Buku 55

Namun kini Agung Sedayu sudah tidak menjadi gelisah lagi. Bahkan kemudian ia maju selangkah sambil berkata, “Baiklah. Kalau kau sudah tidak mau mendengarkan aku lagi.”

Orang berkumis itu mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia membentak, “Gila! Kau menantang?”

“Bukan maksudku, tetapi kau sudah tidak mau mendengar lagi. Apa boleh buat.”

Orang itu menjadi tegang. Dipandanginya Agung Sedayu sejenak. Kemudian ia menggeram, “Bagus! Aku memang harus cepat-cepat membunuhmu.”

Orang itu pun maju selangkah pula. Ia mengangkat tabung serbuknya semakin tinggi, sedang matanya menjadi semakin merah dan liar oleh nafsunya yang membakar dadanya. Nafsu membunuh dan membinasakan lawannya.

Orang-orang yang berdiri di belakang Agung Sedayu tidak menghiraukan apa pun lagi. Tiba-tiba mereka berlarian tidak menentu, saling melanggar dan berdesakan menjauhi arena. Beberapa orang terjatuh dan terinjak oleh kawan-kawan mereka.

Pada saat itulah orang yang berkumis itu siap untuk mengibaskan tabung serbuknya. Ia mengangkat bumbungnya semakin tinggi dan siap mengayunkannya ke arah Agung Sedayu.

Ternyata bukan saja orang-orang yang berada di belakang Agung Sedayu, tetapi hampir semua orang di sekeliling arena itu menjadi ketakutan. Mereka merasa bahwa orang berkumis itu akan membunuh mereka semua dengan ser¬buk mautnya. Karena itu, hampir semua orang berlari-larian berpencaran tanpa tujuan, asal menjauhi lingkaran yang mengerikan itu.

Orang-orang yang hatinya sekecil menir, bahkan tidak sem¬pat lagi melarikan diri. Mereka terduduk di tanah dengan tubuh gemetar.

Yang masih tetap berdiri tegak di tempatnya adalah Agung Sedayu, Swandaru dan Kiai Gringsing. Selain mereka adalah ketiga pengawas yang terluka yang berdiri berpencaran.

Sejenak kemudian, di dalam kekacauan yang kisruh, orang-orang yang berlari-larian itu masih mendengar suara jerit melengking tinggi. Beberapa orang mencoba menutup telinga mereka, sambil berlari semakin kencang. Mereka membayangkan bahwa anak muda yang bersenjata cambuk itu pun kemudian tergolek di tanah dengan tubuh yang hangus kebiru-biruan.

Ketiga pengawas yang berdiri tegang di pinggir lingkaran perkelahian itu pun terkejut bukan kepalang. Ter¬nyata mereka, masih sempat melihat orang berkumis itu siap mengayunkan bumbungnya. Namun tiba-tiba sesuatu telah membentur bumbung itu, sehingga justru serbuk yang ada di dalamnya tertumpah mengenai tubuhnya sendiri.

Suara jerit yang melengking itu adalah suara orang berkumis itu sendiri.

Agung Sedayu masih tetap berdiri di tempatnya. Namun wajahnya menjadi tegang dan bahkan seolah-olah ia membeku di tempatnya.

“Kau berhasil, Agung Sedayu,” desis Kiai Gringsing yang masih menggenggam sebuah bumbung kecil pula meskipun bumbung ini berisi obat-obat yang berharga, “hampir saja aku melemparkannya untuk membentur bumbung orang berkumis itu. Tetapi agaknya kau sendiri telah dapat mengenainya.”

Swandaru pun mendekatinya sambil berkata, “Aku akan melemparkan cambukku. Aku tidak dapat berpikir lagi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Dari mana kau mendapat batu yang kau lontarkan tepat mengenai bumbung itu?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu masih mencoba menenangkan jantungnya yang bergolak.

Ketiga pengawas yang masih berdiri di seputar arena maut itu pun mendekati Agung Sedayu pula. Seperti Swandaru, mereka pun bertanya, “Darimana kau mendapatkan batu itu?”

“Cambukku telah terjatuh,” jawab Agung Sedayu, “ketika aku memungutnya, aku menggenggam sebutir batu.”

“Tetapi kau luar biasa. Kau dapat membidik dengan tepat bumbung di tangan orang berkumis itu.”

“Ya,” Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jangankan bumbung sebesar itu,” sahut Swandaru dengan bangga, seolah ia sendirilah yang telah berhasil, “sedang telur burung pipit di pucuk pohon cemara pun dapat dikenainya.”

Ketiga pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Luar biasa,” desis Wanakerti, “kami sudah menyangka, bahwa kita akan mati bersama-sama.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Perlahan-lahan ia maju mendekati orang berkumis yang terbaring di tanah. Tubuh¬nya menjadi merah biru seperti terbakar.

“Apakah Guru tidak dapat berbuat apa-apa atasnya?” bertanya Agung Sedayu.

Kiai Gringsing mendekati orang itu. Tetapi ia berusaha untuk tidak menyentuh racun yang justru berhamburan di sekitar tubuh itu.

“Racun itu keras sekali. Karena itu jangan terlam¬pau dekat,” berkata Kiai Gringsing. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata, “Agaknya aku tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi atasnya. Racun itu sudah menge¬nai mata dan masuk ke dalam jalur pernafasan, karena ser¬buk itu menghambur mengenai wajahnya.”

“Jadi kita biarkan orang itu mati?”

“Orang itu sudah mati,” jawab Kiai Gringsing.

“O,” Agung Sedayu menundukkan kepalanya, “mengerikan sekali.”

“Ya,” berkata gurunya. “Kalau serbuk itu mengenaimu dan orang-orang lain, akibatnya akan seperti itu juga. Kau tidak akan sempat menahan racun itu dengan obat pemunah macam apa pun.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Racun yang berhamburan di sekitar orang itu pun cukup berbahaya. Karena itu, harus diusahakan untuk menguranginya.”

“Apa yang akan Guru lakukan?”

“Aku akan mancoba mencairkan racun pemunahnya, meskipun hanya sekedar mengurangi ketajaman racun ini. Racun pemunah itu kita cairkan, kemudian kita siramkan ke sekeliling tempat itu. Kita akan menunggu sampai besok. Kalau pemunah itu berhasil, kita akan dapat mengambil mayat itu dan menguburkannya.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia benar-benar telah berhadapan dengan sejenis racun yang tajam sekali. Apalagi apabila racun itu langsung masuk ke dalam jalur pernafasan.

“Untunglah, bahwa aku masih mendapat perlindung¬an dari Yang Maha Kuasa,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. “Tiba-tiba saja terbersit akal untuk memungut batu. Kalau tidak, maka aku akan hangus seperti orang itu pula.”

“Sudahlah,” berkata Kiai Gringsing, “kita masih harus mencoba membersihkan tempat ini dari racun itu.” Lalu katanya kepada para pengawas, “Kalau kalian masih mempunyai kekuatan, silahkan kembali ke gardu pengawas. Nanti aku akan mengobati luka-luka itu. Aku dan anak-anakku akan mengurusi tempat ini supaya tidak berbahaya bagi orang lewat.”

Ketiga pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Te¬tapi Wanakerti berkata, “Tetapi bagaimana dengan pe¬mimpin kami itu?”

Kiai Gringsing pun kemudian berpaling. Dilihatnya pemimpin pengawas itu masih duduk saja di tempatnya.

Meskipun demikian pemimpin pengawas itu menjadi tegang pula. Ia tidak segera tahu apa yang terjadi di arena. Namun ketika ia melihat orang tua dan kedua anaknya, ketiga pengawas bawahannya masih berdiri tegak, ia pun menarik nafas dalam-dalam.

“Kita harus membawanya ke gardu pengawas,” berkata Wanakerti.

“Ya. Tetapi bagaimana? Kita sendiri hampir tidak dapat membawa tubuh kita masing-masing. Apalagi membawa seseorang,” jawab kawannya.

Mereka saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka tidak segera menemukan jawaban.

“Bagaimana dengan tawanan yang terikat itu?” bertanya Swandaru. “Apakah mungkin ia menolong?”

“Tetapi ia terikat,” sahut Wanakerti.

“Lepaskan ikatannya sementara ia harus membantu pemimpin pengawas itu berjalan. Kalian bertiga dapat mengawasi di belakangnya. Supaya ia tidak mungkin lari lagi, siapkan pedang kalian di punggungnya. Meskipun ka¬lian sudah lemah, tetapi kalian pasti masih dapat mengua¬sainya. Apalagi kalian bertiga.”

Ketiga pengawas itu saling berpandangan sejenak. Akhirnya mereka mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah kita coba,” berkata Wanakerti, “mung¬kin kita masih dapat menguasainya. Nanti, di gardu penga¬was orang itu akan segera kita ikat lagi.”

Demikianlah, maka ketiga pengawas itu diikuti oleh Kiai Gringsing bersama kedua muridnya mendekati pemimpin pengawas yang terluka. Mereka memberitahukan maksud mereka kepada keduanya, kepada pemimpin pengawas itu dan kepada tawanan mereka.

“Aku tidak mau,” geram tawanan itu.

“Coba ucapkan sekali lagi,” desis Swandaru sambil mengangkat cambuknya. “Ayo ulangi.”

Tawanan itu memandang Swandaru dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan. Tetapi ia tidak mengu¬langinya, ia sadar bahwa ujung cambuk itu akan dapat menyobek bukan saja pakaiannya, tetapi juga kulitnya.

“Nah, lepaskan talinya,” berkata Swandaru kemu¬dian kepada ketiga pengawas yang sudah berjongkok di samping pemimpinnya.

“Kalian terluka?” bertanya pemimpin itu.

“Ya,” sahut Wanakerti, “ia jauh lebih parah daripadaku. Untunglah bahwa Ki Sanak itu dapat memberi obat pemampat darah, sehingga kami tidak kehabisan te¬naga karenanya.”

“Omong kosong,” tawanan itulah yang menyahut, “tidak ada orang yang dapat memampatkan darah dan mengobati luka-luka selain aku. Apalagi luka-luka beracun.”

“Jangan mengigau,” jawab pemimpin pengawas itu, “kau lihat bahwa aku tidak mati karena racunmu, meskipun aku menjadi sangat lemah saat ini?”

Dukun yang telah menjadi tawanan itu mengerutkan keningnya. Ia memang menjadi heran, kenapa pemimpin pengawas itu tidak mati.

“Nah, apa katamu sekarang? Apakah kau masih te¬tap tidak mau mematuhi perintahku?” bertanya pemim¬pin pengawas itu.

“Katakanlah, apakah kau tidak mau menolongnya?” bertanya Agung Sedayu pula.

Orang itu menjadi termangu-mangu. Tetapi setiap kali ia melihat ujung cambuk yang berjuntai menyentuh kaki¬nya, kemudian ujung-ujung pedang yang berkilat-kilat, hatinya menjadi susut.

“Jawablah,” desak Swandaru.

“Tetapi ……..”

“Jawablah,” sekali lagi Swandaru mendesaknya sambil memutar cambuknya.

“Ya, ya. Aku akan menolongnya.”

“Terima kasih,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Lepaskan talinya.”

“Tetapi hati-hatilah,” berkata Swandaru, “jangan biarkan orang itu lari. Ia sangat penting bagi kita.”

“Ya. Kami akan menjaganya sebaik-baiknya. Meskipun aku terluka, tetapi tenagaku serasa masih cukup kuat untuk menghunjamkan ujung pedang.”

Demikianlah, maka dukun itu pun kemudian dibebaskan dari ikatannya. Setelah ia berdiri tegak, maka di bawah ancaman pedang, ia menolong pemimpin pengawas yang terluka itu.

“Bawa pedangku,” berkata pemimpin pengawas itu kepada Wanakerti.

Wanakerti menerima pedang itu sambil bertanya, “Kenapa tidak disarungkan saja?”

“Berbahaya. Orang ini dapat menyalahgunakan senjata itu,” jawabnya. Namun tidak setahu siapa pun, ia membawa pisau beracun yang diambilnya di medan dan diselusupkannya di dalam sarung pedangnya. Meskipun sarung itu terlampau longgar, namun tangkai pisau belati itu tidak dapat masuk seluruhnya ke dalam.

Tertatih-tatih mereka pun kemudian berjalan menuju ke gardu pengawas. Tawanan itu telah memapah pemimpin pengawas yang masih lemah. Sedang ketiga pengawas yang lain, betapapun lemahnya namun mereka masih harus mengikuti dukun yang memapah pemimpin mereka dan langsung mengawasi dengan saksama.

Sementara itu Kiai Gringsing bersama kedua anaknya telah sibuk mencari upih atau dedaunan yang cukup lebar untuk menampung air. Mereka harus mencairkan sejenis racun yang ada pada Kiai Gringsing untuk memunahkan racun yang tersebar di sekitar mayat orang berkumis itu.

Akhirnya mereka mendapatkan daun lumbu yang besar, yang dapat mereka pergunakan seperlunya.

Dalam daun lumbu itulah mereka mencairkan racun pemunah itu. Kedua murid Kiai Gringsing itu masing-masing memegang selembar daun lumbu yang besar. Kemudian setelah ditaburi racun yang dilarutkan ke dalam air, maka cairan itu pun dipercikkan kepada mayat orang berkumis itu dan sekitarnya.

“Jangan mendekat,” Kiai Gringsing memperingat¬kan kedua muridnya.

Sejenak, kemudian ketiganya berdiri saja mengawasi apa yang terjadi. Mereka tidak melihat apa pun juga selain gelembung-gelembung kecil di kulit orang berkumis yang sudah tidak bernyawa lagi itu. Gelembung-gelembung yang hanya sesaat, kemu¬dian pecah dan mengeluarkan asap yang tipis.

Agung Sedayu dan Swandaru berdiri membeku di tempatnya. Meskipun mereka belum memahami betapa kerja berjenis-jenis racun, tetapi yang mereka lihat itu telah men¬dirikan bulu roma mereka.

Bukan saja di tubuh orang berkumis itu, tetapi juga di atas pasir dan tanah di sekitarnya. Tetapi tidak sejelas yang mereka lihat pada tubuh mayat yang masih terbujur itu.

“Tidak ada kesempatan untuk menolong orang yang terkena serbuk racun itu. Apalagi apabila sudah masuk ke dalam arus pernafasan. Racun itu adalah reramuan dari jenis racun ular dan racun tumbuh-tumbuhan yang dapat melukai kulit,” berkata Kiai Gringsing.

“Tetapi bagaimana dengan obat pemunah itu?” bertanya Agung Sedayu.

Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak dapat banyak menolong seandainya racun itu belum membunuhnya sekalipun. Aku hanya dapat memperlunak dan mempercepat hilangnya daya perusak dari racun itu atas jaringan-jaringan tubuh manusia, bahkan binatang yang kebal akan racun ular sekalipun.”

Kedua muridnya hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita tidak dapat berbuat apa-apa atas mayat itu hari ini. Kita terpaksa meninggalkannya di sini.”

“Bagaimana dengan binatang buas, Guru?” berta¬nya Swandaru.

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia kemu¬dian menjawab, “Binatang buas yang berani menjamah mayat itu akan terkena racun pula. Harimau adalah bina¬tang yang termasuk tahan terhadap racun. Tetapi kalau ia menjilatnya hari ini, ia pasti akan mati.”

“Hanya hari ini?”

“Mudah-mudahan racun itu akan segera menjadi lemah dan kehilangan kemampuannya yang mengerikan.”

“Jadi, apakah kita tidak dapat berbuat apa-apa?” bertanya Agung Sedayu.

Gurunya menggelengkan kepalanya, “Apa boleh buat. Kita tidak dapat mengatasi persoalannya.”

Kedua muridnya itu pun mengangguk-anggukkan kepala me¬reka pula. Tetapi mereka hanya dapat berdiri tegak me¬mandangi mayat yang terbujur di tanah. Kulitnya benar-benar menjadi seperti hangus. Apalagi di tempat-tempat yang langsung tersentuh oleh serbuk racun yang dahsyat itu.

“Kenapa ia sendiri tidak mempergunakan pemunah atau obat yang membuat mereka sendiri kebal akan racun?” bertanya Swandaru tiba-tiba.

“Memang seseorang dapat membekali dirinya dengan semacam obat yang dapat membuatnya kebal terhadap racun. Tetapi itu pun sangat terbatas. Hanya orang-orang yang benar-benar ahli dan menguasai persoalan segala jenis racun sajalah yang dapat melakukannya. Seseorang yang berusaha untuk mengebalkan dirinya terhadap racun-racun tertentu, harus meracuni dirinya lebih dahulu. Itulah yang sulit. Kalau takarannya tidak tepat, maka orang itu telah mem¬bunuh dirinya sendiri. Tetapi kalau ia berhasil, maka ia akan dapat menjadi kebal untuk bertahun-tahun lamanya.

Kedua muridnya hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku pernah mempelajarinya,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “tetapi belum sempurna sekali, sehingga aku masih ragu-ragu untuk mencobanya. Kalau aku pada suatu saat tidak lagi melakukan pengembaraan dan petualangan serupa ini, mungkin aku akan berhasil setelah melakukan percobaan-percobaan atas berjenis-jenis binatang termasuk ular, dan tumbuh-tumbuhan.”

“Kapan hal itu akan Guru lakukan?” bertanya Swandaru.

“Pertanyaan aneh,” sahut gurunya, “aku tidak tahu.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dan gurunya masih berkata terus, “Tergantung kepada keadaanku, keadaan di sekitarku dan keadaan kalian berdua.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling ke arah Agung Sedayu, maka dilihatnya anak muda itu justru menundukkan kepalanya.

Swandaru pun tidak bertanya lagi. Kini ia kembali merenungi mayat yang hangus itu.

Sementara itu, para pengawas berjalan tertatih-tatih menuju ke gardu mereka. Dukun yang menjadi tawanan mereka itu pun dengan tanpa dapat berbuat apa-apa, harus memapah pemimpin pengawas yang telah dilukainya sendiri, sedang di punggungnya, tiga ujung pedang telah siap untuk melubangi tubuhnya apabila ia berbuat sesuatu.

Tetapi ternyata dukun itu bukan seseorang yang mudah berputus asa. Ia masih juga mencari akal, bagaimana ia dapat melepaskan dirinya. Ia sadar, bahwa orang ber¬kumis itu telah mati. Dengan demikian, maka ia merupa¬kan tawanan tunggal yang pasti akan dihadapkan kepada para pemimpin di Mataram. Ia akan menjadi sumber ke¬terangan tentang keadaan di daerah yang kisruh ini.

“Kalau aku mencoba menutup mulut, aku pasti, aku akan diperasnya sampai darahku kering,” desisnya. Meskipun ia baru berangan-angan, tetapi terasa bulu-bulu tengkuk¬nya telah berdiri. Orang-orang Mataram akan dapat banyak berbuat hal itu.

Dadanya berdesir apabila terbayang ujung-ujung pisau yang akan menyentuhnya apabila ia kelak dihukum picis. Hukuman yang paling terkutuk buat seorang pengkhia¬nat.

“Aku pasti dianggapnya seorang pengkhianat,” katanya di dalam hati. “Ki Gede Pemanahan dan puteranya dapat saja memutuskan untuk menghukum aku de¬ngan cara demikian. Hukum picis yang mengerikan itu.”

Dengan demikian, maka dukun yang menjadi tawanan itu masih tetap berusaha, bagaimana ia dapat lolos dari semua kemungkinan yang mengerikan itu.

Sekali-sekali ia mencoba memandang pemimpin pengawas yang terluka itu dengan sudut matanya. Tetapi ia tidak dapat menangkap kesan apa pun, karena pemimpin pengawas itu sekali-sekali masih saja menyeringai menahan sakit.

Ketika ia mencoba berpaling, terasa hampir bersamaan ketiga ujung pedang para pengawas yang terluka itu me¬nyentuh tubuhnya.

“Kau akan berbuat sesuatu yang dapat mencelaka¬kan dirimu sendiri?” bentak Wanakerti.

Tawanan itu menarik nafas. Memang ketiga pengawas itu selalu bersiaga dengan ujung pedangnya, sehingga se¬tiap usaha untuk melarikan diri, agaknya memang sulit dilakukan. Namun demikian, apakah itu berarti bahwa ia harus menyerah untuk dihukum picis?

“Aku harus menemukan cara,” ia berdesis di dalam dadanya.

Dalam pada itu, mereka pun setapak demi setapak ma¬ju. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan gardu pengawas. Apabila ia kemudian meletakkan pemimpin pe¬ngawas itu di gardu, maka ketiga pengawas yang lain itu akan segera mengikatnya kembali dan besok atau lusa menyerahkannya kepada Ki Gede Pemanahan.

Ketika dukun itu kemudian memandang ke depan, hatinya berdesir. Gardu pengawas itu sudah tidak begitu jauh lagi di hadapannya. Sebelum sampai ke gardu itu ia harus mendapat akal. Harus.

Selangkah demi selangkah ia maju. Dalam pada itu dadanya pun menjadi semakin berdebar-debar.

Namun yang dilakukan kemudian adalah menundukkan kepalanya. Dipapahnya pemimpin yang terluka itu sebaik-baiknya. Bahkan seperti memapah anak sendiri yang sedang sakit.

Dengan demikian ia berharap, bahwa pengawas yang lain menjadi lengah. Ia ingin mendapat waktu sekejap saja, untuk dapat melarikan diri seperti yang diinginkannya.

“Para pengawas itu terluka. Mereka agaknya sudah sangat lemah. Kalau aku dapat meloncat selangkah menjauh, maka mereka pasti tidak akan dapat mengejar aku. Agaknya aku masih cukup kuat untuk berlari dan bersem¬bunyi di dalam hutan itu.”

Akhirnya dukun yang tertawan itu memutuskan, bahwa ia akan melakukannya. Lari.

Semakin dekat mereka dengan gardu pengawas, hati dukun itu menjadi kian berdebar-debar. Ia memerlukan waktu hanya selangkah maju.

Kini mereka sudah siap memasuki halaman sempit di depan gardu pengawas. Dengan demikian maka dukun itu pun segera mulai mempersiapkan dirinya. Ia tidak ber¬buat sesuatu ketika mereka memasuki halaman yang ber-pagar kayu itu. Pagar itu sama sekali tidak berarti apa-apa baginya. Ia akan dengan mudahnya meloncati pagar yang tidak begitu tinggi itu.

Yang diperlukannya kemudian adalah kesempatan itu. Kesempatan yang hanya sekejap saja.

Ketika mereka sudah sampai di depan gardu pengawas, maka dukun itu merasa, waktunya memang sudah tiba. Ia tidak dapat menunggu lagi, karena apabila sudah terlanjur masuk, maka ia tidak akan dapat keluar lagi tanpa terikat kaki dan tangannya.

Demikianlah, maka ketika ia benar-benar sudah hampir melangkah memasuki ruangan gardu pengawas, maka tiba-tiba saja ia bertindak. Dengan kecepatan yang tinggi, ia memutar pemimpin pengawas itu, kemudian didorongnya ke arah ketiga pengawas yang mengikutinya.

Semua itu terjadi di dalam sekejap mata. Apalagi ketiga pengawas itu tidak menduga sama sekali. Dukun itu tampaknya sudah menjadi sangat jinak, bahkan berpaling pun tidak berani lagi. Namun tiba-tiba mereka melihat pemimpin pengawas yang terluka itu seakan-akan terlempar ke arah mereka.

Yang dapat mereka lakukan adalah menyingkirkan ujung pedang-pedang mereka agar tidak justru mengenai pemim¬pin mereka yang terlempar itu. Namun sejenak kemudian mereka harus berusaha menahan pemimpin mereka yang terlempar itu agar ia tidak jatuh.

Tetapi ternyata para pengawas itu sudah begitu lemahnya. Ketika mereka menahan pemimpin mereka, maka justru mereka pun telah terdorong selangkah surut, ke¬mudian tanpa dapat mempertahankan keseimbangan me-reka lagi, mereka pun berjatuhan saling menimpa, sehingga ketiganya tidak dapat bertahan sama sekali, jatuh tindih menindih.

Sejenak dukun itu menikmati kemenangannya. Ia melihat para pengawas itu tidak berdaya lagi. Mereka tidak akan dapat segera bangkit dan mengejarnya. Seandai¬nya salah seorang dari mereka dapat segera bangun kem-bali, ia tidak akan dapat berbuat banyak. Bahkan, seandainya mereka bertiga sekalipun, dukun itu tidak akan gentar lagi menghadapinya.

Karena itu, dukun itu seolah-olah tidak menghiraukan para pengawas itu lagi. Sejenak ia masih melihat mereka menggeliat dan mencoba berkisar dari tempat mereka, dan tertatih-tatih mereka mencoba untuk bangkit.

Dukun itu tertawa berkepanjangan. Ia berdiri beberapa langkah sambil bertolak pinggang.

“Kenapa aku harus lari?” ia berkata. “Kenapa aku tidak membunuh kalian saja?”

Ternyata ketiga pengawas yang mengawal pemimpin mereka yang terluka itu tidak segera dapat bangkit dan berdiri tegak. Namun demikian dukun itu berkata, “Te¬tapi kalau kalian benar-benar mengerahkan sisa-sisa tenaga ka¬lian, agaknya cukup berbahaya juga bagiku. Aku memang tidak setangkas kawanku yang kalian bunuh itu. Namun demikian, aku yakin kalian tidak akan dapat menangkap aku.”

“Gila. Jangan mencoba berlari,” desis Wanakerti.

Tetapi orang itu tertawa, “Kau akan mengejar aku? Silahkan. Aku akan melihat apakah kalian masih mampu melangkahkan kaki?”

Wanakerti dan kedua kawannya yang sudah berhasil berdiri menggeretakkan giginya. Mereka sadar, bahwa me¬reka sudah tidak akan dapat lagi berlari seperti apabila mereka tidak sedang terluka. Namun demikian, Wanakerti masih mencoba berkata, “Jangan merasa bahwa kau menang kali ini. Kau pun pasti tidak akan dapat lari secepat yang kau inginkan karena kau pun baru saja sadar dari pingsan yang panjang.”

“Tetapi, aku sudah merasa segar sekarang,” jawab orang itu, “jauh lebih segar dari kalian yang sudah tidak mampu lagi berdiri tegak.”

“Persetan,” Wanakerti maju selangkah.

Orang itu mundur selangkah sambil berkata, “Ha, kau akan mencoba mendekat? Sia-sia. Kau harus merelakan aku pergi sekarang ke mana aku suka. Di sekitar tempat ini tidak ada orang yang dapat membantumu. Orang-orang yang tinggal di barak sudah lari bercerai-berai. Mungkin mere¬ka kembali ke barak atau bersembunyi di mana saja. Sedang ketiga orang, ayah dan anaknya itu, masih sibuk mengu¬rusi mayat orang berkumis itu. Yang ada sekarang adalah kalian dan aku. Pemimpin kalian itu sama sekali sudah tidak dapat bangkit, dan kalian bertiga hanya mampu ber¬jalan tertatih-tatih meskipun kalian berpedang.”

“Tetapi kami tidak akan membiarkan kau lari,” geram salah seorang kawan Wanakerti. Betapapun lemahnya, namun ia melangkah maju juga berpencaran, seolah-olah mereka akan mengepung orang berkumis itu.

Tetapi sikap para pengawas itu tampak sangat lucu di mata dukun yang telah berhasil melepaskan diri itu. Sambil tertawa ia berkata, “Aku seakan-akan melihat tiga ekor siput merayap-rayap. Apakah kalian ingin berlomba lari? Aku memang tidak dapat lari setangkas kijang. Tetapi sudah pasti, jauh lebih cepat dari tiga ekor siput. Asal aku tidak dapat kalian tipu, maka aku pasti akan dapat menyelamatkan diri.”

Ketiga pengawas itu masih juga mencoba maju.

“Cukup,” berkata orang yang sudah berhasil melepaskan dirinya itu, “kalian tidak usah merayap-rayap lagi. Aku sekarang akan lari. Lari jauh sekali melintasi hutan dan pegunungan. Tetapi itu akan jauh lebih baik daripada aku kalian serahkan kepada Ki Gede Pemanahan atau puteranya, Raden Sutawijaya.”

“Jangan lari. Mari kita berhadapan secara jantan.”

“Kali ini aku sama sekali tidak memerlukan sikap jantan itu. Aku lebih baik lari saja, meskipun kalian meng¬anggap aku bersikap licik, betina atau segala macam isti¬lah yang paling jelek dan menyakitkan hati. Tetapi aku tidak akan menjadi sakit hati kemudian karena harga diri aku berbuat bodoh melawan kalian. Sekarang, yang paling baik bagiku memang lari. Lari sejauh-jauhnya.”

Wanakerti menggeretakkan giginya. Tetapi ia memang tidak akan dapat mengejar orang itu. Apa pun yang dila¬kukan, maka ia sudah tidak berpengharapan lagi untuk menangkapnya. Karena itu ia hanya dapat mengumpat-umpat meskipun ia masih juga berusaha mendekati lawannya.

Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara tertawa. Katanya, “Lepaskan niatmu yang gila itu. Kalian tidak akan mampu menangkap aku kecuali ketiga orang yang menyusup di dalam lingkungan orang-orang yang membu¬ka hutan itu datang kemari. Mereka adalah orang-orang gila yang berpura-pura,” orang itu berhenti sejenak. Lalu, “Se¬lamat tinggal. Mudah-mudahan kalian diterkam harimau lapar yang tersesat sampai kemari.”

“Gila! Anak setan!” Wanakerti yang menjadi ma¬rah bukan kepalang hanya dapat mengumpat-umpat saja. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika orang itu kemu¬dian memutar dirinya dan siap untuk berlari meninggal-kan mereka.

Tetapi Wanakerti dan kedua kawannya tiba-tiba saja terkejut bukan buatan. Ketika orang itu meloncat maju selangkah, tiba-tiba ia tertegun. Sejenak ia terhuyung-huyung, kemudian dengan wajah yang pucat pasi ia berpaling.

“Siapa, siapa yang telah melakukannya?”

Orang itu masih berdiri sejenak, namun kemudian tubuhnya mulai gemetar, akhirnya ia pun terjatuh di tanah.

Wanakerti dan kedua kawannya menyaksikan hal itu dengan pandangan yang tidak berkedip. Sejenak kemudian ia sadar, apa yang telah terjadi.

Ternyata pemimpin pengawas yang sangat lemah itu masih berhasil mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk melemparkan sebilah pisau kepada orang yang akan melari¬kan diri itu, tepat mengenai punggungnya meskipun tidak menghunjam terlampau dalam, karena tenaganya sudah tidak memungkinkan. Tetapi sentuhan yang panas seperti bara, kemudian perasaan sakit yang segera menjalar ke segenap tubuh disertai kekejangan yang perlahan-lahan mencengkamnya, dukun itu sadar, bahwa ia telah terkena racun yang kuat sekali.

Itulah sebabnya ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang dilakukan, sedangkan racun itu terlampau cepat mengalir di dalam arus darah, beredar ke segenap tubuhnya.

Ketika Wanakerti berpaling, memandang pemimpinnya, ternyata pemimpinnya itu sudah berbaring di tanah. Nafasnya terengah-engah dan matanya sudah separo terpejam.

“Kenapa kau?” bertanya Wanakerti sambil melangkah mendekatinya. Ia pun kemudian bersama kawan-kawan¬nya berjongkok di sampingnya.

“Aku telah mencoba melepaskan seluruh sisa tena¬ga yang ada,” suara pemimpin pengawas itu menjadi se¬rak. “Aku melemparkan pisau itu kepadanya. Terpaksa sekali, karena tidak ada jalan lain untuk menangkapnya, meskipun kita sangat memerlukannya.”

“Ya, pisau itu mengenainya,” sahut salah seorang pengawas.

“Ia akan mati karena racun yang kuat. Tunggu du¬lu. Jangan kau sentuh orang itu. Tunggulah gembala tua beserta kedua anaknya itu. Mungkin mereka dapat memberikan nasehat kepada kalian.”

Wanakerti dan kawannya mengangguk. Namun ia tidak sempat bertanya lagi karena pemimpin pengawas itu kemudian jatuh pingsan.

Sejenak kemudian ketiga pengawas yang telah menjadi sangat letih itu, kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka sama sekali tidak mengerti, bagaimana mereka harus menolong pemimpin mereka yang pingsan karena kehabisan tenaga itu. Sedang mereka sendiri pun rasa-rasanya hampir menjadi pingsan pula.

Wanakerti yang masih merasa paling baik di antara kawan-kawannya berkata, “Tidak ada jalan lain. Aku akan me¬manggil gembala tua beserta kedua anak-anaknya itu. Aku mengharap bahwa mereka akan dapat membantu kita.”

“Ya, ternyata mereka pun memahami ilmu obat-obatan. Bahkan mungkin lebih baik dari dukun yang terbunuh itu,” sahut kawannya.

“Tunggulah kalian berdua di sini.”

Kedua kawannya itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa tubuh mereka sendiri sudah tidak wajar lagi. Kadang-kadang mata mereka menjadi berkunang-kunang dan seolah-olah di telinganya terngiang suara berdesing yang berpu¬taran tidak henti-hentinya.

Demikianlah, maka Wanakerti pun segera berjalan ter¬tatih-tatih mencari Kiai Gringsing beserta kedua muridnya, yang untunglah bahwa mereka masih berdiri tegak, menung¬gui mayat orang berkumis yang menjadi ajang pertarungan dua jenis racun.

“Mudah-mudahan aku berhasil,” berkata Kiai Gringsing, “sehingga besok mayat itu dapat dikuburkan dengan baik.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah, kita tinggalkan saja mayat itu. Sudah tentu kita tidak akan menungguinya sampai besok.”

“Lalu, kemana kita sekarang?” bertanya Swandaru.

“Kita pulang ke barak untuk sementara.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi sebelum mereka beranjak dari tempat mereka, me¬reka melihat Wanakerti yang lemah berjalan tertatih-tatih mendekati mereka.

“Guru,” desis Agung Sedayu, “kenapa Ki Wana¬kerti datang pula kemari?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya, “Marilah, kita pergi mendapatkannya.”

Ketiganya pun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menyongsong Wanakerti yang sudah menjadi semakin lemah. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya kian menjadi pucat.

“Kenapa Tuan kemari?” bertanya Kiai Gringsing.

Wanakerti menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali, seakan-akan ingin mengendapkan nafasnya yang melonjak-lonjak.

“Panggil namaku, Wanakerti,” desisnya. “Ternyata kalian adalah orang-orang aneh di sini.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Dibiarkannya Wanakerti berkata selanjutnya, “Aku minta kalian datang ke gardu pengawas.”

“Kenapa?”

“Pemimpin kami pingsan.”

“O, kenapa?”

Dengan singkat Wanakerti menceriterakan apa yang sudah terjadi atas pemimpinnya dan atas dukun yang men¬jadi tawanannya itu.

“Jadi dukun itu terbunuh?” bertanya Kiai Gring¬sing.

“Ya.”

“Tidak ada harapan untuk diobati?”

“Aku kira ia sudah mati. Aku tidak berani merabanya, mungkin racun itu akan berpengaruh atas aku yang sudah terlampau lemah ini.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Satu-satunya orang yang akan dapat memberikan keterangan mengenai teki-teki di daerah ini justru sudah terbunuh. Dengan demikian maka mereka telah kehilangan satu-satunya sumber keterang¬an mengenai rahasia yang selama ini menyelubungi dae¬rah ini.

“Kami tidak sengaja membunuhnya,” berkata Wanakerti, “tetapi agaknya memang lebih baik begitu dari¬pada ia berhasil melarikan diri dan memberikan keterangan-keterangan kepada kawan-kawannya. Sebab aku yakin bah¬wa mereka tidak berdiri sendiri. Orang berkumis, kawan kami itu, agaknya orang yang bertanggung jawab di daerah ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemu¬dian katanya, “Kita masih mempunyai dua orang. Tetapi mereka tidak akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang penting. Mereka hanya tenaga yang diumpankan.”

“Siapa?”

“Orang yang tinggi kekar dan yang kekurus-kurusan itu.”

Wanakerti mengangguk-angguk pula. Tetapi ia pun sependa¬pat bahwa keduanya pasti tidak akan banyak mengetahui tentang gerakan mereka sendiri.

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing. “Kemudian bagaimana dengan pemimpinmu itu?”

“Ia jatuh pingsan setelah melontarkan pisau ke punggung orang yang berusaha melarikan diri itu.”

“Marilah kita lihat.”

Mereka pun kemudian berjalan perlahan-lahan ke gardu pe¬ngawas karena Wanakerti sudah menjadi kian letih dan lemah. Swandaru yang tidak telaten kemudian mendekati¬nya sambil berkata, “Marilah, aku bantu kau berjalan.”

Wanakerti pun kemudian bergantung pada pundak Swandaru. Dengan demikian maka mereka pun dapat berjalan lebih cepat.

“Mereka yang pingsan segera memerlukan bantuan,” berkata Swandaru kemudian.

Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Terima kasih,” katanya.

Sejenak kemudian mereka pun telah sampai ke halaman gardu pengawas. Kiai Gringsing mengerutkan keningnya ketika dilihatnya, bukan saja pemimpin pengawas itu yang pingsan, tetapi salah seorang dari kedua pengawas yang tinggal, telah menjadi pingsan pula, sedang yang se¬orang lagi telah menjadi sangat lemah dan duduk di samping kawannya yang pingsan itu.

Wanakerti pun menjadi cemas. Meskipun tubuhnya sendiri serasa tidak bertulang lagi, namun ia berusaha secepat-cepatnya menghampiri kawan-kawannya yang pingsan.

“Kenapa mereka, Ki Sanak?” Wanakerti bertanya kepada Kiai Gringsing yang sudah berjongkok pula di samping mereka yang sedang pingsan.

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah pengawas yang masih tetap sadar, meskipun menjadi lemah sekali.

Pengawas itu seakan-akan dapat mengerti pertanyaan yang terbayang di mata Kiai Gringsing, sehingga ia menjawab, “Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba ia pingsan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian bergumam, “Kalian terlampau lelah.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:40  Comments (42)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-55/trackback/

RSS feed for comments on this post.

42 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Huaaah,… hutan ini kembali sepi semenjak para cantrik sibuk mengunduh kitab lima empat. Kalau saja dalam bilik-bilik perkemahan itu ada yang jual voucher kitab lima-lima, tentu para cantrik ADBM akan segera antri untuk mendapatkannya..”

  2. Assalamu’alaikum wr wb.
    Telah nyata, bahwa Padepokan ADBM yang dibangun oleh Ki Dede Menoreh telah berkembang cukup pesat. Para pengikutnya setiap saat terus bertambah, dari jumlah ribuan ketika masih menggunakan nama padepokan yang lama di bawah asuhan Ki Rizal, maka kini anggotanya sudah mencapai ratusan ribu orang (maaf hitungan ngawur semua).

    Hanya sayang sekali bahwa baik Ki Dede maupun Ki Rizal tidak memiliki data apapun tentang anggota padepokannya, karena disamping memang tidak ada ketentuan tentang pedaftaran, apalagi uang pendaftaran. Sedangkan nama saja tidak diharuskan untuk memakai nama yang sebenarnya. Maka jangan heran jika diantara anggota padepokan ada yang menggunakan nama sedikit “saru” seperti Kontos Wedul, ataupun nama2 samaran lainnya seperti Mirah, Glagah Putih, Ki Amat, Pandan Alas, ……… wah pokoke werno2.

    Sebetulnya menarik juga untuk membuat statistik, sebetulnya siapa saja sih yang sangat mencintai celotehan ADBM ini, sehingga penggemarnya begitu fanatik. Hal ini ditunjukkan setiap hari tatkala menunggu hadirnya jilid berikutnya. Ada yang matanya berkunang-kunang, ada yang terkencing-kencing, ada yang sakit kepala, ada yang kepengin gantung diri dls.

    Kalau dapat diketahui rata2 usia para penggemar ADBM ini sungguh dapat ditarik kesimpulan yang menarik. Misalnya kalau ternyata rata2 usianya di atas 50 tahun, berarti mereka sudah pernah membacanya dahulu ketika mereka masih remaja. Jadi daya tarik ADBM ini karena faktor kenangan masa lalu semata. Tetapi kalo ternyata penggemarnya ada di tataran usia muda, misalnya antara 20 hingga 50 tahu ke atas, maka dapat diharap bahwa mereka sungguh2 menikmati sajian SH Mintareja yang mengungkapkan kehidupan manusia Indonesia di masa lalu.

    Kehadiran mereka di padepokan ini dalam rangka melarikan diri dari kehidupan dunia nyata saat ini dipenuhi oleh intrik politik dan kekuasaan. Namun di padepokan ini selain intrik politik, juga didapatkan pendidikan moral untuk senantiasa berbuat baik. Contoh kongkret ditunjukkan dengan matinya Ki Tambak Wedi dan Sidanti sebagai simbol kebathilan, dan dimenangkannya Ki Gede Menoreh yang dibantu Kiai Gringsing dkk, sebagai simbol kebaikan.

    Kemudian yang ingin saya ketahui juga (bukan berarti saya senang pada kesukuan) adalah dari suku apa saja para penggemar ini berasal. Apakah dari suku Jawa saja dimana pengarang dan jalan ceritera ADBM ini berada, ataukah dari suku2 lain di luar Jawa juga menyenanginya?. Hal ini saya anggap penting untuk mengetahui sejauh mana pola kehidupan di jawa itu apakah juga diimpikan oleh orang2 yang berasal dari suku di luar jawa. Kemudian orang2 di luar jawa yang mana yang menyukai pola kehidupan di Jawa itu.

    Padepokan ADBM ini juga sepertinya dapat dijadikan sarana latihan perang para penggemarnya. Dari hari ke hari semakin banyak saja para komentator yang sambil menyunggu terbitnya jilid berikutnya, mereka menuangkan latihan bakat keterampilan menulisnya. Kalau disimak secara seksama tulisan2 meraka, ternyata mutu tulisan mereka tidak terlalu jauh dari mutu tulisan SH Mintardja.

    Selain berlatih menulis, para penggemar juga dilatih oleh Ki Dede langsung untuk melakukan jurus2 Konvert, Editing dan Penulisan Ulang. Ini juga perlu bagi mereka, sehingga apabila nantinya mereka terjun kedunia tulis menulis, sudah punya bekal latihan keterampilan yang cukup di padepokan ini.

    Disamping latihan perang2an kecil semacam yang disampaikan mereka dalam komentar2 singkat disetiap terbitan jilid baru, tentunya mereka juga harus berlatih dalam perang besar. Dalam perang besar ini mereka harus berlatih jurus memelihara jalur atau alur ceritera, jurus latar belakang sejarah yang melatari ceritera, jurus2 kejutan untuk memancing daya tarik ceritera, jurus2 menyembunyikan bom waktu sehingga sebelum bom meledak semua perhatian pembaca tercurah pada keberadaan bom tersebut beserta waktu ledakannya, dls.

    Contoh bom waktu yang di jilid 50 ini dinyalakan oleh Ki SH Mintaredja adalah masalah tumbuhnya keinginan Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya untuk membangun Alas Mentaok menjadi sebuah padukuhan. Detik demi detik, waktu demi waktu semakin tersingkap jalan kearah pembentukan negara Mataram. Hal ini semakin menarik perhatian pembaca tentang kapan Bom meledak, yaitu tatkala Ke GP dan Stwj berperang dengan Pajang? Atau tidak terjadi perang? Dls.

    Melihat kondisi ini, saya sebagai salah satu penggemar dari padepokan ini menyampaikan saluuuuut kepada Ki Dede yang telah menghadirkan padepokan di dunia maya ini, dan kita bersama-sama merasakan banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari kancah2 pertempuran di sekitar bukit menoreh. Mudah2an, setamat buku ADBM ini sampai jilid yang ke 375(?), dapat diteruskan dengan Buku2 bermutu lainnya hasil karya Cantrik2 Padepokan ADBM ini sendiri.

    Wabillahitaufiq wal hidayah,
    Wassalamu’alaikum wr wb.

  3. @ Truno Podang
    Sekali-sekali coba klik angka yang tertera pada Ngangsu Kawruh. Disitu akan terlihat peta sebaran cantrik ADBM.
    Sumonggo.

    NB: Hingga saat ini kami belum ada niat untuk tampil ke dunia riil. Oleh karena itu statistik mengenai umur, golongan, suku, dll-nya itu juga menjadi tdk ada manfaatnya. Cukuplah kiranya jumlah pengunjung dan letak geografisnya saja (GD).

  4. Gaya bahasa yang ditampilkan oleh Sang Maestro SHM memang lain dari penulis2 lainnya.. Apa yang disuguhkan lewat kalimat2 maupun kata2 yang diutarakan, bisa membawa sang pembaca berada pada suasana yang sesungguhnya, meskipun cerita ini merupakan pengembangan dari kejadian2 dimasa lalu. Kalimat demi kalimat yang dituliskan begitu mendetail, sehingga tidak ada bagian yang terlewatkan.

    Meskipun Sang Maestro dalam menyusun suatu kalimat atau kata2 yang kelihatannya “njlimet/muter2”, namun justru itu yang menimbulkan kesan dan pemahaman yang mendalam. Untuk itu, para komentator2 yang selalu berceloteh lewat tulisan2nya ketika menunggu kemunculan buku selanjutnya, diharapakan kedepannya bisa menyambung cerita yang belum berakhir.

    Karya Sang Maestro ini, bukan hanya sekedar cerita yang cuma hanya bisa dibaca, tetapi juga meninggalkan pesan moral dan pendidikan.

  5. sepiiiii,…….

    kitab pusaka 55 msh blm dapat,… padahal pelajaran dlm kitab pusaka 54 sdh diselesaikan, dimengerti n siap di amalkan dlm tata kehidupan.

    bingung,….

    bagaimana lalui waktu, sedangkan esok sdh ada tantangan hidup yg baru. dapatkah hidup terus berjalan hanya dgn kemampuan menamatkan kitab pusaka 54??

    semoga,……

    yah semoga ki/nyi gde DD segera mendengarkan keluhan ini n merelakan kitab pusaka 55 nya untuk diwariskan lebih cepat.

  6. kiayi DD dengan menahan nafas…dan lembut tangannya satu-satu membuka lembaran demi lembaran dan mescan satu-demi satu demi terwujudnya kitab 55 itu.
    sementara diluaran orang-orang sudah tidak sabar menunggu keluarnya ki DD untuk mebagikan kitab tersebut, yang sudah tidak sabar sekali berteiak-teriak -he..ki DD cepatlah kerjanya jangan seperti kura-kura- sementara orang yang berdiri disebelahnya berkata -sabarlah kakang dengan beriak teriak tidak ada gunanya, lebih baik menunggu atau membantu kerjaanya biar cepat selesai – sementara ada orang yg dibelakan nya sambil menghitung-hitung seperti berguman – kalau kitab itu ada delapan puluh halaman satu halaman satu menit , berarti delapan puluh menit , terus diedit supaya menjadi wajar untuk dibagikan memerlukan waktu dua atau tiga jam-an kasaran bisa empat sampai lima jam..jika dikerjakan setelah semburat warna merah matahari bisa jadi selesai jam sepuluhan atau jam sebelas , belum makan pagi yang ransumnya terlambat ,atau godan-godan lainnya yang menghambat pekerjaannya sehingga paling lambat tengah hari baru selesai…untuk dikeluarkan kitab tersebut….- orang yang erteriak-teriak tadi menjadi termenung mendengar orang yang dibelakangnya berguman menghitung-hitung waktu yang dikerjakan ki DD- dan mencela – ah kau tidak tau ki DD itu kan orang yang punya kemampuan lebih dari orang-orang kebanyakan sehingga tidak perlu waktu yang demikian lambat..- orang yang berguman menimpali – itu kan hitungan umum yang aku hitung berdasarkan hitungan pekerjaan umum yang biasa dikerjakan seseorang, ya terserah mau masuk perhitungan atau tidak , lebih baik aku kembali setelah tengah hari agar tidak mendengarkan kekecewaan dan keluhan yang tidak berarti ini..-

    Mohon maaf kepada ki DD dan para prajurit serta senapati yang telah melangsungkan kehidupan padepokan ini , dan terimakasih pangeran sing balas.

  7. kapan-kapan kt koesplus………………………………….. album 55 br proses mixing di mentaok record

  8. Ki Kasdoelah menemui Ki Warsono di banjar desa. Desas-desus mengenai hantu di Alas Mentaok rupanya sudah sampai ke telinga para tokoh di padepokan ADBM. Sambil menimang-nimang kitab 55 ditangannya Ki Kasdoelah bersama Ki Warsono menghampiri Ki Dede Menoreh.

    “Hantu-hantu itu rupanya yang saat ini menggelisahkan para cantrik ADBM. Apakah perlu segera kita beberkan saja siapa dalang dibalik semua ini?” berkata Ki Dede.

    “Benar… Siapa tahu rahasia nya memang berada di kitab 55 ini” jawab Ki Kasdoelah sambil menunjukan kitab ditangannya.

    “Apakah perlu segera saya lakukan scanner Kiai?” bertanya Ki Warsono.

    “Agak nya memang harus demikian Ki Warsono” jawab Ki Kasdoelah.

    Ki Dede menganguk-angguk seraya berkata “Mumpung masih pagi. Para santripun saat ini sedang berkumpul bersama keluarganya. Dan juga belum banyak keluhan yang muncul kalau kita terlambat memberikan ransum ini”

    Kemudian ketiganya berjalan menuju markas padepokan ADBM untuk melakukan persiapan penerbitan kitab 55 yang sebentar lagi akan dicari-cari oleh para cantriknya.

    ——- K D ——-

  9. Saabar nggerr….sabar….Covernya sudah muncul….

  10. Sepagi itu Sekar Mirah telah nembang rengeng-rengeng di dapur. Gumamnya, “…ada lemper ada talas, …ada cover, ya, ada balas..”

    Sukra, yang tengah menemaninya, melirik dengan aneh. “Apa sih, maksudnya?” gerutunya dalam hati.

    Eee alaah, nyo’on pangaporah

  11. Wah, gawat…
    saya kangen buka ADBM beberapa kali sehari hanya untuk baca tulisan bocah bocah cantrik yang waringuten itu….lama lama pada bikin buku sendiri…nanti Agung Sedayu bukan minum air sere tapi air cola, makannya bukan jenang alot tapi pizza alot…naiknya bukan kuda tapi hunda…pertemuannya bukan di banjar .. tapi di mall …musuhnya? Ki Tambak Korupsi

  12. “Angger Pandan Wangi, engkau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan ayahmu. Aku kira Ki Gede akan mampu mengatasinya apabila ada hambatan di perjalanan.” kata Samekta.

    “Tapi paman, aku memang mengkhawatirkan ayahku, apabila para cantrik yang sulit mengendalikan diri itu masih terus saja menunggu.” jawab Pandan Wangi.

    “Justru itulah, memang sebaiknya ayahmu segera mengirimkan kitab itu ke padepokan yang wingit itu” desis Samekta.

    “Tapi aku berpendapat lain. Sebaiknyalah mereka dibiarkan menunggu, aku yakin mereka akan membubarkan diri. Apabila padepokan itu telah sepi, barulah ayah pergi ke sana.” sahut Pandan Wangi.

    “Itu adalah tindakan yang sia-sia ngger, aku yakin para cantrik itu akan selalu menunggu, karena mereka yakin kitab itu akan segera datang, apalagi covernya sudah terlanjur dikirimkan.” lanjut Samekta.

    “Kalau begitu, terserahlah pada ayah.” kata Pandan Wangi.

    Dalam hati Samekta mendesah, “Mudah-mudahan Ki Gede segera megirimkan, sebelum para cantrik itu menjadi semakin tidak dapat mengendalikan diri.”

  13. suwe ora jamu
    jamu ora suwe
    suwe ora jamu
    jamu pisan ora bisa suwee

  14. Kepergian Sekar Mirah membuat Prastawa tidak nyenyak makan dan tidak menikmati sedapnya tidur.

    “Mirah …… Mirah ……… kalau kamu mau menerima cintaku .. jangankan jilid 55 …. seluruh kitab kuno peninggalan Kiai Mintardja akan ku serahkan padamu hari ini.”

    ” Sayang …. engkau tidak bisa mendengar jeritanku … maka terpaksa aku mengecewakan seluruh kademangan Sangkal Putung dan hantu-hantu Alas Metaok….”

  15. adakah kisanak semua sudah punya yang versi convert dlm format word?sudilah kiranya mengirimkan ke emailku, pasalnya aku sekarang menikmati ADBM melalui handphone.

  16. Sekar Mirah tercenung mendengarkan igauan Prastawa yang tidak karuan macam itu. Dipandanginya anak muda yang tidur itu dalam temaramnya nyala api dlupak di sudut dinding.

    “Oh, oh.. Prastawa. Jangan engkau salah duga, dan jangan pula salah kira. Bukan karena sudah ada Kakang Agung Sedayu di hatiku, maka aku terpaksa menolak cintamu,” desah gadis itu dalam hatinya.

    Lalu, “ketahuilah, Prastawa, ..Jilid-55 itu sudah ku-donlod sendiri, atas budi baik sanak kadhang semua di Padepokan ADBM .. Jadi, aku tak perlu lagi janji-janji palsumu.”

  17. Sederek Moderator,

    Halaman 10 dan 11 kok gak ada,
    Apa dibawa sama Sekar Mirah ke Sangkal Putung ?

    Matur Nuwun.

    GD: Sudah diperbaiki

  18. Istilah:

    Bumbung: tabung yang terbuat dari batang bambu
    Dingklik : bangku kecil
    Regol : gerbang
    wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)
    Mas Ngabehi Loring Pasar : Mas Ngabehi yang tinggal di sebelah Utara Pasar. (berasal dari kata Lor = Utara)

    Wanakerti: Wana = hutan; kerti=tata tertib/kedamaian/kemakmuran

    bacaan :
    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa
    http://blog.baliwww.com/tag/jana-kerti/

  19. adakah kisanak yang sudah menggenggam buku 55 ini di komputernya?kalo bisa saya minta dikirimi ke email saya, soalnya saya dah coba donlot gak bisa-bisa. Makasih sakdurunge yo

  20. sejak buku 55 ini gak tahu kenapa aku kok gak bisa donlot (selalu gagal di tengah2), sudah tak coba pake bermacam browser dan bermacam komputer tetap aja gak bisa, jadi adakah kisanak yang berkenan untuk mengirimkan buku 55 ke alamat email sya?

  21. Para sedulur sedoyo, buat mbaca file2 download-an diatas pake apa ya…dari 51-55 kulo mboten saged niki ngangge pdf, niku jenis file nopo nggeh? Mohon pencerahannya?

  22. Untuk Pak Muklijum, kalo boleh tahu downloadnya di kantor apa di rumah? kalo di kantor mungkin dibatasi besaran downloadnya karena beban network. Coba di download pada saat pagiiii sekali atau malaaaam sekali, saat para ADBMer masih atau sudah pada tidur, mungkin downloadnya lancar.

    Untuk Pak AlGhors, file .pdf nya harap diubah dulu menjadi .djvu

    Untuk membuka file silahkan unduh program di sini:
    https://adbmcadangan.wordpress.com/download/
    ambil salah satu:
    MacDjView

    WinDjView
    SDJVU
    HandyDjvu
    Java DJVU
    PocketDJVU (v0.9.2)
    STDUViewer

  23. makasih mas jebeng, setelah perjuangan yang panjng dan melelahkan, akhirnya buku 55 sudah ada di tangan. nunggu buku 56 nich, biar gak nanggung

  24. He Kisanak, menurut saya pada akhirnya memang lebih menarik celotehnya para Cantrik ketimbang baca bukunya satu-satu, malah nambah warunguten..

  25. Ok matur nuwun sanget atas info dan pencerahannya mas jebeng…
    Tetep semangat buat padepokan Ki Gede Menoreh.

  26. Mohon ampun ki Muklijum:”mohon muridmu ini diberikan tenaga cadangan untuk mengungkap jurus 50,51,56 guna membantu anak bengal mas ngabei loring pasar meramaikan alas mentaok, terimakasih guru,”

  27. Para kisanak yg telah membantu saya sekalian, matur nuwun sanget. Setelah berhasil ngunduh program viewer nya DJVU, saya sekarang bisa membuka kitab2 yg diwariskan oleh Ki Argapati (Kiai Kasdoelah & Kiai Prasidi)melalui jasa2 Ki/Nyi DD (GD) dan ki Sukra berikut para senopati Kiai Warsono, Kiai Pedo, Kiai Prastawa, Kiai Ma’ruf, Anakmas Edy, Anakmas Jebeng dll.

    Bukit menoreh semakin cerah menyongsong hari esok…….

    Terima kasih

  28. Sejak pertemuanku dengan Panembahan Jati Srana malam-malam kemarin, hatiku sudah risau. Mengapa beliau mau menerima usulan andahannya itu? Dua orang yang sudah tidak asing bagiku. Seorang yang tinggi kekar dan seorang yang kecil kekurus-kurusan! Akan tetapi, aku yang hanya seorang andahan lain yang tidak istimewa di mata Panembahan Jati Srana tentu tak akan memiliki kesempatan untuk tahu rencana ke depan. Sambil mengatur uba rampe milik majikanku itu, aku hanya bisa menunggu. Menunggu cerita lanjutannya di jilid 55 ini!

  29. Apa buku jilid 55 belum dapat dibuka, kok saya selalu gagal membukanya, padahal buku 56 sudah berisi. Jadinya nggak bisa baca buku 56 karena ada “missing link”

  30. Ohm Achmad, Sepertinya Buku 55 masih berupa djvu file. Jadi link untuk versi teks belom dimunculkan oleh Ki Gede..

  31. Hmm.. Dah pd gak sabar ya nunggu buku 55.. Sama.. he50x.. Pripun nggih? Kok tasih kosonh page nya.. Udah mulai gatel seluruh badan e..

  32. asyikjuga menilas tapaki sampai di gandhok 55.
    Kumaha damang Ki Menggung KY,Ki AS, kI Menggung YP ?

    • ada perasaan “dredEK-dredEK” siTIK njih ki, disaat
      broBOS pintu gandok yang selama ini raPET ditutupi….he10x

      amat saYANG Nyi Seno-ne belom berkeNAN “menYAPA”
      pasukan ki Gembleh cs.

      • ke mana ke mana ke mana

        • lha wong wis pamitan ket mang kok jik digoleki to …

          • wonten sing kantun lho ,

            • inggih ki mangku, niki wau mbak ayu ketinggalan duko wonten pundi 😳

              • Atos-atos teng Mentaok dalu-dalu kathah jerangkong klayaban lho .

                • mboten dados menopo ki, rombongan jrangkong mpun sami budal rame-rame madosi alamat palsu

  33. Wah jerangkong jaman saiki senengane malah ngalamat ASPAL ..

    • para tumenggung eh jerangkong jaman saiki memang begitu ki

      • Oh pun kamanungsan yake ??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: