Buku 57

Ketika mereka sampai pada semak-semak berduri dan batang-batang menjalar yang berjuntaian dari pepohonan yang besar, maka jejak yang diikutinya seakan-akan telah hilang begitu saja.

Sejenak para pengawal itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika mereka menengadahkan kepala mereka, dilihatnya dedaunan yang menjadi semakin lebat. Kalau mereka maju terus, mereka akan memasuki daerah hutan yang semakin rapat.

“Apakah kita akan maju terus?” bertanya salah seorang dari mereka.

Yang Iain tidak segera menjawab. Dibelakang mereka adalah hutan perdu dan batang-batang ilalang yang liar. Tetapi dihadapan mereka adalah hutan kayu yang mulai rapat.

Para pengawal itu mulai ragu-ragu, apakah mereka akan berhasil mengejar orang yang lari itu. Jejak yang mereka selusuripun menjadi semakin samar-samar karena dedaunan yang tebal disekitar mereka.

“Sukar sekali untuk menemukan mereka dihutan yang mulai rapat itu” desis pemimpin pengawal

Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sekilas mereka memandang pada sulur-sulur kayu yang berjuntai dari pepohonan, bergulat dengan batang-batang yang merambat.

“Memang sulit” desis seorang pengawal.

“Kita terpaksa melepaskannya” berkata pemimpin pengawal itu “tetapi ada juga baiknya. Ia akan dapat mengatakan kepada kawan-kawannya yang belum kita ketahui, bahwa pengawal Tanah Mataram sudah siap menghadapi
mereka.”

Para pengawal mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dengan demikian mereka sadar bahwa mereka berhadapan dengan suatu kekuatan yang belum dapat mereka perhitungkan.

“Kita akan menghadap Raden Sutawijaya” berkata pemimpin pengawal itu.

“Kita menunggu kawan-kawan kita yang mengejar orang yang pertama kali meninggalkan gelanggang” sahut yang lain.

“Ya, kita akan kembali. Wanakerti menunggu.”

Para pengawal itupun kemudian kembali kebekas arena perkelahian yang menjadi bosah-baseh. Batang-batang ilalang seolah-olah telah digilas oleh roda-roda bergigi silang menyilang.

Ketika para pengawal itu sampai, mereka melihat Kawan-kawannyapun telah berada ditempat itu pula menunggu Wanakerti yang meskipun sudah sangat lemah, tetapi masih juga berusaha menolong kawannya yang sedang pingsan.

“Ia masih belum sadar” desis Wanakerti.

Para pengawal itupun segera berjongkok disampingnya. Mereka dengan berdebar memandang wajah pengawas yang pucat dan mata yang terpejam.
Tiba-tiba pemimpin pengawal itu bergeser maju. Dirabanya dada pengawas itu, dan bahkan kemudian dilekatkannya telinganya. Dengan wajah yang tegang, tangannya meraba mata pengawas itu dan dibukanya sedikit.

“Kenapa?” bertanya Wanakerti.

Pemimpin pengawas itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan suara yang berat ia berkata “Ia sudah meninggal.”

‘“He” Wanakerti mengerutkan keningnya “ia sudah meninggal?”

Pemimpin pengawas itu mengangguk.

Kepala Ki Wanakertipun segera tertunduk dalam-dalam merenungi wajah kawannya itu. Terasa tenggorokannya seakan-akan telah tersumbat. Ia telah berjuang bersamanya selama perjalanan yang meskipun tidak terlampau jauh, tetapi cukup berat itu.

“Ia sudah mendahului kita didalam tugasnya.”

“Ya. Ia sudah gugur didalam perjuangan menegakkan Tanah Mataram yang sedang tumbuh ini.”

Para pengawal yang lain pun telah menundukkan kepala mereka pula. Salah seorang kawan mereka telah gugur menghadapi rahasia yang masih samar-samar yang tersembunyi dibelakang Alas Mentaok. Rahasia tentang hantu-hantu itu masih belum terpecahkan, dan kini mereka menghadapi rahasia baru yang tidak kalah rumitnya. Namun setiap pengawal itu mulai menghubung-hubungkan didalam hatinya, apakah tidak ada sangkut pautnya kedua rahasia yang besar yang tersimpan didalam lebatnya hutan Mentaok itu.

Sejenak kemudian maka pemimpin pengawal itupun berkata “Marilah, kita bawa tubuhnya kepusat Tanah Mataram.”

“Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya.”

“Tetapi sebelumnya kita akan mengubur dulu mayat-maya itu.” pemimpin pengawal itu melanjutkan.

Maka merekapun kemudian mengubur mayat-mayat yang terbunuh didalam peperangan. Karena mereka tidak dapat menggali tanah cukup dalam, maka diatas kuburan itu telah ditimbun batu-batu besar, agar tidak diganggu oleh binatang buas yang berkeliaran terutama dimalam hari.

Demikianlah maka para pengawal itupun kemudian kembali kepusat Tanah Mataram. Mereka hanya dapat menyelamatkan Wanakerti, sedang kawannya tidak lagi dapat menghindarkan diri, berkorban untuk daerah yang baru dibuka itu.

“Aku kehilangan kedua kawanku” desis Wanakerti disepanjang jalan.

“siapa?”

“Yang seorang lagi, yang bermata tajam, yang seharusnya menyampaikan berita tentang daerah kami itu Kami sudah berusaha memancing para pengejamya Tetapi merekapun telah membagi diri. Ketika mereka kembali mereka mengatakan bahwa kawanku itupun sudah terbunuh.”

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Katanya “Tidak. Kawanmu sama sekali tidak terbunuh. Orang itulah yang memberitahukan kepada kami, bahwa kau telah terjepit dlperjalanan karena kau memancing orang-orang yang mengejarmu, dan memberi kesempatan kepada kawanmu itu untuk berpacu terus.”

“Jadi orang itu masih hidup?”’

“Ya, dan ia sudah menyampaikan pesan yang dibawanya kepada Raden Sutawijaya, karena ia dapat langsung menghadapnya.”

Ki wanakerti menarik nafas dalam-dalam.”Sukurlah. Tuhan telah melindungi perjalanannya. Kalau ia gagal, aku kira, akupun telah mati terbunuh pula didalam perkelahian ini. Tetapi, meskipun aku selamat, seorang kawanku telah meninggal.”

Tidak seorangpun yang menyahut. Namun kuda mereka masih berlari dijalan setapak, kembali kepusat Tanah Mataram.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya sudah menghadap ayahanda Ki Gede Pemanahan, dan menyampaikan segala sesuatu yang didengarnya dari pengawas bermata tajam itu.

Ki Gede Pemanahan mendengarkan keterangan puteranya dengan saksama. SekaliS wajahnya menegang dan sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi siapakah menurut pendapatmu orang bercambuk itu?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

Sutawijaya tersenyum sambil menjawab “Tidak ada duanya didunia. Orang itu pasti Kiai Gringsing dani murid-muridnya.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya. Pasti orang Itu. Apakah kau ingin menemuinya?”

“Bagaimana dengan ayahanda?”

“Sebenarnya aku juga ingin bertemu dengan orang yang menyebut dirinya bernama Kiai Gringsing itu. Tetapi ketika aku datang ke Sangkal Putung disaat-saat pasukan terakhir dari Tohpati menyerah, agaknya orang itu sengaja menghindarkan dirinya, meskipun ia tidak menghindar darimu. Aku tidak tahu, kenapa ia berbuat begitu. Karena itu, sekarang sebaiknya kau sajalah yang datang ketempat itu. Lihatlah, apakah dugaanmu benar bahwa orang itu adalah Kiai Gringsing bersama kedua muridnya. Dan sekaligus kau akan mendapat gambaran dari keadaan yang sebenarnya didaerah itu. Apa yang terjadi akan dapat menjadi bahan pertimbangan yang dapat ditrapkan didaerah-daerah lain yang mengalami gangguan yang serupa. Agaknya hampir disegala sudut tanah ini telah dicengkam oleh ketakutan. Mereka menganggap bahwa hantu-hantu di Alas Mentaok telah keluar seluruhnya, bersama seluruh pasukan yang ada untuk mengganggu manusia yang dianggap merebut kerajaannya.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kau akan mendapat kesempatan untuk mempelajari keadaan itu. Aku yakin bahwa yang terjadi disana adalah sebagian dari seluruh rencana yang besar dari pihak yang belum kita ketahuil maksudnya. Namun ternyata mereka telah mempergunakan kekerasan sehingga jatuh korban manusia.”

“Apakah ayahanda berpendapat bahwa hantu-hantu itu merupakan sebagian dari rencana itu.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya. Aku menganggap demikian.”

Sutawijaya masih mengangguk-angguk. Akhirnya ia berkata “Baiklah ayah. Aku akau pergi secepatnya. Besok aku akan membawa sepasukan kecil pengawal. Mudah-mudahan aku berhasil.”

“Baiklah. Bawalah pengawal yang datang menghadapmu.”

“Baik. ayah. Aku akan tinggal didaerah itu untuk beberapa saat.”

“Tetapi kau harus taertindak cepat. Kau jangan terlampau lama terikat pada suatu daerah. Tanah Mataram yang semakin luas ini memerlukan perhatianmu. Bukan saja segi ketenteraman, tetapi juga perkembangan tata perdagangan dan perniagaan, hubungan dengan daerah-daerah disekitar Tanah Mataram dan bermacam-macam masalah lainnya.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar sepenuhnya, bahwa tugas yang dihadapinya adalah berat sekali. Tetapi itu sudah disadarinya sejak ia berkeputusan untuk membuka Alas Menta ok menjadi suatu daerah yang akan dijadikannya sebuah negeri yang ramai.

“Alas Mentaok harus dapat menyusul daerah lain yang lebih dahulu telah dibuka” berkata Sutawijaya didalam hatinya yang keras seperti batu hitam “tidak saja dapat mengimbangi daerah disekitarnya, Tanah-tanah Perdikan tetapi harus dapat mengimbangi daerah Kadipaten yang telah jauh mendahului.”

Tanpa disadarinya, Sutawijaya sebenamya telah berpacu didalam hatinya dengan seorang Perwira pasukan Pajang, kawan ayahnya yang telah lebih dahulu menerima daerah Pati yang sudah menjadi ramai.

“Kenapa ayahanda Sultan Pajang sama sekali tidak berkeberatan melihat perkembangan daerah-daerah lain, tetapi tiba-tiba saja telah mencurigai aku dan ayahanda Pemanahan

Pertanyaan Itu selalu mengganggunya. Namun Sutawijaya menyadari, karena ayahanda Ki Gede Pemanahan telah meninggalkan istana Pajang sebelum Tanah ini dengan resmi diserahkan.

Disore harinya Sutawijaya telah menyiapkan sebuah pasukan kecil yang akan pergi kebagian Utara dari Tanah Mataram yang sedang dibuka ini. Ia berkenan juga mengunjungi Wanakerti yang masih sangat lemah karena luka-lukanya.

“Kau tinggal saja disini Ki Wanakerti” berkata Sutawijaya “biarlah seorang kawanmu itulah yang akan mengantarkan kami.”

“Tidak tuan. Aku mohon agar aku diperkenankan untuk ikut serta kembali kedaerah itu. Besok aku pasti sudah sehat kembali. Aku sudah mendapat obat yang baik disini bagi luka-lukaku.”

“Tetapi kau masih sangat lemah.”

“Aku sudah sehat. Apabila tuan memperkenankan, aku mohon agar aku diperbolehkan ikut serta. Bukankah kita hanya akan sekedar duduk diatas punggung kuda?”

“Kau telah mengalami sendiri. Bagaimana kalau terjadi sesuatu diperjalanan?”

“Aku akan menyingkir. Aku merasa bahwa aku memang belum cukup kuat untuk bertempur. Tetapi aku juga tidak akan mengganggu. Aku akan mencoba menjaga diriku sendiri.”

Sutawijaya tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Bailklah. Jika kau berkeras hati untuk pergi bersama kami besok. Tetapi sekarang berusahalah beristirahat sebaik-bainya, supaya besok kau menjadi semakin segar.”:

“Terima kasih tuan. Aku merasa bahwa luka-lukaku kini sudah sembuh sama sekali.”

“Jangan terseret oleh arus perasaan lihatlah kenyataanmu sekarang. Kau masih memerlukan perawatan. Karena itu beristirahatlah.”

“Ya tuan. Aku akan beristirahat sebaik-baiknya.”

Dalam pada itu, sebuah kelompok kecil para pengawas telah disiapkan. Besok pagi-pagi benar mereka akan berangkat dipimpin langsung oleh Raden Sutawijaya. Dan agaknya Raden Sutawijayapun telah mengambil keputusan bahwa kedua pengawas yang datang itu besok akan pergi bersama-sama dengan mereka, meskipun Wanakerti masih sangat lemah. Namun mereka terpaksa melepaskan seorang kawan mereka yang ternyata telah gugur diperjalanan.

Sementara itu, dipinggir hutan yang sedang dibuka, Kiai Gringsing dan kedua muridnya telah kembali pula sampai kebarak. Mereka melihat pemimpin pengawas yang tertuka itu telah duduk diserambi barak, bersandar dinding bersama beberapa orang laki-laki. Agaknya mereka sedang memperbincangkan keadaan mereka dan usaha mereka untuk membuka hutan yang penuh dengan rahasia itu.

Ketika pemimpin pengawas itu melihat Kiai Gringsing beserta kedua muridnya, iapun menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berdesis ”Ternyata mereka selamat.”

“Kenapa?” bertanya salah seorang yang duduk disampingnya.

Pemimpin pengawas itu memandanginya dengan heran. Bahkan kemudian iapun bertanya “Kenapa kau bertanya begitu? Apakah kau tidak mengetahui keadaan terakhir dari daerah ini.”

Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya. Aku mengerti. Tetapi bukankah orang-orang itu termasuk orang-orang yang aneh? Bukan saja keberaniannya, tetapi ternyata mereka dapat mengatasi kesulitan yang timbul karena sikap-sikap yang keras dan bahkan senjata-senjata racun yang mengerikan itu.

Pemimpin pengawas itu mengangguk-angguk pula “Ya” katanya, “sebenarnya kita tidak perlu mencemaskannya. Namun demikian, kita tidak tahu pasti dan sama sekali tidak mempunyai gambaran, siapa dan berapa jumlah kekuatan yang tersembunyi dibalik rimbunnya dedaunan Hutan Mentaok. Itulah yang membuat kita menjadi ragu-ragu.”

Setiap laki-laki yang mendengar keterangan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka, sementara Kiai Gringsing telah berdiri ditangga barak.

“Apakah keadaanmu sudah baik?” bertanya Kiai Gringsing kepada pemimpin pengawas itu.

“Ya, keadaanku sudah berangsur baik.”

“Sukurlah” katanya kemudian sambil naik keserambi, sementara kedua anaknya pergi membersihkan diri keperigi.

“Apakah kau tidak menjumpai sesuatu?” bertanya pemimpin pengawas itu.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya “Tidak. Tidak ada apa-apa. Kami bekerja penuh seperti biasa.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-angguk. “Sukurlah” katanya kemudian.

Kiai Gringsingpun kemudian berdiri pula menyusul kedua muridnya membersihkan dirinya, sementara senja yang merah telah menyelubungi daerah yang masih saja dibayangi oleh kecemasan karena rahasia yang teisimpan di Alas Mentaok masih belum terpecahkan.

Setelah ketiganya selesai. maka merekapun segera kembali kebarak. Mereka menunggu pemimpin pengawas itu terpisah dari orang-orang lain, supaya laporannya tentang suara burung kedasih tidak menambah kegelisahan mereka.

“Jadi kalian mendengar suara burung itu terus-menerus?” bertanya pemimpin pengawas itu.

“Ya” jawab Kiai Gringsing.

“Apakah menurut dugaanmu suara itu sama sekali bukan suara burung yang sebenamya?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. “Memang bukan. Aku yakin bahwa suara itu adalah suatu isyarat saja.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Kalau begitu kalian memang harus sangat berhati-hati. Kita memang menghadapi suatu keadaan yang sulit. Kita disini mengharap bahwa para pengawas berhasil mencapai pusat Tanah Mataram sehingga mereka dapat menyampaikan laporan itu kepada para pemimpin tertinggi di Mataram.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia juga merasa cemas. Diperjalanan banyak hal yang dapat terjadi. Tetapi apabila mereka selamat, mereka pasti sudah sampai di Mataram dan laporan itu pasti sudah didengar oleh Ki Gede Pemanahan atau puteranya Sutawijaya.

“Kita harus menunggu sampai besok” berkata pemimpin pengawas itu” kalau mereka sampai pada alamatnya, besok pasti akan datang beberapa orang baru.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun didalam kepalanya herkecamuk berbagai masalah yang dapat terjadi malam nanti. Meskipun mereka hanya harus menunggu semalam, tetapi yang semalam itu akan dapat terjadi banyak persoalan. Apalagi apabila para pengawas itu tidak berhasil mencapai Mataram. Maka keadaan pasti akan menjadi lebih sulit lagi.

Demikianlah ketika malam turun, Kiai Gringsing mulai membagi tugas dengan murid-muridnya. Kedua muridnya harus pergi kebarak yang lain untuk memberikan sedikit ketenangan kepada orang-orang yang tinggal disana. Sementara Kiai Gringsing bersama pemimpin pengawas yang terluka itu tinggal dibarak itu.

“Kalau terjadi sesuatu yang tidak dapat kalian atasi sendiri, kalian harus memberikan tanda” berkata gurunya “disana ada sebuah kentongan kecil. Pergunakanlah apabila perlu. Akupun akan berbuat serupa. Apabila perlu. aku akan memanggil kalian pula kemari.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanyapun kemudian turun kehalaman yang sudah disaput oleh kehitaman malam.
Namun langkah mereka tertegun ketika mereka melihat sebuah bayangan yang berjalan perlahan-lahan menuju kepada keduanya. Begitu langsung dan tanpa ragu-ragu sama sekali.

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi berdebar-debar. Tanpa mereka sadari, maka merekapun kemudian bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Kiai Gringsingpun kemudian melihat bayangan yang mendatang itu pula. Selangkah ia maju sampai kebibir tangga. Dengan tajamnya ia memandang bayangan yang semakin lama menjadi semakin dekat.

Sejenak mereka menjadi curiga. Tidak ada seorangpun diantara orang-orang yang tinggal dibarak itu yang berani berjalan setenang itu didalam malam yang sudah mulai gelap selain Kiai Gringsing dan kedua muridnya. Tetapi bayangan itu agaknya sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan disekitarnya.

Semakin dekat, Kiai Gringsing menjadi semakin jelas. siapakah yang datang itu. Bahkan kemudian iapun turun kehalaman sambil berdesis kepada kedua muridnya “Adi Sumangkar.”

“Paman Sumangkar” hampir berbareng kedua muridnya mengulang.

“Ya.”

Ketika cahaya lampu diserambi barak menyambar wajah bayangan itu, maka semakin jelaslah, bahwa orang itu memang benar Sumangkar.

Sambil tersenyum ia melangkah semakin dekat. Tetapi sebelum ia menyapa Kiai Gringsing, Kiai Gringsing sudah menyongsongnya sambil berbisik “Namaku Truna Podang.”

“O” desis Sumangkar sambil mengguncang lengan Kiai Gringsing “apakah kakang selamat selama ini.”

Kiai Gringsing tersenyum. Jawabnya “seperti yang kau lihat. Kedua anak-anakkupun selamat pula semuanya. Kau?”

Sumangkar tertawa. Ia segera menangkap, bahwa kali ini Kiai Gringsing berperan sebagai seorang yang bernama Truna Podang. Sedang kedua murid-muridnya adalah anak-anak Truna Podang.

Sumangkarpun kemudian diajaknya kebarak. Agung Sedayu dan Swandaru bergantian menyampaikan salam keselamatan.

“Tetapi” berkata Kiai Gringsing “kedatanganmu membuat aku berdebar-debar.

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya “Aku memang sudah menyangka, bahwa kedatanganku akan membuat kalian disini berdebar-debar. Tetapi aku tidak membawa kabar apa-apa yang mendebarkan itu.”

Kiai Gringsingpun mengangguk-angguk pula. Kemudian diperkenalkannya Sumangkar kepada pemimpin pengawas yang terluka itu. sehingga Sumangkar menjadi heran karenanya. Tanpa sesadarnya ia bertanya “Kenapa luka itu?”

“Kita akan saling bercerita nanti. Sekarang, apakah kau akan mandi dahulu dan makan?”

Sumangkar mengangguk sambil menjawab “Baiklah. Dimanakah letak perigi?”

“Tunjukkanlah pamanmu Sedayu” berkata Kiai Gringsing.

Sumangkarpun kemudian diantar oleh Agung Sedayu pergi kesumur untuk membersihkan dirinya setelah menempuh perjalanan yang jauh.

Setelah makan secukupnya, maka mulailah mereka berceritera tentang keadaan masing-masing. Tetapi karena Sumangkar tidak tahu benar keadaan Kiai Gringsing saat itu, maka ia hampir tidak pernah menyebutkan kepentingannya datang ketempat itu. Yang paling banyak berceritera adalah justru Kiai Gringsing sendiri.

“Luka-luka pada punggung pemimpin pengawas itu cukup berat” berkata Kiai Gringsing “untunglah bahwa pada pengawas yang lain cukup cepat mengatasi persoalannya.”

“Bukan para pengawas” sahut pemimpin pengawas itu “tetapi Ki Truna Podang dan kedua anak-anaknyalah yang mengatasi kesulitan saat itu.”

Sumangkar hanya sekedar mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Nah” berkata Kiai Gringsing kemudian “barangkali kau masih terlampau lelah. Kau memerlukan istirahat.”

“Ya, aku lelah sekali.”

“Tetapi beruntunglah bahwa kau dapat sampai ketempat ini tanpa gangguan apapun diperjalananmu.”

“Aku kira memang begitu. Aku sama sekali tidak menjumpai gangguan apapun juga.”

Kiai Gringsingpun kemudian mempersilahkan Sumangkar untuk beristirahat. Karena kehadiran Sumangkar, maka Kiai Gringsing terpaksa merubah pembagian kerjanya. Ki Sumangkar dipersilahkan tidur dibarak yang lain bersama Agung Sedayu, sedang Swandaru tinggal bersama gurunya, meskipun sebenarnya ia ingin tidur bersama Agung Sedayu.

“Kau dapat mengatakan keadaan tempat ini kepada pamanmu.” bisik Kiai Gringsing kepada Agung Sedayu “barang kali kau akan mendapat kesempatan. Dan kau dapat bertanya kepadanya, kenapa ia datang ketempat ini.”

“Baik guru” sahut Agung Sedayu perlahan-lahan.

Keduanyapun kemudian pergi kebarak yang lain, yang dihuni oleh perempuan-perempuan dan laki-laki yang bertugas didapur yang pada umumnya adalah laki-laki tua dan anak-anak.

Disepanjang jalur jalan setapak yang menghubungkan kedua barak itu, Agung Sedayu sudah mulai menceriterakan keadaan daerah yang baru dibuka itu. Kemudian diceriterakannya pula, kematian-kematian yang terjadi, bahkan mayat-mayat yang telah hilang.

“Untunglah gurumu seorang dukun yang luar biasa” desis Sumangkar.

“Ya, untung sajalah.”

“Dan apakah bahaya itu sampai saat ini masih mengancam?”

“Justru kita berada didalam keadaan yang menegangkan. Kami berbesar hati bahwa tiba-tiba saja paman datang, seakan-akan paman sudah mengetahui kesulitan kami.

“Aku sama sekali tidak tahu kesulitan itu. Aku justru datang atas permintaan. Ki Demang Sangkal Putung untuk menjemput anaknya dan kau sama sekali. Terutama Nyai Demang di Sangkal Putung sudah sangat rindu kepada anaknya yang gemuk itu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang Swandaru telah meninggalkan ibunya untuk waktu yang terlampau lama. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, maka sudah sewajarnya kalau ibunya terlampau merindukannya, apalagi selama itu ia tidak tahu dengan pasti kabar beritanya.

“Dan paman dapat langsung menemukan kami dibarak itu?” bertanya.Agung Sedayu kemudian.

“Tidak. Aku menjelajahi beberapa bagian dan hutan yang sedang dibuka itu. Aku sudah sampai digardu pengawas yang kosong. Kemudian menyusur sepanjang jalan yang agaknya setiap hari dilalui oleh para pekerja yang sedang membuka hutan ini Maka akupun sampai pula dibarak ini Adalah kebetulan sekali, aku menjumpai kalian. Kalau tidak, aku pasti akan bertanya tentang seorang tua yang bernama Kiai Gringsing. dan kedua muridnya yang bernama Agung Sedayu dan Swandaru Geni.”

Agung Sedayu tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Guru memang mempergunakan nama lain. Tetapi itu sudah hampir tidak berarti lagi, karena kami disini sudah melibatkan diri dalam pergulatan yang semakin lama agaknya akan menjadi semakin seru

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Apakah tidak ada petugas-petugas keamanan yang melindungi daerah ini?”

“Ada, bukankah paman sudah bertemu dengan pemimpin pengawas yang terluka itu?”

“Ya, tetapi dimana para pengawas yang lain sekarang?”

“Mereka pergi kepusat pemerintahan di Mataram.”

“Yang lain?”

Semuanya. Mereka hanya tiga orang. Perjalanan ke pusat pemerintahan Tanah Mataram yang baru dibuka itupun agaknya cukup berbahaya.”

Sumangkar mengangguk-angguk pula. Tetapi ia sudah tidak bertanya lagi. Dilihatnya cahaya lampu diserambi barak yang satu lagi. Barak yang sebagian dipergunakan sebagai dapur untuk menyiapkan rangsum orang-orang yang sedang membuka hutan itu.

Ketika mereka memasuki barak itu, beberapa orang menjadi bertanya-tanya didalam hati. Yang seorang telah mereka kenal, anak orang tua yang bernama Truna Podang itu Tetapi yang seorang agaknya orang baru didaerah itu.

Agung Sedayu yang melihat pertanyaan membayang disetiap wajah tanpa diminta telah menjelaskan “Orang ini adalah pamanku. Paman Sumangkar. Paman datang untuk menjemput kami karena ibu kami sudah terlampau merindukan anak-anaknya.”

Orang-orang yang mendengar keterangan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ada diantara mereka, seorang laki-laki yang rambutnya sudah berwarna dua bertanya “Lalu bagaimana dengan kami disini? Apakah kami dilepaskan tanpa perlindungan sama sekali.”

“Para pengawas yang pergi ke Mataram itu akan segera datang membawa sepasukan pengawal”

“Tetapi apakah mereka dapat melawan hantu-hantu?” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Mereka masih saja selalu dibayangi oleh hantu-hantu yang mengerikan.

“Jangan takut” sahut Agung Sedayu kemudian “para pengawal itu pasti akan membawa satu dua orang yang dapat berhubungan langsung dengan hantu-hantu. Apakah kalian menyangsikan, bahwa di Mataram tersimpan pusaka-pusaka yang dapat menguasai hantu-hantu”

“Kalau memang demikian” jawab orang itu “kenapa orang-orang yang berkuasa di Mataram tidak berbuat apa-apa sebelumnya?”

“Ah, tentu mereka sudah banyak berbuat. Mereka selalu merondai daerah hutan-hutan yang wingit. Tetapi mereka tidak pernah menjumpai hantu-hantu itu sehingga mereka menyangka, bahwa hantu-hantu itu sudah tidak mengganggu lagi.

“Tetapi apa yang terjadi disini? Hantu-hantu itu masih tetap menguasai kami.”

“Itulah yang dilaporkan oleh para pengawas diantaranya, selain orang-orang yang telah mengganggu ketenteraman kami disini.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi nampaknya la masih belum puas. Meskipun demikian ia sudah tidak bertanya lagi.

Agung Sedayu dan Sumangkarpun kemudian duduk diserambi barak itu, dibawah cahaya lampu yang bergoyang disentuh angin malam, Diluar suara cengkerik bersahut-sahutan dibarengi suara ilalang.

Bukan hanya sekedar suara binatang-binatang kecil disela-sela rerumputan. Namun kemudian lama-lama mereka mendengar suara harimau yang mengaum ditengah-tengah hutan yang lebat. Tetapi suara harimau sama sekali tidak menarik perhatian lagi bagi orang-orang didalam barak. Mereka sama sekali tidak takut melawan harimau. Mereka beramai-ramai akan dapat membunuhnya dengan tombak-tombak panjang.

Tetapi ketika mereka mendengar suara burung kedasih yang memelas, maka orang-orang didalam barak itu mulai mengerutkan lehernya kebawah selimut-selimut mereka.

Seorang perempuan dengan hati yang berdebar-debar masih mendengar Agung Sedayu dan Sumangkar bercakap-cakap di serambi. Tetapi perempuan itu sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Apalagi karena suara burung kedasih itu rasa-rasanya menjadi semakin dekat.

Agung Sedayupim kemudian mengerutkan keningnya. Suara burung itu dikenalnya sejak lama. Karena itu, maka iapun berbisik “Paman, agaknya malam inipun kita akan mendapat tamu selain paman.”

“Siapa?”

“Hantu-hantu itu. Barangkali paman ingin mendengar suaranya?”

“Ya.”

“Marilah kita masuk. Kalau mereka melihat kita tetap disini, mungkin mereka akan merubah niatnya. Kita akan berbaring diantara mereka.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku memang ingin melihat hantu itu.”

“Untuk sementara kita hanya dapat mendengar.” Sumangkar mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti jawaban Agung Sedayu itu.
Agaknya Agung Sedayu dapat menangkap perasaan Ki Sumangkar, sehingga karena itu ia berkata “Hantu-hantu itu tidak mendekati barak-barak ini. Mereka hanya lewat sambil memperdengarkan bunyi-bunyi yang aneh”

“Kitalah yang mendekat.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berpaling memandangi orang-orang lain yang ada didalam barak itu. Katanya “Mereka menjadi sangat ketakutan. Apabila terjadi sesuatu, mereka akan langsung menyalahkan kita. Sementara ini kita sedang berusaha mengambil hati mereka, terutama dibarak yang satu itu. Kalau Kita berhasil membuka hati mereka meskipun perlahan-lahan, pekerjaan kita akan lebih mudah lagi Para pengawas agaknya sudah mulai terbuka hati dan tanggapannya terhadap hantu-hantu itu. Tetapi para penghuni yang lain agaknya belum.”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya pula. Perlahan-lahan ia bergumam seperti ditujukan kepada diri sendiri. “Lalu kapan tugas ini selesai? Semuanya harus dikerjakan lambat laun dan telaten. Padahal Ki Demang Sangkal Putung suami isteri sudah begitu rindunya kepada Swandaru dan betapa rindunya pula kepada suatu peristiwa yang akan menyangkut hidup keluarga mereka.”

“Apa itu paman?” bertanya Agung Sedayu.

“Kalau aku boleh berterus terang, Ki Demang suami isteri sudah sangat ingin menimang seorang cucu.”

“Ah” Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Sedang wajahnya tiba-tiba menjadi kemerah-merahan.

“Ki Demang sudah mendengar berita yang aku sampaikan kepadanya, bahwa anak laki-lakinya sudah mengikat diri dengan seorang gadis Menoreh, Pandan Wangi. Sedang masalahmu ngger, Ki Demang suami isteri sudah mengetahui jauh sebelumnya.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau masalah pinggiran hutan ini mengikat kalian disini, lalu kapan kalian akan kembali ke Sangkal Putung? Apakah kalian juga akan menunggu daerah ini menjadi kota dari berkembang menjadi suatu negeri?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu paman. Terserah kepada guru kelak. Apakah kita akan segera kembali, atau masih ada masalah yang kita tunggu disini.”

“Sebenarnya aku ingin berbicara dengan Kiai Gringsing. Tetapi malam ini aku ditaruhnya disini, sehingga aku tidak dapat berbincang. Agaknya aku tahu maksudnya. Ia sedang memusatkan perhatiannya kepada daerah ini, sehingga ia tidak mau terganggu.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Namun tanpa sesadarnya kepalanya masih juga terangguk-angguk.

Sejenak keduanyapun kemudian saling berdiam diri. Angin malam yang sejuk mengusap kening mereka. Namun Agung Sedayu kemudian mengangkat kepalanya ketika ia raendengar suara gemerincing dikejauhan.

“Nah, mereka datang” desisiAgung Sedayu. Marilah kita masuk dan berbaring didalam.”

Sumangkar mengerutkan Keningnya. Katanya ”Kalau begitu caramu, sampai kapan kau akan menemukannya?”

“Guru telah membuat rencana. Guru tidak ingin menangkap hantu-hantu kecil itu. Guru ingin mengetahui sampai dimanakah permainan mereka itu akan berlangsung dan siapakah sebenarnya yang berdiri dipaling belakang.”

Sumangkar mengangguk-angguk. Iapun kemudian dengan tergesa-gesa masuk kedalam barak. Seperti biasanya, pintu barak itu tidak pernah tertutup rapat. Tetapi keduanya tidak akan dapat mengintainya dari balik pintu, karena justru diluar malam menjadi semakin gelap.

Suara gemerincing itu semakin lama menjadi semakin dekat. Kemudian beberapa kali mengelilingi barak itu. Namun suara gemerincing Itu tidak juga. segera pergi seperti biasanya. Bahkan semakin lama menjadi semakin dekat.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Kali ini hantu-hantu itu agak menyimpang dari kebiasaannya. Namun demikian beberapa saat kemudian hantu-hantu itupun segera menjauh dan suaranya semakin hilang kearah barak yang sebuah lagi.

Tiba-tiba saja timbullah niat Agung Sedayu untuk mengikutinya. Ia tidak ingin mengganggu hantu-hantu itu sebelum mendapat perintah gurunya. Ia hanya ingin melihat dan mengikuti, apa saja yang telah mereka lakukan malam ini.

Ketika ia mengatakan niatnya kepada Ki Sumangkar, orang tua itupun menyetujuinya. Katanya “Aku juga ingin melihat, barangkali akan sangat menarik bagiku dan barangkali akan dapat menjadi oleh-oleh nanti kalau kita kembali ke Sangkal Putung.”

Keduanyapun kemudian beringsut dari tempatnya, Orang-orang didalam barak itu masih tetap berkerudung selimut-selimut mereka, sehingga dengan demikian mereka tidak menghiraukan lagi kedua orang itu. Mereka tidak melihat keduanya beringsut dan keluar dari barak. Ketika mereka mendengar derit pintu. tidak seorangpun yang berani mengangkat kepalanya, melihat. siapakah yang sudah menggerakkan daun pintu itu.

Agung Sedayu dan Sumangkarpun kemudian berlari sambil merunduk melintasi halaman yang tidak seluas halaman barak yang satu. Sambil berlindung dibalik semak-semak merekapun berusaha untuk mengikuti suara gemerincing yang semakin lama menjadi semakin jauh.

“Mereka menuju kebarak yang lain” desis Agung Sedayu.

Sumangkar tidak menyahut. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja.
Semakin lama merakapun menjadi semakin dekat dengan suara gemerincing itu. Tetapi mereka masih belum dapat melihat bentuknya sama sekali.

Karena itu merekapun menjadi semakin maju, sehingga mereka menjadi semakin mendekati barak yang ditunggui oleh Kiai Gringsing dan swandaru.

Dalam pada itu, orang-orang dibarak itupun telah menjadi ketakutan. Meskipun mereka mencoba untuk menguasai nalar mereka, tetapi mereka benar-benar telah diterkam oleh ketakutan. Mereka tidak dapat melepaskan tekanan perasaan yang selama ini telah mencengkam jantung mereka, sehingga bagaimanapun juga. suara gemerincing itu masih membuat mereka gemetar. Bahkan pemimpin pengawas yang terluka itu masih juga menjadi berdebar-debar. Ia sudah tidak akan takut menghadapi apapun yang dapat dilihatnya. Mati bukan lagi suatu yang menghantuinya dan bahkan ia sudah mulai menilai hantu-hantu itu dengan pertimbangan yang lain. Meskipun demikian, ketakutan dan kecemasan yang menerkamnya untuk waktu yang lama masih juga tetap membekas. Betapapun juga ia menimbang dengan akal, namun suara gemerincing itu masih tetap mendebarkan jantungnya.

“Mereka sudah datang guru” desis Swandaru.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Kita tidak memerlukan hantu-hantu kecil seperti itu. Mungkin jerangkong, tetekan, tuyul dan sebangsanya. Mereka tidak lebih dari orang-orang yang tinggi kekar, yang terbunuh didapur itu atau setinggi-tingginya orang yang kekurus-kurusan itu.

“Apakah kita tidak memerlukan mereka? Mereka pasti akan dapat memberikan beberapa keterangan tentang gerakan yang telah mereka lakukan selama ini.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:41  Comments (159)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-57/trackback/

RSS feed for comments on this post.

159 KomentarTinggalkan komentar

  1. s/d hal 38

    Dalam pada itu keadaan Wanakerti benar-benar sudah parah. Hanya karena ia merasa bertanggungjawab agar pesan yang dibawa oleh seorang kawannya sampai, ia bertempur sampai apapun yang akan terjadi atasnya. Apalagi menilik pengenalan ketiga lawannya atas daerah itu, maka melarikan diripun bukan jalan yang dapat ditempuh

    dst sudah disimpan di halaman utama (GD)

  2. Ketika mereka sampai pada semak-semak berduri dan batang-batang menjalar yang berjuntaian dari pepohonan yang besar, maka jejak yang diikutinya seakan-akan telah hilang begitu saja.

    dst ….. (sudah diunduh oleh Ki Gede dan disimpan di gandok tengen, sekaliyan untuk memberikan tempat parkir bagi yang lain, karena sedemikian panjangnya)

  3. Sejenak Sumangkar dan Agung Sedayu saling berpandangan. Namun mereka tidak akan segera mengatakan sesuatu, apalagi menjawab ancaman hantu-hantu yang agaknya telah mengepung mereka.

    dst sudah diunduh Ki Gede dan disimpan di Gandok Tengen.

  4. Kalau baca celoteh rekan2, jadi senyum2 sendiri he..he..
    Kata JEBENG, aku jadi inget lagi GENJER2 karangan Muhammad Arief dari Banyuwangi, salah satu liriknya demikian :
    “emak e jebeng podo tuku nggowe welasan”
    “genjer2 sak iki wis arep diolah”

  5. “Jadi ada tiga orang yang mengambil peranan di daerrah yang menjadi pengawasan kalian..?” sambil mengerutkan keningnya, Raden Sutawjaya bertanya kepada pengawas itu.

    “Betul tuan, mereka bertiga melawan para hantu dengan menggunakan senjata pecut” jawab pengawas itu.

    Raden Sutawijaya tersenyum dan bergumam :
    “Tentu mereka itu Ki Menggung KY dan YP yang disertai Ki AS, mereka memang piawai menangani hantu-hantu”

    • “BENTOL tuan” kata si pengawas yang satunya,
      “selain piaWAI, mereka bertiga juga mumpuNI dalam
      mendandani hantu-hantuan iTOE”

      ana TUTUG-e,

      • wis dienteni seminggu luwih lha pundi tutuge ki ndul

  6. Minta bagi2 pengalamanya pak!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: