Buku 53

Kiai Damar yang berjalan sambil merenung, tiba-tiba terlonjak melihat sesosok tubuh yang kehitam-hitaman duduk di muka pintu gubugnya. Hampir saja ia menyerang dengan keris yang masih digenggamnya. Namun ketika ia melihat bayangan itu mengacu-acukan tangannya sambil memohon, ”Ampun Kiai, ampun. Aku orang baik,” maka Kiai Damar pun mengurungkan niatnya.

“Siapa kau he?” bentak Kiai Damar.

“Ampun, Kiai. Aku datang dari barak para penebang hutan.”

“Oh, apa maksudmu?”

“Aku akan menghadap Kiai. Anakku sakit, Kiai.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Tetapi menurut seorang dukun yang tinggal di sebelah barak kami, anak itu keracunan.”

“Kenapa kau kemari?”

“Dukun itu menyuruhku datang kemari. Menurut dukun itu, selain keracunan anakku mendapat gejala penyakit yang lain.”

“Apalagi kata dukun itu?“

“Aku disuruh membawa sebungkus obat kepada Kiai.“

“Lihat. Bawa obat itu kemari.”

Kiai Damar yang masih berdebar-debar itu pun kemudian me¬langkah memasuki gubugnya. Sebuah lampu minyak yang terayun-ayun oleh angin malam yang lemah menerangi ruangan yang sempit itu.

Kiai Gringsing pun kemudian dengan ragu-ragu memasuki rua¬ngan itu pula sambil membawa sebungkus obat yang didapatnya dari dukun yang tinggal di sebelah baraknya.

Nafas Kiai Damar masih belum berjalan wajar. Sekali-sekali ia masih menarik nafas panjang-panjang untuk menenteramkan hati.

Setelah menyarungkan kerisnya, maka Kiai Damar pun ber¬kata, ”Kenapa kau datang di malam larut begini?”

“Aku terlampau cemas Kiai, anakku sakit.”

Kiai Damar pun kemudian menerima sebungkus obat yang diserahkan oleh Kiai Gringsing. Diamat-amatinya obat itu. Lalu katanya, ”Kau bawa anak itu kemari?”

“Tidak Kiai, anak itu ternyata terlampau lemah.”

Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, ”Menurut pengamatanku, kau terlampau berani, bahkan agak som¬bong sedikit. Kau telah berani menebas, hutan larangan. Hutan yang telah beberapa kali dibuka, tetapi selalu ditinggalkan oleh orang-orang yang berusaha membukanya. Betul begitu?“

“Ya. Ya, Kiai. Dari mana Kiai tahu?”

“Aku melihat,” jawab Kiai Damar sambil mempermainkan kuku ibu jarinya.

“Kiai melihat di kuku ibu jari itu?”

“Anakmu benar-benar telah diterkam hantu. Kau kira anakmu kena apa, he?”

“Aku menyangka anakku itu digigit ular atau binatang-binatang beracun lainnya.”

“Tidak. Anakmu benar-benar telah diterkam hantu. Untunglah saat itu ada orang lain yang dijadikan korbannya. Kalau tidak, pasti anakmulah yang akan binasa.”

“Kiai tahu bahwa ada orang lain?”

“Ya. Orang lain inilah yang telah diperas darahnya. Kau melihat juga?”

”Ya. Ya, Kiai. Kami melihat seseorang yang terluka. parah.”

“Suatu keuntungan bagimu. Bagi anakmu. Kalau tidak ada korban itu, anakmulah korbannya.”

“Tetapi tidak seorang pun yang merasa kehilangan atas korban itu. Tidak ada sebuah keluarga pun yang mencarinya.”

Wajah Kiai Damar menjadi tegang sejenak, namun ia ber¬kata, ”Anak itu anak bengal dan jahat. Ia sudah melarikan diri dari orang tuanya. Ia datang seorang diri di daerah ini dan men¬coba mengadu untung dengan membuka tanah baru. Tetapi orang itu pun terlampau sombong. Melebihi kesombonganmu. Jadi¬lah ini pelajaran bagimu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, bawalah obat ini kembali kepada anakmu. Aku akan memberinya mantra dan mohon maaf kepada hantu yang telah merasa terganggu. Tetapi ingat, kau harus mengurungkan niatmu membuka tanah itu.”

Dada Kiai Gringsing berdesir. Yang terpenting bagi Kiai Damar agaknya mengurungkan niat untuk membuka hutan lebih banyak lagi. Kepada para peronda dan kepada orang-orang lain dalam setiap kesempatan ia pasti berusaha mencegah meluasnya pembukaan hutan.

“He, apakah kau mengerti?” tiba-tiba Kiai Damar membentak.

“Ya. Ya, Kiai. Aku mengerti.”

”Bawalah obat ini. Ulaskan pada luka anakmu itu. Mudah-mudahan ia menjadi segera sembuh. Tetapi jangan diulangi kesalahan yang pernah dilakukannya bersamamu. Ketahuilah, bahwa setiap jengkal tanah akan dipertahankan oleh para lelembut di daerah Alas Mentaok ini.”

“Ya. Ya, Kiai. Aku akan menghindari kemungkinan yang lebih jelek bagi bagi anak-anakku.”

“He, berapakah anak-anakmu itu?”

”Dua, Kiai. Yang seorang adalah yang sekarang sedang sakit.”

“Baiklah. Pergilah,” Kiai Damar berhenti sejenak, “tetapi kau memang termasuk seorang pemberani. Mau berani da¬tang kemari di larut malam begini.”

“Terpaksa sekali, Kiai, terpaksa sekali.”

“Pergilah.”

Kiai Gringsing pun segera meninggalkan gubug itu setelah beberapa kali mengucapkan terima kasih. Tersuruk-suruk ia berjalan di dalam kegelapan malam. Setelah melampaui beberapa patok jalan setapak dan gerumbul-gerumbul yang liar, Kiai Gringsing mulai merasa seseorang mengawasinya. Tetapi ia tidak menghiraukannya. Ia berjalan terus, meskipun ia masih mempunyai beberapa rencana.

Dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia sadar, tidak hanya seorang sajalah yang mengawasinya. Pasti lebih.

Sebagai seorang perantau, maka dengan hati-hati ia mencoba mengamat-amati jalan yang dilaluinya. Kemudian dikenalnya beberapa batang pohon dengan baik. Beberapa macam tanda pengenal yang khusus dan tanda-tanda bintang di langit.

Demikianlah, ketika menurut pengenalan perasaannya ia sudah terlepas dari pengawasan, maka ia pun segera menyusup di balik gerumbul-gerumbul yang lebat. Dengan ketajaman pengamatannya maka ia pun segera melingkar kembali mendekati gubug Kiai Damar. Dengan sangat hati-hati ia berusaha mendekatinya dari belakang. Setiap langkah Kiai Gringsing selalu memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di sekitarnya. Namun ia berhasil melepaskan diri dari setiap pengamatan, sehingga ia dapat mendekati gubug itu kembali.

Kiai Gringsing menahan nafasnya ketika ia mendengar suara dari dalam gubug itu, ”Aku menunggunya lama sekali, Kiai.”

“Apakah ia sudah lama datang?”

“Sudah terlalu lama.”

“Aku tidak ada di tempat.”

“Apakah Kiai pergi?”

“Ya. Dengan para peronda. Agaknya orang itu menunggu aku di muka gubug ini, karena ketika aku kembali, orang itu sudah duduk bersila di depan pintu yang terbuka.”

“Hampir saja aku kehilangan kesabaran, dan meninggalkan tempat pengawasan itu,” berkata yang lain.

”Untung, kau tidak datang kemari. Kalau kau datang, orang itu pasti bertanya-tanya, siapakah yang telah datang ke tempat ini pula, atau kaulah yaug akan disangkanya bernama Kiai Damar, maksudku dukun sakti yang akan ditemuinya, karena ia belum pernah mengenal aku dan barangkali juga belum mengenal namaku kecuali orang-orang di barak itu telah memberitahukannya.”

“Ya,” suara yang lain lagi, ”aku pun hampir mendatanginya kemari.”

“Apakah kemudian orang itu menumbuhkan kecurigaan kalian?”

“Tidak. Ternyata tidak.”

Kiai Gringsing yang mendengarkan di balik dinding menarik nafas lega. Sesaat ia masih tetap berada di tempatnya. Menurut pengamatannya, di dalam gubug itu ada lebih dari tiga orang selain Kiai Damar sendiri.

Sejenak kemudian ia mendengar suara Kiai Damar perlahan-lahan, ”Tetapi aku telah menjumpai persoalan baru sesaat se¬belum aku menemui orang tua itu.”

“Apa, Kiai?”

“Sebenarnya aku sendiri masih ragu-ragu. Tetapi biarlah aku ceriterakan saja apa yang aku lihat.“

Orang-orang yang lain pun bergeser maju, ”Apakah ada sesuatu yang penting terjadi?”

“Ya,” jawab Kiai Damar yang kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya bersama para peronda itu, dan yang kemudian telah melibatnya dalam perkelahian.

”Nah, aku sendiri tidak mengerti bagaimana kita harus menanggapi keadaan itu.”

Sejenak tidak terdengar sesuatu. Namun kemudian salah se¬orang bertanya, ”Apakah Kiai menganggap bahwa yang telah Kiai temui benar-benar prayangan dari Gunung Merapi?”

“Itulah yang meragukan aku. Tetapi untuk menolak kepercayaan itu pun agaknya terlampau berat.”

Ruangan itu kembali menjadi sepi. Yang terdengar hanya¬lah desah nafas yang bersahut-sahutan.

“Sudahlah,” berkata Kiai Damar, ”sebaiknya kita menunggu perkembangan keadaan. Rencana kita sementara ini berjalan terus.”

“Baiklah. Kita masih harus menunggu bukti-bukti mendatang dari makhluk yang menyebut dirinya bernama Kiai Dandang Wesi itu.”

Belum lagi mereka selesai berbicara, tiba-tiba mereka terkejut. Serentak mereka meraba senjata masing-masing ketika mereka mende¬ngar suara tertawa dalam nada yang tinggi meskipun lamat-lamat se¬perti yang sudah pernah didengar oleh Kiai Damar, seolah-olah suara itu sedang mentertawakan pembicaraan mereka.

“Suara itulah yang pernah aku dengar,” desis Kiai Damar.

“Marilah kita cari,” ajak seorang dari mereka.

Kiai Damar termenung sejenak lalu, ”Tidak ada gunanya. Hantu itu pasti sudah pergi atau menghindarkan diri dari tang¬kapan mata wadag kita. Biarlah ia pergi, sementara kita harus semakin berhati-hati.”

Kawan-kawan Kiai Damar itu pun menjadi termangu-mangu sejenak. Se-benarnya mereka pun ragu-ragu, apakah mereka akan dapat menemu¬kan sumber suara itu apabila mereka mencarinya. Karena itu, maka mereka pun mengangguk-anggukkan kepalanya, dan salah seorang berkata, ”Soalnya akan bertambah sulit. Tetapi yang aneh adalah justru adanya Kerajaan Mataram Kajiman. Kita yang tinggal di sini dan banyak mengetahui mengenai Alas Mentaok dengan segala isinya, belum pernah mendengar nama Perabu Talangsari.”

Kiai Damar tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi tegang.

Dalam pada itu Kiai Gringsing berjalan dengan sangat tergesa-gesa kembali ke barak. Ternyata tengah malam telah lama lampau. Seandainya Agung Sedayu tidak sabar menunggu, maka keadaan di barak itu pasti akan segera berubah.

Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu hampir tidak dapat menahan hati lagi. Dengan gelisahnya ia menunggu. Ketika te¬ngah malam lewat, dan gurunya belum juga datang, maka dengan dada berdebar-debar ia bangkit dan duduk di samping Swandaru.

“Guru belum datang?” desis Swandaru yang ternyata belum tidur juga.

Agung Sedayu menggeleng, ”Belum. Aku menjadi gelisah. Guru berpesan, apabila lewat tengah malam guru tidak da¬tang, maka aku harus berbuat sesuatu.”

“Sekarang?”

“Semakin cepat, semakin baik.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya, “Aku ikut bersama Kakang. Bukankah Kakang akan mencari Ki Gede Pemanahan dan melaporkan apa yang telah terjadi?”

Agung Sedayu mengangguk. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi kau masih terlampau lemah.”

“Tidak. Aku sudah hampir pulih kembali. Obat yang diberikan oleh guru terlampau baik, meskipun masih juga terasa kelemahan pada sendi-sendi.”

“Tinggallah kau di sini.“

“Tidak, Kakang, aku akan ikut serta.“

“Hus,” desis Agung Sedayu, ”jangan terlampau keras.”

“Kalau aku tinggal di sini,” berkata Swandaru kemudian, “mungkin aku tidak akan dapat mengendalikan diri. Mungkin aku berbuat sesuatu atas orang-orang dungu itu.”

Agung Sedayu menjadi bimbang. Tetapi setiap saat agak¬nya menjadi sangat berharga. Kalau gurunya benar-benar mengalami kesulitan, maka ia segera memerlukan seseorang yang dapat membantunya. Orang itu tidak lain adalah Ki Gede Pemanahan.

Namun kemudian ia berdesis, ”Aku akan menunggu, seje¬nak. Aku akan menengoknya di halaman. Kalau jelas bahwa guru tidak datang, sebentar lagi aku akan pergi. Kalau kau sudah merasa baik, kita akan pergi bersama-sama.”

“Sekarang, apa yang akan Kakang lakukan?”

“Turun ke halaman.”

“Terus pergi?”

“Tidak. Kalau aku pergi, aku akan memberitahukan kepadamu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

”Kau harus tetap berbaring. Aku akan pergi ke luar. Kalau ada yang melihatku dan bertanya, aku akan menjawab bahwa kau haus.”

Swandaru mengangguk-angguk pula.

Agung Sedayu pun kemudian perlahan-lahan berjalan di antara orang-orang yang sudah tidur nyenyak. Didorongnya pintu barak itu dengan hati-hati. Sejenak dilemparkan pandangan matanya ke luar. Ke dalam kegelapan malam. Tanpa sesadarnya ia meraba lambungnya. Ketika terasa tangkai cambuk di bawah bajunya, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hati ia berkata, ”Kalau terpaksa, apa boleh buat.”

Dengan hati-hati pula ia kemudian melangkahkan kakinya ke ¬luar. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia mendengar seseorang bertanya, ”He, mau kemana?“

Agung Sedayu berpaling. Dilihatnya orang yang bertubuh kekar itu kini ternyata berbaring di luar pintu.

“Adikku yang sakit memerlukan air. Ia sangat haus.”

“Ah gila kau. Apakah kau tidak tahu bahwa itu sangat berbahaya bagimu dan bagi adikmu yang sedang sakit itu?”

“Tetapi ia haus sekali.”

“Kemana kau akan mencari air?”

“Ke sumur.”

“Oh, kau memang anak yang tidak tahu diri. Apakah kau tidak takut ditelan hantu yang kadang-kadang berkeliaran di malam hari?”

“Kalau hantu itu lewat, kita akan mengetahuinya,” jawab Agung Sedayu.

“Darimana kau tahu?”

“Suara gemerincing itu.”

”Bodoh. Bodoh. Kau adalah anak dungu yang sombong. Tidak semua hantu memakai kelinting dan menumbuhkan suara gemerincing. Kau mendengar ceritera orang yang kurus itu? Di bawah pohon belimbing dilihatnya bayangan yang menakutkan.”

“Ya. Ya.”

“Nah, kembalilah saja ke tempatmu.”

“Tetapi, bagaimana kalau adikku itu mati. Ia kehausan sekali. Nanti ayah akan marah kepadaku.”

“Tunggu saja sampai ayahmu datang. Bukankah ia sudah mencari obat?”

“Maksudku, kalau adikku itu mati sebelum ayah datang.”

”Jadi bagaimana maksudmu?”

“Aku akan mengambil air.”

“O, kau memang anak gila. Terserahlah kepadamu kalau kau berani menanggung akibat bagimu sendiri dan bagi seluruh isi barak ini.”

“Apakah hubungannya dengan isi barak ini?”

“Hantu-hantu yang marah pasti akan mengutuk kita semua seolah-olah kita tidak dapat mencegah kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sendiri di sini.”

“Tetapi apakah hantu-hantu itu pemarah? Apakah salah kita kalau kita sekedar mengambil air di malam hari?”

Wajah orang yang bertubuh kekar itu menjadi merah. Mata¬nya memancarkan sorot yang aneh. Ditatapnya Agung Sedayu dengan pandangan yang tajam, seolah-olah ingin menembus isi jantungnya.

“Kau memang anak yang keras kepala. Sejak kau datang bersama ayahmu kami sudah mengira, bahwa kau dan keluarga¬mu itu adalah orang-orang bodoh yang sombong, yang tidak mau mendengarkan nasehat orang lain.”

Agung Sedayu masih berdiri tegak di tempatnya. Namun dengan demikian ia menjadi semakin bernafsu untuk pergi ke luar. Usaha orang itu untuk mencegah dan menakut-nakutinya telah menumbuhkan berbagai pertanyaan di hati Agung Sedayu.

“Tetapi,” berkata Agung Sedayu, ”adikku sudah terlampau haus. Kalau aku bertemu dengan hantu itu, biarlah aku menyembahnya. Mungkin hantu itu pun akan beriba hati dan membiarkan aku lepas dari kemarahannya.”

“Persetan,” bentak orang yang bertubuh kekar itu. Namun ternyata pembicaraan itu telah membangunkan bebe¬rapa orang yang tidur di sekitarnya. Di sekitar orang yang ber¬tubuh kekar itu.

“Ada apa?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Anak gila itu akan pergi ke sumur,” jawab orang kekar ini.

“Di malam begini?”

“Aku mencoba mencegahnya. Tetapi ia keras kepala.”

“Adikku sakit keras. Ia merasa haus sekali. Meski pun hanya setitik air, ia ingin minum air sumur.”

“Kenapa kita ributkan anak itu?“ bertanya seorang yang sudah ubanan. ”Biar saja apa yang akan terjadi atasnya. Kita sudah mencoba memberinya peringatan bahkan sudah mencoba mencegahnya. Tetapi kalau ia memang keras kepala, itu tang¬gung jawabnya sendiri.”

“Jangan hiraukan anak itu,” berkata yang lain, ”apa pun yang akan dikerjakannya. Adiknya sudah kualat dan sakit begitu parah. Kalau peringatan itu masih belum disadarinya, biarlah akibat apa saja yang akan menimpanya kelak.”

Beberapa orang yang mengangkat kepalanya, segera kembali melingkar sambil berkerudung kain.

“Tidak!” tiba-tiba orang yang kekar itu membentak, sehingga mereka yang sudah ingin kembali tidur itu terbangun pula. ”Kutukan hantu-hantu itu tidak akan hanya sekedar menimpa ketiga ayah beranak ini. Tetapi kita pun akan mengalami akibatnya pula.”

“Kenapa kita?”

“Mereka menganggap kita sebagai suatu kesatuan. Bukan seorang demi seorang. Karena itu kesalahan seseorang akan dapat menimpa kepada kita seluruhnya, apabila mereka menjatuhkan kutukan.”

“Tetapi,” Agung Sedayu memotong, ”apa salahnya kalau aku hanya sekedar ingin mengambil air? Bukankah hal itu wajar sekali dan tidak akan mengganggu apa pun?”

“Bodoh, kau. Bodoh sekali. Bagaimana kalau sumur itu bagi mereka terletak dekat dengan pembaringan? Kau tentu akan mengejutkan mereka. Kalau anak-anak mereka terbangun dan mena¬ngis, kau akan dicekiknya.”

Agung Sedayu telah hampir kehilangan segenap kesabarannya, sehingga hampir di luar sadarnya ia menyahut, ”Kalau mereka memang akan berbuat sewenang-wenang, apa boleh buat. Biarlah aku dicekik.”

Jawaban itu benar-benar telah mengejutkan. Bukan saja orang yang tinggi kekar itu, tetapi juga orang-orang lain yang mendengar¬nya. Seorang yang bertubuh pendek tiba-tiba bangkit dan duduk sambil meraba-raba matanya. Katanya, ”Jangan berkata begitu, anak muda. Itu tidak baik.”

“Aku sangat memerlukan air sekarang,” berkata Agung Sedayu kemudian. Dan tanpa menghiraukan siapa pun lagi, Agung Sedayu pun segera melangkahkan kakinya.

Tetapi ia terpaksa berhenti ketika orang yang tinggi kekar itu pun meloncat dan berdiri dua langkah saja di hadapannya.

”Kau sangat menyakitkan hati kami di sini,” berkata orang yang kekar itu. ”Sebenarnya aku pun tidak akan peduli lagi, apakah kau akan mati karena kesombonganmu. Tetapi kata-katamu yang menusuk perasaan kami itu harus kau tebus.”

Agung Sedayu masih tetap sadar, betapa kejengkelan serasa menghentak-hentak dadanya. Karena itu, maka ia pun mundur selangkah.

“Aku tidak bermaksud demikian,“ katanya.

“Diam, diam. Kalau kau berani menjawab sekali lagi, aku tampar mulutmu.”

Agung Sedayu benar-benar tidak menjawab. Sementara itu beberapa orang telah bangkit pula dan mencoba menyabarkan orang yang tinggi kekar itu, ”Sudahlah. Kau terlampau membencinya, sehingga setiap kali kau marah kepadanya. Sekarang jangan, jangan hiraukan lagi anak bengal itu. Biarlah ia menerima akibat langsung dari kebengalannya.”

“Tetapi ia menghina kami.”

“Bukan maksudnya. Anak itu sedang bingung karena adiknya yang sakit itu.“

Orang yang tinggi kekar itu menggeretakkan giginya. Geram¬nya, ”Kau masih bernasib baik. Pada suatu, saat aku tidak akan bersedia menyabarkan diri. Ingat, kau harus tahu bahwa di seluruh daerah ini, tidak ada seorang pun yang berani melawan kehen¬dakku. Semua orang-orang ini tidak. Para petugas pun tidak.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Kata-kata itu selalu diulang-ulanginya.

“Sudahlah, pergilah,“ berkata seseorang kepada Agung Sedayu, ”kalau kau masih berdiri saja di situ, mungkin mulutmu benar-benar akan berdarah dan membengkak. Aku pernah menyaksikan hal yang serupa pada seorang anak muda yang sombong seperti kau. Tetapi akhirnya anak itu hampir mati ketakutan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi ia sudah berniat untuk keluar dari barak itu, sehingga ketika orang-orang itu melihatnya berjalan juga keluar, mereka menggeleng-gelengkan kepala. Salah seorang bergumam, ”Anak yang keras hati.”

Orang yang tinggi kekar itu menggeram. Kalau saja tidak terhalang oleh beberapa orang, ia sudah meloncat dan menerkam Agung Sedayu.

Agung Sedayu yang kemudian turun ke halaman barak itu tidak berpaling lagi. Ia tidak mau kehilangan kesempatan itu, sehingga dengan tergesa-gesa ia pun kemudian menghilang di dalam gelap.

Ketika hiruk-pikuk di dalam barak sudah tidak terdengar lagi, barulah Agung Sedayu menyadari keadaan dirinya. Ia kini berdiri di dalam gelapnya malam. Bagaimana pun juga terasa bulu-bulunya meremang.

Namun, anak muda itu kemudian menghentakkan tangannya sambil menggeram, ”Manusia adalah makhluk terkasih dari Yang Maha Kuasa. Tidak ada makhluk yang akan dapat mengganggunya, selagi manusia itu sendiri tidak memisahkan diri dari Tuhannya.”

Agung Sedayu pun kemudian seolah-olah mendapatkan kekuatan dan keberanian yang baru. Perlahan-lahan ia berjalan di dalam gelap¬nya malam. Ditatapnya jalur jalan yang membujur seakan-akan menghunjam ke dalam kelam. Dari sana gurunya nanti akan da¬tang, apabila tidak ada kesulitan di jalan.

“Tengah malam telah lewat,” desis Agung Sedayu. ”Kalau guru tidak segera datang, aku harus menghadap Ki Gede Pemanahan.”

Tetapi Agung Sedayu belum tahu dengan pasti, jalan yang paling dekat menuju ke pusat tanah yang sudah dibuka ini.

“Tetapi aku sudah mendapat ancar-ancarnya,” ia bergumam pula.

Tanpa sesadarnya Agung Sedayu berjalan semakin lama se¬makin jauh. Tetapi ketika ia berpaling, ia masih melihat cahaya lampu yang kemerah-merahan menyusup dari celah-celah dinding.

“Swandaru akan ikut serta, apabila aku pergi ke tempat Ki Gede Pemanahan,” desis Agung Sedayu.

Namun selagi Agung Sedayu berjalan selangkah demi selangkah menyongsong gurunya, yang sama sekali masih belum tam¬pak, meskipun tengah malam telah agak jauh lalu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara yang aneh dari balik gerumbul. Dengan serta-merta Agung Sedayu mempersiapkan dirinya meski pun ia belum bersikap.

Dadanya berdesir tajam sekali ketika kemudian ia mendengar suara gemerincing. Pikirannya segera lari kepada pengenalannya atas suara itu, seperti yang pernah didengarnya di sekitar barak beberapa malam yang lalu.

“Hantu itu,” desisnya.

Tetapi segera ia mengenal dirinya sendiri sebagai makhluk terkasih dari Yang Maha Kuasa. Yang lebih kuasa dari hantu-hantu yang mana pun juga. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berdiri tegak dengan kaki renggang, seolah-olah ia sedang menghadapi lawan yang menantangnya berperang tanding. Sedang tangan kanannya telah melekat pada tangkai cambuknya yang membelit di lambung di bawah bajunya.

Namun dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar, bahkan tangannya menjadi gemetar ketika ia melihat sesosok tubuh yang tinggi, tinggi sekali. Hampir dua kali lipat tubuhnya sendiri. Di ujung tubuh yang tinggi kehitam-hitaman itu, menjenguk sebuah tengkorak yang mengerikan. Di seputar matanya yang hitam men¬jorok ke dalam, tampak cahaya yang berkeredipan.

Tanpa sesadarnya, Agung Sedayu melangkah surut. Ia adalah seorang anak muda yang di masa kecilnya dikungkung oleh pera¬saan takut. Takut kepada apa pun juga. Di jalan menuju ke Sang¬kal Putung, ia hampir menjadi pingsan ketika teringat olehnya Hantu Bermata Satu yang menurut pendengarannya menunggui pohon randu alas di tikungan.

Setelah ia berhasil memecahkan tali yang mengikat perasa¬annya itu, kini tiba-tiba ia telah bertemu dengan hantu. Hantu yang ditakuti oleh sekian banyak orang.

Hampir saja Agung Sedayu dicengkam kembali oleh pera¬saan takutnya. Namun sekali lagi ia menghentakkan perasaannya. Diam-diam ia berdoa di dalam hatinya. Suatu keyakinan yang kuat kini telah tumbuh di hatinya, keyakinan yang belum dipunyainya pada saat ia berhadapan dengan hantu Bermata Satu pada pohon randu alas itu.

Karena itu, Agung Sedayu kini tidak lari dan juga tidak pingsan. Ia percaya kalau ia akan mendapat kekuatan untuk melawan hantu itu. Lahiriah, yang dapat diberikan oleh wadagnya dan kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya pasti akan terungkat karena Yang Maha Kuasa pasti membenarkan perla¬wanannya.

Tiba-tiba Agung Sedayu itu menggeram. Ketika hantu yang tinggi itu melangkah maju, terayun-ayun seperti sebatang pohon jambe. Agung Sedayu melangkah maju.

Justru karena itu, maka langkah hantu itu pun terhenti. Ia agaknya menjadi heran melihat Agung Sedayu yang seolah-olah tidak menjadi takut sama sekali.

Bahkan Agung Sedayu yang telah mapan itu kemudian ber¬tanya meskipun suaranya gemetar, ”Kaulah yang disebut hantu?”

Hantu itu tidak segera menjawab. Agaknya ia masih berdiri terheran-heran.

“He, apakah hantu-hantu dapat berbicara?” desak Agung Sedayu.

Agung Sedayu terkejut ketika ia mendengar jawaban meleng¬king, ”He, anak muda. Kau mempunyai keberanian yang luar biasa.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ternyata hantu-hantu berbicara dengan perutnya, karena tidak ada lagi mulut dan bibirnya.

“Anak muda,” suaranya melengking-lengking, “aku masih akan memaafkan engkau, kalau engkau merubah kelakuanmu dan minta maat kepadaku.”

“Apa salahku?” bertanya Agung Sedayu.

“Kau terlampau sombong meskipun kau pemberani. Tetapi kau amat dungu.”

Agung Sedayu menjadi heran. Hantu-hantu itu menganggapnya terlampau sombong dan dungu seperti orang yang kekar dan orang yang kekurus-kurusan itu.

“Apakah kau menganggap aku terlampau sombong apabila aku mencemaskan nasib ayahku yang sedang mencari obat untuk adikku yang sakit?”

“Ayahmu juga terlampau sombong. Aku sudah memperingatkan kalian dengan cara yang paling baik. Adikmu yang sakit itu.”

Agung Sedayu terdiam sejenak. Sekilas dikenangnya adiknya yang sedang terbaring di barak. Tetapi sakit Swandaru itu sebe¬narnya sudah jauh berkurang. Bahkan sudah hampir tidak berpengaruh lagi. Sebentar lagi kekuatannya pun pasti akan segera pulih kembali.

“He. Apakah kau mendengar?” bertanya hantu itu. Suara¬nya menjadi semakin tinggi.

“Ya. Aku mendengar,” jawab Agung Sedayu, ”tetapi kenapa kalian berbuat demikian? Apakah kami telah merugikan kalian?”

“Kau memang benar-benar dungu. Hutan ini adalah hutan kami. Kalian sama sekali tidak sopan. Kalian telah merusak kerajaan kami.”

“Hutan ini terlampau lebat dan luas. Kenapa kita harus saling berebutan?”

”Kalianlah yang datang kemudian.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk melihat hantu itu sebaik-baiknya. Namun malam terlampau gelap, apalagi bayangan dedaunan dan gerumbul-gerumbul yang membuat malam semakin kelam.

”Berjanjilah,” desis hantu itu, ”berjanjilah bahwa kau akan mengurungkan niatmu.”

“Aku adalah sebagian kecil saja dari mereka yang membuka hutan. Kalau kalian, hantu-hantu memang berkeberatan, sebaiknya kalian menemui Ki Gede Pemanahan dan Mas Ngabehi Loring Pasar. Kepada keduanya itulah kalian harus berbicara.”

“Tentu, raja kami akan berbicara kepada mereka.”

Agung Sedayu masih akan menjawab lagi, tetapi ia terpe¬ranjat ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara tertawa. Bukan saja Agung Sedayu, hantu itu pun ternyata dapat terkejut juga.

Sejenak keduanya, Agung Sedayu dan hantu yang tinggi itu berdiri mematung. Mereka serentak berpaling ketika mereka men¬dengar suara gemerasak, kemudian terdengar sesuatu terjatuh di tanah.

Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Apakah kawan hantu-hantu itu berdatangan dan akan bersama-sama mengeroyoknya? Dengan demikian maka tangannya pun segera meraba tangkai cambuknya. Kalau ia terpaksa mempergunakannya, ia mengharap bahwa senjatanya itu akan dapat membantunya.

Tetapi sekali lagi Agung Sedayu dan bahkan hantu yang tinggi itu terperanjat. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara ter¬tawa itu kembali. Ketika mereka berpaling, tanpa mereka ketahui darimana datangnya, mereka melihat seonggok benda yang ke¬hitam-hitaman di dalam kelamnya malam dan bayang-bayang dedaunan.

“Ih, ih,” suaranya terdengar aneh sekali, ”aku sudah bertemu dengan rajamu, Raja Kerajaan Mataram Kajiman. Aku baru saja menghadap Prabu Talangsari. Kau dengar he, jerangkong yang bodoh?”

Hantu yang tinggi itu berdiri terheran-heran. Sejenak ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan setapak ia melangkah surut.

“Kau jangan mengucapkan nama raja Mataram yang ber¬gelar Perabu Talangsari dengan sekendak hatimu,“ benda yang kehitam-hitaman yang teronggok di tanah itu berkata seterusnya, ”aku adalah Kiai Dandang Wesi, pemomong Sutawijaya yang telah mrayang dan menjadi hulubalang kerajaan hantu di Gunung Merapi. Aku telah menemui Sri Perabu Talangsari. Bertanyalah kepada senapati-senapatimu he, jerangkong yang bodoh. Kau adalah hantu yang rendah derajadmu meskipun bentukmu menakutkan bagi anak-anak.”

Hantu yang tinggi itu untuk sejenak berdiam diri. Namun kemudian selangkah demi selangkah ia mundur.

“Pergilah,” bentak benda hitam yang teronggok di tanah.

Hantu yang tinggi itu berhenti sejenak. Namun tiba-tiba ia mengaduh. Sebuah benda telah mengenainya. Tepat pada perut¬nya yang mengeluarkan suara.

“Kalau kau tidak pergi,” berkata benda yang teronggok itu, ”kau akan mendapat bentuk yang lain dari bentukmu yang sekarang. Dan kau akan menjadi hantu yang paling rendah derajadmu. Endeg pangamun-amun yang setiap siang dijemur di panas matahari yang terik, atau sebangsa klitik yang akan di¬pakai sebagai alas tempat duduk Perabu Talangsari.”

Hantu yang tinggi itu semakin lama semakin menjauhi ben¬da itu. Ketika sebagian tubuhnya telah tertutup oleh gerumbul, maka tiba-tiba saja kepalanya terayun dan hilang di dalam gelapnya malam. Yang terdengar kemudian adalah gemerisik daun-daun yang tersibak.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Jantungnya seakan-akan berdentang semakin keras. Tiba-tiba saja ia dihadapkan pada dua jenis hantu yang bermusuhan.

Namun ketika ia berpaling, darahnya tersirap. Hantu yang seakan-akan tidak mempunyai bentuk itu telah lenyap pula tanpa bekas.

Sejenak Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Digosok-gosoknya matanya, seakan-akan ia tidak percaya pada penglihatannya. Bahkan ia pun kemudian berdesis, “Bukankah aku tidak bermimpi?”

Beberapa saat Agung Sedayu berdiri di tempatnya. Teka-teki yang di hadapinya ternyata terlampau sulit untuk dipecah¬kannya.

”Aku akan mengatakannya kepada guru. Mungkin guru pernah melihat jenis-jenis hantu serupa itu,” Agung Sedayu ber¬kata kepada diri sendiri.

Namun, dengan demikian ia pun segera teringat kepada gu¬runya. Tengah malam telah jauh lampau. Tetapi Kiai Gringsing masih juga belum kembali.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun pertemuannya dengan hantu-hantu itu justru membuatnya menjadi semakin tatag. Karena itu maka ia pun melanjutkan langkahnya menyusuri jalan sempit yang akan dilalui oleh gurunya.

Dalam keremangan malam, sekali lagi langkahnya terhenti. Ia melihat bayangan kehitam-hitaman di jalan yang dilaluinya itu pula. Semakin lama menjadi semakin dekat.

Sekali lagi Agung Sedayu bersiaga. Kini ia merasa benar-benar telah berada di sebuah dunia yang asing. Dunia hantu-hantu. Seakan-akan ia berada di tengah-tengah masyarakat hantu yang mengerikan.

Tetapi Agung Sedayu tidak lari. Ia berdiri tegak dengan ketabahan hati, menunggu bayangan yang kehitam-hitaman itu menjadi semakin dekat pula.

Namun Agung Sedayu itu kemudian menarik nafas panjang. Panjang sekali. Semakin dekat bayangan itu, semakin jelas ba¬ginya, bahwa bayangan itu adalah sesosok tubuh seseorang yang berjalan perlahan ke arahnya. Dan Agung Sedayu pun segera mengenal pula bahwa orang itu adalah gurunya, Kiai Gringsing.

“Guru,” desis Agung Sedayu.

“Kenapa kau berada di sini?” bertanya Kiai Gringsing.

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Ditatapnya Kiai Gringsing tajam-tajam seperti hendak meyakinkan dirinya, bahwa ia benar-benar berhadapan dengan gurunya.

“Apakah yang aku hadapi ini bukan sesosok hantu yang menyamar sebagai Guru?” pertanyaan itu tiba-tiba saja melonjak di hatinya.

Namun wajahnya kemudian menjadi kemerah-merahan ketika ia mendengar gurunya seakan-akan dapat menebak isi hatinya, ”Agung Sedayu, kenapa kau memandangku begitu? Apakah kau ragu-ragu bahwa aku benar-benar gurumu? Cobalah, raba tubuhku. Menurut pendengaranku, tubuh hantu terlampau dingin.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ketika ia mendengar gurunya tertawa, ia pun tertawa pula.

“Aku menjadi sangat cemas,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”tengah malam telah jauh lewat.”

“Ya. Aku harus menunggu Kiai Damar, dukun itu. Ternyata ia sedang pergi dari rumahnya.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya, ”Apakah guru lama menunggu?”

“Ya, cukup lama.”

“Apakah Guru pasti bahwa Kiai Damar yang guru katakan itu akan kembali malam ini juga?“

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum, ”Tentu tidak.”

“Bagaimana kalau ia tidak kembali?”

“Tentu aku tidak akan menunggu sampai besok,” jawab gurunya. ”Sebenarnya aku pun sudah mulai gelisah, ketika bin¬tang Gubug Penceng tepat di atas ujung Selatan Bumi.”

”Aku sudah berniat untuk menghadap Ki Gede Pemana¬han. Tetapi untunglah, aku belum berangkat.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, ”Bagaimana dengan adikmu?”

“Ia menjadi semakin baik. Kalau aku akan menghadap Ki Gede Pemanahan, ia akan serta.”

“Aku kira ia memang sudah berangsur sembuh, meskipun kekuatannya belum pulih kembali.”

“Sayang,” berkata Agung Sedayu tiba-tiba, ”Guru tidak datang lebih cepat.”

“Kenapa?”

“Aku terpaksa bertengkar dengan orang yang tinggi kekar itu.”

“Kau apakan orang itu?”

“Aku tidak berbuat apa-apa,“ sahut Agung Sedayu yang kemudian menceriterakan pertengkarannya dengan orang yang kekar itu.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (57)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-53/trackback/

RSS feed for comments on this post.

57 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kamis,23 juli 2009
    Napak Tilas Padepokan Adbm……..Tombo Ngantuk

    • Setu 5 Mei 2012

      napak tilase Ki Gundul ….. tombo kaget…eh…kangen ! 😀

      • napak tilase ki kartu nggoleki tombol anget eh angin

  2. he he …
    mulai sakaw, kluyuran kesana-kemari.

    • he he …heeeeeee,

      ki SENO mulai berDINAS lagi , menyidak kesana-kemari.

      • menyiduk 😛

        • menyidik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: