Buku 52

Kiai Gringsing menjadi ragu-ragu. Tetapi ia terpaksa mengu¬sap dadanya ketika orang yang berjanggut dan berambut putih itu lenyap masuk ke dalam tanpa mempersilahkan mereka duduk.

“Sedayu,” bisiknya, ”memang perlakuan ini cukup me¬nyakitkan hati, tetapi kalau benar-benar ia seorang yang menguasai masalah ini, mungkin aku akan mendapatkan petunjuk lebih ba¬nyak tentang keanehan-keanehan yang telah terjadi. Orang ini telah cukup lama tinggal di sini. Mungkin ia mempunyai banyak bahan yang dapat memberikan jalan atau setidak-tidaknya petunjuk.”

“Tetapi sikapnya, Guru. Apakah orang itu dapat diajak berbicara?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Di samping orang yang kekurus-kurusan, kemudian orang yang bertubuh tinggi dan kekar, sekarang ia menemukan satu orang lagi yang telah menarik perhatiannya.

Namun dengan demikian keinginan Kiai Gringsing kini justru beralih untuk mengenal orang itu lebih dekat.

Karena itu maka ia pun menjadi termangu-mangu sejenak. Di satu pihak, Agung Sedayu yang merasa tersinggung ingin segera me¬ninggalkan tempat itu, namun di lain pihak, ia akan mendapat kesempatan untuk mengenal dukun yang pandai itu.

“Bagaimana, Guru?” bertanya Agung Sedayu. “Kasihan Adi Swandaru, ia harus segera berbaring dan beristirahat. Tubuhnva masih terlampau lemah.“

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia ma¬sih berdiri saja di tempatnya.

Agung Sedayu pun akhirnya menjadi termangu-mangu juga. Ia tidak mengerti maksud gurunya yang sebenarnya.

“Sedayu,” berkata gurunya, ”ambil ketepe belarak itu. Kita baringkan Swandaru sebentar sambil menunggu.”

“Jadi, jadi Guru ingin juga bertemu dengan orang itu?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak ber¬kata sesuatu.

“Duduklah sebentar, Swandaru,” berkata gurunya, ”aku layani kau sejenak, sementara Agung Sedayu mengambil ketepe belarak itu. Meskipun sudah agak kering, tetapi kau dapat berbaring sambil menunggu. Orang ini sangat menarik perhatianku.”

Swandaru menganggukkan kepalanya, sedang Agung Sedayu tidak dapat berbuat lain daripada meletakkan swandaru duduk di tanah, dilayani olen gurunya. Kemudian ia sendiri berjalan dengan penuh keragu-raguan mengambil ketepe di sudut rumah itu.

Sejenak Swandaru terbaring diam. Sementara Kiai Gring¬sing berbisik kepada Agung Sedayu, ”Orang inilah yang se¬karang menarik perhatianku. Aku tidak mau dibayangi oleh teka-teki dan rahasia yang semakin lama menjadi semakin banyak dan kisruh.”

Agung Sedayu pun kemudian dapat mengerti maksud guru¬nya. Karena itu, betapa ia merasa tersinggung, namun ditahankannya juga hatinya untuk duduk menunggu dukun yang sedang membersihkan dirinya itu.

“Begitu lama, Guru. Hari sudah menjadi semakin gelap.”

“Kebetulan, sekali,” jawab gurunya, ”bukankah kita memang ingin melihat gelap?”

“Tetapi Swandaru?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian. ”Keadaannya tidak mengkhawatirkan.”

Agung Sedayu tidak dapat membantah lagi. Gurunya pasti sudah mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan untuk kepen¬tingan Swandaru yang sedang sakit itu.

“Tetapi pesanku kepada kau berdua,” berkata gurunya kemudian, “jangan terpengaruh oleh ceritera hantu itu. Aku tidak mengatakan bahwa kita harus menolak kepercayaan bahwa hantu itu memang ada. Tetapi kita harus berdiri di atas suatu kepercayaan, bahwa kita selalu menyerahkan nasib kita kepada Sumbernya. Sumber Yang Tunggal. Pusat dari segala kekuasaan. Mungkin hantu-hantu itu memang mempunyai kekuasaan untuk melakukan sesuatu, tetapi kekuasaannya sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan kekuasaan Yang Maha Kuasa. Ka¬rena itu, apabila kita percaya sepenuhnya, tanpa ragu-ragu, maka kita akan mendapat perlindungan-Nya . Itulah sebabnya aku sama sekali tidak terpengaruh oleh berita tentang hantu-hantu itu, meskipun aku tidak menolak kemungkinan itu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Swandaru yang berbaring itu pun mengangguk-angguk pula. Keduanya me¬rasa, seakan-akan gurunya itu melihat getar jantungnya. Keragu-raguan yang menyusup di dalam dada mereka. Bahkan hampir menjadi suatu kepercayaan, bahwa mereka memang harus menarik diri dari kerja yang sedang mereka lakukan, karena hantu-hantu itu tidak membenarkannya.

Dalam pada itu, sejenak kemudian laki-laki yang berkumis dan berambut putih itu pun muncul dari balik pintu. Kini pakaiannya telah diaturnya dengan rapi. Ikat kepalanya sudah dikenakannya, menutupi rambutnya yang sudah hampir seluruhnya menjadi uban.

“Ternyata kalian masih menunggu,” desisnya.

“Ya, Kiai, kami masih menunggu karena kami memerlukan perawatan.”

“Anakmukah yang keracunan?”

“Ya, Kiai.”

“Kenapa?”

“Mungkin digigit ular. Mungkin oleh sebab-sebab yang lain.”

“Gila. Kenapa kau tidak dapat mengatakan dengan pasti?”

“Kami memang tidak pasti. Tiba-tiba saja anakku, Sangkan ini, menjadi muntah-muntah.”

“Darah?”

“Ya, Kiai.”

“Di tempat kerjamu yang terpencil itu?“

“Ya.”

Tiba-tiba orang itu menjadi tegang. Lalu katanya, ”Kenapa kau datang kemari? Itu sama sekali bukan urusanku. Aku tidak mau terlibat di dalam persoalan dengan kekuasaan yang tidak kasat mata itu.”

”Kekuasaan apa yang Kiai maksudkan?”

“Kekuasaan hantu-hantu.”

“Tidak, Kiai. Ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya. Anakku keracunan seperti tanda-tanda keracunan yang pernah aku dengar. Untunglah bahwa aku masih mempunyai sebutir obat pemunah racun yang aku bawa dari padukuhanku dahulu.“

”Tetapi kenapa kau dapat mengatakan bahwa anakmu di¬ gigit ular? Apakah anakmu merasakan gigitan itu?”

“Tidak, Kiai. Memang tidak. Ular adalah salah satu dari kemungkinan masuknya racun. Mungkin serangga-serangga berbisa atau mungkin semacam duri-durian. Atau apa pun.”

“Hantu. Aku sudah pasti.”

“Kalau sakitnya disebabkan oleh hantu-hantu, maka obat pe¬munah racun yang tinggal sebutir itu pasti tidak akan berdaya. Tetapi nyatanya ia berangsur baik.”

“Kalau anakmu sudah berangsur baik, kenapa ia kau bawa kemari.”

“Sudah aku katakan, aku ingin meyakinkannya, Kiai.”

Orang tua yang berkumis dan berambut putih itu meman¬dang Swandaru yang terbaring di tanah beralaskan ketepe belarak yang sudah kering. Sedang langit pun telah menjadi semakin buram. Satu-satu bintang muncul seakan-akan dari ketiadaan.

“Sebentar lagi, malam yang kelam akan turun. Bagaimana kalian akan kembali?”

“Apakah kami dapat bermalam di pondok ini Kiai. Di mana pun kami dapat tidur nyenyak.“

“Gila kau,” bentak orang itu, ”rumah ini sudah dihuni oleh tiga keluarga. Aku sendiri tidak mempunyai sanak dan kadang.”

“Kalau begitu, baiklah kami akan segera kembali ke barak, apabila kami sudah mendapat keyakinan bahwa anakku akan menjadi baik.”

“Kalian memang orang-orang yang sombong. Kalian berpura-pura menjadi pemberani. Tetapi sebenarnya kalian adalah penakut yang paling licik.”

Kiai Grjngsing mengerutkan keningnya, ”Kami memang bukan pemberani,” jawabnya, ”itulah sebabnya aku mohon diperkenankan bermalam di sini. Kalau tidak, sudah tentu kami harus kembali ke barak.”

“Persetan,” geramnya sambil mendekati Swandaru. Perlahan-lahan ia pun berjongkok di samping anak yang gemuk itu. Dirabanya, kemudian perut dan tangannya.

Menilik sentuhan tangannya, Kiai Gringsing segera mengetahui bahwa sebenarnya orang itu memang memahami ilmu obat-obatan. Namun sampai berapa jauh ia menguasai masalahnya itulah yang ingin di ketahuinya.

“Obatmu cukup baik,” berkata orang itu, ”tetapi kenapa sebenarnya anakmu ini?”

Kiai Gringsing menggeleng, “Aku tidak tahu pasti, Kiai.”

“Jadi tidak digigit ular?”

“Seperti yang aku katakan, ular hanyalah salah satu ke¬mungkinan.”

Namun tiba-tiba wajah orang tua itu menjadi tegang. Katanya, ”Kau dengar suara dari jantungnya?”

Kiai Gringsing menjadi heran.

“Ia tidak digigit ular. Memang tidak.”

“Lalu?”

“Benar ia keracunan,” lalu orang itu menunjuk noda darah dipakaian Swandaru yang sudah kering dan tidak jelas lagi ka¬rena warnanya telah menjadi kehitam-hitaman, ”darah apa ini?”

Kiai Gringsing menjadi ragu-ragu sejenak. Namun, kemudian ia berkata, ”Darahnya sendiri. Tetapi itu tidak ada hubungan apa-apa dengan sakitnya. Ketika ia kemarin terkena parang, maka tanpa disadarinya, diusapkannya tangannya ke bajunya.”

“Kemarin?”

“Ya,” jawab Kiai Gringsing.

“Kenapa sekarang baju yang bernoda darah ini masih dipakainya saja?”

“Anak ini tidak mempunyai pakaian yang lain.”

“Jangan bohongi aku. Darah ini bukan darah kemarin. Aku adalah dukun yang baik.”

Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Seandainya tidak digelapnya malam yang sedang turun, tampak betapa wajahnya menjadi merah. Mungkin orang lain tidak dapat membedakan apakah yang melekat dibaju Swandaru itu darah atau getah pepo¬honan atau kotoran dan noda apa pun juga karena telah menjadi kering. Tetapi seorang dukun akan dapat membedakannya, bahwa darah itu sudah lama melekat atau baru beberapa saat. Dan ia khilaf bahwa yang dibawanya berbicara kali ini adalah seorang dukun.

“Berbiaralah terus terang,“ desak dukun itu.

Tetapi Kiai Gringsing sudah terlanjur mengatakannya, se¬hingga untuk menutup kekeliruannya ia bertahan, “Benar, Kiai, darah ini adalah darah yang kemarin.”

“Jangan, bohong,” dukun itu membentak, “atau bawa saja anakmu pergi. Aku tidak akan bersedia mengobatinya.”

“Kiai,” berkata Kiai Gringsing, “tolonglah anakku. Dan darah itu benar-benar darah kemarin.“

Dukun itu mengerutkan keningnya. Katanya Kemudian, “Baiklah kalau kau tetap akan berbohong. Tetapi aku tetap ber¬pendapat, bahwa darah ini adalah darah yang baru. Maksudku, hari ini.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Dipandanginya saja dukun yang kemudian meraba tubuh Swandaru itu kembali. Dipijit-pijitnya bagian perutnya dan kemudian menjalar naik sampai ke lehernya. Namun semuanya itu tidak lepas dari pengamatan mata Kiai Gringsing yang tajam.

Semakin lama semakin yakinlah Kiai Gringsing, bahwa orang itu memang orang yang mengenal dengan baik ilmu pengobatan. Karena itu maka Kiai Gringsing sama sekali tidak boleh lengah.

Namun tiba-tiba orang itu bergeser surut dan berkata, “Anak¬mu sama sekali tidak digigit seperti yang aku katakan. Racun yang ada di dalam tubuhnya bukanlah racun yang membunuh.” Ia berhenti sejenak, ”Kenapa kau beri anakmu obat yang kau bawa dari pedukuhanmu itu?”

“Aku hanya mengikuti petunjuk dari seorang dukun yang baik di padukuhanku. Ia tahu aku akan menebas hutan. Karena itu ia berikan obat itu dengan pesan, setiap saat salah seorang dari kami keracunan, kami harus menelannya.”

“Tetapi kali ini obatmu tidak akan dapat menyembuhkannya. Racun yang ada di dalam tubuhnya bukanlah racun biasa. Aku belum pernah mengenal jenis racun seperti ini.“

“Lalu?” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

“Sudah aku katakan. Racun ini datangnya sama sekali bukan dari ular, serangga atau pepohonan yang beracun. Tetapi racun ini datangnya begitu saja tanpa sebab. Kau tahu maksudku?”

“Hantu? Begitu?”

”Bertanyalah kepada dukun yang mengenal ilmu gaib. Tidak kepadaku. Aku tidak berani menanggung kemarahan hantu-hantu itu kalau aku mencoba mengobatinya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia yakin kalau dukun itu tidak berkata sebenarnya seperti yang ia ketahui. Racun yang ada di dalam tubuh Swandaru memang bukan racun ular, tetapi bukan berarti tidak dapat diobati. Tanda-tanda pada tubuh Swandaru menunjukkan bahwa ia keracunan. Tidak ada tanda-tanda yang menyimpang, Padahal ia menduga bahwa dukun itu memiliki pengetahuan pengobatan yang cukup.

“Apakah ada kesengajaan ia tidak mau mengobati Swan¬daru ataukah maksud-maksud yang lain?” orang itu bertanya di dalam hati.

“Pergilah,” berkata dukun itu. “Kalau kau tidak segera mendapat mengobatan yang seharusnya, aku tidak tahu akibat apa yang bakal terjadi atas anakmu ini.”

“Tetapi apakah benar-benar Kiai tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Kalau ia keracunan biasa, digigit ular atau binatang-binatang lain, aku sanggup mengobatinya. Tetapi kali ini tidak.“

“Jadi bagaimanakah dengan anakku ini?”

“Bawalah kepada dukun yang seharusnya mengobatinya.”

“Di manakah rumahnya.”

“Datanglah ke barak. Hampir setiap orang mengenal dukun itu.“

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang itu benar-benar tidak bersedia mengobati luka-luka Swandaru. Karena itu maka katanya, “Baiklah. Aku akan pergi ke dukun yang mengenal ilmu gaib itu.”

“Nah, sebaiknya kau memang pergi. Tetapi kau harus berkata berterus terang. Katakan pula bahwa kau telah datang ke rumah ini dan bertemu dengan aku.”

“Baiklah, Kiai, aku minta diri.”

“Tunggu,” berkata orang itu, “aku mempunyai sesuatu.”

Orang itu pun kemudian masuk ke rumahnya. Sejenak kemu¬dian ia keluar pula sambil membawa sebungkus obat-obatan. Katanya, ”Kalau kau bersedia datang ke dukun itu, bawalah obatku ini. Tunjukkan kepadanya dan mintalah syarat. Kau dapat juga ber¬tanya kepadanya tentang bermacam-macam hal tentang penyakit anak¬mu dan kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang.“

“Jadi, jadi Kiai memberinya obat juga?”

“Bukan aku. Aku hanya memberikan bahan. Tanggung jawabnya akan diambil alih oleh dukun ilmu gaib itu. Kau me¬ngerti? Kalau ia menolak obat ini, itu adalah haknya.”

“Baiklah. Baiklah.”

Kiai Gringsung pun kemudian minta diri bersama kedua anak¬nya.

“Hati-hatilah. Kau harus segera menemui dukun itu.”

“Malam ini?”

“Ya, malam ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Baiklah. Terima kasih atas segala petunjuk Kiai.“

Ketiganya pun kemudian meninggalkan rumah itu. Hari sudah menjadi semakin gelap. Di kejauhan tampak lampu obor di gardu pengawas dan di sudut-sudut dan serambi barak. Beberapa buah rumah yang bertebaran telah menutup pintunya rapat-rapat.

Ketika mereka telah keluar dari halaman rumah dukun itu, Agung Sedayu yang hampir tidak tahan lagi segera bertanya, ”Apakah Guru mempercayainya?”

“Tidak seluruhnya,” jawab Kiai Gringsing.

“Dan Guru akan pergi juga ke rumah dukun ilmu gaib itu?”

“Aku akan pergi ke sana.”

“Untuk mendapatkan kesembuhan Swandaru?”

“Aku ingin melihat apa yang dikerjakannya.”

Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Kali ini pun ia mengerti maksud gurunya.

Dengan hati-hati Agung Sedayu bersama gurunya berjalan memapah Swandaru yang masih lemah. Tetapi ternyata keadaan Swandaru menjadi berangsur baik. Agaknya obat yang didapat¬kannya dari gurunya benar-benar mampu melawan racun yang ada di dalam tubuhnya. Sehingga sebenarnya, tidak ada lagi gunanya untuk pergi ke dukun yang lain untuk mendapatkan pengobatan.

“Guru,” Swandaru itu pun kemudian berdesis, ”apakah Guru masih menganggap perlu, berhubungan dengan orang lain? Bukankah dengan demikian justru akan timbul kemungkinan, obat yang aku dapatkan daripadanya tidak sebaik obat Guru sendiri.”

“Memang mungkin, Swandaru,” jawab gurunya, ”tetapi kami tidak akan mempergunakan obat-obat itu.“

”Jadi?“

“Semata-mata untuk mengetahui, apakah yang mereka lakukan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Ketika mereka sampai di depan gardu pengawas, maka para petugas pun segera mengerumuninya dan bertanya tentang keada¬annya.

“Aku dengar kau singgah di rumah dukun itu.“

“Ya, kami telah singgah di rumahnya. Anakku telah mendapat pengobatan seperlunya. Ia sudah berangsur baik,” jawab Kiai Gringsing.

“Sokurlah,” berkata salah seorang dari mereka. ”apakah kata dukun itu tentang penyakit anakmu.”

“Keracunan. Seperti yang sudah aku katakan. Anak ini memang digigit ular. Tetapi bukan ular yang bisanya tajam. Meskipun demikian, kalau terlambat, akibatnya tidak kita harap¬kan.”

“Sokurlah. Bawalah anakmu beristirahat.”

Kiai Gringsing pun kemudian membawa Swandaru berjalan terus. Di barak pun mereka telah dikerumuni oleh para penghuninya. Jawab Kiai Gringsing pun tidak berubah seperti yang selalu dikatakannya, ”Digigit ular. Namun dukun yang baik itu meng¬harap aku menemui dukun ilmu gaib. Di manakah tempatnya?”

“He,” beberapa orang mengerutkan keningnya, ”jadi anakmu tidak digigit ular biasa.”

“Ular biasa. Namun supaya semuanya yakin, aku diharap membawa anakku yang sakit ini.”

“Sekarang?”

“Ya. sekarang.”

“O, jangan sekarang. Jalan ke rumahnya sangat mengerikan.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi ia ingin memenuhi pesan dukun yang menyuruhnya pergi ke rumah orang yang menguasai ilmu gaib itu. Bukan karena ia mempercayainya sepenuhnya, tetapi Kiai Gringsing lebih condong untuk mengetahui, apakah sebenarnya yang terjadi di daerah penebasan hutan ini di dalam keseluruhan.

“Di manakah rumahnya?” Kiai Gringsing kemudian ber¬tanya.

Orang-orang yang mengerumuninya saling berpandangan. Sejenak mereka tidak ada yang menjawab. Dan orang yang semakin lama semakin banyak itu telah dibayangi oleh keragu-raguan.

Dalam pada itu orang yang kekurus-kurusan mendesak di antara mereka yang mengerumuni Kiai Gringsing sambil bertanya, “Apa yang telah terjadi?”

Sebelum Kiai Gringsing menjawab, orang itu telah berkata pula, “Nah lihat. Akibat dari keberanian kalian yang kurang perhitungan.”

”Bukan keberanian, tetapi kesombongan,” berkata orang yang bertubuh kekar.

Kiai Gringsing memandang kedua orang itu berganti-ganti, lalu, “Anakku digigit ular.”

“Apa pun sebabnya, tetapi itu adalah akibat kemarahan hantu-hantu itu. Sekarang anakmu digigit ular, tetapi lain kali kau akan ditelan harimau. Atau kalian akan sakit tanpa sebab.“

Kiai Gringsing tidak menyahut. Namun tampak wajah-wajah yang ketakutan mengitarinya.

“Kalau hanya kalian bertiga saja yang menjadi korban oleh kesombonganmu, itu tidak berarti apa-apa bagi kami. Tetapi kalau mereka marah, dan kami pula harus menanggung akibatnya, maka itu adalah kecelakaan yang pahit. Dan sebab daripadanya adalah kau.”

Agung Sedayu bergeser setapak. Namun gurunya mengga¬mitnya sambil mengedipkan matanya.

“Jadi, apakah yang sebaiknya aku lakukan?”

“Batalkan niatmu menebas hutan di bagian yang paling wingit itu.”

”Itu bukan maksudku. Bukan akulah yang memilihnya.”

“Tetapi kau dapat minta kepada para petugas, agar kau ditempatkan bersama dengan kami.”

“Baiklah. Aku akan membicarakannya dengan para petugas,” sahut Kiai Gringsing, ”tetapi di mana rumah dukun ilmu gaib itu?”

“Tunggulah sampai besok.“

“Aku tidak berani menanggung akibatnya. Menurut petunjuk, aku harus pergi sekarang juga.”

“Gila. Kalian memang orang-orang yang tidak mempuyai perhitungan,” geram orang yang kurus, ”tetapi baiklah. Niatmu pergi ke rumah dukun itu baik. Mengobati anakmu dan agaknya kau akan bertobat dan menurut segala petunjuknya, nasehatnya, dan sudah tentu cara-cara pengobatannya.”

“Ya.”

“Kalau begitu, kau dapat pergi kepadanya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Tetapi bagaimana kalau niatku tidak demikian?”

“He, kau jangan berbuat gila.”

“Maksudku, kalau ada orang yang berbuat demikian.”

“Ia tidak akan sampai ke rumah dukun ilmu gaib itu.”

“Dan kenapa dukun ilmu gaib itu sendiri berani tinggal di tempat yang mengerikan.”

“Kau orang sombong yang bodoh,” berkata orang yang kekar. ”Ia memiliki segala macam ilmu lahir dan batin. Ia dapat bergaul dengan baik dengan hantu-hantu itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kemudian katanya, ”Kalau begitu, aku akan mendahului para petugas. Mohon kepadanya agar ia bersedia berada di antara kita, supaya kita tidak selalu diganggu oleh hantu-hantu itu. Kalau dukun itu bersedia mengawani kita di sini, bukankah kita akan aman.”

“Gila kau. Itu pikiran gila. Aku nasehatkan kepadamu, jangan berpikir yang bukan-bukan supaya kau tidak dicekik di perjalanan.”

“Baiklah,” jawab Kiai Gringsing, ”sebaiknya aku segera berangkat.”

“Tetapi kau belum makan,” berkata seseorang yang lain, “rangsummu masih ada di tempatnya.“

“O, baiklah. Kami akan makan lebih dahulu. Tetapi kami belum mendapat petunjuk di mana rumah itu.”

Orang yang kurus itu pun kemudian berkata, ”Kau ikut jalan di muka barak ini terus ke Timur. Kemudian di sebelah pohon yang besar, di sebelah selokan yang baru dibuat itu, kau berbelok ke kanan.”

“Apakah di sana ada jalan?“

“Jalan setapak.”

“Jauh? “

“Tidak begitu jauh. Kau akan sampai ke sebuah sungai.”

“Yang curam itu?“

”Ya. Kau naik ke seberang, kemudian masuk ke daerah yang masih belum banyak diambah orang.”

“Apakah ia tinggal di dalam hutan?”

“Ya. Tetapi hutan itu tidak selebat yang kita kerjakan di sini. Justru karena hutan itu tidak begitu buas, maka daerah itu masih dibiarkan. Tetapi lebih daripada itu, daerah itu sangat wingit. Jauh lebih wingit dari yang kau kerjakan sekarang.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ia tinggal di antara batu-batu besar yang berserakan, di bawah sebatang pohon preh yang tua sekali. Ia membangun pondoknya di situ. Jarang sekali orang yang berani mengunjunginya apabila tidak didorong oleh keperluan yang sangat mendesak seperti kau ini”

“Ya, ya aku tahu. Tetapi jarak itu adalah jarak yang pan¬jang. Lewat daerah yang belum cukup aku kenal dan tentu sa¬ngat gelap dan rimbun.”

“Tetapi sekali lagi, kalau niatmu naik, kau tidak akan menemui halangan apa pun.“

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar, bah¬wa jalan ke tempat orang yang dicarinya itu adalah jalan yang memang rumit. Namun Kiai Gringsing adalah seorang perantau yang telah menempuh jalan yang bagaimanapun juga. Jangankan jalan yang pernah diambah oleh seseorang, sedangkan jalan yang belum pernah disentuh oleh seseorang pun pernah dilewati¬nya.

Namun sebelum Kiai Gringsing memutuskan untuk pergi, mereka, Kiai Gringsing bersama kedua muridnya, lebih dahulu pergi ke sudut barak, untuk mengambil rangsum mereka.

“Kita makan lebih dahulu,” berkata Kiai Gringsing. Lalu kepada Agung Sedayu ia berkata, ”Ambillah semangkuk air untuk mencuci tangan.”

Agung Sedayu pun kemudian mengambil semangkuk air un¬tuk mencuci tangan. Tetapi ketika Kiai Gringsing melihat air itu ia berkata, ”Lihat. Aku memerlukan air itu.”

Agung Sedayu tidak mengerti maksud gurunya. Tetapi diberikannya air di dalam mangkuk itu, yang ternyata tidak di¬pakainya untuk mencuci tangannya.

“Makanlah,” berkata Kiai Gringsing, ”tetapi air ini aku perlukan untuk keperluan yang lain.“

Agung Sedayu tidak segera berani bertanya. Maka dibuka¬nya bungkusan makanannya dan kemudian dimakannya dengan lahapnya, seperti juga gurunya. Hanya Swandaru sajalah, yang dengan susah payah berusaha untuk menelan makannya sesuap demi sesuap.

“Makanlah, supaya kau cepat menjadi baik,” berkata gurunya. Dan Swandaru pun telah memaksa dirinya untuk makan sebanyak-banyaknya meskipun ia tidak berhasil menghabiskan rangsumnya seperti biasanya.

Setelah mereka selesai makan, maka berkata Kiai Gringsing, ”Kemarilah Swandaru. Aku memerlukan kau.”

Swandaru mengerutkan keningnya, dan selangkah ia ber¬geser mendekati gurunya.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?“

“Semakin baik, Guru.“

“Bagus,” sahut gurunya, “kemarilah. Aku memerlukan noda-noda dibajumu itu.”

Swandaru masih belum mengerti maksud gurunya. Karena itu, ia mendekat lagi.

“Bukalah bajumu. Gantilah dengan bajumu yang sebuah lagi.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dibukanya dan ia mengenakan bajunya yang lain.

Kiai Gringsing menerima baju Swandaru yang telah kotor itu. Baju yang memang sudah kumal dan lusuh, yang selalu di¬pakainya sehari-hari apabila ia pergi bekerja.

“Untunglah kau tidak berbuka baju saat itu,” berkata Kiai Gringsing. ”Bukankah kau biasanya membuka bajumu ka¬lau bekerja?”

“Ya, Guru.”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Perlahan-lahan Kiai Gringsing membasahi noda darah di baju Swandaru sambil berdesis, ”Lihat, apakah ada orang yang mengamati kita?”

Agung Sedayu menebarkan pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya orang-orang lain sibuk dengan kepentingannya sendiri. Sedang orang yang kekurus-kurusan berdiri di pintu barak meman¬dang ke luar. Di luar, di serambi barak, beberapa orang telah ber¬baring di tempat masing-masing.

“Awasilah, jangan ada orang yang melihat apa yang aku lakukan.”

“Baiklah, Guru.”

Kiai Gringsing sendiri berpaling sejenak. Kemudian ia duduk menghadap ke dinding. Dicelupkannya ujung baju Swandaru yang terpercik darah orang yang tiba-tiba saja telah memeluk Swandaru dalam keadaan luka parah.

Sejenak Swandaru menatap wajah gurunya yang tegang. Dengan teliti Kiai Gringsing mengamati titik air yang kemudian menjadi kemerah-merahan.

Wajah orang tua itu semakin lama menjadi semakin tegang memandangi air di dalam mangkuk itu, sehingga akhirnya ia me¬narik nafas dalam-dalam.

“Kenapa, Guru?” bertanya Swandaru.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ada sesuatu tersimpan di hatinya. Namun ia hanya berkata, ”Aku masih ha¬rus meyakinkan banyak hal di sini.” Ia merenung sejenak, lalu, “Swandaru, kau tidak usah ikut aku ke tempat dukun itu. Biar¬lah Agung Sedayu menunggui kau di sini. Aku akan pergi sen¬diri.”

“Apakah artinya, Guru?”

“Jangan terlampau keras,” potong Kiai Gringsing cepat-cepat. ”Biarlah sementara aku tidak mengatakannya se¬babnya. Tetapi untuk menempuh jalan yang sulit itu. Swandaru masih terlampau lemah.”

“Tidak, Guru. Aku sudah menjadi semakin baik.”

“Tetapi jalan itu sangat sulit.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang wajah Agung Sedayu, ia melihat pertanyaan yang tersirat pula di sorot matanya.

“Jangan ributkan hal ini,” berkata gurunya, ”aku akan pergi sendiri. Swandaru masih harus berbaring dengan tenang untuk mendapatkan tenaganya kembali seperti sediakala.“ Katanya kepada Agung Sedayu, ”Tungguilah adikmu. Ingat, pada orang-orang yang aneh itu. Kepada orang yang kurus dan orang yang bertubuh kekar itu. Biar saja apa yang mereka katakan dan mereka nasehatkan. Dengar saja dan anggukkan kepalamu kalau kau segan mengiakannya.”

Agung Sedayu tidak segera menyahut. Tetapi keragu-raguannya menjadi semakin membayang di wajahnya.

“Untuk sementara kau pasti akan berteka-teki. Tetapi pada saatnya kau akan mengetahui, apa yang sebenarnya aku lakukan.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Tetapi, bukankah Guru akan segera kembali?”

“Aku akan berusaha untuk segera kembali. Kalau lewat tengah malam aku belum juga kembali, aku menemui kesulitan.”

Dada Agung Sedayu berdesir. Dengan demikian ia sadar, bahwa gurunya pun merasa bahwa masalah yang dihadapinya bukan sebuah permainan yang mengasikkan. Tetapi gurunya menganggap bahwa masalah adik seperguruannya itu adalah ma¬salah yang bersungguh-sungguh.

Dengan demikian hampir di luar sadarnya ia berkata, ”Ka¬lau Guru tidak kembali setelah tengah malam, apakah aku harus mencarinya?”

“Terima kasih. Tetapi jangan diburu oleh nafsu dan perasaan,” jawab gurunya. ”Kalau aku tidak dapat menghindarkan diri dari kesulitan itu, maka kau pasti hanya akan menam¬bah jumlah korban.”

“O,“ Agung Sedayu menundukkan kepalanya, ”jadi ba¬gaimana?“

“Agung Sedayu dan Swandaru,” Kiai Gringsing semakin bersungguh-sungguh, ”kalau aku tidak kembali, jangan coba-coba untuk mencari sendiri.”

“Lalu?”

“Kau berdua harus menghadap Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ceriterakan apa yang telah terjadi,” sambung gurunya, lalu, ”tetapi aku agaknya berpikir terlampau jauh. Agaknya ti¬dak akan ada apa-apa di sepanjang jalan.“

“Mudah-mudahan, Guru.”

“Tetapi ingat, hati-hatilah kalian di sini. Jangan berbuat sesuatu yang dapat menambah kesulitan.”

Kedua muridnya menganggukkan kepalanya.

“Aku akan membawa obat pemberian dukun itu. Mudah-mudahan aku menemukan sesuatu.”

Kiai Gringsing pun kemudian minta diri kepada kedua muridnya, dan kemudian beberapa orang yang masih duduk-duduk di dalam barak yang diterangi oleh lampu minyak itu.

“He, kau tidak jadi membawa anakmu yang sakit itu?”

“Aku berubah pendapat,” katanya, ”aku pikir jalan sangat sulit untuk orang yang sedang sakit. Aku akan pergi sendiri.“

Tiba-tiba saja orang yaag kurus itu pun mendekatinya, “Jadi kau pergi sendiri?”

“Aku kasihan kepada anakku. Ia masih terlampau lemah dan barangkali justru akan mempersulit perjalanan.”

“Lalu, bagaimana dukun sakti itu dapat mengobati anak¬mu kalau ia tidak melihat keadaannya.”

“Aku yakin bahwa dukun sakti itu mengerti apa yang di¬hadapinya tanpa melihat orangnya.”

Orang yang kurus itu tidak menyahut lagi. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia memandang Kiai Gringsing melangkah keluar pintu barak. Di luar malam telah menjadi semakin kelam, dan orang-orang yang hanya berada di serambi barak itu telah berba¬ring di tempat masing-masing.

“Kau terlampau berani,” seseorang berdesis.

Kiai Gringsing berpaling. Katanya kemudian, ”Inilah kuwajiban seorang ayah. Betapa pun aku dicengkam oleh ketakutan tetapi aku harus berangkat. Anakku memerlukannya.“

Orang itu memandanginya dengan penuh iba. Terdengar ia berdesis, ”Truna Podang, meskipun tampangmu seperti seorang badut kecil, tetapi kau adalah seorang ayah yang baik. Seandai¬nya aku yang menanggung peristiwa semacam itu, aku tidak akan berani berbuat seperti kau. Aku pasti akan mati beku di sepanjang jalan menuju ke rumah dukun sakti yang dikerumuni …………….,” orang itu tidak berani meneruskan kata-katanya.

Seorang kawannya yang berbaring di sampingnya telah menyentuhnya.

“Dikerumuni apa?” bertanya Kiai Gringsing meskipun sebenarnya ia tahu, kata-kata apakah yang tidak terlontar dari mulut orang itu.

Orang itu hanya menggelengkan kepalanya saja, sedang Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

Di luar Kiai Gringsing masih melihat orang yang kekar itu berjalan sambil menjinjing sebuah mangkuk berisi air. Ketika orang itu melihat pula Kiai Gringsing, ia bertanya, ”Kau jadi akan pergi?”

“Ya.”

“Mana anak-anakmu?” bertanya orang yang kekar itu.

“Aku berubah pendirian. Aku tidak membawa anak-anakku. Yang sakit itu masih terlampau lemah, sedang jalan menuju ke tempat dukun ilmu gaib itu terlampau sulit.“

Orang yang bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya Lalu katanya, ”Apakah sebenarnya maksudmu?”

“Aku tidak mengerti pertanyaanmu.“

”Kenapa anakmu tidak kau bawa?”

“Ia masih terlampau lelah.”

“Bukankah anakmu yang sakit, yang kau katakan digigit ular itu?”

“Ya.”

“Terserahlah kepadamu. Aku tidak tahu, apakah yang seharusnya kau lakukan, supaya kau selamat. Kau adalah orang yang keras kepala. Orang yang keras kepala seperti kau itulah yang biasanya akan menjumpai banyak kesulitan.“

“Mudah-mudahan aku tidak,” sahut Truna Podang, ”aku sudah terlampau bingung karena anakku sakit. Aku tidak dapat berbuat lain. Aku tidak sempat memikirkan diriku sendiri.”

“Sama sekali tidak. Kau sama sekali tidak memikirkan keselamatan anak-anakmu. Kau terlampau mementingkan dirimu sendiri.”

“Kenapa?”

“Kalau kau mau mundur setapak, maka anak-anakmu akan se¬lamat. Tanah itu adalah tanah yang wingit. Berapa orang ter¬paksa mengurungkan niatnya. Kau sudah mendengar, sekarang kau mengalaminya sendiri. Tetapi kau masih tetap berkeras kepala.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Meskipun kepalanya terangguk-angguk namun sama sekali tidak terbersit niat di hatinya untuk menarik diri dari kerja yang sudah dimulainya. Bukan karena ia ingin sebidang tanah garapan, tetapi ia justru semakin ingin me¬ngetahui apakah yang sebenarnya tengah berlangsung di antara kesibukan Ki Gede Pemanahan dan puteranya yang lagi membuka hutan ini.

Orang yang kekar itu masih berdiri sejenak memandangi¬nya, seakan-akan ia ingin meyakinkan, apakah Kiai Gringsing yang dikenalnya bernama Truna Podang itu benar-benar mengerti maksudnya.

Karena Truna Podang itu tidak menjawab, maka orang itu berkata pula, ”Pikirkan kata-kataku sebelum terlanjur. Sekarang, kalau kau mau pergi ke rumah dukun sakti itu, pergilah. Sekali lagi aku pesan, hati-hati di jalan dan jangan berniat untuk berbuat aneh-aneh supaya kau sempat pulang kembali menemui anak-anakmu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Terima kasih.“

Ketika orang itu meninggalkannya, Kiai Gringsing pun ke¬mudian berjalan tertatih-tatih meninggalkan barak yang menjadi se¬makin sepi. Seseorang memandanginya dengan perasaan kasihan. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Sejenak kemudian orang yang bertubuh kekar itu pun masuk pula ke dalam barak sambil bergumam, ”Orang yang bodoh dan tamak. Dikorbankannya anak-anaknya untuk kepuasan pribadinya. Kalau ia mendapatkan tanah itu, tetapi kehilangan anak-anaknya, buat apakah sebenarnya tanah itu baginya yang sudah begitu tua?”

“Ada apa?” tanya seseorang.

“Truna Podang,” jawab orang itu, ”ia sampai hati mengorbankan anak-anaknya untuk mendapatkan harta lahiriah.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (50)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-52/trackback/

RSS feed for comments on this post.

50 KomentarTinggalkan komentar

  1. yang katanya jam 10, itu jilid 51 ato jilid 52 yah ? he he ….

  2. adakah yang berani mengobral janji lagi? Klo jilid 52 bakal terbit malam nanti?
    Buktikan menorehmu!!!
    tetap semangaaaat

    • Sugeng enjing mbah man….sudah sehatkah ?
      ..terusan Adbmnya mana…?

      • sugeng siang ki kartu….mbah mannya mana ?

  3. sabar kisanak, sabaaaar

    xixixi 😀
    Ki KontosWedul

  4. Nek ra sabar..main silat dewe wae..

  5. “Entahlah Kiai, rasa-rasanya kepalaku menjadi semakin pepat menunggu kepastian. Seandainya saja gambaran itu tertulis di atas lontar, aku pun mungkin tidak menjadi semakin pening.” katanya kepada Kiai Gringsing.

  6. “Akupun sebenarnya masih menduga-duga, siapa sebenarnya hantu2 itu. Tetapi aku yakin hantu itu tidak akan muncul nanti malam, karena belum ada tanda2 covernya” desis Kiai Gringsing.

  7. “…hmm, setahun lagi mungkin akan berdiri puluhan atau bahkan ratusan perguruan orang bercambuk diseantero negeri ini. Para cantrik yang sekarang sedang giat-giatnya mengunduh ilmu di padepokan inilah yang nantinya akan jadi penerusku”.
    “Semoga mereka tidak menjadi keblinger, dengan mengkomersilkan kitab-kitab yang sudah aku wariskan semua”, gumam Gembala Tua dengan penuh harap.

  8. “Tetapi guru, apakah kita akan membiarkan saja keadaan ini ? Rasa-rasanya aku sudah tidak bisa menahan diri lagi.” geram Swandaru.

  9. Wah wis pinter-pinter yho saiki…ngompori ben ndang metu po

  10. Yah, covernya ja blom da… Mdah2an ga lama lg…

  11. sabar ngger, ada kalanya kekecewaan adalah jalan menuju ketabahan. semuanya ada waktunya. kepedihan ini ini akan menjadikan kita semakin dewasa…Hanya orang2 yang merasakan kepahitan yang akan mengecup manisnya rasa.

  12. pada menunggu bangkit nya hantu Ki Tambak Wedi ya…

  13. blom ada tanda2 keliatan…

  14. “Sutawijaya,…semenjak Kiai Gringsing & kedua muridnya ikut membuka alas Mentaok, penunggang2 kuda misterius itu tidak pernah muncul 2 hari ini.” kata Ki Gede Pemanahan.
    “Apakah mereka sedang merencanakan sesuatu Ayah?” tanya Sutawijaya.
    “Hhhmmm…mungkin, hal itu sangat mungkin sekali anakku. Mungkin juga mereka sedang menguji kesabaran kita.” desis Ki Gede Pemanahan.

  15. “Apabila diperkenankan, biarlah kami nganglang ke daerah di sekitar tempat Kiai Gringsing dan kedua muridnya membuka hutan, dan mencoba menyisir gubug-gubug yang sudah ditinggalkan penghuninya itu. Siapa tahu kami dapat menemukan hantu-hantu tersebut beserta covernya yang berharga.” kata Dipasanga.

  16. “Apa kisanak sudah pada mampu meningkatkan jurus2 di jilid 52 ?” Kyai Gringsing berta dengan sareh, bersabarlah, setapak demi setapak kemampuan kisanak akan sampai ke sana, matangkan dulu jilid 51 hehehe….

  17. Agung Sedayu sejenak termangu-mangu memandang pepatnya hutan. Hm, tidak mudah memang, untuk menyisiri Alas Mentaok sampai ke Pliridan sana, menemukan kitab Jilid-52 yang agaknya tercecer di antara pohon-pohon yang rapat berjejalan, gerumbul-gerumbul semak berduri serta oyod bebondotan …

  18. “Guru, apakah kita akan melanjutkan lagi penebangan hutan ini lebih kedalam?” tanya Agung Sedayu.

    “Sebentar dulu ngger. Kita masih memerlukan alat-alat tambahan sesuai petunjuk-petunjuk pada buku jilid 52” jawab Kiai Gringsing.

    “Semoga saja buku itu segera diantarkan oleh moderator” jawab Swandaru. “Tanpa buku itu kita tidak tahu pula siapa sebenarnya hantu-hantu yang mulai menggelisahkan warga padukuhan ini”

  19. Ketika sedang mencari orang – orang berkuda misterius yang telah mencuri kitab jilid 52, sampailah Swandaru ke depan sebuah gua. Dengan hati – hati diintipnya sisi dalam gua itu. Dan dada Swandaru berdesir. Di dalam gua itu tidak didapatinya orang – orang berkuda yang di carinya, akan tetapi dilihatnya dua orang yang sedang main kuda – kudaan…

  20. Masa seh, moderator ga panas dg komentar2 yg bikin gregetan itu….

  21. “Guru,… suara derap kaki kuda itu kian dekat, sekilas nampak bayangan2nya. tetapi masih samar.” bisik Agung Sedayu.
    “Ya,… setidak-tidaknya ada harapan karena aku liat kudanya sudah mulai nampak diantara rimbunan pohon2 itu.” sahut Kiai Gringsing.
    “Aku tak bisa menahan diri lagi Guru…” tiba-tiba Swandaru berteriak sambil meloncat menyongsong kedatangan penunggang2 kuda misterius itu, tetapi dia tertahan karena sepasang tangan yg kokoh memegang lengan tangannya.
    “Sabar Swandaru,… yg datang baru covernya. Ada cover ada harapan…”

  22. Sabar kisanak. Seperti kata Ki Demang, ada cover ada harapan

  23. Waaah… gambarnya kok lawan tengkorak berkuda gitu.. ada apalagi niiih…

  24. bersabarlah……
    berilah kesempatan gembala tua untuk “ngaso” sejenak
    mungkin kyai “scanner” juga butuh istirahat
    bayangkan…
    sudah beratus-ratus lembar yang telah di “sorot”..
    dan ribuan lembar lagi yang harus disorot
    semua itu … hanya untuk kita semua

    kita cuma bisa bilang
    maturnuwun…..

  25. “……ngger, gendonganmu kok semakin besar, makanan siapa yang angger ambil?” Sumangkar berkata selagi istirahat. “….. huh … biar saja kiai, biar kapok mereka! Jawab Sekar Mirah dengan kesal. “Siapa yang akan kapok…” Dengan heran Sumangkar bertanya lagi.
    Ketika Sumangkar membuka isi gendongan muridnya, ia agak heran melihat beberapa kumpulan tulisan kuna di dalamnya.
    “Ngger …. kalau salinan kitab nomer 52 sampai 60 kamu bawa…. bagaimana Swandaru dan Agung Sedayu mengisi kekosongan waktunya setelah bekerja keras….? tegur Sumangkar. Sekar Mirah hanya tersenyum … saja. Ia merasa menang, karena bisa membuat pusing orang banyak.

  26. “mudah-mudahan, ngger….”, berkata Kiai Gringsing dengan sarehnya.

  27. ” maaf kiai… ” berkata Dipasanga “penghubung yang ditugaskan untuk membawa kitab tersebut, ternyata di cegat oleh petugas telik sandi Pajang, kami akan segera mengirimkan bantuan untuk menjemput… mudah2-an sebelum matahari terbenam utusan itu sudah kembali”.

  28. “Biarlah angger Agung Sedayu mengawani utusan Ki Dipasanga itu, untuk mengurangi kekisruhan yang mungkin terjadi. Namun demikian, berhati-hatilah, kita tidak tahu pasti perkembangan yang akan terjadi, walaupun cover tersebut memang memberikan harapan.” jawab Kiai Gringsing.

  29. “Terima kasih Ki DDe… atas petunjukmu kini kami bisa bertemu dengan penunggang kuda misterius ini.” sahut Kiai Gringsing

  30. jilid 52 dah daku terima
    makasih kyai

  31. Kalo comment untuk setiap jilid dikumpulkan, bisa jadi suatu buku yang lumayan nyeleneh….he…he

  32. urun konvert-an buku 52 ki…
    langsung ke emailnya ki gde menoreh

  33. “akhirnja hari ini djuga kita temukan obat penawar ratjunnya itu”, ujar Kiyai Gringsing kepada Agung Sedayu. “Tjepat batja buku 52-nya supaja, Swandaru tjepat pulih dan ratjun di sekujur tubuhnja tjepat hilang.”

  34. buat Ki goenas yang punya convertannya, boleh dong aku minta

  35. mbaca komentar wong-wong ki jan ndadekke aku koyo wong gendeng, ngguya-ngguyu dewe, wis jan apik tenan, koyok’e wis dho oleh ilmune Ki Gede SH Mintardja kabeh.

  36. “Sokurlah, ngger, akhirnya Jilid 52 ini bisa kita terima bersama dengan rangsum kiriman dari Menoreh,” ujar Kiai Gringsing kepada kedua muridnya.

    Lanjutnya lagi, “Nah, dengan semangat baru ini kuharap kalian tidak perlu takut lagi kepada hantu-hantu itu dan bermalas-malasan membuka bidang hutan yang menjadi bagian kita, setidak-tidaknya sampai datang kiriman jilid yang baru.”

    Kedua bekas gembala itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengiakan, namun matanya tak lepas-lepas dari lembar-lembar jilid yang menarik hati itu.

  37. “Swandaru gerakanmu masih dijilid 51, coba tinkatkan spt Agung Sedayu yang sudah meningkat ke jilid 52, mungkin nanti malam sudah ke jilid 53, Angger kurang sabar..”Kata Kyai Gringsing.
    Di mana Agung Sedayu kok tidak kelihatan,”Lagi di belakang Kyai, mesu diri untuk mempersiapkan ilmu di jilid 53 nanti malam” Kata Swandaru Geni.
    “Hmmm….contohlah kakakmu Ngger….”Kata Kyai Gringsing
    Swndaru semakin menundukkan kepalanya…….

  38. Dho kesurupan di alas Mentaok

  39. komentarnya lucu2 banget….jadi geli liat semua warga padukuhan pada gregetan…

    buruan apa ki Dede…aku juga deg degan nungguinya…aku punya penyakit lemah jantung (beneran..)

  40. ngger, berkata ki Sumangkar kepada kedua murid kiai Gringsing :” apa kamu berdua sudah dapat mempelajari jurus cambuk jilid 50 dan jilid 51?”. Belum ki,gurru belum mengijinkan, tapi aku sudah bisa mengungkapkan tenaga cadangan jilid 52 yang diberi guru tadi pagi,jawabnya.
    “O” desis ki Sumangkar, ya kalau begitu sabar.

  41. “aku sedih kakang, meskipun berhasil mengungkapkan rahasia kitab 52 namun aku belum berhasil membuka kitab 50 dan 51, maukah kau menolongku kang?” berkata Swandaru kepada Agung Sedayu. “Berikan convertnya kang……….”

    GD: Aku jadi kasihan kepadamu, Met. Jadi, tadi aku suruh Gupala untuk mengantarkan Kitab 50 langsung ke rumahmu. Jadi, tengoklah rumahmu, mungkin sudah sampai.

  42. banyak terima kasih, sudah diberi kesempatan untuk membaca adbm. Moga2 bisa sampai jilid terakhir …..

    matur nuwun sanget mas2 dan mbak2 .. yang sudah bersusah payah untuk menampilkan adbm di dunia maya … hehe …

  43. Kerennnnnnn….wah nggak sabar ngejar para cantrik yg di ujung-ujung…

  44. aku malah jadi nyasar ke sini??…
    lha ga ada orang je???

  45. Hiaaaat, tanpa terasa sampe siNI juga akhirnya……!!??

    • sugeng enjang

      • haduuu kaged akuuu

        • aja kagetan,
          aja gumunan,
          aja….aja….ana apa2ne


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: