Buku 58

Orang-orang diserambi barak itu mematung sejenak. Kata-kata Agung Sedayu agaknya benar-benar telah menusuk langsung ke pusat jantung.

“Nah,” berkata Agung Sedayu kemudian, “sekarang cobalah lihat. Apakah yang sudah terjadi atas kalian dan apa yang sekarang kalian hadapi. Kalau memang menurut pertimbangan kalian, orang-orang jantan yang bersifat kesatria, orang-orang yang sudah tidak berdaya ini harus dibunuh atau dicincang, demikian pula orang-orang yang kalian anggap melindungi mereka, maka aku akan mempersilahkan. Cincanglah mereka yang selama ini telah mengganggu kalian dan membuat kalian ketakutan seperti kelinci mendengar gonggong anjing liar di hutan-hutan.”

Tidak ada seorang pun yang menyahut.

Kiai Gringsing dan Sumangkar yang berdiri di sebelah Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya muridnya yang tua ini memiliki ketajaman sikap menghadapi ketegangan yang sudah memuncak, meskipun agaknya Swandaru pun akan dapat mengatasinya dengan caranya sendiri. Tetapi Kiai Gringsing semakin melihat perbedaan sifat dari keduanya. Keduanya mempunyai kelebihan masing-masing tetapi juga kekurangan masing-masing.

Karena tidak seorang pun yang berkata sepatah kata pun, maka Agung Sedayu meneruskan, “Sekarang, bagaimana? Apakah kalian akan melangsungkan niat kalian.”

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan nada yang rendah, “Baiklah. Terserahlah kepada kalian. Kalau kalian masih ingin melakukannya, silahkan, sekarang juga. Kalau tidak, aku silahkan kalian kembali ke tempat kalian masing-masing. Sebentar lagi fajar akan datang. Kalau masalah ini tidak segera kita selesaikan, maka kita akan menghadapi persoalan yang lain. Apalagi matahari telah terbit, kita akan menunggu kedatangan para pengawas dari pusat Tanah Mataram. Apabila utusan kita sampai ke tujuan, mereka pasti akan kembali besok pagi.”

Sejenak Agung Sedayu menunggu, karena tidak ada yang bergerak sekali lagi ia berkata, “Apa pun yang akan terjadi, lakukanlah sekarang. Cepat.”

Tetapi tidak seorang pun yang segera beranjak dari tempatnya. Apakah mereka akan meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat masing-masing, atau mereka akan melakukan niatnya, membalas sakit hati setelah sekian lama mereka merasa dipermainkan.

Karena itu sekali lagi Agung Sedayu berkata agak keras, “He, kenapa kalian hanya berdiam diri dengan mulut ternganga. Berbuatlah sesuatu supaya kami dapat mengambil sikap. Apa yang akan kalian lakukan, lakukanlah. Sesegera, sebelum kami membuat keputusan baru. Bergeraklah. Membalas dendam atau kembali ke tempat masing-masing.”

Ketika Agung Sedayu melihat beberapa orang yang kemudian bergerak, ia pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu pasti, apakah yang akan mereka lakukan.

Tetapi ketika orang-orang itu mulai berdiri dengan kepala tunduk, Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang-orang itu menyadari diri mereka, dan perlahan-lahan mereka berjalan ke tempat masing-masing.

Kiai Gringsing, Sumangkar, dan Swandaru pun kemudian mengangguk-anggukkan kepala mereka pula. Sejenak mereka saling berpandangan.

Swandaru yang masih memegang tongkat berkerincing itu kemudian mengangguk-angguk sambil memandangi orang-orang bergeser dari tempat masing-masing perlahan-lahan. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesis, “Benda-benda macam inilah yang telah membuat kalian selama ini kehilangan kepribadian, kehilangan kesempatan dan bahkan seakan-akan telah kehilangan harapan. Sebenarnya benda ini adalah benda yang sederhana sekali. Tongkat yang digantungi dengan kerincing-kerincing. Sebuah tengkorak dan kerudung hitam. Mungkin juga seekor atau dua ekor kuda. Selebihnya, yang paling menakutkan adalah hati kalian sendiri. Kalian sendirilah yang membuat benda-benda sederhana ini menjadi hantu-hantu Alas Mentaok.”

Tidak ada yang menyahut. Tetapi kata-kata yang dilontarkan sambil tersenyum-senyum itu ternyata mampu juga menyentuh perasaan orang-orang di dalam barak itu. Sebenarnyalah bahwa yang paling menakutkan bagi mereka adalah hati mereka sendiri. Bayangan-bayangan yang mengerikan yang mereka buat sendiri.

Sejenak kemudian, orang-orang di serambi itu telah duduk di tempat masing-masing. Orang-orang yang berdesakan di pintu pun telah duduk pula di dalam sambil menekurkan kepala mereka.

Pengawas yang masih bersandar pintu itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan susah payah ia berjalan berpegangan dinding, mendekati Agung Sedayu. Kemudian ditepuknya bahunya sambil berkata, “Kau berhasil, Anak Muda. Aku sudah kehabisan akal. Aku cemas, apabila orang-orang yang bodoh ini berkeras kepala, dan kalian bertahan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan kalian kepada para pengawas apabila mereka datang. Aku sudah membayangkan, apabila terjadi benturan yang tidak dapat dihindarkan, korban pasti akan bertambah. Ujung cambuk kalian yang seperti mempunyai mata itu, benar-benar sangat berbahaya.”

Agung Sedayu tersenyum sambil menyahut, “Terima kasih. Pujian itu terlampau berlebih-lebihan.”

“Aku berkata sebenarnya.”

Agung Sedayu tidak menyahut lagi. Ia memandang orang yang terakhir duduk di tempatnya. Kemudian menundukkan kepalanya.

“Mereka telah kembali ke tempat masing-masing,” berkata pemimpin pengawas itu.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian kepada orang itu, “Terima kasih. Kalian ternyata telah membantu kami, memelihara ketenangan di dalam barak ini. Sekarang, biarlah orang-orang yang terluka ini dapat beristirahat dengan tenang, tugas kami di sini tinggal mengawasi. Kami minta bantuan kalian, agar kalian ikut serta menjaga orang-orang ini, agar tidak seorang pun yang dapat lolos. Kita besok akan menyerahkan mereka kepada para pengawas yang akan datang dari pusat pemerintahan Mataram.”

Orang-orang itu masih menundukkan kepala mereka.

“Nah, baiklah. Kita anggap semua persoalan kini sudah selesai. Persoalan berikutnya adalah persoalan para petugas dari Mataram dan pemimpin pengawas di sini.”

Orang-orang itu masih menundukkan kepalanya,

“Sekarang, apabila masih sempat, silahkan beristirahat. Kalian dapat tidur nyenyak menghabiskan malam yang tinggal sedikit. Kami pun akan tidur pula. Besok kami akan minta bantuan kalian, mengubur mayat yang kini masih ada di belakang barak ini.”

“Mayat?” orang-orang itu bertanya di dalam hatinya.

Meskipun pertanyaan itu tidak diucapkan, Agung Sedayu menangkap sorot mata mereka, katanya, “Ya, dua sosok mayat. Di antara hantu-hantu itu ada yang terbunuh. Dan dengan demikian akan semakin jelas bagi kalian, bahwa sebenarnya mereka adalah manusia yang terdiri dari daging dan tulang seperti kita. Sama sekali bukan hantu dari Alas Mentaok seperti yang kalian percaya saat ini. Kalau aku berkerudung sambil membawa tengkorak yang dilekati dengan kunang-kunang itu, kalian pasti tidak akan ketakutan, karena seperti yang dikatakan oleh adikku itu, ketakutan itu datang dari diri kita sendiri. Sekarang, kalian pun sudah tahu dengan pasti, sehingga kalian tidak akan takut lagi mendengar suara gemerincing, suara derap kaki kuda, dari melihat di dalam gelapnya malam, sesosok hantu hitam berkepala tengkorak. Karena mereka adalah orang-orang yang kini terbaring di hadapan kalian karena luka-luka mereka.”

Orang-orang di dalam barak itu merasa diri mereka semakin kecil. Namun seolah-olah mereka telah mengucapkan janji, bahwa mereka tidak akan terperosok untuk kedua kalinya ke dalam keadaan yang memalukan itu. Mereka tidak akan mau lagi menjadi permainan siapa pun juga. Mereka datang untuk membuka hutan. Dan kini harapan itu seakan-akan telah terbit kembali.

“Sudahlah, tidurlah,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Bersama dengan Swandaru, Kiai Gringsing, Sumangkar, dan pemimpin pengawas itu, mereka menepi dan duduk bersandar dinding.

Tetapi ternyata mereka tidak mendapat kesempatan cukup untuk beristirahat. Langit di sebelah Timur pun mulai menjadi kemerah-merahah.

“Hampir pagi,” desis Swandaru.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tidurlah kalau kau lelah. Masih ada waktu sedikit sebelum matahari terbit.”

“Apakah Guru tidak beristirahat?”

“Tidurlah kau berdua. Aku dan pamanmu Sumangkar akan duduk di sini. Waktu yang sedikit ini menyimpan bermacam-macam kemungkinan bagi barak ini.” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Dipandanginya wajah pemimpin pengawas yang berkerut-merut. Kemudian wajah Agung Sedayu dan Sumangkar. Lalu perlahan-lahan ia meneruskan, “Pagi ini akan dapat menjadi pagi yang cerah dan tenang. Tetapi saat-saat ini adalah saat-saat yang mendebarkan. Kalau Kiai Damar menyadari bahwa kehadiran para pengawas dari Mataram menjadi semakin dekat, maka ada kemungkinan mereka mempergunakan waktu yang pendek ini sebaik-baiknya.”

Swandaru dan Agung Sedayu mengerutkan keningnya, sedang pemimpin pengawas itu beringsut mendekat, “Benarkah begitu?”

“Ini hanya suatu kemungkinan. Tetapi kemungkinan yang lain adalah, bahwa mereka belum siap melakukan hal itu dan menundanya sampai waktu yang tidak dapat kita perhitungkan. Jika demikian kita akan dapat beristirahat untuk beberapa hari. Mereka pasti memerlukan waktu untuk mengetahui kekuatan para pengawas di daerah ini.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengharap bahwa setelah sembuh aku akan tetap diperkenankan tinggal di daerah ini, meskipun karena selama ini aku sudah gagal, aku tidak lagi menjadi tetua para pengawas. Aku puas apabila aku dapat melihat akhir dari permainan yang gila itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mudah-mudahan. Mudah-mudahan kau akan tetap berada di sini. Kau adalah salah seorang yang telah mengenal daerah ini sebaik-baiknya. Mengenal perkembangan keadaan dan masa-masa yang paling pahit di daerah ini.”

“Tetapi aku gagal mengatasi kesulitan. Usaha perluasan tanah garapan di sini menjadi sangat mundur. Bahkan aku pun telah terseret ke dalam suatu keadaan yang memalukan sekali. Aku sama sekali tidak berdaya melawan hantu-hantu itu, meskipun ternyata mereka sama sekali tidak berbeda dengan kita yang berkulit dan daging.”

“Meskipun kau tahu akan hal itu, tetapi memang sulit untuk melawan mereka. Ternyata jumlah mereka cukup banyak. Hari ini lebih dari sepuluh orang telah datang. Aku kira, di tempat persembunyian mereka, masih ada orang-orang yang lebih banyak lagi.”

“Kita dapat bertanya kepada orang-orang yang terluka itu.”

“Ya. Kita akan mendapatkan beberapa keterangan dari mereka meskipun tidak banyak. Besok kalau luka-luka mereka telah tidak membahayakan jiwanya, kita akan dapat mendengarnya.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Agung Sedayu berbisik, “Guru, apakah tidak mungkin mereka akan berbuat seperti orang yang kita simpan di dapur itu?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, lalu, “Mungkin. Memang mungkin sekali.”

“Apakah yang dilakukan?” bertanya Sumangkar.

“Mereka membunuh kawan mereka sendiri sebelum melarikan diri. Maksudnya sudah jelas, agar kawannya tidak dapat memberikan penjelasan.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Kiai Gringsing pun berkata, “Karena itu, kita akan mengawasi mereka sebaik-baiknya. Apabila besok para pengawal itu benar-benar datang, kita akan mendapat banyak kawan untuk melakukannya.”

Agung Sedayu meng-angguk-anggukkan kepalanya. “Ya mudah-mudahan mereka benar-benar datang besok.”

“Bagaimana kalau tidak?” desis Swandaru,

“Kau yang akan menjaga mereka sepanjang hari.”

“Kau?”

“Aku akan tidur.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian di sandarkannya tubuhnya pada dinding barak sambil memejamkan matanya, “Aku yang akan tidur lebih dahulu.”

Agung Sedayu memandanginya sejenak. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesah, “Matahari sudah akan terbit.”

Dalam pada itu, perlahan-lahan langit menjadi semakin merah. Ternyata sampai saatnya pagi mulai memancar, tidak terjadi sesuatu, meskipun itu bukan berarti bahwa bahaya telah dapat diabaikan. Kemungkinan orang-orang itu datang di siang hari pun ada, apalagi setelah mereka tidak berhasil menakut-nakuti dengan kedok hantu-hantu Alas Mentaok. Mereka tidak dapat memilih jalan lain daripada menyatakan diri mereka sewajarnya.

Meskipun demikian, suasana pagi yang cerah telah membuat ketegangan-ketegangan di dalam barak itu menjadi agak mereda. Beberapa orang telah berani keluar dari dalam barak, mengambil air di sumur. Apalagi karena Kiai Gringsing berkata kepada mereka, “Sekarang kalian tahu, kalau kalian menjumpai apa pun, itu adalah manusia-manusia biasa seperti kita. Tinggal tergantung kepada kita sendiri. Apakah kita seorang penakut atau bukan.”

Demikianlah perlahan-lahan barak itu seakan-akan terbangun dari tidurnya. Agung Sedayu dan Swandaru pun segera pergi ke barak yang lain untuk menenangkan ketegangan yang ada di dalam barak itu. Meskipun tidak pasti bagi mereka, apakah yang terjadi, tetapi hati mereka telah dicengkam olen kecemasan sepanjang malam.

Sumangkar dan Kiai Gringsing bergantian pergi mengambil air untuk membersihkan diri. Mereka masih harus mengawasi orang yang meskipun terluka, tetapi ada di antara mereka yang sudah dapat bangkit berdiri dan berjalan meskipun lemah.

Ketika hari menjadi semakin terang, orang-orang di dalam barak itu dengan diam-diam, memerlukan memperhatikan orang-orang yang terluka yang selama itu mereka sangka hantu-hantu.

Ternyata mereka adalah orang-orang biasa. Orang-orang yang mempunyai wadag seperti mereka sendiri. Tangan, kaki, kepala, dan anggauta-anggauta badan yang lain.

Kadang-kadang terasa juga hati mereka melonjak. Darah mereka merasa panas apabila mereka mengenangkan, apa saja yang pernah mereka alami di dalam barak itu. Tetapi mereka tidak berani melanggar pesan Agung Sedayu, dan agaknya mereka pun masih juga mempunyai harga diri, untuk tidak bertindak kasar terhadap orang-orang yang sudah tidak berdaya.

Ketika matahari sudah menjadi semakin tinggi. Kiai Gringsing telah memanggil Agung Sedayu dan Swandaru, “Kedua mayat yang masih ada di belakang barak itu harus dikuburkan.”

“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, “tunggulah di sini. Orang-orang itu masih memerlukan pengawasan. Aku akan mengubur kedua orang di belakang barak itu.”

Ki Sumangkar mengangguk sambil menjawab, “Silahkan. Mudah-mudahan aku tidak tertidur.”

Mereka pun kemudian mengajak beberapa orang untuk pergi ke belakang barak. Orang-orang yang ikut dengan Kiai Gringsing itu menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka tidak melihat, tetapi berdasarkan pendengaran mereka semalam dan bekas-bekas yang mereka jumpai kini, terasa dada mereka tergetar. Alangkah dahsyatnya perkelahian itu. Pohon-pohon perdu bertebaran seperti ditebas. Tanahnya bagaikan dibajak. Bahkan rerumputan pun telah terungkat beserta akar-akarnya.

“Mengerikan sekali,” seorang berdesis perlahan-lahan.

“Apa?” bertanya yang lain.

“Kau tidak melihat bekas perkelahian ini?”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa juga bulu-bulu tengkuknya meremang.

Sejenak kemudian mereka pun telah menemukan dua sosok mayat yang terbaring tidak berjauhan.

“Inilah mereka,” berkata Swandaru. Namun ia pun kemudian mengerutkan keningnya. Tubuh mayat itu menjadi kebiru-biruan. Wajahnya tegang, seolah-olah sedang menahan kesakitan yang amat sangat. Kedua belah matanya terbuka dan jari-jarinya seolah-olah sedang mencengkeram.

“Mengerikan sekali,” desis Swandaru. “Tampaknya mereka telah dicengkam oleh perasaan sakit yang tidak terhingga.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Sebenarnya, meskipun perasaan sakit itu juga menjadi sebab ketakutannya menghadapi maut, namun yang lebih parah dari itu adalah ketidak-ikhlasannya menjelang tangan maut mencengkam mereka. Mereka menyesal, kecewa, dan segala macam perasaan sakit, karena sebelum mereka menghembuskan nafasnya yang penghabisan, mereka menyadari, bahwa ternyata kawan mereka sendirilah yang telah membunuh mereka dengan semena-mena. Itulah yang membuat mereka dihantui oleh sentuhan maut itu.”

Swandaru dan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka adalah anak-anak muda yang pernah menyaksikan kematian-kematian di peperangan. Tetapi kali ini mereka masih juga merasa ngeri. Terbayang dimata mereka, penderitaan yang tidak terhingga menyertai kematian mereka.

“Racun itu bekerja dengan sempurna,” desis Kiai Gringsing.

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang-orang yang menyaksikan pun menjadi ngeri pula. Penderitaan itu terlampau berat.

Demikianlah mereka kemudian menyelenggarakan penguburan mayat itu secukupnya. Bagaimana pun juga mereka harus memperlakukan mereka sebagai sesamanya.

Ketika semuanya sudah selesai, maka orang-orang itu pun kembali ke barak mereka. Mereka duduk-duduk di tangga serambi. Yang mereka bicarakan adalah orang-orang yang kini masih berada di serambi itu. Sebagian masih terbaring diam, sedang yang lain duduk bersandar dinding sambil menundukkan kepala mereka. Mereka merasa seakan-akan setiap mata memandang mereka dengan tajamnya. Ejekan dan umpatan membayang di wajah-wajah orang yang berada di sekitarnya.

Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru pun kemudian duduk pula diserambi itu bersama Ki Sumangkar dan pemimpin pengawas yang masih belum sembuh benar dari lukanya itu.

Sementara itu sepasukan kecil pengawal berkuda sedang berpacu melewati jalan-jalan kecil menuju ke hutan yang sedang dibuka dan yang selalu diganggu oleh hantu-hantu. Sebenarnya hampir di semua daerah, tetapi yang didiami oleh Ki Truna Pedang itulah yang seakan-akan merupakan letusan yang paling keras, sehingga perhatian Mataram langsung tertuju ke daerah itu.

Di daerah lain, hantu-hantu masih tetap berkuasa karena tidak ada orang yang berusaha untuk meyakinkan, bahwa mereka sebenarnya bukan hantu.

Ki Gede Pemanahan dan puteranya, Sutawijaya, agaknya terlampau sibuk, sehingga mereka tidak sempat secara terus-menerus mengawasi suatu daerah tertentu.

Tetapi kini mereka terpaksa mengkhususkan persoalan yang mereka hadapi karena ada perkembangan yang khusus pula.

Sekelompok pengawal berkuda itu langsung dipimpin oleh Raden Sutawijaya sendiri. Di tangannya digenggamnya tombak pusakanya, sedang di lambungnya terselip keris Kiai Naga Kumala.

Sambil memandang lurus ke depan, Raden Sutawijaya berkuda di belakang pengawas yang datang memberitahukan apa yang sudah terjadi, sedang di belakangnya Wanakerti yang sebenarnya masih belum sehat benar, tidak mau tinggal di Mataram. Bagaimana pun juga ia menyatakan ke-inginannya untuk ikut serta kembali ke tempat tugasnya.

“Aku ingin melihat akhir ceritera yang mendebarkan itu?” katanya di dalam hati.

Berdasarkan pengalaman para pengawas yang pergi ke Mataram untuk menyampaikan laporan itu, maka mereka harus berhati-hati. Meskipun kelompok itu agak lebih besar dari hanya tiga orang, namun kemungkinan yang tidak terduga-duga dapat saja terjadi.

Raden Sutawijaya yang diiringi oleh sepuluh, orang pengawas itu telah mulai menyusup hutan-hutan rindang. Kuda mereka kini tidak dapat berlari terlampau cepat. Jalan yang sempit itu kadang-kadang tertutup oleh sampah dan ranting-ranting pepohonan yang patah. Sulur-sulur kayu yang bergayutan pada dahan-dahan pepohonan telah mengganggu perjalanan itu pula.

Tetapi lebih daripada itu, setiap saat mereka dapat saja dengan tiba-tiba diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal dan jumlahnya sama sekali tidak dapat mereka bayangkan. Mereka sama sekali tidak mempunyai gambaran tentang gerombolan orang-orang yang bersembunyi di dalam hutan yang lebat itu.

Kadang-kadang dada mereka menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka menyandang pusaka rangkap, tetapi seandainya tiba-tiba mereka dihadapkan pada sekelompok orang-orang yang ganas itu sebanyak lima puluh orang, apakah mereka akan dapat melawan.

Tetapi hati mereka menjadi teguh apabila mereka melihat Raden Sutawijaya yang berkuda di depan mereka, selalu menengadahkan wajahnya memandang lurus ke depan.

Dalam pada itu, selagi pasukan itu beriringan di dalam hutan yang tidak begitu lebat, beberapa pasang mata mengikutinya dengan saksama. Seorang yang bertubuh tinggi kekar dan berjambang lebat mengatupkan giginya rapat-rapat. Perlahan-lahan ia berdesis kepada orang yang berdiri di sampingnya. Dan orang itu adalah Kiai Damar, “Sayang, kita tidak membawa orang cukup untuk menghancurkan mereka.”

“Hati-hatilah,” berkata Kiai Damar, “ternyata daerah Mataram menyimpan banyak rahasia yang tidak kita ketahui. Kita yang merasa telah mengenal hutan ini sebaik-baiknya, namun ternyata perhitungan kita masih keliru juga. Semalam aku telah gagal lagi. Ternyata orang-orang tua yang ada di dalam barak itu bukan orang-orang kebanyakan. Kau harus membuat perhitungan yang cermat untuk menentukan sikap di sini.”

“Aku akan menghadap guru,” berkata orang berjambang itu.

Kiai Damar mengerutkan keningnya. Katanya, “Itu akan lebih baik daripada kita bertindak sendiri. Aku tidak dapat mengimbangi salah seorang dari dua orang tua-tua yang ada di barak itu. Dan barangkali kau masih harus menyediakan tenaga sepenuhnya untuk melawan anak-anaknya.”

Orang itu menggeram. Katanya, “Karena itu aku akan menghadap guru. Tidak ada seorang manusia pun yang akan dapat melawannya. Bahkan seandainya Ki Gede Pemanahan sendiri akan turun ke gelanggang, maka itu akan berarti rencananya semakin cepat musnah. Ia tidak akan berhasil menyelesaikan kerja ini.”

Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan orang tua itu tidak berkeberatan.”

“Tentu tidak? Bukankah guru juga yang menganjurkan kita melakukan ini semua? Dan Paman menyetujuinya?”

“Ya,” Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi menghancurkan mereka bukan penyelesaian yang tuntas. Seandainya Ki Gede Pemanahan terusir dari Mentaok sekali pun, bahkan terbunuh, maka kau masih akan menghadapi soal-soal lain.”

“Itu sudah aku perhitungkan, Paman. Maksud Paman, bahwa kekuasaan Sultan Pajang masih tetap mencakup hutan Mentaok.”

“Ya.”

“Sultan Pajang akan berterima kasih kalau usaha Pemanahan gagal. Bukankah dengan berat hati Sultan Pajang menyerahkan Mataram kepada Pemanahan? Kalau Sultan tidak mengingat putera angkatnya itu anak Pema-nahan, maka aku kira Pemanahan justru sudah digantungnya di alun-alun.”

“Mungkin begitulah kalau kau yang kebetulan menjadi Sultan Pajang. Seorang Raja tidak akan berbuat demikian. Ia telah berjanji untuk menyerahkan Pati dan Alas Mentaok kepada mereka yang dapat membunuh Arya Penangsang. Penjawi sudah mendapatkan Pati, dan wajar sekali kalau Pemanahan menuntut Bumi Mentaok.”

“Tetapi Sultan juga tahu, bahwa yang membunuh sebenarnya bukan Pemanahan dan Penjawi, tetapi putera angkatnya itu.”

“Tentu. Tetapi laporan yang diterimanya menyebut bahwa yang melakukan adalah Penjawi dan Pemanahan. Ia tidak akan dapat ingkar akan janjinya. Siapa pun yang melakukannya, tetapi keduanya yang menyatakan dirinya tanpa ada orang lain yang mengemukakan keberatannya.”

“Nah, karena itulah maka kegagalan Pemanahan akan menyenangkan hatinya. Karena ia memberikan Mataram tidak dengan ikhlas hati.”

“Lalu bagaimana dengan Pati?”

Orang berjambang itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut.

“Sultan Pajang tidak pernah mempersoalkan Pati. Kenapa ia berkeberatan atas Mentaok?” bertanya Kiai Damar.

“Mentaok terlampau dekat dengan pusat pemerintahan Pajang.”

“Bukan itu. Tetapi bagi Sultan Pajang, menyerahkan Mentaok secara resmi tidak ada gunanya, karena akhirnya ia akan memberikan juga kedudukan kepada anak Pemanahan. Buat apa Pemanahan harus menuntut haknya apabila kelak akan temurun juga kepada Sutawijaya. Tentu Sultan Pajang menilai juga hal itu. Tetapi ia pasti tidak akan berkeberatan apabila pada suatu saat Mentaok dapat menjadi ramai. Bukankah kelak Sutawijaya juga yang akan menjadi penguasa daerah ini? Apakah kelak ia akan menguasai Mataram sebagai seorang putera raja yang mewakili kekuasaan ayahnya, atau sebagai seorang adipati, seperti Sultan Pajang dahulu atau sebagai kepala suatu daerah yang mendapat hak sebagai tanah perdikan, itu masih belum jelas.”

“Tetapi seperti yang Paman katakan sendiri, Sultan agaknya memang mencurigai niat Pemanahan. Inilah yang harus dimanfaatkan.”

Kiai Damar merenung sejenak. Keningnya masih juga berkerut-merut. Tetapi kini iring-iringan yang dipimpin Raden Sutawijaya sudah menjadi semakin jauh dan hilang di balik rimbunnya dedaunan.

“Bagaimana kau dapat memanfaatkan kecurigaan Sultan Pajang kepada Ki Gede Pemanahan atau justru kepada putera angkatnya itu?”

“Serahkan kepadaku. Sultan pasti akan segera menggerakkan senapati muda yang dikuasakan didaerah Selatan ini. Apakah kau kenal dengan Untara?”

“Orangnya belum. Tetapi namanya sudah. Hampir setiap orang di daerah Selatan mengenalnya. Menurut pendengaranku, Untara-lah yang menyelesaikan masalah orang-orang Jipang yang kehilangan pegangan sesudah Arya Penangsang gugur.”

“Ya. Ia telah berhasil membunuh Tohpati, Macan Kepatihan.”

“Apakah yang dapat dilakukan oleh Untara?”

“Untara adalah seorang senapati. Ia akan menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Sultan Pajang. Ia adalah seorang yang setia. Ia ikut berjuang menegakkan Pajang.

Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mudah-mudahan Untara benar-benar seorang senapati yang baik.”

“Tentu.”

“Tetapi,” berkata Kiai Damar, “apa hubungannya dengan usaha kita sekarang?”

“Kita akan mendesak Sutawijaya. Kita akan melontarkannya ke luar dari dalam hutan. Dan kita berharap bahwa kita dapat berbuat sesuatu di istana untuk memancing Untara mendekati pusat pemerintahan tanah yang baru di-buka ini, sehingga Sutawijaya akan menghadapi kesulitan. Ia harus mengatasi perlawanan dari dalam hutan ini, yang meskipun agaknya cara kita yang pertama sudah gagal karena kehadiran orang-orang gila yang menyebut dirinya gembala itu, tetapi kita akan mencari cara lain, bahkan kalau perlu seperti yang sudah kita lakukan. Beradu dada. Kita menyerang di setiap saat, kemudian kita akan menarik diri. Selain itu, Sutawijaya harus selalu berhati-hati menghadapi pasukan Untara yang mendekati pusat pemerintahan tanah Mataram.”

Kiai Damar mengerutkan keningnya. Ia berpikir sejenak untuk mencoba mencernakan kata-kata orang berkumis itu. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku kurang mengerti jalan pikiranmu.”

“Paman,” berkata orang itu, “katakanlah bahwa Sultan Pajang tidak banyak mempunyai tuntutan atas tanah Mataram. Ia sudah memberikan. Tetapi ia tidak dapat melepaskan kecurigaan itu, kecurigaan atas Ki Gede Pemanahan, sehingga ia berada di simpang jalan. Ia melepaskan Mataram dengan harapan agar putera angkatnya dapat mempergunakannya sebaik-baiknya, tetapi juga ia curiga kalau Mataram kelak justru menjadi besar di bawah Ki Gede Pemanahan.”

Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih juga berkata, “Ada beberapa perbedaan tangkapan. Tetapi pada dasarnya kau telah mencoba mengerti pikiranku. Aku juga mengerti jalan pikiranmu. Kau akan menempuh dua jalan apa pun yang ada di dalam hati Sultan Pajang. Kita harus dapat meraba-raba. Tetapi kalau kau berhasil, mungkin kau akan mendapat tempat yang baik. Aku setuju. Tetapi kau harus berhati-hati agar kau tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang dapat membawamu ke tiang gantungan.”

Orang berjambang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan selalu minta nasehat guru.”

“Aku tahu, gurumu jugalah yang mempunyai pikiran itu.”

“Ya.”

“Ia adalah orang yang paling benci terhadap Pemanahan justru karena Pemanahan membuka hutan ini. Mudah-mudahan orang Mangir dapat bekerja bersama dengan kita di sini.”

Orang berjambang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Kiai Damar berkata, “Tetapi apakah kau akan segera pergi ke Pajang?”

“Aku akan menunggu sejenak. Kemudian aku akan pergi ke Pajang lewat Jati Anom. Kalau mungkin aku akan melihat kesiagaan Untara meskipun aku tidak akan menemuinya. Kalau pada suatu saat aku datang ke Jati Anom, aku akan membawa perintah dari Pajang kepada, Untara untuk memagari Mataram dengan pasukan.”

Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku percaya bahwa kau akan dapat melakukannya. Tetapi kau harus menyesuaikan dirimu setiap saat ada perubahan tanggapan atas sikap dan pendapat Sultan Pajang.”

Orang itu mengangguk.

“Marilah, kita kembali. Kita melakukan persiapan baru menghadapi perkembangan keadaan. Kita menyusun rencana dari dalam hutan ini, sebelum kau berhasil menggiring Untara datang ke pinggir Alas Mentaok.”

Orang-orang itu pun kemudian meninggalkan tempat persembunyiannya. Kuda-kuda yang mereka intip pun sudah menjadi sangat jauh.

Dalam pada itu Sutawijaya dan pasukannya pun yang kecil itu maju terus mendekati barak yang telah menarik perhatian itu. Semakin lama semakin dekat. Ternyata mereka tidak menemui kesulitan apa pun di perjalanan mereka yang melelahkan.

Derap kaki-kaki kuda yang mendekati barak itu pun segera didengar oleh orang-orang yang sedang duduk-duduk di sekitar barak mereka. Agung Sedayu dan Swandaru pun segera bangkit dan turun ke halaman. Banyak kemungkinan dapat terjadi dengan derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu, ia pun harus berhati-hati.

Kiai Gringsing dan Sumangkar pun telah berdiri pula di tangga serambi, sedang beberapa orang yang terluka itu menjadi berdebar-debar pula. Mereka tahu benar bahwa dua orang kawannya yang terbunuh itu justru mati oleh ka-wan mereka sendiri. Itulah sebabnya mereka menjadi sangat cemas, siapa pun yang datang. Ia cemas kalau yang datang itu para pengawal dari Mataram, karena mereka akan segera diserahkan untuk mendapatkan hukuman. Tetapi mereka juga cemas apabila yang datang itu kawan-kawan mereka sendiri.

Sejenak kemudian kuda-kuda itu telah memasuki halaman barak di pinggir hutan. Dibayangi oleh sebuah senyum di bibirnya, Sutawijaya memandang Agung Sedayu dan Swandaru yang datang menyongsongnya.

“Aku sudah menduga,” kata-kata itulah yang pertama-tama diucapkan oleh Sutawijaya.

Tetapi anak muda yang masih di atas punggung kuda itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat Agung Sedayu dan Swandaru membungkukkan badannya dalam-dalam sambil berkata, “Kami di sini semuanya mengucapkan selamat datang. Meskipun kami belum mengetahui siapakah Tuan, tetapi kami pasti, bahwa Tuan adalah salah seorang pemimpin dari Tanah Mataram yang sedang dibuka ini.”

Pengawal yang berkuda di paling depan sudah meloncat dari kudanya. Ia tidak sempat memikirkan, kenapa Sutawijaya berkata, bahwa ia ‘sudah menduga’.

“Yang datang adalah puteranya Ki Gede Pemanahan, Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar,” berkata pengawas itu kepada Agung Sedayu dan Swandaru.

“Hormat kami berdua bagi Raden Sutawijaya,” berkata Agung Sedayu dan Swandaru hampir berbareng.

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hati ia menggerutu, “Anak-anak ini sudah kejangkitan penyakit gurunya.”

Tetapi Sutawijaya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Bahkan tiba-tiba ia bertanya, “Di mana ayahmu?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia tersenyum kecil. Ternyata Sutawijaya mengerti bahwa ia tidak ingin segera menyebut nama Agung Sedayu.

“Itulah, Tuan,” jawab Agung Sedayu sambil menunjuk kepada seorang tua yang berdiri di tangga, di samping Sumangkar.

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba pula ia berdesis, “Paman Sumangkar ada di sini pula?”

Agung Sedayu tidak menyahut.

Tetapi Sutawijaya pun kemudian tersenyum. Sambil turun dari kudanya ia berkata, “Kaliankah yang disebut orang-orang yang bersenjata cambuk?”

Agung Sedayu mengangguk, “Memang kami adalah keturunan gembala yang selalu membawa cambuk.”

Sutawijaya menepuk bahu Agung Sedayu sambil berbisik, “Macam kau. Kenapa kau masih saja suka bermain-main.”

“Kami menghadapi hantu-hantu,” desis Agung Sedayu.

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam.

Para pengiringnya pun kemudian telah turun pula dari kuda mereka, dan menambatkannya di halaman. Perlahan-lahan mereka melangkah maju mendekati barak. Pemimpin pengawas yang terluka dengan susah payah, dibimbing oleh Kiai Gringsing berusaha untuk menyongsong kedatangan Sutawijaya.

“Kaukah yang terluka?”

“Ya, Tuan,” jawab pemimpin pengawas itu.

“Dan kau gembala tua yang bersenjata cambuk dan berkain Gringsing itu?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab sambil tersenyum pula, “Sampai begitu teliti laporan itu sampai kepada Tuan. Apakah pengawas itu menyebut bahwa berkain gringsing yang sudah lusuh?”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:41  Comments (55)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-58/trackback/

RSS feed for comments on this post.

55 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kupikir, Panembahan Jati Sarono akan mengurungkan niatnya untuk menghalang-halangi pembukaan hutan Mentaok. Aku mendengar kabar bahwa andahannya tiga orang sudah tewas. Satu menyamar jadi pengawas, satu menyamar jadi dukun, dan satu lagi orang yang tinggi kekar itu! Sayangnya, Panembahan Jati Sarono tidak terpengaruh. Dia justru menambah orang-orang baru untuk membantu Ki Damar yang masih bertahan di hutan Mentaok. Apakah Ki Damar sudah mendapatkan sisik melik untuk mengetahui siapa Ki Truno Podang dan dua anak laki-lakinya itu? Aku hanya tercenung di pringgitan. Ku tatap bintang malam! Ah…masih menunggu jenang lot 58 disajikan!

  2. “Kau bernama Sura Mudal bukan ?” bertanya Raden Sutawijaya.

    mudal mudalan bukan Ki Sura,
    mudal mudalan Ki Menggung ber2, Ki AS, dan pak Satpam, segera sampai di gandhok ini.

    • ..mudal mudalan mboten….mudal madul..

      • “gandOK sini mudal-mudal-an banyak pengunjung” bisik teman
        si Sura Mudal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: