Buku 54

“APAKAH kau melihat hantu-hantu itu melempari barak ini dengan batu?”

“He” orang yang kekurus-kurusan itu justru terperanjat, bahkan ia bertanya, “apakah rumah ini dilempari dengan batu?”

“Ya. Tepat pada saat suara hantu-hantu itu mengitari barak ini.”

“Bodoh kau,” orang yang tinggi kekar itu berteriak, “hantu-hantu tidak perlu melemparkan batu-batu itu dengan tangannya seperti kita manusia yang kerdil ini. Hantu-hantu hanya cukup ber¬niat untuk melakukan dan batu-batu itu akan terbang sendiri mengenai sasarannya.”

“O,” orang-orang yang mendengar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, hantu-hantu itu tidak marah karena orang tua yang bersandar dinding ini, tetapi karena kau yang berani berada di luar rumah ketika mereka lewat.”

“Kalau mereka marah kepadaku, mereka dapat berbuat apa saja seketika itu. Mereka dapat membakar aku dengan sinar matanya yang menyala seperti api. Atau mematuk tubuhku dengan belaian rambutnya yang terdiri dari ular-ular yang hidup. Atau dengan cara apa pun yang sangat mudah mereka lakukan.”

Orang yang tinggi kekar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tampak merenung sejenak. Lalu tiba-tiba dipandanginya Kiai Gringsing dengan tatapan mata yang tajam. Selangkah demi alangkah ia mendekat. Sambil menunjuk wajah orang tua ia berkata, “Kau, kau sumber dari bencana ini.”

Perlahan-lahan Kiai Gringsing bergeser. Tetapi ia masih tetap duduk di tempatnya.

“Kau adalah sumber dari semua bencana yang akan me¬nimpa kita kelak. Kali ini lemparan-lemparan batu. Lain kali apa lagi. Mungkin hantu-hantu itu akan menyebar racun dan membunuh kita semuanya.”

Kiai Gringsing masih tetap duduk di tempatnya. Tetapi ia masih belum menjawab.

“He, orang yang sombong. Hantu itu marah bukan karena kau telah menghinanya pada saat mereka lewat. Tetapi mereka pasti marah dan mendendammu karena kau tetap pada pendiri¬anmu, menebas hutan terlarang itu. Sekarang kau melihat sendiri akibat apakah yang sudah terjadi atas kita di sini.”

Kiai Gringsing masih tetap duduk di tempatnya. Meski pun ia mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa pun juga.

“Dengar hai orang yang keras kepala. Sekarang, di hadapan orang-orang yang ada di dalam barak ini kau harus berjanji, bahwa kau akan menghentikan pekerjaanmu yang bodoh itu.”

Kiai Gringsing masih belum menjawab.

“Kenapa kau diam saja, he? Apakah aku harus memaksamu untuk berbicara dan menyanggupi kehendak kami untuk ke¬pentingan kita semua di sini? Kami berjanji bahwa kau akan mendapat bagian pada salah satu kelompok yang ada di sini, sehingga kau tidak perlu cemas memandang ke hari depanmu, hari depan anak-anakmu yang masih panjang. Kau mengerti? Kau mengerti, he?”

Kiai Gringsing tidak segera menyahut, ia sendiri menjadi bimbang karenanya. Bukan keragu-raguan apakah ia akan melan¬jutkan kerjanya atau tidak. Tetapi ia ragu-ragu, bagaimanakah sebaiknya menghadapi orang yang tinggi kekar ini.

“He, kenapa kau tidak menjawab?”

“Tenanglah,” berkata Kiai Gringsing, “aku ingin men¬dapat kesempatan untuk menjelaskan.”

“Kau hanya dapat menjawab dengan satu kata, ‘ya’. Tidak ada jawaban lain yang dapat kau sebutkan.”

“Tunggu dulu.”

“Tutup mulutmu. Aku tidak mau mendengar kata-kata lain.”

Kiai Gringsing menarik nafas. Tetapi ia diam saja.

“Ayo jawab.”

Kiai Gringsing tidak menyahut.

“Apa kau bisu, he?”

“Apakah kau mau mendengarkan jawabku?” bertanya Kiai Gringsing kemudian.

“Kau tinggal mengucapkan ‘ya’.”

“Kau atau aku yang harus menjawab. Kalau kau sendiri yang akan menjawabnya, jawablah. Tetapi kalau aku yang harus menjawab pertanyaanmu, maka kau harus mau mendengarkannya.”

Wajah orang itu menjadi merah. Hampir saja ia kehilangan kesabaran. Namun seperti biasanya orang-orang lain selalu berusaha menahannya.

“Jangan. Jangan terlampau cepat marah. Sebaiknya dengar apa yang akan dikatakannya,” berkata seseorang yang sudah berambut putih.

“Ia sombong sekali,” geram orang yang tinggi itu.

Kini beberapa orang telah berdiri dan mengerumuni orang yang berdiri di hadapan Kiai Gringsing yang sudah berdiri pula. Agung Sedayu dan Swamdaru pun telah tegak pula di belakang gurunya. Wajah-wajah mereka pun menjadi tegang. Namun mereka masih berusaha untuk menahan diri. Mereka masih belum tahu benar, apakah yang akan dilakukan oleh gurunya.

“Cobalah dengar,” berkata Kiai Gringsing, “aku masih ingin mendapat kesempatan sekali lagi atas tanggung jawabku sendiri. Aku yakin bahwa pada suatu saat aku akan dapat ber¬kata kepada mereka dalam suasana yang sebaik-baiknya. Aku yakin bahwa Kiai Damar bukan seorang pembohong.”

Orang yang bertubuh tinggi kekar itu mengerutkan kening¬nya, “Kenapa kau singgung-singgung nama Kiai Damar.”

“Ya, Kiai Damar adalah seorang dukun sakti yang mampu berhubungan langsung dengan hantu-hantu. Bukankah semua orang sudah mengenalnya, meski pun belum mengenal namanya.”

Orang yang tinggi kekar itu tidak menyahut. Tetapi ketika Kiai Gringsing mengedarkan tatapan matanya, maka setiap orang yang dipandanginya menganggukkan kepalanya.

“Nah, aku yakin akan hal itu. Yakin bahwa Kiai Damar adalah seorang yang dapat dipercaya.”

Orang yang tinggi besar itu tampak termangu-mangu.

“Bukankah begitu?”

“Apa katanya?” bertanya orang itu.

“Ketika aku datang kepadanya untuk minta obat bagi anakku, ia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itulah sebab¬nya aku percaya sepenuhnya kepadanya.”

“Apa yang diketahuinya.”

“Ia berkata kepadaku saat itu ‘Pulanglah, anakmu akan sembuh dengan sendirinya.’ Ternyata anakku benar-benar telah sembuh. Sudah tentu setelah Kiai Damar berbicara dengan hantu-hantu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Di dalam per¬soalan tanah garapan itu pun Kiai Damar sudah berbicara dengan mereka menurut keterangan Kiai Damar.”

“Bohong!”

“Sebenarnya aku tidak boleh mengatakannya kepada siapa pun sebelum aku berhasil.”

“Apa?”

“Pada saatnya akan aku katakan. Tetapi di antaranya dapat kalian ketahui, bahwa Kiai Damar menganjurkan aku bekerja terus. Bekerja menurut petunjuknya.”

“Apa petunjuk itu?”

“Sudah aku katakan, pada saatnya kalian akan mengeta¬hui. Aku takut mengatakannya sekarang.”

Orang yang kekar itu menjadi ragu-ragu sejenak.

“Ada sesuatu yang harus aku lakukan di tanah garapan itu.”

“Kau membual.”

“Aku akan menghadap Kiai Damar sekali lagi. Kalau aku memang tidak diijinkan untuk meneruskan kerja ini, maka biarlah persoalannya akan aku serahkan kembali kepada Kiai Damar.”

Orang yang tinggi kekar itu menjadi semakin ragu-ragu.

“Atau apakah ada di antara kalian yang akan bertanya kepadanya? Aku akan berterima kasih kalau seseorang memerlu¬kan membuktikan kebenaran kata-kataku.”

Sejenak orang-orang yang mengerumuninya itu terdiam. Orang yang tinggi itu pun terdiam pula. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandang orang yang kekurus-kurusan. Tetapi wajah orang yang kekurus-kurusan itu pun membayangkan keragu-raguan pula.

“Baiklah,” tiba-tiba orang yang kekar itu berkata, “kalau kau memang sudah mendapat suatu pesan dari Kiai Damar. Tetapi kalau kau berbohong maka lehermu menjadi taruhan.” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kenapa hantu-hantu itu marah?”

“Mungkin ada persoalan lain yang tidak kita mengerti. Hantu-hantu itu pasti tidak akan mempersoalkan kerjaku lagi. Kerja yang sudah mendapat ijin mereka atau setidak-tidaknya sepengeta¬huan mereka.”

Orang yang tinggi kekar itu masih berdiri di tempatnya. Na¬mun kemudian ia menggeram, “Kita akan membuktikan, apakah kau sekedar berbohong, atau sebenarnya memang demikian. Kita akan melihat akibat selanjutnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan bersungguh-sungguh ia memandang orang yang tinggi kekar itu. Kemudian kepada wajah-wajah yang tegang di sekitarnya.

“Aku tidak berbohong,” ia berdesis.

Orang yang tinggi kekar tidak menyahut lagi. Dengan mengumpat-umpat ia pergi meninggalkan Kiai Gringsing dan kedua anak-anaknya.

Sepeninggal orang yang tinggi kekar itu, maka beberapa orang masih tetap mengerumuninya. Namun kemudian seorang demi seorang mereka pun meninggalkannya.

Ketika tidak banyak lagi orang yang berdiri di dekat Kiai Gringsing maka seseorang telah bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

Kiai Gringsing yang tidak mengenal orang itu sampai ke dalam jantungnya mengangguk dan menjawab, “Ya, tentu aku berkata sebenarnya.”

“Dan kau masih akan mencoba seperti yang kau katakan?”

“Ya.”

“Berbahaya sekali.”

“Aku yakin Kiai Damar akan melindungi aku.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan melangkah meninggalkan Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing kemudian bersama-sama kedua murid-muridnya duduk kembali di tempatnya. Sejenak mereka saling berdiam diri. Na¬mun demikian Kiai Gringsing menyadari betapa kedua murid-muridnya telah menahan hati mereka.

“Pada suatu saat, dada ini akan meledak,” desah Swandaru.

Kiai Gringsing tersenyum. Dilihatnya beberapa orang telah berbaring kembali di tempatnya.

“Suatu latihan kesabaran yang paling baik, Swandaru.”

“Tetapi sampai kapan?”

“Sampai pada suatu saat yang tidak akan lama lagi.”

“Saat yang tidak akan lama lagi itu adalah suatu waktu yang tidak dapat dibayangkan.”

Kiai Gringsing tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Agung Sedayu yang tidak bertanya apa pun itu kemudian berbaring pula. Betapa darahnya serasa mengalir semakin cepat, namun ia masih tetap mencoba menguasai perasaannya.

Swandaru pun kemudian menyusulnya pula. Berbaring di sampingnya agak berdesak-desakkan. Sedang Kiai Gringsing duduk bersandar dinding sambil memandang orang-orang yang sudah mulai mencoba untuk dapat tidur kembali.

“Kasihan. Jiwa mereka bagaikan daun kering yang di¬ombang-ambingkan gelombang di permukaan wajah lautan. Tidak menentu dan sama sekali tanpa pegangan.”

Tetapi Kiai Gringsing masih belum dapat berbuat apa-apa. Yang dapat dilakukannya adalah mengusap dadanya dengan pe¬nuh iba.

“Mudah-mudahan kalian tidak akan lebih lama lagi mengalami tekanan perasaan serupa itu,” ia berkata di dalam hatinya.

Ternyata sisa malam sudah tidak terlampau panjang lagi. Sejenak kemudian langit di ujung Timur pun telah mulai menjadi kemerah-merahan.

Barak itu pun tidak lama kemudian menjadi terbangun pula karenanya. Beberapa orang dengan sikap ragu-ragu telah keluar dan turun ke halaman. Seorang demi seorang mereka pergi ke sumur dan ke parit yang tidak begitu jauh dari barak itu. Namun bagaimana pun juga mereka masih terap dibayangi oleh ketakutan apabila mereka teringat kepada suara-suara hantu semalam.

“Tetapi hantu-hantu tidak akan mau menampakkan dirinya setelah ayam jantan berkokok untuk terakhir kalinya,” berkata mereka di dalam hati untuk menenteramkan perasaan masing-masing.

Demikianlah maka pada saatnya mereka pun telah mening¬galkan barak dan gardu pengawas pergi ke tempat kerja masing-masing sambil membawa rangsum masing-masing. Demikian juga Kiai Gring¬sing dan kedua muridnya. Mereka pun telah pergi ke tempat kerja mereka, yang sampai saat terakhir masih menjadi persoalan.

“Kalau mereka berhasil mengusir kita dan setiap orang yang akan melanjutkan kerja ini, maka lambat laun mereka akan berhasil mengusir orang-orang yang berada di dalam barak itu pula dengan cara mereka. Semakin lama maka semakin tipislah usaha untuk memperluas tanah garapan ini, sehingga pada suatu saat, maka hantu-hantu itu akan masuk ke tempat-tempat yang lebih ramai dan mengusir orang-orang dari daerah Mataram yang sedang dibangun ini,” berkata Kiai Gringsing kepada murid-muridnya. Lalu, “Ka¬rena itu, apa pun yang akan terjadi, kita harus tetap bertahan. Mungkin kita memang harus berkelahi dengan hantu-hantu itu. Te¬tapi apa boleh buat.”

Kedua murid-muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sangat menarik sekali apabila pada suatu saat mereka dapat berkelahi dengan hantu-hantu yang telah mencoba mengganggu ketenteraman orang-orang yang sedang membuka hutan itu.

“Guru,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berkata, “supaya kita dapat berbuat lebih leluasa, bagaimanakah kalau kita minta ke¬pada para pengawas untuk dapat tinggal di gubug-gubug kecil yang telah ditinggalkan oleh penghuninya itu? Kita dapat berbuat se¬suai dengan rencana kita sendiri tanpa ada orang yang meng¬halanginya, dan sudah tentu, kita tidak akan mengganggu dan menggelisahkan orang di dalam barak itu apabila kita dikatakan telah membuat hantu-hantu itu marah yang kemarahannya akan me¬nimpa semua orang di dalam barak itu.”

Kiai Gringsing merenung sejenak. Katanya, “Itu suatu pendapat yang baik. Aku setuju. Aku akan mencoba mengata¬kannya agar kita diberi kesempatan untuk tinggal di gubug-gubug kecil yang kosong itu.”

Demikianlah, ketika mereka telah selesai bekerja sehari penuh, mereka pun segera kembali. Sebenarnya tidak ada yang mereka kerjakan selain membersihkan beberapa bagian dari rerumputan liar dan mengawasi tempat itu dengan lebih saksama lagi.

Mereka tidak segera kembali ke barak, tetapi Kiai Gringsing bersama kedua muridnya telah menemui para pengawas untuk menyampaikan maksudnya itu.

Para pengawas yang mendengar permintaan Kiai Gringsing itu menjadi heran. Ada di antara mereka yang tidak langsung mempercayai pendengarannya sehingga bertanya, “Apakah kau sekedar bergurau?”

“Tidak, Tuan,” jawab Kiai Gringsing, “kami bersungguh-sungguh.”

Beberapa orang pengawas menarik nafas dalam-dalam. Seseorang yang gemuk pendek berambut jarang menggeleng-gelengkan kepala¬nya sambil bergumam, “Aku tidak mengerti.”

Ki Wanakerti, salah seorang dari para pengawas itu berkata, “Kalian menunjukkan sikap yang lain dari orang-orang yang ada di sini sejak kalian datang. Kalian pernah mengalami banyak hal yang dapat mendesak kalian untuk meninggalkan tempat ini, namun justru kalian menjadi semakin berani.”

“Bukan begitu, Tuan. Kami hanya bermaksud sekedar menghindari sikap yang dapat berakibat kurang baik dari beberapa orang yang tidak senang terhadap kami. Karena itu, me¬mang sebaiknya kami memisahkan diri dari mereka.”

“Aku mengerti, tetapi apakah kalian pada suatu saat tidak akan mati ketakutan?”

“Bukankah beberapa keluarga tinggal juga di gubug-gubug itu?”

“Tetapi gubug-gubug yang sangat berdekatan. Dan gubug-gubug itu sudah berjejal-jejal diisi oleh beberapa keluarga.”

“Tetapi bukankah masih ada yang kosong?”

Wanakerti mengerutkan keningnya. Sejenak ditatapnya wajah Kiai Gringsing, kemudian dipandanginya wajah kawan¬nya yang keheran-heranan.

“Apa boleh buat,” berkata pemimpin pengawas itu, “kalau kau memang berniat demikian. Ternyata niat itu telah menimbulkan sesuatu yang lain di dalam hatiku.” Orang itu ber¬henti sejenak, lalu, “Tetapi bukan maksudku untuk menentukan sesuatu atas niatmu itu,” sekali lagi ia berhenti. Wajahnya menjadi ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia berkata, “Memang aneh. Tetapi aku memang ingin melihat, apakah yang akan ter¬jadi atas kalian. Atas tempat tinggal yang akan kalian pilih dan tentang tanah garapan kalian itu. Tetapi sekali lagi, sama sekali bukan maksudku untuk mempergunakan kalian sebagai bahan percobaan.”

“Kami mengerti,” jawab Kiai Gringsing. “Memang sama sekali bukan percobaan. Hal ini tumbuh dari keinginan kami sendiri. Dan kami tidak akan meletakkan tanggung jawab kepada orang lain di dalam hal ini.”

“Baiklah,” pemimpin petugas itu menganggukkan kepala¬nya, “pilihlah sendiri tempat tinggal yang akan kau perguna¬kan.”

“Terima kasih, Tuan. Terima kasih. Sejak malam ini kami akan menempatinya.”

“Sejak malam ini?”

“Ya.”

Sekali lagi para pengawas itu menjadi heran. Salah seorang dari mereka berkata, “Tingkah laku kalian memang sangat me¬narik perhatian.”

“Sama sekali tidak, Tuan. Kami hanya ingin menjauhkan diri dari pertengkaran yang tidak perlu. Sebenarnyalah bahwa kami agak merasa takut menghadapi orang yang tinggi kekar dan orang yang kekurus-kurusan, yang selalu saja mengancam kami.”

“Apakah kau menjadi sedemikian ketakutan sehingga mengatasi ketakutanmu terhadap hantu-hantu yang hampir membunuh anakmu?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian jawab¬nya, “Terhadap hantu-hantu itu aku sudah mempunyai jaminan. Kiai Damar dan hantu-hantu pendatang. Di antaranya dari Gunung Merapi. Tetapi terhadap orang yang tinggi kekar itu aku sama sekali tidak mempunyai pelindung.”

Petugas itu menggeleng-gelengkan kepalanya pula. Katanya, “Terserah kepada kalian. Kalian akan bertanggung jawab atas kalian sendiri.”

Demikianlah, maka pada malam itu Kiai Gringsing minta diri kepada kawan-kawannya yang ada di dalam barak. Dijinjingnya sebungkus pakaian kumal yang hampir tidak berharga lagi.

“Kalian memang orang-orang aneh. Berani tetapi bodoh,” de¬sis seseorang.

Kiai Gringstng tersenyum. Tetapi ia tidak menanggapinya.

Namun ia terpaksa berhenti ketika di depan pintu dijumpai¬nya orang yang tinggi kekar itu berdiri di samping orang yang kekurus-kurusan.

“Kalian memang orang-orang gila,” geram orang yang tinggi.

“Maksud kami, agar kami terpisah dari kalian. Agar kesalahan-kesalahan yang kami perbuat tidak akan menimpa kalian pula apabila hantu itu menjadi marah. Misalnya, apabila mereka me¬lempari kami dengan batu atau cara apa pun juga.”

“Persetan. Tetapi kalian harus mengurungkan niat ini, atau kalian benar-benar akan ditelan oleh bahaya yang tidak terkira¬kan.”

“Relakanlah kami. Kami sangat berterima kasih atas nasehat dan usaha kalian menyelamatkan kami. Tetapi kami adalah orang-orang yang keras kepala, yang hanya akan menumbuhkan kesulitan saja pada kalian.”

Orang yang tinggi itu menggeram. Namun tiba-tiba saja orang yang kekurus-kurusan berkata, “Lepaskan mereka. Mereka tidak lagi menjadi tanggung jawab kami.”

Orang yang tinggi besar itu mengerutkan keningnya. Na¬mun kemudian ia pun menepi sambil berkata, “Baiklah. Silahkan. Tetapi jalan yang kau tempuh adalah jalan yang paling me¬ngerikan, yang pernah dikenal orang selama ini.”

Kiai Gringsing tertegun sejenak. Namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil menjawab, “Mudah-mudahan kami dapat keluar de¬ngan selamat. Kami terlampau percaya kepada Kiai Damar dan Kiai Dandang Wesi. Mudah-mudahan kami mendapat perlindungan.”

Orang yang tinggi besar itu memandang Kiai Gringsing dengan sorot mata yang aneh. Terbayang di balik tatapan ma¬tanya itu, sesuatu yang ditahankannya. Kemarahan dan kedeng¬kian yang tiada taranya.

Orang-orang yang ada di dalam barak itu pun kemudian melepaskan tiga orang ayah beranak itu dengan tatapan mata yang dibayangi oleh berbagai macam pertanyaan. Mereka sama sekali tidak dapat mengerti jalan pikiran orang tua itu. Menurut me¬reka, ketiganya seakan-akan sengaja membunuh dirinya di dalam gubug yang telah dipilihnya.

Meskipun demikian masih juga terngiang di telinga orang-orang itu nama-nama Kiai Damar dan Kiai Dandang Wesi.

“Apakah benar orang tua dan kedua anak-anaknya itu akan mendapat perlindungan dari mereka?”

Sepeninggal Kiai Gringsing orang yang tinggi kekar itu bergumam seolah-olah kepada diri sendiri, “Kenapa mereka di¬biarkan pergi?”

Tanpa berpaling orang yang kekurus-kurusan menyahut, “Me¬reka akan menyesal apabila mereka sempat menyadari tindakan mereka.”

Orang yang tinggi itu hanya dapat menarik nafas. Kemu¬dian sambil bersungut-sungut melangkah pergi ke serambi. Beberapa orang telah duduk-duduk di tempat masing-masing karena tidak ada yang akan mereka kerjakan, selain merenungi jalan hidup yang sam¬pai saat itu mereka tempuh.

Seseorang mengerutkan keningnya, ketika orang yang tinggi besar itu duduk di sampingnya sambil berdesah, “Ada juga orang gila di tempat ini.”

Orang yang duduk di sampingnya tidak menyahut.

“Memang kita semua adalah orang gila,” desis orang yang tinggi kekar itu kemudian.

Tidak seorang pun yang menyahut. Orang yang duduk di sebelah-menyebelah pun hanya berpaling memandanginya dengan dahi yang berkerut-merut. Tetapi tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.

Dan orang yang tinggi itu berkata selanjutnya, “Apakah sebenarnya yang telah menarik kita ke neraka ini?”

Masih tidak ada seorang pun yang menjawab.

“Ini adalah kegilaan yang sebenarnya melampaui kegilaan ketiga ayah-beranak itu,” orang itu berhenti sejenak. Tetapi agaknya ia memang tidak ingin mendapat jawaban dari siapa pun juga, karena itu ia berbicara terus, “Kita sama sekali tidak berpengharapan apa pun di sini. Sebentar lagi hantu-hantu di Alas Mentaok pasti akan mengerahkan semua pasukannya untuk me¬ngusir kita. Dan kita akan kehilangan segala-galanya. Waktu, ke¬sempatan, dan tanah garapan. Daerah-daerah yang sudah dibuka itu akan segara menjadi hutan kembali, jauh lebih lebat dari yang sekarang.”

Orang yang tinggi itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian tanpa menghiraukan orang-orang lain, ia pun segera berbaring menelentang.

Orang-orang yang lain pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Namun kata-kata yang dilontarkan oleh orang yang tinggi itu masih saja terngiang di hampir setiap telinga yang mendengar¬nya. “Kita sama sekali tidak berpengharapan apa pun di sini.”

“Kita tidak berpengharapan apa pun,” hati mereka pun bahkan menyahut pula.

Dan sebuah pertanyaan telah timbul di dalam dada mereka, “Kenapa kita sampai saat ini masih di sini?”

Pertanyaan itu tidak dapat ditemukan jawaban. Sekilas terbayang pula harapan-harapan yang membubung setinggi langit se¬lagi mereka mulai membuka hutan ini. Kelak Mataram akan menjadi sebuah negeri yang besar dan mereka akan mendapat¬kan kesempatan hidup tenteram di dalamnya.

“Tetapi gambaran sebuah negeri yang besar itu justru semakin lama menjadi semakin pudar,” hati mereka pun menjadi semakin kuncup. “Selama ini kita tidak pernah berpikir, bahwa di Mentaok kita akan berhadapan dengan hantu-hantu.”

Sementara itu, Kiai Gringsing dan kedua muridnya telah sampai ke sebuah gubug yang kosong, yang telah mereka pilih menjadi tempat tinggal mereka. Dari para petugas mereka men¬dapatkan sebuah dlupak yang telah terisi minyak kelapa, untuk menerangi gubug itu.

“Kita tidak sempat membersihkan tempat ini,” desis Swandaru.

“Biarlah,” sahut gurunya, “besok, pagi-pagi sebelum kita berangkat, kita mengambil waktu sejenak untuk membersihkan¬nya. Sayang sekali. Gubug ini adalah gubug yang kuat.”

Swandaru pun kemudian menyalakan dlupak minyak kelapa dan meletakkannya di atas planggrangan bambu yang memang sudah ada di dalam gubug itu.

Sinar yang kekuning-kuningan memancar ke seluruh ruangan. Sarang laba-laba yang kehitam-hitaman tersangkut di setiap sudut. Swan¬daru terkejut ketika tiba-tiba saja seekor tikus tanah yang besar berlari melintasi lantai di ruang dalam.

“He, tikus yang cukup besar.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Di mana kita tidur nanti, Guru?” bertanya Swandaru pula.
Kiai Gringsing tidak segera menyahut. Ketika ia berpaling ke arah Agung Sedayu, dilihatnya Agung Sedayu sedang mem¬perhatikan lantai tanah yang kotor dan lembab.

“Kita tidak dapat tidur di lantai,” desis Agung Sedayu.

“Kenapa?” bertanya gurunya.

“Serangga berkeliaran di sana-sini. Mungkin juga binatang-binatang melata yang lain.”

Kiai Gringsing menggangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kita tidak akan tidur malam ini.”

“He?” Swandaru membelalakkan matanya.

“Seorang perantau harus dapat mencegah kantuk tidak hanya semalam suntuk,” berkata gurunya pula.

Swandaru tidak menyahut. Tetapi ia menarik nafas dalam-dalam sambil menggaruk tengkuknya.

“Aku mendapat firasat, bahwa sesuatu akan terjadi. Be¬sar atau kecil,” berkata gurunya pula.

“Hantu-hantu?” desis Swandaru.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum. Katanya, “Kita akan duduk untuk semalam suntuk. Nanti lampu minyak itu akan kita sisihkan di balik din¬ding itu.”

Agung Sedayu dan Swamdaru saling berpandangan sejenak. Namun kemudian mereka pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dipandanginya sebuah amben bambu kecil yang sudah hampir roboh, yang tidak mungkin sama sekali dipakai untuk berbaring. Apa lagi tiga orang, untuk Swandaru sendiri pun sudah terlampau kecil. Tetapi amben bambu itu masih cukup untuk tempat duduk mereka bertiga.

Di atas amben itulah mereka kemudian duduk sambil me¬renungi suasana, sementara malam di luar menjadi semakin ke¬lam.

Sejenak kemudian Kiai Gringsing pun berkata, “Pindah¬kan lampu itu, supaya tidak seorang pun yang dapat melihat kita duduk di sini dari luar.”

“Siapakah kira-kira yang akan mengintip kita, Guru?” ber¬tanya Agung Sedayu. “Hantu-hantu itu?”

Kiai Gringsing menggeleng. Tetapi ia hanya menjawab, “Itu hanya suatu dugaan. Mudah-mudahan tidak ada.”

Swandaru pun kemudian memindahkan lampu minyak tanah itu ke balik dinding penyekat ruangan yang sempit itu, sehingga mereka pun kemudian berada di dalam bayangan yang kegelap-gelapan.

Seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing, ketiganya sa¬ma sekali tidak dapat membaringkan dirinya. Mereka harus te¬tap duduk, betapa pun kantuk telah menjalari mata mereka. Sekali-sekali Swandaru terlena sehingga kepalanya terangguk-angguk. Namun kemudian digosok-gosoknya matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sampai tengah malam, mereka tidak menjumpai sesuatu yang aneh di dalam gubug itu. Tidak ada tanda-tanda bahwa akan terjadi sesuatu seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing, se¬hingga dengan demikian Agung Sedayu dan Swandaru pun ke¬mudian bersandar dinding sambil memejamkan mata mereka meski pun mereka tidak juga berani tidur.

Hanya Kiai Gringsing sajalah yang masih tetap duduk ber¬sila di atas amben itu. Tangannya bersilang di dada, sedang ke¬palanya tertunduk meski pun matanya tetap terbuka.

Tiba-tiba orang tua itu mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan diangkatnya kepalanya, seakan-akan ia mendengar sesuatu.

Ketika Agung Sedayu dan Swandaru melihatnya, mereka pun mencoba untuk mendengar. Namun ketika Swandaru akan membuka mulutnya untuk menanyakan sesuatu, Kiai Gringsing memberi isyarat kepadanya, agar ia tetap berdiam diri di tempatnya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Akhirnya kedua anak-anak muda itu pun mendengarnya. Desir yang lembut di sudut rumah itu.

Dada mereka menjadi berdebar-debar karenanya. Apakah mere¬ka pada malam ini harus berhadapan dengan hantu-hantu?

Sejenak mereka bertiga menahan nafas. Bahkan Kiai Gring¬sing sendiri tidak tahu, apakah yang akan dihadapinya malam ini. Tetapi ia yakin, bahwa ia akan berhadapan dengan bahaya yang sebenarnya. Lambat atau cepat.

Dalam pada itu suara gemerisik di sudut rumah itu menjadi semakin jelas. Bahkan kemudian mereka mendengar seakan-akan dinding bambu yang sudah sangat lemah itu berpatahan.

Ketiga orang yang berada di dalam gubug itu menjadi te¬gang. Apalagi Agung Sedayu dan Swandaru. Tanpa mereka sa¬dari tangan-tangan mereka telah meraba lambung. Ketika tersentuh tangkai cambuk mereka yang melingkar di bawah baju, hati me¬reka menjadi agak tenang. Di dalam keadaan yang memaksa, maka senjata-senjata itulah yang akan dapat membantu mereka me¬ngatasi kesulitan.

Namun sejenak kemudian, suara itu pun seolah-olah lenyap begitu saja. Mereka tidak mendengar lagi bambu berpatahan. Tetapi telinga mereka yang tajam itu masih dapat mendengar desah nafas yang tertahan-tahan. Karena itu, mereka yang ada di dalam gubug itu masih tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak sama sekali bahkan nafas mereka pun seolah-olah tidak lagi dapat didengar oleh orang lain.

“Mereka telah berhasil membuka sudut gubug ini,” ber¬kata Swandaru di dalam hatinya. “Kini mereka sedang meya¬kinkan diri mereka, apakah mereka akan dapat masuk dengan aman atau tidak.”

Sedang Agung Sedayu berpikir di dalam hatinya, “Pasti bukan hantu. Hantu tidak memerlukan lubang apa pun karena tubuhnya yang lembut. Menurut kata orang, hantu tidak menge¬nal lagi batas, sehingga batas itu tidak berlaku bagi mereka. Kalau ada yang memasuki gubug ini dengan memecah sudut itu, pasti bukan apa yang selalu diributkan orang dengan nama hantu.”

Namun dalam pada itu, mereka masih tetap dicengkam oleh ketegangan. Semakin lama semakin tegang, sehingga dada kedua anak-anak muda itu seolah-olah akan meledak karenanya. Me¬reka masih harus tetap berada di tempat mereka sambil menung¬gu apa yang akan terjadi kemudian.

Tetapi sejenak mereka saling berpandangan ketika mereka mendengar desir langkah kaki. Tidak semakin dekat memasuki gubug itu, tetapi justru menjadi semakin jauh.

“Apakah artinya ini?” pertanyaan itu melonjak tidak saja di dalam dada Agung Sedayu dan Swandaru, tetapi juga di hati Kiai Gringsing. Mereka tidak segera dapat mengerti, ke¬napa mereka yang bersusah payah merusak sudut gubug itu, tidak berbuat sesuatu?

“Apakah mereka menyadari, bahwa kami masih belum tidur?” bertanya Kiai Gringsing pula di dalam hatinya.

Meski pun demikian, ketiganya masih tetap berdiam diri dengan tegangnya di tempat masing-masing. Mereka masih menunggu apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya. Apakah mereka yang merusak sudut gubug itu benar-benar telah pergi seluruhnya? Menilik suara nafas mereka yang kini sudah tidak terdengar sama sekali maka mereka pasti telah meninggalkan gubug ini.

Namun dalam pada itu, mereka telah dikejutkan oleh suara yang lain. Suara desis berkepanjangam di sudut gubug itu. Se¬makin lama semakin keras.

Sejenak ketiganya hanya dapat saling perpandangan. Sua¬ra itu adalah suara yang belum mereka kenal. Desir dan desis yang semakin jelas.

Agaknya Swandaru tidak sabar lagi menunggu. Dengan ser¬ta-merta ia meloncat dari tempat duduknya. Tetapi ia tertegun karena gurunya menggamitnya dan memberinya isyarat untuk tetap duduk di tempatnya.

Kening Swandaru menjadi berkerut-merut. Tetapi ia tidak dapat melawan perintah gurunya.

Sejenak kemudian mereka masih tetap menunggu. Suara itu menjadi semakin jelas mendekati mereka.

Kiai Gringsing masih tetap membeku di tempatnya. Namun kemudian tiba-tiba saja ia mengangkat kakinya sambil berdesis, “Hati-hati. Bahaya itu telah datang menyerang kita. Angkat kaki¬mu. Kita harus melawannya.”

Agung Sedayu dan Swandaru pun mengangkat kakinya. Begitu kakinya naik ke atas amben, mereka pun segera melihat, beberapa ekor ular yang cukup besar menggeliat di atas lantai.

“Apakah kalian sudah melihat?” bertanya Kiai Gringsing.

Agung Sedayu dan Swandaru yang dengan tanpa sesadar¬nya telah berdiri di atas amben, memandangi ular-ular itu dengan tegangnya. Ular yang menyelusur lantai adalah ular hitam yang berbelang-belang putih.

“Weling,” desis Swandaru.

“Tidak. Welang. Ular weling tidak dapat menjadi se¬besar itu,” sahut Agung Sedayu.

“Ya. Welang,” desis Kiai Gringsing. “Agaknya ular ini sudah terlatih. Mereka mengerti di mana kita berada. Dan me¬reka sudah siap untuk menyerang kita.”

“Tetapi, welang tidak mempunyai bintik-bintik yang bercahaya seperti itu, Guru,” berkata Agung Sedayu kemudian.

“Memang, ular welang pada umumnya tidak mempunyai bintik-binitk yang bercahaya. Tetapi kita tidak tahu, apakah bintik-bintik bercahaya itu benar-benar bintik-bintik ular welang itu.”

“Maksud Guru?”

“Bintik-bintik dan noda-noda yang dapat memancarkan cahaya itu dapat dibuat.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak sempat bertanya lagi. Ular-ular itu sudah menjadi semakin dekat di bawah amben mereka.

“Hati-hati, mereka dapat memanjat. Kita harus berkelahi melawan ular-ular ini.”

Tiba-tiba Swandaru tidak menunggu lagi. Ia pun segera mengu¬rai cambuk yang membelit dilambungnya. Namun sebelum ia mempergunakannya gurunya berpesan, “Jangan menimbulkan bunyi terlampau keras. Kita harus tetap berusaha menyelubungi diri sejauh mungkin, sebelum kita pasti, apakah yang sebenarnya kita hadapi.”

Swandaru menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia me¬lihat bagaimana gurunya menggenggam senjatanya. Ternyata Kiai Gringsing memegang cambuknya tidak pada tangkainya, tetapi pada ujungnya.

“Kalian tetap di situ,” berkata gurunya. Ia tidak me¬nunggu jawaban lagi. Dengan tangkasnya ia melontarkan diri¬nya, dan ketika kakinya menjejak di atas tanah, ia sudah berdiri justru di belakang ular-ular yang merayap maju.

Ternyata seekor ular yang merayap dipaling belakang men¬jadi terkejut karenanya. Tetapi ketika ular itu berpaling, dan mencoba memutar diri untuk berbalik menyerang Kiai Gring¬sing, tangkai cambuk orang tua itu telah menyambar kepalanya, sehingga ular itu terpelanting membentur dinding bambu. Te¬tapi ular itu masih mencoba menggeliat. Agaknya sentuhan tang¬kai cambuk Kiai Gringsing itu tidak segera membunuhnya.

Namun sekejap kemudan Kiai Gringsing telah berdiri di sisinya. Sejenak tangkai cambuknya berputar, dan sejenak ke¬mudian maka kepala ular welang itu pun sekali lagi terpukul. Kali ini agaknya Kiai Gringsing tidak perlu mengulanginya lagi.

Tetapi selain ular yang telah mati itu, masih ada beberapa ekor lagi yang sedang merayap mendekati amben tempat Agung Sedayu dan Swandaru berdiri. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun segera mendekatinya dengan hati-hati.

Agung Sedayu dan Swandaru yang berdiri di atas amben pun telah memutar tangkai cambuk masing-masing. Ketika perlahan-lahan sebuah kepala tersembul dari bawah amben, maka dengan serta-merta tangkai cambuk Agung Sedayu dan Swandaru menyambar hampir bersamaan. Ular welang itu mencoba bertahan sejenak. Namun kemudian ia pun terjatuh dan mati.

Demikianlah Agung Sedayu dan Swamdaru telah berhasil membunuh beberapa ekor ular yang mencoba merambat naik ke atas amben. Sedang yang tersisa sudah dibunuh pula oleh Kiai Gringsing dengan tangkai cambuknya.

“Apakah sudah habis Guru?” bertanya Swandaru yang merasa ngeri juga melihat ular-ular itu berkeliaran.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, “Sudah. Agaknya memang sudah habis.”

“Kita akan menghitung jumlahnya,” desis Swandaru.

“Tetapi jangan kau pegang dengan tanganmu. Kita ma¬sih belum tahu, apakah yang membuat ular-ular itu berbintik-bintik dan bercahaya.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan sebatang tongkat bambu yang dilolosnya dari dinding rumah itu, dikum¬pulkannya bangkai ular yang berserakan itu.

“Lima,” desis Swandaru.

“Enam,” sahut Agung Sedayu.

“Ya, enam. Besar dan kecil,” berkata gurunya. “Suatu permainan yang mengerikan.” Kiai Grrngsing berhenti sejenak, lalu, “kita benar-benar berhadapan dengan orang-orang yang sedang bermain-main dengan racun. Hampir setiap hambatan yang kita jumpai pasti mengandung racun. Kuat atau lemah. Kini kita telah ter¬jerumus ke dalam sarang ular welang yang berbahaya. Tidak mustahil bahwa bintik-bintik yang bercahaya itu pun mengandung racun pula.” Kepada Swandaru ia berkata, “Ambillah lampu itu. Kita lihat apakah sebenarnya bintik-bintik yang bersinar kehijau-hijauan ini.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (54)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-54/trackback/

RSS feed for comments on this post.

54 KomentarTinggalkan komentar

  1. terdengar suara seperti bayi menangis, lamat-lamat di tengah malam…Agung Sedayu sudah memegang ujung cambuknya dengan tegang, sembari beringsut maju menuju pohon besar tersebut, diikuti oleh gurunya…
    ternyata…mereka menemukan swandaru terisak-isak sambil berkata kepada gurunya “aku telah berhasih donlot rontal 53 guru, tapi tidak berhasil menemukan kitab 54…
    kyai gringsing menghela nafas dalam-dalam….. seandainya ki DD menoreh sudah mengupload kitab 54, pasti sudah diunduhnya kitab tersebut…
    “benar-benar menguji kesarehanku, akhir dari kitab 53, bikin penasaran & NANGGUNG BANGET!!! 😦

  2. Pertamax…

    sekali kali ngisi yang pertama aah…

    sebentar lagi mesti pada ngompor2 disini

    xixixi 😀

  3. kutunggu sampai jam 5 sore……….

  4. “Aku hampir pingsan karenanya.Hantu itu lewat beberapa langkah di dekatku. Satu diantara mereka berhenti, dan memandangku dengan sorot matanya yang merah menyala seakan-akan hendak membakar jantungku,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu sambil gemetar.
    “He…lalu apa yang dilakukan oleh hantu itu?” bertanya orang yang tinggi kekar itu.
    “Ya…apa yang kemudian terjadi? Lekaslah ceritakan kepada kami.” Orang-orang di barak itupun beringsut mendekati orang yang kekurus-kurusan itu. Betapa ketegangan dan ketakutan terbayang di wajah mereka. Bahkan beberapa di antara mereka mengginggil tubuhnya karena ketakutan.
    “Hantu itu mula-mula hanya menatapku saja,” orang yang kekurus-kurusan itu melanjutkan ceritanya. “Lututku sudah hampir tidak mampu menahanku lagi untuk terus berdiri saking gemetarnya, ketika tiba-tiba saja hantu itu menggeram dengan suara yang menyeramkan.”
    Tanpa sadar, orang-orang yang sedang mendengarkan cerita itupun semakin saling merapatkan diri. Rasa takut sekaligus penasaran nampaknya membuat suasana di dalam barak itu terasa semakin mencekam. Mendengar cerita itu, Kiai Gringsing tampak mengerutkan keningnya. Begitu pula dengan kedua orang muridnya. Sekilas keraguan terlintas di benak Agung Sedayu. Setelah sebelumnya Agung Sedayu mendengar cerita dan penjelasan dari gurunya tentang situasi dan kemungkinan yang sedang terjadi di Alas Mentaok tersebut, rasa-rasanya peristiwa yang baru saja terjadi tersebut semakin membuatnya pening.
    “Aku saat itu sudah pasrah, nyawaku rasanya sudah pindah ke ujung kepalaku,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu. “Namun tanpa disangka-sangka, hantu itu tiba-tiba saja berkata dengan suara yang terdengar seperti bergulung-gulung dari dalam perut. Hantu itu ingin menanyakan suatu hal kepadaku, dan jawabanku akan menentukan nasibku selanjutnya.”
    Orang yang tinggi kekar itu meloncat ke arah orang yang kekurus-kurusan itu, memegang kedua pundaknya lalu mengguncang-ngguncang tubuh orang yang kekurus-kurusan itu sambil berkata ,”Apa yang ditanyakan hantu tersebut, dan apakah jawaban yang telah kau berikan hingga kau masih diberi kesempatan kembali ke barak ini?”
    Orang yang kekurus-kurusan itu tidak segera menjawab. Wajahnya terlihat semakin pucat. Orang-orang di barak itupun menjadi tidak sabar dan berdebar-debar hatinya.
    “He…lekas ceritakan kepada kami, biar kami tidak semakin menjadi penasaran.”
    Orang yang kekurus-kurusan itu meneguk ludah, lalu mendesah. Nampaknya ia masih berusaha mengatur debar jantungnya yang nyaris copot setelah bertemu hantu tersebut. Akhirnya orang itupun melanjutkan ceritanya,”Hantu itu bertanya kepadaku, apakah aku pernah mendengar kabar tentang Kiai Dandang Wesi yang dulunya pernah bertapa di Gunung Merapi dan berhasil mendapatkan sebuah kitab pusaka yang di dalamnya memuat petunjuk tentang cara mempelajari sebuah ilmu yang nggegirisi, yang bernama Aji ADBM tingkat 54.”
    “Mendengar pertanyaan itu, akupun lalu menjawab bahwa aku belum pernah mendengar tentang orang yang bernama Kiai Dandang Wesi. Namun dari yang pernah aku dengar, kitab pusaka ilmu ADBM tingkat 54 saat ini tersimpan di dalam bilik penyimpanan pusaka milik Ki Gede Menoreh.”
    “Atas jawaban yang aku berikan itu,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu melanjutkan, “hantu itu menggeram dengan keras, hingga aku menjadi jatuh terduduk saking gemetarnya lututku. Aku saat itu menyangka bahwa jawaban yang sudah akau berikan tidak dapat diterima oleh hantu itu. Namun dengan tidak disangka-sangka, hantu tersebut berkata bahwa aku diperbolehkan kembali ke barak ini. Hantu itu percaya dengan keterangan yang aku berikan, dengan nama besar Ki Gede Menoreh yang pasti akan menjaga kitab pusaka tersebut dengan baik, dan segera mewariskannya kepada para cantrik yang sudah harap-harap cemas menanti ilmu tersebut diturunkan.”

  5. Ki Sumangkar mendesah dalam hati, “Ki Gede benar-benar telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan para cantrik itu, sehingga sebaiknyalah mereka menahan diri, justru supaya Ki Gede bisa lebih cepat menyediakan kitab-kitab itu.”

    Jawab Sekar Mirah, “Biar sajalah guru, justru ketidaksabaran para cantrik itu yang mendorong Ki Gede mengirimkan kitab-kitab itu dengan lebih cepat.”

  6. “Agung Sedayu …, jangan terburu nafsu ..” kata Kyai Grinsing. “Bersemedilah … pusatkan segenap panca-indramu. Renungkanlah semua yang telah kau alami sejak jilid 01 sampai ke 53. Setelah itu bayangkan apa yang ingin kau kuasai di jilid 54. Tak akan lama lagi apa yang kau ingini itu akan menjadi kenyataan dan kemampuanmu pun akan bertambah dengan cepat”. Begitulah Kyai Gringsing menasehati murid pertamanya.

  7. Nimbo banyu sindang papat
    ……………………
    tarik mang,…seket papat

  8. para sederek, kula aturi nyebar godong koro, sabar sauntara. sudah menjadi perjanjian bahwa tayangan ADBM ini adalah SBPH, satu buku per hari, jangan nggege mongso.
    sabaaaar….
    tapi klo Ki DD Menoreh berkenan DBPH, dua buku per hari, aku setujuuuuuu….
    Lha aku sendiri jadi ikut gak sabar, maaaf.

  9. “Kiai Damar, apakah engkau memperhatikan para cantrik itu ?” bisik Kiai Telapak Jalak, “Tampaknya mereka menunggu sesuatu yang sangat berharga bagi mereka.”

    “Benar Kiai,” desis Kiai Telapak jalak “mereka menunggu penghubung dari Ki Gede yang membawa cover kitab 54. Apabila cover itu sudah sampai ke tangan mereka, maka justru mereka akan semakin berdebar-debar, karena kitab itu sendiri sudah semakin dekat. Bahkan aku dengar Ki Gede berkata bahwa cover merupakan awal kepastian harapan”

  10. Dalam serangannya yang gencar, orang bertopeng itu berkata “Serahkan Kitab 54 cepat!”
    “Omong kosong apa kau ini?” jawab Agung Sedayu “Kitab 54 tidak ada padaku”
    “Bohong!”

    Sementara itu dari semak-semak didekatnya, meloncatlah Sukra dengan serta merta. Sukra yang lagi menuntaskan hajatnya disemak2 tersebut, segera saja melompat akibat bunyi ledakan. Sedemikian kerasnya ledakan itu sampai-sampai Sukra yang sedang asyik tersebut, lupa memakai celananya. Karena dilihatnya Agung Sedayu sedang terdesak hebat, maka langsung saja Sukra terjun ke arena pertempuran. Sukra benar2 lupa akan keadaanya yang tidak berpakaian lengkap.

    “Aku bantu kau Adi Agung Sedayu” teriak Sukra sambil meloncat menyerang.
    “Hei, Siapa kau? Cari mati ya?” teriak orang bertopeng itu kepada Sukra.
    ” Kau yang cari mati, orang gila” Jawab Sukra tak kalah Garang, ” Tidak tahukah kau, aku adalah orang penting di padepokan ini?”

    Kehadiran Sukra ternyata langsung mempengaruhi keadaan. Serangannya sungguh menakjubkan. Keadaannya yang tidak berpakaian lengkap itu, ternyata membuat Orang bertopeng itu terdesak hebat. Sukra seolah-olah mempunyai tiga buah kaki. Orang bertopeng itu pun terus terdesak sambil mengumpat2.
    Akhirnya orang bertopeng itu melompat menjauh sambil berteriak ” Awas kalian orang2 padepokan ADBM, kalau Kitab 54 tidak segera kalian serahkan, lain waktu aku akan membawa pasukan untuk menghancurkan padepokanmu”.
    Di lain kejap, meloncatlah orang misterius itu di balik rimbunan semak di pinggir sungai.

    Akhirnya Agung Sedayu membatin “Kenapa kitab 54 tidak segera di uplod saja oleh Ke Dede, agar padepokan ini segera tenang…”

  11. “Guru, aku semakin pening mengikuti perkembangan hantu2 alas Mentaok, yang sekarang ditambah munculnya Dandang Wesi dari gunung Merapi.” desis Swandaru, “Seandainya saja utusan Ki Gede sudah tiba sambil membawa cover kitab 54, paling tidak gambaran itu akan semakin jelas.”

    “Ah kau,” sela Agung Sedayu, “Nanti kalau cover itu benar-benar tiba, aku yakin kau akan semakin pening menunggu kitab 54 itu sendiri.”

    “Sudahlah,” kata Kiai Gringsing, “Sebaiknya kalian belajar menahan diri. Bagaimanapun Ki Gede adalah orang yang teguh memegang kata2nya sendiri. Apabila ia sudah memutuskan 1 buku per hari, pasti itu yang akan dilakukannya.”

    “Benar Kiai,” sahut Ki Sumangkar, “walaupun sebaiknya kita juga tidak menutup kemungkinan Ki Gede berubah pikiran.”

  12. Para pekerja di pemondokkan itu dikejutkan oleh datangnya seseorang yang terengah-engah sambil membawa sobekan cover 54. Orang itu berumur kira2 setengah baya, badannya penuh goresan kecil sepertinya ia baru saja melakukan perjalanan jauh melalui hutan lebat dibelakang pemondokan.
    Salah seorang dari pekerja segera memberikan minum kepada orang itu, karena terlihat bahwa ia hampir kehabisan napas. Setelah minum air sumur itu, barulah napasnya berangsur normal, walau masih sedikit diselingi dengan tarikan napas panjang. Setelah itu barulah seorang yang dituakan disitu berani bertanya. ” Kisanak, silahkan kisanak menceriterakan kepada kami, maksud kedatangan kisanak. Kisanak berasal dari mana, dan kelihatannya membawa kabar penting dari jauh?”.
    “Alhamdulillah kiai”, Orang itu menarik napas panjang, “saya bertemu peradaban di sini”. “Nama saya Kasduloh, berasal dari desa Gumuk” orang itu malanjutkan. “Saya sudah lama mengabdi di Perdikan Menoreh. Disana sedang dilakukan kodifikasi Babad Menoreh karya seorang pujangga besar. Dan sayalah yang mendapat tugas untuk membuat covernya menggantikan Kiai Herry Wibowo. Dari buku 1 hingga buku 53 sudah dapat dilakukan dengan lancar. Namun pada buku 54 ketika sedang dilakukan pengisian tosan aji, tiba2 ada seseorang yang mengganggu semedi saya dan berusaha merebut cover yang sedang saya garap itu. Saya berusaha mencegah namun gerakan orang itu begitu cepat, sehingga hanya sebahagian saja yang dapat saya selamatkan, sementara sisanya ada pada orang itu, yang lari menyebarangi hutan Mentaok dan lenyap disekitar pemondokan ini”.
    Semua orang berseru tertahan mendengar cerita Kasuloh.
    Orang tertua disitupun menyaut, “Tetapi sepertinya sejak kemarin tidak seorangpun yang datang kemari ki sanak. Mungkin kisanak salah lihat arah yang dituju orang tersebut”. “Tidak kiai, saya yakin sekali orang itu lari masuk lewat pintu ini” jawabnya. Orang2 yang mengelilingi Kasuloh saling berpandangan.

  13. biasanya jam 10.00 tit muncul,ini sudah hampir tengah hari kok masih tenang2 aja.

  14. biasanya ada cover ada harapan
    hampir tengah hari cover koq belum muncul juga
    jangan-jangan…..ah
    jangan-jangan…..

  15. hari kerja yang normal itu kan senin – jumat

    Sabtu minggu kan libur, jadi ya mbok sabar tho sedulur2

    ki DD kan juga punya kehidupan nyata

    peace,
    Ki KontosWedul

  16. Tak tunggu saka esuk uthuk2 kok jilid 54 durung mecungul…. Pokoke nek engko jam 16.00 thit durung metu… Awas…! Tetep tak enteni….

  17. “Aku sendiri pernah melihat” sahut Agung Sedayu. “Kiai Dandang Wesi ada dipihak kami. Menurut Kiai Dandang Wesi semua yang kasat mata manusia, memang diperuntukkan bagi manusia wadag seperti kita. Bahkan, kakak seperguruan Kiai Dandang Wesi yaitu Kiai Wajan Waja, yang mempunyai kesaktian yang lebih mumpuni karena penguasaan atas lontar pusaka perguruannya yaitu ADBM jilid 54. Untuk menolong kita menghadapi para hantu, lontar pusaka ini akan segera dikirim kemari untuk mengatasi keadaan disini.” Begitulah Agung Sedayu menjelaskan kepada para pengawal dengan panjang kali lebar.

  18. “Kakang Agung Sedayu …. lihat sekarang …. hantu-hantu yang penasaran ternyata bukan hanya tiga.” Kata Swandaru.
    Dalam hati Agung Sedayu mulai menghitung …. ternyata ada ratusan hantu-hantu yang penasaran keluar masuk kapling 54 alas Mentaok yang lagi dibabad.
    “… Guru harus diberitahu … supaya secepatnya ada sesajen ditaruh di kapling 54, kalau nggak begitu bisa tambah banyak yang penasaran. He he hee yang tulis ini juga seekor diantara hantu-hantu itu kok …..

    Sesajennya .. Ki DD Mentaok …. cepat dikeluarin.

  19. wah wah dikompor kompori tukang kompor isih tetep rung mecungul glundung pringise, opo wewe gombel kamar 54 lagi macak ben yen metu mengko soyo katon ayu, lha wong yo malem minggu, hantu saiki ora malem jemuah , ning malem minggon je.

  20. 54
    54
    54….
    ……..
    oh .. apakah malam minggu harus kulalui dengan kelabu??..
    kemanakah gerangan dikau??..,…kukira kau telah menungguku di rumah.., ternyata belum juga datang…

    mnyem2 mnyem2 mnyem2…..
    wulih wuih wuih….
    bakar menyan
    kopi pahit kopi manis…
    bubur putih kuning merah…
    semoga jin penunggu alas mentaok
    pengasuh sutawijaya..
    datang berkenan bawa 54….
    amin amin amin…

  21. Ki DD,,,
    nampaknya para ADBMers lama2 perlu psikolog.., malah mungkin psikiater ya??… Gejala apa nih yg melanda padepokan kita??….udah pada jadi SH Mintardja semua… hahahahahaha
    salam, semoga sehat2 wal afiat
    banyak rejeki
    selalu prima..

  22. Hee… aku lihat sudah ada cover 54..!?

  23. “Dengar, bunyi berkerincing itu datang lagi,” bisik pengawal itu dengan wajah pucat. Seketika, semua orang yang tinggal di barak itu merasa menciut hatinya dan berdiam berdesak-desakan.

    Namun orang yang bertubuh kekar itu justru mendelik marah kepada Kiai Gringsing. Serunya, namun tetap sambil berbisik, “Truna Podang, kaulah yang harus bertanggung jawab. Inilah akibat pokalmu yang sombong, sehingga hantu-hantu itu berkeliaran lagi.”

    Di luar, suara gemerincing itu bertambah keras, diiringi kilatan-kilatan api yang kebiru-biruan. Di antaranya nampak pula cahaya persegi yang samar-samar jingga kemerahan seperti melayang-layang di udara, diapit oleh dua jerangkong yang sekali-sekali terlihat tulangnya seperti bercahaya.

    Melihat lembaran cahaya persegi itu, Swandaru terlonjak kaget. Tanpa dapat dicegah lagi ia meloncat keluar barak, menerobos pintu yang setengah terbuka. Gurunya yang waspada segera menyusulnya, namun Swandaru telah lenyap ditelan kegelapan malam.

    “Swandaru, kembalilah,” teriak Kiai Gringsing cemas, menembus suara gemerincing yang telah semakin menjauh, “yang lewat itu baru cover-nya. Kitab Jilid-54 yang asli belum dikeluarkan ..!”

  24. dengan garangnya kiai gringsing berloncatan sambil mengayun ayunkan cambuknya. namun kali ini dia tidak menggunakan senjata cambuknya itu sebagaimana biasanya, justru dengan menggunakan pangkal cambuknya dia membunuh ular ular yang mencoba mendekatinya sambil berteriak nyaring, ” mannaaaaa jilid 54 nyaaaa..”

  25. “ini … ini.. ampuuun.. ampunnnn Ki Dandang Wesi… ini silakan diambill nomor 54 nya…” teriak hantu jerangkong kesakitan.

  26. Ketika ketegangan semakin memuncak, maka mentaripun semakin jauh meninggalkan titik kulminasi menuju ke peraduannya. Orang2 yang berkerumun mengitari Kasduloh-pun semakin menyemut. Haripun semakin senja, terlihat bayang2 sinar matahari sudah semakin suram. Angin barat yang bertiup cukup kuat meniupkan hawa dingin pegunungan, menjadikan situasi semakin mencekam. Daun2 pohon singkong yang ditanam para penghuni pemondokan di kebun terlihat meliuk-liuk tangkainya dan menguncupkan daunnya, tidak kuasa melawan hembusan angin..

    Tiba2 terdengar suara tertawa lembut namun mampu menggetarkan dada setiap orang yang berada dihalaman pemondokan itu. Disamping dada yang berdebaran maka lututpun menggigil oleh suara dan suasana saat itu.

    ”Ha ha ha ha ha, ………………. dasar semuanya pengecut, baru tertiup angin saja sudah pada terkencing-kencing”, tiba2 saja terdengar orang menggerutu dari sela2 kerumunan itu. Orang2 yang sedang berdiri tegang itu memberikan jalan kepada seorang tua yang tiba2 saja menyusup dan menyibakkan kerumunan menuju ke tengah halaman di mana Kasduloh dan tetua para pekerja sedang berbicara.

    Begitu sampai ditempat Kasduloh, maka tiba2 pendatang yang baru tiba itu memberikan sobekan halaman 54 kepadanya, sambil berkata, ”Nih ambilah aku sudah tidak memerlukannya lagi!”. Begitu cepat kejadian itu berlangsung maka tiba2 orang itupun lenyap dari pandangan semua orang yang ternganga keheranan.

    Kasduloh segera merapikan lembaran yang berasal dari genggaman orang itu, dengan lembaran yang dibawa oleh dirinya. Kemudian disatukannya kedua lembaran itu sambil meletakkan dihadapannya sembari duduk bersila di tempat itu.

    Kemudian iapun berdo’a dengan berkomat-kamit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas. ”Ajaib” teriak semua orang di halaman itu. Tiba2 saja Sampul 54 itu menyatu, dan kemudian terangkat ke atas sambil berputar. Kemudian ketika angin meniup dengan keras, maka terbanglah Sampul 54 itu ke atas dan lenyap dari pandangan semua orang.

    ”Alhamdulillah, ………………. yang Maha Kuasa telah mengabulkan do’aku, dan sekarang Sampul Buku 54 telah menyatu kembali dan terbang ke Rumah Ki Dede Menoreh untuk dapat dipasang di halaman depan rumah Ki Dede Menoreh”. Kemudian Kasuloh memandang berkeliling ke wajah orang2 yang mengitarinya. ”Saudara2 saya mohon maaf telah mengganggu ketenteraman waktu istirahat andika semua. Sekarang persoalan saya sudah selesai, bagi andika yang ingin melihat Sampul Buku No.54, silahkan klik di https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-54/.”

    ”Lha selanjutnya Kisanak mau kemana?” tanya tetua.

    ”Saya mau lapor kepada petugas di gardu depan” jawab Kasduloh.

    ”Kalo begitu mari saya antarkan” kata tetua, kemudia kepada orang2 yang berkerumun ia berkata, ”Saudara2 silahkan kembali beristirahat, saya mau mengantarkan angger Kasduloh ke Gardu penjagaan”. Baiklah ki, sahut beberapa orang sambil meninggalkan kerumunan, dan kembali ke barak masing2. Maka setelah Kasduloh dan tetua itu meninggalkan halaman pemondokan maka bekas kerumunan itupun sunyi kembali. Di dalam hati orang2 berharap nanti kalo meng-klik buku 54, maka tidak hanya covernya yang ditumui, namun juga beserta isinya. Amien.

  27. Matur nuwun ki Dede

  28. Yes..!!!!!
    54 dah donlot..
    tengkyu

  29. “Kali ini tidak salah lagi, Guru,” ujar Swandaru sambil terus menggerakkan jari-jarinya dengan cekatan menurut jurus yang telah diajarkan oleh gurunya.

    Orang-orang yang tinggal di barak itu pun mengerumuni dan memperhatikannya dengan kekaguman yang bertambah-tambah. Tidak terkecuali orang yang tinggi kekar dan yang kekurus-kurusan. Bahkan orang yang tinggi kekar itu kali ini terus menyemangatinya, “Ayoh, Sangkan, jangan ragu-ragu, terus saja donlod… Nanti kita baca bersama-sama di waktu istirahat senja.”

    wekwekwekwek …

  30. wah kalo hantu2 tidak segera dibasmi Mataram akan lamban berkembang.
    tolong kiai grinsing segera membuka kitab 54 nya. ayahanda pemanahan mengharap sekali.

  31. matur nuwun……………………..meniko kados tetesipun embun wonten ing oro-oro alas mentaok

  32. Istilah Jawa di Buku 54

    Amben = tempat tidur dari bambu
    Dlupak =lampu minyak kelapa
    Planggrangan = penyangga, biasanya dilekatkan di dinding atau di tiang rumah.

    Bacaan:
    Kamus Lengkap Jawa-Indonesia
    Pengarang: Sutrisno Sastro Utomo
    Penerbit: Yayasan Kanisius
    Tahun 2007

  33. Ki Sukra dan Ki DD, tolong dong bagaimana cara membuka kitab 54 ini?.Browser saya selalu membaca file PDF, sehingga gagal down load. Kapan kira2 versi convert nya dibuat ya?

    Matur nuwun……..

  34. Istilah Jawa (part 2)

    Dingklik : bangku kecil
    Wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)
    Waringuten: kewalahan

    Bacaan:
    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa

  35. Istilah Jawa (lanjutan)

    Dingklik : bangku kecil
    wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)

    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa

  36. Ki GD & Ki or Nyi(?) Dede,

    Terima kasih kiriman kitab 50 nya, sayangnya saya nggak bisa buka file DJVU tsb. juga kitab 54 ini.Wah, pokoknya penasaran buanget deh…..
    Dulu sdh pernah baca(jaman muda…hehe) tapi lupa semua dan kitab saya hilang semua, tinggal sisa beberapa kitab seri IV.
    Mudah2 an ada yg bantu convert ke file doc dalam waktu dekat ini….

    Terima kasih

  37. duuuu… kaciannya mas selamat ini
    aku perhatikan begitu antusias banget dengan cerita yang menurut sesepuh ceritera ini tiada bandingnya.. untuk itu aku persilahkan mengunduh lewat pintu ini

    GD: Masalah Slamet ternyata lebih mendasar: bukan tdk bisa ngunduh, tapi gak bisa mbuka karena kompi-nya tdk punya viewer-nya.

  38. sudah dikirim manual via email lha kok jawabannya seperti itu 😀
    ki dede.. cobalah pake PPT bukan PDF seperti biasanya.

    GD: Njih Mas, nanti pake PPT (malah tambah bingung)

  39. Untuk mengatasi kasus-kasus seperti yang dialami oleh mas slamet, mungkin Ki Sukra atau GD bisa menyediakan kolom khusus untuk menampung hasil konvert (khusus teks tanpa gambar).Urusan mengkonvertnya bisa saya bantu, setidaknya bisa sedikit menghibur para cantrik yang bernasib seperti mas slamet.

  40. sapa tau ya ada yg berkenan bikin kamus atau catatan kaki bahasa /istilah jawa-jogya yg ada di ADBM – maklum ga semua pembaca tau artinya, kadang cuma meraba raba aja,,,,sedangkan yg baca ADBM datang dari berbagai pelosok yg tentu ga paham dgn istilah jawa spt saya…

    contoh…

    1.pring ori
    2.jenang alot.
    3.bulak
    4.segelar sepapan..
    5.gringsing?….
    dlll masih banyak banget…

    atau Ki Jebeng said berkenan??….hehe, trims
    trims juga sama mas DD yg lagi upload 55 (hehe, maksa).

  41. Kata pembantu saya pring ori itu, sejenis pagar tanaman bambu jenis “ori”??…, apa betul begitu Ki Jebeng??..
    Trus jadi inget ada daerah Pring Sewu ya di lampung?/…
    Gringsing katanya sejenis motif batik??.., kayak apa ya.., jadinya cuma ngira2 aja tuh..
    Kalo berkenan Ki Jebeng bisa bikin catatan kaki??.. maaf bikin repot nih…, atau para kisanak ADBMers yg lain,Ki Glagah putih??, atau mas Truno podang yg sdh mirip SH Mintardja tuh??.. sudi kiranya bermurah hati bikin catatan kaki istilah jawa-jateng-jogya yg ada di buku ADBM??.. siapa tau bermanfaat sebagi bekal warisan buat generasi yad..
    wass

  42. Mas Dewo1234, ini arti kata2 tsb, menurut versi dan sepenerjemahan saya…..

    1. pring = bambu. Ori = salah satu jenis bambu, yg batangnya gede2 & banyak duri. Jadi ada bambu kuning, bambu wulung, bambu ori/petung, dll

    2. Jenang alot, bayangan saya kok fisiknya mirip jadah yg berbahan ketan itu, tapi warnanya hitam. Di Solo biasanya dijual bareng krasikan. Tapi beda dg wajik lho… (he.. he… makin pusing ya mas?). Ada yg bisa kasih pencerahan ki sanak yg lain?

    3. Bulak = area persawahan yang -biasanya- terletak diantara dua pemukiman (desa/dukuh). BELIK = mata air kecil

    4. Segelar-sepapan= pasukan prajurit dalam jumlah relatif banyak, dan sudah dalam posisi ready. Jadi kalo banyak prajurit tp sedang tidur semua dalam barak, biasanya gak disebut pasukan segelar-sepapan.

    5. Gringsing, itu nama salah satu dari banyak jenis/corak batik. Corak/motif lain misalnya Kawung, Parangrusak, dll.

    6. Jebeng, kl gak salah adalah panggilan ortu untuk anak2, khususnya cowok.

    Monggo kalau ada yg mau mengoreksi/menambahi, secara saya ya cuma sok tahu….

  43. “Mudah-mudahan saja ada yang bersedia, ya, Ki Sadewo,” Kiai Gringsing bergumam sambil manggut-manggut.

    “Hem,” ujarnya lebih lanjut, “kalau Ki Sadewo 1234 berkenan melihat-lihat jemuran kainku yang lusuh-lusuh itu, silahkan klik gambar di pinggir halaman ini yang paling bawah …”

  44. Terima kasih para Kisanak semua yang telah berusaha membantu saya.
    Sekarang sudah hadir kitab 54 yang versi convert file doc, jadi saya sudah dapat memperdalam ilmu lagi….

  45. tiga setengah tahun sudah, gandhok ini tidak dikomeni cantrik.

    • tiga setengah tahun sudah, gandhok ini tidak diureg2-i cantrik.

      • inilah seribu harinya sebagai daripada apa namanya ,,,

        • limang tahun

          • wis suwek….eh….tuwek

            • Eh eh eh, jebulnya masih ada juga yang ingak inguk…
              Harak inggih dhawah sami wilujeng to Ki KartoJ ?

              • Weh..Ki Gembleh…inggih wadhah..eh..dhawah sami wilujeng Ki 🙂

                • kangen suasana padepokan lur

                • omg

  46. 2012 yang yr terahir


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: