Buku 62

Bakal isteri Untara itu adalah seorang gadis pendiam. Tidak dapat bermain pedang dan olah kanuragan seperti Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Tetapi ia pantas menjadi isteri seorang perwira, karena sifat-sifatnya. Ia dapat membuat Untara menjadi seorang senapati besar dengan kelembutan hatinya. Ia dapat membuat Untara melepaskan semua kepentingan pribadinya untuk mengabdi kepada tugasnya sebagai seorang senapati.

“Setelah Untara selesai, kau akan segera menyusul,” desis Widura.

“Ah, masih terlampau cepat. Bukankah saudara sekandung tidak boleh kawin di dalam tahun yang sama?”

“Ya. Tetapi tahun ini hampir habis. Bulan depan adalah bulan terakhir dari tahun ini. Kemudian tiga bulan kemudian adalah bulan yang baik pula bagi perkawinan.”

“Tidak, Paman. Tidak tiga bulan lagi. Mungkin tiga tahun atau barangkali lima tahun.”

“Mungkin kau tidak akan terpengaruh. Tetapi lain bagi Sekar Mirah.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk.

Tetapi sejenak kemudian, tiba-tiba saja Agung Sedayu berkata, “Ah, aku akan minta diri, Paman. Aku akan kembali kepada Kakang Untara. Mudah-mudahan aku dapat menemukan alasan yang baik untuk kembali ke Sangkal Putung. Mudah-mudahan Kakang Untara dapat mengerti, dan mudah-mudahan tidak menimbulkan masalah apa pun juga.”

“Kenapa begitu tergesa-gesa?”

“Jarak antara Sangkal Putung dan Jati Anom tidak terlampau jauh. Aku akan dapat hilir-mudik setiap hari.”

“Kakakmu tentu akan bertanya, kenapa kau tidak pulang saja ke Jati Anom, hanya apabila perlu, baru kau pergi ke Sangkal Putung.”

“Ah, Paman,” sahut Agung Sedayu.

Pamannya hanya tersenyum. Tetapi sorot matanya memancarkan pengertian sepenuhnya atas keadaan Agung Sedayu.

Kemudian setelah minta diri kepada seluruh keluarga pamannya, Agung Sedayu pun kembali kepada kakaknya. Tetapi ia masih tetap dibebani oleh kegelisahan. Bagaimana ia akan minta diri nanti, dan apakah alasan yang sebaik-baiknya selain harapan, bahwa kakaknya akan dapat mengerti akan keadaannya.

Dengan demikian, maka di sepanjang jalan kepala Agung Sedayu selalu tertunduk. Kudanya pun hanya berjalan perlahan-lahan, tidak lebih cepat dari langkah seorang yang berjalan kaki.

Tiba-tiba saja Agung Sedayu teringat kepada gurunya. Sejenak ia mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis kepada diri sendiri, “Apakah aku dapat mempergunakan guru sebagai alasan untuk kembali ke Sangkal Putung? Mungkin aku dapat berkata, bahwa guru mengharap aku malam ini menghadap. Ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan.”

Agung Sedayu menarik nafas. Memang mungkin. Tetapi ia masih belum tahu pasti tanggapan Untara atas ha1 itu.

Tetapi Agung Sedayu menjadi berdebar-debar, ketika ia melihat beberapa orang prajurit yang berdiri di tepi jalan. Di antara mereka adalah perwira yang bernama Ranajaya, dan yang membuatnya semakin berdebar-debar adalah di antara para prajurit itu terdapat prajurit yang menyerangnya di saat ia datang. Prajurit yang akan menghinakannya dengan menginjak ikat kepalanya.

“Ah, apa saja yang akan mereka lakukan?” Agung Sedayu berdesah di dalam dirinya. “Kenapa ada juga perwira Pajang yang memiliki sifat-sifat pengecut itu?”

Tetapi Agung Sedayu tidak berhenti. Kudanya melangkah terus perlahan-lahan, semakin lama semakin dekat.

Beberapa langkah di hadapan perwira itu. Agung Sedayu menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Mungkin dengan tiba-tiba, prajurit itu berbuat sesuatu yang tidak disangka-sankanya. Tetapi mungkin juga mereka menghentikannya dan mengajaknya bertengkar.

Ternyata perwira itu benar-benar telah menghentikannya. Dengan suara datar ia berkata, “Berhentilah dulu, Agung Sedayu.”

Agung Sedayu berhenti tepat di hadapannya. Tetapi ia tidak turun dari kudanya.

“Aku akan bertanya serba sedikit,” berkata perwira itu.

“Kalau aku dapat menjawab, aku akan menjawab,” sahut Agung Sedayu.

Perwira itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Jangan terlampau sombong. Yang menjadi perwira atasanku adalah Untara. Bukan kau. Jadi kau tidak dapat berbuat seperti Untara kepadaku. Ia berhak mencela aku. Marah kepadaku dan sesuka hatinya. Tetapi kau tidak.” Perwira itu berhenti sejenak, lalu, “Turunlah.”

“Aku memang bukan Kakang Untara,” jawab Agung Sedayu, “tetapi aku juga bukan prajurit bawahanmu, sehingga kau tidak berhak memerintah aku.”

Wajah perwira itu menjadi merah. Tetapi ia masih menahan perasaannya. Ia sadar, bahwa Agung Sedayu bukan saja adik Untara, tetapi ia sendiri mampu berbuat seperti Untara. Ternyata prajuritnya sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa, meskipun Agung Sedayu melawannya sambil memegang kendali kuda dengan satu tangannya.

“Kau memang terlampau sombong. Tetapi baiklah. Aku dapat berbicara dengan seseorang yang tetap duduk di atas punggung kuda seperti Sutawijaya. Kau kenal Sutawijaya bukan? Ia adalah salah satu contoh dari kesombongan yang tiada taranya. Ia tidak pernah turun dari kudanya dengan siapa pun ia berbicara, meskipun dengan orang yang lebih tua sekalipun. Tetapi ia adalah putera angkat Sultan Pajang.”

Agung Sedayu hanya dapat menahan perasaannya yang mulai tergelitik oleh kata-kata perwira itu. Tetapi ia masih tetap duduk di atas punggung kudanya.

“Agung Sedayu,” berkata perwira itu kemudian, “aku minta kau menjawab dengan jujur. Apakah Sutawijaya benar-benar sudah menyusun sebuah pasukan yang kuat dan siap untuk berperang?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dipandanginya perwira itu sejenak, lalu, “Siapakah yang mengatakannya?”

“Aku bertanya kepadamu. Bukankah kau baru saja datang dari Mataram? Kau pasti mendengar apa yang sudah terjadi di daerah yang baru dibuka itu.”

“Aku hanya lewat.”

“Meskipun demikian, kau pasti sudah mendengar apa yang telah terjadi. Kalau yang lewat itu seorang pedagang ternak atau pedagang emas, mungkin mereka tidak akan tertarik kepada persoalan keprajuritan. Tetapi yang lewat adalah Agung Sedayu, adik Untara yang menjadi senapati pasukan Pajang di daerah Selatan, daerah yang langsung menjadi jalur penghubung antara Pajang dan Mataram, pasti memperhatikan masalah-masalah serupa itu.

Agung Sedayu merenung sejenak. Namun tiba-tiba ia merasa mendapat kesempatan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di Mataram, untuk menghindari salah paham. Dengan demikian, ia sudah membantu serba sedikit usaha pendekatan antara ayah dan anak. Antara Sultan Pajang dan Raden Sutawijaya. Karena itu, maka tiba-tiba saja atas kehendaknya sendiri, Agung Sedayu turun dari kudanya.

Perwira Pajang yang bernama Ranajaya itu justru surut selangkah. Dengan penuh kecurigaan ia memandang Agung Sedayu dari ujung kakinya sampai ke ujung rambutnya.

“Apa yang kau kehendaki?” bertanya Ranajaya.

“Bukankah aku harus menjawab pertanyaanmu?” sahut Agung Sedayu. “Dan aku memang akan menjawab pertanyaan itu.”

“O,” Ranajaya maju pula selangkah. Namun ia masih tetap berhati-hati.

Agung Sedayu mengeluh di dalam hatinya. Seakan-akan Ranajaya memandangnya sebagai orang yang paling sombong dan licik. Namun Agung Sedayu mencoba untuk mengesampingkannya. Ia ingin membantu usaha pendekatan yang selalu dicoba oleh Sutawijaya

“Menurut penglihatanku,” berkata Agung Sedayu, “Mataram benar-benar sedang memusatkan perhatiannya pada pembukaan hutan. Sama sekali tidak ada tanda-tanda persiapan prajurit, dan apalagi perlawanan terhadap pihak mana pun juga. Aku memang singgah beberapa saat di Mataram. Tetapi yang aku lihat adalah pengerahan tenaga untuk memperluas tanah garapan. Hanya itu. Dan mereka terdiri dari petani-petani yang hanya mengenal kapak dan parang untuk menebang kayu. Bukan pedang dan tombak.

Perwira yang bernama Ranajaya itu mengerutkan keningnya. Tetapi tampak pada sorot matanya, bahwa ia tidak percaya dengan keterangan Agung Sedayu itu. Bahkan kemudian ia berkata, “Agung Sedayu, ingat, kakakmulah yang akan mendapat tugas untuk berhadapan langsung dengan Mataram. Kau harus memberikan keterangan yana benar. Mungkin sampai saat ini, kakakmu masih belum menaruh curiga atasmu. Tetapi apabila kau tidak mau memberikan keterangan yang sebenarnya, maka kau dapat dianggap telah berkhianat kepada Pajang. Dan kau tentu sudah kenal kepada Untara. Meskipun kau adiknya, kau akan dapat digantungnya di regol padukuhan Jati Anom. Di gerbang kampung halamanmu sendiri.”

Agung Sedayu semakin tidak senang mendengar kata-katanya. Tetapi ia tidak mau mempertajam persoalan Pajang dan Mataram. Maka katanya, “Sudahlah. Aku tidak dapat memberikan keterangan lebih banyak dari yang aku ketahui. Aku memang tidak akan mengatakan yang tidak sebenarnya. Justru karena itu, aku tidak mau mengarang sebuah ceritera untuk menyenangkan hatimu, seolah-olah bayanganmu tentang Mataram yang di pagari dengan pasukan dan ujung senjata itu, benar-benar telah terjadi.”

Ranajaya membelalakkan matanya sambil membentak, “Ingat, dengan siapa kau berbicara.”

“Dan ingat,” sahut Agung Sedayu, “aku bukan bawahanmu.”

Ranajaya menggerelakkan giginya. Geramnya, “Kau salah seorang telik sandi dari Mataram. Kau mendapat, tugas untuk mengetahui kekuatan Pajang di Jati Anom, justru karena kau adik Untara. Agaknya Untara kini benar-benar telah lengah, dan membiarkan kau berkeliaran di sini.”

Agung Sedayu menahan perasaannya yang bergolak dengan susah payah. Ternyata perwira yang bernama Ranajaya ini justru bukan seorang prajurit yang baik. Ia selalu dibayangi oleh kecemasan dan ketakutan. Namun mungkin, ia memang mendapat gambaran yang salah tentang Mataram. Karena itu, Agung Sedayu berkata, “Aku kira kau memang mendapat keterangan yang tidak sebenarnya sebelumnya. Coba katakan, siapakah yang sudah memberikan keterangan kepadamu tentang Mataram seperti yang kau gambarkan itu?”

“Jangan mencoba bersembunyi lagi. Sebentar lagi aku akan dapat membuktikan, bahwa kau memang seorang telik sandi. Dan Untara sendirilah yang akan menangkapmu dan menggantungmu di padukuhanmu sendiri.”

“Apakah kau pernah melihat Alas Mentaok?”

Perwira itu tidak segera menyahut.

“Kalau belum, apakah kau bersedia sekali-sekali pergi ke Alas Mentaok? Aku bersedia menunjukkan jalan. Kau dapat mengenakan pakaian keprajuritanmu tanpa diganggu oleh lalat sekalipun. Aku akan menanggung keselamatanmu. Kau akan melihat, bahwa di Mataram tidak ada apa-apa sama sekali. Tidak ada persiapan, tidak ada prajurit, dan tidak ada rasa permusuhan dengan siapa pun juga. Mataram sampai saat ini berjalan maju dengan wajar. Bahkan dengan banyak rintangan. Apakah dengan demikian Mataram sempat membuat persoalan dengan kekuasaan yang ada di sekitarnya, apalagi kekuasaan Pajang.”

Ranajaya mengerutkan keningnya. Ia mulai menyadari bahwa Agung Sedayu bukan anak-anak yang takut dengan bentakan-bentakan kasar. Agung Sedayu benar adik Untara, yang memiliki banyak kesamaan, tetapi juga banyak kelainan.

Karena itu, Ranajaya tidak bertanya lagi. Tetapi ia masih sempat mengancam, “Agung Sedayu, kau harus bersikap baik di sini. Jangan menimbulkan kecurigaan dan tingkah laku yang dapat menyeretmu ke tiang gantungan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab. Sejenak ia memandang wajah Ranajaya, yang seakan-akan membayangkan kebencian yang sangat dalam terhadap Mataram dan pemimpin-pemimpinnya.

“Aku kira benar juga dugaan-dugaan, bahwa ada satu dua orang yang telah berbuat curang di dalam istana. Mungkin saat-saat ini mereka baru berhasil menghasut para perwira dan para prajurit. Mungkin lain kali senapati yang lebih tinggi dan kemudian panglima prajurit, pepatih Pajang dan semua kadang sentana. Akhirnya Sultan Hadiwijaya sendiri akan mempercayainya, bahwa Mataram benar-benar akan memberontak terhadap kekuasaan Pajang,“ berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Agung Sedayu seakan-akan tersadar, ketika ia mendengar Ranajaya berkata, “Pergilah. Aku tidak memerlukan kau lagi hari ini.”

Terasa dada Agung Sedayu berdesir. Sikap perwira itu benar-benar telah memuakkan. Tetapi ia masih berusaha untuk menahan perasaannya dan menjawab, “Sekehendakkulah. Apakah aku akan pergi, apakah aku akan tetap di sini. Aku berada di kampung halamanku sendiri. Sejak kecil aku bermain-main di sepanjang jalan ini tanpa ada yang mengganggu gugat. Sekarang aku dapat berjalan menyusur jalan ini, ke sana ke mari sehari sepuluh kali.”

“Gila. Kau adalah orang yang lebih sombong lagi dari Sutawijaya.”

“Aku tidak peduli. Apakah aku melampaui kesombongan Sutawijaya, dan menyamai kesombonganmu atau tidak, itu adalah persoalanku.”

“Diam!” bentak perwira itu. “Jangan berani mempermainkan seorang perwira Pajang. Kau akan menyesal. Seandainya aku tidak mengenal kau sebagai adik Untara, kau sudah menjadi permainan anak buahku di sini.”

“Bukan begitu kebiasaan seorang prajurit. Seorang prajurit adalah seorang yang bersikap jantan. Apakah kau mengerti arti dari sikap jantan itu?”

Tubuh perwira itu menggigil, apalagi ketika Agung Sedayu berkata, “Aku akan mengatakan kepada Kakang Untara, apakah yang sebaiknya aku lakukan menghadapi seorang perwira macam kau ini. Dan aku memang tidak pernah membayangkan, bahwa ada seorang perwira Pajang yang mempunyai sifat semacam ini.”

Tetapi Agung Sedayu tidak menunggu jawaban. Ia pun segera meloncat ke punggung kudanya dan memacu kudanya meninggalkan perwira yang bernama Ranajaya itu.

Ranajaya pun menjadi ragu-ragu. Kemarahan yang memuncak di kepalanya hampir melepaskan segala macam pertimbangannya. Untunglah, bahwa ia masih tetap sadar, bahwa Agung Sedayu adalah adik Untara, sehingga masih ada juga keseganannya untuk berbuat sesuatu.

“Tetapi lepas dari daerah Jati Anom, aku dapat berbuat apa pun juga di luar pengetahuan Untara. Kalau aku berbuat jantan seperti yang dikatakan Agung Sedayu, tidak ada seorang pun yang akan menuntut aku,” berkata perwira itu di dalam hatinya. Lalu sambil membusungkan dadanya ia berkata, “Tetapi seandainya Untara marah juga, aku dapat berhubungan dengan Kakang Tumenggung, yang mempunyai pengaruh tidak kalah dari Untara di istana.”

Perwira itu menggeretakkan giginya. Tetapi tanpa berkata apa pun juga, ia pun segera pergi meninggalkan tempat itu diikuti oleh beberapa orang prajuritnya.

“Anak itu memang keras kepala,” desis seorang prajurit, “ia tidak saja berani menentang seorang prajurit, tetapi juga seorang perwira.”

“Ia merasa mendapat perlindungan dari kakaknya, seorang senapati,” jawab yang lain.

“Itu akan membuatnya keras kepala.”

Tetapi mereka pun kemudian terdiam, apabila sekilas melonjak di dalam hati mereka, kenyataan yang sebenarnya mereka hadapi tentang Agung sedayu itu.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun menjadi semakin dekat dengan rumahnya. Selain debar jantungnya yang belum reda, ia sudah mulai dirayapi kegelisahan yang lain, yang tanpa disengaja telah dilupakannya untuk sejenak. Kegelisahan menjelang sore hari, untuk minta diri kepada kakaknya.

Ternyata kedatangannya memang sudah ditunggu oleh Untara dan beberapa orang perwira yang lain. Setelah duduk sebentar, maka mereka pun kemudian mulai menikmati makan siang yang sudah disediakan.

Namun selama tangannya menyuapi mulutnya, Agung Sedayu masih saja digelisahkan oleh keharusannya minta diri. Sedangkan matahari semakin lama semakin bergeser turun ke Barat.

Demikianlah, setelah selesai makan dan setelah mereka berbicara serba sedikit, mulailah Agung Sedayu mengatur hatinya, untuk menyampaikan niatnya, bahwa ia akan kembali ke Sangkal Putung sore itu.

Tetapi hatinya menjadi berdebar-debar kembali, ketika Untara berkata, “Bilikmu semasa anak-anak masih tersedia buatmu, Sedayu. Meskipun selama ini bilik itu kami pergunakan, tetapi malam ini dan seterusnya akan dapat kau pakai lagi, seperti pada masa kecilmu. Bedanya, dahulu kau menempati bilik itu bersama ibu, tetapi sekarang kau harus berani tidur sendiri.”

Para perwira yang mendengar kelakar Untara itu, tertawa. Agaknya mereka telah mendengar ceritera tentang Agung Sedayu semasa menjelang remaja. Bahwa ia adalah seorang penakut yang kadang-kadang menjengkelkan sekali. Bukan saja karena ia tidak berani menghadapi kawan-kawannya yang nakal, tetapi ia adalah anak yang takut sekali kepada gelap, hantu, dan semacamnya.

Agung Sedayu sendiri tersenyum mendengarnya, meskipun debar jantungnya menjadi semakin cepat.

“Tetapi aku tidak dapat diam sampai senja,” tiba-tiba saja timbul pikiran di dalam dirinya, “sebaiknya aku berterus terang. Apa pun yang akan dikatakan oleh Kakang Untara terhadapku. Mudah-mudahan Kakang Untara tidak menghubungkan masalah ini dengan kedatanganku dari Mataram. Seolah-olah aku tidak mau lagi berada di lingkungan prajurit Pajang, karena aku mempunyai ikatan tertentu dengan Mataram. Jika demikian maka Ranajaya akan mendapat kesempatan meniup-niupkan pendapatnya yang salah itu.”

Karena itu, satu-satunya alasan yang akan dikemukakan oleh Agung Sedayu adalah gurunya. Gurunya minta ia kembali ke Sangkal Pulung sore ini, karena ada persoalan yang akan dibicarakan mengenai dirinya dalam hubungan guru dan murid.

“Juga mudah-mudahan tidak ada salah paham pada Kakang Untara. Kalau ia menganggap Guru pun berpihak pada Mataram, maka aku akan mendapat kesulitan,” katanya pula didalam hatinya.

Karena itu, setelah suara tawa para perwira mereda, Agung Sedayu mencoba untuk mulai berbicara, mumpung Ranajaya tidak ada di dalam mangan itu. “Kakang, sebenarnya aku senang sekali bermalam di rumah ini. Rumahku sendiri. Apalagi di dalam bilikku semasa kanak-kanak. Tetapi……,” Agung Sedayu menjadi ragu-ragu.

“Tetapi, kenapa?” Untara bertanya.

“Bukan maksudku tidak menghargai Kakang Untara dan para perwira. Tetapi sebenarnya, bahwa sejak aku berangkat, aku sudah mendapat pesan, bahwa senja ini aku harus kembali ke Sangkal Putung.”

“Kembali ke Sangkal Putung?” Untara mengerutkan keningnya.

“Ya, Kakang, tidak ada apa-apa. Tetapi demikianlah pesan Guru. Besok aku akan segera kembali lagi ke mari, dan aku akan tinggal di rumah ini. Aku senang sekali mendapat banyak kawan di sini, Kakang Untara dan para perwira Pajang.”

Untara memandang Agung Sedayu sejenak. Tetapi ia tidak segera mengatakan sesuatu.

Agung Sedayu pun menjadi bimbang. Bahkan kepalanya menjadi tertunduk dalam-dalam. Sekilas ia mencoba untuk menatap wajah-wajah para perwira yang duduk di sekitarnya. Tetapi ia tidak tahu, kesan apakah yang membayang di wajah mereka.

Namun dengan demikian, maka dada Agung Sedayu pun menjadi semakin berdebar-debar. Sejenak ia menunggu jawaban kakaknya, tetapi rasa-rasanya sudah berhari-hari kakaknya itu diam saja memandangnya dengan tajam.

Ruangan itu menjadi hening, seakan-akan tidak berpenghuni. Hanya tarikan nafas yang gelisah terdengar susul-menyusul. Betapa hati Agung Sedayu menggelepar. Tetapi ia masih tetap harus menunggu.

Namun Agung Sedayu yang tertunduk dalam-dalam itu terperanjat, ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara Untara. Justru suara tertawanya. Karena itu dengan serta-merta ia mengangkat wajahnya, dan dengan penuh pertanyaan ditatapnya wajah kakaknya yang tampak aneh baginya.

Sejenak kemudian, setelah suara tertawanya mereda, barulah Untara menjawab, “Kau berbohong, Sedayu.”

Berbagai perasaan bercampur baur di dada Agung Serayu. Ia tidak mengerti, apakah yang sebenarnya tersimpan di hati kakaknya. Karena itu, maka tergagap ia menjawab, “Aku tidak berbohong, Kakang.”

“Kau tentu berbohong. Kau katakan, bahwa gurumu memanggilmu sore ini?”

“Ya, ya, ya Kakang.”

Tetapi Untara tertawa pula.

Agung Sedayu benar-benar menjadi gelisah. Rasa-rasanya ia duduk di atas tikar yang membara. Ia bergeser sejengkal surut.

“Jangan kau sangka aku tidak tahu,” berkata Untara, “bukankah baru tadi malam kau sampai di Sangkal Putung? Dan karena kau segan kepada sanak kadang di Jati Anom, kau memaksa diri untuk datang menemui aku, yang selama ini kau anggap sebagai ganti ayah dan ibu?”

Agung Sedayu tidak menyahut. Tetapi kepalanya telah tertunduk semakin dalam. Namun di dalam hatinya ia berkata, “Bukan hanya karena keseganan itu. Aku ingin segera mendapat kesan tentang Kakang, bagaimana sikap Kakang terhadap Mataram.”

“Agung Sedayu,” berkata Untara kemudian. Karena suara Untara menjadi bersungguh-sungguh, maka Agung Sedayu pun mengangkat wajahnya. “Kalau dahulu,” Untara meneruskan, “ mungkin aku akan bertanya, kenapa gurumu memanggil kau sore ini. Mungkin aku tidak mempercayaimu dan memaksamu tinggal di sini, karena aku adalah kakakmu. Tetapi sekarang aku bersikap lain. Aku sekarang tahu, kalau kau sekedar berbohong, karena kau malu mengatakan alasan yang sebenarnya. Namun seandainya gurumu sekalipun yang menyuruh kau kembali sore ini, kau pasti tidak akan menjadi sangat gelisah, seandainya kau tidak dapat memenuhinya, karena kau berharap, bahwa gurumu mengerti kesulitanmu. Tetapi sekarang pasti bukan gurumu yang mengharap kau cepat kembali.”

Agung Sedayu menjadi bingung.

“Ayo, berkatalah terus terang. Jangan mencoba terbohong.”

Agung Sedayu justru menjadi semakin membeku. Dan ia menjadi bingung ketika, Untara sekali lagi tertawa berbahak-bahak, sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Beberapa orang perwira yang hadir tersenyum geli melihat sikap Untara dan melihat Agung Sedayu yang kebingungan. Namun mereka sendiri tidak mengerti, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Untara.

“Agung Sedayu,” berkata Untara kemudian setelah suara tertawanya mereda, “kau tahu, dan barangkali kau mendengar dari Paman Widura lebih banyak lagi tentang aku dan masa-masa menjelang perkawinanku? Nah, baru setelah aku akan kawin aku tahu, bahwa kau berbohong. Bukankah begitu? Sama sekali bukan Kiai Gringsing yang memaksamu pulang, tetapi pasti Sekar Mirah. Ayo, jangan ingkar. Aku tahu pasti.”

Dada Agung Sedayu berdesir. Tetapi ia mendengar kakaknya berkata di sela-sela suara tertawanya, “Aku akan menyerah sekarang. Mungkin dahulu aku akan berkeras. Tetapi sekarang aku tahu, bahwa keharusan yang paling ditaati, adalah keharusan serupa itu. Dan aku sama sekali tidak berkeberatan, karena kau pun pasti akan memaksa, seandainya aku minta kau tinggal di sini malam ini. Kau pasti lebih memberatkan pesan Sekar Mirah dari pesan siapa pun, termasuk gurumu sendiri.”

Agung Sedayu membeku sejenak. Namun tiba-tiba terasa sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Suatu sorongan perasaan yang tidak terduga-duga, seakan-akan ia telah terbanting dalam suatu keadaan yang sangat asing. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa kakaknya akan bersikap demikian lunak dan lembut menghadapi keadaannya. Sehingga karena itu, sejenak ia terbungkam sambil memandangi wajah Untara yang masih saja dibayangi oleh suara tertawanya.

“Ha, kau akan mungkir?”

Tetapi Agung Sedayu kini sadar, bahwa kakaknya sekedar berkelakar. Kakaknya ternyata tidak berbuat apa-apa seperti yang dibayangkannya. Kakaknya tidak membentaknya dan tidak memaksanya dengan kekerasan, karena perasaannya tersinggung. Kakaknya ternyata bersikap lain sekali dengan bayangan-bayangan yang tampak di angan-angannya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun tersenyum pula, meskipun kepalanya tertunduk dalam-dalam, tetapi ketegangan yang melonjak di hatinya kini telah lenyap.

“Aku mendapat pesan Guru,” berkata Agung Sedayu hampir tidak terdengar.

“Bohong. Kau sekarang pandai berbohong. Katakan saja terus terang, bahwa Sekar Mirah berpesan dengan bersungguh-sungguh, bahwa kau harus segera kembali ke Sangkal Putung, karena, kau baru datang semalam.” Untara masih tertawa, lalu, “Baiklah. Sampaikan salamku kepada Sekar Mirah, kepada Swandaru dan Ki Demang berdua. Apalagi kepada gurumu dan Ki Sumangkar yang masih tinggal di sana. Aku minta maaf, bahwa sampai kini aku masih belum sempat mengunjunginya karena bermacam-macam kesibukan.”

Dan seorang perwira menyahut, “Yang paling sibuk adalah persoalannya dengan Kakang Widura.”

“Ah,” Untara berdesah. Tetapi yang ada di ruang itu hampir berbareng tertawa, kecuali seorang perwira yang masih berdiri di luar pintu, Ranajaya.

Demikianlah, ternyata Agung Sedayu menemukan Untara yang sudah agak lama ditinggalkannya bertualang itu, lain sama sekali dengan Untara yang dibayangkannya. Ternyata kakaknya sama sekali tidak berkeberatan, apabila sore itu ia kembali ke Sangkal Putung. Bahkan kakaknya dapat menebak alasannya yang sebenarnya, kenapa ia menjadi gelisah ketika matahari menjadi semakin rendah.

“Jadi, Kakang tidak berkeberatan, apabila aku kembali ke Sangkal Putung?” tiba-tiba hampir di luar sadarnya ia bertanya.

“Jadi, apakah aku harus berkeberatan?” jawab Untara sambil tersenyum.

“Tentu tidak. Memang aku mengharap Kakang tidak berkeberatan.”

“Aku mengerti kepentinganmu, Sedayu. Karena itu, aku tidak berkeberatan sama sekali. Kembalilah ke Sangkal Putung. Dan kembalilah kemari, apabila kau sudah mempunyai waktu. Ajaklah mereka kemari. Kami akan menerima dengan senang hati.”

“Siapakah mereka itu?” bertanya seorang perwira yang sudah setengah umur sambil tersenyum.

Untara pun tersenyum pula. Jawabnya, “Kelak kalian akan tahu.”

Demikianlah, Agung Sedayu pun segera minta diri. Ia berjanji dalam waktu dekat, bahkan besok, ia pasti sudah ada di Jati Anom kembali. Jarak antara Jati Anom Sangkal Putung tidak terlampau jauh. Dan jalan di antara kedua daerah ini sekarang sudah aman.

“Dahulu, di dalam kemelutnya api peperangan, Agung Sedayu berani pergi ke Sangkal Putung seorang diri dan apalagi di malam hari,” Untara masih bergurau juga.

Dalam pada itu, Ranajaya yang mendengar bahwa Agung Sedayu akan kembali ke Sangkal Putung, telah mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan itu.

Tiba-tiba saja timbul rencananya untuk berbuat sesuatu. Karena itu, maka ia pun justru meninggalkan pintu pringgitan dan dengan tergesa-gesa pergi ke kebun belakang.

Sejenak kemudian, seekor kuda telah berderap melalui pintu butulan meninggalkan halaman rumah itu. Di atas punggung kuda itu adalah perwira prajurit Pajang yang bernama Ranajaya.

Di tikungan ketika ia menjumpai sekelompok prajurit bawahannya, ia pun membisikkan sesuatu. Tiga orang di antaranya tergesa-gesa meninggalkan tikungan itu dan berlari-lari mengambil seekor kuda bagi masing-masing di pondok mereka.

Tidak seorang pun yang tahu, apakah yang akan mereka lakukan, selain prajurit-prajurit itu sendiri.

Sementara itu, Agung Sedayu yang sudah minta diri itu pun, kemudian keluar dari rumahnya dan turun ke halaman. Sambil sekali lagi minta diri, ia pun mengambil kudanya dan segera meninggalkan halaman itu dengan kesan yang terasa asing di hatinya. Asing karena tanggapan yang diterima sama sekali lain dari bayangan yang selama ini menggelisahkannya.

Namun dalam pada itu, ketika ia sampai di ujung lorong, di mulut padukuhannya, Juga, seorang prajurit muda, menghentikannya. Tangannya melambai-lambai, sedangkan wajahnya tampak berkerut-merut.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ada kesan yang aneh pada anak muda itu, sehingga karena itu, maka Agung Sedayu pun menghentikan kudanya pula.

“Agung Sedayu,” berkata Juga, “agaknya ada sesuatu yang tidak wajar. Prajurit yang kau kalahkan itu ternyata mempunyai rencananya tersendiri.”

“Apa?” bertanya Agung Sedayu.

“Agaknya ia ingin melibatkan seorang perwira di dalam persoalan, yang sebenarnya dapat dianggapnya selesai.”

“Maksudmu?”

“Belum lama berselang, Ranajaya telah mendahului keluar dari padukuhan ini, yang kemudian disusul oleh ketiga orang prajurit bawahannya, yang salah seorang di antara mereka adalah yang telah kau kalahkan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Agaknya Juga tidak mengerti seluruh persoalannya dengan Ranajaya. Namun hal itu membuat Agung Sedayu menjadi berdebar-debar.

Karena itu, sejenak Agung Sedayu berpikir. Tetapi ia tidak menemukan jalan yang sebaik-baiknya untuk menentukan sikap.

“Aku akan kembali kepada Kakang Untara,” berkata Agung Sedayu, “kalau Kakang Untara tidak berkeberatan, aku akan melayaninya. Tetapi dengan demikian tidak ada persoalan antara aku dan Kakang Untara. Kalau Kakang Untara berkeberatan, aku akan mengambil jalan lain ke Sangkal Putung, meskipun agak jauh.”

“Aku rasa itu adalah jalan yang sebaik-baiknya,” sahut Juga.

Agung Sedayu pun segera memutar kudanya dan berlari kembali ke rumahnya yang dipergunakan sebagai tempat tinggal para perwira itu.

Untara yang masih ada di pendapa terkejut, melihat adiknya kembali, sehingga karena itu, dengan tergesa-gesa ia menyongsongnya.

Sejenak, Agung Sedayu ragu-ragu, karena di sebelah kakaknya ada beberapa orang perwira yang lain.

“Katakanlah,” berkata kakaknya setelah Agung Sedayu turun dari kudanya.

Maka dengan singkat Agung Sedayu pun mengatakan persoalannya, seperti yang dikatakan oleh Juga.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada para perwira, “Marilah kita menjadi saksi. Pergilah dahulu Agung Sedayu. Kami akan menyusul. Layani kehendaknya. Kau tidak usah cemas, bahwa ia akan menyalah-gunakan kekuasaannya sebagai seorang prajurit, karena aku sudah mengetahui persoalannya. Aku akan menyertakan seorang saksi sebelum aku sampai di tempat itu. Supaya mereka melakukan rencana yang sebenarnya, biarlah seorang prajurit saja pergi bersamamu. Prajurit yang dapat diabaikan oleh Ranajaya.”

Agung Sedayu memandang kakaknya sejenak. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata kakaknya benar-benar seorang prajurit yang tidak emban cinde emban silatan. Siapa pun yang bersalah, ia akan menunjuk dengan jarinya atas kesalahan itu.

Sejenak kemudian, seorang prajurit yang ditunjuk oleh Untara pun telah bersiap. Dan sekali lagi Untara berpesan, “Pergilah. Hati-hatilah. Ia seorang perwira yang baik di medan peperangan. Prajurit yang menyertaimu adalah seorang yang berasal dari Macanam. Ia akan mengatakan, bahwa kebetulan kalian berangkat bersama-sama dari Jati Anom.”

Agung Sedayu mengerti maksud kakaknya. Karena itu, maka ia pun segera minta diri dan berpacu ke luar padukuhan Jati Anom, bersama seorang prajurit yang berasal dari Macanan.

“Perananmu hanyalah menjadi saksi sebelum Kakang Untara sampai ke tempat itu.”

“Ya.”

“Apakah Ranajaya sudah mengenalmu?”

“Ya. Ranajaya sudah mengenal aku. Ketiga prajurit yang lain itu pun mengenal aku pula.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi rasa-rasanya kudanya berpacu terlampau lambat. Sebelum senja ia harus sudah sampai di Sangkal Putung, sedang ia masih akan mendapat rintangan di jalan menuju ke Sangkal Putung itu.

Ternyata apa yang dikatakan Juga itu benar. Belum terlampau jauh keduanya keluar dari Kademangan Jati Anom, maka mereka melihat beberapa ekor kuda berhenti di tengah jalan.

Semakin dekat, Agung Sedayu melihat semakin jelas empat orang berdiri termangu-manggu di tepi jalan itu pula.

“Ternyata mereka benar-benar menunggu aku,” desis Agung Sedayu.

“Ranajaya memang mempunyai sifat yang aneh. Kawan-kawannya, para perwira Pajang, menjadi heran pula melihat sikapnya. Semakin banyak umur seseorang, seharusnya ia menjadi semakin mengendap. Tetapi ternyata tidak demikian dengan Ranajaya. Ia justru menjadi semakin aneh. Semakin tua dan semakin tinggi pangkat dan jabatannya, ia seakan-akan menjadi mabuk.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi keningnya menjadi semakin berkerut-merut. Agaknya memang sulit untuk menghindarkan dirinya.

Sejenak kemudian Agung Sedayu dan prajurit dari Macanan itu menjadi kian mendekat. Dengan dada yang berdebar-debar, Agung Sedayu melihat perwira itu bergeser ke tengah jalan.

Tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi tegang, ketika ia melihat prajurit yang datang bersama Agung Sedayu. Dengan geram perwira itu berkata, “Kau Japa? Kenapa kau mengawal Agung Sedayu?”

“Aku sama sekali tidak mengawal. Aku kebetulan sekali ingin menengok keluargaku di Macanan.”

“Tetapi kenapa kali ini kau berkuda? Bukankah biasanya kau berjalan kaki saja?”

“Aku prajurit dari pasukan berkuda. Apa salahnya aku pulang berkuda sekali-kali di dalam hidupku.”

“Japa. Ingat, dengan, siapa kau berbicara.”

Japa mengerutkan keningnya. Ia memang berbicara dengan seorang perwira, sehingga karena itu, ia tidak dapat menjawab. Bahkan ia pun segera meloncat turun dari kudanya.

“Bersikaplah sebagai seorang prajurit terhadap seorang perwira.”

“Ya,” sahut Japa singkat sambil berdiri tegak di samping kudanya.

Tetapi dalam pada itu, Agung Sedayu masih tetap duduk di atas punggung kudanya yang berdiri termangu-manggu.

“Japa,” berkata Ranajaya, “kalau kau memang ingin pulang ke Macanan, pulanglah.”

“Aku akan pergi bersama-sama Agung Sedayu.”

“Pergilah dahulu.”

“Aku menunggunya.”

“Kau akan mencampuri urusan kami?”

“Tidak. Aku tidak akan membuat persoalan bagi diriku sendiri. Aku hanya akan menunggu. Itu saja. Tidak ada niat yang lain.”

Ranajaya menjadi tidak sabar lagi. Karena katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi kalau kau ikut campur dalam persoalan ini, maka akibatnya akan membuatmu menyesal sekali.”

“Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

Ranajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Biarlah. Menepilah.”

Japa pun kemudian bergeser menepi menuntun kudanya.

Dalam pada itu, Ranajaya memandang Agung Sedayu dengan sorot mata yang aneh. Seakan-akan Ranajaya melihat seseorang yang belum pernah dikenalnya, bahkan seseorang yang tidak sewajarnya.

“Agung Sedayu,” geram Ranajaya, “apakah kau tidak mau turun dari kuda?”

“Sudah aku katakan Ranajaya, itu adalah hakku. Dan sekarang aku ingin cepat-cepat sampai ke Sangkal Putung sebelum senja.”

“Kau harus turun.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 23 November 2008 at 07:22  Comments (50)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-62/trackback/

RSS feed for comments on this post.

50 KomentarTinggalkan komentar

  1. ambil girik dulu…

  2. Bener-bener,. sudah ada yang ngisi juga,.. hehehe

  3. Jurus2 di jilid 61 belum diajarkan oleh Ki DeDe, kok sudah ada yg ngantri untuk mempelajari jurus2 di jilid 62 ???

  4. Wis, pancen wis dadi behavioure poro cantrik.
    Senenge ngejah-ejah panggonan sing wingit…. bilik 61 ae durung dienggoni malah ngantri neng kene.

    Wis…jan tingkah polahe pancen ora mlebu petungan.

    Aku ra melu cawe2 neng bilik 62 ki loh…..

  5. aku yo tak melu antri yo

  6. Aku ga antri dulu kok

    hanya ikut ngancani teman2 saj

    xixixi 😀
    Ki KontosWedul

  7. aku juga mau nambah antrian, biar makin panjang yang antri supaya jilid 62 cepat nongol

  8. Salam rekan-rekan adbm,
    bagi yang punya/ada alat scan/foto materi dapat diperoleh di:

    Bandung

    1. Adhi Hidayat **
    Jl. Srigunting Barat No. 17
    Telp. 022-6017904
    adhidaya@bdg.centrin.net.id

    2. Taman Bacaan Hendra
    Jl. Sabang 28
    Telp. 022-4238008

    Semarang

    1. Gan Kok Liang (Gan KL) **
    Jl. Purwosari 29
    Telp. 024-3522663/3543106, Fax 024-3522985

    Keterangan: Diatas adalah alamat Persewaan Buku (Taman Bacaan) Cersil di kota Bandung dan Semarang.
    Silahkan melengkapi di kota masing-masing.
    Mudah-mudahan usaha pelestarian yang dirintis di Adbm dapat lancar, dan didukung cantrik-cantrik dan semua pihak.

  9. Yang di Bogor ada nggak ya?? Abdi badhe ngiring ngabantu nyecan.. Yang punya info peminjaman buku di Bogor, sharing infonya ya.. Nuhun.

  10. Para kadang cantrik, kula nyuwun tulung dipun antrek aken nggih… Dangu sampun kula ngadeg njejejer wonten mriki dereng pikantuk girik dumugi samenika…

  11. aaahhhhh
    enaknya lesehan di sini…., masih sepi..
    ngerokok dulu ah….
    kopi juga…

    …sapa tahu angkot 62 lewat…

  12. Semula saya bingung untuk memahami sistem delivery ADBM digital dengan “hoper” di padepokan ini. Tapi aku memperoleh ilham ketika tiba2 laptop-ku mengalami emergency shutdown. Ketika setrum batere menipis, maka batere itu tidak dapat dipakai lagi (kasarnya begitu). Mungkin itulah yang dimaksud Ki Gede. Ketika jilid2 di dalam hoper (= karung kali ya?) makin berkurang, maka makin sulit menarik jilid yang mau ditayangkan. Yang biasanya 1 jilid per hari bisa jadi 1 jilid per 2 hari atau 1 jilid perminggu (tergantung berapa banyak persediaan di dalam hoper). Atau mungkin mengalami emergency shutdown (jangan dung, bisa sakau aku). Hmmm …. masuk akal (sambil ter-angguk2). Sayang … posisiku jauh di luar jawa.
    BTW tetap semangat ADBM. Buat cantrik lain yang bisa ngebantu, saya juga mengaturkan atur nuhun sing akeh.

  13. On Nopember 24, 2008 at 8:58 pm alphonse Said:
    Yang di Bogor ada nggak ya?? Abdi badhe ngiring ngabantu nyecan.. Yang punya info peminjaman buku di Bogor, sharing infonya ya.. Nuhun.

    …+++
    Saya juga posisi di Bogor sama spt Mas Alphonse Said. Pengen bantu nyecan.., bhb saya tiap hari punya waktu nganggur jam 22 sd jam 3 subuh .. baru bisa tidur.Daripada browsing ga karuan lbh bagus bantuin Ki Gede.., tapi bahan buat di scannnya ga ada nih…, ada yang tau tempat persewaan buku komik lama di Bogor??…Kebetulan saya juga punya sopir tua yg bisa dijadikan kurir buat antar jemput…
    Masih ratusan buku lagi kerjaan Ki Gede, kalo ga di keroyok takut mandek di jalan …

  14. @ Ki Dewo & Ki Alphonse

    Saya juga tinggal di Bogor. Setau saya dulu di Bogor ada tempat peminjaman komik yang bernama “Taman Bacaan Nusantara” letaknya didaerah ruko Jambu Dua. Namun saat ini tempatnya sudah pindah ke daerah Pasar Anyar. Saya belum tau posisi pastinya disebelah mana, sedang ditelusuri keberadaan nya. Saya sedang berusaha pula mencari amunisi untuk mengisi hoper nya ki Gede, hehehe

    Bila ingin membantu Ki Gede, silahkan kisanak bisa mengambil bahan scan nya ditempat saya dengan menghubungi via alamat email dibawah ini. Tks.

    Salam, Aulianda
    aulianda_ilham@yahoo.com

  15. Aku disini gak ikut ngantri lho…
    Angkot 62 jurusan Jati Anom – Sangkal Putung lama juga yach..

  16. Kang Aulinda dan Ki Dewo1234, gimana kalo kita ketemuan di Botani Squaire? Hari Sabtu ini bisa?? Atau hari lain?? Nuhun

  17. Ikut ngantri, ..ah.
    cover belum ada, ..angkotnya apa lagi. Hmmh..

    ‘ngremus jenang alot saja, dulu.

  18. Anak Mas Aulinda dan Alphonse…, nanti saya kontak dulu via email nya Nak Mas Aulinda, saya mau bantu scan aja sebisanya. Bisa sopir or pembantu saya ntar didayagunakan buat antar jemput bahannya, asal cara2nya aja dijelasken.., terus dikirim kemana tuh hasil scan nya…,mudah2an internet ga error musim ujan ini.
    Padepokan saya di Baranang Siang – demi mempererat silaturahmi tatar Pajajaran dan Mataram hehehehehe.,kita bisa bantu ririungan.
    Botani Skuere cuma sepelemparan batu dari padepokan kuring, naek kuda cuma lk 10 menit., itu juga kalo ga ada halangan, seringkali banyak gajah dan laler ijo macetkan jalanan.Cuma sementara ini waktu luang saya tengah malem.., kapan2 kita bisa ketemu buat bantu2 Ki Gede.
    Panah Ki Mangil (email) sudah melesat ke Padepokan NakMas Auliada..

    Salam…
    Mbah Dewo.

  19. @mas alphonse, ki dewo dan ki Aulianda.
    saya posisi di citayam mas, kebetulan kemarin di mertua ada buku adbm, tapi jumlahnya belum jelas. mgkn sabtu besok saya coba bongkar deh.

  20. Kangmas dan Simbah sekaliyan,
    Subhanallah, kadang ADBM di bogor banyak ya.
    Base saya di bsi, namun saat ini ngupaya sego di nad.
    Sekiranya ada buku2 yang bisa saya scan di kantor dan saat puldik saya retour, …. seandainya.
    Ditunggu petunjuknya.
    JazakLLH.

  21. Saye tinggal dekat Pekanbaru,..adekah yg tau taman sewaan di Pekanbaru? tolong info ke saye, biar besuk nak saye cari ….

  22. absen menjelang siang, moga2 ga ketinggalan

  23. Terimakasih atas tanggapan yang baik dari para cantrik yang berasal dari tanah perdikan kota hujan.

    Mungkin sebelum kita berkumpul untuk membicarakan langkah selanjutnya, ada baiknya kita menunggu hasil pencarian Kangmas Ony atas kitab-kitab apa saja yang dapat diketemukannya.

    Setelah itu kita bisa melanjutkan rencana ini melalui teliksandi (email) agar rencana kita mensuplai ransum ke Ki Gede tidak dicurigai oleh teliksandi dari Pajang.

  24. ada cover ada harapan,
    ini belum ada cover sudah penuh harapan,
    ikutan ngantri aaahhh

  25. Mungkin nanti setelah matahari kelihatan semburat merah di ufuk barat, kitab 62 muncul bersama munculnya kalong2 dari hutan Mentaok…

  26. Jalan ke kapling 62 masih belum di aspal nih…jadi perjalanan akan memakan waktu agak lama kali!

  27. Ikutan antri aaah..
    Kali aja 62 cepet muncul.

    Salam.

  28. “Hmmm,… Sekar Mirah ini mirip sekali dgn Rara Wilis. Apakah ada tautan keluarga antara Demang Sangkal Putung dengan Pandan Alas” Jaka Soka bergumam sendiri.
    “Mungkin jawabannya ada di kitab ini bagian 62….”

  29. absen euy…………..

  30. Kembang jambu sak dompol isine loro …… aku tansah nunggu jilid sewidak loro

  31. sudah siang begini kok masih blom ada tanda-tanda nya yaa…..

  32. kesabaranku kian tipis aja, tapi memang kesabaran tiada batasnya, sabar…..sabar…….
    senajan wis memeti kaya wong kebeles ngisi_En_Ge

  33. Menyang sawah nyangking pacul.
    Jilid 62 ga muncul muncul.

  34. “Engkau bukan sahabat yg pernah aku kenal dulu, Pasingsingan. Sahabatku dulu seorang yg rendah hati & tidak srudak-sruduk.” teriak Pandan Alas.

    “Huh…. sudah seharian aku tunggu, tetapi tidak ada tanda2 kedua pusaka itu akan keluar!” sahut Pasingsingan

    “Tenanglah,… lepas maghrib mudah2an engkau akan melihat tanda-tanda itu”

  35. Wah, mengikuti sistem hopper, ternyata cara membaca saya pun mengikuti sistem hopper. saya cicil sedikit demi sedikit. sampai sekarang baru sampai halaman 40 untuk buku 61.
    Kebetulan memang ada 4 buku judul lain yang harus dibaca dan belum rampung.

  36. Ngombe teh gulane batu.
    Tiwas mekekeh nem loro ora metu metu.

    kekekekeh…

  37. Lolee–lolee….
    Sore-sore nang latar akeh kancaane..
    Ngenteni metune, nganti entek_e srengengee….
    mesthi meeetuneee…

  38. akhirnya datang juga

  39. Lhaa.. ini, tanda2nya dah muncul

    ada sampul ada harapan

    Ki KontosWedul

  40. Tuhhh… Betul kan… Gw kate juga ape… Pasti munculnya sore… Nah, ntar lagi, jam2 17.62, baru deh muncul…

  41. Weladallah, pancen bejo tenan, niatnya mau ngabsen lan ngantri dibarisan kok malah langsung keparingan rangsum 1.9 MB, matur nuwun sedoyonipun

  42. Ah sayah mah harus lebih sabar lg menunggu versi text nya muncul…Tp gpp deh yg penting psti muncul iya kan mas..Yg psti saya ucapkan makasi bnyk buat mas DD dan pasukannya,dan mhn maaf krna saya tdk bisa bantu2,,padahal adbm seri 2 saya punya komplit tp krna faktor peralatannya saya tdk punya akhirnya cm bisa menikmati..

  43. kulonuwun…….
    bilh saged nyuwun tulung mbok jilid2 salajengipun saged diantreaken copy data.
    Nuwum….

  44. “Apakah kalian akan tetap memakai pakaian itu..?
    atau kalian akan berganti pakaian disini,,,?” tanya Untara.

    Hikkssss, tak merem disik ah,…..Ki Menggung katene ganti pakaian neng kene. Mari ciblon ndek mBlumbang.

    • Lha sing gantos rasukan niku sinten ki , yen ni sindhen mbok kulo ditepangke to , nopo malih nek ni sindhene HUUAYYYYUUU tenan , kulo angka ikut kemawon ki .

      sugeng nginjen , eh kleru dhing sugeng ndalu …

      • halah, kekakuan lama kumat kembali…..!!??

        ki Gembleh hora nginjen, hora ngintip, hora
        dhelok….. 🙂
        anangging cuma nginguk doANG, sekejap
        sekedip-an.

        he-heee, genk dalu ki Gembleh, ki Haryo, ki AS
        ki Menggung Kartojudo.

        • xeo…xeo…xeo…xeo…xeo
          coba Ki Pandanalas melok gabung lagi………..
          mulai maneh dolanan suket cedhak galengan
          pinggir mBlumbang

          • sukete pun telas ki , ditedho mendo cacah sekawan doso sing taksih kantun mung blumbange sajake pun mblambang toyane .

            sugeng dolanan s.k.t dalu-dalu .

            • iyo ki pandan sajake po ra kangen yo, ra tau nginguk blas opo salin rupo mencala putra mancali putri jane


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: