Buku 54

Ketiganya pun kemudian duduk di bawah sebatang pohon di halaman gubug yang sudah terbakar itu. Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun tatapan mereka masih saja melekat pada seonggok abu yang masih mengepulkan asap yang kehitam-hitaman.

Sementara itu, langit menjadi semakin cerah. Dan bayangan cahaya matahari pun menjadi semakin terang, menyentuh mega putih yang bergumpal-gumpal di punggung cakrawala.

Tanpa sesadarnya Agung Sedayu menyelusuri bayangan fajar yang merah. Tanah Mataram memang sudah terbuka, seolah-olah menghadap ke Timur. Sedang di bagian Barat, hutan ma¬sih terbujur seperti dinding raksasa yang membatasi tanah yang sedang tumbuh ini.

Namun angan-angannya justru menerawang semakin jauh. Terbayang di rongga matanya hutan yang meski pun tidak sebesar Mentaok, namun cukup lebat adalah hutan Tambak Baya, yang menurut pendengarannya sudah mulai disentuh pula oleh tangan para pendatang di tanah Mataram ini. Kalau hutan itu kelak terbuka, maka jalur jalan ke Timur menjadi semakin luas. Batas Tanah Mataram akan langsung bersentuhan dengan padukuhan dan kademangan-kademangan yang kini ada di sebelah Timur Hutan Tam¬bak Baya. Desa-desa kecil yang terpisah dari jalur-jalur jalan ramai itu akan mengalami banyak sekali perubahan. Kunjungi kami selanjutnya di adbmcadangan doteordpress dotcom. Cupu Watu, Temu Agal, Bogeman yang mulai ramai dan terletak di sisi Barat Kademangan Prambanan. Jalur ini akan terus merambat ke Timur, lewat hutan-hutan yang tidak begitu garang, dan yang memang su¬dah tertembus oleh jalan-jalan niaga, akan segera sampai ke tlatah padukuhan Benda dan kemudian Kademangan Sangkal Putung.

Agung Sedayu menarik nafas. Tanpa sesadarnya ia berpa¬ling memandang wajah Swandaru yang bulat itu. Terkilas se¬jenak wajah seorang gadis, adik anak muda yang gemuk itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat ing¬kar, bahwa ia sebenarnya ingin juga segera meninggalkan hutan ini pergi ke Sangkal Putung.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba matanya seakan-akan telah menembus hutan yang hijau kehitam-hitaman, menyeberangi Kali Praga menginjak ke tlatah Menoreh. Tanah Perdikan yang baru saja ditinggalkannya. Tanah Perdikan yang kini sedang ber¬usaha menyembuhkan luka-luka yang telah mencengkamnya selama ini, seperti juga Ki Gede Menoreh berusaha menyembuhkan luka-luka pada dirinya.

Sekali lagi Agung Sedayu berpaling memandangi Swanda¬ru. Dan bahkan terbersit suatu pertanyaan di kepalanya. “Agak¬nya Tanah Perdikan Menoreh masih harus mengalami banyak masalah. Apakah kelak Swandaru akan menjadi Demang di Sangkal Putung sekaligus Kepala Tanah Perdikan Menoreh atas nama Pandan Wangi, apabila mereka benar-benar akan menjadi suami isteri?”

Agung Sedayu yang sedang menerawang di dunia angan-angannya itu, tiba-tiba tersadar ketika Swandaru menggamitnya sambil ber¬kata, “Hem, aku mengantuk lagi.”

“Tidurlah,” hampir tidak sadar Agung Sedayu men¬jawab.

“Tidur? Sekarang ini?”

“O, maksudku, bukan kau sudah tidur separo malam.”

Swandaru tiba-tiba memandang wajah Agung Sedayu dengan tatapan mata yang aneh. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata dalam nada yang tinggi, meski pun perlahan-lahan, “He, agaknya kau sedang melamun, Kakang. Nah, apa saja yang kau pikirkan? Tentu bukan hutan yang lebat ini, dan tentu bukan hantu-hantu dan eh, kau tahu bahwa hantu-hantu perempuan, maksudku hantu betina. Mana yang benar, perempuan atau betina, nama¬nya peri. Apakah kau melihat sesosok peri? Peri berbentuk se-orang perempuan yang sangat, sangat cantik. Seperti bidadari dalam pengertian yang bertolak belakang. Bentuknya saja se¬perti bidadari.”

“Kau pernah melihat bidadari?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Kata orang. Sedang peri itu pun sekedar kata orang.”

“Kau percaya?”

“Tentu, hantu-hantu tidak semuanya laki-laki. Mereka berumah tangga seperti manusia. Bukankah kesimpulan daripada itu, ada juga hantu-hantu perempuan? Hanya hantu yang bertingkat tinggi sajalah yang beristerikan peri. Bukan jerangkong. Kalau jerangkong, isterinya wewe. Tetapi kalau prayangan, itulah yang beristerikan peri.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi masih saja seperti orang yang tidak menyadari dirinya, ia mengangguk-anggukkan ke¬palanya.

Namun ia terkejut ketika tiba-tiba saja Swandaru meraba da¬hinya sambil berdesis, “Eh, tidak panas.”

“Hus,” desis Agung Sedayu sambil menggeliat, “jangan main-main. Lihat, langit sudah terang. Sebentar lagi mereka akan datang.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun mengang¬kat wajah menatap langit. Meskipun demikian ia masih bertanya kepada Agung Sedayu, “Siapakah yang akan datang? Peri-peri yang cantik itu?”

“Ah,” desah Agung Sedayu sambil berdiri, “orang-orang itu pasti sudah bangun. Mereka akan segera mendengar bahwa ru¬mah kita telah terbakar. Mereka akan beramai-ramai datang kemari. Orang yang kurus dan orang yang tinggi kekar itu pasti akan marah lagi kepada kita.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Orang itu meskipun bertubuh kekar, hatinya sekecil menir. Demikian ketakutan mencengkam jantungnya, sehingga ia begitu bernafsu untuk mengusir kita.”

“Mungkin tidak begitu,” berkata Kiai Gringsing, “bukan karena ketakutan yang mencengkamnya. Tetapi barang¬kali ia mempunyai maksud-maksud lain.”

“Apakah kira-kira maksud itu, Guru?” bertanya Swandaru sambil berpaling.

“Itulah yang masih harus kita selidiki. Kita ingin menge¬tahui apakah sebenarnya yang dikehendakinya.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan guru¬nya berkata seterusnya, “Karena itu, kita harus menahan diri. Kecuali apabila kita sudah terpaksa, kita akan menentukan si¬kap sejauh harus kita lakukan. Tetapi pada dasarnya kita akan tetap berada di daerah ini.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia ke¬mudian menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit menjadi semakin cerah.

“Sebentar lagi mereka akan datang,” desisnya.

Sebelum gurunya menyahut, Swandaru berkata, “Para pengawas pun pasti akan datang juga. Agaknya merekalah yang melihat api itu lebih dahulu dari gardunya daripada orang-orang yang ada di dalam barak.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya ketika di dalam keremangan pagi ia melihat seseorang berjalan dengan tergesa-gesa.

“Siapakah itu?” ia bertanya.

Swandaru dan gurunya pun kemudian berdiri. Dipandangi¬nya orang yang semakin lama menjadi semakin dekat.

“Seorang petugas.”

“Ki Wanakerti.”

Sebenarnyalah bahwa orang yang mendekati mereka itu adalah Wanakerti. Dengan suara yang terbata-bata ia berkata, “Syukurlah kalau kalian selamat. Aku cemas, bahwa kami para pengawas hanya akan menemukan abu dari kerangka kalian. Sejak api itu berkobar, hatiku sama sekali tidak tenteram. Ka¬rena itu, aku telah mendahului kawan-kawanku untuk menengok kalian. Ketika aku melihat beberapa sosok tubuh di sini, hatiku menjadi agak tenteram. Ternyata kalian benar-benar masih selamat.”

“Tuhan masih melindungi kami,” berkata Kiai Gringsing.

“Syukurlah. Sebentar lagi beberapa orang petugas yang lain pasti akan datang juga. Mereka pun menjadi cemas, bahwa mereka tidak akan dapat melihat kalian lagi.”

“Ternyata kami masih akan menyambut mereka.”

“Sudah tentu orang-orang di barak itu pun akan datang pula kemari.”

“Ya. Mereka ingin tahu, apa yang sudah terjadi di sini.”

Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kami berpendapat, bahwa hantu-hantu itu memang benar-benar telah marah ke¬pada kalian, sehingga kalian telah dibakarnya hidup-hidup.”

“Tetapi mereka tidak berhasil.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keheran¬an yang sangat telah terbersit di wajahnya. Di dalam hati ia ber¬kata, “Orang-orang ini memang orang-orang aneh.”

Namun dalam pada itu pembicaraan mereka pun terhenti. Di kejauhan tampak bayangan beberapa orang yang berdatangan. Semakin lama menjadi semakin dekat.

Ternyata yang datang adalah beberapa orang dari barak dan beberapa orang petugas.

“Hem, kalian memang orang-orang yang bernasib baik,” ber¬kata salah seorang petugas. “Kami sudah menyangka, bahwa ka¬lian telah menjadi abu.”

“Seperti yang Tuan lihat,” jawab Kiai Gringsing.

“Jangan sombong,” orang yang tinggi kekar itu menyahut, “kali ini kalian bernasib baik. Tetapi besok, lusa, kalian akan mengalami perlakuan yang sangat mengerikan.”

“Seperti yang sudah aku katakan kepada Ki Wanakerti. Tuhan selalu melindungi kami,” berkata Kiai Gringsing.

“Tetapi lain kali kau tidak akan dapat lolos. Dan kami pun tidak dapat memberi kesempatan hal itu terjadi. Sebab kemungkinan yang paling besar, lain kali barak kami itulah yang akan menjadi sasaran kemarahan hantu-hantu itu.”

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “kami sudah melepaskan diri dari kalian. Tidak ada sangkut pautnya lagi. Biar¬lah kemarahan itu menimpa diri kami.”

“Gila. Sudah aku katakan. Tidak mungkin. Tidak mung¬kin.”

“Kami sudah siap seandainya kami harus mengalami per¬lakuan yang sangat mengerikan seperti apapun. Kami yakin bahwa Tuhan masih melindungi kami. Itu adalah pendapat kami yang sebenarnya. Kiai Damar, hantu dari Gunung Merapi yang bernama Kiai Dandang Wesi dan siapa pun lagi, adalah lantaran-lantaran yang dapat saja dipergunakan oleh Tuhan untuk menye¬lamatkan kami. Tetapi adalah menjadi pegangan kami yang se¬benarnya, bahwa kehendak Tuhan-lah yang akan berlaku. Bukan kehendak hantu-hantu yang manapun juga. Betapa hantu-hantu itu men¬jadi marah kepada kami, tetapi selama Tuhan tidak membiarkan kami menjadi korbannya, tidak ada suatu pun yang dapat dila¬kukannya atas kami di sini.”

“Persetan,” teriak orang yang tinggi kekar itu, “kalian telah menghasut kami dan membiarkan kami menjadi korban. Kalian memang benar-benar pengkhianat yang harus dimusnah¬kan. Dengar, bahwa kami pun dapat memusnahkan kalian sekarang juga. Sekarang.”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ditatapnya saja wajah orang yang tinggi kekar itu. Wajah yang menjadi kemerah-merahan oleh perasaannya yang meledak-ledak.

Sekali lagi Kiai Gringsing harus menggamit Swandaru yang menjadi gelisah.

“Tidak ada maaf lagi bagi kalian sekarang,” berkata orang yang tinggi kekar itu. “Kami sudah terlampau banyak memberi kesempatan. Tetapi setiap kali kalian seolah-olah telah menghinakan kami.”

“Sama sekali tidak,” jawab Kiai Gringsing.

“Semuanya telah terbukti. Mula-mula hanya anakmu sajalah yang telah dikutuk oleh hantu-hantu itu sehingga menjadi sakit dan bahkan hampir mati. Kemudian barak kami telah dilempari de¬ngan batu. Sekarang salah satu gubug kami telah terbakar. Ma¬ka besok atau lusa, barak kamilah yang akan terbakar habis. Nah, jika demikian, maka kami semuanya akan menderita. Usaha ka¬mi selama ini akan sia-sia.”

“Itu tidak mungkin. Barak kalian tidak akan terbakar. Biarlah hantu-hantu itu datang kepada kami. Kami akan memberi me¬reka penjelasan.”

“Omang kosong. Semuanya omong kosong,” berkata orang yang tinggi kekar itu. “Kami sudah mengambil keputusan, bahwa kalian memang harus pergi dari sini. Sekarang tidak akan dapat kau tunda lagi. Tidak akan ada alasan apa pun yang dapat kalian kemukakan.”

“Tunggu,” sahut Kai Gringsing, “aku masih mem¬punyai masalah yang dapat aku katakan kepada kalian.”

“Tidak. Kau tidak mendapat kesempatan apa pun. Pagi ini kalian harus pergi dari tempat ini. Selama ini kalian tidak bermanfaat apa pun bagi kami, justru kalian telah membuat kami semakin tidak tenteram. Karena itu, kalian hanya dapat per¬gi. Pergi. Bawalah semua yang kalian punyai di sini. Kalian tidak akan dapat kembali lagi.”

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “siapa¬kah yang sebenarnya berkuasa dan berhak mengatur tata tertib di sini. Kau atau para petugas yang resmi di tempatkan di sini?”

“Akulah yang berkuasa,” berkata orang yang tinggi ke¬kar itu.

“O, tentu tidak. Kau pendatang seperti kami.”

“Jangan kau bantah lagi. Akulah yang di dalam kenyata¬annya berkuasa di sini. Ayo, bertanyalah kepada para petugas. Di sini ada beberapa orang petugas. Mereka tidak akan berani berbuat apa-apa terhadap aku.”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Dipandanginya saja orang yang tinggi kekar itu. Namun sebagai seorang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup, ia memang me¬lihat sesuatu pada orang yang tinggi kekar itu.

“Kesempatan terakhir buat kalian adalah minta diri. Ayo, berpamitanlah kepada kawan-kawan dan sahabat-sahabatmu di sini, serta ke¬pada para petugas.”

Kiai Gringsing tidak segera menyahut, ia masih tetap ber¬diri termangu-mangu di tempatnya.

“Cepat, sebelum kami kehabisan kesabaran,” berkata orang yang tinggi kekar itu.

Selagi Kiai Gringsing masih termangu-mangu, maka seseorang telah maju mendekatinya. Katanya, “Sebenarnya kami merasa sayang juga kehilangan kalian. Tetapi apa boleh buat. Memang sebaiknya kalian pergi meninggalkan tempat ini.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“Setidak-tidaknya kau tidak akan menimbulkan keributan. Kau tidak akan mengalami nasib yang buruk seperti yang pernah terjadi. Seseorang yang tidak menjadi sakit karena hantu-hantu, te¬tapi justru karena ia keras kepala, sehingga terpaksa diusir dengan kekerasan. Apalagi orang itu mencoba melawan. Maka akhirnya ia menjadi kecewa dan menyesal. Ia mengalami luka-luka dan harus meninggalkan tempat ini pula.”

“Siapakah yang melukainya?”

“Orang ini juga. Ia selalu mencoba menyelamatkan barak kami seisinya dengan menyingkirkan orang-orang yang mungkin akan mendatangkan bencana bagi kami.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ja¬wabnya sangat mengejutkan, “Maaf, Ki Sanak. Kami sudah bertekad untuk tetap tinggal di sini. Selama para petugas tidak mengusir kami, kami tidak akan pergi. Bahkan seandainya hak kami dicabut sekalipun oleh para petugas, kami akan menghadap langsung kepada Ki Gede Pemanahan atau puteranya Mas Ngabehi Loring Pasar, karena kami merasa berhak ikut serta membuka hutan ini.”

“Kami tidak berbicara tentang hak,” potong orang yang tinggi kekar itu, “tetapi kami ingin menyelamatkan diri kami.”

“Sudahlah,” berkata orang yang kekurus-kurusan, “ting¬galkan tempat ini selagi kalian masih sehat.”

“Ya,” berkata orang yang lain. “Lebih baik kalian pergi. Pergilah ke pedukuhan yang telah menjadi ramai di pusat Tanah Mataram. Kalian akan menemukan lapangan yang cukup untuk mencari sesuap nasi.”

“Ya, pergilah, pergilah,” yang lain lagi berkata, “untuk kebaikanmu sendiri.”

Tetapi Kiai Gringsing masih tetap membungkam. Kening¬nya menjadi semakin berkerut-merut.

“He, apakah kalian menunggu kesabaranku habis?” teriak orang yang tinggi kekar itu.

Kiai Gringsing memandang wajah para petugas yang di¬liputi oleh keragu-raguan. Mereka berdiri saja mematung tanpa da¬pat berbuat apa pun juga, sehingga Kiai Gringsing bertanya kepada mereka, “Bagaimana Tuan? Apakah aku memang sudah boleh tinggal di sini?”

Sebelum para petugas itu dapat menjawab, orang yang ting¬gi itu mendahului, “Tidak ada kesempatan lagi. Pergi, seka¬rang ini juga. Kalau kalian masih juga berbicara, maka mulut kalian akan aku sobek.”

Mata orang itu terbelalak ketika ia melihat Swandaru mem¬buka mulutnya. Bahkan terlalu lebar. Hampir saja ia meloncat menampar pipinya yang gembung itu. Tetapi niat itu diurungkannya, karena ternyata Swandaru hanya menguap.

Namun wajah orang yang tinggi kekar itu menjadi merah padam, ketika ia mendengar Swandaru berdesis, “Aku jadi mengantuk sekali.”

Orang yang tinggi kekar itu benar-benar merasa terhina. Ka¬rena itu ia menjadi gemetar. Tetapi ketika ia melangkah maju, beberapa orang mencoba mencegahnya, “Sudahlah. Biarlah me¬reka pergi.”

Salah seorang telah mendekati Kiai Gringsing sambil ber¬bisik, “Sudahlah. Tinggalkan tempat yang sama sekali tidak memberikan harapan apa pun ini. Mungkin besok atau lusa, da¬tang giliranku untuk meninggalkan tempat ini.”

“Maaf,” Kiai Gringsing menggeleng, “aku tetap ting¬gal di sini.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Namun kemudian ia ber¬kata, “Terserahlah kepadamu. Kami sudah mencoba mencegah keributan dan mencoba memberimu peringatan. Tetapi kalau kau tetap keras kepala, kami tidak dapat berbuat apa-apa apabila sesuatu terjadi atas kalian. Para petugas itu pun tidak.”

Kiai Gringsing tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan kemudian ia berpaling kepada kedua muridnya. Ketika ia me¬ngangguk kecil, seperti berebutan Agung Sedayu dan Swandaru berloncatan maju.

“Biarlah Swandaru menguap lagi,” berkata Kiai Gringsing.

Sikap ketiganya sama sekali tidak dimengerti oleh orang-orang yang berdiri di seputar mereka. Sejenak mereka berdiri mematung, sementara cahaya matahari telah mulai menyentuh ujung de¬daunan.

“Matahari telah naik,” Kiai Gringsing justru berkata, “kenapa kalian tidak mempersiapkan diri untuk pergi bekerja?”

“Gila, gila!” orang yang tinggi kekar itu berteriak. “Memang kalian ingin mengalaminya. Minggir! Minggir!”

Wajah-wajah di sekitar orang yang tinggi kekar itu menjadi te¬gang. Mereka kini tidak akan dapat mencegahnya lagi. Sebagi¬an dari mereka telah menjadi gelisah. Tetapi sebagian yang lain berkata di dalam hatinya, “Terserahlah. Kami sudah mencoba memperingatkannya. Tetapi mereka benar-benar orang-orang yang keras kepala.”

Dan orang yang berdiri termangu-mangu itu pun kemudian me¬nyibak, seolah-olah membuat suatu lingkaran di sekeliling orang yang tinggi kekar yang kini berdiri berhadapan dengan Kiai Gringsing itu.

Sementara itu, orang yang kekurus-kurusan itu pun maju selang¬kah sambil berkata, “Kalian telah menyia-nyiakan maksud baik kami. Sekarang, kalian akan mengalaminya. Kalian akan menye¬sal karenanya. Tetapi penyesalan itu tidak akan banyak berarti. Nanti, setelah kalian pingsan, kalian akan dilempar ke pinggir hutan. Terserahlah akan nasib kalian. Apakah kalian akan mati ditelan harimau, atau sama sekali disendal mayang oleh hantu-hantu, itu bukan urusan kami lagi.”

“Apakah hal itu dapat dibenarkan oleh tata tertib kehidupan beradab di Mataram?” bertanya Kiai Gringsing.

Ternyata pertanyaan itu telah membuat orang yang kekurus-kurusan itu menjadi ragu-ragu sejenak, sedang Kiai Gringsing berkata terus, “Kalian telah melakukan pelanggaran tata tertib kehidupan yang beradab bagi Mataram. Kalau hal itu kalian lakukan, maka saksi-saksi akan berbicara. Atau Mataram memang tidak mempunyai hukum sama sekali, sehingga setiap orang ber¬hak berbuat sekehendak hatinya? Apakah di sini kekuatan akan berarti kekuasaan?”

Orang yang kurus itu masih termangu-mangu, sementara para petugas mengerutkan keningnya.

Tetapi orang yang tinggi kekar itu agaknya sama sekali sudah tidak dapat menguasai kemarahannya. Selangkah demi se¬langkah ia maju. Bahkan ia pun kemudian berteriak, “Ayo. Kalau kalian akan melawan, lawanlah bertiga. Kalau tidak, siapa yang lebih dahulu aku pukuli sampai pingsan?”

Benar-benar di luar dugaan bahwa Swandaru tertawa karenanya. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat menggelikan ba¬ginya.

Agung Sedayu yang berdiri di sampingnya menggamitnya. Tetapi ia pun telah tersenyum pula.

“Aku tidak dapat menahan hati lagi,” berkata Swandaru sambil maju selangkah. Agaknya gurunya memang telah memberi kesempatan kepadanya. “Pertanyaanmu lucu sekali. Siapa yang dengan suka rela bersedia dipukuli sampai pingsan? Kau barangkali.”

Wajah orang yang tinggi kekar itu menegang sejenak. Seperti orang-orang lain, ia tidak menyangka sama sekali, bahwa anak yang baru saja sembuh itu, dengan beraninya maju men¬dekatinya selagi ia marah bukan kepalang.

Namun dengan demikian, orang itu justru membeku se¬jenak di tempatnya, seolah-olah ia tidak percaya atas penglihatan¬nya.

“He, kenapa kau justru mematung?” bertanya Swandaru yang tidak lagi berusaha mengekang kata-katanya. “Sebenarnya aku harus mengucapkan terima kasih, karena kau telah memberi air selagi aku kehausan. Kau ingat? Air apakah yang kau berikan kepadaku itu?” Swandaru berhenti sejenak. Ditatapnya orang yang tinggi kekar dan orang yang kekurus-kurusan itu berganti-ganti. “He, kau ingat kepada air itu? Sayang, air itu tidak berhasil membunuhku. Kemudian, apakah kau dapat meyakinkan kami tentang ceritera ular Gundala Seta dan Gundala Wereng justru ceritera itu bersamaan dengan serangan beberapa ekor ular di dalam gubug kami? Dan yang terakhir ceritera tentang gubug kami yang terbakar yang kau katakan, dibakar oleh hantu-hantu?”

Orang yang tinggi kekar itu tidak dapat menahan hati lagi. Dengan serta-merta ia meloncat maju sambil mengayunkan te¬lapak tangannya ke pipi Swandaru yang gembung itu, meskipun sudah agak susut.

Swandaru sama sekali tidak bergeser. Ia hanya menarik kepalanya sambil berpaling.

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, seakan-akan membeku karenanya. Darah mereka serasa berhenti dan wajah-wajah mereka menjadi pucat. Orang yang tinggi kekar itu adalah orang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Mereka pernah melihat bagaimana ia kehilangan kesabaran, karena seseorang yang tidak mau menuruti nasehatnya.

Kini hal itu terulang lagi. Meskipun orang tua itu mem¬punyai dua orang anak yang masih muda, dan yang mungkin memiliki keberanian pula untuk berkelahi, tetapi melawan orang yang tinggi kekar itu sama sekali pasti tidak akan berarti.

Tetapi kini mereka melihat anak yang gemuk itu tanpa membayangkan kecemasan dan ketakutan sama sekali telah ber¬diri menghadapinya.

Apalagi, ketika mereka melihat tangan orang yang tinggi kekar itu terayun di depan wajah Swandaru, hampir menyentuh pipinya. Tetapi tangan itu sama sekali tidak menyinggungnya, meskipun Swandaru masih tetap berdiri di tempatnya.

Orang-orang yang menyaksikan hal itu menjadi heran. Mereka hampir tidak melihat bagaimana Swandaru menghindar. Dan mereka menganggap bahwa orang yang tinggi kekar itu telah bergerak begitu cepatnya.

Orang yang tinggi kekar, yang merasa tangannya sama se¬kali tidak menyinggung sasarannya, menjadi semakin marah. Hal itu tidak pernah terjadi atasnya. Ia pernah memukul seorang anak muda di dalam lingkungan para pendatang yang mencoba melawan kehendaknya. Bahkan ia pernah berkelahi melawan sekelompok pendatang yang merasa dirugikan oleh tindakan-tindakannya. Dan ia pun pernah menghajar seseorang yang tidak mau diusir dari daerah pembukaan hutan ini, sehingga orang itu men¬jadi pingsan.

Dan kini anak muda yang gemuk itu, yang pernah hampir mati karena sakit dan bisa itu, dengan begitu saja telah berhasil menghindari tangannya.

Karena itu sejenak ia berdiri mematung. Ditatapnya wajah Swandaru sejenak. Tetapi kemarahan di dadanya serasa menja¬di semakin menyala, karena Swandaru justru tersenyum kepada¬nya sambil berkata, “Kau memang terlampau kasar. Apakah, kau benar-benar tidak mau berbicara lagi?”

Orang itu tidak menjawab. Kini ia telah bersiap untuk dengan bersungguh-sungguh berkelahi melawan Swandaru. Karena menurut dugaannya, Swandaru sedikit atau banyak, pasti mam¬pu pula berkelahi, ternyata dengan caranya menghindari tangannya.

Swandaru melihat sikap orang yang tinggi kekar itu dengan dada yang berdebar-debar. Kemudian perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya, Swandaru pun menduga, orang ini memang se¬orang yang pantas ditakuti di daerah pembukaan hutan ini, bah¬kan para petugas yang bersenjata pun tidak dapat berbuat apa-apa atasnya.

Sejenak kemudian, keduanya telah bersiap untuk mengha¬dapi setiap kemungkinan. Orang-orang yang berdiri mengitari mereka pun semakin menyibak pula. Mereka menduga bahwa akan terjadi suatu perkelahian. Tetapi dalam pada itu mereka me¬naruh belas yang semakin mendalam kepada Swandaru yang sombong itu. Kalau orang yang tinggi kekar itu tidak lagi dapat menahan diri, maka kemungkinan yang paling buruk dapat ter¬jadi atas Swandaru. Bukan saja ia akan menjadi pingsan, tetapi barangkali lebih daripada itu. Apalagi kalau saudara laki-lakinya dan ayahnya itu ikut membantu pula. Maka akibatnya akan menyedihkan sekali.

Swandaru yang sudah bersiap pula menghadapi orang yang tinggi kekar itu tidak mau bermain-main lagi. Ia tidak tahu, sampai berapa jauh kemampuan lawannya. Kalau orang itu tidak ber¬hasil memukul pipinya, itu bukannya suatu ukuran, karena hal itu dilakukannya sambil lalu saja, dan tanpa memperhitungkan kemungkinan bahwa lawannya akan menghindar.

Sejenak kemudian, ketegangan pun memuncak ketika orang yang tinggi itu mulai menyerang. Dengan kecepatan yang luar biasa ia meloncat langsung menyerang Swandaru, dengan kakinya yang mendatar, sedang tubuhnya yang miring agak me¬rendah pada lutut kakinya yang lain.

Namun Swandaru pun telah bersiap menghadapinya. De¬ngan tangkasnya pula ia menarik sebelah kakinya. Ketika kaki lawannya meluncur di sisinya, dengan cepat ia mendorong kaki itu ke depan. Namun lawannya pun lincah pula. Begitu kakinya yang terlempar itu menjejak tanah, maka ia pun segera berputar dengan sebuah serangan kaki mendatar.

Swandaru terpaksa meloncat surut. Tetapi segera ia ber¬siap untuk menyerang lawannya yang masih terputar setengah lingkar. Begitu lawannya itu berhenti berputar, Swandaru me¬loncat maju. Tangannya yang kuat langsung menjulur ke arah pundak kanan. Tetapi orang itu masih sempat menggeliat. Sambil memiringkan tubuhnya ia menangkis pukulan Swandaru itu. Ia terlampau percaya akan kekuatannya, sehingga ia yakin, bahwa anak yang gemuk itu pasti akan terpental oleh kekuatan¬nya sendiri.

Tetapi Swandaru ternyata telah mempergunakan sebagian besar dari kekuatannya, karena ia belum tahu betapa besar ke¬kuatan lawannya. Karena itu sentuhan pukulan Swandaru de¬ngan lengan orang yang tinggi kekar, yang menangkis serangan¬nya itu, merupakan suatu benturan dua kekuatan yang besar. Swandaru tergetar selangkah surut. Namun ia segera tegak di atas kedua kakinya yang renggang, sedikit merendah di atas lututnya. Satu tangannya bersilang di muka dadanya, sedang tangannya yang lain terjulur lurus ke depan. Telapak tangannya terbuka, dan keempat jari-jarinya merapat, sedang ibu jarinya se¬dikit merenggang di hadapan telapak tangannya. Suatu sikap dalam unsur gerak Naga Rangsang.

Dalam pada itu, setiap dada serasa berhenti berdetak ke¬tika mereka melihat akibat yang terjadi atas seorang yang tinggi kekar itu.

Tanpa diduga sama sekali oleh setiap orang, maka orang yang tinggi kekar itu ternyata telah terlempar tiga langkah. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Hanya dengan susah payah ia masih dapat tetap bertahan berdiri di atas kedua kakinya.

Karena itu, orang yang tinggi kekar itu tidak akan sempat untuk berbuat sesuatu, apabila Swandaru langsung menyerang¬nya. Sikap Naga Rangsang itu sangat berbahaya baginya. Setiap saat Swandaru dapat meloncat dan kedua tangannya mematuk seperti seekor naga dari arah yang berbeda. Jari-jari tangannya yang merapat, adalah senjata dari unsur gerak itu yang sangat berbahaya. Jari-jari tangan Swandaru yang terlatih baik itu, akan mampu mencengkam daging lawannya. Apalagi apabila daya tahan lawannya tidak memadai.

Tetapi ketika Swandaru melihat akibat benturan itu, ia tidak segera menyerang. Bahkan ia sempat berpaling memandang gurunya yang berdiri di luar arena.

Swandaru masih melihat gurunya menggelengkan kepala¬nya. Karena itu, maka sikapnya pun mengendor pula. Tangannya kini tidak lagi terjulur lurus ke depan. Kakinya tidak lagi me¬renggang dan merendah pada lututnya, meskipun satu tangannya masih bersilang di depan dadanya.

Benturan itu dapat memberinya petunjuk, bahwa lawan¬nya bukanlah seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa. Ia adalah seseorang yang kuat dan berilmu. Tetapi bukan orang yang tidak terkalahkan.

Meskipun benturan itu belum berarti penentuan akhir dari perkelahian itu, tetapi setidak-tidaknya Swandaru telah mempunyai sedikit gambaran tentang lawannya.

Karena itulah, maka ketika lawannya sedang memperbaiki keadaannya, maka Swandaru melangkah seenaknya mendekati¬nya, meskipun sebenarnya ia tidak kehilangan kewaspadaan. Tangan kirinya masih tetap bersilang di muka dadanya, tetapi tangan kanannya melenggang di sisi tubuhnya.

“Luar biasa,” ia berdesis.

Wajah orang yang tinggi kekar itu menjadi merah padam. Ia pun mengerti pula, bahwa Swandaru kini dapat menilai ke¬mampuannya. Namun demikian orang yang tinggi kekar itu tidak segera menyerah kepada keadaan. Benturan itu memang bukan penentuan. Karena itu, ia pun segera mempersiapkan diri. Namun sikap Swandaru kemudian justru sangat menyakitkan hatinya. Anak yang gemuk itu berjalan seperti ayam aduan menghadapi lawannya yang sudah terikat kedua belah kakinya.

“Setan alas!” orang yang tinggi itu mengumpat.

“Jangan menyebut nama itu. Kalau ada hantu yang men¬dengar, ia akan marah. Bukankah di sini banyak hantu?” ber¬kata Swandaru. “Sebutlah yang lain, jangan setan alas. Apalagi Alas Mentaok. Sebutlah setan gunung atau setan jurang atau setan apa pun.”

Kemarahan orang itu benar-benar serasa meledakkan dadanya. Karena itu ia tidak menyahut lagi. Dengan serta-merta ia me¬loncat menyerang Swandaru. Kali ini ia telah mengerahkan se¬genap kemampuan yang ada padanya.

Swandaru yang sebenarnya sama sekali tidak kehilangan kewaspadaan, segera menghindar. Tangan orang yang tinggi kekar itu terjulur di samping dadanya. Dengan serta-merta Swandaru memutar tubuhnya sambil menangkap tangan itu. Dengan sekuat tenaga Swandaru menarik tangan orang itu le¬wat di atas pundak, sedang tubuhnya merendah di atas lututnya, membelakangi lawannya.

Orang itu tidak sempat berbuat apa-apa lagi. Terdorong oleh kekuatannya sendiri, ditarik pula oleh kekuatan Swandaru, ma¬ka orang yang tinggi bertubuh kekar itu terpelanting lewat di atas kepala Swandaru. Setelah sekali ia terputar di udara, maka ia pun kemudian terlempar dan jatuh terbanting di tanah.

Setiap mulut hampir saja berteriak melihat hal itu. Tetapi setiap mulut itu pun tertahan oleh bibir yang terkatup rapat. Bahkan ada di antara mereka yang menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Bukan saja orang-orang yang tinggal di dalam barak, tetapi para pengawas pun menjadi sangat kagum melihat cara Swandaru menguasai lawannya yang lebih tinggi dan besar daripadanya. Apalagi melihat tubuh Swandaru yang gemuk itu, mereka menjadi terheran-heran melihat kelincahannya.

Sejenak orang yang tinggi kekar yang masih terbaring di tanah itu menggeliat. Mulutnya menyeringai menahan sakit. Tangannya ditekankan pada lambungnya yang agaknya men¬jadi sangat sakit.

Sejenak orang itu tidak segera mampu berdiri. Perlahan-lahan ia berusaha duduk. Meskipun, matanya menjadi merah oleh ke¬marahan yang memuncak, tetapi ia benar-benar tidak segera dapat bangun.

“Anak iblis!” ia mengumpat.

Swandaru masih berdiri di tempatnya. Ditatapnya saja wa¬jah orang itu. Wajah yang menjadi semakin tegang.

Namun dalam pada itu, perhatian setiap orang kini berpin¬dah. Tiba-tiba saja orang yang kekurus-kurusan melangkahi mendekati orang yang tinggi kekar, yang masih saja duduk di tanah.

“Berdirilah,” katanya.

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak segera berdiri.

“Marilah, aku tolong,” berkata orang yang kurus itu.

Maka orang yang tinggi kekar itu pun dibantunya berdiri. Meskipun dengan susah payah, akhirnya ia dapat tegak di atas kedua kakinya.

“Apakah kau masih mampu berkelahi?” orang yang kekurus-kurusan itu bertanya.

Sekali orang yang tinggi itu menggeliat. Namun ia tidak segera menjawab.

“Apakah kau masih mampu berkelahi?” orang yang kekurus-kurusan itu bertanya lagi. Lalu, “Inilah kebodohan kita. Orang-orang ini adalah orang-orang yang dengan sengaja ingin membuat kisruh di tempat ini. Mereka memang bukan orang kebanyakan. Anak yang gemuk ini telah mampu membantingmu. Agaknya kau menganggapnya terlampau rendah. Sekarang, hati-hatilah. Bersungguh-sungguhlah. Kalau perlu, kau dapat mempergunakan senjatamu. Aku akan mengawasi ayah dan kakaknya. Mereka pun bukan orang-orang kebanyakan.”

Orang yang tinggi kekar itu menjadi ragu-ragu. Tanpa sesa¬darnya ia meraba ikat pinggangnya yang besar.

Swandaru berdiri membeku di tempatnya. Demikian juga Agung Sedayu dan Kiai Gringsing. Mereka memang melihat hu¬bungan dari keduanya. Tetapi kini semakin ternyata bahwa keduanya memang bukan orang lain. Keduanya pasti mempunyai ikatan lebih dari kawan di dalam pembukaan hutan ini.

Namun yang mengherankan, agaknya orang yang kekurus-kurusan itulah yang mempunyai pengaruh yang lebih besar dari¬pada orang yang tinggi kekar, sehingga seandainya benar-benar me¬reka mempunyai ikatan tertentu, maka orang yang kekurus-kurusan itu pasti mempunyai kedudukan selapis lebih tinggi.

Dalam pada itu, wajah Swandaru, Agung Sedayu, dan Kiai Gringsing menegang, ketika mereka melihat orang yang tinggi kekar itu tiba-tiba mencabut sepasang pisau di kedua tangannya.

“Nah, tidak ada salahnya kalau kau mempergunakannya,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu. “Bahkan kalau terpaksa orang-orang itu mati, sama sekali bukan salah kita. Mereka telah melawan ketentuan yang ada di sini.”

“Tunggu,” sela Kiai Gringsing, “siapakah yang berhak mengawasi daerah ini? Kalau ada pelanggaran atau perlawanan terhadap peraturan yang berlaku, siapakah yang berhak ber¬tindak?”

“Persetan,” desis orang yang kekurus-kurusan, “kami akan berjasa kalau kami dapat membantu melakukan tugas para pe¬ngawas.”

“Demikian juga kami,” tiba-tiba saja Swandaru menyahut.

Orang yang kekurus-kurusan, orang yang tinggi kekar, dan orang-orang yang ada di sekitar arena itu pun menjadi heran.

“Kami juga merasa membantu para petugas, apabila kami dapat membuat kalian jera. Kalian adalah orang-orang yang sama sekali tidak menghargai orang lain, termasuk para petugas yang ada di sini. Justru kalian menganggap beberapa petugas yang ada itu sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa, sehingga kalian perlu membantu mereka.”

“Diam!” teriak orang yang kekurus-kurusan.

Suara teriakannya telah mengejutkan setiap orang yang men¬dengarnya. Suara itu keras, lantang dan berat, sehingga sama sekali berbeda dengan sifat-sifat yang setiap kali dilihat oleh orang-orang di dalam barak itu. Orang yang kekurus-kurusan itu sering menggigil ketakutan apabila ia melihat sesuatu, bahkan kesannya ia ada¬lah seorang penakut yang cengeng. Tetapi kini tiba-tiba saja ia menjadi sangat garang dan kasar.

“Jangan biarkan ia berbicara lagi. Bunuhlah kalau kau terpaksa melakukannya. Kau dan kita semua, tidak akan dihu¬kum oleh siapa pun.”

Orang yang bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba matanya menjadi liar dan kemerah-merahan, sedang kedua pisau di tangannya menjadi gemetar.

Sekilas Swandaru memandang mata pisau yang bergetar itu. Dadanya menjadi berdebar-debar ketika tampak olehnya bahwa daun pisau itu berwarna hitam kemerah-merahan. Sama sekali tidak putih mengkilap seperti sebilah pedang.

Gurunya melihat pula warna itu, sekaligus melihat ke¬raguan Swandaru. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Hati-hatilah atas sepasang pisau itu.”

Orang yang kekurus-kurusan dan orang yang tinggi kekar itu pun berpaling kepadanya, sementara Kiai Gringsing berkata te¬rus, “Pisau itu berbahaya bagimu. Setiap goresan di kulitmu, akibatnya akan sangat berbahaya bagimu. Ingat, orang-orang itu ada¬lah orang-orang yang senang sekali bermain-main dengan racun. Demikian juga pisau itu. Pisau itu tidak sekedar diberi warangan biasa, tetapi warangan yang mengandung racun yang paling tajam.”

“Persetan dengan igauanmu,” potong orang yang kekurus-kurusan.

“Tetapi jangan takut,” berkata Kiai Gringsang pula, “kau adalah orang yang kebal, setidak-tidaknya telah dibekali dengan berbagai macam obat untuk melawan racun. Berapa kali kau hampir mati karena racun. Tetapi kau masih tetap hidup sampai sekarang.”

Tetapi suara Kiai Gringsing terputus ketika orang yang kekurus-kurusan itu berteriak, “Jangan hiraukan kicau orang tua itu. Cepat, lakukanlah tugas ini sebaik-baiknya.”

Orang yang tinggi kekar itu memang tidak menunggu lagi. Perlahan-lahan ia maju mendekati Swandaru. Meskipun tenaganya kini sudah jauh berkurang, namun sepasang pisau itu benar-benar telah mendebarkan jantung.

Pisau yang beracun itu seakan-akan terayun-ayun di tangan orang yang tinggi itu. Sekali-sekali berputar dan sekali-sekali terjulur lurus ke depan.

“Gila,” berkata Swandaru di dalam hatinya. “Untunglah, bahwa tenaganya sudah hampir habis. Nafasnya pun agaknya sudah hampir putus. Kalau aku dapat menghindar terus-menerus, tanpa perlawanan apa pun, ia pasti akan berhenti dengan sendiri¬nya, kehabisan nafas.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian orang itu pun sudah mulai menyerang. Meskipun geraknya tidak lagi terlampau ce¬pat, tetapi kini ia memusatkan serangannya pada ujung pisau¬nya.

Swandaru merasa, bahwa ia harus benar-benar berhati-hati. Menurut gurunya, racun itu adalah racun yang sangat kuat. Sehingga karena itu, maka ia pun selalu menghindari serangan-serangan yang se¬gera datang beruntun.

Dengan ragu-ragu Swandaru mencari kesempatan untuk menye¬rang. Tetapi sepasang pisau itu benar-benar sangat berbahaya. Se¬kali ia memang melihat pertahanan orang itu terbuka. Namun ternyata Swandaru cukup waspada juga karena ia melihat jebakan-jebakan yang akan menyeretnya untuk berpelukan dengan maut.

Dalam pada itu, ternyata untuk beberapa saat Swandaru sama sekali tidak berdaya menghadapi kedua pisau beracun itu. Ia sama sekali tidak mau tergores meskipun hanya seujung ram¬but. Dengan demikian, maka ia hanya dapat berloncatan mundur dan berputar di arena perkelahian itu tanpa mendapat kesempatan sama sekali untuk menyerang.

“Selesaikan saja anak itu,” berkata orang yang kekurus-kurusan.

Tetapi seperti yang diperhitungkan oleh Swandaru, maka orang itu pun sudah menjadi semakin lelah. Nafasnya menjadi terengah-engah dan keringatnya sudah membasahi seluruh permuka¬an kulitnya.

“Apakah kau masih mampu mempergunakan tenagamu terakhir,” bertanya orang yang kekurus-kurusan.

Orang itu menggeram. Ditatapnya wajah Swandaru yang menegang sejenak. Tetapi Swandaru itu justru kemudian terse¬nyum sambil menjawab, “Mari kita berlomba lari. Berputar-putar di arena ini. Pada suatu saat, tanpa perlawanan apa pun kau akan pingsan. Nafasmu tinggal tersangkut di ujung hidungmu.”

“Licik,” teriak orang yang kekurus-kurusan, “Kau sangat licik. Itu bukan perbuatan jantan.”

“Senjata itu sangat berbahaya,” sahut Swandaru. “Sentuhan yang tidak berarti dapat membuatku mati. Dan aku tidak mau. Lebih baik kita berkejar-kejaran sampai kawanmu itu pingsan sendiri.”

“Kenapa kau tidak pulang saja?” bertanya orang yang kekurus-kurusan.

“Kenapa?” bertanya Swandaru.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (54)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-54/trackback/

RSS feed for comments on this post.

54 KomentarTinggalkan komentar

  1. terdengar suara seperti bayi menangis, lamat-lamat di tengah malam…Agung Sedayu sudah memegang ujung cambuknya dengan tegang, sembari beringsut maju menuju pohon besar tersebut, diikuti oleh gurunya…
    ternyata…mereka menemukan swandaru terisak-isak sambil berkata kepada gurunya “aku telah berhasih donlot rontal 53 guru, tapi tidak berhasil menemukan kitab 54…
    kyai gringsing menghela nafas dalam-dalam….. seandainya ki DD menoreh sudah mengupload kitab 54, pasti sudah diunduhnya kitab tersebut…
    “benar-benar menguji kesarehanku, akhir dari kitab 53, bikin penasaran & NANGGUNG BANGET!!! 😦

  2. Pertamax…

    sekali kali ngisi yang pertama aah…

    sebentar lagi mesti pada ngompor2 disini

    xixixi 😀

  3. kutunggu sampai jam 5 sore……….

  4. “Aku hampir pingsan karenanya.Hantu itu lewat beberapa langkah di dekatku. Satu diantara mereka berhenti, dan memandangku dengan sorot matanya yang merah menyala seakan-akan hendak membakar jantungku,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu sambil gemetar.
    “He…lalu apa yang dilakukan oleh hantu itu?” bertanya orang yang tinggi kekar itu.
    “Ya…apa yang kemudian terjadi? Lekaslah ceritakan kepada kami.” Orang-orang di barak itupun beringsut mendekati orang yang kekurus-kurusan itu. Betapa ketegangan dan ketakutan terbayang di wajah mereka. Bahkan beberapa di antara mereka mengginggil tubuhnya karena ketakutan.
    “Hantu itu mula-mula hanya menatapku saja,” orang yang kekurus-kurusan itu melanjutkan ceritanya. “Lututku sudah hampir tidak mampu menahanku lagi untuk terus berdiri saking gemetarnya, ketika tiba-tiba saja hantu itu menggeram dengan suara yang menyeramkan.”
    Tanpa sadar, orang-orang yang sedang mendengarkan cerita itupun semakin saling merapatkan diri. Rasa takut sekaligus penasaran nampaknya membuat suasana di dalam barak itu terasa semakin mencekam. Mendengar cerita itu, Kiai Gringsing tampak mengerutkan keningnya. Begitu pula dengan kedua orang muridnya. Sekilas keraguan terlintas di benak Agung Sedayu. Setelah sebelumnya Agung Sedayu mendengar cerita dan penjelasan dari gurunya tentang situasi dan kemungkinan yang sedang terjadi di Alas Mentaok tersebut, rasa-rasanya peristiwa yang baru saja terjadi tersebut semakin membuatnya pening.
    “Aku saat itu sudah pasrah, nyawaku rasanya sudah pindah ke ujung kepalaku,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu. “Namun tanpa disangka-sangka, hantu itu tiba-tiba saja berkata dengan suara yang terdengar seperti bergulung-gulung dari dalam perut. Hantu itu ingin menanyakan suatu hal kepadaku, dan jawabanku akan menentukan nasibku selanjutnya.”
    Orang yang tinggi kekar itu meloncat ke arah orang yang kekurus-kurusan itu, memegang kedua pundaknya lalu mengguncang-ngguncang tubuh orang yang kekurus-kurusan itu sambil berkata ,”Apa yang ditanyakan hantu tersebut, dan apakah jawaban yang telah kau berikan hingga kau masih diberi kesempatan kembali ke barak ini?”
    Orang yang kekurus-kurusan itu tidak segera menjawab. Wajahnya terlihat semakin pucat. Orang-orang di barak itupun menjadi tidak sabar dan berdebar-debar hatinya.
    “He…lekas ceritakan kepada kami, biar kami tidak semakin menjadi penasaran.”
    Orang yang kekurus-kurusan itu meneguk ludah, lalu mendesah. Nampaknya ia masih berusaha mengatur debar jantungnya yang nyaris copot setelah bertemu hantu tersebut. Akhirnya orang itupun melanjutkan ceritanya,”Hantu itu bertanya kepadaku, apakah aku pernah mendengar kabar tentang Kiai Dandang Wesi yang dulunya pernah bertapa di Gunung Merapi dan berhasil mendapatkan sebuah kitab pusaka yang di dalamnya memuat petunjuk tentang cara mempelajari sebuah ilmu yang nggegirisi, yang bernama Aji ADBM tingkat 54.”
    “Mendengar pertanyaan itu, akupun lalu menjawab bahwa aku belum pernah mendengar tentang orang yang bernama Kiai Dandang Wesi. Namun dari yang pernah aku dengar, kitab pusaka ilmu ADBM tingkat 54 saat ini tersimpan di dalam bilik penyimpanan pusaka milik Ki Gede Menoreh.”
    “Atas jawaban yang aku berikan itu,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu melanjutkan, “hantu itu menggeram dengan keras, hingga aku menjadi jatuh terduduk saking gemetarnya lututku. Aku saat itu menyangka bahwa jawaban yang sudah akau berikan tidak dapat diterima oleh hantu itu. Namun dengan tidak disangka-sangka, hantu tersebut berkata bahwa aku diperbolehkan kembali ke barak ini. Hantu itu percaya dengan keterangan yang aku berikan, dengan nama besar Ki Gede Menoreh yang pasti akan menjaga kitab pusaka tersebut dengan baik, dan segera mewariskannya kepada para cantrik yang sudah harap-harap cemas menanti ilmu tersebut diturunkan.”

  5. Ki Sumangkar mendesah dalam hati, “Ki Gede benar-benar telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan para cantrik itu, sehingga sebaiknyalah mereka menahan diri, justru supaya Ki Gede bisa lebih cepat menyediakan kitab-kitab itu.”

    Jawab Sekar Mirah, “Biar sajalah guru, justru ketidaksabaran para cantrik itu yang mendorong Ki Gede mengirimkan kitab-kitab itu dengan lebih cepat.”

  6. “Agung Sedayu …, jangan terburu nafsu ..” kata Kyai Grinsing. “Bersemedilah … pusatkan segenap panca-indramu. Renungkanlah semua yang telah kau alami sejak jilid 01 sampai ke 53. Setelah itu bayangkan apa yang ingin kau kuasai di jilid 54. Tak akan lama lagi apa yang kau ingini itu akan menjadi kenyataan dan kemampuanmu pun akan bertambah dengan cepat”. Begitulah Kyai Gringsing menasehati murid pertamanya.

  7. Nimbo banyu sindang papat
    ……………………
    tarik mang,…seket papat

  8. para sederek, kula aturi nyebar godong koro, sabar sauntara. sudah menjadi perjanjian bahwa tayangan ADBM ini adalah SBPH, satu buku per hari, jangan nggege mongso.
    sabaaaar….
    tapi klo Ki DD Menoreh berkenan DBPH, dua buku per hari, aku setujuuuuuu….
    Lha aku sendiri jadi ikut gak sabar, maaaf.

  9. “Kiai Damar, apakah engkau memperhatikan para cantrik itu ?” bisik Kiai Telapak Jalak, “Tampaknya mereka menunggu sesuatu yang sangat berharga bagi mereka.”

    “Benar Kiai,” desis Kiai Telapak jalak “mereka menunggu penghubung dari Ki Gede yang membawa cover kitab 54. Apabila cover itu sudah sampai ke tangan mereka, maka justru mereka akan semakin berdebar-debar, karena kitab itu sendiri sudah semakin dekat. Bahkan aku dengar Ki Gede berkata bahwa cover merupakan awal kepastian harapan”

  10. Dalam serangannya yang gencar, orang bertopeng itu berkata “Serahkan Kitab 54 cepat!”
    “Omong kosong apa kau ini?” jawab Agung Sedayu “Kitab 54 tidak ada padaku”
    “Bohong!”

    Sementara itu dari semak-semak didekatnya, meloncatlah Sukra dengan serta merta. Sukra yang lagi menuntaskan hajatnya disemak2 tersebut, segera saja melompat akibat bunyi ledakan. Sedemikian kerasnya ledakan itu sampai-sampai Sukra yang sedang asyik tersebut, lupa memakai celananya. Karena dilihatnya Agung Sedayu sedang terdesak hebat, maka langsung saja Sukra terjun ke arena pertempuran. Sukra benar2 lupa akan keadaanya yang tidak berpakaian lengkap.

    “Aku bantu kau Adi Agung Sedayu” teriak Sukra sambil meloncat menyerang.
    “Hei, Siapa kau? Cari mati ya?” teriak orang bertopeng itu kepada Sukra.
    ” Kau yang cari mati, orang gila” Jawab Sukra tak kalah Garang, ” Tidak tahukah kau, aku adalah orang penting di padepokan ini?”

    Kehadiran Sukra ternyata langsung mempengaruhi keadaan. Serangannya sungguh menakjubkan. Keadaannya yang tidak berpakaian lengkap itu, ternyata membuat Orang bertopeng itu terdesak hebat. Sukra seolah-olah mempunyai tiga buah kaki. Orang bertopeng itu pun terus terdesak sambil mengumpat2.
    Akhirnya orang bertopeng itu melompat menjauh sambil berteriak ” Awas kalian orang2 padepokan ADBM, kalau Kitab 54 tidak segera kalian serahkan, lain waktu aku akan membawa pasukan untuk menghancurkan padepokanmu”.
    Di lain kejap, meloncatlah orang misterius itu di balik rimbunan semak di pinggir sungai.

    Akhirnya Agung Sedayu membatin “Kenapa kitab 54 tidak segera di uplod saja oleh Ke Dede, agar padepokan ini segera tenang…”

  11. “Guru, aku semakin pening mengikuti perkembangan hantu2 alas Mentaok, yang sekarang ditambah munculnya Dandang Wesi dari gunung Merapi.” desis Swandaru, “Seandainya saja utusan Ki Gede sudah tiba sambil membawa cover kitab 54, paling tidak gambaran itu akan semakin jelas.”

    “Ah kau,” sela Agung Sedayu, “Nanti kalau cover itu benar-benar tiba, aku yakin kau akan semakin pening menunggu kitab 54 itu sendiri.”

    “Sudahlah,” kata Kiai Gringsing, “Sebaiknya kalian belajar menahan diri. Bagaimanapun Ki Gede adalah orang yang teguh memegang kata2nya sendiri. Apabila ia sudah memutuskan 1 buku per hari, pasti itu yang akan dilakukannya.”

    “Benar Kiai,” sahut Ki Sumangkar, “walaupun sebaiknya kita juga tidak menutup kemungkinan Ki Gede berubah pikiran.”

  12. Para pekerja di pemondokkan itu dikejutkan oleh datangnya seseorang yang terengah-engah sambil membawa sobekan cover 54. Orang itu berumur kira2 setengah baya, badannya penuh goresan kecil sepertinya ia baru saja melakukan perjalanan jauh melalui hutan lebat dibelakang pemondokan.
    Salah seorang dari pekerja segera memberikan minum kepada orang itu, karena terlihat bahwa ia hampir kehabisan napas. Setelah minum air sumur itu, barulah napasnya berangsur normal, walau masih sedikit diselingi dengan tarikan napas panjang. Setelah itu barulah seorang yang dituakan disitu berani bertanya. ” Kisanak, silahkan kisanak menceriterakan kepada kami, maksud kedatangan kisanak. Kisanak berasal dari mana, dan kelihatannya membawa kabar penting dari jauh?”.
    “Alhamdulillah kiai”, Orang itu menarik napas panjang, “saya bertemu peradaban di sini”. “Nama saya Kasduloh, berasal dari desa Gumuk” orang itu malanjutkan. “Saya sudah lama mengabdi di Perdikan Menoreh. Disana sedang dilakukan kodifikasi Babad Menoreh karya seorang pujangga besar. Dan sayalah yang mendapat tugas untuk membuat covernya menggantikan Kiai Herry Wibowo. Dari buku 1 hingga buku 53 sudah dapat dilakukan dengan lancar. Namun pada buku 54 ketika sedang dilakukan pengisian tosan aji, tiba2 ada seseorang yang mengganggu semedi saya dan berusaha merebut cover yang sedang saya garap itu. Saya berusaha mencegah namun gerakan orang itu begitu cepat, sehingga hanya sebahagian saja yang dapat saya selamatkan, sementara sisanya ada pada orang itu, yang lari menyebarangi hutan Mentaok dan lenyap disekitar pemondokan ini”.
    Semua orang berseru tertahan mendengar cerita Kasuloh.
    Orang tertua disitupun menyaut, “Tetapi sepertinya sejak kemarin tidak seorangpun yang datang kemari ki sanak. Mungkin kisanak salah lihat arah yang dituju orang tersebut”. “Tidak kiai, saya yakin sekali orang itu lari masuk lewat pintu ini” jawabnya. Orang2 yang mengelilingi Kasuloh saling berpandangan.

  13. biasanya jam 10.00 tit muncul,ini sudah hampir tengah hari kok masih tenang2 aja.

  14. biasanya ada cover ada harapan
    hampir tengah hari cover koq belum muncul juga
    jangan-jangan…..ah
    jangan-jangan…..

  15. hari kerja yang normal itu kan senin – jumat

    Sabtu minggu kan libur, jadi ya mbok sabar tho sedulur2

    ki DD kan juga punya kehidupan nyata

    peace,
    Ki KontosWedul

  16. Tak tunggu saka esuk uthuk2 kok jilid 54 durung mecungul…. Pokoke nek engko jam 16.00 thit durung metu… Awas…! Tetep tak enteni….

  17. “Aku sendiri pernah melihat” sahut Agung Sedayu. “Kiai Dandang Wesi ada dipihak kami. Menurut Kiai Dandang Wesi semua yang kasat mata manusia, memang diperuntukkan bagi manusia wadag seperti kita. Bahkan, kakak seperguruan Kiai Dandang Wesi yaitu Kiai Wajan Waja, yang mempunyai kesaktian yang lebih mumpuni karena penguasaan atas lontar pusaka perguruannya yaitu ADBM jilid 54. Untuk menolong kita menghadapi para hantu, lontar pusaka ini akan segera dikirim kemari untuk mengatasi keadaan disini.” Begitulah Agung Sedayu menjelaskan kepada para pengawal dengan panjang kali lebar.

  18. “Kakang Agung Sedayu …. lihat sekarang …. hantu-hantu yang penasaran ternyata bukan hanya tiga.” Kata Swandaru.
    Dalam hati Agung Sedayu mulai menghitung …. ternyata ada ratusan hantu-hantu yang penasaran keluar masuk kapling 54 alas Mentaok yang lagi dibabad.
    “… Guru harus diberitahu … supaya secepatnya ada sesajen ditaruh di kapling 54, kalau nggak begitu bisa tambah banyak yang penasaran. He he hee yang tulis ini juga seekor diantara hantu-hantu itu kok …..

    Sesajennya .. Ki DD Mentaok …. cepat dikeluarin.

  19. wah wah dikompor kompori tukang kompor isih tetep rung mecungul glundung pringise, opo wewe gombel kamar 54 lagi macak ben yen metu mengko soyo katon ayu, lha wong yo malem minggu, hantu saiki ora malem jemuah , ning malem minggon je.

  20. 54
    54
    54….
    ……..
    oh .. apakah malam minggu harus kulalui dengan kelabu??..
    kemanakah gerangan dikau??..,…kukira kau telah menungguku di rumah.., ternyata belum juga datang…

    mnyem2 mnyem2 mnyem2…..
    wulih wuih wuih….
    bakar menyan
    kopi pahit kopi manis…
    bubur putih kuning merah…
    semoga jin penunggu alas mentaok
    pengasuh sutawijaya..
    datang berkenan bawa 54….
    amin amin amin…

  21. Ki DD,,,
    nampaknya para ADBMers lama2 perlu psikolog.., malah mungkin psikiater ya??… Gejala apa nih yg melanda padepokan kita??….udah pada jadi SH Mintardja semua… hahahahahaha
    salam, semoga sehat2 wal afiat
    banyak rejeki
    selalu prima..

  22. Hee… aku lihat sudah ada cover 54..!?

  23. “Dengar, bunyi berkerincing itu datang lagi,” bisik pengawal itu dengan wajah pucat. Seketika, semua orang yang tinggal di barak itu merasa menciut hatinya dan berdiam berdesak-desakan.

    Namun orang yang bertubuh kekar itu justru mendelik marah kepada Kiai Gringsing. Serunya, namun tetap sambil berbisik, “Truna Podang, kaulah yang harus bertanggung jawab. Inilah akibat pokalmu yang sombong, sehingga hantu-hantu itu berkeliaran lagi.”

    Di luar, suara gemerincing itu bertambah keras, diiringi kilatan-kilatan api yang kebiru-biruan. Di antaranya nampak pula cahaya persegi yang samar-samar jingga kemerahan seperti melayang-layang di udara, diapit oleh dua jerangkong yang sekali-sekali terlihat tulangnya seperti bercahaya.

    Melihat lembaran cahaya persegi itu, Swandaru terlonjak kaget. Tanpa dapat dicegah lagi ia meloncat keluar barak, menerobos pintu yang setengah terbuka. Gurunya yang waspada segera menyusulnya, namun Swandaru telah lenyap ditelan kegelapan malam.

    “Swandaru, kembalilah,” teriak Kiai Gringsing cemas, menembus suara gemerincing yang telah semakin menjauh, “yang lewat itu baru cover-nya. Kitab Jilid-54 yang asli belum dikeluarkan ..!”

  24. dengan garangnya kiai gringsing berloncatan sambil mengayun ayunkan cambuknya. namun kali ini dia tidak menggunakan senjata cambuknya itu sebagaimana biasanya, justru dengan menggunakan pangkal cambuknya dia membunuh ular ular yang mencoba mendekatinya sambil berteriak nyaring, ” mannaaaaa jilid 54 nyaaaa..”

  25. “ini … ini.. ampuuun.. ampunnnn Ki Dandang Wesi… ini silakan diambill nomor 54 nya…” teriak hantu jerangkong kesakitan.

  26. Ketika ketegangan semakin memuncak, maka mentaripun semakin jauh meninggalkan titik kulminasi menuju ke peraduannya. Orang2 yang berkerumun mengitari Kasduloh-pun semakin menyemut. Haripun semakin senja, terlihat bayang2 sinar matahari sudah semakin suram. Angin barat yang bertiup cukup kuat meniupkan hawa dingin pegunungan, menjadikan situasi semakin mencekam. Daun2 pohon singkong yang ditanam para penghuni pemondokan di kebun terlihat meliuk-liuk tangkainya dan menguncupkan daunnya, tidak kuasa melawan hembusan angin..

    Tiba2 terdengar suara tertawa lembut namun mampu menggetarkan dada setiap orang yang berada dihalaman pemondokan itu. Disamping dada yang berdebaran maka lututpun menggigil oleh suara dan suasana saat itu.

    ”Ha ha ha ha ha, ………………. dasar semuanya pengecut, baru tertiup angin saja sudah pada terkencing-kencing”, tiba2 saja terdengar orang menggerutu dari sela2 kerumunan itu. Orang2 yang sedang berdiri tegang itu memberikan jalan kepada seorang tua yang tiba2 saja menyusup dan menyibakkan kerumunan menuju ke tengah halaman di mana Kasduloh dan tetua para pekerja sedang berbicara.

    Begitu sampai ditempat Kasduloh, maka tiba2 pendatang yang baru tiba itu memberikan sobekan halaman 54 kepadanya, sambil berkata, ”Nih ambilah aku sudah tidak memerlukannya lagi!”. Begitu cepat kejadian itu berlangsung maka tiba2 orang itupun lenyap dari pandangan semua orang yang ternganga keheranan.

    Kasduloh segera merapikan lembaran yang berasal dari genggaman orang itu, dengan lembaran yang dibawa oleh dirinya. Kemudian disatukannya kedua lembaran itu sambil meletakkan dihadapannya sembari duduk bersila di tempat itu.

    Kemudian iapun berdo’a dengan berkomat-kamit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas. ”Ajaib” teriak semua orang di halaman itu. Tiba2 saja Sampul 54 itu menyatu, dan kemudian terangkat ke atas sambil berputar. Kemudian ketika angin meniup dengan keras, maka terbanglah Sampul 54 itu ke atas dan lenyap dari pandangan semua orang.

    ”Alhamdulillah, ………………. yang Maha Kuasa telah mengabulkan do’aku, dan sekarang Sampul Buku 54 telah menyatu kembali dan terbang ke Rumah Ki Dede Menoreh untuk dapat dipasang di halaman depan rumah Ki Dede Menoreh”. Kemudian Kasuloh memandang berkeliling ke wajah orang2 yang mengitarinya. ”Saudara2 saya mohon maaf telah mengganggu ketenteraman waktu istirahat andika semua. Sekarang persoalan saya sudah selesai, bagi andika yang ingin melihat Sampul Buku No.54, silahkan klik di https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-54/.”

    ”Lha selanjutnya Kisanak mau kemana?” tanya tetua.

    ”Saya mau lapor kepada petugas di gardu depan” jawab Kasduloh.

    ”Kalo begitu mari saya antarkan” kata tetua, kemudia kepada orang2 yang berkerumun ia berkata, ”Saudara2 silahkan kembali beristirahat, saya mau mengantarkan angger Kasduloh ke Gardu penjagaan”. Baiklah ki, sahut beberapa orang sambil meninggalkan kerumunan, dan kembali ke barak masing2. Maka setelah Kasduloh dan tetua itu meninggalkan halaman pemondokan maka bekas kerumunan itupun sunyi kembali. Di dalam hati orang2 berharap nanti kalo meng-klik buku 54, maka tidak hanya covernya yang ditumui, namun juga beserta isinya. Amien.

  27. Matur nuwun ki Dede

  28. Yes..!!!!!
    54 dah donlot..
    tengkyu

  29. “Kali ini tidak salah lagi, Guru,” ujar Swandaru sambil terus menggerakkan jari-jarinya dengan cekatan menurut jurus yang telah diajarkan oleh gurunya.

    Orang-orang yang tinggal di barak itu pun mengerumuni dan memperhatikannya dengan kekaguman yang bertambah-tambah. Tidak terkecuali orang yang tinggi kekar dan yang kekurus-kurusan. Bahkan orang yang tinggi kekar itu kali ini terus menyemangatinya, “Ayoh, Sangkan, jangan ragu-ragu, terus saja donlod… Nanti kita baca bersama-sama di waktu istirahat senja.”

    wekwekwekwek …

  30. wah kalo hantu2 tidak segera dibasmi Mataram akan lamban berkembang.
    tolong kiai grinsing segera membuka kitab 54 nya. ayahanda pemanahan mengharap sekali.

  31. matur nuwun……………………..meniko kados tetesipun embun wonten ing oro-oro alas mentaok

  32. Istilah Jawa di Buku 54

    Amben = tempat tidur dari bambu
    Dlupak =lampu minyak kelapa
    Planggrangan = penyangga, biasanya dilekatkan di dinding atau di tiang rumah.

    Bacaan:
    Kamus Lengkap Jawa-Indonesia
    Pengarang: Sutrisno Sastro Utomo
    Penerbit: Yayasan Kanisius
    Tahun 2007

  33. Ki Sukra dan Ki DD, tolong dong bagaimana cara membuka kitab 54 ini?.Browser saya selalu membaca file PDF, sehingga gagal down load. Kapan kira2 versi convert nya dibuat ya?

    Matur nuwun……..

  34. Istilah Jawa (part 2)

    Dingklik : bangku kecil
    Wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)
    Waringuten: kewalahan

    Bacaan:
    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa

  35. Istilah Jawa (lanjutan)

    Dingklik : bangku kecil
    wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)

    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa

  36. Ki GD & Ki or Nyi(?) Dede,

    Terima kasih kiriman kitab 50 nya, sayangnya saya nggak bisa buka file DJVU tsb. juga kitab 54 ini.Wah, pokoknya penasaran buanget deh…..
    Dulu sdh pernah baca(jaman muda…hehe) tapi lupa semua dan kitab saya hilang semua, tinggal sisa beberapa kitab seri IV.
    Mudah2 an ada yg bantu convert ke file doc dalam waktu dekat ini….

    Terima kasih

  37. duuuu… kaciannya mas selamat ini
    aku perhatikan begitu antusias banget dengan cerita yang menurut sesepuh ceritera ini tiada bandingnya.. untuk itu aku persilahkan mengunduh lewat pintu ini

    GD: Masalah Slamet ternyata lebih mendasar: bukan tdk bisa ngunduh, tapi gak bisa mbuka karena kompi-nya tdk punya viewer-nya.

  38. sudah dikirim manual via email lha kok jawabannya seperti itu 😀
    ki dede.. cobalah pake PPT bukan PDF seperti biasanya.

    GD: Njih Mas, nanti pake PPT (malah tambah bingung)

  39. Untuk mengatasi kasus-kasus seperti yang dialami oleh mas slamet, mungkin Ki Sukra atau GD bisa menyediakan kolom khusus untuk menampung hasil konvert (khusus teks tanpa gambar).Urusan mengkonvertnya bisa saya bantu, setidaknya bisa sedikit menghibur para cantrik yang bernasib seperti mas slamet.

  40. sapa tau ya ada yg berkenan bikin kamus atau catatan kaki bahasa /istilah jawa-jogya yg ada di ADBM – maklum ga semua pembaca tau artinya, kadang cuma meraba raba aja,,,,sedangkan yg baca ADBM datang dari berbagai pelosok yg tentu ga paham dgn istilah jawa spt saya…

    contoh…

    1.pring ori
    2.jenang alot.
    3.bulak
    4.segelar sepapan..
    5.gringsing?….
    dlll masih banyak banget…

    atau Ki Jebeng said berkenan??….hehe, trims
    trims juga sama mas DD yg lagi upload 55 (hehe, maksa).

  41. Kata pembantu saya pring ori itu, sejenis pagar tanaman bambu jenis “ori”??…, apa betul begitu Ki Jebeng??..
    Trus jadi inget ada daerah Pring Sewu ya di lampung?/…
    Gringsing katanya sejenis motif batik??.., kayak apa ya.., jadinya cuma ngira2 aja tuh..
    Kalo berkenan Ki Jebeng bisa bikin catatan kaki??.. maaf bikin repot nih…, atau para kisanak ADBMers yg lain,Ki Glagah putih??, atau mas Truno podang yg sdh mirip SH Mintardja tuh??.. sudi kiranya bermurah hati bikin catatan kaki istilah jawa-jateng-jogya yg ada di buku ADBM??.. siapa tau bermanfaat sebagi bekal warisan buat generasi yad..
    wass

  42. Mas Dewo1234, ini arti kata2 tsb, menurut versi dan sepenerjemahan saya…..

    1. pring = bambu. Ori = salah satu jenis bambu, yg batangnya gede2 & banyak duri. Jadi ada bambu kuning, bambu wulung, bambu ori/petung, dll

    2. Jenang alot, bayangan saya kok fisiknya mirip jadah yg berbahan ketan itu, tapi warnanya hitam. Di Solo biasanya dijual bareng krasikan. Tapi beda dg wajik lho… (he.. he… makin pusing ya mas?). Ada yg bisa kasih pencerahan ki sanak yg lain?

    3. Bulak = area persawahan yang -biasanya- terletak diantara dua pemukiman (desa/dukuh). BELIK = mata air kecil

    4. Segelar-sepapan= pasukan prajurit dalam jumlah relatif banyak, dan sudah dalam posisi ready. Jadi kalo banyak prajurit tp sedang tidur semua dalam barak, biasanya gak disebut pasukan segelar-sepapan.

    5. Gringsing, itu nama salah satu dari banyak jenis/corak batik. Corak/motif lain misalnya Kawung, Parangrusak, dll.

    6. Jebeng, kl gak salah adalah panggilan ortu untuk anak2, khususnya cowok.

    Monggo kalau ada yg mau mengoreksi/menambahi, secara saya ya cuma sok tahu….

  43. “Mudah-mudahan saja ada yang bersedia, ya, Ki Sadewo,” Kiai Gringsing bergumam sambil manggut-manggut.

    “Hem,” ujarnya lebih lanjut, “kalau Ki Sadewo 1234 berkenan melihat-lihat jemuran kainku yang lusuh-lusuh itu, silahkan klik gambar di pinggir halaman ini yang paling bawah …”

  44. Terima kasih para Kisanak semua yang telah berusaha membantu saya.
    Sekarang sudah hadir kitab 54 yang versi convert file doc, jadi saya sudah dapat memperdalam ilmu lagi….

  45. tiga setengah tahun sudah, gandhok ini tidak dikomeni cantrik.

    • tiga setengah tahun sudah, gandhok ini tidak diureg2-i cantrik.

      • inilah seribu harinya sebagai daripada apa namanya ,,,

        • limang tahun

          • wis suwek….eh….tuwek

            • Eh eh eh, jebulnya masih ada juga yang ingak inguk…
              Harak inggih dhawah sami wilujeng to Ki KartoJ ?

              • Weh..Ki Gembleh…inggih wadhah..eh..dhawah sami wilujeng Ki 🙂

                • kangen suasana padepokan lur

                • omg

  46. 2012 yang yr terahir


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: