Buku 62

“JANGAN terlampau memanjakan perasaanmu. Biarkan Sedayu pergi. Memang tidak ada keharusan untuk menuntun kuda di sepanjang lorong padukuhan. Karena itu, ia melakukannya. Petugas-petugas di regol pun tidak melarangnya atau memperingatkannya.”

“Persetan,” geram prajurit muda itu, “tetapi ia sudah menghina aku.”

Juga akan menjawab. Tetapi kedua kawan prajurit itu berkata, “Ia menjadi kambuh lagi. Bukankah memang begitu sifatnya?”

“Tetapi ia harus dicegah,” sahut Juga.

“Kami sudah mencoba, tetapi ia tidak menghiraukan.”

Juga mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata, “Terserah kepada Sedayu. Kami akan menjadi saksi apa yang telah terjadi sebenarnya di sini. Kalau kau tidak bersedia diperlakukan demikian, terserahlah kepadamu.”

“He, apa maksudmu?” bertanya prajurit muda itu.

“Kalian adalah anak-anak muda. Agaknya kalian ingin menyelesaikan persoalan yang paling kecil sekali pun dengan cara anak muda.”

“Tetapi aku prajurit.”

“Itulah kesalahanmu yang terbesar. Kalau kau mau menunjukkan kemudaanmu, kekuatanmu, lepaskan dahulu sebutan itu,” jawab Juga. Lalu, “Aku juga seorang prajurit. Tetapi aku menganggap sikapmu keliru.”

“Persetan,” dan tiba-tiba prajurit muda itu memandang wajah Agung Sedayu dengan sorot mata yang seakan-akan membara, ”aku akan menghajarmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kedatangannya di Jati Anom pagi ini kurang meuguntungkannya sehingga ia harus bertengkar lebih dahulu dengan seorang prajurit.

Tetapi tanpa diduga-duga Juga berkata, ”Kalau kau menganggap, perlu membela diri, lakukanlah Sedayu. Kami sudah berusaha mencegahnya. Tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya. Mungkin ia masih ingin mengukur, sampai di mana kemampuannya yang sebenarnya.”

Prajurit muda itu berpaling. Dipandanginya Juga dengan tajamnya. Tetapi Juga agaknya acuh tidak acuh saja. Sedang kedua kawannya yang lain justru tersenyum-senyum. Salah seorang berkata, “Anak itu memang anak bengal.”

Juga bergeser mendekatinya sambil berbisik, “Tetapi kali ini ia akan menyesal.”

Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya. ”Kenapa?” hampir berbareng mereka bertanya.

Tetapi Juga tidak menjawab. Sebuah senyum yang aneh terbayang di bibirnya.

Kedua prajurit itu pun rrenjadi heran. Sejenak mereka memandang wajah Juga yane aneh.

Salah seorang dari kedua prajurit itu bertanya, “Kau kenal anak itu?”

“Anak itu kawanku berkelahi sejak kecil. Dan aku tidak pernah kalah. Apalagi ia penakut dan cengeng di masa kanakkanak.”

“Apakah sekarang ia masih seorang penakut dan cengeng?”

”Lihat sajalah.”

Kedua prajurit itu terdiam. Mereka memandang kedua anak muda yang saling berhadapan. Yang seorang berpakaian prajurit, yang lain tidak.

Ternyata beberapa orang yang kebetulan lewat di lorong itu menjadi tertarik pula. Mereka semula tidak menyangka bahwa prajurit-prajurit itu telah bertengkar di pinggir lorong. Namun orang-orang yang lewat kemudian mengetahui, bahwa ternyata keduanya menjadi semakin tegang.

Tetapi tidak seorang pun yang berani menegurnya. Mereka hanya memandang dari kejauhan dengan kecemasan. Sekali-sekali mereka memandang prajurit-prajurit yang berdiri didekac kedua anak-anak muda yang sedang bertengkar itu. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa.

“Aku masih memberi kau kesempatan,” bentak prajurit yang sedang bertengkar dengan Agung Sedayu itu, “tetapi kalau kesempatan sekali ini kau sia-siakan, aku akan bertindak keras.”

Agung Sedayu tidak menjawab.

“Berjongkok dan aku akan menginjak ikat kepalamu yang harus kau bentangkan di tanah.”

Mata Agung Sedayu menjadi merah. Penghinaan itu benar-benar tidak dapat diterimanya. Meskipun demikian ia tidak berbuat sesuatu selain berdiri tegak di tempatnya.

“Kau tidak mau melakukan? Tidak mau? Aku menghitung sampai tiga.”

Agung Sedayu masih tetap berdiri tegak.

“Satu, dua,” prajurit itulah yang menjadi tegang sekali, sedang Agung Sedayu sama sekali tidak bergerak.

“Tiga,” teriak prajurit itu.

Tetapi Agung Sedayu tetap di tempatnya.

Prajurit itu menjadi marah sekali. Sambil menggeram ia melangkah semakin dekat, ”Kau memang gila.”

Karena Agung Sedayu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, maka prajurit itu pun maju semakin dekat.

Tetapi tiba-tiba saja Agung Sedayu melangkah surut beberapa langkah. Sambil memegang kendali kudanya ia berkata, ”Aku akan pergi saja. Aku tidak akan melayani perbuatan yang tidak pada tempatnya ini.”

”Gila, kau tidak akan dapat pergi.”

Agung Sedayu ternyata tidak sempat meloncat ke punggung kudanya karena prajurit itu tiba-tiba saja meloncat menyerangnya.

Kini tidak ada jalan lain bagi Agung Sedayu selain mempertahankan dirinya.

Sebagai seorang anak muda yang memiliki pengalaman yang cukup serta berbekal ilmu yang cukup pula. Agung Sedayu dapat menilai bobot dari Berangan lawannya. Karena itu, tanpa melepaskan kendali kuda yang dipeganginya dengan tangan kiri, tangan kanannya menangkap tangan prajurit yang terayun ke keningnya. Dengan atu putaran, maka tangan itu pun terpilin ke belakang oleh putaran tubuhnya sendiri. Sedang genggaman tangan Agung Sedayu serasa himpitan besi yang meretakkan tulang-tulansnya.

Tiba-tiba saja prajurit itu berteriak kesakitan. Ia pernah mengalami latihan yang berat dan pendadaran sebelum menjadi seorang prajurit. Tetapi tiba-tiba saja tangannya sekali terpilin ia sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa.

Sambil menekankan tangan itu ke punggungnya Agung Sedayu berdesis, ”Apakah kau masih memerlukan ikat kepala.”

“Aduh. Jangan kau patahkan tanganku. Aduh.”

“Jawab pertanyaanku.”

“Aduh, gila kau. Juga, he, kenapa kalian diam saja?”

Kedua kawannya terkejut melihat ketangkasan Agung Sedayu yang masih tetap memegang kendali kudanya. Tetapi ketika keduanya mulai melangkah, Juga berkata, ”Biarkan ia mengenal anak muda yang akan dihinakan itu.”

“Setan kau, Juga,” teriak prajurit yang kesakitan itu.

“Salahmu. Aku sudah memperingatkan.”

Ketika Agung Sedayu menekan sedikit lagi, terdengar ia mengaduh semakin keras.

“Aku akan mematahkan tangan ini,” desis Agung Sedayu.

“Jangan, jangan.”

“Nah, kau belum menjawab. Apakah kau masih memerlukan ikat kepala?”

Karena prajurit itu tidak segera menjawab, maka tangan Agung Sedayu semakin keras menekan.

“Jawablah.”

“Ya, ya, eh maksudku tidak. Aku tidak akan……,” ia menyeringai semakin lebar. ”Juga, kau gila.”

“Jangan mengharap bantuan orang lain. Kau sudah memulainya. Kau juga yang harus menyelesaikan,” jawab Juga.

”Gila. Tetapi kau akan dihukum karena kau melawan seorang prajurit. Kawan-kawanku akan datang menghancurkan kau atau kau akan dibawa menghadap senapati. Mungkin kau dapat digantung karena perlawananmu ini. Kau sudah memberontak.”

“Aku tidak peduli. Tetapi jawab pertanyaanku.”

Oleh tekanan yang semakin keras, prajurit itu berteriak, ”Tidak, aku tidak memerlukannya lagi.”

Agung Sedayu pun kemudian mendorong prajurit itu sehingga hampir saja ia jatuh terjerembab ketika tangan itu dilepaskan.

“Setan alas!” prajurit itu mengumpat dengan geramnya. Wajahnya menjadi merah. Hampir saja ia menarik kerisnya. Tetapi Agung Sedayu sudah meloncat ke atas punggung kudanya dan pergi meninggalkannya.

Tetapi prajurit muda yang ditinggalkannya itu mengumpat-umpat. Ia tidak mau menerima kenyataan itu, bahwa dengan satu gerakan yang sederhana, bahkan dengan satu tangan, sedang tangan yang lain masih memegang kendali kuda, ia sudah tidak mampu melakukan perlawanan lagi.

“Jangan lari, Pengecut!” teriak prajurit itu.

Agung Sedayu sama sekali tidak menghiraukannya.

“Kita berkelahi dengan senjata.”

Tetapi Agung Sedayu menjadi semakin jauh.

Karena Agung Sedayu tidak ada lagi, maka kemarahan prajurit muda itu kini ditujukan kepada Juga, yang seolah-olah telah menghalang-halangi kawan-kawannya untuk membantu.

”Kau memang gila, Juga. Kau senang melihat aku dihina orang di padukuhan ini? Apakah karena kau sudah mengenalnya sehingga kau lebih dekat dengan orang gila itu daripada kesetia-kawananmu terhadap sesama prajurit.”

“Jadi, maksudmu?”

“Hajar anak itu sampai biru bengap. Kenapa kau cegah kawan-kawan untuk membantu aku?”

“Kau menghina kedudukanmu sendiri. Kau menghina harga diri prajurit Pajang. Apakah prajurit Pajang hanya dapat berkelahi dengan curang? Kalau kau memang jantan, kau sendirilah yang harus menyelesaikannya. Bukan aku, bukan orang lain, dan bukan beramai-ramai seluruh pasukan segelar sepapan.”

“Persetan. Ternyata kau bukan kawan yang baik bagi kami. Kalau begitu, apakah kau akan menggantikannya?”

“Maksudmu berkelahi melawan kau?” bertanya Juga.

“Ya.”

“Ah,” salah seorang prajurit yang lain mencegah, ”persoalannya sudah lain sama sekali. Sudahlah. Kita bukan anak-anak lagi.”

“Tetapi ia bersikap bermusuhan terhadapku. Ia berpihak pada anak gila itu.”

“Aku memang lebih baik berkelahi dengan kau daripada melawan anak itu. Bukan karena aku kawannya sejak kecil, tetapi kami berempat tidak akan dapat menang. Bersenjata atau tidak bersenjata. Apalagi aku sama sekali tidak ingin membuat persoalan ini berkepanjangan. Bahkan mungkin kita akan dapat dilemparkan dari tugas keprajuritan.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. “Kenapa?” ia bertanya.

“Pertama, kaulah yang bersalah. Kau bersikap kasar dan seolah-olah kau adalah onng yang paling berkuasa.”

“Bohong!”

“Tunggu. Aku belum selesai. Yang kedua, aku tidak mau berhadapan dengan senapati daerah Selatan.”

Prajurit itu mengerutka n keningnya. Katanya, ”Gila, kenapa mesti berhadapan dengan senapati kita.”

“Anak itu, anak yang akan kau hinakan itu adalah Agung Sedayu. Ia anak Jati Anom.”

“Aku sudah tahu.”

“Senapati kita juga anak Jati Anom.”

“Aku sudah tahu.” Tetapi prajurit itu kemudian bertanya, ”Apakah unsur kampung halaman sangat mempengaruhi perasaan dan sikap senapati, sehingga apa pun persoalannya ia akan berpihak kepada orang se padukuhan?”

“Tidak. Bukan begitu. Ia adalah seorang yang berdiri tegak di atas tugas keprajuritannya. Tetapi seperti yang aku katakan, justru karena itulah ia akan bertindak terhadap kita, apabila kila bersalah, meskipun kita seorang prajurit. Tetapi lebih daripada itu, kita sudah bersalah terhadap Agung Sedayu.”

“Kenapa dengan Agung Sedayu. Apakah kelebihannya?”

“Agung Sedayu adalah adik senapati itu. Agung Sedayu adalah adik seayah dan seibu dari Untara.”

“He,” mata prajurit muda itu terbelalak karenanya. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian dengan nada yang sumbang ia berkata, ”Ah, kau bohong. Kau hanya akan menakut-nakuti aku.”

“Aku tidak berbohong. Keduanya adalah kawanku bermain. Dan keduanya adalah anak-anak Jati Anom ini. Selebihnya kau tahu sendiri. Dengan sebelah tangannya ia membuatmu tidak berdaya.”

Prajurit itu sejenak mematung. Dan Juga berkata selanjutnya, ”Untunglah bahwa anak itu adalah anak yang paling sabar yang pernah aku kenal. Kalau saja ia berbuat sesuatu atasmu, maka aku kira kau tidak akan mengenal matahari mencapai puncak di hari ini. Kalau saja sifat-sifat Agung Sedayu ita sama seperti Untara, maka kau pasti sudah digilasnya. Bukan saja kau, tetapi kami yang lain ini juga.”

Tubuh prajurit muda itu tiba-tiba saja menjadi gemetar. Dengan suara yang dalam ia berkata, ”Kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku sejak mula-mula?”

“Aku datang setelah kalian bertengkar. Dan aku tahu sifat-sifatmu sebelumnya, sehingga sekali-sekali kau memang perlu mendapat peringatan. Kali ini kau bertemu dengan adik Untara itu.”

“Tetapi, tetapi bagaimana dengan senapati? Apakah benar-benar aku akan diusir dari tugas keprajuritan?”

Juga menggelengkan ke palanya. Katanya, ”Kalau kau jera melakukan tindakan-tindakan yang tercela itu, kau tidak akan diapa-apakan. Aku kira Agung Sedayu bukan orang tumbak cucukan. Ia tidak akan melaporkannya kepada kakaknya. Bahkan mungkin ia akan berusaha melindungimu. Ia memang anak yang aneh menurut pendengaranku dan aku sudah melihatnya sendiri saat ini.”

Prajurit muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun masih membayang kegelisahan di wajahnya. Sekali ia menelan ludahnya, namun ia tidak dapat segera menenangkan hatinya. Bahkan setiap kali ia masih berkata, “Kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku.”

“Suatu pelajaran buatmu,” sahut Juga.

Dalam pada itu Agung Sedayu telah sampai di depan regol rumahnya. Dengan dada yang berdebar-debar, ia pun turun dari kudanya, dan dituntunnya mendekati regol itu. Beberapa orang praiurit yang berada di regol itu memandanginya dengan heran. Seorang dari prajurit-prajurit itu yang sedang bertugas jaga sambil membawa senjata, melangkah maju menyongsongnya.

“Kau akan kemana, Anak Muda?” bertanya prajurit itu.

“Aku akan masuk ke halaman rumah ini.”

“Apakah kau mempunyai suatu keperluan?”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Mereka pasti belum tahu bahwa ia adalah pemiiik rumah itu bersama-sama dengan Untara yang mempergunakannya sebagai tempat tinggal para pemimpin pasukan Pajang di Jati Anom. Karena itu barangkali lebih baik langsung mengatakan siapakah ia sebenarnya supaya tidak timbul lagi salah paham.

“Apakah keperluanmu?” prajurit itu mendesak.

“Aku akan menemui Kakang Untara.”

”Kau akan menemui Senapati?”

“Ya.”

“Apakah keperluanmu?”

“Keperluan pribadi. Aku adalah adiknya.”

Para prajurit itu saling berpandangan sejenak. Salah seorang dari mereka yang sedang bertugas itu pun kemudian bertanya. ”Apakah kau benar-benar adik Senapati Untara?”

“Ya. Aku adik sekandungnya. Rumah ini adalah rumah kami. Dan aku akan masuk menemuinya.”

Tetapi agaknya prajurit-prajurit itu masih ragu-ragu. Namun dalam pada itu, tiba-tiba mereka mendengar seorang memanggilnya, ”He, kau Sedayu?”

Semua orang berpaling. Dilihatnya seorang prajurit muda berlari-lari mendapatkan Agung Sedayu.

“Bukankah kau Agung Sedayu?” prajurit itu mencoba meyakinkan setelah ia berdiri berhadapan.

“Ya. Aku Agung Seuayu. Kau Surat? Kau juga menjadi prajurit?”

“Ya. Aku juga menjadi prajurit.”

“Juga pun menjadi prajurit.”

“Ya, Juga menjadi prajurit juga. Di mana kau selama ini?”

“Aku pergi bertualang.”

“Dan sekarang kau pulang?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara ita Surat berkata kepada kawannya, ”Inilah Agung Sedayu. Adik sekandung Senapati kita.”

Prajurit-prajurit yang berdiri di pintu regol itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka kini tidak ragu-ragu. Salah seorang dari mereka ternyata telah mengenalnya.

“Aku akan menemui Kakang Untara.”

“Aku lihat ia ada di dalam. Masuklah.”

“Terima kasih.”

Agung Sedayu pun kemudian sambil menganggukkan kepalanya menuntun kudanya masuk ke halaman rumahnya yang sudah agak lama ditinggalkannya.

“Berikan kudamu,” berkata Surat.

Agung Sedayu memandanginya sejenak, lalu menyerahkan kendali kudanya kepada prajurit itu.

Perlahan-lahan Agung Sedayu berjalan melintasi pendapa. Ketika ia sampai di serambi pendapa ia melihat seorang perwira melintas. Sesaat perwira itu berhenti memandang nya. Tetapi ia tidak menyapanya. Ia langsung melangkah meninggalkan pendapa.

Agung Sedayu menarik nafas. Ada juga perwira yang tinggi hati. Atau, karena ia menjadi seorang perwira, maka ia menjadi tinggi hati.

Agung Sedayu berdiri termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling dilihatnya prajurit-prajurit yang bertugas di regol memandanginya dengan tatapan mata yang aneh.

“Aku yang memiliki rumah ini,” berkata Agung Sedayu di dalam hati. ”Aku dapat berbuat apa saja sekehendakku.”

Maka Agung Sedayu pun segera melangkah naik ke pendapa. Diamat-amatinya perhiasan yang melekat di dinding yang menyekat pendapa itu dengan pringgitan. Sebuah perisai, tombak pendek yang bersilang, dan sebuah busur.

Tetapi letak hiasan itu sama sekali tidak memberikan keseimbangan bentuk bagi keseluruhan dinding itu. Agaknya senjata-senjata itu asal saja digantungkan, tanpa menghiraukan letak dan bidang.

Agung Sedayu berpaling ketika ia mendengar pintu berderit. Seorang perwira melangkah keluar dari pintu pringgitan. Perwira yang dilihatnya melintas tanpa menyapanya tadi.

Sejenak perwira itu berdiri keheran-heranan. Dipandanginya Agung Sedayu dengan tajamnya. Baru kemudian ia bertanya, ”He, kenapa kau ada di situ?”

Agung Sedayu memandangnya sejenak. Lalu menjawab, ”Aku akan bertemu dengan Kakang Untara.”

“Siapa kau?”

“Agung Sedayu.”

“Siapa Agung Sedayu?”

“Adik Untara.”

Perwira itu memandanginya sejenak, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Jadi kaulah yang bernama Agung Sedayu. Adik Untara yang dikabarkan berada di Mataram?

Dada Agung Sedayu berdesir. Sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia menjawab tegas, ”Ya. Aku baru datang dari Mataram.”

“ Bagus. Kau pasti seorang prajurit atau pengawal tanah yang baru dibuka itu. Benar?”

“Apakah Kakang Untara berkata begitu?”

Perwira itu terdiam sejenak. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Tanpa berkata apa pun juga, ia pun segera melangkah pergi.

Agung Sedayu menjadi terheran-heran melihat tingkah perwira itu. Ia belum pernah mengenalnya dan sebaliknya. Tetapi perwira itu sikapnya sama sekali tidak menyenangkannya. Bahkan setelah ia mengetahui, bahwa ia adalah adik Untara.

Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Kini ia tidak mau lagi berdiri termangu-mangu di pendapa. Meskipun semula ia ragu-ragu namun kemudian dibulatkannya hatinya, untuk langsung masuk ke pringgitan.

Setelah menenangkan hatinya sejenak, maka ia pun melangkah dengan hati tetap menuju ke pintu pringgitan.

Tetapi sekali lagi langkahnya terhenti. Di muka pintu ia berpapasan dengan seorang perwira yang lain. Perwira itu pun agaknya terkejut. Dipandanginya Agung Sedayu sejenak, lalu ia bertanya dengan dahi yang berkerut-merut, ”Siapa kau?”

Agung Sedayu tidak mau berputar-putar lagi. Langsung ia menjawab, ”Aku Agung Sedayu. Adik Kakang Untara.”

“O, jadi kau yang bernama Agung Sedayu?”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Lalu, ”Ya. Akulah Agung Sedayu.”

Tiba-tiba saja di luar dugaan Agung Sedayu perwira itu mempersilahkan dengan ramahnya. ”Marilah. Marilah. Kakakmu sudah menunggu. Silahkan masuk ke pringgitan. Aku akan memanggilnya. Ia berada di belakang.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil berkata, ”Terima kasih.”

Ketika perwira itu kemudian masuk ke ruang dalam, Agung Sedayu menyesal karenanya, bahwa ia bersikap terlampau angkuh justru kepada perwira yang ramah. Ia menyangka, bahwa perwira ini pun akan bersikap angkuh seperti yang dijumpainya pertama-tama.

Sejenak kemudian pintu dari ruang dalam itu pun terbuka. Seorang anak muda yang tegap dan berwajah dalam melanggkahi tlundak pintu sambil memandang Agung Sedayu dengan tajamnya.

“Kakang Untara,” Agung Sedayu berdesis.”

“Kau Sedayu,” suara Untara dalam.

Agung Sedayu pun kemudian dengan serta-merta mendapatkan kakaknya, yang kemudian mencengkam pundaknya. Sambil mengguncang-guncang pundak adiknya Untara bertata, ”Akhirnya kau pulang juga, Sedayu. Kau bertambah dewasa dan sorot matamu menjadi bercahaya. Aku sudah cemas bahwa aku akan kehilangan seorang adik. Tetapi ternyata bahwa kau benar-benar datang kepadaku lagi.”

Dada Agung Sedayu berguncang mendengar kata-kata kakaknya. Tetapi ia mencoba untuk tidak mempersoalkannya di hatinya. Sudah lama mereka tidak bertemu. Dan Agung Sedayu tahu benar bagaimana kakaknya sangat mengharap kedatangannya. Agung Sedayu adalah satu-satunya adiknya. Satu-satunya saudaranya yang sejak kecil selalu dilindunginya, dibimbing dan diharapkannya untuk menjadi seorang anak muda yang baik. Kebanggaannya melonjak sejak Agung Sedayu berhasil memecahkan kunkungan ketakutan yang membalut jiwanya pada waktu itu, pada waktu ia menitikkan darahnya untuk yang pertama kali di arena perang tanding melawan Sidanti, meskipun ia masih belum berbuat sebaik-baiknya.

Karena itu untuk sesaat Agung Sedayu tidak menjawab. Dibiarkannya kakaknya mengguncang-guncangnya. Dan Untara berkata seterusnya, ”Badanmu bertambah kokoh. Pasti hasil tempaan dukun tua yang baik itu. Aku berharap bahwa kau benar-benar akan menjadi seorang prajurit yang baik.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi terasa jantungnya menjadi semakin berdebaran.

“Duduklah Sedayu,” berkata Untara kemudian.

“Terima kasih, Kakang,” jawab Agung Sedayu.

Agung Sedayu pun kemudian duduk di pringgitan bersama Untara dan seorang peiwira yang memanggil Untara.

“Inilah adikku yang aku katakan itu,” berkata Untara kepada kawannya.

“Ya. Aku sudah bertanya kepadanya, dan ia mengatakan bahwa ia adalah adikmu.”

“Ia memang mempunyai sifat-sifat aneh.”

Agung Sedayu hanya dapat tersenyum ketika perwira itu tersenyum pula.

”Kapan kau datang dari petualanganmu, Sedayu?” bertanya trntara kemudian.

“Semalam, Kakang.”

Untara mengerutkan keningnya, ”Kau langsung pergi ke Sangkal Putung?”

”Ya. Karena kami pergi bersama anak Ki Demang Sangkal Putung itu. Dan pagi-pagi aku sudah berangkat dari Sangkal Putung kemari. Tetapi aku tiba-tiba saja ingin melihat rumah Ki Tanu Metir, sehingga aku agak siang juga sampai di sini.”

Untara mengangguk-anggukka n kepalanya. Dan tanpa diduga oleh Agung Sedayu, Untara berkata, ”Dan kau memerlukan berkelahi juga sebentar.”

“O.“

“Laporan itu sudah aku dengar.”

Agung Sedayu terdiam sejenak. Begitu cepat laporan itu sampai kepada kakaknya. Ia tidak melihat seorang pun yang melaporkannya. Dan ia sendiri pergi berkuda. Tetapi ternyata laporan itu datang lebih dahulu daripadanya.”

”Kau heran, dari mana aku mendengar?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Kami mempunyai jarring-jaring yang rapi di segala bidang. Hubungan yang cepat dan pengawasan yang rapat. Itulah sebabnya, setiap persoalan segera sampai padaku. Meskipun kau berkuda, tetapi seseorang yang berjalan memintas, lewat pekarangan akan datang lebih dahulu daripadamu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Tetapi kau sudah bersikap benar. Prajurit-prajurit muda itu memang perlu mendapat peringatan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kakaknya tidak marah kepadanya dan tidak menghubungkan persoalan itu dengan persoalan-persoalan lain yang sebenarnya memang tidak mempunyai hubungan apa pun.

Sejenak kemudian beberapa orang perrwira pembantu Untara pun datang menemui Agung Sedayu pula. Dua orang yang sudah setengah umur, sedang dua orang yang lain masih muda. Tetapi Agung Sedayu tidak melihat perwira yang bersikap acuh tidak acuh kepadanya.

Setelah memperkenalkan diri mereka masing-masing, maka perwira itu pun segera bertanya beberapa hal tentang tamunya. Dan mau tidak, mau pembicaraan mereka pun berkisar pada perjalanan Agung Sedayu dan tanpa dapat menghindar lagi mereka sampai juga pada daerah yang sedang dibuka itu.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Sebelum ia dapat berbicara dengan kakaknya sendiri, maka ia sudah harus berbicara dengan beberapa orang sekaligus.

“Apakah Mataram sudah berhasil mengatasi kesulitan-kesulitannya?” bertanya salah seorang dari perwiraa itu.

“Belum seluruhnya,” jawab Agung Sedayu, ”masih banyak yang harus diatasi.”

“Apa saja yang masih menghambat perkembangan daerah itu?”

“Masih banyak. Daerah yang keras dan hutan yang lebat.”

Dan tiba-tiba saja seorang perwira yang sudah setengah umur bertanya, ”Bagaimana dengan hantu-hantu itu?”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ternyata Pajang banyak mengetahui tentang perkembangan daerah baru itu. Dengan demikian, maka Agung Sedayu pun menjadi termangu-mangu sejenak.

“Bukankah orang-orang yang bekerja di Alas Mentaok selalu diganggu oleh hantu-hantu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, ”Mungkin akan segera dapat diatasi.”

Perwira itu mengerutkan keningnya, ”Apakah Mataram dapat menemukan cara untuk melawan hantu-hantu itu?”

Agung Sedayu memandang Untara sejenak, tampak sebuah senyum yang membayang di bibirnya. Karena itu maka Agung Sedayu berkata, ”Laporan itu pasti sudah sampai di sini. Apa yang sebenarnya telah terjadi di Mataram.“

Perwira itu pun memandang wajah Untara pula. Keduanya tiba-tiba saja tersenyum hampir berbareng. Dengan demikian maka Agung Sedayu mengambil kesimpulan bahwa Pajang telah mendapat laporan tentang segala, peristiwa yang terjadi di Mataram.

“Laporan itu belum lengkap,” berkata Untara, “tetapi sebagian memang sudah ada pada kami. Di samping harus mengatasi kesulitan yang timbul, dari alam yang keras, Raden Sutawijaya dan Ki Gede Pemanahan masih harus melawan gangguan hantu-hantu. Tetapi agaknya hantu-hantu itu lambat laun akan berhasil didesak ke luar dari Alas Mentaok. Bukankah begitu? Meskipun dengan demikian . belum berarti semua kesulitan dapat diatasi.”

Agung Sedayu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Bahkan ia berharap bahwa demikianlah hendaknya sehingga ia tidak perlu memberikan keterangan tentang Mataram. Tetapi ternyata justru Untara-lah yang kemudian bertanya, ”Agung Sedayu, bagaimana pendapatmu tentang usaha Raden Sutawijaya itu? Apakah akan berhasil seperti yang dikehendakinya atau tidak?”

Agung Sedayu berpikir sejenak, namun kemudian ia menjawab, ”Aku tidak dapat mengatakan, Kakang. Aku tidak tahu sampai ke manakah rencana Raden Sutawijaya itu. Apakah ia akan sekedar membangun sebuah padukuhan yang besar atau sebuah kota atau yang lainnya. Kalau menurut pendengaranku Mataram itu sudah diserahkan kepada Ki Gede Pemanahan, maka kemungkinan Raden Sutawijaya akan mendapatkan bentuk Tanah Perdikan. Tetapi Pati berkembang ke arah yang lain. Pati akan menjadi sebuah Kadipaten.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, ”Bagaimana menurut pendapatmu Sedayu, apakah Mataram mempunyai kemungkinan yang baik di hari depan.”

Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Dan dengan hati-hati ia menjawab, ”Masih tergantung sekali kepada banyak hal, Kakang. Tetapi aku tidak banyak mengetahui. Aku tidak mengetahui siapa-siapa yang berdiri di belakang Ki Gede Pemanahan. Apakah mereka orang-orang yang cukup mampu membantu Ki Gede memperkembangkan daerah itu. Juga masih tergantung sekali kepada daerah yang ada di sekitamya. Terutama daerah-daerah yang lebih dahulu menjadi ramai.”

Untara masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu bahwa Agung Sedayu berbuat dengan hati-hati sekali. Mungkin karena di antara mereka terdapat beberapa orang yang belum dikenalnya dengan baik.

Tetapi tanpa diduga-duga oleh Agung Sedayu, Untara berkata, ”Mudah-mudahan Ki Gede berhasil menundukkan alam yang keras itu. Mataram sudah jauh ketinggalan dari Pati.”

Sejenak Agung Sedayu terpukau oleh kata-kata itu. Sama sekali tidak ada tanda-tanda ketegangan di dalam diri Untara menilik dari kata-katanya itu. Namun demikian Agung Sedayu pun sadar, bahwa kakaknya memiliki ketajaman sikap dan tanggapan. Sekali terloncat kata-katanya yang agak menjorok terlampau jauh, maka akan terbukalah pembicaraan mengenai Mataram dengan agak mendalam. Karena itu, Agung Sedayu berusaha membatasi pembicaraannya dalam batas-batas penglihatannya yang dangkal. Ia berharap bahwa hal-hal yang mendalam, kelak gurunyalah yang akan memberikan penjelasan.

Namun demikian Untara berkata selanjutnya, ”Mudah-mudahan Mataram segera menjadi besar dan membuktikan pula, bahwa Mataram ditangani oleh bekas senapati tertinggi di Pajang bersama putera angkat Sultan Pajang. Sehingga dengan demikian, Pajang akan menjadi semakin mantap dan tegak kembali setelah mengalami goncangan-goncangan yang keras.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat menangkap ungkapan kata-kata Untara. Bagaimana pun juga, memang tampak batas yang kabur. Tetapi agaknya Untara bukan seorang yang bersikap keras terhadap perkembangan daerah baru ini.

Tetapi Agung Sedayu tetap berhati-hati di dalam setiap pembicaraan. Ia berusaha mengelakkan persoalan-persoalan yang dapat melibatnya dalam pembicaraan yang mendalam.

Namun di dalam kesempatan yang tidak disangka-sangka seorang perwira yang sudah setengah umur itu berkata, ”Mudah-mudahan persoalan Mataram tidak berkembang ke arah yang tidak kita kehendaki. Setidak-tidaknya untuk waktu yang dekat, selagi senapati didaerah Selatan ini menghadapi masa-masa yang paling indah di dalam hidupnya.”

“O,” Agung Sedayu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan serta-merta ia berkata, ”Aku sudah mendengar. Semula aku bingung mendengar berita itu. Telapi kini aku sudah yakin.”

“Ah,” Untara tersenyum, ”sebenarnya kurang mapan. Selagi Pajang menghadapi persoalan-persoalan yang gawat, datang pula persoalan pribadi itu. Mula-mula aku benci melihat hubungan Agung Sedayu dengan gadis Sangkal Putung. Namun akhirnya aku menyadari bahwa hal itu tidak akan terhindar dari jalan hidup seseorang. Maka supaya aku tidak menjadi sentuhan, aku akan segera memberikan jalan baginya.”

“Itulah alasannya?” bertanya Agung Sedayu. Untara tersenyum sedang beberapa orang perwira yang ada di pringgitan itu tertawa.

“Memang salah satu dari sekian banyak alasan adalah itu,” jawab Untara, “tetapi sudah tentu ada alasan-alasan yang lain yang tidak semua orang boleh mengetahuinya.”

Mereka pun tertawa semakin keras. Dan seorang perwira yang lain berkata, ”Kenapa kalian tidak menyelenggarakan perhelatan itu berbareng saja bulan depan?”

Untara memandang Agung Sedayu sejenak. Namun mereka berdua pun tertawa bersamaan.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 23 November 2008 at 07:22  Comments (50)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-62/trackback/

RSS feed for comments on this post.

50 KomentarTinggalkan komentar

  1. ambil girik dulu…

  2. Bener-bener,. sudah ada yang ngisi juga,.. hehehe

  3. Jurus2 di jilid 61 belum diajarkan oleh Ki DeDe, kok sudah ada yg ngantri untuk mempelajari jurus2 di jilid 62 ???

  4. Wis, pancen wis dadi behavioure poro cantrik.
    Senenge ngejah-ejah panggonan sing wingit…. bilik 61 ae durung dienggoni malah ngantri neng kene.

    Wis…jan tingkah polahe pancen ora mlebu petungan.

    Aku ra melu cawe2 neng bilik 62 ki loh…..

  5. aku yo tak melu antri yo

  6. Aku ga antri dulu kok

    hanya ikut ngancani teman2 saj

    xixixi 😀
    Ki KontosWedul

  7. aku juga mau nambah antrian, biar makin panjang yang antri supaya jilid 62 cepat nongol

  8. Salam rekan-rekan adbm,
    bagi yang punya/ada alat scan/foto materi dapat diperoleh di:

    Bandung

    1. Adhi Hidayat **
    Jl. Srigunting Barat No. 17
    Telp. 022-6017904
    adhidaya@bdg.centrin.net.id

    2. Taman Bacaan Hendra
    Jl. Sabang 28
    Telp. 022-4238008

    Semarang

    1. Gan Kok Liang (Gan KL) **
    Jl. Purwosari 29
    Telp. 024-3522663/3543106, Fax 024-3522985

    Keterangan: Diatas adalah alamat Persewaan Buku (Taman Bacaan) Cersil di kota Bandung dan Semarang.
    Silahkan melengkapi di kota masing-masing.
    Mudah-mudahan usaha pelestarian yang dirintis di Adbm dapat lancar, dan didukung cantrik-cantrik dan semua pihak.

  9. Yang di Bogor ada nggak ya?? Abdi badhe ngiring ngabantu nyecan.. Yang punya info peminjaman buku di Bogor, sharing infonya ya.. Nuhun.

  10. Para kadang cantrik, kula nyuwun tulung dipun antrek aken nggih… Dangu sampun kula ngadeg njejejer wonten mriki dereng pikantuk girik dumugi samenika…

  11. aaahhhhh
    enaknya lesehan di sini…., masih sepi..
    ngerokok dulu ah….
    kopi juga…

    …sapa tahu angkot 62 lewat…

  12. Semula saya bingung untuk memahami sistem delivery ADBM digital dengan “hoper” di padepokan ini. Tapi aku memperoleh ilham ketika tiba2 laptop-ku mengalami emergency shutdown. Ketika setrum batere menipis, maka batere itu tidak dapat dipakai lagi (kasarnya begitu). Mungkin itulah yang dimaksud Ki Gede. Ketika jilid2 di dalam hoper (= karung kali ya?) makin berkurang, maka makin sulit menarik jilid yang mau ditayangkan. Yang biasanya 1 jilid per hari bisa jadi 1 jilid per 2 hari atau 1 jilid perminggu (tergantung berapa banyak persediaan di dalam hoper). Atau mungkin mengalami emergency shutdown (jangan dung, bisa sakau aku). Hmmm …. masuk akal (sambil ter-angguk2). Sayang … posisiku jauh di luar jawa.
    BTW tetap semangat ADBM. Buat cantrik lain yang bisa ngebantu, saya juga mengaturkan atur nuhun sing akeh.

  13. On Nopember 24, 2008 at 8:58 pm alphonse Said:
    Yang di Bogor ada nggak ya?? Abdi badhe ngiring ngabantu nyecan.. Yang punya info peminjaman buku di Bogor, sharing infonya ya.. Nuhun.

    …+++
    Saya juga posisi di Bogor sama spt Mas Alphonse Said. Pengen bantu nyecan.., bhb saya tiap hari punya waktu nganggur jam 22 sd jam 3 subuh .. baru bisa tidur.Daripada browsing ga karuan lbh bagus bantuin Ki Gede.., tapi bahan buat di scannnya ga ada nih…, ada yang tau tempat persewaan buku komik lama di Bogor??…Kebetulan saya juga punya sopir tua yg bisa dijadikan kurir buat antar jemput…
    Masih ratusan buku lagi kerjaan Ki Gede, kalo ga di keroyok takut mandek di jalan …

  14. @ Ki Dewo & Ki Alphonse

    Saya juga tinggal di Bogor. Setau saya dulu di Bogor ada tempat peminjaman komik yang bernama “Taman Bacaan Nusantara” letaknya didaerah ruko Jambu Dua. Namun saat ini tempatnya sudah pindah ke daerah Pasar Anyar. Saya belum tau posisi pastinya disebelah mana, sedang ditelusuri keberadaan nya. Saya sedang berusaha pula mencari amunisi untuk mengisi hoper nya ki Gede, hehehe

    Bila ingin membantu Ki Gede, silahkan kisanak bisa mengambil bahan scan nya ditempat saya dengan menghubungi via alamat email dibawah ini. Tks.

    Salam, Aulianda
    aulianda_ilham@yahoo.com

  15. Aku disini gak ikut ngantri lho…
    Angkot 62 jurusan Jati Anom – Sangkal Putung lama juga yach..

  16. Kang Aulinda dan Ki Dewo1234, gimana kalo kita ketemuan di Botani Squaire? Hari Sabtu ini bisa?? Atau hari lain?? Nuhun

  17. Ikut ngantri, ..ah.
    cover belum ada, ..angkotnya apa lagi. Hmmh..

    ‘ngremus jenang alot saja, dulu.

  18. Anak Mas Aulinda dan Alphonse…, nanti saya kontak dulu via email nya Nak Mas Aulinda, saya mau bantu scan aja sebisanya. Bisa sopir or pembantu saya ntar didayagunakan buat antar jemput bahannya, asal cara2nya aja dijelasken.., terus dikirim kemana tuh hasil scan nya…,mudah2an internet ga error musim ujan ini.
    Padepokan saya di Baranang Siang – demi mempererat silaturahmi tatar Pajajaran dan Mataram hehehehehe.,kita bisa bantu ririungan.
    Botani Skuere cuma sepelemparan batu dari padepokan kuring, naek kuda cuma lk 10 menit., itu juga kalo ga ada halangan, seringkali banyak gajah dan laler ijo macetkan jalanan.Cuma sementara ini waktu luang saya tengah malem.., kapan2 kita bisa ketemu buat bantu2 Ki Gede.
    Panah Ki Mangil (email) sudah melesat ke Padepokan NakMas Auliada..

    Salam…
    Mbah Dewo.

  19. @mas alphonse, ki dewo dan ki Aulianda.
    saya posisi di citayam mas, kebetulan kemarin di mertua ada buku adbm, tapi jumlahnya belum jelas. mgkn sabtu besok saya coba bongkar deh.

  20. Kangmas dan Simbah sekaliyan,
    Subhanallah, kadang ADBM di bogor banyak ya.
    Base saya di bsi, namun saat ini ngupaya sego di nad.
    Sekiranya ada buku2 yang bisa saya scan di kantor dan saat puldik saya retour, …. seandainya.
    Ditunggu petunjuknya.
    JazakLLH.

  21. Saye tinggal dekat Pekanbaru,..adekah yg tau taman sewaan di Pekanbaru? tolong info ke saye, biar besuk nak saye cari ….

  22. absen menjelang siang, moga2 ga ketinggalan

  23. Terimakasih atas tanggapan yang baik dari para cantrik yang berasal dari tanah perdikan kota hujan.

    Mungkin sebelum kita berkumpul untuk membicarakan langkah selanjutnya, ada baiknya kita menunggu hasil pencarian Kangmas Ony atas kitab-kitab apa saja yang dapat diketemukannya.

    Setelah itu kita bisa melanjutkan rencana ini melalui teliksandi (email) agar rencana kita mensuplai ransum ke Ki Gede tidak dicurigai oleh teliksandi dari Pajang.

  24. ada cover ada harapan,
    ini belum ada cover sudah penuh harapan,
    ikutan ngantri aaahhh

  25. Mungkin nanti setelah matahari kelihatan semburat merah di ufuk barat, kitab 62 muncul bersama munculnya kalong2 dari hutan Mentaok…

  26. Jalan ke kapling 62 masih belum di aspal nih…jadi perjalanan akan memakan waktu agak lama kali!

  27. Ikutan antri aaah..
    Kali aja 62 cepet muncul.

    Salam.

  28. “Hmmm,… Sekar Mirah ini mirip sekali dgn Rara Wilis. Apakah ada tautan keluarga antara Demang Sangkal Putung dengan Pandan Alas” Jaka Soka bergumam sendiri.
    “Mungkin jawabannya ada di kitab ini bagian 62….”

  29. absen euy…………..

  30. Kembang jambu sak dompol isine loro …… aku tansah nunggu jilid sewidak loro

  31. sudah siang begini kok masih blom ada tanda-tanda nya yaa…..

  32. kesabaranku kian tipis aja, tapi memang kesabaran tiada batasnya, sabar…..sabar…….
    senajan wis memeti kaya wong kebeles ngisi_En_Ge

  33. Menyang sawah nyangking pacul.
    Jilid 62 ga muncul muncul.

  34. “Engkau bukan sahabat yg pernah aku kenal dulu, Pasingsingan. Sahabatku dulu seorang yg rendah hati & tidak srudak-sruduk.” teriak Pandan Alas.

    “Huh…. sudah seharian aku tunggu, tetapi tidak ada tanda2 kedua pusaka itu akan keluar!” sahut Pasingsingan

    “Tenanglah,… lepas maghrib mudah2an engkau akan melihat tanda-tanda itu”

  35. Wah, mengikuti sistem hopper, ternyata cara membaca saya pun mengikuti sistem hopper. saya cicil sedikit demi sedikit. sampai sekarang baru sampai halaman 40 untuk buku 61.
    Kebetulan memang ada 4 buku judul lain yang harus dibaca dan belum rampung.

  36. Ngombe teh gulane batu.
    Tiwas mekekeh nem loro ora metu metu.

    kekekekeh…

  37. Lolee–lolee….
    Sore-sore nang latar akeh kancaane..
    Ngenteni metune, nganti entek_e srengengee….
    mesthi meeetuneee…

  38. akhirnya datang juga

  39. Lhaa.. ini, tanda2nya dah muncul

    ada sampul ada harapan

    Ki KontosWedul

  40. Tuhhh… Betul kan… Gw kate juga ape… Pasti munculnya sore… Nah, ntar lagi, jam2 17.62, baru deh muncul…

  41. Weladallah, pancen bejo tenan, niatnya mau ngabsen lan ngantri dibarisan kok malah langsung keparingan rangsum 1.9 MB, matur nuwun sedoyonipun

  42. Ah sayah mah harus lebih sabar lg menunggu versi text nya muncul…Tp gpp deh yg penting psti muncul iya kan mas..Yg psti saya ucapkan makasi bnyk buat mas DD dan pasukannya,dan mhn maaf krna saya tdk bisa bantu2,,padahal adbm seri 2 saya punya komplit tp krna faktor peralatannya saya tdk punya akhirnya cm bisa menikmati..

  43. kulonuwun…….
    bilh saged nyuwun tulung mbok jilid2 salajengipun saged diantreaken copy data.
    Nuwum….

  44. “Apakah kalian akan tetap memakai pakaian itu..?
    atau kalian akan berganti pakaian disini,,,?” tanya Untara.

    Hikkssss, tak merem disik ah,…..Ki Menggung katene ganti pakaian neng kene. Mari ciblon ndek mBlumbang.

    • Lha sing gantos rasukan niku sinten ki , yen ni sindhen mbok kulo ditepangke to , nopo malih nek ni sindhene HUUAYYYYUUU tenan , kulo angka ikut kemawon ki .

      sugeng nginjen , eh kleru dhing sugeng ndalu …

      • halah, kekakuan lama kumat kembali…..!!??

        ki Gembleh hora nginjen, hora ngintip, hora
        dhelok….. 🙂
        anangging cuma nginguk doANG, sekejap
        sekedip-an.

        he-heee, genk dalu ki Gembleh, ki Haryo, ki AS
        ki Menggung Kartojudo.

        • xeo…xeo…xeo…xeo…xeo
          coba Ki Pandanalas melok gabung lagi………..
          mulai maneh dolanan suket cedhak galengan
          pinggir mBlumbang

          • sukete pun telas ki , ditedho mendo cacah sekawan doso sing taksih kantun mung blumbange sajake pun mblambang toyane .

            sugeng dolanan s.k.t dalu-dalu .

            • iyo ki pandan sajake po ra kangen yo, ra tau nginguk blas opo salin rupo mencala putra mancali putri jane


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: