Buku 54

54-00

Iklan

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (47)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-54/trackback/

RSS feed for comments on this post.

47 KomentarTinggalkan komentar

  1. terdengar suara seperti bayi menangis, lamat-lamat di tengah malam…Agung Sedayu sudah memegang ujung cambuknya dengan tegang, sembari beringsut maju menuju pohon besar tersebut, diikuti oleh gurunya…
    ternyata…mereka menemukan swandaru terisak-isak sambil berkata kepada gurunya “aku telah berhasih donlot rontal 53 guru, tapi tidak berhasil menemukan kitab 54…
    kyai gringsing menghela nafas dalam-dalam….. seandainya ki DD menoreh sudah mengupload kitab 54, pasti sudah diunduhnya kitab tersebut…
    “benar-benar menguji kesarehanku, akhir dari kitab 53, bikin penasaran & NANGGUNG BANGET!!! 😦

  2. Pertamax…

    sekali kali ngisi yang pertama aah…

    sebentar lagi mesti pada ngompor2 disini

    xixixi 😀

  3. kutunggu sampai jam 5 sore……….

  4. “Aku hampir pingsan karenanya.Hantu itu lewat beberapa langkah di dekatku. Satu diantara mereka berhenti, dan memandangku dengan sorot matanya yang merah menyala seakan-akan hendak membakar jantungku,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu sambil gemetar.
    “He…lalu apa yang dilakukan oleh hantu itu?” bertanya orang yang tinggi kekar itu.
    “Ya…apa yang kemudian terjadi? Lekaslah ceritakan kepada kami.” Orang-orang di barak itupun beringsut mendekati orang yang kekurus-kurusan itu. Betapa ketegangan dan ketakutan terbayang di wajah mereka. Bahkan beberapa di antara mereka mengginggil tubuhnya karena ketakutan.
    “Hantu itu mula-mula hanya menatapku saja,” orang yang kekurus-kurusan itu melanjutkan ceritanya. “Lututku sudah hampir tidak mampu menahanku lagi untuk terus berdiri saking gemetarnya, ketika tiba-tiba saja hantu itu menggeram dengan suara yang menyeramkan.”
    Tanpa sadar, orang-orang yang sedang mendengarkan cerita itupun semakin saling merapatkan diri. Rasa takut sekaligus penasaran nampaknya membuat suasana di dalam barak itu terasa semakin mencekam. Mendengar cerita itu, Kiai Gringsing tampak mengerutkan keningnya. Begitu pula dengan kedua orang muridnya. Sekilas keraguan terlintas di benak Agung Sedayu. Setelah sebelumnya Agung Sedayu mendengar cerita dan penjelasan dari gurunya tentang situasi dan kemungkinan yang sedang terjadi di Alas Mentaok tersebut, rasa-rasanya peristiwa yang baru saja terjadi tersebut semakin membuatnya pening.
    “Aku saat itu sudah pasrah, nyawaku rasanya sudah pindah ke ujung kepalaku,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu. “Namun tanpa disangka-sangka, hantu itu tiba-tiba saja berkata dengan suara yang terdengar seperti bergulung-gulung dari dalam perut. Hantu itu ingin menanyakan suatu hal kepadaku, dan jawabanku akan menentukan nasibku selanjutnya.”
    Orang yang tinggi kekar itu meloncat ke arah orang yang kekurus-kurusan itu, memegang kedua pundaknya lalu mengguncang-ngguncang tubuh orang yang kekurus-kurusan itu sambil berkata ,”Apa yang ditanyakan hantu tersebut, dan apakah jawaban yang telah kau berikan hingga kau masih diberi kesempatan kembali ke barak ini?”
    Orang yang kekurus-kurusan itu tidak segera menjawab. Wajahnya terlihat semakin pucat. Orang-orang di barak itupun menjadi tidak sabar dan berdebar-debar hatinya.
    “He…lekas ceritakan kepada kami, biar kami tidak semakin menjadi penasaran.”
    Orang yang kekurus-kurusan itu meneguk ludah, lalu mendesah. Nampaknya ia masih berusaha mengatur debar jantungnya yang nyaris copot setelah bertemu hantu tersebut. Akhirnya orang itupun melanjutkan ceritanya,”Hantu itu bertanya kepadaku, apakah aku pernah mendengar kabar tentang Kiai Dandang Wesi yang dulunya pernah bertapa di Gunung Merapi dan berhasil mendapatkan sebuah kitab pusaka yang di dalamnya memuat petunjuk tentang cara mempelajari sebuah ilmu yang nggegirisi, yang bernama Aji ADBM tingkat 54.”
    “Mendengar pertanyaan itu, akupun lalu menjawab bahwa aku belum pernah mendengar tentang orang yang bernama Kiai Dandang Wesi. Namun dari yang pernah aku dengar, kitab pusaka ilmu ADBM tingkat 54 saat ini tersimpan di dalam bilik penyimpanan pusaka milik Ki Gede Menoreh.”
    “Atas jawaban yang aku berikan itu,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu melanjutkan, “hantu itu menggeram dengan keras, hingga aku menjadi jatuh terduduk saking gemetarnya lututku. Aku saat itu menyangka bahwa jawaban yang sudah akau berikan tidak dapat diterima oleh hantu itu. Namun dengan tidak disangka-sangka, hantu tersebut berkata bahwa aku diperbolehkan kembali ke barak ini. Hantu itu percaya dengan keterangan yang aku berikan, dengan nama besar Ki Gede Menoreh yang pasti akan menjaga kitab pusaka tersebut dengan baik, dan segera mewariskannya kepada para cantrik yang sudah harap-harap cemas menanti ilmu tersebut diturunkan.”

  5. Ki Sumangkar mendesah dalam hati, “Ki Gede benar-benar telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan para cantrik itu, sehingga sebaiknyalah mereka menahan diri, justru supaya Ki Gede bisa lebih cepat menyediakan kitab-kitab itu.”

    Jawab Sekar Mirah, “Biar sajalah guru, justru ketidaksabaran para cantrik itu yang mendorong Ki Gede mengirimkan kitab-kitab itu dengan lebih cepat.”

  6. “Agung Sedayu …, jangan terburu nafsu ..” kata Kyai Grinsing. “Bersemedilah … pusatkan segenap panca-indramu. Renungkanlah semua yang telah kau alami sejak jilid 01 sampai ke 53. Setelah itu bayangkan apa yang ingin kau kuasai di jilid 54. Tak akan lama lagi apa yang kau ingini itu akan menjadi kenyataan dan kemampuanmu pun akan bertambah dengan cepat”. Begitulah Kyai Gringsing menasehati murid pertamanya.

  7. Nimbo banyu sindang papat
    ……………………
    tarik mang,…seket papat

  8. para sederek, kula aturi nyebar godong koro, sabar sauntara. sudah menjadi perjanjian bahwa tayangan ADBM ini adalah SBPH, satu buku per hari, jangan nggege mongso.
    sabaaaar….
    tapi klo Ki DD Menoreh berkenan DBPH, dua buku per hari, aku setujuuuuuu….
    Lha aku sendiri jadi ikut gak sabar, maaaf.

  9. “Kiai Damar, apakah engkau memperhatikan para cantrik itu ?” bisik Kiai Telapak Jalak, “Tampaknya mereka menunggu sesuatu yang sangat berharga bagi mereka.”

    “Benar Kiai,” desis Kiai Telapak jalak “mereka menunggu penghubung dari Ki Gede yang membawa cover kitab 54. Apabila cover itu sudah sampai ke tangan mereka, maka justru mereka akan semakin berdebar-debar, karena kitab itu sendiri sudah semakin dekat. Bahkan aku dengar Ki Gede berkata bahwa cover merupakan awal kepastian harapan”

  10. Dalam serangannya yang gencar, orang bertopeng itu berkata “Serahkan Kitab 54 cepat!”
    “Omong kosong apa kau ini?” jawab Agung Sedayu “Kitab 54 tidak ada padaku”
    “Bohong!”

    Sementara itu dari semak-semak didekatnya, meloncatlah Sukra dengan serta merta. Sukra yang lagi menuntaskan hajatnya disemak2 tersebut, segera saja melompat akibat bunyi ledakan. Sedemikian kerasnya ledakan itu sampai-sampai Sukra yang sedang asyik tersebut, lupa memakai celananya. Karena dilihatnya Agung Sedayu sedang terdesak hebat, maka langsung saja Sukra terjun ke arena pertempuran. Sukra benar2 lupa akan keadaanya yang tidak berpakaian lengkap.

    “Aku bantu kau Adi Agung Sedayu” teriak Sukra sambil meloncat menyerang.
    “Hei, Siapa kau? Cari mati ya?” teriak orang bertopeng itu kepada Sukra.
    ” Kau yang cari mati, orang gila” Jawab Sukra tak kalah Garang, ” Tidak tahukah kau, aku adalah orang penting di padepokan ini?”

    Kehadiran Sukra ternyata langsung mempengaruhi keadaan. Serangannya sungguh menakjubkan. Keadaannya yang tidak berpakaian lengkap itu, ternyata membuat Orang bertopeng itu terdesak hebat. Sukra seolah-olah mempunyai tiga buah kaki. Orang bertopeng itu pun terus terdesak sambil mengumpat2.
    Akhirnya orang bertopeng itu melompat menjauh sambil berteriak ” Awas kalian orang2 padepokan ADBM, kalau Kitab 54 tidak segera kalian serahkan, lain waktu aku akan membawa pasukan untuk menghancurkan padepokanmu”.
    Di lain kejap, meloncatlah orang misterius itu di balik rimbunan semak di pinggir sungai.

    Akhirnya Agung Sedayu membatin “Kenapa kitab 54 tidak segera di uplod saja oleh Ke Dede, agar padepokan ini segera tenang…”

  11. “Guru, aku semakin pening mengikuti perkembangan hantu2 alas Mentaok, yang sekarang ditambah munculnya Dandang Wesi dari gunung Merapi.” desis Swandaru, “Seandainya saja utusan Ki Gede sudah tiba sambil membawa cover kitab 54, paling tidak gambaran itu akan semakin jelas.”

    “Ah kau,” sela Agung Sedayu, “Nanti kalau cover itu benar-benar tiba, aku yakin kau akan semakin pening menunggu kitab 54 itu sendiri.”

    “Sudahlah,” kata Kiai Gringsing, “Sebaiknya kalian belajar menahan diri. Bagaimanapun Ki Gede adalah orang yang teguh memegang kata2nya sendiri. Apabila ia sudah memutuskan 1 buku per hari, pasti itu yang akan dilakukannya.”

    “Benar Kiai,” sahut Ki Sumangkar, “walaupun sebaiknya kita juga tidak menutup kemungkinan Ki Gede berubah pikiran.”

  12. Para pekerja di pemondokkan itu dikejutkan oleh datangnya seseorang yang terengah-engah sambil membawa sobekan cover 54. Orang itu berumur kira2 setengah baya, badannya penuh goresan kecil sepertinya ia baru saja melakukan perjalanan jauh melalui hutan lebat dibelakang pemondokan.
    Salah seorang dari pekerja segera memberikan minum kepada orang itu, karena terlihat bahwa ia hampir kehabisan napas. Setelah minum air sumur itu, barulah napasnya berangsur normal, walau masih sedikit diselingi dengan tarikan napas panjang. Setelah itu barulah seorang yang dituakan disitu berani bertanya. ” Kisanak, silahkan kisanak menceriterakan kepada kami, maksud kedatangan kisanak. Kisanak berasal dari mana, dan kelihatannya membawa kabar penting dari jauh?”.
    “Alhamdulillah kiai”, Orang itu menarik napas panjang, “saya bertemu peradaban di sini”. “Nama saya Kasduloh, berasal dari desa Gumuk” orang itu malanjutkan. “Saya sudah lama mengabdi di Perdikan Menoreh. Disana sedang dilakukan kodifikasi Babad Menoreh karya seorang pujangga besar. Dan sayalah yang mendapat tugas untuk membuat covernya menggantikan Kiai Herry Wibowo. Dari buku 1 hingga buku 53 sudah dapat dilakukan dengan lancar. Namun pada buku 54 ketika sedang dilakukan pengisian tosan aji, tiba2 ada seseorang yang mengganggu semedi saya dan berusaha merebut cover yang sedang saya garap itu. Saya berusaha mencegah namun gerakan orang itu begitu cepat, sehingga hanya sebahagian saja yang dapat saya selamatkan, sementara sisanya ada pada orang itu, yang lari menyebarangi hutan Mentaok dan lenyap disekitar pemondokan ini”.
    Semua orang berseru tertahan mendengar cerita Kasuloh.
    Orang tertua disitupun menyaut, “Tetapi sepertinya sejak kemarin tidak seorangpun yang datang kemari ki sanak. Mungkin kisanak salah lihat arah yang dituju orang tersebut”. “Tidak kiai, saya yakin sekali orang itu lari masuk lewat pintu ini” jawabnya. Orang2 yang mengelilingi Kasuloh saling berpandangan.

  13. biasanya jam 10.00 tit muncul,ini sudah hampir tengah hari kok masih tenang2 aja.

  14. biasanya ada cover ada harapan
    hampir tengah hari cover koq belum muncul juga
    jangan-jangan…..ah
    jangan-jangan…..

  15. hari kerja yang normal itu kan senin – jumat

    Sabtu minggu kan libur, jadi ya mbok sabar tho sedulur2

    ki DD kan juga punya kehidupan nyata

    peace,
    Ki KontosWedul

  16. Tak tunggu saka esuk uthuk2 kok jilid 54 durung mecungul…. Pokoke nek engko jam 16.00 thit durung metu… Awas…! Tetep tak enteni….

  17. “Aku sendiri pernah melihat” sahut Agung Sedayu. “Kiai Dandang Wesi ada dipihak kami. Menurut Kiai Dandang Wesi semua yang kasat mata manusia, memang diperuntukkan bagi manusia wadag seperti kita. Bahkan, kakak seperguruan Kiai Dandang Wesi yaitu Kiai Wajan Waja, yang mempunyai kesaktian yang lebih mumpuni karena penguasaan atas lontar pusaka perguruannya yaitu ADBM jilid 54. Untuk menolong kita menghadapi para hantu, lontar pusaka ini akan segera dikirim kemari untuk mengatasi keadaan disini.” Begitulah Agung Sedayu menjelaskan kepada para pengawal dengan panjang kali lebar.

  18. “Kakang Agung Sedayu …. lihat sekarang …. hantu-hantu yang penasaran ternyata bukan hanya tiga.” Kata Swandaru.
    Dalam hati Agung Sedayu mulai menghitung …. ternyata ada ratusan hantu-hantu yang penasaran keluar masuk kapling 54 alas Mentaok yang lagi dibabad.
    “… Guru harus diberitahu … supaya secepatnya ada sesajen ditaruh di kapling 54, kalau nggak begitu bisa tambah banyak yang penasaran. He he hee yang tulis ini juga seekor diantara hantu-hantu itu kok …..

    Sesajennya .. Ki DD Mentaok …. cepat dikeluarin.

  19. wah wah dikompor kompori tukang kompor isih tetep rung mecungul glundung pringise, opo wewe gombel kamar 54 lagi macak ben yen metu mengko soyo katon ayu, lha wong yo malem minggu, hantu saiki ora malem jemuah , ning malem minggon je.

  20. 54
    54
    54….
    ……..
    oh .. apakah malam minggu harus kulalui dengan kelabu??..
    kemanakah gerangan dikau??..,…kukira kau telah menungguku di rumah.., ternyata belum juga datang…

    mnyem2 mnyem2 mnyem2…..
    wulih wuih wuih….
    bakar menyan
    kopi pahit kopi manis…
    bubur putih kuning merah…
    semoga jin penunggu alas mentaok
    pengasuh sutawijaya..
    datang berkenan bawa 54….
    amin amin amin…

  21. Ki DD,,,
    nampaknya para ADBMers lama2 perlu psikolog.., malah mungkin psikiater ya??… Gejala apa nih yg melanda padepokan kita??….udah pada jadi SH Mintardja semua… hahahahahaha
    salam, semoga sehat2 wal afiat
    banyak rejeki
    selalu prima..

  22. Hee… aku lihat sudah ada cover 54..!?

  23. “Dengar, bunyi berkerincing itu datang lagi,” bisik pengawal itu dengan wajah pucat. Seketika, semua orang yang tinggal di barak itu merasa menciut hatinya dan berdiam berdesak-desakan.

    Namun orang yang bertubuh kekar itu justru mendelik marah kepada Kiai Gringsing. Serunya, namun tetap sambil berbisik, “Truna Podang, kaulah yang harus bertanggung jawab. Inilah akibat pokalmu yang sombong, sehingga hantu-hantu itu berkeliaran lagi.”

    Di luar, suara gemerincing itu bertambah keras, diiringi kilatan-kilatan api yang kebiru-biruan. Di antaranya nampak pula cahaya persegi yang samar-samar jingga kemerahan seperti melayang-layang di udara, diapit oleh dua jerangkong yang sekali-sekali terlihat tulangnya seperti bercahaya.

    Melihat lembaran cahaya persegi itu, Swandaru terlonjak kaget. Tanpa dapat dicegah lagi ia meloncat keluar barak, menerobos pintu yang setengah terbuka. Gurunya yang waspada segera menyusulnya, namun Swandaru telah lenyap ditelan kegelapan malam.

    “Swandaru, kembalilah,” teriak Kiai Gringsing cemas, menembus suara gemerincing yang telah semakin menjauh, “yang lewat itu baru cover-nya. Kitab Jilid-54 yang asli belum dikeluarkan ..!”

  24. dengan garangnya kiai gringsing berloncatan sambil mengayun ayunkan cambuknya. namun kali ini dia tidak menggunakan senjata cambuknya itu sebagaimana biasanya, justru dengan menggunakan pangkal cambuknya dia membunuh ular ular yang mencoba mendekatinya sambil berteriak nyaring, ” mannaaaaa jilid 54 nyaaaa..”

  25. “ini … ini.. ampuuun.. ampunnnn Ki Dandang Wesi… ini silakan diambill nomor 54 nya…” teriak hantu jerangkong kesakitan.

  26. Ketika ketegangan semakin memuncak, maka mentaripun semakin jauh meninggalkan titik kulminasi menuju ke peraduannya. Orang2 yang berkerumun mengitari Kasduloh-pun semakin menyemut. Haripun semakin senja, terlihat bayang2 sinar matahari sudah semakin suram. Angin barat yang bertiup cukup kuat meniupkan hawa dingin pegunungan, menjadikan situasi semakin mencekam. Daun2 pohon singkong yang ditanam para penghuni pemondokan di kebun terlihat meliuk-liuk tangkainya dan menguncupkan daunnya, tidak kuasa melawan hembusan angin..

    Tiba2 terdengar suara tertawa lembut namun mampu menggetarkan dada setiap orang yang berada dihalaman pemondokan itu. Disamping dada yang berdebaran maka lututpun menggigil oleh suara dan suasana saat itu.

    ”Ha ha ha ha ha, ………………. dasar semuanya pengecut, baru tertiup angin saja sudah pada terkencing-kencing”, tiba2 saja terdengar orang menggerutu dari sela2 kerumunan itu. Orang2 yang sedang berdiri tegang itu memberikan jalan kepada seorang tua yang tiba2 saja menyusup dan menyibakkan kerumunan menuju ke tengah halaman di mana Kasduloh dan tetua para pekerja sedang berbicara.

    Begitu sampai ditempat Kasduloh, maka tiba2 pendatang yang baru tiba itu memberikan sobekan halaman 54 kepadanya, sambil berkata, ”Nih ambilah aku sudah tidak memerlukannya lagi!”. Begitu cepat kejadian itu berlangsung maka tiba2 orang itupun lenyap dari pandangan semua orang yang ternganga keheranan.

    Kasduloh segera merapikan lembaran yang berasal dari genggaman orang itu, dengan lembaran yang dibawa oleh dirinya. Kemudian disatukannya kedua lembaran itu sambil meletakkan dihadapannya sembari duduk bersila di tempat itu.

    Kemudian iapun berdo’a dengan berkomat-kamit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas. ”Ajaib” teriak semua orang di halaman itu. Tiba2 saja Sampul 54 itu menyatu, dan kemudian terangkat ke atas sambil berputar. Kemudian ketika angin meniup dengan keras, maka terbanglah Sampul 54 itu ke atas dan lenyap dari pandangan semua orang.

    ”Alhamdulillah, ………………. yang Maha Kuasa telah mengabulkan do’aku, dan sekarang Sampul Buku 54 telah menyatu kembali dan terbang ke Rumah Ki Dede Menoreh untuk dapat dipasang di halaman depan rumah Ki Dede Menoreh”. Kemudian Kasuloh memandang berkeliling ke wajah orang2 yang mengitarinya. ”Saudara2 saya mohon maaf telah mengganggu ketenteraman waktu istirahat andika semua. Sekarang persoalan saya sudah selesai, bagi andika yang ingin melihat Sampul Buku No.54, silahkan klik di https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-54/.”

    ”Lha selanjutnya Kisanak mau kemana?” tanya tetua.

    ”Saya mau lapor kepada petugas di gardu depan” jawab Kasduloh.

    ”Kalo begitu mari saya antarkan” kata tetua, kemudia kepada orang2 yang berkerumun ia berkata, ”Saudara2 silahkan kembali beristirahat, saya mau mengantarkan angger Kasduloh ke Gardu penjagaan”. Baiklah ki, sahut beberapa orang sambil meninggalkan kerumunan, dan kembali ke barak masing2. Maka setelah Kasduloh dan tetua itu meninggalkan halaman pemondokan maka bekas kerumunan itupun sunyi kembali. Di dalam hati orang2 berharap nanti kalo meng-klik buku 54, maka tidak hanya covernya yang ditumui, namun juga beserta isinya. Amien.

  27. Matur nuwun ki Dede

  28. Yes..!!!!!
    54 dah donlot..
    tengkyu

  29. “Kali ini tidak salah lagi, Guru,” ujar Swandaru sambil terus menggerakkan jari-jarinya dengan cekatan menurut jurus yang telah diajarkan oleh gurunya.

    Orang-orang yang tinggal di barak itu pun mengerumuni dan memperhatikannya dengan kekaguman yang bertambah-tambah. Tidak terkecuali orang yang tinggi kekar dan yang kekurus-kurusan. Bahkan orang yang tinggi kekar itu kali ini terus menyemangatinya, “Ayoh, Sangkan, jangan ragu-ragu, terus saja donlod… Nanti kita baca bersama-sama di waktu istirahat senja.”

    wekwekwekwek …

  30. wah kalo hantu2 tidak segera dibasmi Mataram akan lamban berkembang.
    tolong kiai grinsing segera membuka kitab 54 nya. ayahanda pemanahan mengharap sekali.

  31. matur nuwun……………………..meniko kados tetesipun embun wonten ing oro-oro alas mentaok

  32. Istilah Jawa di Buku 54

    Amben = tempat tidur dari bambu
    Dlupak =lampu minyak kelapa
    Planggrangan = penyangga, biasanya dilekatkan di dinding atau di tiang rumah.

    Bacaan:
    Kamus Lengkap Jawa-Indonesia
    Pengarang: Sutrisno Sastro Utomo
    Penerbit: Yayasan Kanisius
    Tahun 2007

  33. Ki Sukra dan Ki DD, tolong dong bagaimana cara membuka kitab 54 ini?.Browser saya selalu membaca file PDF, sehingga gagal down load. Kapan kira2 versi convert nya dibuat ya?

    Matur nuwun……..

  34. Istilah Jawa (part 2)

    Dingklik : bangku kecil
    Wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)
    Waringuten: kewalahan

    Bacaan:
    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa

  35. Istilah Jawa (lanjutan)

    Dingklik : bangku kecil
    wadas : (batu) cadas
    Warangan: racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)

    http://www.geocities.com/sesotya_pita/bausastra/kamus jawa

  36. Ki GD & Ki or Nyi(?) Dede,

    Terima kasih kiriman kitab 50 nya, sayangnya saya nggak bisa buka file DJVU tsb. juga kitab 54 ini.Wah, pokoknya penasaran buanget deh…..
    Dulu sdh pernah baca(jaman muda…hehe) tapi lupa semua dan kitab saya hilang semua, tinggal sisa beberapa kitab seri IV.
    Mudah2 an ada yg bantu convert ke file doc dalam waktu dekat ini….

    Terima kasih

  37. duuuu… kaciannya mas selamat ini
    aku perhatikan begitu antusias banget dengan cerita yang menurut sesepuh ceritera ini tiada bandingnya.. untuk itu aku persilahkan mengunduh lewat pintu ini

    GD: Masalah Slamet ternyata lebih mendasar: bukan tdk bisa ngunduh, tapi gak bisa mbuka karena kompi-nya tdk punya viewer-nya.

  38. sudah dikirim manual via email lha kok jawabannya seperti itu 😀
    ki dede.. cobalah pake PPT bukan PDF seperti biasanya.

    GD: Njih Mas, nanti pake PPT (malah tambah bingung)

  39. Untuk mengatasi kasus-kasus seperti yang dialami oleh mas slamet, mungkin Ki Sukra atau GD bisa menyediakan kolom khusus untuk menampung hasil konvert (khusus teks tanpa gambar).Urusan mengkonvertnya bisa saya bantu, setidaknya bisa sedikit menghibur para cantrik yang bernasib seperti mas slamet.

  40. sapa tau ya ada yg berkenan bikin kamus atau catatan kaki bahasa /istilah jawa-jogya yg ada di ADBM – maklum ga semua pembaca tau artinya, kadang cuma meraba raba aja,,,,sedangkan yg baca ADBM datang dari berbagai pelosok yg tentu ga paham dgn istilah jawa spt saya…

    contoh…

    1.pring ori
    2.jenang alot.
    3.bulak
    4.segelar sepapan..
    5.gringsing?….
    dlll masih banyak banget…

    atau Ki Jebeng said berkenan??….hehe, trims
    trims juga sama mas DD yg lagi upload 55 (hehe, maksa).

  41. Kata pembantu saya pring ori itu, sejenis pagar tanaman bambu jenis “ori”??…, apa betul begitu Ki Jebeng??..
    Trus jadi inget ada daerah Pring Sewu ya di lampung?/…
    Gringsing katanya sejenis motif batik??.., kayak apa ya.., jadinya cuma ngira2 aja tuh..
    Kalo berkenan Ki Jebeng bisa bikin catatan kaki??.. maaf bikin repot nih…, atau para kisanak ADBMers yg lain,Ki Glagah putih??, atau mas Truno podang yg sdh mirip SH Mintardja tuh??.. sudi kiranya bermurah hati bikin catatan kaki istilah jawa-jateng-jogya yg ada di buku ADBM??.. siapa tau bermanfaat sebagi bekal warisan buat generasi yad..
    wass

  42. Mas Dewo1234, ini arti kata2 tsb, menurut versi dan sepenerjemahan saya…..

    1. pring = bambu. Ori = salah satu jenis bambu, yg batangnya gede2 & banyak duri. Jadi ada bambu kuning, bambu wulung, bambu ori/petung, dll

    2. Jenang alot, bayangan saya kok fisiknya mirip jadah yg berbahan ketan itu, tapi warnanya hitam. Di Solo biasanya dijual bareng krasikan. Tapi beda dg wajik lho… (he.. he… makin pusing ya mas?). Ada yg bisa kasih pencerahan ki sanak yg lain?

    3. Bulak = area persawahan yang -biasanya- terletak diantara dua pemukiman (desa/dukuh). BELIK = mata air kecil

    4. Segelar-sepapan= pasukan prajurit dalam jumlah relatif banyak, dan sudah dalam posisi ready. Jadi kalo banyak prajurit tp sedang tidur semua dalam barak, biasanya gak disebut pasukan segelar-sepapan.

    5. Gringsing, itu nama salah satu dari banyak jenis/corak batik. Corak/motif lain misalnya Kawung, Parangrusak, dll.

    6. Jebeng, kl gak salah adalah panggilan ortu untuk anak2, khususnya cowok.

    Monggo kalau ada yg mau mengoreksi/menambahi, secara saya ya cuma sok tahu….

  43. “Mudah-mudahan saja ada yang bersedia, ya, Ki Sadewo,” Kiai Gringsing bergumam sambil manggut-manggut.

    “Hem,” ujarnya lebih lanjut, “kalau Ki Sadewo 1234 berkenan melihat-lihat jemuran kainku yang lusuh-lusuh itu, silahkan klik gambar di pinggir halaman ini yang paling bawah …”

  44. Terima kasih para Kisanak semua yang telah berusaha membantu saya.
    Sekarang sudah hadir kitab 54 yang versi convert file doc, jadi saya sudah dapat memperdalam ilmu lagi….

  45. tiga setengah tahun sudah, gandhok ini tidak dikomeni cantrik.

    • tiga setengah tahun sudah, gandhok ini tidak diureg2-i cantrik.

      • inilah seribu harinya sebagai daripada apa namanya ,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: