Buku 58

Tetapi Kiai Damar tidak segera meninggalkan arena. Ia sadar, bahwa kawan-kawannya pun tidak akan dengan mudah melepaskan diri. Juga orang-orang yang melawan Kiai Gringsing, yang kini tinggal seorang, dan yang sebenarnya sudah tidak berdaya sama sekali. Dua orang yang mula-mula bersamanya melawan Sumangkar adalah orang-orang yang termasuk penting di dalam lingkungannya. Kedua orang itu mengerti serba sedikit hubungan yang lebih jauh di belakang Kiai Damar di dalam usahanya menguasai daerah yang sedang dibuka. Tetapi agaknya usahanya masih jauh dari sasaran. Bahkan untuk menyingkirkan tiga orang itu pun ia tidak berhasil.

Adalah mengejutkan sekali, bahwa justru pada saat Kiai Damar meninggalkan arena, ia masih sempat meloncat mendekati kedua kawannya di tanah, dan yang seorang yang melangkah surut didesak oleh Kiai Gringsing.

Hampir tidak masuk akal, bahwa Kiai Damar itu berlari sambil menggoreskan ujung kerisnya kepada kedua orang itu. Yang mula-mula dilukainya adalah orang yang terbaring di tanah sambil mengerang, kemudian sebuah goresan mengenai tangan kawannya yang justru sedang bertempur melawan Kiai Gringsing.

Sementara itu, kawan-kawannya yang lain pun, telah mencoba meninggalkan gelanggang. Tetapi kebanyakan dari mereka tidak sempat melakukannya. Apalagi tiga orang yang melawan Swandaru. Disaat terakhir, Swandaru telah mengerahkan segenap kemampuannya, ketika ia mendengar Kiai Damar bersuit nyaring. Ia tahu benar maksudnya. Karena itu, maka dengan sepenuh kemampuannya ia telah melumpuhkan tiga orang lawannya tanpa ampun. Ledakan cambuknya telah mengenai leher, wajah dan yang seorang yang sudah sempat melangkah lari, telah dijerat kakinya dengan ujung cambuk itu, sehingga ia jatuh terjerembab. Sebelum ia sempat bangkit, maka ujung cambuk Swandaru telah membuatnya pingsan.

Hanya seorang saja lawan Agung Sedayu yang berhasil lolos. Agung Sedayu menjadi ragu-ragu ketika ia mendengar orang itu seakan-akan merintih mohon ampun. Kalau saja Agung Sedayu tidak dibayangi oleh keragu-raguannya, ia sempat meraih sebutir batu dan melempar punggung orang yang kemudian seakan-akan tenggelam di balik dedaunan. Tetapi, tangannya serasa menjadi sangat berat, ketika ia mendengar orang itu seakan-akan menangis.

Tetapi dua orang lawannya yang lain telah terbaring di tanah. Yang seorang pingsan sedang yang lain merintih, kesakitan karena lambungnya sobek oleh karah-karah besi cambuk Agung Sedayu.

Arena pertempuran itu menjadi hening sejenak. Kiai Gringsing masih dicengkam oleh keheranan dan bahkan terkejut melihat Kiai Damar, yang dengan keris pusakanya, telah melukai kawan-kawannya sendiri, yang dua orang itu.

“Yang dua orang ini pasti orang-orang penting,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Karena itu, sejenak kemudian Kiai Gringsing menyadari, betapa pentingnya keterangan dari kedua orang itu, kalau ia berhasil menyelamatkannya.

Tetapi kedua orang yang telah dilukai oleh Kiai Damar itu bagaikan orang gila. Keduanya sama sekali tidak menyangka, bahwa justru Kiai Damar sendirilah yang telah berusaha membunuhnya. Karena itu, terbayang di wajah keduanya, perasaan marah, kecewa, penyesalan dan dendam yang bercampur baur, sehingga mereka berteriak-teriak sambil berguling-guling tidak menentu. Meskipun tubuh mereka menjadi lemah dengan cepatnya, namun seakan-akan mereka tidak mau menerima kenyataan itu.

“Kiai Damar, tunggu, tunggu aku,” teriak salah seorang dari mereka sambil meronta-ronta. Sebenarnya ia masih dapat berlari meninggalkan arena kalau mendapat kesempatan. Tetapi menurut perhitungan Kiai Damar, ia pasti tidak akan dapat lepas dari tangan Kiai Gringsing yang menyebut dirinya bernama Truna Podang itu. Karena itu, sambil berlari meninggalkan arena, ia masih sempat menggoreskan pusakanya. Bagi Kiai Damar, kedua orang yang mengerti tentang keadaannya, dan beberapa macam persoalan yang menyangkut tentang dirinya, lebih baik dimusnahkan, apabila memang tidak ada harapan untuk diselamatkan. Sedang orang-orang lain adalah pengikut-pengikut kecil yang hampir tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya di dalam lingkungan mereka. Seandainya ada juga yang mengerti, maka keterangan mereka tidak akan cukup banyak.

Kiai Gringsing, Sumangkar, Agung Sedayu, dan Swandaru memandang kedua orang yang sedang diraba oleh maut itu dengan hati yang berdebar-debar.

Mereka melihat suatu pergulatan yang dahsyat antara kenyataan dan pemberontakan di dalam diri mereka.

“Marilah, kita mencoba menolong mereka,” berkata Kiai Gringsing.

Sumangkar menganggukkan kepalanya.

“Cobalah, tahan tubuhnya, agar ia tidak meronta-ronta. Aku akan berusaha mengobatinya.”

Sumangkar pun kemudian melangkah mendekati salah seorang dari mereka. Yang seorang itu agaknya masih cukup mempunyai kekuatan untuk bertahan seandainya ia sempat ditolong. Tetapi karena ia selalu meronta-ronta maka racun warangan keris itu seakan-akan telah dipercepat menjalari seluruh tubuhnya.

Dengan hati-hati Sumangkar mendekatinya. Kemudian dengan cepatnya ia menerkam kedua tangannya dan memeganginya erat-erat.

“Inilah lukanya,” berkata Sumangkar sambil menahan tubuh orang itu.

Tetapi ia masih tetap meronta-ronta. Sambil berteriak ia berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi tubuhnya sudah menjadi sangat lemah. Keringat dingin mengalir seperti terperas dari tubuh itu.

Dengan tergesa-gesa Kiai Gringsing mengambil serbuk obat dari bumbung kecilnya. Dengan susah payah ditaburkan serbuk itu di atas luka di tangannya. Namun demikian, Kiai Gringsing sudah tidak berpengharapan lagi. Luka itu cukup dalam, sehingga racun yang menyusup ke dalam darah pun dengan cepatnya menjalar ke seluruh tubuh, dan mencengkam jantung.

Kiai Gringsing masih mendengar orang itu berteriak mengumpat. Tetapi suaranya yang parau seakan-akan hilang di tenggorokan. Namun semua orang masih sempat mendengar orang itu mencaci maki Kiai Damar yang telah membunuhnya.

Sejenak kemudian ia pun terdiam. Obat Kiai Gringsing yang sudah mulai bekerja tidak berhasil menolongnya. Sejenak kemudian ia pun menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ketika tiba-tiba ia teringat pada orang yang satu lagi, ia pun segera bangkit pula. Tetapi keadaan orang itu agaknya lebih buruk lagi dari kawannya. Sebelum Kiai Gringsing berbuat sesuatu, ia pun telah meninggal pula. Tubuhnya yang memang sudah terlampau lemah, sama sekali tidak mempunyai daya tahan yang cukup untuk menahan arus racun dari lukanya keseluruh tubuhnya dan menghentikan detak jantungnya.

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi ngeri melihat peristiwa itu. Alangkah kejamnya. Mereka dengan hati yang dingin membunuh kawan-kawan sendiri apabila sudah tidak diperlukan lagi, atau dianggap berbahaya bagi mereka.

Sumangkar pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Mengerikan sekali.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya ia melangkah mendekati orang-orang lain yang masih terbaring di tanah. Beberapa orang sudah mulai sadar, akan tetapi tubuh mereka terasa sama sekali tidak bertenaga.

Dari dua belas orang yang datang ke barak itu, dua di antara mereka sempat melarikan dirinya, yang dua terbunuh oleh kawannya sendiri, sedang yang lain sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk berbuat sesuatu. Seorang lawan Swandaru ternyata luka sangat berat dan mengancam jiwanya. Demikian juga seorang lawan Agung Sedayu yang luka di lambung meskipun ia tidak pingsan. Sedang lawan-lawan Kiai Gringsing yang pingsan justru tidak berbahaya bagi jiwa mereka.

“Marilah, kita bawa mereka ke barak,” berkata Kiai Gringsing.

Sumangkar menganggukkan kepalanya.

Kemudian bertiga bersama Agung Sedayu dan Swandaru, Sumangkar mengusung orang-orang yang terluka. Sedang Kiai Gringsing tetap mengawasi keadaan, apabila ada perkembangan baru yang mencemaskan.

Satu demi satu mereka diletakkan di serambi. Sedang orang-orang yang ada di serambi itu menjadi ketakutan dan menyibak karenanya.

“Jangan takut,” berkata Agung Sedayu, “mereka tidak akan berbuat apa-apa.”

Tidak ada seorang pun yang menyahut. Tetapi tatapan mata mereka yang suram, membayangkan kecemasan yang tiada taranya.

Akhirnya, semuanya telah terbaring di serambi barak. Kiai Gringsing pun telah berada di serambi itu pula. Satu demi satu luka mereka mendapat pengobatan. Terutama mereka yang luka parah.

Orang-orang di serambi barak yang melihat orang-orang itu terbaring diam, perlahan-lahan menjadi agak berani juga mendekat. Bahkan salah seorang dari mereka yang berjongkok di belakang Agung Sedayu bertanya lirih, “Siapakah mereka itu?”

Sebelum Agung Sedayu menjawab, Swandaru telah mendahului menyahut, “Coba katakan, siapakah mereka menurut dugaanmu.”

Orang itu tidak segera menyahut. Dipandanginya Swandaru yang berwajah bulat itu meskipun kini agak susut.

“Tebaklah.”

Orang itu ragu-ragu. Namun kemudian ia menjawab, “Orang itu adalah korban dari hantu-hantu yang marah itu.”

“He, bukankah ia marah kepada kita di sini?”

“Tetapi orang-orang itu dibawanya dari barak-barak yang lain di tempat yang lain.”

“Coba terka, ke mana mereka, maksudku hantu-hantu itu sekarang pargi.”

Orang itu tidak dapat menjawab. Sementara orang-orang lain yang mendengar pembicaraan itu semuanya memandang Swandaru dengan wajah yang bertanya-tanya.

“Ke mana? Coba terka ke mana perginya hantu-hantu itu?”

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Akhirnya Swandaru itu berkata, “Inilah hantu-hantu itu. Merekalah yang menyebut dirinya hantu-hantu. Mereka pulalah yang sering menakut-nakuti kalian dengan tengkorak yang dilekati kunang-kunang atau kuda yang diberi kerincing dikakinya dan dilekati kunang-kunang pula di bagian-bagian tubuhnya.”

Sejenak orang-orang di serambi barak itu terpaku diam. Namun kemudian salah seorang berkata, “Tetapi, ada di antara kita yang pernah melihat hantu-hantu itu.”

Swandaru mengerutkan keningnya sejenak. Tiba-tiba ia berlari menghambur ke belakang barak itu. Sejenak kemudian ia kembali sambil membawa sebatang tongkat, dan di ujung tongkat itu ditaruhnya tengkorak yang ditemukannya di belakang barak itu.

“Inilah hantu itu. Apakah kalian percaya?” bertanya Swandaru kepada mereka. “Lihatlah, betapa menakutkan hantu-hantu ini. Kemudian mereka berkerudung hitam. Lihat, kain yang tersangkut di leher Ki Sumangkar itu. Itu-lah kerudung hantu-hantu itu. Kami telah terlibat dalam perkelahian melawan hantu-hantu kecil dari Alas Mentaok. Ternyata hantu-hantu tidak lebih dari orang gila yang mencoba menakut-nakuti kita. Sekarang kalian melihat, apakah hantu-hantu itu benar-benar menakutkan? Hantu-hantu itu sekarang sudah tidak berdaya sama sekali.”

Beberapa orang saling berpandangan sejenak.

“Cobalah. Sentuhlah kakinya atau tangannya. Kalian akan merasa bahwa kalian sama sekali tidak bersentuhan dengan hantu-hantu. Tetapi kalian akan merasakan kehangatan kulitnya dan denyut nadinya. Hantu-hantu tidak berdarah, dan karena itu tubuhnya sama sekali tidak mempunyai panas sama sekali.”

Beberapa orang masih tetap ragu-ragu. Tetapi seorang yang masih muda merayap maju. Meskipun ragu-ragu juga tetapi tangannya kemudian dijulurkannya perlahan-lahan.

Tetapi ketika orang yang terbaring dihadapannya itu menggeliat, ia meloncat mundur.

“Jangan takut.”

Orang-orang yang terbaring karena luka-lukanya itu pun menjadi berdebar-debar pula. Mereka merasa bahwa berpuluh-puluh pasang mata memandangi mereka dengan tajamnya, penuh kebencian dan penuh dendam. Apabila mereka sadar, bahwa yang dihadapinya itu adalah orang-orang yang sudah tidak berdaya, maka sikap mereka akan dapat membahayakan.

“Sentuhlah,” desis Swandaru.

Sekali lagi orang itu mengulurkan tangannya. Kali ini ia memaksa dirinya sehingga akhirnya ia menyentuh tangan orang yang sedang terbaring karena lukanya.

“Nah, apa katamu.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Kemudian sekali lagi ia menyentuhnya. Bahkan kemudian tiba-tiba ia mencengkam tangan itu. Dengan serta-merta tangan itu ditariknya sambil menggeram, “Jadi kau yang menjadi hantu jadi-jadian itu, he.”

Hampir saja orang itu meremas wajah orang yang sedang terluka itu. Namun Swandaru yang berdiri di sampingnya dengan cepatnya menangkap tangannya sambil berkata, “Hantu-hantu itu sudah menjadi jinak. Jangan kau apa-apakan dia. Biarlah ia menikmati luka-lukanya. Kalau luka-luka itu sudah sembuh, maka kita akan memeliharanya. Mungkin kita memerlukannya.”

Orang yang hampir saja mencengkam wajah orang yang terluka itu terpaksa melepaskannya. Tetapi tiba-tiba ia berkata, “He, orang-orang yang tinggal di barak ini, yang selama ini telah dibayangi oleh ketakutan terhadap hantu-hantu. Sekarang kita sudah berhadapan dengan mereka, sehingga karena itu, apakah yang akan kita lakukan terhadap mereka.”

“Itu pasti akan mereka akui. Baiklah mereka akan kita serahkan saja kepada para petugas yang besok akan datang.”

“Tidak. Mereka tidak akan kita serahkan kepada orang lain. Mereka akan kami adili di sini. Kamilah yang akan menjatuhkan hukuman kepada mereka.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia melihat beberapa orang telah bergerak mendekat. Bahkan orang-orang yang berada di dalam barak pun telah berdesakan di muka pintu.”

“Ya, serahkan kepada kami. Serahkan kepada kami.”

Sejenak kemudian suasana menjadi semakin tegang. Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Kiai Gringsing dan Sumangkar pun telah bergeser mendekatinya pula. Bahkan Kiai Gringsing berbisik ditelinga muridnya, “Pertahankan. Pertahankan orang-orang itu.”

Agung Sedayu menjadi semakin mantap. Namun sebelum ia berkata lagi, terdengar suara diambang pintu, “Kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa atas mereka. Akulah pemimpin pengawas di sini. Mereka akan diserahkan kepadaku dan aku akan menyerahkan mereka kepada atasanku.”

Kini semua orang memandang kepada pemimpin pengawas yang memaksa dirinya untuk berdiri bersandar tiang pintu.

Sejenak orang-orang itu terdiam. Mereka memandang pengawas itu sejenak. Namun orang yang marah itu agaknya sulit mengendalikan diri. Salah seorang dari mereka berteriak, “Kami tidak akan menyerahkan kepada siapa pun juga. Kami akan mengadilinya sendiri.”

“Itu tidak mungkin. Orang-orang itu akan dibawa ke Mataram. Kita semuanya sangat memerlukan mereka. Keterangan mereka akan dapat membantu kita seterusnya.”

“Aku tidak peduli.”

“Ya, kami tidak peduli,” sahut yang lain. Dan yang lain berteriak, “Bunuh saja. Mereka membuat kita malu dan muak.”

Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Dan tiba-tiba saja di dalam ketegangan itu, ia tidak melihat Swandaru.

“Kemanakah anak ini pergi?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi agaknya Kiai Gringsing dan Sumangkar pun bertanya-tanya pula di dalam hati.

“Tidak apa,” terdengar suara Agung Sedayu, “kalian tidak akan berbuat apa-apa.”
“Tetapi mereka telah menakut-nakuti kami untuk waktu yang cukup lama sehingga kami telah kehilangan banyak sekali kawan dan kehilangan banyak waktu.”

“Tetapi kalian tidak akan berbuat apa-apa.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah Agung Sedayu dan orang yang terbaring itu berganti-ganti.

Namun dalam pada itu terkilas dikepalanya, ketakutan yang selama ini telah merusak semua usaha orang-orang di dalam barak ini. Beberapa orang telah meninggalkan tempat mencari tempat baru karena mereka tidak dapat lagi kembali ke tempat mereka yang lama. Kemudian beberapa orang yang lain tidak lagi berani keluar dari baraknya sehingga lebih baik bekerja saja di dapur. Dan banyak lagi persoalan yang telah mengungkat kemarahannya. Orang itu menjadi malu kalau dikenangnya, bagaimana ia bersembunyi di balik selimut apabila terdengar suara gemerincing dan derap kaki-kaki kuda.

Karena itu, dengan wajah yang kemudian menjadi merah padam ia berkata, “Orang-orang ini telah membuat kami di sini mengalami banyak sekali gangguan. Karena itu, serahkanlah mereka kepada kami. Kami akan mengadili mereka dengan cara kami.”

Permintaan itu telah mengguncangkan jantung orang-orang yang sedang terbaring diam karena luka-luka mereka. Tetapi yang lukanya tidak begitu parah perlahan-lahan mencoba mengumpulkan kekuatan yang masih ada. Tentu tidak menyenangkan sekali jatuh ditangan orang-orang yang sedang marah karena ledakan perasaan yang sudah lama ditekan.

Beberapa orang merasa, lebih baik lari atau melawan dan kemudian mati di dalam perlawanan itu apabila tidak berhasil lolos sama sekali, daripada menjadi permainan.

Tetapi Agung Sedayulah yang menjawab, “Sebaiknya kalian tidak berbuat apa-apa. Mereka sudah tidak berdaya. Mereka sudah tidak akan dapat menakut-nakuti kalian lagi.”

“Tetapi mereka pernah melakukannya. Mereka pernah membuat hati kita kecut sehingga kami kehilangan gairah untuk berbuat sesuatu.”

Namun mereka tidak sempat mencari anak yang gemuk itu. Mereka kini benar-benar dicengkam oleh kecemasan, bahwa orang-orang di barak itu tidak dapat dikendalikan lagi.

“Kalian jangan melindungi mereka,” tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak. Seorang yang bertubuh besar meskipun agak pendek berdiri di sudut serambi. “Akulah yang akan membunuhnya. Aku telah banyak sekali dike-cewakan oleh orang-orang gila itu. Aku sudah meninggalkan gubug yang sudah aku bangun itu untuk beberapa saat dan tidur berjejal-jejal di sini.”

“Kenapa kau berbuat begitu?” bertanya Kiai Gringsing tiba-tiba.

“Orang-orang itulah yang telah menakut-nakuti kami.”

“Salahmu sendiri bahwa kau menjadi takut.”

“Kalau aku tidak takut, mereka akan membunuh aku.”

“Dan kau, kau, kau dan yang lain lagi, sama sekali tidak berani melawan, kalian hanya berani bersembunyi. Bahkan menyalahkan kami yang dengan susah payah berusaha membongkar kejahatan ini. Sekarang, kalian akan memaksa kami menyerahkan mereka kepada kalian,” jawab Agung Sedayu, “tentu kami tidak mau. Misalnya orang berburu, kamilah yang mendapat binatang buruan. Terserah kepada kami, apa yang akan kami lakukan.”

“Tepat,” sahut pemimpin pengawas.

Keadaan menjadi hening sejenak, meskipun wajah-wajah menjadi semakin tegang. Namun sejenak kemudian meledaklah perasaan yang selama ini tertekan, “Kami tidak peduli. Kami memerlukan mereka. Kami akan mencincang mereka di halaman. Siapa yang melindungi, akan kami sertakan pula. Akan kami cincang pula di antara mereka di halaman.”

“Ya, ambil saja dengan paksa.”

“Bunuh saja.”

Agung Sedayu menjadi bingung. Orang-orang itu bagaikan orang yang kehilangan kesadaran. Kalau satu dua orang di antara mereka kemudian berdiri dan maju selangkah, maka keadaan akan menjadi kacau. Mereka tidak ubahnya dengan orang-orang yang sakit ingatan, yang sama sekali tidak dapat mengekang dirinya sendiri. Dalam keadaan yang demikian, di dalam lingkungan orang banyak, seseorang akan dapat kehilangan dirinya sendiri. Seseorang akan dapat berbuat seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang ada disekitarnya tanpa memikirkan akibatnya.

Kiai Gringsing dan Sumangkar pun menjadi berdebar-debar pula. Seperti Agung Sedayu, mereka tidak segera mengerti, apa yang sebaik-baiknya dikerjakan. Sedang pemimpin pengawas yang berdiri bersandar pintu pun menjadi bingung pula. Apalagi pemimpin pengawas itu menyadari, betapa pentingnya keterangan-keterangan yang dapat didengar dari hantu-hantu yang kini sudah tidak berdaya itu.

“He, kenapa kita menunggu?” bertanya orang yang bertubuh besar dan pendek.

“Ya, apa yang kita tunggu. Ambil saja mereka semuanya, Kita cincang bersama-sama.”

“Kalian tidak akan dapat mengambil mereka,” berkata Agung Sedayu sambil mengurai cambuknya. “Aku sudah bertempur mati-matian melawan hantu-hantu Alas Mentaok ini. Sebagian dari mereka lari, dan sebagian dapat kami tangkap. Hantu-hantu itu sama sekali tidak dapat mengalahkan kami. Apalagi kalian. Ayo, siapakah di antara kalian yang jantan. Majulah lebih dahulu. Siapa yang akan mencincang mereka dan orang yang melindunginya sama sekali. Akulah yang melindungi mereka.”

Sejenak orang-orang itu terbungkam. Tetapi suasana yang panas itu menjadi semakin panas ketika seseorang berkata, “Jumlah kita lipat sepuluh lebih dari jumlah mereka. Mereka tidak akan dapat menahan arus kemarahan kita.”

“Kita paksa anak itu.”

“Kami bersenjata,” geram Agung Sedayu.

Sekali lagi orang-orang itu terdiam. Namun kemudian seseorang berkata, “Tidak peduli. Tangkap mereka.”

Ketika Agung Sedayu melihat sorot mata mereka yang marah, harapannya untuk dapat menahan arus kemarahan mereka menjadi pudar. Adalah tidak mungkin baginya bersama guru dan Sumangkar, untuk melayani orang-orang yang tidak bersenjata itu. Orang-orang bingung yang tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Kalau ia bersama gurunya dan Sumangkar berbuat sesuatu, maka akibatnya akan sangat parah bagi orang-orang itu. Tetapi kalau ia tidak berbuat sesuatu, maka hantu-hantu Alas Mentaok itu akan menjadi korban dan mereka akan kehilangan sumber keterangan meskipun sedikit.

Sebelum Agung Sedayu berbuat sesuatu, maka ia sudah melihat satu dua orang mulai bergerak. Dan ia menjadi semakin berdebar-debar ketika beberapa orang telah berdiri serentak.

“Bagaimana, Guru,” desis Agung Sedayu.

Kiai Gringsing tidak juga segera menjawab. Seperti Sumangkar ia pun menjadi kebingungan. Apakah yang sebaiknya dilakukan. Kalau ia terpaksa mempergunakan kekerasan, maka akibatnya sama sekali tidak dikehendakinya. Selama ini ia berbuat sesuatu, yang dapat membahayakan jiwanya, justru untuk kepentingan orang-orang itu. Tetapi kini orang-orang itu justru marah kepadanya.

Sebelum Kiai Gringsing menemukan cara yang sebaik-baiknya, maka meledaklah kemarahan orang-orang di dalam barak itu. Beberapa orang hampir berbareng berdiri sambil berteriak, “Ambil, ambil saja.”

“Tidak,” tiba-tiba Agung Sedayu berteriak untuk mengatasi suara riuh mereka. Dan hampir berbareng dengan itu, orang-orang yang merasa dirinya masih mampu bangkit, tiba-tiba pula telah mencoba bangkit pula perlahan-lahan.

Ternyata beberapa orang yang bergerak-gerak, dan kemudian duduk di serambi sambil menyeringai itu berpengaruh. Apalagi ketika salah seorang dari mereka berdiri dengan terhuyung-huyung.

Agung Sedayu melihat gelagat itu. Karena itu, maka ia berkata, “Mereka tidak rela menyerahkan diri mereka kepada kalian. Ternyata salah seorang dari mereka telah bangkit berdiri. Sebentar lagi semuanya akan berdiri dan aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.”

Serambi itu menjadi hening.

Agung Sedayu melihat sorot mata keragu-raguan di setiap wajah. Orang-orang dibarak itu sejenak memandang Agung Sedayu, sejenak kemudian gurunya dan Sumangkar, lalu sesosok tubuh yang kemudian berdiri meskipun pakaiannya telah bernoda darah.

Tetapi selagi mereka ragu-ragu, salah seorang berkata lantang, “Kenapa kita ragu-ragu, kenapa? Mereka sudah tidak berdaya. Orang-orang yang melindungi mereka itu pun juga tidak berdaya.”

“Ya, mereka sudah tidak berdaya.”

“Mereka sudah tidak akan dapat melawan. Cepat, cincang saja…”

Sekali lagi orang-orang di dalam barak itu mulai bergerak. Agung Sedayu yang kebingungan, tiba-tiba saja telah menggerakkan cambuknya, sehingga suara ledakan yang memekakkan telinga telah menyobek malam yang panas.

Kejutan suara cambuk Agung Sedayu memang membuat mereka tertegun. Tetapi tidak membuat mereka surut. Mereka masih bergerak pula mendekati orang-orang yang masih sangat lemah itu.

Agung Sedayu benar-benar telah kehabisan akal. Gurunya dan Sumangkar pun masih belum menemukan jalan sama sekali.

Namun selagi suasana memanjat menjadi semakin panas, tiba-tiba setiap telinga tergerak ketika tiba-tiba mereka mendengar suara gemerincing. Semakin lama semakin dekat. Suara gemerincing seperti yang selalu mereka dengar sela-ma ini. Suara hantu-hantu dari Alas Mentaok.

Tiba-tiba terasa bulu kuduk orang-orang yang sedang marah itu meremang. Semakin keras suara itu, mereka pun menjadi semakin berkerut.

“Hantu-hantu yang lain telah datang lagi,” desis Agung Sedayu.

Serambi barak yang hampir saja direnggut oleh udara maut itu tiba-tiba menjadi hening. Namun terasa setiap dada menjadi tegang.

Beberapa orang yang semula berdiri dengan garangnya, tiba-tiba melangkah surut dan perlahan-lahan berkerut berdesakan. Beberapa orang segera membaringkan dirinya dan berselimut kain sampai ke ujung kepalanya. Sedang beberapa orang yang lain membeku di tempatnya.

“Hantu-hantu itu datang lagi,” sekali lagi Agung Sedayu berdesis, “kali ini pasti lebih banyak. Mereka pasti akan mengambil kawan-kawannya yang sudah kamanungsan, dan membuat mereka menjadi hantu kembali.”

Orang-orang yang mendengar kata-kata Agung Sedayu menjadi semakin kecut. Kini mereka telah kehilangan segala kemauan dan bahkan seolah-olah mereka telah kehilangan kesadaran. Wajah-wajah mereka menjadi pucat dan bibir mereka bergetar.

“Nah, siapakah yang masih akan mencincang hantu-hantu ini,” bertanya Agung Sedayu. “Tetapi jelas bukan aku, bukan ayah dan bukan pamanku yang baru sore ini datang. Ayo, siapa?”

Tidak ada seorang pun yang berani menyahut.

“Tetapi hantu-hantu yang kamanungsan itu pasti dapat berceritera, siapakah yang akan mencincang mereka apabila kawan-kawannya yang lebih kuat akan datang, yang barangkali tidak akan terlawan lagi oleh kami.”

Setiap dada serasa hampir retak oleh ketakutan yang bergejolak. Apalagi ketika suara gemerincing itu menjadi semakin dekat. Dekat sekali di samping barak.

“He, kenapa kalian bersembunyi di balik selimut?” bertanya Agung Sedayu. “Apakah kalian sudah kehilangan kegarangan kalian? Kalian akan mencincang siapa saja, termasuk mereka yang akan melindungi hantu-hantu yang sudah kamanungsan itu. Sekarang kawan-kawan mereka pasti akan melindungi dan membuat mereka kembali ke dalam dunia mereka. Dunia hantu. Kenapa kalian tidak menyingsingkan lengan baju kalian dan mencincang hantu-hantu yang lain itu.”

Sama sekali tidak ada jawaban. Tetapi serasa darah orang-orang di serambi itu sudah tidak mengalir lagi.

Tiba-tiba mereka mendengar Agung Sedayu menahan suara tertawanya. Tetapi agaknya Swandaru tidak dapat, sehingga tiba-tiba meledaklah suara tertawanya berkepanjangan.

Tetapi bagi orang-orang yang ketakutan itu, suara tertawa Swandaru terdengar sangat mengerikan. Seolah-olah berpuluh-puluh hantu telah tertawa bersama-sama melihat bakal korban mereka telah meringkuk di bawah kain panjang masing-masing.

“He, lihat. Lihatlah, siapa aku,” teriak Swandaru yang membawa sebatang tongkat yang digantungi beberapa kerincing. Setiap kali tongkat itu dihentakkan di atas tanah, maka terdengar suara gemerincing dari beberapa buah kerincing yang bergantungan pada tongkat itu.

Tetapi tidak seorang pun yang berani membuka kerudung kain panjang mereka yang menutupi kepala. Baik mereka yang sudah melingkar berbaring di lantai atau di mana saja mereka sempat, atau mereka yang masih tidak sempat berbaring dan duduk memeluk lututnya, membenamkan kepalanya di bawah tangannya sambil berselubung kain panjang.

“Lihat aku,” teriak Swandaru sambil mengguncang guncang tongkatnya. Bahkan kemudian tongkatnya telah dihentak-hentakkan di atas beberapa kepala yang tersembunyi.

“Buka selimutmu, lihat aku.”

Tetapi tidak ada seorang pun yang berani. Bahkan ketika ujung tongkat itu menyentuh seseorang, maka orang itu pun segera jatuh pingsan. Orang itu merasa, seolah-olah ujung jari mautlah yang telah merabanya.

Swandaru akhirnya menjadi jengkel. Karena tidak ada seorang pun yang mau melihatnya, tiba-tiba tangannya terjulur dan menarik dengan paksa beberapa lembar selimut yang menyelimuti orang-orang yang ketakutan.

Satu dua di antara mereka masih tetap menyembunyikan wajahnya. Tetapi yang lain kemudian jatuh terguling dan pingsan pula.

Namun demikian ada juga satu dua orang yang dengan terpaksa sekali melihat tongkat yang diacu-acukan Swandaru. Sesaat ia tidak percaya kepada penglihatannya. Namun sambil menyembunyikan wajah mereka, beberapa orang itu berusaha melihat dari sela-sela lingkaran tangan mereka.

Dan yang mereka lihat memang Swandaru mengguncang-guncang sebatang tongkat yang digayuti oleh beberapa buah kerincing.

Dengan ragu-ragu satu dua orang mengangkat wajah mereka. Yang mereka lihat sama sekali tidak berubah. Anak Truna Podang yang gemuk itulah yang bermain-main dengan kerincing.

Tiba-tiba seseorang di antara mereka bertanya, “Apakah kau anak Truna Podang?”

“Siapa, siapa aku. Coba tebak? Apakah kau sangka aku sesosok hantu yang membentuk diriku seperti anak Truna Podang?”

“Tetapi?” orang itu ragu-ragu.

“Akulah yang sejak tadi bermain dengan kerincing-kerincing ini. Apakah kalian tahu maksudku?”

Tidak ada yang menjawab. Meskipun demikian satu dua orang kini telah membuka kerudung mereka meskipun dengan ragu-ragu.

“Aku ingin melihat, apakah benar-benar kalian orang-orang jantan. Kalian berniat ingin mengadili orang-orang yang terluka itu. Tetapi apakah kalian benar-benar berhak?”

Sejenak suasana menjadi sepi. Beberapa orang yang telah berani membuka kerudung mereka saling berpandangan. Bahkan beberapa orang yang berbaring melingkar, telah bangkit dan duduk termangu-mangu.

Mula-mula mereka sama sekali tidak tahu, bagaimana menanggapi keadaan itu. Mereka hanya memandang saja Swandaru yang berdiri sambil memegangi tongkat yang digantungi kerincing-kerincing itu.

Namun sejenak kemudian orang yang besar agak pendek itulah yang berteriak untuk pertama kali, “He anak gila. Kau telah mempermainkan aku, mempermainkan kami.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Sebelum ia menyahut orang yang lain telah berteriak pula, “Ya. Kau mempermainkan kami.”

“Apa maksudmu mempermainkan kami?” bertanya yang lain.

Dan tiba-tiba orang yang pendek itu berkata, “Kalian memang orang-orang gila. Sekarang sudah jelas bagi kami, bahwa kami selama ini telah dipermainkan orang. Bahkan selagi kami dicengkam oleh ketegangan kali ini pun ada juga orang yang mempermainkan kami. Sekarang kami akan menuntut balas. Kami akan memuaskan hati kami yang selama ini tertekan.”

Suasana di serambi barak itu menjadi semakin tegang. Namun tiba-tiba semua orang telah dikejutkan oleh suara tertawa Swandaru yang meledak. Sambil menunjuk kepada orang yang pendek itu ia berkata, “He, kenapa kau dapat dipermainkan orang? Kenapa? Apalagi untuk waktu yang lama?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Sebelum ia menjawab, Swandaru telah mendahului, “Karena kau penakut. Semua orang yang ada di barak ini penakut dan pengecut. Aku masih menghormati seorang penakut yang merasa dirinya penakut. Tetapi kau tidak. Kau adalah seorang penakut, tetapi juga pengecut. Di dalam keadaan yang gawat, kau sembunyi di bawah selimutmu rapat-rapat. Tetapi kalau kau menghadapi orang-orang sakit yang hampir mati, kau bertolak pinggang seperti seorang pahlawan. Ayo, di mana kejantananmu? Kejantanan bukan berarti berani membunuh orang-orang tidak berdaya. Atau bahkan yang dengan penuh dendam mencekik lawan-lawan yang memang sudah hampir mati.”

Dan Agung Sedayu pun menyambung, “Bukan pula semata-mata karena kita berani bertempur dan berani mati. Tetapi kejantanan juga mengandung segi-segi perikemanusiaan dan pengakuan terhadap kenyataan. Seorang kesatria sebagai lambang kejantanan bukan semata-mata yang menyandang pedang di peperangan, yang membunuh musuh dengan ujung senjata dan membelah dada lawan tanpa berpaling. Tetapi sifat-sifat kesatria adalah ngabehi. Meliputi sifat-sifat baik yang menyeluruh. Kesatria jantan bukan saja berjiwa seluas lautan yang mampu menampung semua persoalan dan selapang langit yang menyerap semua masalah dengan kesabaran.”

Sejenak serambi itu menjadi sepi. Orang-orang yang mendengar kata-kata Agung Sedayu itu menundukkan kepalanya. Tetapi bukan saja orang-orang itu yang mendengarkannya dengan sentuhan-sentuhan di dalam hati. Bahkan Swandaru pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ada beberapa perbedaan dari kata-kata Agung Sedayu itu dengan kata-kata yang akan diucapkannya. Namun ia bahkan ikut mencoba memahami kata-kata Agung Sedayu itu.

Tanpa sesadarnya Swandaru berpaling, memandang wajah gurunya. Tetapi gurunya tidak sedang memandanginya. Orang tua itu sedang mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan membenarkan kata-kata Agung Sedayu itu.

“Untunglah, aku belum mengatakannya,” desis Swandaru di dalam hati. Hampir saja ia mengatakan, “Bahwa seseorang yang jantan, adalah seseorang yang berani menengadahkan dadanya. Yang berani bertempur seorang lawan seorang dalam keadaan yang seimbang. Bukan melawan orang-orang sakit dan hampir mati. Yang dengan jujur membunuh musuhnya berhadapan.”

“Itu hanya sebagian saja,” Swandaru mengangguk-angguk sendiri oleh kata-katanya di dalam hatinya itu. “Agaknya apa yang akan aku katakan memang kurang lengkap.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:41  Comments (55)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-58/trackback/

RSS feed for comments on this post.

55 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kupikir, Panembahan Jati Sarono akan mengurungkan niatnya untuk menghalang-halangi pembukaan hutan Mentaok. Aku mendengar kabar bahwa andahannya tiga orang sudah tewas. Satu menyamar jadi pengawas, satu menyamar jadi dukun, dan satu lagi orang yang tinggi kekar itu! Sayangnya, Panembahan Jati Sarono tidak terpengaruh. Dia justru menambah orang-orang baru untuk membantu Ki Damar yang masih bertahan di hutan Mentaok. Apakah Ki Damar sudah mendapatkan sisik melik untuk mengetahui siapa Ki Truno Podang dan dua anak laki-lakinya itu? Aku hanya tercenung di pringgitan. Ku tatap bintang malam! Ah…masih menunggu jenang lot 58 disajikan!

  2. “Kau bernama Sura Mudal bukan ?” bertanya Raden Sutawijaya.

    mudal mudalan bukan Ki Sura,
    mudal mudalan Ki Menggung ber2, Ki AS, dan pak Satpam, segera sampai di gandhok ini.

    • ..mudal mudalan mboten….mudal madul..

      • “gandOK sini mudal-mudal-an banyak pengunjung” bisik teman
        si Sura Mudal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: