Buku 52

KIAI GRINGSING termenung sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Terima kasih, Tuan.”

Maka Kiai Gringsiug yang dikenal bernama Truna Podang itu pun meninggalkan gardu pengawas itu bersama kedua murid¬nya. Ketika mereka sudah berada beberapa langkah dari gardu, Kiai Gringsiug pun bergumam, ”Sayang. Ketika hantu-hantu itu le¬wat kita berada di dalam gardu pengawas.”

“Sebenarnya aku masih sempat meloncat,” sahut Swandaru.

“Berbahaya.”

“Tetapi, apakah Guru percaya bahwa hantu-hantu itu dapat mengalahkan manusia.”

“Bukan. Bukan hantu-hantu itu yang aku maksudkan, meskipun barangkali mereka berbahaya juga. Tetapi yang aku maksudkan adalah para pengawas itu. Mereka akan menganggap kita som¬bong dan ………. Sehingga mereka tidak akan senang lagi ke¬pada kita. Bahkan mungkin kita akan mereka usir dari daerah ini. Apalagi seandainya terjadi bencana oleh sebab apa pun. Me¬reka pasti akan segera menuduh kita, bahwa kita telah membuat hantu-hantu itu menjadi marah.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti maksud gurunya. Para petugas itu tidak kalah berbahaya bagi mereka, apabila mereka tidak mau tunduk pada perintahnya.

“Lalu sekarang?“ tiba-tiba Agung Sedayu bertanya.

Kiai Gringsing termenung sejenak. Dan Swandaru menya¬hut, ”Apakah maksud Guru, kita mencoba mencari hantu-hantu itu.“

“Mereka telah pergi.”

“Kita kehilangan kesempatan.”

“Tetapi kesempatan yang bakal datang masih cukup banyak.”

“Apakah hantu-hantu itu setiap malam datang kemari?” ber¬tanya Agung Sedayu.

”Menurut pembicaraan orang-orang yang terdahulu tinggal di sini tidak setiap malam. Hanya kadang-kadang saja.”

“Pada suatu saat Raden Sutawijaya pasti akan datang kemari.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Kalau lapo¬ran itu kelak sampai pada Mas Ngabehi Loring Pasar, ia pasti akan datang kemari. Ia ingin sekali pada suatu saat bertemu dengan hantu-hantu itu. Ia selalu membawa pusakanya, tombak Kiai Pasir Sewukir. Bahkan mungkin ia membawa pula keris Kiai Naga Kemala.”

Kedua murid-muridnya menganggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba Swandaru bertanya, ”Sekarang kita ke mana?”

“Kembali ke barak itu dan tidur.”

Swandaru dan Agung Sedayu tidak bertanya apa-apa lagi. Keduanya berjalan mengiringi gurunya sambil menundukkan kepalanya. Masih terngiang suara gemerincing di sela-sela derap kaki kuda.

Ketika Agung Sedayu teringat sesuatu, tiba-tiba ia bertanya, ”Guru, kenapa kita dapat mendengar derap kaki-kaki kuda itu?”

“Kenapa?”

“Bukankah menurut ceritera orang, hantu-hantu itu tidak me¬nyentuh tanah? Kalau kuda-kuda itu kuda hantu, maka kaki-kaki kuda itu pun tidak akan menyentuh tanah. Apalagi ada yang menga¬takan, bahwa kuda yang dipakai oleh hantu-hantu itu adalah kuda semberani.“

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Seperti bergumam kepada diri sendiri ia berkata, ”Aku tidak tahu, manakah yang benar. Tetapi memang sebaiknya kita melihat, apakah hantu-hantu itu menyentuh tanah atau tidak.”

Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Di hadapan mereka lam¬pu minyak di serambi barak masih menyala. Di serambi itu nampak orang-orang yang tidur melingkar berkerudung kain menyelubungi se¬luruh tubuh mereka.

”Mereka agaknya ketakutan mendengar bunyi gemerincing itu,“ desis Swandaru.

“Ya. Biarlah mereka menyembunyikan diri di balik selimut mereka. Mereka sangka, seandainya hantu-hantu itu ingin berbuat sesuatu, maka mereka yang berkerudung selimut itu tidak dapat terlihat lagi oleh hantu-hantu itu,” desis Agung Sedayu.

Kiai Gringsing tidak menyahut. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk lemah.

Ketika mereka kemudian menginjakkan kakinya di lantai serambi barak yang panjang itu, Kiai Gringsing dan kedua murid-muridnya mendengar nafas mereka yang sedang berkerudung selimut itu tersengal-sengal. Bahkan ada di antara mereka yang men¬jadi gemetar dan tidur berhimpit-himpitan.

Kiai Gringsing tidak mau mengganggu mereka atau bahkan mengejutkan mereka. Dengan hati-hati ia berjalan di antara orang-orang yang sedang menyembunyikan diri di bawah selimutnya, diikuti oleh kedua orang murid-muridnya.

Supaya orang-orang itu tidak menjadi bertambah ketakutan, ma¬ka Kiai Gringsing pun berkata kepada muridnya, ”Tidurlah. Kalian pasti sudah mengantuk.”

Beberapa orang yang bersembunyi di bawah selimutnya itu pun mendengar pula suaranya. Sebagian dari mereka mengenal bahwa suara itu suara Truna Podang. Karena itu dengan herannya mereka mencoba mengintip orang tua itu dari sela-sela keru¬dungnya. Sebenarnyalah bahwa mereka melihat Truna Podang yang sejak malam mulai gelap, meninggalkan barak mereka

Salah seorang dari mereka memberanikan diri membuka ke¬rudung di kepalanya. Perlahan-lahan ia menyapa, ”Truna Podang?”

Kiai Gringsing berpaling. Dilihatnya seseorang mengangkat kepalanya memandanginya.

“Ya, aku Truna Podang.”

“Dari mana kalian?”

“Dari gardu pengawas.”

“He, apakah kalian pergi ke sana?”

“Ya.”

“Tetapi, apakah kalian tidak mendengar?”

“Mendengar apa?”

“Mendengar …., mendengar …,” orang itu tidak meneruskan kata-katanya.

“O,” Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, ”suara gemerincing dan derap kaki kuda itu?”

“Sst, jangan ribut.”

“Ya, kami mendengarnya ketika kami berada di gardu pe¬ngawas. Para pengawas pun mendengar pula.”

“Dan kalian tidak takut pulang kemari?”

“Suara itu sudah tidak terdengar lagi. Dan kuda-kuda yang gemerincing itu sudah pergi.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, ”Apakah kalian di sini juga mendengar?”

“Sudahlah, sudahlah,” tiba-tiba seseorang memotong dari balik selimutnya, “jangan bicarakan itu lagi. Kalau kalian mau tidur, tidurlah. Hari sudah larut malam. Besok kita akan bangun pagi-pagi dan segera bekerja kembali.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kemudian bersama, kedua muridnya mereka pun melangkah ke sudut, tempat yang su¬dah disediakan untuk mereka bertiga, meskipun sebenarnya ter¬lampau sempit.

“Hem, untuk aku sendiri saja tidak cukup,” gumam Swandaru.

“Perutmu terlampau besar. Tetapi apa-boleh buat. Tempat yang disediakan untuk kami hanyalah sejengkal ini.”

Tetapi Swandaru tidak menghiraukannya. Ia pun segera me¬rebahkan dirinya.

Agung Sedayu dan gurunya memandang anak muda yang gemuk itu sejenak. Namun mereka pun tersenyum. Tempat itu benar-benar telah menjadi penuh.

“Kami berdua tidak mendapat tempat lagi,” gumam Agung Sedayu.

Swandaru pura-pura tidak mendengarnya. Bahkan ia pun kemudian memejamkan matanya.

Tetapi Agung Sedayu tidak mau duduk saja sambil menunggui Swandaru. Ia pun kemudian mendesak anak yang gemuk itu ambil berkata, ”Minggir. Kalau tidak perutmu akan ter¬gilas.”

“He, nanti dulu. Nanti dulu,” desis Swandaru.

“Nah, ingat. Jangan kau letakkan perutmu di sembarang tempat. Bagaimana kalau kau taruh saja perutmu di luar.”

“Uh, uh,” Swandaru bergeser dengan susah payah.

“Tetapi bagaimana dengan guru,” tiba-tiba Agung Sedayu bangkit dan bertanya kepada Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing tersenyum, ”Aku sudah biasa tidur sambil duduk. Apalagi aku mendapat sandaran tiang, sedangkan tanpa sandaran sama sekali, aku dapat juga tidur nyenyak.”

“Kalau Guru ingin berbaring, silahkanlah. Biarlah aku duduk bergantian, dengan Adi Swandaru.”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, “Tidurlah. Aku juga akan tidur.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Dan gurunya mengu¬langinya, ”Tidurlah.”

Akhirnya Agung Sedayu pun berbaring pula di samping Swan¬daru yang sudah tidur mendekur.

Di hari berikutnya, pagi-pagi benar seisi barak itu pun sudah bangun. Sambil berbisik-bisik mereka mempercakapkan, apa yang mereka dengar semalam. Suara gemerincing dan derap kaki-kaki kuda.

“Ternyata mereka benar-benar ketakutan,” desis Swandaru.

”Ya. Suara itu memang aneh,“ sahut Agung Sedayu. ”Aku jadi benar-benar ingin melihat.”

“Tetapi kita harus berusaha menyingkir dari orang-orang yang ketakutan itu, supaya mereka tidak menyalahkan kita kalau ter¬jadi sesuatu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Kita harus mencari akal.”

Mereka berhenti berbicara ketika orang yang tinggi kekar mendatanginya bersama orang yang kurus. Belum lagi mereka mengucapkan apa-apa, orang yang kekar itu sudah mendahului ber¬kata sambil menegangkan lehernya, ”Nah, sekarang kalian su¬dah mengalami sendiri. Bukankah semalam kalian mendengar suara itu? Coba sebutkan suara apakah itu.”

“Suara genta kecil-kecil yang banyak jumlahnya,” jawab Kiai Gringsing.

“Mirip suara genta, tetapi sama sekali bukan suara genta,” sahut orang itu. ”Itulah yang telah menyebar ketakutan di antara kami di sini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa orang lain pun kemudian ikut pula berkerumun dan berbicara me¬ngenai suara yang mereka dengar itu.

“Apakah belum ada seorang pun yang melihat dengan pas¬ti, bagaimana bentuk hantu-hantu itu?” bertanya Swandaru tiba-tiba.

“Ah, kau anak bengal,” orang yang kekar itu menjawab. “Mungkin kau perlu tahu, apa yang pernah dialami oleh Darpa Kancil. Hampir saja ia mati karena ia mencoba melihat hantu itu.”

Orang yang kurus, yang ternyata bernama Darpa Kancil itu menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Aku tidak berani menyebut-nyebutnya lagi.”

“Tetapi orang-orang baru ini perlu mengerti. Kasihan apabila mereka terdorong oleh kesombongannya, akhirnya akan menjadi korban seperti kau. Jangan ingkar, bahwa kau juga terlampau sombong waktu kau datang kemari.”

“Terserahlah kepadamu kalau kau mau menceriterakan. Tetapi aku tidak,” orang yang kurus itu telah benar-benar keta¬kutan.

Orang yang kekar itu berpikir sejenak. Dengan wajah yang tegang ia memandang berkeliling, seolah-olah ingin melihat apakah hantu-hantu itu ada di sekitarnya.

“Waktu itu,” ia berbisik, ”suara itu datang. Ini, orang ini dengan sombongnya berkata, bahwa ia tidak takut kepada hantu-hantu. Dengan beraninya ia turun dari barak dan mengejar suara itu. Tetapi katanya, dan orangnya sekarang ada di sini, bahwa ia tidak dapat menemukan suara itu. Kadang-kadang suara itu ada di depan, tetapi kemudian suara itu seakan-akan mengikutinya di belakang. Tetapi orang yang kurus ini agaknya orang yang memang berani, sehingga ia masih juga berusaha mencari terus. Namun ia tidak menemukannya.” Orang yang kekar itu ber¬henti sejenak, lalu, ”Tetapi apa yang terjadi di pagi harinya telah membuat barak itu gempar. Ia tiba-tiba saja kesurupan dan mengigau. Tubuhnya menjadi panas sekali seperti bara. Agaknya hantu yang dicarinya semalam itulah yang merasuk di dalam diri¬nya, ia mengancam semua orang yang sombong seperti orang yang kurus kering ini. Bahkan akan membunuhnya.” Sekali lagi ia berhenti. Kemudian suaranya menjadi semakin lirih, “Kami mencoba untuk mencegah kalian.“

“Ya. Hindarilah bencana itu. Kau orang baru di sini. Seperti beberapa orang yang terdahulu. Tetapi orang-orang yang merasa dirinya berani itulah yang akhirnya paling awal pergi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Terima ka¬sih. Terima kasih atas nasehat kalian.”

”Ini orangnya masih hidup. Aku tidak berbohong. Maksudku bukan menakut-nakuti, tetapi sekedar menghindarkan kalian dari bencana, karena aku menganggap semua orang yang datang di tempat ini adalah saudara-saudara senasib.”

“Ya, ya. Aku mengerti maksudmu. Para petugas pun per¬nah mengatakannya. Tetapi kini aku bertemu langsung dengan orang yang mengalaminya.”

“Aku sudah minta maaf dengan syarat seperti yang dinasehatkan seorang dukun. Ayam putih mulus, nasi kuning, dan tuntut pisang,” berkata orang yang kurus kemudian.

Kiai Gringsing sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang-orang di barak itu memang merasa selalu dibayangi oleh keta¬kutan. Sedang kedua muridnya mengerutkan keningnya sambil mempertimbangkan semua peristiwa yang didengarnya.

Tetapi belum lagi mereka meninggalkan tempat itu dan pergi ke kerja masing-masing sambil mengambil bekal rangsum mereka di gardu pengawas, mereka dikejutkan oleh seorang perempuan yang datang berlari-lari.

“Kakang, Kakang,” perempuan itu berteriak dengan cemasnya, dan langsung menemui orang yang kurus itu, ”anak kita, anak kita.”

“Kenapa dengan anak kita?”

“Ia tiba-tiba saja jatuh pingsan.”

“Pingsan?” orang yang kurus itu menjadi gelisah.

“Ya. Pingsan tanpa sebab.”

“Apakah sekarang masih juga pingsan?”

Perempuan itu menggeleng, ”Beberapa orang perempuan menolong kami. Anak itu, kini sudah sadar.”

“O, tetapi, tetapi, anak itu tidak apa-apa?”

“Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi nanti.” Perempuan itu berhenti sejenak, lalu, “di dalam pingsannya anak itu mengigau.“

“He, mengigau? Apa katanya?”

“Ia hanya berbisik-bisik. Katanya ‘jangan ulangi, jangan ulangi’.”

“O,” orang yang kurus itu menarik nafas dalam-dalam, ”me¬reka masih mengancam. Sekali aku bersalah, maka setiap kali aku selalu mendapat peringatan.”

“Tetapi, tengoklah anak itu sebelum kau berangkat kerja.”

Laki-laki kurus itu mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Baiklah. Aku akan menengoknya sebentar.”

Kedua suami isteri itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka yang sedang berbincang. Kiai Gringsing dan kedua murid¬nya berdiri termangu-mangu. Sedang orang yamg bertubuh kekar itu berkata, ”Nah ini adalah suatu bukti. Ia terlampau sombong pada saat ia baru saja datang kemari.“

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak, dan orang yang tinggi kekar itu berkata, ”Marilah, kita mempersiapkan diri dengan alat-alat kita. Sebentar lagi kita akan berangkat.”

“Tetapi di manakah anak yang sakit itu?”

“Ia berada di barak khusus untuk perempuan dan anak-anak yang masih terlampau kecil. Perempuan yang tidak mempunyai anak-anak kecil menyediakan makan kita sehari-hari. Bukankah kau lihat mereda sedang memasak?”

“Maksudku anak-anak kecil itu. Aku ingin melihatnya,” sahut Kiai Gringsing. Sebagai seorang dukun timbullah niatnya untuk melihat jenis-jenis penyakit yang aneh itu.

“Tidak perlu. Anak itu sudah baik. Jangan menambah persoalan lagi. Hantu-hantu yang merasuk ke dalam tubuhnya telah pergi setelah mereka sekedar memberikan peringatan.”

Kiai Gringsing tidak dapat memaksa orang itu untuk me¬ngantarkannya. Sebab dengan demikian, mungkin akan dapat timbul salah paham yang semakin dalam.

Sejenak kemudian maka orang-orang yang bersiap-siap untuk pergi ke daerah garapan masing-masing pun sudah siap. Mereka berjalan beriringan sambil menerima bekal rangsum mereka yang akan mereka bawa ke tempat kerja mereka. Menjelang tengah hari me¬reka akan berhenti bekerja dan makan rangsum itu.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi berurutan itu memang telah mem-pengaruhi sikap Kiai Gringsing dan kedua muridnya. Bahkan Swandaru mulai berpikir, apakah hantu-hantu itu memang ada.

“Bagaimana pendapat Guru?”

Gurunya menggeleng-gelengkan kepalanya, ”Aku belum dapat menemukan jawaban. Tetapi hantu-hantu itu memang telah mengganggu.”

“Tetapi menurut orang yang kurus itu, dengan ayam putih mulus dan kelengkapannya, persoalan hantu-hantu itu dapat se¬gera diselesaikan. Bukankah Guru juga seorang dukun? Agaknya Guru dapat juga mencari jalan untuk berhubungan, dengan hantu-hantu itu dengan cara yang lain daripada hubungan wadag.”

Kiai Gringsing tersenyum. Jawabnya, ”Aku memang seorang dukun, tetapi bukan dukun hantu-hantu. Aku dukun yang hanya dapat berusaha mengobati penyakit. Itu pun terbatas sekali, karena setiap persoalan, keputusam terakhir ada di tangan Yang Maha Kuasa.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Agung Sedayu bertanya, ”Apakah masalah hantu itu pada suatu saat dapat menggoncang rencana Ki Gede Pemanahan?”

“Tentu. Kalau hantu-hantu itu telah tersebar di segala penjuru dari daerah yang baru dan sedang mengembangkan diri ini, dan setiap orang akhirnya dicengkam oleh ketakutan, maka akhir¬nya daerah ini akan menjadi sepi kembali. Tanah garapan yang sudah dibuka itu akan menjadi rimbun kembali oleh batang-batang ilalang yang liar, karena tidak lagi disentuh tangan.”

Kedua murid Kiai Gringsing itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa terasa mereka telah sampai ke tanah garapan mereka yang agak terpencil.

“Aku memerlukan busur,” desis Swandaru.

“Buat apa?”

“Aku sudah ketagihan daging rusa.“

“Ah kau,” desis Agung Sedayu sambil menyiapkan alat-alat mereka.

Sejenak kemudian mereka pun telah tenggelam di dalam ker¬ja. Seperti di hari pertama mereka tidak menjumpai masalah-masalah yang aneh bagi mereka, selain suara burung kedasih yang tidak ada putus-putusnya.

“He, burung-burung itu agaknya tidak mau pergi dari tempat ini,” desis Swandaru.

“Begitulah suara burung kedasih. Ia tidak dapat berbunyi dengan nada yang lain. Tidak seperti kau. Kau dapat menyebut jenang alot, jadah ketan ireng, atau pondoh nasi gaga,” sahut Agung Sedayu.

Suara tertawa Swandaru meledak tanpa dapat dikendalikan. Namun tiba-tiba suara tertawanya itu pun terputus. Perlahan-lahan ia berdesis, ”He, suara kedasih itu pun berhenti pula.”

Agung Sedayu dan gurunya pun kemudian memasang teli¬nganya. Suara burung kedasih itu telah berhenti pula. Sehingga dengan demikian, hutan itu pun menjadi serasa sunyi sekali.

“Bukankah suara burung itu terhenti pula?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya.

“Aneh.”

“Tidak aneh,” berkata Kiai Gringsing, ”burung itu pun terkejut mendengar suara tertawamu.“

“Bukan karena burung itu berhenti berbunyi,” jawab Swandaru.

“Lalu, apakah yang aneh?“

“Burung kedasih biasanya berbunyi di malam hari. Tetapi hari ini, hampir sehari penuh, suara burung itu tidak henti-hentinya.

“Ya. Tetapi tidak selalu malam hari. Kadang-kadang di siang hari pun burung kedasih berbunyi pula seperti burung kedasih itu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi masih nampak keheranan membayang di wajahnya, karena suara burung kedasih itu.

Demikianlah maka ketika menjelang senja hari, Kiai Gring¬sing dan kedua muridnya itu pun menyudahi kerjanya. Setelah mereka menyimpan alat-alat mereka di tempat yang kemarin, di bawah sebatang kayu yang besar, yang telah dirobohkan oleh orang-orang yang bekerja di tempat itu sebelum mereka, maka ketiganya pun kemudian meninggalkan tanah garapan itu.

Beberapa orang segera mendapatkannya dan bertanya, apa¬kah yang dilihatnya dan dialaminya.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Kiai Gringsing.

Tetapi Swan¬daru menambahkannya, ”Hanya suara burung kedasih yang terus-menerus. Menjengkelkan sekali.”

“Hus, jangan berkata begitu.”

“Kenapa?” bertanya Swandaru.

“Jangan. Jangan berkata kurang sopan terhadap peristiwa-peristiwa yang aneh-aneh yang terjadi di sekitarmu,” desis seorang yang telah beruban di keningnya.

Swandaru menjadi heran. Tetapi kemudian ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang-orang di tempat itu percaya bahwa ka¬dang-kadang hal-hal yang aneh itu dapat mendatangkan bencana.

Ketika kemudian malam tiba, Kiai Gringsing dan kedua muridnya tidak lagi pergi ke gardu pengawas. Disana mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk melihat apabila mereka mendengar gemerincing genta dan suara derap kaki kuda.

“Kemana kita?” bertanya Agung Sedayu.

“Asal kita keluar,” jawab gurunya.

Ketika malam menjadi semakin malam, dan datang saatnya seperti kemarin malam ketika suara gemerincing itu mengitari barak. Kiai Gringsing itu berdesah, ”Uh perutku sakit.”

Seseorang yang sudah berbaring di sampingnya bertanya, “Kenapa perutmu?”

“Sakit, aku akan pergi ke sungai.”

“He,” orang itu terkejut, ”malam-malam begini?”

“Ya, perutku sakit tidak tertahankan lagi.”

“Kau berani pergi ke sungai?”

“Tidak. Tetapi biarlah kedua anak-anakku itu mengantarkan aku.”

“Bodoh sekali. Kau bodoh sekali. Kemarin malam. Di saat-saat seperti ini….. O, ngeri sekali,“ orang itu tidak berani menye¬butkan apa yang telah terjadi kemarin malam.

Tetapi Kiai Gringsing dan muridnya mengerti, bahwa yang dimaksudkan itu adalah suara gemerincing genta itu.

“Tetapi, bagaimana dengan perutku ini.”

Orang itu tiba-tiba mengerutkan keningnya, ”Apakah kau mengalami sesuatu siang tadi?”

Kiai Gringsing menggeleng.

“Anakmu yang telah mengumpati burung kedasih itu. Burung itu memang sering terdengar berbunyi di siang hari.”

“O, tetapi kenapa perutku yang sakit? Aku tentu tidak akan dapat mengganggu kalian di sini dengan bau yang tidak sedap. Karena itu biarlah aku pergi ke sungai.“

“Jangan pergi.”

“Terpaksa sekali. Sebentar saja.”

Kiai Gringsing pun kemudian mengajak kedua anak-anaknya pergi. Beberapa orang telah berusaha mencegahnya.

Orang yang kurus itu bahkan menahan tangannya sambil berkata, ”O, jangan kau lakukan. Jangan membuat dirimu menjadi korban kebodohanmu sendiri.”

“Tetapi bagaimana dengan isi perutku ini.”

Dan orang yang tinggi kekar berkata, ”Kau bukan sanak dan bukan kadangku. Seharusnya aku pun tidak merasa kehilangan kalau kalian tidak akan dapat kembali lagi ke barak ini. Te¬tapi aku masih mencoba berbuat baik terhadapmu.”

“Terima kasih. Tetapi apakah kau dapat memberi jalan lain untuk menyelesaikan perutku ini.”

Orang yang tinggi kekar itu mengerutkan keningnya.

“O, aku sudah tidak kuat lagi. Apakah aku sudah dikutuknya? Sakit perutku tidak tertahankan lagi. Aduh….,” Kiai Gringsing menyeringai sambil memegangi perutnya, sedang orang-orang yang kemudian mengerumuninya menjadi saling berpan¬dangan.

“Apa boleh buat,” berkata salah seorang dari mereka, “kita sudah berusaha mencegahnya. Tetapi ia tetap akan pergi.”

“Bukan maksudku untuk tidak mendengarkan nasehat ka¬lian. Aku pun sebenarnya takut sekali pergi ke sungai itu. Tetapi apakah memang ada jalan lain?” Kiai Gringsing menghentak-hentakkan kakinya sambil berdesis.

“Apa boleh buat,” dan yang lain menyahut, “apa boleh buat.”

Kiai Gringsing kemudian diantar oleh Agung Sedayu dan Swandaru melangkah pergi. Orang tua itu masih sempat bertanya, ”Siapakah yang mau menolong kami, mengawani kami pergi ke sungai?”

Tidak ada seorang pun yang menganggukkan kepalanya. Bahkan orang yang kurus itu berkata, ”Kami tidak mau mati ketakutan.”

Beberapa orang melihat ketiga orang yang menghilang ke dalam gelap itu dengan hati yang berdebar-debar. Beberapa dari an¬tara mereka menarik nafas sambil berdesah, “Mereka adalah orang-orang yang berani.”

Tetapi orang yang tinggi kekar berkata, “Mereka terlam¬pau sombong. Kalau mereka sudah mengalami peristiwa seperti si kurus itu barulah mereka akan percaya.”

Kiai Gringsing dan kedua muridnya, setelah menghilang ke dalam gelap, segera berhenti. Dari balik pepohonan mereka masih dapat melihat lamat-lamat cahaya lampu-lampu minyak di serambi barak yang panjang.

“Kemana kita, Guru?” bertanya Agung Sedayu.

“Menunggu. Menunggu kuda semberani yang bergemerincing itu lewat.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Swandaru-lah yang bertanya kemudian, ”Kita menunggu di sini?”

“Ya,” jawab Kiai Gringsing.

“Kalau begitu aku harus mendapatkan sandaran duduk.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku akan tidur.”

“Ah, kau,” desah Agung Sedayu. Tetapi Swandaru tidak menghiraukannya. Beberapa langkah ia beringsut, kemudian bersandar pada sebatang pohon lamtara yang hanya sebesar lengan. Kiai Gringsing dan Agung Sedayu pun kemudian duduk pu¬la. Mereka menunggu suara gemerincing dan telapak kaki kuda itu lewat. Dengan dada yang berdebar-debar mereka duduk tanpa berbicara apa pun lagi.

Tetapi suara gemerincing itu tidak kunjung datang. Waktu yang mereka pergunakan untuk menunggu sudah jauh lebih panjang dari waktu yang wajar bagi orang yang pergi ke sungai. Namun kuda itu tidak lewat juga.

Swandaru menjadi tidak sabar lagi. Sambil terkantuk-kantuk ia bergumam, “Lebih baik kita yang mencari.”

“Kemana?” bertanya Agung Sedayu.

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia sibuk menggaruk-garuk kakinya yang digigit nyamuk.

“Marilah kita kembali,” desis Kiai Gringsing, ”kita tidak berhasil lagi malam ini.”

“Apakah hantu-hantu itu mengetahui bahwa kita sedang menunggu mereka di sini?” bertanya Swandaru kemudian.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, ”Aku tidak tahu.”

Ketiganya pun kemudian kembali ke barak mereka. Ketika Kiai Gringsing mendehem, hampir bersamaan beberapa orang menarik selimut yang mereka selubungkan ke kepala.

“Kau Truna?” bertanya seseorang.

“Uh, kau pergi terlampau lama. Kami sudah cemas, jangan-jangan kau tidak akan kembali lagi kemari.”

“Jalan ke sungai itu gelap sekali,” jawab Kiai Gringsing.

Orang-orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tidak seorang pun yang menanyakan kepadanya, apakah Truna Podang itu tidak bertemu dengan hantu. Sedang Kiai Gringsing pun sa¬dar, bahwa mereka harus menyimpan pertanyaan itu sampai be¬sok, karena mereka tidak berani mengucapkannya saat itu.

Sebenarnyalah di pagi hari berikutnya, Truna Podang sudah dikerumuni oleh beberapa orang yang bertanya kepadanya, ”Apakah kau melihat sesuatu?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya.

“Tidak,“ jawabnya, ”aku tidak melihat apa pun.”

Beberapa orang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi beberapa orang yang lain berkata di antara mereka, ”Belum saja mereka mengalami. Apabila pada suatu saat mereka benar-benar ber¬temu dengan hantu itu, barulah mereka menjadi jera.”

“Kalau hanya sekedar bertemu dengan hantu, tentu tidak akan menyedihkan. Tetapi kalau hantu-hantu itu benar-benar marah dan mencabut nyawa mereka?”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Seseorang ber-desis, ”Kasihan. Mereka terlampau keras kepala.”

Ketika matahari menjadi semakin terang, maka orang-orang itu pun segera meninggalkan tempat itu pergi ke tanah garapan masing-masing, setelah mereka mengambil bekal mereka dari gardu pe¬ngawas.

Kiai Gringsing dan kedua muridnya pun pergi pula ke tempat kerja mereka.

“Apakah burung kedasih itu masih berbunyi lagi di sepanjang hari?” tiba-tiba saja Swandaru berdesis.

“Bukankah kita sudah mendapatkan cara untuk menghentikannya?” sahut Agung Sedayu.

“Bagaimana?” bertanya Swandaru.

“Kau berteriak keras-keras. Burung itu akan ketakutan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut.

Demikianlah, maka mereka bertiga bekerja dengan tekun¬nya. Suara burung kedasih itu sudah tidak mengganggu lagi. Namun terik matahari yang semakin tinggi serasa telah membakar tubuh mereka.

Ketika mereka sedang sibuk menebasi batang-batang pepohonan yang sudah rebah, maka mereka pun kehilangan perhatian me¬reka kepada keadaan di sekitar tanah yang sunyi itu. Yang men¬jadi pusat perhatian mereka adalah kapak-kapak mereka yang terayun-ayun dengan kerasnya, melontarkan bunyi yang membelah sepinya suasana hutan.

Namun tiba-tiba mereka bertiga terkejut ketika mereka men¬dengar pekik memanjang. Gemanya terpantul dari segala arah, sehingga pekik itu terdengar seakan-akan terulang-ulang.

Swandaru, Agung Sedayu, dan gurunya segera berhenti be¬kerja. Meskipun kapak mereka masih ada di dalam genggaman namun mereka kini berdiri tegak bagaikan patung yang beku.

Sekali lagi suara itu terdengar meninggi dan berkepanjangan.

Tiba-tiba saja Swandaru melemparkan kapaknya dan meloncat berlari. Namun langkahnya tertahan karena gurunya segera me¬nangkap lengannya.

“Tunggu, Swandaru,” desis Kiai Gringsing, ”kita ber¬ada di tempat yang asing. Jangan tergesa-gesa berbuat sesuatu kalau kau tidak ingin terjebak.”

Sejenak Swandaru berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Kini ditatapnya hutan yang lebat di sebelah tanah yang sedang digarap. Dan, ia memang tidak mengetahui, apakah yang tersimpan di dalam lebatnya hutan itu, di balik pohon-pohon raksasa dan di dalam gerumbul-gerumbul perdu yang liar.

Agung Seadayu telah meletakkan kapaknya pula. Tanpa disadarinya tangannya telah meraba tangkai cambuknya yang melilit di lambung.

Dalam keragu-raguan itu Kiai Gringsing dan kedua muridnya mendengar lengking yang tinggi itu sekali lagi. Dan kini berada agak lebih-dekat.

“Hati-hatilah,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”kita berhadapan dengan sesuatu yang masih belum dapat kita jajagi.”

Kedua muridnya menganggukkan kepalanya. Setapak Agung Sedayu bergeser maju, sedang Kiai Gringsing berdiri tegak sam¬bil menengadahkan kepalanya.

“Seseorang mendekat kemari,” bisiknya.

Kedua muridnya pun mencoba untuk mendengar sesuatu. Namun baru sejenak kemudian mereka mendengar langkah orang berlari-lari.

“Ya, seseorang telah datang kemari,” ulang Agung Sedayu.

Ternyata dugaan mereka benar. Sejenak kemudian sese¬orang muncul dari balik gerumbul-gerumbul perdu yang lebat. Masih terdengar betapa ia merintih kesakitan. Ditekankannya kedua tela¬pak tangannya di dadanya yang ternyata menghamburkan darah yang merah.

“Tolong, tolong Ki Sanak,“ suaranya gemetar, sedang langkahnya menjadi terhuyung-huyung.

Kiai Gringsing selangkah demi selangkah maju mendekati¬nya.

“Kenapa kau Ki Sanak?” bertanya orang tua itu.

“O, hantu, hantu itu.”

Dada ketiga orang itu berdesir.

“Kenapa?”

“Mereka telah menerkam aku. Aku digigitnya dengan taring.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Beberapa langkah ia maju mendekat, sedang Swandaru langsung menghampirinya sambil bertanya, ”Apakah kau bertemu dengan hantu itu?”

Orang itu terdiam seienak. Dipandanginya Swandaru de¬ngan mata yang merah. Tiba-tiba ia berpaling. Dengan penuh ke¬takutan ia berteriak, “He, ia mengejar aku. Tolong, tolong Ki Sanak.“

Semua orang berpaling ke arah tatapan mata orang yang terluka itu. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu.

”Itu. Itu.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi ia sama se¬kali tidak melihat apa pun, selain daun yang bergerak-gerak disentuh angin.

Tiba-tiba saja orang itu berada di puncak ketakutannya. Sekali lagi ia berteriak, ”Ampun, Ampun. Tolong Ki Sanak, tolong.”

Tanpa menghiraukan apa pun lagi, dengan serta-merta ia meloncat mendekap Swandaru yang berdiri di dekatnya. Dengan suara gemetar ia masih saja berteriak-teriak, ”Tolong Ki Sanak, tolong.”

Swandaru terperanjat ketika tiba-tiba saja nafasnya serasa menjadi sesak. Orang itu mendekapnya terlampau kuat dan bahkan mengguncang-guncangnya sehingga hampir saja Swandaru itu pun terjatuh karenanya.

“He, jangan berbuat seperti anak kecil,” teriak Swan¬daru.

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya.

“Itu, lihat. Hantu itu mengejar aku.”

“Tenanglah Ki Sanak,” desis Kiai Gringsing, ”tenang¬lah dan berbicaralah supaya kami mengerti apa yang telah ter¬jadi atasmu.”

“Aku dikejar hantu. Hantu jerangkong bermata bara, membawa sebatang tongkat panjang. Oh, dadaku terluka dan tengkukku telah digigitnya.”

“Kenapa dadamu terluka?”

“Tongkat itu. Tongkat itu,” dan sejenak kemudian sambil mendekap Swandaru semakin erat, ia melonjak-lonjak. ”Tolong, tolong. Aduh. Ia akan menerkam aku.”

Kiai Gringsing kemudian mendekatinya. Tetapi sebelum ia sempat meraba orang itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara sebuah benda yang berat terjatuh.

Kiai Gringsing tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat ke arah suara itu, meskipun ia cukup berhati-hati. De¬ngan indera pendengarannya yang tajam ia mengenali apa yang ada di sekitarnya.

Agung Sedayu pun mengikutnya pula, sedang Swandaru tiba-tiba saja telah mendorong orang yang mendekapnya sambil ber¬kata, ”Tunggu di sini. Aku akan melihat.”

Orang itu terdorong beberapa langkah sebelum ia terjatuh di tanah, tetapi Swandaru tidak menghiraukannya lagi. Ia pun segera berlari menyusul gurunya.

Ketika Kiai Gringsing sudah memasuki hutan, maka langkahnya pun segera diperlambatnya. Dicobanya untuk mendengar setiap desah yang mencurigakan. Tetapi yang didengarnya ha¬nyalah desir angin di dedaunan.

“Hati-hatilah,” ia berdesis kepada murid-muridnya.

Agung Sedayu dan Swandaru yang sudah ada di sampingnya pun mengangguk pula.

Tetapi sampai beberapa, langkah kemudian, mereka tidak menjumpai apa pun juga. Apalagi hantu, seekor kelinci pun tidak.

Namun tiba-tiba Kiai Gringsing itu mengerutkan keningnya. Dilihatnya sebuah batu yang besar tergolek di tanah.

“Batu ini,” desis Kiai Gringsing.

“Kenapa dengan batu ini?” bertanya Swandaru.

”Suara itu adalah suara batu ini terjatuh.”

“Dari mana?” bertanya Agung Sedayu.

Ketiganya pun serentak menengadahkan wajah mereka. Te¬tapi mereka tidak melihat sesuatu, selain sebatang pohon yang tinggi dan lebat. Dengan teliti Kiai Gringsing mencoba mengamat-amati pohon itu. Tetapi ia memang tidak melihat atau mendengar sesuatu.

Perhatiannya kemudian dialihkan kepada batu besar yang tergolek di dekat ujung kakinya. Batu itu adalah batu hitam yang berat.

“Apakah Guru memastikan bahwa suara itu adalah suara batu ini?” bertanya Swandaru.

“Ya, ” jawab gurunya, ”lihatlah, rerumputan di sekitarya. Ranting-ranting perdu yang berpatahan. Bekas itu adalah bekas-bekas batu sehingga batu ini pasti baru saja jatuh dari atas.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Sedang Agung Sedayu memandangi daun pohon yang rimbun itu sekali lagi. Ia hampir tidak dapat mempercayainya bahwa batu itu jatuh begitu saja dari atas sebatang pohon yang demikian tinggi.

“Aneh,” tanpa sesadarnya ia berdesis.

Kiai Gringsing pun mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun ia belum dapat menebak teka-teki yang sulit itu. Sebagai sese¬orang yang banyak melakukan pengembaraan sejak masa muda¬nya, Kiai Gringsing sudah banyak sekali mengalami masalah-masalah yang aneh dan berbahaya. Tetapi kali ini ia tidak segera mene¬mukan jawaban dari peristiwa yang membingungkannya itu.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:37  Comments (50)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-52/trackback/

RSS feed for comments on this post.

50 KomentarTinggalkan komentar

  1. yang katanya jam 10, itu jilid 51 ato jilid 52 yah ? he he ….

  2. adakah yang berani mengobral janji lagi? Klo jilid 52 bakal terbit malam nanti?
    Buktikan menorehmu!!!
    tetap semangaaaat

    • Sugeng enjing mbah man….sudah sehatkah ?
      ..terusan Adbmnya mana…?

      • sugeng siang ki kartu….mbah mannya mana ?

  3. sabar kisanak, sabaaaar

    xixixi 😀
    Ki KontosWedul

  4. Nek ra sabar..main silat dewe wae..

  5. “Entahlah Kiai, rasa-rasanya kepalaku menjadi semakin pepat menunggu kepastian. Seandainya saja gambaran itu tertulis di atas lontar, aku pun mungkin tidak menjadi semakin pening.” katanya kepada Kiai Gringsing.

  6. “Akupun sebenarnya masih menduga-duga, siapa sebenarnya hantu2 itu. Tetapi aku yakin hantu itu tidak akan muncul nanti malam, karena belum ada tanda2 covernya” desis Kiai Gringsing.

  7. “…hmm, setahun lagi mungkin akan berdiri puluhan atau bahkan ratusan perguruan orang bercambuk diseantero negeri ini. Para cantrik yang sekarang sedang giat-giatnya mengunduh ilmu di padepokan inilah yang nantinya akan jadi penerusku”.
    “Semoga mereka tidak menjadi keblinger, dengan mengkomersilkan kitab-kitab yang sudah aku wariskan semua”, gumam Gembala Tua dengan penuh harap.

  8. “Tetapi guru, apakah kita akan membiarkan saja keadaan ini ? Rasa-rasanya aku sudah tidak bisa menahan diri lagi.” geram Swandaru.

  9. Wah wis pinter-pinter yho saiki…ngompori ben ndang metu po

  10. Yah, covernya ja blom da… Mdah2an ga lama lg…

  11. sabar ngger, ada kalanya kekecewaan adalah jalan menuju ketabahan. semuanya ada waktunya. kepedihan ini ini akan menjadikan kita semakin dewasa…Hanya orang2 yang merasakan kepahitan yang akan mengecup manisnya rasa.

  12. pada menunggu bangkit nya hantu Ki Tambak Wedi ya…

  13. blom ada tanda2 keliatan…

  14. “Sutawijaya,…semenjak Kiai Gringsing & kedua muridnya ikut membuka alas Mentaok, penunggang2 kuda misterius itu tidak pernah muncul 2 hari ini.” kata Ki Gede Pemanahan.
    “Apakah mereka sedang merencanakan sesuatu Ayah?” tanya Sutawijaya.
    “Hhhmmm…mungkin, hal itu sangat mungkin sekali anakku. Mungkin juga mereka sedang menguji kesabaran kita.” desis Ki Gede Pemanahan.

  15. “Apabila diperkenankan, biarlah kami nganglang ke daerah di sekitar tempat Kiai Gringsing dan kedua muridnya membuka hutan, dan mencoba menyisir gubug-gubug yang sudah ditinggalkan penghuninya itu. Siapa tahu kami dapat menemukan hantu-hantu tersebut beserta covernya yang berharga.” kata Dipasanga.

  16. “Apa kisanak sudah pada mampu meningkatkan jurus2 di jilid 52 ?” Kyai Gringsing berta dengan sareh, bersabarlah, setapak demi setapak kemampuan kisanak akan sampai ke sana, matangkan dulu jilid 51 hehehe….

  17. Agung Sedayu sejenak termangu-mangu memandang pepatnya hutan. Hm, tidak mudah memang, untuk menyisiri Alas Mentaok sampai ke Pliridan sana, menemukan kitab Jilid-52 yang agaknya tercecer di antara pohon-pohon yang rapat berjejalan, gerumbul-gerumbul semak berduri serta oyod bebondotan …

  18. “Guru, apakah kita akan melanjutkan lagi penebangan hutan ini lebih kedalam?” tanya Agung Sedayu.

    “Sebentar dulu ngger. Kita masih memerlukan alat-alat tambahan sesuai petunjuk-petunjuk pada buku jilid 52” jawab Kiai Gringsing.

    “Semoga saja buku itu segera diantarkan oleh moderator” jawab Swandaru. “Tanpa buku itu kita tidak tahu pula siapa sebenarnya hantu-hantu yang mulai menggelisahkan warga padukuhan ini”

  19. Ketika sedang mencari orang – orang berkuda misterius yang telah mencuri kitab jilid 52, sampailah Swandaru ke depan sebuah gua. Dengan hati – hati diintipnya sisi dalam gua itu. Dan dada Swandaru berdesir. Di dalam gua itu tidak didapatinya orang – orang berkuda yang di carinya, akan tetapi dilihatnya dua orang yang sedang main kuda – kudaan…

  20. Masa seh, moderator ga panas dg komentar2 yg bikin gregetan itu….

  21. “Guru,… suara derap kaki kuda itu kian dekat, sekilas nampak bayangan2nya. tetapi masih samar.” bisik Agung Sedayu.
    “Ya,… setidak-tidaknya ada harapan karena aku liat kudanya sudah mulai nampak diantara rimbunan pohon2 itu.” sahut Kiai Gringsing.
    “Aku tak bisa menahan diri lagi Guru…” tiba-tiba Swandaru berteriak sambil meloncat menyongsong kedatangan penunggang2 kuda misterius itu, tetapi dia tertahan karena sepasang tangan yg kokoh memegang lengan tangannya.
    “Sabar Swandaru,… yg datang baru covernya. Ada cover ada harapan…”

  22. Sabar kisanak. Seperti kata Ki Demang, ada cover ada harapan

  23. Waaah… gambarnya kok lawan tengkorak berkuda gitu.. ada apalagi niiih…

  24. bersabarlah……
    berilah kesempatan gembala tua untuk “ngaso” sejenak
    mungkin kyai “scanner” juga butuh istirahat
    bayangkan…
    sudah beratus-ratus lembar yang telah di “sorot”..
    dan ribuan lembar lagi yang harus disorot
    semua itu … hanya untuk kita semua

    kita cuma bisa bilang
    maturnuwun…..

  25. “……ngger, gendonganmu kok semakin besar, makanan siapa yang angger ambil?” Sumangkar berkata selagi istirahat. “….. huh … biar saja kiai, biar kapok mereka! Jawab Sekar Mirah dengan kesal. “Siapa yang akan kapok…” Dengan heran Sumangkar bertanya lagi.
    Ketika Sumangkar membuka isi gendongan muridnya, ia agak heran melihat beberapa kumpulan tulisan kuna di dalamnya.
    “Ngger …. kalau salinan kitab nomer 52 sampai 60 kamu bawa…. bagaimana Swandaru dan Agung Sedayu mengisi kekosongan waktunya setelah bekerja keras….? tegur Sumangkar. Sekar Mirah hanya tersenyum … saja. Ia merasa menang, karena bisa membuat pusing orang banyak.

  26. “mudah-mudahan, ngger….”, berkata Kiai Gringsing dengan sarehnya.

  27. ” maaf kiai… ” berkata Dipasanga “penghubung yang ditugaskan untuk membawa kitab tersebut, ternyata di cegat oleh petugas telik sandi Pajang, kami akan segera mengirimkan bantuan untuk menjemput… mudah2-an sebelum matahari terbenam utusan itu sudah kembali”.

  28. “Biarlah angger Agung Sedayu mengawani utusan Ki Dipasanga itu, untuk mengurangi kekisruhan yang mungkin terjadi. Namun demikian, berhati-hatilah, kita tidak tahu pasti perkembangan yang akan terjadi, walaupun cover tersebut memang memberikan harapan.” jawab Kiai Gringsing.

  29. “Terima kasih Ki DDe… atas petunjukmu kini kami bisa bertemu dengan penunggang kuda misterius ini.” sahut Kiai Gringsing

  30. jilid 52 dah daku terima
    makasih kyai

  31. Kalo comment untuk setiap jilid dikumpulkan, bisa jadi suatu buku yang lumayan nyeleneh….he…he

  32. urun konvert-an buku 52 ki…
    langsung ke emailnya ki gde menoreh

  33. “akhirnja hari ini djuga kita temukan obat penawar ratjunnya itu”, ujar Kiyai Gringsing kepada Agung Sedayu. “Tjepat batja buku 52-nya supaja, Swandaru tjepat pulih dan ratjun di sekujur tubuhnja tjepat hilang.”

  34. buat Ki goenas yang punya convertannya, boleh dong aku minta

  35. mbaca komentar wong-wong ki jan ndadekke aku koyo wong gendeng, ngguya-ngguyu dewe, wis jan apik tenan, koyok’e wis dho oleh ilmune Ki Gede SH Mintardja kabeh.

  36. “Sokurlah, ngger, akhirnya Jilid 52 ini bisa kita terima bersama dengan rangsum kiriman dari Menoreh,” ujar Kiai Gringsing kepada kedua muridnya.

    Lanjutnya lagi, “Nah, dengan semangat baru ini kuharap kalian tidak perlu takut lagi kepada hantu-hantu itu dan bermalas-malasan membuka bidang hutan yang menjadi bagian kita, setidak-tidaknya sampai datang kiriman jilid yang baru.”

    Kedua bekas gembala itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengiakan, namun matanya tak lepas-lepas dari lembar-lembar jilid yang menarik hati itu.

  37. “Swandaru gerakanmu masih dijilid 51, coba tinkatkan spt Agung Sedayu yang sudah meningkat ke jilid 52, mungkin nanti malam sudah ke jilid 53, Angger kurang sabar..”Kata Kyai Gringsing.
    Di mana Agung Sedayu kok tidak kelihatan,”Lagi di belakang Kyai, mesu diri untuk mempersiapkan ilmu di jilid 53 nanti malam” Kata Swandaru Geni.
    “Hmmm….contohlah kakakmu Ngger….”Kata Kyai Gringsing
    Swndaru semakin menundukkan kepalanya…….

  38. Dho kesurupan di alas Mentaok

  39. komentarnya lucu2 banget….jadi geli liat semua warga padukuhan pada gregetan…

    buruan apa ki Dede…aku juga deg degan nungguinya…aku punya penyakit lemah jantung (beneran..)

  40. ngger, berkata ki Sumangkar kepada kedua murid kiai Gringsing :” apa kamu berdua sudah dapat mempelajari jurus cambuk jilid 50 dan jilid 51?”. Belum ki,gurru belum mengijinkan, tapi aku sudah bisa mengungkapkan tenaga cadangan jilid 52 yang diberi guru tadi pagi,jawabnya.
    “O” desis ki Sumangkar, ya kalau begitu sabar.

  41. “aku sedih kakang, meskipun berhasil mengungkapkan rahasia kitab 52 namun aku belum berhasil membuka kitab 50 dan 51, maukah kau menolongku kang?” berkata Swandaru kepada Agung Sedayu. “Berikan convertnya kang……….”

    GD: Aku jadi kasihan kepadamu, Met. Jadi, tadi aku suruh Gupala untuk mengantarkan Kitab 50 langsung ke rumahmu. Jadi, tengoklah rumahmu, mungkin sudah sampai.

  42. banyak terima kasih, sudah diberi kesempatan untuk membaca adbm. Moga2 bisa sampai jilid terakhir …..

    matur nuwun sanget mas2 dan mbak2 .. yang sudah bersusah payah untuk menampilkan adbm di dunia maya … hehe …

  43. Kerennnnnnn….wah nggak sabar ngejar para cantrik yg di ujung-ujung…

  44. aku malah jadi nyasar ke sini??…
    lha ga ada orang je???

  45. Hiaaaat, tanpa terasa sampe siNI juga akhirnya……!!??

    • sugeng enjang

      • haduuu kaged akuuu

        • aja kagetan,
          aja gumunan,
          aja….aja….ana apa2ne


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: