Buku 54

Swandaru pun kemudian melangkah ke balik dinding yang menyekat ruangan di dalam gubug itu. Diambilnya lampu minyak yang masih menyala kekuning-kuningan.

Kiai Gringsing yang kemudian menerima lampu itu menga¬mati bintik yang bercahaya pada tubuh ular-ular itu. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, “Tidak beracun,” katanya.

“Apa Guru?” bertanya Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan.

“Rena dan kunang-kunang yang dilekatkan dengan sebangsa getah pada tubuh ular ini, sehingga binatang-binatang kecil itu masih tetap hidup untuk beberapa lama.”

“Hem,” Swandaru menarik nafas dalam-dalam, “benar suatu permainan yang mengasyikkan.”

“Demikian pulalah agaknya setiap cahaya yang terdapat pada hantu-hantu itu. Pada tengkorak-tengkorak jerangkong dan pada kuda-kuda yang sering disebut-sebut orang.”

“Apakah Guru memastikan?”

“Belum. Tetapi pendapat ini dapat menjadi bahan penye¬lidikan seterusnya. Kita harus meyakini, dan kita harus ber¬usaha memecahkan teka-teki itu. Kalau kita berhasil, kita pun harus tahu, alasan apakah yang telah mendorong orang-orang itu berbuat demikian.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sadar, gurunya telah mengambil kesimpulan, bahwa kepercayaannya terhadap hantu-hantu itu menjadi semakin tipis.

“Tetapi bagaimana dengan hantu-hantu yang datang dari luar Alas Mentaok?”

“Pada suatu ketika kita akan mendapatkan jawabnya pula.”

“Dan Kiai Damar?”

“Memang masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab kini. Itulah sebabnya kita masih harus tetap dalam keadaan kita sekarang.” Kiai Gringsiug terdiam sejenak, “Namun setelah ular-ular ini, mungkin kita masih akan mendapat mainan yang lain, yang kita masih belum dapat mengetahuinya.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka pun kemudian merenungi bangkai-bangkai ular yang berserakan di lantai. Terbayang di dalam angan-angan mereka, kemungkinan yang lain yang tidak kalah berbahayanya dari ular-ular itu.

“Guru,” tiba-tiba Swandaru bertanya, “bagaimanakah de¬ngan cambuk-cambuk kita?”

“Kenapa?”

“Kami telah memukul ular-ular itu dengan tangkai cambuk ini.”

“Tidak apa-apa. Tidak akan dikotori oleh racun-racun.”

Swandaru mengangguk-angguk sekali lagi. Tetapi ia masih juga ragu-ragu ketika ia melingkarkan cambuknya di lambungnya.

Agung Sedayu pun kemudian menyimpan senjatanya pu¬la. Sementara Kiai Gringsing masih saja mengamati ular-ular yang sudah tidak bernyawa lagi itu.

“Sudahlah,” katanya, “besok pagi kita tanam di belakang rumah ini. Sekarang beristirahatlah, meski pun kalian ma¬sih harus berjaga-jaga semalam suntuk. Mungkin masih ada per¬soalan-persoalan lain yang akan menyusul kemudian.”

Agung Sedayu dan Swandaru berpandangan sejenak. Na¬mun tanpa mengucapkan kata-kata, mereka segera duduk kembali di atas amben bambu bersandar dinding. Dan sejenak kemudian gurunya pun ikut duduk pula terkantuk-kantuk, meski pun ia sama se¬kali tidak kehilangan kewaspadaan.

Ternyata sesudah itu, tidak ada apa-apa lagi yang menyusul. Dari celah-celah dinding, mereka kemudian melihat bayangan fajar yang kemerah-merahan.

“Kita masih sempat melihat fajar,” desis Swandaru.

“Hus,” desis Agung Sedayu.

“Ular-ular itu hampir saja mengakhiri petualangan kita,” sahut Swandaru.

“Marilah kita tanam di kebun belakang.”

Mereka pun kemudian membawa ular-ular itu dengan galah-galah bambu ke belakang gubug. Selagi fajar masih remang-remang, mereka dengan tergesa-gesa telah menanam bangkai-bangkai ular itu.

“Kita tidak perlu mengatakannya kepada siapa pun bahwa kita telah disambut oleh sekelompok ular-ular yang sisiknya bercahaya,” berkata Kiai Gringsing.

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ketika hari menjadi semakin terang, maka mereka pun telah selesai dengan kerja mereka. Karena itu, maka mereka pun se¬gera berkemas. Karena di sekitar gubug itu tidak ada air, maka mereka terpaksa pergi ke gardu pengawas untuk mencuci muka dan sekaligus mengambil rangsum mereka sebelum mereka berangkat ke tanah garapan.

“He, apakah kalian dapat tidur?” bertanya salah se¬orang petugas.

“Nyenyak sekali. Ternyata tempat itu jauh lebih baik dari pada ikut berjejal-jejal di dalam barak,” jawab Swamdaru.

Kiai Gringsing hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, meski pun ia cemas juga, bahwa kadang-kadang Swandaru berbicara asal saja melontarkan kata-kata.

Tetapi berkata Swandaru pula, “Kami masih harus membersihkan tempat yang masih terlampau kotor itu. Agaknya sejak gubug itu dikosongkan, sama sekali tidak pernah disentuh tangan.”

“’Memang tidak ada orang yang merasa berkepentingan untuk membersihkannya.”

“Sayang sekali. Dan agaknya kami kerasan tinggal di dalam gubug itu.”

Petugas itu mengerutkan keningnya. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Kalau pada suatu ketika, kau didatangi oleh hantu-hantu, maka kau akan berkata lain.”

Setelah mencuci muka, serta mengambil rangsumnya sama sekali, maka ketiganya pun kemudian kembali ke gubug yang ter¬pencil itu.

“Kita tidak sempat membersihkannya pagi ini. Nanti sa¬ja setelah kita kembali dari tanah garapan,” berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepala mereka. Agaknya matahari memang sudah melonjak naik ke punggung bukit. Meski pun tidak ada seorang pun yang mengharus¬kan mereka berangkat pada saat-saat yang lazim, tetapi rasa-rasanya kurang baiklah kiranya apabila mereka berangkat terlampau siang.

“Tempatkan barang-barangmu di tempat yang kau kenali baik-baik. Lihatlah segala benda-benda yang ada. Nanti kalau kita kembali, kita akan melihat, apakah ada perubahan betapa pun kecilnya di dalam gubug ini.”

“Baik, Guru,” jawab keduanya hampir bersamaan.

Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian mencoba me¬ngenali setiap benda yang ada di dalam gubug itu. Bahkan sudut-sudut dinding pun mereka amat-amati. Mereka masih melihat sehelai kain yang kasar di sudut ruang yang terbuka, karena beberapa potong bambu dindingya telah dirusak semalam.

“Dengan kain yang kasar dan tebal inilah mereka mem¬bawa enam ekor ular itu,” desis Swandaru.

“Ya. Ular yang telah dilatih untuk menyerang manusia,” sahut Agung Sedayu.

“Benar begitu?”

“Menurut Guru.”

Swandaru mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menja¬wab lagi.

Sejenak kemudian setelah mereka selesai mengamati setiap benda yang ada di dalam gubug itu, maka mereka pun segera me¬ninggalkannya setelah mereka menutup pintu lereg.

Sambil menjinjing rangsum mereka, mereka pun kemudian berjalan ke gardu pengawas. Beberapa orang sudah berkerumun sambil membawa alat-alat mereka masing-masing. Mereka akan segera berangkat ke tanah garapan masing-masing setelah mereka mengambil rangsum mereka.

“He, kau sudah membawa rangsum?” bertanya seseo¬rang.

“Aku datang jauh sebelum kalian,” jawab Kiai Gringsing.

“Bagaimana dengan gubug itu?” bertanya yang lain.

“Menarik sekali,” jawab Kiai Gringsing. Tetapi sebe¬lum ia melanjutkan kata-katanya, terasa lengannya digamit sese¬orang. Ketika Kiai Gringsing berpaling dilihatnya orang yang kekurus-kurusan itu memandanginya dengan mata terbelalak, “Kau sudah ada di sini sepagi ini?” ia bertanya.

“Kalian juga sudah ada di sini,” sahut Kiai Gringsing.

Sejenak orang yang kekurus-kurusan itu memandangi Kiai Gringsing seperti orang yang keheran-heranan.

“He, kenapa kau memandang aku seperti itu?” bertanya Kiai Gringsing. “Apakah kau belum pernah melihat aku?”

“O,” orang itu tergagap. Jawabnya, “Kau memang orang-orang yang berani. Apakah kau tidak diganggu oleh hantu-hantu dalam ujud apa pun?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak ada yang mengganggu sama sekali.”

“Belum. Di malam-malam berikutnya kau tidak akan dapat ti¬dur sama sekali.”

“Mudah-mudahan tidak ada gangguan apa pun seperti di malam pertama.”

Orang yang kekurus-kurusan itu masih saja memandanginya dengan herannya. Namun sejenak kemudian ia pun pergi meniggalkan Kiai Gringsing.

“Kenapa ia tampak menjadi heran melihat Guru?” ber¬tanya Agung Sedayu.

“Itulah yang menarik perhatian,” jawab gurunya, “te¬tapi kita masih belum dapat mengambil kesimpulan yang pasti.”

Agung Sedayu tidak menyahut lagi. Tetapi ia terkejut ke¬tika tiba-tiba saja seseorang telah mengguncang-guncang tubuh gurunya. “Kau masih juga hidup?” terdengar seseorang menggeram.

Kiai Gringsing dan kedua muridnya serentak berpaling. Dilihatnya orang yang tinggi kekar itu berdiri di belakang Kiai Gringsing.

“O, pundakku sakit,” desah Kiai Gringsing.

“Kau masih hidup, he?” ulang orang itu.

“Seperti yang kau lihat.”

“Kami seisi barak menjadi cemas.”

“Kenapa?”

“Aku yang kebetulan saja melihat. Kau tahu, bahwa aku tidur di serambi.”

“Ya.”

“Hampir tengah malam kami mendengar suara berdesing berputaran di atas barak. Tetapi semua orang sudah tertidur.”

“Kau saja yang mendengar?”

“Ya,” orang itu menjadi bersungguh-sungguh, “ternyata sua¬ra itu adalah suara ular Gundala.”

“He, ular apakah itu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Sejenis ular yang dapat terbang. Ada dua jenis ular Gundala. Ular Gundala Seta yang berwarna putih dan ada ular Gundala Wereng yang berwarna hitam.”

“Tetapi…..,” Swandaru hampir saja menyahut kalau gurunya tidak menggamitnya.

“Lalu, ular apakah yang kau lihat malam tadi? Yang putih atau yang hitam?”

“Bagaimana aku tahu.”

“Tetapi, kenapa kau tahu bahwa yang berdesing di udara itu ular Gundala.”

“Baik yang putih mau pun yang hitam mempunyai ciri yang sama. Keduanya mempunyai bintik-bintik yang bercahaya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan orang yang tinggi itu berkata, “Ular-ular itu adalah salah satu dari jenis-jenis senjata pasukan kajiman di Alas Mentaok. Aku sudah mencemaskan nasibmu, kalau-kalau ular itu menyerangmu.”

“Beruntunglah, bahwa ular-ular itu tidak menyerang kami.”

“Tidak seorang pun yang mampu mengelakkan serangan¬nya.”

“Untunglah. Dan bersukurlah kami bahwa kami tidak menjadi korbannya. Aku berterima kasih atas perhatianmu dan bukankah kau katakan seisi barak ini menjadi cemas?”

Orang yang tinggi kekar itu mengerutkan keningnya. Se¬jenak ia memandangi wajah Kiai Gringsing. Namun kemudian ia menyahut, “Kenapa dengan seisi barak ini?”

“Bukankah kau yang mengatakan, bahwa seisi barak ini menjadi cemas?”

“Dan kau akan mempertentangkan kata-kata itu dengan kata-kataku, bahwa hanya akulah yang melihat ular itu terbang?”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi kesan di wajahnya membenarkannya.

“Tentu bukan semua orang di barak ini. Aku memang mengatakan kepada beberapa orang.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau memang harus berhati-hati,” berkata orang yang tinggi itu. “Kau sedang dimusuhi oleh hantu-hantu. Apalagi kalau kau membuat musuh di antara kita.”

“O, tentu tidak,” jawab Kiai Gringsing.

“Kau suka mempersoalkan masalah-masalah yang kecil. Mem¬buat orang lain menjadi bingung. Mempersoalkan kata-kata yang sedikit terselip. Dan banyak lagi. Tetapi ingat, sebenarnya aku memang ingin mendapat kesempatan untuk membuat kalian bertiga jera. Aku merasa bahwa aku akan sanggup melaksanakannya tanpa hantu-hantu itu.”

“Maksudmu?”

Orang itu tampak ragu-ragu sejenak. Tetapi karena agaknya tidak ada orang lain yang memperhatikannya, ia berkata, “Aku ingin memukuli kalian pada suatu saat.”

“He, apakah salah kami?”

“Kalian telah mengabaikan segala nasehatku. Segala niat baikku. Itu suatu penghinaan. Dan kalian merasa diri kalian pahlawan-pahlawan yang berani. Sombong dan banyak bicara. Ingat, aku adalah orang yang paling ditakuti di sini. Para pengawas pun tidak berani berbuat apa-apa atasku. Kalau aku memukuli kalian, tidak akan ada orang yang berani mencegah apabila itu sudah terjadi. Memang kadang-kadang mereka mencoba mengurungkan niatku. Mereka adalah orang-orang baik yang tidak suka berselisih. Tetapi kalau kesabaranku habis, kalian akan menyesal.”

“Jangan begitu,” desis Kiai Gringsing, “sebaiknya kau berpikir dari arah lain. Lepaskanlah kami. Biarlah kami dimakan hantu, harimau, atau apa saja. Ular Gundala Seta dan Wereng sekali pun.”

“Sudah seribu kali aku katakan. Kau tidak dapat berdiri sendiri di mata hantu-hantu itu. Kau adalah satu dengan kami.”

Kiai Gringsing tidak menyahut lagi. Ketika Swandaru ber¬geser setapak, maka gurunya telah menginjak kakinya, sehingga Swandaru hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

“Terserahlah kepadamu. Aku akan berangkat. Semua sudah selesai,” berkata orang yang tinggi itu.

Ketika Kiai Gringsing berpaling, dilihatnya gardu itu me¬mang sudah agak sepi. Hanya beberapa orang yang datang dengan tergesa-gesa karena agak lambatlah, yang masih berada di muka pintu untuk menerima rangsum mereka. Setelah itu, mereka pun dengan tergesa-gesa segera berangkat menyusul kawan-kawan mereka yang telah pergi lebih dahulu.

“Mereka bekerja dalam kelompok-kelompok,” berkata orang yang tinggi itu, “sehingga mereka harus mulai bersama-sama. Tetapi itu lebih baik daripada sifat sombong yang kau pertahankan.”

Kiai Gringsing tidak sempat menjawab, karena orang itu pun kemudian pergi meninggalkannya.

“Orang aneh,” desis Agung Sedayu.

“Aku tidak sabar lagi,” sahut Swandaru.

“Jangan berbuat bodoh,” potong gurunya. “Marilah, kita pun harus segera berangkat, supaya kita tidak dianggap sebagai orang-orang malas yang hanya akan menghabiskan rangsum makan saja.”

Ketiganya pun kemudian pergi lewat di depan gardu penga¬was. Sambil membungkukkan kepalanya Kiai Gringsing berkata, “Kami sudah mendapat rangsum, Tuan.”

Seorang pengawas tertawa sambil menyahut, “Kalian termasuk orang aneh di sini.”

Kiai Gringsing hanya tertawa saja. Tetapi ia tidak menja¬wab. Bersama kedua muridnya ia pun pergi ke tanah garapan mereka yang dianggap oleh orang-orang yang sedang membuka hutan itu sebagai daerah yang paling wingit.

Dengan penuh kewaspadaan mereka bekerja. Setiap kali mereka memperhatikan sesuatu yang agak asing, karena mereka tahu, bahwa ada pihak-pihak yang sedang bermain-main dengan racun di daerah ini. Untunglah bahwa Kiai Gringsing adalah seorang dukun tua yang sudah terlampau kaya dengan pengalaman, dengan segala macam penyakit dan juga dengan segala macam racun.

Lamat-lamat mereka masih juga mendengar suara burung kedasih yang umumnya hanya berbunyi di malam hari. Tetapi karena mereka sudah biasa mendengarnya, maka mereka sudah tidak menghiraukannya lagi.

Tetapi ternyata sehari itu mereka, tidak menjumpai peristiwa apa pun. Pada saatnya mereka pulang, mereka pun segera mening¬galkan pekerjaan mereka.

Ketika mereka sampai di gubug yang telah mereka pergunakan sebagai tempat tinggal, maka mulailah mereka membersihkannya. Setiap benda mereka amati sebelum mereka pindahkan.

“Tidak ada sebuah benda pun yang bergeser, Guru,” ber¬kata Agung Sedayu.

“Ya, agaknya memang tidak ada seorang pun yang mema¬suki gubug ini. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita dapat tidur dengan nyenyak nanti malam.”

Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan sejenak.

“Jangan takut,” berkata Kiai Gringsing yang seolah-olah mengerti perasaan kedua anak-anak muda itu, “kita akan dapat tidur. Tetapi kita harus mengatur diri, sehingga setiap kali pasti ada yang terjaga di antara kita.”

Demikianlah, setelah gubug itu menjadi bersih dari sarang-sarang laba-laba dan kotoran-kotoran lain, debu dan serangga-serangga kecil, mereka pun menjadi semakin kerasan tinggal di dalam gubug itu.

Swandaru tidak lagi segan berbaring di pembaringan, meski¬ pun selalu diganggu oleh bunyinya yang berderit-derit. Tetapi amben bambu itu sudah tidak dilekati lagi oleh debu yang tebal dan sarang laba-laba yang kehitam-hitaman.

“Di sebelah masih ada beberapa jenis alat-alat dapur,” desis Swandaru kemudian.

“Kita tidak memerlukannya. Bukankah kita sudah menda¬pat makan?”

“Kalau kita haus?”

“Ambil saja di gardu pengawas,” sahut Agung Sedayu, “bukankah di sana disediakan berapa saja kita akan minum.”

“Di malam hari kadang-kadang kita haus. Atau barangkali di pagi hari, begitu kira bangun tidur, ingin juga rasa-rasanya minum air panas, seperti ketika kita berada di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Hus,” desis Agung Sedayu, “kau mulai mengigau.

“Swandaru tersenyum. Memang terkilas sebuah kenangan atas Tanah Perdikan itu dengan segala isinya.

“Barangkali kau memang tidak kerasan, tinggal di sini,” berkata Agung Sedayu, “karena di sini kita hanya berkawan hantu-hantu saja. Kalau di sini ada orang yang menyediakan minummu di pagi hari, mungkin kau kerasan juga.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia masih saja tersenyum sambil mengusap-usap pipinya yang gembung, meski pun beberapa hari terakhir tampak ia agak susut sedikit.

“Nanti kalian tidurlah dahulu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “aku akan berjaga-jaga. Kemudian aku akan tidur, dan kalian berdualah yang harus berjaga-jaga.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia mengerutkan keningnya ketika ia memandangi amben yang seolah-olah sudah penuh dipergunakan oleh Swandaru sendiri

“Minggirlah sedikit,” desis Agung Sedayu kemudian.

Swandaru tersenyum pula. “Kau akan tidur sekarang?” ia bertanya.

“Tidak. Aku hanya akan berbaring sejenak.”

Agung Sedayu pun kemudian berbaring pula di sisi Swandaru, sementara Kiai Gringsing duduk di sebuah dingklik kayu yang usang. Sejenak mereka saling berdiam diri. Agaknya mereka sedang menjelajahi angan-angan masing-masing yang menyelusur ke dunia yang asing.

Ketika gelap menjadi semakin pekat, maka mereka pun segera menyalakan lampu minyak kelapa. Dari para pengawas mereka mendapatkan minyak untuk mengisi pelita.

Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Swandaru-lah yang lebih dahulu akan tidur. Gurunya akan tetap berjaga-jaga sampai tengah malam, sementara Agung Sedayu dan Swandaru bangun, gurunyalah yang akan beristirahat.

Sampai menjelang tengah malam, Kiai Gringsing yang duduk terkantuk-kantuk di dalam lindungan bayangan dinding yang menyekat ruangan gubug itu tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan. Meski pun demikian ia tidak kehilangan kewaspadaan. Setiap desir, betapa pun lembutnya, tidak lepas dari pengamatan telinga¬nya yang tajam.

Tetapi Kiai Gringsing tidak mendengar sesuatu yang dapat menumbuhkan kegelisahan.

Sampai tengah malam Kiai Gringsing duduk tanpa bergerak di tempatnya. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru telah tertidur dengan nyenyaknya. Meski pun kadang-kadang amben yang mereka per¬gunakan berderit-derit keras, kedua anak-anak muda itu tidak meng¬hiraukannya. Bahkan Swandaru setiap kali berdesah apabila derit pembaringannya itu telah membangunkannya.

Sedikit lewat tengah malam, Kiai Gringsing mulai menguap. Ingin juga ia berbaring meski pun hanya sejenak. Agaknya Agung Sedayu dan Swandaru sudah cukup lama beristirahat.

“Biarlah mereka ganti berjaga-jaga,” katanya di dalam hati.

Tetapi sebelum ia bangkit dari tempat duduknya yang ter¬lindung bayangan dinding penyekat terasa sesuatu berdesir di dadanya, sehingga Kiai Gringsing itu mengurungkan niatnya.

Kini jelas ditelinganya ia mendengar sesuatu. Tetapi pasti bukan bunyi desis ular seperti semalam.

“Apalagi yang akan terjadi?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi Kiai Gringsing tidak segera berbuat sesuatu. Ia menunggu saja, apakah kira-kira yang akan terjadi.

Sejenak suara-suara yang mencurigakannya itu terdiam. Yang didengar oleh Kiai Gringsing hanya desah nafas Agung Sedaya dan Swandaru yang masih tertidur nyenyak.

“Tetapi tidak,” Kiai Gringsing berkata di dalam hati, “aku mendengar suara nafas yang lain. Tidak teratur seperti nafas anak-anak muda yang sedang tidur itu.”

Dengan demikian Kiai Gringsing mengetahui, bahwa di luar rumah itu ada seseorang yang sedang mengintip, sehingga orang tua itu sama sekali tidak bergerak dan bahkan nafasnya pun diaturnya baik-baik.

Dalam keheningan malam, di antara desah nafas anak-anak muda yang sedang tidur, dan nafas seseorang yang ada diluar gubug. Kiai Gringsing mendengar suara berbisik, “Mereka sudah tidur.”

Dada Kiai Gringsing menjadi semakin berdebar-debar. Kalau begitu pasti tidak hanya seorang saja yang berada di luar rumah ini. Sedikit-dikitnya pasti dua orang,

“Apakah kita lakukan sekarang?” bisik yang lain.

Sejenak tidak terdengar jawaban, sehingga dada Kiai Gringsing pun menjadi tegang pula. Sebuah pertanyaan melonjak di hatinya, “Apakah yang akan mereka lakukan sekarang?”

Tetapi Kiai Gringsing harus tetap bersabar. Ia harus tetap berada di tempatnya, di bayangan dinding penyekat, supaya ia tidak mengejutkan orang-orang yang berada di luar gubug, sehingga mereka mengurungkan niat mereka.

Yang dilakukan Kiai Gringsing adalah mempersiapkan diri¬nya untuk menghadapi segala kemungkinan, ia dapat meloncat selangkah untuk mencapai ujung amben Agung Sedayu dan Swandaru apabila diperlukan.

Sejenak Kiai Gringsing tidak mendengar sesuatu selain tarikan nafas yang memburu. Agaknya orang-orang yang berada di luar rumah itu pun menjadi gelisah.

“Sekarang,” desis salah seorang dari mereka.

“Ya, sekarang,” jawab yang lain.

Kiai Gringsing menjadi semakin tegang. Apalagi sejenak kemudian ia mendengar gemerisik di depan pintu rumahnya.

“Bunyi apa lagi sekarang?” ia bertanya di dalam hati¬nya.

Tetapi bunyi itu sama sekali berbeda dari bunyi ular yang menyelusur lantai dan berdesis-desis.

Sejenak Kiai Gringsing menunggu. Dibiarkannya saja apa yang akan dilakukan oleh orang-orang di luar rumah itu.

Namun ia menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar orang-orang itu bergeser. Kini mereka berada di sudut gubug. Sekali lagi ia mendengar bunyi yang aneh itu. Gemerisik.

Ternyata bunyi itu berpindah-pindah dari satu sudut ke sudut yang lain. Bahkan kemudian di beberapa tempat di seputar rumah itu. Dari sudut ke sudut.

“Cukup?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Cukup,” jawab yang lain.

“Jadi, kita mulai saja sekarang.”

Tidak ada jawaban.

Sejenak Kiai Gringsing tidak mendengar sesuatu. Orang-orang itu pun agaknya bergeser menjauh, sehingga desah nafas mereka tidak terdengar lagi.

Kiai Gringsing duduk sambil menahan nafasnya. Ia yakin bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu. Karena itu, ia tidak berbuat apa pun agar yang akan terjadi itu terjadilah. Ia pun tidak berusaha untuk menangkap keduanya, agar setiap orang masih tetap menganggap mereka sebagai petani-petani miskin yang tidak berarti, sehingga perhatian orang-orang di barak dan para penga¬was tidak berubah. Dengan demikian Kiai Gringsing bermaksud untuk mendapat kesempatan yang agak luas tanpa, prasangka apa-apa.

Tiba-tiba Kiai Gringsing terkejut ketika ia mendengar suara gemericik, tetapi bukan suara air. Dengan serta-merta ia meman¬dang keluar, lewat celah-celah dinding. Sesaat ia tidak melihat bayangan apa pun di luar karena gelap malam. Tetapi sejenak kemudian dadanya berdesir tajam. Bayangan kemerah-merahan telah mewarnai lubang-lubang dinding yang jarang.

“Api,” desisnya. Hampir saja Kiai Gringsing meloncat mengejar orang-orang yang ada di luar gubugnya. Tetapi ia pun segera menahan diri. Apalagi ketika dilihatnya Agung Sedayu dan Swandaru masih tertidur nyenyak.

“Mereka harus segera bangun,” desisnya.

Kiai Gringsing pun kemudian meloncat ke pembaringan. Diguncangnya tubuh kedua muridnya itu sambil berdesis, “Bangun. Rumah ini akan terbakar.”

Agung Sedayu segera meloncat bangkit. Tetapi Swandaru masih menggeliat sambil berdesis, “Apa lagi, Guru?

“Api. Rumah ini sedang terbakar.”

Swandaru pun kemudian bangkit. Tetapi matanya segera terbelalak ketika ia melihat api mulai merayapi pintu.

“Pintu sudah terbakar,” desis Swandaru.

Kiai Gringsing kini mengerti, bahwa agaknya suara gemerisik itu adalah suara batang-batang ilalang, daun-daun rerumputan kering, yang sengaja diletakkan oleh orang-orang yang membakar gubug ini.

“Kita harus segera keluar dari rumah ini,” berkata Kiai Gringsing.

Tetapi ternyata api sudah menjalar hampir di seputar gubug kecil itu.

“Kita sudah dilingkari api,” berkata Swandaru kemudian.

“Belum. Kita masih mempunyai jalan. Mari, cepat. Ikuti aku.”

Kiai Gringsing pun kemudian mengambil ancang-ancang sejenak. Dengan sepenuh kekuatan ia mendorong dinding yang masih baru mulai dijalari api. Tetapi ternyata dinding itu tidak sekuat yang diduganya sehingga, kekuatan Kiai Gringsing jauh melam¬paui kemampuan dinding bambu itu. Dengan demikian Kiai Gringsing justru terdorong oleh kekuatannya sendiri sehingga ia terpelanting beberapa langkah. Karena itu, ia pun segera ber¬guling sekali, lalu dengan sigapnya melenting berdiri.

Meski pun api sudah menjilat hampir segenap bagian dinding gubug itu, Swandaru masih sempat menyambar bungkusan pakai¬an mereka. Sedang Agung Sedayu sempat pula tersenyum meli¬hat gurunya yang hampir kehilangan keseimbangan.

Kedua anak-anak muda itu pun kemudian berloncatan pula di atas api yang mulai membakar dinding yang sudah roboh itu.

“Guru sempat berlatih, bergumul dengan padas,” desis Swandaru yang melihat juga betapa gurunya berguling di tanah.

Kiai Gringsing berdiri bertolak pinggang sambil memandang api yang menjadi semakin besar.

“Aku kira dinding itu masih cukup kuat,” sahutnya, “apalagi aku agak tergesa-gesa juga.”

“Untunglah bahwa rumah ini tidak ikut serta roboh. Jika demikian maka kami yang ada di dalam, justru tidak akan men¬dapat kesempatan lolos lagi, karena timbunan reruntuhan itu akan segera dimakan api,” gumam Swandaru.

“Ah kau,” berkata gurunya, “bukankah kalian bukan cacing-cacing yang mudah sekali menyerah kepada keadaan?”

Swandaru tidak menyahut. Tetapi ia masih juga tersenyum membayangkan bagaimana gurunya jatuh berguling-guling karena kekuatannya sendiri.

Sejenak kemudian mereka bertiga berdiri tegak memancang api yang menjadi semakin besar menelan gubug yang dibuat dari kayu dan bambu itu. Begitu cepatnya, seolah-olah gubug itu meru¬pakan makanan yang sangat lezat bagi api yang melonjak-lonjak menggapai-gapai langit

“Kenapa gubug itu tiba-tiba saja terbakar?” bertanya Agung Sedayu kemudian.

Kiai Gringsing menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya saja api yang semakin lama menjadi semakin besar. Sejenak kemudian mereka mendengar gubug itu berderak-derak roboh.

“Ada kesengajaan,” jawab Kiai Gringsing kemudian.

“Darimana Guru mengetahui?”

“Aku mendengar suara orang di luar dan suara rerumputan kering yang ditimbun di muka pintu dan di seputar gubug itu.”

“Dan Guru membiarkan hal itu terjadi?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya, “Aku ingin tahu apa saja yang mereka lakukan. Sampai di mana usaha mereka untuk menekankan maksudnya, agar kita meninggalkan tempat ini.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil meman¬dangi api yang menjilat ke udara.

Sejenak ketiganya saling berdiam diri. Wajah-wajah mereka men¬jadi kemerah-merahan tersentuh oleh cahaya api. Titik-titik keringat tampak mengembun di kening dan dahi.

“Tidak ada seorang pun yang datang menjenguk,” desis Swandaru tiba-tiba.

“Tentu tidak,” sahut gurunya, “tidak ada orang yang berani keluar dari barak.”

“Para petugas?”

“Mereka pun tidak berani keluar dari gardu pengawas.”

“Bagaimana kalau terjadi kebakaran hutan di dalam keada¬an begini?”

“Semuanya akan habis menjadi abu. Tetapi itu lebih baik. Kita tidak usah menebang pepohonan lagi.”

“Apakah dapat kita coba?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Tidak akan dapat. Hutan ini adalah hutan yang hijau dan lebat. Sulit sekali terjadi kebakaran. Apalagi tanahnya yang lembab mengandung air.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka masih saja memandangi api yang melonjak-lonjak meski pun semakin lama menjadi semakin susut.

“Kita kehilangan gubug yang baru saja kita pergunakan. Kalau tahu, gubug itu akan terbakar, kita tidak usah membersih¬kannya,” gumam Swandaru.

“Kalau saja kita tahu,” sahut Agung Sedayu, “tetapi untunglah bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi, sehingga dengan demikian kita berbuat sesuatu. Kalau kita tahu apa yang akan terjadi, maka kita tidak akan berbuat apa-apa.”

“Yang kita tahu pasti,” berkata gurunya, “besok matahari akan terbit lagi. Kemudian berjalan mengarungi langit dan tenggelam di sebelah Barat. Tetapi apa yang terjadi selama itu, adalah di luar kemampuan kita untuk mengetahuinya. Bahkan apa yang akan terjadi atas diri kita sendiri.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih saja memandangi api yang masih menyala. Sekali-sekali masih ter¬dengar derak kayu-kayu yang patah dan bambu yang meledak.

Namun semakin lama api itu pun menjadi semakin susut. Gubug yang terpencil itu, sejenak kemudian telah menjadi se¬onggok bara yang merah, yang perlahan-lahan menjadi semakin suram.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Guru?” bertanya Swandaru kemudian. “Mencari orang-orang yang membakar gubug kita itu?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kita tidak akan dapat mencarinya. Tetapi aku yakin bahwa pada suatu saat kita akan menemukannya.”

Swandaru mengerutkan keningnya yang kemerah-merahan oleh cahaya bara yang sudah hampir padam.

“Tidak seorang pun yang berani keluar dari barak dan dari gardu pengawas,” desis Swandaru kemudian.

“Ya. Mereka telah benar-benar ketakutan. Itulah yang menyulitkan,” sahut gurunya.

“Kita masih dapat mengerti, kalau orang-orang yang di dalam barak itu tidak berani keluar. Mereka takut kepada hantu-hantu, tetapi mereka juga selalu ditakut-takuti oleh orang-orang tertentu seperti kita,” potong Agung Sedayu. “Tetapi seharusnya tidak demi¬kian bagi para pengawas digardu itu.”

“Agaknya mereka sudah terlalu lama berada di tempat ini. Sebaiknya setiap kali para pengawas itu diganti dengan orang-orang baru, sehingga menumbuhkan kesegaran dan kegairahan kerja di sepanjang daerah pembukaan hutan ini.”

Kedua muridnya hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudahlah. Relakan gubug itu. Gubug itu memang bukan milik kita,” berkata gurunya kemudian. Lalu, “tetapi kita harus bersiap-siap menghadapi orang dari barak itu. Mereka pasti akan menyalahkan kita dengan segala macam dalih dan kemudian ber¬usaha mengusir kita.”

“Darimana Guru tahu?”

“Itulah maksud mereka sebenarnya.”

“Lalu, apakah kita akan pergi?”

“Tentu tidak. Kita akan tetap di sini. Kita akan menge¬tahui lebih lanjut, apakah yang akan terjadi di sini, yang pasti merupakan salah satu gambaran dari daerah-daerah lain di sepanjang jalur perluasan Tanah Mataram ini.”

Kedua murid-muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

“Pada suatu saat kita akan bertemu dengan usaha Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar beserta Ki Gede Pemanahan, yang pasti tidak akan tetap tinggal diam menghadapi keadaan serupa ini.”

Kedua muridnya masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, sekarang justru kalian akan dapat tidur. Tidurlah, aku akan menunggui kalian.”

“Tidak Guru,” jawab Agung Sedayu, “kami sudah tidur lebih dari separo malam. Apakah Guru tidak lelah, dan ingin beristirahat?”

Gurunya tersenyum. Katanya, “Lihat, langit sudah men¬jadi kemerah-merahan.

Kedua murid Kiai Gringsing itu mengangkat kepalanya bersama-sama. Mereka pun melihat warna merah yang membayang di langit. Sementara bintang-bintang telah bergeser jauh ke Barat.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Tetapi masih ada waktu sedikit, Guru. Kita dapat duduk di bawah pepohonan itu dan melepaskan lelah sejenak.”

Kiai Gringsing tersenyum, “Aku tidak lelah.”

“Dua malam Guru tidak tidur sekejap pun.”

“Baru dua malam. Kita harus dapat menguasai tubuh kita sebaik-baiknya. Tidak hanya dua malam. Dalam keadaan tertentu, kita harus dapat berbuat lebih banyak lagi. Tetapi sudah tentu bahwa kita menyadari, kekuatan tubuh kita pun sangat terbatas. Namun demikian dengan latihan-latihan yang baik, sedikit demi sedikit kita dapat memperlengkapi kemampuan yang sebenarnya memang sudah ada di dalam diri kita.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Ditatapnya wajah gurunya yang sudah dipenuhi oleh kerut-merut ketuaannya. Tetapi wajah itu masih tampak segar, sesegar dedaunan yang basah oleh embun. Sementara Swandaru menundukkan kepalanya sambil mengusap dagunya.

“Tetapi, baiklah,” berkata gurunya kemudian, “kita tidak perlu berdiri di sini sampai pagi. Kita dapat duduk di bawah pohon itu sambil menunggu, siapakah orang yang pertama-tama akan datang kemari.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (54)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-54/trackback/

RSS feed for comments on this post.

54 KomentarTinggalkan komentar

  1. terdengar suara seperti bayi menangis, lamat-lamat di tengah malam…Agung Sedayu sudah memegang ujung cambuknya dengan tegang, sembari beringsut maju menuju pohon besar tersebut, diikuti oleh gurunya…
    ternyata…mereka menemukan swandaru terisak-isak sambil berkata kepada gurunya “aku telah berhasih donlot rontal 53 guru, tapi tidak berhasil menemukan kitab 54…
    kyai gringsing menghela nafas dalam-dalam….. seandainya ki DD menoreh sudah mengupload kitab 54, pasti sudah diunduhnya kitab tersebut…
    “benar-benar menguji kesarehanku, akhir dari kitab 53, bikin penasaran & NANGGUNG BANGET!!! 😦

  2. Pertamax…

    sekali kali ngisi yang pertama aah…

    sebentar lagi mesti pada ngompor2 disini

    xixixi 😀

  3. kutunggu sampai jam 5 sore……….

  4. “Aku hampir pingsan karenanya.Hantu itu lewat beberapa langkah di dekatku. Satu diantara mereka berhenti, dan memandangku dengan sorot matanya yang merah menyala seakan-akan hendak membakar jantungku,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu sambil gemetar.
    “He…lalu apa yang dilakukan oleh hantu itu?” bertanya orang yang tinggi kekar itu.
    “Ya…apa yang kemudian terjadi? Lekaslah ceritakan kepada kami.” Orang-orang di barak itupun beringsut mendekati orang yang kekurus-kurusan itu. Betapa ketegangan dan ketakutan terbayang di wajah mereka. Bahkan beberapa di antara mereka mengginggil tubuhnya karena ketakutan.
    “Hantu itu mula-mula hanya menatapku saja,” orang yang kekurus-kurusan itu melanjutkan ceritanya. “Lututku sudah hampir tidak mampu menahanku lagi untuk terus berdiri saking gemetarnya, ketika tiba-tiba saja hantu itu menggeram dengan suara yang menyeramkan.”
    Tanpa sadar, orang-orang yang sedang mendengarkan cerita itupun semakin saling merapatkan diri. Rasa takut sekaligus penasaran nampaknya membuat suasana di dalam barak itu terasa semakin mencekam. Mendengar cerita itu, Kiai Gringsing tampak mengerutkan keningnya. Begitu pula dengan kedua orang muridnya. Sekilas keraguan terlintas di benak Agung Sedayu. Setelah sebelumnya Agung Sedayu mendengar cerita dan penjelasan dari gurunya tentang situasi dan kemungkinan yang sedang terjadi di Alas Mentaok tersebut, rasa-rasanya peristiwa yang baru saja terjadi tersebut semakin membuatnya pening.
    “Aku saat itu sudah pasrah, nyawaku rasanya sudah pindah ke ujung kepalaku,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu. “Namun tanpa disangka-sangka, hantu itu tiba-tiba saja berkata dengan suara yang terdengar seperti bergulung-gulung dari dalam perut. Hantu itu ingin menanyakan suatu hal kepadaku, dan jawabanku akan menentukan nasibku selanjutnya.”
    Orang yang tinggi kekar itu meloncat ke arah orang yang kekurus-kurusan itu, memegang kedua pundaknya lalu mengguncang-ngguncang tubuh orang yang kekurus-kurusan itu sambil berkata ,”Apa yang ditanyakan hantu tersebut, dan apakah jawaban yang telah kau berikan hingga kau masih diberi kesempatan kembali ke barak ini?”
    Orang yang kekurus-kurusan itu tidak segera menjawab. Wajahnya terlihat semakin pucat. Orang-orang di barak itupun menjadi tidak sabar dan berdebar-debar hatinya.
    “He…lekas ceritakan kepada kami, biar kami tidak semakin menjadi penasaran.”
    Orang yang kekurus-kurusan itu meneguk ludah, lalu mendesah. Nampaknya ia masih berusaha mengatur debar jantungnya yang nyaris copot setelah bertemu hantu tersebut. Akhirnya orang itupun melanjutkan ceritanya,”Hantu itu bertanya kepadaku, apakah aku pernah mendengar kabar tentang Kiai Dandang Wesi yang dulunya pernah bertapa di Gunung Merapi dan berhasil mendapatkan sebuah kitab pusaka yang di dalamnya memuat petunjuk tentang cara mempelajari sebuah ilmu yang nggegirisi, yang bernama Aji ADBM tingkat 54.”
    “Mendengar pertanyaan itu, akupun lalu menjawab bahwa aku belum pernah mendengar tentang orang yang bernama Kiai Dandang Wesi. Namun dari yang pernah aku dengar, kitab pusaka ilmu ADBM tingkat 54 saat ini tersimpan di dalam bilik penyimpanan pusaka milik Ki Gede Menoreh.”
    “Atas jawaban yang aku berikan itu,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu melanjutkan, “hantu itu menggeram dengan keras, hingga aku menjadi jatuh terduduk saking gemetarnya lututku. Aku saat itu menyangka bahwa jawaban yang sudah akau berikan tidak dapat diterima oleh hantu itu. Namun dengan tidak disangka-sangka, hantu tersebut berkata bahwa aku diperbolehkan kembali ke barak ini. Hantu itu percaya dengan keterangan yang aku berikan, dengan nama besar Ki Gede Menoreh yang pasti akan menjaga kitab pusaka tersebut dengan baik, dan segera mewariskannya kepada para cantrik yang sudah harap-harap cemas menanti ilmu tersebut diturunkan.”

  5. Ki Sumangkar mendesah dalam hati, “Ki Gede benar-benar telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan para cantrik itu, sehingga sebaiknyalah mereka menahan diri, justru supaya Ki Gede bisa lebih cepat menyediakan kitab-kitab itu.”

    Jawab Sekar Mirah, “Biar sajalah guru, justru ketidaksabaran para cantrik itu yang mendorong Ki Gede mengirimkan kitab-kitab itu dengan lebih cepat.”

  6. “Agung Sedayu …, jangan terburu nafsu ..” kata Kyai Grinsing. “Bersemedilah … pusatkan segenap panca-indramu. Renungkanlah semua yang telah kau alami sejak jilid 01 sampai ke 53. Setelah itu bayangkan apa yang ingin kau kuasai di jilid 54. Tak akan lama lagi apa yang kau ingini itu akan menjadi kenyataan dan kemampuanmu pun akan bertambah dengan cepat”. Begitulah Kyai Gringsing menasehati murid pertamanya.

  7. Nimbo banyu sindang papat
    ……………………
    tarik mang,…seket papat

  8. para sederek, kula aturi nyebar godong koro, sabar sauntara. sudah menjadi perjanjian bahwa tayangan ADBM ini adalah SBPH, satu buku per hari, jangan nggege mongso.
    sabaaaar….
    tapi klo Ki DD Menoreh berkenan DBPH, dua buku per hari, aku setujuuuuuu….
    Lha aku sendiri jadi ikut gak sabar, maaaf.

  9. “Kiai Damar, apakah engkau memperhatikan para cantrik itu ?” bisik Kiai Telapak Jalak, “Tampaknya mereka menunggu sesuatu yang sangat berharga bagi mereka.”

    “Benar Kiai,” desis Kiai Telapak jalak “mereka menunggu penghubung dari Ki Gede yang membawa cover kitab 54. Apabila cover itu sudah sampai ke tangan mereka, maka justru mereka akan semakin berdebar-debar, karena kitab itu sendiri sudah semakin dekat. Bahkan aku dengar Ki Gede berkata bahwa cover merupakan awal kepastian harapan”

  10. Dalam serangannya yang gencar, orang bertopeng itu berkata “Serahkan Kitab 54 cepat!”
    “Omong kosong apa kau ini?” jawab Agung Sedayu “Kitab 54 tidak ada padaku”
    “Bohong!”

    Sementara itu dari semak-semak didekatnya, meloncatlah Sukra dengan serta merta. Sukra yang lagi menuntaskan hajatnya disemak2 tersebut, segera saja melompat akibat bunyi ledakan. Sedemikian kerasnya ledakan itu sampai-sampai Sukra yang sedang asyik tersebut, lupa memakai celananya. Karena dilihatnya Agung Sedayu sedang terdesak hebat, maka langsung saja Sukra terjun ke arena pertempuran. Sukra benar2 lupa akan keadaanya yang tidak berpakaian lengkap.

    “Aku bantu kau Adi Agung Sedayu” teriak Sukra sambil meloncat menyerang.
    “Hei, Siapa kau? Cari mati ya?” teriak orang bertopeng itu kepada Sukra.
    ” Kau yang cari mati, orang gila” Jawab Sukra tak kalah Garang, ” Tidak tahukah kau, aku adalah orang penting di padepokan ini?”

    Kehadiran Sukra ternyata langsung mempengaruhi keadaan. Serangannya sungguh menakjubkan. Keadaannya yang tidak berpakaian lengkap itu, ternyata membuat Orang bertopeng itu terdesak hebat. Sukra seolah-olah mempunyai tiga buah kaki. Orang bertopeng itu pun terus terdesak sambil mengumpat2.
    Akhirnya orang bertopeng itu melompat menjauh sambil berteriak ” Awas kalian orang2 padepokan ADBM, kalau Kitab 54 tidak segera kalian serahkan, lain waktu aku akan membawa pasukan untuk menghancurkan padepokanmu”.
    Di lain kejap, meloncatlah orang misterius itu di balik rimbunan semak di pinggir sungai.

    Akhirnya Agung Sedayu membatin “Kenapa kitab 54 tidak segera di uplod saja oleh Ke Dede, agar padepokan ini segera tenang…”

  11. “Guru, aku semakin pening mengikuti perkembangan hantu2 alas Mentaok, yang sekarang ditambah munculnya Dandang Wesi dari gunung Merapi.” desis Swandaru, “Seandainya saja utusan Ki Gede sudah tiba sambil membawa cover kitab 54, paling tidak gambaran itu akan semakin jelas.”

    “Ah kau,” sela Agung Sedayu, “Nanti kalau cover itu benar-benar tiba, aku yakin kau akan semakin pening menunggu kitab 54 itu sendiri.”

    “Sudahlah,” kata Kiai Gringsing, “Sebaiknya kalian belajar menahan diri. Bagaimanapun Ki Gede adalah orang yang teguh memegang kata2nya sendiri. Apabila ia sudah memutuskan 1 buku per hari, pasti itu yang akan dilakukannya.”

    “Benar Kiai,” sahut Ki Sumangkar, “walaupun sebaiknya kita juga tidak menutup kemungkinan Ki Gede berubah pikiran.”

  12. Para pekerja di pemondokkan itu dikejutkan oleh datangnya seseorang yang terengah-engah sambil membawa sobekan cover 54. Orang itu berumur kira2 setengah baya, badannya penuh goresan kecil sepertinya ia baru saja melakukan perjalanan jauh melalui hutan lebat dibelakang pemondokan.
    Salah seorang dari pekerja segera memberikan minum kepada orang itu, karena terlihat bahwa ia hampir kehabisan napas. Setelah minum air sumur itu, barulah napasnya berangsur normal, walau masih sedikit diselingi dengan tarikan napas panjang. Setelah itu barulah seorang yang dituakan disitu berani bertanya. ” Kisanak, silahkan kisanak menceriterakan kepada kami, maksud kedatangan kisanak. Kisanak berasal dari mana, dan kelihatannya membawa kabar penting dari jauh?”.
    “Alhamdulillah kiai”, Orang itu menarik napas panjang, “saya bertemu peradaban di sini”. “Nama saya Kasduloh, berasal dari desa Gumuk” orang itu malanjutkan. “Saya sudah lama mengabdi di Perdikan Menoreh. Disana sedang dilakukan kodifikasi Babad Menoreh karya seorang pujangga besar. Dan sayalah yang mendapat tugas untuk membuat covernya menggantikan Kiai Herry Wibowo. Dari buku 1 hingga buku 53 sudah dapat dilakukan dengan lancar. Namun pada buku 54 ketika sedang dilakukan pengisian tosan aji, tiba2 ada seseorang yang mengganggu semedi saya dan berusaha merebut cover yang sedang saya garap itu. Saya berusaha mencegah namun gerakan orang itu begitu cepat, sehingga hanya sebahagian saja yang dapat saya selamatkan, sementara sisanya ada pada orang itu, yang lari menyebarangi hutan Mentaok dan lenyap disekitar pemondokan ini”.
    Semua orang berseru tertahan mendengar cerita Kasuloh.
    Orang tertua disitupun menyaut, “Tetapi sepertinya sejak kemarin tidak seorangpun yang datang kemari ki sanak. Mungkin kisanak salah lihat arah yang dituju orang tersebut”. “Tidak kiai, saya yakin sekali orang itu lari masuk lewat pintu ini” jawabnya. Orang2 yang mengelilingi Kasuloh saling berpandangan.

  13. biasanya jam 10.00 tit muncul,ini sudah hampir tengah hari kok masih tenang2 aja.

  14. biasanya ada cover ada harapan
    hampir tengah hari cover koq belum muncul juga
    jangan-jangan…..ah
    jangan-jangan…..

  15. hari kerja yang normal itu kan senin – jumat

    Sabtu minggu kan libur, jadi ya mbok sabar tho sedulur2

    ki DD kan juga punya kehidupan nyata

    peace,
    Ki KontosWedul

  16. Tak tunggu saka esuk uthuk2 kok jilid 54 durung mecungul…. Pokoke nek engko jam 16.00 thit durung metu… Awas…! Tetep tak enteni….

  17. “Aku sendiri pernah melihat” sahut Agung Sedayu. “Kiai Dandang Wesi ada dipihak kami. Menurut Kiai Dandang Wesi semua yang kasat mata manusia, memang diperuntukkan bagi manusia wadag seperti kita. Bahkan, kakak seperguruan Kiai Dandang Wesi yaitu Kiai Wajan Waja, yang mempunyai kesaktian yang lebih mumpuni karena penguasaan atas lontar pusaka perguruannya yaitu ADBM jilid 54. Untuk menolong kita menghadapi para hantu, lontar pusaka ini akan segera dikirim kemari untuk mengatasi keadaan disini.” Begitulah Agung Sedayu menjelaskan kepada para pengawal dengan panjang kali lebar.

  18. “Kakang Agung Sedayu …. lihat sekarang …. hantu-hantu yang penasaran ternyata bukan hanya tiga.” Kata Swandaru.
    Dalam hati Agung Sedayu mulai menghitung …. ternyata ada ratusan hantu-hantu yang penasaran keluar masuk kapling 54 alas Mentaok yang lagi dibabad.
    “… Guru harus diberitahu … supaya secepatnya ada sesajen ditaruh di kapling 54, kalau nggak begitu bisa tambah banyak yang penasaran. He he hee yang tulis ini juga seekor diantara hantu-hantu itu kok …..

    Sesajennya .. Ki DD Mentaok …. cepat dikeluarin.

  19. wah wah dikompor kompori tukang kompor isih tetep rung mecungul glundung pringise, opo wewe gombel kamar 54 lagi macak ben yen metu mengko soyo katon ayu, lha wong yo malem minggu, hantu saiki ora malem jemuah , ning malem minggon je.

  20. 54
    54
    54….
    ……..
    oh .. apakah malam minggu harus kulalui dengan kelabu??..
    kemanakah gerangan dikau??..,…kukira kau telah menungguku di rumah.., ternyata belum juga datang…

    mnyem2 mnyem2 mnyem2…..
    wulih wuih wuih….
    bakar menyan
    kopi pahit kopi manis…
    bubur putih kuning merah…
    semoga jin penunggu alas mentaok
    pengasuh sutawijaya..
    datang berkenan bawa 54….
    amin amin amin…

  21. Ki DD,,,
    nampaknya para ADBMers lama2 perlu psikolog.., malah mungkin psikiater ya??… Gejala apa nih yg melanda padepokan kita??….udah pada jadi SH Mintardja semua… hahahahahaha
    salam, semoga sehat2 wal afiat
    banyak rejeki
    selalu prima..

  22. Hee… aku lihat sudah ada cover 54..!?

  23. “Dengar, bunyi berkerincing itu datang lagi,” bisik pengawal itu dengan wajah pucat. Seketika, semua orang yang tinggal di barak itu merasa menciut hatinya dan berdiam berdesak-desakan.

    Namun orang yang bertubuh kekar itu justru mendelik marah kepada Kiai Gringsing. Serunya, namun tetap sambil berbisik, “Truna Podang, kaulah yang harus bertanggung jawab. Inilah akibat pokalmu yang sombong, sehingga hantu-hantu itu berkeliaran lagi.”

    Di luar, suara gemerincing itu bertambah keras, diiringi kilatan-kilatan api yang kebiru-biruan. Di antaranya nampak pula cahaya persegi yang samar-samar jingga kemerahan seperti melayang-layang di udara, diapit oleh dua jerangkong yang sekali-sekali terlihat tulangnya seperti bercahaya.

    Melihat lembaran cahaya persegi itu, Swandaru terlonjak kaget. Tanpa dapat dicegah lagi ia meloncat keluar barak, menerobos pintu yang setengah terbuka. Gurunya yang waspada segera menyusulnya, namun Swandaru telah lenyap ditelan kegelapan malam.

    “Swandaru, kembalilah,” teriak Kiai Gringsing cemas, menembus suara gemerincing yang telah semakin menjauh, “yang lewat itu baru cover-nya. Kitab Jilid-54 yang asli belum dikeluarkan ..!”

  24. dengan garangnya kiai gringsing berloncatan sambil mengayun ayunkan cambuknya. namun kali ini dia tidak menggunakan senjata cambuknya itu sebagaimana biasanya, justru dengan menggunakan pangkal cambuknya dia membunuh ular ular yang mencoba mendekatinya sambil berteriak nyaring, ” mannaaaaa jilid 54 nyaaaa..”

  25. “ini … ini.. ampuuun.. ampunnnn Ki Dandang Wesi… ini silakan diambill nomor 54 nya…” teriak hantu jerangkong kesakitan.

  26. Ketika ketegangan semakin memuncak, maka mentaripun semakin jauh meninggalkan titik kulminasi menuju ke peraduannya. Orang2 yang berkerumun mengitari Kasduloh-pun semakin menyemut. Haripun semakin senja, terlihat bayang2 sinar matahari sudah semakin suram. Angin barat yang bertiup cukup kuat meniupkan hawa dingin pegunungan, menjadikan situasi semakin mencekam. Daun2 pohon singkong yang ditanam para penghuni pemondokan di kebun terlihat meliuk-liuk tangkainya dan menguncupkan daunnya, tidak kuasa melawan hembusan angin..

    Tiba2 terdengar suara tertawa lembut namun mampu menggetarkan dada setiap orang yang berada dihalaman pemondokan itu. Disamping dada yang berdebaran maka lututpun menggigil oleh suara dan suasana saat itu.

    ”Ha ha ha ha ha, ………………. dasar semuanya pengecut, baru tertiup angin saja sudah pada terkencing-kencing”, tiba2 saja terdengar orang menggerutu dari sela2 kerumunan itu. Orang2 yang sedang berdiri tegang itu memberikan jalan kepada seorang tua yang tiba2 saja menyusup dan menyibakkan kerumunan menuju ke tengah halaman di mana Kasduloh dan tetua para pekerja sedang berbicara.

    Begitu sampai ditempat Kasduloh, maka tiba2 pendatang yang baru tiba itu memberikan sobekan halaman 54 kepadanya, sambil berkata, ”Nih ambilah aku sudah tidak memerlukannya lagi!”. Begitu cepat kejadian itu berlangsung maka tiba2 orang itupun lenyap dari pandangan semua orang yang ternganga keheranan.

    Kasduloh segera merapikan lembaran yang berasal dari genggaman orang itu, dengan lembaran yang dibawa oleh dirinya. Kemudian disatukannya kedua lembaran itu sambil meletakkan dihadapannya sembari duduk bersila di tempat itu.

    Kemudian iapun berdo’a dengan berkomat-kamit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas. ”Ajaib” teriak semua orang di halaman itu. Tiba2 saja Sampul 54 itu menyatu, dan kemudian terangkat ke atas sambil berputar. Kemudian ketika angin meniup dengan keras, maka terbanglah Sampul 54 itu ke atas dan lenyap dari pandangan semua orang.

    ”Alhamdulillah, ………………. yang Maha Kuasa telah mengabulkan do’aku, dan sekarang Sampul Buku 54 telah menyatu kembali dan terbang ke Rumah Ki Dede Menoreh untuk dapat dipasang di halaman depan rumah Ki Dede Menoreh”. Kemudian Kasuloh memandang berkeliling ke wajah orang2 yang mengitarinya. ”Saudara2 saya mohon maaf telah mengganggu ketenteraman waktu istirahat andika semua. Sekarang persoalan saya sudah selesai, bagi andika yang ingin melihat Sampul Buku No.54, silahkan klik di https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-54/.”

    ”Lha selanjutnya Kisanak mau kemana?” tanya tetua.

    ”Saya mau lapor kepada petugas di gardu depan” jawab Kasduloh.

    ”Kalo begitu mari saya antarkan” kata tetua, kemudia kepada orang2 yang berkerumun ia berkata, ”Saudara2 silahkan kembali beristirahat, saya mau mengantarkan angger Kasduloh ke Gardu penjagaan”. Baiklah ki, sahut beberapa orang sambil meninggalkan kerumunan, dan kembali ke barak masing2. Maka setelah Kasduloh dan tetua itu meninggalkan halaman pemondokan maka bekas kerumunan itupun sunyi kembali. Di dalam hati orang2 berharap nanti kalo meng-klik buku 54, maka tidak hanya covernya yang ditumui, namun juga beserta isinya. Amien.

  27. Matur nuwun ki Dede

  28. Yes..!!!!!
    54 dah donlot..
    tengkyu

  29. “Kali ini tidak salah lagi, Guru,” ujar Swandaru sambil terus menggerakkan jari-jarinya dengan cekatan menurut jurus yang telah diajarkan oleh gurunya.

    Orang-orang yang tinggal di barak itu pun mengerumuni dan memperhatikannya dengan kekaguman yang bertambah-tambah. Tidak terkecuali orang yang tinggi kekar dan yang kekurus-kurusan. Bahkan orang yang tinggi kekar itu kali ini terus menyemangatinya, “Ayoh, Sangkan, jangan ragu-ragu, terus saja donlod… Nanti kita baca bersama-sama di waktu istirahat senja.”

    wekwekwekwek …

  30. wah kalo hantu2 tidak segera dibasmi Mataram akan lamban berkembang.
    tolong kiai grinsing segera membuka kitab 54 nya. ayahanda pemanahan mengharap sekali.

  31. matur nuwun……………………..meniko kados tetesipun embun wonten ing oro-oro alas mentaok

  32. Istilah Jawa di Buku 54

    Amben = tempat tidur dari bambu
    Dlupak =lampu minyak kelapa
    Planggrangan = penyangga, biasanya dilekatkan di dinding atau di tiang rumah.

    Bacaan:
    Kamus Lengkap Jawa-Indonesia
    Pengarang: Sutrisno Sastro Utomo
    Penerbit: Yayasan Kanisius
    Tahun 2007

  33. Ki Sukra dan Ki DD, tolong dong bagaimana cara membuka kitab 54 ini?.Browser saya selalu membaca file PDF, sehingga gagal down load. Kapan kira2 versi convert nya dibuat ya?

    Matur nuwun……..

  34. Istilah Jawa (part 2)

    Dingklik : bangku kecil
    Wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)
    Waringuten: kewalahan

    Bacaan:
    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa

  35. Istilah Jawa (lanjutan)

    Dingklik : bangku kecil
    wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)

    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa

  36. Ki GD & Ki or Nyi(?) Dede,

    Terima kasih kiriman kitab 50 nya, sayangnya saya nggak bisa buka file DJVU tsb. juga kitab 54 ini.Wah, pokoknya penasaran buanget deh…..
    Dulu sdh pernah baca(jaman muda…hehe) tapi lupa semua dan kitab saya hilang semua, tinggal sisa beberapa kitab seri IV.
    Mudah2 an ada yg bantu convert ke file doc dalam waktu dekat ini….

    Terima kasih

  37. duuuu… kaciannya mas selamat ini
    aku perhatikan begitu antusias banget dengan cerita yang menurut sesepuh ceritera ini tiada bandingnya.. untuk itu aku persilahkan mengunduh lewat pintu ini

    GD: Masalah Slamet ternyata lebih mendasar: bukan tdk bisa ngunduh, tapi gak bisa mbuka karena kompi-nya tdk punya viewer-nya.

  38. sudah dikirim manual via email lha kok jawabannya seperti itu 😀
    ki dede.. cobalah pake PPT bukan PDF seperti biasanya.

    GD: Njih Mas, nanti pake PPT (malah tambah bingung)

  39. Untuk mengatasi kasus-kasus seperti yang dialami oleh mas slamet, mungkin Ki Sukra atau GD bisa menyediakan kolom khusus untuk menampung hasil konvert (khusus teks tanpa gambar).Urusan mengkonvertnya bisa saya bantu, setidaknya bisa sedikit menghibur para cantrik yang bernasib seperti mas slamet.

  40. sapa tau ya ada yg berkenan bikin kamus atau catatan kaki bahasa /istilah jawa-jogya yg ada di ADBM – maklum ga semua pembaca tau artinya, kadang cuma meraba raba aja,,,,sedangkan yg baca ADBM datang dari berbagai pelosok yg tentu ga paham dgn istilah jawa spt saya…

    contoh…

    1.pring ori
    2.jenang alot.
    3.bulak
    4.segelar sepapan..
    5.gringsing?….
    dlll masih banyak banget…

    atau Ki Jebeng said berkenan??….hehe, trims
    trims juga sama mas DD yg lagi upload 55 (hehe, maksa).

  41. Kata pembantu saya pring ori itu, sejenis pagar tanaman bambu jenis “ori”??…, apa betul begitu Ki Jebeng??..
    Trus jadi inget ada daerah Pring Sewu ya di lampung?/…
    Gringsing katanya sejenis motif batik??.., kayak apa ya.., jadinya cuma ngira2 aja tuh..
    Kalo berkenan Ki Jebeng bisa bikin catatan kaki??.. maaf bikin repot nih…, atau para kisanak ADBMers yg lain,Ki Glagah putih??, atau mas Truno podang yg sdh mirip SH Mintardja tuh??.. sudi kiranya bermurah hati bikin catatan kaki istilah jawa-jateng-jogya yg ada di buku ADBM??.. siapa tau bermanfaat sebagi bekal warisan buat generasi yad..
    wass

  42. Mas Dewo1234, ini arti kata2 tsb, menurut versi dan sepenerjemahan saya…..

    1. pring = bambu. Ori = salah satu jenis bambu, yg batangnya gede2 & banyak duri. Jadi ada bambu kuning, bambu wulung, bambu ori/petung, dll

    2. Jenang alot, bayangan saya kok fisiknya mirip jadah yg berbahan ketan itu, tapi warnanya hitam. Di Solo biasanya dijual bareng krasikan. Tapi beda dg wajik lho… (he.. he… makin pusing ya mas?). Ada yg bisa kasih pencerahan ki sanak yg lain?

    3. Bulak = area persawahan yang -biasanya- terletak diantara dua pemukiman (desa/dukuh). BELIK = mata air kecil

    4. Segelar-sepapan= pasukan prajurit dalam jumlah relatif banyak, dan sudah dalam posisi ready. Jadi kalo banyak prajurit tp sedang tidur semua dalam barak, biasanya gak disebut pasukan segelar-sepapan.

    5. Gringsing, itu nama salah satu dari banyak jenis/corak batik. Corak/motif lain misalnya Kawung, Parangrusak, dll.

    6. Jebeng, kl gak salah adalah panggilan ortu untuk anak2, khususnya cowok.

    Monggo kalau ada yg mau mengoreksi/menambahi, secara saya ya cuma sok tahu….

  43. “Mudah-mudahan saja ada yang bersedia, ya, Ki Sadewo,” Kiai Gringsing bergumam sambil manggut-manggut.

    “Hem,” ujarnya lebih lanjut, “kalau Ki Sadewo 1234 berkenan melihat-lihat jemuran kainku yang lusuh-lusuh itu, silahkan klik gambar di pinggir halaman ini yang paling bawah …”

  44. Terima kasih para Kisanak semua yang telah berusaha membantu saya.
    Sekarang sudah hadir kitab 54 yang versi convert file doc, jadi saya sudah dapat memperdalam ilmu lagi….

  45. tiga setengah tahun sudah, gandhok ini tidak dikomeni cantrik.

    • tiga setengah tahun sudah, gandhok ini tidak diureg2-i cantrik.

      • inilah seribu harinya sebagai daripada apa namanya ,,,

        • limang tahun

          • wis suwek….eh….tuwek

            • Eh eh eh, jebulnya masih ada juga yang ingak inguk…
              Harak inggih dhawah sami wilujeng to Ki KartoJ ?

              • Weh..Ki Gembleh…inggih wadhah..eh..dhawah sami wilujeng Ki 🙂

                • kangen suasana padepokan lur

                • omg

  46. 2012 yang yr terahir


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: