Buku 61

Sejak awal cita-cita kami adalah mendigitalisasikan ADBM sampai tuntas. Kami menyadari bahwa ini bukan proyek sembarangan mengingat jumlah jilid yang demikian panjangnya (396!) dengan jumlah halaman 74 per jilid. Totalnya kira2 30.000 halaman. Oleh karena itu kami menyebutnya proyek ambisius. Tetapi berdasarkan gotong-royong kita selama ini, kami optimis bahwa proyek ini cukup realistis. Dalam waktu singkat kita telah menamatkan 60 jilid.

Perlu para kadang ketahui bahwa jilid2 itu mengalir ke kami menggunakan sistem tekanan-beban. Sistem ini menggunakan semacam hoper. Hoper ini berada di luar padepokan kita. Mekanismenya begini: hoper itu berisi tumpukan jilid2 ADBM secara berurutan dari bawah ke atas. Ketika tumpukan itu banyak, maka jilid yang berada di bagian paling bawah akan mudah diambil. Dengan sedikit tarikan, jilid itu akan jatuh. Bahkan bisa jadi jatuh sendiri karena tekanan yang diakibatkan oleh beban di atasnya. Tetapi ketika stok jilid di dalam hoper itu menipis, maka makin susah menarik jilid itu keluar dari hoper karena beban tidak cukup memberikan tekanan. Demikian kira2 gambarannya.

Para kadang bisa membantu memperlancar aliran jilid2 itu dengan cara terus menumpukkan jilid2 selanjutnya ke dalam hoper. Saya yakin di antara sekian banyak para kadang pastilah ada yang memiliki koleksi ADBM. Mungkin ada yang hanya segelintir-dua, belasan, atau bahkan puluhan. Tidak apa2 kalau tidak berurutan atau meloncat2. Justru kita berkumpul di padepokan ini untuk membuatnya urut dan lengkap. Jika Anda bisa menyecennya dan mengirimkannya ke kami, maka kita akan mengorganisirnya sehingga koleksi yang “pating mrentil” itu bisa dikumpulkan menjadi koleksi yang lengkap.

Monitor hoper menunjukkan bahwa di dalam hoper sudah ada koleksi digital sampai jilid 100. Jadi, para kadang yang memiliki koleksi jilid 101 ke atas bisa ikut menimbun. Teknisnya begini:

1. Scan menjadi image (JPG). Resolusi 300 dpi saya kira sudah cukup, tapi silahkan bermain2 sebentar dengan resolusi untuk memperoleh resolusi yg pas.
2. Biasanya file jpg itu memiliki size yg cukup besar sehingga perlu diperkecil. Saya biasa memperkecil ukuran file JPG menggunakan Microsoft Office Picture Manager (bawaan Microsoft Office) dengan option “Document large”. File akan diperkecil menjadi 200-300 kb per image. Jadi satu jilid menjadi sekitar 6-7 MB. Kemudahan Picture Manager adalah bahwa proses resize dpt dilakukan pada seluruh file JPG dalam satu folder.
3. Jika memungkinkan, konvertlah JPG itu ke DJVU (saya menggunakan DJVU Solo). Satu buku menjadi sekitar 1.5-2 MB. Jika tidak bisa konvert ke DJVU, nggak apa2. Kirimkan saja JPG yg sudah diresize.
4. Kirimkan ke Ki Gede Menoreh di padepokan ADBM (jika belum tahu alamatnya, shout di boks kpment bahwa Anda punya file yang akan dikirim, nanti Ki Gede akan meresponnya, ASAP)

Monitor hoper juga menunjukkan bahwa aliran jilid2 selanjutnya makin seret. Jadi, sekenlah mulai dari sekarang dan kirimkan ASAP untuk segera ditimbunkan ke dalam hoper tersebut. Untuk AREMA, jika anda bisa memulai dari Jilid 175, maka pasukan scanner akan menyesuaikan sehingga tidak tumpang tindih.

Baiklah sambil menantikan kiriman para kadang bersama2 pasukan scanner, marilah kita membayangkan bahwa ketika jilid 396 sudah bisa kita tayangkan maka inilah serial cerita terpanjang di Bumi Nusantara tercinta (jangan2 juga terpanjang di seluruh jagat). Menyenangkan bukan?

(GD)

Iklan

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 November 2008 at 06:55  Comments (42)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-61/trackback/

RSS feed for comments on this post.

42 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sekedar lewat saja.

    Untuk melestarikan buku ke digitalisasi selain alat scan dapat juga dengan kamera foto. Di Dimhad ada beberapa contoh file hasil foto, dan dapat juga diedit dengan perangkat lunak ke file doc dll. Hasil foto tergantung dari resolusi foto tsb.
    Semakin tinggi resolusinya semakin baik, ukuran file dapat juga disesuikannya, dengan edit dan save as.
    Demikian mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

  2. Maaf Ki, aku hanya bisa menunggu ransum yang rutin.
    Semoga Padepokan ADBM dapat langgeng abadi, Amin 3X.

  3. sebetulnya dari awal besar sekali ingin membantu menjadi tukan secan , tapi apa daya lokasi yg cukup jauh menjadi halangan … hanya ucapan terimakasih yg bisa saya ungkapkan karena bisa menikmati sampai 60 jilid ..

  4. Betul ki Raharga,
    Yang lalu pun pernah saya bicarakan dengan Ki Gede.
    Namun untuk teknisnya belum sempat diutarakan. Memang tukang potretnya harus jeli. Kalo memakai scaner permukaan buka bisa rata. Memakai kamera saya yakin juga bisa, salah satu caranya dengan memakai kaca tembus pandang. Halaman yang akan dipotret ditengkurepkan seperti biasa kalau mau menyeken, kemudian dipotret dari balik kaca. Tapi mesti diingat, tukang potret harus pandai mengatur pencahayaannya, paling tidak lampu kilat mesti di off kan. Satu lagi, untuk mengurangi bayangan dari kaca, sebaiknya tukang potret membelakai tempat yang gelap, atau dengan kata lain, halaman yang akan dipotret, di hadapkan tempat yang gelap..

    Mungkin ada sanak kadang yang mempunyai cara lain yang lebih bagus, monggo di sharing di sini

  5. Saya juga sebenar2nya ingin berpartisipasi utk membantu sebisa saya, tetapi disamping jarak yg terlalu jauh… bahan dasarnya juga belum ada kecuali scanner.

    Mohon maaf Ki GDe, utk saat ini saya hanya bisa mbantu do’a & mbantu menikmati jilid demi jilid yg Smapeyan suguhkan…

    Suwun

  6. @ Ki GD dan tim moderator,

    Sebelumnya saya mohon maaf bahwa nomor buku-buku yang saya miliki ternyata adalah untuk jilid II.

    Ternyata cukup jauh rentang cerita dan perkembangan yang terjadi pada individunya dibanding cerita yang sedang berjalan saat ini. Mohon maaf Ki GD atas kekeliruan ini.

    Salam, Aulianda

    GD: Jilid II juga kami terima. Bukankah pada akhirnya kita akan menuju ke sana?

  7. DAGELAN BUKU 60

    Terdengar mereka yang terjerat oleh tali-tali lulup itu mengumpat tidak habis-habisnya. Apalagi mereka yang oleh kejutan itu, senjatanya telah terlepas. Di dalam kegelapan orang itu harus merunduk-runduk mencari senjatanya yang terjatuh.

    “He, apa kerjamu?” bentak kawannya.

    “Senjataku terjatuh.”

    “Bodoh kau. Seorang prajurit yang kehilangan senjata di medan perang, sama saja sudah kehilangan separo dari nyawanya.“

    “Itulah sebabnya aku mencari separo nyawaku yang hilang.”

    “Persetan,” kawannya menggeram. Tetapi ketika kawannya itu meloncat meninggalkan orang yang sedang mencari senjata itu, kakinya sendiri terjerat pula, sehingga ia pun jatuh menelungkup. Senjatanya pun terlepas dan terpelanting jatuh ke dalam gerumbul perdu.

    “Setan alas,” ia mengumpat.

    Dalam pada itu kawannya yang terdahulu kehilangan senjatanya, sudah dapat menemukannya. Didekatinya kawannya yang terjatuh kemudian sambil berkata, ”Apa yang kau cari?”

    “Gila, senjataku pun terjatuh.”

    “Bodoh kau. Seorang prjaurit yang kehilangan senjata di medan perang, sama saja sudah kehilangan separo nyawanya.”

    Kawannya menggeretakkan giginya. Tetapi ia pun segera menjawab, “Itulah sebabnya aku mencari separo nyawaku yang hilang.”

    “Macammu,” desis kawannya yang sudah menemukan senjatanya.

  8. Wah, sudah ada sampulnya

    Alhamdulillaaaah

    sekalian absen,
    Ki KontosWedul

  9. melu ndedepi..

  10. Ki Ageng Pemanahan d
    Tahun 1558 M Ki Ageng Pemanahan dihadiahi wilayah Mataram yang masih kosong oleh Sultan Pajang atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang. Ki Ageng Pemanahan adalah putra Ki Ageng Ngenis atau cucu Ki Ageng Selo tokoh ulama besar dari Selo kabupaten Grobogan.
    1577 Ki Ageng Pemanahan membangun istananya di Pasargede atau Kotagede. Selama menjadi penguasa Mataram ia tetap setia pada Sultan Pajang.
    1584 Beliau meninggal dan dimakamkan di sebelah barat Mesjid Kotagede. Sultan Pajang kemudian mengangkat Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa baru di Mataram.

    SUMBER: babadbali.com;

    LEGENDA PEMANAHAN
    Alkisah di masa pemerintahan Kerajaan Pajang tersebutlah dua orang sahabat karib, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring terkenal sebagai seorang petani pertapa sekaligus penyadab nira kelapa yang hidup di tengah pegunungan selatan, sedangkan Ki Ageng Pemanahan merupakan abdi dalem Sultan Hadiwijoyo. Dalam satu pertapaannya Ki Ageng Giring mendapatkan ‘wahyu gagak emprit’ berwujud sebuah degan dimana barang siapa meminum air degan tersebut sekali tenggak maka anak turunnya akan menjadi raja-raja besar di tanah Jawa.
    Dengan pertimbangan agar sekali teguk air degan dapat habis maka Ki Ageng Giring menaruh degannya di pawon rumahnya untuk pergi ke ladang dengan maksud nanti setelah bekerja di ladang dan kehausan maka dia akan segera pulang dan menenggak habis air degannya.
    Tanpa diduga sebelumya, tiba-tiba datanglah Ki Ageng Pemanahan mampir ingin menengok sahabat karibnya. Setibanya di depan rumah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan mendapati rumah sahabatnya kosong tanpa penghuni. Ia kemudian njujuk ke pawon dan mendapati sebuah degan yang ranum di sebuah babagran pawon sahabatnya. Ia berpikir mungkin sahabatnya sengaja menyediakan degan tersebut bagi sang tamu yang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Tanpa berpikir panjang degan tersebut kemudian diboboknya untuk kemudian ditenggaknya sekali tenggak habis.
    Tak begitu lama kemudian datanglah Ki Ageng Giring dari ladang. Ia langsung menuju pawon bermaksud meminum degannya. Ternyata didapati degan sudah dibobok orang dan isinya sudah habis. Ia keluar ke belakang rumah dan didapatinya sang sahabat, Ki Ageng Pemanahan sedang bersantai menikmati semilir angin di bawah waru doyong. “Adi Pemanahan? kapan tiba di gubugku ini Di?” tanyanya. “Baru saja Kakang, aku sekedar mampir setelah menengok Alas Mentaok atas perintah Kanjeng Sultan”,jawab Ki Ageng Pemanahan. “Dan Kakang, karena perjalanan jauh yang telah ketempuh tadi aku langsung njujug di pawon dan meminum degan yang ada di babragan milik Kakang, aku mohon maaf sebelumnya Kakang” lanjut Pemanahan.
    “Ketiwasan Adi!”, sergah Ki Ageng Giring dengan nada lemas dan kecewa berat. “Sebenarnya Adi, degan tersebut merupakan wahyu yang telah aku upadi dengan tapa brata yang sulit untuk mendapatkan kemuliaan bagi anak cucuku kelak di kemudian hari”,ia menegaskan. Ia kemudian menceritakan mengenai ‘wahyu gagak emprit’ yang diperolehnya berwujud degan tersebut. Dengan besar hati akhirnya ia berkata, “Adi, barangkali ini semua memang sudah menjadi titah Gusti, sehingga aku harus rela anak cucumulah kelak yang akan menjadi penguasa tanah Jawa ini. Namun Adi, apabila engkau tidak berkeberatan izinkan juga anak cucuku setelah keturunan ke tujuh darimu juga ikut nunut mukti.”
    Pemanahan kemudian menjawab, “ Aduh Kakang beribu ampun aku minta maaf, karena ketidaktahuanku aku menjadi penghalang kemuliaan anak cucumu, tapi barangkali ini memang sudah ginarising pepesthen, namun demikian aku rela dengan permintaan Kakang agar setelah keturunanku yang ke tujuh nanti anak cucu Kakang ikut mukti wibawa. Dan untuk itu Kakang, apabila kita kelak mempunyai anak kuusulkan agar kita berbesanan sebagai jalan tengah”.Akhirnya kedua sahabat tersebut bersepakat.
    Kelak di kemudian hari terbuktilah oleh sejarah, Senopati atau Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadi raja Mataram pertama setelah keruntuhan Kerajaan Pajang. Dan setelah tujuh generasi, melalui Pangeran Puger yang kemudian bergelar Susuhunan Paku Buwana I, kekuasaan berganti jalur setelah pusat pemerintahan baru berpindah ke Kartasura.
    SUMBER: http://annasagung.blog.com

    LEGENDA PEMANAHAN
    Kembang Lampir merupakan petilasan Ki Ageng Pemanahan yang terletak di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul. Tempat ini merupakan pertapaan Ki Ageng Pemanahan ketika mencari wahyu karaton Mataram. Ki Ageng Pemanahan merupakan keturunan Brawijaya V dari kerajaan Majapahit. Dalam bertapa itu akhirnya ia mendapat petunjuk dari Sunan Kalijaga bahwa wahyu karaton berada di Dusun Giring, Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, Gunung Kidul. Untuk itu ia diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk cepat-cepat pergi ke sana. Sampai di Sodo ia singgah ke rumah kerabatnya, Ki Ageng Giring.
    Diceritakan bahwa di tempat itu Ki Ageng Giring dan Pemanahan “berebut” wahyu karaton yang disimbolkan dalam bentuk degan (kelapa muda). Barangsiapa meminum air degan itu sampai habis, maka anak keturunannya akan menjadi raja Tanah Jawa. Konon degan tersebut merupakan simbol persetubuhan dengan seorang puteri. Dalam perebutan wahyu tersebut Ki Ageng Pemanahan yang berhasil memenangkannya. (Lihat rubrik: Makam Ki Ageng Giring).
    Untuk dapat sampai ke tempat pertapaan ini pengunjung harus melewati anak tangga permanen yang telah dibangun. Adapun denah kompleks Kembang Lampir berbentuk angka 9 (sembilan). Hal ini sebagai tanda bahwa kompleks itu dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Bangunan yang ada di sana antara lain : Bangunan induk sebagai tempat penyimpanan pusaka “Wuwung Gubug Mataram dan Songsong Ageng Tunggul Naga” serta dua buah Bangsal Prabayeksa di kanan dan di kiri. Menurut jurukunci, Surakso Puspito, sebagai penghormatan kepada para pepundhen Mataram di kompleks itu juga dibangun beberapa patung antara lain : Panembahan Senapati dan Ki Ageng Pemanahan, serta Ki Juru Mertani.
    SUMBER: http://www.tembi.org

  11. Kembang jati arane janggleng…….sewidak siji walah le ku ngenteni nganti njinggleng

  12. Tak dhadhaki wae, suwe suwe rak metu dewe…

  13. buku 60 hal 53

    ramuanmu mandi ( ramuanmu mujarap / manjur )

  14. Salut buat pengasuh padepokan ADBM,.. dengan segala keterbatasan resources masih bisa memberikan secercah harapan … ada cover ada harapan

    Cerita Putri Sewidak Siji…
    Tak enteni seri Sewidak Siji …..

  15. Mana nih jilid 61 nya?
    Kalo kelaman muncul, akibatnya istri saya akan marah2. Istri lebih suka suami betah di rumah baca adbm daripada keluyuran ga menentu.

  16. Nyuwun sewu Ki DeDe……
    Ikutan ngantri dengan sabar jilid 61 sekalian absen

  17. sabar lagi…….

  18. Dulu, ngantri terbitnya jilid berikutnya selama satu bulan, kadang dua bulan baru terbit. Harus beli lagi.

    Sekarang ini ngantri sehari kadang dapat 2 jilid, gratis lagi. Enak sekali ya.

    Terima kasih Ki Gede.

    Biar merasakan bagaimana susahnya masing-masing tahap tersebut dulu saya pernah ikut-ikutan retype dan nge-proof, sekarang mau coba ikut-ikutan scanning. Jilid yang belakang-belakang biar tidak buru-buru. Saya sudah mulai dari ADBM 2 jilid 175. Contoh sudah saya kirim

  19. Ki Sukr@,…. dimana dirimu berada. Apakah engkau sekarang sedang berada dalam barisan Ki GDe menguburkan Ki Damar?.
    Atau sedang ber-fesbok ria?

  20. “Waduh kakang .. kenapa dengan cambuk ku ini” keluh Swandaru. “Apa maksudmu adi?” tanya Agung Sedayu kebingungan. “Coba dengarkan bunyi .. lemah sekali, tidak meledak-ledak seperti biasanya,” jelas Swandaru. Digerak-gerakkannya tangannya yang memegang cambuk seperti gembala melecutkan kerbau. Tak terdengar suara meledak hanya desau angin semata. Agung Sedayu termangu-mangu. “Dengan suara yang pelan seperti ini bagaimana mungkin Kitab 61 akan terbuka,” desisnya. Swandaru masih mencoba menggerakkan cambuknya, terkadang ditelusurinya jalinan cambuk yang berkrah besi itu. Tak ditemukannya sesuatu yang berbeda. Akhirnya Agung Sedayu berkata, “Adi, biarlah nanti malam aku coba menggunakan cambuk Fastnet milikku yang ada di rumah. Moga bisa membuka kitab 61 dengan segera.” Swandaru hanya bisa tertegun. Keinginannya membaca Kitab 61 tidak bisa disegerakan hanya karena cambuknya yang tidak berfungsi seperti biasanya. “Dasar cambuk (baca:internet) kantor,” gerutunya.

  21. Ki Gede

    Saya coba gunakan Microsoft Office Picture Manager untuk memperkecil ukuran file JPG.

    Menurut petunjuk Ki Gede “Pilih option “document large”.”

    Tetapi saya caricari kok di komputer saya (microsoft office 2003″ tidak ada -optiopn-document large-. Yang ada adalah “resize setting”.

    Apakah kasiatnya sama?

    Mohon pencerahan

    GD: Ya di Resize setting itulah ada pilihan “Document large”. Buka file JPG dg Picture Manager. Klik Edit Picture (ada di barisan atas). Window Edit Picture akan muncul di sebelah kanan. Klik Resize di bagian bawah window itu untuk memunculkan Resize setting (saya kira Anda sudah sampe disini). Klik Predefined with x length, di situ ada pilihan “Document large”. Pilih pilihan itu. Lalu klik OK (OK button tidak aktif sebelum Predefined … dipilih. Lalu save. Jika mau melakukan satu folder sekalian, klik icon Thumbnail view di kiri atas. Lalu blok semua file (bisa dg ctrl A). Lalu klik Edit Picture …. dst sampai save. Tetapi waktu prosesnya agak lama. Jika kompi-nya kurang kuat malah bisa lebih lama dari resize satu persatu. Selamat mencoba.

  22. Nyebar godhong koro…Sabar sauntoro…

  23. kalau ada adbm-ers di jakarta yang punya kitab aslinya, saya mungkin bisa bantu scan. cukup foto copy-nya. kebetulan saya banyak waktu luang di kantor saya di kawasan harmoni.

    GD: Apakah harmoni deket dengan Tebet? Kontak Ki Warsono apakah dia masih perlu bantuan

  24. Kroncong asto, pithing alit, welut wana,pucuking tangan, sesingidan.
    Aku sumelang, Agung Sedayu ora lila, pusaka sewidak siji dingerteni para cantrik.

  25. akhirnya cambuk Swandaru meledak juga.
    “makasih atas doa para kadang sekalian,” teriak Swandaru kegirangan.

  26. Pancen sekti tenan Ki Sukr@,… dlm sepeminum teh ujug2 njujug jurus 61.

    Tak tunggu jurus 62-ne

  27. pagi-pagi mampir….sudah ada kitab ke-61 langsung diunduh… kira2 yang ke-62 apa hari ini ya…

  28. Poro kadang sa-panyantrikan..sing penting podo slamet nunggune, perkoro metu utowo durung metu kitab selanjutnya..ora dadi opo..Sabar. Ilmu soko Ki Gede sing ditumurunke soko Ki SHM dibantu konco2 kabeh iki, ora bakal basi, ora bakal ketinggalan jaman..wong buktine, nadyan kitab asline wis wujud kuning (kitab jenar) nanging ilmune tetep biso cinandi neng awang-awang..lan sakjroning ati

  29. dengan sabar menunggu text version 61…. sepurane ra iso mbantu-mbantu nyantrik …masalahe Sutajia ijik merantau neng Riau….nggolek elmu ngrogoh sukmo..mung iso ndongakke..mugo-mugo usahanipun konco sekalian entuk barokah seko Yang Maha Kuasa…

  30. kulo nuwun para sedulur sedaya, sakleresipun kulo puniko inggih ngentosi adbm inkang kaca 61 lan sakpiturutipun. tapi ngantos dinten puniko dereng manggihan. kulo kedah pados wonten pundi nggih? kulo kok dados radi bingung piyambak. amargi kulo termasuk newcomer wonten ing jagad maya punika. saksampunipun kulo saged nglanglang ing jagad maya puniko kok kulo kados dadi sekti montor kuno(he….he…he )punapa malih kulo sampun maca adbm dados kados pripun ngaten…..

  31. “sret-sreeet….sreet” (pake bold) biar terlihat
    keren dikit.

    paraf di atas tanda bukti cantrik pernah meLINTAS
    di gandok sini.

    • hadu…..maaf Nyi SENO, mas Risang “cantrik”
      lupa nutup.

      betol2 bukan ke-sengaja-an yang di-sengaja
      saesTU,

      • bwahahaaaa betol-betol ketidak sengajaan yang disengaja 😀

        • Kulo angka ikut kemawon ki …

          • wah ki mangku angka ikut yang juga disengaja to ?

            • Wah wasis tenan ki Abdus , sajake njih ngaten

              sugeng dalu ..

              • sugeng mangku eh sugeng dalu ki bumi

                • pacak
                  nian
                  Ki Menggung
                  tu.

                • walah koyo wong nggoreng , ndadak dilowak lawik barang , ning kulo njih akuur kemawon ki Abdus

                  ndalu sugeng ..

  32. Makin asyik aja niih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: