Buku 53

“Dengar,” berkata Kiai Gringsing, ”sama sekali bukan karena hantu-hantu. Hantu-hantu sebenarnya sama sekali tidak meng¬hiraukan kita. Hutan itu hutan kita. Kalau ada persoalan, tentu persoalan yang lain.”

Orang itu memandang Kiai Gringsing dengan tatapan mata yang aneh, meskipun ia tidak bertanya sesuatu. Bahkan Kiai Gringising-lah kemudian yang berbicara pula, ”Hantu-hantu itu ter¬nyata mempunyai persoalannya sendiri. Hantu-hantu yang bernama Kiai Dandang Wesi dari Gunung Merapi telah melibatkan diri di dalam setiap persoalan di Alas Mentaok ini.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia berdesis, ”Aku menjadi bingung.”

Kiai Gringsing tersenyum. Tiba-tiba ia bertanya, ”Bagaimana dengan lukamu?”

“Sudah tidak pedih lagi. Bahkan seakan-akan telah menjadi sembuh sama sekali.”

“Biarlah lukamu terbuka. Nanti sore, aku akan memberimu obat setelah luka itu kau bersihkan. Setiap kali pasti akan terasa pedih untuk beberapa saat. Namun kemudian akan menjadi dingin seperti sekarang.“

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Beristirahatlah.”

Kiai Gringsing pun kemudian kembali ke tempatnya. Swandaru yang masih belum sehat benar, telah berbaring untuk me¬mulihkan kekuatannya. Sedang Agung Sedayu pun kemudian pergi ke gardu pengawas untuk melaporkan bahwa mereka tidak pergi ke pekerjaan mereka hari ini.

“Kenapa?“ bertanya salah seorang pengawas.

“Adikku masih belum sembuh benar.”

Pengawas itu mengerutkan keningnya. Tetapi yang bertanya kemudian adalah Wanakerti, ”Apakah kalian memutuskan untuk menghentikan usaha kalian?”

“Tidak,” jawab Agung Sedayu. ”Kami akan bekerja terus. Kalau kesehatan adikku telah pulih kembali, maka kami akan meneruskan kerja kami.”

Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kata¬nya, ”Baiklah. Sekarang, bawalah rangsum kalian bertiga.”

Agung Sedayu pun kemudian kembali ke barak sambil mem¬bawa rangsum untuk mereka bertiga.

Dalam pada itu, selagi di tempat-tempat yang sedang digarap dan dibuka selalu diributkan, oleh masalah hantu-hantu, Ki Gede Pema¬nahan dan Raden Sutawijaya tidak henti-hentinya berusaha agar Tanah Mataram menjadi kian ramai. Di tempat-tempat yang sudah mulai padat, dibuatnya pusat-pusat kegiatan yang menyangkut kehidupan orang banyak. Didirikannya pasar dan banjar-banjar. Hubungan yang semakin banyak dengan daerah-daerah di sekitarnya.

Namun demikian keprihatinan mereka atas gangguan dari persoalan-persoalan yang masih merupakan rahasia bagi Mataram masih belum teratasi. Bagaimanapun juga Raden Sutawijaya berusaha, tetapi sama sekali belum pernah ditemuinya apa yang disebut oleh beberapa orang dan bahkan beberapa petugasnya, sebagai hantu-hantu yang menakutkan.

Apalagi di hari-hari terakhir telah berkembang ceritera tentang hantu yang hampir tidak berbentuk. Ketika beberapa orang pe¬ronda menjumpai seonggok benda yang kehitam-hitaman pada saat mereka kembali dari rumah Kiai Damar.

”Para pekerja yang membuka hutan, di daerah Utara berceritera pula tentang hantu serupa itu,” berkata seorang pe¬ngawal.

“Apa katanya?”

“Kini telah berkembang ceritera tentang hantu yang da¬tang dari Gunung Merapi. Salah satu dari mereka menyebut dirinya bernama Kiai Dandang Wesi.”

Pengawal yang lain pun mendengarkannya dengan penuh minat. Ceritera tentang hantu memang selamanya menarik bagi mereka, apalagi mereka yang akan bertugas di daerah-daerah yang se¬dang dibuka.

Tetapi ternyata ceritera tentang hantu itu tidak menghambat perkembangan Tanah Mataram secara keseluruhan. Memang di beberapa tempat, penebangan hutan benar-benar telah terhenti, karena mereka yang membuka hutan menjadi ketakutan. Di beberapa tem¬pat yang lain pun menjadi sangat mundur. Beberapa orang telah memilih tinggal di tempat yang sudah ramai, meskipun hanya se¬kedar menjual tenaga, karena mereka tidak mempunyai lagi tanah garapan. Sedang beberapa keluarga yang lain telah kembali ke tempat asal mereka.

Meskipun sebagian dari rencana Ki Gede Pemanahan masih tetap dapat dilakukan, terutama usahanya menyusun suatu tempat yang akan dijadikannya pusat pemerintahan dari daerah yang baru dibuka ini, namun terhambatnya perluasan tanah garapan yang akan menjadi lumbung bahan mentah itu membuatnya berprihatin.

“Kita harus dapat memecahkan rahasia ini,” berkata Raden Sutawijaya, ”selama rahasia ini masih merupakan teka-teki, maka Tanah Mataram masih belum dapat disebut tenteram.”

“Memang masih banyak tantangan yang harus kita hadapi,” sahut Ki Gede Pemanahan. ”Hubunganmu dengan Ayahanda Baginda Sultan di Pajang masih juga belum dapat disebut pulih kembali, kini kita di sini sudah menjumpai bermacam-macam persoalan.”

“Ya, Ayah. Tetapi kita akan berjalan terus.”

“Tentu Sutawijaya. Pati sudah pantas disebut sebuah Kadipaten. Tetapi apa yang pantas kita katakan tentang Tanah Mataram, Tanah Perdikan, Kadipaten atau sebuah Kademangan kecil?”

“Kita sedang berusaha, Ayah. Dan Ayahanda Sultan Pajang memang tidak mau memberikan sebutan atau kedudukan yang pasti bagi Mataram, seperti di daerah-daerah pesisir Utara.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. ”Karena itu kita harus membentuk diri sendiri. Apa pun yang akan dikatakan oleh Sultan Pajang atas kita.”

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tan¬pa sesadarnya ia berkata, ”Apakah Ayah tidak berkeberatan terhadap usaha Untara untuk menyusun suatu kekuatan di Jati Anom?”

“Kenapa aku berkeberatan? Jati Anom adalah tlatah Pajang, Untara adalah seorang Senapati Pajang. Apakah salah¬nya?”

“Tetapi kekuatan itu seolah-olah telah dihadapkan kepada kita di Mataram.“

“Seandainya demikian, itu adalah suatu sikap berhati-hati.”

“Tetapi, kenapa tidak terhadap Pati?”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Diangguk-anggukkanya kepalanya. Sebenarnya ia menyimpan perasaan seperti yang terbersit di hati puteranya. Namun Ki Gede Pemanahan masih menyimpannya. Ia tidak mau tergesa-gesa mengambil suatu kesimpulan dari sikap Pajang.

“Sutawijaya sebenarnya adalah putera angkat yang tidak ubahnya dengan puteranya sendiri,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hati, ”namun keragu-raguan Sultan Pajang membuat Mataram harus bersikap.”

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, ”cobalah kau sisihkan perasaan itu sejenak. Pusatkan perhatianmu pada pembangunan daerah ini. Kalau kita terlampau berprasangka, maka hambatan dari perkembangan Tanah Mataram ini akan timbul dari diri kita sendiri.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi angan-angannya masih saja dibayangi oleh berbagai macam pertanyaan ten¬tang kedua anak-anak muda yang ditemuinya di Menoreh. Sehingga ia selalu bertanya kepada diri sendiri, ”Bagaimanakah sikap Agung Sedayu dan Swandaru? Apakah mereka berpihak juga kepada Untara dan menjadikan Sangkal Putung suatu pusat kekuatan di Jati Anom dan Sangkal Putung, maka pasukan Pajang akan membayangi Mataram dari dua arah. Jati Anom akan dapat langsung menyusur lereng Gunung Merapi dan turun dari arah Utara, sedang kekuatan yang datang dari Sangkal Putung akan langsung datang dari arah Timur. Sedangkan kita di sini sama sekali tidak tahu, bagaimanakah sikap Menoreh yang ada di sebelah Barat dan Mangir yang ada di sebelah Selatan?”

Meskipun demikian, Sutawijaya sama sekali tidak menjadi berkecil hati. Ia memang bertekad untuk membuat Alas Mentaok ini menjadi sebuah negeri yang ramai.

Namun dalam pada itu, selagi masalah-masalah yang bersangkut paut dengan pihak-pihak di luar Tanah Mataram masih harus dipecah¬kan, timbullah masalah-masalah yang harus diatasi di dalam tubuh ini. Kekisruhan yang ditimbulkan oleh berita tentang adanya hantu-hantu yang mengganggu pembukaan hutan hampir di segala arah. Bah¬kan ada kelompok-kelompok yang telah menghentikan usahanya untuk memperluas Tanah Mataram dengan tanah garapan baru, karena mereka tidak tahan lagi menghadapi gangguan hantu-hantu yang agaknya menjadi semakin marah.

Tetapi di saat-saat terakhir timbullah berita tentang hantu dari Gunung Merapi itu.

Seorang pemimpin pengawal Tanah yang baru dibuka itu menemui Raden Sutawijaya dan berkata, ”Hantu dari Gunung Merapi itu menyebut dirinya bernama Dandang Wesi. Ia me¬ngaku sebagai pemomong Raden Sutawijaya di masa kecil yang kemudian bertapa dan mrayang dengan raganya. Tetapi kemudian ia mendapatkan bentuknya yang baru di dalam dunianya yang baru.”

Raden Sutawijaya menjadi bingung. Ia tidak pernah merasa mempunyai seorang pemomong yang bernama Kiai Dandang Wesi, sehingga karena itu sejenak ia tidak memberikan tanggapan apa-apa.

“Apakah Raden sudah melupakannya karena sudah ber¬tahun yang lampau?”

Sutawijaya menggeleng, “Tidak. Aku masih ingat. Tetapi aku sudah tidak dapat mengingat lagi wajahnya.”

“Sekarang Kiai Dandang Wesi benar-benar sudah tidak berbentuk. Hanya seperti seonggok daging yang berwarna kehitam-hitaman. Namun justru mengerikan sekali. Bahkan menurut ceritera, bentuk yang demikian itu masih juga mampu menyerang dari jarak yang jauh.”

“Aku ingin menemuinya pada suatu kesempatan,” sahut Sutawijaya. ”Kalau salah seorang dari kalian bertemu, katakan¬lah aku ingin berbicara.“

“Baiklah. Agaknya hantu yang bernama Kiai Dandang Wesi itu mempunyai sifat yang agak berbeda dengan hantu-hantu dari Alas Mentaok ini sendiri. Tetapi mungkin karena hantu-hantu yang selama ini menakut-nakuti itu adalah hantu-hantu dari tataran yang paling rendah, sehingga sifat-sifat mereka pun sangat memuakkan. Tetapi Kiai Dandang Wesi bersikap lain. Ada semacam wibawa yang memancar dari tubuhnya yang tidak berbentuk itu.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, ”Mudah-mudahan hantu yang tidak berbentuk itu dapat di¬ajak bicara.”

“Sulit. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat ber¬bicara. Di antaranya Kiai Damar.“

“Tidak,” tiba-tiba seorang pengawal yang lain memotong. ”Ada orang yang pernah bertemu dan langsung dapat berbicara dengan hantu itu.”

Sutawijaya tiba-tiba tersenyum. Katanya, ”Memang berita tentang hantu kadang-kadang menumbuhkan bermacam-macam tafsiran. Te¬tapi yang sampai padaku hingga saat ini selalu menumbuhkan pertanyaan di dalam hatiku, apakah mereka yang berceritera itu benar-benar pernah melihatnya. Seseorang mengatakan, bahwa kawan¬nya pernah melihatnya. Tetapi ketika kawannya yang disebutkan itu aku panggil, ia mengatakan bahwa ia mendengar dari kawan¬nya yang lain. Sampai saat ini aku belum pernah menyaksikan sendiri apa pun dan bagaimana pun juga bentuk dan bahkan suara¬nya.”

Para pengawal saling berpandangan sejenak. Namun mereka yakin bahwa hantu-hantu yang dimaksudkan memang ada. Seseorang memberanikan diri berkata, ”Aku pernah melihatnya.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Ya. Kau me¬mang pernah mengatakan, bahwa kau sendiri pernah melihatnya. Bukan sekedar kata orang. Tetapi kau tidak berhasil membawa aku melihat hantu itu.”

Pengawal itu terdiam.

“Kita harus segera dapat memecahkan masalahnya,” tiba-tiba Sutawijaya menggeram.

Dalam pada itu, keadaan Swandaru sudah menjadi berangsur baik. Kekuatannya sudah hampir pulih kembali sehingga ia sudah tidak memerlukan bantuan apa pun lagi dari Agung Sedayu atau gurunya.

Dengan demikian, maka Kiai Gringsing beserta kedua murid¬nya itu pun telah siap kembali untuk melakukan pekerjaan mereka, menebas hutan di bagian yang justru dijauhi oleh orang-orang lain.

“Apakah kau akan meneruskan kerjamu membersihkan daerah yang wingit itu?” bertanya seseorang kepada Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Jawabnya, ”Ya. Daerah itulah yang telah diserahkan kepadaku dan anak-anakku. Karena itu, kami harus bekerja kembali di tempat itu.”

“Selama ini kau mendapat pengalaman yang pahit. Anakmu hampir saja menjadi korban. Apakah kau tidak berpikir untuk mengurungkan saja niat itu?”

“Apakah aku akan mendapat bagian tanah yang lain?”

“Tentu. Kalau kau mengurungkan niatmu, kau dapat meng¬gabungkan diri ke dalam salah satu kelompok yang sudah ada. Tentu saja dengan persetujuan para petugas di hutan ini. Tetapi aku kira mereka dapat mengerti kesulitan yang kau alami.” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Tidak ada orang yang mau menerima bagian itu, meskipun sudah mulai dikerjakan. Mereka yang sudah menebang pepohonan di bagian itu, telah meninggalkannya meski pun mereka telah membuang banyak tenaga.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, ”Aku tidak dapat melangkah surut. Aku sudah tidak dapat kembali lagi ke asalku karena semua hak milikku telah aku jual.”

“Kau tidak perlu kembali ke asalmu. Kau dapat mengga¬bungkan diri dengan kelompok lain. Atau, kau dapat pergi ke tempat yang sudah menjadi ramai. Kau dapat mencari pekerjaan lain di sana.”

Tetapi Kiai Gringsing menggeleng, ”Aku akan tetap me¬ngerjakan tanah itu. Aku yakin bahwa pada suatu saat, aku dan anak-anakku tidak akan diganggu lagi. Kami akan segera berkenalan. Dan kami akan mengatakan bahwa niat kami adalah baik.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Kau memang keras hati. Tetapi terserahlah, semua itu tergantung kepadamu sendiri. Aku sudah mencoba untuk memberimu peringatan. Orang yang tinggi itu pun akan memperingatkan kau. Ia merasa bertang¬gung jawab atas kita sekalian di sini.”

“Siapakah sebenarnya orang itu?”

“Seperti juga aku, kau dan orang-orang lain. Orang itu pun seorang pendatang. Tetapi karena ia mempunyai beberapa kele¬bihan dari kita masing-masing di sini, maka tanpa persetujuan resmi, seakan-akan ia menjadi pemimpin kita di sini.”

“Ya. Aku pun merasakannya. Dan orang itu pun sudah ber¬tindak sebagai seorang pemimpin. Kalau negeri ini menjadi ramai, maka ia akan dapat menjadi bebahu dari pedukuhan-pedukuhan yang akan terbentuk.”

”Ya.”

“Dan yang kekurus-kurusan itu?” bertanya Kiai Gringsing pula.

“Orang itu termasuk orang yang cerdik. Ia mempunyai banyak akal dan pendapat. Karena itu, ia segera mendapat tempat yang baik di samping orang yang tinggi kekar itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ia sudah mengerti bahwa orang yang tinggi kekar itu mempunyai beberapa kelebihan dan orang yang kekurus-kurusan itu adalah orang yang cerdik meskipun licik. Tetapi dari orang-orang yang sudah lama berada di tempat itu, ia sama sekali tidak berhasil mendapat keterangan lebih banyak daripada itu.

”Aku harus mendapatkan sumber yang lain untuk mengetahui latar belakang dari perbuatan-perbuatan mereka yang aneh itu,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Sementara itu, Swandaru sudah benar-benar pulih kembali. Kepada para petugas Kiai Gringsing berkata, ”Besok aku akan melan¬jutkan kerja yang selama ini terhenti, bersama dengan anak-anakku.”

“Apakah anakmu yang sakit itu sudah benar-benar sehat?” bertanya Wanakerti.

“Sudah, Tuan. Ia sudah pulih kembali.”

Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia bertanya, ”Apakah kau tidak mempunyai pikiran lain?“

“Maksud, Tuan?”

“Misalnya, mencari tanah garapan baru yang tidak ber¬bahaya bagimu dan anak-anakmu.”

Kiai Gringsing menarik nafas. Jawabnya, ”Aku akan ber¬hati-hati, Tuan. Aku dan anak-anakku sudah mulai. Sebaiknya kami melanjutkannya.”

“Bagaimana dengan sakit anakmu?”

”Ia sudah sembuh.”

“Bukan itu. Tetapi apakah kau sudah memikirkan sebab dari penyakit anakmu itu?”

“Seandainya benar anakku telah dikutuk oleh hantu-hantu, maka kini ia pasti sudah mendapat pengampunan, ternyata bahwa ia telah sembuh.”

“Tetapi kalau kau mengulangi kesalahanmu yang lama?”

“Aku tidak yakin, bahwa hal itulah yang dianggap sebagai suatu kesalahan.”

Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun berkata, ”Terserahlah kepadamu.“

Para petugas yang lain pun telah berusaha mencegah Kiai Gringsing agar ia memilih tanah garapan yang baru. Salah se¬orang dari mereka berkata, “Apakah kami tidak dipersalahkan orang, kalau terjadi sesuatu atas kalian?”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“Tanah itu adalah tanah yang wingit. Seolah-olah kami memang telah menjerumuskan kalian ke tempat itu.”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, ”Tidak. Itu ada¬lah tanggung jawab kami sendiri.”

“Tetapi bagi mereka yang tidak mengetahui persoalan ini pasti akan menyangka bahwa kami adalah orang-orang yang tidak berperikemanusiaan. Kami pasti dipersalahkan, seandainya kami tidak dianggap menjerumuskan kalian, kenapa kami tidak mencegahnya?”

“Terima kasih. Tetapi justru karena semuanya itulah Tuan, maka tanah itu sangat menarik bagi kami. Kami akan mengerja¬kannya dengan sebaik-baiknya, apa pun akibatnya.”

Para petugas itu hanya saling berpandangan sejenak. Tetapi masih ada di antara mereka yang merasa menyesal, bahwa mereka telah menempatkan orang tua itu bersama kedua anaknya di tempat yang paling wingit.

Tetapi Kiai Gringsing masih berkata, ”Tuan, seandainya masih ada gangguan-gangguan atas kami yang bekerja di daerah ini, maka kami sekarang sudah mempunyai kawan yang mempunyai kekua¬saan yang serupa dengan mereka.”

“Siapa?”

“Mereka yang datang dari Gunung Merapi itu. Salah satu dari mereka bernama Kiai Dandang Wesi.“

Para petugas itu mengerutkan keningnya, kemudian hampir bersamaan mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Kami sudah mendengar pula ceritera tentang Kiai Dan¬dang Wesi. Tetapi kami masih belum dapat meyakinkan seperti kami meyakini adanya hantu-hantu dari Alas Mentaok ini sendiri.”

“Aku sendiri pernah melihat,” sahut Agung Sedayu, ”Kiai Dandang Wesi ada di pihak kami. Menurut Kiai Dandang Wesi, semua yang kasat mata manusia, memang diperuntukkan bagi manusia wadag seperti kita, karena kita memang tidak tahu dan tidak melihat mereka, sehingga karena itu, yang adil, mereka¬lah yang menyesuaikan diri mereka. Bukan kita.”

Para penjaga itu mengangguk-angguk. Wanakerti-lah yang kemudian berkata, ”Kalau kau memang sudah yakin, terserahlah. Kami berdoa, mudah-mudahan kalian tidak mendapat gangguan apa pun juga.”

“Terima kasih.”

Demikianlah, maka Kiai Gringsing dan kedua muridnya pun segera mulai mengerjakan tanah garapan mereka kembali. Setelah sekian lama mereka tinggalkan, maka alang-alang yang sudah diber¬sihkannya tampak mulai tumbuh kembali di beberapa bagian.

“Kemarilah,” desis Kiai Gringsing kepada kedua murid¬nya.

Kedua muridnya pun segera mendekat.

“Kalian memang harus berhati-hati. Kita tidak tahu pasti, siapakah sebenarnya yang kita hadapi. Bukan karena kita me¬nolak suatu kepercayaan tentang hantu-hantu yang mungkin ada, te¬tapi kita pun harus memperhitungkan kenyataan yang selama ini terjadi atas kita.”

“Maksud Guru?”

”Ternyata kita berada di dalam lingkungan orang-orang yang mengerti benar tentang racun. Agaknya di sini racun merupa¬kan senjata yang paling baik untuk segala macam tujuan, Swandaru yang pernah mengalaminya. Ketika seseorang di sini men¬dekapnya dengan ketakutan, dan seolah-olah orang itu terluka pa¬rah, agaknya orang itu sudah menyentuh tubuh Swandaru dengan duri-duri beracun.”

“Ya, bagaimanakah sebenarnya dengan orang itu? Dan kemanakah ia pergi? Apakah benar-benar ia hilang seperti yang kita sangka?”

“Orang itu sama sekali tidak apa-apa. Tidak terluka dan tidak ketakutan. Itu adalah suatu cara agar ia dapat menyentuh salah seorang dari kita.”

“Lalu?”

“Ia pun tidak hilang dibawa hantu yang mana pun juga. Orang itu telah pergi sendiri selagi kita sibuk mencari sumber bunyi yang telah mengejutkan kita itu.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi darah itu?” bertanya Swandaru.

“Aku sudah meyakinkannya, bahwa yang serupa dengan darah itu sama sekali bukan darah.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepala me¬reka.

“Kemudian, kita singgah ke rumah dukun itu. Ia mengerti tentang racun dengan baik. Obat yang diberikannya dan yang kemudian aku bawa kepada dukun yang lain yang ternyata ber¬nama Kiai Damar, memang obat pemunah racun.” Kiai Gringsing terdiam sejenak, lalu, ”Dan ternyata pula orang-orang yang me¬mahami tentang racun. Air yang diberikan kepada Swaudaru ketika kau tinggalkan, ternyata berisi racun yang telah diperhitung¬kan dengan tepat.”

Kedua murid-muridnya masih mengangguk-anggukkan kepala.

”Jadi, hati-hatilah. Jangan mudah dijebak lagi dengan cara apa pun. Aku yakin bahwa semua itu sama sekali bukan per¬buatan hantu-hantu.”

“Tetapi bagaimana dengan suara gemerincing di malam hari itu?”

“Kita masih harus meyakinkan. Tetapi setiap orang dapat berbuat serupa itu.”

“Dan sinar yang berkeredipan?” bertanya Agung Sedayu.

“Memang masih banyak hal-hal yang harus kita ketahui, Agung Sedayu. Seandainya benar ada hantu di Alas Mentaok, namun ada juga orang-orang yang telah memanfaatkannya untuk ke¬pentingan diri mereka sendiri.”

“Apakah tujuan mereka, Guru?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, ”Aku tidak tahu dengan pasti. Kita masih berhadapan dengan rahasia yang besar seperti rahasia yang tersimpan di dalam Alas Mentaok ini sen¬diri.”

Demikianlah, maka Kiai Gringsing dan kedua muridnya be¬kerja dengan hati-hati. Mereka menyadari bahwa di sekitar mereka terdapat beberapa orang yang sedang bermain-main dengan segala macam cara. Dan yang paling berbahaya adalah racun.

Karena itulah, maka diam-diam Kiai Gringsing telah membuat obat-obat yang dapat menahan serangan racun untuk sementara. Ke¬dua muridnya itu pun telah diberinya butiran-butiran itu untuk selalu di¬bawa kemana mereka pergi. Kalau mereka merasa diri mereka tersentuh racun itu tidak berkembang di dalam tubuhnya, mereka harus makan obat itu, sebutir.

Di hari yang pertama, Kiai Gringsing dan kedua muridnya hanyalah sekedar melihat-lihat tanah garapan yang telah ditinggal¬kan untuk beberapa lama. Namun justru mereka menjadi semakin bernafsu untuk melakukan kerja itu, agar mereka dapat membuk¬tikan, bahwa tanah ini memang dapat dibuka untuk dijadikan tanah garapan.

Namun kerja yang dimulainya kembali itu telah membuat beberapa orang menjadi tidak senang karenanya. Terutama orang yang tinggi kekar dan yang kekurus-kurusan.

Ketika Kiai Gringsing dan kedua anak-anaknya kembali dari tanah garapannya, maka orang yang tinggi itu mendapatkannya sambil bertolak pinggang, ”Kau memang ingin membuat keri¬butan di sini, he?”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kau mulai lagi kerja itu meskipun semua pihak sudah mencoba mencegahnya. Bahkan para petugas.”

“Aku sudah memberikan alasanku. Dan para petugas itu akhirnya menyerahkan segala tanggung jawab kepadaku.”

“Tetapi itu tidak mungkin. Kau di sini tidak berdiri sen¬diri. Kau merupakan bagian dari kami semua yang ada di sini.”

“Berilah kami kesempatan. Kami akan mencoba untuk me¬lakukan kerja yang mungkin akan bermanfaat bagi kita. Kalau aku berhasil maka tanah garapan yang terbuka akan menjadi semakin luas. Kelompok-kelompok dapat membagi diri untuk mengerjakan tanah yang lebih luas.”

“Gila. Aku tidak setuju dengan pikiran itu. Sudah aku katakan berapa puluh kali, bahwa akibat yang timbul dari sifat¬mu yang keras kepala itu akan menimpa kita semua.”

“Aku akan mempertanggung jawabkan sendiri. Biar saja¬lah seandainya anakku atau aku sendiri menjadi banten. Tetapi aku benar-benar berniat baik,” suara Kiai Gringsing menurun. ”Sebenarnya kalian pun jangan takut. Kiai Dandang Wesi selalu akan berada di pihak kita. Aku sudah bertemu dengan hantu yang bernama Kiai Dandang Wesi itu.”

“Bohong!”

“Percayalah. Ia akan menjaga aku di tempat kerjaku itu. Tanah garapan itu sekarang sama sekali sudah tidak wingit lagi, justru karena ada penghuninya yang baru.”

”Persetan. Tetapi kalau terjadi bencana atas kita sekalian, kaulah yang akan menjadi sasaran kemarahan orang-orang yang berada di dalam barak ini.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ancaman itu pasti bukan sekedar main-main. Orang-orang yang tinggi itu pasti akan beru¬saha menghasut orang-orang di dalam barak ini agar mereka berbuat sesuatu terhadap mereka.

Kiai Gringsing hanya dapat memandangi saja ketika orang yang tinggi kekar itu meninggalkannya, sambil bersungut-sungut.

“Apakah pada suatu saat kita akan berbuat sesuatu atasnya?” bertanya Swandaru yang hampir kehilangan kesabaran.

“Biar sajalah. Kita akan melihat, apa saja yang akan di¬lakukannya.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tampak dari sorot matanya bahwa kebencian yang dalam terhadap orang yang tinggi itu hampir-hampir sudah tidak tertahankan lagi.

Ketika pinggiran hutan itu menjadi kelam, maka orang-orang yang tinggal di dalam barak itu pun sudah menempati tempatnya masing-masing. Selain badan yang lelah, mereka juga selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.

Seseorang yang masih muda berbaring beberapa jengkal dari Swandaru yang masih duduk bersandar dinding. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya, kalau angan-angannya menyentuh orang yang tinggi kekar itu.

“Apakah kalian sama sekali tidak mengenal takut dan cemas,” tiba-tiba orang yang masih muda itu bertanya.

Swandaru berpaling ke arahnya. Tetapi ia tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah gurunya sejenak, seolah-olah ia ingin mendapat pertimbangan daripadanya.

Tetapi ternyata Kiai Gringsing tidak sedang memperhatikannya. Orang tua itu duduk pula sambil memejamkan matanya di samping Agung Sedayu yang sedang memijit-mijit kakinya.

”Begitu?“ orang itu mendesak.

Swandaru yang agak bingung itu menggelengkan kepalanya, ”Tentu tidak. Kami juga mengenal takut.”

“Tetapi kenapa kalian teruskan pekerjaan itu?”

”Kami mempunyai pelindung, hantu dari Gunung Merapi itu.”

Orang itu terdiam sejenak. Dipandanginya anyaman ilalang yang mengatapi barak bambu itu.

“Kau sendiri?” Swandaru yang bertanya.

Orang itu menggeleng, ”Isteri dan seorang anakku berada di barak yang lain. Tempat menampung perempuan dan anak-anak itu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku dahulu membayangkan, bahwa aku akan mendapat sebidang tanah garapan yang hijau. Sebuah rumah yang mungil, dengan pekarangan yang ditanami dengan pohon buah-buahan. Di¬batasi oleh sebuah pagar batu setinggi dada. Regol yang rendah dan berdaun pintu,” gumam orang itu.

”Pada saatnya akan kau dapatkan.”

“Ya. Tetapi kapan? Kami bekerja di dalam kelompok-kelompok. Hasil yang kami dapatkan sebenarnya terlampau kecil bagi kami sekelompok.”

“Tetapi kelompok itu akan mengerjakan tanah garapan yang lain, sehingga kalian akan mendapatkan bagian yang lain pula.”

“Tetapi kami selalu dibayangi oleh ketakutan.”

“Kelompok-kelompok itu bukan sekedar untuk mengatasi ketakut¬an. Bukankah kalian tidak akan dapat bekerja sendiri-sendiri meng¬hadapi tantangan hutan yang begitu lebat? Pohon-pohon yang tinggi dan besar. Gerumbul-gerumbul yang penuh dengan tanaman-tanaman menjalar dan berduri?”

Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata sesuatu. Matanya kembali menatap atap yang terbuat dari anyaman ilalang.

Swandaru pun kemudian terdiam. Ia melihat kekecewaan membayang di wajah orang yang berbaring itu.

”Kenyataan yang dihadapinya, jauh dari gambaran yang diangan-angankannya sebelumnya,” desis Swandaru di dalam hatinya.

Dan tiba-tiba saja ia ingin mendapat beberapa keterangan lagi, sehingga Swandaru itu bertanya, ”Apakah sejak kau datang ke tempat ini, orang-orang di sini juga sudah dibayangi oleh ketakutan?”

Tetapi yang menjawab adalah orang lain yang berbaring di sampingnya, ”Tidak. Tidak seperti sekarang ini.“

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang Kiai Gringsing yang memejamkan matanya pun kemudian terbelalak sambil mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian mata itu pun telah terpejam pula.

“Bagaimanakah keadaan di daerah ini dahulu?” berta¬nya Swandaru pula.

“Kami bekerja dengan tenang. Daerah yang sudah dapat dijadikan pedukuhan itu pun menjadi kian ramai. Namun pada suatu saat mulailah wabah itu.“

“Wabah?”

“Wabah ketakutan. Perlahan-lahana tetapi pasti telah men¬cengkam kami seluruhnya. Mereka yang memasuki daerah yang semakin dalam harus menarik diri dan mengurungkan niatnya, sehingga apa yang kami kerjakan kini sangat terbatas. Sebagian orang-orang yang bekerja di sini telah pergi. Ada yang semakin memenuhi tempat-tempat yang telah ramai itu, tetapi ada juga yang sama sekali mengurungkan niatnya untuk tinggal di daerah Tanah Mataram ini.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah tidak bertanya lagi. Ruangan di dalam barak itu semakin lama menjadi semakin sepi. Sebagian dari mereka yang berbaring di dalamnya sudah tertidur dengan nyenyaknya, sedang sebagian yang lain menyelimuti dirinya dengan kainnya sampai menutup kepalanya.

Swandaru dan Agung Sedayu pun kemudian berbaring pula, sedang Kiai Gringsing tidur sambil duduk bersandar dinding tepat di sudut barak.

Beberapa orang yang belum tertidur berpaling serentak ke¬tika mereka mendengar seseorang mendehem di muka pintu. Ter¬nyata orang yang bertubuh kekar itulah yang baru melangkahi tlundak pintu. Sejenak ia menebarkan tatapan matanya berke¬liling. Kemudian ia pun berbaring pula di depan pintu yang masih separo terbuka.

Agung Sedayu, Swandaru, dan gurunya melihat juga orang itu masuk ruangan. Sejenak mereka saling berpandangan. Na¬mun mereka pun kemudian tidak menghiraukannya lagi.

Demikianlah maka malam pun menjadi semakin malam. Se¬bagian besar dari mereka yang berbaring di dalam barak itu telah tertidur. Beberapa orang bahkan telah mendekur, seolah-olah me¬reka sama sekali tidak sedang diganggu oleh kecemasan dan ketakutan.

Di luar barak, suara cengkerik masih terdengar berderik ber¬kepanjangan sahut menyahut. Angin malam yang dingin ber¬hembus di sela-sela dedaunan yang basah oleh embun.

Agung Sedayu dan Swandaru pun telah memejamkan mata¬nya. Antara sadar dan tidak sadar mereka masih mendengar se¬kali-sekali suara burung tuhu di kejauhan.

Tetapi selagi keheningan malam mencengkam barak yang sudah mulai lelap itu, beberapa orang telah dikejutkan oleh suara yang aneh. Seperti suara bayi yang merengek, namun kemudian berubah seperti suara kucing yang melolong-lolong. Semakin lama se¬makin keras mendekati barak yang dengan tiba-tiba telah dicengkam oleh ketakutan yang dahsyat.

Semua orang yang ada di dalam dan apalagi di serambi ba¬rak, telah menutup telinga mereka dengan telapak tangan. Menutup seluruh tubuh dengan selimut mereka.

Tetapi berbeda dengan mereka itu, Kiai Gringsing justru mencoba mendengarkan suara itu dengan saksama. Agung Se¬rayu dan Swandaru pun telah terbangun dan sadar sepenuhnya atas apa yang didengarnya. Tetapi ketika mereka akan bangkit, Kiai Gringsing memberikan isyarat agar mereka tetap berbaring di tempatnya.

Suara itu semakin lama menjadi semakin jelas terdengar. Namun pada suatu saat, sumber bunyi itu sudah tidak menjadi semakin dekat, tetapi justru berputar-putar mengelilingi barak itu.

Belum lagi ketakutan yang mencengkam itu mereda, seisi barak itu telah dikejutkan oleh suara beberapa benda yang jatuh di atas atap barak itu, yang kemudian berguling jatuh di tanah di sekitarnya. Agaknya barak itu telah dilempari dengan batu meskipun tidak terlampau besar. Bahkan batu-batu yang terjatuh di anyaman ilalang yang kurang kuat, telah menembus atap dan jatuh ke dalam barak.

Tiga buah batu telah jatuh ke dalam barak menimpa orang yang sedang berbaring ketakutan. Untunglah batu-batu itu tidak terlampau besar, sehingga meskipun terasa juga sakit, namun sama sekali tidak berbahaya.

Kiai Gringsing hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Orang yang bertubuh, kekar itu berbaring di depan pintu. Seandainya tidak, ia akan, dapat berbuat sesuatu.

Lemparan-lemparan batu itu merupakan sesuatu yang baru bagi ba¬rak itu. Biasanya seisi barak itu hanya ditakutkan oleh bunyi yang asing bagi mereka. Satu dua orang memang pernah melihat bentuk dan ujud yang mengerikan di dalam gelap. Tetapi belum pernah terjadi, barak mereka dilempari dengan batu-batu.

Sejenak kemudian maka suara yang mengitari barak itu pun menjadi semakin lama semakin jauh. Di saat-saat terakhir suara itu telah berubah lagi menjadi bunyi-bunyi yang belum pernah didengar. Tinggi melengking-lengking kemudian turun merendah dan akhirnya hilang sama sekali.

Beberapa saat lamanya tidak seorang pun yang berani ber¬gerak. Yang berkerudung kain panjang, masih tetap berkerudung kain. Yang menutup telinganya dengan telapak tangannya, masih juga menutup telinganya. Bahkan yang tertimpa batu pun sama sekali tidak berani beringsut dari tempatnya. Meski pun terasa juga sakit, namun menyeringai pun mereka tidak berani.

Baru, ketika orang-orang di dalam barak itu yakin, bahwa suara itu sudah lenyap, mereka berani beringsut sedikit untuk menarik nafas dalam-dalam.

Yang pertama-tama bangkit perlahan-lahan adalah orang yang tinggi kekar itu. Ditebarkannya pandangan matanya ke sekelilingnya. Ketika ia melihat Kiai Gringsing bersandar dinding ia me¬ngerutkan keningnya, ”Sejak tadi kau bersandar dinding?”

Kiai Gringsing mengangguk, “Ya, sejak tadi.”

Orang yang tinggi kekar itu memandangnya dengan, kerut kening yang tegang. Dengan sorot mata yang aneh ia pun ke¬mudian berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah mendekati Kiai Gringsing.

“Kenapa kau tetap duduk saja di tempatmu? Kau sudah menghina hantu-hantu itu. Itulah agaknya mereka menjadi marah dan melempari barak ini dengan batu?”

“Kenapa aku telah menghina mereka?”

“Kau terlampau sombong. Kau bersikap menantang.”

“Tidak. Aku sama sekali tidak bersikap menantang. Kau melihat sendiri, bahwa sejak sore aku tidur sambil bersandar dinding karena tikar kami telah dipenuhi oleh kedua anak-anakku.”

“Kenapa kau pertahankan sikap itu?”

“Bukan maksudku. Ketika aku terbangun karena suara-suara itu, aku menjadi seakan-akan membeku. Aku tidak dapat meng¬gerakkan ujung jariku, apalagi tubuhku. Sebenarnya aku ingin menjatuhkan diri di antara anak-anakku. Tetapi aku tidak dapat ber¬gerak sama sekali.”

Orang yang tinggi kekar itu mengerutkan keningnya. Di¬lihatnya beberapa orang telah bangkit dan duduk di tempat masing-masing. Orang yang terkena batu pun telah berani mengusap bagian tubuh mereka yang masih terasa sakit. Bahkan salah se¬orang dari mereka, telah terkena kepalanya.

“O, kita sudah berbuat banyak sekali kesalahan,” terdengar suara di muka pintu. Ketika orang-orang yang ada di dalam barak itu berpaling, dilihatnya orang yang kekurus-kurusan itu ber¬diri gemetar.

“Di mana kau selama ini?” bertanya salah seorang.

“Aku hampir mati membeku.”

“Di mana kau, he?” orang yang tinggi kekar itu membentak.

”Aku berada di luar. Aku tidak dapat menahan lagi untuk membuang air. Tetapi di halaman yang terlindung itu, aku men¬jadi seperti orang lumpuh. Aku terduduk tanpa dapat bergerak sama sekali.”

”Lalu?”

“Aku melihat hantu itu lewat.”

“O,“ hampir bersamaan beberapa orang berdesis.

“Benar-benar mengerikan. Kali ini yang lewat tidak hanya se¬sosok hantu, tetapi tiga.”

“Tiga?” serentak terdengar beberapa pertanyaan.

“Ya, tiga.“

“Dalam bentuk apa saja?”

“Yang sesosok tinggi. Yang dua tidak begitu tinggi. Hampir setinggi manusia biasa. Tetapi aku tidak berani me¬natap wajah mereka yang mengerikan itu. Merah dan bergigi panjang. Selebihnya aku tidak tahu. Tetapi yang pasti salah se¬orang dari mereka berambut ular dan yang satu lagi berkepala tengkorak.”

“Mengerikan sekali.”

“Aku hampir pingsan karenanya. Hantu itu lewat bebe¬rapa langkah di dekatku. Satu di antara mereka berhenti. Tetapi kemudian aku ditinggalkannya.”

(***)

From Kasdoelah’s Collection
Scan: Ki Warsono Hr
Convert-Retype: Anakmas Edy
Proof: Ki Prastawa
Reproof: Ki Gd Menoreh
Date: 11-18-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (57)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-53/trackback/

RSS feed for comments on this post.

57 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kamis,23 juli 2009
    Napak Tilas Padepokan Adbm……..Tombo Ngantuk

    • Setu 5 Mei 2012

      napak tilase Ki Gundul ….. tombo kaget…eh…kangen ! 😀

      • napak tilase ki kartu nggoleki tombol anget eh angin

  2. he he …
    mulai sakaw, kluyuran kesana-kemari.

    • he he …heeeeeee,

      ki SENO mulai berDINAS lagi , menyidak kesana-kemari.

      • menyiduk 😛

        • menyidik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: