Buku 55

AGUNG Sedayu yang sedang memperhatikan kedatangan pengawas yang berkumis itu terkejut, ketika Swandaru berteriak, “Awas, Kakang!”

Agung Sedayu sadar, bahwa orang yang jatuh itu masih mungkin berbuat sesuatu. Karena itu ia pun segera berpaling ke arahnya. Tepat pada saatnya, Agung Sedayu melihat orang itu berusaha bangkit dan melemparkan lagi sebuah pisau kecil ke arahnya.

Untunglah, bahwa Agung Sedayu tidak terlambat. Ia masih sempat mengelak, sekaligus memungut sebuah batu dan melontarkannya ke arah orang yang kini sudah duduk itu.

Ternyata lemparan Agung Sedayu kali ini, dari jarak yarg lebih dekat, disertai kemarahan yang melonjak di dadanya, telah menumbuhkan akibat yang parah. Lemparannya kali ini mengenai dada orang itu. Sejenak serasa nafasnya terhenti mengalir. Kemudian, semuanya menjadi gelap. Dan orang itu pun menjadi pingsan.

Tetapi kini Agung Sedayu masih harus menghadapi pengawas yang berkumis itu. Dengan wajah yang merah padam ia mendekati Agung Sedayu sambil berkata, “Kau memang anak gila. Apakah kau sadari, apa yang telah kau lakukan?”

Agung Sedayu berdiri tegak di atas kedua kakinya yang merenggang. Semuanya sudah terlanjur menjadi kisruh. Karena itu, maka ia harus menghadapi lawannya itu. Kalau tidak, maka agaknya ia sendirilah yang akan menjadi korban.

Sementara itu, selagi semua perhatian tertuju kepada Agung Sedayu dan pengawas yang berkumis itu, Kiai Gringsing mendapat kesempatan untuk merawat pemimpin pengawas yang terluka punggungnya. Dengan hati-hati Kiai Gringsing mencabut pisau itu. Sejenak ia tertegun. Pisau itu pun agaknya beracun pula.

Untunglah bahwa di dalam keadaan yang gawat, di antara orang-orang yang selalu bermain-main dengan racun, ia sudah menyiapkan beberapa jenis obat-obatan. Tanpa menarik perhatian orang lain. Kiai Gringsing segera menaburkan serbuk obat ke atas luka itu. Kemudian dimasukkan¬nya sebutir obat yang lain ke dalam mulutnya. Desisnya, “Telanlah. Kau akan sembuh.”

Di antara sadar dan tidak, pemimpin pengawas itu berusaha menelan obat yang diberikan oleh Kiai Gringsing, sementara lukanya terasa menjadi sangat panas.

“Jangan terkejut. Lukamu memang terasa sakit, tapi kau akan sembuh. Percayalah dan berdoalah agar Tuhan menolongmu.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun terpaksa menyeringai menahan sakit yang menggigit punggungnya.

Dalam pada itu, pengawas yang berkumis itu pun telah berdiri berhadapan dengan Agung Sedayu. Beberapa orang perlahan-lahan bergeser mendekatinya. Wanakerti pun telah berada di dekat keduanya yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

“Kau sadar apa yang telah kau lakukan?” bertanya petugas yang berkumis itu.

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah pengawas yang berkumis itu dan Wanakerti berganti-ganti. Bahkan kadang-kadang ia masih sempat berpaling ke arah orang yang kini terbaring pingsan di samping gundukan padas

Dalam pada itu, Swandaru yang sudah mendapat kesempatan beristirahat sejenak, telah berdiri pula. Tertatih-tatih ia berjalan mendekati kakak seperguruannya. Kini ia sudah berhasil menarik cambuknya yang melilit kaki orang yang kekurus-kurusan yang ternyata sedang pingsan pula.

“Aku jadi sangat bingung,” berkata Swandaru kemudian tanpa menghiraukan apa pun. “Orang-orang di sini adalah orang-orang yang sangat aneh bagiku. Aku sama sekali tidak mengerti akan tingkah laku mereka.”

“Diam!” bentak orang berkumis itu. “Atau kau akan aku bunuh sama sekali dengan saudaramu ini.”

“Jangan. Aku memang masih ingin hidup.”

Orang berkumis itu menggeram, sementara Agung Sedayu berkata, “Kenapa kita tidak mencoba berbicara dengan baik. Mungkin kita hanya sekedar salah paham. Dengan berbicara berterus terang, semua persoalan akan dapat diselesaikan.”

“Tidak ada gunanya!” teriak pengawas berkumis itu.

“Anak itu benar,” berkata Wanakerti, “kita ma¬sih mempunyai banyak kemungkinan selain kekerasan.”

“Aku melihat perkembangan keadaan dari ketiga orang ini. Kedua orang yang sudah dikalahkan oleh anak yang gemuk ini sudah berusaha untuk berbicara, jauh sebelum peristiwa ini terjadi.”

“Bukan pembicaraan,” sahut Agung Sedayu, “tetapi pengusiran. Setiap kali kita berbicara, maka yang disebut-sebutnya hanyalah, agar kami meninggalkan tanah garapan ini tanpa alasan yang masuk akal. Mereka menghendaki kami pergi. Hanya itu. Sudah tentu kami berkeberatan, karena para petugas pun tidak menginginkan demikian.”

“Ya,” berkata Wanakerti, “kami memang tidak berkeberatan. Hanya, keonaran memang harus diusut sebaik-baiknya.”

“Jangan ikut campur,” bentak prajurit berkumis itu, “apakah kau ingin mengalami nasib seperti pemim¬pin kita itu?”

“Tidak akan mungkin lagi. Lihat, pelempar pisau itu sedang pingsan.”

“Orang itu memang sedang pingsan. Tetapi ia tidak mengalami gangguan yang berarti. Ia sekedar tidak menyadari keadaan dirinya. Namun lemparanmu memang dahsyat sekali. Bukankah kau telah melemparnya dengan batu?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu.

“Itu adalah kesalahan yang besar. Kau sudah berani melawan pengawas. Pengawas daerah yang sedang dibuka ini. Kau sudah mencederai orang lain.”

“Sekali lagi bukan maksudku. Kalau kau perkenankan, biarlah aku menolong orangmu itu. Dan orang itu sa¬ma sekali bukan petugas di sini. Seterusnya kita akan berbicara dengan mulut, bukan dengan ujung senjata macam apa pun juga.”

“Jangan mencoba menghindari tanggung jawab. Sekarang serahkan kedua tanganmu. Kau memang harus diikat.”

“Jangan bertindak sendiri,” berkata Wanakerti. “Aku juga seorang petugas seperti kau. Kau bukan pimpi¬nan di sini. Kau dan aku tidak akan berbeda. Hakmu sa¬ma dengan hakku dan wewenangmu sama dengan wewenangku.”

“Tetapi ada yang lain,” petugas itu menggeram, “kemampuanmu sama sekali tidak akan dapat menyamai kemampuanku. Kau tidak lebih baik dari orang yang tinggi kekar, yang sama sekali tidak berdaya melawan anak yang gemuk itu. Dan kau tidak akan dapat melawan aku.”

“Aku tidak sendiri,” suara Wanakerti menjadi be¬rat. Meskipun ia sadar, bahwa petugas yang berkumis itu pasti mempunyai kelebihan dari para petugas yang lain. Tetapi Wanakerti pun sadar bahwa petugas yang seorang ini pasti mempunyai latar belakang tersendiri pula, sehing¬ga ia bertindak sebelum membicarakannya dengan kawan-kawannya.

Dalam pada itu, para petugas yang lain pun telah berada di sekitar Wanakerti. Wajah mereka menjadi tegang. Betapapun juga, setelah Wanakerti menyatakan perasaan¬nya, para pengawas yang lain pun ikut pula menyadari, apakah yang sebenarnya mereka hadapi.

Pengawas yang berkumis itu pun menjadi bertambah tegang. Sekali-sekali dipalingkannya wajahnya kepada orang yang pingsan di samping seonggok batu padas. Dengan de¬mikian, maka segalanya telah berubah. Orang yang ping¬san itu sama sekali tidak lagi dapat membantunya.

Meskipun demikian pengawas yang gemuk itu sama sekali tidak menyerah. Tiba-tiba saja ia mencabut pedangnya sambil berkata lantang, “Aku telah bertindak tepat me¬nurut pendapatku. Siapa pun yang akan menghalangi, ha¬rus aku singkirkan. Aku tidak peduli apakah mereka itu para petugas sendiri.”

Wanakerti maju selangkah. Katanya, “Pemimpin ki¬ta telah cedera. Kita bukan orang yang terlampau dungu untuk menilai keadaan. Setiap orang akan dapat menghubungkan, orang yang tinggi kekar, orang yang kekurus-kurusan, kau, dan orang yang pingsan itu. Aku tidak tahu, hubungan apakah yang sudah kalian jalin selama ini. Tetapi sudah tentu, maksud kalian sama sekali tidak akan kami benarkan. Kami, para petugas terpaksa harus menangkap kau dan orang-orang lain itu.”

“Persetan!” geram orang berkumis itu, “Ayo, siapa dahulu yang akan mati.”

Agung Sedayu menjadi bingung. Tetapi ketika ia maju selangkah, Wanakerti berkata, “Serahkan kepada kami. Kamilah yang akan menyelesaikannya.”

Orang berkumis itu menggeram. Dengan mata yang kemerah-merahan dilihatnya tiga orang pengawas telah me¬ngepungnya.

“Menyerahlah. Kami yang seharusnya berlima, kini tinggal bertiga, setelah pemimpin kami terluka dan kau berada di luar lingkungan kami. Tetapi kami masih tetap akan menjalankan tugas kami sebaik-baiknya.”

Pengawas yang berkumis itu memandang ketiga kawannya berganti-ganti. Wajah yang tegang menjadi semakin tegang. Namun tiba-tiba saja ia tertawa berkepanjangan.

“Aku mengenal kalian bertiga dengan baik,” ber¬kata orang berkumis itu di antara derai tertawanya. “Ka¬lian sama sekali tidak akan mampu berbuat apa-apa. Aku tahu pasti, bahwa kalian adalah pengecut-pengecut yang hanya mampu menyembunyikan diri. Coba katakan kepadaku, kenapa kalian semalam tidak berani keluar dari gardu pengawas itu meskipun kalian tahu, bahwa rumah ini terbakar? Kalian adalah petugas yang harus menjaga keten-teraman daerah dari apa pun juga. Juga seandainya di daerah ini ada hantu-hantu. Tetapi kalian tidak mampu. Kalian tidak dapat mengatasi kesulitan hubungan antara para pembuka hutan dengan hantu-hantu sehingga korban masih saja berjatuhan. Yang terakhir, suatu isyarat yang sangat berat. Api. Sedang ketiga orang ini masih saja berkeras kepala.”

“Kami akui,” jawab Wanakerti, “kami tidak dapat melakukan tugas kami dengan baik. Ternyata usahamu selama ini telah berhasil. Kau berhasil menakut-nakuti kami apabila kami akan melakukan suatu tindakan.”

“Itu adalah kebodohan kalian. Kebodohan orang yang kalian sebut pemimpin kalian itu.”

“Jangan banyak bicara,” berkata Wanakerti kemu¬dian, “menyerahlah.”

“Kau gila. Pemimpinmu sudah mati. Sebentar lagi kau dan semua orang yang tidak tunduk kepada perintahku.”

“Kau sudah memberontak kepada Ki Gede Pema¬nahan.”

“Kau. Kaulah yang sama sekali tidak mampu menjalankan tugas yang dibebankan kepada kalian. Termasuk pemimpin yang dungu itu. Nah, apa katamu?”

Wanakerti tidak menyahut. Ia maju selangkah, di¬ikuti oleh kawan-kawannya dari arah yang lain.

“Jadi kita akan bertempur?” bertanya orang ber¬kumis itu.

Wanakerti masih tetap diam. Tetapi setapak demi setapak ia maju terus.

Orang berkumis itu pun kemudian segera menyiapkan dirinya. Agaknya ia tidak akan dapat menghindar lagi. Ia harus melawan ketiga kawan-kawannya.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing sudah berhasil mengatasi saat-saat yang paling berbahaya dari pemimpin penga¬was yang terluka. Perlahan-lahan pemimpin pengawas itu me¬rasa tubuhnya bertambah baik, meskipun ia menjadi sangat lemah karena racun-racun yang bertambah tajam. Kalau saja tidak ada orang tua itu, maka ia pasti sudah mati di dalam beberapa kejapan mata saja.

Kiai Gringsing pun merasa bahwa usahanya berhasil. Karena itu, kini ia dapat memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya orang yang tinggi kekar itu sedang menunggui kawannya yang masih ping¬san.

“Apakah kawanmu itu akan kau biarkan saja?” bertanya Gringsing.

Orang yang tinggi kekar itu menjadi bingung.

“Kemarilah,” berkata Kiai Gringsing.

Orang itu masih saja ragu-ragu.

“Kemarilah. Aku tidak menggigit.”

Dengan bimbang orang yang tinggi kekar itu melangkah mendekati Kiai Gringsing. Kegarangannya selama ini sama sekali sudah lenyap. Bahkan wajahnya tampak men¬jadi pucat dan suram.

“Kau harus mencari air,” berkata Kiai Gringsing setelah orang yang tinggi kekar itu mendekat. “Teteskanlah ke dalam mulutnya. Setitik demi setitik. Jangan terlam¬pau banyak supaya kau tidak membunuhnya, karena titik air itu justru akan menyumbat kerongkongannya. Bawalah orang itu ke barak. Bukankah kau bertubuh raksasa. Kau pasti kuat membawanya. Nanti aku akan datang menolongnya. Luka-luka itu tidak berbahaya meskipun terasa sakit se¬kali. Bersihkan darahnya dan usahakan menahan apabila masih ada yang mengalir dari luka-luka itu. Tetapi luka-luka itu adalah luka-luka yang dangkal saja.

Orang yang tinggi kekar itu seakan-akan sudah tidak mampu berpikir sama sekali. Di antara sadar dan tidak, ia kemudian kembali kepada kawannya yang pingsan. Diangkatnya kawannya itu dengan kedua tangannya, kemudian dibawanya meninggalkan arena yang masih diliputi oleh ketegangan.

Karena kini semua perhatian tertuju kepada para pengawas yang sudah siap untuk bertempur, tidak seorang pun yang menghiraukan orang yang kekar itu, selain Swandaru. Tetapi Swandaru pun kemudian membiarkannya ketika ia mendapat isyarat dari gurunya.

“Kenapa orang itu kau biarkan pergi?” bertanya pemimpin pengawal yang masih terlampau lemah itu.

“Mereka tidak akan pergi. Orang yang tinggi kekar itu sudah kehabisan nalar. Ia akan menurut apa yang akan aku katakan. Apalagi keduanya itu pun sama sekali tidak penting. Aku menganggap bahwa bawahanmu yang berkumis itulah yang termasuk orang penting dari lingkungan yang belum kita kenal ini. Juga orang yang pingsan, yang melemparkan pisau ke punggungmu.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Siapakah sebenarnya kau dan anak-anakmu?”

“Aku dan anak-anakku. Itu sudah betul.”

“Ya, namamu dan kedudukanmu.”

“Sudah aku katakan. Kami ingin ikut membuka hutan ini karena kami tidak lagi mempunyai harapan apa-apa di daerah kami yang lama.”

“Kau sangka aku percaya?”

“Sekarang tentu tidak. Tetapi biarlah untuk semen¬tara itulah aku. Percaya atau tidak percaya.”

Pemimpin pengawas itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kau dapat duduk sendiri?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya.”

“Baiklah. Aku akan mengambil orang yang pingsan itu sebentar. Sudah tentu aku tidak akan melepaskannya seperti orang yang kekurus-kurusan itu.”

Pemimpin pengawas itu merenung sejenak. Dipandanginya orang-orang yang sedang mengerumuni para pengawas yang justru telah berselisih di antara mereka, sehingga pemimpin pengawas itu tidak dapat melihat, apa yang sedang terjadi di arena.

“Tunggulah, aku tidak akan lama,” desis Kiai Gringsing.

Pengawas itu menganggukkan kepalanya.

Kiai Gringsing pun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa ke tempat orang yang sedang pingsan karena hentakkan batu yang telah dilemparkan oleh Agung Sedayu. Karena pe¬ngawas yang berkumis itu sedang memusatkan perhatiannya kepada tiga orang lawannya yang mengepungnya, ma¬ka ia sama sekali tidak sempat melihat, bahwa seseorang telah mengambil orang yang pingsan itu.

Pada saat Kiat Gringsing mendekatinya, ternyata orang itu sudah mulai membuka matanya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya telah terjadi. Ketika ia mulai sadar, maka dengan susah payah ia pun mencoba untuk bangkit. Tetapi pada saat itu sepasang tangan yang kuat telah mencengkam pundaknya. Sejenak ia menyeringai, namun tiba-tiba ia telah kehilangan kesadarannya kembali.

Dengan tergesa-gesa Kiai Gringsing pun kemudian membawanya kepada pemimpin pengawas yang terluka. Diletakkannya orang yang pingsan itu di sampingnya sambil berkata, “Ia masih pingsan. Sebentar lagi ia akan sadar.”

“Bagaimana kalau ia lari? Aku sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk berbuat sesuatu.”

“Sebaiknya tangan dan kakinya diikat saja.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan kain panjangnya sendiri, orang itu pun telah diikat tangan dan kakinya, sehingga apabila ia sadar kelak ia tidak akan dapat lari dan berbuat apapun.

“Kau sekarang dapat menungguinya,” desis Kiai Gringsing.

“Kau?”

“Aku akan melihat apa yang terjadi. Agaknya anak buahmu telah berselisih pendapat.”

“Ya. Tetapi ternyata orang yang berkumis itu cukup berbahaya. Ia pasti mempunyai bekal untuk menyombong¬kan dirinya seperti itu.”

“Aku akan melihat. Jagalah orang yang terikat ini baik-baik. Keadaanmu pun pasti akan segera berangsur baik.”

Pengawas itu menganggukkan kepalanya. Dengan susah payah, dicabutnya pedangnya sambil berkata, “Kalau ia memberontak aku tinggal menghunjamkan pedangku saja.”

“Jangan kau bunuh. Kita memerlukannya.”

“Aku tahu. Tetapi ujung pedangku akan dapat menakut-nakutinya, meskipun aku tidak mampu mengangkatnya sama sekali.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun sejenak kemudian, ia pun pergi meninggalkan pemimpin pengawas yang masih sangat lemah itu untuk melihat apa yang telah terjadi di dalam lingkaran orang-orang yang sedang tegang.

Ternyata bahwa suasana telah memuncak. Hampir bersamaan ketiga pengawas itu telah menyerang.

Tetapi ternyata orang berkumis itu benar-benar tangkas, dengan lincahnya ia berloncatan menghindari serangan yang datang dari tiga arah itu. Bahkan ia masih juga sempat menggeliat, sambil mengayunkan tangan kirinya.

Meskipun tidak terlalu keras, tetapi sisi telapak tangan itu masih juga sempat mengenai pundak salah seorang lawannya, sehingga orang itu menyeringai menahan sakit.

Namun dalam pada itu, para pengawas itu pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka menyerang pula berurutan dari arah yang berlainan.

Meskipun demikian, ternyata orang yang berkumis itu masih mampu untuk menempatkan dirinya. Ia sama sekali tidak gentar melawan ketiga kawan-kawannya, meskipun dalam penilaian wajar, ketiga pengawas itu cukup mem¬punyai kemampuan. Bahkan kemampuan seorang prajurit. Tetapi lawannya yang seorang itu memang seorang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Sejenak mereka bertempur melingkar-lingkar. Semakin lama semakin seru. Tetapi juga ternyata bahwa ketiga orang itu tidak akan segera dapat menguasai keadaan.

Agaknya kelima pengawas itu merasa, bahwa dengan begitu saja mereka tidak akan dapat menangkap orang yang berkumis itu. Karena itu maka tiba-tiba salah seorang dari ketiganya telah mencabut pedangnya sambil berkata, “Aku terpaksa memaksamu untuk menyerah seka¬rang.”

Tetapi orang yang berkumis itu justru tertawa. Kata¬nya, “Apakah kita akan mempergunakan senjata?”

“Ya,” jawab pengawas yang telah mencabut pedangnya.

Orang yang berkumis itu memandanginya sejenak. Kemudian dipandanginya pula kedua orang lawannya yang lain. Mereka pun agaknya telah siap pula mencabut senjata mereka.

Yang berdebar-debar kemudian adalah Agung Sedayu, Swandaru, dan Kiai Gringsing, yang telah ikut menyaksikan perkelahian itu pula. Agaknya senjata-senjata itu justru akan berbahaya bagi Wanakerti sendiri bersama kedua kawan¬nya. Menilik sikap dan geraknya, orang yang berkumis itu memang bukan orang kebanyakan. Ia bukan tataran se¬orang pengawas bawahan.

“Siapakah yang menempatkannya di dalam lingkungan pengawas itu?” bertanya Kiai Gringsing di dalam ha¬tinya. Tanpa sesadarnya ia berpaling. Di sela-sela orang yang berkerumun, ia melihat tawanannya masih terbaring ditunggui oleh pemimpin pengawas yang terluka itu.

“Kalianlah yang telah mulai dengan senjata,” ber¬kata orang yang berkumis itu. “Kalau terjadi sesuatu atas kalian, bukan salahku. Sebenarnya aku hanya ingin membawa kalian menghadap Ki Gede Pemanahan atau Mas Ngabehi Loring Pasar. Tetapi dengan senjata-senjata itu, mungkin keadaan akan berbeda. Mungkin ujung senjata kita akan mengambil keputusan lain. Kalian mengerti?”

Ketiga pengawas yang lain tidak menyahut.

“Nah, bersiaplah,” desis orang berkumis itu. Ketiga pengawas yang lain itu pun masih tetap ber¬diam diri. Wanakerti memandang orang berkumis itu de¬ngan dada yang berdebar-debar. Ia menyadari, bahwa orang yang berkumis itu memiliki beberapa kelebihan. Tetapi tanggung jawabnya kini justru serasa tergugah.

Orang berkumis itu bergeser beberapa langkah. Ditatapnya ketiga ujung pedang lawannya berganti-ganti. Tetapi tampaknya ia sama sekali tidak gentar menghadapi me¬reka.

Di luar lingkaran orang-orang yang dengan tegang menyak¬sikan perkelahian itu, perlahan-lahan orang yang melemparkan pisau belati beracun ke arah punggung pemimpin pengawas itu mulai sadar. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Namun kemudian disadarinya bahwa tangan dan kakinya telah terikat.

“Setan alas!” ia menggeram.

“Apa kabar, Ki Sanak?” sapa pemimpin pengawas yang ada di belakang orang yang terikat itu.

Dengan susah payah orang itu berpaling. Ia terperanjat melihat pemimpin pengawas itu duduk sambil meng¬genggam pedang yang teracu kepadanya, “Aku dapat juga membunuhmu. Meskipun pedangku tidak beracun seperti pisaumu,” pemimpin pengawas itu mengerutkan keningnya, “He, agaknya kita pernah bertemu.”

Orang itu berusaha sama sekali untuk melepaskan tangannya. Tetapi ia tidak berhasil.

“Ha,” berkata pemimpin pengawas itu, “aku ingat, bukankah kau dukun yang tinggal di gubug sebelah dari gubug yang roboh oleh angin dua hari yang lalu? He, bukankah kau dukun itu?”

Orang yang terikat itu sama sekali tidak menjawab.

“Kenapa kau lakukan hal itu atasku, he? Apakah kau termasuk orang-orang yang bergabung dalam suatu gerombolan dengan maksud-maksud tertentu?”

Orang itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi kadang-kadang ia masih menyeringai menahan sakit di dadanya yang terkena lemparan batu Agung Sedayu.

“Kenapa, he? Selama ini kau dihormati karena kau dapat menolong sesamamu di sini. Hanya orang-orang yang me¬ngalami gangguan hantu-hantu saja yang tidak dapat kau obati, itu pun kau dapat menunjukkan agar kami berhubungan dengan dukun yang tinggal terpencil itu. Ternyata di dalam keadaan ini kau telah memusuhi kami, para petugas.”

Orang itu masih tetap berdiam diri. Kini ia berbaring diam membelakangi pemimpin pengawas itu.

“Dengar,” desis pemimpin pengawas itu, “meski¬pun aku terluka, aku masih dapat membunuhmu.”

Dukun itu mengerutkan keningnya ketika terasa ujung pedang pemimpin pengawas itu menyentuh punggungnya.

“Di bagian inilah kira-kira pisaumu menancap di punggungku. Aku pun dapat melubangi punggungmu di bagian ini pula. Tetapi sayang bahwa pedangku tidak beracun,” namun tiba-tiba pemimpin pengawas itu berkata. “He, inilah pisaumu yang dicabut dari punggungku. Meskipun sudah merasuk ke tubuhku, namun agaknya masih ada juga sisa racun yang dapat membumbui darahmu.”

Orang itu terkejut sehingga ia tersentak. Tetapi karena kaki dan tangannya terikat, ia hanya dapat berguling. Dengan wajah yang tegang ia melihat pemimpin pengawas itu menggenggam sebilah pisau yang dikenalnya baik-baik. Pisaunya sendiri.

“Kau kenal pisau ini?”

“Jangan. Jangan. Pisau itu sangat beracun.”

“Pisau, ini telah tertancap di punggungku. Sampai saat ini aku masih terlampau lemah karena racun ini. Aku masih belum mampu berdiri tegak. Tetapi aku masih mampu bergeser mendekati kau, kemudian menggoreskan pisau ini memotong urat nadimu di pergelangan tangan.”

“Jangan. Jangan.”

“Kalau kau mempunyai obat pemunah racun di dalam tubuhmu, kau pun akan mati juga, karena darahmu akan mengalir lewat nadimu yang terputus sampai jan¬tungmu kering.”

“Jangan berbuat begitu.”

“Kenapa? Kau sudah berbuat atasku. Kenapa aku tidak boleh berbuat atasmu?”

“Tetapi, tetapi aku tidak ingin membunuhmu.”

Meskipun punggungnya masih terasa pedih, pemim¬pin pengawas itu masih juga dapat tertawa. Katanya, “Kau tidak bermaksud membunuhku?”

Orang itu terdiam.

“Baiklah, aku tidak akan membunuhmu sekarang. Kau sangat diperlukan bersama seorang pengawasku yang telah memberontak.”

Orang itu kian menjadi tegang. Ia sama sekali tidak menduga bahwa pemimpin pengawas itu masih sempat hidup, dan masih juga ada orang yang berani melawan kehendak pengawas yang berkumis itu. Bahkan ternyata orang yang tinggi kekar dan yang kekurus-kurusan itu sudah tidak berdaya.

“Apa yang kau renungkan?” bertanya pemimpin pengawas itu.

“Bukan apa-apa,” jawab dukun yang terikat itu.

“Bukan apa-apa? Tentu kau sedang merenungkan sesuatu. Apa kau tidak mau menjawab?”

Orang itu terdiam. Tetapi ujung pedang pengawas itu menyentuh tubuhnya, “Katakan, apa yang sedang kau renungkan.”

“Bukan apa-apa,” orang itu tergagap.

“Bohong!” pemimpin pengawas itu menekankan ujung pedangnya. “Atau dengan pisau beracun ini.”

“Jangan, jangan. Aku sedang berpikir, kenapa aku telah terlibat di dalam persoalan yang tidak aku ketahui ini.”

“Nah. Kau sebaiknya memang harus menjawab, meskipun aku tahu bahwa kau berbohong. Kau dapat mengatakan apa saja, karena aku tidak dapat melihat gambaran dari angan-anganmu itu. Tetapi aku bukan orang yang terlampau bodoh untuk sama sekali tidak dapat mereka-reka, yang sedang kau pikirkan.”

Orang itu masih tetap berdiam diri.

“Baiklah aku memang belum mempunyai kekuatan untuk memaksamu berbicara. Kini aku sedang menunggu akhir dari perkelahian itu.”

Tanpa sesadarnya orang itu pun mencoba memandang ke arah orang-orang yang melingkari para pengawas yang sedang berselisih itu. Tetapi ia tidak berhasil melihat, selain punggung-punggung orang-orang yang berdiri dengan tegangnya.

“Kawanmu itu sedang mencoba membela dirinya. Para pengawas yang lain sudah siap menangkapnya. Dengan demikian akan mendapat gambaran yang jelas, apakah sebenarnya yang telah terjadi di daerah ini.”

“Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa.”

“Setidak-tidaknya kami dapat menangkap beberapa orang yang dapat membahayakan daerah ini.”

“Itulah kebodohanmu.”

“Apa?” pemimpin pengawal itu membentak. “Kau menganggap aku bodoh?”

Dukun yang terikat itu merasa ujung pedang pemimpin pengawas itu semakin menekan tubuhnya. “Coba ulangi lagi, apakah aku memang terlampau bodoh?”

“Tidak. Bukan maksudku,” sahut orang itu dengan serta merta.

“Nah, sebenarnya itulah gambaran angan-anganmu yang sebenarnya tentang aku. Tetapi biarlah. Aku memang tidak ingin membunuhmu sekarang.”

Orang itu tidak menyahut. Tetapi ia merasa aneh dan heran, bahwa pemimpin pengawas itu masih saja tetap hidup. Tidak ada orang yang dapat menyelamatkan diri dari bisa yang diulaskan pada pisaunya. Tetapi ternyata pemimpin pengawas itu masih tetap hidup.

Dalam pada itu, ketiga pengawas yang sedang berhadapan dengan orang berkumis itu, telah mulai menyerang berganti-ganti, sehingga perkelahian pun telah mulai berlangsung. Semakin lama menjadi semakin seru dan mendebar-kan jantung.

Meskipun pengawas yang berkumis itu hanya seorang diri dan harus menghadapi tiga orang kawannya, namun ternyata ia memang memiliki bekal yang cukup baik, se¬hingga ia masih tetap mampu bertahan.

Bahkan kadang-kadang ia masih juga sempat menyerang dengan dahsyatnya, sehingga ketiga lawan-lawannya terkejut karenanya.

Demikianlah, maka perkelahian itu semakin lama men¬jadi semakin seru. Namun dengan demikian justru menja¬di semakin nyata, bahwa ketiga pengawas termasuk Wanakerti sama sekali tidak mampu mengimbangi orang berku¬mis itu.

Semakin lama, orang itu justru menjadi semakin lincah. Pedangnya menyambar-nyambar seperti seekor burung sikatan. Cepat dan langsung mengarah ke bagian-bagian yang ber¬bahaya.

Mereka yang menyaksikan perkelahian itu terperan¬jat ketika tiba-tiba saja mereka mendengar keluhan tertahan, dan seleret warna merah membekas di lengan salah seorang pengawas yang bertempur bertiga bersama-sama. Ke-mudian setitik demi setitik darah mulai mengucur dari luka itu, menodai bajunya.

Sejenak kemudian terdengar suara pengawas yang berkumis itu tertawa sambil berkata, “Nah. Darah mulai menitik dari lukamu. Jangan salahkan aku kalau kalian nanti tidak akan dapat keluar lagi dari lingkaran perkelahian ini.”

Demikian lantangnya suara orang berkumis itu sehingga tanpa sesadarnya dukun yang terluka itu berkata, “Nah. kau dengar? Apakah kau sangka kawan-kawanmu itu akan berhasil menangkapnya?”

Pemimpin pengawas itu merenung sejenak. Kemudian ia mendengar lagi orang berkumis itu berkata keras-keras, “Jangan menyesal. Semuanya sudah terlanjur. Kita harus mengakhiri persoalan ini dengan pedang yang sudah di-cabut dari sarungnya.”

Tidak terdengar jawaban sama sekali. Tetapi ujung pedang pemimpin pengawas itu telah menekan tubuh orang yang terikat itu, “Kau pun akan mati.”

“Kenapa aku?”

“Kalau orang berkumis itu menang, ia pun akan membunuh aku pula. Karena itu, sebelum aku mati, kau harus mati lebih dahulu.”

“Kenapa aku?”

“Jangan berpura-pura. Kenapa kau melempar aku dengan pisau ketika aku berselisih dengan orang itu?”

“Tetapi, tetapi ……,” orang itu menjadi tergagap.

“Nah, jangan banyak bicara lagi. Kita tunggu. Ka¬lau lingkaran orang-orang itu menyibak, dan yang keluar dari lingkaran itu pengawas yang berkumis, maka aku akan segera menghunjamkan pedangku kepadamu dan menyembunyikan pisau itu di tanganku. Begitu ia mendekat, me¬ngayunkan pedangnya keleherku, aku masih sempat melemparkanya dengan pisau beracun ini dan melukainya meskipun hanya sebaris kecil, seperti goresan ujung duri.”

“Tetapi, apakah kau tidak berpikir, bahwa dengan menghidupi aku, kau akan tetap hidup pula?”

“Aku tidak berpengharapan lagi. Kalau aku membiarkan kau hidup, aku memang teramat bodoh.”

Wajah dukun itu menegang sejenak. Ia berusaha untuk menemukan akal, agar orang berkumis itu berkesem¬patan menolongnya.

“Orang ini masih sangat lemah,” desisnya di dalam hati, “kalau aku berguling-guling agak cepat, ia tidak akan mampu mengejarku. Pada saat aku yakin akan kemenangan pengawas itu, aku harus cepat-cepat berguling menjauh sambil berteriak-teriak.”

Demikianlah, maka dukun yang terikat itu menunggu kesempatan untuk mendapatkan pertolongan. Karena itu, maka ia selalu saja mengawasi, kalau-kalau orang-orang yang melingkari arena itu mulai menyibak.

Tetapi agaknya perkelahian itu masih berlangsung terus. Meskipun seorang dari ketiga pengawas yang bertem¬pur bersama itu sudah terluka, namun mereka masih tetap bertempur mati-matian.

Namun keadaan selanjutnya telah membuat beberapa orang menjadi kian menegang. Agaknya ketiga orang itu sama sekali tidak akan mampu mengimbangi lawannya yang hanya seorang itu. Ternyata bahwa seorang yang lain telah tergores pula oleh senjata orang berkumis itu, bah¬kan juga Wanakerti sendiri.

Swandaru yang berdiri di belakang Agung Sedayu, menyaksikan perkelahian itu dengan dada berdebar-debar. Bahkan kemudian ia melangkah maju sambil meremas ujung cambuknya.

Agung Sedayu menahan nafasnya. Sekali-sekali ia berpa¬ling kepada gurunya yang telah menjadi cemas pula. Te¬tapi Kiai Gringsing masih tetap berdiri diam di tempatnya.

Demikianlah, perkelahian itu semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa ketiga pengawas yang berkelahi bersama-sama itu berada di dalam bahaya. Orang berkumis itu dengan lincahnya berloncatan dengan senjata yang menyambar-nyambar. Meskipun demikian, Wanakerti dan kedua kawannya telah mencoba berbuat sebaik-baiknya yang dapat dilakukannya. Mereka mengadakan perlawanan mati-matian, meskipun mereka menyadari bahwa mereka berada di dalam bahaya yang dapat merampas nyawanya.

Swandaru yang tidak dapat menahan diri melihat perkelahian itu, berbisik kepada Agung Sedayu, “Apakah kita akan membiarkan ketiganya mati? Atau seandainya kita akan berbuat sesuatu, kita menunggu korban itu berjatuhan lebih dahulu, atau kita tidak akan berbuat apa-apa sama sekali.”

“Kita akan berbuat sesuatu,” bisik Agung Sedayu. “Berbuat atau tidak berbuat kita pasti akan tersudut, karena orang berkumis itu memang berminat membunuh kita. Ketiga pengawas itu hanya sekedar mencoba mencegah¬nya.”

“Karena itu kita tidak boleh membiarkan mereka menjadi korban,” Swandaru berdesis pula. “Tetapi apa¬kah pedang itu beracun juga?”

“Tampaknya tidak. Pedang itu adalah pedang pengawas. Orang itu yakin akan dapat mengalahkan lawannya. Tetapi tidak mustahil bahwa ia membawa senjata beracun pula, seperti yang lain.”

Swandaru mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu, “Aku akan mencegah mereka terbunuh.”

“Jangan kau. Kau masih lelah. Nafasmu belum pulih.”

“Jadi.”

“Aku akan minta ijin pada guru.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Cepatlah, sebe¬lum salah seorang dari mereka menjadi korban. Apalagi ketiga-tiganya.”

Agung Sedayu pun kemudian bergeser mendekati gurunya. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, agaknya gu¬runya telah mengetahuinya, sehingga ia mendahuluinya berkata lambat, “Hati-hatilah. Pedang itu pasti bukan senjata satu-satunya. Tetapi ingat, jangan bunuh orang itu. Kami memerlukannya.”

Agung Sedayu mengangguk. Namun di dalam hati ia berkata, “Mudah-mudahan aku tidak kehilangan kesempatan untuk menangkapnya hidup-hidup. Atau justru akulah yang ditangkapnya.”

Demikianlah, sejenak kemudian salah seorang pengawas yang berkelahi itu terloncat surut. Sebuah luka yang agak dalam telah menyobek bahunya, sehingga ia menjadi semakin lemah karenanya. Dengan demikian, maka kedu-dukan ketiga pengawas itu menjadi semakin sulit.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:40  Comments (42)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-55/trackback/

RSS feed for comments on this post.

42 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Huaaah,… hutan ini kembali sepi semenjak para cantrik sibuk mengunduh kitab lima empat. Kalau saja dalam bilik-bilik perkemahan itu ada yang jual voucher kitab lima-lima, tentu para cantrik ADBM akan segera antri untuk mendapatkannya..”

  2. Assalamu’alaikum wr wb.
    Telah nyata, bahwa Padepokan ADBM yang dibangun oleh Ki Dede Menoreh telah berkembang cukup pesat. Para pengikutnya setiap saat terus bertambah, dari jumlah ribuan ketika masih menggunakan nama padepokan yang lama di bawah asuhan Ki Rizal, maka kini anggotanya sudah mencapai ratusan ribu orang (maaf hitungan ngawur semua).

    Hanya sayang sekali bahwa baik Ki Dede maupun Ki Rizal tidak memiliki data apapun tentang anggota padepokannya, karena disamping memang tidak ada ketentuan tentang pedaftaran, apalagi uang pendaftaran. Sedangkan nama saja tidak diharuskan untuk memakai nama yang sebenarnya. Maka jangan heran jika diantara anggota padepokan ada yang menggunakan nama sedikit “saru” seperti Kontos Wedul, ataupun nama2 samaran lainnya seperti Mirah, Glagah Putih, Ki Amat, Pandan Alas, ……… wah pokoke werno2.

    Sebetulnya menarik juga untuk membuat statistik, sebetulnya siapa saja sih yang sangat mencintai celotehan ADBM ini, sehingga penggemarnya begitu fanatik. Hal ini ditunjukkan setiap hari tatkala menunggu hadirnya jilid berikutnya. Ada yang matanya berkunang-kunang, ada yang terkencing-kencing, ada yang sakit kepala, ada yang kepengin gantung diri dls.

    Kalau dapat diketahui rata2 usia para penggemar ADBM ini sungguh dapat ditarik kesimpulan yang menarik. Misalnya kalau ternyata rata2 usianya di atas 50 tahun, berarti mereka sudah pernah membacanya dahulu ketika mereka masih remaja. Jadi daya tarik ADBM ini karena faktor kenangan masa lalu semata. Tetapi kalo ternyata penggemarnya ada di tataran usia muda, misalnya antara 20 hingga 50 tahu ke atas, maka dapat diharap bahwa mereka sungguh2 menikmati sajian SH Mintareja yang mengungkapkan kehidupan manusia Indonesia di masa lalu.

    Kehadiran mereka di padepokan ini dalam rangka melarikan diri dari kehidupan dunia nyata saat ini dipenuhi oleh intrik politik dan kekuasaan. Namun di padepokan ini selain intrik politik, juga didapatkan pendidikan moral untuk senantiasa berbuat baik. Contoh kongkret ditunjukkan dengan matinya Ki Tambak Wedi dan Sidanti sebagai simbol kebathilan, dan dimenangkannya Ki Gede Menoreh yang dibantu Kiai Gringsing dkk, sebagai simbol kebaikan.

    Kemudian yang ingin saya ketahui juga (bukan berarti saya senang pada kesukuan) adalah dari suku apa saja para penggemar ini berasal. Apakah dari suku Jawa saja dimana pengarang dan jalan ceritera ADBM ini berada, ataukah dari suku2 lain di luar Jawa juga menyenanginya?. Hal ini saya anggap penting untuk mengetahui sejauh mana pola kehidupan di jawa itu apakah juga diimpikan oleh orang2 yang berasal dari suku di luar jawa. Kemudian orang2 di luar jawa yang mana yang menyukai pola kehidupan di Jawa itu.

    Padepokan ADBM ini juga sepertinya dapat dijadikan sarana latihan perang para penggemarnya. Dari hari ke hari semakin banyak saja para komentator yang sambil menyunggu terbitnya jilid berikutnya, mereka menuangkan latihan bakat keterampilan menulisnya. Kalau disimak secara seksama tulisan2 meraka, ternyata mutu tulisan mereka tidak terlalu jauh dari mutu tulisan SH Mintardja.

    Selain berlatih menulis, para penggemar juga dilatih oleh Ki Dede langsung untuk melakukan jurus2 Konvert, Editing dan Penulisan Ulang. Ini juga perlu bagi mereka, sehingga apabila nantinya mereka terjun kedunia tulis menulis, sudah punya bekal latihan keterampilan yang cukup di padepokan ini.

    Disamping latihan perang2an kecil semacam yang disampaikan mereka dalam komentar2 singkat disetiap terbitan jilid baru, tentunya mereka juga harus berlatih dalam perang besar. Dalam perang besar ini mereka harus berlatih jurus memelihara jalur atau alur ceritera, jurus latar belakang sejarah yang melatari ceritera, jurus2 kejutan untuk memancing daya tarik ceritera, jurus2 menyembunyikan bom waktu sehingga sebelum bom meledak semua perhatian pembaca tercurah pada keberadaan bom tersebut beserta waktu ledakannya, dls.

    Contoh bom waktu yang di jilid 50 ini dinyalakan oleh Ki SH Mintaredja adalah masalah tumbuhnya keinginan Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya untuk membangun Alas Mentaok menjadi sebuah padukuhan. Detik demi detik, waktu demi waktu semakin tersingkap jalan kearah pembentukan negara Mataram. Hal ini semakin menarik perhatian pembaca tentang kapan Bom meledak, yaitu tatkala Ke GP dan Stwj berperang dengan Pajang? Atau tidak terjadi perang? Dls.

    Melihat kondisi ini, saya sebagai salah satu penggemar dari padepokan ini menyampaikan saluuuuut kepada Ki Dede yang telah menghadirkan padepokan di dunia maya ini, dan kita bersama-sama merasakan banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari kancah2 pertempuran di sekitar bukit menoreh. Mudah2an, setamat buku ADBM ini sampai jilid yang ke 375(?), dapat diteruskan dengan Buku2 bermutu lainnya hasil karya Cantrik2 Padepokan ADBM ini sendiri.

    Wabillahitaufiq wal hidayah,
    Wassalamu’alaikum wr wb.

  3. @ Truno Podang
    Sekali-sekali coba klik angka yang tertera pada Ngangsu Kawruh. Disitu akan terlihat peta sebaran cantrik ADBM.
    Sumonggo.

    NB: Hingga saat ini kami belum ada niat untuk tampil ke dunia riil. Oleh karena itu statistik mengenai umur, golongan, suku, dll-nya itu juga menjadi tdk ada manfaatnya. Cukuplah kiranya jumlah pengunjung dan letak geografisnya saja (GD).

  4. Gaya bahasa yang ditampilkan oleh Sang Maestro SHM memang lain dari penulis2 lainnya.. Apa yang disuguhkan lewat kalimat2 maupun kata2 yang diutarakan, bisa membawa sang pembaca berada pada suasana yang sesungguhnya, meskipun cerita ini merupakan pengembangan dari kejadian2 dimasa lalu. Kalimat demi kalimat yang dituliskan begitu mendetail, sehingga tidak ada bagian yang terlewatkan.

    Meskipun Sang Maestro dalam menyusun suatu kalimat atau kata2 yang kelihatannya “njlimet/muter2”, namun justru itu yang menimbulkan kesan dan pemahaman yang mendalam. Untuk itu, para komentator2 yang selalu berceloteh lewat tulisan2nya ketika menunggu kemunculan buku selanjutnya, diharapakan kedepannya bisa menyambung cerita yang belum berakhir.

    Karya Sang Maestro ini, bukan hanya sekedar cerita yang cuma hanya bisa dibaca, tetapi juga meninggalkan pesan moral dan pendidikan.

  5. sepiiiii,…….

    kitab pusaka 55 msh blm dapat,… padahal pelajaran dlm kitab pusaka 54 sdh diselesaikan, dimengerti n siap di amalkan dlm tata kehidupan.

    bingung,….

    bagaimana lalui waktu, sedangkan esok sdh ada tantangan hidup yg baru. dapatkah hidup terus berjalan hanya dgn kemampuan menamatkan kitab pusaka 54??

    semoga,……

    yah semoga ki/nyi gde DD segera mendengarkan keluhan ini n merelakan kitab pusaka 55 nya untuk diwariskan lebih cepat.

  6. kiayi DD dengan menahan nafas…dan lembut tangannya satu-satu membuka lembaran demi lembaran dan mescan satu-demi satu demi terwujudnya kitab 55 itu.
    sementara diluaran orang-orang sudah tidak sabar menunggu keluarnya ki DD untuk mebagikan kitab tersebut, yang sudah tidak sabar sekali berteiak-teriak -he..ki DD cepatlah kerjanya jangan seperti kura-kura- sementara orang yang berdiri disebelahnya berkata -sabarlah kakang dengan beriak teriak tidak ada gunanya, lebih baik menunggu atau membantu kerjaanya biar cepat selesai – sementara ada orang yg dibelakan nya sambil menghitung-hitung seperti berguman – kalau kitab itu ada delapan puluh halaman satu halaman satu menit , berarti delapan puluh menit , terus diedit supaya menjadi wajar untuk dibagikan memerlukan waktu dua atau tiga jam-an kasaran bisa empat sampai lima jam..jika dikerjakan setelah semburat warna merah matahari bisa jadi selesai jam sepuluhan atau jam sebelas , belum makan pagi yang ransumnya terlambat ,atau godan-godan lainnya yang menghambat pekerjaannya sehingga paling lambat tengah hari baru selesai…untuk dikeluarkan kitab tersebut….- orang yang erteriak-teriak tadi menjadi termenung mendengar orang yang dibelakangnya berguman menghitung-hitung waktu yang dikerjakan ki DD- dan mencela – ah kau tidak tau ki DD itu kan orang yang punya kemampuan lebih dari orang-orang kebanyakan sehingga tidak perlu waktu yang demikian lambat..- orang yang berguman menimpali – itu kan hitungan umum yang aku hitung berdasarkan hitungan pekerjaan umum yang biasa dikerjakan seseorang, ya terserah mau masuk perhitungan atau tidak , lebih baik aku kembali setelah tengah hari agar tidak mendengarkan kekecewaan dan keluhan yang tidak berarti ini..-

    Mohon maaf kepada ki DD dan para prajurit serta senapati yang telah melangsungkan kehidupan padepokan ini , dan terimakasih pangeran sing balas.

  7. kapan-kapan kt koesplus………………………………….. album 55 br proses mixing di mentaok record

  8. Ki Kasdoelah menemui Ki Warsono di banjar desa. Desas-desus mengenai hantu di Alas Mentaok rupanya sudah sampai ke telinga para tokoh di padepokan ADBM. Sambil menimang-nimang kitab 55 ditangannya Ki Kasdoelah bersama Ki Warsono menghampiri Ki Dede Menoreh.

    “Hantu-hantu itu rupanya yang saat ini menggelisahkan para cantrik ADBM. Apakah perlu segera kita beberkan saja siapa dalang dibalik semua ini?” berkata Ki Dede.

    “Benar… Siapa tahu rahasia nya memang berada di kitab 55 ini” jawab Ki Kasdoelah sambil menunjukan kitab ditangannya.

    “Apakah perlu segera saya lakukan scanner Kiai?” bertanya Ki Warsono.

    “Agak nya memang harus demikian Ki Warsono” jawab Ki Kasdoelah.

    Ki Dede menganguk-angguk seraya berkata “Mumpung masih pagi. Para santripun saat ini sedang berkumpul bersama keluarganya. Dan juga belum banyak keluhan yang muncul kalau kita terlambat memberikan ransum ini”

    Kemudian ketiganya berjalan menuju markas padepokan ADBM untuk melakukan persiapan penerbitan kitab 55 yang sebentar lagi akan dicari-cari oleh para cantriknya.

    ——- K D ——-

  9. Saabar nggerr….sabar….Covernya sudah muncul….

  10. Sepagi itu Sekar Mirah telah nembang rengeng-rengeng di dapur. Gumamnya, “…ada lemper ada talas, …ada cover, ya, ada balas..”

    Sukra, yang tengah menemaninya, melirik dengan aneh. “Apa sih, maksudnya?” gerutunya dalam hati.

    Eee alaah, nyo’on pangaporah

  11. Wah, gawat…
    saya kangen buka ADBM beberapa kali sehari hanya untuk baca tulisan bocah bocah cantrik yang waringuten itu….lama lama pada bikin buku sendiri…nanti Agung Sedayu bukan minum air sere tapi air cola, makannya bukan jenang alot tapi pizza alot…naiknya bukan kuda tapi hunda…pertemuannya bukan di banjar .. tapi di mall …musuhnya? Ki Tambak Korupsi

  12. “Angger Pandan Wangi, engkau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan ayahmu. Aku kira Ki Gede akan mampu mengatasinya apabila ada hambatan di perjalanan.” kata Samekta.

    “Tapi paman, aku memang mengkhawatirkan ayahku, apabila para cantrik yang sulit mengendalikan diri itu masih terus saja menunggu.” jawab Pandan Wangi.

    “Justru itulah, memang sebaiknya ayahmu segera mengirimkan kitab itu ke padepokan yang wingit itu” desis Samekta.

    “Tapi aku berpendapat lain. Sebaiknyalah mereka dibiarkan menunggu, aku yakin mereka akan membubarkan diri. Apabila padepokan itu telah sepi, barulah ayah pergi ke sana.” sahut Pandan Wangi.

    “Itu adalah tindakan yang sia-sia ngger, aku yakin para cantrik itu akan selalu menunggu, karena mereka yakin kitab itu akan segera datang, apalagi covernya sudah terlanjur dikirimkan.” lanjut Samekta.

    “Kalau begitu, terserahlah pada ayah.” kata Pandan Wangi.

    Dalam hati Samekta mendesah, “Mudah-mudahan Ki Gede segera megirimkan, sebelum para cantrik itu menjadi semakin tidak dapat mengendalikan diri.”

  13. suwe ora jamu
    jamu ora suwe
    suwe ora jamu
    jamu pisan ora bisa suwee

  14. Kepergian Sekar Mirah membuat Prastawa tidak nyenyak makan dan tidak menikmati sedapnya tidur.

    “Mirah …… Mirah ……… kalau kamu mau menerima cintaku .. jangankan jilid 55 …. seluruh kitab kuno peninggalan Kiai Mintardja akan ku serahkan padamu hari ini.”

    ” Sayang …. engkau tidak bisa mendengar jeritanku … maka terpaksa aku mengecewakan seluruh kademangan Sangkal Putung dan hantu-hantu Alas Metaok….”

  15. adakah kisanak semua sudah punya yang versi convert dlm format word?sudilah kiranya mengirimkan ke emailku, pasalnya aku sekarang menikmati ADBM melalui handphone.

  16. Sekar Mirah tercenung mendengarkan igauan Prastawa yang tidak karuan macam itu. Dipandanginya anak muda yang tidur itu dalam temaramnya nyala api dlupak di sudut dinding.

    “Oh, oh.. Prastawa. Jangan engkau salah duga, dan jangan pula salah kira. Bukan karena sudah ada Kakang Agung Sedayu di hatiku, maka aku terpaksa menolak cintamu,” desah gadis itu dalam hatinya.

    Lalu, “ketahuilah, Prastawa, ..Jilid-55 itu sudah ku-donlod sendiri, atas budi baik sanak kadhang semua di Padepokan ADBM .. Jadi, aku tak perlu lagi janji-janji palsumu.”

  17. Sederek Moderator,

    Halaman 10 dan 11 kok gak ada,
    Apa dibawa sama Sekar Mirah ke Sangkal Putung ?

    Matur Nuwun.

    GD: Sudah diperbaiki

  18. Istilah:

    Bumbung: tabung yang terbuat dari batang bambu
    Dingklik : bangku kecil
    Regol : gerbang
    wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)
    Mas Ngabehi Loring Pasar : Mas Ngabehi yang tinggal di sebelah Utara Pasar. (berasal dari kata Lor = Utara)

    Wanakerti: Wana = hutan; kerti=tata tertib/kedamaian/kemakmuran

    bacaan :
    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa
    http://blog.baliwww.com/tag/jana-kerti/

  19. adakah kisanak yang sudah menggenggam buku 55 ini di komputernya?kalo bisa saya minta dikirimi ke email saya, soalnya saya dah coba donlot gak bisa-bisa. Makasih sakdurunge yo

  20. sejak buku 55 ini gak tahu kenapa aku kok gak bisa donlot (selalu gagal di tengah2), sudah tak coba pake bermacam browser dan bermacam komputer tetap aja gak bisa, jadi adakah kisanak yang berkenan untuk mengirimkan buku 55 ke alamat email sya?

  21. Para sedulur sedoyo, buat mbaca file2 download-an diatas pake apa ya…dari 51-55 kulo mboten saged niki ngangge pdf, niku jenis file nopo nggeh? Mohon pencerahannya?

  22. Untuk Pak Muklijum, kalo boleh tahu downloadnya di kantor apa di rumah? kalo di kantor mungkin dibatasi besaran downloadnya karena beban network. Coba di download pada saat pagiiii sekali atau malaaaam sekali, saat para ADBMer masih atau sudah pada tidur, mungkin downloadnya lancar.

    Untuk Pak AlGhors, file .pdf nya harap diubah dulu menjadi .djvu

    Untuk membuka file silahkan unduh program di sini:
    https://adbmcadangan.wordpress.com/download/
    ambil salah satu:
    MacDjView

    WinDjView
    SDJVU
    HandyDjvu
    Java DJVU
    PocketDJVU (v0.9.2)
    STDUViewer

  23. makasih mas jebeng, setelah perjuangan yang panjng dan melelahkan, akhirnya buku 55 sudah ada di tangan. nunggu buku 56 nich, biar gak nanggung

  24. He Kisanak, menurut saya pada akhirnya memang lebih menarik celotehnya para Cantrik ketimbang baca bukunya satu-satu, malah nambah warunguten..

  25. Ok matur nuwun sanget atas info dan pencerahannya mas jebeng…
    Tetep semangat buat padepokan Ki Gede Menoreh.

  26. Mohon ampun ki Muklijum:”mohon muridmu ini diberikan tenaga cadangan untuk mengungkap jurus 50,51,56 guna membantu anak bengal mas ngabei loring pasar meramaikan alas mentaok, terimakasih guru,”

  27. Para kisanak yg telah membantu saya sekalian, matur nuwun sanget. Setelah berhasil ngunduh program viewer nya DJVU, saya sekarang bisa membuka kitab2 yg diwariskan oleh Ki Argapati (Kiai Kasdoelah & Kiai Prasidi)melalui jasa2 Ki/Nyi DD (GD) dan ki Sukra berikut para senopati Kiai Warsono, Kiai Pedo, Kiai Prastawa, Kiai Ma’ruf, Anakmas Edy, Anakmas Jebeng dll.

    Bukit menoreh semakin cerah menyongsong hari esok…….

    Terima kasih

  28. Sejak pertemuanku dengan Panembahan Jati Srana malam-malam kemarin, hatiku sudah risau. Mengapa beliau mau menerima usulan andahannya itu? Dua orang yang sudah tidak asing bagiku. Seorang yang tinggi kekar dan seorang yang kecil kekurus-kurusan! Akan tetapi, aku yang hanya seorang andahan lain yang tidak istimewa di mata Panembahan Jati Srana tentu tak akan memiliki kesempatan untuk tahu rencana ke depan. Sambil mengatur uba rampe milik majikanku itu, aku hanya bisa menunggu. Menunggu cerita lanjutannya di jilid 55 ini!

  29. Apa buku jilid 55 belum dapat dibuka, kok saya selalu gagal membukanya, padahal buku 56 sudah berisi. Jadinya nggak bisa baca buku 56 karena ada “missing link”

  30. Ohm Achmad, Sepertinya Buku 55 masih berupa djvu file. Jadi link untuk versi teks belom dimunculkan oleh Ki Gede..

  31. Hmm.. Dah pd gak sabar ya nunggu buku 55.. Sama.. he50x.. Pripun nggih? Kok tasih kosonh page nya.. Udah mulai gatel seluruh badan e..

  32. asyikjuga menilas tapaki sampai di gandhok 55.
    Kumaha damang Ki Menggung KY,Ki AS, kI Menggung YP ?

    • ada perasaan “dredEK-dredEK” siTIK njih ki, disaat
      broBOS pintu gandok yang selama ini raPET ditutupi….he10x

      amat saYANG Nyi Seno-ne belom berkeNAN “menYAPA”
      pasukan ki Gembleh cs.

      • ke mana ke mana ke mana

        • lha wong wis pamitan ket mang kok jik digoleki to …

          • wonten sing kantun lho ,

            • inggih ki mangku, niki wau mbak ayu ketinggalan duko wonten pundi 😳

              • Atos-atos teng Mentaok dalu-dalu kathah jerangkong klayaban lho .

                • mboten dados menopo ki, rombongan jrangkong mpun sami budal rame-rame madosi alamat palsu

  33. Wah jerangkong jaman saiki senengane malah ngalamat ASPAL ..

    • para tumenggung eh jerangkong jaman saiki memang begitu ki

      • Oh pun kamanungsan yake ??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: