Buku 52

“Sudahlah,“ berkata Kiai Gringsing, ”jangan hiraukan lagi batu itu. Biarlah ia tetap di situ. Sekarang, marilah kita lihat orang yang luka itu.” Lalu ia berpaling kepada Swandaru, ”Orang itu kau tinggalkan di dalam ketakutan.”

Swandaru tidak segera menyahut.

“Sebaiknya kau tunggui orang itu,” sambung gurunya, ”mungkin ia akan mati ketakutan.”

“Aku ingin juga melihat apa yang terjadi di sini,” jawab Swandaru tanpa memandang wajah gurunya.

“Sudahlah. Marilah kita lihat,” sahut Kiai Gringsing kemudian.

Ketiganya pun berjalan dengan tergesa-gesa kembali ke tanah garapan mereka. Mereka ingin segera melihat, apakah yang su¬dah terjadi dengan orang yang terluka dan ketakutan itu.

Ketika mereka muncul dari balik pepohonan yang rimbun, mereka melihat tanah garapan mereka itu masih tetap sepi. Na¬mun mereka tidak segera melihat orang yang sedang dicengkam oleh ketakutan itu. Karena itu, maka langkah mereka pun men¬jadi semakin cepat, meloncati pepohonan yang sudah diroboh¬kan, tetapi masih saja malang melintang.

“Di mana orang itu?” desis Swandaru.

“Di mana kau tinggalkan tadi?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku mendorongnya sehingga ia jatuh tertelentang.”

“O, mungkin ia pingsan. Marilah kita lihat.”

Ketiganya berjalan semakin cepat. Bahkan kemudian me¬reka pun seolah-olah berlari sambil meloncat-loncat, melangkahi kayu-kayu yang roboh dan gerumbul-gerumbul perdu.

Namun darah mereka serasa berhenti mengalir, ketika me¬reka tidak melihat orang yang ketakutan itu di tempatnya. Yang mereka lihat adalah percikan-percikan darah di sekitarnya. Bahkan sesobek dari pakaian orang yang terluka itu.

“Guru, apakah yang kira-kira sudah terjadi?” Swandaru terpekik.

Kiai Gringsing pun dengan serta merta berjongkok di tempat itu untuk melihat apa-apa yang kiranya sudah terjadi.

“Mungkinkah ada binatang buas?“ bertanya Agung Sedayu.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, ”Tentu bukan binatang buas,” katanya, ”tidak ada bekas binatang buas sama sekali.“

Ketiganya sejenak saling berdiam diri. Dengan cermat me¬reka melihat bekas-bekas yang dapat mereka pergunakan sebagai bahan untuk mengenali peristiwa yang aneh itu.

“Darah itu menodai rerumputan di sekitar tempat ini, Guru,” desis Agung Sedayu kemudian.

“Apakah telah terjadi pergulatan yang sengit?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, ”Mungkin bu¬kan pergulatan. Tetapi orang yang ketakutan itu telah meronta-ronta sehingga darahnya memercik ke segala arah.”

“Lihat,” tiba-tiba Swandaru berteriak.

Kiai Gringsing dan Agung Sedayu pun segera berdiri dan mendekatinya.

“Darah itu menitik menuju kemari.”

“Terus,” sambung Agung Sedayu, ”di sini pun terdapat bekas-bekasnya memanjang.“

“Tentu orang itu sudah dibawa masuk ke dalam hutan itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Ya. Orang itu sudah dibawa masuk kembali ke dalam hutan. Tetapi agaknya bukan binatang buas.”

“Atau ada binatang jenis lain yang belum kita kenal, Guru?”

Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya, ”Hampir se¬mua jenis binatang di hutan ini sudah aku kenal. Memang mungkin ada satu dua yang belum pernah aku lihat. Tetapi bekas-bekas¬nya pasti ada di sekitar tempat ini. Bekas-bekas kaki atau kuku atau apa pun.”

“Apakah mungkin dongeng tentang burung garuda rak¬sasa itu benar-benar ada, Guru?”

“Garuda raksasa itu pun pasti akan meninggalkan bekas. Sentuhan sayapnya atau kuku-kuku kakinya. Tetapi kita tidak me¬lihat bekas apa pun selain percikan-percikan darah.”

Swandaru dan Agung Sedayu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi mereka sudah mulai dirayapi oleh kebimbangan menghadapi masalah yang bagi mereka sangat membingungkan ini.

Gurunya pun segera melihat kebimbangan yang melonjak di dada murid-muridnya. Usia mereka dan pengalaman mereka yang ma¬sih terlampau sedikit, memang masih memungkinkan keteguhan hati mereka tergoyahkan.

Karena itu, maka katanya, ”Jangan kau ributkan lagi ma¬salah ini. Mungkin kita belum menemukan pemecahannya saja. Tetapi hampir tidak ada rahasia lahiriah yang tidak terpecah¬kan.”

“Tetapi orang-orang yang sudah lama di tempat ini pun masih belum dapat menduga apa yang sebenarnya telah terjadi, selain anggapan mereka bahwa semuanya ini disebabkan oleh hantu-hantu.”

“Itu adalah satu dari banyak kemungkinan, tetapi bukan satu-satunya.”
Kedua murid Kiai Gringsing itu pun kemudian tidak ber¬tanya lagi. Tetapi mereka masih saja memandangi percikan da¬rah yang berserakan. Berbagai macam dugaan telah merayapi dada mereka. Bahkan betapapun kecilnya, tetapi tumbuh juga bertanyaan, ”Apakah daerah ini benar-benar telah dijelajahi oleh hantu-hantu?”

Ketika kemudian Kiai Gringsing kembali mengambil kapaknya, maka kedua muridnya itu pun kembali pula kepada kerja mereka, meskipun dengan hati yang bimbang.

Orang yang ketakutan itu telah menumbuhkan pertanyaan yang masih belum terjawab. Apalagi orang itu tiba-tiba saja telah hilang tanpa bekas.

“Inikah sebabnya, maka tanah ini ditinggalkan oleh penggarap-penggarapnya yang terdahulu?” bertanya Swandaru sambil berbisik kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin juga. Tetapi kita tidak akan dapat meyakinkan hal itu.”

“Ya. Memang benar juga kata guru bahwa mencari ja¬wabnya pada hantu-hantu adalah salah satu saja dari sekian banyak jawaban-jawanan yang lain.“

“Ya. Dan itu termasuk rencana kita untuk memecahkan teka-teki ini. Seandainya kita benar-benar berhadapan dengan hantu-hantu, maka kita pun pasti, hantu yang mana yang mengganggu kerja yang besar dari Ki Gede Pemanahan ini.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia sudah ti¬dak bertanya lagi. Perlahan-lahan ia mulai mengangkat kapaknya, kemudian terayun pada batang-batang pohon yang besar, yang harus mereka singkirkan.

“Badanku terasa lungkrah,” desis Swandaru, ”tenaga¬ku tidak seperti biasanya.”

“Kau terpengaruh oleh peristiwa yang baru saja terjadi,” sahut Agung Sedayu.

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Memang, hal itu mungkin sekali,” jawabnya. “Aku tidak dapat melepaskan pikiran itu. Orang itu telah dibawa oleh seseorang atau katakan sesuatu yang sangat ditakutinya. Hal itu tentu merupakan suatu peristiwa yang mengerikan sekali baginya. Mungkin juga tidak akan menjadi sangat ketakutan seperti itu seandainya ia dihukum mati sama sekali.”

“Ya,” jawab Agung Sedayu. ”Dan tidak seorang pun yang mengetahui, apa yang telah terjadi atasnya kini. Apakah tubuhnya telah menjadi santapan harimau lapar, atau oleh seri¬gala liar, atau memang diperlukan oleh hantu-hantu itu.”

Swandaru tidak menyahut. Kepalanya terangguk-angguk kecil. Dicobanya untuk melupakan apa yang telah terjadi.

“Aku bukan apa-apanya. Orang itu bukan keluarga atau sa¬habatku,” ia mencoba berkata di dalam dirinya untuk mengu¬rangi perasaan ibanya yang menghentak-hentak.

Namun Swandaru tidak berhasil. Seperti juga Agung Se¬dayu, Swandaru selalu diganggu oleh perasaan iba dan belas kasihan.

Tetapi yang sama sekali tidak dimengerti oleh Swandaru, badannya sendiri serasa menjadi tidak enak. Nafasnya serasa semakin sesak, dan wajahnya menjadi panas.

Dengan susah payah ia mencoba untuk bertahan agar ia tidak mengganggu gurunya yang sedang asyik bekerja. meskipun Kiai Gringsing sudah agak lanjut usia, tetapi tenagamya masih melampaui tenaga anak-anak muda. Kapaknya terayun-ayun deras sekali.

“Kakang,” desis Swandaru kemudian, ”badanku benar-benar terasa tidak enak.”

“Tenanglah,” jawab Agung Sedayu, ”kau sudah terpengaruh oleh perasaanmu sendiri. Aku memang menaruh belas kasihan kepada orang itu. Aku juga membayangkan apa yang kira-kira terjadi atasnya. Tetapi jangan terlampau merasuk ke dalam hati.” Agung Sedavu berhenti sejenak, ”Kita memang kadang-kadang merasa seolah-olah kita diterkam oleh perasaan tidak enak. Bukan karena tubuh kita memang disentuh oleh penyakit, tetapi semata-mata karena perasaan kita.”

“Tetapi sudah tentu tidak sekuat ini, Kakang. Aku merasa seakan-akan tubuhku menjadi panas seperti terbakar.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi ketika ia memandang wajah adik seperguruannya dengan saksama, maka ia pun terkejut. Wajah itu menjadi pucat sekali.

“Apakah kau merasa panas?”

Swandaru mengangguk.

Disentuhnya kening Swandaru dengan punggung telapak tangannya. Dan Agung Sedayu menjadi semakin terkejut karenanya, “Dingin sekali.“

“Ya, tetapi di dalam dadaku, serasa darahku telah men¬didih.”

“Kita berkata kepada guru.”

“Jangan. Aku hanya akan mengganggu saja. Guru pasti akan berkata seperti yang kau katakan. Aku terlampau dipenga¬ruhi oleh perasaanku.”

“Aku kira kau benar Swandaru, bahwa kau tidak sekedar dipengaruhi oleh perasaanmu.”

“Tetapi, jangan kau katakan kepada guru,” Swandaru berhenti sejenak. ”Jangan-jangan kita akan ditertawakannya.”

“Kenapa?”

“Kita sudah menjadi ketakutan kepada hantu-hantu itu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya, ”Tetapi keadaan¬mu agaknya memerlukan perhatiannya.“

Swandaru tidak menyahut. Tetapi kini tubuhnya serasa menggigil kedinginan meskipun di dalam dadanya masih terasa panas sekali.

Dengan kekuatan yang masih ada padanya masih men¬coba untuk bekerja, karena ia tidak mau disebut oleh gurunya sebagai anak yang cengeng dan manja. Diangkatnya kapaknya tinggi-tinggi, kemudian diayunkannya deras sekali. Tetapi untuk me¬ngangkat kapak itu kembali, nafasnya telah menjadi terengah-engah

“Jangan kau paksa,” desis Agung Sedayu, ”beristirahat¬lah. Keringatmu menjadi semakin banyak.”

Swandaru menjadi semakin termangu-mangu. Tetapi tubuhnya memang menjadi lemah sekali, sehingga mau tidak mau ia pun kemudian duduk di atas sebatang pohon yang rebah sambil me¬mijit-mijit keningnya yang sakit.

Gurunya pun kemudian melihatnya pula. Tetapi sana sekali tidak menyangka bahwa muridnya telah terserang oleh sesuatu penyakit begitu cepatnya.

“Aku harus mengatakannya kepada guru,” berkata Agung Sedayu kemudian. ”Kau menjadi semakin pucat.”

“Jangan dulu,“ suara Swandaru menjadi dalam, ”biar¬lah aku mencoba mengatasi perasaanku.“

“Jangan menunggu sampai terlambat,” berkata Agung Sedayu. ”Aku kira kau tidak sekedar sedang dipengaruhi oleh perasaanmu saja.“

“Kakang,” berkata Swandaru dengan nafas yang terengah-engah, ”aku pernah melihat orang yang terserang penyakit karena perasaannya seperti yang kau katakan. Meskipun Guru hanya memberikan air biasa, yang diambilnya dari sumur, dan disuruhnya ia minum, maka orang itu merasa badannya segera sembuh.“

“Tetapi tentu tidak sekuat ini. Gejala-gejala yang tampak pa¬da tubuhmu bukan sekedar karena kau tidak dapat melupakan orang yang luka parah itu saja.”

Swandaru tidak menyahut lagi. Kepalanya ditundukkannya dalam-dalam.

“Duduklah,” desisnya.

Swandaru tidak mencegahnya lagi. Dengan mata yang su¬ram dipandanginya kakak seperguruannya yang melangkah men¬dekati gurunya yang sedang bekerja keras.

“Apakah kalian sudah lelah?” bertanya Kiai Gringsing. “Sebentar lagi matahari sudah menjadi semakin rendah. Kita akan segera beristirahat.”

“Guru,” berkata Agung Sedayu dengan bersungguh-sungguh, “Adi Swandaru tiba-tiba saja menjadi sakit.”

Gurunya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum, ”Swandaru sangat dipengaruhi oleh peristiwa yang baru saja terjadi. Mungkin ia merasa bersalah, karena ia sudah me¬ninggalkan orang yang terluka itu seorang diri, sehingga orang itu kemudian hilang tidak berbekas. Perasaan itulah yang agaknya membuat ia menjadi seolah-olah sakit.”

“Guru,” berkata Agung Sedayu, “tubuhnya dingin meskipun ia merasa panas.”

“Itulah gejalanya.”

“Keringatnya seakan-akan terperas dan wajahnya menjadi sangat pucat.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. ”Cobalah aku melihatnya.”

Kiai Gringsing pun kemudian meletakkan alat-alat kerjanya, dan dengan tergesa-gesa mendapatkan muridnya yang duduk te¬pekur.

“Kenapa kau Swandaru?” bertanya Kiai Gringsing.

Swandaru mengangkat wajannya sambil menjawab, ”Tu¬buhku rasa-rasanya menjadi sangat lemah Guru. Panas di dalam, te¬tapi aku menggigil seperti orang kedinginan.”

Kiai Gringsing terkejut melihat keadaan muridnya. Apa¬lagi ketika ia menyentuh tubuhnya.

“Bagaimana, Guru?” bertanya Agung Sedayu.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Anak ini memang benar-benar sakit. Bukan sekedar dipengaruhi oleh perasa¬annya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sakit yang tiba-tiba itu telah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak segera dapat terjawab.

“Apakah kau makan sesuatu Swandaru?” bertanya gurunya.

Swandaru menggelengkan kepalanya, ”Tidak, Guru.”

Kiai Grinsing mengerutkan keningnya. Dipijit-pijitnya teng¬kuk muridnya. Katanya kemudian, ”Berdirilah.”

Tetapi tubuh Swandaru menjadi sangat lemah. meskipun de¬mikian dipaksanya juga untuk berdiri dibantu oleh Agung Sedayu.

Dengan teliti Kiai Gringsing memeriksa tubuh Swandaru. Setiap bagian dilihatnya dengan saksama, kalau-kalau ada sesuatu yang dapat dipakainya sebagai pancadan untuk mengenai penya¬kitnya.

Tetapi Kiai Gringsing tidak menemukan sesuatu.

“Bibirnya menjadi biru sekali, Guru,” desis Agung Sedayu.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. ”Duduklah,” katanya kemudian. Dan di antara terdengar dan tidak, orang tua itu ber¬gumam, ”Menurut tanda-tanda di badanmu, kau telah keracunan.”

“Keracunan?” desis Swandaru, ”tetapi, aku tidak makan apa-apa.”

“Keracunan tidak hanya terjadi karena makanan.” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, ”Mungkin kau digigit serangga atau binatang-binatang berbisa lainnya.”

“Aku tidak merasa, Guru.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kapalanya. Tiba-tiba ia berkata, ”Tundukkan kepalamu.”

Swandaru tidak mengerti maksud gurunya, sehingga dengan termangu-mangu ia memandanginya

“Tundukkan kepalamu,” sekali lagi gurunya berkata.

Dengan ragu-ragu Swandaru menundukkan kepalanya, ia ter¬peranjat ketika gurunya kemudian mencekam tengkuknya. Se¬makin lama semakin keras, sehingga hampir saja ia tercekik ka¬renanya.

Sejenak kemudian perutnya merasa mual sekali. Seakan-akan ada sesuatu yang bergejolak di dalam perut itu. Semakin lama semakin mual, sehingga pada suatu saat ia tidak dapat bertahan lagi. Dengan serta-merta, maka anak muda yang gemuk itu pun muntah-muntah.

Tetapi sekali lagi ia terperanjat, seperti juga Agung Se¬dayu. Dari mulut Swandaru selain keluar isi perutnya, di antaranya meloncat pula gumpalan-gumpalan darah yang sudah menjadi kehitam-hitaman.

”Darah, Guru, darah,” suara Agung Sedayu gemetar.

Kiai Gringsing pun menjadi tegang pula. Karenanya, ”Ter¬nyata Swandaru telah benar terserang oleh racun yang mem¬bahayakan jiwanya.”

Karena itu, maka Kiai Gringsing itu pun memijit lebih keras lagi. Sebagai seorang dukun yang berpengalaman, Kiai Gringsing dapat menyentuh urat-urat leher Swandaru, yang kemudian dapat membuatnya muntah.

“Muntahlah Swandaru,” berkata gurunya, ”jangan kau tahan-tahan lagi. Semakin banyak kau dapat mengeluarkan isi perutmu, akibatnya akan menjadi lebih baik.

Swandaru mengangguk lemah. Terasa sesuatu berputar lagi diperutnya, dan sejenak kemudian gumpalan-gumpalan darah yang sudah menjadi kehitam-hitaman meloncat keluar, disusul oleh darah yang merah segar.

“Kau benar-benar keracunan,” desis gurunya, “racun yang termasuk kuat.”

Swandaru menjadi semakin lemah. Keringatnya telah mem¬basahi seluruh tubuhnya.

“Berbaringlah di atas pohon besar ini,” berkata gurunya. Swandaru pun kemudian dipapah oleh Agung Sedayu dan dibaringkannya di atas sebatang pohon besar yang telah roboh.

“Aturlah pernafasanmu,” berkata gurunya kemudian. ”Racun ini harus dilawan lebih dahulu, agar kau tidak menjadi semakin tidak berdaya menghadapinya.”

Swandaru tidak menjawab. Hanya matanya sajalah yang bergerak-gerak.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Tanpa disadarinya, angan-angannya terbang ke dunia yang lain. Anak itu sedang mem¬persiapkan dirinya untuk melamar seorang gadis yang ditinggal¬kannya di Tanah Perdikan Menoreh. Kemudian ia akan meng¬gantikan ayahnya seorang Demang di Sangkal Putung, atau mungkin ia akan memilih memerintah Tanah Perdikan Menoreh?

Sekilas justru terbayang Pandan Wangi yang menanti ke¬luarga Swandaru datang kepada keluarganya di Menoreh. Pan¬dan Wangi yang duduk bertopang dagu di tangga pendapa ru¬mahnya.

Bukan saja Pandan Wangi, tetapi juga ayah dan ibunya. Kalau Sekar Mirah telah sampai di rumahnya, maka ia pasti akan segera berceritera tentang kakaknya yang gemuk itu.

“Kini ayah dan ibunya bahkan juga Sekar Mirah dan Sumangkar, pasti sedang menunggu kita di sana,” ia berkata di dalam hatinya.

Agung Sedayu itu tersentak ketika ia mendengar Swandaru berdesah. Wajahnya yang pucat menjadi semakin putih, sedang bibirnya tampak menjadi semakin biru.

“Bagaimana, Guru?” tiba-tiba ia bertanya.

Gurunya masih merenungi muridnya yang keracunan itu sejenak.

“Apakah …..,” kata Agung Sedayu tidak dilanjutkannya.

“Tidak,” desis gurunya, ”kau akan menghubungkan hal ini dengan hantu-hantu?”

Agung Sedayu tidak menyahut.

“Sama sekali tidak ada hubungannya dengan hantu-hantu. Anak ini benar-benar telah keracunan. Aku akan menunggu sesaat. Kemudian aku akan memberikan obat kepadanya, setelah gejolak di dalam perutnya mereda.”

Agung Sedayu masih tetap berdiam diri. Dengan cemasnya ia memandang wajah adik seperguruannya yang semakin pucat, sedang nafasnya serasa menjadi semakin sesak.

“Kenapa Guru belum memberinya obat,” ia bertanya di dalam hatinya, tetapi ia tidak berani mengucapkannya, ”Guru pasti jauh jauh lebih tahu daripada aku.”

Sejenak kemudian, Kiai Gringsing itu pun memijit-mijit perut Swandaru. Ditelusurnya bagian-bagian di sekitar pusarnya. Kemudian katanya, ”Belum terlambat. Untung kalian segera mengatakan¬nya kepadaku. Racun ini termasuk racun yang kuat.”

Agung Sedayu mengangguk. Tetapi ia hampir tidak tahan lagi. Gurunya merasa bersukur bahwa keadaan Swandaru masih belum terlambat, tetapi kenapa ia berdiam diri saja? Apakah Kiai Gringsing itu memang sedang menunggu agar terlambat?

Tetapi sekali lagi Agung Sedayu menjawab sendiri di dalam hatinya, ”Guru pasti lebih tahu daripadaku.”

Ternyata bahwa sejenak kemudian Kiai Gringsing itu pun mengambil sesuatu dari tlekeman di ikat pinggangnya. Sebuah bumbung kecil yang disumbatnya dengan cempol kelapa.

Dari dalam bumbung kecil itu, Kiai Gringsing mengeluarkan dua butir obat yang telah dikeringkan menjadi butiran-butiran yang kecil.

“Swandaru,“ ia berdesis.

Swandaru menggerakkan kepalanya, tetapi ia tidak menja¬wab. Penyakit yang tiba-tiba mencekamnya itu rasa-rasanya seperti penyakit yang sudah bertahun-tahun hinggap di tubuhnya.

“Apakah perutmu sudah tenang?“

Swandaru mengangguk kecil.

“Sekarang makanlah obat ini, agar daya tahan tubuhmu bertambah kuat.”

Swandaru membuka mulutnya perlahan-lahan. Kemudian Kiai Gringsing melontarkan dua butir obat itu ke dalam mulut Swandaru.

Sejenak Swandaru tidak bergerak. Namun kemudian ia menggeliat sambil berdesah.

“Guru,” dengan serta merta Agung Sedayu bergeser maju.

“Tenanglah Sedayu, benturan antara dua macam kekuat¬an telah terjadi di dalam tubuh Swandaru. Itulah sebabnya, ba¬dannya akan menjadi panas sekali. Tetapi setelah itu, mudah-mudahan ia akan berangsur baik. meskipun untuk beberapa hari ia harus beristirahat.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun seakan-akan di luar sadarnya ia berkata, ”Apakah yang akan dikata¬kan orang tentang Swandaru?“

“Tentu, mereka akan menghubung-hubungkannya dengan hantu. Apalagi kalau mereka melihat atau mendengar tentang orang yang terluka dan kemudian hilang itu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun beta¬pa pun juga, ia sendiri pun telah terpengaruh pula oleh peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi.

“Untunglah bahwa Guru seorang ahli obat-obatan. Kalau tidak, entahlah, apa yang akan terjadi atas Swandaru. Mungkin keada¬annya akan menjadi semakin jelek dan berbahaya,” berkata Agung Sedayu dalam hatinya.

Dalam pada itu Swandaru tampaknya menjadi semakin ge¬lisah. Meskipun matanya terpejam, tetapi tubuhnya selalu ber¬gerak dan mengeliat. Agaknya perasaan sakit yang sangat telah mengganggunya.

Agung Sedayu berdiri termangu-mangu di samping adik seperguruannya. Wajahnya membayangkan kecemasan yang sangat. Te¬tapi ia tidak berani bertanya lagi, karena gurunya pun menjadi tegang pula karenanya.

Ketika Kiai Gringsing menyentuh kening Swandaru, terasa betapa tubuh anak itu menjadi panas. Sekali-sekali terdengar ia menahan desah di mulutnya.

Agung Sedayu menengadahkan wajahnya ketika ia mende¬ngar suara burung kedasih di kejauhan. Terasa desir yang lembut menyentuh dadanya. Biasanya burung kedasih berbunyi di malam hari. Tetapi kini, seperti kemarin, burung itu berbunyi tiada hentinya.

“Kalau Swandaru tidak sedang sakit, ia pasti berteriak keras-keras untuk mengejutkan burung itu,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Ketika Agung Sedayu berpaling, memandang wajah adik seperguruannya itu pula, maka dilihatnya Swandaru sudah men¬jadi agak tenang, meskipun wajahnya masih tampak pucat.

“Bagaimana, Guru?” tanpa sesadarnya ia bertanya.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku harap keadaannya akan menjadi bertambah baik.”

Agung Sedayu pun tidak bertanya lagi. Dengan penuh peng¬harapan ia menunggui adik seperguruannya yang tampak men¬jadi bertambah baik. Nafasnya sudah menjadi teratur, dan wajahnya pun tidak begitu pucat lagi.

“Bagaimana Swandaru bisa keracunan, Guru,” Agung Sedayu bertanya sekenanya saja.

Gurunya menggeleng, “Aku tidak tahu. Ia tidak merasa digigit atau disengat apa pun.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bergeser maju sambil bertanya, “Guru, apakah ada kemungkinan orang yang terluka parah itu juga keracunan?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Tetapi menilik lukanya, ia benar-benar telah terkena sen¬jata seperti yang dikatakannya.”

“Bukankah ia mengatakan bahwa hantu itu menggigit tengkuknya? Dan apa yang disebutnya hantu itu sesuatu yang mengandung racun?”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Keningnya menjadi berkerut-merut. Sejengkal ia bergeser maju. Kemudian diamatinya Swandaru dengan saksama.

Tiba-tiba Kiai Gringsing itu tersentak. Disambarnya tangan Swandaru. Dilihatnya tangan itu dengan tajamnya. Pergelangan, kemudian punggung telapak tangan.

“Kenapa, Guru?” Agung Sedayu bertanya dengan heran¬nya.

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Kini dilihatnya bagian-bagian tubuh Swandaru yang lain.

Ketika Kiai Gringsing melihat sesuatu di leher Swandaru, ia pun mengerutkan keningnya. Sebuah luka yang hampir tidak nampak melekat di leher anak yang gemuk itu.

“Luka yang kecil ini pasti cukup dalam,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

“Apakah Guru menemukan sesuatu?” bertanya Agung Sedayu.

“Mudah-mudahan,” jawab Kiai Gringsing. Tetapi ia belum mengatakan apa yang dilihatnya.

Agung Sedayu kemudian dengan tegangnya memandang gurunya yang sedang merenungi sebuah bintik yang kehitam-hitaman di leher Swadaru itu. Kemudian dengan hati-hati Kiai Gringsing memijit-mijit bagian leher Swandaru di sekitar bintik yang kehitam-hitaman itu.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya kepalanya terangguk-angguk kecil. Katanya, ”Luka inilah sumber keracunan yang telan menjalar di seluruh tubuh Swandaru.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Darimana ia mendapatkan luka itu, Guru?”

“Itulah yang masih harus diselidiki,” jawab gurunya. Setelah merenung sejenak, maka ia melanjutkannya, ”Aku mempunyai beberapa macam dugaan. Mungkin dihutan itu ada se¬jenis pepohonan yang beracun. Tanpa disadarinya Swandaru telah tersentuh oleh durinya yang dapat memberikan racun ke dalam tubuhnya. Mungkin juga sejenis binatang kecil yang tam¬paknya tidak berbahaya sama sekali, tapi ternyata lewat ludah atau giginya, binatang itu telah meracuninya, atau ……,” Kiai Gringsing tidak melanjutkannya.

“Atau apa, Guru?”

Kiai Gringsing terdiam sejenak. Tampak keragu-raguan membayang di wajahnya.

“Agung Sedayu,” katanya kemudian, ”mudah-mudahan aku berhasil melenyapkan racun dari tubuh adik seperguruanmu. Tampaknya ia berangsur baik. Nafasnya sudah mulai teratur dan darahnya sudah mulai beredar dengan wajar.”

“Ya, Guru.”

“Aku memang mempunyai dugaan yang barangkali kurang dapat dipercaya. Seperti katamu, orang yang luka parah itu memang mungkin mengandung racun.”

“Jadi?”

“Bukankah orang itu telah dicengkam oleh ketakutan yang luar biasa sehingga ia telah mendekap Swandaru? Nah, dalam keadaan yang tidak terkendali, di dalam puncak ketakutannya, ia telah melukai leher Swandaru. Di pergelangan tangannya aku melihat juga goresan-goresan yang kehitam-hitaman, tetapi tidak cukup da¬lam untuk menyalurkan racun ke dalam darah. Sedang luka dileher yang kecil namun dalam inilah agaknya pintu yang telah dilalui racun itu.”

“Jadi, apakah maksud Guru orang itu juga keracunan?”

“Mungkin. Mungkin seperti yang dikatakan, lehernya di¬gigit hantu, meskipun kenyataannya tidak setepat seperti yang dikatakan. Dalam puncak ketakutannya, ia tidak dapat membe¬dakan apa saja yang telah melukainya itu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun ia masih belum begitu jelas, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Namun agaknya keadaan Swandaru yang semakin baik, telah membuatnya menjadi agak tenteram.

Meskipun demikian ia masih bertanya kepada gurunya, ”Guru, tetapi apakah orang yang keracunan itu dapat meracuni Swandaru dengan luka yang dibuatnya tanpa sengaja itu?”

”Hal itu memang mungkin meskipun masih harus dibuk¬tikan kebenarannya,” jawab gurunya.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak bertanya lagi.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Swandaru yang sakit itu telah berangsur menjadi baik, meskipun tubuhnya masih te¬rasa lemah sekali.

Dalam keheningan itulah tiba-tiba mereka mendengar suara tertawa yang seakan-akan membelah Alas Mentaok. Tidak begitu keras, namun gemanya yang memantul dari segenap arah, mem¬buat seakan-akan orang yang mendengarnya telah terlibat di dalam suatu kepungan suara hantu yang dahsyat.

Agung Sedayu kemudian berdiri tegak dengan wajah yang tegang. Untuk sementara ia mengalami kesulitan, dari manakah sebenarnya sumber suara itu. Namun kemudian ia berdesis, ”Tidak terlampau dekat, Guru.”

Kiai Gringsing yang telah berdiri pula, mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, ”Ya, tidak terlampau dekat.”

“Suara apakah itu, Guru?”

“Suara tertawa seseorang. Apakah kau ragu-ragu?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dan Kiai Gringsing ber¬kata seterusnya, ”Kau sudah mulai ragu-ragu. Apakah kau sangka suara itu suara hantu?“

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi memang tumbuh pengakuan di dalam dirinya, bahwa ia memang mulai memikirkan, apakah mereka memang benar-benar sedang dilingkari oleh hantu-hantu.

Suara tertawa itu pun kemudian hilang dengan sendirinya, sehingga hutan itu pun telah menjadi sepi kembali. Desah angin yang lembut sajalah yang terdengar mengusik dedaunan.

Sementara itu langit pun telah menjadi semakin buram, ka¬rena matahari yamg telah mengarungi hampir seluruh jalannya itu telah hampir sampai di batas cakrawala.

“Kita harus segera kembali,” berkata Kiai Gringsing, ”kalau keadaan menjadi semakin gelap, sukarlah kita membawa Swandaru melalui jalan-jalan yang masih sulit ini.“

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia memang ingin segera menyingkirkan Swandaru. Bukan karena ketakutan yang mencekam, tetapi apabila anak yang sakit itu su¬dah tidak berada di tempat terbuka yang aneh ini, maka mereka akan leluasa untuk berbuat apa pun, apalagi apabila keadaan me¬maksa.

Demikianlah maka Kiai Gringsing pun berkata kepada Swan¬daru, ”Swandaru, apakah keadaanmu sudah bertambah baik?”

Swandaru menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Marilah, kau akan kami papah pulang ke perkemahan. Tetapi ingat, kalau seseorang bertanya kepadamu, maka jawablah bahwa kau telah digigit oleh seekor ular Pudakgrama. Ular yang mempunyai racun yang cukup keras, tetapi masih terlawan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya pula, sedang Agung Sedayu bertanya, ”Kenapa digigit ular, Guru?”

“Jangan membuat orang-orang di perkemahan dan sekitarnya itu menjadi semakin ketakutan. Kalau kalian menceriterakan apa adanya, maka mereka akan langsung menanggapi keadaan ini dengan menghubungkannya langsung kepada hantu-hantu itu.“

“Tetapi apakah mereka tidak akan mendapat gambaran yang salah sehingga mereka tidak dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan yang sama?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Hanya daerah inilah yang selalu ditinggalkan oleh para pekerja yang sedang membuka hutan itu. Karena daerah ini adalah daerah yang paling ganas bagi mereka. Daerah yang mereka ang¬gap paling banyak diraba oleh tangan-tangan hantu yang sangat me¬reka takuti itu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ia dapat mengerti maksud gurunya, meskipun di sudut hatinya yang paling dalam, memercik pula keragu-raguan dan kecemasan.

Sejenak kemudian maka Kiai Gringsing dan Agung Sedayu pun segera memapah Swandaru yang sudah menjadi berangsur baik itu kembali ke perkemahan. Karena jalan yang harus mereka lewati adalah jalan-jalan yang sulit, maka mereka pun maju dengan lambannya. Sekali-sekali mereka masih harus melangkahi pohon-pohon yang membujur di tengah-tengah jalan, kemudian menyusup di bawah rimbun¬nya perdu yang liar, dan bahkan kadang-kadang berduri.

“Hati-hatilah,” desis Kiai Gringsing, ”ada kesengajaan untuk membuat kita menjadi takut.”

“Bagaimana Guru mengetahui?”

“Suara burung kedasih dan suara tertawa itu. Mungkin juga bukan kita bertigalah yang dimaksud, tetapi orang yang ketakutan dan hilang itu bersama dengan beberapa orang kawan-kawannya. Tetapi mungkin juga, memang kitalah sasaran mereka kali ini.”

“Sasaran hantu-hantu itu?”

“Untuk sementara, baiklah kita sebut demikian.”

“Kenapa untuk sementara Guru?”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk. Demikianlah maka mereka pun perlahan-lahan semakin dekat dengan perkemahan. Namun sebelum mereka sampai ke ujung hutan, maka orang-orang yang bekerja di tempat-tempat yang sudah semakin bersih segera melihat mereka. Karena itu, berlari-larilah orang-orang itu menyongsongnya sambil bertanya berebut dahulu, “Kenapa dengan anakmu itu, Truna Podang?“

Kiai Gringsiug berhenti sejenak. Dipandanginya orang-orang yang sudah mulai berkemas dan yang kini mengerumuninya itu sejenak.

“Kenapa he, kenapa?”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ditatapnya setiap wajah yang menjadi tegang. Dari sorot mata mereka Kiai Gring¬sing menangkap siratan perasaan mereka. Ketakutan.

Swandaru yang lemah masih tergantung pada guru dan ka¬kak seperguruannya. Suara orang yang mengerumuninya terde¬ngar semakin ribut. Dan mereka terdiam ketika Kiai Gringsing menjawab, ”Anakku telah digigit ular.”

“Digigit ular?” hampir serentak orang-orang itu mengulang.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia menunggu. Kemudian didengarnya nafas yang berdesah dari hidung mereka yang mengerumuninya. Bahkan ada seseorang yang ber¬kata tanpa disadarinya, ”Sokurlah.”

“He, kenapa kau berkata begitu?” bertanya Kiai Gring¬sing.

“Maksudku itu lebih baik daripada digigit hantu. Di¬gigit ular masih mungkin diobati. Tetapi digigit hantu?” orang itu mengangkat bahunya.

Kiai Gringsing menangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah murid-muridnya sejenak, kemudian katanya, ”Ya. Sokurlah bahwa yang menggigit anakku adalah ular. Bukan hantu.”

Orang-orang yang mengerumuninya mengangguk-angguk. Tetapi se¬jenak kemudian salah seorang bertanya, ”Tetapi, meskipun anakmu hanya digigit ular, bagaimana keadaannya? Apakah ia sudah berangsur baik atau masih perlu mendapat pertolongan? Di perkemahan ada seorang dukun yang pandai, yang mungkin dapat mengobati bisa ular. Tetapi kalau sakitnya disebabkan oleh hantu-hantu, kau harus berhubungan dengan dukun yang lain.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Jawabnya kemu¬dian, ”Sementara anakku sudah tertolong. Tetapi baiklah aku akan menghubungi dukun yang pandai itu.”

“Baiklah. Baiklah. Marilah kita pulang. Kami pun telah mulai berkemas-kemas pula.”

Maka Kiai Gringsing pun kemudian meneruskan langkahnya sambil memapah Swandaru bersama-sama dengan orang-orang yang me¬mang telah selesai bekerja untuk hari itu.

“Itulah rumahnya. Ia sudah berhasil membuat rumah sen¬diri meskipun kecil,” berkata orang yang mengenal dukun yang pandai itu. ”Datanglah kepadanya.”

“O, ia tidak tinggal di perkemahan?”

“Beberapa orang yang tinggal dekat dengan perkemahan, menempati rumah mereka masing-masing. Tetapi setiap rumah masih dihuni oleh dua atau tiga keluarga untuk mengurangi ketakutan di malam hari. Sedang rumah-rumah yang meskipun sudah siap ditempati, tetapi terletak agak jauh, ternyata sampai saat ini masih tetap kosong.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Terima kasih,” katanya, ”aku akan singgah ke rumah itu.”

Kiai Gringsing pun kemudian membawa Swandaru singgah ke rumah yang ditunjukkan kepadanya. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu rumah itu yang masih sedikit terbuka.

Seorang yang berjanggut dan berambut putih menjengukkan kepalanya dari lubang pintunya. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, ”He, siapa kau?”

”Kiai,“ berkata Kiai Gringsing, ”anakku telah keracun¬an. Apakah Kiai sudi mengobatinya?”

“He, anakmu?”

“Ya, anakku, Sangkan.”

Tetapi jawab yang didengarnya telah membuat hati Kiai Gringsing dan kedua muridnya kecewa, ”Tunggu. Bukankah kau lihat bahwa aku baru saja datang dari kerja seperti kalian? Aku masih belum mandi.”

Kiai Gringsing menjadi heran. Seorang dukun seharusnya lebih mementingkan orang-orang yang sakit daripada membersihkan diri betapa pun kotor tubuhnya. Apalagi keracunan.

Karena itu ia mencoba menjelaskan, ”Kiai, anakku telah keracunan. Aku sudah berhasil menahannya untuk sementara. Tetapi aku memerlukan seorang dukun untuk meyakinkan kerja racun yang ada di dalam tubuh anakku.”

“Tunggu. Tunggu!” orang itu membentak. ”Lihat, aku belum meletakkan parang pemotong kayu ini. Ikat kepalaku pun masih tersangkut di leher. Kalau kau tidak sempat menunggu, pergilah.”

Kiai Gringsing benar-benar menjadi kecewa. Niatnya untuk mencoba bersama-sama mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi atas Swandaru telah lenyap. Dengan seorang kawan yang mengerti tentang berbagai macam racun ia mengharap dapat mencari ja¬wab atas apa yang telah terjadi itu. Tetapi agaknya orang ini tidak dapat diajak berbicara dengan baik.

Meskipun demikian sekali lagi Kiai Gringsing masih men¬coba, ”Kiai anakku memerlukan pertolongan segera.“

“O, begitu,” jawabnya. ”Carilah orang lain yang bersedia memberikan pertolongan segera.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Terdengar Agung Sedayu berdesis, ”Kita pergi saja, Guru.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (50)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-52/trackback/

RSS feed for comments on this post.

50 KomentarTinggalkan komentar

  1. yang katanya jam 10, itu jilid 51 ato jilid 52 yah ? he he ….

  2. adakah yang berani mengobral janji lagi? Klo jilid 52 bakal terbit malam nanti?
    Buktikan menorehmu!!!
    tetap semangaaaat

    • Sugeng enjing mbah man….sudah sehatkah ?
      ..terusan Adbmnya mana…?

      • sugeng siang ki kartu….mbah mannya mana ?

  3. sabar kisanak, sabaaaar

    xixixi 😀
    Ki KontosWedul

  4. Nek ra sabar..main silat dewe wae..

  5. “Entahlah Kiai, rasa-rasanya kepalaku menjadi semakin pepat menunggu kepastian. Seandainya saja gambaran itu tertulis di atas lontar, aku pun mungkin tidak menjadi semakin pening.” katanya kepada Kiai Gringsing.

  6. “Akupun sebenarnya masih menduga-duga, siapa sebenarnya hantu2 itu. Tetapi aku yakin hantu itu tidak akan muncul nanti malam, karena belum ada tanda2 covernya” desis Kiai Gringsing.

  7. “…hmm, setahun lagi mungkin akan berdiri puluhan atau bahkan ratusan perguruan orang bercambuk diseantero negeri ini. Para cantrik yang sekarang sedang giat-giatnya mengunduh ilmu di padepokan inilah yang nantinya akan jadi penerusku”.
    “Semoga mereka tidak menjadi keblinger, dengan mengkomersilkan kitab-kitab yang sudah aku wariskan semua”, gumam Gembala Tua dengan penuh harap.

  8. “Tetapi guru, apakah kita akan membiarkan saja keadaan ini ? Rasa-rasanya aku sudah tidak bisa menahan diri lagi.” geram Swandaru.

  9. Wah wis pinter-pinter yho saiki…ngompori ben ndang metu po

  10. Yah, covernya ja blom da… Mdah2an ga lama lg…

  11. sabar ngger, ada kalanya kekecewaan adalah jalan menuju ketabahan. semuanya ada waktunya. kepedihan ini ini akan menjadikan kita semakin dewasa…Hanya orang2 yang merasakan kepahitan yang akan mengecup manisnya rasa.

  12. pada menunggu bangkit nya hantu Ki Tambak Wedi ya…

  13. blom ada tanda2 keliatan…

  14. “Sutawijaya,…semenjak Kiai Gringsing & kedua muridnya ikut membuka alas Mentaok, penunggang2 kuda misterius itu tidak pernah muncul 2 hari ini.” kata Ki Gede Pemanahan.
    “Apakah mereka sedang merencanakan sesuatu Ayah?” tanya Sutawijaya.
    “Hhhmmm…mungkin, hal itu sangat mungkin sekali anakku. Mungkin juga mereka sedang menguji kesabaran kita.” desis Ki Gede Pemanahan.

  15. “Apabila diperkenankan, biarlah kami nganglang ke daerah di sekitar tempat Kiai Gringsing dan kedua muridnya membuka hutan, dan mencoba menyisir gubug-gubug yang sudah ditinggalkan penghuninya itu. Siapa tahu kami dapat menemukan hantu-hantu tersebut beserta covernya yang berharga.” kata Dipasanga.

  16. “Apa kisanak sudah pada mampu meningkatkan jurus2 di jilid 52 ?” Kyai Gringsing berta dengan sareh, bersabarlah, setapak demi setapak kemampuan kisanak akan sampai ke sana, matangkan dulu jilid 51 hehehe….

  17. Agung Sedayu sejenak termangu-mangu memandang pepatnya hutan. Hm, tidak mudah memang, untuk menyisiri Alas Mentaok sampai ke Pliridan sana, menemukan kitab Jilid-52 yang agaknya tercecer di antara pohon-pohon yang rapat berjejalan, gerumbul-gerumbul semak berduri serta oyod bebondotan …

  18. “Guru, apakah kita akan melanjutkan lagi penebangan hutan ini lebih kedalam?” tanya Agung Sedayu.

    “Sebentar dulu ngger. Kita masih memerlukan alat-alat tambahan sesuai petunjuk-petunjuk pada buku jilid 52” jawab Kiai Gringsing.

    “Semoga saja buku itu segera diantarkan oleh moderator” jawab Swandaru. “Tanpa buku itu kita tidak tahu pula siapa sebenarnya hantu-hantu yang mulai menggelisahkan warga padukuhan ini”

  19. Ketika sedang mencari orang – orang berkuda misterius yang telah mencuri kitab jilid 52, sampailah Swandaru ke depan sebuah gua. Dengan hati – hati diintipnya sisi dalam gua itu. Dan dada Swandaru berdesir. Di dalam gua itu tidak didapatinya orang – orang berkuda yang di carinya, akan tetapi dilihatnya dua orang yang sedang main kuda – kudaan…

  20. Masa seh, moderator ga panas dg komentar2 yg bikin gregetan itu….

  21. “Guru,… suara derap kaki kuda itu kian dekat, sekilas nampak bayangan2nya. tetapi masih samar.” bisik Agung Sedayu.
    “Ya,… setidak-tidaknya ada harapan karena aku liat kudanya sudah mulai nampak diantara rimbunan pohon2 itu.” sahut Kiai Gringsing.
    “Aku tak bisa menahan diri lagi Guru…” tiba-tiba Swandaru berteriak sambil meloncat menyongsong kedatangan penunggang2 kuda misterius itu, tetapi dia tertahan karena sepasang tangan yg kokoh memegang lengan tangannya.
    “Sabar Swandaru,… yg datang baru covernya. Ada cover ada harapan…”

  22. Sabar kisanak. Seperti kata Ki Demang, ada cover ada harapan

  23. Waaah… gambarnya kok lawan tengkorak berkuda gitu.. ada apalagi niiih…

  24. bersabarlah……
    berilah kesempatan gembala tua untuk “ngaso” sejenak
    mungkin kyai “scanner” juga butuh istirahat
    bayangkan…
    sudah beratus-ratus lembar yang telah di “sorot”..
    dan ribuan lembar lagi yang harus disorot
    semua itu … hanya untuk kita semua

    kita cuma bisa bilang
    maturnuwun…..

  25. “……ngger, gendonganmu kok semakin besar, makanan siapa yang angger ambil?” Sumangkar berkata selagi istirahat. “….. huh … biar saja kiai, biar kapok mereka! Jawab Sekar Mirah dengan kesal. “Siapa yang akan kapok…” Dengan heran Sumangkar bertanya lagi.
    Ketika Sumangkar membuka isi gendongan muridnya, ia agak heran melihat beberapa kumpulan tulisan kuna di dalamnya.
    “Ngger …. kalau salinan kitab nomer 52 sampai 60 kamu bawa…. bagaimana Swandaru dan Agung Sedayu mengisi kekosongan waktunya setelah bekerja keras….? tegur Sumangkar. Sekar Mirah hanya tersenyum … saja. Ia merasa menang, karena bisa membuat pusing orang banyak.

  26. “mudah-mudahan, ngger….”, berkata Kiai Gringsing dengan sarehnya.

  27. ” maaf kiai… ” berkata Dipasanga “penghubung yang ditugaskan untuk membawa kitab tersebut, ternyata di cegat oleh petugas telik sandi Pajang, kami akan segera mengirimkan bantuan untuk menjemput… mudah2-an sebelum matahari terbenam utusan itu sudah kembali”.

  28. “Biarlah angger Agung Sedayu mengawani utusan Ki Dipasanga itu, untuk mengurangi kekisruhan yang mungkin terjadi. Namun demikian, berhati-hatilah, kita tidak tahu pasti perkembangan yang akan terjadi, walaupun cover tersebut memang memberikan harapan.” jawab Kiai Gringsing.

  29. “Terima kasih Ki DDe… atas petunjukmu kini kami bisa bertemu dengan penunggang kuda misterius ini.” sahut Kiai Gringsing

  30. jilid 52 dah daku terima
    makasih kyai

  31. Kalo comment untuk setiap jilid dikumpulkan, bisa jadi suatu buku yang lumayan nyeleneh….he…he

  32. urun konvert-an buku 52 ki…
    langsung ke emailnya ki gde menoreh

  33. “akhirnja hari ini djuga kita temukan obat penawar ratjunnya itu”, ujar Kiyai Gringsing kepada Agung Sedayu. “Tjepat batja buku 52-nya supaja, Swandaru tjepat pulih dan ratjun di sekujur tubuhnja tjepat hilang.”

  34. buat Ki goenas yang punya convertannya, boleh dong aku minta

  35. mbaca komentar wong-wong ki jan ndadekke aku koyo wong gendeng, ngguya-ngguyu dewe, wis jan apik tenan, koyok’e wis dho oleh ilmune Ki Gede SH Mintardja kabeh.

  36. “Sokurlah, ngger, akhirnya Jilid 52 ini bisa kita terima bersama dengan rangsum kiriman dari Menoreh,” ujar Kiai Gringsing kepada kedua muridnya.

    Lanjutnya lagi, “Nah, dengan semangat baru ini kuharap kalian tidak perlu takut lagi kepada hantu-hantu itu dan bermalas-malasan membuka bidang hutan yang menjadi bagian kita, setidak-tidaknya sampai datang kiriman jilid yang baru.”

    Kedua bekas gembala itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengiakan, namun matanya tak lepas-lepas dari lembar-lembar jilid yang menarik hati itu.

  37. “Swandaru gerakanmu masih dijilid 51, coba tinkatkan spt Agung Sedayu yang sudah meningkat ke jilid 52, mungkin nanti malam sudah ke jilid 53, Angger kurang sabar..”Kata Kyai Gringsing.
    Di mana Agung Sedayu kok tidak kelihatan,”Lagi di belakang Kyai, mesu diri untuk mempersiapkan ilmu di jilid 53 nanti malam” Kata Swandaru Geni.
    “Hmmm….contohlah kakakmu Ngger….”Kata Kyai Gringsing
    Swndaru semakin menundukkan kepalanya…….

  38. Dho kesurupan di alas Mentaok

  39. komentarnya lucu2 banget….jadi geli liat semua warga padukuhan pada gregetan…

    buruan apa ki Dede…aku juga deg degan nungguinya…aku punya penyakit lemah jantung (beneran..)

  40. ngger, berkata ki Sumangkar kepada kedua murid kiai Gringsing :” apa kamu berdua sudah dapat mempelajari jurus cambuk jilid 50 dan jilid 51?”. Belum ki,gurru belum mengijinkan, tapi aku sudah bisa mengungkapkan tenaga cadangan jilid 52 yang diberi guru tadi pagi,jawabnya.
    “O” desis ki Sumangkar, ya kalau begitu sabar.

  41. “aku sedih kakang, meskipun berhasil mengungkapkan rahasia kitab 52 namun aku belum berhasil membuka kitab 50 dan 51, maukah kau menolongku kang?” berkata Swandaru kepada Agung Sedayu. “Berikan convertnya kang……….”

    GD: Aku jadi kasihan kepadamu, Met. Jadi, tadi aku suruh Gupala untuk mengantarkan Kitab 50 langsung ke rumahmu. Jadi, tengoklah rumahmu, mungkin sudah sampai.

  42. banyak terima kasih, sudah diberi kesempatan untuk membaca adbm. Moga2 bisa sampai jilid terakhir …..

    matur nuwun sanget mas2 dan mbak2 .. yang sudah bersusah payah untuk menampilkan adbm di dunia maya … hehe …

  43. Kerennnnnnn….wah nggak sabar ngejar para cantrik yg di ujung-ujung…

  44. aku malah jadi nyasar ke sini??…
    lha ga ada orang je???

  45. Hiaaaat, tanpa terasa sampe siNI juga akhirnya……!!??

    • sugeng enjang

      • haduuu kaged akuuu

        • aja kagetan,
          aja gumunan,
          aja….aja….ana apa2ne


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: