Buku 59

59-00

Iklan

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:41  Comments (69)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-59/trackback/

RSS feed for comments on this post.

69 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mudah2 an malam ini Menoreh diterangi oleh cahaya 59

  2. Ki GD said : “O ya, bagi yang masih setia menunggu versi teks, buku 49-51 juga sudah bisa dinikmati. Enjoy ‘em all”.

    Ups… kula kinten 59-61… he he he…

  3. Ssssstttttt…sedherek2,…kovere uwis mijil….
    ada kover ada harapan

  4. Lhakadalaahhhh… nah ada gambar yang datang…

  5. akhirnya datang juga……………..covernya!

  6. horeeee…
    ayo buruan donlot atuh..
    keluar lewat pintu samping…hehehehe

  7. Retype jilit 59 le ku ngapload sisuk wae.

    sing jilit 58 monggo do digarap, soale aku wis kebacut moco, dadi rasane kurang greng.

  8. Hukum Picis :
    Serat Sekar Setaman, buku koleksi Museum Sanapustaka, Keraton Surakarta menulis bahwa HUKUM PICIS merupakan hukuman mati paling ditakuti saat itu.
    Caranya, terhukum diikat di tonggak kayu atau pohon. Lalu tubuhnya disayat-sayat dengan pisau/bambu, dan lukanya diolesi air garam serta asam. Begitu terus sampai mati. Terkadang dilakukan di alun-alun dimana setiap orang yang lewat di”wajib”kan menghukum, baik menyayat, menabur garam/asam, atau keduanya.
    Diketahui telah ada sejak jaman Majapahit dan dilarang oleh Gubernur Jenderal Raffles (saat Indonesia dijajah Inggris pada 1811-1816)pada periode kekuasaan Paku Buwono IV.

  9. Sinambi menthelengi pergerakan 1.6 MB jilid seket songo nylinep mlebu laptop, aku hanya bisa meng-angguk2-kan kepala (sesuai saran pakdhe Sukra, yang jelas karepe : manthuk-manthuk) sambil mbatin :” Isone kok nembe ngunduh thok, kapan yo iso mbantu2 ngresiki lan mbangun padepokan? Kapan?…. Waduuuh nyuwun gunging samudro pangaksami Ki GD lan sedoyo cantrik ADBM, kawulo dereng saged mbantu menopo-menopo, mbok bilih sanes wedal …. nyuwun sewu…. lan matur nuwun sanget kaliyan peparingipun jilid seket songo. Monggo dipunlajengaken”

    Salam

  10. awal s/d 44

    SESEORANG bergumam didalam hatinya “Setan” ternyata anak Pemanahan itu lebih biadab daii orang-orang Kiai Damar. Mereka lebih kejam dari Kiai Damar sendiri.

    ………. dst. Sudah dipindah ke Pendopo (GD)

  11. Kiai Damar mendengarkannya dengan saksama. Dan tiba-tiba ia berkata “Apakah kita perlu mengundang Kiai Branjangan ?”

    Kiai Telapak Jalak menggelengkan kepala. Katanya “Kau tidak percaya kepada dirimu sendiri hanya Ki Gede Pemanahan sajalah yang dapat mengalahkan kita didaerah ini. Biarlah kita mencoba menghadapi mereka. Biarlah aku melawan orang yang bersenjata trisula itu. Kau kuasai orang bercambuk, yang kau sebut sebagai gembala itu.”

    “Kita masih harus memperhitungkan anak-anaknya,”

    “Kita pilih. dua orang kita yang terbaik.”

    “Raden Sutawijaya ?”

    “Kita sediakan dua orang pilihan yang lain.” Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya.

    “Jumlah pengawal Raden Sutawijaya itupun tidak begitu banyak.” Kiai Telapak Jalak berhenti sejenak “bagaimana dengan orang-orang dibarak itu sendiri ?”

    “Mereka dapat diabaikan. Mereka masih selalu dibayangi oleh ketakutan. Seandainya mereka berusaha berbuat sesuatu, kekuatan mereka tidak akan banyak berarti.

    Kiai Telapak Jalak mengangguk-anggukkan pula. Ia sudah mempunyai gambaran, berapa besarnya kekuatan yang akan dihadapinya. Sebagai seorang yang berilmu tinggi didalam olah kanuragan, maka Kiai Telapak Jalak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri. Ia menganggap bahwa selama ini Kiai Damar telahsalah hitung. Kiai Damar terlampau menganggap ringan atas orang-orang aneh diantara mereka yang tinggal didalam barak.

    “Besok pengawas-pengawasa kita akan mendekati barak itu” berkata Kiai Telapak Jalak. “Aku ingin mengerti keadaan disekitarnya. Sesudah itu baru kita akan menyerang dan melenyapkan segala bekas-bekas yang ada didaerah ini. Kita harus menghilangkan semua kesan, bahwa disini pernah ada barak, para penghuninya, gardu-gardu pengawas, dan bahkan bahwa didaerah ini pernah dikunjungi oleh Sutawijaya.

    “Tetapi, bagaimanakah sikap Pajang atas kejadian itu?”

    “Kita akan menyebarkan pendapat, bahwa mereka telah dikutuk oleh hantu-hantu Alas Mentaok. Hanya orang-orang di daerah ini sajalah yang sedikit banyak telah mengetahui rahasia hantu-hantu itu. Karena itu, apabila mereka dilenyapkan, maka lenyap pulalah semua anggapan, bahwa sebenarnya bukan hantu-hantulah yang telah mengganggu mereka selama ini.

    Kiai Damar sependapat dengan Kiai Telapak Jalak. Mereka menunda serangan mereka untuk membuat perhitungan-perhitungan yang lebih baik.

    Kiai Telapak Jalak masih akan mengirimkan orang-orang-nya untuk mengetahui keadaan disekitar barak itu, sehingga dengan demikian ia akan dapat memperhitungkan keadaan dengan tepat, setidak-tidaknya lebih baik dari yang pernah dilakukan oleh Kiai Damar.

    Karena itulah, maka dimalam pertama itu, tidak ada suatu tindakan apapun yang dilakukan oleh Kiai Damar dengan pasukannya. Demikian pulalah agaknya dihari berikutnya, selain beberapa orang pengawas yang mencoba mendekati barak.

    Ketika malam telah lampau tanpa terjadi sesuatu, maka orang-orang didalam barak itu mulai meragukan perhitungan Sutawijaya. Mereka menganggap bahwa kemenangan gembala itu pasti akan membuat lawan menjadi semakin ketakutan, bukan sebaliknya.

    Tetapi baik Sutawijaya maupun Kiai Gringsing dan kedua muridnya masih tetap didalam pendirian mereka. Bahkan mereka menganjurkan agar orang-orang dibarak itu mempergunakan waktu yang pendek itu untuk mempersiapkan dirinya menghadapi kesulitan yang dapat saja datang setiap saat.

    Mula-mula mereka agak segan juga. Lebih baik bagi mereka untuk beristirahat, berbaring-baring diatas anyaman belarak jambe, atau duduk-duduk diserambi. Tetapi karena desakan para pengawal, maka merekapun berdiri juga dihalaman sambil membawa senjata masing-masing.

    Sejenak kemudian merekapun berlatih kembali mengayunkan dan mempergunakan senjata mereka. Mereka menebas batang-batang kayu dengan pedang, menusuk-nusuk kayu yang lunak dengan ujung tombak. Mencoba menangkis serangan dan mencoba pula menghindar.

    Tetapi ketika keringat msreka mulai mengalir, kembali mereka dijalari oleh keseganan. Tetapi mereka terpaksa memaksa diri masing-masing untuk tetap memegang senjata dihalaman.

    Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Swandaru tidak ikut serta menunggui latihan-latihan itu. Mereka pergi kedalam gerumbul-gerumbul disekitar barak. Dengan lulup kayu, mereka mencoba merentang dari pohon yang satu kepohon yang lain.

    “Apabila mereka berlari dengan tergesa-gesa, mereka tidak akan melihatnya dimalam hari kakang” berkata Swandaru.

    “Apakah menurut perhitunganmu, mereka akan menyerang dimalam hari.”

    “Ya”

    “Kenapa?”

    “Sekedar kebiasaan. Mereka biasa bergerak dimalam hari selagi mereka bermain hantu-hantuan. Pasti tidak akan terpikir oleh mereka untuk berbuat sesuatu disiang hari”

    Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Alasan yang sederhana sekali. Sama sekali bukan didasari oleh perhitungan medan yang bakal terjadi apabila mereka menyerang, tetapi sekedar didasari alasan yang sangat sederhana. Namun demikian, dugaan itu masuk akal juga.

    “Apakah kau mempunyai dugaan lain?”

    Agung Sedayu menggeleng. Katanya “Aku juga berpendapat demikian. Mereka akan datang dimalam hari. Tetapi bukan sekedar karena kebiasaan. Tetapi mereka pasti menganggap bahwa dimalam hari orang-orang dibarak kita selalu dibayangi oleh ketakutan. Meskipun seandainya mereka sadar, bahwa orang-orang dibarak kita tidak lagi takut terhadap hantu-hantu jadi-jadian itu, tetapi kesan yang mereka dapat adalah, malam hari yang gelap adalah saat-saat yang menakutkan sekali. Didalam gelapnya malam, apapun dapat terjadi.”

    Swandarulah yang kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab “Pertimbangan yang terlampau sulit. Kenapa kau tidak mencari alasan yang mudah dan dapat masuk akal ? Barangkali kau sekedar tidak mau kalah dengan pikiranku.”

    “Macammu” desis Agung Sedayu.

    “Kalau tidak, kenapa kau tidak mengiakan saja pendapatku?”

    “Baiklah, aku sependapat dengan kau. Aku mengiakan pendapatmu.”

    “Sudah tentu aku tidak puas dengan cara itu.”

    “Jangan ribut” sahut Agung Sedayu kemudian “sekarang, manakah yang akan dipasang rintangan-rintangan tersembunyi ini?”

    Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk “Ya, ya Kita sedang memasang rintangan-rintangan.”

    Setelah mereka menimbang-nimbang sejenak, maka merekapun menemukan beberapa arah yang menurut pertimbangan mereka, akan dilalui orang-orang yang akan mendekati barak itu. Kalau sebelum mereka sampai ketempat itu, maka orang-orang dari barak itu sudah menunjukkan perlawanan, maka orang-orang yang datang itu pasti akan segera berlari-lari menyerang. Rintangan-rintangan ini akan dapat menahan laju. serangan itu dan memberi kesempatan orang-orang yang sedang bertahan menjadi mapan, menghadapi lawan-lawan mereka yang berdatangan, tetapi tidak seperti banjir yang melanda tanggul ditikungan yang dalam.

    Demikanlah Agung Sedayu dan Swandaru telah merentangkan beberapa utas tali lulup setinggi betis, dengan harapan, agar lawan mereka mulai terganggu sebelum pertempuran yang sebenarnya mulai.

    Tanpa mereka sadari, maka kedua orang itupun menjadi semakin tinggi.
    “Haus sekali”desis Swandaru.

    Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia memandang sekelilingnya, barulah ia sadar, bahwa ia telah berada ditempat yang memang cukup jauh.

    “Aku haus sekali” sekali lagi Swandaru berdesis.

    “Marilah kita kembali. Kalau kita mempunyai waktu, kita akan pergi memasang tali-tali semacam ini diarah yang lain.”

    Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya pula. “Tentu Kita akan pergi keempat arah dan memasang perangkap disemua tempat itu.”

    “Aku akan beristirahat dahulu sejenak” berkata Swandaru kemudian. Perlahan-lahan ia melangkah kearah sebatang pohon yang rimbun meskipun tidak begitu tinggi, yang tumbuh diantara batang-batang perdu.

    Agung Sedayupun ikut pula duduk disampingnya. Tetapi ia tidak bersandar pohon itu.

    Tiba-tiba saja keduanya terkejut ketika mereka mendengar kuda meringkik. Dengan sertamerta mereka. menjatuhkan diri dan berguling menyusup kedalam batang-batang perdu.

    “Kuda. Aku mendengar ringkik kuda. benar?”

    “Ya, aku juga mendengar.”

    Keduanyapun kemudian bersembunyi semakin rapat. Sambil saling berpandangan mereka mendengar suara derap kuda semakin lama semakin dekat.

    Keduanya hampir tidak bernafas lagi ketika kuda-kuda itu berhenti beberapa langkah saja dihadapan mereka bersembunyi.

    “Jangan terlampau dekat” berkata saiab. seorang. dari orang-orang berkuda itu.

    “Masih terlampau jauh”

    “Tidak. Kita sudah dekat dengan barak itu. Kita tinggalkan kuda-kuda kita disini. Kita akan melihat, apa yang dikerjakan oleh orang-orang didalam barak itu.”

    Dada Agung Sedayu dan Swandaru menjadi berdebar-debar. Kalau orang-orang itu berjalan terus, apakah mereka tetap diatas punggung kudanya, atau mereka mendekat dengan berjalan kaki, maka mereka pasti akan melihat rahasia yang baru saja dipasang. Tali-tali lulup yang terentang diantara pepohonan.

    “Apakah kita akan mendekati barak itu sekarang?”

    “Ya” jawab kawannya

    “Baiklah. Kita akan berjalan kaki supaya kedatangan kita tidak mereka ketahui.”

    Swandaru menggamit Agung Sedayu yang mulai dibasahi oleh keringat dinginnya. Ia menjadi bimbang. Apakah orang-orang itu akan dlbiarkannya saja, atau sebaiknya orang-orang itu ditangkapnya? Keduanya tidak memberikan keuntungan bagi barak itu. Kalau orang yang datang itu dibiarkannya mereka akan mengetahui rahasia tentang tali-tali dan barangkali juga mereka akan melihat dari kejauhan, orang-orang yang sedang berlatih dihalaman barak itu. Tetapi kalau mereka akan ditangkapnya, maka ketidakhadiran mereka kembali kedalam lingkungan mereka, akan dapat menumbuhkan kecurigaan dan persoalan bagi mereka, sehingga mereka akan menjadi lebih berhati-hati dan bahkan akan lebih memperkuat pasukan yang akan datang kebarak ini, karena baik Agung Sedayu maupun Swandaru yakin, bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang dikirim oleh Kiai Damar untuk melihat keadaan.

    Dalam keragu-raguan itu, Agung Sedayu melihat orang-orang itu sudah siap untuk turun dan kuda-kuda mereka.

    “Empat orang” katanya didalam hati.

    Tiba-tiba saja tanpa disengaja, tangannya menyentuh sebutir batu sebesar telur. Batu itu ternyata telah menumbuhkan suatu pemecahan yang barangkali dapat dilakukannya. Sambil menunjukkan batu itu kepada Swandaru, Agung Sedayu memberikan isyarat, bahwa ia kan melempar kuda yang berhenti beberapa langkah dari mereka itu

    Swandaru mengerutkan keningnya. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Ia mengerti, bahwa Agung Sedayu akan mengejutkan kuda-kuda itu, sehingga kuda-kuda itu pasti akan berlari-larian dan sukar dikendalikan.

    Demikianlah, maka Agung Sedayu bergeser setapak maju. Kedua tangannya menggenggam masing-masing sebutir batu. Ketika kuda-kuda itu berdiri beberapa langkah daripadanya. dan ketika penunggangnya siap meloncat turun, maka Agung Sedayupun segera melepaskan kedua butir batu itu, kearah dua ekor kuda yang berdiri dipaling depan.

    Ternyata usaha Agung Sedayu itu berhasil seperti yang diharapkan. Kedua ekor kuda itu terkejut bukan buatan. Keduanya hampir berbareng melonjak berdiri sambil meringkik keras-keras. Kemudian, meloncat dan berlari tidak tentu arah.

    Kedua ekor kuda yang lainpun ikut terkejut pula. Tetapi tidak seperti kedua ekor kuda yang pertama, sehingga keduanya masih dapat dikuasai. meskipun keduanya juga berlari secepat-cepatnya. Namun dengan susah payah kedua penunggangnya berhasil menarik kekangnya untuk menentukan arah, agar mereka tidak terperosok justru masuk kedalam barak. Dengan demikian maka kedua kuda yang terakhir itu berpacu kembali kearah darimana mereka datang.

    Agung Sedayu mengerutkan keningnya melihat hasil usahanya, sedang Swandaru tidak dapat menahan tertawanya, Tetapi suara tertawanya itu terputus, ketika Agung Sedayu berkata “He, kemana yang dua tadi berlari?”

    “Entahlah” Swandaru menggelengkan kepalanya “mungkin kearah barak.”

    “Marilah kita lihat. Kalau mereka tidak berhasil mengendalikan kuda-kuda mereka, maka kuda-kuda itu pasti akan tersangkut tali yang sudah kita rentang.”

    Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera iapun meloncat berdiri seperti anak-anak yang mendapat mainan. Katanya “Ayo kita kejar.”

    “Kau akan mengejar kuda-kuda yang sedang liar?”

    “Maksudku, kita lihat, barangkali kedua ekor kuda beserta penunggangnya itu sedang berbaring digerumbul-gerumbul liar itu.”

    Agung Sedayu dan Swandarupun kemudian berlari-larian sambil mencoba mengamati jejak kuda-kuda yang sedang kehilangan kekangan itu.
    Ternyata mereka berhasil menemukan jejak itu. Rerumputan yang patah terinjak-injak, bekasnya ditanah yang gembur dan ranting perdu yang patah.
    Sejenak kemudian Agung Sedayu berdesis dan menggamit Swandaru “Aku mendengar suara.”

    Swandarupun berhenti. Ia memang mendengar suara beberapa langkah dihadapannya. Ringkik kuda, gemerasak dedaunan dan desah seseorang.
    Pasti salah seorang dari keduanya. “Jebakanku mengena.” berkata Agung Sedayu. Lalu “Uruslah. Bawalah kebarak. Mungkin aku masih harus mencari yang satu lagi”

    Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata “Tidak ada jejak kearah lain. Keduanya kearah ini.”

    Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Ia melihat jejak yang tidak sejalan. Karena itu ia menjawab “Lihat mereka beriringan sampai ke tempat ini. Tetapi kuda-kuda itu bagaikan binal, sehingga penunggangnya tidak dapat menguasainya. Jejak ini pasti salah satu diantaranya. Berputar-putar menerjang gerumbul-gerumbul ini, kemudian berbelok kekiri.”

    Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia mengangguk-angguk.

    “Cepat, sebelum ia sempat lari” berkata Agung Sedayu yang tidak menunggu jawabnya, segera berlari mengikuti jejak kuda yang seekor lagi.
    Swandaru yang dengan tergesa-gesa mendekati suara ribut itupun segera menyakini, bahwa suara itu adalah suara kuda yang sedang berusaha melepaskan diri dari belitan tali-tali lulupnya. Sedang penunggangnyapun agaknya terpelanting dan terjatuh pula didekatnya. Ternyata Swandaru telah mendengar orang itu mengumpat-umpat tidak keruan.

    Swandaru yang sudah menjadi semakin dekat, menjadi lebih berhati-hati. Ia kini bersembunyi dibalik dedaunan. Namun ketika ia sudah melihat penunggang kuda itu seorang diri sambil mengibas-ngibaskan pakaiannya, maka iapun merayap semakin dekat lagi.

    Sejenak kemudian, maka pemrnggang kuda itu berusaha menenangkan kudanya yang masih berusaha untuk bangkit. Ditepuk-tepuknya lehernya dan dipanggilnya namanya dengan suara lembut

    Perlahan-lahan kudanya menjadi semakin jinak. Apalagi ketika kemudian kuda itu berhasil bangun dan berdiri diatas keempat kakinya.
    Sambil memegang kendali, penunggangnya masih saja mengusap leher kudanya yang sudah mulai dapat dijinakkan. Meskipun kadang-kadang kuda itu masih menengadahkan kepalanya sambil meringkik tetapi kuda itu sudah tidak berusaha untuk lari lagi.

    Setelah kudanya menjadi tenang, maka penunggangnya melanjutkan umpatannya. Ia tidak tahu kepada siapa ia harus marah.

    Namun sejenak kemudian iapun terkejut ketika tiba-tiba saja seorang anak muda yang gemuk telah berdiri dihadapannya Sambil tertawa Swandaru memandanginya dengan tatapan mata yang aneh.

    “Kasian” desis Swandaru “apakah kau terjatuh?”

    “Siapa kau?” bertanya orang itu.

    “Kau ingin tahu tentang aku?”

    Sekali lagi orang itu mengumpat. Dan ia bertanya lagi

    “Apa maumu datang kemari?”

    “Aku melihat kudamu menjadi gila. Aku mencoba melihat apakah yang terjadi kemudian. Agaknya kau terjatuh.”

    “Gila.”

    “Ya, kudamu yang gila.”

    “Kau yang gila.”

    “Kenapa aku?”

    Pertanyaan itu telah membuat penunggang kuda itu menjadi bingung. Karena itu sejenak ia tidak menjawab. Dan karena ia terdiam, maka Swandarupun berkata pula “Hati-hatilah untuk lain kali. Hutan ini meskipun tidak begitu lebat dibagian ini, tetapi banyak rintangan yang dapat menjerat kaki kudamu.”

    Orang itu masih berdiam diri. Agaknya ia belum menyadari bahwa kaki kudanya telah terjerat oleh tali up yang memang dipasang seseorang.

    “Persetan” orang itu menggeram. Dan tanpa sesadarnya ia bertanya sekali lagi “Siapa kau?”

    Tiba-tiba saja Swandaru ingin mengganggunya. Maka jawabnya “Apakah kau belum pernah melihat aku?”

    “Belum” orang itu menggeleng

    “Semua orang Mataram mengenal aku. Apalagi orang orang yang sudah berada dipusat tanah ini”

    “Siapa kau?” orang itu tidak sabar.

    “Jangan membentak-bentak. Aku sedang akan menyebutkan siapa aku ini.”

    “Cepat, sebut namamu.”

    “Aku adalah Sutawijaya yang bergelar ‘Mas Ngabehi Lorlng Pasar.”

    Sejenak orang itu terdiam. Wajahnya menjadi tegang dan matanya memancarkan sorot yang aneh.

    Swandaru tertawa didalam hatinya. Ia menyangka bahwa orang itu terkejut, bahwa tiba-tiba tanpa disangka-sangkanya ia berhadapan dengan Sutawijaya.

    Tetapi dugaan Swandaru ternyata salah. Sambil menuding wajahnya, orang itu berkata “Jangan mencoba berbohong. Aku sudah mengenal orang yang bernama Sutawijaya. Sutawijaya tidak gemuk seperti macammu. Meskipun tidak kurus, tetapi tubuhnya langsing seperti kebanyakan orang-orang Istana.”

    “Jadi kau tidak percaya”

    “Kau benar-benar gila. Aku tidak percaya.”

    “Baiklah. Teserahlah kepadamu. Mungkin kau pernah
    melihat aku beberapa bulan yang lampau. Aku memang belum segemuk ini. Baru tiga hari aku menjadi gemuk seperti ini.”

    Orang itu kini merasa, bahwa anak muda yang gemuk itu sengaja mempermainkannya. Karena itu, maka kemarahannyapun telah memuncak sampai diujung ubun-ubun. Katanya “Aku tidak peduli siapakah kau ini. Tetapi kau sudah membuat aku marah. Karena itu, bukan salahku, kalau aku membunuhinu.”

    “Jangan berkata dengan istilah yang mendirikan bulu-bulu kudukku. Jangan sebut kematian. Lebih baik kau berbicara tentang dirimu sendiri.”

    “Persetan.” giginya menjadi gemeretak “kau memang harus dicincang disini.”

    Swandaru mengerutkan keningnya. Dilihatnya orang itu menambatkan kudanya yang sudah jinak kembali pada sebatang pohon perdu.

    Dengan demikian Swandarupun kemudian mempersiapkan dirinya. Ia sadar sepenuhnya, bahwa setelah menambatkan kudanya, orang itu pasti akan segera menyerangnya.

    Dugaan Swandaru itu sama sekali tidak salah. Dengan wajah yang merah padam, orang itu melangkah setapak demi setapak mendekatinya.

    “Apakah kau orang dari -barak itu ?” orang rtu menggeram.

    “Ya” jawab Swandaru.

    “Adalah kebetulan sekali. Agaknya kau terlibat juga dalam kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang barak itu atas anak buah Kiai Damar.”

    Swandaru mengerutkan keningnya. Dan iapun bertanya “Apakah kau bukan anak buah Kiai Damar?”

    Orang itu menggelengkan kepalanya, Jawabnya “Aku datang atas permintaan Kiai Damar. Barangkali tidak ada salahnya kalau kau tahu serba sedikit tentang aku, sebelum kau mati.”

    “Ya. Aku ingin mendengar.”

    “Sudah kau dengar. Aku bukan anak buah Kiai Damar.”

    Swandaru mengerutkan keningnya “Jadi hanya itu ? Hanya sekedar mengetahui bahwa kau bukan anak buah Kiai Damar.”

    “Itu sudah cukup. Sekarang kau akan mati” Swandaru mengangguk-angguk kan kepalanya. Katanya “Sekarang aku tahu. Justru karena kau bukan anak buah Kiai Damar, kaupun pasti belum mengenal aku.”

    “Jangan sebut dirimu Sutawijaya lagi. Aku muak mendengarnya. Aku sudah pernah mengenal Sutawijaya. Aku pernah melihatnya.”

    “Tidak. Aku tidak akan menyebut lagi bahwa aku Sutawijaya. Tetapi setiap anak buah Kiai Damar pasti mengenal aku, karena aku pernah berkelahi melawan mereka dan Kiai Damar.”

    Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya. Kiai Damar memang pernah mengatakan kegagalannya. Agaknya kau salah seorang dari mereka., Siapa kau ?”

    “Itu sudah cukup. Kau sudah terlampau banyak mengetahui tentang diriku. Bahwa aku pernah bertempur dengan Kiai Damar, itu adalah pengetahuan yang cukup berharga bagimu sebelum kau mati disini.”

    “Setan alas” kemarahan orang itupun segera memuncak. Ia mengerti, bahwa anak yang gemuk itu memang sengaja mempermainkannya. Karena itu, tanpa berkata sepatah katapun lagi, ia langsung menyerang Swandaru dengan garangnya.

    Swandaru yang selalu berhati-hati, sama sekali tidak terkejut menerima serangan itu. Karena itu Iapun segera menghindarkan dirinya. Tangan orang itu terayuh tidak lebih dari sejengkal dari pipinya.

    Namun yang mengejutkan Swandaru adalah desing tangan itu. Dengan demikian ia dapat menjajagi betapa besar kekuatan Iawannya, sehingga dengan demikian iapun harus menjadi semalan berhati-hati menghadapinya.

    Sejenak kemudian maka merekapun terlibat dalam perkelahian yang sengit. Orang itu berusaha untuk mengalahkan Swandaru secepat-cepatnya, karena ia sadar, bahwa ia sudah berada didekat barak yang ingin diamatinya. Ringkik kudanya mungkin dapat didengar dari barak, dan itu berarti memanggil satu dua orang dari mereka. Kalau yang datang Sutawijaya sendiri, maka ia tidak akan dapat pergi lagi dari tempat itu dan kembali kepada induk gerombolannya.

    Tetapi tanpa diduganya, ia mendapat lawan yang terlampau kuat baginya. Swandaru yang telah dapat menilai kekuatan lawannya, tidak mau mengambil akibat buruk daripadanya, sehingga iapun telah bertempur bersungguh-sungguh.

    Dengan demikian, maka dalam waktu yang singkat, segera anak muda yang gemuk itu berhasil menguasai lawannya, meskipun ia masih memerlukan waktu untuk mengalahkannya.

    Seperti pesan Agung Sedayu, Swandaru ingin menangkap orang itu hidup-hidup. Dengan demikian, orang itu akan merupakan sumber keterangan tentang orang-orang yang tidak dikenal yang telah mengepung barak ini. Apalagi Swandaru mendengar dari orang itu, bahwa ia sama sekali bukan anak buah Kiai Damar. Dengan demikian Swandaru menduga, bahwa Kiai Damar telah memanggil kelompok-kelompok lain untuk menyerang barak itu kembali.

    Tetapi menangkap orang itu hidup-hidup bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi setelah orang itu sadar, bahwa lawannya bukanlah anak muda yang dengan mudah dapat dikalahkan, maka iapun segera menarik senjata dari sarung nya. sehelai pedang yang panjang.

    Swandaru masih melawaanya dengan tangannya untuk beberapa saat. Namun akhirnya. ia menyadari, bahwa dengan demikian ia menghadapi kemungkinan yang kurang baik baginya. Itulah sebabnya, maka iapun segera mengurai senjatanya, sehelai cambuk dengan juntai yang panjang.

    Tiba-tiba lawannya mengerutkan keningnya. Kini ia sadar, bahwa ia berhadapan dengan salah seorang dari orang-orang bercambuk seperti yang dikatakan oleh Kiai Damar.

    “Ya, yang seorang adalah anak yang gemuk ini. Aku baru ingat ceritera itu sekarang.” katanya didalam hati. Namun dengan demikian orang itu menjadi semakin berhati-hati. Ternyata Iawannya adalah seorang yang tangguh.

    Namun. sejenak kemudian, orang itu merasa, bahwa ia harus melihat kenyataan. Betapapun nafsunya membakar dadanya untuk membunuh lawannya, tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa lawannya mempunyai kelebihan daripadanya.

  12. Karena itu, maka orang itu terpaksa berpikir, apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk menang. Tetapi sudah tentu, bahwa ia tidak akan bersedia menyerahkan dirinya. Sebab ia sadar, akibat apa yang dapat timbul apabila ia jatuh ketangan para pengawal Tanah Mataram ini.

    Tetapi ternyata bahwa Swandarulah yang memegang arah jalanannya perkelahian itu. Meskipun orang berkuda itu merencanakan segala macam usaha, namun Swandaru berhasil memaksakan kehendaknya sedikit demi sedikit.

    Akhirnya orang itu sampai pada suatu kesimpulan, bahwa ia harus melarikan oiri. Ia tidak menyangka, bahwa orang bercambuk yang dikatakan oleh Kiai Damar itu benar-benar orang yang luar biasa, Semula ia menduga, bahwa anak buah Kiai Damarlah yang sama sekali tidak mampu mempertahankan diri. Tetapi setelah ia mengalami perkelahian, barulah ia sadar, bahwa lawannya memang seorang anak muda yang tangguh.

    Karena itu, orang itu berusaha untuk mendapat kesempatan. Setiap kali ia mencoba bergeser mendekati kudanya. Tetapi ia merasa, bahwa ia tidak akan mendapat kesempatan itu. Selagi ia melepas tali tambatan kudanya, anak muda yang gemuk itu pasti sudah berhasil menangkapnya.

    “Aku harus lari. Lari saja tanpa membawa kuda itu kembali katanya didalam hati.

    Tetapi malang baginya Ketika ia meloncat surut, kemudian berusaha melarikan diri, ternyata ujung cambuk Swandaru telah membelit kakinya, sehingga iapun tertelungkup.

    Dengan cepatnya ia meloncat berdiri. Tetapi demikian ia tegak, tangan Swandaru telah menerkam pergelangan tangannya dan memilinnya kebelakang, sehingga tangan itu tidak lagi dapat mempertahankan genggaman senjatanya.

    Sejenak ia menyeringai menahan sakit. Namun kemudian ia masih juga berusaha melepaskan dirinya. Tetapi semakin kuat ia berusaha menarik tangannya, semakin kuat pula tekanan tangan Swandaru pada pergelangannya dan sekaligus pada punggungnya, sehingga tangannya seakan-akan patah karenanya.

    “Jangan, jangan” ia berdesis.

    “Tanganmu akan patah. Dan kau akan kehilangan kegaranganmu.”

    “Jangan.”

    “Aku tidak peduli. Aku akan membawa potongan tanganmu kembali kebarak dan menyerahkannya kepada Sutawijaya sebagai bukti, bahwa aku telah menemukan seseorang yang sedang mengintai barak ini.”

    “Jangan. Jangan dipatahkan tanganku.”

    “Aku-tidak memerlukan tanganmu lagi.”

    “Tetapi, tetapi……aku masih memerlukannya.”

    “Oh, maksudmu, akupun memerlukan sebelah tanganmu, atau sebaiknya kedua-duanya.”

    “Jangan, jangan.”

    Swandaru semakin menekankan tangan yang terpilin itu pada punggung orang itu sambil mendorongnya maju. “Tanganmu akan patah!”

    “Jangan”.

    Tanpa disadari oleh orang itu, Swandaru selalu mendorongnya semakin dekat dengan barak. Setapak demi setapak mereka maju terus.

    “Tanganmu itu sangat berharga bagiku” desis Swandaru.

    “Jangan, jangan.”

    Swandaru mendorongnya terus. Sehingga akhirnya mereka menjadi semakin dekat Ketika mereka keluar dari segerumbul perdu, mereka sampai pada sebuah iapangan rumput yang meskipun masih juga ditumbuhi oleh batang-batang perdu yang bergerumbul disana-sini, namun mereka dapat memandang kejarak yang agak jauh. Dengan demikian, maka orang yang tangannya terpilin itupun segera menyadari keadaannya. Dikejauhan dilihatnya beberapa orang berjalan hilir mudik dihalaman sebuah barak yang besar. Meskipun jarak itu masih belum dekat benar, dan bahkan masih juga dibayangi oleh beberapa gerumbul, tetapi orang itu tahu benar, bahwa ia telah dipaksa untuk pergi kebarak itu.

    Tiba-tiba saja orang itu menghentakkan tangannya. Tetapi pegangan tangan Swandaru bagaikan besi yang menjepit pergelangannya, sehingga dengan demikian tangannya itu Justru menjadi semakin sakit karenanya.

    “Jangan mencoba melepaskan diri” geram swandaru.

    “Jangan bawa aku kesana.”

    “Kenapa?”

    “Aku tidak mau. Aku tidak mau”

    “Baiklah, kalau begitu kembalilah kepada orang yang menyuruhmu kemari.”

    Orang itu menjadi heran mendengar jawaban Swandaru.

    “Ya, kembalilah. Pergilah cepat. Tetapi, masih ada tetapinya” Swandaru berhenti sejenak “kedua tanganmu harus kau tinggal.”

    “Gila” geram orang itu.

    “Apa, apa kau bilang?” Swandaru menekan tangan itu semakin keras.

    “Tidak, tidak”

    “Kau memang tidak mempunyai pilihan lain. Kau harus mengikut aku pergi kebarak ita. Kau harus menghadap Sutawijaya dan menjawab semua pertanyaannya, sebelum tubuhmu hancur menjadi kepingan tulang-tulang. Kau mengerti.”

    Terasa tubuh orang itu meremang. Dan Swandaru berkata terus “Karena itu, jawab sajalah semua pertanyaannya sebelum ia menjadi marah. Kau mengerti? Orang yang menjawab semua pertanyaannya dengan baik, tidak akan mengalami apapun juga.”

    Dada orang itu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Kini katanya telah berada di dalam genggaman jari-jari Swandaru.

    “Kenapa aku tidak melawannya sampai mati” ia menggeram.

    Swandaru yang mendengar justru menyahut “Kau tidak akan mati.”

    Orang itu menggeram, tetapi ia tidak dapat banyak berbuat. Tangannya seolah-olah sudah tidak dapat dikuasainya sendiri. Yang terasa hanyalah sengatan-sengata rasa sakit yang semakin tajam.

    Dengan demikian, ia tidak dapat menolak ketika Swandaru mendorongnya masuk kehalaman barak. Beberapa o-rang yang ada dihalaman itu tertegun dan memandanginya dengan sorot mata yang aneh.

    Tetapi Swandaru terkejut ketika ia melihat Agung Sedayu sudah duduk diserambi barak itu bersama Sutawijaya. Karena, itu, maka iapun segera bertanya “Kenapa kau sudah duduk disitu kakang?”

    Agung Sedayu tidak segera menyahut. Tetapi ia justru bertanya “Itukah orang yang berkuda bersama empat orang kawannya?”

    “Ya. Aku ketemukan ia sedang bergumul dengan kudanya.”

    “Dimana kuda itu?”

    Barulah Swandaru teringat, bahwa kuda orang itu masih terikat disemak-semak.

    “He, kuda Itu bermanfaat juga bagi kita disini” desisnya “baiklah aku akan mengambilnya setelah orang ini aku serahkan. Tetapi bagaimana dengan kau?”

    Agung sedayu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk seseorang yang sedang diobati oleh Kiai Gringsing karena luka-luka dikepalanya.

    “Kau apakah orang itu?” bertanya Swandaru.

    “Aku telah mendukungnya” Swandaru mengerutkan keningnya.

    “Ia jatuh dari kudanya yang gila. Agaknya kepalanya membentur sesuatu. Aku menemukannya dalam keadaan pingsan.”

    Swandaru mengumpat perlahan-lahan. Katanya “Kau menemukannya pingsan sehingga kau tidak perlu berkelahi.

    “Apakah kau berkelahi?”

    “Bertanyalah kepada orang ini” jawab Swandaru sambil mendorong tangan orang itu.

    Orang itu menyerihgai kesakitan karena tangannya yang terpilin. Tetapi ia tidak menyahut.

    “Kenapa kau diam saja” bentak Swandaru “ayo katakan.”

    “Apakah yang harus aku katakan?”

    “Jawab dari pertanyaan itu.”

    “Apakah yang ditanyakah?” Swandaru menjadi jengkel. Tangannya memilin tangan orang itu semakin keras, hingga orang itu menjadi semakin kesakitan. Akhirnya ia terpaksa berkata “Ya, ya. Kita sudah berkelahi sebentar.”

    “Sebut, siapa yang kalah dan siapa yang menang.” desak Swandaru.

    “Anak bengal” desis Agung Sedayu sambil tersenyum. Bahkan Sutawijaya dan Sumangkarpun tersenyum pula, Hanya Kiai Gringsing sajalah yang mengerutkan keningnya. Dimana-mana Swandaru berbuat menurut kesenangannya sendiri dalam keadaan, apapun juga.

    Tetapi Swandaru masih juga memaksanya menjawab

    “Ayo jawab. Siapa yang menang dan siapa yang kalah.”

    “Ya, ya” orang itu menyeringai “kau yang menang. Kaulah yang menang.”

    “Sebut yang kalah.”

    “Aku. Akulah yang kalah.”

    Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Bagus. Kau jujur. Kau dapat berkata sebenarnya. Karena itu, nanti untuk seterusnya kau harus juga menjawab semua pertanyaan dengan sebenarnya. Kalau kau tidak mau menjawab, bukan sekedar tanganmulah yang akan dipilin, tetapi kumismu, eh, lehermu,”

    Orang itu tidak menjawab. Tetapi ketika tangan Swandaru mengendor, ia dapat melihat satu-satu orang yang duduk diserambi.

    Tetapi sekali lagi ia terkejut ketika Swandaru bertanya “Nah, kalau kau benar-benar pernah melihat Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, yang manakah orangnya”

    “Ah kau” Agung Sedayulah yang menyahut. Ia tidak tahan lagi melihat gurau Swandaru. Sambil mengerutkan dahinya ia berkata “pakaian kita masing-masing telah menunjukkan. Meskipun seandainya ia belum pernah melihat sekalipun.”

    “Menurut pengakuannya ia pernah melihat Raden Sutawijaya. Ia tidak percaya ketika aku menyebut namaku Raden Sutawijaya. Katanya Raden Sutawijaya tidak segemuk aku.”

    Raden Sutawijaya tidak dapat menahan senyumnya. Karena itu iapun kemudian berkata “Biarlah ia menunjuk, siapakah diantara kami yang bernama Sutawijaya. Ia pasti akan melihat bentuk lahiriah kita. Pakaian kita misalnya.”

    Orang itu justru menjadi ragu-ragu. Ia memang pernah melihat Raden Sutawijaya Tetapi hanya sekilas dipusat tanah Mataram, ketika ia sengaja menyusup kesana. Tetapi kini ia melihat dua orang anak muda yang duduk diserambi itu, sehingga ia menjadi ragu-ragu, meskipun menilik pakaiannya ia akan segera dapat menunjuk siapakah yang sebenarnya Raden Sutawijaya. Tetapi justru karena Sutawijaya sendiri berkata demikian, ia menjadi bimbang.

    “Cepat, sebut yang mana. Salah satu dari kedua anak-anak muda yang duduk itu atau aku. Tetapi jelas, bukan salah satu dari dua orang tua-tua itu.” desak Swandaru.

    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi dibiarkannya saja Swandaru mengisi waktunya dengan kelakarnya.

    Orang tua itupun kembali meneliti luka-luka dikepala orang yang terbanting dari kuda yang liar itu.

    Akhirnya, untung-untungan orang itu menunjuk Sutawijaya yang sebenarnya sambil berkata “Itulah Raden Sutawijaya.”

    “Bagus” desis Swandaru “kebetulan kau menunjuk orang yang benar. Orang yang akan segera memeriksamu dengan seribu macam pertanyaan. Nah, jawablah pertanyaannya, supaya tubuhmu tidak tersayat. Lihat, disini ada beberapa orang tawanan seperti kau, yang mengalami pemeriksaan sebelumnya.”

    Terasa tubuh orang itu meremang. Tanpa sesadarnya ia memandang kearah Swandaru menudingkan jarinya. Dilihatnya beberapa orang yang duduk dengan lesu dan wajah yang pucat.

    “Tentu akan segera datang giliranmu” berkata Swandaru.

    Orang itu tidak menjawab. Ketika Swandaru mendorongnya semakin maju, iapun maju tertatih-tatih.

    “Orang ini memerlukan pengawasan khusus” berkata Swandaru kemudian “ia akan dapat melepaskan diri dan lari kepada kawannya apabila kita lengah.”

    “Kita terpaksa mengikatnya.” berkata Sutawijaya.

    “Tidak mau” orang itu berteriak “aku bukan seekor kuda liar.”

    “Jangan hiraukan” berkata Sutawijaya “orang itu memang harus diikat pada tiang.”

    Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya “Aku kira itu adalah cara yang terbaik agar orang ini tidak lari.”

    Bagaimanapun juga orang itu meronta-ronta, namun Swandaru mendorongnya kesebuah tiang bambu petung yang besar. Karena orang itu- masih berteriak-teriak saja, maka Sutawijayapun berkata “Kalau orang itu tidak mau diikat, baiklah. Tetapi sebagai jaminan bahwa ia tidak akan lari, patahkanlah kedua kakinya.”

    “Tidak mau, tidak mau. Kalian adalah manusia yang paling kejam yang pemah aku temui.”

    “Mungkin” sahut Sutawijaya “karena itu jangan mencoba untuk membantah kemauan kami.”

    Orang itu tidak berani membantah lagi. Ia hanya dapat mengumpat-umpat didalam hati ketika seorang pengawal benar-benar telah mengikatnya pada sebuah tiang.

    Dalam pada itu, setelah Swandaru duduk diserambi, maka iapun bertanya kepada Agung Sedayu “Bukankah dengan cara ini tidak ada bedanya, bahwa Kiai Damar dan orang-orangnya akan menaruh kecurigaan, seperti kalau kita menangkap saja mereka berempat?”

    “Tetapi lain” berkata Agung Sedayu “dalam hal ini, kawannya benar-benar telah melihat bahwa kuda itu menjadi liar dan melonjak-lonjak. Mereka masih mempunyai beberapa dugaan. Penunggangnya itu dibawa lari ketempat yang tidak diketahui, atau kemungkinan yang sebenarnya dapat terjadi seperti yang seorang itu.”

    Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Agung Sedayu berkata selanjutnya “Meskipun demikian, pasti juga ada dugaan bahwa orang-orangnya itu telah jatuh ketangan kita disini.

    “Orang itu bukan orang Kiai Damar.”

    “Orang siapa?”

    “Kiai Damar telah minta kepada orang lain untuk membantunya. Orang itu adalah salah seorang dari. orang-orang yang didatangkannya itu. Mungkin satu atau dua orang dari empat orang berkuda itu adalah orang-orang Kiai Damar, tetapi yang lain bukan.”

    Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku memerlukan keterangannya.” katanya.

    Sejenak kemudian Sutawijayapun sudah berdiri. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati orang yang sudah diikat pada tiang itu. Sambil mengacukan ujung tombak pada hidung orang itu ia bertanya “Jadi kau bukan orang Kiai Damar?”

    Orang itu tidak segera menjawab. Dipandanginya Sutawijaya dengan tajamnya.

    “O, kau baru memandang aku ? Kau ingin mengenal aku lebih baik lagi? Baiklah. Aku memang bernama Sutawijaya. Akulah yang sudah membunuh orang-orang yang melawan kehendak ayahanda Pemanahan yang ingin membuka hutan ini menjadi sebuah negeri yang besar. Mungkin memang akulah orang yang paling kejam didunia ini.

    “Sutawijaya berhenti sejenak, lalu “Sekarang jawablah, siapakah kau ini. Kalau kau bukan anak buah Kiai Damar, siapakah yang membawamu kemari”

    Orang itu masih berdiam diri. Dipandanginya Sutawijaya dengan tatapan mata yang aneh.

    “Kau memandang aku seperti memandang hantu” berkata Sutawijaya. “matamulah yang paling memuakkan bagiku. Karena itu, mata itulah yang akan aku ambil dari dalam rongganya dibatok kepalamu.”

    Tiba-tiba saja Sutawijaya sudah mendekat dan meraba dahinya sambil mengangkat ujung tombaknya “Jangan menyesal, bahwa untuk seterusnya kau tidak akan me wajahmu lagi. Kau tidak akan melihat hijaunya dedaunan dan semaraknya bunga kantil pada ujung batang dan ranting-rantingnya. Kau tidak akan dapat pula melihat fajar yang kemerah-merahan, membayang diujung langit diantara gemerlapnya bintang. Kau tidak akan melihat cahaya matahari pagi yang riang meloncat dldedaunan yang hijau. Sekarang, tengadahkan wajahmu, aku akan mengambil kedua biji matamu.”

    Ketika Sutawijaya menekan dahinya, tiba-tiba saja orang itu berteriak “Jangan, jangan.”

    “Apa peduliku ?”

    “Jangan. Aku tidak mau menjadi buta.”

    “Aku tidak peduli.”

    “Jangan. jangan.”

    Tiba-tiba saja Sutawijaya mencengkam baju orang itu, Sambil mengguncangnya ia bertanya mengejut “Siapa yang membawamu kemari? Siapa yang memperbantukan kau pada Kiai Damar.”

    “Ki Lurah” jawabnya menyentak pula.

    Sambil menarik leher baju orang itu Sutawijaya membentak lagi “Sebut namanya. Atau matamu akan meloncat keluar.”

    “Kiai Telapak Jalak.”

    Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Dilepaskannya baju orang itu. Terdengar ia menggeram “Ternyata keduanya adalah orang-orang yang menerima jalur perintah yang serupa. Sama sekali bukan kekuatan. yang terpisah seperti yang kita duga semula. Yang seolah-olah keduanya belum saling mengenal. Sekarang semuanya menjadi semakin jelas bagi kita.”

    Orang-orang yang mendengar keterangan itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Para pengawal yang mengikuti Sutawijayapun menjadi jelas pula. Semula mereka menganggap bahwa keduanya tidak mempunyai hubungan. Bahkan mereka menganggap bahwa Kiai Telapak Jalak dan Kiai Damar belum saling mengenal. Hanya kebetulan saja keduanya mampu berhubungan dengan hantu-hantu Alas Mentaok.

    Sambil memandang orang yang terikat itu, Sutawijaya berkata “Jadi sekarang Kiai Telapak Jalak juga ada disini?”

    Orang itu mengangguk meskipun tidak menjawab sama sekali.

    “Terima kasih. Aku mengerti, bahwa mereka akan rnenghancurkan barak ini dengan kekuatan yang mereka gabungkan itu. Itulah sebabnya kami harus bersiaga sepenuhnya.” berkata Sutawijaya.

    Kemudian kepada pengawalny a ia berkata “Kumpulkan orang-orang semuanya. Mereka harus menghentikan latihan-latihan mereka. Mereka harus mendapat penjelasan tentang keadaan yang sebenarnya. Mereka harus mendapat penjelasan pula tentang medan yang bakal mereka hadapi, karena aku yakin bahwa Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak tidak hanya akan sekedar bennain-main.”

    Lalu, sambil mengacukan tombaknya dimuka hidung orang yang terikat itu Sutawijaya bertanya “Apakah ada orang-orang tua atau orang-orang yang terpilih.”

    Orang yang terikat itu menggelengkan kepalauya.

    “Baiklah” berkata Sutawijaya “untuk sementar aku percaya. Dan untuk sementara kau dapat beristirahat bersandar tiang itu.”

    Sutawijayapun kemudian meninggalkan orang yang masih terikat itu. Sejenak kemudian ia sudah duduk diserambi bersama dengan Sumangkar dan Kiai Gringsing, beserta kedua muridnya.

    Dalam pada itu, maka orang-orang dari barak itupun sudah berkumpul pula. Para pengawal telah mencoba menjelaskan apa yang akan terjadi.

    “Kami sama sekali tidak berniat untuk menakut-nakuti kalian karena kalian memang bukan penakut. Tetapi kalian memang lebih baik mengetahui keadaan yang sebenarnya supaya kalian tidak terkejut karenanya, dan justru menjadi kehilangan akal. Sejak sekarang kalian sudah harus mempersiapkan hati kalian masing-masing untuk menghadapi keadaan yang bakal datang” berkata salah seorang pengawal kepada orang-orang dari barak itu.

    “Semuanya yang bakal terjadi memang tergantung sekali kepada kalian. Kalau kalian gigih mempertahankan diri, kalian akan selamal. Tetapi kalau kalian menyerahkan diri kalian kepada keadaan, kepada kehendak dan keputusan lawan, maka nasib kalianpun akan berada di tangan mereka. Kau dapat melihat beberapa contoh disini. Orang yang menyerahkan dirinya karena sebab apapun, akan mengalami nasib yang tidak menyenangkan. Karena itu, kalian tidak boleh mengalami hal itu. Kalian harus berjuang sebaik-baiknya.”

    Orang-orang yang mendengarkan uraian pengawal itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Seakan-akan mereka menyadari bahwa selama ini mereka telah dicengkam oleh ketakutan tanpa arti. Dan ketakutan mereka itulah yang telah membuat mereka hidup dalam keadaan yang sangat tertekan.

    Kini seakan-akan mereka menghadap kepada suatu keadaan. yang baru, yang diletakkan dihadapan mereka. Mereka mempunyai kesempatan untuk menentukan keadaan itu.

    Diserambi, Sutawijayapun telah berbicara panjang lebar dengan Kiai Gringsing dan Sumangkar, apakah yang sebenarnya mereka hadapi. Kiai Telapak Jalak menurut pendengaran Sutawijaya dari para pengawalnya adalah seorang yang memang pilih tanding. Itulah sebabnya maka mereka harus benar-benar berhati-hati.

    “Kita harus memperhitungkan setiap kemungkinan” berkata Kiai Gringsing “juga atas kemungkinan penggunaan racun.”

    “Ya”

    “Untunglah disini aku menemukan sejenis tumbuh-tumbuhan yang dapat menawarkan racun. Berhari-hari aku menyelidikinya, akhirnya aku berkesimpulan bahwa pohon itu memang mempunyai kekuatan penawar.”

    “Pohon apakah itu ?”

    “Daunnya kecil bersirip ganda.”

    “Darimana Kiai tahu ?”

    “Semula aku hanya menduga-duga. Pohon sejenis perdu itu terdapat banyak sekali dihalaman dukun yang terbunuh itu, seakan-akan sengaja telah ditanam. Dan agaknya memang demikian. Aku tidak pasti apakah kasiatnya. Tetapi karena dukun itu mempunyai kemampuan menawarkan racun, aku sudah berplkir kearah itu. Apalagi ketika didapur rumahnya yang kecil aku menemukan daun-daun pohon perdu itu yang sudah kering. Yang sudah dipanasi. Aku yakin bahwa dedaunan itu mengandung kasiat. Ternyata penyelidikanku berhasil. Dedaunan itu mempunyai kekuatan menawarkan racun. Yang aku belum tahu, sampai berapa lama kekuatan itu tetap ada didalam tubuh seseorang.

    Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak heran, kalau dalam setiap kesempatan seorang dukun seperti Kiai Gringsing itu melakukan percobaan-percobaan.

    Tetapi Sutawijaya berkata “Hal itu pasti akan menguntungkan sekali. Tetapi mudah-mudahan mereka tidak mempergunakan racun. Racun adalah bahan yang sukar dibuat, sehingga hanya orang-orang penting sajalah yang akan mempergunakannya.”

    “Ya. Mudah-mudahan. Tetapi kita harus selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan. Persediaan yang ada padaku sudah sangat menipis. Aku sudah cemas apabila pada suatu saat kita akan kehabisan penawarnya. Namun tiba-tiba aku telah menemukannya.”

    Demikianlah maka orang-orangyang berada dibarak itu sudah menyiapkan diri dalam segala kemungkinan. Ia yakin bahwa serangan yang bakal datang pasti sudah diperhitungkan benar-benar oleh Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak.

    Tetapi bahwa ada dua orang dari antara mereka yang hari ini tidak kembali, memang mungkin akan menumbuhkan persoalan-persoalan baru didalam lingkungan mereka.

    Tetapi agaknya Agung Sedayu sudah mempergunakan cara yang paling baik untuk dilakukan. Ia ingin membuat kesan, bahwa kedua orang itu sama sekali tidak ditangkap oleh Sutawijaya dan pengawalnya. Yang terjadi seolah-olah hanyalah sekedar kecelakaan.

    Sejenak kemudian maka persiapan para pengawal dan orang-orang dibarak itupun telah ditingkatkan pula. Swandaru masih sempat melepaskan tali kuda dari orang yang telah ditangkapnya. Tetapi kuda itu tidak dibawanya kembali kebarak, seperti yang direncanakan. Kiai Gringsing menasehatkan agar kuda itu dilepaskan saja. Kalau kawan orang yang tertangkap itu menemukannya, maka mereka pasti tidak akan segera menduga, bahwa kedua kawannya telah tertangkap. Mereka akan menyangka, bahwa keduanya mengalami kecelakaan selama kuda-kuda itu menjadi liar. Kiai Gringsing mengharap, bahwa mereka memperhitungkanya seandainya kawanntya tertangkap, pasti beserta kudanya sekaligus.

    Ternyata perhitungan Kiai Gringsing itu berhasil. Setelah dua orang dari keempat orang yang menyelidik barak itu berhasil kembali kesarang mereka maka mereka segera membuat rencana baru. Empat orang yang lain bersama dua orang yang sempat kembali itu telah dikirim untuk melihat keadaan dan mencari kedua kawannya yang hilang.

    Tetapi mereka hanya menemukan kuda-kuda yang lepas. Keduanya berusaha untuk kembali kesarang mereka. Dan kedua ekor kuda itu telah diketemukan oleh keenam orang yang mencarinya.

    “Dimana penunggangnya ?”salah seorang berdesis.

    “Kuda-kuda ini benar-benar menjadi liar.” sahut yang lain, yang melihat luka dipaha kudanya. Agaknya kuda itu telah berlari tanpa menghiraukan apapun juga, sehingga kaki-nya telah tergores sebatang ranting yang patah.

    “Bagaimanakah nasib penunggangnya ?”orang-orang itu masih saja bertanya-tanya.

    Namun dengan demikian mereka tidak lagi berusaha mendekati barak dari arah yang dilalui semula. Mereka mencari jalan lain untuk mencoba mendekat. Dengan demikian, mereka tidak menemukan tali-tali lulup yang telah di rentangkan oleh Swandaru dan Agung Sedayu diarah depan barak.

    Keenam orang itu telah melingkar agak jauh. Setelah, menambatkan kuda-kuda mereka, maka merekapun merayap mendekat Mereka ternyata datang dari arah belakang, sehingga dengan demikian, tidak benyaklah yang dapat mereka lihat.

    “Tidak ada persiapan yang khusus” desis salah seorang dari mereka. Dari kejauhan mereka memang melihat seseorang yang berdiri disudut barak Kemudian berjalan hilir mudik sejenak, lalu duduk dibebatur batu.

    “Mungkin orang itu memang sedang menjaga barak itu.” berkata salah seorang dari mereka. Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Sejenak mereka bersembunyi dibalik semak sambil memperhatikan barak itu baik-baik. Mereka mencoba untuk melihat kalau ada persiapan-persiapan khusus yang perlu mereka beritahukan kepada lurahnya.

    “Bukankah tidak ada hal-hal yang menarik perhatian” berkata salah seorang dari mereka.

    “Tidak” yang lain menyahut. “Adalah kebiasaan yang wajar bahwa satu dua orang berjaga-jaga disekitar tempat yang dihuni oleh orang-orang penting Kali ini Sutawijaya, meskipun aku kira hanya untuk waktu yang singkat. Tetapi sayang, bahwa ia tidak akan pernah kembali kepusat pemerintahan Tanah Mataram.”

    ‘“Apakah dengan demikian, kita tidak akan dimusnakan oleh Sultan Pajang?”

    Orang yang berbicara tentang Sutawijaya itu tersenyum “Memang orang-orang Kiai Telapak Jalak tidak banyak-yang mengetahui persoalan ini. Orang-orang Kiai Damarpun sangat terbatas sekali. Tetapi kami sudah mendapat penjelasan, bahwa Sultan Pajang menjadi sangat marah karena Mataram justru telah dibuka menjadi sebuah negeri.”

    “Siapa yang mengatakannya?” bertanya kawannya “aku kira itu mustahil sekali.”

    “Tetapi aku percaya. Kepergian Pemanahan tanpa pamit membuat Sultan Pajang marah. Dengan terpaksa sekali ia menyerahkan Alas Mentaok yang begitu saja dibuka oleh Pemanahan sebelum secara resmi Sultan memberikan, Jadi kemarahan Sultan Pajang kepada Sutawijaya, putera angkatnya yang sejak kecil dipelihara dengan baik, adalah wajar sekali.”

    “Omong kosong” tiba-tiba orang lain lagi memotong

    “seakan-akan kau seorang Tumenggung yang mengerti benar, akan persoalan itu. Kau pasti mendengar ceritera itu dari orang kelima, ketujuh atau bahkan keseratus kali dari sumbernya. Kita memang tidak tahu apa-apa. Kita amati saja barak itu. Kita laporkan apa yang kita lihat. Apakah Sultan Pajang akan murka atau tidak, itu bukan persoalan, kita disini.”

    Kawannya tersenyum. Wajah orang yang berseritera tentang Sultan Pajang itu menjadi kemerah-merahan. Tetapi sejenak kemudian iapun tersenyum pula. Katanya “Mungkin aku mendengar dari orang yang langsung berkepentingan.”

    “Uh, kau pasti mendengar ketika aku berceritera semalam” bantah kawannya yang memetong pembicaraannya. Lalu “Akupun hanya mendengar dari orang lain yang sedang mengisi waktunya dengan berbicara.”

    “He, apakah aku mendengar dari kau.”

    “Tentu. Kau mendengar dari aku, dan sekarang kau menceriterakannya kembali kepadaku. Sekarang kita tidak usah menghiraukannya lagi. Kita akan menghancurkaa barak ini. Hancur lebur menjadi abu yang paling lembut.”

    Kawannya mengangguk-angguk. Memang itulah tugas mereka. Apakah dengan demikian mereka akan dihancurkan oleh Sultan Pajang, atau justru akan mendapat hadiah Tanah Mataram, mereka tidak peduli

    “Apakah kita tidak perlu melihat bagian depan dari barak ini?”

    Kawannya menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Kita sudah melihat sebagian. Kalau kuda-kuda liar tadi berlari-larian sampai kedekat barak ini, maka orang-orang dibarak itu justru akan mengintai apakah ada orang-orang lain yang datang. Kalau kita gagal lagi, tidak akan ada keterangan yang akan sampai Kepada Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak tentang daerah ini.”
    yang lain tidak menyahut. Mereka memandang pemimpin kelompok yang harus membuat keputusan terakhir.

    “Kita sudah cukup” berkata pemimpin kelompok itu “kita yang hanya merupakan kelompok kecil ini memang sebaiknya tidak melakukan hal-hal yang sangat berbahaya. Misalnya melihat barak dari bagian depan.”

    “Jadi ?” bertanya salah seorang dari mereka.

    “Kita kembali dan melaporkan apa yang telah kita lihat”

    “Nanti malam kita akan menghancurkan semuanya itu. Kenapa Kiai Damar harus minta bantuan kami kalau yang dlhadapi hanya orang-orang malas didalam barak itu.”

    “Jangan berkata begitu” salah seorang menjawab “diantara mereka ada orang yang tidak terkalahkan.”

    “Suatu mimpi yang menarik” desis orang yang lain sambil tertawa.

    “Coba sajalah nanti malam. Lehermu akan terjerat oleh ujung cambuk.

    “Memang mimpi yang buruk. Orang-orang tidak terkalahkan yang bersenjata cambuk.”

    Yang lain tidak menjawab lagi meskipun hatinya menjadi panas. Tetapi ia yakin bahwa apabila orang-orang Kiai Telapak Jalak itu sudah mengalaminya sendiri, maka mereka pasti akan berkata lain.

    Tetapi salah seorang dari orang-orang Kiai Telapak Jalak itu masih berkata “Nanti malam aku akan menangkap orang-orang bercambuk itu. Aku ingin menunjukkan kepada kalian bahwa mereka tidak lebih dari penghuni-penghuni barak yang lain”

    Kawannya berbicara masih tetap berdiam diri saja, meskipun hatinya mengumpat-umpat.

    Demikianlah, maka sekelompok kecil orang-orang yang mengintai barak itu kemudian menarik diri masuk kedalam gerumbul yang lebih lebat lap. Sejenak kemudian merekapun telah menghilang dan kembali kepada kuda-kuda mereka.

    “Kita harus segera memberikan laporan” berkata pemimpin kelompok itu “semua jalan sudah rata. Kita akan segera dapat menyelesaikan tugas ini. Kita harus kembali segera kedaerah garapan kami yang sampai saat ini masih dapat kami pelihara dengan baik. Tetapi kalau orang-orang didalam barak ini tidak dihancurkan, maka mereka pasti akan menyebarkan berita yang sangat merugikan bagi kita.”

    Merekapun kemudian berloncatan keatas punggung kuda masing-masing. Sejenak kemudian kuda-kuda itupun segera berderap dan menghilang didalam rimbunnya semak-semak.

    Yang sama sekali tidak mereka ketahui, bahwa sepasang mata selalu mengikuti mereka sejak mereka datang, bersembunyi didalam semak-semak dibelakang barak dan kemudian kembali kekuda-kuda mereka.

    Setelah orang-orang itu hilang dibalik semak-semak, maka orang yang mengikuti mereka itupun berdiri tegak sambil menggeliat Agaknya punggungnya terasa pegal-pegal setelah sekian lama terbungkuk-bungkuk sambil menahan nafas.

    “Nanti malam agaknya mereka akan kembali desis orang itu yang tidak lain adalah. Kiai Gringsing. Kecurigaannya bahwa akan ada orang baru lagi yang menyelidiki barak itu serta mencari kawannya ternyata benar. Ia berhasil melihat sekelompok kecil orang-orang yang ingin melihat-lihat barak dan kesiagaannya itu.

    “Untunglah bahwa latihan-latihan sudah selesai. Kalau masih, mereka pasti mempunyai perhitungan lain. Mereka pasti akan memperkuat pasukan mereka dan mereka akan lebih berhati-hati. Kini yang mereka perhitungkan adalah Sutawijaya dan pengawalnya katanya didalam hati “Tetapi sudah tentu Kiai Telapak Jalak sendiri akan mengambil kesimpulan lain. Agaknya Kiai Telapak Jalak termasuk orang yang agak lebih tinggi tingkat ilmunya dari Kiai Damar. Dan rencana mereka benar-benar bukan rencana yang tanggung-tanggung. Memusnakan seluruh isi barak ini sampai lumat.”

    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Seisi barak itu harus benar-benar bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Ia tidak tahu pasti. berapakah jumlah orang-orang yang nanti malam akan menyerang barak ini. Ia juga tidak mengetahui, ada berapa orang yang perlu diperhitungkan untuk mendapat perlawanan khusus.

    “Untunglah adi Sumangkar datang menjemput Swandaru dalam keadaan yang sulit dan berbahaya ini. Kalau tidak, mungkin kami akan mengalami banyak kesulitan” desisnya.

    Kiai Gringsingpun kemudian segera kembali kebarak. Ia segera memberitahukan apa yang dilihatnya kepada Sutawijaya.

    “Jadi nanti malam mereka akan datang?”

    “Menurut orang-orang itu.”

    Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia harus mempersiapkan penyambutan sebaik-baiknya. Semua kekuatan harus dikerahkan karena mereka tidak mendapat gambaran yang pasti dari kekuatan lawan. Yang dapat menjadi bahan pertimbangan adalah, bahwa dua kekuatan yang ada diujung-ujung hutan ini telah dipersatukan untuk membinasakan isi barak ini.

    Setiap orang didalam barak itu menyadari. Sutawijaya memang tidak merahasiakan lagi apa yang akan terjadi. Bahkan sekali lagi ia minta para pengawalnya menjelaskan semuanya itu.

    “Mereka akan membinasakan barak ini menjadi debu. Semua orang akan dibunuh tanpa ampun. Mereka ingin melenyapkan segala macam ceritera tentang daerah ini. Kegagalan mereka menakut-nakuti kalian sebagai hantu Alas Mentaok. Mereka menjaga agar kegagalan itu tidak akan menjalar kedaerah-daerah lain. Dengan demikian mereka harus menghapuskan sumber yang dapat menyebarkan ceritera itu. Yaitu kita semua. Kita semua akan mereka bunuh. Bahkan bukan hanya laki-laki saja, tetapi juga perempuan dan anak-anak.”

    Berita itu memang menumbuhkan ketakutan yang tiada taranya. Perempuan-perempuan mulai menggigil memeluk anak-anak mereka yang dengan heran melihat ibunya menitikkan air matanya

    “Kenapa kita dahulu tersesat keneraka ini” keluh seorang perempuan sambil menciumi anaknya.

    Akibat yang timbul dari ketakutan itu ternyata luar biasa. Laki-laki yang semula gemetar mendengar ancaman itu, tiba-tiba menggeretakkan giginya melihat isterinya menangisi anaknya yang masih bayi.

    “Anak itu tidak tahu apa-apa” laki-laki itu menggeram didalam hatinya.
    Demikianlah tekad yang bulat telah menggelepar. didalam dadanya “Biarlah aku mati. Tetapi perempuan dan anak-anak harus diselamatkan.”

    “Nah” berkata para pengawal kemudian “sekali lagi tergantung kepada kita disini. Apakah kita akan menyerahkan leher kita, leher isteri-isteri tercinta dan anak-anak tersayang kepada serigala-serigala yang buas itu, atau kita masih berusaha untuk mempertahankan diri dan mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan.”

    Demikianlah, ancaman itu justru telah menumbuhkan, kebulatan tekad bagi setiap laki-laki dibarak itu untuk mempertahankan dirinya. Mereka telah menemukan kesadaran, berbuat sesuatu atau tidak, mereka akan dibinasakan, Diampuni mereka akan dibinasakan juga Dari pada mati berpeluk tarigan, lebih baik mati bertolak pinggang.

    Dengan demikian, maka setiap orang kemudian telah menyatakan dirinya untuk ikut didalam perlawanan. Bahkan orang tua-tuapun telah menyatakan kesediaannya pula. Seorang yang berambut seputih kapas mengacukan tangannya sambil berkata “Akupun pernah menjadi pengawal pedesaanku. Aku pernah berlatih mempergunakan senjata. Berilah aku senjata. Aku akan berkelahi.”

    Para pengawal mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi menurut pembagian tugas yang telah mereka perbincangkan, orang-orang tua akan menjaga pintu-pintu barak. Mereka baru akan berkelahi didalam perlawanan yang terakhir, apabila ada satu dua orang lawan yang berhasil menembus pertahanan dan sengaja akan melakukan perbuatan terkutuk dan tidak berperikemanusiaan terhadap perempuan dan anak-anak. Bahkan salah seorang pengawal berkata kepada perempuan yang mendukung anak-anak mereka “Bukan saja laki-laki tetapi setiap ibu yang mendukung anaknyapun pasti akan mempertahankan anak-anaknya dengan cara apapun.”

    Demikianlah seisi barak itupun benar-benar telah dibakar oleh kesiagaan tertinggi dengan tekad yang membara didalam hati. Mereka sadar, bahwa laki-laki adalah tempat bergantung bagi seluruh keluarga, juga didalam keadaan yang paling gawat, sehingga sepantasnyalah laki-laki mempertaruhkan nyawa mereka untuk anak dan isteri.

    “Kita menunggu sampai hari menjadi gelap” berkata Sutawijaya “kita tidak tahu, apakah disekeliling kita tidak ada satu dua orang yang sedang mengintai kita.”

    Ketika senja sudah turun, ternyata bahwa Sutawijayapun telah mengirimkan beberapa orang kesekeliling barak itu untuk melihat saat-saat lawan mereka mendekati barak. Mereka harus segera mengirimkan tanda dengan panah sendaren apabila keadaan sudah meningkat menjadi semakin gawat.

    “Aku ikut dengan kalian” berkata Swandaru.

    “Kau tetap disini” berkata Sutawijaya “kita akan memperhitungkan setiap persoalan yang timbul”

    Swandaru tidak segera menjawab. Tetapi dipandanginya Agung Sedayu dengan tatapan mata yang gelisah.

    “Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

    Agung Sedayu justru tersenyum. Katanya “Kenapa tidak kau katakan saja supaya para pengawas itu tidak terperosok kedalam pasanganmu?”

    “Apa yang sudah kau lakukan?” bertanya gurunya.

    “Kami memasang perangkap. Kami telah merentangkan tali-tali lulup disemak-semak sebelah.”

    “Kenapa kau pasang tali-tali itu?”

    “Kami ingin menahan laju orang-orang yang menyerang barak ini.”

    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi seperti Sutawijaya dan Sumangkar iapun tersenyum “Agaknya perangkapmu itu pula yang telah menjerat kaki-kaki kuda yang menjadi liar itu.”

    “Ya. Tetapi aku cemas, bahwa justru pengawas kita sendiri yang terjerat kakinya. Karena itu, aku akan ikut serta dan menunjukkan jerat-jerat yang telah kami pasang.”

    Tetapi Sutawijaya menggeleng “Tidak. Asal saja mereka sudah mengetahuinya, mereka akan berhati-hati Mereka akan selalu mengingat-ingat, dimana mereka menemukan Jerat.”

    Swandaru mengangguk. Tetapi ia masih tetap mencemaskan para pengawas. Kalau mereka tergesa-gesa mundur apabila lawan sudah mendekat, maka mereka tidak akan lagi dapat mengingat tali yang terentang itu.

    Tetapi Swandaru tidak dapat berbuat lain. Sutawijaya telah memutuskan mengirim tiga orang pengawas yang terpisah. Mereka hanya sekedar memberikan tanda-tanda. Tetapi mereka sendiri harus segera bergabung dengan induk pasukan.

    Demikianlah, maka ketiga orang itupun segera berpencar setelah Swandaru menunjukkan kepada mereka, dimana ia merentangkan tali-tali lulup. Bahkan ada diantaranya yang diikat berganda.

    Sepeninggal orang-orang itu, gelap malam telah menyelubungi barak yang terpencil itu. Sutawijayapun kemudian memerintahkan setiap kelompok yang sudah disusun mulai menyiapkah dirinya. Mereka harus siap disegala saat. Karena itu, maka senjata-senjata mereka tidak boleh terpisah lagi dari tangan masing-masing.

    Selaan tiga orang yang memencar, Sutawijaya juga meletakkan beberapa orang pengawas dekat diluar halaman barak itu. Seandainya para pengawas yang berpencar itu tidak berhasil melihat gerakan lawan, dan tiba-tiba saja mereka telah berada didekat halaman, maka masih ada juga yang sempat memberikan tanda bagi orang-orang yang sudah siap menunggu itu.

    Demikianlah, sekejap demi sekejap, malam merayap semakin dalam. Gelap yang menjadi semakin pekat telah membatasi jarak pandangan orang-orang yang ada diserambi barak.

    Apalagi malam itu, diserambi sama sekali tidak dipasang lampu minyak seperti biasa. Tetapi kali ini lampu minyak yang biasanya tergantung diserambi telah digantungkan pada sebatang pohon disudut halaman dan yang lain dimulut regol butulan yang tertutup rapat. Bahkan lampu didalam barakpun seakan-akantidak sempat menembus lubang-lubang dinding karena memang sengaja diredupkan, dan bahkan ditutup dengan helai-helai daun pisang.

    Tetapi dalam pada itu, di serambi dan disegala sudut barak, setiap laki-laki telah siap menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi

    “Kalau kalian bingung menghadapi seseorang, apakah ia lawan atau bukan, sebutlah kates sandi yang sudah kita tentukan. Kalau orang itu tidak menjawab, maka ia pasti lawan yang harus kita hadapi.” berkata para pengawal.

    Semua orang didalam barak itu sudah mengenal kata-kata sandi yang harus mereka ucapkan. Mereka tidak boleh melupakannya agar tidak menimbulkan salah paham diantara kawan sendiri

    Dilangit perlahan-lahan bintang gemintang bergeser ke Barat. Angin malam yang sejuta berhembus disela-sela dedaunan mengusap wajah-wajah yang tegang disekitar barak itu. Derik belalang didaun ilalang terdengar sahut menyahut tidak putus-putusnya.

    “Kalian dapat menunggu sambil beristirahat” berkata salah seorang pengawal yang memimpin sekelompak kecil laki-laki penghuni barak itu” duduklah. Berbuatlah seenaknya seperti tidak akan terjadi apa-apa, meskipun dalam kesiap siagaan, Kita akan mendapat tanda apabila bahaya itu sebenarnya akan datang.

    Seorang laki-laki muda tiba-tiba menjawab “Mereka akan datang dekat tengah malam”

    “Darimana kau tahu?” bertanya pengawal itu.

    “Demikianlah kebiasaan mereka. Selagi mereka masih bermain hantu-hantuan, mereka datang dekat tengah malam. Aku kira kali inipun mereka akan datang dekat tengah malam.”

    “Memang masuk akal. Mereka tidak akan dapat meninggalkan kebiasaan mereka yang sudah berlangsung lama. Didaerah Selatan, hantu-hantu itu juga keluar dekat tengah malam. Kamipun pernah terjebak dalam kepercayaan atas hantu-hantu itu, meskipun kami ragu-ragu. Tetapi sekarang kami yakin, bahwa yang terjadi didaerah Selatan tidak banyak bedanya dengan daerah ini. Agaknya kedatangan laki-laki yang bersenjata cambuk bersama dua orang anaknya itu sangat menentukan bagi daerah ini dan bahkan ujung-ujung yang lain dari daerah yang sedang dibuka ini”

    “Ya, orang-orang itulah yang dengan caranya yang kadang-kadang aneh dan tidak kami mengerti, akhirnya mengungkapkan semuanya yang selama ini masih gelap bagi kami disini. Hantu-hantu, Jerangkong, kuda semberani dan segala macam lagi Tetapi kini kami sudah berdiri berhadapan dalam keadaan yang pasti Apapun yang akan terjadi.”

  13. lanjut s/d akhir

    Karena itu, maka orang itu terpaksa berpikir, apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk menang. Tetapi sudah tentu, bahwa ia tidak akan bersedia menyerahkan dirinya. Sebab ia sadar, akibat apa yang dapat timbul apabila ia jatuh ketangan para pengawal Tanah Mataram ini.

    ……….. dst silahkan lihat di pendopo utama (GD)

  14. “anak bengal” desis Agung Sedayu sambil tersenyum.

    lha sing dikarepna sapa ya…..?????

    • “tamtu si anak Ki Sura Bengal”penguasa Alas Mentaok
      sisi selatan itoe…..Hikss, 🙂 🙂

      • ,,manak..eh…masak sih.. 😀

        • ,,manuk..eh…masuk sih.. 😀

          • Mathuk…eh…..manthuk sih…..

            (hora bisa masangi
            gambar wong
            mringis je….)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: