Buku 55

Orang berkumis itu tertegun sejenak. Ketika ia melihat ketiga lawannya termangu-mangu, ia pun tertawa berkepanjangan sambil berkata, “Nah, apakah kalian menyesal?”

Ketiga lawannya sama sekali tidak menyahut.

“Sayang, kalian tidak akan mendapat kesempatan lagi.”

Wanakerti menggeretakkan giginya. Suara tertawa itu memang sangat menyakitkan hati.

“Aku sama sekali tidak ingin mendapat belas kasihanmu,” geram Wanakerti, “karena kami merasa sanggup melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Kau mengerti?”

“Maksudmu kau akan bertempur sampai mati?”

“Maksudku, aku akan membunuhmu.”

Orang berkumis itu tertawa semakin keras. Namun tiba-tiba suara tertawanya berhenti ketika Wanakerti berkata, “Sebenarnya kami tidak memerlukan kau lagi. Sean¬dainya kau tidak dapat kami tangkap, dan bahkan seandainya kamu akan mati sekalipun, kami tidak akan berkeberatan. Kawanmu yang pingsan itu agaknya telah di¬ambil oleh para petugas yang lain. Ia akan dapat banyak memberikan keterangan.”

“He,” orang itu terkejut. Tetapi ketika ia berpaling yang dilihatnya adalah orang-orang yang berkerumun.

“Minggir,” ia berteriak.

Ternyata beberapa orang menjadi ketakutan dan segera menyibak. Di sela-sela orang-orang yang telah menyibak itu, orang berkumis itu hanya dapat melihat seonggok batu padas. Kawannya memang sudah tidak berada di tempatnya.

“Aku melihat seseorang mengambilnya,” berkata Wanakerti, “dan aku sengaja memancing perhatianmu. Kini, apa yang hendak kau katakan kepada Ki Gede Pema¬nahan seandainya ia datang kemari?”

Orang berkumis itu menjadi tegang sejenak. Namun kemudian ia menggeram, “Licik. Licik sekali.”

Wanakerti tidak menjawab. Meskipun lukanya terasa pedih, tetapi ia mencoba untuk tertawa, “Kami tidak berkeberatan untuk mati. Tetapi segala usahamu di sini akan gagal.”

Dalam pada itu, orang yang terikat itu pun dapat mendengar serba sedikit pembicaraan mereka yang berada di arena. Apalagi suara orang berkumis yang keras dan lan¬tang itu. Sejenak meloncat di hatinya keinginannya untuk berteriak, memberitahukan kepada orang berkumis itu, bahwa ia masih berada di tempat itu, meskipun terikat.

Tetapi ketika mulutnya hampir saja bergerak, ujung pedang pemimpin pengawas itu telah menyentuh bukan saja punggung atau lambungnya, tetapi mulutnya.

“Aku tahu, kau akan berteriak memanggilnya,” desis pemimpin pengawas itu.

Orang yang terikat itu mengumpat di dalam hati. Tetapi ia memang tidak mendapat kesempatan untuk berteriak. Karena itu, ia tidak berhasil memberikan isyarat apa pun kepada orang berkumis yang berada di arena.

Orang berkumis yang telah berhasil melukai ketiga lawannya itu menjadi termangu-mangu. Ia sudah berusaha mence¬gah anak gembala tua yang melempar dukun yang pingsan itu dengan batu. Tetapi kini ternyata ada orang lain yang melakukannya.

“Siapakah yang telah berani mengambilnya?” ia menggeram.

Wanakerti berdesis menahan sakit. Namun kemudian ia menjawab, “Aku tidak tahu. Tetapi menurut sikap dan pakaiannya, ia adalah utusan atau setidak-tidaknya pengawas yang sedang bertugas melihat-lihat perkembangan daerah ini.”

“Bohong, kau bohong. Aku tidak mendengar suara kuda. Kalau benar mereka yang kau maksudkan, mereka pasti datang berkuda. Mereka tidak akan langsung mengetahui apa yang telah terjadi di sini.”

Wanakerti mengerutkan keningnya. Ia tidak segera dapat menjawab. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku tidak tahu pasti siapakah yang telah mengambilnya. Tetapi pasti bukan dari golonganmu.”

Orang berkumis itu menggeram. Katanya, “Orang itu pasti belum terlampau jauh. Aku harus menemukannya.”

Tiba-tiba saja orang itu ingin segera menyelesaikan pekerjaannya di arena ini. Karena itu, maka wajahnya menjadi merah dan tatapan matanya menjadi liar.

“Kalian harus segera mati, supaya aku segera dapat menangkap orang yang telah mencuri orang yang pingsan itu.”

Wanakerti tidak menyahut. Bersama kedua kawan-kawannya yang telah terluka ia pun segera bersiap. Tetapi kini ia sudah berhasil mempengaruhi perasaan orang itu, se¬hingga ia akan selalu diganggu oleh kegelisahannya.

Ternyata bahwa kedua kawan Wanakerti yang telah terluka itu pun mengerti maksudnya. Mereka harus bertahan sejauh-jauh dapat dilakukan. Semakin lama orang berkumis itu akan menjadi semakin gelisah, sehingga pengamatannya atas dirinya sendiri pasti akan berkurang.

Sejenak kemudian maka perkelahian itu pun terulang lagi. Tetapi meskipun orang berkumis itu menjadi gelisah namun ia masih tetap garang. Bahkan sikap dan geraknya menjadi semakin kasar, meskipun kadang-kadang tergesa-gesa dan kurang cermat.

Wanakerti tidak lagi berusaha menyerang. Ia hanya sekedar bertahan dan mengganggu orang berkumis itu apabila ia sedang menyerang kawannya yang paling lemah, yang pundak, tangan dan bahunya sudah terluka.

Meskipun demikian, namun Wanakerti dan kedua kawannya benar-benar berada di dalam kesulitan. Mereka semakin terdesak dan kehilangan kesempatan, sehingga pada suatu saat, orang berkumis itu berteriak, “Aku sudah tidak sa¬bar lagi. Kalian memang harus mati sekarang, di sini.”

Pedang orang berkumis itu pun kemudian berputar semakin cepat menyambar-nyambar ke segala arah.

Namun ia terkejut ketika tiba-tiba saja Agung Sedayu berkata kepadanya, “He, jangan cemas. Dukun yang pingsan itu kini sedang diobati. Seseorang telah membawanya ke tempat Kiai Damar. Karena di sini tidak ada dukun yang lain selain dirinya sendiri, maka hanya Kiai Damar-lah yang akan dapat menolongnya.”

Ternyata kata-kata Agung Sedayu telah menarik perhati¬an orang berkumis itu, sehingga ia tertegun sejenak. Ditatapnya wajah Agung Sedayu yang telah maju beberapa langkah mendekatinya.

“Darimana kau tahu?” bertanya orang berkumis itu.

“Seseorang telah mengambilnya. Aku kira ia akan dibawa kepada Kiai Damar.”

“Ya, darimana kau tahu?”

Pertanyaan itu ternyata telah membingungkan Agung Sedayu, sehingga sekenanya saja ia menjawab, “Aku hanya menduga. Tetapi, kenapa kau begitu bernafsu untuk mempertahankan orang yang pingsan itu? Seharusnya kau relakan saja orang itu. Karena ia telah melukai pemimpinmu.”

“Tidak sekedar melukai. Luka yang sekecil ujung jarum pun akan berarti kematian.”

“Tetapi pemimpinmu masih belum mati.”

“Bohong!”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak. Tanpa sesadarnya ia berpaling kepada gurunya. Ketika gurunya meng¬anggukkan kepalanya, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

“Baiklah,” katanya kemudian kepada orang berkumis itu, “kau akan dapat melihatnya sendiri.”

“Bohong. Kau akan menjebak aku?”

“Tidak,” jawab Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu, pemimpin pengawas itu pun menjadi berdebar-debar. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Agung Sedayu. Tetapi percakapan yang sebagian didengarnya itu telah mendebarkan jantungnya.

Karena itu, maka ia pun menekankan pedangnya kini di leher tawanannya sambil menyembunyikan pisau di bawah rerumputan. Setiap saat ia siap menghunjamkan pedang¬nya ke leher tawanannya dan kemudian menggoreskan pisau, itu apabila orang berkumis itu mendekatinya. Betapa lemah tubuhnya, tetapi ia pasti masih sanggup melempar¬kan pisau pada jarak yang sangat dekat dan melukainya.

Sejenak kemudian pemimpin pengawas itu malahan mendengar Agung Sedayu berkata lantang, “Menyibak¬lah. Biarlah orang ini melihat, bahwa pemimpinnya masih dan akan tetap hidup.”

Beberapa orang yang mengerumuni arena itu pun segera menyibak. Dan apa yang dilihat oleh orang berkumis itu memang telah mengejutkannya. Pemimpin pengawas itu duduk di rerumputan sambil mengacukan pedang ke leher dukun yang pingsan itu.

“Setan alas, siapakah yang telah berkhianat?” ia berteriak. Tetapi ketika ia melangkah mendekati mereka Agung Sedayu berkata, “Jangan pergi ke sana. Perkelahian ini masih belum selesai.”

Langkah orang berkumis itu terhenti. Sejenak ia memandang Agung Sedayu dengan sorot mata yang aneh. Sekali-sekali ia masih juga memandang Wanakerti dan kedua ka¬wannya berganti-ganti.

Dengan nada yang dalam ia menggeram, “Jadi maksudmu, agar aku membunuh ketiga orang ini dahulu?”

“Bukan begitu,” jawab Agung Sedayu, “sebaiknya kau tidak usah mengurus orang itu. Pemimpin pengawas itu telah berhasil menangkap orang yang melempar punggungnya dengan pisau, dan bahwa orang itu telah terikat di sana. Biarlah nanti Ki Gede Pemanahan atau puteranya yang akan mengadili.”

Orang berkumis itu menjadi termangu-mangu sejenak. Ia menjadi bingung menghadapi keadaan yang tidak disangka-sangkanya. Banyak hal yang tiba-tiba saja harus dihadapinya. Hadirnya tiga orang ayah beranak itu sejak semula memang telah menimbulkan kecurigaan, sehingga dengan segala macam usaha, bersama-sama dengan kawan-kawannya ia telah berusaha mengusirnya. Tetapi kini justru ia dihadapkan pada keadaan yang tidak dimengertinya. Kenapa pemimpin pengawas itu dapat bertahan dari bisa racun yang sangat tajam. Dan alangkah menjengkelkan sekali bahwa anak yang gemuk itu dapat mengalahkan kedua kawannya yang terdahulu, sehingga ia harus ikut bertindak hari ini bersama dukun yang justru telah tertangkap itu.

Semuanya sama sekali tidak seperti yang direncanakan, karena perhitungannya tentang ayah dan kedua anak-anaknya itu meleset. Dan kini ia harus berhadapan dengan mereka seorang diri.

“Persetan,” orang itu menggeram di dalam hatinya, “ketiga pengawas itu sudah tidak berdaya. Anak ini kalau perlu harus dibinasakan lebih dahulu.”

Karena itu, maka orang berkumis itu kemudian berkata, “Siapa yang akan menghalangi aku? Aku akan meng¬ambil orang yang terikat itu. Aku memerlukannya.”

“Apakah yang akan kau lakukan?”

“Itu urusanku.”

“Tetapi ia telah membuat suatu kesalahan yang besar. Dan adalah wajar sekali kalau dia diikat dan kemu¬dian diserahkan kepada Ki Gede Pemanahan.”

Orang berkumis itu berpikir sejenak. Siapakah yang telah mengikat orang itu? Sudah pasti ada orang yang telah melakukannya. Apalagi pemimpin pengawas itu masih juga belum mati meskipun punggungnya telah terkena racun.

Dalam kebingungan itu terdengar suara Agung Sedayu, “Sudahlah. Jangan berbuat sesuatu yang dapat men¬jeratmu sendiri. Lebih baik kau menyerah. Kami tidak akan membunuhmu seperti apabila kau yang menguasai kami. Kami adalah orang-orang yang mengerti tentang keharus¬an mempergunakan saluran-saluran tertentu untuk menjatuhkan hukuman, meskipun kami dapat menguasai kau. Meski¬pun dengan sewenang-wenang kami dapat memperlakukan apa saja atasmu. Tetapi kami pun sadar, bahwa itu tidak akan dibenarkan oleh Ki Gede Pemanahan dan puteranya, Raden Sutawijaya, sehingga kami harus membawamu menghadap sesuai dengan keharusan yang berlaku.” Sambil terpaling kepada para pengawas yang sudah terluka ia bertanya, “Bukankah begitu?”

“Kalau ia menyerah,” sahut Wanakerti. “Tetapi ia sudah melakukan perlawanan dan melukai kami.”

“Meskipun demikian, kalau ia menyerah, ia akan mendapat kesempatan.”

“Tetapi kalau ia melawan, kami akan membunuh¬nya berramai-ramai. Bahkan kami akan mempergunakan tenaga orang-orang yang ada di sini untuk menangkapnya atau membunuhnya seperti rapogan macan di alun-alun.”

Orang berkumis itu menjadi tegang.

“Karena itu, menyerahlah selagi masih ada kesempatan. Kau tidak mempunyai kawan lagi yang dapat membantumu, sedang kami ini mempunyai banyak sekali tenaga yang dapat berbuat sesuatu atasmu.”

Sejenak orang itu masih berdiam diri. Namun tiba-tiba ia menggeram, “Ayo, siapa yang akan menangkap aku?” Bahkan kemudian ia berteriak, “Siapa? Siapa yang akan ikut campur di dalam perkelahian ini? Mari, mari.” Sejenak kemudian orang berkumis itu mengacukan pedangnya kepada orang-orang yang mengerumuni arena itu, “Mari, mari, siapa yang akan ikut mati di sini?”

Tetapi orang-orang yang berdiri di sekitarnya itu pun berdesakan mundur. Mereka adalah petani-petani miskin yang mem¬pertaruhkan waktunya dengan suatu harapan, membuka tanah baru untuk keluarga mereka. Mereka sama sekali tidak ingin melakukan apa pun yang bersifat kekerasan, apalagi mempergunakan senjata. Mereka bukan orang-orang yang biasa berkelahi. Mereka hanya sekedar ingin mem¬buka tanah pertanian baru.

“Ayo siapa?”

Tidak seorang pun yang berani tetap berdiri di tempatnya.

“Nah, lihat. Mereka adalah kelinci-kelinci yang ketakutan melihat taring serigala. Ayo, jangan terlampau lama. Kita selesaikan persoalan kita, kemudian aku akan menyelesaikan pemimpin pengawas yang dungu itu.”

Orang berkumis itu telah menjadi liar. Matanya menjadi merah dan nafasnya tersengal-sengal. Selangkah ia maju mendekati Wanakerti sambil berdesis, “Kaulah yang ha¬rus mati lebih dahulu.”

Agung Sedayu melihat suasana yang semakin berat bagi Wanakerti dan kawan-kawannya. Mereka pasti tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Luka-luka mereka pun perlu mendapat perawatan agar mereka tidak menjadi kehabisan darah.

“Kalau sudah terlampau lemah karena luka-luka itu,” berkata Agung Sedayu kepada Wanakerti, “beristirahatlah. Rawatlah luka-lukamu agar darahnya berhenti mengalir.”

Wanakerti mengerutkan keningnya. Tetapi ia harus mengakui bahwa tangannya memang sudah hampir tidak dapat bergerak lagi. Apalagi kawannya yang mengalami tekanan yang lebih berat, serta luka-lukanya pun lebih parah.

Tetapi apakah ia dapat melepaskan tugasnya begitu saja? Padahal ia tahu pasti bahwa orang itu cukup berbahaya, bahkan agaknya ia memang telah bersepakat untuk membunuh pemimpinnya.

“Aku harus menangkapnya,” Wanakerti mengge¬ram, “atau aku harus beristirahat dan membiarkan ia membunuh aku, kawan-kawanku, serta pemimpin kami itu?”

“Aku akan mencoba mencegahnya,” desis Agung Sedayu.

Wanakerti memandang Agung Sedayu sejenak. Anak itu tampaknya memang tidak bergurau. Tetapi apakah ia mampu melawan orang berkumis itu seorang diri?

“He,” teriak orang berkumis, “jadi kaulah yang akan menggantikan ketiga pengawas ini, he? Kau memang terlampau sombong. Tiga orang bersenjata pedang tidak berhasil mengalahkan aku. Apa kau sangka karena adikmu yang gemuk itu mampu mengalahkan kedua cucurut itu, lalu kau pun dapat mengalahkan aku?”

“Soalnya bukan kalah atau menang. Tetapi kami yakin, bahwa kami akan dapat menghentikan segala macam perbuatanmu yang telah menggoncangkan daerah ini.”

“Persetan!” ia menggeram. “Kalian memang ingin mati.”

“Tentu tidak. Kami akan dapat berbuat banyak. Kalau aku tidak dapat menangkap kau sendiri, maka ketiga pengawas ini setelah beristirahat akan dapat membantuku. Juga adikku yang gemuk itu, dan mungkin satu dua orang di antara para penonton ini pun bersedia membantu meskipun hanya melempari kau dengan batu dari kejauhan.”

“Gila, gila! Ayo cepat mulai. Jangan banyak bicara lagi.”

Orang berkumis itu pun segera maju mendekati Agung Sedayu. Pedangnya yang tajam terayun-ayun mengerikan. Sedang matanya yang merah menjadi semakin merah.

“Kau harus mati. Mati!”

Agung Sedayu memang merasa bahwa ia harus berhati-hati. Ia tidak dapat bergurau melawan orang ini. Kecuali ia memang mempunyai ilmu yang cukup, orang itu pun telah dilambari dengan kemarahan yang memuncak. Sehingga dengan demikian, maka ia harus benar-benar berhati-hati menghadapinya.

Ketika orang itu melangkah semakin dekat. Agung Sedayu pun segera bersiaga. Orang-orang yang berdiri mengeli¬lingi arena itu menjadi semakin tegang. Bahkan ada di antara mereka yang menjadi pening, hampir pingsan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Namun dengan demikian, mereka hari ini telah melupakan kerja mereka melanjutkan pembukaan hutan ini. Tetapi agaknya penyelesaian dari persoalan di arena ini akan menjadi landasan keadaan daerah ini untuk selanjutnya.

Orang-orang itu mengerutkan keningnya ketika mereka melihat, seperti Swandaru, Agung Sedayu pun telah mengurai sesuatu di lambungnya. Sebuah cambuk panjang, seperti senjata anak yang gemuk itu.

“Setiap gembala memang menyimpan cambuk,” desis Agung Sedayu. Lalu, “Memang cambuk ini mempunyai bermacam-macam guna.”

Orang berkumis itu tidak menyahut. Tetapi ia melang¬kah semakin dekat dan pedangnya kemudian mulai ber¬getar.

Agung Sedayu sadar, bahwa orang itu agaknya benar-benar sudah akan mulai. Karena itu, maka ia pun harus segera bersiap.

Sejenak kemudian, maka orang itu pun telah meloncat dengan pedang terjulur menyerang Agung Sedayu. Tetapi Agung Sedayu telah bersiap menghindarinya. Ia meloncat ke samping sambil mengibaskan cambuknya sendal pancing.

Terdengar cambuk itu meledak memekakkan telinga. Namun orang berkumis itu pun cukup tangkas. Ia berhasil menghindari dengan suatu loncatan yang cepat dan panjang.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia semakin menyadari, bahwa lawannya memang seorang yang memi¬liki ilmu yang cukup. Dengan demikian maka ia tidak boleh lengah. Ia belum tahu pasti, sampai berapa jauh lawannya memiliki kemampuan.

Sejenak Agung Sedayu memandang wajah gurunya. Dan wajah itu pun tampaknya menjadi tegang pula karenanya.

Orang berkumis itu pun kemudian telah bersiap pula untuk menyerang. Tetapi seperti Agung Sedayu, ia menya¬dari bahwa lawannya kali ini meskipun hanya seorang, tetapi lebih berbahaya dari ketiga pengawas yang hampir saja dikalahkannya itu. Apalagi senjatanya yang lentur itu tampaknya memang sangat berbahaya baginya. Dengan senjata semacam itu pula, anak muda yang gemuk itu berhasil merebut senjata lawannya.

Sejenak kemudian maka keduanya pun segera terlibat dalam perkelahian yang semakin lama semakin seru. Setiap kali terdengar ledakan cambuk Agung Sedayu di antara kilatan daun pedang lawannya yang memantulkan cahaya matahari, yang semakin terik pula.

Orang yang menyaksikan perkelahian itu pun menjadi semakin tegang. Mereka seakan-akan telah membeku di tem¬patnya. Mata mereka hampir tidak berkedip sama sekali. Kedua orang yang berkelahi itu mempunyai kemampuan yang luar biasa. Masing-masing menguasai senjata yang ada di tangannya.

Pedang orang berkumis itu berputaran seperti baling-baling melindungi dirinya. Sekali-sekali pedang itu mematuk seperti seekor ular menyelinap di antara ujung cambuk lawannya. Sejenak kemudian pedang itu menyambar dengan derasnya, mendatar setinggi bahu.

Orang berkumis itu memang benar-benar cekatan. Apalagi dilandasi oleh kemarahan yang memuncak, sehingga seolah-olah ia mendapat tambahan kekuatan untuk mengayunkan pedangnya.

Namun cambuk Agung Sedayu mampu mengimbangi kelincahan ujung pedang itu. Cambuknya berputaran meledak-ledak. Bahkan sekali-sekali Agung Sedayu berhasil menyentuh lawannya meskipun tidak meninggalkan bekas. Namun sentuhan-sentuhan itu semakin lama menjadi semakin sering. Bah¬kan semakin keras. Apalagi setelah Agung Sedayu berhasil menyesuaikan dirinya dengan tata gerak lawannya.

Maka sejenak kemudian perkelahian itu pun menjadi semakin cepat. Orang berkumis itu segera menyadari, bah¬wa lawannya bukanlah seorang anak gembala yang sekedar mampu menyombongkan diri.

Tetapi lebih daripada itu, maka orang berkumis itu pun menyadari pula, bahwa kedatangan ayah dan kedua anaknya itu bukanlah sekedar tanpa maksud. Kalau mereka benar-benar sekedar ingin membuka tanah garapan yang baru, maka mereka tidak akan berbuat sampai sedemikian jauh.

Namun pendapat itu ternyata justru telah membuatnya semakin gelisah. Sehingga akhirnya tidak ada kesim¬pulan lain kecuali membinasakan semuanya, selagi hal ini masih belum didengar oleh lingkungan yang lebih tinggi lagi. Ia akan dapat membuat ceritera apa pun untuk menge¬labuhi atasannya. Sedangkan orang-orang lain yang menyaksi¬kan perkelahian itu, akan dapat dibungkamnya dengan menakut-nakuti dan mengancam mereka. Mereka pasti akan menjadi semakin ketakutan apabila kepada mereka diyakinkan bahwa apa yang telah terjadi, telah membuat hantu-hantu Alas Mentaok menjadi semakin marah. Mereka ma¬sih belum kehilangan kepercayaan mereka terhadap hantu.

Dengan demikian maka orang berkumis itu pun kemu¬dian berkelahi semakin garang. Pedangnya berputar-putar dan menyambar-nyambar dengan cepatnya.

Namun lawannya pun dapat berbuat lebih cepat pula. Pedang itu sama sekali tidak berhasil menyentuh tubuh Agung Sedayu sama sekali.

Swandaru menyaksikan perkelahian itu dengan tegangnya. Namun Kiai Gringsing kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia yakin bahwa Agung Sedayu akan dapat menpertahankan dirinya kalau ia tidak membuat kesalahan.

Sementara itu, pemimpin pengawas yang terluka di punggungnya masih juga meletakkan ujung pedangnya di tubuh tawanannya. Bahkan kemudian seperti acuh tak acuh dibiarkan ujung pedang itu menyentuh-nyentuh lehernya.

Dukun yang terikat itu mengumpat-umpat di dalam hati. Apalagi ketika ia melihat pemimpin pengawas itu kini sama sekali tidak memegangi hulu pedangnya. Diletakkannya saja hulu pedang itu dipangkuannya, sedang ujungnya terasa menyentuh-nyentuh kulit lehernya.

Tetapi akhirnya orang yang terikat itu tidak dapat membiarkan ujung pedang itu semakin menekan lehernya sehingga sambil beringsut ia berkata, “Ujung pedang itu menyakiti leherku. Kalau kau bergerak tanpa kau sadari, ujungnya dapat menembus tenggorokan.”

“O, maaf. Tetapi aku tidak sempat memegangi tangkainya. Tanganku masih terlampau lemah karena luka di punggung. Agaknya luka di leher memang lebih berbahaya dari luka di punggung. Tetapi apa boleh buat. Kalau kau tidak melukai punggungku, maka aku akan dapat meng¬genggam tangkai pedangku itu. Tetapi sekarang aku mera¬sa sangat malas. Kalau terpaksa ujungnya perlahan-lahan masuk ke lehermu, itu namanya suatu kecelakaan. Maaf.”

“Anak setan!” orang itu mengumpat. Tetapi mulut¬nya segera terkatup ketika pemimpin pengawas itu justru menekankan ujung pedangnya sambil bertanya, “Apa? Apa katamu?”

Tawanannya hanya diam saja.

“Ayo, ulangi.”

Dukun yang terikat itu menggeleng sambil menyeringai.

“Kalau sekali lagi kau mengumpat, aku gores lehermu dengan ujung pedang ini.”

Sekali lagi dukun itu menggelengkan kepalanya.

Dalam pada itu perkelahian di arena menjadi semakin sengit. Namun ternyata, ujung cambuk Agung Sedayu semakin banyak membuat jalur-jalur mereka di kulit lawannya, sehingga pada suatu saat, darah telah menitik dari luka-lukanya.

Orang berkumis itu menggeram. Ia tidak akan dapat membiarkan dirinya menjadi tawanan. Ia tidak mau di tangkap oleh siapa pun juga. Kini ia harus menghadapi suatu kenyataan, bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan anak muda itu. Apalagi apabila adiknya yang gemuk, yang sudah mendapat kesempatan beristirahat, bersama-sama dengan para pengawas yang lain akan bertindak.

Tetapi ia tidak mendapatkan cara untuk melepaskan diri. Ketika ia mencoba memandang orang-orang yang berdiri di paling depan dari lingkaran perkelahian itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Ia melihat anak muda yang gemuk itu masih menggenggam cambuknya, kemudian ke¬tiga pengawas yang berpencar. Agaknya mereka telah berhasil memampatkan darah dari luka-luka mereka. Dan orang berkumis itu sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa gembala tua itulah yang telah membagikan obat untuk mereka.

Orang berkumis itu kini benar-benar merasa terkepung. Meskipun ia tidak dapat dikalahkan oleh ketiga pengawas itu, namun di pinggir arena itu berdiri ketiganya dan anak yang gemuk itu, ditambah lawannya yang masih segar di arena dengan cambuk di tangan.

Tetapi ia tidak boleh menyerah. Apa pun yang akan terjadi atasnya, bahkan mati pun akan lebih baik daripada ia dapat ditangkap dan diperas segala macam keterangan yang diketahuinya.

“Persetan dukun itu!” ia menggeram di dalam hati¬nya. “Ia tidak akan membuka mulutnya kalau ia benar-benar seorang jantan. Ia harus mati pula seandainya aku mati di arena ini.”

Namun orang berkumis itu masih mempunyai harapan betapapun tipisnya. Seperti dugaan Kiai Gringsing, pedang itu memang bukan satu-satunya senjatanya.

Kiai Gringsing yang ada di pinggir arena itu pun men¬jadi semakin waspada. Semakin terdesak lawan Agung Sedayu, Kiai Gringsing pun semakin tajam mengamati gerak orang berkumis itu. Dalam keadaan yang terjepit dan putus asa ia akan dapat melakukan sesuatu yang sangat berba¬haya bagi Agung Sedayu.

Demikiankah, maka kemudian ternyata dugaan Kiai Gringsing itu tidak salah. Setelah orang berkumis itu benar-benar merasa tidak dapat bertahan lagi, maka sampailah ia kepada puncak kemampuan yang ada padanya. Oleh keputus-asaan yang tidak terhindarkan lagi, maka ia bertekad untuk berbuat apa saja yang dapat dilakukan.

“Aku tidak mau mati sendiri. Biarlah kita mati bersama,” katanya di dalam hati. “Apabila di dalam puncak perkelahian ini beberapa orang di luar arena menjadi kor¬ban, itu sama sekali bukan salahku.”

Sesaat kemudian terasa oleh Agung Sedayu, orang ber¬kumis itu mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Dengan sisa tenaganya, ia menyerang Agung Se¬dayu dengan garangnya. Namun seperti serangan-serangannya yang lampau, maka ia sama sekali tidak berhasil mengenai lawan-nya, meskipun di dalam keadaan terakhir Agung Sedayu pun telah menjadi basah oleh keringatnya. Bahkan nafasnya pun menjadi semakin cepat mengalir. Ia telah memeras tenaga¬nya untuk selalu menghindari serangan-serangan lawannya yang berbahaya dan menahan serangan-serangan itu dengan lecutan-lecutan cambuk yang memekakkan telinga. Namun dengan demi¬kian, ia sudah mengerahkan sebagian besar tenaganya.

Dalam keadaan yang demikian itulah, ia harus semakin berhati-hati, karena seperti peringatan yang diberikan oleh gurunya, bahwa pedang itu bukan satu-satunya senjata lawannya.

Kiai Gringsing pun tanpa sesadarnya melangkah maju. Ia melihat pandangan yang aneh memancar di mata orang berkumis itu.

Sejenak kemudian, sekali lagi orang itu menyerang Agung Sedayu dengan sisa tenaganya. Namun ketika cam¬buk Agung Sedayu meledak dan mengenai pundaknya ia terloncat mundur.

Tetapi pada saat ia berputar menjauhi lawannya, Kiai Gringsing melihat bagaimana ia menarik sebuah bumbung kecil dari kantong ikat pinggangnya. Kemudian dicabutnya tutup bumbung kecil itu. Ketika ia menghadap Agung Se¬dayu, maka dengan tangan kiri ia sudah siap menyerang Agung Sedayu dengan bumbung itu.

Agung Sedayu melihat juga bumbung kecil itu. Tetapi ia tidak segera mengerti, bagaimanakah cara lawannya menyerang dengan senjatanya yang aneh. Semula ia me¬ngira bahwa bumbung itu akan dilemparkannya dengan kekuatan yang melampaui kekuatan manusia sewajarnya, didukung oleh tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya. Karena itu, ia pun segera bersiap untuk menghindarinya. Karena ia tidak dapat menduga betapa besar tenaga itu, maka yang paling baik adalah menghindari benturan de¬ngan cara apa pun, karena ia sendiri masih belum berhasil sepenuhnya mengungkat tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya untuk dibangunkan setiap saat, dan dalam waktu yang hanya sekejap.

Sejenak kemudian ia melihat mata orang berkumis itu menjadi liar. Diedarkannya tatapan matanya ke sekelilingnya. Namun kemudian ia menggeram, “Kalian semua akan mati. Kalian semua yang berdiri di hadapanku. Kemudian akan datang giliran orang-orang lain yang ada di seputar arena ini.”

Kata-kata dalam nada yang dalam itu telah mendirikan segenap bulu-bulu di tubuh orang-orang yang mendengarnya. Apalagi apabila terlihat oleh mereka, mata orang berkumis yang menjadi merah dan liar itu.

Sejenak ia masih mengacu-acukan bumbung itu. Katanya, “Jangan menyesal. Serbuk beracun ini akan membunuh kalian. Aku akan menaburkannya. Setiap butir, akan mem¬bunuh seorang dari antara kalian.”

Ancaman itu benar-benar sangat mengerikan. Bahkan Agung Sedayu pun tertegun sejenak. Tetapi akhirnya ia sadar, bahwa orang itu tidak hanya sekedar menakut-nakuti, karena orang-orang di dalam lingkungan mereka adalah orang-orang yang selalu bermain-main dengan racun. Karena itu ia pun segera mengerti, bahwa bumbung itu memang berisi serbuk racun yang keras sekali.

Sebentar lagi orang itu pasti akan mengibaskan bumbung itu, sehingga isinya akan menghambur keluar, ber¬pencar mengenai orang-orang yang ada di bagian depannya. Agaknya ia masih belum akan puas. Ia akan berputar dengan bumbung yang lain dan mengibaskannya pula, se¬hingga orang-orang yang terkena kemudian akan mati.

“Gila,” desis Agung Sedayu, “jangan bermain-main dengan racun.”

Orang itu menatap Agung Sedayu sejenak, namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak, “Nah, ternyata kau pun menjadi ketakutan mendengar ancaman ini. Tetapi apa boleh buat. Kau memang harus mati. Kalau ada orang lain yang akan mati pula, itu adalah nasib mereka. Nasib me¬reka lah yang memang kurang baik pada hari ini.”

Agung Sedayu memandang bumbung itu dengan wajah yang tegang. Jarak yang memisahkan mereka cukup pan¬jang, karena orang berkumis itu meloncat beberapa lang¬kah surut.

“Kalau kau mendekat, maka itu akan berarti mempercepat kematianmu bersama dengan orang-orang di sekitarmu,” berkata orang itu lantang.

“Itu tidak adil,” sahut Agung Sedayu, “hanya aku¬lah yang bertempur melawan kau. Kau tidak seharusnya membunuh orang lain kecuali aku.”

“Aku sudah bertempur melawan tiga cucurut itu. Mereka pun harus mati. Kemudian anak muda yang gemuk itu, kau, ayahmu, pemimpin pengawas yang dungu itu dan orang-orang yang berdiri di sekitar arena ini, yang melihat kecu¬rangan dan pengkhianatan kalian tetapi tidak mau berbuat apa-apa. Itu pun merupakan suatu kesalahan yang tidak dapat dimaafkan.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Dipandanginya saja bumbung di tangan kiri orang berkumis itu, sedang di tangan kanan masih tetap tergenggam pedangnya.

“Isi bumbung itulah agaknya yang berbahaya,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Tetapi ia masih belum dapat menebak dengan pasti, apakah isi itu. Namun yang pasti, senjata itu mengandung racun. Serbuk racun apa pun wujudnya. Serbuk besi, baja, batu atau tulang?

Karena itu, maka ia harus berhati-hati. Ia sudah mene¬rima obat pemunah racun dari gurunya. Tetapi kalau ser¬buk racun itu mengenai seluruh atau sebagian besar tubuh¬nya, apakah ia sempat melumurkan obat itu? Dan apakah obat yang ditelannya sudah cukup kuat untuk menahan racun yang keras dan tajam, yang tersimpan di dalam ser¬buk itu? Bahkan seandainya mungkin, untuk beberapa saat ia akan kehilangan kesempatan untuk melawan. Demikian juga orang-orang lain.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ujung cambuknya tidak dapat mencapai jarak antara dirinya dan orang ber¬kumis itu.

Dalam ketegangan itu ia mendengar orang berkumis itu tertawa, “Jangan menjadi pucat. Apakah kau ketakutan?”

Agung Sedaya menggeram. Ketika ia memandang gurunya dan Swandaru, mereka pun berdiri pada jarak yang tidak tercapai oleh juntai cambuk mereka.

“Ha, kau akan minta tolong kepada adikmu yang gemuk itu?” desis orang berkumis itu, “Jangan coba-coba. Setiap gerak dari siapa pun juga akan berakibat gawat. Aku masih memberi kau kesempatan mengucapkan pesan ter¬akhir sebelum aku mengibaskan bumbung ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dilihat¬nya bumbung di tangan kiri orang berkumis itu.

“Cepat!” bentaknya, “Kalau kau tidak mau ber¬bicara, aku akan segera membunuhmu.”

Perlahan-lahan orang berkumis itu mengangkat bumbung¬nya tinggi-tinggi.

Dada Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia menjadi gelisah. Sekali-sekali ditatapnya wajah gurunya, kemudian wajah adiknya yang gemuk. Diremas¬nya tangkai dan ujung cambuknya dan bahkan kemudian diacukannya cambuknya itu sambil berkata, “Tunggu. Tunggu sebentar.”

“Apa yang harus aku tunggu?” bertanya orang berkumis itu.

“Jangan kau taburkan serbukmu itu dengan cara yang sama sekali tidak berperikemanusiaan,” berkata Agung Sedayu. “Kau akan membunuh banyak orang di belakangku.”

“Sudah aku katakan. Nasib merekalah yang jelek.”

“Kalau kau tidak menghendaki aku pergi, biarlah mereka yang pergi.”

“Jangan banyak bicara. Aku sudah cukup memberi kesempatan kepadamu. Sekarang katakan pesanmu.”

“Tunggu, tunggu,” Agung Sedayu tiba-tiba saja menjadi tergagap. Sambil mengacu-acukan cambuknya ia berkata, “aku masih akan berbicara. Tidak tentang diriku sendiri. Tetapi tentang orang-orang ini.”

“Bicaralah tentang dirimu sendiri.”

“Tunggu,” tangan Agung Sedayu menjadi gemetar, dan tiba-tiba saja cambuknya terjatuh. Dengan serta-merta ia memungut cambuknya sambil berkata tergagap, “aku minta waktu sebentar.”

Orang berkumis itu tiba-tiba tertawa menyentak. Ia senang sekali melihat Agung Sedayu yang kebingungan, namun kemudian ia berkata, “Sudah cukup. Aku sudah muak melihat kau, meskipun sebenarnya aku senang sekali melihat kau ketakutan.”

“Belum, belum cukup. Kau harus memberi kesempatan orang-orang lain ini pergi. Taburan serbukmu akan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Apakah kau tidak dapat mengambil cara lain, misalnya dengan mengumpulkan kami, orang-orang yang akan kau bunuh dan mengusir orang-orang yang tidak berkepentingan?”

Orang berkumis itu berpikir sejenak. Ketika seseorang di pinggir arena bergerak, ia membentak, “Diam di tempatmu! Atau kau dahulu yang mati.”

“Tetapi, tetapi ……..,” minta orang itu, “kami tidak ikut apa-apa di dalam persoalan ini. Kami hanya sekedar melihat.”

“Ya, kami tidak bersalah,” teriak yang lain.

“Biarkan kami pergi. Kami tidak akan mencampuri persoalan kalian.”

“Ya, kami tidak. Kami tidak.”

Dan tiba-tiba orang berkumis itu membentak, “Diam. Diam! Kalian sama sekali tidak membantuku selagi aku dalam kesulitan. Sekarang kalian mengemis belas kasianku. Gila! Itu adalah pikiran gila. Matilah kalian bersama anak muda yang sombong ini, yang merasa dirinya tidak terkalahkan. Sambil menunggu saat matimu, berdoalah agar kau tidak terjerumus ke dalam neraka.”

“Ampunkan kami, ampunkan kami,” minta orang-orang yang berada di pinggir arena. Tanpa mereka sadari mereka pun mulai berdesak-desakan mencari perlindungan yang satu pada yang lain, sehingga mereka pun justru dorong-mendorong di antara mereka.

“Menyenangkan sekali. Pemandangan yang paling menarik yang pernah aku lihat. Seorang anak muda perkasa yang ketakutan menghadapi maut, dan sekelompok tikus-tikus yang ketakutan pula, saling berdesakan.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:40  Comments (42)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-55/trackback/

RSS feed for comments on this post.

42 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Huaaah,… hutan ini kembali sepi semenjak para cantrik sibuk mengunduh kitab lima empat. Kalau saja dalam bilik-bilik perkemahan itu ada yang jual voucher kitab lima-lima, tentu para cantrik ADBM akan segera antri untuk mendapatkannya..”

  2. Assalamu’alaikum wr wb.
    Telah nyata, bahwa Padepokan ADBM yang dibangun oleh Ki Dede Menoreh telah berkembang cukup pesat. Para pengikutnya setiap saat terus bertambah, dari jumlah ribuan ketika masih menggunakan nama padepokan yang lama di bawah asuhan Ki Rizal, maka kini anggotanya sudah mencapai ratusan ribu orang (maaf hitungan ngawur semua).

    Hanya sayang sekali bahwa baik Ki Dede maupun Ki Rizal tidak memiliki data apapun tentang anggota padepokannya, karena disamping memang tidak ada ketentuan tentang pedaftaran, apalagi uang pendaftaran. Sedangkan nama saja tidak diharuskan untuk memakai nama yang sebenarnya. Maka jangan heran jika diantara anggota padepokan ada yang menggunakan nama sedikit “saru” seperti Kontos Wedul, ataupun nama2 samaran lainnya seperti Mirah, Glagah Putih, Ki Amat, Pandan Alas, ……… wah pokoke werno2.

    Sebetulnya menarik juga untuk membuat statistik, sebetulnya siapa saja sih yang sangat mencintai celotehan ADBM ini, sehingga penggemarnya begitu fanatik. Hal ini ditunjukkan setiap hari tatkala menunggu hadirnya jilid berikutnya. Ada yang matanya berkunang-kunang, ada yang terkencing-kencing, ada yang sakit kepala, ada yang kepengin gantung diri dls.

    Kalau dapat diketahui rata2 usia para penggemar ADBM ini sungguh dapat ditarik kesimpulan yang menarik. Misalnya kalau ternyata rata2 usianya di atas 50 tahun, berarti mereka sudah pernah membacanya dahulu ketika mereka masih remaja. Jadi daya tarik ADBM ini karena faktor kenangan masa lalu semata. Tetapi kalo ternyata penggemarnya ada di tataran usia muda, misalnya antara 20 hingga 50 tahu ke atas, maka dapat diharap bahwa mereka sungguh2 menikmati sajian SH Mintareja yang mengungkapkan kehidupan manusia Indonesia di masa lalu.

    Kehadiran mereka di padepokan ini dalam rangka melarikan diri dari kehidupan dunia nyata saat ini dipenuhi oleh intrik politik dan kekuasaan. Namun di padepokan ini selain intrik politik, juga didapatkan pendidikan moral untuk senantiasa berbuat baik. Contoh kongkret ditunjukkan dengan matinya Ki Tambak Wedi dan Sidanti sebagai simbol kebathilan, dan dimenangkannya Ki Gede Menoreh yang dibantu Kiai Gringsing dkk, sebagai simbol kebaikan.

    Kemudian yang ingin saya ketahui juga (bukan berarti saya senang pada kesukuan) adalah dari suku apa saja para penggemar ini berasal. Apakah dari suku Jawa saja dimana pengarang dan jalan ceritera ADBM ini berada, ataukah dari suku2 lain di luar Jawa juga menyenanginya?. Hal ini saya anggap penting untuk mengetahui sejauh mana pola kehidupan di jawa itu apakah juga diimpikan oleh orang2 yang berasal dari suku di luar jawa. Kemudian orang2 di luar jawa yang mana yang menyukai pola kehidupan di Jawa itu.

    Padepokan ADBM ini juga sepertinya dapat dijadikan sarana latihan perang para penggemarnya. Dari hari ke hari semakin banyak saja para komentator yang sambil menyunggu terbitnya jilid berikutnya, mereka menuangkan latihan bakat keterampilan menulisnya. Kalau disimak secara seksama tulisan2 meraka, ternyata mutu tulisan mereka tidak terlalu jauh dari mutu tulisan SH Mintardja.

    Selain berlatih menulis, para penggemar juga dilatih oleh Ki Dede langsung untuk melakukan jurus2 Konvert, Editing dan Penulisan Ulang. Ini juga perlu bagi mereka, sehingga apabila nantinya mereka terjun kedunia tulis menulis, sudah punya bekal latihan keterampilan yang cukup di padepokan ini.

    Disamping latihan perang2an kecil semacam yang disampaikan mereka dalam komentar2 singkat disetiap terbitan jilid baru, tentunya mereka juga harus berlatih dalam perang besar. Dalam perang besar ini mereka harus berlatih jurus memelihara jalur atau alur ceritera, jurus latar belakang sejarah yang melatari ceritera, jurus2 kejutan untuk memancing daya tarik ceritera, jurus2 menyembunyikan bom waktu sehingga sebelum bom meledak semua perhatian pembaca tercurah pada keberadaan bom tersebut beserta waktu ledakannya, dls.

    Contoh bom waktu yang di jilid 50 ini dinyalakan oleh Ki SH Mintaredja adalah masalah tumbuhnya keinginan Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya untuk membangun Alas Mentaok menjadi sebuah padukuhan. Detik demi detik, waktu demi waktu semakin tersingkap jalan kearah pembentukan negara Mataram. Hal ini semakin menarik perhatian pembaca tentang kapan Bom meledak, yaitu tatkala Ke GP dan Stwj berperang dengan Pajang? Atau tidak terjadi perang? Dls.

    Melihat kondisi ini, saya sebagai salah satu penggemar dari padepokan ini menyampaikan saluuuuut kepada Ki Dede yang telah menghadirkan padepokan di dunia maya ini, dan kita bersama-sama merasakan banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari kancah2 pertempuran di sekitar bukit menoreh. Mudah2an, setamat buku ADBM ini sampai jilid yang ke 375(?), dapat diteruskan dengan Buku2 bermutu lainnya hasil karya Cantrik2 Padepokan ADBM ini sendiri.

    Wabillahitaufiq wal hidayah,
    Wassalamu’alaikum wr wb.

  3. @ Truno Podang
    Sekali-sekali coba klik angka yang tertera pada Ngangsu Kawruh. Disitu akan terlihat peta sebaran cantrik ADBM.
    Sumonggo.

    NB: Hingga saat ini kami belum ada niat untuk tampil ke dunia riil. Oleh karena itu statistik mengenai umur, golongan, suku, dll-nya itu juga menjadi tdk ada manfaatnya. Cukuplah kiranya jumlah pengunjung dan letak geografisnya saja (GD).

  4. Gaya bahasa yang ditampilkan oleh Sang Maestro SHM memang lain dari penulis2 lainnya.. Apa yang disuguhkan lewat kalimat2 maupun kata2 yang diutarakan, bisa membawa sang pembaca berada pada suasana yang sesungguhnya, meskipun cerita ini merupakan pengembangan dari kejadian2 dimasa lalu. Kalimat demi kalimat yang dituliskan begitu mendetail, sehingga tidak ada bagian yang terlewatkan.

    Meskipun Sang Maestro dalam menyusun suatu kalimat atau kata2 yang kelihatannya “njlimet/muter2”, namun justru itu yang menimbulkan kesan dan pemahaman yang mendalam. Untuk itu, para komentator2 yang selalu berceloteh lewat tulisan2nya ketika menunggu kemunculan buku selanjutnya, diharapakan kedepannya bisa menyambung cerita yang belum berakhir.

    Karya Sang Maestro ini, bukan hanya sekedar cerita yang cuma hanya bisa dibaca, tetapi juga meninggalkan pesan moral dan pendidikan.

  5. sepiiiii,…….

    kitab pusaka 55 msh blm dapat,… padahal pelajaran dlm kitab pusaka 54 sdh diselesaikan, dimengerti n siap di amalkan dlm tata kehidupan.

    bingung,….

    bagaimana lalui waktu, sedangkan esok sdh ada tantangan hidup yg baru. dapatkah hidup terus berjalan hanya dgn kemampuan menamatkan kitab pusaka 54??

    semoga,……

    yah semoga ki/nyi gde DD segera mendengarkan keluhan ini n merelakan kitab pusaka 55 nya untuk diwariskan lebih cepat.

  6. kiayi DD dengan menahan nafas…dan lembut tangannya satu-satu membuka lembaran demi lembaran dan mescan satu-demi satu demi terwujudnya kitab 55 itu.
    sementara diluaran orang-orang sudah tidak sabar menunggu keluarnya ki DD untuk mebagikan kitab tersebut, yang sudah tidak sabar sekali berteiak-teriak -he..ki DD cepatlah kerjanya jangan seperti kura-kura- sementara orang yang berdiri disebelahnya berkata -sabarlah kakang dengan beriak teriak tidak ada gunanya, lebih baik menunggu atau membantu kerjaanya biar cepat selesai – sementara ada orang yg dibelakan nya sambil menghitung-hitung seperti berguman – kalau kitab itu ada delapan puluh halaman satu halaman satu menit , berarti delapan puluh menit , terus diedit supaya menjadi wajar untuk dibagikan memerlukan waktu dua atau tiga jam-an kasaran bisa empat sampai lima jam..jika dikerjakan setelah semburat warna merah matahari bisa jadi selesai jam sepuluhan atau jam sebelas , belum makan pagi yang ransumnya terlambat ,atau godan-godan lainnya yang menghambat pekerjaannya sehingga paling lambat tengah hari baru selesai…untuk dikeluarkan kitab tersebut….- orang yang erteriak-teriak tadi menjadi termenung mendengar orang yang dibelakangnya berguman menghitung-hitung waktu yang dikerjakan ki DD- dan mencela – ah kau tidak tau ki DD itu kan orang yang punya kemampuan lebih dari orang-orang kebanyakan sehingga tidak perlu waktu yang demikian lambat..- orang yang berguman menimpali – itu kan hitungan umum yang aku hitung berdasarkan hitungan pekerjaan umum yang biasa dikerjakan seseorang, ya terserah mau masuk perhitungan atau tidak , lebih baik aku kembali setelah tengah hari agar tidak mendengarkan kekecewaan dan keluhan yang tidak berarti ini..-

    Mohon maaf kepada ki DD dan para prajurit serta senapati yang telah melangsungkan kehidupan padepokan ini , dan terimakasih pangeran sing balas.

  7. kapan-kapan kt koesplus………………………………….. album 55 br proses mixing di mentaok record

  8. Ki Kasdoelah menemui Ki Warsono di banjar desa. Desas-desus mengenai hantu di Alas Mentaok rupanya sudah sampai ke telinga para tokoh di padepokan ADBM. Sambil menimang-nimang kitab 55 ditangannya Ki Kasdoelah bersama Ki Warsono menghampiri Ki Dede Menoreh.

    “Hantu-hantu itu rupanya yang saat ini menggelisahkan para cantrik ADBM. Apakah perlu segera kita beberkan saja siapa dalang dibalik semua ini?” berkata Ki Dede.

    “Benar… Siapa tahu rahasia nya memang berada di kitab 55 ini” jawab Ki Kasdoelah sambil menunjukan kitab ditangannya.

    “Apakah perlu segera saya lakukan scanner Kiai?” bertanya Ki Warsono.

    “Agak nya memang harus demikian Ki Warsono” jawab Ki Kasdoelah.

    Ki Dede menganguk-angguk seraya berkata “Mumpung masih pagi. Para santripun saat ini sedang berkumpul bersama keluarganya. Dan juga belum banyak keluhan yang muncul kalau kita terlambat memberikan ransum ini”

    Kemudian ketiganya berjalan menuju markas padepokan ADBM untuk melakukan persiapan penerbitan kitab 55 yang sebentar lagi akan dicari-cari oleh para cantriknya.

    ——- K D ——-

  9. Saabar nggerr….sabar….Covernya sudah muncul….

  10. Sepagi itu Sekar Mirah telah nembang rengeng-rengeng di dapur. Gumamnya, “…ada lemper ada talas, …ada cover, ya, ada balas..”

    Sukra, yang tengah menemaninya, melirik dengan aneh. “Apa sih, maksudnya?” gerutunya dalam hati.

    Eee alaah, nyo’on pangaporah

  11. Wah, gawat…
    saya kangen buka ADBM beberapa kali sehari hanya untuk baca tulisan bocah bocah cantrik yang waringuten itu….lama lama pada bikin buku sendiri…nanti Agung Sedayu bukan minum air sere tapi air cola, makannya bukan jenang alot tapi pizza alot…naiknya bukan kuda tapi hunda…pertemuannya bukan di banjar .. tapi di mall …musuhnya? Ki Tambak Korupsi

  12. “Angger Pandan Wangi, engkau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan ayahmu. Aku kira Ki Gede akan mampu mengatasinya apabila ada hambatan di perjalanan.” kata Samekta.

    “Tapi paman, aku memang mengkhawatirkan ayahku, apabila para cantrik yang sulit mengendalikan diri itu masih terus saja menunggu.” jawab Pandan Wangi.

    “Justru itulah, memang sebaiknya ayahmu segera mengirimkan kitab itu ke padepokan yang wingit itu” desis Samekta.

    “Tapi aku berpendapat lain. Sebaiknyalah mereka dibiarkan menunggu, aku yakin mereka akan membubarkan diri. Apabila padepokan itu telah sepi, barulah ayah pergi ke sana.” sahut Pandan Wangi.

    “Itu adalah tindakan yang sia-sia ngger, aku yakin para cantrik itu akan selalu menunggu, karena mereka yakin kitab itu akan segera datang, apalagi covernya sudah terlanjur dikirimkan.” lanjut Samekta.

    “Kalau begitu, terserahlah pada ayah.” kata Pandan Wangi.

    Dalam hati Samekta mendesah, “Mudah-mudahan Ki Gede segera megirimkan, sebelum para cantrik itu menjadi semakin tidak dapat mengendalikan diri.”

  13. suwe ora jamu
    jamu ora suwe
    suwe ora jamu
    jamu pisan ora bisa suwee

  14. Kepergian Sekar Mirah membuat Prastawa tidak nyenyak makan dan tidak menikmati sedapnya tidur.

    “Mirah …… Mirah ……… kalau kamu mau menerima cintaku .. jangankan jilid 55 …. seluruh kitab kuno peninggalan Kiai Mintardja akan ku serahkan padamu hari ini.”

    ” Sayang …. engkau tidak bisa mendengar jeritanku … maka terpaksa aku mengecewakan seluruh kademangan Sangkal Putung dan hantu-hantu Alas Metaok….”

  15. adakah kisanak semua sudah punya yang versi convert dlm format word?sudilah kiranya mengirimkan ke emailku, pasalnya aku sekarang menikmati ADBM melalui handphone.

  16. Sekar Mirah tercenung mendengarkan igauan Prastawa yang tidak karuan macam itu. Dipandanginya anak muda yang tidur itu dalam temaramnya nyala api dlupak di sudut dinding.

    “Oh, oh.. Prastawa. Jangan engkau salah duga, dan jangan pula salah kira. Bukan karena sudah ada Kakang Agung Sedayu di hatiku, maka aku terpaksa menolak cintamu,” desah gadis itu dalam hatinya.

    Lalu, “ketahuilah, Prastawa, ..Jilid-55 itu sudah ku-donlod sendiri, atas budi baik sanak kadhang semua di Padepokan ADBM .. Jadi, aku tak perlu lagi janji-janji palsumu.”

  17. Sederek Moderator,

    Halaman 10 dan 11 kok gak ada,
    Apa dibawa sama Sekar Mirah ke Sangkal Putung ?

    Matur Nuwun.

    GD: Sudah diperbaiki

  18. Istilah:

    Bumbung: tabung yang terbuat dari batang bambu
    Dingklik : bangku kecil
    Regol : gerbang
    wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)
    Mas Ngabehi Loring Pasar : Mas Ngabehi yang tinggal di sebelah Utara Pasar. (berasal dari kata Lor = Utara)

    Wanakerti: Wana = hutan; kerti=tata tertib/kedamaian/kemakmuran

    bacaan :
    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa
    http://blog.baliwww.com/tag/jana-kerti/

  19. adakah kisanak yang sudah menggenggam buku 55 ini di komputernya?kalo bisa saya minta dikirimi ke email saya, soalnya saya dah coba donlot gak bisa-bisa. Makasih sakdurunge yo

  20. sejak buku 55 ini gak tahu kenapa aku kok gak bisa donlot (selalu gagal di tengah2), sudah tak coba pake bermacam browser dan bermacam komputer tetap aja gak bisa, jadi adakah kisanak yang berkenan untuk mengirimkan buku 55 ke alamat email sya?

  21. Para sedulur sedoyo, buat mbaca file2 download-an diatas pake apa ya…dari 51-55 kulo mboten saged niki ngangge pdf, niku jenis file nopo nggeh? Mohon pencerahannya?

  22. Untuk Pak Muklijum, kalo boleh tahu downloadnya di kantor apa di rumah? kalo di kantor mungkin dibatasi besaran downloadnya karena beban network. Coba di download pada saat pagiiii sekali atau malaaaam sekali, saat para ADBMer masih atau sudah pada tidur, mungkin downloadnya lancar.

    Untuk Pak AlGhors, file .pdf nya harap diubah dulu menjadi .djvu

    Untuk membuka file silahkan unduh program di sini:
    https://adbmcadangan.wordpress.com/download/
    ambil salah satu:
    MacDjView

    WinDjView
    SDJVU
    HandyDjvu
    Java DJVU
    PocketDJVU (v0.9.2)
    STDUViewer

  23. makasih mas jebeng, setelah perjuangan yang panjng dan melelahkan, akhirnya buku 55 sudah ada di tangan. nunggu buku 56 nich, biar gak nanggung

  24. He Kisanak, menurut saya pada akhirnya memang lebih menarik celotehnya para Cantrik ketimbang baca bukunya satu-satu, malah nambah warunguten..

  25. Ok matur nuwun sanget atas info dan pencerahannya mas jebeng…
    Tetep semangat buat padepokan Ki Gede Menoreh.

  26. Mohon ampun ki Muklijum:”mohon muridmu ini diberikan tenaga cadangan untuk mengungkap jurus 50,51,56 guna membantu anak bengal mas ngabei loring pasar meramaikan alas mentaok, terimakasih guru,”

  27. Para kisanak yg telah membantu saya sekalian, matur nuwun sanget. Setelah berhasil ngunduh program viewer nya DJVU, saya sekarang bisa membuka kitab2 yg diwariskan oleh Ki Argapati (Kiai Kasdoelah & Kiai Prasidi)melalui jasa2 Ki/Nyi DD (GD) dan ki Sukra berikut para senopati Kiai Warsono, Kiai Pedo, Kiai Prastawa, Kiai Ma’ruf, Anakmas Edy, Anakmas Jebeng dll.

    Bukit menoreh semakin cerah menyongsong hari esok…….

    Terima kasih

  28. Sejak pertemuanku dengan Panembahan Jati Srana malam-malam kemarin, hatiku sudah risau. Mengapa beliau mau menerima usulan andahannya itu? Dua orang yang sudah tidak asing bagiku. Seorang yang tinggi kekar dan seorang yang kecil kekurus-kurusan! Akan tetapi, aku yang hanya seorang andahan lain yang tidak istimewa di mata Panembahan Jati Srana tentu tak akan memiliki kesempatan untuk tahu rencana ke depan. Sambil mengatur uba rampe milik majikanku itu, aku hanya bisa menunggu. Menunggu cerita lanjutannya di jilid 55 ini!

  29. Apa buku jilid 55 belum dapat dibuka, kok saya selalu gagal membukanya, padahal buku 56 sudah berisi. Jadinya nggak bisa baca buku 56 karena ada “missing link”

  30. Ohm Achmad, Sepertinya Buku 55 masih berupa djvu file. Jadi link untuk versi teks belom dimunculkan oleh Ki Gede..

  31. Hmm.. Dah pd gak sabar ya nunggu buku 55.. Sama.. he50x.. Pripun nggih? Kok tasih kosonh page nya.. Udah mulai gatel seluruh badan e..

  32. asyikjuga menilas tapaki sampai di gandhok 55.
    Kumaha damang Ki Menggung KY,Ki AS, kI Menggung YP ?

    • ada perasaan “dredEK-dredEK” siTIK njih ki, disaat
      broBOS pintu gandok yang selama ini raPET ditutupi….he10x

      amat saYANG Nyi Seno-ne belom berkeNAN “menYAPA”
      pasukan ki Gembleh cs.

      • ke mana ke mana ke mana

        • lha wong wis pamitan ket mang kok jik digoleki to …

          • wonten sing kantun lho ,

            • inggih ki mangku, niki wau mbak ayu ketinggalan duko wonten pundi 😳

              • Atos-atos teng Mentaok dalu-dalu kathah jerangkong klayaban lho .

                • mboten dados menopo ki, rombongan jrangkong mpun sami budal rame-rame madosi alamat palsu

  33. Wah jerangkong jaman saiki senengane malah ngalamat ASPAL ..

    • para tumenggung eh jerangkong jaman saiki memang begitu ki

      • Oh pun kamanungsan yake ??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: