Buku 53

“Bagus. Memang sebaiknya kau tidak berbuat apa-apa.“ Namun Kiai Gringsing kemudian berpikir, ”Tetapi bagaimana dengan Swandaru yang kau tinggalkan itu?”

“Maksud, Guru?”

“Apakah anak itu tidak menjadi sasaran kemarahan me¬reka?”

“Tetapi Swandaru sudah sembuh.”

“Itulah yang aku cemaskan. Ia tidak akan dapat menahan hati sejauh yang dapat kau lakukan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Lalu, “Tetapi orang-orang lain bersikap baik. Mereka akan melerainya.”

Ketika Kiai Gringsing kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu berkata, ”Selain itu, aku masih mempunyai ceritera yang barangkali menarik juga buat Guru.”

“Apa?”

“Hantu-hantu yang saling bertengkar.”

“He?”

Dan sekali lagi Agung Sedayu berceritera. Kali ini tentang hantu Alas Mentaok dan hantu Gunung Merapi.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, ”Kita sebaiknya berbicara sambil berjalan.”

Keduanya pun kemudian berjalan kembali ke barak mereka. Di sepanjang jalan Agung Sedayu tidak habis-habisnya berceritera tentang hantu yang tinggi, hitam dan berkepala tengkorak, yang oleh hantu Gunung Merapi yang hampir tidak berbentuk itu di¬sebutnya jerangkong.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, ”Kalau begitu persoalannya akan menjadi semakin panjang. Agak¬nya ada pertentangan antara Alas Mentaok yang disebut seba¬gai suatu kerajaan, melawan Gunung Merapi yang juga menye¬but dirinya suatu kerajaan.”

“Ya.”

“Kalau begitu, kita menjadi berbesar hati. Bukankah han¬tu-hantu dari Gunung Merapi berpihak kepada kita? Maksudku kepada mereka yang membuka hutan ini?”

“Ya. Begitulah agaknya.“

“Itulah yang harus kita katakan kepada setiap orang agar mereka menjadi agak berani.”

Ketika mereka sampai di barak, mereka melihat di serambi, orang-orang yang tidur dengan nyenyaknya. Sekelompok-sekelompok. Dengan demikian, maka Kiai Gringsing dan Agung Sedayu pun berjalan sambil berjingkat, agar tidak mengejutkan mereka. Te¬tapi mereka terpaksa membangunkan beberapa orang karena pintu yang tidak terbuka cukup lebar. Ketika tangan Kiai Gringsing mendorong pintu itu, maka meloncatlah derit yang panjang.

“He, kau baru pulang?” bertanya seseorang.

Kiai Gringsing berpaling. Dilihatnya seorang tua mengang¬kat kepalanya.

“Ya, aku baru pulang,” desis Kiai Gringsing perlahan-lahan.

Ternyata orang-orang lain yang terbangun tidak bertanya apa¬ pun lagi, sehingga Kiai Gringsing pun kemudian langsung mene¬mui Swandaru yang masih terbaring di tempatnya.

Di dalam cahaya lampu minyak yang remang-remang Kiai Gringsing dan Agung Sedayu melihat Swandaru berbaring diam di tempatnya, seolah-olah sedang tidur dengan nyenyaknya.

Namun beberapa langkah lagi mereka mendekat, wajah Kiai Gringsing menjadi tegang. Dengan tergesa-gesa ia meloncat dan langsung berjongkok di samping muridnya yang sedang sakit itu.

“Swandaru, Swandaru,” desas Kiai Gringsing perlahan-lahan. Tetapi Swandaru tidak menyahut.

“Guru, kenapa anak itu?” Agung Sedayu pun menjadi tegang pula.

Dengan tangan gemetar Kiai Gringsing meraba kening, dahi dan kemudian perut Swandaru.

“Wajahnya menjadi pucat sekali Guru, dan bibirnya men¬jadi kebiru-biruan.”

Setitik keringat mengembun di dahi Kiai Gringsing, meskipun ia tidak menjadi gugup.

Tanpa disengaja Kiai Gringsing melihat sebuah mangkuk yang terletak di samping Swandaru. Dengan serta-merta mang¬kuk itu pun diambilnya. Di amat-amatinya isi mangkuk yang sudah hampir habis sama sekali itu. Namun beberapa titik air di dalamnya telah cukup bagi Kiai Gringsing untuk mengetahui, cairan apakah yang ada di dalamnya.

“Lindungi aku dari orang-orang itu, apabila ada di antara me¬reka yang terbangun dan sengaja melihat apa yang aku kerjakan,” bisik Kiai Gringsing.

Agung Sedayu pun segera beringsut mendekati gurunya.

Dari kantong ikat pinggangnya Kiai Gringsing mengambil sebuah bumbung kecil. Dari dalam bumbung kecil itu Kiai Gringsing menaburkan seberkas serbuk yang berwarna kehitam-hitaman.

Dengan wajah yang tegang Agung Sedayu melihat ke dalam mangkuk itu. Beberapa tetes cairan itu pun kemudian mengepul¬kan asap meski pun hampir tidak terlihat. Kemudian warna yang kehitam-hitaman dari serbuk itu pun segera berubah menjadi hitam pekat. Titik-titik warna merah terdapat di beberapa bagian dari dinding mangkuk yang masih basah itu.

”Racun lagi,” desis Kiai Gringsing, ”meskipun lemah, tetapi cukup berbahaya bagi Swandaru yang kekuatannya belum pulih kembali. Carilah air. Jangan dengan mangkuk atau bum¬bung. Carilah dengan daun pisang.”

Agung Sedayu pun dengan tergesa-gesa bangkit dan melangkah keluar. Ia tidak menghiraukan lagi ketika orang yang tinggi ke¬kar itu bertanya pula kepadanya, ”He, akan kemana lagi kau anak gila?”

Agung Sedayu tidak menyahut. Sejenak kemudian ia pun telah hilang di balik tabir gelapnya malam.

Dengan daun pisang ia membawa setakir kecil air sumur. Seperti pada saat ia keluar, ia pun sama sekali tidak menghirau¬kan sapa orang yang tinggi besar itu, selain mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tetapi ketika ia menyerahkan air di dalam takir daun pi¬sang itu. Ia mendengar pintu bergerit. Ketika ia berpaling, di¬lihatnya orang yang tinggi kekar itu berdiri berpegangan pada uger-uger pintu.

“Temui orang itu. Usahakan agar ia tidak mendekat,” desis Kiai Gringsing yang memasukkan serbuk yang lain ke dalam takir daun pisang yang berisi air itu.

Agung Sedayu pun berdiri. Perlahan-lahan ia mendekati orang yang tinggi besar itu sambil berkata, ”Aku tergesa-gesa. Adikku haus sekali.”

“Kenapa kau terlampau lama?” bertanya orang itu, “aku kira kau mati diterkam hantu.”

“Hampir saja.”

“Kenapa hampir? Kau memang anak gila. Adikmu benar-benar hampir mati kehausan. Untunglah seseorang telah memberinya minum, sehingga ia dapat tidur dengan nyenyaknya.”

“Terima kasih. Siapakah yang telah memberinya minum?”

“Aku tidak tahu. Seseorang di antara sekian banyak orang.”

“Orang yang kekurusan itu.“

Orang itu menggeleng, “Bukan, orang itu tidur di luar. Li¬hat, ia ada di serambi.”

“Lalu siapa? Kami akan mengucapkan terima kasih. Adik¬ku sudah menjadi segar.”

Orang itu menggeleng sekali lagi, “Aku tidak tahu.”

Sementara itu, Kiai Gringsing telah menuangkan air yang sudah diberinya obat itu ke mulut Swandaru. Perlahan-lahan, setitik demi setitik air itu masuk ke dalam kerongkongannya.

“Untunglah tidak terlambat,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, ”agaknya di barak ini ada seorang yang me¬ngerti benar tentang racun. Racun yang lemah ini agaknya tepat sekali dipergunakannya untuk membunuh Swandaru yang sedang sakit tanpa kecurigaan dan tanpa menumbuhkan tanda-tanda yang jelas di tubuhnya.”

Namun tanpa sesadarnya Kiai Gringsing menggeram, ”Keterlaluan.”

Sebuah perasaan yang aneh telah melonjak di dalam dada Kiai Gringsing. Betapa perasaannya lapang seluas lautan, tetapi usaha yang dilakukan sudah usaha pembunuhan atas muridnya, sehingga darahnya menjadi panas karenanya.

Namun orang tua itu masih berusaha menahan diri. Ia tidak boleh hanyut dalam arus perasaannya, kalau ia tidak mau gagal sama sekali.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya ketika ia melihat Swandaru menggeliat. Kemudian perlahan-lahan membuka matanya dan tiba-tiba saja ia berusaha bangkit.

”Jangan bangkit.”

Swandaru tidak dapat menjawab. Tetapi sesuatu telah dimuntahkannya dari mulutnya. Cairan yang berwarna hitam kemerah-merahan.

“Tenanglah,” desis gurunya.

Swandaru memandang gurunya dengan mata yang buram.

Tetapi Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin tenang, ia yakin bahwa Swandaru akan dapat disembuhkannya.

“Kau sudah minum minuman yang keliru, Swandaru,“ berkata gurunya. ”Dari mana kau dapatkan cairan itu?”

“Orang yang kekurus-kurusan itu,” desis Swandaru.

“Kenapa kau minum juga?”

“Katanya Kakang Agung Sedayu sedang mencari air un¬tukku karena aku terlampau haus. Maka diberinya aku air itu sebelum Kakang Agung Sedayu datang. Katanya ia kasihan ke¬padaku.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, “Racun. Yang kau minum itu adalah racun yang lemah, tetapi cukup ber¬bahaya bagimu yang masih belum pulih benar. Untunglah aku cepat datang.“

Wajah Swandaru menjadi tegang. Tetapi ia masih mende¬ngar gurunya berkata, ”Jangan mengambil sikap sesuatu. Kita harus berhati-hati menghadapi seluruh jaringan itu.“

“Jaringan apa Guru?” bertanya Swandaru.

“Kau akan mendengar pada saatnya.”

Swandaru tidak bertanya lagi. Dicobanya untuk mengatur pernafasannya yang masih sesak. Kemudian memejamkan mata¬nya agar ia mendapatkan ketenangan yang setinggi-tingginya. Kini gurunya sudah menungguinya, sehingga ia tidak perlu lagi men¬cemaskan apa pun juga.

“Bagaimana dengan adikmu itu?” bertanya orang yang tinggi kekar kepada Agung Sedayu.

“Ia sedang tidur.”

“Jangan ganggu anak itu. Ia benar-benar sedang sakit. Aku menyesal telah menahanmu ketika kau akan mencari air. Aku kira kau hanya berpura-pura saja.”

“Ya.”

“Mudah-mudahan setelah ia terbangun besok, ia sudah sembuh benar.”

“Mudah-mudahan,” desis Agung Sedayu.

Orang yang tinggi kekar itu pun kemudian meninggalkan Agung Sedayu dan kembali ke tempatnya di luar barak. Orang yang tinggi itu lebih senang tidur di serambi.

“Udara di dalam terlampau panas,“ katanya.

Agung Sedayu tidak menyahut.

Ketika orang itu telah berada di luar pintu, Agung Sedayu segera mendapatkan gurunya. Dari Kiai Gringsing ia mendengar, bahwa perbuatan orang-orang itu sudah keterlaluan. Mereka sudah berusaha melakukan pembunuhan sengaja atau tidak sengaja atas Swandaru.

“Ada dua kemungkinan,“ berkata Kiai Gringsing, ”pembunuhan itu dilakukan atau pelumpuhan atas Swandaru se¬andainya tidak berakibat mati, dimaksud agar kami menghentikan kerja kami, atau karena orang-orang itu benar-benar ketakutan agar kami tidak menyebabkan mereka dan semua orang di barak ini men¬derita.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.

”Besok,” berkata Kiai Gringsing, “ceriterakan kepada setiap orang apa yang kau lihat. Katakan dengan selengkap-lengkapnya, bahwa ada hantu yang menyebut dirinya Kiai Dandang Wesi dari Gunung Merapi. Dari Kerajaan Kajiman di Gunung Merapi.”

“Apakah dengan demikian, orang-orang di barak ini tidak akan menjadi semakin ketakutan?”

“Kita akan dapat membumbuinya. Hantu-hantu dari Gunung Merapi berada di pihak Raden Sutawijaya. Bukankah hantu itu berkata bahwa ia pernah menjadi pemomong Raden Sutawijaya sebelum mrayang dan mendapatkan bentuknya yang sekarang?”

“Ya.”

“Nah, Kiai Dandang Wesi dan pasukannya pasti akan berpihak kepada Raden Sutawijaya. Kau dapat menambahkannya pula, bahwa hantu-hantu di segala sudut bumi pasti akan membenar¬kan sikap Raden Sutawijaya, karena tanah dan laut yang kasat mata wadag oleh manusia ini memang diperuntukkan bagi ma¬nusia.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Demikiankah, maka sisa malam yang tinggal menyangkut di ujung pohon nyiur itu pun dipergunakan sebaik-baiknya oleh Kiai Gringsing dan Agung Sedayu. Mereka segera berbaring berdesak-desakan sebelah-menyebelah Swandaru, yang kini menjadi lemah kembali.

“Kau akan segera pulih,” bisik gurunya.

“Lalu, bagaimana dengan obat yang Guru bawa ke dukun sakti itu?”

“Masih ada padaku. Itu, aku taruh di bawah kakimu. Tetapi sebaiknya aku mempergunakan obatku sendiri. Di sini banyak orang yang tidak dapat dipercaya lagi.”

Swandaru tidak bertanya lagi. Agung Sedayu yang berba¬ring sambil memejamkan matanya, mencoba untuk tidur. Tetapi ia tidak berhasil. Namun demikian ia sudah mencoba beristira¬hat meskipun hanya sejenak.

Ketika cahaya yang kemerah-merahan membayang di langit, ma¬ka burung-burung liar pun mulai berkicau dengan riuhnya. Mereka sa¬ma sekali tidak menghiraukannya, bahwa di alas Mentaok telah terjadi benturan antara dua kekuatan lelembut yang dahsyat. Dari alas Mentaok sendiri dan dari Gunung Merapi.

Dalam pada itu, begitu Agung Sedayu keluar dari barak, ia pun segera berceritera tentang kedua jenis hantu yang dijum¬painya. Yang satu tinggi berkerudung hitam dan berkepala tengkorak, sedang yang satu hampir tidak berbentuk sama sekali.

“Apakah mereka bertengkar?” bertanya salah seorang.

“Ya, ternyata hantu yang tinggi itu menjadi ketakutan dan melarikan diri.“

“Bohong,” orang yang tinggi kekar itu membantah, ”bukan karena ketakutan. Tetapi hantu itu pasti belum mendapat perintah, apa yang sebaiknya dilakukan menghadapi hantu-hantu dari daerah asing seperti yang kau katakan itu.”

“Kenapa hantu dari gunung Merapi itu tidak ditangkap¬nya saja dan dibawa menghadap Raja Kajiman di Alas Mentaok ini?”

“Belum ada perintah. Mungkin tingkat kerajaan telah me¬ngadakan suatu pembicaraan yang belum diketahui oleh tingkat bawahan seperti jerangkong yang tinggi itu.”

“Mungkin, tetapi menilik wibawa dari keduanya, hantu dari Gunung Merapi yang bernama Kiai Dandang Wesi dan dahulu bekas pemomong Raden Sutawijaya itulah yang agaknya lebih tinggi.”

Wajah orang yang tinggi kekar itu menjadi tegang. Dita¬tapnya wajah Agung Sedayu dengan tajamnya.

Namun Agung Sedayu sama sekali tidak mempedulikannya. Ia berpura-pura tidak mengerti perasaan apakah yang tersembul di hati orang itu. Karena itu, maka ia pun berceritera terus.

”Cukup. Cukup!” potong orang yang tinggi itu, ”Jangan membual di sini. Kau menambah perasaan kami menjadi ki¬sruh. Kami akan menjadi semakin ketakutan, seolah-olah kami ber¬ada di daerah yang paling gawat. Di ajang peperangan yang dahsyat antara dua kerajaan hantu.”

Agung Sedayu terdiam sejenak. Ternyata orang itu cukup cerdik, sehingga ia justru mempergunakan keadaan itu untuk menambah kecemasan dan ketakutan.

“Nah, kalian dengar,” berkata orang yang tinggi itu kepada orang yang mengerumuninya, ”daerah ini memang me¬rupakan daerah yang paling gawat. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku akan meyakinkan untuk beberapa hari saja sebelum aku me¬ngambil keputusan. Kalau keadaan menjadi kian memburuk, aku lebih baik kembali ke asalku. Makan atau tidak makan. Meskipun di sini kami akan mendapat tanah yang subur dan loh jinawi te¬tapi kalau perasaan kami selalu dikejar oleh ketakutan dan ke¬cemasan, maka kami tidak akan dapat merasa tenteram. Karena itu, kami, aku dan keluargaku, akan segera menentukan sikap.”

Beberapa orang yang mendengar itu pun menjadi pucat. Ka¬lau orang yang tinggi kekar itu saja tidak berani tinggal di sini, apalagi orang-orang yang lain.

Namun tiba-tiba Agung Sedayu menjawab, “Tidak. Itu suatu sikap yang tergesa-gesa. Dengar, hantu dari Gunung Merapi itu adalah pemomong Raden Sutawijaya. Sudan tentu ia akan ber¬pihak kepada Raden Sutawijaya dan Ki Gede Pemanahan. Nah, bukankah kehadiran kita di sini ini adalah karena keinginan kita untuk bersama-sama dengan Ki Gede Pemanahan dan Raden Suta¬wijaya membuka hutan ini dan bersama-sama menjadikan suatu dae¬rah yang ramai dan makmur? Bahkan menurut pendengaranku, hantu-hantu dari daerah-daerah lain pun pasti akan berpihak kepada hantu-hantu dari Gunung Merapi. Kalian harus mendengar, Kiai Dandang Wesi mempunyai pasukan segelar sepapan. Kiai Dandang Wesi menganggap bahwa semua yang kasat mata wadag manusia, adalah hak manusia. Termasuk Alas Mentaok.“

“Bohong. Bohong!” teriak orang yang bertubuh kekar itu. Lalu, ”Jika demikian maka adikmu tidak akan sakit dan ba¬rangkali hari ini adikmu sudah mampus atau lumpuh atau apa pun karena kesalahanmu yang kau lakukan semalam.”

“Ia tertidur nyenyak.”

“Coba lihatlah dengan saksama. Ia pasti kena kutuk ka¬rena kesalahanmu. Untunglah bahwa kutuk itu mengenai adikmu sendiri. Bukan orang lain.”

“Sama sekali tidak. Adikku tidak apa-apa.”

“Lihat, lihatlah sekarang. Kenapa ia belum juga bangun?”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun semua orang berpaling ketika mereka mendengar suara dari depan pintu, ”Aku sudah bangun. Tubuhku merasa betapa segarnya.”

Orang yang tinggi kekar itu terkejut bukan buatan ketika ia melihat Swandaru berdiri di depan pintu bersama Kiai Gringsing. Meskipun masih pucat namun Swandaru sudah dapat ter¬senyum dan berkata, “Sejak aku minum air pemberian Paman, aku merasa bahwa aku menjadi sehat kembali.”

Orang yang tinggi kekar itu menjadi tegang. Sementara Agung Sedayu memandanginya dengan penuh kewaspadaan. Kalau saja orang itu tiba-tiba menjadi kehilangan akal, maka ia akan dapat menjadi berbahaya.

“He, apakah kau tidak dikutuk oleh hantu-hantu,” teriak orang kekurus-kurusan.

Swandaru yang menyebut dirinya anak Kiai Gringsing itu menyahut, ”Mungkin. Tetapi aku semalam telah bermimpi aneh.”

“Apa mimpimu, he?” geram orang yang kekar itu.

“Aku seakan-akan berada di daerah yang sangat asing. Daerah yang belum pernah aku lihat. Seakan-akan aku berada di dalam taman istana yang sangat indah. Aku begitu gembira sehingga aku tidak pernah berpikir, siapakah pemilik istana itu. Ketika aku melihat seekor kelinci yang berwarna keemasan, tiba-tiba aku ingin menangkapnya. Tetapi ketika aku mengejarnya, tiba-tiba aku menjadi lumpuh.”

“Jelas, itu sudah jelas,” teriak orang yang kekar. Lalu, ”Jangan berpura-pura lagi. Istana itu adalah istana Mataram. Kau menjadi lumpuh karena kau dikutuk oleh pemilik istana ini.”

“Ya. Akhirnya aku melihat. Seorang yang bertubuh tinggi, besar kehitam-hitaman dengan janggut yang panjang. Tangannya menggenggam sebuah keris.”

“Kau pasti akan dibunuhnya.”

“Ya. Aku memang akan dibunuhnya. Orang itu tidak ber¬baju dan mengenakan pakaian pada abad-abad yang lampau, seperti aku melihat pakaian gambar-gambar yang terpahat pada dinding-dinding can¬di. Dan orang itu menyebut dirinya bernama Prabu Talangsari.”

Semua orang tiba-tiba telah terpaku mendengarkannya.

“Tiba-tiba aku terbangun.”

”Itu suatu pertanda. Perabu Talangsari itu pasti Raja Ma¬taram Kajiman,” orang yang kekurusan menyahut. ”Camkan¬lah mimpi itu.”

“Ya. Ketika aku terbangun aku menjadi sangat haus. Itu¬lah sebabnya kakakku keluar sejenak untuk mengambil air. Te¬tapi ternyata kakakku pergi terlampau lama, sehingga aku mendapat air dari Paman yang tinggi kekar itu.”

“Persetan,“ geram orang itu.

“Lalu, aku tertidur lagi. Aneh sekali. Aku bermimpi pula. Mimpiku adalah kelanjutan dari mimpiku yang pertama.”

“Bagaimanakah mimpi itu?”

“Apakah kalian masih bersedia mendengarkannya? Lihat, matahari semakin tinggi. Nanti kalian terlambat pergi ke tanah garapan masing-masing.”

Hampir berbareng orang-orang yang berkerumun itu menengadahkan wajah mereka. Mereka melihat matahari yang memang sudah menanjak naik semakin tinggi, di balik dedaunan.

Tetapi tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, ”Sebentar saja. Cepat, katakan kelanjutan mimpimu.”

“Ya, kami masih mempunyai waktu sebentar.”

“Katakan cepat,” bentak orang yang tinggi kekar, ”mungkin itu suatu isyarat bagimu, agar kau tidak menjadi semakin sombong.”

“Baiklah,” berkata Swandaru. ”Ketika aku mulai dengan mimpiku yang kedua…….,” kata-katanya terputus karena orang kekurus-kurusan membentak, ”Langsung sebut saja mimpimu.“

Swandaru mengerutkan keningnya, “Baiklah. Aku akan segera saja mengatakan isi mimpiku itu, supaya tidak berkepan¬jangan.”

“Sebut saja, sebut langsung. Kau terlampau banyak mem¬berikan pengantar,” berkata orang yang kekar. Tetapi yang lain memotong, ”Biarkan ia berbicara. Kau memutus kata-katanya.”

“Sst, diam. Kenapa ribut?” desis yang lain.

“Baiklah. Baiklah. Mimpiku itu tidak panjang lagi,” berkata Swandaru selanjutnya. ”Ketika orang yang mengenakan pakaian dari abad-abad yang lampau dan menyebut dirinya Prabu Talangsari itu akan membunuhku, datanglah seorang yang lain. Seorang yang mengenakan pakaian keemasan, berkilat-kilat dengan menaiki seekor kuda bersayap seperti burung rajawali raksasa.”

“Kuda semberani,” desis orang-orang yang mendengarkan mimpi itu.

“Ya. Lalu, apa kerja orang itu?”

“Mereka pun kemudian berunding. Keduanya ternyata adalah raja dari kerajaan yang besar. Prabu Talangsari dan yang lain, raja dari Gunung Merapi.”

“Apa yang mereka rundingkan?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ketika raja yang berpakaian ber¬kilauan seperti matahari itu pergi, aku dilepaskannya. Dan bahkan Prabu Talangsari berkata, ”Ambillah kelinci itu. Aku tidak memerlukan lagi.” Dan aneh. Aku pun sembuhlah dari kelumpuhan itu. Maka mulailah kemudian aku berburu kelinci.”

“Apakah kau dapatkan kelinci yang berwarna keemasan itu?

“Ya. Akhirnya aku dapatkan juga. Tidak ada siapa pun lagi yang menggangguku.“

Beberapa orang saling berpandangan sejenak. Agung Sedayu pun mula-mula ikut merenungkan mimpi adiknya yang aneh itu. Namun kemudian ia tersenyum di dalam hati, karena ia yakin bahwa mimpi itu adalah sebuah dongeng yang telah dibuat oleh gurunya.

Karena itu tiba-tiba saja ia bertanya, ”Apakah raja dari Gunung Merapi yang naik kuda itu sendiri?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, ”Sen¬diri. Ya, ia sendiri.“

“Tentu mimpi itu daradasih. Benar-benar terjadi seperti apa yang terbayang di dalam mimpi. Aku telah bertemu dengan hantu mrayangan yang menyebut dirinya bernama Kiai Dandang Wesi.”

Tetapi orang-orang yang berada di sekitar tempat itu pun terkejut ketika orang yang kekurus-kurusan itu berkata, “Bohong! Semuanya bohong!”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Katanya, ”Aku tidak bohong. Dan aku kira adikku juga tidak bohong. He, dari mana ia mendapat nama Prabu Talangsari? Apakah ia sekedar mengarangkan sebuah nama? Baik. Memang mungkin ia mengarang. Tetapi apabila ada suara-suara dari orang lain yang juga menyebut-nyebut nama itu, apakah mungkin mereka juga mengarangkan nama yang kebetulan sama?”

”Kami di sini belum pernah mendengar nama itu.”

Adalah tiba-tiba saja ketika yang berbicara kemudian adalah Kiai Gringsing, ”Jadi, nama itu sama sekali tidak dikenal di sini?”

“Tidak,” jawab yang kekurus-kurusan.

“Tetapi tadi ada di antara kalian yang memastikan bahwa orang yang bertubuh tinggi besar dan mengenakan pakaian dari abad-abad yang lalu itu adalah raja Mataram Kajiman.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Sehingga Kiai Gringsing bertanya pula kepada orang yang kekurus-kurusan, ”Jadi kau yakin bahwa nama itu sekedar sebuah nama di dalam mimpi dan tidak berarti sama sekali?”

Setiap orang pun kemudian berpaling memandang wajah orang yang kekurus-kurusan itu. Namun sejenak orang itu tidak men¬jawab dan bahkan wajahnya menjadi ragu-ragu.

“Mudah-mudahan memang tidak ada nama Prabu Talangsari.“

“Kau pasti hanya sekedar mendengar ceritera dari kakakmu yang sudah menceriterakan pertemuannya dengan hantu-hantu,” teriak orang yang kekar.

“Nah, bukankah begitu dugaanmu,” potong Agung Se¬dayu, ”tetapi ketika aku pergi, adikku belum menceriterakan hal itu kepadaku. Dan sejak aku pulang, adikku sama sekali belum bangun dari tidurnya yang nyenyak.”

“Jangan ributkan soal mimpi,” tiba-tiba Kiai Gringsing memotong. ”Sekarang hari sudah terlampau siang. Lihat, orang-orang lain sudah mulai pergi mengambil rangsumnya.”

Semua orang berpaling ke arah gardu pengawas di kejauhan. Mereka melihat orang-orang yang tidak ikut berkerumun telah siap untuk pergi. Karena itu, maka mereka pun dengan tergesa-gesa berlari-larian menyiapkan alat-alat masing-masing.

Tetapi orang yang tinggi kekar dan orang yang kekurus-kurusan masih berdiri di tempatnya sambil memandang Kiai Gringsing beserta kedua anak-anaknya dengan tatapan mata yang tajam.

“Sekarang kau menambah keonaran lagi dengan bualan-bualanmu,” desis orang yang tinggi kekar.

“Bukan begitu, bukan maksudku. Tetapi, apakah kalian benar-benar tidak percaya bahwa Prabu Talangsari itu ada?”

“Tidak,” sahut yang tinggi kekar itu.

Tetapi orang yang kekurus-kurusan itu mulai nampak ragu-ragu. Apalagi setelah Kiai Gringsing berkata, ”Aku mempercayainya seperti kata Kiai Damar, dukun sakti itu, bahwa hantu-hantu memang mempunyai kelebihan dari manusia. Tentu termasuk Kiai Dan¬dang Wesi dari Gunung Merapi dan apalagi Perabu Talangsari sendiri.”

Orang yang kekurus-kurusan itu tampak menjadi semakin ragu-ragu. Sejenak ia memandang orang yang bertubuh kekar, dan sejenak kemudian dilemparkannya tatapan matanya jauh ke dalam lebat¬nya hutan yang sedang digarap oleh para pendatang itu.

“Semula kalau aku boleh berterus-terang, aku memang ragu-ragu terhadap hantu-hantu di Alas Mentaok ini. Tetapi setelah aku mengalami sendiri, dan anakku menjadi sakit dan sembuh secara ajaib sebelum obat dari dukun sakti itu dimakannya, aku kini telah mempercayainya.”

“Persetan dengan hantu-hantu,” tiba-tiba orang yang kekar itu menggeram.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya, ”He, bagaimana dengan hantu-hantu itu? Bukankah kau yang mengajari aku untuk memahami keadaan hutan ini beserta segala isinya termasuk hantu-hantu itu?”

“Ya. Ya. Maksudku, persetan dengan kalian yang bodoh dan sombong. Sekarang kalian merasa sebagai orang-orang yang paling mengenal hantu-hantu,” orang yang kekar itu memotong, “tetapi sebenarnya kalian adalah orang-orang yang paling dungu. Sebenarnya kalian tidak usah berbicara panjang lebar tentang hantu dari mana pun juga. Itu adalah suatu gagasan atau lamunan yang ngayawara. Kalau kau dan anak-anakmu menghentikan usaha untuk membuka hutan itu, menjorok masuk ke dalam seperti yang kau lakukan, maka kau akan selamat.”

“Dengarlah,” berkata Kiai Gringsing, ”rencana hantu-hantu Alas Mentaok itu sudah diketahui oleh Kiai Dandang Wesi. Kau percaya? Sekarang mereka berusaha mendorong aku dan kedua anak-anakku untuk meninggalkan pekerjaan dan tanah garapan itu, tetapi seterusnya, mereka akan berusaha mengusir setiap orang di sini. Menakut-nakuti, membuat mereka sakit dan pingsan tanpa sebab, kecemasan dan kekisruhan, agar perlahan-lahan kita di sini sedikit demi sedikit mengurungkan niat kita untuk mem¬buka hutan ini.”

”Gila, itu pikiran gila.”

“Apakah kau tidak percaya.”

“Omong kosong.”

“Mungkin. Kiai Dandang Wesi memang hanya omong ko¬song. Mudah-mudahan ia sekedar omong kosong. Tetapi akankah ia berkata begitu, he?” bertanya Kiai Gringsing kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu tergagap. Tetapi ia pun segera dapat menang¬gapinya, “Ya, Kiai Dandang Wesi memang berkata begitu. Tetapi Kiai Dandang Wesi sudah berbicara dengan Prabu Talangsari. Aku tidak tahu, apakah hasil pembicaraan itu.”

“Tetapi seandainya Kiai Dandang Wesi itu benar-benar hantu waskita yang datang dari Gunung Merapi, ia pasti mengenal hantu-hantu Alas Mentaok yang sebenarnya,” tiba-tiba orang yang kekurus-kurusan menyahut.

“Ia kenal akan hal itu. Tentu ia kenal.”

“Bohong.”

“Dari mana kau tahu. Adakah kau menganggap Kiai Dan¬dang Wesi itu berbohong, atau ceritera tentang Dandang Wesi itulah yang kau anggap berbohong, atau Kiai Dandang Wesi sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat sesuatu?”

Orang yang kekurus-kurusan itu pun menjadi ragu-ragu pula. Sejenak ia berdiam diri. Namun yang menyahut kemudian adalah orang yang kekar, ”Kita harus meyakinkan dahulu ceritera itu.”

“Memang, kita harus meyakinkannya. Tetapi bahwa Kiai Dandang Wesi mempunyai kemampuan untuk mengenal dunianya, maksudku dunia hantu, aku kira tidak dapat disangsikan lagi. Menurut anakku, ketika jerangkong yang telah bertemu dengan Kiai Dandang Wesi itu pergi, maka hantu yang tidak berbentuk, pemomong Raden Sritawijaya yang mrayang itu berkata, ’Aku menangkap getaran yang aneh pada jerangkong itu. Aku menang¬kap getar jalur-jalur darah dalam tubuhnya serta terasa arus nafas. Itu tidak mungkin ada di dalam diri hantu-hantu yang mana pun juga, meskipun dari tingkat yang paling rendah sekali pun sampai Prabu Talangsari sendiri. Meskipun ada hantu yang memilih bentuk seperti manusia sekali pun, namun pasti tidak akan ada getar jalur-jalur darah dan arus nafas di dalam tubuhnya yang bukan wadag manusia’.”

Orang yang kekurus-kurusan itu menjadi tegang sejenak. Namun sambil menghentakkan kakinya ia berkata, ”Persetan. Persetan dengan semuanya itu.”

Sebelum seorang pun sempat menjawab, maka dengan tergesa-gesa ia pergi meninggalkan Kiai Gringsing sambil bergumam, ”Aku akan pergi ke pekerjaanku. Semua orang sudah berang¬kat.”

“Kami bertiga tidak akan berangkat hari ini,” berkata Kiai Gringsing.

“Kenapa?” yang bertanya adalah orang yang tinggi be¬sar itu.

“Anakku belum sehat benar.”

“Jadi, setelah anakmu sembuh. Kau akan tetap menerus¬kan usaha itu?”

“Ya,” jawab Kiai Gringsing.

“Kau sampai hati mengorbankan anakmu.”

“Kenapa?”

“Anakmu akan sakit dan kalau peringatan itu kau abai¬kan, anakmu, salah seorang dari keduanya akan mati atau bahkan kedua-duanya.”

Orang yang kekar itu terperanjat ketika justru anak yang sakit itu yang menjawab, ”Ternyata aku telah sembuh setelah aku bermimpi. Aku jadi yakin, bahwa di dunia mereka pun kini sedang terjadi masalah. Kesimpulanku, aku tidak perlu cemas.“

“Gila. Kalian memang orang-orang gila.”

“Tidak. Justru kami adalah orang-orang yang menyadari ke¬adaan yang sebenarnya. Tanpa orang lain, biarlah aku katakan kepadamu, mungkin kau memiliki kelebihan dari orang-orang yang ada di dalam barak ini, bahwa di sini ada tiga golongan yang per¬lu diperhatikan.“

“Apa?”

“Hantu-hantu Alas Mentaok yang sebenarnya, hantu-hantu dari Gunung Merapi, dan makhluk lain yang diragukan oleh Kiai Dandang Wesi, yang berbentuk seperti hantu jerangkong, te¬tapi memiliki jalur-jalur darah dan arus nafas.”

Orang yang kekar itu menjadi tegang. Sejenak ditatapnya wajah-wajah dari ketiga ayah beranak itu. Kemudian sambil meng¬geram ia melangkah pergi, ”Kalian telah mengigau.”

“Tunggu,” panggil Swandaru. Ketika orang itu berhenti dan berpaling, Swandaru berkata sambil tersenyum, ”Terima kasih atas air yang Paman berikan itu. Tubuhku menjadi segar dan rasa-rasanya sakitku menjadi sem¬buh sama sekali.“

“Persetan,“ orang itu pun kemudian melangkah semakin cepat.

Sepeninggal orang-orang itu, Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, ”Mudah-mudahan kita akan segera dapat memecahkan teka-teki yang rumit ini.”

“Apakah yang Guru maksud dengan teka-teki itu?”

”Keadaan di sekitar tempat ini. Di samping negeri yang kian hari kian menjadi ramai, maka orang-orang yang memperluas tanah garapan masih saja diganggu oleh persoalan-persoalan yang cukup menegangkan ini.”

“Hantu-hantu maksud Guru?”

“Ya.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil me-mandang orang yang tinggi kekar itu sampai hilang di gardu pe¬ngawas Agung Sedayu berkata, ”Kedua orang itu memang aneh.”

“Sekarang beristirahatlah. Kita akan terlibat dalam per¬mainan yang mengasyikkan ini.”

Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian masuk kembali ke dalam barak. Beberapa orang yang karena beberapa hal berhalangan pergi ke tempat pekerjaan masing-masing, masih juga berada di barak itu.”

Seorang laki-laki yang kakinya terluka karena kapaknya sen¬diri, duduk sambil mengusap lukanya. Sekali-sekali ia menyeringai menahan sakit. Sudah sepekan ia duduk saja merenungi lukanya tanpa dapat membantu kawan-kawannya bekerja di pinggir hutan.

“Apakah anakmu sudah benar-benar sembuh?” orang itu de¬ngan hampir berteriak bertanya kepada Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing berpaling kepadanya, kepada orang yang terluka itu yang duduk di sudut barak. “Ya, begitulah.”

“Kau memang beruntung sekali. Dari manakah kau men¬dapatkan obatnya?”

“Kebetulan saja. Tetapi aku juga mendapat obat dari Kiai Damar. Dukun sakti yang memiliki kemampuan berhubu¬ngan dengan hantu.”

“Apakah kau tidak berkeberatan memberi obat aku sedikit, agar lukaku ini segera sembuh?”

“Obat itu bukan obat luka.”

“Aku tahu, tetapi mungkin kakiku ini juga kena kutuk dari hantu-hantu. Mungkin ketika aku bekerja di tanah yang sedang dibuka itu, aku telah mengganggu mereka, sehingga aku telah dihukumnya. Dengan obat dari Kiai Damar itu, mungkin aku akan dimaafkan.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ternyata jalan pikiran orang-orang di tempat ini sudah tidak wajar lagi. Mereka terlampau dipengaruhi oleh adanya hantu-hantu yang berkuasa di Alas Mentaok. Semua persoalan telah dikaitkannya dengan hantu-hantu, kemungkinan bahwa mereka telah mengganggu keluarga hantu-hantu dan bermacam-macam soal yang berpusar pada hantu-hantu itu.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”apakah Ki Sanak mau aku obati? Bukan obat dari Kiai Damar?”

“O, segala macam obat sudah aku coba, tetapi sampai sepekan lukanya justru membengkak.”

“Obat yang Ki Sanak pergunakan agaknya belum cocok. Kalau Ki Sanak setuju, aku akan mencoba mengobatinya.”

“Berilah aku obat Kiai Damar itu.”

“Sayang, aku sudah dipesan, bahwa obat itu tidak boleh dipergunakan oleh orang lain. Obat itu adalah obat yang khusus, yang bagi orang lain justru dapat berakibat sebaliknya.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Katanya, ”Jadi mak¬sudmu, aku tidak dapat mengobati lukaku dengan obat itu?”

“Bukan aku tidak memperbolehkan, tetapi Kiai Damar-lah yang berpesan demikian.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu kalau Ki Sanak bersedia, aku mempunyai se¬jenis obat untuk luka-luka.“

“Apa? Bubukan babakan mlandingan atau sawang angga-angga?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya.

“Apa? Semua obat sudah aku coba.”

“Endapan kicikan.”

“Minyak kelapa dengan empon-empon.”

”Ya. Segala macam empon-empon, potong tipis-tipis, kemudian aku jemur sampai kering. Barulah aku panasi dengan minyak. Kemudian aku jemur lagi hingga kering. Barulah aku tumbuk halus-halus.”

Orang itu mengangguk-angguk. ”Baiklah. Aku belum mencobanya.”

“Tunggulah, aku ambil obat itu.”

Kiai Gringsing pun kemudian mengambil sejenis serbuk se¬perti yang dikatakannya. Kemudian ditaburkannya obat itu pada luka yang sedang mulai membengkak.

“Uh, panas sekali. Apakah ini kicikan seperti yang kau katakan.”

“Ya.”

“Kenapa panas dan pedih?”

“Tentu. Tetapi nanti akan menjadi baik.”

Orang itu menyeringai menahan sakit sambil memegang pangkal pahanya. “Sakit sekali,“ desisnya.

Kiai Gringsing tidak menghiraukannya. Kemudian dibiarkannya luka itu tetap terbuka. Katanya, ”Biarlah luka itu terbuka sejenak.”

Sejak itu sakit lukanya menjadi berangsur berkurang. Se¬hingga akhirnya terasa seakan-akan luka itu sudah sembuh.

“Terima kasih,” katanya.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (57)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-53/trackback/

RSS feed for comments on this post.

57 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kamis,23 juli 2009
    Napak Tilas Padepokan Adbm……..Tombo Ngantuk

    • Setu 5 Mei 2012

      napak tilase Ki Gundul ….. tombo kaget…eh…kangen ! 😀

      • napak tilase ki kartu nggoleki tombol anget eh angin

  2. he he …
    mulai sakaw, kluyuran kesana-kemari.

    • he he …heeeeeee,

      ki SENO mulai berDINAS lagi , menyidak kesana-kemari.

      • menyiduk 😛

        • menyidik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: