bawa kawan-kawanmu pergi. Kau setuju?”

Wita masih berdiri tegang. Di Semangkak ia terhitung anak muda yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya diantara beberapa orang yang lain yang tidak banyak jumlahnya, tetapi yang justru tidak mau membantunya saat ini.

“Kenapa kau diam saja Wita” desak Sekar Mirah.

Tetapi Wita masih berdiri termangu-mangu.

Dalam pada itu Ki Demang Sangkal Putunglah yang bergeser mendekati Sekar Mirah sambil berdesis “Kau sudah gila Mirah.”

Sekar Mirah justru tersenyum sambil berbisik “Terpaksa ayah. Jika tidak demikian, aku kira keadaan akan menjadi semakin buruk. Mereka tidak dapat diajak berbicara lagi.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.

Berbeda dengan Ki Demang Sangkal Putung, maka Ki Demang di Semangkak serta bebahu lainnya berdiri saja terheran-hera. Ia tidak mengerti, apakah Sekar Mirah itu bersungguh-sungguh atau suatu cara penyelesaian yang tidak dimengertinya.

Tetapi agaknya gadis itu bersungguh-sungguh. Ternyata ia berkata “Ayo, siapakah yang akan mewakili kalian jika bukan Wita. Aku memberi kesempatan kepada tiga orang anak-anak muda dari Semangkak. Mereka harus berkelahi seorang demi seorang, justru untuk menghormati harga diri kalian. Kemudian kita masing-masing harus memenuhi perjanjian yang telah kita buat, Kalau aku kalah, akulah taruhannya, meskipun aku harus menjadi juru masak atau pekatik kuda sekalipun. Tetapi kalau kalian kalah, kalian harus pergi,” Sekar Mirah berhenti sejenak. Beberapa langkah ia maju mendekati anak-anak muda Semangkak yang sudah mulai nalk tangga pendapa “Cepat, tentukan wakil-wakil kalian.”

Wita yang ragu-ragu berdiri saja ditempatnya. Dipandanginya Sekar Mirah dengan tatapan mata yang hampir tidak berkedip. Ketika gadis itu berdiri beberapa langkah di hadapannya, ternyata bahwa gadis itu msmang terlalu cantik.

Selagi Wita masih ragu-ragu, tiba-tiba saja terdengar suara dibelakang “Baik. Aku terima perjanjian itu. Aku akan mewakili kawan-kawanku.”

“Nah, aku sudah menemukan lawan” berkata Sekar Mirah Masih ada kesempatan bagi dua orang.”

“Gila” teriak Wita “tetapi kalau itu yang kau kehendaki, baiklah. Aku menjadi orang ketiga, dan masih ada kesempatan bagi orang kedua.”

Seorang anak muda jangkung mengacukan tangannya. Katanya “Aku orang kedua itu.”

Ketiganya memang anak-anak terpandang di Sangkal Putung. Mereka adalah anak muda yang paling menyulitkan pimpinan Kademangan. Dan kini mereka pulalah yang akan mewakili kawan-kawannya mencoba mengalahkan Sekar Mirah dan membawanya ke Semangkak.

“Bagus” berkata Sekar Mirah kemudian “minggirlah yang lain. Kita membuat arena, Kalian harus berdiri mengelilingi arena itu dan tidak boleh ikut campur didalam perkelahian, karena kalian sudah diwakili. Aku percaya bahwa mulut anak-anak muda Semangkak masih dapat dipercaya. Kalian masih cukup jantan untuk menepati janji kalian sendiri.”

Sekar Mirah seakan-akan tidak menghiraukan apapun lagi. Ia langsung berjalan menerobos anak-anak muda Semangkak yang masih berdiri di tangga pendapa Tetapi justru dengan demikian mereka telah menyibak dengan sendirinya.

“Marilah.” ajak Sekar Mirah “lingkari arena yang kita buat dihalaman ini. Tanpa tali dan tanpa gawar. Kita melakukan sayembara tanding.”

Tiba-tiba saja halaman itu telah dicengkam oleh ketegangan yang lain. Bukan karena anak-anak Semangkak akan membakar rumah itu, tetapi perhatian mereka kini justru terpusat pada seorang gadis yang berpakaian seperti seperti orang laki-laki berdiri bertolak pinggang ditengah-tengah halaman Kademangan Sangkal Putung.

“Ki Demang” desis Demang Semangkak “bagaimana dengan gadismu itu?”

Ki Demang di Sangkal Putung hanya menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga ia mencemaskan nasib Sekar Mirah. Ia menyesal bahwa ia telah melupakan gadisnya itu, sehingga menghadapi kedatangan anak-anak muda dari Semangkak, ia tidak berpesan apapun juga kepadanya.

“Kini Sekar Mirah sudah mengatakan suatu ketentuan. Adalah menjadi sifatnya. bahwa ia tidak akan menarik kata-katanya” berkata Ki Demang Sangkal Putung itu dengan nada yang datar.

“Tetapi” sahut Ki Demang di Semangkak “apakah ia tidak memikirkan akibatnya? Mungkin ia masih mengharap bahwa anak-anak Semangkak itu menghargai kegadisannya dan bersifat jantan. Tetapi mereka adalah anak-anak bengal yang tidak berperasaan lagi. Apakah kau tidak mencoba untuk mencegahnya sebelum terlambat? Anak-anak itu pasti akan memperlakukannya seperti yang dikatakannya itu. Bukan sekedar juru masak, atau pekatik kuda, tetapi pasti lebih dari itu. Tebusannya adalah Swandaru sendiri.

“Mudah-mudahan ia dapat menjaga dirinya” desis Ki Demang Sangkal Putung “aku harus menghargai kata-katanya. Jika tidak, ia akan berbuat aneh-aneh. Meskipun ia seorang gadis, tetapi jiwanya sekeras batu padas. Dan ia ingin bersikap jantan meskipun kadang-kadang tidak mengena sasarannya.

“Tetapi masih belum terlanjur.”

“Terlambat” desis Ki Demang Sangkal Putung.

Keduanya dan para bebahu kedua Kademangan itu kini berdiri tegak seperti tonggak. Namun tiba-tiba Ki Demang Sangkal Putung maju menyibakkan anak-anak muda Semangkak yang telah mengelilingi sebuah arena yang cukup luas didalam gelap yang samar-samar. Sinar lampu minyak dipendapa tidak begitu terasa pengaruhnya, meskipun memberikan bayangan yang kemerah-merahan.

Ki Demang dan para bebahu dari kedua Kademangan itupun kemudian berdiri mengelilingi arena itu pula. Yang berdiri ditengah-tengah lingkaran itu adalah Sekar Mirah dan seorang anak muda Semangkak. Anak muda yang berwajah keras dan bertubuh kekar meskipun tidak begitu tinggi. Rambutnya yang mencuat dari ikat kepalanya yang tidak mapan, bergayutan dibelakang telinganya. Bahkan seperti segumpal ijuk yang tidak terpelihara.

“Aku akan memboyongmu” desisnya. Kawan-kawannya yang semula tegang, tiba-tiba tertawa melihat tingkah lakunya. Bahkan anak itu berkata selanjutnya “Kau terlalu cantik untuk menjadi juru dang atau juru pengangsu. Apalagi pekatik kuda. Kau akan menjadi pekatikku saja.”

Sekali lagi suara tertawa meledak disekitar arena itu.

“Kau tentu tidak akan menyesal atas perjanjian yang kau buat sendiri.” berkata anak muda itu lebih lanjut, lalu “tetapi kau memang cantik. Aku tidak mengerti, kenapa kau membuat semacam sayembara tanding. Apakah kau sebenarnya memang ingin memilih salah seorang diantara kami tetapi jalan inilah yang dapat kau tempuh ?”

Suara tertawa anak-anak muda Semangkak itu bagai meledak. Dan anak muda itu bagatkan mabuk mendengar suara kawan-kawannya, sehingga ia menjadi semakin berani “Nah, sekarang katakanlah bahwa kau sudah kalah. Aku akan membawamu pulang ke Semangkak. Aku akan berhenti berkelahi berkelahi hampir setiap hari aku lakukan. Aku akan tinggal dirumah peninggalan ayah dan ibuku yang kini dipakai oleh ibu tiriku. Aku akan merampasnya kembali dan memberikannya kepadamu.”

Ketika suara tertawa mengguruh, Ki Demang dl Sangkal Putung sempat menilai anak muda yang seperti kehilangan keseimbangan itu. Ternyata ia mempunyai ibu tiri. Itulah agaknya yang telah menggoncangkan sendi-sendi ketenangan hidup berkeluarga. Dan anak itu mencari pelarian ketempat yang keliru.

“Kenapa kau diam saja?” anak itu menjadi semakin berani. Selangkah ia maju “Sayang sekali, kalau aku harus berkelahi melawan gadis semanis kau. Apakah kau benar-benar bermaksud berkelahi dalam arti berkelahi?”

Suara tertawa bagaikan menggetarkan rumah Kademangan. Tetapi suara itu tiba-tiba terputus ketika anak muda yang ada diarena itu mengaduh tertahan. Ternyata Sekar Mirah telah menampar pipinya ketika anak muda itu menjadi semakin dekat.

“Oh” anak muda itu meloncat mundur “kau me-mukul?”

Sekar Mirah tidak menyahut. Tetapi ia menjadi muak melihat tingkah lakunya.
Anak muda itu maju selangkah sambil berkata “Jadi kau betul-betul ingin berkelahi? Apakah kau sudah berlatih bantingan?”

Sebelum anak-anak muda yang lain sempat tertawa. sekali lagi tangan Sekar Mirah telah melekat dipipinya. Kali ini agak lebih keras sehingga anak muda itu menyeringai sambil mengusapnya

“Bukan main” ia mulai menjadi tegang”kau ingin berkelahi sungguh-sungguh? Baik. Aku akan melayanimu. Aku sering berkelahi dengan seribu macam cara Aku mem-pelajari olah kanuragan. Aku sering bantingan dan binten. Aku mampu menguasai tangan dan kakiku baik-baik. Dan aku akan menaklukkan kau tanpa menyakitimu.”

Tetapi sekali lagi sebuah pukulan mengenai bukan saja pipinya, tetapi kini pelipisnya sehmgga ia terdorong beberapa langkah surut.

Kawan-kawannya yang semula selalu tertawa kini mulai mengerutkan kening. Ternyata bahwa gadls yang bernama Sekar Mirah itu tidak sekedar bermain-main. Ia ingin benar-benar berkelahi. Karena itu, merekapun mulai bersungguh-sungguh.

Demikianlah, anak muda yang mulai benar-benar merasa sakit itu tidak lagi menganggap Sekar Mirah sebagai golek kayu yang dapat dilela-lela. Karena itu, iapun kini maju dengan berhati-hati.

“Mulailah” geram Sekar Mirah “jangan menganggap aku seekor tikus jika kau seekor kucing. Tetapi aku adalah Sekar Mirah.”

Anak muda itu memang sudah mulai bersungguh-sungguh. Tetapi kepalanya sudah menjadi pening karena pukulan tangan Sekar Mirah dipelipisnya itu.

Tetapi anak muda dari Semangkak itu benar-benar telah bemiat untuk menundukkan Sekar Mirah yang meskipun agak galak, tetapi cantik. Karena itu, maka dengan kening yang berkerut-merut ia melangkah mendekatinya.

Sekar Mirah sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan ditengadahkannya dadanya sambil bertolak pinggang.

“Gila” anak muda yang kini berdiri dihadapannya Itu berdesis. Digeleng-gelengkannya kepalanya untuk mengusir perasaannya yang kisruh melihat sikap Sekar Mirah yang menantang itu.

“Kenapa kau masih diam saja?” bertanya Sekar Mirah “atau aku yang harus mulai?”

Anak muda itu seolah-olah mulai tersadar dari mimpi indahnya. Yang berdiri dihadapannya tidak kurang dari seekor macan betina yang dapat mencengkamnya dengan kuku-kukunya yang tajam.

Dengan demikian maka anak muda itupun segera rnempersiapkan dirinya. Ia tidak mau dldahului, diterkam oleh Sekar Mirah. Lebih baik ialah yang meloncat menerkamnya dan membantingnya ditanah. Jika ia sudah tidak berdaya, maka ia akan dapat membawanya pulang.

Sejenak kemudian anak muda itu mengambil ancang-ancang. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun. lagi, iapun meloncat sambil mengembangkan tangannya menerkam Sekar Mirah sambil berkata didalam hati “Aku tidak peduli apa saja yang akan dikatakan oleh kawan-kawanku. Aku akan menerkamnya seperti menerkam seekor kijang. Hal itu sudah dikehendaki oleh gadis itu sendiri.”

Namun yang terjadi adalah diluar dugaannya. Ketika kedua tangannya yang berkembang itu hampir menyentuh tubuh Sekar Mirah, maka dengan tangkasnya Sekar Mirah bergeser selangkah kesamping. Kemudian didorongnya anak muda yang masih terayun oleh kekuatannya sendiri itu, sehingga dua kekuatan yang tergabung itu seakan-akan telah melemparkannya dengan kerasnya.

Anak muda itu sama sekali tidak dapat menjaga keseimbangannya. Seperti menyuruk ia meluncur dan jatuh terjerambab. Adalah diluar dugaan bahwa kepalanya telah membentur tangga pendapa yang pertama ketika kawsan-kawannya justru menyibak melihat ia seakan-akan sedang menyerudukkan kepalanya.

Masih terdengar ia mengaduh perlahan-lahan. Tetapi sejenak kemudian iapun menjadi pingsan.

Wita berdiri termangu-mangu. Demikian juga anak-anak muda Semangkak yang lain. Bahkan bebahu Sangkal Putung sendiri terheran-heran melihat ketangkasan Sekar Mirah itu. Apalagi ternyata bahwa anak muda Semangkak itu tidak segera dapat bangkit lagi.

Beberapa orang kawannyapun segera mengerumuninya dan mengguncang-guncangnya. Tetapi untuk beberapa lama anak muda itu tetap diam.

“Nah” suara Sekar Mirah telah menyobek ketegangan itu “apakah aku harus menunggu ia sadar, atau aku akan melayani orang kedua?”

Tidak segera ada jawaban. Dan karena itu maka Sekar Mirahlah yang mengambil keputusan “Bangunkan kawanmu yang pingsan itu. Marilah, kita isi waktu kita dengan orang kedua.”

Tetapi masih tidak ada iawaban.

“Ayo, siapa yang menyatakan dirinya orang kedua diadalam sayembara ini?”

Tidak seorangpun yang menampakkan dirinya.

Sekar Mirah berdiri termangu-mangu. Diedarkannya tatapan matanya yang tajam berkeliling. Tetapi karena belum ada. yang memasuki arena, maka sekali lagi Sekar Mirah berkata “Cepat. Mumpung belum terlampau malam.”

Sekar Mirah berpaling ketika ia mendengar sedikit ribut dibelakangnya. Ketika ia memperhatikan tempat itu, dilihatnya beberapa anak muda Semangkak sedang mendorong kawannya.

“Bukankah kau yang menyatakan diri menjadi orang kedua” desis salah seorang dari mereka.

“Majulah. Tangkaplah gadis itu dan bawalah pulang ke Semangkak.”

Tetapi anak muda jangkung yang didorong-dorongnya itu tidak juga mau maju.

Sekar Mirah dapat mengenali anak muda itu, betapapun lemahnya cahaya lampu dlpendapa. Karena itu maka katanya “Nah, bukankah kau yang akan bertaruh kini ?”

Tetapi anak muda itu menggeleng “Tidak. Aku tidak.”

“Bukankah kau sudah menyatakan dirimu?”

“Tidak. Tidak pantas aku berkelahi dengan perempuan.”

“Kenapa ?” bertanya Sekar Mirah.

“Tidak adil.”

“Apa yang tidak adil ?”

“Jika aku menang, hal itu dianggap biasa, Laki-laki menang atas seorang perempuan. Tetapi kalau aku kalah, memalukan sekali.”

“Tidak peduli. Kalau kau mau berkelahi, mari.” Tetapi laki-laki itu menggeleng.

Wita yang berdiri termangu-mangu tiba-tiba menggeretakkan giginya. Sambil melangkah maju ia menggeram “Minggir, biarlah aku selesaikan perempuan ini. Aku tidak peduli kata orang. Dan aku tidak peduli taruhan apa yang akan aku terima. Tetapi perempuan ini sudah menyatakan diri sebagai tebusan. Aku akan menganggapnya berhadapan sendiri dengan Swandaru. Jangan menyesal kalau aku benar-benar akan berkelahi seperti aku berkelahi melawan Swandaru.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak gentar. Bahkan dengan serta-merta ia bertanya”Bukankah kau dengan mudah dapat dikalahkan oleh kakang Swandaru?”

“Persetan, aku belum siap. Seperti kawanku yang kau kalahkan itu sebenarnya hanya karena ia tidak siap menghadapl kenyataan ini. Ia terlampau menganggap kau sebagai seorang gadis sombong yang kesurupan.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi iapun dapat mengerti bahwa lawannya yang pingsan itu menganggapnya tidak lebih dari seorang gadis yang keras kepala, sehingga karena itu ia kurang berhati-hati menghadapinya.

Tetapi kali ini lawannya tidak akan dapat didorongnya begitu saja sehingga kepalanya membentur tangga. Lawannya yang terakhir ini pasti akan berusaha menentukan keadaan, jika lawannya itu menang, maka ia akan menjadi taruhan dan hanya dapat diambil oleh Swandaru sendiri.

Dengan demikian Sekar Mirahpun bersiaga sebaik-baiknya. Ia tidak mau menjadi korban janjinya sendiri. Namun ia sudah dapat menduga, bahwa lawannya jauh berada di bawah kemampuan kakaknya Swandaru. Itulah sebabnya, maka Sekar Mirah berani menjadikan dirinya sebagai taruhan didalam perkelahian ini.

Sejenak kemudian Wita yang melangkah semakin dekat berkata dengan lantang “Bersiaplah. Sebentar lagi kau akan berada di Semangkak.”

Sekar Mirah tidak menyahut. Ditatapnya tangan Wita dengan tajamnya. Ternyata bahwa Witapun tidak menunggu jawaban Sekar Mirah. Tangan itu segera bergerak menyerang Sekar Mirah.

Agaknya Wita benar-benar tidak bermain-main. Serangannya datang dengan derasnya menyambar kening Sekar Mirah.

Sekar Mirah terkejut mendapat serangan yang langsung mengarah ke keningnya. Namun itu baginya merupakan pertanda bahwa Wita tidak lagi bermain-main. Ia benar-benar ingin menjatuhkannya. Bukan saja untuk membawanya sebagai tanggungan, sampai saatnya Swandaru datang mengambilnya, yang tentu tidak akan diberikannya begitu saja, tetapi Wita tentu ingin juga memperbaiki nama anak-anak muda Semangkak yang tercemar oleh kekalahan kawannya dalam waktu yang terlalu singkat. Apalagi kawannya yang kedua menjadi berkerut terlampau kecil, setelah ia melihat kekalahan orang yang pertama.

Tetapi Sekar Mirah adalah seorang gadis yang memiliki bekal terlampau banyak untuk sekedar melawan Wita. Meskipun Sekar Mirah cukup berhati-hati, namun segera tampak pada setiap orang yang menyaksikan, bahwa Sekar Mirah adalah lawan yang berat bagi Wita.

Sambil mengelakkan serangan pertama. Sekar Mirahpun telah menyerang lambung Wita. Tetapi Wita masih sempat menggeliat dan mengelakkan serangan itu, meskipun ia hampir kehilangan keeeimbangan. Apalagi ternyata Sekar Mirah melihat kelemahan sesaat itu, sehingga ia meloncat memburunya. Tetapi Wita menyadari kelemahannya, sehingga karena itu, ia justru berguling sama sekali untuk menjauhi lawannya. Dengan lincahnya ia melenting dan berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya didadanya. Tetapi ia terkejut bukan buatan, bahwa begitu ia tegak, tangan Sekar Mirah telah mendorongnya.

Kali ini Wita tidak dapat bertahan lagi. Dorongan Sekar Mirah itu telah melemparkannya jatuh terlentang, meskipun dengan cepatnya ia berhasil meloncat berdiri.
Namun dengan demikian, hampir setiap orang sudah dapat menilai kemampuan dari kedua orang yang sedang-berkelahi itu. Dengan dada berdebar-debar anak-anak muda Semangkak menyaksikan kelanjutan yang akan berlangsung. Hanya dengan keajaiban sajalah wita akan dapat bertahan terus, apalagi memenangkan perkelahian itu.

Dalam pada itu, Ki Demang di Sangkal Putung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa Sekar.Mirah yang keras hati itu, mampu juga menahan diri. Ia tidak dengan serta merta mengalahkan lawannya, apalagi membuatnya terluka parah. Dengan demikian ia tidak membakar perasaan anak-anak muda Semangkak yang memang sedang panas itu. Agaknya Sekar Mirah kali ini berusaha mengalahkan lawannya dengan hati-hati.

Sementara itu, Swandaru, Agung Sedayu dan beberapa orang kawannya tidak lagi berada dikandang. Selagi halaman Kademangan itu diriuhkan oleh suara tertawa dan teriakan-akan liar anak-anak muda Semangkak, sebelum Sekar Mirah mulai berkelahi, anak-anak Semangkak yang tersebar di halaman berlari-larian ingin melihat apa yang terjadi dihalamnan. Swandaru dan Agung Sedayu beserta kawan-kawannya, yang merasa tidak akan mendapat pengawasan lagi, segera turun dari kandang dan dengan hati-hati menyelinap didalam kegelapan. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak dapat melihat apa yang terjadi dihalaman karena anak-anak Semangkak telah melingkari arena sehingga merekapun segera berusaha memanjat sebatang pohon. Dari atas dahan mereka berhasil lnenyaksikan, bagaimana Sekar Mirah berkelahi melawan Wita.

Agung Sedayu menyaksikan perkelahian itu dengan dada berdebar-debar. Bukan karena la mencemaskan Sekar Mirah, bahwa ia akan dapat dikalahkan oleh Wita, tetapi justru karena perasaan Sekar Mirah sendiri yang melonjak-lonjak, yang akan dapat membuat suasana lebih memburuk.

Demikianlah perkelahian itu berlangsung semakin seru. Tetapi Wita hampir tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk berbuat sesuatu. Semakin lama serangan Sekar Mirah menjadi semakin cepat, meskipun tidak berbahaya. Namun demikian, kadang-kadang wajah Wita menjadi merah padam, apabila beberapa kali ia harus jatuh berguling-guling. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa adik Swandaru itu ternyata benar-benar memiliki kemampuan berkelahi. Bahkan kemampuannya berada diatasnya.

Tetapi alangkah memalukan sekali kalau ia harus menyerah. Karena itu, Wita menjadi semakin bemafsu. Di kerahkan semua tenaga untuk mencoba memenangkan perkelahian Itu. Namun ia sama sekali tidak mempunyai harapan apapun.

Karena itu, timbullah sifatnya yang licik. Ia harus berusaha membangkitkan kemarahan anak-anak Semangkak sebelum ia berhasil dikalahkan. Dengan demikian la tidak akan terlampau terhina oleh kekalahan itu. Ia tidak memikirkan akibat apa yang akan dapat timbul dari kelicikannya itu.

Sesaat berikutnya Wita masih berkelahi. Meskipun ia selalu terdesak mundur, namun ia ingin membuat kesan, bahwa ia sengaja menjauhi lawannya. Setiap kali ia siap untuk menyerang, tetapi serangan itu diurungkannya.

Melihat sikap Wita, Sekar Mirah menjadi termangu-mangu. Ia memang tidak ingin menghinakan anak Semangkak itu dihadapan kawan-kawannya dengan berlebih-lebihan. Ia tidak ingin membuat Wita semakin mendendam. Karena itu, iapun mengurangi tekanannya dan mencoba mengerti maksud lawannya.

Tetapi keadaan itu telah dimanfaatkan oleh Wita yang kemudian meloncat surut sambil berkata “Ternyata tidak ada untungnya aku berkelahi melawan perempuan.”
Sekar Mirahpun terhenti pula Dengan dahi yang berkerut-merut ia memandang Wita dengan tajamnya. Namun ia tidak akan menyangka sama sekali kalau Wita kemudian berteri’ak “He anak-anak Semangkak. Aku tidak mau berkelahi lagi dengan perempuan. Beberapa langkah lagi aku pasti akan dapat menjatuhkannya. Tetapi aku tentu akan ditertawakan orang. Jika aku menang, memang tidak akan ada seorangpun yang mengagumi, tetapi jika aku mengalah, disangkanya aku dapat dikalahkan oleh perempuan. Apalagi jika aku benar-benar kalah. Kali ini aku masih mempunyai belas kasihan kepadanya. Aku sadar, jika gadis itu aku bawa ke Semangkak, akibatnya tidak akan baik baginya dan bagi kita sendiri. Karena itu, jangan hiraukan dia, cari Swandaru sampai ketemu. Kalau perlu, bakar saja rumah ini.”

“Tunggu” Sekar Mirah yang mendengar kata-kata Wita itu terkejut. Bahkan Ki Demang dan bebahu dari kedua Kademangan itupun terkejut pula “kau licik. Kau kalah, tetapi kau tidak mau mengakui karena kau ingin mengingkari perjanjian yang sudah kita setujui bersama. Semula aku masih mempunyai harga diri.”

“Aku masih mempunyai harga diri. Karena itu aku tidak mau berkelahi melawan perempuan.”

“Tidak. Mari kita teruskah. Kita tepati perjanjian kita. Kalau perlu, kita yakini kemenangan yang terjadi. Kita berkelahi dengan senjata. Kita tentukan siapa yang mati diantara kita. Dengan demikian tidak akan ada yang dapat ditipu lagi, siapa yang sebenarnya kalah dan menang.

Tantangan Sekar Mirah itu benar-benar mendebarkan jantung. Agaknya gadis itu benar-benar telah kehilangan kesabaran. Ia merasa telah diingkari oleh anak Semangkak itu.

Sehingga dengan demikian usahanya untuk mencapa penyelesaian tanpa menimbulkan korban tidak dapat dilakukannya. Bahkan Wita telah dengan licik menghindari akhir dari perkelahian ini

Kemarahan itu tidak dapat ditahankannya lagi, sehingga karena Wita masih termangu-mangu, Sekar Mirah mendesaknya “Ayo. Kita tegaskan. Siapa yang kalah dan siapa yang menang dengan taruhan nyawa. Tidak saja taruhan wadagku dan sikap jantanmu.”

Wita masih termangu-mangu. Namun ternyata bahwa ia benar-benar seorang anak muda yang licik, sehingga dengan tidak malu-malu sama sekali ia menjawab “Aku tidak peduli, tetapi berkelahi dengan perempuan benar-benar telah merendahkan derajatku.” Lalu katanya kepada kawan-kawannya “Ayo, jangan hiraukan perempuan kesurupan itu. Kita cari Swandaru. Tetapi kalau perempuan itu menghalangi, terserah kepada kalian. Apakah kalian akan menangkapnya beramai-ramai atau akan melumpuhkannya, terserah kepada kalian.”

Darah Sekar Mirah serasa mendidih karenanya. Jika saat itu ia membawa pedang, maka ia pasti sudah mencabut pedangnya. Tetapi karena la tidak menduga, bahwa lawannya adalah orang yang licik, maka ia tidak bersenjata karenanya.
Dalam kekalutan itu Sekar Mirah teringat kepada gurunya. Tentu gurunya tidak akan mengijinkan jika ia mempergunakan senjata. Apalagi senjata tongkat berkepala tengkorak itu. Namun ia mengharap juga gurunya berbuat sesuatu untuk meredakan suasana. Atau bahkan memerintahkannya berrtempur sama sekali.

Sekar Mirah tahu bahwa dihalaman rumahnya ada dua orang tua yang pasti tidak akan terlawan. Kiai Gringsing dan Sumangkar. Ia tahu pula bahwa kedua Demang dan bebahu kedua Kademangan itu pasti tidak akan membiarkan anak-anak Semangkak itu berbuat liar. Selain mereka masih ada juga Swandaru, Agung Sedayu dan beberapa orang anak muda Sangkal Putung yang terpilih didalam kandahg.

Tetapi Sekar Mirahpun tahu, bahwa bukan penyelesaian dengan cara itulah ysng dikehendaki. Namun demikian, apabila keadaan memaksa, apaboleh buat.

Dalam pada itu wajah-wajah anak Semangkak telah menjadi tegang, seperti wajah Ki Demang dan bebahu dari kedua Kademangan itu. Bahkan Ki Jagabaya dari Semangkak sendiri telah menjadi gelisah dan Sesekali menatap wajah Ki Demang di Semangkak, seolah-olah menunggu jatuhnya perintah.

Dalam ketegangan itu sekali lagi terdengar suara Wita “Ayo, jangan termangu-mangu. Kita sudah memutuskan untuk mengambil Swandaru, apapun yang akan terjadi.”

Swandaru sendiri telah menjadi gemetar. Bukan karena ketakutan Tetapi kemarahan yang menghentak-hentak dadanya, hampir tidak tertahankan lagi jika setiap kali Agung Sedayu tidak menggamitnya. Hampir saja ia meloncat turun dari riahan yang rendah itu. Namun Agung Sedayu masih berhasil mencegahnya. Tunggu. Kita lihat perkembangan keadaan.”

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung itu digetarkan oleh suara tertawa yang berkepanjangan. Semua orang yang berada dihalaman itu berpalitjg. Didalam keremangan cahaya pelita, seseorang naik kependapa sambil tertawa, diiringi oleh beberapa anak muda yang kemudian berdiri saja ditangga. Bersama mereka telah datang pula ayah Wita dan adiknya yang masih kecil itu.

Dada Wita berdesir melihat kehadiran mereka. Ia tidak segera mengetahui maksud kehadiran orang yang tertawa itu, apalagi bersama ayah dan adiknya.

Ki Demang di Semangkak serta bebahunya berdiri termangu-mangu sambil menahan gelora didada masing-masing.

“Orang itulah yang telah membuat onar” bisik Ki Jagabaya ketelinga Ki Demang.
“Ya, ialah yang telah mengajari anak-anak Semangkak berkelahi. Kehadirannya akan menambah keruh suasana. Jika la membela anak yang telah dilatihnya itu, suasana akan bertambah buruk. Apalagi ia membawa beberapa orang anak muda pula, yang agaknya justru lebih matang dari anak-anak ini.”

“Ya. Mereka adalah murid-muridnya terdekat.”

Ki Demang di Semangkak menjadi semakin tegang.

Tetapi ia sudah bertekad untuk mencegah kegilaan anak-anak muda Kademangannya. Apapun yang akan terjadi dan apapun yang akan dikatakan orang atasnya, ia tetap akan berkelahi melawan anak-anak yang sudah tidak dapat dicegahnya dengan kata-kata. Ia yakin bahwa orang-orang Sangkal Putung itupun pasti akan membantunya, meskipun Ki Demang di Semangkak ita menjadi heran, kenapa anak-anak-muda Sangkal Putung tidak seorangpun yang nampak. Menilik kemampuan Sekar Mirah, seorang gadis, maka kemampuan anak-anak mudanya pasti akan menggetarkan jantung. Tetapi Ki Demangpun menduga, bahwa anak-anak itu dengan sengaja telah disingkirkan sekedar untuk menghindari bentrokan. Bukan karena anak-anak Sangkal Putung menjadi ketakutan dan bersembunyi.

Suara tertawa Itupun semakin mereda. Bahkan kemudian berhenti dengan tiba-tiba. Sambil bertolak pinggang orang itu kemudian bertanya “He, mana Wita?”

Wita berdiri termangu-mangu ditempatnya.

“Ha, jangan bersembunyi. Kemari. Kemari.” Wita masih berdiri mematung ditempatnya.

“Wita, kemari. Ini ayahmu mencarimu.” Wita sama sekali tidak beranjak.

“Ternyata kau benar-benar seorang anak muda yang berani. Kau tidak mau dihinakan oleh Swandaru, dan sekarang kau datang untuk menuntut balas.”

Kata-kata itu benar-benar telah menegangkan jantung Swandaru yang meskipun amat-lamat, dapat mendengarnya juga. Tetapi sekali lagi Agung Sedayu menggamitnya.

“Aku bunuh orang gila itu” desis Swandaru.

“Tunggu” sahut Agung Sedayu.

Dalam pada itu orang yang berdiri dibibir pendapa berkata lagi “Tetapi sayang, bahwa kau bukan seorang laki-laki jantan. Kau hanya berani melakukan pembalasan beramai-ramai seperti nonton wayang beber. Tetapi kau tidak berani menengadahkan dadamu” orang itu berhenti sejenak, lalu “apalagi setelah aku melihat kekalahanmu dari Sekar Mirah. Aku menjadi sangat malu.”

Wajah Wita. menjadi merah padam. Dengan serta-merta ia menjawab “Aku belum kalah.”

Orang itu tertawa meledak sehingga tubuhnya terguncang-guncang. Katanya ketika suara tertawanya mereda. “Kau dapat menipu adikmu yang kecil itu. Tetapi kau tidak dapat menipu aku. Kau kalah. Kalah mutlak” tiba-tiba suaranya meninggi dan bersungguh-sungguh “Wita, aku tidak malu karena kau kalah. Adalah wajar kalau kau kalah, kalah karena bekalmu terlampau sedikit dibandingkan dengan gadis itu. Tetapi yang membuat aku sangat malu adalah bahwa kau justru tidak mau mengakui kekalahan itu” Lalu suaranya bertambah keras, bahkan membentak-bentak “Ternyata kau sudah gila. Kau sama sekali tidak dapat dianggap seorang yang baik didalam segala hal. Selagi kau sudan kalah mutlak, kau masih mengelak, dan menganjurkan membakar rumah ini. Itu gila, gila sekali” ia berhenti sejenak. Suaranya menjadi bergetar, karena ia berusaha menahan perasaannya yang meluap-luap.”Kedatanganmu ke Sangkal Putung bersama tikus-tikus dungu itu sudah membuat aku sangat kecewa. Itukah hasil yang kalian peroleh dari ajaran-ajaan olah kanuragan yang aku berikan? Aku mengakui, bahwa aku tidak menilik kau seorang demi seorang dari segi sikap dan sifat. Tetapi bukan maksudku agar kau memusuhi tetangga-tetangga Kademangan dengan sikap yang bodoh” orang itu berhenti sejenak, lalu “kalian membuat aku kehilangan kesempatan untuk menang kali ini. Ketika ayah Wita menyusul aku diperjudian, aku sebenarnya sedang berada diatas angin. Aku sedang menan jak mendekap kemenangan demi kemenangan. Tiba-tiba saja aku harus berhenti. Dan tentu aku kehilangan kesempatan. Jika aku mulai lagi, mungkin aku akan kalah” lalu suaranya tampir berteriak “Kalianlah yang gila. Wita dan kawan-kawannya itu sudah gila. Aku tidak dapat adbmcadangan.wordpress.com memberikan kalian mencoba mengganggu Sangkal Putung. Karena itu aku korbankan kemenangan-kemenangan yang akan aku dapatkan dari perjudian itu. Aku tidak ingin melihat atau mendengar kebodohan kalian. Meskipun aku penjudi, pemabuk, penyabung ayam, tetapi aku tidak mau bersikap licik dan pengecut. Dan kalian adalah anak-anak yang paling bodoh diseluruh muka bumi. Kenapa kalian tidak pernah berpikir kenapa kalian tidak menjumpai seorang anak mudapun dari Sangkal Putung? Alangkah bodohnya. Alangkah sombongnya kalian dan olak kalian memang sudah membeku. Aku adalah bekas seorang prajurit. Karena umurku aku tidak lagi berada dikesatuanku. Aku pernah ikut bertempur melawan Tohpati di Sangkal Putung dibawah pimpinan Ki Widura dan Ki Untara. Kalau anak-anak Sangkal Putung ingin melawan, kalian dapat ditumpas seperti pasukan Tohpati. Mengerti ? Mengerti ? He ?” orang itu telah berteriak-teriak tidak menentu karena kemarahan yang memuncak. Dan tiba-tiba saja suaranya merendah “Ayo… kalian kembali ke Semangkak. Wita sudah membuat perjanjian, jika ia kalah dari Sekar Mirah, kalian akan dibawanya kembali. Dan Wita sudah kalah. Mutlak. Tiga Wita bersama-sama tidak akan menang atas Sekar Mirah. Ayo, cepat pulang, alau aku akan memukul kalian seorang demi. seorang.”

Ketika orang itu berhenti berbicara, maka halaman itu tiba-tiba saja menjadi sepi. Semua mata terpancang kepadanya dan kepada anak-anak muda yang berdiri ditangga dihadapannya.

Karena tidak ada seorangpun yang berbicara maka bekas prajurit itu pulalah yang memecah kesenyapan “Kenapa kalian berdiri bingung disitu. Ayo pulang, kataku. Aku datang bersama kawan-kawanmu yang masih dapat berpikir jernih dan tidak mau bersama kalian berbuat gila di Sangkal Putung ini. Apakah aku harus memaksa dengan kekerasan atau aku akan membiarkan kalian menjadi endog pangamun-amun di Sangkal Putung, karena orang-orang dan anak-anak muda di Sangkal Putung menjadi muak melihat kebodohan kalian ?

Anak-anak muda itu masih termangu-mangu.

“Aku akan menghitung sampai tiga. Satu, dua…” Ternyata anak-anak muda Semangkak itu mulai bergerak surut tanpa mereka sadari Bahkan Witapun mundur selangkah. Lalu, bekas prajurit itu melanjutkan ”Tiga.”

Seperti air surut, anak-anak muda Semangkak itu bergerak. mundur. Namun mereka masih mendengar bekas prajurit itu berkata “Nah, bagus. Kita pulang bersama-sama. Ikuti aku. Kalau ada yang berani berbuat sesuatu, aku patahkah tangannya” Lalu orang itu berpaling kepada bebahu Kademangan Sangkal Putung dan Semangkak “Maaf Ki Demang berdua. Biarlah aku giring kambing-kambing bodoh ini kembali ke Semangkak. Mereka sudah merampas kesempatanku untuk menang lebih banyak. Jika aku kembali teperjudian, mungkin aku akan kalah. Seandainya ayah Wita tidak mencari aku dan aku tidak perlu meninggalkan perjudian, mungkin besok aku sudah menjadi serang yang kaya raya.”

“Terima kasih atas pengorbananmu” jawab Ki Demang di Semangkak “Mudah-mudahan anak-anak asuhanmu itu tidak menjadi bengal lagi.”

“Aku akan mengawasinya baik-baik.” Demikianlah maka bekas prajurit itu telah menggiring anak-anak Semangkak kembali ke Kademangan mereka. Mereka tidak dapat berbuat lain daripada mematuhi perintah itu. Bagaimanapun juga mereka harus memperhitungkan jumlah lawan mereka yang semakin banyak. Dan lawan yang terutama adalah kawan-kawan mereka sendiri dari Semangkak yang justru mereka segani bersama bekas prajurit yang selama ini mereka anggap sebagai guru mereka.

Dengan dada yang berdebar-debar anak Semangkak itu melangkah perlahan-lahan meninggalkan Kademangan. Apapun yang bergejolak didalam hati, namun mereka harus kembali ke Semangkak.

Wita yang berjalan dipaling depan menundukkan kepalanya. Iapun harus mundur meskipun hatinya sebenarnya memberontak. Ia ingin melihat Kademangan Sangkal Putung menjadi bosah baseh dan menemukan Swandaru yang bersembunyi ketakutan. Ia ingin mengikat anak yang gemuk bulat itu dan memukuli perutnya dan pipinya yang gembung.

Tetapi pengasuhnya didalam olah kanuragan telah mencegahnya dan menggiring mereka kembali dengan kecewa.

“Kami gagal kali ini” desis Wita “orang itu menggagalkan rencana yang sudah kami susun baik-baik.”

Kawannya tidak menyahut. Tetapi kawannya itu sudah mulai ragu-ragu, jika seandainya niat itu diteruskan, apakah tidak akan timbul akibat-akibat lain yang lebih buruk.

Sebenarnyalah memang ada beberapa tanggapan dari anak-anak muda Semangkak itu. Ada yang berkata didalam hatinya “Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terlanjur.” Tetapi ada yang mengumpat “Gila orang itu. Kenapa kami dcegahnya ? Jika tidak, kami akan mendapatkan umpan yang menyenangkan sekali. Seekor kelinci gemuk dan seorang gadis cantik sekaligus. Jika kami beramai-ramai menangkapnya, menyeretnya ke Semangkak, tidak akan ada yang menyalahkan kami.” Meskipun timbul juga persoalan didaiam hatinya. “Bagaimana jika anak-anak Sangkal Putung marah dan menyusulnya ?”

“Persetan” dijawabnya sendiri jika anak-anak Sangkal Putung mempunyai keberanian, ia pasti sudah menyongsong kedatangan kami karena mereka pasti sudah mendengar sebelumnya. Jagabaya Sangkal Putung itu pasti sudah memberitahukan kepada anak-anak Sangkal Putung, dan mereka hanya berani bersembunyi. Adalah omong kosong bahwa mereka ikut bertempur melawan pasukan Tohpati saat itu.”

Namun belum lagi angan-angannya itu berakhir, anak-anak muda Semangkak yang sudah sampai dipintu gerbang Kademangan induk, terkejut bukan kepalang ketika mereka melihat beberapa orang anak muda berdiri didalam kegelapan. Mereka hanya melihat bayangan mereka dibawah cahaya lampu minyak diemper gardu.

“Gila, ada juga anak muda yang berani menampakkan diri” desis Wita didalam hati. Tanpa sesadarnya ia berpaling. Diujung belakang iring-iringan anak-anak Semangkak itu terdapat pengasuhnya didalam olah kanuragan, dan kawan-kawannya dari Semangkak yang memang agak mereka segani. “Jika tidak ada mereka, anak-anak Sangkal Putung yang ada digardu itu dapat menjadi sasaran yang menyenangkan setelah kami dikecewakan habis-habisan.”

Wita hanya dapat menggeretakkan giginya. Tetapi rasa-rasanya tangannya memang menjadi gatal. Bahkan ia berkata kepada diri sendiri “Apaboleh buat. Apakah aku dapat menyeret salah seorang dari mereka tanpa ribut-ribut?’

Namun ternyata anak-anak muda Sangkal Putung yang melihat iring-iringan itu lewat, segera menymgkir menepi, Mereka meloncati parit diluar padukuhan dan berdiri diseberang parit.

Tetapi, dada anak-anak Semangkak itu tiba-tiba bergetar dahsyat sekali. Ketika mereka keluar dari padukuhan itu, barulah mereka melihat suatu kenyataan tentang anak-anak muda Sangkal Putung. Yang berdiri diluar padesan, diseberang parit itu, bukannya sekedar anak-anak muda yang dilihatnya pada cahaya lampu minyak digardu disudut halaman, sehingga apabila timbul niat salah seorang dari mereka untuk membakar gardu itu, maka niat itu harus dipikirkannya berulang kali

Ketika mereka mula-mula memandang kedalam gelap, setelah mereka melintasi sinar pelita digardu, mereka menjadi termangu-mangu Seakan-akan mereka melihat tanaman disawah, diluar padesan itu tumbuh demikian rapatnya setinggi tubuh manusia. Bahkan hampir seperti sebuah dinding yang membujur disebelah parit.
Namun kemudian barulah dapat mereka lihat dengan jelas, setelah merekapun ada dibulak itu. Yang mereka lihat sama sekali bukan tanaman jagung raksasa yang rapat berhimpit-himpitan, bukan pula sebuah dinding batu dipinggir parit, tetapi yang mereka lihat adalah anak-anak muda Sangkal Putung yang berdiri berjajar rapat disebelah menyebelah jalan.

Darah anak-anak muda Semangkak itu bagaikan berhenti mengalir. Mereka tidak dapat mengirakan, berapa jumlah anak-anak muda Sangkal Putung itu. Mungkin empat atau lima kali lipat jumlah mereka.

Tetapi ternyata anak-anak muda Sangkal Putung itu tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya. berdiri saja seakan-akan membeku.

Ketika anak-anak Semangkak menyadari bahwa disebelah menyebelah mereka berdiri anak-anak Sangkal Putung dalam jumlah yang tidak mereka duga, terasa betapa kecutnya hati mereka. Anak-anak bengal yang semula membusungkan dada, menjadi semakin berkerut melihat kenyataan itu. Mereka mulai ragu-ragu sejak seorang gadis bernama Sekar Mirah dengan mudahnya berhasil mengalahkan anak-anak muda Semangkak yang mereka anggap anak-anak terbaik dikalangan mereka. Apalagi kini mereka melihat anak-anak mudanya dalam jumlah yang tidak dapat mereka perkirakan.

Wita sendiri yang berjalan didepan rasa-rasanya hampir tidak lagi dapat mengangkat kakinya. Kakinya itu seakan-akan menjadi berat, dan meskipun ia melangkah terus, tetapi seakan-akan ia tidak bergerak maju. Setiap kail ia memandang dengan sudut matanya, masih saja dilihatnya bayangan hitam yang berderet diseberang parit.

“Gila, mereka memang gila” ia menggeram didalam hatinya. Namun ia dapat juga berpikir “Jika Seorang gadis dapat mengalahkan aku, apa saja yang dapat dilakukan oleh anak-anak muda Sangkal Putung itu ?”

Wita terkeiut ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara dibelakang iring-iringan anak-anak Semangkak itu ”Ha, ternyata dugaanku benar. Anak-anak Sangkal Putung yang sekarang masih seperti anak-anak mudanya pada masa-masa Tohpati ada dimulut gerbang Kademangan kalian. He. apakah masih ada diantara kalian yang mengenal aku?”

Tidak terdengar jawaban.

“Siapakah yang masih mengenal aku ? Dimana Swandaru ?”

Baru kemudian terdengar jawaban “Ia berada dl-rumahnya.

“Dirumahnya Jadi ia berada di Kademangan ?”

“Ya. Ia sudah siap melindungi rumahnya jika terjadi sesuatu bersama Agung Sedayu.”

“Maksudmu adik Senapatl Untara?”

“Ya, bersama gurunya dan guru Tohpati.”

“He gila kau. Gurunya dan guru Tohpati ?”

“Ya, Kiai Gringsing dan paman guru Tohpati, Sumangkar.”

“Bukan main, bukan main” bekas prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Lalu ”Terima kasih atas kebaikan hati kalian. Ternyata kalian bersikap cukup dewasa. Kalian tidak terpancing oleh kebodohan anakku ini. Dan kalian telah menang tanpa mengalahkan kami.”

Anak-anak muda Sangkal Putung itu tidak menjawab. Namun terdengar anak muda yang lain berkata “Selamat jalan mudah-mudahan hal yang serupa tidak terulang lagi.”

“Terima kasih. Terima kasih. Aku akan menjaganya. Seharusnya aku menang diperjudian malam ini. Hari ini adalah hari yang paling baik bagiku. Tetapi lewat tengah malam. kabegjan itu sudah beralih pada orang lain.” lalu iapun mengumpat “anak setan. Kalian sudah mengganggu Kemujurunku malam ini.”

Anak-anak Semangkak itu berjalan sambil menundukkan kepalanya. Hati mereka memang sudah berkerut. Dan mereka tidak berani memandang wajah-wajah anak Sangkal Putung meskipun didalam kegelapan.

Ternyata bahwa anak-anak Sangkal Putung yang berdiri memanjang dipinggir jalan itu cukup banyak. Rasa-asanya pagar itu tidak habis-habisnya sampai ketengah bulak. Dan rasa-rasanya kaki anak-anak muda Semangkak itu semakin lama menjadi semakin berat. Mereka yang berdiri dipinggir jalan tidak sekedar anak-anak dari induk Kademangan saja, tetapi juga dari padukuhan-padukuhan lain di Kademangan Sangkal Putung. Susunan tata hubungan anak-anak muda Sangkal Putung yang dibentuk sejak Tohpati masih berada dihadapan hidung mereka, temyata masih memungkinkan mereka bergerak cepat dan teratur. Meskipun mereka berkumpul dalam jumlah yang besar, tetapi mereka tetap terkendali oleh pemimpin kelompok yang harus bertanggung jawab kepada Swandaru.

Demikianlah, ketika Wita berhasil mencapai ujung dari pagar manusia itu, tiba-tiba langkahnya menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya ia sudah terlepas dari hisapan tanah disepanjang jalan, dan terasa kakinya menjadi semakin ringan. Demikian pula kawan-kawannya yang lain. Mereka berjalan semakin cepat, bahkan seolah-olah mereka telah berlari-lari kecil.

Dengan kepala tunduk mereka mau tidak mau harus meresapi suatu pengalaman baru didalam hidup. Mau tidak mau mereka harus mulai menilai kembali perbuatan yang baru saja mereka lakukan. Terlebih-lebih Wita. Meskipun mula-mula ia berusaha untuk mencari alasan yang dapat menyenangkan hatinya sendiri, namun akhirnya ia jatuh kedalarn suatu pengakuan, bahwa perbuatan yang baru saja dilakukan adalah perbuatan yang bodoh.

Kini hatinya menjadi berdebar-debar. Pengasuhnya itu pasti akan marah-marah tiada terkirakan. Mungkin ia benar-benar akan memukuli anak-anak muda itu seorang demi seorang. Atau bahkan tidak mau lagi mengajari mereka dengan olah kanuragan. Jika danikian maka kawan-kawannya itu pasti akan mulai menyalahkannya, karena ia adalah sumber dari peristiwa ini.

Sejenak Wita yang gelisah itu berpaling. Dilihatnya kawan-kawannya berjalan dengan kepala tunduk pula.

Demikianlah maka anak-anak muda itu berjalan semakin cepat tanpa berbicara lagi yang satu dengan yang lain. Yang masih terdengar bergeremang adalah bekas prajurit yang berjalan bersama beberapa anak muda yang tidak mau membantu Wita. Karena setiap kali bekas prajurit itu masih saja berkata — Aku kehilangan kesempatan. Jika aku menang dan meniadi kaya, kalian akan aku belikan sepasang ayam yang paling baik. Ayam-ayam itu akan bertelur dan menetas menjadi banyak Kalian dapat menjualnya dan membeli kambing”

Tidak seorangpun yang menyahut. Tetapi beberapa orang dtantara mereka hanya tersenyum saja.

Sepeninggal anak-anak Semangkak, maka para bebahu Semangkakpun segera minta diri. Seperti juga ayah Wita, maka para bebahu Kademangan Semangkak itupun minta maaf atas segala kelalaian mereka mengurusi anak-anak itu.

“Kami akan berusaha lebih baik lagi dimasa datang” berkata Ki Demang di Semangkak “kami menjadi iri melihat, bagaimana kalian disini berhasil menguasai anak-anak muda kalian.”

“Anak-anak muda itu sendiri bersedia membantu kami. Mereka berusaha mengendalikan diri masing-masing” sahut Ki Demang di Sangkal Putung “tetapi itu bukan berarti bahwa tidak ada persoalan sama sekali disini”

“Tetapi aku melihat Kademanganmu selalu tenang.”

“Kadang-kadang ada juga gelombang-gelombang kecil didalam tata pergaulan. Tetapi justru perjuangan untuk mempertahankan Kademangan ini dari kehancuran itulah yang telah mengikat anak-anak kita. meskipun ada juga yang berusaha melupakannya seolah-olah hal itu tidak pernah terjadi.”

“Salah” desis Ki Demang di Semangkak “kalian yang sudah mempunyai kesempatan yang baik harus tetap memelihara kesadaran itu. Kesadaran atas pengorbanan yang pernah kalian berikan untuk mempertahankan Kademangan ini dari kehancuran. Kami yang meskipun juga mengalami tetapi tidak sedahsyat Sangkal Putung, telah terlanjur kehilangan ikatan itu. Dan ini adalah kesalahan kami yang terbesar.”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Perjuangan itu adalah puncak perjuangan bagi kalian. Yang dapat kita lakukan sekarang adalah akibat dari perjuangan kalian dibantu oleh prajurit Pajang.”

“Setiap masa mempunyai puncak-puncak perjuangan masing-masing, yang merupakan mata rantai perjalanan sejarah Kademangan ini menjelang masa depan yang baik. Setiap masa menyimpan kemungkinan yang sama dan setaraf dalam pembentukan wajah Kademangan ini. Namun yang satu tidak boleh bertentangan dengan yang lain. Yang kemudian tidak boleh menghapuskan nilai-nilai yang hakiki yang pernah dicapai sebelumnya, apalagi jika diingat korban-korban yang pernah jatuh. Tentu mereka tidak akan merelakan dirinya menjadi korban tanpa suatu keyakinan atas tujuan perjuangannya. Itulah yang kita kenang. Dan tujuan itu tidak boleh menyimpang. Sekarang dan seterusnya”

Ki Demang di Semangkak dan bebahunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku akan berusaha. Kami di Semangkak pernah mengalaminya juga meskipun tidak sebesar Sangkal Putung. Tetapi itu bukan berarti bahwa kami sekarang dapat berbuat sekehendak hati. Dan inilah yang sudah terjadi didaerah kami. Tuak, judi, sabung ayam dan semuanya yang sama sekali tidak pernah dibayangkan akan berkembang sampai demikian luasnya.”

“Dan yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun juga disaat-saat kita menggenggam senjata dipeperangan” tiba-tiba terdengar suara lain dibelakang mereka.

Ketika mereka berpaling. dilihatnya Swandaru datang diikuti oleh Agung Sedayu.
“O, kau” desis Ki Demang di Semangkak “dimana kau selama ini? Adikmu telah membuat kami semuanya kagum. Meskipun ia seorang gadis, namun tindakannya yang tepat hampir menentukan. Kelicikan sebagian anak-anak muda Semangkak itu akhirnya dapat diatasi oleh guru mereka sendiri.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas ia berpaling memandang Sekar Mirah yang duduk ditangga pendapa. Sambil tersenyum ia berkata “Kau tentu kecewa bahwa anak-anak muda itu tidak berhasil mengalahkan kau.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya.

“Aku juga ikut berharap agar salah seorang dari mereka dapat menang atasmu, dan kau akan ikut berani dengan mereka.”

Sekar Mirah menjadi tegang sejenak. namun kemudian tangannya meraba-raba dibawah kakinya. Ketika terpegang olehnya sebutir batu maka batu itupun segera dilemparkan kepada kakaknya sambil berkata “Kaulah yang membuat gara-gara.”

“Eh, jangan” Swandaru sempat menghindar. Ketika Sekar Mirah mencari batu berikutnya, Swandarupun segera berlindung dibalik ayahnya yang sedang berdiri berhadapan dengan Ki Demang Semangkak.

“Sst, ketegangan didada kami masih belum mereda” berkata Ki Demang “jangan bergurau. Ki Demang di Semangkak masih ada disini.”

“O” Swandaru menganggukkan kepalanya sambil berkata “aku melihat semuanya dari dahan pohon disebelah halaman.”

Ki Demang di Semangkak mengerutkan keningnya. Didalam kegelapan ia melihat beberapa anak muda berdiri termangu-mangu.

“Ternyata bahwa kalian mampu mengendalikan diri. Perjuangan yang berat dimasa lewat itu membuat kalian benar-benar menjadi anak muda yang masak. Yang bertanggung jawab.”

“Ah, Ki Demang memuji.” sahut Swandaru “tidak semua anak-anak muda Semangkak mudah dibakar oleh api perasaan sendiri. Tetapi karena jumlah mereka yang dewasa lebih sedikit dari mereka yang sedang bergulat dalam pembentukan pribadi itu ternyata bahwa mereka tampaknya justru tersisih.”

Demikianlah, sejenak kemudian Ki Demang di Semangkakpun minta diri kepada Ki Demang di Sangkal putung. Bersama beberapa orang bebahu yang lain iapun kemudian meninggalkan halaman Kademangan. Tetapi agaknya Ki Demang Sangkal Putung tidak melepaskannya begitu saja. Maka diantarkannya Ki Demang itu sampai lepas dari padukuhan induk Sangkal Putung.

Didepan regol, kedua Demang itu mengerutkan keningnya. Mereka masih menjumpai anak-anak muda Sangkal Putung diluar padesan berdiri berjajar disebelah menyebelah jalan.

“Apa yang terjadi?” Ki Demang Sangkal Putung bertanya dengan cemas.
Namun jawab salah seorang dari anak-anak muda itu membuatnya menarik nafas lega “Tidak ada apa-apa Ki Demang.”

“Jadi, darimanakah kalian ?” bertanya Ki Demang di Semangkak.

“Kami baru datang menyingkirkan diri.”

“O” Ki Demang di Semangkak mengangguk-anggukkan kepalanya “terima kasih atas kebaikan hati kalian. Kalian telah menghindari benturan yang dapat terjadi.”

Anak muda itu tidak menyahut. Ia hanya tersenyum saja.

“Aku minta diri” berkata Ki Demang di Semangkak kepada anak-anak muda itu “mudah-mudahan persoalannya tidak akan terulang lagi. Aku minta maaf.”

“Mudah-mudahan Ki Demang” sahut anak-anak muda itu.

Ki Demang di Semangkak dan beberapa orang Semangkak yang lain itupun segera meninggalkan Sangkal Putung. Ternyata mereka telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengendalikan anak mudanya. Bahkan ayah Wita yang hampir saja melepaskan anaknya yang tidak dapat diaturnya lagi, untuk kali yang terakhir berusaha menghindarkan benturan antara anak-anak Semangkak dan Sangkal Putung.

Meskipun demikian kadang-kadang tumbuh juga dihati Demang di Semangkak, bahkan para bebahu yang lain yang hampir-hampir tidak dapat menahan kejengkelannya terhadap anak-anak mereka sendiri pendirian “Jika anak-anak Semangkak itu sudah menjadi babak belur oleh anak-Sangkal Putung, barulah mereka akan jera.”

Dalam pada itu, sepeninggal para bebahu Kademangan Semangkak, Ki Demang di Sangkal Putung berbisik kepada Swandaru “Apa kerja anak-anak itu diluar regol ? Apakah mereka dengan sengaja memancing persoalan atas Semangkak yang justru sudah berhasil didorong keluar dari Kademangan ini?”

Swandaru menarik natas dalam-dalam. Jawabnya “Mereka tidak berbuat apa-apa ayah.”

“Tetapi kenapa mereka berada disitu ? Dalam keadaan yang panas, sesuatu masih mungkin terjadi. Bukankah aku minta kau menyingkirkan anak-anak itu ?”

“Aku memang sudah menyingkirkan mereka. Tetapi bagaimana jika terjadi sesuatu ? Aku memang minta mereka tidak pergi terlampau jauh.”

Namun Ki Demang memotong “Dan kau memang meminta kepada mereka agar mereka berdiri berderet-deret jika anak-anak Semangkak itu kembali meninggalkan Sangkal Putung. Kau ingin mengatakan kepada mereka bahwa sebenarnya anak-anak muda Semangkak itu sama sekali tidak ada arti apa-apa bagi anak-anak muda Sangkal Putung. Kau ingin mengatakan. Jika kami mau, kalian akan dapat kami hancurkan. Bukankah begitu ?”

Swandaru tidak menyahut.

“Permainanmu termasuk berbahaya Swandaru masih juga tidak dapat melepaskan perasaanmu sama sekali. Disatu pihak kau menyingkirkan anak-anak muda itu agar tidak terjadi benturan, tetapi dilain pihak, kesombongan masih saja belum dapat kau tekan sedalam-dalamnya. Kau masih tidak mau disebut, bahwa anak-anak muda Sangkal Putung lari. Bukankah begitu?”

Swandaru masih belum menyahut. Kepalanya tertunduk semakin dalam.

“Bayangkan. Kau mengumpulkan anak-anak muda sekian banyaknya, jika terjadi sesuatu, anak-anak Semangkak itu pasti akan babak belur. Jika sudah terpercik setitik api pertengkaran, kau tidak akan dapat mencegahnva lagi. Dan jika akibatnya terlampau berat bagi anak-anak Semangkak, maka anak-anak yang lain, yang sebenarnya tidak ikut-ikutan, akan menjadi sakit hati juga. Bagaimanapun juga mereka adalah kawan-kawan sepermainan. Bahkan mungkin mereka akan berusaha berbuat sesuatu untuk menghapuskan sakit hati mereka itu.”

Swandaru mengangguk-angguk keeil. Dipandanginva anak-anak muda Sangkal Putung yang masih berkeliaran diluar regol.

“Nah, akan kau suruh kemana mereka sekarang. Tentu ada sesuatu yang tersimpan didalam dada dan masih belum tersalur. Mereka tidak akan puas berdiri saja dipinggir desa, kemudian pulang tanpa berbuat apa-apa.”

Swandaru menjadi bingung. Ditatapnya waiah Agung Sedayu sejenak, seolah-olah la ingin bertanya “Bagaimana sebaiknya ?”

Tetapi Agung Sedayu ternyata menyesali pula sikap Swandaru yang seolah-olah bermain-main dengan api disamping seonggok jerami yang basah karena minyak.

“Lalu apakah yang sebaiknya kita kerjakan ayah ?” bertanya Swandaru kemudian.

Ki Demang di Sangkal Putung termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak akan dapat membiarkan anak-anak itu begitu saja dan bubar dengan sendirinya. Karena itu, maka katanya kepada Swandaru “Suruhlah mereka bubar. Tetapi kau harus berusaha agar anak-anak itu tidak kecewa setelah berdiri saja tanpa berbuat apa-apa.”

“Jadi bagaimana ?”

“Mereka harus berada digardu-gardu dipadukuhan mereka masing-masing. Katakan kepada mereka, bahwa keadaan sudah akan mereda dengan perlahan-lahan. Jika tidak ada apa-apa lagi, maka kau sendiri akan berkeliling kesetiap gardu.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Itu berarti bahwa semalam suntuk ia tidak akan dapat tidur, karena ia pergi dari gardu ke gardu. Dari padukuhan ke padukuhan.

Tetapi Swandaru tidak dapat menolak. Ia harus memberikan imbangan, karena anak-anak muda itu telah berkumpul di Kademangan induk untuk sekedar berdiri berjajar di pinggir jalan.

“Untunglah bahwa mereka cukup kuat menahan perasaan” berkata Swandaru didalam hatinya. Baru kini merasa, permainan itu cukup berbahaya. Dan untuk sekedar memanjakan harga dirinya.

“Kenapa kau diam saja Swandaru ?” bertanya ayahnya.

Swandaru mengangguk sambil menjawab ”Ya Aku akan menemui mereka.”

“Cepat. Aku akan kembali. Para bebahu yang lainpun akan kembali”

Demikianlah maka dengan langkah yang berat Swandaru pergi keluar regol padukuhannya. Atas permintaanya maka Agung Sedayupun mengikutinya pula.

Hati Swandaru menjadi berdebar-debar ketika ia melih-anak-anak muda itu masih utuh dan menunggunya. Agaknnya mereka dengan patuh memenuhi segala pesannya untuk menahan diri jika tidak ada persoalan yang tidak terhindarkan lagi, karena anak-anak Semangkak telah memulai

“Apa yang harus kita lakukan sekarang Swandaru” bertanya salah seorang dari mereka.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Pertama-tama kita bersukur bahwa tidak terjadi sesuatu diantara kita dengan anak-anak Semangkak itu.”

“Aku berpikir lain” desis seorang dari mereka aku merasa kecewa bahwa mereka tidak berbuat apa-apa. Jika mereka memulainya akan ada alasan bagi kita untuk memukul mereka sampai jera.”

“Ya, dan kita ternyata hanya sekedar berdiri saja menjadi makanan nyamuk.”

“Tetapi kita sudah berbangga.”

“Apa yang dapat kita banggakan.” bertanya seorang yang bertubuh tinggi.

“Kita berhasil menahan perasaan yang bergejolak di dalam dada kita. Itu adalah suatu perjuangan tersendiri. Perjuangan yang paling berat. Yang tidak dapat dilakukan oleh anak-anak muda Semangkak sehingga mereka datang berramai-ramai kemari. Sedang kita yang yakin akan kelebihan dan kemenangan kita, tidak berbuat apapun juga meskipun anak-anak Semangkak itu sudah berada dihadapan hidung kita.

Anak-anak muda itu menarik nafas dalam-dalam.

“Lalu sekarang ?”bertanya salah seorang dari mereka.

“Sebagian dari kuwajiban kita sudah selesai. Mudah-mudahan tidak ada akibat apapun yang menyusul.”

Anak-anak yang lebih muda dari Swandaru menjadi kecewa. Tetapi yang lebih tua dari merekapun kemudian berkata “Marilah kita kembali. Lebih baik tidak terjadi sesuatu daripada kita harus mempersoalkannya sampai berkepanjangan”

“Selanjutnya aku akan memberi kabar kepada kalian” berkata Swandaru kemudian.

“Kabar apa ?” bertanya salah seorang dari mereka

“Aku akan memberikan kabar tentang perkembangan keadaan. Apapun yang akan terjadi, aku akan menemui kalian di-gardu-gardu dipadukuhan kalian.”

“Kau akan mengelilingi Kademangan ?”

“Ya.”

“Semalam suntuk?”

“Ya.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak Kemudian salah seorang bertanya”Kau benar-benar akan mengelilingi Kademangan ini?”

“Ya, kenapa ?” jawab Swandaru” didalam keadaan yang tenang dan aman seperti sekarang, mengelilingi Kademangan adalah suatu tamasya yang menarik. Apalagi dimalam hari. Sedang disaat Kademangan ini berada di ujung kuku Tohpati, aku kadang-kadang harus mengelilingi Kademangan ini dimalam hati.”

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka percaya bahwa Swandaru memang ikut menghayati perjuangan melawan Tohpati seperti beberapa orang anak-anak muda itu. Sedang mereka yang lebih muda saat itu, mengetahui pula, bahwa Swandaru merupakan seorang yang ikut memimpin anak-anak muda Sangkal Putung.

Demikianlah, maka dengan hati yang kecewa, anak-anak muda itu kembali kepadukuhan masing-masing. Meskipun mereka berhasil menahan perasaan namun sebenarnya, sebagian besar dari mereka ingin berbuat sesuatu, ingin membuat anak-anak muda Semangkak itu menjadi jera. Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan itu.

Karena itu, mereka melepaskan kekecewaan itu dengan duduk-duduk dan berbaring digardu-gardu. Berbicara, berkelakar dan bahkan ada yang melontarkan tembang macapat keras-keras.

“Kau kawani aku” berkata Swandaru kepada Agung Sedayu.

“Mengelilingi Kademangan ?”

“Ya.”

Agung Sedayu menggelengkan kepala sambil menyahut ”Aku lelah sekali. Pergilah sendiri. Apakah kau takut ?”

“Takut tidak Tetapi seorang diri dimalam begini menyelusur bulak adalah kerja yang menjemukan sekali.”

“Salahmu.”

“Kenapa salahku ?”

“Kau suruh anak-anak itu berkumpul didepan regol.”

“Kalau terjadi sesuatu ?”

“Asal mereka tahu. Dengan kentongan kita dapat memanggil mereka tanpa membuat mereka jemu berdiri dipinggir parit bernyamuk itu.”

Swandaru tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah Agung Sedayu sejenak. Tetapi ia tidak mendapat kesan apapun dari wajah yang kosong itu.

“Jadi kau juga menyalahkan aku seperti ayah?” bertanya Swandaru.

“Ya. Barangkali setiap orang di Sangkal Putung menganggap kau salah.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian berkata “Baiklah. Katakanlah aku telah melakukan kesalahan. Tetapi kau harus mau mengawani aku mengelilingi Sangkal Putung.”

Agung Sedayu menggeleng “Aku akan tidur.”

“Aku akan memukul kentongan” berkata Swandaru.

“Kenapa?”

“Kau orang asing disini.”

“Ah” Agung Sedayu mengerutkan keningnya.

“Pilih salah satu” berkata Swandaru “pergi bersamaku atau aku memanggil anak-anak itu kemari Disini ada orang asing Biarlah mereka menyalurkan kekecewaannya disini, sehingga dengan demikian aku tidak usah pergi mengelilingi Kademangan.”

“Ah, macammu.”

“Swandaru tidak menyahut Tetapi tiba-tiba ia tertawa sambil berkata “Kau tinggal memilih. Aku akan menghitung sampai tiga. Kau harus menentukan pilihan.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Tetapi ia berjalan kembali ke Kademangan.
“Jika kau tidak menjawab, artinya kau bersedia. Kita memang harus kembali ke Kademangan mengambil kuda.”

“Macam kau” gumam Agung Sedayu “cepat sedikit, sehingga kita masih mempunyai kesempatan untuk tidur barang sekejap.”

Swandaru masih tertawa. Tetapi iapun berlari-lari dibelakang Agung Sedayu kembali ke Kademangan untuk mengambil kuda.

Sejenak kemudian mereka berdua telah menjelajahi Kademangan Sangkal Putung diatas punggung kuda. Disetiap bulak mereka seakan-akan berpacu, agar mereka segera mencapai padukuhan berikutnya. Disetiap padukuhan mereka berhenti pada gardu-gardu yang berserakan sekedar menampakkan diri untuk mengurangi perasaan kecewa yang mencengkam. Namun anak-anak muda yang lebih besar dapat juga memberikan penjelasan sehingga anak yang lebih muda dapat mengerti, maksud dan tujuan Swandaru.

“Swandaru ingin membuat mereka jera tanpa menimbulkan benturan” berkata salah seorang pemimpin kelompok kepada anak buahnya.

“Aku lebih senang berkelahi” desis seorang anak tanggung yang baru saja meningkat masa yang gelisah.

“Mungkin kau senang mendapat suatu pengalaman. Tetapi akibatnya akan berkepanjangan. Kita tidak ingin berperang melawan Semangkak meskipun kita menang, karena kita memiliki ikatan kesatuan dengan Kademangan disekitar Sangkal Putung-

Anak-anak yang lebih muda itu tidak menjawab. Mereka mencoba untuk mengerti arti kata-kata kawannya yang lebih tua itu.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 23 November 2008 at 07:23  Comments (83)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-64/trackback/

RSS feed for comments on this post.

83 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Pandan Alas!…..”

    “Hadir…… paling ngarep”

    • Wah…..wis patang taun kepungkur 😐

      • Patang tahun punjul 6 jam

  2. Bondan nomor 2 lho…

  3. Halah, ..kok masih sepi?
    (celingak-celinguk, ..)

    Mbalik ae nang gandok no 62, sopo ngerti wis mulai dibagek raskit (=rangsum kitap) ..

  4. Mancing di lapak empat neh. Pasti dapet ikan adbm
    64 ki-LoH.

  5. yo’opo iki kok podho ngantri ndek kene seh?yo wis aku tak melok antri pisan yo

  6. Aku yo melu ngantri jg ach…

  7. Jaman gemiyen (dulu) saya nunggu adbm 1 bulan 1 jilid dengan sabar. Total 396 jilid= +/- 400 bln atau +/- 33 th?
    Sekarang saya sudah sepuh nunggu ADBM 1 jilid 1 hari saja kok nggak sabar ya……hehe

    Matur nuwun para kisanak pengasuh padepokan ADBM

  8. Nyuwun sewu Ki DeDe…saya ikut ngantri dengan sabar dan sekalian absen….

    Matur suwun kagem Ki Dede beserta para cantrik…

    GD: Hla mbok monggo. Yang tertib dan jangan sampai membuat kisruh ya.

  9. Sepertinya daku harus ikut ngantri nih….

    Daku ABSEN Ki Lurah…

  10. absen pagi2

  11. Ki Slamet76,… lah cantrik2 engkang nenggo2 wonten padepokan niki pancenipun injih sampun sepuh2 koq, tuwin sampun pernah mengikuti serial meniko.

    Menawi sak niki taksih kathah engkang ngangsu kawruh wonten padepokan, jalaranipun injih badhe “menyempurnakan” kawaskitanan engkang sampun dangu mboten dipun asah.

    Menawi kepareng, sakjatosipun panjenengan meniko yuswonipun pinten njih…?

  12. nyuwun sewu ki gede……
    perkembangan retype sakmeniko sampun dugi pundi nggih..

    nembe wangsul saking “Dinas Luar”,
    wah.. jebul kula pun ketinggalan kalih jilit.

    GD: Komplit sudah s/d Jilid 61. Jilid 62 lagi digarap sama Ki Pedo, 63 oleh Ki Prastawa. Tapi yg sudah sempat diposting kalau nggak salah baru s/d Jilid 56 apa 57. Apa mau pesen jilid 64?

  13. oke… siap

  14. Ki Pandanalas,
    Waduh, nyuwun ngapunten kulo mboten saget kromo (maklum kawit lahir dumugi sakmeniko kulo manggen teng luar Jateng & Jatim). Sakmeniko kulo mpun 51….hehe, nek penjenengan pinten?

  15. Sekarang ada virus yang mengancam di sekeliling kita. Ganas, tidak terdeteksi oleh alat-alat kedokteran yang canggih dan belum ada antivirus yang mampu mendeteksi varian virus itu. Hanya para ahli sepakat untuk menamai virus tersebut adalah varian baru jenis virus yang menyerang otak manusia dengan nama “VIRUS ADBM”

  16. Ikut duduk manis

    ngantri

    Ki KontosWedul

  17. Mo kena virus mo enggak yang penting ikut ngantri…

  18. Betul,virus itu selalu menjakiti diriku.
    Paling tidak beberapa kali setiap harinya.
    Pagi hari aku demam,kemudian tengah hari demam lagi,sore demam sampai malam biasanya demam lagi.
    Pernah suatu hari demam itu menjangkiti sampai 10x,kalo tidak salah pada saat nunggu datengnya jilid 57.
    Obatnya ???.
    Bila cover sudah muncul,biasanya agak mendingan.
    Nah ini aku demam lagi..nungguin jilid 64.

    Pusiiing…..

  19. Jam pat setangah limo
    sewidak papat dalem tenggo ki DD

    nuwunsewu tiyang luar jawi namung saget ngrusuhi kemawon
    nyuwun pangapunten kiai

  20. heem… kini aku cuma bisa mengangguk-angguk lagi…
    kenapa demam bisa mengerti akan waktu?

  21. Matur Suwun Ki Slamet, salam tepang. Sak jatosipun njih boso kromo kulo takseh belepotan (mpun suwi mbukak alas teng Swarnabumi nanem jagung sinambi nglatih Pandan Wangi).
    Nyuwun ngapunten dumateng poro cantrik menawi kromonipun campur bawur. (Wong boso kromonipun niki autodidak midangetaken pagelaran wayang kulit)

    Nek umur kulo njih namung benten sekedik. Kulo mpun 34 thn, … Mekaten Ki Slamet…pareng badhe budal ngudi dunungipun jilid 64

  22. Monggo2 ingkan badhe dherek ngupoyo ingkang saking branangipun manah kito sedoyo..supados enggal2 ngleremaken sedoyo ingkan wigati mandap wontening sanubaru ingkang sumeleh, sumenbyak.mbok bilih sumangke kito sedoyo kedah ngandarbeni manah ikang wiyar amargi saking laminipun para pambagya lan pamiarso hanenggani rawuhipun ingkang katelak satrio piningit jilid 64.

  23. Jilid 63 berceritera tentang persiapan tawuran antara ….
    Kalo Polisi jaman sekarang, untuk mengatasi demo biasanya ditangkap (diamankan) dulu provokatornya (Wito).
    Apa ini yang nantinya di jilid 64 yang akan dipakai SHM sebagai jalan keluarnya. Kita tunggu saja jilid 64 itu.
    Regards,
    Ki Truono Podang

  24. barusan nengok langsung ada ransum kitab 64. makasih ki Gde

  25. Tengkiu Ki DD..

  26. //..yach.. biar kata Ki Gde Menoreh orang sakti sing pilih tanding, pinunjuling apapak, lan sing mumpuni olah kanuragan, ning nek lagi ngantuk piye maneh..yo sare to..!
    Untung cantrik2e akeh sing nunggoni, durung sakpenginang lehe sare dumadakan kroso wis digugah..mak gragab, karepe nyandak mouse ngurupke komputer, jebule sing kesenggol gelas isine wedang kopi..wedange kopi mutahi jenang alot sing didekek cedhake gelas lan diwadahi piring kertas..akhire ora enak kabeh..sambi ucek2 mripat..jenang alot dipliriti alon2, sebab ketemplekan kertas sing dianggo tatakan, kanti pangarep2 sebagian isih iso dirasake enak..
    Kanti sareh, Ki Gde ngendiko marang cantrike sing sebagian kroso wedi, malah ono sing mlipir2 ngadohi kamar kerjane Ki Gde..”Cantrikku kabeh sing tak tresnani, suk maneh nek arep nggugah aku, ojo nganggo dihoyog-hoyog awakku yo..Keporo sesuk tuku jam beker bae, dimen aku ora pati kaget..”
    Cantrik sing paling tuwo, mangsuli ora kalah sarehe “Nyuwun sewu ngapunten Ki, mawantu-wantu boten njarag bade ngagetaken Ki Gde, namung ing pangangkah bade ngaturi uningo, bilih wekdal sampun radi telat anggenipun ngedalaken kitab wulangreh jilid 63 lan salajengipun”
    “Hhmm..Yo, yo..aku yo wis rumongso, ning yo kuwi ojo dho nggege mongso, lha wong jenenge wae kitab kanuragan..nek kowe kabeh dho kesusu..malah tondone ra keconggah, duno dungkape malah tumpang suh ngelmune, sebab poro winasis, para sarjono, lan poro sudibyo, wis nate medhar sabdo manowo ngelmu iku kelakone kanti laku..lha nek lakumu wae dho isih timak-timik, rak tondone malah ora tekan sedyo, sebab sedyone dho mbalenjani.. rak ngono to?”
    Cantrik kabeh dho manthuk-manthuk tondo setuju, nanging karo nggatekke astane Ki Gde..sing nggregeli, karo grayah-grayah nyandak permen sing rasane kopi…//

  27. matur nuwun kiai

  28. matur nuwun ki gede

  29. Welah kok soyo sue sing ngometari soyo sitik.?(28 comment)
    Biyen naliko ngenteni njedule jilid 57 iku nganti 130 comment luwih…
    Btw matur nuwun sanget kulo aturaken dateng Ki DD.

    Salam

  30. setor jilit 64

    “BEBAHU Kademangan Semangkak agaknya telah mengalami kesulitan mengendalikan anak-anak mudanya. Tetapi masih juga dapat dicoba” berkata paman Wita.

    GD: ….. dst (sudah dipindah ke pendopo utama. Suwun Ki Goenas)

  31. Suasana menjadi semakin panas. Ki Jagabaya Semangkak yang tidak banyak berbicara seperti kebiasaannya sehari, melangkah maju dengan wajah yang membara. Tiba-tiba saja ia memutar kerisnya sambil berteriak “Kalian, kalian akan melawan aku?”

    GD: ….. dst (sudah dipindah ke pendopo utama)

  32. Demikianlah Swandaru dan Agung Sedayu benar-benar telah mengelilingi Kademangan Sangkal Putung tanpa ada yang dilampauinya. Terutama padukuhan-padukuhan yang terdekat dengan induk Kademangan, yang telah mengirimkan beberapa orang anak-anak mudanya untuk pergi ke Sangkal Putung, berdiri berderet-deret ditepi parit.

    GD: … dst (sudah dipindah ke pendopo)

  33. Napak tilas , ………………..

    • nginthil sak wingkinge Ki HaryaoM.

      • nginthil mburine ki mbleh

        • Nderek menginthili karo nginjen Sekar Mirah gojeg , Mugo ora konangan karo Agung Sedayu ..

          • ouw ouw kamu ketahuan …

            • Wela ki Kertoyuda nembe jelungan , he he he he …….

              • He..gelungan ?
                ..mboten..ah.. 😳

                • Harak kecandhak ….

  34. Mlayu dhisik ah ( wedi dibandhem klompene Sekar mirah )

    • halah…paling mlayu…nyedek-i 😀

      • Sinten niku sing dicedhaki ??????????

        • ki satpam

          • HAh ..????????

            • huduk ta ki

              • Ya nggak la yooww , la wong podho nduwene bedhil .

                • hihaaaa bedile sing swarane ra banter kae to

  35. Bedil opo pistol…? 😀

    • wah ki kartu ki jaaaan mesti detil pertanyaane

  36. Bedul…eh…betul ! 😀

    • Leres ki , bedhile pancen ra iso muni , ning niki bedhil saestu niku lho sing nggo golek manuk emprit

      • wah waaah manuke ki bumi isok nggo nggolek bedil ?
        mantap tenan 😀

        • pancen oye , lha wingi niku angsal bedhil sing keno nggo nginjen barang niko lho .

          • lha niku bedhile wonten tatone nopo mboten ki ?

            • wonten Ki AS,
              gambare kupu2
              (kupu2 yg lucu)

              Lha njenengan kok pirsa ?
              mirsani teng pundi to Ki..?

              • Hayo kadenangan yen sih dho seneng nginjen ihik..ihik..ihik…….

                Monggo ki Menggung sareng-sareng sami nginjen ihik..ihik..ihik …

                • tulung injenke ki mangku, mangke kulo tenggo sms mawon

                • Mengko pas trimone…bukansms? 😀

  37. Nggo ki sms pun dikirim niku lho sms e pun saged diinjen

    • halah sing ketok malah susuh gagak hahahaaaa

      • Ngagem tesmak ki mangke nak saged cetho welo-welo …….

        • sms tesmak teng pundi….!!?? kulo tumut pesen
          setunggal.

          nggo nginjen ben jelas, kinclong-kinclong welo2

          • Ki Menggung lan ki Gembleh kulo njih pun esen ning semayane bibar Riyadin .

            • Lha menawi bakda Riyadin selak Ni Sinden’e mBlayu lho Ki Mangku.
              Terus tesmak’e badhe dingge nginjen napa..?

              • Ature ki Abdus ngge nginjen nopo mawon sing saged diinjen , utama niku lho gambar sing njero S.M.S

                • Bukansms…???

                  • b
                    u
                    k
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    a
                    n

                    • 😀

                    • k
                      i

                      k
                      a
                      r
                      t
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u
                      u

              • Lho…taksih bukan tho….berarti buaan..sms 😀

                • Walah sekesuk njepluk udan ra terang .

                • Wah..sekesuk panjenengan di udani Ki…? 😀

                  • Senes di udani ki Menggung ning di trocohi

                    • r
                      a

                      d
                      i
                      u
                      d
                      a
                      n
                      i

                      w
                      o
                      n
                      g

                      m
                      a
                      l
                      a
                      h

                      n
                      g
                      u
                      d
                      a
                      n
                      i

                      k
                      o
                      k

  38. Wah iki yo kleru neh , la wong sarunge ki Menggung yo melu teles kabeh ngono kok .

    • jiaaah ojo banter-banter ki, ndak krungu ki satpame

      • bisik-bisik wae

        • ssssssssssssssttttttttttttttttt


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: