Buku 57

Para kadang para sedulur ..

Ngenteni utawa menunggu adalah saat paling membosankan. Tapi akan terasa tidak membosankan jika kita melakukan sesuatu selama masa-masa menunggu itu. Ngobrol misalnya atau menulis. Ya seperti yang kita lakukan selama ini jika kitab-kitab itu belum terbit 🙂 . Intinya adalah lakukan sesuatu untuk mengurangi perasaan bosan ini.

Tahukah para kadang para sedulur.. jika kita mempunyai beberapa helai kain batik Grinsing ? Belum tau ?? .. Nah cobalah membuka Halaman Lain yang bergambar batik Grinsing itu. Kain batik itu akan membawa kita menuju halaman dimana banyak kain-kain batik gringsing yang lain. Dan tiap-tiap kain batik itu juga akan membawa kita menuju banyak kisah yang selama ini telah kita semua pelajari. Diantaranya : bagaimana mendownload (unduh) yang benar, apa itu file DJVU (baca: dejavu), bagaimana cara minta Retype (mengedit), apa saja diskusi kita selama ini, statistik para cantrik, dan juga beberapa testimonial (cerita) para cantrik tentang SH Mintardja dan Api Di Bukit Menoreh.

Beberapa waktu yang lalu ada diantara cantrik yang tidak tau arti “jebeng“, “pakiwan“, “pring ori“, dan beberapa istilah dalam Api Di Bukit Menoreh. Dan beberapa cantrik yang mengetahuinya langsung menjelaskan apa arti kata dan kalimat tersebut. Sungguh menggembirakan melihat polah seperti ini. Tidak ada yang merasa paling pinter tapi semua merasa bertanggung jawab atas kehidupan padepokan. Saling berbagi. Sharing ..

Dan melihat itu semua maka dicobalah menyajikan kamus bahasa jawa (cek halaman KAMUS JAWA) yang masih jauh dari sempurna tapi semoga akan mampu menperjelas dan memperbaharui ingatan kita akan kosakata yang sudah jarang kita dengar dan jarang kita pakai itu. Kamus diusahakan akan terus membesar dengan semakin banyak bantuan dari para kadang para sedulur sekalian. Semua semata-mata untuk padepokan ini. Jika ada di antara para kadang yang memiliki KAMUS JAWA-INDONESIA dan tidak berkeberatan untuk dishare, dengan senang hati kami akan membaginya. Jebeng yang 4-5 jam ke sebelah Timur mungkin bisa mblusuk ke librari di situ. Siapa tahu justru nemu kamus JAWA dan bisa menyekennya.

Hal lain yang sedang kami pikirkan juga mendeskripsikan beberapa hal menarik seperti lokasi-lokasi penting tempat berlangsungnya berbagai peristiwa di dalam ADBM. Atau mungkin deskripsi makanan seperti jenang alot, pondoh beras, dll. Yang ini pun kami mengharapkan keterlibatan para kadang untuk ikut memberikan pengetahuannya. Seperti biasa, para kadang bisa mengirimkannya melalui kotak-kotak yang tersedia.

Selamat menikmati kitab-kitab ADBM.

Nuwun.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:41  Comments (159)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-57/trackback/

RSS feed for comments on this post.

159 KomentarTinggalkan komentar

  1. s/d hal 38

    Dalam pada itu keadaan Wanakerti benar-benar sudah parah. Hanya karena ia merasa bertanggungjawab agar pesan yang dibawa oleh seorang kawannya sampai, ia bertempur sampai apapun yang akan terjadi atasnya. Apalagi menilik pengenalan ketiga lawannya atas daerah itu, maka melarikan diripun bukan jalan yang dapat ditempuh

    dst sudah disimpan di halaman utama (GD)

  2. Ketika mereka sampai pada semak-semak berduri dan batang-batang menjalar yang berjuntaian dari pepohonan yang besar, maka jejak yang diikutinya seakan-akan telah hilang begitu saja.

    dst ….. (sudah diunduh oleh Ki Gede dan disimpan di gandok tengen, sekaliyan untuk memberikan tempat parkir bagi yang lain, karena sedemikian panjangnya)

  3. Sejenak Sumangkar dan Agung Sedayu saling berpandangan. Namun mereka tidak akan segera mengatakan sesuatu, apalagi menjawab ancaman hantu-hantu yang agaknya telah mengepung mereka.

    dst sudah diunduh Ki Gede dan disimpan di Gandok Tengen.

  4. Kalau baca celoteh rekan2, jadi senyum2 sendiri he..he..
    Kata JEBENG, aku jadi inget lagi GENJER2 karangan Muhammad Arief dari Banyuwangi, salah satu liriknya demikian :
    “emak e jebeng podo tuku nggowe welasan”
    “genjer2 sak iki wis arep diolah”

  5. “Jadi ada tiga orang yang mengambil peranan di daerrah yang menjadi pengawasan kalian..?” sambil mengerutkan keningnya, Raden Sutawjaya bertanya kepada pengawas itu.

    “Betul tuan, mereka bertiga melawan para hantu dengan menggunakan senjata pecut” jawab pengawas itu.

    Raden Sutawijaya tersenyum dan bergumam :
    “Tentu mereka itu Ki Menggung KY dan YP yang disertai Ki AS, mereka memang piawai menangani hantu-hantu”

    • “BENTOL tuan” kata si pengawas yang satunya,
      “selain piaWAI, mereka bertiga juga mumpuNI dalam
      mendandani hantu-hantuan iTOE”

      ana TUTUG-e,

      • wis dienteni seminggu luwih lha pundi tutuge ki ndul

  6. Minta bagi2 pengalamanya pak!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: