Buku 62

“Jangan mengganggu perjalananku. Aku tergesa-gesa.”

“Kau harus turun. Aku tahu, dengan sebelah tanganmu kau dapat mengalahkan anak buahku. Tetapi jangan kau sangka, Ranajaya sekedar seorang prajurit cengeng macam anak itu,” berkata Ranajaya sambil menunjuk prajurit yang telah dikalahkan oleh Agung Sedayu hanya dengan sebelah tangannya.

“Aku percaya Ranajaya,” jawab Agung Sedayu kemudian, “aku percaya. Dan sekarang berilah jalan. Aku akan lewat. Hanya sekedar lewat.”

Tetapi Ranajaya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku ingin tahu yang sebenarnya. Apakah sebenarnya yang kau andalkan, maka kau bersikap begini sombong.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan di saat-saat ia berangkat dari Sangkal Putung, bahwa justru sikap seorang perwira yang angkuh inilah yang telah menghambat perjalanannya. Sama sekali bukan karena Untara melarangnya kembali.

“Ranajaya,” berkata Agung Sedayu kemudian, “sebaiknya kita tidak membuat persoalan ini berkepanjangan. Aku berbangga, bahwa para perwira tidak membuat persoalan atasku, karena aku bertengkar dengan seorang prajurit. Tetapi tiba-tiba salah seorang perwira telah berbuat serupa, seperti prajurit yang justru dianggap tidak benar oleh Untara, bukan sebagai kakakku, tetapi sebagai perwira tertinggi di daerah ini.”

“Urusan Untara adalah urusan keprajuritan. Ia tidak perlu mengurusi sikap-sikap sombong seperti sikapmu ini.” Ranajaya berhenti sejenak, lalu, “Dan bukankah kau sendiri yang menuntut sikap jantan di antara kita?”

Agung Sedayu merasa, bahwa ia tidak akan dapat menghindar lagi. Apalagi ketika Ranajaya berkata, “Agung Sedayu. Yang penting bagiku, aku akan memaksa kau berceritera tentang Mataram. Kau harus berkata sebenarnya. Kalau kau ingin menghindari sikap jantan yang kau tuntut itu, katakanlah, apa yang kau ketahui tentang Mataram?”

Agung Sedayu berpikir sejenak. Agaknya ia dapat mencoba menghindari pertengkaran, selama masalah Mataram itu dapat memberi kepuasan kepada Ranajaya. Karena itu, maka katanya, “Apakah yang ingin kau ketahui tentang Mataram?”

“Siapa saja yang telah dibunuh oleh Sutawijaya di daerah yang sedang dibuka? Kau tentu tahu, dan kau tentu dapat mengatakan, siapakah pembunuhnya yang sebenarnya.”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar pertanyaan itu. Tetapi dengan demikian ia justru ingin mendengar pertanyaan Ranajaya lebih lanjut. Karena itu, maka ia pun kemudian menjawab, “Sepengetahuanku Ranajaya, tidak ada orang yang sengaja dibunuh. Memang ada pertempuran-pertempuran kecil dengan mereka yang sengaja mengganggu pembukaan Alas Mentaok. Tetapi itu bukan pembunuhan.”

“Ya, sebutkan siapa saja yang terbunuh di dalam peperangan itu?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. “Tentu aku tidak dapat mengatakan seorang demi seorang.”

“Bohong!” tiba-tiba Ranajaya membentak. “Pajang harus mendapat bahan selengkapnya sebelum bertindak tepat. Nah, berapa ribu orang sudah disiapkan oleh Sutawijaya untuk melawan Pajang.”

“Inilah yang berbahaya,” berkata Agung Sedayu. “Berulang kali aku katakan. Tidak ada persiapan prajurit. Tidak ada.”

“Bohong! Bohong! Aku akan memaksamu berkata.”

“Tidak ada yang akan aku katakan.”

“Itulah yang aku ingin tahu sebenarnya. Kau harus menyebut besar pasukan Mataram. Siapakah pimpinan mereka. Aku tahu, ada beberapa orang perwira yang telah terbujuk oleh Sutawijaya yang curang itu. Dan di mana saja mereka menempatkan pusat-pusat pertahanannya. Jangan ingkar, bahwa kau pasti salah seorang telik sandi yang dikirim oleh Sutawijaya. Menurut penyelidikan kami, kau bersahabat dengan Sutawijaya sejak Tohpati masih berkuasa di daerah ini. Kau berdua dengan anak Demang Sangkal Putung telah mengikutinya ke Alas Mentaok, jauh sebelum Pemanahan berontak dan dengan kekerasan menduduki daerah yang belum resmi diserahkan kepadanya. Hanya karena kebesaran hati Sultan Hadiwijaya, maka Pemanahan diperkenankan membuka hutan itu. Tetapi ternyata kebaikan hati Sultan Hadiwijaya itu telah disalah-artikan oleh Pemanahan, sehingga mereka menganggap Pajang sudah terlampau lemah menghadapinya.”

Tetapi Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Itu tidak benar. Dari mana kau mendapatkan ceritera itu? Mungkin seorang nenek yang sedang menidurkan cucunya akan berceritera semacam itu.”

“Kau tentu tidak akan mengatakannya. Karena itu, aku akan memaksamu. Aku akan mendengar keterangan tentang Mataram menurut caraku. Kemudian kau akan aku seret kembali ke Jati Anom untuk membuktikan kepada mereka, bahwa kau adalah telik sandi yang harus kita curigai, meskipun kau adik Untara atau katakanlah justru kau adik Untara.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Kalau Untara meyakini, bahwa kau seorang petugas sandi dari sahabatmu yang licik dan curang itu, kau akan mendapat perlakuan yang lain meskipun ia kakakmu sendiri.”

“Jadi kau ingin menunjukkan jasa yang berlebih-lebihan kepada Kakang Untara? Atau kau ingin dianggap sebagai pahlawan besar bagi Pajang?”

“Tutup mulutmu! Kalau kau ingin berbicara, berbicaralah tentang pengkhianatan Sutawijaya. Jangan berkata tentang yang lain.”

Agung Sedayu merenung sejenak, lalu, “Kalau begitu lebih baik aku tidak berbicara tentang apa pun juga.”

“Gila. Aku akan memaksamu. Ayo, turun dari kudamu! Atau aku akan menyeretmu. Aku dapat memaksa kau berkata.”

“Mungkin kau dapat memaksa aku berkata. Tetapi yang aku katakan bukanlah hal yang sebenarnya terjadi. Tetapi hanya sekedar memenuhi keinginanmu.”

“Kau benar gila,” dan tiba-tiba saja wajah Ranajaya menjadi merah membara. Sejenak kemudian ia beringsut maju.

Agung Sedayu tidak melihat jalan lain daripada membela diri. Tetapi ia tidak mau berkelahi di atas punggung kudanya, agar Ranajaya tidak terinjak oleh kaki-kaki kuda itu. Karena itu, maka Agung Sedayu pun segera meloncat turun sambil berkata, “Japa, tolong, pegangi kudaku.”

“O, anak yang malang. Kau benar-benar akan menyesal,” geram Ranajaya.

Agung Sedayu tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun ia sudah berusaha menghindari pertengkaran, namun ia tidak berhasil.

Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan dirinya. Ia tidak tahu, seberapa jauh kemampuan Ranajaya. Karena itu, ia tidak ingin terpelanting pada sasaran pertama.

Ranajaya yang benar-benar telah tidak dapat mengendalikan dirinya, melangkah semakin lama semakin mendekat. Matanya seakan-akan telah menyala. Seakan-akan ia benar-benar berhadapan dengan seorang petugas sandi dari Mataram yang berhasil menyusup di antara pasukan Pajang.

Demikianlah bagi Ranajaya, Agung Sedayu memang mencurigakan. Sebenarnya ia sudah mendengar nama itu beberapa lama. Bahkan ia telah berhasil mengetahui serba sedikit tentang Agung Sedayu.

Masih terngiang di telinganya pesan seorang Tumenggung dari Pajang, “Kau harus mencari keterangan tentang sepasang anak-anak muda yang bersenjata cambuk. Salah seorang dari mereka adalah adik Untara.”

Sebenarnya bagi Agung Sedayu sendiri, pengenalan Ranajaya atas dirinya itu pun agaknya menumbuhkan teka-teki. Tetapi ia tidak sempat bertanya, dan ia yakin bahwa Ranajaya tidak akan mau mengatakannya.

“Agaknya cukup banyak prajurit Pajang yang mengenal aku sejak di Sangkal Putung, sampai pecahnya padepokan Tambak Wedi,” katanya di dalam hati. “Tetapi ternyata Ranajaya telah mencari hubungan keakrabanku dengan Raden Sutawijaya saat itu dengan kedatangan dari Mataram sekarang. Apalagi aku memang pernah pergi ke Alas Mentaok, sebelum daerah itu dibuka justru bersama-sama dengan Raden Sutawijaya.”

Agaknya peristiwa-peristiwa itulah yang telah dijalin oleh Ranajaya menjadi suatu kesimpulan, bahwa kedatangannya kali ini adalah atas perintah dan tugas dari Sutawijaya.

“Untunglah, bahwa Kakang Untara mengenal aku dengan baik, sehingga ia tidak mudah percaya dengan ceritera-ceritera itu,” katanya pula di dalam hatinya.

Namun sementara itu. Ranajaya telah berdiri beberapa langkah saja di hadapannya. Sambil menggeram ia menunjuk wajah Agung Sedayu, “Jangan ingkar. Aku sudah banyak mendengar perananmu, peranan orang-orang bercambuk di Alas Mentaok. Aku kira tidak banyak jumlahnya, orang-orang yang bersenjata cambuk seperti senjatamu dan gurumu.”

“Siapa yang menyampaikan hal itu kepadamu?”

“Tidak ada gunanya kau mengerti,” Ranajaya membelalakkan matanya. “Apakah kau mengaku?”

“Aku mengaku, bahwa aku mempunyai senjata cambuk. Hanya itu.”

“Persetan,” Ranajaya agaknya sudah tidak sabar lagi. Selangkah lagi ia maju, sehingga karena itu, Agung Sedayu pun telah siap menghadapi serangannya yang pertama.

Agung Sedayu tidak perlu menunggu terlalu lama. Namun masih terdengar Ranajaya berkata, “Kau akan terpaksa mengatakannya, Anak Gila.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi matanya yang tajam segera melihat kaki Ranajaya terangkat. Cepat sekali, seperti anak panah yang meloncat dari busurnya.

Tetapi Agung Sedayu tidak tinggal diam. Dengan cepat pula ia bergeser dan melingkar di atas tumit satu kakinya, sehingga kaki Ranajaya terjulur sejengkal di sisi lambungnya. Bahkan dengan cepat pula, Agung Sedayu memukul pergelangan kaki itu dengan sisi telapak tangannya. Namun agaknya Ranajaya dapat bergerak sangat tangkas. Sebelum tangan Agung Sedayu mengenai pergelangan kakinya, Ranajaya telah melingkar, melontarkan kakinya itu menjauhi Agung Sedayu. Dan begitu kaki yang terjulur itu melekat di atas tanah, maka dengan sebuah loncatan kecil, Ranajaya melenting menyerang Agung Sedayu dengan kakinya yang lain.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ranajaya benar-benar seorang perwira yang lincah. Tetapi ia tidak membiarkan tubuhnya disakiti. Dengan tangkasnya Agung Sedayu merendahkan dirinya. Tiba-tiba saja kakinya melingkar mendatar, hanya sejengkal di atas tanah menyapu satu kaki Ranajaya, sementara satu kakinya masih terjulur. Dengan perhitungan yang tepat, maka pada saat kaki yang terlonjak sedikit itu menginjak tanah, sedang yang lain masih terjulur lurus, kaki Agung Sedayu telah mengenainya.

Gerakan Agung Sedayu yang cepat itu sama sekali tidak terduga-duga oleh Ranajaya. Karena itu, ketika kakinya yang menginjak tanah itu terlempar, maka ia pun jatuh pula terbanting.

Tetapi Ranajaya tidak membiarkan serangan berikutnya. Dengan cepat pula ia berguling beberapa kali menjauh. Kemudian melenting seperti seekor bilalang yang meloncat. Kemudian dengan lincahnya ia jatuh di atas kedua kakinya yang renggang, langsung bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Itulah sebabnya Ranajaya menjadi sombong. Ia ternyata seorang perwira yang benar-benar tangkas dan perkasa. Sentuhan pada bagian tubuhnya, memberikan sedikit petunjuk bagi Agung Sedayu, bahwa lawannya adalah seorang yang tidak saja lincah dan cepat, tetapi juga seorang yang kuat. Sehingga dengan demikian, maka Agung Sedayu pun menjadi semakin berhati-hati menghadapi kemungkinan-kemungkinan mendatang.

Sejenak keduanya berdiri tegak di tempatnya. Namun kemudian hampir berbareng keduanya bergeser mendekat. Memang agaknya tidak ada jalan penyelesaian yang lain daripada kekerasan. Dan Agung Sedayu memang tidak akan menghindar lagi.

Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang seru. Masing-masing adalah seorang yang tangkas, cepat dan memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.

Para prajurit yang ada di luar arena hanya dapat melihat perkelahian itu dengan hati yang berdebar-debar.

Sekali-sekali wajah mereka menegang, namun kemudian sebuah senyum tampak membayang di bibir mereka. Tetapi sejenak kemudian kening mereka menjadi berkerut-merut.

Para prajurit yang mengikuti Ranajaya hampir berbareng bersorak, ketika mereka melihat Agung Sedayu terlempar beberapa langkah, karena hempasan kaki Ranajaya yang tepat mengenai lambungnya. Namun Agung Sedayu tidak terjatuh. Ia masih sempat mengelak ketika serangan berikutnya mengarah pelipisnya.

Japa mengikuti perkelahian itu dengan tegang pula. Tetapi tampaknya ia tetap tenang, seolah-olah ia tidak terseret ke dalam suasana yang semakin lama menjadi semakin panas itu.

Ranajaya yang merasa dirinya seorang perwira yang terkemuka di medan-medan perang, merasa heran, bahwa Agung Sedayu tidak segera dapat dikalahkan. Ia sadar, bahwa Untara, adalah seorang prajurit linuwih. Tetapi apakah dengan demikian, dengan sendirinya Agung Sedayu juga menjadi seorang yang perkasa?

Karena itu, maka Ranajaya pun segera mengerahkan segenap kemampuannya. Ia ingin segera memaksa Agung Sedayu menyerah, dan menjawab semua pertanyaannya tentang Mataram, tentang Alas Mentaok dan tentang tugas yang dibebankan kepadanya oleh Sutawijaya. Jika ia berhasil, maka ia akan mengejutkan seluruh Jati Anom dan Untara sendiri, bahwa adiknya ternyata adalah telik sandi yang diselusupkan oleh Sutawijaya ke belakang garis pertahanan Pajang.

Tetapi Agung Sedayu pun semakin lama menjadi semakin panas pula. Semula ia memang tidak memeras kemampuannya, karena ia masih mempunyai perasaan segan dan hormat kepada prajurit Pajang, apalagi seorang perwira. Tetapi karena tubuhnya semakin sering dikenai serangan-serangan Ranajaya dan menjadi semakin terasa sakit, akhirnya Agung Sedayu pun tidak mau mengekang diri lagi.

“Aku harus bersungguh-sungguh,” katanya di dalam hati, “apa pun akibatnya. Kalau tidak, maka aku akan benar-benar menjadi bengkak-bengkak.”

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Agung Sedayu pun kemudian mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Ia tidak lagi mencoba menghindarkan kemungkinan yang pahit bagi perwira itu. Ia tidak lagi menghiraukan, apakah perwira itu akan menjadi sangat malu, apabila ia tidak dapat memenangkan perkelahian itu, atau setidak-tidaknya tidak dikalahkan oleh Agung Sedayu.

Kalau semula Agung Sedayu tidak ingin mengalahkan lawannya dengan semena-mena di hadapan prajurit-prajuritnya, maka pikiran itu pun semakin lama menjadi semakin kabur, karena serangan Ranajaya yang semakin menyakiti badannya.

Sejak itulah, maka tampak perubahan pada keseimbangan perkelahian itu. Karena Agung Sedayu pun kemudian mengerahkan segenap kemampuannya, maka justru Ranajaya yang semakin bernafsu untuk segera memenangkan perkelahian itulah yang menjadi semakin terdesak.

Hampir tidak masuk akal lagi Ranajaya, bahwa ia merasa semakin lama semakin berat melawan tandang Agung Sedayu. Ternyata anak muda itu memiliki kemampuan yang jauh melampaui kemampuan yang diperkirakannya. Meskipun demikian, Ranajaya adalah seorang perwira yang berpengalaman, meskipun ia masih muda. kunjungi adbmcadangandotwordpressdotcom. Karena itulah, maka meskipun sekali-sekali ia tampak terdesak, tetapi ia masih mampu melakukan perlawanan sebaik-baiknya. Serangan-serangannya bahkan sekali-sekali masih juga dapat mengenai sasarannya.

Tetapi kini serangan Agung Sedayu mulai mengenai tubuhnya. Sambaran tangan Agung Sedayu bagaikan ayunan sekeping besi yang berat. Dan tangan itu telah menyentuhnya. Tidak hanya satu kali, dua kali. Tetapi beberapa kali.

Perkelahian itu pun semakin lama benar-benar menjadi semakin dahsyat. Agung Sedayu kini mulai berusaha menguasai lawannya. Langkahnya semakin lincah dan cepat, sehingga seakan-akan ia berada di segala arah bagi lawannya.

Perlahan-lahan perkelahian itu pun bergeser menepi. Begitu dahsyatnya sehingga tanpa mereka sadari, mereka telah berdiri tepat di pinggir tanggul sawah yang sedang digenangi air.

Sebuah serangan Ranajaya yang cepat dan tidak terduga-duga, ternyata berhasil menyusup pertahanan tangan Agung Sedayu langsung mengenai dadanya. Terasa pukulan tangan Ranajaya itu bagaikan memecahkan dinding dadanya, sehingga Agung Sedayu terdorong surut. Sedang di belakang Agung Sedayu adalah sawah yang basah berlumpur.

Tetapi Agung Sedayu tidak mau terlempar sendiri ke dalam genangan lumpur itu. Dengan tangkasnya ia masih berhasil menangkap pergelangan tangan Ranajaya, sehingga keduanya bagaikan terlempar ke dalam air yang berwarna coklat kehitam-hitaman.

Para prajurit yang menyaksikan perkelahian itu, seakan-akan telah membeku di tempatnya. Tetapi ketika mereka melihat keduanya terjatuh ke dalam lumpur, maka mereka pun hampir serentak meloncat maju, dan berdiri tegak di pinggir pematang.

Tertatih-tatih keduanya berusaha meloncat berdiri. Tetapi ternyata lumpur yang kotor, yang telah melumuri seluruh tubuh dan pakaian, membuat hati mereka semakin panas. Sehingga perkelahian selanjutnya adalah benar-benar perkelahian yang menentukan, meskipun keduanya masih tidak bersenjata.

Dalam pada itu, para prajurit yang berdiri di pinggir sawah, tidak sampai hati membiarkan perwiranya berkelahi berlumuran lumpur tanpa berbuat apa-apa. Apalagi mereka melihat setiap kali keduanya terlempar jatuh, bangun lagi dengan lumpur yang semakin tebal.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun sejenak kemudian salah seorang berdesis, “Apakah kita dapat membantu?”

“Tunggu. Kita harus mendapat perintah atau ijin dahulu. Kalau tidak, kita akan justru dimarahinya.”

Kawannya menjadi termangu-mangu. Namun setiap kali keningnya berkerut-merut. Lumpur yang melumuri seluruh tubuh Ranajaya dan Agung Sedayu semakin lama menjadi semakin tebal pula. Apalagi ketika menjadi semakin jelas bagi para prajurit, bahwa Ranajaya selain harus bergulat melawan lumpur, ternyata juga bahwa ia menjadi semakin terdesak.

Agung Sedayu yang merasa, bahwa tubuhnya menjadi sangat kotor dan menjadi pedih-pedih karena air, berniat untuk segera mengakhiri perkelahian. Karena itu, maka ia berkelahi semakin garang, meskipun ia masih juga berada di dalam lumpur.

Ternyata, bahwa Ranajaya tidak mampu mengimbangi kemampuan Agung Sedayu. Meskipun Ranajaya seorang prajurit yang berpengalaman, tetapi Agung Sedayu pernah mengalami medan yang bermacam-macam, sehingga karena itu, maka ia telah berhasil benar-benar menguasai lawannya, seorang perwira pasukan Pajang.

Dengan demikian, maka prajurit-prajuritnya benar-benar tidak dapat tinggal diam. Salah seorang bergerak maju sambil berkata, “Ijinkan kami ikut menangkap telik sandi itu.”

Perwira Pajang yang sedang berkelahi itu tidak segera menjawab. Ia masih dibayangi oleh sifat keperwiraannya, sehingga karena itu, ia tidak segera membenarkan prajurit-prajuritnya ikut di dalam perkelahian itu.

Kerena Ranajaya tidak menyahut, maka seorang prajurit yang lain berteriak pula, “Apakah kami diijinkan untuk ikut menangkap anak itu?”

Masih tidak ada jawaban.

Dan sekali lagi prajurit di pinggir sawah itu berkata, “Kami minta ijin itu.”

Tetapi perwira yang sedang berkelahi itu tidak memberikan jawaban apa pun. Ia tidak ingin berkelahi dengan curang. Sebagai seorang perwira ia masih mempunyai harga diri yang cukup, sehingga ia tidak mengiakan permintaan prajurit-prajuritnya itu.

Sikap itu ternyata menumbuhkan perasaan hormat pada Agung Sedayu. Agung Sedayu yang menyadari, bahwa sebentar lagi ia pasti akan menguasai lawannya sepenuhnya, merasa kagum, bahwa meskipun Ranajaya termasuk seorang perwira yang bengal, tetapi ia tidak mau bertempur bersama prajurit-prajuritnya untuk melawan Agung Sedayu.

Tetapi prajurit-prajuritnyalah yang menjadi gelisah. Karena Ranajaya tidak menyahut, maka mereka pun akan mengambil sikap sendiri. Salah seorang berkata, “ Ki Ranajaya tidak melarang, meskipun tidak mengiakan.”

“Kita bertindak sendiri,” sahut yang lain.

Tetapi yang lain lagi berkata, “Tetapi ia adik Ki Untara.”

Sejenak prajurit-prajurit itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian, “Kalau benar ia telik sandi, meskipun adiknya Ki Untara, kita memang harus menangkapnya.”

Kawannya termangu-mamgu sejenak, namun kemudian, “Tanggung jawab ada pada Ki Ranajaya. Marilah, kita berbuat sesuatu.”

Sejenak prajurit-prajurit itu bimbang. Namun sejenak kemudian mereka beringsut maju.

Tetapi ketika mereka benar-benar akan terjun ke dalam lumpur, mereka terhenti, karena Japa yang ada di belakang mereka berkata, “He, apakah kalian akan ikut campur?”

“Kami akan menangkap petugas sandi dari Mataram itu.”

“Jangan. Ki Ranajaya akan marah kepada kalian. Kau telah minta ijin kepadanya, tetapi ia tidak menjawab. Kau tahu harga diri seorang satria?”

Ketiga prajurit itu mengerutkan keningnya.

“Biarkanlah perkelahian itu.”

Ketiga prajurit itu merenung sejenak. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Soalnya bukan perang tanding. Tetapi kami akan menangkap seorang telik sandi bersama-sama.”

“Tuduhan itu tidak beralasan sama sekali. Kalian harus tahu, bahwa Ki Ranajaya adalah seorang yang sangat membenci Sutawijaya. Aku tidak tahu sebabnya. Karena itulah, maka penilaiannya terhadap kawan Raden Sutawijaya juga tidak longgar lagi. Seakan-akan semua orang yang pernah berkenalan dengan Raden Sutawijaya adalah musuh Pajang. Bahkan kita belum yakin, apakah Raden Sutawijaya sendiri memusuhi Pajang?”

Ketiga prajurit itu menjadi semakin bimbang. Dan Japa berkata, “Biarlah keduanya menyelesaikan persoalan mereka. Soalnya bukan Mataram atau Pajang. Bukan telik sandi atau prajurit yang setia. Keduanya adalah anak-anak yang masih muda. Yang satu tidak mau tersinggung oleh yang lain. Itu saja. Karena itu, marilah kita sekedar menjadi saksi.”

“Ah. Kau berpikir terlampau pendek. Ki Ranajaya tidak sekedar berpikir tentang dirinya sendiri. Ia menyadari kedudukan Pajang di hadapan Mataram yang sedang tumbuh.”

“Itu adalah omong kosong. Percayalah, bahwa mereka keduanya adalah anak-anak muda yang sombong, angkuh dan terlampau memuja harga diri, sehingga hatinya mudah tersinggung. Itulah sebabnya, mereka berkelahi. Bukan apa-apa. Jangan dihubungkan dengan soal-soal yang tidak kita mengerti.”

“Persetan,” sahut seorang prajurit, “tetapi kita harus berbuat sesuatu.”

Japa menggelengkan kepalanya, “Jangan. Aku tidak sependapat.”

“Tetapi kami tidak dapat membiarkan hal ini terjadi.”

“Biar sajalah.”

“Kau sama sekali tidak mau membantu seorang perwira atasannya yang sedang menjalankan tugas.”

“Aku dari pasukan berkuda. Bukan dari pasukanmu. Aku memang harus hormat kepada perwira yang mana pun. Tetapi tidak mencampuri persoalan pribadinya. Apa lagi ia memang agak terlampau mudah tersinggung.”

“Terserah. Tetapi kami akan membantunya.”

Tetapi Japa menggeleng, “Jangan. Kau tahu arti kata-kataku ini? Biarkan saja apa yang akan terjadi.”

Ketiga prajurit itu menjadi termangu-mangu sejenak. Sekali dipandanginya wajah Japa yang berkerut-merut, namun kemudian mereka berpaling kepada Ranajaya yang semakin sering jatuh, terbanting ke dalam lumpur.

Sebenarnyalah, prajurit-prajurit itu menjadi ragu-ragu. Mereka bertiga telah mengenal prajurit dari pasukan berkuda yang bernama Japa itu. Ia mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawan prajuritnya. Beberapa orang justru mengatakan, bahwa ia mempunyai aji welut putih, sehingga dalam keadaan yang bagaimanapun sulitnya, namun lawan-lawannya tidak akan dapat menangkapnya. Bahkan sekaligus mempunyai aji lembu sekilan, sehingga seakan-akan ia menjadi kebal, meskipun oleh kekuatan yang dapat melampaui daya tahan aji lembu sekilannya, ia dapat juga dikenainya.

Tetapi sejenak kemudian Japa itu pun berkata, “Dengarlah kata-kataku. Aku yakin, bahwa aku sependapat dengan Ki Ranajaya.”

“Kau lihat, Ki Ranajaya kini terdesak. Apakah kau dapat membayangkan, bagaimana tanggapannya terhadap kami yang sekedar menonton di sini. Kalau kami mengatakan, bahwa kaulah yang mencegah kami, maka kau akan menjadi sasaran kemarahannya. Meskipun kau mempunyai aji welut putih dan lembu sekilan sekalipun, kau tidak akan dapat melawan Ki Ranajaya.”

“He, siapa yang mengatakan bahwa aku mempunyai aji welut putih dan apalagi lembu sekilan? Sama sekali tidak. Kalau aku mencegah kalian, itu adalah karena aku yakin, Ki Ranajaya akan membenarkan sikapku. Kalau ikut campur, maka itu akan berarti, bahwa kau telah menurunkan sikap satrianya. Seandainya kalian berempat berhasil mengalahkan Agung Sedayu, itu sama sekali bukan kebanggaan. Besok kalian pasti akan dihukum oleh Ki Ranajaya, karena kalian telah menghinanya, seolah-olah perwira itu tidak dapat mengatasi persoalannya, atau tidak dapat bersikap seperti seorang laki-laki yang sebenarnya.”

Ketiga prajurit itu menjadi bingung. Tetapi salah seorang dari mereka berkata, “Lalu apa gunanya kami dibawanya serta?”

“Maksudnya, kalian akan menjadi saksi apa yang telah terjadi. Seandainya terjadi kecelakaan dalam perkelahian itu, maka itu adalah akibat yang tidak dapat dihindari. Yang lain tidak dapat dituntut, karena keduanya telah berhadapan sebagai laki-laki atas kehendak masing-masing.”

Ketiga prajurit itu menjadi termangu-mangu. Tetapi kini ia melihat Ranajaya terlempar beberapa langkah dan jatuh terlentang di dalam lumpur. Hampir seluruh tubuhnya terbenam di dalam air yang kotor di sela-sela tanaman padi muda, yang menjadi porak-poranda dan bosah-baseh.

Dengan susah payah ia berusaha berdiri. Tetapi Agung Sedayu telah berkeputusan untuk mengakhiri perkelahian itu, sehingga begitu Ranajaya tegak, maka ia pun segera menyerang dengan dahsyatnya. Sebuah pukulan yang tidak terelakkan telah mengenai dagunya.
Sebenarnyalah, bahwa tenaga Ranajaya telah susut. Karena itu pukulan Agung Sedayu itu terasa begitu dahsyatnya, sehingga kepala Ranajaya terangkat dan sekali lagi ia terhuyung-huyung. Tetapi kali ini Agung Sedayu memburunya. Sebuah pukulan berikutnya mengenai perutnya.

Ranajaya membungkuk kesakitan. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan lagi. Sekali lagi Agung Sedayu mengayunkan tangannya. Kali ini mengenai bagian bawah telinganya.

Terasa kepala Ranajaya bagaikan terputar. Kini ia terlempar dan tanpa dapat menjaga keseimbangannya lagi, ia pun terjatuh menelentang.

Tenaga perwira muda itu bagaikan telah terhisap habis. Kepalanya menjadi pening, dan pandangan matanya seakan-akan berputaran. Awan yang terbang di langit bagaikan runtuh menimpa dadanya.

Tetapi Ranajaya tidak pingsan, meskipun ia tidak dapat lagi bangkit berdiri. Ia hanya dapat mengangkat kepalanya dan duduk di dalam lumpur yang basah.

Agung Sedayu berdiri tegak dengan kaki renggang. Dipandanginya wajah Ranajaya yang pucat, namun memancarkan kemarahan yang tiada taranya.

“Kau memang gila,” perwira itu menggeram, “aku akan membunuhmu, pengkhianat.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dibiarkannya Ranajaya mengumpat-umpat.

Tetapi dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar, ketika tangan Ranajaya meraba hulu kerisnya yang kotor oleh lumpur itu. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Aku benar-benar akan membunuhmu. Segores luka di kulitmu telah cukup untuk membuatmu tidak dapat lari lagi dari tangan maut.”

Agung Sedayu memandang tangan Ranajaya dengan dada yang berdebar-debar. Perwira itu benar-benar menjadi mata gelap, sehingga ia tidak lagi dapat berpikir bening. Keris bukannya sekedar barang mainan, yang dapat dipergunakan setiap saat yang disukainya. Tetapi keris akan langsung berhubungan dengan jiwa seseorang, apabila dipergunakan.

“Apakah aku juga akan mempergunakan senjata?” pertanyaan itu telah mengetuk hatinya.

Meskipun Ranajaya telah menjadi semakin lemah, tetapi keris di tangannya akan langsung berbahaya bagi jiwanya. Apalagi keris itu adalah keris seorang perwira. Sudah barang tentu kalau keris itu bukanlah keris kebanyakan yang dijajakan di pasar-pasar.

Sejenak Agung Sedayu jadi membeku. Keragu-raguaan yang dahsyat telah mencekam dadanya.

Dalam pada itu, Ranajaya agaknya benar-benar akan menarik keris dari wrangkanya. Sejenak ia masih memandang Agung Sedayu sambil menggeram, “Kau akan menyesal. Kau tidak akan melihat matahari terbenam, apalagi sampai ke Sangkal Putung pada waktunya.”

Agung Sedayu benar-benar menjadi bingung. Ia tidak menyangka, bahwa Ranajaya benar-benar telah kehilangan pegangan, sehingga tidak lagi dipertimbangkan, bahwa kerisnya akan mungkin merenggut nyawa seseorang.

Namun dalam pada itu, selagi Agung Sedayu termangu-mangu, mereka yang ada di sekitar arena perkelahian itu, terkejut oleh derap kuda, yang semakin lama menjadi semakin mendekat, sehingga hampir berbareng mereka berpaling.

Tangan Ranajaya yang telah melekat di hulu kerisnya, perlahan-lahan terkulai. Wajahnya yang pucat itu menegang, ketika ia melihat orang yang berkuda paling depan dari beberapa orang penunggang kuda yang mendekati arena. Orang itu adalah Untara.

Para prajurit yang berdiri di tepi sawah itu pun menjadi termangu-mamgu. Mereka tidak menyangka, bahwa Untara akan sampai ke tempat itu juga.

Dalam pada itu, ketika Untara dan beberapa orang pengiringnya menjadi semakin dekat, tiba-tiba saja telah meledak suara tertawanya, seolah-olah ia sedang melihat suatu permainan yang lucu sekali. Bahkan Untara yang tertawa terbahak-bahak itu, terpaksa memegangi perutnya yang berguncang-guncang.

Demikian kudanya sampai di pinggir sawah berlumpur itu, ia pun segera meloncat turun diikuti oleh para pengiringnya. Namun ia masih saja tertawa berkepanjangan.

Para pengiringnya yang semula menjadi tegang, itu pun ikut pula tertawa melihat kedua orang yang berlumuran dengan lumpur yang basah itu.

“He, apakah kerja kalian di sana?” bertanya Untara sambil berdiri di pematang.

Agung Sedayu yang memang sudah mengerti, bahwa kakaknva akan menyusul segera melangkah menepi. Kakinya terbenam sampai di atas mata kakinya itu.

“Kemarilah, kemarilah. Apakah kalian termasuk golongan kerbau yang sedang berkubang?” bertanya Untara di sela-sela suara tertawanya.

Kedua orang itu tidak menjawab. Ranajaya pun kemudian melangkah pula menepi. Tetapi karena tenaganya memang sudah susut, serta kakinya yang membenam agak dalam, maka langkahnya pun tampaknya menjadi sangat berat.

Sejenak kemudian keduanya telah berdiri di atas pematang di tepi sawah yang berlumpur itu. Tetapi keduanya menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

“He, apakah yang telah kalian lakukan?” bertanya Untara masih sambil tertawa.

Keduanya tidak menjawab.

“Apakah kalian mencoba berkubang, atau mandi di air yang sangat dangkal ini, atau kalian mempunyai kesibukan lain, misalnya mencari belut?”

Keduanya masih terdiam.

“Kenapa kalian diam saja?” suara Untara menurun, dan tertawanya pun sudah mereda. “Lihat, tanaman padi yang hijau itu menjadi rusak. Pakaian kalian yang bagus itu kini mempunyai warna yang lain. Apakah sebenarnya yang telah kalian lakukan?”

Ranajaya dan Agung Sedayu masih tetap berdiam diri.

Untara pun kemudian berpaling kepada prajurit-prajurit yang berdiri berjajar sambil menundukkan kepala mereka pula, “He,” bertaka Untara, ternyata kalian mendapat tontonan yang mcnyenangkan. Sayang, aku datang terlambat.”

Tidak seorang pun yang berani mengangkat kepalanya. Bahkan kepala-kepala itu menjadi semakin tunduk. Hanya Japa sajalah yang meskipun menundukkan kepalanya pula, tetapi ia sempat tersenyum di dalam hati.

Dalam pada itu, Untara berkata selanjutnya, tetapi dalam nada yang berbeda, “Nah, setelah kalian puas dengan sikap jantan kalian, apakah yang kalian peroleh?”

Masih tidak ada jawaban.

“Kepuasan? Kebanggaan atau apa?”

Agung Sedayu menarik nafas. Ketika ia mencoba memandang Ranajaya dengan sudut matanya, dilihatnya perwira itu masih tetap menunduk.

“Adi Ranajaya,” berkata Untara kemudian, “memang itukah yang kau kehendaki?”

Ranajaya menggigit bibirnya.

“Baiklah,” berkata Untara kemudian, “kalian tentu tidak akan mengatakan apa-apa. Tetapi aku sudah dapat menduga, apa yang baru saja terjadi di sini. Perkelahian karena masing-masing tidak mau sedikit saja tersinggung perasaannya. Atau barang kali karena kebencian yang tidak mempunyai dasar alasan, tetapi sudah berkobar membakar urat nadi. Inilah yang kalian temukan sekarang. Sakit, kotor, dan apalagi ada orang yang melihat, memalukan sekali. Untunglah, bahwa saat-saat menjelang senja, hampir tidak ada orang lagi di sawah dan tidak ada orang yang kebetulan lewat di jalan ini.”

Tetapi belum lagi Untara terdiam, di kejauhan dilihatnya seseorang berjalan merunduk menjauhi tempat itu.

“He, ternyata ada juga yang menonton perkelahian ini dari jauh. Tetapi mereka pasti tidak akan berani melerai, karena di sini berdiri beberapa orang prajurit. Apalagi melerai, mendekat pun tidak berani.”

Semua berpaling ke arah tatapan mata Untara. Tetapi mereka tidak melihat apa pun lagi, karena orang itu sudah bersembunyi di balik hijaunya batang padi yang tumbuh agak lebih besar. Sambil merangkak orang itu pergi menjauh, agar ia tidak terlibat di dalam perkelahian yang terjadi itu.

“Tentu tidak hanya seorang itu,” berkata Untara, “karena itu, jadikanlah hal ini pengalaman, bahwa seorang prajurit tidak akan berselisih di sembarang tempat dan di sembarang waktu, karena sembarang persoalan.”

Ranajaya hanya menundukkan kepalanya saja tanpa berkata sepatah kata pun. Usahanya untuk memaksa Agung Sedayu mengaku, bahwa ia seorang petugas sandi dari Mataram telah gagal, meskipun ia masih tetap berpendapat demikian, ia masih tetap menganggap bahwa justru karena Agung Sedayu itu adik Untara, senapati yang bertugas di daerah Selatan ini, maka ia akan dapat melakukan tugasnya dengan baik tanpa dicurigai. Dan agaknya Untara memang tidak menaruh curiga sama sekali kepada adiknya itu.

“Tetapi,” berkata Untara, “jika sudah terjadi demikian, kalian telah menjadi puas. Kalian telah melepaskan gejolak di dalam hati, meskipun akibatnya barangkali tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Apakah kata para prajurit dan para perwira, jika mereka melihat seorang Ranajaya dalam pakaiannya yang aneh sekarang ini? Dan apa kata Ki Demang di Sangkal Putung, terlebih-lebih Sekar Mirah, jika mereka melihat Agung Sedayu yang baru keluar dari kubangan?”

Tidak seorang pun yang menyahut.

“Nah, sekarang bagaimana dengan kalian berdua?” Keduanya tidak segera menjawab.

“Apakah kalian akan tetap memakai pakaian itu, atau kalian akan berganti pakaian di sini?”

(***)

From Kasdoelah’s Collection
Convert-Retype-Proof: Ki Pedo
Reproof: Ki Gede Menoreh
Date: 11-28-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 23 November 2008 at 07:22  Comments (50)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-62/trackback/

RSS feed for comments on this post.

50 KomentarTinggalkan komentar

  1. ambil girik dulu…

  2. Bener-bener,. sudah ada yang ngisi juga,.. hehehe

  3. Jurus2 di jilid 61 belum diajarkan oleh Ki DeDe, kok sudah ada yg ngantri untuk mempelajari jurus2 di jilid 62 ???

  4. Wis, pancen wis dadi behavioure poro cantrik.
    Senenge ngejah-ejah panggonan sing wingit…. bilik 61 ae durung dienggoni malah ngantri neng kene.

    Wis…jan tingkah polahe pancen ora mlebu petungan.

    Aku ra melu cawe2 neng bilik 62 ki loh…..

  5. aku yo tak melu antri yo

  6. Aku ga antri dulu kok

    hanya ikut ngancani teman2 saj

    xixixi 😀
    Ki KontosWedul

  7. aku juga mau nambah antrian, biar makin panjang yang antri supaya jilid 62 cepat nongol

  8. Salam rekan-rekan adbm,
    bagi yang punya/ada alat scan/foto materi dapat diperoleh di:

    Bandung

    1. Adhi Hidayat **
    Jl. Srigunting Barat No. 17
    Telp. 022-6017904
    adhidaya@bdg.centrin.net.id

    2. Taman Bacaan Hendra
    Jl. Sabang 28
    Telp. 022-4238008

    Semarang

    1. Gan Kok Liang (Gan KL) **
    Jl. Purwosari 29
    Telp. 024-3522663/3543106, Fax 024-3522985

    Keterangan: Diatas adalah alamat Persewaan Buku (Taman Bacaan) Cersil di kota Bandung dan Semarang.
    Silahkan melengkapi di kota masing-masing.
    Mudah-mudahan usaha pelestarian yang dirintis di Adbm dapat lancar, dan didukung cantrik-cantrik dan semua pihak.

  9. Yang di Bogor ada nggak ya?? Abdi badhe ngiring ngabantu nyecan.. Yang punya info peminjaman buku di Bogor, sharing infonya ya.. Nuhun.

  10. Para kadang cantrik, kula nyuwun tulung dipun antrek aken nggih… Dangu sampun kula ngadeg njejejer wonten mriki dereng pikantuk girik dumugi samenika…

  11. aaahhhhh
    enaknya lesehan di sini…., masih sepi..
    ngerokok dulu ah….
    kopi juga…

    …sapa tahu angkot 62 lewat…

  12. Semula saya bingung untuk memahami sistem delivery ADBM digital dengan “hoper” di padepokan ini. Tapi aku memperoleh ilham ketika tiba2 laptop-ku mengalami emergency shutdown. Ketika setrum batere menipis, maka batere itu tidak dapat dipakai lagi (kasarnya begitu). Mungkin itulah yang dimaksud Ki Gede. Ketika jilid2 di dalam hoper (= karung kali ya?) makin berkurang, maka makin sulit menarik jilid yang mau ditayangkan. Yang biasanya 1 jilid per hari bisa jadi 1 jilid per 2 hari atau 1 jilid perminggu (tergantung berapa banyak persediaan di dalam hoper). Atau mungkin mengalami emergency shutdown (jangan dung, bisa sakau aku). Hmmm …. masuk akal (sambil ter-angguk2). Sayang … posisiku jauh di luar jawa.
    BTW tetap semangat ADBM. Buat cantrik lain yang bisa ngebantu, saya juga mengaturkan atur nuhun sing akeh.

  13. On Nopember 24, 2008 at 8:58 pm alphonse Said:
    Yang di Bogor ada nggak ya?? Abdi badhe ngiring ngabantu nyecan.. Yang punya info peminjaman buku di Bogor, sharing infonya ya.. Nuhun.

    …+++
    Saya juga posisi di Bogor sama spt Mas Alphonse Said. Pengen bantu nyecan.., bhb saya tiap hari punya waktu nganggur jam 22 sd jam 3 subuh .. baru bisa tidur.Daripada browsing ga karuan lbh bagus bantuin Ki Gede.., tapi bahan buat di scannnya ga ada nih…, ada yang tau tempat persewaan buku komik lama di Bogor??…Kebetulan saya juga punya sopir tua yg bisa dijadikan kurir buat antar jemput…
    Masih ratusan buku lagi kerjaan Ki Gede, kalo ga di keroyok takut mandek di jalan …

  14. @ Ki Dewo & Ki Alphonse

    Saya juga tinggal di Bogor. Setau saya dulu di Bogor ada tempat peminjaman komik yang bernama “Taman Bacaan Nusantara” letaknya didaerah ruko Jambu Dua. Namun saat ini tempatnya sudah pindah ke daerah Pasar Anyar. Saya belum tau posisi pastinya disebelah mana, sedang ditelusuri keberadaan nya. Saya sedang berusaha pula mencari amunisi untuk mengisi hoper nya ki Gede, hehehe

    Bila ingin membantu Ki Gede, silahkan kisanak bisa mengambil bahan scan nya ditempat saya dengan menghubungi via alamat email dibawah ini. Tks.

    Salam, Aulianda
    aulianda_ilham@yahoo.com

  15. Aku disini gak ikut ngantri lho…
    Angkot 62 jurusan Jati Anom – Sangkal Putung lama juga yach..

  16. Kang Aulinda dan Ki Dewo1234, gimana kalo kita ketemuan di Botani Squaire? Hari Sabtu ini bisa?? Atau hari lain?? Nuhun

  17. Ikut ngantri, ..ah.
    cover belum ada, ..angkotnya apa lagi. Hmmh..

    ‘ngremus jenang alot saja, dulu.

  18. Anak Mas Aulinda dan Alphonse…, nanti saya kontak dulu via email nya Nak Mas Aulinda, saya mau bantu scan aja sebisanya. Bisa sopir or pembantu saya ntar didayagunakan buat antar jemput bahannya, asal cara2nya aja dijelasken.., terus dikirim kemana tuh hasil scan nya…,mudah2an internet ga error musim ujan ini.
    Padepokan saya di Baranang Siang – demi mempererat silaturahmi tatar Pajajaran dan Mataram hehehehehe.,kita bisa bantu ririungan.
    Botani Skuere cuma sepelemparan batu dari padepokan kuring, naek kuda cuma lk 10 menit., itu juga kalo ga ada halangan, seringkali banyak gajah dan laler ijo macetkan jalanan.Cuma sementara ini waktu luang saya tengah malem.., kapan2 kita bisa ketemu buat bantu2 Ki Gede.
    Panah Ki Mangil (email) sudah melesat ke Padepokan NakMas Auliada..

    Salam…
    Mbah Dewo.

  19. @mas alphonse, ki dewo dan ki Aulianda.
    saya posisi di citayam mas, kebetulan kemarin di mertua ada buku adbm, tapi jumlahnya belum jelas. mgkn sabtu besok saya coba bongkar deh.

  20. Kangmas dan Simbah sekaliyan,
    Subhanallah, kadang ADBM di bogor banyak ya.
    Base saya di bsi, namun saat ini ngupaya sego di nad.
    Sekiranya ada buku2 yang bisa saya scan di kantor dan saat puldik saya retour, …. seandainya.
    Ditunggu petunjuknya.
    JazakLLH.

  21. Saye tinggal dekat Pekanbaru,..adekah yg tau taman sewaan di Pekanbaru? tolong info ke saye, biar besuk nak saye cari ….

  22. absen menjelang siang, moga2 ga ketinggalan

  23. Terimakasih atas tanggapan yang baik dari para cantrik yang berasal dari tanah perdikan kota hujan.

    Mungkin sebelum kita berkumpul untuk membicarakan langkah selanjutnya, ada baiknya kita menunggu hasil pencarian Kangmas Ony atas kitab-kitab apa saja yang dapat diketemukannya.

    Setelah itu kita bisa melanjutkan rencana ini melalui teliksandi (email) agar rencana kita mensuplai ransum ke Ki Gede tidak dicurigai oleh teliksandi dari Pajang.

  24. ada cover ada harapan,
    ini belum ada cover sudah penuh harapan,
    ikutan ngantri aaahhh

  25. Mungkin nanti setelah matahari kelihatan semburat merah di ufuk barat, kitab 62 muncul bersama munculnya kalong2 dari hutan Mentaok…

  26. Jalan ke kapling 62 masih belum di aspal nih…jadi perjalanan akan memakan waktu agak lama kali!

  27. Ikutan antri aaah..
    Kali aja 62 cepet muncul.

    Salam.

  28. “Hmmm,… Sekar Mirah ini mirip sekali dgn Rara Wilis. Apakah ada tautan keluarga antara Demang Sangkal Putung dengan Pandan Alas” Jaka Soka bergumam sendiri.
    “Mungkin jawabannya ada di kitab ini bagian 62….”

  29. absen euy…………..

  30. Kembang jambu sak dompol isine loro …… aku tansah nunggu jilid sewidak loro

  31. sudah siang begini kok masih blom ada tanda-tanda nya yaa…..

  32. kesabaranku kian tipis aja, tapi memang kesabaran tiada batasnya, sabar…..sabar…….
    senajan wis memeti kaya wong kebeles ngisi_En_Ge

  33. Menyang sawah nyangking pacul.
    Jilid 62 ga muncul muncul.

  34. “Engkau bukan sahabat yg pernah aku kenal dulu, Pasingsingan. Sahabatku dulu seorang yg rendah hati & tidak srudak-sruduk.” teriak Pandan Alas.

    “Huh…. sudah seharian aku tunggu, tetapi tidak ada tanda2 kedua pusaka itu akan keluar!” sahut Pasingsingan

    “Tenanglah,… lepas maghrib mudah2an engkau akan melihat tanda-tanda itu”

  35. Wah, mengikuti sistem hopper, ternyata cara membaca saya pun mengikuti sistem hopper. saya cicil sedikit demi sedikit. sampai sekarang baru sampai halaman 40 untuk buku 61.
    Kebetulan memang ada 4 buku judul lain yang harus dibaca dan belum rampung.

  36. Ngombe teh gulane batu.
    Tiwas mekekeh nem loro ora metu metu.

    kekekekeh…

  37. Lolee–lolee….
    Sore-sore nang latar akeh kancaane..
    Ngenteni metune, nganti entek_e srengengee….
    mesthi meeetuneee…

  38. akhirnya datang juga

  39. Lhaa.. ini, tanda2nya dah muncul

    ada sampul ada harapan

    Ki KontosWedul

  40. Tuhhh… Betul kan… Gw kate juga ape… Pasti munculnya sore… Nah, ntar lagi, jam2 17.62, baru deh muncul…

  41. Weladallah, pancen bejo tenan, niatnya mau ngabsen lan ngantri dibarisan kok malah langsung keparingan rangsum 1.9 MB, matur nuwun sedoyonipun

  42. Ah sayah mah harus lebih sabar lg menunggu versi text nya muncul…Tp gpp deh yg penting psti muncul iya kan mas..Yg psti saya ucapkan makasi bnyk buat mas DD dan pasukannya,dan mhn maaf krna saya tdk bisa bantu2,,padahal adbm seri 2 saya punya komplit tp krna faktor peralatannya saya tdk punya akhirnya cm bisa menikmati..

  43. kulonuwun…….
    bilh saged nyuwun tulung mbok jilid2 salajengipun saged diantreaken copy data.
    Nuwum….

  44. “Apakah kalian akan tetap memakai pakaian itu..?
    atau kalian akan berganti pakaian disini,,,?” tanya Untara.

    Hikkssss, tak merem disik ah,…..Ki Menggung katene ganti pakaian neng kene. Mari ciblon ndek mBlumbang.

    • Lha sing gantos rasukan niku sinten ki , yen ni sindhen mbok kulo ditepangke to , nopo malih nek ni sindhene HUUAYYYYUUU tenan , kulo angka ikut kemawon ki .

      sugeng nginjen , eh kleru dhing sugeng ndalu …

      • halah, kekakuan lama kumat kembali…..!!??

        ki Gembleh hora nginjen, hora ngintip, hora
        dhelok….. 🙂
        anangging cuma nginguk doANG, sekejap
        sekedip-an.

        he-heee, genk dalu ki Gembleh, ki Haryo, ki AS
        ki Menggung Kartojudo.

        • xeo…xeo…xeo…xeo…xeo
          coba Ki Pandanalas melok gabung lagi………..
          mulai maneh dolanan suket cedhak galengan
          pinggir mBlumbang

          • sukete pun telas ki , ditedho mendo cacah sekawan doso sing taksih kantun mung blumbange sajake pun mblambang toyane .

            sugeng dolanan s.k.t dalu-dalu .

            • iyo ki pandan sajake po ra kangen yo, ra tau nginguk blas opo salin rupo mencala putra mancali putri jane


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: