Buku 55

55-00

Iklan

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:40  Comments (42)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-55/trackback/

RSS feed for comments on this post.

42 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Huaaah,… hutan ini kembali sepi semenjak para cantrik sibuk mengunduh kitab lima empat. Kalau saja dalam bilik-bilik perkemahan itu ada yang jual voucher kitab lima-lima, tentu para cantrik ADBM akan segera antri untuk mendapatkannya..”

  2. Assalamu’alaikum wr wb.
    Telah nyata, bahwa Padepokan ADBM yang dibangun oleh Ki Dede Menoreh telah berkembang cukup pesat. Para pengikutnya setiap saat terus bertambah, dari jumlah ribuan ketika masih menggunakan nama padepokan yang lama di bawah asuhan Ki Rizal, maka kini anggotanya sudah mencapai ratusan ribu orang (maaf hitungan ngawur semua).

    Hanya sayang sekali bahwa baik Ki Dede maupun Ki Rizal tidak memiliki data apapun tentang anggota padepokannya, karena disamping memang tidak ada ketentuan tentang pedaftaran, apalagi uang pendaftaran. Sedangkan nama saja tidak diharuskan untuk memakai nama yang sebenarnya. Maka jangan heran jika diantara anggota padepokan ada yang menggunakan nama sedikit “saru” seperti Kontos Wedul, ataupun nama2 samaran lainnya seperti Mirah, Glagah Putih, Ki Amat, Pandan Alas, ……… wah pokoke werno2.

    Sebetulnya menarik juga untuk membuat statistik, sebetulnya siapa saja sih yang sangat mencintai celotehan ADBM ini, sehingga penggemarnya begitu fanatik. Hal ini ditunjukkan setiap hari tatkala menunggu hadirnya jilid berikutnya. Ada yang matanya berkunang-kunang, ada yang terkencing-kencing, ada yang sakit kepala, ada yang kepengin gantung diri dls.

    Kalau dapat diketahui rata2 usia para penggemar ADBM ini sungguh dapat ditarik kesimpulan yang menarik. Misalnya kalau ternyata rata2 usianya di atas 50 tahun, berarti mereka sudah pernah membacanya dahulu ketika mereka masih remaja. Jadi daya tarik ADBM ini karena faktor kenangan masa lalu semata. Tetapi kalo ternyata penggemarnya ada di tataran usia muda, misalnya antara 20 hingga 50 tahu ke atas, maka dapat diharap bahwa mereka sungguh2 menikmati sajian SH Mintareja yang mengungkapkan kehidupan manusia Indonesia di masa lalu.

    Kehadiran mereka di padepokan ini dalam rangka melarikan diri dari kehidupan dunia nyata saat ini dipenuhi oleh intrik politik dan kekuasaan. Namun di padepokan ini selain intrik politik, juga didapatkan pendidikan moral untuk senantiasa berbuat baik. Contoh kongkret ditunjukkan dengan matinya Ki Tambak Wedi dan Sidanti sebagai simbol kebathilan, dan dimenangkannya Ki Gede Menoreh yang dibantu Kiai Gringsing dkk, sebagai simbol kebaikan.

    Kemudian yang ingin saya ketahui juga (bukan berarti saya senang pada kesukuan) adalah dari suku apa saja para penggemar ini berasal. Apakah dari suku Jawa saja dimana pengarang dan jalan ceritera ADBM ini berada, ataukah dari suku2 lain di luar Jawa juga menyenanginya?. Hal ini saya anggap penting untuk mengetahui sejauh mana pola kehidupan di jawa itu apakah juga diimpikan oleh orang2 yang berasal dari suku di luar jawa. Kemudian orang2 di luar jawa yang mana yang menyukai pola kehidupan di Jawa itu.

    Padepokan ADBM ini juga sepertinya dapat dijadikan sarana latihan perang para penggemarnya. Dari hari ke hari semakin banyak saja para komentator yang sambil menyunggu terbitnya jilid berikutnya, mereka menuangkan latihan bakat keterampilan menulisnya. Kalau disimak secara seksama tulisan2 meraka, ternyata mutu tulisan mereka tidak terlalu jauh dari mutu tulisan SH Mintardja.

    Selain berlatih menulis, para penggemar juga dilatih oleh Ki Dede langsung untuk melakukan jurus2 Konvert, Editing dan Penulisan Ulang. Ini juga perlu bagi mereka, sehingga apabila nantinya mereka terjun kedunia tulis menulis, sudah punya bekal latihan keterampilan yang cukup di padepokan ini.

    Disamping latihan perang2an kecil semacam yang disampaikan mereka dalam komentar2 singkat disetiap terbitan jilid baru, tentunya mereka juga harus berlatih dalam perang besar. Dalam perang besar ini mereka harus berlatih jurus memelihara jalur atau alur ceritera, jurus latar belakang sejarah yang melatari ceritera, jurus2 kejutan untuk memancing daya tarik ceritera, jurus2 menyembunyikan bom waktu sehingga sebelum bom meledak semua perhatian pembaca tercurah pada keberadaan bom tersebut beserta waktu ledakannya, dls.

    Contoh bom waktu yang di jilid 50 ini dinyalakan oleh Ki SH Mintaredja adalah masalah tumbuhnya keinginan Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya untuk membangun Alas Mentaok menjadi sebuah padukuhan. Detik demi detik, waktu demi waktu semakin tersingkap jalan kearah pembentukan negara Mataram. Hal ini semakin menarik perhatian pembaca tentang kapan Bom meledak, yaitu tatkala Ke GP dan Stwj berperang dengan Pajang? Atau tidak terjadi perang? Dls.

    Melihat kondisi ini, saya sebagai salah satu penggemar dari padepokan ini menyampaikan saluuuuut kepada Ki Dede yang telah menghadirkan padepokan di dunia maya ini, dan kita bersama-sama merasakan banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari kancah2 pertempuran di sekitar bukit menoreh. Mudah2an, setamat buku ADBM ini sampai jilid yang ke 375(?), dapat diteruskan dengan Buku2 bermutu lainnya hasil karya Cantrik2 Padepokan ADBM ini sendiri.

    Wabillahitaufiq wal hidayah,
    Wassalamu’alaikum wr wb.

  3. @ Truno Podang
    Sekali-sekali coba klik angka yang tertera pada Ngangsu Kawruh. Disitu akan terlihat peta sebaran cantrik ADBM.
    Sumonggo.

    NB: Hingga saat ini kami belum ada niat untuk tampil ke dunia riil. Oleh karena itu statistik mengenai umur, golongan, suku, dll-nya itu juga menjadi tdk ada manfaatnya. Cukuplah kiranya jumlah pengunjung dan letak geografisnya saja (GD).

  4. Gaya bahasa yang ditampilkan oleh Sang Maestro SHM memang lain dari penulis2 lainnya.. Apa yang disuguhkan lewat kalimat2 maupun kata2 yang diutarakan, bisa membawa sang pembaca berada pada suasana yang sesungguhnya, meskipun cerita ini merupakan pengembangan dari kejadian2 dimasa lalu. Kalimat demi kalimat yang dituliskan begitu mendetail, sehingga tidak ada bagian yang terlewatkan.

    Meskipun Sang Maestro dalam menyusun suatu kalimat atau kata2 yang kelihatannya “njlimet/muter2”, namun justru itu yang menimbulkan kesan dan pemahaman yang mendalam. Untuk itu, para komentator2 yang selalu berceloteh lewat tulisan2nya ketika menunggu kemunculan buku selanjutnya, diharapakan kedepannya bisa menyambung cerita yang belum berakhir.

    Karya Sang Maestro ini, bukan hanya sekedar cerita yang cuma hanya bisa dibaca, tetapi juga meninggalkan pesan moral dan pendidikan.

  5. sepiiiii,…….

    kitab pusaka 55 msh blm dapat,… padahal pelajaran dlm kitab pusaka 54 sdh diselesaikan, dimengerti n siap di amalkan dlm tata kehidupan.

    bingung,….

    bagaimana lalui waktu, sedangkan esok sdh ada tantangan hidup yg baru. dapatkah hidup terus berjalan hanya dgn kemampuan menamatkan kitab pusaka 54??

    semoga,……

    yah semoga ki/nyi gde DD segera mendengarkan keluhan ini n merelakan kitab pusaka 55 nya untuk diwariskan lebih cepat.

  6. kiayi DD dengan menahan nafas…dan lembut tangannya satu-satu membuka lembaran demi lembaran dan mescan satu-demi satu demi terwujudnya kitab 55 itu.
    sementara diluaran orang-orang sudah tidak sabar menunggu keluarnya ki DD untuk mebagikan kitab tersebut, yang sudah tidak sabar sekali berteiak-teriak -he..ki DD cepatlah kerjanya jangan seperti kura-kura- sementara orang yang berdiri disebelahnya berkata -sabarlah kakang dengan beriak teriak tidak ada gunanya, lebih baik menunggu atau membantu kerjaanya biar cepat selesai – sementara ada orang yg dibelakan nya sambil menghitung-hitung seperti berguman – kalau kitab itu ada delapan puluh halaman satu halaman satu menit , berarti delapan puluh menit , terus diedit supaya menjadi wajar untuk dibagikan memerlukan waktu dua atau tiga jam-an kasaran bisa empat sampai lima jam..jika dikerjakan setelah semburat warna merah matahari bisa jadi selesai jam sepuluhan atau jam sebelas , belum makan pagi yang ransumnya terlambat ,atau godan-godan lainnya yang menghambat pekerjaannya sehingga paling lambat tengah hari baru selesai…untuk dikeluarkan kitab tersebut….- orang yang erteriak-teriak tadi menjadi termenung mendengar orang yang dibelakangnya berguman menghitung-hitung waktu yang dikerjakan ki DD- dan mencela – ah kau tidak tau ki DD itu kan orang yang punya kemampuan lebih dari orang-orang kebanyakan sehingga tidak perlu waktu yang demikian lambat..- orang yang berguman menimpali – itu kan hitungan umum yang aku hitung berdasarkan hitungan pekerjaan umum yang biasa dikerjakan seseorang, ya terserah mau masuk perhitungan atau tidak , lebih baik aku kembali setelah tengah hari agar tidak mendengarkan kekecewaan dan keluhan yang tidak berarti ini..-

    Mohon maaf kepada ki DD dan para prajurit serta senapati yang telah melangsungkan kehidupan padepokan ini , dan terimakasih pangeran sing balas.

  7. kapan-kapan kt koesplus………………………………….. album 55 br proses mixing di mentaok record

  8. Ki Kasdoelah menemui Ki Warsono di banjar desa. Desas-desus mengenai hantu di Alas Mentaok rupanya sudah sampai ke telinga para tokoh di padepokan ADBM. Sambil menimang-nimang kitab 55 ditangannya Ki Kasdoelah bersama Ki Warsono menghampiri Ki Dede Menoreh.

    “Hantu-hantu itu rupanya yang saat ini menggelisahkan para cantrik ADBM. Apakah perlu segera kita beberkan saja siapa dalang dibalik semua ini?” berkata Ki Dede.

    “Benar… Siapa tahu rahasia nya memang berada di kitab 55 ini” jawab Ki Kasdoelah sambil menunjukan kitab ditangannya.

    “Apakah perlu segera saya lakukan scanner Kiai?” bertanya Ki Warsono.

    “Agak nya memang harus demikian Ki Warsono” jawab Ki Kasdoelah.

    Ki Dede menganguk-angguk seraya berkata “Mumpung masih pagi. Para santripun saat ini sedang berkumpul bersama keluarganya. Dan juga belum banyak keluhan yang muncul kalau kita terlambat memberikan ransum ini”

    Kemudian ketiganya berjalan menuju markas padepokan ADBM untuk melakukan persiapan penerbitan kitab 55 yang sebentar lagi akan dicari-cari oleh para cantriknya.

    ——- K D ——-

  9. Saabar nggerr….sabar….Covernya sudah muncul….

  10. Sepagi itu Sekar Mirah telah nembang rengeng-rengeng di dapur. Gumamnya, “…ada lemper ada talas, …ada cover, ya, ada balas..”

    Sukra, yang tengah menemaninya, melirik dengan aneh. “Apa sih, maksudnya?” gerutunya dalam hati.

    Eee alaah, nyo’on pangaporah

  11. Wah, gawat…
    saya kangen buka ADBM beberapa kali sehari hanya untuk baca tulisan bocah bocah cantrik yang waringuten itu….lama lama pada bikin buku sendiri…nanti Agung Sedayu bukan minum air sere tapi air cola, makannya bukan jenang alot tapi pizza alot…naiknya bukan kuda tapi hunda…pertemuannya bukan di banjar .. tapi di mall …musuhnya? Ki Tambak Korupsi

  12. “Angger Pandan Wangi, engkau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan ayahmu. Aku kira Ki Gede akan mampu mengatasinya apabila ada hambatan di perjalanan.” kata Samekta.

    “Tapi paman, aku memang mengkhawatirkan ayahku, apabila para cantrik yang sulit mengendalikan diri itu masih terus saja menunggu.” jawab Pandan Wangi.

    “Justru itulah, memang sebaiknya ayahmu segera mengirimkan kitab itu ke padepokan yang wingit itu” desis Samekta.

    “Tapi aku berpendapat lain. Sebaiknyalah mereka dibiarkan menunggu, aku yakin mereka akan membubarkan diri. Apabila padepokan itu telah sepi, barulah ayah pergi ke sana.” sahut Pandan Wangi.

    “Itu adalah tindakan yang sia-sia ngger, aku yakin para cantrik itu akan selalu menunggu, karena mereka yakin kitab itu akan segera datang, apalagi covernya sudah terlanjur dikirimkan.” lanjut Samekta.

    “Kalau begitu, terserahlah pada ayah.” kata Pandan Wangi.

    Dalam hati Samekta mendesah, “Mudah-mudahan Ki Gede segera megirimkan, sebelum para cantrik itu menjadi semakin tidak dapat mengendalikan diri.”

  13. suwe ora jamu
    jamu ora suwe
    suwe ora jamu
    jamu pisan ora bisa suwee

  14. Kepergian Sekar Mirah membuat Prastawa tidak nyenyak makan dan tidak menikmati sedapnya tidur.

    “Mirah …… Mirah ……… kalau kamu mau menerima cintaku .. jangankan jilid 55 …. seluruh kitab kuno peninggalan Kiai Mintardja akan ku serahkan padamu hari ini.”

    ” Sayang …. engkau tidak bisa mendengar jeritanku … maka terpaksa aku mengecewakan seluruh kademangan Sangkal Putung dan hantu-hantu Alas Metaok….”

  15. adakah kisanak semua sudah punya yang versi convert dlm format word?sudilah kiranya mengirimkan ke emailku, pasalnya aku sekarang menikmati ADBM melalui handphone.

  16. Sekar Mirah tercenung mendengarkan igauan Prastawa yang tidak karuan macam itu. Dipandanginya anak muda yang tidur itu dalam temaramnya nyala api dlupak di sudut dinding.

    “Oh, oh.. Prastawa. Jangan engkau salah duga, dan jangan pula salah kira. Bukan karena sudah ada Kakang Agung Sedayu di hatiku, maka aku terpaksa menolak cintamu,” desah gadis itu dalam hatinya.

    Lalu, “ketahuilah, Prastawa, ..Jilid-55 itu sudah ku-donlod sendiri, atas budi baik sanak kadhang semua di Padepokan ADBM .. Jadi, aku tak perlu lagi janji-janji palsumu.”

  17. Sederek Moderator,

    Halaman 10 dan 11 kok gak ada,
    Apa dibawa sama Sekar Mirah ke Sangkal Putung ?

    Matur Nuwun.

    GD: Sudah diperbaiki

  18. Istilah:

    Bumbung: tabung yang terbuat dari batang bambu
    Dingklik : bangku kecil
    Regol : gerbang
    wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)
    Mas Ngabehi Loring Pasar : Mas Ngabehi yang tinggal di sebelah Utara Pasar. (berasal dari kata Lor = Utara)

    Wanakerti: Wana = hutan; kerti=tata tertib/kedamaian/kemakmuran

    bacaan :
    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa
    http://blog.baliwww.com/tag/jana-kerti/

  19. adakah kisanak yang sudah menggenggam buku 55 ini di komputernya?kalo bisa saya minta dikirimi ke email saya, soalnya saya dah coba donlot gak bisa-bisa. Makasih sakdurunge yo

  20. sejak buku 55 ini gak tahu kenapa aku kok gak bisa donlot (selalu gagal di tengah2), sudah tak coba pake bermacam browser dan bermacam komputer tetap aja gak bisa, jadi adakah kisanak yang berkenan untuk mengirimkan buku 55 ke alamat email sya?

  21. Para sedulur sedoyo, buat mbaca file2 download-an diatas pake apa ya…dari 51-55 kulo mboten saged niki ngangge pdf, niku jenis file nopo nggeh? Mohon pencerahannya?

  22. Untuk Pak Muklijum, kalo boleh tahu downloadnya di kantor apa di rumah? kalo di kantor mungkin dibatasi besaran downloadnya karena beban network. Coba di download pada saat pagiiii sekali atau malaaaam sekali, saat para ADBMer masih atau sudah pada tidur, mungkin downloadnya lancar.

    Untuk Pak AlGhors, file .pdf nya harap diubah dulu menjadi .djvu

    Untuk membuka file silahkan unduh program di sini:
    https://adbmcadangan.wordpress.com/download/
    ambil salah satu:
    MacDjView

    WinDjView
    SDJVU
    HandyDjvu
    Java DJVU
    PocketDJVU (v0.9.2)
    STDUViewer

  23. makasih mas jebeng, setelah perjuangan yang panjng dan melelahkan, akhirnya buku 55 sudah ada di tangan. nunggu buku 56 nich, biar gak nanggung

  24. He Kisanak, menurut saya pada akhirnya memang lebih menarik celotehnya para Cantrik ketimbang baca bukunya satu-satu, malah nambah warunguten..

  25. Ok matur nuwun sanget atas info dan pencerahannya mas jebeng…
    Tetep semangat buat padepokan Ki Gede Menoreh.

  26. Mohon ampun ki Muklijum:”mohon muridmu ini diberikan tenaga cadangan untuk mengungkap jurus 50,51,56 guna membantu anak bengal mas ngabei loring pasar meramaikan alas mentaok, terimakasih guru,”

  27. Para kisanak yg telah membantu saya sekalian, matur nuwun sanget. Setelah berhasil ngunduh program viewer nya DJVU, saya sekarang bisa membuka kitab2 yg diwariskan oleh Ki Argapati (Kiai Kasdoelah & Kiai Prasidi)melalui jasa2 Ki/Nyi DD (GD) dan ki Sukra berikut para senopati Kiai Warsono, Kiai Pedo, Kiai Prastawa, Kiai Ma’ruf, Anakmas Edy, Anakmas Jebeng dll.

    Bukit menoreh semakin cerah menyongsong hari esok…….

    Terima kasih

  28. Sejak pertemuanku dengan Panembahan Jati Srana malam-malam kemarin, hatiku sudah risau. Mengapa beliau mau menerima usulan andahannya itu? Dua orang yang sudah tidak asing bagiku. Seorang yang tinggi kekar dan seorang yang kecil kekurus-kurusan! Akan tetapi, aku yang hanya seorang andahan lain yang tidak istimewa di mata Panembahan Jati Srana tentu tak akan memiliki kesempatan untuk tahu rencana ke depan. Sambil mengatur uba rampe milik majikanku itu, aku hanya bisa menunggu. Menunggu cerita lanjutannya di jilid 55 ini!

  29. Apa buku jilid 55 belum dapat dibuka, kok saya selalu gagal membukanya, padahal buku 56 sudah berisi. Jadinya nggak bisa baca buku 56 karena ada “missing link”

  30. Ohm Achmad, Sepertinya Buku 55 masih berupa djvu file. Jadi link untuk versi teks belom dimunculkan oleh Ki Gede..

  31. Hmm.. Dah pd gak sabar ya nunggu buku 55.. Sama.. he50x.. Pripun nggih? Kok tasih kosonh page nya.. Udah mulai gatel seluruh badan e..

  32. asyikjuga menilas tapaki sampai di gandhok 55.
    Kumaha damang Ki Menggung KY,Ki AS, kI Menggung YP ?

    • ada perasaan “dredEK-dredEK” siTIK njih ki, disaat
      broBOS pintu gandok yang selama ini raPET ditutupi….he10x

      amat saYANG Nyi Seno-ne belom berkeNAN “menYAPA”
      pasukan ki Gembleh cs.

      • ke mana ke mana ke mana

        • lha wong wis pamitan ket mang kok jik digoleki to …

          • wonten sing kantun lho ,

            • inggih ki mangku, niki wau mbak ayu ketinggalan duko wonten pundi 😳

              • Atos-atos teng Mentaok dalu-dalu kathah jerangkong klayaban lho .

                • mboten dados menopo ki, rombongan jrangkong mpun sami budal rame-rame madosi alamat palsu

  33. Wah jerangkong jaman saiki senengane malah ngalamat ASPAL ..

    • para tumenggung eh jerangkong jaman saiki memang begitu ki

      • Oh pun kamanungsan yake ??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: