Buku 52

Tidak ada orang yang menyahut. Namun mereka memang sering mendengar hal-hal serupa itu. Orang tua yang sampai hati mengorbankan anak-anaknya untuk mendapatkan kepuasan diri.

“Tetapi Truna Podang justru terlampau cinta kepada anak-anaknya,” berkata seseorang di dalam hati. Tetapi ia tidak mau berbantah lagi. Apalagi malam menjadi semakin dalam, dan ketakutan telah mulai merayapi setiap hati. Terlebih-lebih mereka yang berada di serambi karena ruang di dalam barak telah terlam¬pau penuh.

Dalam pada itu Kiai Gringsing telah menjadi semakin jauh dari barak. Ia masih melihat sinar lampu yang berkeredipan di gardu pengawas yang sepi dan sinar-sinar yang meloncat ke luar dari gubug-gubug yang berserakan. Namun setiap pintu dari gubug-gubug itu telah tertutup rapat. Tergambar di dalam angan-angan Kiai Gringsing, orang-orang yang berjejal-jejal di dalam gubug-gubug itu, dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.

Ketika Kiai Gringsing sudah menjadi semakin jauh dari ba¬rak, maka ia pun segera menyingsingkan kain panjangnya. Sekali ia menengadahkan kepalanya, memandang langit yang ditaburi oleh bintang.

Dan orang tua ternyata telah memanjatkan doa di dalam hati. Baginya tidak ada kekuasaan yang melampaui kekuasaan Yang Maha Kuasa. Seribu jin, seribu setan, dan hantu-hantu tidak akan dapat mengatasi kuasa-Nya dan kehendak-Nya. Selagi ia masih di dalam perlindungan-Nya, maka apa saja yang dihadapi tidak akan dapat menggetarkan sehelai bulunya pun.

“Mudah-mudahan aku tidak dilepaskan-Nya karena aku sudah terlampau banyak berbuat dosa,” desisnya.

Kiai Gringsing itu pun kemudian mempercepat langkahnya menembus gelapnya malam. Ia kini bukan lagi Truna Podang yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Tetapi kini ia adalah Kiai Gringsing yang cekatan dan trengginas. Diloncatinya lubang-lubang yang ber¬serakan di tengah-tengah jalan yang semakin lama menjadi semakin jelek.

Kiai Gringsing mengangkat kepalanya ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara yang berdesing berputar-putar. Semakin lama sema¬kin jelas, sehingga langkahnya pun terganggu karenanya. Suara itu seolah-olah berputaran di udara tidak henti-hentinya.

Sementara itu, di barak yang ditinggalkan oleh Kiai Gring¬sing, semakin lama suasana menjadi semakin sepi. Hanya de¬sah nafas yang semakin teratur sajalah yang seakan-akan saling sahut menyahut.

Namun beberapa orang yang belum tertidur tiba-tiba terkejut ketika mendengar seseorang meloncat masuk dengan nafas terengah-engah. Mereka yang tanpa sadar, berpaling ke arah pintu me¬lihat orang yang kekurus-kurusan itu berdiri dengan tubuh gemetar.

“Kenapa?” bertanya seseorang.

Orang yang kurus itu menggelengkan kepalanya, ”Tidak ada apa-apa.”

“Tetapi kenapa kau menjadi ketakutan?” desak orang lain.

Orang yang kurus itu berpaling sejenak. Dipandanginya pintu yang memang tidak pernah tertutup itu.

“Kenapa?” desak yang lain lagi

“Aku kira tidak ada apa-apa. Tetapi aku sajalah yang ter¬lampau ketakutan.”

“Ya, tetapi kau kenapa?”

“Aku melihat sesuatu. Tetapi aku kira hanya mataku saja¬lah yang salah.”

“Kau melihat apa?”

“Hanya sebuah bayang-bayang di bawah pohon belimbing.“

“He, kenapa kau sampai ke bawah pohon belimbing malam-malam begini?” tiba-tiba orang yang bertubuh kekar bertanya.

“Maksudku, mumpung belum terlampau malam. Aku memang ingin mengurangi kemungkinan untuk keluar di malam hari.”

“Kenapa tidak di pakiwan he?”

“Aku takut ke pakiwan.“

“Bodoh kau. Justru di bawah pohon belimbing itu yang seharusnya kau takuti. Kau tidak hanya membayangkan atau ma¬tamu sajalah yang salah lihat. Aku yakin kau pasti melihat sesuatu,” berkata orang yang bertubuh kekar itu.

Orang yang kekurus-kurusan itu tidak menjawab lagi. Dengar tubuh yang masih gemetar ia melangkah ke tempatnya. Punggungnya yang tidak tertutup oleh sehelai baju tampak berkeringat seperti seseorang yang baru saja melakukan pekerjaan yang terlampau berat.

Tetapi orang itu ternyata tidak segera pergi tempatnya. Dengan ragu-ragu ia langsung pergi ke sudut ruangan, di mana Swandaru sedang berbaring ditunggui oleh Agung Sedayu.

“Bagaimana dengan keadaanmu?” ia bertanya.

Swandaru hanya mengedipkan matanya saja perlahan-lahan. Sedang Agung Sedayulah yang menjawab, ”Mudah-mudahan ayah mendapat obatnya.”

Orang yang kekurus-kurusan itu mengangguk-angguk. Sekali-sekali dirabanya dahi Swandaru. Tetapi anak itu sudah tidak panas lagi. Bahkan perlahan-lahan keringatnya pula tampak mengembun di keningnya. Keringatnya yang wajar.

Orang yang kekurus-kurusan itu menjadi heran. Sebelum Swandaru diobati, ia sudah menjadi agak baik, meskipun tampaknya ia masih sangat lemah.

“Tetapi aku tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Mungkin ia sudah berangsur baik karena racun yang menyusup ke dalam tubuhnya bukannya racun yang keras,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu di dalam hatinya.

Namun pertanyaan yang diucapkan kemudian adalah, ”Bagaimana rasanya badanmu sekarang?”

Ternyata kedua anak-anak murid Kiai Gringsing itu sudah kejangkitan kebiasaan gurunya. Meskipun tidak berjanji hampir bersamaan mereka menjawab, ”Parah.”

“He?” orang itu menjadi heran, ”Kau tidak begitu pucat, dan tubuhmu menjadi hangat seperti orang yang sehat.”

Swandaru menggelengkan kepalanya dan Agung Sedayu berkata, ”Memang mungkin tampaknya demikian. Tetapi ke¬adaannya mengkhawatirkan, menurut ayah dan dukun di rumah sebelah barak ini.”

“Tetapi bagaimana dengan Sangkan itu sendiri?“ potong orang itu, ”Bagaimana dengan kau? Kau merasakan dan yang paling mengerti tentang dirimu sendiri.”

Swandaru menggeleng lemah. Suaranya hampir tidak terdengar, ”Aku tidak kuat lagi.”

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi heran ketika mereka melihat kepuasan tersirat di wajah orang yang kekurus-kurusan itu. Katanya, ”Pelajaran yang mahal bagimu. Peristiwa ini harus selalu menjadi pertimbanganmu di setiap langkah. Aku menganjurkan agar kau berdua mengajak ayahmu mengurungkan niatnya menebas hutan di daerah yang werit itu. Beberapa orang telah menarik diri. Bahkan di daerah ini pun semakin lama menjadi se¬makin sepi. Satu-satu orang-orang yang semula telah bertekad untuk membersihkan daerah ini menjadi mundur dan meninggalkan tempat yang mengerikan ini.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah kau mengerti maksudku?”

Seperti yang dipesankan gurunya Agung Sedayu mengang¬guk pula, meskipun ia ragu-ragu.

“Jangan menunggu sampai terlambat.”

Agung Sedayu mengangguk lagi.

“He, apakah kau mendengar kata-kataku?” orang itu tiba-tiba membentaknya. ”Aku benar-benar berniat baik.”

“Ya, aku mendengar. Dan aku sudah mengangguk. Tetapi semuanya itu tergantung kepada ayah. Mungkin ia mendapatkan keputusannya setelah ia menghadap dukun sakti itu.”

“Kaulah yang harus ikut memaksanya untuk kepentingan adikmu dan kau sendiri.”

Agung Sedayu tidak menjawab, tetapi ia mengangguk saja.

”He, kenapa kau hanya mengangguk-angguk saja seperti nini towok? Apakah kau tidak senang mendengarkan nasehatku, he?“ orang itu menjadi jengkel.

“O, bukan maksudku. Aku mendengarkannya dan, memang menjadi kebiasaanku untuk mengangguk-anggukkan kepala apabila aku mendengarkan nasehat seseorang,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi kau membuat aku menjadi sakit hati,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu. ”Dengar. Sekarang di dekat barak ini, di bawah pohon belimbing, telah muncul sesosok hantu. Mungkin kaulah yang menyebabkannya. Selama ini aku tidak pernah diganggunya meskipun seandainya memang sudah ada di situ sejak lama.”

Agung Sedayu mengangguk lagi. Tetapi ketika ia sadar, se¬gera ia menjawab, ”Mudah-mudahan bukan kamilah yang menyebab¬kannya.”

“Kau jangan mencuci tangan. Sebelum kau ada di sini se¬muanya berjalan baik. Gangguan semakin lama semakin terbatas. Sekarang agaknya kau telah mengungkat kemarahan hantu-hantu itu.”

“Bukankah kau katakan bahwa selama ini orang-orang menjadi ketakutan? Dan sebelum kami datang, satu demi satu mereka telah meninggalkan tempat ini? Kenapa justru kami yang men¬jadi paran tutuhan. Menjadi seolah-olah tempat sampah untuk melemparkan kesalahan,“ Agung Sedayu menjadi semakin kehi¬langan kesabaran.

Jawaban Agung Sedayu itu ternyata telah menyinggung perasaan orang kekurus-kurusan itu sehingga ia berkata, ”He, kau berani membantah? Aku peringatkan kau, jangan berbuat gila di sini.“

Dan sebelum Agung Sedayu menjawab, agaknya orang yang kekar yang mendengarkan pembicaraan itu menjadi jengkel pula, sehingga dari tempatnya ia berkata lantang sehingga mengejutkan orang-orang yang sedang tidur, ”Jangan ulangi jawaban itu anak-anak bengal. Sekali-sekali aku ingin memukul mulutmu.”

Terasa darah Agung Sedayu melonjak. Namun, ia masih tetap menguasai dirinya seperti pesan ayahnya. Ketika sekilas ia melihat wajah Swandaru yang terbaring diam itu, tampaklah seleret warna merah membayang di wajah yang gemuk itu.

“Maaf,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kalian.”

“Tutup mulutmu, ” bentak orang yang kekar itu. “Sa¬yang ayahmu tidak ada. Kalau ada, aku paksa ia menghajarmu. Kalau tidak, kamilah yang akan menghajar kau dan membungkam mulutmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengang¬guk berkali-kali.

“He, kau dengar?”

Sekali lagi Agung Sedayu mengangguk.

“Kau dengar he? Kau tidak mau menjawab?”

“O, jadi aku harus menjawab? Aku tidak berani membuka mulutku.”

Tiba-tiba orang yang kekar itu meloncat bangkit. Untunglah bahwa berbareng dengan itu, beberapa orang telah terbangun pula. Mereka segera berusaha menahan orang yang bertubuh kekar itu.

“Jangan. Adiknya baru sakit dan ayahnya tidak ada.”

Orang yang bertubuh kekar itu menggeram. Tangannya dihentak-hentakkannya sambil mengumpat-umpat. Seandainya orang-orang di dalam barak itu tidak mengerumuninya dan meredakan marahnya, maka ia pasti sudah tidak mengekang dirinya lagi.

“Anak gila,” ia masih mengumpat-umpat, ”di seluruh daerah ini tidak seorang pun yang berani melawan Sura Gempal. Kau anak ingusan saja sudah berani membantah dan bahkan menghina. Sayang saat ini aku terhalang oleh sekian banyak orang. Kalau tidak, mulutmu benar-benar akan berdarah. Ingat, tidak ada orang yang berani melawan Sura Gempal. Bahkan para petugas dan pengawas pun tidak.”

Agung Sedayu sama sekali tidak menyahut. Ia masih berada di tempatnya, namun supaya tidak menumbuhkan berbagai per¬tanyaan di antara orang-orang yang berada di barak itu, ia pun telah berdiri dengan tubuh gemetar.

Tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Beberapa orang kemudian membimbing orang yang bertubuh kekar, yang menyebut dirinya bernama Sura Gempal itu kembali ke tempatnya. Salah seorang dari orang-orang itu berkata, ”Jangan hiraukan. Bukankah mereka hanya anak-anak.”

“Tetapi itu akan menjadi kebiasaan yang kurang baik. Kalau aku membiarkan anak itu menghinaku, maka lain kali orang lain pun akan menghinaku pula.”

“Anak itu sudah minta maaf. Ia menjadi ketakutan sekali.”

Orang yang menyebut dirinya bernama Sura Gempal itu berpaling. Ketika dilihatnya Agung Sedayu berdiri gemetar, hatinya menjadi sedikit terhibur.

“Kali ini aku maafkan kau,” katanya, ”tetapi lain kali, aku sobek mulutmu.”

Agung Sedayu tidak menjawab.

Ketika orang itu telah duduk kembali di tempatnya, maka orang lain pun kembali ke tempat masing-masing. Seseorang yang sudah agak lanjut usia mendekati Agung Sedayu. ”Sudahlah. Hati-hatilah untuk lain kali. Jangan menyakiti hati orang.“

Mulut Swandaru-lah yang sudah mulai bergerak. Tetapi ia terdiam ketika kaki Agung Sedayu menyentuh lututnya.

“Sudahlah. Tidurlah. Ayahmu akan segera pulang.“

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Ya, ya. Aku akan tidur.”

Agung Sedayu pun kemudian duduk di samping Swandaru. Orang yang kurus itu sudah tidak ada di dekat mereka, dan orang yang kekar dan menyebut dirinya bernama Sura Gempal itu pun sudah berbaring pula di tempatnya.

Sejenak kemudian Agung Sedayu pun berbaring pula di samping Swandaru. Sebelum ia mapan Swandaru sudah berdesis perlahan-lahan, ”Kenapa kau biarkan orang itu membuka mulutnya ter¬lampau lebar?”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Akulah yang tidak tahan. Hampir saja aku meloncat bangun.“

”Hus. Bukankah guru sudah berpesan, agar kita tidak me¬nambah kesulitan di sini.”

“Dan membiarkan diri kita diumpat-umpat tanpa salah?”

Agung Sedayu tersenyum, ”Guru sudah memberikan contoh, bahwa kadang-kadang kita harus berbuat demikian.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum pula. Barukan katanya, ”Memang kadang-kadang terasa, kenikmatan tersendiri untuk membiarkan diri kita dihinakan oleh orang-orang yang tidak tahu dari itu.“

Agung Sedayu mengangguk-angguk sambil berkata, ”Itu adalah suatu bentuk kesombongan tersendiri.”

“He, kenapa? Bukankah itu suatu sikap rendah hati.”

“Ya, tetapi bukankah di dalam hati kita, justru kita merasa bahwa dengan demikian kita sudah merendahkannya?”

“Ah, kau terlampau berbelit-belit.”

“Ya. Tetapi bukankah kadang-kadang kita menepuk dada sambil berkata ‘Inilah, akulah orang yang baik, rendah hati, yang tidak pernah menyombongkan diri’. Tetapi bukankah itu suatu bentuk kesombongan yang terbesar?”

Swandaru merenung sejenak. Namun kemudian ia tersenyum pula, “Ternyata kau sempat memikirkannya.”

“Bukankah kita sedang tidak mempunyai kerja saat ini.”

“Sudahlah. Orang-orang lain sudah tidur. Apakah kita tidak akan tidur?”

“Tidurlah. Kau memang perlu beristirahat cukup. Aku akan menunggu sampai lewat tengah malam. Apakah guru segera kembali atau tidak.”

Swandaru mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian ia berkata, ”Apakah aku akan dapat tidur sebelum guru datang?”

“Tidurlah. Aku akan menunggunya.“

Keduanya pun kemudian terdiam. Ruangan itu memang su¬dah terlampau sepi sehingga keduanya pun tidak ada minat lagi untuk bercakap-cakap. Swandaru yang belum pulih benar itu pun ber¬usaha untuk dapat tidur meskipun hanya sejenak. Tetapi ingatannya kepada gurunya, maka ia hanya dapat memejamkan matanya saja, tetapi sama sekali tidak tertidur.

Apalagi Agung Sedayu yang berbaring di sampingnya melekat dinding. Tubuhnya seakan-akan terhimpit oleh tubuh Swandaru yang gemuk itu. Ia bahkan sama sekali tidak berhasil untuk sekedar memejamkan matanya. Ditatapnya saja atap barak yang terbuat dari anyaman rerumputan dan ilalang, sedang angan-angannya jauh bersama angin malam yang berhembus lambat.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing masih ada di perjalanan. Suara berdesing di udara itu seolah-olah selalu mengikutinya ke mana ia pergi.

Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia memutuskan untuk mengetahui, suara apakah yang selalu mengganggunya itu.

Orang tua itu pun kemudian duduk di atas sebuah batu di pinggir jalan sambil sekali-sekali menengadahkan kepalanya. Tetapi malam begitu gelap sehingga ia tidak dapat melihat sesuatu.

“Gila,” desisnya, ”suara itu sangat mengganggu.”

Namun ketika teringat olehnya pesannya kepada murid-muridnya, bahwa tengah malam ia harus kembali, maka ia pun segera melanjutkan perjalanannya.

Tetapi suara yang berdesing itu seolah-olah mengikutinya kemana ia pergi. Melingkar-lingkar. Sejenak menghilang kemudian men¬dekat lagi.

Namun akhirnya Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian ia pun tersenyum sambil berkata kepada diri sendiri, ”Aku puji cara mereka. Hampir saja aku dijang¬kiti penyakit ketakutan itu pula.”

Kini Kiai Gringsing tidak menghiraukan lagi suara yang melingkar-lingkar itu. Langkahnya semakin dipercepat. Diloncatinya parit-parit kecil yang menyilang jalan setapak yang sedang dilaluinya.

Ketika ia sampai di sebuah parit yang sedang dibuat, di sebelah sebatang pohon yang besar, Kiai Gringsing berhenti sejenak. Ia harus berbelok ke kanan, menuruti jalan yang sempit sampai sebuah sungai kecil yang curam.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Jalan yang ditempuh memang sebuah jalan yang mengerikan. Dedaunan yang rimbun bergantungan di atas jalan sempit itu. Sulur-sulur yang liar bergayutan sebelah menyebelah.

Tetapi Kai Gringsing tidak akan mundur. Ia berjalan terus betapa gelapnya. Namun sebagai seorang perantau yang berpe¬ngalaman, Kiai Gringsing segera dapat mengenal jalan yang akan dilaluinya itu.

Langkah Kiai Gringsing tertegun ketika ia melihat sesuatu bergerak-gerak di kejauhan. Di dalam gelapnya malam, mata Kiai Gringsing yang tajam melihat sesuatu yang menghilang di balik rerumputan, kemudian suara gemerisik batang-batang ilalang yang- ter¬sibak. Namun kemudian sepi kembali.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat men¬duga bahwa bayangan yang bergerak-gerak itu adalah bayangan seorang. Namun orang itu pasti bukan orang kebanyakan, karena tiba-tiba saja ia telah hilang seperti ditelan bumi, meskipun Kiai Gringsing mengetahui bahwa orang itu pasti bersembunyi di balik pepohonan. Tetapi geraknya yang cepat itu menandakan, bahwa orang itu adalah orang yang memiliki kemampuan cukup.

Begitu besar keinginan Kiai Gringsing untuk mengetahui, sia¬pakah orang itu, hampir saja ia meloncat menyusulnya. Untunglah bahwa ia masih dapat mengekang dirinya. Yang berjalan menuju ke rumah dukun sakti itu kini adalah Truna Podang.

Karena itu, ketika ia menjadi semakin dekat dengan bayangan yang bersembunyi itu, langkah Kiai Gringsing menjadi semakin lambat, bahkan kemudian tertatih-tatih seperti orang yang kelelahan.
Meskipun Kiai Gringsing tidak melihat, tetapi ketajaman inderanya merasakan, bahwa ada sepasang mata yang sedang mengintip langkahnya.

“Ini pasti salah seorang pembantu dukun sakti itu,” kata¬nya di dalam hati, “ia harus mengamati tamu-tamunya.”

Karena itu, Kiai Gringsing harus melakukan perannya de¬ngan baik. Sebagai seorang petani yang sedang digelisahkan oleh anaknya yang sedang sakit. Betapa pun ketakutan dan kecemasan membakar dada, tetapi petani yang takut kehilangan anaknya itu berjalan tertatih-tatih di dalam gelapnya malam.

Namun tidak sesuatu yang terjadi. Ketika ia sampai di sungai kecil yang curam, maka Kiai Gringsing pun merayap turun. Air sungai yang hanya sedalam mata kaki itu terasa betapa dingin¬nya.

Tetapi ketika ia mulai merangkak naik, tiba-tiba Kiai Gringsing itu dikejutkan oleh suara tertawa yang aneh. Suara tertawa yang halus, tetapi menegangkan.

Kiai Gringsing berhenti sejenak. Segera ia mengetahui darimana arah suara itu. Tetapi ia sama sekali tidak berhasrat untuk menemukannya. Karena itu, ia merangkak terus naik tebing yang cukup curam.

Akhirnya Kiai Gringsing sampai juga di seberang, di atas tebing.

Dengan penuh kewaspadaan ia melangkah terus. Kini ia merasa bahwa tidak hanya seorang sajalah yang sedang menga¬wasi. Seakan-akan divsetiap langkahnya ia bertemu dengan tatapan mata yang tajam.

Namun Kiai Gringsing tetap tabah. Ia berjalan terus, se¬hingga akhirnya ia sampai ke suatu tempat yang ditebari oleh batu-batu yang besar.

“Di sinilah rumah dukun sakti itu,” desis Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing melangkah terus. Ia harus mencari rumah dukun sakti itu, di antara batu-batu besar yang berserak-serakan.

Tetapi sebelum ia menemukan rumah itu, Kiai Gringsing sekali lagi tertegun. Ia mendengar derap kaki-kaki kuda mendekati daerah berbatu-batu itu. Sejenak Kiai Gringsing terpaku di tempatnya. Ia menduga bahwa ada kira-kira lima atau enam ekor kuda. Semakin lama menjadi semakin dekat.

“Apakah kuda-kuda ini sejenis kuda-kuda hantu yang menakut-nakuti daerah yang sedang dibuka itu?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi Kiai Gringsing memutuskan untuk segera menemu¬kan rumah dukun sakti itu supaya ia dapat mengambil suatu kesimpulan dari pertemuan itu untuk melakukan tindakan selan¬jutnya.

Ia tidak mempedulikan lagi suara derap kaki-kaki kuda itu. Ia tidak menghiraukan pula, apakah kuda-kuda itu kuda-kuda hantu atau kuda-kuda yang lain.

Sejenak kemudian dada Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Ia mendengar desir langkah seseorang yang tergesa-gesa. Karena itu segera ia mengendapkan diri di balik sebuah batu. Di dalam keremangan malam ia melihat sesosok bayangan yang berjalan cepat menjauhi segerumbul perdu di balik sebongkah batu yang besar.

Ketika orang itu hilang di balik bebatuan, maka Kiai Gringsing pun merayap mendekatinya. Dadanya berdesir ketika ia meli¬hat di balik gerumbul itu, berdiri sebuah gubug yang kecil, dilindungi oleh beberapa gumpal batu yang besar dan gerumbul-gerumbul yang rimbun.

“Inikah rumahnya?“ ia bertanya kepada diri sendiri pula. Namun dalam pada itu suara derap kaki-kaki kuda itu pun menjadi semakin dekat. Tetapi agaknya kuda-kuda itu pun tidak dapat maju dengan cepat, karena daerah yang terlampau sulit dilalui.

”Apakah derap itu derap kaki-kaki kuda hantu yang meng¬ikuti aku?” Kiai Gringsing bertanya pula di dalam hatinya.

Tetapi Kiai Gringsing memang ingin mengetahui bentuk dan wajah hantu-hantu yang telah menakut-nakuti setiap orang yang sedang berusaha membuka hutan dan menjadikannya suatu negeri di bawah pimpinan Ki Gede Pemanahan dan puteranya Raden Sutawijaya bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar.

Sejenak Kiai Gringsing termangu-mangu di tempatnya. Manakah yang lebih dahulu akan dilakukannya. Masuk menemui dukun sakti itu, atau menunggu hantu-hantu itu lewat. Tetapi kalau ia menunggu hantu-hantu itu lewat, mungkin tanggapan dukun sakti itu kepadanya sudah akan menjadi berlainan.

Selagi Kiai Gringsing dibayangi oleh keragu-raguannya, maka derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin dekat. Dengan demikian Kiai Gringsing tidak mendapat kesempatan lagi. Karena itu yang mula-mula dikerjakan adalah mencari tempat untuk berlindung.

“Apakah aku dapat berlindung dari mata hantu-hantu,“ katanya di dalam hati. ”Apa boleh buat. Apabila hantu-hantu itu melihat aku, aku tidak akan menghindar.”

Kiai Gringsing adalah orang yang cukup berpengalaman dan memiliki ilmu yang hampir sempurna di dalam olah kanuragan. Apalagi adalah seorang yang mempunyai kepercayaan yang mantap kepada Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, maka ia pun segera dapat menguasai diri dan dengan tenang menghadapi setiap kemungkinan. Namun demikian, tanpa sesadarnya ia telah meraba tangkai cambuknya yang membelit di lambung.

Kiai Gringsing menjadi semakin berdebar-debar ketika ia men¬dengar derap itu semakin dekat. Kemudian berhenti di sebelah gubug yang tersembunyi itu.

Tetapi Kiai Gringsing terkejut ketika ia mendengar salah seorang dari mereka yang berkuda itu bertanya, ”Inikah rumah¬nya?“

“Ya. inilah rumahnya,” sahut yang lain, “Marilah, kita temui dukun itu.”

Dada Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Keinginannya untuk mengetahui menjadi semakin mendesak dadanya. Karena itu, maka sambil merangkak-rangkak ia bergeser maju. Dengan pende¬ngarannya yang tajam ia yakin bahwa tidak ada orang lain di sekitarnya. Agaknya orang-orang yang mengawasinya di sepanjang jalan, tidak mendekat ke gubug ini.

Sejenak kemudian Kiai Gringsing mendengar pintu gubug itu diketok orang.

“Kiai, bukakan pintu.”

Sejenak tidak terdengar jawaban.

“Kiai.”

Baru kemudian perlahan-lahan terdengar jawaban dalam nada yang berat, ”Siapa di luar?“

”Kami adalah peronda dari Tanah Mataram.”

Kiai Gringsing ternyata telah terkejut pula mendengar jawaban itu. Mereka adalah orang-orang Ki Gede Pemanahan yang de¬ngan resmi sudah mempergunakan nama Tanah Mataram.

Sejenak tidak terdengar suara apa pun. Namun kemudian terdengar suara dari dalam gubug itu, “Apakah maksud kalian datang kemari di malam begini?”

“Kami mau bertemu dengan Kiai.”

Kembali suasana menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah suara-suara malam yang mendirikan bulu. Suara burung hantu dikejauhan yang kadang-kadang disahut oleh suara binatang-binatang buas yang lamat-lamat.

“Kiai,” suara peronda itu terdengar lagi.

”Tunggu,” jawab dari dalam.

Sejenak kemudian terdengar suara pintu gubug itu berderit. Dan suara yang berat mempersilahkan para peronda itu, ”Mari¬lah. Silahkan masuk. Tetapi agaknya gubug ini terlampau sem¬pit.”

“Terima kasih,” jawab salah seorang peronda itu, ”kami tidak akan masuk berbareng.”

Dua orang di antara para peronda itu pun kemudian mema¬suki gubug yang sempit itu, sedangkan yang lain berada di luar.

Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Kalau mereka yang ada di luar gubug itu kemudian melangkah hilir-mudik dan ada di antara mereka yang mengelilingi gubug ini, maka ia harus segera bergeser menjauh.

Namun agaknya para peronda itu tidak berkisar dari depan gubug itu. Beberapa orang di antara mereka bercakap-cakap perlahan-lahan. Sedang yang lain sama sekali tidak berbicara apa pun.

Dari dalam gubug Kiai Gringsing mendengar salah seorang dari kedua peronda yang masuk itu berkata, ”Kiai, kami men¬dengar bahwa Kiai-lah dukun sakti yang bernama Kiai Damar.”

“Ya,” jawab suara yang berat, ”akulah yang bernama Kiai Damar.”

“Bagus,”desis peronda itu, ”kami telah datang kepada orang yang tepat.”

“Apakah sebenarnya maksud kalian?” bertanya Kiai Damar.

“Kami telah diutus oleh Raden Sutawijaya.”

“Maksudmu Putera Ki Gede Pemanahan?”

“Ya.”

“Apakah maksudnya?”

“Kiai,” berkata peronda itu kemudian, ”Kiai adalah seseorang yang menurut kepercayaan orang-orang di sekitar tempat ini, bahkan sampai ke daerah-daerah yang jauh, mampu mengobati se¬gala macam penyakit. Di antaranya penyakit yang termasuk aneh-aneh yang menurut keterangan beberapa orang disebabkan oleh hantu-hantu.”

“Tidak hanya keterangan beberapa orang,” potong Kiai Damar, ”memang demikianlah keadaannya. Maksudku, bukan tentang aku, tetapi tentang hantu-hantu itu. Sebenarnyalah bahwa banyak sekali orang yang sakit karena kesiku. Dan aku adalah salah seorang dari mereka yang berusaha untuk memohonkan maaf bagi orang-orang yang kesiku itu. Jadi sama sekali bukan me¬ngobati seperti yang kau katakan.”

“Begitulah. Tetapi akibatnya hampir sama. Orang yang sakit itu menjadi sembuh karenanya.”

“Tidak. Tetapi mereka kemudian dimaafkannya.”

“Ya. Begitulah,” peronda itu berhenti sejenak. ”Dengan demikian, maka hubungan Kiai dengan hantu-hantu itu menjadi akrab.”

Dukun sakti yang bernama Kiai Damar itu tidak segera menjawab. Sejenak ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi agak¬nya ia sudah dapat menduga, ke manakah arah pembicaraan para peronda itu.

Karena Kiai Damar tidak menjawab maka peronda itu meneruskan, ”Kiai. Sebagaimana Kiai Damar tahu, kini kami sedang sibuk membuka hutan untuk menjadikannya sebuah negeri. Namun akhir-akhir ini kami merasa terganggu. Ketenteraman bekerja para penebang telah diusik oleh desas-desus adanya hantu-hantu yang berkeliaran dan mengganggu. Bukan saja para pendatang yang akan membuka hutan, tetapi para petugas sendiri menjadi ngeri. Hal itu terjadi di segala bagian dari penebangan hutan ini. Di bagian Selatan, tengah, dan Utara. Bahkan ada di antara mereka yang sudah meletakkan alat-alat mereka dan kembali ke tempat asal mereka.”

Kiai Damar itu, merenung sejenak. Lalu, ”Aku mengerti maksud kalian. Kalian ingin hantu-hantu itu tidak mengganggu kerja para pendatang yang menebas hutan itu bukan?“

“Tepat, Kiai. Seperti yang kami minta kepada seorang dukun sakti, yang menyebut dirinya bernama Kiai Telapak Jalak yang tinggal di ujung Selatan dari daerah penebangan hutan ini. Juga menyendiri seperti Kiai Damar.”

Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia menjawab, “Permintaan ini wajar sekali. Tetapi aku merasa bahwa aku sekarang berdiri di tengah-tengah sungai yang banjir. Terus aku pasti akan basah, kembali pasti basah juga.”

“Kenapa Kiai?”

“Aku mengerti jalan pikiran kalian. Itulah sulitnya. Te¬tapi aku juga mengerti kenapa hal itu terjadi. Aku, mungkin juga orang yang kau sebut bernama Telapak Jalak itu, memang bergaul dengan hantu-hantu. Apa yang dapat aku tangkap dari siratan jalan pikiran mereka pun dapat aku mengerti.”

“Apakah kata mereka?”

“Ki Sanak,” Kiai Damar menarik nafas dalam-dalam, “dengan mata wadag kita memang tidak dapat melihat bahwa sebenarnya kita berhadapan dengan suatu negeri. Lengkap dengan istana dan prajuritnya. Kau tahu maksudku? Hutan yang kini sedang ditebang itu adalah suatu negeri. Anehnya, namanya juga Mata¬ram seperti yang kalian pergunakan sekarang? Tetapi sebenarnya hal itu juga tidak aneh, karena raja-raja yang sekarang meme¬rintah adalah keturunan raja-raja dari kerajaan Mataram lama.”

Para peronda itu mengerutkan keningnya.

“Coba, pikirkan. Bagaimana aku harus bersikap, apabila aku tahu, mereka menjadi sakit hati karena istananya kalian rusak. Pohon raksasa yang mereka anggap bangsal-bangsal di dalam istana mereka, di dalam rumah-rumah para Adipati dan Tumenggung menurut tata kepangkatan kita, kalian tebang dengan semena-mena.”

Para peronda itu tidak menjawab.

“Apakah yang akan dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan selagi ia masih berada di Pajang, dan yang akan dilakukan oleh puteranya, apabila tiba-tiba raja Arya Penangsang datang meng¬hancurkan istana Pajang dan bangunan di Lor Pasar?”

Para peronda itu masih diam saja.

“Nah, itulah kira-kira alasan yang mereka pergunakan, ke¬napa mereka berusaha untuk mencegah kealpaan Ki Gede Pe¬manahan, agar tidak menjadi berlarut-larut.” Kiai Damar berhenti sejenak lalu, ”Ki Sanak. Sebenarnya hantu-hantu itu memang mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari manusia wadag. Kemenangan mereka yang paling cepat kita kenal, bahwa mereka dapat melihat kita, tetapi kita sukar sekali untuk melihat mereka tanpa mereka kehendaki sendiri. Karena itu, mereka menjadi lebih mudah mengganggu kita dan kita tidak akan dapat mengganggu mereka.”

Peronda itu masih menggangguk. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, ”Tetapi bukankah hutan ini masih sangat luas Kiai. Apakah mereka tidak dapat diajak berbicara, agar mereka berpindah saja ke bagian-bagian hutan yang lain.“

Kiai Damar tertawa pendek. ”Kalian memang aneh. Itu adalah sikap yang tidak adil. Yang mementingkan diri sendiri. Kalian datang kemudian, tetapi kalian ingin mengusir yang su¬dah ada di tempat itu sejak berabad-abad, bahkan jauh sebelum ke¬turunan Mataram lama memasuki lingkungan ini dengan pera¬daban yang lebih baik.”

“Peradaban apakah yang Kiai maksud?”

“Peradaban di dalam tata kehidupan mereka. Jangan kau kira bahwa di dalam kehidupan mereka tidak ada peradaban se¬perti yang kita miliki. Mereka mempunyai susunan pemerintahan dan peraturan-peraturan yang harus mereka taati.”

“Jadi, bagaimanakah kesimpulan Kiai? Apakah tidak dapat tidak perlu mengadakan semacam perang?”

“Tunggu,” Kiai Damar memotong, “jangan terlampau sombong sehingga kata-katamu terdorong terlampau jauh. Aku mengenal mereka dan aku mengenal kalian. Kalau perang itu benar-benar akan berlangsung, maka yang akan terjadi adalah perampasan sepihak semata-mata, yang akan terjadi adalah penum¬pasan sepihak semata-mata. Apakah yang dapat kau lakukan? Apa?”

“Kita mempunyai orang-orang seperti Kiai Telapak Jalak dan Kiai Damar sendiri.”

Sekali lagi Kiai Damar tertawa, “Aneh sekali,” katanya. “Apakah kalian menyangka bahwa aku mampu berbuat sesuatu atas mereka? Aku hanya mengenal mereka, dan sejauh-jauh dapat aku lakukan adalah berlutut sambil mohon maaf atas kekhilafan manusia yang sombong dan tamak ini.”

“Jadi, tegasnya?”

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan aku berpesan, jangan menunggu hantu-hantu itu kehilangan kesabaran. Raja mereka adalah Raja yang bijaksana yang sampai saat ini masih berusaha untuk mengatasi persoalan ini. Tetapi pada suatu saat, dengan sepatah kata mantra kalian akan diterkam oleh penyakit yang maha dahsyat, dan tumpaslah kalian bersama dengan keluarga kalian.”

“Kiai,” berkata peronda itu, “aku dapat mengerti. Ke¬terangan yang Kiai berikan mirip benar dengan keterangan Kiai Telapak Jalak. Bahkan pada dasarnya bersamaan maksudnya.”

Kiai Gringsing, yang bersembunyi di belakang gubug itu menahan nafas. Dari peronda-peronda itu ia mengetahui bahwa di samping Kiai Damar, masih ada orang lain yang dianggap sebagai seorang dukun yang sakti dan bernama Kiai Telapak Jalak.

Selanjutnya Kiai Gringsing mendengar Kiai Damar berkata, ”Apakah orang yang bernama Telapak Jalak itu juga pernah memberikan keterangan seperti yang aku katakan?“

“Ya, Kiai.”

“Kalau demikian aku percaya, bahwa ia pun benar-benar dapat bergaul dengan hantu-hantu di hutan Mentaok. Tetapi apabila ada keterangan lain, maka orang itu pasti berbohong, karena aku yakin bahwa aku benar.”

“Ya, Kiai. Tetapi bagaimana menurut pendapat Kiai, apakah yang sebaiknya kami lakukan.”

Kiai Damar menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, ”Pertanyaan inilah yang membuat aku menjadi pening. Aku merasa bahwa jawaban yang dapat aku berikan, pasti suatu ja¬waban yang tidak akan memberi kepuasan bagi kalian dan terutama bagi Ki Gede Pemanahan beserta puteranya.”

“Apakah jawaban itu?”

“Ki Sanak,” berkata Kiai Damar, ”aku tidak berani mengatakannya. Namun seandainya aku masih mendapat kemung¬kinan, aku akan berusaha agar pada suatu saat kita menemukan jalan yang sebaik-baiknya, agar kita mendapat kesempatan un¬tuk membuka hutan ini. Tetapi sudah tentu dengan berbagai macam syarat.”

“Apakah Kiai dapat menyebutkan syaratnya?”

“Tentu belum sekarang. Pada suatu saat aku akan meng¬hadap Raja dari Kerajaan Mataram. Bukan Mataram yang didirikan oleh Ki Gede Pemanahan, tetapi Mataram Kajiman. Aku ingin mendapat penjelasan langsung dari Raja Mataram, yang tidak dapat dilihat dengan mata wadag ini, bagaimanakah se-baiknya agar kita tidak mendapatkan kutuk daripadanya, sedang kita mendapatkan bagian dari Tanah Mentaok seperti yang kita harapkan.”

“Kapan hal itu akan Kiai lakukan?”

“Segera. Namun sementara ini, usaha perluasan daerah penebangan agar dibatasi atau dihentikan sama sekali. Orang-orang biar kembali ke tempat masing-masing. Sedang yang sudah terlanjur dibuka ini pun pasti akan mengalami berbagai macam syarat yang harus di¬penuhi.”

Para peronda itu terdiam sejenak. Namun kemudian salah seorang dari keduanya berkata, ”Baiklah. Aku mengharap Kiai secepatnya dapat menghubungi Raja Kajiman itu, sehingga kami akan segera dapat menyesuaikan diri dengan pembicaraan Kiai.”

“Baiklah. Tetapi ingat, sementara ini pembukaan daerah baru harus dicegah.”

“Aku akan melaporkannya kepada Ki Gede Pemanahan.” Peronda itu berhenti sejenak, lalu, ”Sekarang kami akan minta diri. Kami dikirim khusus untuk menemui Kiai Damar.”

“Siapakah yang telah memerintahkan kalian menghubungi aku. Ki Gede Pemanahan atau Sutawijaya?”

“Ki Gede Pemanahan,” jawab peronda itu.

“Nah, sampaikan semuanya yang aku katakan kepada Ki Gede Pemanahan.”

Sejenak kemudian maka kedua peronda itu pun keluar dari gubug Kiai Damar. Sejenak mereka berbicara dengan kawan-kawannya yang menunggu di luar. Dan sejenak kemudian mereka pun telah berada di atas punggung kuda masing-masing, meninggalkan gubug itu.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kini ia mengetahui, bagaimanakah pendapat dukun sakti itu tentang usaha pembuka¬an hutan dan yang menurut katanya Kerajaan Mataram Kajiman.

Namun tiba-tiba Kiai Gringsing ingin megetahui, apakah yang akan dikatakan oleh para peronda itu, sehingga ia pun segera merayap meninggalkan tempatnya.

Dengan segenap kemampuan yang ada padanya Kiai Gringsing pun segera menyusul orang-orang yang berkuda perlahan-lahan di dalam gelapnya malam. Derap kaki-kaki kuda yang lamat-lamat telah memungkinkan Kiai Gringsing untuk segera menemukan arah. Be¬berapa langkah ia mendahului kuda-kuda yang berjalan dengan malasnya menyusup hutan yang semakin lama menjadi semakin gelap.

Ketika ia sudah berada di depan, maka segera dicarinya se¬gumpal tanah padas. Dilemparkannya segumpal tanah itu ke atas, tepat di atas jalan yang akan dilalui kuda-kuda itu. Kemudian ia pun segera bersembunyi di balik sebuah gerumbul tepat di pinggir jalan setapak itu.

(***)

From Kasdoelah’s Collection
Scan: Ki Warsono Hr
Convert: Kiai Abu
Retype: Kiai Abu
Proof: Ki Gd Menoreh
Date: 11-17-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (50)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-52/trackback/

RSS feed for comments on this post.

50 KomentarTinggalkan komentar

  1. yang katanya jam 10, itu jilid 51 ato jilid 52 yah ? he he ….

  2. adakah yang berani mengobral janji lagi? Klo jilid 52 bakal terbit malam nanti?
    Buktikan menorehmu!!!
    tetap semangaaaat

    • Sugeng enjing mbah man….sudah sehatkah ?
      ..terusan Adbmnya mana…?

      • sugeng siang ki kartu….mbah mannya mana ?

  3. sabar kisanak, sabaaaar

    xixixi 😀
    Ki KontosWedul

  4. Nek ra sabar..main silat dewe wae..

  5. “Entahlah Kiai, rasa-rasanya kepalaku menjadi semakin pepat menunggu kepastian. Seandainya saja gambaran itu tertulis di atas lontar, aku pun mungkin tidak menjadi semakin pening.” katanya kepada Kiai Gringsing.

  6. “Akupun sebenarnya masih menduga-duga, siapa sebenarnya hantu2 itu. Tetapi aku yakin hantu itu tidak akan muncul nanti malam, karena belum ada tanda2 covernya” desis Kiai Gringsing.

  7. “…hmm, setahun lagi mungkin akan berdiri puluhan atau bahkan ratusan perguruan orang bercambuk diseantero negeri ini. Para cantrik yang sekarang sedang giat-giatnya mengunduh ilmu di padepokan inilah yang nantinya akan jadi penerusku”.
    “Semoga mereka tidak menjadi keblinger, dengan mengkomersilkan kitab-kitab yang sudah aku wariskan semua”, gumam Gembala Tua dengan penuh harap.

  8. “Tetapi guru, apakah kita akan membiarkan saja keadaan ini ? Rasa-rasanya aku sudah tidak bisa menahan diri lagi.” geram Swandaru.

  9. Wah wis pinter-pinter yho saiki…ngompori ben ndang metu po

  10. Yah, covernya ja blom da… Mdah2an ga lama lg…

  11. sabar ngger, ada kalanya kekecewaan adalah jalan menuju ketabahan. semuanya ada waktunya. kepedihan ini ini akan menjadikan kita semakin dewasa…Hanya orang2 yang merasakan kepahitan yang akan mengecup manisnya rasa.

  12. pada menunggu bangkit nya hantu Ki Tambak Wedi ya…

  13. blom ada tanda2 keliatan…

  14. “Sutawijaya,…semenjak Kiai Gringsing & kedua muridnya ikut membuka alas Mentaok, penunggang2 kuda misterius itu tidak pernah muncul 2 hari ini.” kata Ki Gede Pemanahan.
    “Apakah mereka sedang merencanakan sesuatu Ayah?” tanya Sutawijaya.
    “Hhhmmm…mungkin, hal itu sangat mungkin sekali anakku. Mungkin juga mereka sedang menguji kesabaran kita.” desis Ki Gede Pemanahan.

  15. “Apabila diperkenankan, biarlah kami nganglang ke daerah di sekitar tempat Kiai Gringsing dan kedua muridnya membuka hutan, dan mencoba menyisir gubug-gubug yang sudah ditinggalkan penghuninya itu. Siapa tahu kami dapat menemukan hantu-hantu tersebut beserta covernya yang berharga.” kata Dipasanga.

  16. “Apa kisanak sudah pada mampu meningkatkan jurus2 di jilid 52 ?” Kyai Gringsing berta dengan sareh, bersabarlah, setapak demi setapak kemampuan kisanak akan sampai ke sana, matangkan dulu jilid 51 hehehe….

  17. Agung Sedayu sejenak termangu-mangu memandang pepatnya hutan. Hm, tidak mudah memang, untuk menyisiri Alas Mentaok sampai ke Pliridan sana, menemukan kitab Jilid-52 yang agaknya tercecer di antara pohon-pohon yang rapat berjejalan, gerumbul-gerumbul semak berduri serta oyod bebondotan …

  18. “Guru, apakah kita akan melanjutkan lagi penebangan hutan ini lebih kedalam?” tanya Agung Sedayu.

    “Sebentar dulu ngger. Kita masih memerlukan alat-alat tambahan sesuai petunjuk-petunjuk pada buku jilid 52” jawab Kiai Gringsing.

    “Semoga saja buku itu segera diantarkan oleh moderator” jawab Swandaru. “Tanpa buku itu kita tidak tahu pula siapa sebenarnya hantu-hantu yang mulai menggelisahkan warga padukuhan ini”

  19. Ketika sedang mencari orang – orang berkuda misterius yang telah mencuri kitab jilid 52, sampailah Swandaru ke depan sebuah gua. Dengan hati – hati diintipnya sisi dalam gua itu. Dan dada Swandaru berdesir. Di dalam gua itu tidak didapatinya orang – orang berkuda yang di carinya, akan tetapi dilihatnya dua orang yang sedang main kuda – kudaan…

  20. Masa seh, moderator ga panas dg komentar2 yg bikin gregetan itu….

  21. “Guru,… suara derap kaki kuda itu kian dekat, sekilas nampak bayangan2nya. tetapi masih samar.” bisik Agung Sedayu.
    “Ya,… setidak-tidaknya ada harapan karena aku liat kudanya sudah mulai nampak diantara rimbunan pohon2 itu.” sahut Kiai Gringsing.
    “Aku tak bisa menahan diri lagi Guru…” tiba-tiba Swandaru berteriak sambil meloncat menyongsong kedatangan penunggang2 kuda misterius itu, tetapi dia tertahan karena sepasang tangan yg kokoh memegang lengan tangannya.
    “Sabar Swandaru,… yg datang baru covernya. Ada cover ada harapan…”

  22. Sabar kisanak. Seperti kata Ki Demang, ada cover ada harapan

  23. Waaah… gambarnya kok lawan tengkorak berkuda gitu.. ada apalagi niiih…

  24. bersabarlah……
    berilah kesempatan gembala tua untuk “ngaso” sejenak
    mungkin kyai “scanner” juga butuh istirahat
    bayangkan…
    sudah beratus-ratus lembar yang telah di “sorot”..
    dan ribuan lembar lagi yang harus disorot
    semua itu … hanya untuk kita semua

    kita cuma bisa bilang
    maturnuwun…..

  25. “……ngger, gendonganmu kok semakin besar, makanan siapa yang angger ambil?” Sumangkar berkata selagi istirahat. “….. huh … biar saja kiai, biar kapok mereka! Jawab Sekar Mirah dengan kesal. “Siapa yang akan kapok…” Dengan heran Sumangkar bertanya lagi.
    Ketika Sumangkar membuka isi gendongan muridnya, ia agak heran melihat beberapa kumpulan tulisan kuna di dalamnya.
    “Ngger …. kalau salinan kitab nomer 52 sampai 60 kamu bawa…. bagaimana Swandaru dan Agung Sedayu mengisi kekosongan waktunya setelah bekerja keras….? tegur Sumangkar. Sekar Mirah hanya tersenyum … saja. Ia merasa menang, karena bisa membuat pusing orang banyak.

  26. “mudah-mudahan, ngger….”, berkata Kiai Gringsing dengan sarehnya.

  27. ” maaf kiai… ” berkata Dipasanga “penghubung yang ditugaskan untuk membawa kitab tersebut, ternyata di cegat oleh petugas telik sandi Pajang, kami akan segera mengirimkan bantuan untuk menjemput… mudah2-an sebelum matahari terbenam utusan itu sudah kembali”.

  28. “Biarlah angger Agung Sedayu mengawani utusan Ki Dipasanga itu, untuk mengurangi kekisruhan yang mungkin terjadi. Namun demikian, berhati-hatilah, kita tidak tahu pasti perkembangan yang akan terjadi, walaupun cover tersebut memang memberikan harapan.” jawab Kiai Gringsing.

  29. “Terima kasih Ki DDe… atas petunjukmu kini kami bisa bertemu dengan penunggang kuda misterius ini.” sahut Kiai Gringsing

  30. jilid 52 dah daku terima
    makasih kyai

  31. Kalo comment untuk setiap jilid dikumpulkan, bisa jadi suatu buku yang lumayan nyeleneh….he…he

  32. urun konvert-an buku 52 ki…
    langsung ke emailnya ki gde menoreh

  33. “akhirnja hari ini djuga kita temukan obat penawar ratjunnya itu”, ujar Kiyai Gringsing kepada Agung Sedayu. “Tjepat batja buku 52-nya supaja, Swandaru tjepat pulih dan ratjun di sekujur tubuhnja tjepat hilang.”

  34. buat Ki goenas yang punya convertannya, boleh dong aku minta

  35. mbaca komentar wong-wong ki jan ndadekke aku koyo wong gendeng, ngguya-ngguyu dewe, wis jan apik tenan, koyok’e wis dho oleh ilmune Ki Gede SH Mintardja kabeh.

  36. “Sokurlah, ngger, akhirnya Jilid 52 ini bisa kita terima bersama dengan rangsum kiriman dari Menoreh,” ujar Kiai Gringsing kepada kedua muridnya.

    Lanjutnya lagi, “Nah, dengan semangat baru ini kuharap kalian tidak perlu takut lagi kepada hantu-hantu itu dan bermalas-malasan membuka bidang hutan yang menjadi bagian kita, setidak-tidaknya sampai datang kiriman jilid yang baru.”

    Kedua bekas gembala itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengiakan, namun matanya tak lepas-lepas dari lembar-lembar jilid yang menarik hati itu.

  37. “Swandaru gerakanmu masih dijilid 51, coba tinkatkan spt Agung Sedayu yang sudah meningkat ke jilid 52, mungkin nanti malam sudah ke jilid 53, Angger kurang sabar..”Kata Kyai Gringsing.
    Di mana Agung Sedayu kok tidak kelihatan,”Lagi di belakang Kyai, mesu diri untuk mempersiapkan ilmu di jilid 53 nanti malam” Kata Swandaru Geni.
    “Hmmm….contohlah kakakmu Ngger….”Kata Kyai Gringsing
    Swndaru semakin menundukkan kepalanya…….

  38. Dho kesurupan di alas Mentaok

  39. komentarnya lucu2 banget….jadi geli liat semua warga padukuhan pada gregetan…

    buruan apa ki Dede…aku juga deg degan nungguinya…aku punya penyakit lemah jantung (beneran..)

  40. ngger, berkata ki Sumangkar kepada kedua murid kiai Gringsing :” apa kamu berdua sudah dapat mempelajari jurus cambuk jilid 50 dan jilid 51?”. Belum ki,gurru belum mengijinkan, tapi aku sudah bisa mengungkapkan tenaga cadangan jilid 52 yang diberi guru tadi pagi,jawabnya.
    “O” desis ki Sumangkar, ya kalau begitu sabar.

  41. “aku sedih kakang, meskipun berhasil mengungkapkan rahasia kitab 52 namun aku belum berhasil membuka kitab 50 dan 51, maukah kau menolongku kang?” berkata Swandaru kepada Agung Sedayu. “Berikan convertnya kang……….”

    GD: Aku jadi kasihan kepadamu, Met. Jadi, tadi aku suruh Gupala untuk mengantarkan Kitab 50 langsung ke rumahmu. Jadi, tengoklah rumahmu, mungkin sudah sampai.

  42. banyak terima kasih, sudah diberi kesempatan untuk membaca adbm. Moga2 bisa sampai jilid terakhir …..

    matur nuwun sanget mas2 dan mbak2 .. yang sudah bersusah payah untuk menampilkan adbm di dunia maya … hehe …

  43. Kerennnnnnn….wah nggak sabar ngejar para cantrik yg di ujung-ujung…

  44. aku malah jadi nyasar ke sini??…
    lha ga ada orang je???

  45. Hiaaaat, tanpa terasa sampe siNI juga akhirnya……!!??

    • sugeng enjang

      • haduuu kaged akuuu

        • aja kagetan,
          aja gumunan,
          aja….aja….ana apa2ne


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: