Buku 62

“Aku menyangka bahwa Kakang Untara tidak akan pernah dekat dengan seorang gadis. Tetapi pada suatu saat ia telah berpacu mendahului aku,” berkata Agung Sedayu sambil tertawa pula.

“Bukan salahku,” sahut Untara.

“Jadi siapa yang bersalah?”

“Paman Widura.”

“O,” Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Barulah ia teringat kepada pamannya meskipun sejak dari Sangkal Putung ia sudah berhasrat untuk mengunjunginya. Karena itu maka Agung Sedayu pun berkata, ”Aku akan menengok Paman Widura. Apakah ia ada di rumah atau paman ikut di dalam kesatuan Kakang Untara ini?”

Untara mengerutkan keningnya. Jawabnya, ”Paman Widura merasa telah terlampau tua untuk menjadi seorang prajurit. Karena itu kini ia telah mengundurkan dirinya.”

“O,” Agung Sedayu m engangguk-anggukkan kepalanya.

Sedang perwira yang telah setengah umur itu pun berkata, “Mungkin umurnya belum setua aku. Ia lebih muda satu atau dua tahun dari padaku. Tetapi beberapa waktu berselang ia telah mengundurkan diri. Bahkan rasa-rasanya seperti dengan tiba-tiba saja.”

Agung Sedayu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Pamannya adalah seorang prajurit yang baik. Tetapi pada suatu saat, ia memang wajar merasa bahwa tugasnya telah selesai.

“Ia mengharap anak-anak mudalah yang akan melanjutkan tugasnya,” berkata perwira itu. ”Ia berbangga bahwa kemanakannya telah menjabat sebagai seorang senapati yang terpercaya. Namun ia masih berharap bahwa kemanakannya yang seorang lagi akan mengikuti jejak kakaknya.”

Agung Sedayu masih tersenyum meskipun dadanya menjadi berdebar-debar. Karena itu, ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, ”Jadi, Kakang Untara akan melangsungkan perkawinan di bulan mendatang?”

Untara mengangguk. Katanya, ”Mudah-mudahan suasana tidak berubah. Semuanya telah diatur oleh Paman Widura.”

Untara terdiam sejenak, lalu, ”Tetapi dari mana kau mendengarnya?”

“Di jalan padukuhan ini aku bertemu dengan Juga. Dikiranya aku sudah mengerti rencana itu.”

“Aku juga kurang mengerti,“ berkata Untara sambil tersenyum pula, ”paman Widura-lah yang paling tahu.”

“Aku akan segera menemui Paman Widura.”

“Kapan kau akan kesana?”

“Sekarang, atau sebentar lagi.”

“Ah,” desah Untara, ”kenapa tergesa-gesa? Besok atau malam nanti kita pergi bersama-sama.”

Agung Sedayu berdesir mendengar ajakan itu. Tetapi ia berusaha untuk menahan perasaannya, sehingga kesan itu sama sekali tidak terbayang di wajahnya. Tetapi ia menjawab, ”Aku sudah terlalu lama tidak berjumpa.”

“Tetapi tidak perlu sekarang. Kau belum makan di sini,” cegah Untara.

Agung Sedayu tidak memaksa. Tetapi ia mulai dijalari oleh kegelisahan. Kakaknya pasti tidak akan membayangkan bahwa ia akan kembali ke Sangkal Putung hari ini. Tetapi seandainya ia tidak kembali, maka tanggapan Ki Demang Sangkal Putung beserta anak-anaknya pasti sangat tidak baik.

“Hanya guru sajalah yang tahu keadaanku yang sebenarnya di dalam hubungan keluarga ini. Yang lain sama sekali tidak akan dapat mengerti. Mereka memandang persoalan ini dari segi mereka sendiri.”

Namun Agung Sedayu sudah merasa berjanji bahwa senja nanti ia sudah harus berada di Sangkal Putung kembali.

Meskipun kegelisahan itu terasa semakin mencengkamnya, namun Agung Sedayu masih berhasil menguasai perasaannya, sehingga kegelisahan itu sama sekali tidak berkesan di hatinya.

Demikianlah maka sejenak kemudian Agung Sedayu telah mendapat hidangan dari juru madaran para perwira Pajang yang tinggal dirumah Itu. Semangkuk minuman panas dan makanan beberapa potong.

Namun dalam pada itu, selagi tangannya menyuapi mulutnya dengan makanan, Agung Sedayu masih juga berpikir, bagaimana caranya ia nanti minta diri dan memaksa kembali ke Sangkal Putung.

“Kalau saja aku tidak datang kemari,” berkata Agung Sedayu didalam hati. Namun dijawabnya sendiri, ”Kakang Untara akan marah kepadaku kalau ia tahu bahwa aku tidak segera menemuinya setelah aku datang di Sangkal Putung. Dan apalagi hatiku pasti akan selalu digelisahkan oleh bayangan kabur yang membatasi Pajang dan Mataram. Ternyata Kakang Untara tidak bersikap keras. Jauh berbeda dari bayanganku semula. Namun yang paling mencemaskan adalah justru harapan Kakang Untara, bahwa Mataram akan merupakan tiang yang dapat memperkokoh tegaknya Pajang. Selain itu juga harapan Kakang Untara, bahwa aku akan menjadi prajurit Pajang pula.”

Karena kesibukan mulut mereka yang ada di pringgitan itu mengunyah makanan, maka mereka pun terdiam untuk sejenak. Tetapi justru karena mereka diam itulah angan-angan Agung Sedayu telah mengembara.

Namun tiba-tiba para perwira yang ada di pringgitan itu berpaling ketika mereka mendengar pintu bergerit. Seorang perwira yang lain telah muncul dari balik daun pintu. Sejenak ia berdiri diam memandang setiap orang yang ada di pringgitan itu. Perwira itu adalah perwira yang acuh tidak acuh terhadap kehadiran Agung Sedayu.

“O,” berkata Untara kemudian, ”kemarilah. Duduklah Adi Ranajaya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Perwira itu ternyata bernama Ranajaya.

Ranajya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun melangkah mendekat dan kemudian duduk pula di antara mereka.

“Ini adalah adikku,” berkata Untara.

“Ya, aku sudah mendengarnya “

“O, dari siapa kau mendengar?”

“Dari anak itu sendiri. Ia berdiri di pendapa seperti seorang yang kehilangan akal. Karena aku belum pernah melihatnya, maka aku bertanya kepadanya. Ternyata ia adalah Agung Sedayu, adik Kakang Untara.”

Untara mengerutkan keningnya.

“Ia adalah seorang pendukung berdirinya Mataram. Kedatangannya ditandai dengan pertengkaran. Ia sudah berkelai dengan seorang prajurit anak buahku.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, ”Jangan kaget Sedayu. Kami yang tinggal di sini sudah mengenalnya baik-baik. Tetapi karena kau baru mengenalnya sekarang, kau wajib mengetahui bahwa Adi Ranajaya sangat benci kepada orang-orang yang sedang sibuk membangun Mataram. Dan adalah sifatnya, kadang-kadang kata-katanva melontar tanpa kendali.” Untara diam sejenak, lalu di pandanginya perwira yang bernama Ranajaya itu, ”Sebenarnya aku juga tidak senang mendengar kata-kata itu. Bukan karena Agung Sedayu adalah adikku. Tetapi tuduhanmu yang serta-merta, bahwa setiap orang yang datang dari Mataram adalah pendukung berdirinya Mataram dapat menimbulkan salah paham. Siapa pun yang datang.”

“Tetapi aku tidak akan mengatakan begitu, seandainya ia tidak dengan sengaja melawan dan menunjukkan kelebihannya dari seorang prajurit Pajang.”

“Itu bukan kata-kata seorang perwira. Adalah picik sekali apabila kau segera menarik kesimpulan dari percekcokan itu untuk menentukan seseorang berpihak kepada Mataram. Apalagi karena kau sudah mengetahui apakah sebabnya.” Untara terdiam sejenak, lalu, ”Tetapi apakah keberatanmu seandainya Agung Sedayu, atau katakanlah seseorang yang membantu berdirinya Mataram di Alas Mentaok itu? Katakan, apakah keberatanmu?“

Wajah perwira itu menjadi merah. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Untara akan menjawabnya langsung di hadapan para perwira yang lain. Itu bukan menjadi kebiasaannya. Namun kali ini Ranajaya berpendapat bahwa Agung Sedayu adalah justru adik Untara sendiri. Biasanya Untara tidak pernah membantah apabila ia memaki-maki orang-orang Mataram, termasuk Raden Sutawijaya. Biasanya Untara hanya tersenyum dan berkata, ”Sudahlah. Jangan membuat dirimu sendiri menjadi sakit.” Tetapi kini Untara langsung mencelanya.

“Adi Ranajaya,” berkata Untara, ”soalnya tidak semudah itu untuk menjatuhkan tuduhan terhadap Mataram dan terhadap orang-orang yang pernah berhubungan dengan Mataram. Kalau memang benar Mataram akan memberontak terhadap Pajang, akulah senapati di sini. Aku akan menerima perintah untuk menghancurkannya, meskipun di sana ada Raden Sutawijaya dan Ki Gede Pemanahan. Meskipun aku tahu bahwa Ki Gede Pemanahan seorang yang mumpuni, tetapi perang bukannya perang tanding. Karena itu untuk seterusnya jangan memperuncing keadaan. Selagi kita menjajagi kemauan Ki Gede Pemanahan, kau jangan menambah suasana menjadi buram. Kata-katamu itu adalah racun bagi prajurit-prajurit kecil. Bukankah aku sudah pernah memperingatkan, jangan berkata seperti itu di hadapan orang lain, selain di hadapan kami. Para perwira yang sudah mengenal watak dan tabiatmu.”

Wajah Ranajaya menjadi semakin merah. Namun kemudian ia pun menundukkan kepalanya. Kali ini ia tidak dapat membawa pembicaraan yang keras terhadap Mataram.

Dengan demikian, maka sejenak suasana menjadi hening, meskipun terasa ada juga ketegangan. Agung Sedayu sama sekali tidak ingin mengatakan apa pun juga agar tidak menimbulkan salah paham. Tetapi ia masih tetap kagum kepada kakaknya yang mencoba berdiri di atas segala masalah yang hanya sekedar meloncat dari perasaan dan prasangka. Sebagai prajurit ia memerlukan bukti-bukti untuk menentukan suatu keputusan yang bersifat menghukum. Meskipun hanya sekedar dengan kata-kata.

Namun dalam pada itu Ranajaya mengumpat-umpat di dalam hati. Meskipun ia menundukkan kepalanya tetapi ia menggeram, ”Akan aku sampaikan hal ini kepada Kakang Tumenggung.”

Kehadiran Ranajaya itu ternyata membuat suasana menjadi lain. Wajah-wajah di ruangan itu tidak lagi tampak jernih dan tidak ada lagi senyum di bibir. Dengan kaku mereka mencoba melepaskan ketegangan dengan meneguk minuman dan makan sepotong makanan. Tetapi rasa-rasanya minuman dan makanan itu tidak lagi sesedap semula.

Untuk melepaskan kejanggalan di dalam pertemuan itu, tiba-tiba Agung Sedayu-lah yang memulainya, ”Kakang Untara. Apakah Kakang memperkenankan aku pergi ke rumah paman Widura sekarang saja?”

“Sekarang?” Untara mengerutkan keningnya.

“Ya, sekarang. Aku sudah terlalu rindu kepada paman dan keluarganya. Aku akan segera kembali kemari apabila aku sudah bertemu. Aku hanya akan sekedar bertemu saja.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Suasana di rumah itu memang menjadi kurang baik, dan bahkan ada terasa ketegangan di hati masing-masing. Karena itu, agaknya ada juga baiknya Agung Sedayu menyingkir sejenak, untuk nanti kembali lagi.

“Bagaimana pertimbangan Kakang,” desak Agung Sedayu.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian ia menjawab, “Baiklah, Agung Sedayu. Kau boleh pergi ke pamanmu Widura. Tetapi jangan terlampau lama. Kita akan makan siang ini di sini.”

“Tetapi bagaimana kalau Paman memaksa aku untuk makan di sana?” jawab Agung Sedayu yang mencoba mencuci suasana.

“Katakan, bahwa kau sudah makan.”

“Tetapi aku dapat gagal kedua-duanya. Kepada Paman Widura aku berkata, bahwa aku sudah makan, tetapi kemudian ketika aku sampai di sini, aku tidak mendapat bagian lagi.”

Beberapa orang di antara mereka tersenyum. Tetapi perwira yang bernama Ranajaya masih menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak acuh lagi atas semua pembicaraan. Hanya karena keseganannya kepada Untara sajalah, maka ia tidak pergi meninggalkan ruang itu.

“Jangan takut,” jawab Untara kemudian, “kami akan menyediakan makan buatmu. Dua orang prajurit akan menjaganya, supaya makan persediaanmu itu tidak dicuri orang.”

Agung Sedayu pun tersenyum pula. Lalu katanya, “Kalau begitu aku minta diri, Kakang.” Kemudian kepada perwira-perwira yang ada, Sedayu berkata, “Aku minta diri. Nanti aku akan segera kembali. Aku hanya sekedar ingin bertemu lebih dahulu. Mungkin di kesempatan lain, aku akan membicarakan hari-hari yang baik buat Kakang Untara. Bukankah hari itu masih belum ditentukan, meskipun di bulan depan.”

“Ah,” sahut seorang perwira yang lain, “tentu sudah. Tetapi ada dua atau tiga pilihan dari hari-hari terakhir di bulan depan. Bukankah begitu?” bertanya perwira itu kepada Untara.

Untara hanya tersenyum saja.

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu pun meninggalkan pringgitan yang rasa-rasanya menjadi terlampau panas itu. Ketika ia berada ke pendapa, terasa udara yang segar menyentuh tubuhnya.

Untara dan beberapa orang perwira yang lain mengantarnya sampai ke tangga pendapa. Kemudian Agung Sedayu minta diri sekali lagi, “Aku akan membawa kudaku, Kakang, supaya perjalananku agak cepat.”

“Ah ada-ada saja kau, Sedayu. Selagi kau menyiapkan kudamu, kalau kau berjalan kaki, kau sudah akan sampai,” sahut Untara.

Sambil tersenyum Agung Sedayu menjawab, “Tetapi aku kira, masih lebih cepat di atas punggung seekor kuda.”

“Terserahlah,” desis Untara.

Agung Sedayu pun kemudian mengambil kudanya, dan menuntunnya sampai ke luar regol. Setelah ia melampaui penjagaan prajurit di regol halaman itu, ia pun segera meloncat naik ke punggung kudanya yang segera berlari ke rumah pamannya, Widura.

Kedatangan Agung Sedayu di rumah pamannya benar-benar mengejutkan. Seisi rumah menyambutnya dengan wajah-wajah yang cerah, seperti mereka menyambut anak sendiri. Bagi Widura dan keluarganya, Agung Sedayu memang seperti anak sendiri. Apalagi kini Agung Sedayu bukan lagi anak cengeng seperti ketika ia datang ke Sangkal Putung untuk yang pertama kali.

“Kau benar-benar seorang anak muda yang gagah Sedayu,” berkata Widura sambil mengguncang-guncangkan lengan Agung Sedayu. “Tubuhmu kuat dan liat. Kau pasti telah tumbuh menjadi seorang yang benar-benar dewasa.”

Agung Sedayu tidak menyahut.

“Marilah, duduklah.”

Agung Sedayu pun kemudian di bawa oleh pamannya ke pringgitan. Hampir seisi rumah ikut pula menyambutnya. Anak-anak Widura pun untuk beberapa lamanya ikut pula duduk di sebelah menyebelah Agung Sedayu.

“Kau sama sekali lain dari kau yang dahulu, Sedayu,” berkata Widura. Lalu, “Kau berkembang cepat sekali. Rasa-rasanya baru kemarin kau datang di Sangkal Putung dengan wajah pucat dan gemetar.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Salah paham yang timbul pada anak-anak muda Sangkal Putung waktu itu, hampir saja membawa kesulitan yang dalam bagimu.”

Agung Sedayu tersenyum. Dipandanginya wajah pamannya sejenak, lalu katanya, “Memang lucu sekali, Paman.”

“Kau mereka anggap sebagai seorang pahlawan. Tidak ada seorang pun yang berani melintasi jalan ke Sangkal Putung seorang diri seperti yang kau lakukan. Aku pun tidak. Dan barangkali, kau yang sudah berkembang sekarang ini, tidak akan mencoba melakukannya lagi seandainya kau menghadapi saat yang sama.”

Agung Sedayu tertawa. Tetapi ia menjawab, “Tetapi Kakang Untara akan melakukannya saat itu. Padahal Kakang Untara pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi ia seorang senapati. Jarak itu akan ditempuh tanpa pengawalan sama sekali.”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya terangguk-angguk kecil. Katanya kemudian, “Untara adalah seorang anak muda yang luar biasa. Ia memang agak lain dari anak-anak muda pada umumnya. Selain ilmunya yang cukup, dan ternyata ia mampu mengalahkan Tohpati, juga ia memiliki keberanian yang luar biasa. Saat itu ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan pasukan Pajang yang ada di Sangkal Putung, sehingga meskipun ia dapat berbuat lain, tetapi jalan yang paling baik ditempuh adalah menghubungi aku di Sangkal Putung. Ia tidak sempat memanggil pengawal-pengawalnya, karena waktunya tinggal semalam. Namun ternyata, bahwa kaulah yang berhasil menyampaikannya berita itu kepadaku, tepat pada waktunya. Kalau kau terlambat, maka aku kira jalan peperangan di daerah Selatan itu akan menjadi berbeda.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja terasa bulu-bulunya meremang. Peperangan di Sangkal Putung memang menumbuhkan kenangan yang khusus di dalam dirinya. Ngeri, lucu, dan mendebarkan. Terlebih-lebih dari itu, ia telah tersangkut pula pada seorang gadis Sangkal Putung yang bernama Sekar Mirah.

Tiba-tiba saja dadanya menjadi berdebar-debar. Seperti kakaknya, maka persoalan itu pasti akan ditangani oleh pamannya. Ia tidak mempunyai ayah dan ibu lagi. Sudah tentu, semuanya akan terserah kepada Widura dan Untara.

Tetapi Agung Sedayu masih belum dapat mengatakannya.

Meskipun demikian, ia dapat juga bertanya tentang hari-hari perkawinan Untara yang akan diselenggarakan bulan depan.

Widura tertawa. Jawabnya, “Memang sudah waktunya bagi Untara. Umurnya sudah lebih dari cukup. Jabatannya baik dan agar ia tidak terlalu kaku, ia memerlukan seorang isteri yang sabar dan mengerti akan tugasnya sebagai seorang prajurit.”

Agung Sedaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bakal isterinya adalah seorang gadis yang baik. Memang agak berbeda dengan Sekar Mirah yang lincah dan gembira. Isteri Untara adalah seorang gadis pendiam. Namun mudah-mudahan gadis itu akan dapat memberikan arti bagi hidup Untara yang kering dan agak kaku. Ia seakan-akan menenggelamkan diri di dalam kebekuan ketentuan seorang prajurit, sehingga dirinya sebagai seseorang di antara kehidupan yang luas agak menjadi janggal karenanya.”

Agung Sedayu masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau Untara sudah kawin, maka jalan bagimu akan menjadi terbuka semakin lebar. Tidak ada lagi keseganan apa pun, apabila pada suatu saat, kau harus menginjakkan kakimu ke jenjang perkawinan.”

“Tetapi aku masih seorang petualang, Paman. Aku belum mempunyai pegangan untuk hidup kelak. Berbeda dengan Kakang Untara.”

“Apakah yang harus menjadi pegangan? Maksudmu, kau belum memegang suatu jabatan apa pun?”

“Ya, Paman.”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau adalah calon prajurit yang baik, Sedayu. Kau akan dapat menjadi seorang prajurit, yang tidak usah mulai dari bawah sekali. Kalau kau mau, kau akan dapat kesempatan. Bukan karena kau adik Untara, tetapi karena kau memiliki kemampuan. Kau dapat menempuh pendadaran untuk langsung menjadi seorang lurah prajurit. Meskipun mula-mula kau akan memimpin suatu kelompok kecil, namun dalam waktu singkat kau akan menanjak.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja kepalanya menunduk. Katanya, “Itulah yang merisaukan hatiku, Paman.”

“Kenapa?”

“Kakang Untara memang ingin aku menjadi seorang prajurit. Agaknya Paman juga menginginkan aku menjadi seorang prajurit.”

Widura tidak segera menyahut.

“Tetapi sayang, Paman. Untuk saat ini, aku masih pelum ingin memasuki bidang keprajuritan.”

Widura menjadi heran mendengar jawaban itu, sehingga sambil mengerutkan dahinya ia bertanya, “Kenapa Sedayu? Apakah kau sama sekali tidak membayangkan pengabdian lewat tugas seorang prajurit?”

“Tentu juga terbayang pengabdian yang dapat aku berikan kepada negeri ini, Paman. Tetapi tidak dalam saat yang singkat. Dan bukankah aku masih mempunyai kesempatan untuk mengabdi lewat banyak saluran?”

Widura mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya, ya. Kau dapat memilih bidang pengabdianmu sendiri. Tetapi apakah keberatanmu untuk menjadi seorang prajurit? Di dalam masa-masa yang buram ini, tenagamu sangat diperlukan oleh Pajang.”

Agung Sedayu tidak dapat segera menjawab. Tetapi Hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Ternyata pamannya juga menginginkannya menjadi seorang prajurit.

Namun tiba-tiba tanpa disadarinya sendiri, tiba-tiba saja Agung Sedayu bertanya, “Kenapa Paman mengundurkan diri dan keprajuritan?”

Widura terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, “Aku sudah terlalu tua.”

“Aku melihat seorang perwira yang lebih tua dari Paman.”

“Tetapi sudah tentu waktu pengabdianku lebih panjang daripadanya. Mungkin ia memasuki lapangan keprajuritan setelah ia berumur jauh lebih tua dari saat-saat aku memasuki tugas itu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang jawaban itu mungkin sekali terjadi. Namun Agung Sedayu masih bertanya, “Tetapi Paman, bukankah saat-saat ini Pajang memerlukan prajurit yang cukup berpengalaman, seperti kata Paman sendiri, suasananya kini sedang buram. Bukankah begitu, Paman?”

Widura pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Jawabnya, “Ya. Mungkin tenaga paman memang masih dibutuhkan.” Widura tidak melanjutkannya. Namun terasa sesuatu agaknya tersangkut di hatinya.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya, ia menunggu pamannya mengatakan sesuatu, tetapi Widura justru hanya menarik nafasnya dalam-dalam. Tetapi ia tidak meneruskan kata-katanya.

Karena itu maka sejenak mereka terdiam. Seakan-akan mereka kehabisan bahan untuk berbicara.

Namun untuk mengatasi kebekuan itu, tiba-tiba saja Widura berkata, “Agung Sedayu. Tunggulah sejenak. Aku harus menangkap seekor ayam yang paling besar, untuk menjamumu hari ini. Kau akan makan di sini siang ini.”

Tetapi Agung Sedayu berkata cepat-cepat, “Paman, Kakang Untara berpesan kepadaku, agar aku segera kembali. Kakang Untara menunggu aku makan siang ini bersama para perwira yang tinggal di rumah kami.”

“Benar begitu?”

“Benar, Paman. Aku mengucapkan terima kasih atas sambutan Paman. Tetapi maaf, aku tidak akan membuat Kakang Untara kecewa.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kamilah yang kecewa. Kalau begitu nanti malam kau harus makan di sini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat menyimpannya lebih lama lagi, sehingga ia pun menjawab, “Nanti sore aku harus kembali ke Sangkal Pulung.”

“He, kembali ke Sangkal Putung? Bukankah kau anak Jati Anom?”

“Ya, Paman, tetapi aku sudah berjanji kepada Ki Demang dan kepada Adi Swandaru, bahwa nanti sebelum senja aku harus sudah berada di Sangkal Putung.”

“Ah, tentu mereka minta kau kembali. Seandainya itu tidak bersungguh-sungguh, maka mereka pasti akan sekedar mengatakannya untuk memenuhi adat pergaulan. Tentu mereka tidak akan mengatakan kepadamu, agar kau tidak usah kembali saja.”

“Bukan, Paman. Bukan karena itu. Anak-anak muda Sangkal Putung nanti senja akan berkumpul menyambut kedatangan kami. Aku dan Swandaru. Mereka menganggap aku sebagai keluarga mereka, karena aku pernah tinggal di Sangkal Putung untuk beberapa lama.”

“Ya. Mungkin begitu. Mungkin kau masih tetap mereka anggap sebagai pahlawan. Tanpa kau, Sangkal Putung mungkin tidak akan mengalami masa-masa sebaik sekarang.”

“Tetapi keakraban, kekeluargaanlah yang agaknya mendorong mereka menyambut kedatanganku.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun ia berdesis, “Sejak kanak-kanak, kau berada di Jati Anom dan Banyu Asri. Tetapi tidak seorang pun yang menyambut kedatanganmu seperti anak-anak muda Sangkal Putung. Aku tidak tahu, kenapa kau lebih dekat dengan Sangkal Putung dari Jati Anom dan Banyu Asri. Mungkin karena kau berada di Sangkal Putung dalam keadaan yang gawat, sehingga anak-anak mudanya merasa senasib dengan kau, atau karena kau seorang pahlawan. Tetapi demikianlah agaknya.”

Tiba-tiba saja terkilas di angan-angan Agung Sedayu, sikap anak-anak muda Sangkal Putung yang sesungguhnya. Sebenarnya mereka pun sama sekali tidak ingin menyambut kedatangannya. Kedatangan Agung Sedayu. Tetapi yang telah menggerakkan anak-anak muda Sangkal Putung sebenarnya adalah kedatangan Swandaru. Putera Demang Sangkal Putung itu pun pasti tidak akan berbuat apa-apa. Seperti juga anak-anak Jati Anom dan Banyu Asri. Mereka hanya akan menyambutnya sebagai kawan yang sudah lama tidak bertemu di sepanjang jalan atau di simpang-simpang tiga apabila berpapasan.

Tiba-tiba saja kepala Agung Sedayu justru tertunduk. Ia merasa, bahwa seolah-olah ia justru terlepas dari akarnya. Ia bukan lagi anak Jati Anom, tetapi juga bukan anak Sangkal Putung.

“Jadi,” Berkata Widura kemudian, “kau akan kembali ke Sangkal Putung hari ini?”

Begitu saja terloncat jawabnya, “Ya, Paman.”

“Dan kau sudah mengatakan kepada Untara?”

Agung Sedayu menggeleng, “Belum, Paman. Aku belum dapat mengatakannya.”

“Kalau begitu, Untara pasti menyangka, bahwa kau kini telah kembali. Pulang ke rumah sendiri.”

“Mungkin Kakang Untara berpendapat demikian, Paman. Dan itulah yang membuat aku bingung. Bagaimana aku kembali ke Sangkal Putung hari ini. Besok atau lusa, aku akan kembali lagi kemari.”

Tiba-tiba Widura tersenyum. Katanya, “Tetapi aku tidak dapat menahanmu. Juga sebaiknya Untara tidak. Aku kira bukan sambutan anak-anak muda Sangkal Putung itulah yang penting bagimu.”

Wajah Agung Sedayu menjadi merah sekilas. Sambil menundukkan kepalanya, ia berdesis, “Mungkin juga begitu, Paman.”

“Aku dapat mengerti, Sedayu. Tetapi barangkali berbeda dengan kakakmu. Ia merasa lebih berhak berbuat atasmu, karena kebiasaannya sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Mungkin ia akan melarang kau pergi ke Sangkal Putung hari ini.”

“Tetapi aku sudah berjanji untuk kembali.”

“Tentu tidak akan ada akibat apa-apa, seandainya kau menundanya sampai besok. Asal kau benar-benar kembali. Kau tidak akan secepat itu kehilangan.”

“Tetapi ……,” Agung Sedayu menjadi semakin tunduk.

“Tentu orang-orang Sangkal Putung mengetahui, bahwa kau kembali ke kampung halaman. Bertemu dengan sanak saudara. Tentu kau tidak akan dapat secepat itu kembali.”

Agung Sedayu tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Yang terbayang kemudian justru wajah Sekar Mirah yang memberengut. Wajah Swandaru yang kecewa, dan anak-anak muda Sangkal Putung yang berkelakar sambil mengunyah daging kambing.

“Mungkin anak-anak Sangkal Putung itu tidak menghiraukan kehadiranku. Tetapi bagaimana dengan Sekar Mirah dan Swandaru?” persoalan itulah yang kemudian selalu mengganggunya, sehingga untuk sesaat ia merenung.

Tetapi Widura justru tertawa melihat wajah Agung Sedayu yang menegang serta keningnya yang berkerut. Katanya, “Jangan risau. Kalau kau berkata berterus-terang, maka Untara akan mengerti. Aku mengharap Untara sekarang sudah lain. Ia sekarang mulai mengenal seorang gadis dan mulai mempelajari watak-wataknya.”

Agung Sedayu memandang wajah pamannya sejenak, namun kemudian ia pun tersanyum.

“Mudah-mudahan Kakang Untara mengerti,” desisnya. Lalu, “memang aku melihat perbedaan sikap Kakang Untara sekarang. Aku menyangka, bahwa Kakang Untara akan menyambutku dengan sikap yang dingin, dan bahkan marah karena aku terlampau lama pergi, apalagi aku kembali ke Sangkal Putung lebih dahulu. Tetapi ternyata Kakang Untara tidak berbuat demikian. Ia menerima aku dengan ramah, meskipun ia tahu, bahwa aku baru saja bertengkar dengan prajuritnya.”

“He,” Widura-lah yang terkejut, “kau sudah mulai bertengkar?”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya.

“Ya, Paman. Aku terpaksa bertengkar.”

“Kenapa?”

Agung Sedayu pun segera menceriterakan dengan singkat apa yang telah terjadi kepada pamannya. Bahwa ia tidak dapat mengelak sama sekali pertengkaran yang telah dipaksakan kepadanya itu.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itu memang membuat setiap perwira Pajang menjadi prihatin. Tetapi ada juga baiknya mereka bertemu dengan kau.”

“Ya, Paman. Kakang Untara juga berkata demikian. Tetapi seorang perwira yang lain agaknya bersikap lain pula.”

“Siapa?

“Ranajaya,” jawab Agung Sedayu. “Mungkin ia tidak senang karena kedatanganku ditandai dengan pertengkaran dengan prajurit yang kebetulan adalah bawahannya. Tetapi mungkin juga karena aku datang dari Mataram, seperti yang dikatakan Kakang Untara.”

“Ranajaya,” Widura mengangguk-anggukkan kepalanya, “ia memang mempunyai sikap yang aneh. Ia merasa dirinya terlampau penting di dalam pasukan Untara. Dan anak itu sangat membenci perkembangan Mataram yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya.”

“Aku semula menyangka, bahwa Kakang Untara pun akan bersikap demikian. Tetapi ternyata tidak. Bahkan Kakang Untara telah mencela sikap Ranajaya itu langsung di hadapan para perwira yang lain.”

“Sikapnya memang tercela,” tiba-tiba saja Widura berkata. Tetapi ia pun kemudian menelan ludahnya, seakan-akan ingin menelan kata-katanya itu kembali.

“Kenapa, Paman?”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah bukan prajurit lagi. Aku tidak akan dapat membuat penilaian apa pun atas mereka.”

“Bukan penilaian, Paman, tetapi aku hanya sekedar ingin medapat gambaran tentang sikap para perwira itu, agar aku dapat mencoba menyesuaikan diri.”

Widura memandang Agung Sedayu sejenak, dan tiba-tiba saja ia tersenyum, “Kau dahulu pendiam, Sedayu. Sekarang kau pandai juga memancing persoalan.”

Agung Sedayu pun tersenyum pula. Katanya, “Aku tidak berhasrat memancing persoalan, Paman. Tetapi aku benar-benar ingin mengetahui, terutama latar belakang dari sikap Ranajaya.”

Sejenak Widura merenung. Namun kemudian ia berkata, “Ada beberapa orang perwira yang tidak senang sekali melihat Mataram berkembang. Aku tidak tahu pasti apakah latar belakangnya. Bahkan mereka mulai mengarah pada suatu anggapan, bahwa Mataram akan membuat dirinya kuat untuk bersaing dengan Pajang.”

“Ah,” desis Agung Sedayu, “apakah pikiran itu benar?”

Widura memandang Agung Sedayu sejenak, lalu, “Kaulah yang datang dari Mataram. Kau tentu dapat mengatakan, apakah hal itu benar atau tidak benar.”

Kini Agung Sedayu-lah yang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku tidak terlampau lama di Mataram, Paman. Dan aku tidak mendapat kesempatan banyak.”

“Apa yang kau lihat di Mataram? Nanti kita sama-sama mengambil kesimpulan.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu diceriterakannya hal-hal yang penting saja, yang telah terjadi. Bahkan ia pun mengatakan pesan Raden Sutawijaya kepada Untara dan para perwira Pajang.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Pasti ada salah paham. Tetapi aku menyangka, ada orang yang dengan sengaja meniup-niupkan kesalah-pahaman itu. Beberapa perwira Pajang sendiri telah termakan oleh hembusan-hembusan ceritera tentang persiapan Mataram.”

“Apa yang dapat dipersiapkan saat ini, Paman? Mataram baru sibuk menundukkan alam. Kalau Mataram membangun kekuatan, maka yang menjadi sasarannya adalah alam itu sendiri. Hutan yang lebat dan daerah rawa-rawa.”

“Memang masuk akal. Tetapi kau harus dapat menghubungkan peristiwa yang terjadi di Alas Mentaok itu sendiri dengan hal-hal yang terjadi di istana Pajang. Usaha melawan pembukaan Alas Mentaok di medan dan usaha-usaha untuk menentangnya di istana. Tidak mustahil, bahwa ada hubungan di antara mereka. Yang aku tidak tahu, apakah sikap itu ditujukan kepada Mataram atau justru Pajang.”

“Maksud Paman?”

“Mereka yang menentang langsung, agaknya sudah jelas, bahwa mereka tidak menghendaki Ki Gede Pemanahan membuka hutan itu. Tetapi mereka yang dengan desas-desus mengadu domba antara Mataram dan Pajang, masih perlu diketahui latar belakangnya. Apakah mereka menghendaki usaha membuka Mataram gagal seperti hantu-hantu yang kau katakan itu, atau justru menghendaki Pajang runtuh.

Agung Sedayu mendengarkan keterangan pamannya dengan saksama. Memang ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Baik di Alas Mentaok sendiri, maupun di dalam Istana Pajang. Namun demikian, Agung Sedayu bertanya, “Paman, kalau ada usaha untuk meruntuhkan Pajang oleh orang-orang dari lingkungan istana sendiri, apakah pamrihnya?”

Widura mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Agung Sedayu, yang dengan penuh minat mendengarkan keterangannya. Lalu katanya, “Pajang memang belum mantap benar sekarang ini. Dengan demikian, maka ada saja adipati-adipati yang tidak menginginkan Pajang menjadi kuat. Kalau Pajang runtuh, siapakah di antara para adipati yang kuat, akan dapat menyatakan dirinya sebagai penguasa atas tanah ini.”

“Tetapi bukankah dengan demikian, akan berarti pertumpahan darah?”

“Ya Sedayu. Mungkin kau dan mungkin juga aku, meskipun aku bekas seorang prajurit, tidak menginginkan pertumpahan darah itu terjadi. Tetapi mungkin ada juga orang yang merasa berbahagia hidup di tengah-tengah pergolakan dan pertumpahan darah. Mungkin ada orang yang merasa berbesar hati, bahkan merupakan kebanggaan apabila mendapat kesempatan berdiri di atas bangkai-bangkai. Semakin tinggi timbunan bangkai di bawah kakinya, ia akan merasa semakin berbangga.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Pengetahuannya tentang Kerajaan Pajang dan kekuasaan yang ada padanya sangat kecil. Bahkan yang pernah dilihatnya adalah hanya sejengkal kecil dari Pajang seluruhnya. Karena itu, dengan susah payah ia mencoba untuk membayangkan keterangan pamannya. Daerah pasisir dari Barat menjelujur ke Timur. Daerah-daerah yang diperintah oleh adipati dan tanah-tanah perdikan yang besar.

Apabila ikatan dari sekumpulan pemerintahan itu lepas, maka negara ini akan menjadi porak poranda.

“Tetapi,” tiba-tiba Widura berkata, “jangan kau pikirkan kata-kataku. Mungkin aku adalah seorang pemimpin buruk yang paling baik di seluruh Pajang.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya memang seperti seseorang yang baru saja terbangun dari sebuah mimpi yang buruk yang dibuat oleh pamannya, sehingga tanpa disadarinya, Agung Sedayu mengusap matanya dengan lengan bajunya.

Sesaat mereka tidak berbicara. Tetapi angan-angan merekalah yang hilir-mudik tidak menentu, menjelajahi daerah yang tidak dapat mereka kenal dengan baik.

“Ah, sudahlah,” berkata Widura kemudian, “lupakan semuanya. Kita berbicara tentang Untara dan bakal isterinya.”

Agung Sedayu tersenyum.

“Kau wajib mengenalnya baik-baik,” berkata Widura. Kemudian diceriterakannya serba sedikit tentang gadis itu sambil menikmati hidangan yang telah dihidangkan di hadapan mereka.

Samar-samar Agung Sedayu dapat membayangkan, bagaimanakah sifat dari gadis itu. Sama sekali tidak seperti Sekar Mirah yang manja, keras hati, dan mempunyai harga diri yang agak berlebih-lebihan. Juga tidak seperti Pandan Wangi, yang menyerahkan dirinya kepada masa depan bagi tanah perdikannya. Seorang anak perempuan yang bakti kepada ayahnya, sepeninggal ibunya. Dan seorang gadis yang berjiwa prajurit.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 23 November 2008 at 07:22  Comments (50)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-62/trackback/

RSS feed for comments on this post.

50 KomentarTinggalkan komentar

  1. ambil girik dulu…

  2. Bener-bener,. sudah ada yang ngisi juga,.. hehehe

  3. Jurus2 di jilid 61 belum diajarkan oleh Ki DeDe, kok sudah ada yg ngantri untuk mempelajari jurus2 di jilid 62 ???

  4. Wis, pancen wis dadi behavioure poro cantrik.
    Senenge ngejah-ejah panggonan sing wingit…. bilik 61 ae durung dienggoni malah ngantri neng kene.

    Wis…jan tingkah polahe pancen ora mlebu petungan.

    Aku ra melu cawe2 neng bilik 62 ki loh…..

  5. aku yo tak melu antri yo

  6. Aku ga antri dulu kok

    hanya ikut ngancani teman2 saj

    xixixi 😀
    Ki KontosWedul

  7. aku juga mau nambah antrian, biar makin panjang yang antri supaya jilid 62 cepat nongol

  8. Salam rekan-rekan adbm,
    bagi yang punya/ada alat scan/foto materi dapat diperoleh di:

    Bandung

    1. Adhi Hidayat **
    Jl. Srigunting Barat No. 17
    Telp. 022-6017904
    adhidaya@bdg.centrin.net.id

    2. Taman Bacaan Hendra
    Jl. Sabang 28
    Telp. 022-4238008

    Semarang

    1. Gan Kok Liang (Gan KL) **
    Jl. Purwosari 29
    Telp. 024-3522663/3543106, Fax 024-3522985

    Keterangan: Diatas adalah alamat Persewaan Buku (Taman Bacaan) Cersil di kota Bandung dan Semarang.
    Silahkan melengkapi di kota masing-masing.
    Mudah-mudahan usaha pelestarian yang dirintis di Adbm dapat lancar, dan didukung cantrik-cantrik dan semua pihak.

  9. Yang di Bogor ada nggak ya?? Abdi badhe ngiring ngabantu nyecan.. Yang punya info peminjaman buku di Bogor, sharing infonya ya.. Nuhun.

  10. Para kadang cantrik, kula nyuwun tulung dipun antrek aken nggih… Dangu sampun kula ngadeg njejejer wonten mriki dereng pikantuk girik dumugi samenika…

  11. aaahhhhh
    enaknya lesehan di sini…., masih sepi..
    ngerokok dulu ah….
    kopi juga…

    …sapa tahu angkot 62 lewat…

  12. Semula saya bingung untuk memahami sistem delivery ADBM digital dengan “hoper” di padepokan ini. Tapi aku memperoleh ilham ketika tiba2 laptop-ku mengalami emergency shutdown. Ketika setrum batere menipis, maka batere itu tidak dapat dipakai lagi (kasarnya begitu). Mungkin itulah yang dimaksud Ki Gede. Ketika jilid2 di dalam hoper (= karung kali ya?) makin berkurang, maka makin sulit menarik jilid yang mau ditayangkan. Yang biasanya 1 jilid per hari bisa jadi 1 jilid per 2 hari atau 1 jilid perminggu (tergantung berapa banyak persediaan di dalam hoper). Atau mungkin mengalami emergency shutdown (jangan dung, bisa sakau aku). Hmmm …. masuk akal (sambil ter-angguk2). Sayang … posisiku jauh di luar jawa.
    BTW tetap semangat ADBM. Buat cantrik lain yang bisa ngebantu, saya juga mengaturkan atur nuhun sing akeh.

  13. On Nopember 24, 2008 at 8:58 pm alphonse Said:
    Yang di Bogor ada nggak ya?? Abdi badhe ngiring ngabantu nyecan.. Yang punya info peminjaman buku di Bogor, sharing infonya ya.. Nuhun.

    …+++
    Saya juga posisi di Bogor sama spt Mas Alphonse Said. Pengen bantu nyecan.., bhb saya tiap hari punya waktu nganggur jam 22 sd jam 3 subuh .. baru bisa tidur.Daripada browsing ga karuan lbh bagus bantuin Ki Gede.., tapi bahan buat di scannnya ga ada nih…, ada yang tau tempat persewaan buku komik lama di Bogor??…Kebetulan saya juga punya sopir tua yg bisa dijadikan kurir buat antar jemput…
    Masih ratusan buku lagi kerjaan Ki Gede, kalo ga di keroyok takut mandek di jalan …

  14. @ Ki Dewo & Ki Alphonse

    Saya juga tinggal di Bogor. Setau saya dulu di Bogor ada tempat peminjaman komik yang bernama “Taman Bacaan Nusantara” letaknya didaerah ruko Jambu Dua. Namun saat ini tempatnya sudah pindah ke daerah Pasar Anyar. Saya belum tau posisi pastinya disebelah mana, sedang ditelusuri keberadaan nya. Saya sedang berusaha pula mencari amunisi untuk mengisi hoper nya ki Gede, hehehe

    Bila ingin membantu Ki Gede, silahkan kisanak bisa mengambil bahan scan nya ditempat saya dengan menghubungi via alamat email dibawah ini. Tks.

    Salam, Aulianda
    aulianda_ilham@yahoo.com

  15. Aku disini gak ikut ngantri lho…
    Angkot 62 jurusan Jati Anom – Sangkal Putung lama juga yach..

  16. Kang Aulinda dan Ki Dewo1234, gimana kalo kita ketemuan di Botani Squaire? Hari Sabtu ini bisa?? Atau hari lain?? Nuhun

  17. Ikut ngantri, ..ah.
    cover belum ada, ..angkotnya apa lagi. Hmmh..

    ‘ngremus jenang alot saja, dulu.

  18. Anak Mas Aulinda dan Alphonse…, nanti saya kontak dulu via email nya Nak Mas Aulinda, saya mau bantu scan aja sebisanya. Bisa sopir or pembantu saya ntar didayagunakan buat antar jemput bahannya, asal cara2nya aja dijelasken.., terus dikirim kemana tuh hasil scan nya…,mudah2an internet ga error musim ujan ini.
    Padepokan saya di Baranang Siang – demi mempererat silaturahmi tatar Pajajaran dan Mataram hehehehehe.,kita bisa bantu ririungan.
    Botani Skuere cuma sepelemparan batu dari padepokan kuring, naek kuda cuma lk 10 menit., itu juga kalo ga ada halangan, seringkali banyak gajah dan laler ijo macetkan jalanan.Cuma sementara ini waktu luang saya tengah malem.., kapan2 kita bisa ketemu buat bantu2 Ki Gede.
    Panah Ki Mangil (email) sudah melesat ke Padepokan NakMas Auliada..

    Salam…
    Mbah Dewo.

  19. @mas alphonse, ki dewo dan ki Aulianda.
    saya posisi di citayam mas, kebetulan kemarin di mertua ada buku adbm, tapi jumlahnya belum jelas. mgkn sabtu besok saya coba bongkar deh.

  20. Kangmas dan Simbah sekaliyan,
    Subhanallah, kadang ADBM di bogor banyak ya.
    Base saya di bsi, namun saat ini ngupaya sego di nad.
    Sekiranya ada buku2 yang bisa saya scan di kantor dan saat puldik saya retour, …. seandainya.
    Ditunggu petunjuknya.
    JazakLLH.

  21. Saye tinggal dekat Pekanbaru,..adekah yg tau taman sewaan di Pekanbaru? tolong info ke saye, biar besuk nak saye cari ….

  22. absen menjelang siang, moga2 ga ketinggalan

  23. Terimakasih atas tanggapan yang baik dari para cantrik yang berasal dari tanah perdikan kota hujan.

    Mungkin sebelum kita berkumpul untuk membicarakan langkah selanjutnya, ada baiknya kita menunggu hasil pencarian Kangmas Ony atas kitab-kitab apa saja yang dapat diketemukannya.

    Setelah itu kita bisa melanjutkan rencana ini melalui teliksandi (email) agar rencana kita mensuplai ransum ke Ki Gede tidak dicurigai oleh teliksandi dari Pajang.

  24. ada cover ada harapan,
    ini belum ada cover sudah penuh harapan,
    ikutan ngantri aaahhh

  25. Mungkin nanti setelah matahari kelihatan semburat merah di ufuk barat, kitab 62 muncul bersama munculnya kalong2 dari hutan Mentaok…

  26. Jalan ke kapling 62 masih belum di aspal nih…jadi perjalanan akan memakan waktu agak lama kali!

  27. Ikutan antri aaah..
    Kali aja 62 cepet muncul.

    Salam.

  28. “Hmmm,… Sekar Mirah ini mirip sekali dgn Rara Wilis. Apakah ada tautan keluarga antara Demang Sangkal Putung dengan Pandan Alas” Jaka Soka bergumam sendiri.
    “Mungkin jawabannya ada di kitab ini bagian 62….”

  29. absen euy…………..

  30. Kembang jambu sak dompol isine loro …… aku tansah nunggu jilid sewidak loro

  31. sudah siang begini kok masih blom ada tanda-tanda nya yaa…..

  32. kesabaranku kian tipis aja, tapi memang kesabaran tiada batasnya, sabar…..sabar…….
    senajan wis memeti kaya wong kebeles ngisi_En_Ge

  33. Menyang sawah nyangking pacul.
    Jilid 62 ga muncul muncul.

  34. “Engkau bukan sahabat yg pernah aku kenal dulu, Pasingsingan. Sahabatku dulu seorang yg rendah hati & tidak srudak-sruduk.” teriak Pandan Alas.

    “Huh…. sudah seharian aku tunggu, tetapi tidak ada tanda2 kedua pusaka itu akan keluar!” sahut Pasingsingan

    “Tenanglah,… lepas maghrib mudah2an engkau akan melihat tanda-tanda itu”

  35. Wah, mengikuti sistem hopper, ternyata cara membaca saya pun mengikuti sistem hopper. saya cicil sedikit demi sedikit. sampai sekarang baru sampai halaman 40 untuk buku 61.
    Kebetulan memang ada 4 buku judul lain yang harus dibaca dan belum rampung.

  36. Ngombe teh gulane batu.
    Tiwas mekekeh nem loro ora metu metu.

    kekekekeh…

  37. Lolee–lolee….
    Sore-sore nang latar akeh kancaane..
    Ngenteni metune, nganti entek_e srengengee….
    mesthi meeetuneee…

  38. akhirnya datang juga

  39. Lhaa.. ini, tanda2nya dah muncul

    ada sampul ada harapan

    Ki KontosWedul

  40. Tuhhh… Betul kan… Gw kate juga ape… Pasti munculnya sore… Nah, ntar lagi, jam2 17.62, baru deh muncul…

  41. Weladallah, pancen bejo tenan, niatnya mau ngabsen lan ngantri dibarisan kok malah langsung keparingan rangsum 1.9 MB, matur nuwun sedoyonipun

  42. Ah sayah mah harus lebih sabar lg menunggu versi text nya muncul…Tp gpp deh yg penting psti muncul iya kan mas..Yg psti saya ucapkan makasi bnyk buat mas DD dan pasukannya,dan mhn maaf krna saya tdk bisa bantu2,,padahal adbm seri 2 saya punya komplit tp krna faktor peralatannya saya tdk punya akhirnya cm bisa menikmati..

  43. kulonuwun…….
    bilh saged nyuwun tulung mbok jilid2 salajengipun saged diantreaken copy data.
    Nuwum….

  44. “Apakah kalian akan tetap memakai pakaian itu..?
    atau kalian akan berganti pakaian disini,,,?” tanya Untara.

    Hikkssss, tak merem disik ah,…..Ki Menggung katene ganti pakaian neng kene. Mari ciblon ndek mBlumbang.

    • Lha sing gantos rasukan niku sinten ki , yen ni sindhen mbok kulo ditepangke to , nopo malih nek ni sindhene HUUAYYYYUUU tenan , kulo angka ikut kemawon ki .

      sugeng nginjen , eh kleru dhing sugeng ndalu …

      • halah, kekakuan lama kumat kembali…..!!??

        ki Gembleh hora nginjen, hora ngintip, hora
        dhelok….. 🙂
        anangging cuma nginguk doANG, sekejap
        sekedip-an.

        he-heee, genk dalu ki Gembleh, ki Haryo, ki AS
        ki Menggung Kartojudo.

        • xeo…xeo…xeo…xeo…xeo
          coba Ki Pandanalas melok gabung lagi………..
          mulai maneh dolanan suket cedhak galengan
          pinggir mBlumbang

          • sukete pun telas ki , ditedho mendo cacah sekawan doso sing taksih kantun mung blumbange sajake pun mblambang toyane .

            sugeng dolanan s.k.t dalu-dalu .

            • iyo ki pandan sajake po ra kangen yo, ra tau nginguk blas opo salin rupo mencala putra mancali putri jane


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: