Buku 58

Sutawijaya tertawa. Tetapi pengawas yang berdiri di belakangnya, yang membawa laporan kepada putera Pemanahan itu menjadi terheran-heran. Ia sama sekali tidak menyebutkan pakaian orang tua itu, apalagi menyebutkan berkain gringsing. Ia hanya mengatakan bahwa gembala itu bersama dua anaknya bersenjata cambuk.

“Inilah tempat yang ada,” berkata pemimpin pengawas yang terluka itu. “Kami tidak dapat mempersilahkan pada tempat yang lebih baik.”

Sutawijaya memandang pemimpin pengawas itu sejenak, lalu, “Agaknya lukamu cukup parah. Beristirahatlah. Jangan kau risaukan tempat untuk rombongan kami. Kami adalah sama-sama prajurit dan pengawal Tanah yang baru dibuka ini. Kami harus menyesuaikan diri di dalam segala keadaan.”

Pemimpin pengawas itu menganggukkan kepalanya

“Aku ingin mendengar berita tentang daerah ini. Biarlah kawanmu yang kemarin datang ke Mataram berceritera tentang perjalanannya yang sangat berat, sehingga salah seorang dari mereka telah menjadi korban.”

“He?” pemimpin pengawas itu terkejut. Sutawijaya berpaling kepada pengawas yang datang kepadanya sambil berkata, “Nanti kau ceriterakan perjalananmu dan Wanakerti kepadanya. Sekarang aku ingin mendengar laporannya tentang daerah ini.”

Pemimpin pengawas itu termangu-mangu sejenak. Lalu, “Tetapi kami ingin mempersilahkan Tuan duduk sejenak.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kemudian berjalan ke serambi barak bersama pemimpin pengawas itu, Kiai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru, dan Sumangkar.

“Apakah kau juga seorang gembala?” bertanya Sutawijaya kepada Sumangkar sambil tertawa. “Jika kau juga seorang gembala tunjukkan cambukmu kepadaku.”

Sumangkar tersenyum. Sambil membungkukkan badannya ia berkata, “Yang aku gembalakan bukan domba, Tuan. Tetapi diriku sendiri.”

Sutawijaya pun tertawa pula.

Ternyata sikap Sutawijaya kepada keempat orang itu membuat pemimpin pengawas dan para pengawas yang lain menjadi heran. Bahkan orang-orang yang kemudian berkerumun di bawah tangga serambi pun menjadi heran pula. Tetapi mereka tidak bertanya apa pun tentang mereka.

Tetapi ketika mata Sutawijaya menyentuh orang-orang yang terbaring di ujung serambi itu pun ia mengerutkan keningnya. Dan sebelum ia berkata sesuatu, pemimpin pengawas itu sudah mendahuluinya, “Itulah yang akan aku laporkan kepada Tuan.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kemudian duduk di serambi itu di atas tikar yang sudah kumal, sedang para pengiringnya tetap berada di halaman.

Sejenak Sutawijaya masih memandangi orang-orang yang terbaring di ujung serambi itu. Sedang orang-orang yang terluka itu pun menjadi semakin cemas karenanya. Yang datang ternyata adalah pemimpin tertinggi dari Mataram. Beberapa di antara mereka yang sudah dapat duduk bersandar din-ding, tiba-tiba telah membaringkan dirinya pula di samping kawan-kawannya.

“Itulah hantu-hantu Alas Mentaok yang kamanungsan,” berkata Kiai Gringsing.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hantu-hantu yang malang. Apakah mereka kehilangan kesaktian mereka untuk melenyapkan diri?”

“Hantu-hantu yang sudah terlanjur tersentuh tangan manusia tidak akan dapat melenyapkan dirinya lagi. Itulah sebabnya aku katakan kepada Tuan, mereka adalah hantu yang kamanungsan. Apalagi sesudah matahari terbit, me-reka tidak akan berdaya sama sekali.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah mereka sudah dapat diajak berbicara dengan bahasa manusia.”

“Tentu, Tuan, tetapi luka-luka mereka kadang-kadang masih mengganggu. Mungkin Tuan harus menunggu beberapa saat. Kalau keadaan mereka menjadi baik, maka mereka akan segera dapat menjawab pertanyaan yang diberikan kepada mereka.”

Sutawijaya masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia bertanya, “Darimana kalian dapat menangkap hantu-hantu itu?”

“Mereka datang sendiri kemari. Semalam,” jawab Kiai Gringsing.

“Menyenangkan sekali,” desis Sutawijaya. Orang-orang yang terluka itu mendengarkan percakapan Sutawijaya dan gembala tua yang bersenjata cambuk itu dengan hati yang terasa menjadi semakin panas. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi sekarang, di hadapan pemimpin tertinggi Mataram yang membawa beberapa orang pengawal.

Kiai Gringsing pun kemudian berkata kepada pemimpin pengawas itu, “Kaulah yang berkewajiban untuk menyampaikan laporan tentang keadaan di daerah ini.”

“Ya. Akulah yang berkuwajiban,” tetapi ia kemudian berkata kepada Sutawijaya, “Tetapi maaf Tuan. Ternyata Ki Truna Podang lebih banyak mengetahui keadaan di daerah ini daripada aku. Apalagi setelah aku terluka. Karena itu, apabila Tuan tidak berkeberatan, biarlah Ki Truna Podang sajalah yang memberikan laporan tentang daerah ini atas namaku.”

“O, jadi orang inilah yang bernama Truna Podang.”

Pemimpin pengawas itu justru menjadi termangu-mangu, sedang pengawas yang membawa laporan ke Mataram pun, yang mendengar juga dari bawah tangga, menjadi heran. Ia memang menyebut nama orang tua itu Truna Podang, gembala yang bersenjata cambuk.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah. Mungkin aku dianggap orang yang banyak berbicara, sehingga akulah yang paling pantas untuk menyampaikan laporan ini.”

“Ah,” pemimpin pengawas itu berdesah. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak menyatakan keheranannya, bahwa di hadapan Raden Sutawijaya, gembala tua itu seakan-akan berbicara sesuka hatinya. Dan agaknya Sutawijaya sendiri bersikap aneh pula terhadap gembala itu beserta anak-anak dan tamunya.

Kiai Gringsing pun kemudian menceriterakan kepada Sutawijaya apa yang sudah terjadi di sekitar barak itu. Diberinya sedikit pengantar tentang apa yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Pertentangan-pertentangan yang timbul, sikap yang kasar dan mencurigakan. Kemudian perselisihan di antara mereka sendiri. Akhirnya terjadilah peristiwa semalam. Dan Kiai Gringsing tidak lupa pula mengatakan, bahwa mereka telah membunuh kawan-kawan mereka yang tidak mereka perlukan lagi.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Samar-samar ia dapat membayangkan apa yang sudah terjadi. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Apakah jadinya kalau Kiai Gringsing tidak datang ke tempat ini.”

Namun dengan demikian Sutawijaya segera dapat mengambil kesimpulan pula, bahwa di tempat-tempat lain yang selalu diganggu oleh hantu-hantu itu pun pasti terjadi persoalan yang serupa. Yang mengganggu itu pasti sama sekali bukan hantu, seperti yang terjadi di tempat ini.

“Jika demikian, mereka pasti mempunyai kekuatan yang cukup dan jumlah orang yang memadai. Mereka ternyata menguasai daerah yang luas di sekitar Alas Mentaok. Hampir setiap daerah pembukaan hutan, hantu-hantu itu selalu mengganggu mereka dan berusaha mendesak mereka keluar dari tlatah hutan Mentaok.”

“Kita sudah dapat menduga, apakah maksud mereka. Tetapi maksud yang lebih dalam lagi, kita masih harus meraba-raba.”

“Ya. Mula-mula mereka akan menggagalkan pembukaan hutan ini. Selanjutnya, kita belum tahu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kita mempunyai beberapa orang tawanan. Kita akan segera dapat bertanya kepada mereka apabila keadaan mereka berangsur baik.”

“Ya. Tetapi apakah peristiwa ini tidak akan mempengaruhi sikap mereka di daerah-daerah yang lain?”

“Memang mungkin. Tetapi aku kira mereka sedang memusatkan perhatian mereka di tempat ini. Di tempat yang mereka anggap tidak menguntungkan dan berbahaya.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Sebagai seorang pemimpin ia tidak membatasi sudut pandangannya sekedar daerah yang sedang dihadapinya. Tetapi Sutawijaya mulai membuat gambaran apa yang dapat terjadi di daerah-daerah lain. Mungkin pembalasan dendam, mungkin pelepasan sakit hati atau semacam itu. Bahkan di beberapa tempat yang masih belum mendengar peristiwa ini, pasti masih selalu dibayangi oleh ketakutan karena hantu-hantu Alas Mentaok.

Tetapi agaknya hantu-hantu itu kini memang justru sedang menyoroti daerah yang mereka anggap sebagai pintu gerbang dari kegagalan mereka. Meskipun mereka dapat berbuat banyak di daerah lain, namun dari daerah ini pasti akan tersebar berita tentang peristiwa yang telah terjadi di sini.

Sementara itu Sutawijaya masih merenungi daerah yang sedang dibinanya. Mataram. Daerah yang sedang dikembangkannya menjadi suatu negeri yang ramai. Namun kini ia harus menghadapi rintangan yang cukup berat baginya.

Sejenak kemudian maka Sutawijaya itu pun berkata, “Aku mempunyai perhitungan, bahwa mereka, maksudku orang-orang yang tidak kita kenal itu, pasti sedang menyiapkan orang-orangnya yang terpencar. Mereka pasti menyiapkan diri untuk suatu tindakan yang cermat atas daerah ini. Mereka ha-rus dapat menyembunyikan kekalahan mereka serapat-rapatnya, supaya mereka masih mempunyai lapangan yang luas untuk membuat rencana-rencana baru bagi daerah-daerah yang lain.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,” jawab orang tua itu, “Beberapa dari orang-orang mereka itu tertawan di sini. Mereka pasti mempunyai rencana untuk itu. Mengambil mereka, atau membinasakan mereka sama sekali.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Bahkan mungkin ia akan berbuat lebih jauh lagi di sini.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya halaman yang terhampar di depan barak itu. Kemudian pepohonan yang jarang, dikelilingi oleh pagar yang lemah. Di muka barak itu sebuah jalan menghubungkan regol halaman ini dengan gardu pengawas yang kosong. Sedang ujung lain adalah barak yang sebuah lagi.

“Untuk sementara kita hanya dapat bertahan,” berkata Sutawijaya. “Aku tidak memperhitungkan sampai sejauh ini ketika aku belum melihat keadaan terakhir. Sedang para pengawas yang datang ke Mataram itu pun masih belum dapat mengatakannya, karena hal itu terjadi setelah mereka meninggalkan tempat ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah ada di antara mereka yang sudah dapat diajak berbicara?” bertanya Sutawijaya.

Kiai Gringsing mengangguk.

“Ada dua atau tiga orang yang meskipun tidak terlalu banyak, dapat dimintakan keterangan kepada mereka.

“Aku ingin berbicara dengan mereka. Sedikit saja.”

“Silahkan.”

Sementara orang-orang di dalam barak itu menyediakan minuman panas untuk Sutawijaya dan pengiringnya, Sutawijaya sendiri bangkit berdiri diikuti oleh Kiai Gringsing mendekati orang-orang yang terluka.

“Orang yang berdahi lebar itulah yang agaknya dapat dibawa berbicara meskipun tidak terlampau banyak. Lukanya tidak begitu parah. Bahkan ia sudah dapat duduk bersandar dinding.”

Sutawijaya memandang orang yang berdahi lebar itu. Katanya kemudian, “Apanya yang terluka?”

“Pundak dan lambungnya. Darahnya kadang-kadang masih mengalir apabila ia terlalu banyak bergerak. Orang ini agak keras kepala. Kadang-kadang ia menggeliat atau bangkit dengan tiba-tiba.”

“Tetapi masih ada tempat untuk mencekiknya atau menikam dengan keris pusaka ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya mendengar jawaban Sutawijaya itu. Apalagi ketika Sutawijaya kemudian berdiri setapak di samping orang itu.

“Siapa namamu?” bertanya Sutawijaya.

Orang itu tidak menyahut.

“Siapa namamu?”

Orang itu masih diam saja.

“Kau tidak mau menjawab? Baiklah. Sekarang aku bertanya tentang yang lain. Siapakah pemimpin yang tertinggi yang kau kenal di dalam gerombolanmu. Katakanlah, hantu yang paling tinggi derajatnya. Apakah kau kenal?”

Orang itu tidak menyahut.

“Dan berapa orang yang ada di dalam lingkunganmu seluruhnya yang tersebar di hutan ini?”

Orang itu sama sekali tidak menjawab.

Tetapi orang yang berdahi lebar itu, bahkan kawannya yang berbaring di sekitarnya, terkejut ketika tiba-tiba saja Sutawijaya tertawa, “Bagus. Memang seharusnya kau tidak menjawab. Kau adalah laki-laki yang sudah berjanji untuk terjun ke dalam dunia yang hitam. Karena itu, kau harus tetap bertekad di dalam keadaan apa pun juga untuk bersatu di dalam ikatan batin dengan kawan-kawanmu, meskipun kadang-kadang pemimpinmu sendiri kurang mempercayaimu. Terbukti ada di antara kawan-kawanmu yang mati terbunuh oleh pemimpin-pemimpinmu sendiri, pemimpin-pemimpin kecil.” Sutawijaya berhenti sejenak, lalu, “Nah, sebelum kau dibunuh oleh kawan-kawanmu sendiri, kau harus menunjukku bahwa kau adalah seorang laki-laki. Ketahuilah, bahwa pada suatu saat, kalian akan kami tempatkan di halaman ini sambil mengikat kalian pada tiang-tiang. Kalian akan menjadi sasaran latihan memanah yang baik sekali bagi kawan-kawan kalian yang bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul liar di sekitar banjar ini. Kalau mereka tidak pandai memanah, maka mereka akan merayap dengan diam-diam mendekati kalian di malam hari, dan menikam dada kalian dengan keris, atau dengan tombak. Apakah kalian mengerti?”

Orang itu masih membeku. Tetapi wajahnya menjadi tegang. Bahkan kawan-kawannya yang lain, yang terluka parah pun menjadi semakin kecut.

“Tetapi sebelum itu, kami akan berusaha memeras keterangan dari kalian dengan segala cara. Kami tahu, bahwa kalian adalah orang-orang jantan, yang tidak akan membuka mulut kalian. Karena itulah maka kami akan memperlakukan kalian sebagai laki-laki jantan. Kami akan menyiksa kalian dengan cara yang paling kejam yang pernah disebut oleh manusia beradab.”

Kata-kata Sutawijaya itu benar-benar telah mengejutkan orang-orang yang mendengarnya. Bukan saja orang-orang yang sedang terluka, yang terbaring sebagai tawanan, tetapi juga orang-orang di barak itu. Bahkan Kiai Gringsing dan kedua muridnya serta Sumangkar pun menjadi heran pula.

“Apakah kemarahan Raden Sutawijaya benar-benar telah sampai ke puncak ubun-ubunnya, sehingga ia akan memperlakukan orang-orang yang sudah tidak berdaya itu sedemikian kejamnya,” pertanyaan itu timbul di setiap dada.

Namun demikian, ada juga orang-orang yang berkata di dalam hati. “Nah, ternyata putera Ki Gede Pemanahan pun memperlakukan demikian. Kenapa orang tua dan kedua anak-anaknya itu telah mencegah kami? Seandainya Raden Sutawijaya itu ada di sini, aku kira kita akan dapat melakukannya, meskipun harus membiarkan dua atau tiga di antaranya tetap hidup untuk memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan.”

Tetapi kini tawanan-tawanan itu sudah berada di tangan Sutawijaya. Orang-orang yang masih dibakar oleh dendam itu hanya dapat menunggu. Mungkin mereka akan mendapat giliran pula untuk melepaskan sakit hati mereka

“Bersiaplah,” berkata Sutawijaya, “kau, orang yang berdahi lebar yang tidak mau menyebut namanya dan tidak mau menjawab semua pertandaanku itulah yang harus mengalaminya pertama-tama. Kau tidak berkeberatan?”

Wajah orang itu menjadi pucat

“He, kenapa kau menjadi pucat seperti orang yang ketakutan? Bukankah kau seorang laki yang sudah menentukan sikap? Jangan menjadi pengecut. Jangan membuat lingkungan yang kau pilih menjadi malu. Kau harus mene-ngadahkan wajah dan dadamu sambil berkata, “Inilah aku. Salah seorang dari segerombolan orang-orang yang telah menghimpun diri dengan rahasia. Kami terdiri dari laki-laki jantan yang tidak gentar menghadapi setiap kemungkinan” Bukankah begitu? Dengan demikian kau masih dapat berbangga di saat-saat terakhir.”

Orang berdahi lebar itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi semakin pucat.

“Bawalah orang ini,” perintah Sutawijaya sambil berpaling kepada pengiringnya, “bawalah orang ini ke belakang barak ini. Aku ingin melihat, sampai di mana ia mempertahankan kejantanannya. Sediakan sepotong dahan cangkring yang berduri rapat dan semangkuk air garam.”

“Jangan, jangan,” tiba-tiba orang berdahi lebar itu berteriak.

“Kenapa kau berteriak seperti seorang pengecut? Kau adalah seorang laki-laki. Sebelum dadamu remuk dan kulitmu terluka arang kranjang, kau tidak boleh menjawab setiap pertanyaanku. Dengan demikian kau akan menodai kejantanan kalian.” Lalu sekali lagi Sutawijaya memerintahkan kepada pengiringnya, “Bawa orang ini ke belakang barak.”

Ketika beberapa orang naik ke serambi, orang itu tiba-tiba bangkit berdiri. Dengan sisa tenaganya ia ingin meloncat dan berlari. Tetapi ternyata Sutawijaya benar-benar tangkas. Dengan cepatnya ia menangkap lengan orang itu dan menariknya, “Kau mau lari?”

“Ampun,” teriaknya. Lukanya tiba-tiba terasa menjadi demikian sakitnya disertai dengan perasaan takut yang luar biasa.

“Jangan meronta-ronta seperti kanak-kanak,” berkata Sutawijaya, “lukamu akan berdarah lagi.”

“Jangan, jangan,” orang itu masih tetap meronta ketika dua orang pengawal memegang lengannya dan membawanya turun dari serambi.

“Jagalah luka-lukamu. Kenapa kau tiba-tiba saja menjadi seorang pengecut.”

Orang itu tidak sempat menjawab. Ia masih saja berteriak dan meronta-ronta. Tetapi kedua pengawal itu membawanya langsung ke belakang serambi.

“Seorang pun tidak boleh melihat caraku memeriksa orang itu,” berkata Sutawijaya sambil mengedarkan pandangan matanya. “Para pengawalku akan menjaga. Siapa yang memaksa ingin melihat, akan mengalami nasib yang serupa dengan orang itu. Aku tidak ingin kalian tidak dapat tidur sepanjang hidup kalian karena kalian melihat, bagaimana aku menyiksa orang yang tidak mau menjawab pertanyaanku. Hanya orang-orang yang aku tunjuk sajalah yang boleh mengikuti aku.”

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

“Aku minta perintah ini ditaati,” berkata Sutawijaya kemudian. Dan diperintahkannya para pengawalnya untuk mengawasi orang-orang di barak itu. Katanya kemudian, “Para tawanan ini pun harus diawasi baik-baik. Siapa yang mencoba melarikan diri, ia pasti akan menyesal, karena ia akan me-ngalami perlakuan yang lebih mengerikan.”

Barak itu telah dicengkam oleh kengerian yang memuncak. Dada mereka menjadi tegang dan darah mereka serasa menjadi semakin lambat mengalir.

Sutawijaya kemudian meninggalkan serambi itu, pergi ke belakang barak. Yang dibawanya adalah Truna Podang beserta kedua anaknya dan Sumangkar. Seorang pengawal dan pemimpin pengawas yang terluka itu.

“Kalau kau ingin membalas, kau akan mendapat kesempatan,” berkata Sutawijaya. Tetapi pemimpin pengawas itu tidak menjawab. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa demikianlah yang akan dijumpainya, justru setelah Sutawijaya sendiri datang.

Orang yang berdahi lebar itu masih saja meronta-ronta. Apalagi ketika ia melihat kehadiran Sutawijaya. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Jangan, jangan, jangan Tuan. Aku minta ampun. Aku minta ampun.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dilihatnya orang itu menjadi sangat ketakutan. Wajahnya menjadi seputih kapas dan matanya meratap minta belas kasihan.

Kiai Gringsing, Sumangkar, Agung Sedayu, dan Swandaru serta pemimpin pengawas yang terluka itu masih berdiri termangu-mangu. Namun terasa dada mereka terguncang-guncang oleh keheranan akan sikap Sutawijaya. Apalagi pemimpin pengawas yang terluka itu, yang masih belum dapat berdiri tegak sendiri, sehingga ia masih memerlukan pertolongan Agung Sedayu.

Tetapi orang-orang itu menjadi semakin heran, bahwa Sutawijaya sama sekali tidak berbuat sesuatu. Ia masih berdiri saja sambil memandang orang yang berteriak-teriak itu, “Ampun, aku minta ampun.”

Ketika Sutawijaya perlahan-lahan melangkah maju, maka nyawa orang itu serasa sudah melekat di ubun-ubun. Karena itu ia berteriak semakin keras.

Kawan-kawannya yang masih ada di serambi, mendengar teriakan itu meskipun tidak begitu jelas. Namun setiap kali dada mereka berdesir. Terbayang di rongga mata mereka, kawannya yang berdahi lebar itu sedang mengalami siksaan yang tiada taranya, sehingga orang itu berteriak-teriak tidak menentu.

“Jangan, jangan,” teriak orang berdahi lebar itu.

Sutawijaya masih berdiri memandanginya dengan tajamnya. Perlahan-lahan ia mengangkat tangannya. Dengan ujung jarinya ia menyentuh lambung orang yang berdahi lebar itu.

Oleh ketakutan yang dahsyat, maka sentuhan itu terasa bagaikan duri-duri cangkring yang tajam tergores dikulitnya. Karena itu ia berteriak semakin keras.

“He,”desis Sutawijaya, “kenapa kau berteriak-teriak? Apakah aku sudah berbuat sesuatu?”

Pertanyaan itu telah menghentikan teriakan-akan yang seakan-akan mengumandang memenuhi pinggir hutan yang sedang dibuka itu.

“Kenapa kau berteriak-teriak?” ulang Sutawijaya, “Coba katakan, apakah aku sudah berbuat sesuatu? Aku memang akan menyiksamu dengan cara yang paling kejam seperti sudah aku katakan. Aku ingin memeras semua keteranganmu tentang dirimu sendiri dan tentang gerombolanmu yang selama ini berkedok sebagai hantu-hantu di Alas Mentaok. Kalau kau tidak mau berbicara, maka aku akan mempergunakan segala macam cara tanpa menghiraukan perikemanusiaan. Tanpa menghiraukan belas kasihan dan peradaban manusia.”

“Jangan, jangan,” orang itu memohon. Suaranya merintih seperti ujung nyawanya sudah mulai lepas dari tubuhnya.

“Kenapa kau melarang? Itu terserah kepadaku. Selain Ayahanda Pemanahan, tidak ada orang yang lebih berkuasa dari aku di sini. Aku dapat berbuat apa saja. Aku dapat membunuh siapa saja tanpa dapat dituntut oleh seorang pun. Aku tidak takut oleh dendam siapa pun juga.”

Tubuh orang itu kini menggigil seperti sedang kedinginan.

“Lepaskan,” perintah Sutawijaya kepada kedua pengawalnya yang memegangi orang itu.

Pengawalnya menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi Sutawijaya mengulangi, “Lepaskan. Sediakan saja tali yang cukup panjang. Apabila ia mencoba lari, ikatlah kedua tangannya dengan tali yang direntang pada dua batang pohon. Setiap orang akan lewat di sampingnya dan melakukan hukuman picis.”

“Tidak. Tidak,” orang itu berteriak lagi.

Perlahan-lahan kedua pengawal itu melepaskan pegangannya. Namun orang yang ketakutan itu hampir tidak dapat berdiri sendiri. Bukan saja karena lukanya, tetapi karena ia benar-benar dicengkam oleh kengerian mendengar ancaman-ancaman Sutawijaya.

Tetapi, Sutawijaya kemudian justru tersenyum. Dengan terus terang ia berkata, “Aku kecewa melihat sikapmu. Kau pasti bukan orang yang dapat dibanggakan oleh gerombolanmu. Sebelum kau tersentuh apa pun, kau sudah ketakutan setengah mati. Ayo, bersiaplah menerima siksaan yang paling berat.”

“Jangan, jangan, Tuan.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia membentak, “Siapa namamu?”

“Sura Mudal,” orang itu membentak pula diluar sadarnya.

“Kau menbentak aku he?”

“Tidak, tidak, Tuan. Aku tidak sengaja.”

“Nah, sekarang kau dapat memilih. Kau menjawab setiap pertanyaanku, atau aku benar-benar harus melakukan seperti yang aku katakan?”

Kiai Gringsing, Sumangkar, Agung Sedayu, Swandaru, dan pemimpin pengawas yang terluka itu menarik nafas dalam-dalam. Kini mereka sadar bahwa Sutawijaya telah melakukan suatu permainan yang berhasil. Bahkan Kiai Gringsing mengusap keningnya yang basah sambil berkata kepada diri sendiri, “Ternyata putera Pemanahan ini pandai juga berkelakar, meskipun orang lain hampir menjadi pingsan karenanya.”

“Apakah kau dapat memilih?” bertanya Sutawijaya.

“Ya, ya. Aku dapat memilih.”

“Yang manakah yang kau pilih? Tubuhmu dilecut dengan ranting pohon cangkring yang berduri rapat kemudian disiram dengan air garam?”

“Tidak, tidak, Tuan. Jangan itu.”

“Jadi?”

“Aku, aku akan menjawab pertanyaan Tuan.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ternyata kau cukup bijaksana. Karena itu, duduklah. Kita berbicara dengan baik.”

Orang itu menjadi bingung melihat sikap Sutawijaya. Kini Sutawijaya tiba-tiba menjadi ramah dan baik.

“Duduklah,” berkata Sutawijaya. Ia sendiri mendahului duduk di bebatur barak bersandar dinding, diikuti oleh orang-orang lain yang menunggui pemeriksaan itu.

Tetapi orang yang menyebut dirinya Sura Mudal itu masih berdiri dengan gemetar. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan karena kecemasan dan ketakutan yang mencengkam jantung.

“Duduklah,” sekali lagi Sutawijaya mempersilahkannnya dengan ramah, “jangan takut. Kalau kau dapat menempuh kebijaksanaan ini aku sangat hormat kepadamu. Sebenarnya memang tidak ada gunanya menyakiti diri sen-diri. Tidak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadamu, adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Kau akan mengalami penderitaan. Sedang yang kau simpan itu pun akhirnya akan terloncat pula dari bibirmu karena segala macam cara. Mungkin cara yang belum pernah kau bayangkan.”

Orang itu masih berdiri kebingungan.

“Nah, kau sudah menjawab siapa namamu,” berkata Sutawijaya, “sekarang duduklah di sini. Di sampingku.”

Dengan ragu-ragu orang itu melangkah maju. Sekali-sekali ia masih menyeringai karena luka-lukanya yang terasa sakit.

“Kau bernama Sura Mudal bukan?” berkata Sutawijaya kemudian. “Nah, sekarang katakan, siapakah pemimpinmu?”

“Kiai Damar,” jawab orang itu.

“Apakah Kiai Damar itu pemimpin tertinggi di dalam lingkunganmu?”

“Tidak. Masih ada orang lain yang tidak aku ketahui.”

“Darimana kau tahu bahwa masih ada orang lain.”

“Aku sering melihat seseorang yang datang ke gubug Kiai Damar. Orang yang tinggi dan berjambang lebat.”

“Siapakah namanya?”

Orang itu menggelengkan kepalanya.

“Siapa namanya?” desak Sutawijaya.

“Benar, aku tidak tahu, Tuan. Aku tidak tahu.”

Sutawijaya mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa orang itu tidak mengetahuinya.

“Coba sebutkan, berapa orang jumlah kawan-kawanmu seluruhnya?”

“Aku tidak tahu, Tuan.”

“He, kau tidak tahu? Kau tidak tahu jumlah orang-orang di dalam gerombolanmu.”

“Ya, ya, Tuan. Eh, maksudku aku tidak tahu. Tetapi yang ada bersama-sama dengan Kiai Damar, aku dapat mengetahuinya.”

“Berapa orang yang diserahkan kepada Kiai Damar?”

“Lima belas orang, ditambah dua orang penghubung.”

“Dua orang penghubung? Di mana yang dua orang itu?”

“Yang seorang tidak bersama kami sekarang. Yang seorang semalam ikut di dalam serangan ini. Tetapi mungkin ia mati terbunuh.”

“Salah seorang dari dua orang yang mati itu?”

“Agaknya benar, Tuan. Sebab ia tidak ada di antara kami yang tertangkap.”

“Ada dua orang yang mati. Tetapi dibunuh oleh Kiai Damar sendiri. Seorang dapat melarikan diri bersama Kiai Damar dan sisanya adalah kalian.”

Orang berdahi lebar itu mengangguk-angguk.

“Nah, yang manakah yang kau maksud dengan penghubung itu? Yang terbunuh atau yang melarikan diri?”

Orang itu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak melihat keduanya. Juga yang melarikan diri aku tidak tahu pasti. Tetapi satu di antara tiga orang yang tidak ada di antara kami itulah penghubung itu.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Penghubung itu pasti mengetahui agak banyak tentang kelompok rahasia yang selama ini mengganggu usahanya membuka Alas Mentaok.

“Sekarang, ceriterakan, apa saja yang pernah kau lakukan selama kau berperan sebagai hantu-hantu kecil di Alas Mentaok ini,” berkata Sutawijaya kemudian.

Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun ketika Sutawijaya meraba lengannya, ia berkata, “Ya, ya. Aku akan berceritera tentang Alas Mentaok.”

“Bukan tentang Alas Mentaok. Tetapi tentang dirimu sendiri. Apakah kau tahu maksudku?”

“Ya, ya. Aku tahu.”

“Nah, apa saja yang sudah kau lakukan sebagai hantu Alas Mentaok.”

Orang itu masih dicengkam oleh keragu-raguan. Namun sekali lagi Sutawijaya meraba tangannya sambil berkata, “Kulitmu memang liat sekali.”

“Tidak. Tidak.” Dan orang itu pun mulai berceritera. Hampir tidak ada yang dilampauinya, apa yang diketahuinya diceriterakannya kepada Sutawijaya.

Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru yang mendengar ceritera itu pula, mengangguk-anggukkan kepala mereka. Kini menjadi semakin jelas, apa saja yang selama ini mereka hadapi. Kini ternyata pula orang yang pernah dengan ketakutan mendekap Swandaru di tempat kerjanya, adalah orang-orang Kiai Damar pula. Kemudian ular dan bahkan api itu.

“Jadi, kau hanya mengenal Kiai Damar sebagai pemimpinmu?”

“Ya, Tuan, Kiai Damar yang sekarang.”

“Yang sekarang? Apakah ada Kiai Damar yang dahulu.”

Orang itu tidak segera menjawab.

“Katakanlah,” Sutawijaya bergeser setapak mendekati orang itu.

“Ya, ya. Kiai Damar memang pernah berganti. Tetapi kedua orang itu memang mirip sekali.”

“Ah, apakah kau sedang bermimpi? Mungkin orangnya memang sama. Tetapi supaya menimbulkan kesan yang lain, dibuatnya ceritera yang aneh-aneh itu.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Bukan, memang bukan orang lain. Tetapi Kiai Damar yang dahulu sudah mati. Tetapi ia hidup lagi. Orang itu adalah Kiai Damar yang sekarang. Tetapi ada beberapa hal yang dahulu sudah tidak diingatnya lagi.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling memandang Kiai Gringsing yang termangu-mangu.

Untuk beberapa lama orang-orang yang duduk di belakang barak itu saling berdiam diri. Mereka sedang merenungi angan-angan masing-masing yang mengambang dari waktu ke waktu. Mereka seakan-akan melihat apa yang telah terjadi selama ini di daerah yang sedang dibuka itu. Semula orang-orang itu datang dengan membawa harapan untuk mendapat tanah yang lebih baik dari daerah yang mereka tinggalkan. Mereka membawa harapan untuk hidup di dalam suatu negeri yang makmur, adil, dan harapan untuk mendapat kesempatan yang baik karena mereka termasuk orang-orang yang membuka tanah. Mereka termasuk perintis-perintis jalan untuk masuk ke Alas Mentaok lebih dalam lagi. Namun kemudian mereka telah dicengkam oleh ketakutan. Beberapa orang menjadi putus asa dan meninggalkan daerah yang sudah mulai mereka buka. Kunjungi kami di adbmcadangan dotwordpress dotcom. Sebagian masih bertahan karena mereka sudah tidak mempunyai tempat untuk kembali. Namun setiap hari mereka selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Hari depan mereka menjadi suram, dan harapan-harapan yang sudah mereka susun pada saat mereka berangkat itu satu-satu menjadi pecah berserakan seperti kepingan mangkuk yang jatuh di atas batu hitam. Apalagi di saat-saat terakhir. Mereka hampir menjadi gila karenanya. Mereka kehilangan segala macam harapan dan gairah bagi masa depan mereka. Mereka bahkan merasa bahwa maut setiap saat telah membelai kepala mereka.

Tetapi mereka tiba-tiba saja telah dikejutkan oleh peristiwa semalam. Orang yang menyebut dirinya Truna Podang, dan yang selama ini mereka anggap sebagai seorang yang aneh, sombong dan tidak mengenal takut itu, bersama anak-anaknya telah berhasil menangkap hantu-hantu yang selama ini menakut-nakuti mereka.

Peristiwa ini adalah merupakan suatu tingkatan baru di dalam perjalanan hidup mereka. Harapan yang telah musnah itu, selapis demi selapis telah mereka susun kembali di dalam hati.

Tetapi semuanya masih belum mantap. Persoalan hantu-hantu itu masih belum selesai Mungkin masih akan ada akibat-akibat yang menimpa orang-orang yang diombang-ambingkan oleh keadaan itu.

Orang-orang yang terluka, yang terbaring di serambi depan menjadi semakin cemas dan berdebar-debar. Kawannya yang dibawa ke belakang barak itu sudah tidak terdengar suaranya lagi. Mereka menyangka bahwa orang berdahi lebar itu, telah terbaring di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu. Mung-kin tubuhnya telah hancur disayat oleh duri-duri cangkring yang tajam. Darah bercampur keringat telah membasahi seburuh tubuhnya yang tidak berbentuk lagi.

(***)

Kutipan dan penyiaran lesan / tertulis harus seijin penulis

From Kasdoelah’s Collection
Retype: Ki Gaza
Proof: Ki Gede Menoreh
Date: 11-23-2008

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:41  Comments (55)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-58/trackback/

RSS feed for comments on this post.

55 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kupikir, Panembahan Jati Sarono akan mengurungkan niatnya untuk menghalang-halangi pembukaan hutan Mentaok. Aku mendengar kabar bahwa andahannya tiga orang sudah tewas. Satu menyamar jadi pengawas, satu menyamar jadi dukun, dan satu lagi orang yang tinggi kekar itu! Sayangnya, Panembahan Jati Sarono tidak terpengaruh. Dia justru menambah orang-orang baru untuk membantu Ki Damar yang masih bertahan di hutan Mentaok. Apakah Ki Damar sudah mendapatkan sisik melik untuk mengetahui siapa Ki Truno Podang dan dua anak laki-lakinya itu? Aku hanya tercenung di pringgitan. Ku tatap bintang malam! Ah…masih menunggu jenang lot 58 disajikan!

  2. “Kau bernama Sura Mudal bukan ?” bertanya Raden Sutawijaya.

    mudal mudalan bukan Ki Sura,
    mudal mudalan Ki Menggung ber2, Ki AS, dan pak Satpam, segera sampai di gandhok ini.

    • ..mudal mudalan mboten….mudal madul..

      • “gandOK sini mudal-mudal-an banyak pengunjung” bisik teman
        si Sura Mudal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: