Buku 54

“Menanak nasi seperti perempuan. Kalau kau laki-laki, kau tidak akan berkelahi dengan cara itu. Kau pasti akan berusaha melawan meskipun akibatnya mati.”

Wajah Swandaru menegang kembali. Terasa darahnya me¬lonjak mendengar penghinaan itu. Dan orang yang kekurus-kurusan itu masih berkata, “Nah, apa katamu sekarang? Orang-orang di sekitar kita menjadi saksi, bahwa ternyata kau adalah orang yang hanya dapat berteriak-teriak tanpa arti.”

Sejenak Swandaru tidak menyahut. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Jadi menurut penilaianmu sekarang ini akulah yang licik meskipun kawanmu yang menggenggam senjata yang ganas itu?”

Pertanyaan itu benar-benar tidak diduga-duga. Orang yang kekurus-kurusan itu mengharap Swandaru marah dan langsung menye¬rang. Tetapi agaknya anak yang gemuk itu masih saja dapat menahan diri. Karena itu justru ia sendirilah yang menjadi tidak sabar lagi. Katanya kepada orang yang tinggi kekar, “Nah, kau telah cukup mendapat istirahat. Lakukanlah sekarang. Kejar anak gemuk itu sampai dapat. Kalau ia menghadapkan dadanya tikamlah dadanya. Kalau ia lari tikamlah punggungnya.”

“Kalau aku miring?” bertanya Swandaru.

“Gila,” teriak orang yang kekurus-kurusan. “Lakukan se¬karang!”

Orang yang kekar itu menggeram, ia maju selangkah demi selangkah dengan wajah yang semakin liar.

Dalam pada itu Swandaru menjadi lebih berhati-hati menghadapinya. Namun demikian ia memang merasa, kalau dengan cara ini maka perkelahian akan berlangsung terlalu lama. Ia harus menemukan kesempatan yang sebaik-baiknya untuk mengalah¬kan lawannya, tetapi kulitnya sendiri tidak tergores ujung sen¬jata beracun itu.

Namun akhirnya Swandaru menarik nafas ketika gurunya berkata, “Sudahlah, jangan biarkan permainan ini berlangsung terlampau lama. Bukankah kita ini gembala yang baik, yang masih tetap menyimpan cambuk kita masing-masing? Pergunakan cam¬bukmu untuk mencegah pisau-pisau beracun itu.”

Agung Sedayu menegang sejenak, memandangi wajah guru¬nya. Tetapi ia pun segera mengangguk-angguk. Gurunya sama sekali tidak sekedar diburu oleh kegelisahan. Namun agaknya gurunya memang merasa tidak perlu lagi menyembunyikan cambuk-cambuk ini. Sebagian dari cirri-ciri dirinya sudah mulai diperlihatkannya.

Swandaru yang semula juga ragu-ragu, kemudian tersenyum ketika ia melihat gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan ia masih sempat berkata, “Apakah aku harus menggembalakan pisau ini?”

Sebelum Kiai Gringsing menjawab, orang yang tinggi ke¬kar itu sudah mulai menyerangnya sambil menggeram, “Per¬setan dengan gembala gila seperti kalian.”

Swandaru masih harus meloncat menghindar. Namun kemudian ketika ia berdiri di atas sepasang kakinya, tangannya sudah menggenggam cambuknya yang diurai dari bawah ba¬junya.

“Nah,” katanya, “sekarang kita masing-masing sudah ber¬senjata. Senjatamu adalah senjata seseorang yang menguasai racun, sedang senjataku adalah senjata seorang gembala.”

Mata orang yang tinggi kekar itu menjadi merah padam. Sejenak dipandanginya ujung cambuk Swandaru. Namun kemudian ia menggeram, “Persetan! Kau sangka aku sekedar seekor kambing domba yang ketakutan mendengar bunyi cambuk.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi diputarnya cambuknya di atas kepalanya. Sudah agak lama ia tidak mempergunakan cambuk itu, sehingga ia merasa perlu untuk melemaskan otot-otot pergelangan tangannya.

Orang yang tinggi kekar itu pun tidak sabar lagi. Dengan satu loncatan yang panjang ia menyerang, menyusup di bawah putaran cambuk Swandaru. Namun, meskipun sudah agak lama Swandaru tidak mempergunakan cambuknya, ia masih tetap cukup lincah menguasai senjatanya. Ketika sebuah ledakan melengking, maka terdengarlah keluhan tertahan. Orang yang ting¬gi besar itu dengan serta-merta meloncat surut. Sebuah goresan yang kemerah-merahan telah melekat di kakinya.

“Setan alas!” ia mengumpat. Ketika ia melangkah ma¬ju, ternyata kakinya menjadi timpang.

Swandaru tidak membiarkannya lagi. Ia pun segera men¬desak. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah sepasang pisau beracun itu. Karena itu, maka dengan tiba-tiba ia pun menyerang. Sekali lagi cambuknya meledak. Kali ini mengenai pergelangan tangan orang yang tinggi kekar itu.

Sekali lagi sebuah keluhan terdengar. Bahkan kemudian disusul dengan umpatan yang kasar. Bukan saja pengelangan ta¬ngannya berdarah, tetapi satu pisaunya telah terlepas dari ta¬ngannya.

“Hem,” orang yang kekurus-kurusan berdesah, “orang ini memang luar biasa. Minggirlah,” katanya kemudian kepada orang yang tinggi itu, “aku akan mencobanya.”

Kiai Gringsing sama sekali tidak terkejut mendengar kata-kata orang yang kekurus-kurusan. Ia memang sudah menyangka, bah¬wa orang yang tampaknya sebagai seorang penakut itu, pasti mempunyai kelebihan dari orang yang tinggi kekar, yang tam¬paknya sehari-hari adalah orang yang tidak terkalahkan di barak itu. Bahkan para penjaga pun takut kepadanya, karena ia memi¬liki kekuatan raksasa. Namun, meskipun orang yang kekurus-kurusan ini agaknya tidak memiliki kekuatan jasmaniah sebesar orang yang tinggi kekar itu, tetapi agaknya orang ini memiliki ilmu yang lebih masak.

Selain Kiai Gringsing, maka orang-orang yang menyaksikan per¬kelahian itu menjadi heran. Mereka sama sekali tidak menyang¬ka, bahwa orang yang kekurus-kurusan itu pada suatu saat dapat berbuat seperti itu seolah-olah memiliki kemampuan lebih besar dari orang yang tinggi dan kekar itu.

Namun para petugas yang ada di tempat itu pun segera da¬pat mengetahui, bahwa sebenarnya orang yang kekurus-kurusan itu memang mempunyai kelebihan dari orang yang tinggi kekar itu.

Swandaru yang masih memegang cambuknya berdiri ter¬mangu di tempatnya. Ia melihat orang yang tinggi kekar itu masih menyeringai menahan sakit.

“Simpan pisaumu,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu. “Jangan sampai pisaumu menyentuh lukamu sendiri. Kau akan segera mati karenanya.”

Orang yang tinggi kekar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera ia menyarungkan pisau yang masih di genggamnya.

“Ambil yang satu,” berkata Swandaru. “Kalau mengenai anak-anak yang sedang bermain-main, maka kau akan berdosa se¬puluh kali lipat.”

Yang terdengar adalah gemeretak gigi orang yang tinggi kekar itu. Namun yang berkata adalah orang yang kekurus-kurusan. “Jangan marah. Sepantasnya kau memang hanya menakut-nakuti anak-anak. Tetapi kalau kau bertemu dengan lawan yang agak kuat, kau tidak dapat berbuat apa-apa.”

Orang itu sama sekali tidak menjawab. Setapak demi setapak ia melangkah mendekati pisaunya.

“Ambil,” berkata Swandaru.

“Ya, ambil,” ulang orang yang kekurus-kurusan.

Orang itu ragu-ragu sejenak. Tanpa sesadarnya diamat-amatinya pergelangan tangannya yang terluka dan menitikkan darah.

“Cepat ambil,” desis Swandaru pula.

“Ya, cepat ambil,” ulang orang yang kekurus-kurusan.

Meskipun dengan hati yang bimbang, namun tangannya dijulurkannya pula meraih pisau yang tergolek di tanah itu.

Namun ia terloncat surut ketika tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh cambuk Swandaru yang meledak. Dengan wajah yang te¬gang ia berdiri termangu-mangu. Tangannya yang berdarah itu pun menjadi gemetar.

“He, kenapa kau?” bertanya Swandaru sambil tersenyum.

“Gila,” geram orang yang kekurus-kurusan, “ambillah. Kenapa kau tiba-tiba menjadi pengecut?”

Orang itu masih berdiri gemetar. Sejenak ditatapnya wa¬jah Swandaru, kemudian wajah orang yang kekurus-kurusan itu.

“Ambillah!” teriak orang yang kekurus-kurusan itu. “Ka¬lau orang itu akan mengganggumu, biarlah aku putuskan batang lehernya.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Sementara Agung Sedayu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku adik se¬perguruannya.

“Anak itu memang bengal,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Namun sementara itu, ia melihat bahwa orang yang kekurus-kurusan itu benar-benar merasa terhina oleh perbuatan Swandaru.

“Orang yang kekurus-kurusan ini agaknya lebih berbahaya dari kawannya yang tinggi kekar namun seperti kerbau itu,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Sementara itu, orang yang tinggi kekar itu pun telah me¬langkah maju dengan penuh keragu-raguan. Sekali-sekali ditatapnya wa¬jah kawannya yang kekurus-kurusan itu, kemudian ditatapnya pula wajah Swandaru.

“Cepat,” berkata orang yang kekurus-kurusan.

Orang yang tinggi kekar itu hampir terloncat. Dengan secepat-cepatnya, ia meraih pisaunya yang beracun. Kemudian ia pun segera meloncat mundur.

Swandaru tidak dapat menahan tertawanya, sedang Agung Sedayu pun tersenyum pula tertahan-tahan.

“Kau memang terlampau sombong anak yang gemuk,” berkata orang yang tinggi kekurus-kurusan itu. “Sekarang kau ja¬ngan menyebut dirimu bernama Sangkan. Aku tahu bahwa kau pasti bernama lain. Dan aku pun kini tahu, selama ini kau berpura-pura menjadi orang-orang bodoh, miskin dan setengah gila. Tetapi sebenarnyalah bahwa kalian adalah orang-orang sombong yang tidak ada ada duanya di dunia. Kini kalian akan membuat semua orang terkejut. Kalian akan mendapat pujian, sebagai orang-orang bodoh yang ternyata memiliki kelebihan yang luar biasa.”

“He,” tiba-tiba Swandaru memotong, “apakah kau tidak berbuat seperti itu? Selama ini, orang yang tinggi kekar itu sajalah yang kau taruh di depan. Kau sendiri selalu bersembunyi di belakang. Bukankah kau selalu berpura-pura menjadi seorang pe¬nakut yang paling ketakutan apabila ada suara tikus sekalipun? Sekarang kau juga akan tampil sebagai seorang pahlawan.”

“Diam! Diam kau,” orang yang kekurus-kurusan itu benar-benar telah menjadi marah. “Aku memang menunggu kesempatan ini. Selama ini aku memang sedang meyakinkan, bagaimana kita harus menghadapi hantu-hantu dari Alas Mentaok. Justru untuk ke¬pentingan kita bersama. Tetapi kedatangan kalian telah meru¬sakkan semua rencanaku. Usaha yang aku lakukan akan menjadi sia-sia, dan hantu-hantu itu tetap akan marah kepada kita.”

“He, apakah kita masih harus berbicara tentang hantu?”

“Gila! Kau sangka kau, kakakmu, dan ayahmu ini siapa? Betapapun saktinya kalian, kalian tidak akan dapat berbuat sesuatu di sini tanpa berbicara tentang hantu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Apakah kau sudah berhasil setelah sekian lama melakukan¬nya?”

Orang yang kekurus-kurusan itu terdiam sejenak. Ditatapnya saja wajah Swandaru dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan. Namun pertanyaan itu tidak segera dijawabnya.

“Bagaimana?” Swandaru mendesaknya.

Orang itu menggelengkan kepalanya, “Belum. Sebenarnya aku memang sudah hampir berhasil. Tetapi kedatangan kalian ini telah menjauhkan kami dari mereka, sehingga usaha yang sudah lama aku lakukan itu, menjadi sia-sia. Karena itu, maka kalianlah yang harus menanggung akibat kegagalan itu. Kalian terpaksa dikorbankan. Sudah lama aku ingin membuat korban semacam ini untuk hantu-hantu itu. Korban darah. Mudah-mudahan mereka menjadi lulut dan dapat mengerti keinginan kami.”

“Apakah korban darah itu?” bertanya Swandaru.

“Sama dengan korban nyawa.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia berkata sambil mengangguk-angguk, “O, jadi kau ingin membunuh diri?”

“Persetan!” kemarahan orang itu sudah memuncak.

Agung Sedayu masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak dapat mencegah Swandaru. Kebiasaannya yang ternyata menyakitkan hati orang yang kekurus-kurusan itu tidak dapat di¬hindarinya.

Sejenak kemudian maka sambil maju selangkah orang yang kekurus-kurusan itu menggeram, “Kini memang sudah tiba saatnya. Salah satu dari kalian bertiga akan mati, atau kalau kalian sama-sama maju, maka kalian bertiga akan mati pula bersama-sama. Se¬makin banyak korban yang aku berikan, maka kami yang tinggal di sini akan menjadi semakin aman.”

Swandaru melihat sorot mata orang itu. Ia benar-benar sudah ada di puncak kemarahannya. Karena itu, ia kini tidak dapat berkelakar lagi.

Sejenak kemudian orang yang kekurus-kurusan itu pun sudah siap. Dengan wajah yang tegang ditatapnya cambuk Swandaru. Namun sejenak kemudian ia pun segera melenting menyerang dengan dahsyatnya.

Swandaru memang sudah bersiap menghadapinya. Cambuk¬nya sudah terlanjur berada di tangannya, sehingga karena itu, maka cambuk itu pun segera meledak memekakkan telinga.

Tetapi orang yang kekurus-kurusan itu memang cukup tangkas. Ia masih mampu menggeliat menghindarkan dirinya, sehingga cambuk Swandaru sama sekali tidak mengenainya.

Namun dalam pada itu, ketika orang yang kekurus-kurusan itu tegak berdiri di atas kedua kakinya, di tangannya telah tergeng¬gam seutas rantai besi yang diambilnya dari kantong ikat ping¬gangnya. Rantai itu tampaknya tidak begitu besar, hampir se¬panjang lengan tangannya. Tetapi yang berbahaya dari senjata itu adalah sebuah gerigi pada bola besi sebesar kemiri.

Swandaru menjadi tegang sejenak. Tanpa diberitahukan lagi, ia sadar, bahwa bola besi yang tampaknya hanya sekecil kemiri itu pasti sangat berbahaya. Geriginya yang kehitam-hitaman itu pasti mengandung racun seperti pisau belati orang yang tinggi besar itu.

Ternyata gurunya membenarkan dugaannya itu. Dengan sungguh-sungguh Kiai Gringsing berdesis, “Hati-hatilah dengan bola kecil yang bergerigi itu, Swandaru.”

Swandaru menganggukkan kepalanya. Dan ia pun menjadi kian berhati-hati.

Sejenak kemudian bola kecil itu sudah berputaran seperti baling-baling. Untunglah bahwa Swandaru pun mempergunakan sen¬jata yang hampir sejenis. Ujung cambuknya adalah senjata yang lentur, meskipun tidak kurang berbahayanya. Kalau Swandaru bersungguh-sungguh mempergunakan senjata itu, maka lecutan sendal pancing apabila menyentuh tubuh lawannya, pasti akan menyo¬bek kulit, karena karah-karah besi yang melingkar pada juntai cam¬buk itu.

Sejenak kemudian keduanya sudah berhadapan kembali. Sejenak mereka bergeser beberapa tapak. Sedang orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka pun berdesakan surut beberapa langkah, karena orang yang kekurus-kurusan itu selalu memutar rantai yang berbola di ujungnya.

Dengan sedikit membungkukkan badannya, Swandaru ber¬siap menghadapi setiap kemungkinan. Digenggamnya tangkai cambuknya dengan tangan kanannya, sedang ujungnya dipegang¬nya dengan tangan kiri. Namun demikian, cambuk itu siap me¬ledak setiap saat.

Perkelahian yang seru itu tidak dapat dihindarkannya lagi. Dengan garangnya orang itu menyerang Swandaru dengan ujung rantainya. Sejenak bola itu melingkar-lingkar di udara, namun kemu¬dian menukik menyerang dengan cepatnya. Selagi Swandaru menghindarinya, maka bola itu seperti kepala seekor ular me¬matuknya dari arah yang lain.

Orang yang kekurus-kurusan itu benar-benar menguasai senjatanya yang sangat berbahaya itu. Seperti senjata-senjata beracun lainnya, setiap sentuhan akan berarti maut.

Tetapi Swandaru pun mampu mempergunakan senjatanya sebaik-baiknya. Setiap kali ia masih sempat meledakkan cambuk¬nya. Bahkan ujung cambuknya telah beberapa kali menyentuh tubuh lawannya, sehingga jalur-jalur merah melekat di bahu dan le¬ngannya, setelah karah-karah besi dijuntai cambuk itu menyobek baju orang yang kekurus-kurusan itu.

Meskipun demikian, orang yang kekurus-kurusan itu seakan-akan tidak menghiraukannya. Meskipun ia tidak kebal, tetapi ia sama sekali tidak gentar. Menurut perhitungannya, luka-lukanya itu sa¬ma sekali tidak akan membahayakan jiwanya. Tetapi kalau ia berhasil menyentuh lawannya, maka itu akan berarti kematian. Sehingga dengan demikian, ia justru semakin mendesak maju, menyusup di antara ayunan ujung cambuk Swandaru.

Demikianlah, maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Kadang-kadang kedua senjata itu saling melilit. Te¬tapi agaknya keduanya cukup menguasai, dan senjata-senjata itu pun cukup kuat, sehingga setiap kali, lilitan itu pun segera terurai.

Agung Sedayu dan Kiai Gringsing menyaksikan perkelahi¬an itu dengan hati yang berdebar-debar. Orang yang kekurus-kurusan ini ternyata tidak sekedar berkelahi seperti kawannya yang tinggi itu.

Agaknya Swandaru mempertimbangkannya juga. Ternyata ia kini menghadapinya dengan bersungguh-sungguh. Kerut keningnya dan tatapan matanya menunjukkan bahwa ia tidak lagi bermain-main.

Tetapi ternyata bahwa senjata orang yang kekurus-kurusan itu pun mempunyai kelebihan dari senjata Swandaru. Senjata Swandaru dapat melukai kulit, tetapi tidak membunuh dengan kejam seperti senjata lawannya. Itulah sebabnya, maka Swardaru agak mengalami kesulitan. Meskipun demikian, latihan-latihan yang berat selama ini membuatnya menjadi seorang yang tabah meng¬hadapi kesulitan apa pun juga.

Dengan demikian, maka Swandaru tampaknya selalu ter¬desak. Ia kadang-kadang melangkah surut, kadang-kadang berloncatan ke samping. Namun setiap kali ia masih juga berhasil melukai kulit lawannya. Setiap kali orang yang kekurus-kurusan itu tertegun, apabila cambuk Swandaru meledak. Dan setiap kali sebuah goresan merah yang baru telah melekat di tubuh orang itu, bahkan kadang-kadang luka yang menitikkan darah.

Orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi mereka yang tidak mengerti kedudukan masing-masing. Mereka hanya melihat Swandaru selalu terdesak, tanpa melihat bagaimana senjatanya berhasil melukai lawannya.

Lawan Swandaru yang kekurus-kurusan itu pun mengumpat di dalam hatinya. Sekian lama ia bertempur, namun ia masih belum berhasil menyentuh kulit lawannya. Bahkan kulitnya sendiri yang semakin lama menjadi semakin parah.

“Persetan,” ia menggeram di dalam hatinya. “Luka-luka ini hanya akan menimbulkan sedikit gangguan pada kulitku. Tetapi aku harus menyentuhnya. Ia akan segera mati sebelum mening¬galkan lingkaran perkelahian ini.”

Dengan sepenuh kemampuannya, orang itu sudah bertekad untuk membunuh Swandaru dengan racunnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi ledakan-ledakan senjata lawannya. Ujung cambuk yang mengenainya sama sekali tidak dihiraukannya, mes¬kipun kadang-kadang ia harus menyeringai menahan sakit.

Meskipun Swandaru berhasil melukai lawannya semakin sering, tetapi Agung Sedayu dan gurunya masih juga selalu dicemaskan oleh senjata lawannya. Orang yang kekurus-kurusan itu seolah-olah sama sekali tidak merasa bahwa kulitnya telah terkelupas di beberapa bagian. Pakaiannya telah menjadi kemerah-merahan karena darah yang meleleh dari setiap jalur luka, meskipun tidak dalam.

Swandaru pun kemudian menjadi heran. Kekuatan apakah yang membuat lawannya seperti orang kesurupan. Luka-luka itu seolah-olah sama sekali tidak terasa. Ia masih saja mendesaknya sam¬bil mengayunkan bola besinya yang kecil dan bergerigi itu. Se¬tiap kali menyambar di samping telinganya, kemudian terjulur mematuk lambungnya.

Agaknya lawannya tidak memilih tempat di tubuhnya. Manapun yang dapat dikenainya akibatnya sama saja. Bahkan di bagian yang tertutup oleh pakaian, karena gerigi yang tajam itu pasti akan dapat menembusnya.

“Gila,” geram Swandaru di hatinya, “apakah orang ini menyimpan nafas kuda atau kulitnya memang sudah mati, se¬hingga ia tidak merasakan sakit sama sekali?”

Namun dengan demikian kemarahan yang merambat di¬ hati Swandaru pun sampai ke puncaknya. Sepercik kegelisahan telah mewarnai hatinya pula, “Kalau aku tidak segera melum¬puhkannya, akulah yang akan dibunuhnya. Aku dan orang ini mempunyai tujuan yang lain. Agaknya ia benar-benar akan membu¬nuh aku,” Swandaru mengerutkan keningnya. “Kalau saja Guru tidak terlalu lembut hatinya, aku bunuh juga orang ini.”

Dengan demikian, maka terdengar gigi anak muda yang gemuk itu gemeretak. Agung Sedayu yang selalu memperhatikan wajah adik seperguruannya, segera menangkap, betapa hati anak muda yang gemuk itu kini semakin menyala.

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun menjadi sema¬kin cepat. Swandaru pun telah mengerahkan bukan saja kemam¬puannya, tetapi juga kekuatannya. Setiap sambaran cambuknya kini menjadi kian berbahaya. Dan setiap sentuhan juntai berkarah besi itu, menjadi semakin dalam menyobek kulit.

Orang yang kekurus-kurusan itu pun setiap kali terpaksa mena¬han sakit yang menyengat. Ia merasakan pula, bahwa lecutan cambuk lawannya menjadi semakin keras. Tetapi hatinya yang sekeras batu sama sekali tidak menahannya. Ia maju terus tanpa menghiraukan badannya yang seakan-akan sudah menjadi arang keranjang oleh goresan-goresan ujung cambuk lawannya.

Namun dalam pada itu, karena Swandaru yang baru saja sembuh dari sakitnya masih belum mendapatkan segenap keku¬atan dan kemampuannya kembali, semakin lama menjadi sema¬kin lelah. Apalagi setelah ia memeras segenap kemampuan dan tenaganya. Setiap kali ia harus meloncat menghindari sambaran dan patukan bola besi beracun itu, kemudian mengerahkan segenap tenaganya untuk mengayunkan cambuknya. Kadang-kadang sun¬dul puyuh, kadang sendal pancing. Bahkan ia pun menjadi ngeri juga melihat lawannya yang seakan-akan sudah menjadi merah ka¬rena darah. Namun ia masih juga maju dengan beraninya, se¬akan-akan sama sekali tidak terjadi apa pun padanya.

“Gila,” desis Swandaru, “apakah aku berhadapan dengan anak setan Alas Mentaok, atau orang itu telah kesurupan sehingga daya tahannya menjadi lipat sepuluh dari daya tahan manusia wajar, atau memang aku sedang bertempur dengan salah satu dari jenis hantu di Alas Mentaok ini?”

Tetapi Swandaru tidak sempat merenungi pertanyaan yang mengganggunya itu. Ia masih harus bertempur terus. Dalam pada itu nafasnya semakin lama menjadi semakin cepat menga¬lir lewat lubang hidungnya, sedang kekuatannya pun semakin lama menjadi semakin susut pula.

“Sebentar lagi, aku akan kehilangan kekuatan untuk melawannya,” ia berdesis oleh kesadarannya bahwa ternyata se¬telah ia sakit kekuatannya masih belum pulih seluruhnya.

Agung Sedayu dan Kiai Gringsing pun menjadi semakin tegang pula menyaksikan perkelahian itu. Meskipun cambuk Swandaru sudah berhasil melukai tubuh lawannya bahkan tidak sekadar disatu dua tempat, namun ia masih belum berhasil me¬ngurangi ketangkasan orang yang kekurus-kurusan itu. Senjatanya yang beracun itu masih tetap menyambar-nyambar dan mematuk mengerikan.

Agung Sedayu yang hampir tidak dapat menguasai pera¬saan cemasnya, tanpa sesadarnya bergeser maju. Tetapi gurunya menggamitnya sambil berbisik, “Kita menunggu sejenak. Aku melihat sesuatu.”

Agung Sedayu tertegun sejenak. Ia memang tidak akan da¬pat begitu saja memasuki arena, karena meskipun tanpa berjanji, adik seperguruannya seolah-olah sedang melakukan perang tanding seorang lawan seorang. Tetapi ia pasti tidak akan sampai hati melihat kegagalan Swandaru yang masih belum pulih kembali kekuatannya, apalagi ia sudah harus berkelahi melawan dua orang berturut-turut.

“Itu tidak adil,” berkata Agung Sedayu di dalam hati¬nya.

Namun demikian ia tidak bergeser maju lagi. Ia mematuhi pesan gurunya.

“Tetapi, apakah yang sudah dilihat oleh Guru?” perta¬nyaan itu telah tumbuh di dalam hatinya.

Ketika ia berpaling sedikit, dilihatnya gurunya mengamati perkelahian itu dengan sangat tegangnya, seolah-olah ia sedang memperhitungkan setiap gerak dari keduanya.

“Nafas Adi Swandaru sudah hampir putus, Guru,” bisik Agung Sedayu.

Kiai Gringsing sama sekali tidak menyahut. Tetapi ia masih mengikuti perkelahian itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kini ia pun memper¬hatikan setiap gerak dari kedua belah pihak yang terjadi di arena.

Swandaru masih tetap selalu bergeser surut. Keringatnya telah membasahi seluruh tubuhnya, sedang nafasnya menjadi semakin terengah-engah. Cambuknya sudah tidak begitu lincah lagi, meskipun di saat-saat yang berbahaya, Swandaru masih dapat meng¬hentakkan tangannya, dan di tubuh lawannya bertambah lagi seleret luka.

Sejenak kemudian agaknya perkelahian itu sudah meman¬jat sampai ke puncaknya. Orang yang kekurus-kurusan itu menjadi semakin liar. Ia semakin mendesak maju, sedang rantainya yang berujung bola besi bergerigi sebesar kemiri, berputaran semakin cepat. Namun untuk mempertahankan dirinya, Swandaru pun telah mengerahkan segenap tenaganya. Untunglah bahwa pikirannya masih tetap tenang, sehingga meskipun tidak sekuat se¬mula, tetapi ia masih mampu melihat kelemahan-kelemahan pada lawan¬nya yang akhirnya menjadi seperti orang kesurupan itu, yang tidak menghiraukan lagi dirinya, betapapun cambuk Swandaru melecut tubuhnya.

Swandaru benar-benar hampir kehabisan akal. Sekali-sekali ia terhuyung-huyung surut. Sebuah lubang yang kecil di atas tanah tempat ia berpijak, telah membuatnya hampir-hampir terbanting jatuh.

Pada saat-saat yang demikian, Swandaru telah mencoba me¬meras otaknya, bagaimana ia dapat menjatuhkan lawannya. Meskipun ia jarang-jarang melakukannya, benar-benar memeras otaknya, namun ia menemukan juga sikap yang dapat menguntungkannya.

Lawannya sama sekali tidak menghiraukan lagi sentuhan ujung cambuk Swandaru, sehingga ia menyadari bahwa ia harus menemukan cara lain untuk menghentikan lawannya. Karena itu, selagi lawannya menyerang membabi buta dengan senjata rantainya menyambar-nyambar kepala Swandaru, maka anak yang ge¬muk itu telah menyerang lawannya dengan caranya. Disambar¬nya kaki orang yang kekurus-kurusan itu dengan ujung cambuknya. Kemudian, selagi ujung cambuk itu masih melilit pergelangan kaki dengan sekuat-kuat sisa tenaganya, Swandaru telah meng¬hentakkan juntai cambuknya itu.

Ternyata bahwa sisa tenaga Swandaru itu masih cukup kuat. Orang yang kekurus-kurusan itu sama sekali tidak menyangka, bahwa lawannya akan menyerang dengan cara yang aneh itu, apalagi selama ini ia seolah-olah sama sekali tidak menghiraukan lagi serangan-serangan lawannya atas tubuhnya. Karena itu, hentakkan ujung cambuk itu telah mengait kakinya dan seakan-akan mena¬riknya dengan serta-merta.

Hentakkan itu benar-benar tidak dapat dilawannya. Sejenak ia terhuyung-huyung, namun kemudian dengan kerasnya ia terbanting jatuh di tanah.

Swandaru sendiri yang telah mengerahkan sisa tenaganya, ternyata hampir tidak mampu lagi untuk berdiri tegak. Dengan nafas yang terengah-engah ia mencoba menarik cambuknya yang ma¬sih melilit di kaki lawannya yang kini terbanting di tanah.

Bagaimanapun juga, Swandaru tidak mau membiarkan diri¬nya diterkam oleh keganasan racun senjata lawannya. Karena itu, ia masih harus tetap berusaha melawan dengan senjatanya.

Namun ternyata Swandaru tidak segera berhasil. Tenaga¬nya sudah tidak cukup mampu untuk menarik cambuknya yang masih melilit di kaki lawannya, betapapun ia mencoba. Bahkan akhirnya ia terpaksa menghentikan usahanya ketika nafasnya hampir-hampir menjadi putus karenanya.

Tetapi, kemudian ia menjadi heran. Baru setelah ia tidak berhasil menarik senjatanya, ia menyadari, bahwa lawannya yang terbanting jatuh itu sama sekali sudah tidak mampu lagi untuk bangkit. Ternyata setelah ia memeras segenap kemampu¬an dan tenaganya tanpa menghiraukan apa pun juga itu, sampai jugalah ia pada batas kekuatan jasmaniahnya yang sebenarnya telah tidak mampu lagi mendukung hasratnya yang menyala-nyala di dalam dada. Membunuh lawannya yang gemuk. Karena itu, ketika ia tersentak oleh keadaan yang tidak terlawan lagi itu, serasa punahlah semua tenaganya. Perasaan sakit kini serasa telah mencengkeram seluruh urat nadinya. Pedih dan sakit. Selebihnya, tenaganya serasa telah punah sama sekali.

Swandaru masih berdiri di tempatnya dengan nafas terengah-engah. Tangannya sudah tidak mampu lagi memegang tangkai cambuknya. Bahkan dengan susah payah ia bertahan untuk te¬tap berdiri di tempatnya.

Semua yang menyaksikan akhir dari perkelahian itu me¬nahan nafasnya. Sejenak mereka seolah-olah terpukau oleh peris¬tiwa yang menegangkan itu. Mereka melihat orang yang kekurus-kurusan tergolek di tanah dengan darah yang memerahi pakai¬annya, yang robek-robek karena senjata Swandaru, seperti kulitnya yang robek-robek pula. Sedang Swandaru berdiri dengan susah pa¬yah mempertahankan keseimbangannya dengan nafas yang terengah-engah.

Sejenak, tempat itu telah diliputi oleh suasana yang mene¬gang. Setiap orang berdiri membeku di tempatnya. Sekali-sekali mereka mendengar orang yang kekurus-kurusan itu mengaduh perlahan-lahan, sedang nafas Swandaru mengalir semakin tidak teratur. Bahkan kemudian Swandaru tidak berhasil lagi bertahan berdiri di tempatnya. Perlahan-lahan ia menjatuhkan diri dan duduk di tanah.

Dalam pada itu, selagi mereka dicengkam oleh keadaan yang menegangkan, seorang petugas maju mendekati Swandaru. Sambil bertolak pinggang ia berkata lantang, “Kau sudah membuat onar di sini. Atas nama kekuasaan Ki Gede Pemanahan dan puteranya Mas Ngabehi Loring Pasar, kau dan kedua orang yang kini aku ragukan, apakah mereka benar-benar saudaramu dan ayahmu itu, aku tangkap.”

Swandaru yang masih duduk di tanah terkejut. Tetapi sebelum ia menyahut, Agung Sedayu telah melangkah maju men¬dekati petugas itu sambil bertanya, “Apakah kesalahan kami?”

“Kau sudah membuat onar, sehingga di sini terjadi per¬kelahian.”

“Siapakah yang sebenarnya sudah mulai?”

“Lihat akibat dari perbuatanmu ini. Kau harus sadar, bahwa kau tidak hidup seperti binatang di dalam rimba ini. Anak yang gemuk ini sudah membuat seseorang menjadi luka parah.”

“Tetapi bukan maksudnya. Bukan maksud kami menumbuhkan pertentangan di sini.”

“Aku tidak peduli, apakah kau bermaksud demikian atau tidak. Tetapi yang terjadi adalah bukti yang tidak dapat kau ingkari.”

“Tetapi apakah kau tidak mengikuti perkembangan kea¬daan yang sebenarnya, sehingga kau mengambil kesimpulan yang salah, bahwa kamilah yang telah bersalah?”

“Jangan banyak bicara. Kau berbicara dengan petugas yang mendapat kekuasaan dari Ki Gede Pemanahan.”

“Lalu?”

“Kau harus tunduk kepada kami. Kau akan kami tangkap, kami ikat dan kami bawa menghadap Ki Gede Pemanahan.”

“Menarik sekali. Tetapi barangkali orang-orang itulah yang pantas kau tangkap.”

“Tidak. Kalian bertiga.”

“Tunggu,” tiba-tiba terdengar suara yang lain. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Wanakerti mau mendekati petugas itu. “Sebenarnya tidak pantas kalau kita berselisih pendapat. Apalagi di hadapan orang-orang yang seharusnya kita awasi, kita bimbing dan kita arahkan selagi mereka bekerja di sini. Tetapi aku juga tidak dapat tinggal diam melihat kesalah-pahaman ini.”

“Apa yang kau anggap dengan salah paham itu?” bertanya petugas yang ingin menangkap Swandaru. Seorang yang berwajah keras seperti batu. Berkumis lebat dan berjanggut jarang.

“Sebenarnyalah kita harus berbicara dulu. Kita bersama-sama akan menentukan siapakah yang bersalah di dalam hal itu. Terutama kita harus menghiraukan pimpinan kita di sini. Ingat, kita terikat di dalam ketentuan tugas dan wewenang. Kita mempunyai pemimpin yang dapat memberikan bimbingan di dalam tugas kita.”

“Persetan,” berkata orang berkumis itu, “lihat. Apakah yang dilakukan oleh pemimpin kita di dalam keadaan yang ga¬wat ini? Lihat, ia hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mencabuti janggut. Aku tidak mempedulikannya.”

Pemimpin dari para petugas, yang sebenarnya masih be¬lum mempunyai sikap apa pun itu, tiba-tiba merasa terhina. Se¬langkah ia maju sambil berkata, “Jangan berkata begitu. Aku memang tidak bersikap dengan tergesa-gesa. Tetapi kau jangan menyebut aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Apa yang sudah kau lakukan, he?” bertanya orang berkumis itu.

Pemimpin para pengawas itu berdiri tegang memandangi wajah orang berkumis itu. Sejenak ia tidak mengucapkan kata-kata. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Akulah yang paling berkuasa di sini, berdasarkan limpahan kekuasaan dari Ki Gede Pemanahan.”

“Omong kosong,” bantah orang berkumis itu, “aku akan membuktikan, bahwa Ki Gede Pemanahan akan membe¬narkan sikapku.”

“Kau jangan memperbodoh kami. Kami tahu pasti, bah¬wa ada ketidakwajaran di antara kalian. Kau, orang yang gagah itu, dan orang yang sudah dikalahkan oleh anak yang gemuk ini.”

“Apa maksudmu?”

“Setiap hidung akan merasakan kejanggalan perbuatanmu ini. Di dalam keadaan yang seperti ini, tiba-tiba kau tampil dan akan menangkap ketiga orang ini. Itu adalah mustahil. Kita harus bersikap adil. Sebaiknya kedua pihak kita hadapkan ke¬pada Ki Gede Pemanahan karena keonaran ini.”

“Itu tidak perlu. Yang dua orang ini kita sudah menge¬nal sejak lama. Mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab selama ini. Dengan maksud baik berbuat untuk kawan-kawannya. Tetapi yang tiga orang ini memang keras kepala.”

“Aku yang menentukan. Aku yang memutuskan.”

Sejenak keadaan menjadi semakin tegang. Agung Sedayu kini bahkan berdiri termangu-mangu seperti juga Wanakerti. Sedang Kiai Gringsing mengikuti setiap perkembangan keadaan dengan saksama.

Dalam pada itu orang yang berkumis itu pun menjadi gelisah. Agaknya ia tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Namun ia kini berhadapan dengan pimpinannya. Karena itu ia hanya dapat menghentak-hentakkan kaki sambil menggeretakkan giginya.

Dalam pada itu, selagi orang-orang yang berdiri di sekitar tem¬pat itu dicengkam oleh ketegangan, tiba-tiba mereka hampir ter¬lonjak di tempatnya ketika mereka mendengar pemimpin penga¬was itu tiba-tiba mengaduh sambil terhuyung-huyung.

Kiai Gringsing yang berdiri selangkah daripadanya, masih sempat meloncat dan menahannya, ketika pemimpin pengawas itu roboh. Dengan dada yang berdebaran dilihatnya sebuah pisau belati yang menancap di punggung pemimpin pengawas itu.

Selagi Kiai Gringsmg menahan pemimpin pengawas yang menjadi lemah, maka Agung Sedayu sampat meloncat ke luar dari lingkaran orang-orang yang sedang berbantah. Ia sempat melihat sesosok tubuh berdiri di atas batu padas. Bahkan Agung Sedayu masih melihat orang itu menggerakkan tangannya melemparkan pisau ke arahnya.

Untunglah bahwa Agung Sedaya mempunyai bekal ilmu yang cukup. Dengan tangkasnya ia menghindar. Sambil melon¬cat ke samping ia memiringkan tubuhnya, sehingga pisau itu meluncur di sisinya.

Tetapi orang di atas batu padas itu tidak segera menghen¬tikan serangannya. Sebelum Agung Sedayu sempat memper¬baiki kedudukannya, sebuah pisau yang lain telah meluncur mengarah ke dadanya.

Dalam keadaan yang sulit, Agung Sedayu masih sempat menjatuhkan dirinya, meskipun ia masih tetap menperhitungkan bahwa pisau berikutnya akan menyambarnya pula.

Perhitungannya ternyata benar. Ia terpaksa berguling sekali ketika sebilah pisau meluncur sekali lagi.

Orang-orang yang menyaksikan hal itu, bagaikan tonggak-tonggak mati yang membeku di tempatnya. Mereka rasa-rasanya sedang bermimpi menyaksikan pameran ketangkasan yang luar biasa. Ketangkasan melontarkan pisau, dan ketangkasan menghindarinya. Namun jantung mereka serasa menjadi berhenti berdetak, ketika mereka melihat Agung Sedayu terpaksa berguling-guling menghindari se¬rangan lawannya.

Namun Agung Sedayu sendiri sudah tentu tidak mau membiarkan dirinya menjadi sasaran serangan tanpa berbuat sesuatu. Ketika ia mendapat kesempatan, maka tiba-tiba ia meloncat berdiri. Hampir tidak kasat mata, bagaimana ia melakukan. Te¬tapi Agung Sedayu sudah membalas serangan-serangan pisau itu. Dengan sekuat tenaganya ia melempar orang yang berdiri di atas batu padas itu. Tidak dengan pisau, tetapi dengan batu sebesar telur ayam yang disambarnya pada saat ia berguling-guling di tanah.

Ternyata Agung Sedayu masih memiliki kecakapannya membidik yang dipelajarinya sejak kanak-kanak. Sejak ayahnya masih ada. Ayahnya pun adalah seorang pembidik yang baik.

Jangankan sasaran yang seakan-akan terpancang di atas batu padas, sedangkan sasaran yang bergerak di udara pun, Agung Sedayu mampu mengenainya.

Itulah sebabnya, maka sejenak kemudian, terdengar pekik kesakitan. Orang yang berdiri di atas batu padas itu terhuyung-huyung sejenak dan kemudian jatuh terguling di tanah.

Agung Sedayu tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun se¬gera berlari mendapatkan orang itu.

“Berhenti di situ!” tiba-tiba terdengar pengawas yang ber¬kumis lebat itu berteriak.

Agung Sedayu tertegun sejenak. Ketika ia berpaling, dili¬hatnya orang yang berkumis itu berjalan tergesa-gesa mendekatinya.

(***)

From Kasdoelah’s Collection
Retype: Kiai Abu
Proof: Ki Prastawa, Ki GD Menoreh
Date: 11-20-2008

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (54)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-54/trackback/

RSS feed for comments on this post.

54 KomentarTinggalkan komentar

  1. terdengar suara seperti bayi menangis, lamat-lamat di tengah malam…Agung Sedayu sudah memegang ujung cambuknya dengan tegang, sembari beringsut maju menuju pohon besar tersebut, diikuti oleh gurunya…
    ternyata…mereka menemukan swandaru terisak-isak sambil berkata kepada gurunya “aku telah berhasih donlot rontal 53 guru, tapi tidak berhasil menemukan kitab 54…
    kyai gringsing menghela nafas dalam-dalam….. seandainya ki DD menoreh sudah mengupload kitab 54, pasti sudah diunduhnya kitab tersebut…
    “benar-benar menguji kesarehanku, akhir dari kitab 53, bikin penasaran & NANGGUNG BANGET!!! 😦

  2. Pertamax…

    sekali kali ngisi yang pertama aah…

    sebentar lagi mesti pada ngompor2 disini

    xixixi 😀

  3. kutunggu sampai jam 5 sore……….

  4. “Aku hampir pingsan karenanya.Hantu itu lewat beberapa langkah di dekatku. Satu diantara mereka berhenti, dan memandangku dengan sorot matanya yang merah menyala seakan-akan hendak membakar jantungku,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu sambil gemetar.
    “He…lalu apa yang dilakukan oleh hantu itu?” bertanya orang yang tinggi kekar itu.
    “Ya…apa yang kemudian terjadi? Lekaslah ceritakan kepada kami.” Orang-orang di barak itupun beringsut mendekati orang yang kekurus-kurusan itu. Betapa ketegangan dan ketakutan terbayang di wajah mereka. Bahkan beberapa di antara mereka mengginggil tubuhnya karena ketakutan.
    “Hantu itu mula-mula hanya menatapku saja,” orang yang kekurus-kurusan itu melanjutkan ceritanya. “Lututku sudah hampir tidak mampu menahanku lagi untuk terus berdiri saking gemetarnya, ketika tiba-tiba saja hantu itu menggeram dengan suara yang menyeramkan.”
    Tanpa sadar, orang-orang yang sedang mendengarkan cerita itupun semakin saling merapatkan diri. Rasa takut sekaligus penasaran nampaknya membuat suasana di dalam barak itu terasa semakin mencekam. Mendengar cerita itu, Kiai Gringsing tampak mengerutkan keningnya. Begitu pula dengan kedua orang muridnya. Sekilas keraguan terlintas di benak Agung Sedayu. Setelah sebelumnya Agung Sedayu mendengar cerita dan penjelasan dari gurunya tentang situasi dan kemungkinan yang sedang terjadi di Alas Mentaok tersebut, rasa-rasanya peristiwa yang baru saja terjadi tersebut semakin membuatnya pening.
    “Aku saat itu sudah pasrah, nyawaku rasanya sudah pindah ke ujung kepalaku,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu. “Namun tanpa disangka-sangka, hantu itu tiba-tiba saja berkata dengan suara yang terdengar seperti bergulung-gulung dari dalam perut. Hantu itu ingin menanyakan suatu hal kepadaku, dan jawabanku akan menentukan nasibku selanjutnya.”
    Orang yang tinggi kekar itu meloncat ke arah orang yang kekurus-kurusan itu, memegang kedua pundaknya lalu mengguncang-ngguncang tubuh orang yang kekurus-kurusan itu sambil berkata ,”Apa yang ditanyakan hantu tersebut, dan apakah jawaban yang telah kau berikan hingga kau masih diberi kesempatan kembali ke barak ini?”
    Orang yang kekurus-kurusan itu tidak segera menjawab. Wajahnya terlihat semakin pucat. Orang-orang di barak itupun menjadi tidak sabar dan berdebar-debar hatinya.
    “He…lekas ceritakan kepada kami, biar kami tidak semakin menjadi penasaran.”
    Orang yang kekurus-kurusan itu meneguk ludah, lalu mendesah. Nampaknya ia masih berusaha mengatur debar jantungnya yang nyaris copot setelah bertemu hantu tersebut. Akhirnya orang itupun melanjutkan ceritanya,”Hantu itu bertanya kepadaku, apakah aku pernah mendengar kabar tentang Kiai Dandang Wesi yang dulunya pernah bertapa di Gunung Merapi dan berhasil mendapatkan sebuah kitab pusaka yang di dalamnya memuat petunjuk tentang cara mempelajari sebuah ilmu yang nggegirisi, yang bernama Aji ADBM tingkat 54.”
    “Mendengar pertanyaan itu, akupun lalu menjawab bahwa aku belum pernah mendengar tentang orang yang bernama Kiai Dandang Wesi. Namun dari yang pernah aku dengar, kitab pusaka ilmu ADBM tingkat 54 saat ini tersimpan di dalam bilik penyimpanan pusaka milik Ki Gede Menoreh.”
    “Atas jawaban yang aku berikan itu,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu melanjutkan, “hantu itu menggeram dengan keras, hingga aku menjadi jatuh terduduk saking gemetarnya lututku. Aku saat itu menyangka bahwa jawaban yang sudah akau berikan tidak dapat diterima oleh hantu itu. Namun dengan tidak disangka-sangka, hantu tersebut berkata bahwa aku diperbolehkan kembali ke barak ini. Hantu itu percaya dengan keterangan yang aku berikan, dengan nama besar Ki Gede Menoreh yang pasti akan menjaga kitab pusaka tersebut dengan baik, dan segera mewariskannya kepada para cantrik yang sudah harap-harap cemas menanti ilmu tersebut diturunkan.”

  5. Ki Sumangkar mendesah dalam hati, “Ki Gede benar-benar telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan para cantrik itu, sehingga sebaiknyalah mereka menahan diri, justru supaya Ki Gede bisa lebih cepat menyediakan kitab-kitab itu.”

    Jawab Sekar Mirah, “Biar sajalah guru, justru ketidaksabaran para cantrik itu yang mendorong Ki Gede mengirimkan kitab-kitab itu dengan lebih cepat.”

  6. “Agung Sedayu …, jangan terburu nafsu ..” kata Kyai Grinsing. “Bersemedilah … pusatkan segenap panca-indramu. Renungkanlah semua yang telah kau alami sejak jilid 01 sampai ke 53. Setelah itu bayangkan apa yang ingin kau kuasai di jilid 54. Tak akan lama lagi apa yang kau ingini itu akan menjadi kenyataan dan kemampuanmu pun akan bertambah dengan cepat”. Begitulah Kyai Gringsing menasehati murid pertamanya.

  7. Nimbo banyu sindang papat
    ……………………
    tarik mang,…seket papat

  8. para sederek, kula aturi nyebar godong koro, sabar sauntara. sudah menjadi perjanjian bahwa tayangan ADBM ini adalah SBPH, satu buku per hari, jangan nggege mongso.
    sabaaaar….
    tapi klo Ki DD Menoreh berkenan DBPH, dua buku per hari, aku setujuuuuuu….
    Lha aku sendiri jadi ikut gak sabar, maaaf.

  9. “Kiai Damar, apakah engkau memperhatikan para cantrik itu ?” bisik Kiai Telapak Jalak, “Tampaknya mereka menunggu sesuatu yang sangat berharga bagi mereka.”

    “Benar Kiai,” desis Kiai Telapak jalak “mereka menunggu penghubung dari Ki Gede yang membawa cover kitab 54. Apabila cover itu sudah sampai ke tangan mereka, maka justru mereka akan semakin berdebar-debar, karena kitab itu sendiri sudah semakin dekat. Bahkan aku dengar Ki Gede berkata bahwa cover merupakan awal kepastian harapan”

  10. Dalam serangannya yang gencar, orang bertopeng itu berkata “Serahkan Kitab 54 cepat!”
    “Omong kosong apa kau ini?” jawab Agung Sedayu “Kitab 54 tidak ada padaku”
    “Bohong!”

    Sementara itu dari semak-semak didekatnya, meloncatlah Sukra dengan serta merta. Sukra yang lagi menuntaskan hajatnya disemak2 tersebut, segera saja melompat akibat bunyi ledakan. Sedemikian kerasnya ledakan itu sampai-sampai Sukra yang sedang asyik tersebut, lupa memakai celananya. Karena dilihatnya Agung Sedayu sedang terdesak hebat, maka langsung saja Sukra terjun ke arena pertempuran. Sukra benar2 lupa akan keadaanya yang tidak berpakaian lengkap.

    “Aku bantu kau Adi Agung Sedayu” teriak Sukra sambil meloncat menyerang.
    “Hei, Siapa kau? Cari mati ya?” teriak orang bertopeng itu kepada Sukra.
    ” Kau yang cari mati, orang gila” Jawab Sukra tak kalah Garang, ” Tidak tahukah kau, aku adalah orang penting di padepokan ini?”

    Kehadiran Sukra ternyata langsung mempengaruhi keadaan. Serangannya sungguh menakjubkan. Keadaannya yang tidak berpakaian lengkap itu, ternyata membuat Orang bertopeng itu terdesak hebat. Sukra seolah-olah mempunyai tiga buah kaki. Orang bertopeng itu pun terus terdesak sambil mengumpat2.
    Akhirnya orang bertopeng itu melompat menjauh sambil berteriak ” Awas kalian orang2 padepokan ADBM, kalau Kitab 54 tidak segera kalian serahkan, lain waktu aku akan membawa pasukan untuk menghancurkan padepokanmu”.
    Di lain kejap, meloncatlah orang misterius itu di balik rimbunan semak di pinggir sungai.

    Akhirnya Agung Sedayu membatin “Kenapa kitab 54 tidak segera di uplod saja oleh Ke Dede, agar padepokan ini segera tenang…”

  11. “Guru, aku semakin pening mengikuti perkembangan hantu2 alas Mentaok, yang sekarang ditambah munculnya Dandang Wesi dari gunung Merapi.” desis Swandaru, “Seandainya saja utusan Ki Gede sudah tiba sambil membawa cover kitab 54, paling tidak gambaran itu akan semakin jelas.”

    “Ah kau,” sela Agung Sedayu, “Nanti kalau cover itu benar-benar tiba, aku yakin kau akan semakin pening menunggu kitab 54 itu sendiri.”

    “Sudahlah,” kata Kiai Gringsing, “Sebaiknya kalian belajar menahan diri. Bagaimanapun Ki Gede adalah orang yang teguh memegang kata2nya sendiri. Apabila ia sudah memutuskan 1 buku per hari, pasti itu yang akan dilakukannya.”

    “Benar Kiai,” sahut Ki Sumangkar, “walaupun sebaiknya kita juga tidak menutup kemungkinan Ki Gede berubah pikiran.”

  12. Para pekerja di pemondokkan itu dikejutkan oleh datangnya seseorang yang terengah-engah sambil membawa sobekan cover 54. Orang itu berumur kira2 setengah baya, badannya penuh goresan kecil sepertinya ia baru saja melakukan perjalanan jauh melalui hutan lebat dibelakang pemondokan.
    Salah seorang dari pekerja segera memberikan minum kepada orang itu, karena terlihat bahwa ia hampir kehabisan napas. Setelah minum air sumur itu, barulah napasnya berangsur normal, walau masih sedikit diselingi dengan tarikan napas panjang. Setelah itu barulah seorang yang dituakan disitu berani bertanya. ” Kisanak, silahkan kisanak menceriterakan kepada kami, maksud kedatangan kisanak. Kisanak berasal dari mana, dan kelihatannya membawa kabar penting dari jauh?”.
    “Alhamdulillah kiai”, Orang itu menarik napas panjang, “saya bertemu peradaban di sini”. “Nama saya Kasduloh, berasal dari desa Gumuk” orang itu malanjutkan. “Saya sudah lama mengabdi di Perdikan Menoreh. Disana sedang dilakukan kodifikasi Babad Menoreh karya seorang pujangga besar. Dan sayalah yang mendapat tugas untuk membuat covernya menggantikan Kiai Herry Wibowo. Dari buku 1 hingga buku 53 sudah dapat dilakukan dengan lancar. Namun pada buku 54 ketika sedang dilakukan pengisian tosan aji, tiba2 ada seseorang yang mengganggu semedi saya dan berusaha merebut cover yang sedang saya garap itu. Saya berusaha mencegah namun gerakan orang itu begitu cepat, sehingga hanya sebahagian saja yang dapat saya selamatkan, sementara sisanya ada pada orang itu, yang lari menyebarangi hutan Mentaok dan lenyap disekitar pemondokan ini”.
    Semua orang berseru tertahan mendengar cerita Kasuloh.
    Orang tertua disitupun menyaut, “Tetapi sepertinya sejak kemarin tidak seorangpun yang datang kemari ki sanak. Mungkin kisanak salah lihat arah yang dituju orang tersebut”. “Tidak kiai, saya yakin sekali orang itu lari masuk lewat pintu ini” jawabnya. Orang2 yang mengelilingi Kasuloh saling berpandangan.

  13. biasanya jam 10.00 tit muncul,ini sudah hampir tengah hari kok masih tenang2 aja.

  14. biasanya ada cover ada harapan
    hampir tengah hari cover koq belum muncul juga
    jangan-jangan…..ah
    jangan-jangan…..

  15. hari kerja yang normal itu kan senin – jumat

    Sabtu minggu kan libur, jadi ya mbok sabar tho sedulur2

    ki DD kan juga punya kehidupan nyata

    peace,
    Ki KontosWedul

  16. Tak tunggu saka esuk uthuk2 kok jilid 54 durung mecungul…. Pokoke nek engko jam 16.00 thit durung metu… Awas…! Tetep tak enteni….

  17. “Aku sendiri pernah melihat” sahut Agung Sedayu. “Kiai Dandang Wesi ada dipihak kami. Menurut Kiai Dandang Wesi semua yang kasat mata manusia, memang diperuntukkan bagi manusia wadag seperti kita. Bahkan, kakak seperguruan Kiai Dandang Wesi yaitu Kiai Wajan Waja, yang mempunyai kesaktian yang lebih mumpuni karena penguasaan atas lontar pusaka perguruannya yaitu ADBM jilid 54. Untuk menolong kita menghadapi para hantu, lontar pusaka ini akan segera dikirim kemari untuk mengatasi keadaan disini.” Begitulah Agung Sedayu menjelaskan kepada para pengawal dengan panjang kali lebar.

  18. “Kakang Agung Sedayu …. lihat sekarang …. hantu-hantu yang penasaran ternyata bukan hanya tiga.” Kata Swandaru.
    Dalam hati Agung Sedayu mulai menghitung …. ternyata ada ratusan hantu-hantu yang penasaran keluar masuk kapling 54 alas Mentaok yang lagi dibabad.
    “… Guru harus diberitahu … supaya secepatnya ada sesajen ditaruh di kapling 54, kalau nggak begitu bisa tambah banyak yang penasaran. He he hee yang tulis ini juga seekor diantara hantu-hantu itu kok …..

    Sesajennya .. Ki DD Mentaok …. cepat dikeluarin.

  19. wah wah dikompor kompori tukang kompor isih tetep rung mecungul glundung pringise, opo wewe gombel kamar 54 lagi macak ben yen metu mengko soyo katon ayu, lha wong yo malem minggu, hantu saiki ora malem jemuah , ning malem minggon je.

  20. 54
    54
    54….
    ……..
    oh .. apakah malam minggu harus kulalui dengan kelabu??..
    kemanakah gerangan dikau??..,…kukira kau telah menungguku di rumah.., ternyata belum juga datang…

    mnyem2 mnyem2 mnyem2…..
    wulih wuih wuih….
    bakar menyan
    kopi pahit kopi manis…
    bubur putih kuning merah…
    semoga jin penunggu alas mentaok
    pengasuh sutawijaya..
    datang berkenan bawa 54….
    amin amin amin…

  21. Ki DD,,,
    nampaknya para ADBMers lama2 perlu psikolog.., malah mungkin psikiater ya??… Gejala apa nih yg melanda padepokan kita??….udah pada jadi SH Mintardja semua… hahahahahaha
    salam, semoga sehat2 wal afiat
    banyak rejeki
    selalu prima..

  22. Hee… aku lihat sudah ada cover 54..!?

  23. “Dengar, bunyi berkerincing itu datang lagi,” bisik pengawal itu dengan wajah pucat. Seketika, semua orang yang tinggal di barak itu merasa menciut hatinya dan berdiam berdesak-desakan.

    Namun orang yang bertubuh kekar itu justru mendelik marah kepada Kiai Gringsing. Serunya, namun tetap sambil berbisik, “Truna Podang, kaulah yang harus bertanggung jawab. Inilah akibat pokalmu yang sombong, sehingga hantu-hantu itu berkeliaran lagi.”

    Di luar, suara gemerincing itu bertambah keras, diiringi kilatan-kilatan api yang kebiru-biruan. Di antaranya nampak pula cahaya persegi yang samar-samar jingga kemerahan seperti melayang-layang di udara, diapit oleh dua jerangkong yang sekali-sekali terlihat tulangnya seperti bercahaya.

    Melihat lembaran cahaya persegi itu, Swandaru terlonjak kaget. Tanpa dapat dicegah lagi ia meloncat keluar barak, menerobos pintu yang setengah terbuka. Gurunya yang waspada segera menyusulnya, namun Swandaru telah lenyap ditelan kegelapan malam.

    “Swandaru, kembalilah,” teriak Kiai Gringsing cemas, menembus suara gemerincing yang telah semakin menjauh, “yang lewat itu baru cover-nya. Kitab Jilid-54 yang asli belum dikeluarkan ..!”

  24. dengan garangnya kiai gringsing berloncatan sambil mengayun ayunkan cambuknya. namun kali ini dia tidak menggunakan senjata cambuknya itu sebagaimana biasanya, justru dengan menggunakan pangkal cambuknya dia membunuh ular ular yang mencoba mendekatinya sambil berteriak nyaring, ” mannaaaaa jilid 54 nyaaaa..”

  25. “ini … ini.. ampuuun.. ampunnnn Ki Dandang Wesi… ini silakan diambill nomor 54 nya…” teriak hantu jerangkong kesakitan.

  26. Ketika ketegangan semakin memuncak, maka mentaripun semakin jauh meninggalkan titik kulminasi menuju ke peraduannya. Orang2 yang berkerumun mengitari Kasduloh-pun semakin menyemut. Haripun semakin senja, terlihat bayang2 sinar matahari sudah semakin suram. Angin barat yang bertiup cukup kuat meniupkan hawa dingin pegunungan, menjadikan situasi semakin mencekam. Daun2 pohon singkong yang ditanam para penghuni pemondokan di kebun terlihat meliuk-liuk tangkainya dan menguncupkan daunnya, tidak kuasa melawan hembusan angin..

    Tiba2 terdengar suara tertawa lembut namun mampu menggetarkan dada setiap orang yang berada dihalaman pemondokan itu. Disamping dada yang berdebaran maka lututpun menggigil oleh suara dan suasana saat itu.

    ”Ha ha ha ha ha, ………………. dasar semuanya pengecut, baru tertiup angin saja sudah pada terkencing-kencing”, tiba2 saja terdengar orang menggerutu dari sela2 kerumunan itu. Orang2 yang sedang berdiri tegang itu memberikan jalan kepada seorang tua yang tiba2 saja menyusup dan menyibakkan kerumunan menuju ke tengah halaman di mana Kasduloh dan tetua para pekerja sedang berbicara.

    Begitu sampai ditempat Kasduloh, maka tiba2 pendatang yang baru tiba itu memberikan sobekan halaman 54 kepadanya, sambil berkata, ”Nih ambilah aku sudah tidak memerlukannya lagi!”. Begitu cepat kejadian itu berlangsung maka tiba2 orang itupun lenyap dari pandangan semua orang yang ternganga keheranan.

    Kasduloh segera merapikan lembaran yang berasal dari genggaman orang itu, dengan lembaran yang dibawa oleh dirinya. Kemudian disatukannya kedua lembaran itu sambil meletakkan dihadapannya sembari duduk bersila di tempat itu.

    Kemudian iapun berdo’a dengan berkomat-kamit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas. ”Ajaib” teriak semua orang di halaman itu. Tiba2 saja Sampul 54 itu menyatu, dan kemudian terangkat ke atas sambil berputar. Kemudian ketika angin meniup dengan keras, maka terbanglah Sampul 54 itu ke atas dan lenyap dari pandangan semua orang.

    ”Alhamdulillah, ………………. yang Maha Kuasa telah mengabulkan do’aku, dan sekarang Sampul Buku 54 telah menyatu kembali dan terbang ke Rumah Ki Dede Menoreh untuk dapat dipasang di halaman depan rumah Ki Dede Menoreh”. Kemudian Kasuloh memandang berkeliling ke wajah orang2 yang mengitarinya. ”Saudara2 saya mohon maaf telah mengganggu ketenteraman waktu istirahat andika semua. Sekarang persoalan saya sudah selesai, bagi andika yang ingin melihat Sampul Buku No.54, silahkan klik di https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-54/.”

    ”Lha selanjutnya Kisanak mau kemana?” tanya tetua.

    ”Saya mau lapor kepada petugas di gardu depan” jawab Kasduloh.

    ”Kalo begitu mari saya antarkan” kata tetua, kemudia kepada orang2 yang berkerumun ia berkata, ”Saudara2 silahkan kembali beristirahat, saya mau mengantarkan angger Kasduloh ke Gardu penjagaan”. Baiklah ki, sahut beberapa orang sambil meninggalkan kerumunan, dan kembali ke barak masing2. Maka setelah Kasduloh dan tetua itu meninggalkan halaman pemondokan maka bekas kerumunan itupun sunyi kembali. Di dalam hati orang2 berharap nanti kalo meng-klik buku 54, maka tidak hanya covernya yang ditumui, namun juga beserta isinya. Amien.

  27. Matur nuwun ki Dede

  28. Yes..!!!!!
    54 dah donlot..
    tengkyu

  29. “Kali ini tidak salah lagi, Guru,” ujar Swandaru sambil terus menggerakkan jari-jarinya dengan cekatan menurut jurus yang telah diajarkan oleh gurunya.

    Orang-orang yang tinggal di barak itu pun mengerumuni dan memperhatikannya dengan kekaguman yang bertambah-tambah. Tidak terkecuali orang yang tinggi kekar dan yang kekurus-kurusan. Bahkan orang yang tinggi kekar itu kali ini terus menyemangatinya, “Ayoh, Sangkan, jangan ragu-ragu, terus saja donlod… Nanti kita baca bersama-sama di waktu istirahat senja.”

    wekwekwekwek …

  30. wah kalo hantu2 tidak segera dibasmi Mataram akan lamban berkembang.
    tolong kiai grinsing segera membuka kitab 54 nya. ayahanda pemanahan mengharap sekali.

  31. matur nuwun……………………..meniko kados tetesipun embun wonten ing oro-oro alas mentaok

  32. Istilah Jawa di Buku 54

    Amben = tempat tidur dari bambu
    Dlupak =lampu minyak kelapa
    Planggrangan = penyangga, biasanya dilekatkan di dinding atau di tiang rumah.

    Bacaan:
    Kamus Lengkap Jawa-Indonesia
    Pengarang: Sutrisno Sastro Utomo
    Penerbit: Yayasan Kanisius
    Tahun 2007

  33. Ki Sukra dan Ki DD, tolong dong bagaimana cara membuka kitab 54 ini?.Browser saya selalu membaca file PDF, sehingga gagal down load. Kapan kira2 versi convert nya dibuat ya?

    Matur nuwun……..

  34. Istilah Jawa (part 2)

    Dingklik : bangku kecil
    Wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)
    Waringuten: kewalahan

    Bacaan:
    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa

  35. Istilah Jawa (lanjutan)

    Dingklik : bangku kecil
    wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)

    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa

  36. Ki GD & Ki or Nyi(?) Dede,

    Terima kasih kiriman kitab 50 nya, sayangnya saya nggak bisa buka file DJVU tsb. juga kitab 54 ini.Wah, pokoknya penasaran buanget deh…..
    Dulu sdh pernah baca(jaman muda…hehe) tapi lupa semua dan kitab saya hilang semua, tinggal sisa beberapa kitab seri IV.
    Mudah2 an ada yg bantu convert ke file doc dalam waktu dekat ini….

    Terima kasih

  37. duuuu… kaciannya mas selamat ini
    aku perhatikan begitu antusias banget dengan cerita yang menurut sesepuh ceritera ini tiada bandingnya.. untuk itu aku persilahkan mengunduh lewat pintu ini

    GD: Masalah Slamet ternyata lebih mendasar: bukan tdk bisa ngunduh, tapi gak bisa mbuka karena kompi-nya tdk punya viewer-nya.

  38. sudah dikirim manual via email lha kok jawabannya seperti itu 😀
    ki dede.. cobalah pake PPT bukan PDF seperti biasanya.

    GD: Njih Mas, nanti pake PPT (malah tambah bingung)

  39. Untuk mengatasi kasus-kasus seperti yang dialami oleh mas slamet, mungkin Ki Sukra atau GD bisa menyediakan kolom khusus untuk menampung hasil konvert (khusus teks tanpa gambar).Urusan mengkonvertnya bisa saya bantu, setidaknya bisa sedikit menghibur para cantrik yang bernasib seperti mas slamet.

  40. sapa tau ya ada yg berkenan bikin kamus atau catatan kaki bahasa /istilah jawa-jogya yg ada di ADBM – maklum ga semua pembaca tau artinya, kadang cuma meraba raba aja,,,,sedangkan yg baca ADBM datang dari berbagai pelosok yg tentu ga paham dgn istilah jawa spt saya…

    contoh…

    1.pring ori
    2.jenang alot.
    3.bulak
    4.segelar sepapan..
    5.gringsing?….
    dlll masih banyak banget…

    atau Ki Jebeng said berkenan??….hehe, trims
    trims juga sama mas DD yg lagi upload 55 (hehe, maksa).

  41. Kata pembantu saya pring ori itu, sejenis pagar tanaman bambu jenis “ori”??…, apa betul begitu Ki Jebeng??..
    Trus jadi inget ada daerah Pring Sewu ya di lampung?/…
    Gringsing katanya sejenis motif batik??.., kayak apa ya.., jadinya cuma ngira2 aja tuh..
    Kalo berkenan Ki Jebeng bisa bikin catatan kaki??.. maaf bikin repot nih…, atau para kisanak ADBMers yg lain,Ki Glagah putih??, atau mas Truno podang yg sdh mirip SH Mintardja tuh??.. sudi kiranya bermurah hati bikin catatan kaki istilah jawa-jateng-jogya yg ada di buku ADBM??.. siapa tau bermanfaat sebagi bekal warisan buat generasi yad..
    wass

  42. Mas Dewo1234, ini arti kata2 tsb, menurut versi dan sepenerjemahan saya…..

    1. pring = bambu. Ori = salah satu jenis bambu, yg batangnya gede2 & banyak duri. Jadi ada bambu kuning, bambu wulung, bambu ori/petung, dll

    2. Jenang alot, bayangan saya kok fisiknya mirip jadah yg berbahan ketan itu, tapi warnanya hitam. Di Solo biasanya dijual bareng krasikan. Tapi beda dg wajik lho… (he.. he… makin pusing ya mas?). Ada yg bisa kasih pencerahan ki sanak yg lain?

    3. Bulak = area persawahan yang -biasanya- terletak diantara dua pemukiman (desa/dukuh). BELIK = mata air kecil

    4. Segelar-sepapan= pasukan prajurit dalam jumlah relatif banyak, dan sudah dalam posisi ready. Jadi kalo banyak prajurit tp sedang tidur semua dalam barak, biasanya gak disebut pasukan segelar-sepapan.

    5. Gringsing, itu nama salah satu dari banyak jenis/corak batik. Corak/motif lain misalnya Kawung, Parangrusak, dll.

    6. Jebeng, kl gak salah adalah panggilan ortu untuk anak2, khususnya cowok.

    Monggo kalau ada yg mau mengoreksi/menambahi, secara saya ya cuma sok tahu….

  43. “Mudah-mudahan saja ada yang bersedia, ya, Ki Sadewo,” Kiai Gringsing bergumam sambil manggut-manggut.

    “Hem,” ujarnya lebih lanjut, “kalau Ki Sadewo 1234 berkenan melihat-lihat jemuran kainku yang lusuh-lusuh itu, silahkan klik gambar di pinggir halaman ini yang paling bawah …”

  44. Terima kasih para Kisanak semua yang telah berusaha membantu saya.
    Sekarang sudah hadir kitab 54 yang versi convert file doc, jadi saya sudah dapat memperdalam ilmu lagi….

  45. tiga setengah tahun sudah, gandhok ini tidak dikomeni cantrik.

    • tiga setengah tahun sudah, gandhok ini tidak diureg2-i cantrik.

      • inilah seribu harinya sebagai daripada apa namanya ,,,

        • limang tahun

          • wis suwek….eh….tuwek

            • Eh eh eh, jebulnya masih ada juga yang ingak inguk…
              Harak inggih dhawah sami wilujeng to Ki KartoJ ?

              • Weh..Ki Gembleh…inggih wadhah..eh..dhawah sami wilujeng Ki 🙂

                • kangen suasana padepokan lur

                • omg

  46. 2012 yang yr terahir


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: