Buku 51

“Apakah ada yang meninggal karenanya?”

“Tidak. Tetapi mereka tidak berani lagi meneruskan ker¬ja mereka. Bahkan mereka telah pergi meninggalkan tempat ini. Barang-barangnyalah yang dititipkan kepadaku.” Sekali lagi ia ber¬henti untuk menarik nafas dalam-dalam. “Namun ternyata bahwa orang-orang lain pun melihat hantu itu pula. Kini hantu-hantu itu telah menempuh jalan yang lebih dekat lagi dari gubuk-gubuk ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimana?” bertanya petugas itu, “Apakah kau berani?”

“Apakah tidak ada bagian lain yang dapat dibuka?” bertanya Kiai Gringsing. “Kalau ada, apakah kami diperkenankan memilih tempat itu?”

Petugas itu terdiam sejenak. Namun kemudian sambil mengerutkan keningnya, ia menggelengkan kepalanya. Dipandangi¬nya Kiai Gringsing dan kedua murid-muridnya berganti-ganti.

Sesaat kemudian ia berkata, “Sayang. Kalau aku memberikan bagian-bagian yang lain, kalian bertiga pasti tidak akan sanggup melakukannya. Apakah kalian bertiga mampu menebas hutan se¬lebat itu hanya bertiga?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kami memang tidak akan mungkin melakukannya. Tetapi bagaimana dengan hantu-hantu itu?”

“Tergantung sekali kepadamu dan kepada anak-anakmu.”

Kiai Gringsing, yang menyebut dirinya Truna Podang itu berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Apa boleh buat. Aku akan mencoba meneruskan kerja yang terhenti itu. Aku mem¬punyai pendirian, bahwa apabila kita tidak berniat jelek, maka kita pasti tidak akan diganggu.”

“Terserahlah kepadamu. Semua itu akan menjadi tanggung jawabmu bertiga.”

“Baiklah, Tuan. Kami menerima pekerjaan itu.”

“Aku tidak memberimu pekerjaan. Aku memberi kau tanah.”

“Ya, ya. Maksudku, tanah itu aku terima dengan senang hati dan berterima kasih.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudi¬an, “Kalau begitu kau dapat mempergunakan alat-alat itu. Kalau kau menemui kesulitan, hubungilah aku. Namaku Wanakerti.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Wanakerti. Ya, aku akan menghubungi Tuan, Ki Wanakerti.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun berdiri dan mengambil alat-alat yang dititipkan kepadanya.

“Bawalah apa yang kau butuhkan.”

“Kami hanya memerlukan tiga buah kapak, parang dan beberapa gulung tampar.”

“Ambillah.”

Kiai Gringsing beserta kedua muridnya pun, kemudian memilih beberapa macam alat yang dipergunakan. Sambil memisahkan alat-alat itu, Kiai Gringsing berkata, “Kami merasa sangat beruntung atas kebaikan hati Tuan, sehingga kami tidak perlu kembali ke tempat kami semula. Tempat yang sama sekali tidak memberikan harapan apa pun kepada kami sekeluarga.”

“Kalau kalian memang bersedia meneruskan kerja itu, marilah aku tunjukkan letak tanah itu. Bawalah alat-alat yang kau perlukan itu sama sekali.”

“Marilah, Tuan. Aku akan melihat, apakah kami akan mam¬pu melakukan kerja itu.”

Sambil menjinjing alat-alat untuk membuka hutan beserta bungkusan pakaian masing-masing, maka Kiai Gringsing bersama kedua muridnya itu pun mengikuti petugas yang bernama Wanakerti itu.

Sampai di tempat para petugas yang lain menunggui gardu pengawas bagi mereka yang sedang membuka hutan itu, maka seorang petugas berkata, “He, kau bawa ke mana orang-orang itu?”

“Mereka akan meneruskan kerja yang terbengkalai itu.”

“Jangan pedulikan mereka. Suruh mereka pergi orang-orang malas itu, tidak akan berguna,” teriak petugas yang selalu marah-marah saja.

“Mereka akan mencoba,” jawab Wanakerti.

“Tidak ada gunanya. Suruh mereka pergi.”

Tetapi Wanakerti hanya tersenyum saja.

“Kau bawa juga mereka ke sana?” petugas itu mendesak.

Wanakerti menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Mereka akan melihat daerah itu.”

“Gila!” Tetapi kemudian ia menggeram, “Persetan de¬ngan orang-orang malas itu.”

Wanakerti tidak menjawab lagi. Ia berjalan terus diikuti oleh Kiai Gringsing dan kedua muridnya.

“Kenapa ia selalu marah-marah saja?” bertanya Kiai Gringsing.

“Orang itu tidak marah-marah,” jawab petugas yang bernama Wanakerti itu.

“Tetapi, ia membentak-bentak.”

“Memang suaranya terdengar seolah-olah ia membentak-bentak. Apalagi bagi yang belum mengenalnya. Tetapi ia orang baik. Sebenarnya ia merasa sayang bahwa kalian akan terjerumus ke bagian yang mulai dijauhi orang.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tetapi kenapa tuan menem¬patkan aku dan kedua anak-anakku di sana?”

Wanakerti tidak segera menjawab. Agaknya ia sedang menyusun jawaban yang tepat atas pertanyaan yang sulit itu. Na¬mun kemudian ia berkata, “Aku sendiri tidak tahu. Tetapi aku melihat kelainan pada kalian bertiga. Tetapi kalau kau bertanya, kelainan yang mana tampak olehku, itu pun aku tidak akan dapat menjawab.”

Terasa debar yang keras menyentuh dinding jantung Kiai Gringsing. Agaknya daya tangkap mata hati orang yang bernama Wanakerti ini pun agak lebih baik dari kawan-kawannya.

“Aku kira tidak ada bedanya, Tuan.”

“Ternyata ada. Aku sudah pernah bertanya kepada lebih dari sepuluh orang, apakah mereka bersedia meneruskan kerja yang terhenti itu. Tetapi tidak seorang pun yang berani.”

“Tetapi apakah maksud Tuan, dengan keinginan Tuan agar tanah itu tetap dibuka?”

“Sebenarnya aku hanya ingin meyakinkan, apakah yang sudah terjadi itu memang sebenarnya telah terjadi.” Tetepi tiba-tiba suaranya meninggi, “Maksudku, bukan aku tidak percaya, atau aku kurang meyakininya. Aku percaya dan aku memang tidak akan berbuat apa-apa.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia me¬ngerti bahwa Ki Wanakerti sedang di ombang-ambingkan oleh perasaannya sendiri. Di antara percaya, bahkan dengan dibayangi oleh ketakutan, dan keinginannya untuk meyakinkan, apakah hantu-hantu itu benar-benar seperti apa yang pernah didengarnya? Namun ia tidak mempunyai cukup keberanian untuk membuktikannya sendiri.

Sejenak kemudian, mereka pun berjalan sambil berdiam diri. Kiai Gringsing dan kedua muridnya kini dapat menyaksikan be¬berapa kelompok orang-orang yang sedang membuka hutan. Sebagian telah menjadi tanah garapan, pategalan, dan halaman.

Semakin jauh mereka dari gardu pengawas, maka mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Di bagian lain masih tampak kelompok-kelompok yang menebang pepohonan yang besar dan tinggi. Kadang-kadang mereka dikejutkan oleh gemerasak seperti suara pra¬hara, apabila sebatang pohon yang besar rebah menimpa pepohonan di sekitarnya.

“Bukankah mereka masih juga meneruskan kerja mereka?” bertanya Kiai Gringsing kepada petugas yang bernama Wanakerti.

“Ya, di sini. Tetapi, di sebelah daerah ini adalah daerah yang semakin lama menjadi semakin sepi. Hanya orang-orang yang tabah sajalah yang berani tetap mengerjakan tanahnya, meskipun mereka harus berkelompok-kelompok di malam hari.”

“Apakah mereka masih harus tidur di barak-barak itu?”

“Mereka sudah membuat rumah sendiri. Bukankah kau lihat tanah yang sudah dibuka dan sudah mulai digarap, dan gubuk-gubuk kecil di atasnya? Yang mereka kerjakan itu menurut rencana kami, akan dijadikan tanah persawahan di sebelah padukuhan yang mulai terisi itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tanah yang akan aku berikan kepadamu, menurut rencana kami adalah padukuhan berikutnya. Di seberang daerah persawahan yang sedang dibuka ini,”

“Jadi, apabila tanah ini telah terbuka, bagian itu akan terletak di seberang bulak?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian ia bertanya pula, “Masih ada berapa kelompok yang ada di bagian itu?”

“Sudah aku katakan. Tidak seorang pun yang berani memulainya lagi.”

“He?” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

“Aku sudah mengatakannya.”

“Tetapi bukankah Tuan mengatakan bahwa daerah itu menjadi semakin sepi, sehingga menurut tangkapanku masih juga ada orang yang bekerja meskipun semakin sedikit.”

“Bukan daerah yang akan aku berikan kepadamu. Tetapi yang mereka kerjakan adalah sambungan dari bulak yang panjang ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia menyadari, bahwa mereka bertiga bersama murid-muridnya benar-benar akan bekerja tanpa orang lain, di tempat yang terasing.

Sebenarnyalah, bahwa semakin jauh mereka berjalan, tampaknya menjadi semakin sepi, meskipun masih juga ada sekelom¬pok dua kelompok orang-orang yang bekerja. Tetapi seperti apa yang dikatakan oleh petugas itu, mereka akan berkumpul di tempat yang lebih ramai di malam hari, di sekitar gubuk dan barak yang sudah disediakan.

“Di malam hari, kau dapat juga berkumpul bersama kami,” berkata petugas itu.

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya.

“Selama tanah garapanmu belum menghasilkan apa-apa, kau dan kedua anak-anakmu akan mendapat rangsum makan dari kami. Tetapi sudah tentu makan yang sederhana.”

“O, kami akan sangat berterima kasih, Tuan. Di rumah kami, makan sederhana pun jarang-jarang kami peroleh dengan teratur.”

“Tetapi anakmu yang seorang itu gemuk sekali.”

Kiai Gringsing berpaling. Dipandanginya Swandaru yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.

“Keduanya senang sekali berburu, Tuan. Agaknya daging buruannya itulah yang membuat mereka gemuk, terutama yang muda.”

“O. Jadi kalian senang berburu juga?”

“Anak-anakku.”

“Hutan ini penuh dengan binatang buruan. Bahkan binatang-binatang buas. Tetapi di antara para pendatang, tidak banyak yang berani berburu.”

“Kenapa? Apakah mereka takut kepada binatang-binatang buas atau kepada hantu-hantu, yang barangkali dianggap oleh mereka sebagai pemilik binatang-binatang di hutan ini.”

Petugas itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun tidak bertanya pula.

Kini mereka menyusup di antara pepohonan hutan yang masih rimbun. Kiai Gringsing sudah tidak melihat lagi kelompok-kelompok yang menebang hutan di daerah ini. Namun nampaknya bahwa hutan ini pun pernah digarap oleh manusia. Di sana-sini pohon-pohon yang roboh masih terbujur lintang.

“Inilah tanah yang harus kalian kerjakan. Sebagian besar dari pepohonan yang tinggi dan besar sudah dirobohkan. Kalian tinggal meneruskan.”

“Apakah kami bertiga harus membuka seluruh padukuhan yang direncanakan?”

“Kalian dapat memiliki tanah seluas dapat kalian kerja¬kan. Kalau kalian mampu menyelesaikan sisa pekerjaan untuk seluruh padukuhan yang direncanakan, kami akan mengesahkan bahwa padukuhan ini milik kalian. Orang-orang yang telah me¬mulainya lebih dahulu, kami anggap telah melepaskan haknya sama sekali.”

“Kalau kami hanya dapat membuka sebagian kecil?”

“Hak kalian juga hanya yang sebagian kecil itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kini mereka berempat berdiri termangu-mangu memandang hutan yang masih tampak liar, meskipun sebagian dari pepohonannya sudah ditundukkan. Sejenak Kiai Gringsing berpaling kepada kedua murid-muridnya yang sedang melihat-lihat daerah yang akan men¬jadi tanah garapan mereka.

“Berapa puluh tahun aku harus tinggal di neraka ini?” Swandaru mengumpat-umpat di dalam hatinya. “Guru selalu saja mencari pekerjaan. Apakah dari tempat yang sesepi kuburan ini, aku dapat melihat daerah baru ini? Dipandang dari segi kepentingan Sangkal Putung dan Menoreh?”

Setelah mereka melihat-lihat daerah yang sepi itu sejenak, maka petugas yang menunjukkan tempat itu pun kemudian membawa Kiai Gringsing beserta anak-anaknya kembali.

“Besok kalian dapat mulai bekerja. Tinggalkan saja alat-alat kalian di sini. Tidak akan ada yang mengambilnya. Kalau ada binatang buas yang berkeliaran sampai ke tempat ini malam nanti, mereka tidak akan menelan kapak dan parang kalian itu,” berkata petugas itu.

Demikianlah, setelah bermalam satu malam bersama-sama para pendatang yang sedang membuka hutan itu, Kiai Gringsing sudah mendapat sedikit gambaran tentang daerah baru yang dihadapinya.

“Ki Gede Pemanahan menyebut daerah ini, Mataram,” berkata salah seorang dari mereka.

“Mataram yang akan berdiri di atas alas Mentaok,” desis Kiai Gringsing. Sekilas lewat di kepalanya ceritera tentang kerajaan Mataram Lama. “Apakah Ki Gede Pemanahan menghubungkan daerah baru ini dalam suatu garis perkembangan kerajaan yang bernama Mataram itu?” bertanya Kiai Gringsing di dalam hatinya. Namun ia tidak mengucapkan pertanyaan itu kepada siapa pun juga.

Agung Sedayu dan Swandaru yang berbicara dengan anak-anak muda sebayanya pun mendengar, bahwa daerah yang sudah mu¬lai digarap, di seberang bulak yang direncanakan itu memang sudah ditinggalkan.

“Aku dahulu ikut di dalam kelompok yang mulai menebangi pepohonan di tempat itu,” berkata seorang anak muda, “tetapi kelompok kami memutuskan untuk menghentikan pekerjaan kami. Sebagian telah bergeser ke tempat lain, dan sebagian kembali ke padukuhan mereka semula.”

“Apakah mereka diganggu oleh hantu-hantu itu?”

“Ya,” jawab anak muda itu, “kami telah melihat sendiri. Beberapa orang di antara kami menjadi sakit.”

Agung Sedayu dan Swandaru hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

Sementara itu, seorang yang sudah berjanggut putih berkata kepada Kiai Gringsing, “Jangan meneruskan kerja yang telah kami tinggalkan. Bekerjalah bersama dengan kami, membuka tanah persawahan itu. Selain kalian akan selamat, tanah itu pun akan segera menghasilkan.”

Kiai Gringsing hanya tersenyum saja. Namun justru di dalam hati, orang tua itu semakin bernafsu untuk melihat, apa yang sebenarnya sudah terjadi di daerah yang menakutkan itu.

Di pagi harinya, Kiai Gringsing dan kedua anak-anaknya telah berangkat pada saat fajar menyingsing, ke tanah garapan yang diperuntukkan bagi mereka.

Beberapa orang yang mengetahui, bahwa orang tua itu bersama kedua anak-anaknya akan melanjutkan kerja yang terhenti itu, memandangnya dengan takjub. Seorang yang bertubuh kurus berkata, “Kasihan. Mereka akan kecewa. Tidak lebih dari sebulan mereka pasti sudah jera meneruskan kerja itu.”

Sedang orang yang bertubuh tinggi kekar menyahut, “Salah sendiri. Mereka adalah orang-orang yang bodoh, tetapi sombong. Bukankah dengan demikian banyak orang akan mengaguminya? Tetapi mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Pada saatnya mereka pasti akan lari terbirit-birit. Belum lagi mereka menghasilkan apa pun juga, mereka pasti sudah pergi. Mungkin mereka tidak akan melaporkan kepergian mereka kepada para petugas, karena malu.”

Tidak ada orang lain yang membantah. Tetapi seorang petugas yang mendengarnya menyahut, “Tetapi ia akan tetap tidur di barak ini di malam hari. Mereka akan kerja di siang hari saja. Dengan demikian diharap bahwa mereka akan dapat melakukan pekerjaan mereka tanpa ketakutan.”

“Meskipun mereka hanya bekerja di siang hari, mereka pasti akan diganggu. Mereka akan jatuh sakit, dan apabila mereka terlampau sombong, mungkin mereka akan mati.”

Petugas itu pun terdiam. Namun ia menjadi ragu-ragu pula di dalam hati.

Wanakerti sendiri akhirnya menjadi ragu-ragu. Bahkan di dalam hati ia berkata, “Apakah aku tidak menjerumuskan orang tua dan kedua anak-anaknya itu ke dalam kesulitan?”

Namun sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata pula, “Aku melihat sesuatu yang lain pada ketiga orang itu. Mudah-mudahan aku tidak membuat kesulitan bagi mereka, dan bagiku sendiri.”

Sejenak kemudian, ketika matahari mulai memanjat langit, maka setiap orang di dalam barak itu pun telah siap dengan alat-alat masing-masing. Kelompok demi kelompok, mereka berangkat ke tempat kerja. Sedang mereka yang telah membuat rumahnya masing-masing dan terletak tidak jauh dari gardu pengawas itu pun meninggal¬kan rumah mereka pula untuk meneruskan kerja, membuka hutan untuk membuat tanah persawahan.

Namun rumah-rumah yang meskipun sudah berdiri dan dirapati dengan dinding-dinding kayu, namun yang letaknya agak berjauhan, ternyata masih juga tetap dikosongkan.

Kiai Gringsing dan kedua muridnya yang telah sampai di daerah kerja mereka, tidak segera mulai. Sejenak mereka mengamati keadaan di sekitarnya. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dan usaha-usaha yang akan dapat mereka lakukan di atas tanah yang dianggap angker dan menakutkan itu.

“Aku tidak melihat sesuatu,” berkata Swandaru.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Aku pun tidak melihat sesuatu yang memberikan tanda-tanda adanya suatu kelainan atau kemungkinan yang dapat menumbuhkan dugaan-dugaan tentang hantu-hantu itu.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Seperti kedua muridnya ia pun tidak melihat sesuatu. Karena itu maka katanya, “Baik¬lah, kita mulai dengan kerja kita.”

“Tetapi,” bertanya Swandaru, “apakah kita benar-benar akan membuka daerah ini dan membuatnya menjadi padukuhan?”

Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya, “Bukan itu maksud kita. Sudah tentu kau tidak akan betah tinggal di sini terlampau lama, seperti tinggal di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Ah,” Swandaru berdesah. “Kakang Sedayu pun ingin segera pergi ke Sangkal Putung, menyusul Ki Sumangkar.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian, ia pun tersenyum. Katanya, “Ya. Aku pasti akan segera menyusul Paman Sumangkar.”

“Tentu,” jawab Kiai Gringsing, “apalagi kalau Kiai Sumangkar pergi seorang diri.”

Swandaru tertawa sejenak. Tetapi, kemudian ia bertanya, “Jadi sampai kapan kita akan tinggal di sini, Guru?”

“Tergantung pada keadaan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah. Marilah, alat-alat itu menunggu kita. Selama kita masih berada di sini, kita akan membuka tanah ini sampai saatnya kita pergi.”

Kedua murid-muridnya itu pun kemudian segera mengambil alat-alat yang mereka pinjam. Kapak dan parang. Maka mereka pun segera mulai menebangi pepohonan. Karena pohon-pohon yang besar telah rebah, mereka pun tidak begitu banyak lagi mendapatkan kesu¬karan dengan pohon-pohon yang agak lebih kecil.

Ternyata bahwa keduanya dapat bekerja sebagai pembuka hutan yang baik. Swandaru yang memiliki kekuatan yang besar itu, mengayunkan kapaknya dengan derasnya. Beberapa kali tebas, maka pohon-pohon yang tidak begitu besar itu pun segera roboh.

“Kita sisihkan kayu-kayu yang malang melintang ini,” berkata Kiai Gringsing, “sehingga tanah ini pun akan segera lebih bersih dan lapang.”

Swandaru menganggukkan kepalanya. Tetapi kemudian keningnya berkerut, “Apakah pohon-pohon sebesar ini dapat kita angkat hanya bertiga?”

“Ah, kau,” desis gurunya, “sudah tentu kita harus mempergunakan alat-alat kita. Kita potong dan kita pecah. Dengan mudahnya kita akan menyingkirkannya.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tersenyum sen¬diri atas kebodohannya.

Demikianlah maka dengan tidak mereka sadari matahari pun menjadi semakin rendah di Barat. Sebentar lagi langit menjadi kemerah-merahan. Dan angin pun menjadi semakin sejuk.

“Apakah kita akan kembali ke perkemahan?” bertanya Swandaru.

“Malam ini kita masih akan kembali ke sana,” jawab Gurunya.

“Bagaimana mungkin kita dapat mengetahui serba sedikit tentang hantu itu, apabila kita berada di tengah-tengah mereka, Guru?” bertanya Agung Sedayu.

“Besok malam saja kita akan tinggal di sini, supaya mereka tidak melihat kelainan yang sangat besar pada kita dan orang-orang lain itu,” jawab Gurunya.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti maksud gurunya, sehingga dengan demikian tidak segera menum¬buhkan kecurigaan, seakan-akan mereka bukannya orang-orang kebanyakan.

Demikianlah ketika senja mendatang, ketiganya pun kembali ke barak yang sebenarnya sudah terisi penuh. Tetapi karena mereka hanya bertiga dan tidak membawa apa pun selain sebung¬kus pakaian mereka, maka meskipun hanya sekedar di sudut, mereka masih mendapat tempat untuk membentangkan tikar pan¬dan yang kasar, yang mereka terima dari para petugas.

Setelah mereka selesai makan rangsum yang mereka terima dari para petugas, seperti orang-orang yang lain, yang masih belum dapat memetik hasil jerih payah mereka, maka beberapa orang telah mengerumui tiga orang itu sambil bertanya-tanya.

“Apakah kalian mengalami sesuatu?” bertanya seseorang
yang tinggi kurus.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, “Kami tidak mengalami sesuatu yang aneh menurut penglihatan kami.”

“Angin yang tiba-tiba saja datang dan berputaran?” bertanya yang lain.

“Angin pusaran maksudmu?”

“Ya, tetapi angin pusaran tidak akan dapat memutar pepohonan hutan,” jawab orang itu.

Kiai Gringsing menggeleng, “Tidak. Kami tidak melihat angin semacam itu.”

“Gelundung pringis misalnya?” bertanya yang lain lagi.

“Juga tidak.”

“Hati-hatilah,” desis orang yang tinggi besar, yang melihat keberangkatan ketiga orang itu dengan curiga. “Jangan terlampau sombong. Kalau kepala salah seorang dari kalian telah ter¬penggal dan tergantung di ujung pohon yang paling tinggi, yang tidak mungkin dipanjat oleh manusia, barulah kalian akan menye¬sal. Apalagi kalau kemudian kepala itu dapat membara di malam hari dan masih mampu mengeluh kesakitan meskipun tubuhnya sudah dikubur.”

“Mengerikan sekali,” berkata Kiai Gringsing. “Apakah hal itu pernah terjadi?”

“Tentu,” jawab orang yang tinggi kekar itu.

“Kapan dan dimana? Petugas yang mengantarkan aku tidak mengatakan demikian. Memang ada beberapa orang yang jatuh sakit. Tetapi tidak sampai meninggal dunia.”

“Hampir, hampir saja hal itu terjadi. Tetapi kami pernah melihat kepala orang, maksudku tengkorak yang membara di malam hari selagi kami masih memberanikan diri tidur di tempat kerja kami itu.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Demi keselamatan kalian,” berkata orang yang tinggi kekar itu, “sebaiknya kalian urungkan niat kalian. Kau sudah terlampau tua, sedang kedua anak-anak itu masih terlampau muda mengalami hal-hal yang tidak kalian harapkan.”

Kiai Gringsing masih terdiam.

“Apakah kalian memang sudah berputus asa? Karena kalian tidak mendapatkan kemungkinan lain lagi bagi hidup kalian, sehingga kalian memilih mati dimakan hantu?”

Kiai Gringsing belum menyahut sepatah kata pun.

“Aku nasehati kalian bertiga,” orang yang kekar itu berkata terus, “urungkan niat itu. Kau dengar, he, Truna Podang?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. “Kami akan mem-pertimbangkannya,” jawabnya.

Tetapi orang yang tinggi kekar itu agaknya tidak puas mendengar jawaban Kiai Gringsing. Meskipun ia tidak berkata apa pun lagi, tetapi nampak di wajahnya, bahwa sesuatu masih tersimpan di hatinya.

Setelah Kiai Gringsing bercakap-cakap sejenak, maka ia bersama kedua muridnya pun kemudian berjalan-jalan di antara mereka yang berada di sekitar barak itu. Tidak begitu jauh, terletak gardu pengawas yang dijaga oleh beberapa orang petugas bersenjata. Sedang di sebelah-menyebelah lorong yang menusuk ke daerah yang sedang dibuka, beberapa buah rumah sudah dihuni oleh beberapa orang keluarga.

Lampu minyak yang bercahaya kemerah-merahan menyusup di antara dinding yang belum rapat benar, mencuat di kegelapan malam.

Ternyata bahwa bukan sekedar di sebelah-menyebelah lorong itu saja berserakan rumah-rumah yang sudah dihuni. Tetapi di arah yang lain, rumah-rumah pun sudah mulai ditempati oleh beberapa kelu¬arga sekaligus, sehubungan dengan berita yang telah mengecil¬kan hati mereka. Sedang meskipun agak ke tengah rumah-rumah sudah siap pula, namun rumah-rumah itu kini menjadi kosong kembali, karena penghuninya tidak berani tinggal hanya sekeluarga saja. Itulah sebabnya maka pada umumnya rumah-rumah tempat tinggal itu berisi dua atau tiga keluarga sekaligus.

“Suasana sepi sekali,” desis Swandaru.

“Mereka benar-benar di dalam ketakutan,” sahut Agung Sedayu.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah kita pergi ke gardu pengawas. Apa saja yang dikerjakan oleh para petugas itu di malam hari?”

Ketika Kiai Gringsing melangkah mendekati gardu pengawas, dilihatnya beberapa orang bersama-sama berdiri sambil menggenggam senjata masing-masing.

“Kami, Tuan. Truna Podang.”

“Gila kau,” geram seorang di antara para pengawas itu. “Kami tidak begitu dapat melihat kalian, di kegelapan. Tetapi agaknya kalian dapat melihat kami dengan jelas.”

“Ya, Tuan.”

“Kenapa kalian kemari? Apakah kalian tidak lelah setelah
sehari bekerja? Atau kalian hanya sekedar duduk-duduk saja di tanah garapanmu?”

“Tidak, Tuan. Kami bekerja keras. Yang mula-mula kami kerjakan adalah menyingkirkan kayu-kayu yang malang-melintang. Kemudian, kami akan segera menyelesaikan penebangan pohon-pohon yang lebih kecil.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka bertanya, “Lalu apa kerjamu sekarang?”

“Kami tidak biasa tidur di sore hari,Ttuan. Karena itu, kami hanya sekedar berjalan-jalan saja.”

Para petugas itu menarik nafas dalam-dalam. Wanakerti yang ada di antara mereka bertanya, “Apakah kau akan duduk-duduk di sini sebelum kalian akan tidur?”

“Terima kasih, Tuan. Kami memang ingin kawan bercakap-cakap. Kawan-kawan yang lain rupa-rupanya sudah malas untuk berbicara. Mereka sudah berbaring di tempat masing-masing.”

“Begitulah kebiasaan mereka. Kalau senja menjadi gelap, mereka pun segera tidur. Seperti ayam saja agaknya. Dan gubuk-gubuk yang berserakan itu pun pasti sudah tertutup rapat. Pintu-pintu pasti telah diselarak. Kalau kau mengetuk salah satu dari pintu-pintu itu, sebelum mereka pasti siapa yang berada di luar, kau tidak akan mendapat kesempatan apa pun. Pintu pasti tidak akan terbuka.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikianlah ketakutan sudah mencengkam semua daerah.

“Kalau keadaan ini dibiarkan terus-menerus, maka nafsu para pembuka hutan itu pun pasti menjadi semakin susut,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

“Masuklah,” Wanakerti pun kemudian mempersilahkan Kiai Gringsing dan kedua anaknya.

Setelah mereka duduk di dalam gardu yang cukup besar dan kemudian mendapat hidangan air panas, maka mereka pun segera berbicara tentang daerah yang sepi itu.

“He,” bertanya Wanakerti tiba-tiba, “bagaimana kau nanti kembali ke barak itu?”

“Kenapa?”

“Apakah kalian tidak takut?”

“Takut?” Kiai Gringsing menjadi heran. “Bukankah jarak ini tidak terlampau panjang?”

Wanakerti mengangguk. “Tetapi biasanya tidak seorang pun yang berani berjalan di luar di malam hari, meskipun jaraknya tidak terlampau jauh.”

“Tetapi ada di antara mereka yang tidur di luar, di serambi-serambi yang terbuka.”

“Mereka tidur berhimpitan sambil menyelubungi diri mereka dengan kain panjang. Itu karena mereka tidak mendapat tempat di dalam barak. Dan di serambi itu agaknya lebih baik bagi mereka, karena mereka tinggal bersama-sama beberapa keluarga sekaligus, daripada mereka tinggal di gubuk-gubuk yang sudah mereka buat, tetapi berpencaran.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenungi keadaan tempat itu, sedang Swandaru menyuapi mu¬lutnya dengan jenang alot yang dihidangkan oleh Wanakerti kepada mereka.

Namun tiba-tiba, setiap orang di dalam gardu itu mengangkat kepala mereka. Lamat-lamat mereka mendengar suara gemerincing. Semakin lama semakin dekat, dibarengi oleh derap kaki kuda di atas jalan yang menuju ke perkemahan itu.

“Nah,” desis salah seorang petugas, “kalian dengar?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Sedang Agung Sedayu bertanya, “Suara apakah itu? “

Tidak seorang pun yang berani menjawab. Mereka saling berpandangan sambil memegang senjata masing-masing semakin erat. Tetapi ternyata bahwa tangan mereka menjadi gemetar.

“Suara apakah itu?” Agung Sedayu mengulangi. Wanakerti menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak men¬jawab.

Orang-orang di dalam gardu itu benar-benar seakan-akan tercekik. Tidak seorang pun yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan senjata-senjata di tangan mereka pun menjadi bergetar oleh gemetar tangan yang menggenggamnya.

Swandaru yang duduk tidak begitu jauh dari pintu segera melangkah untuk menjenguk keluar. Namun Wanakerti segera meloncat menariknya. “Jangan gila.”

“Aku ingin melihat,” desis Swandaru.

“Jangan gila,” Wanakerti mengulangi.

Sejenak Swandaru berdiri termangu-mangu. Dipandanginya wajah Agung Sedayu yang tegang, kemudian wajah gurunya yang termangu-mangu.

“Aku pemimpin para petugas di sini,” berkata seorang yang berkumis tebal, “kalian jangan membuat ribut. Kalian tidak boleh keluar dari tempat ini.”

Swandaru yang benar-benar bernafsu untuk melangkah ke luar gardu terpaksa mengurungkan niatnya karena gurunya mengge¬lengkan kepalanya, dan segera duduk kembali di tempatnya.

Sejenak kemudian suara gemerincing itu menjadi semakin nyata, seperti suara derap kuda itu pula.

“Dua ekor kuda,” Agung Sedayu berdesis.

“Sst,” pemimpin pengawas itu menempelkan jarinya di bibirnya.

Agung Sedayu menarik nafas. Namun ia mencoba mendengar suara apakah itu sebenarnya.

Dalam keheningan itulah ia mendengar suara itu berputar-putar sejenak mengelilingi gardu pengawas. Kemudian suara itu agak menjauh. Namun tidak seorang pun yang berhasil melihat apakah yang telah berbunyi seperti gemerincingnya genta-genta kecil itu. Di luar gelap malam menjadi semakin pekat, sedang di dalam gardu itu remang-remang cahaya pelita bergerak-gerak ditiup angin yang lemah.

Kini suara gemerincing itu bergerak di sekitar barak, kemudian menjauh dan berpindah di antara rumah-rumah yang sudah ter¬tutup rapat. Suara itu seolah-olah mengelilingi setiap rumah yang berpenghuni, yang berserakan sebelah-menyebelah lorong kecil dan di sepanjang daerah yang sudah dapat dihuni.

Suara itu berputaran beberapa saat lamanya. Sedang para petugas yang ada di dalam gardu itu pun duduk membeku di tem¬pat masing-masing. Keringat yang dingin menitik dari kening mereka yang basah.

Baru setelah beberapa lama, suara itu terdengar menjadi semakin jauh, semakin jauh dan akhirnya hilang.

Ketika malam kembali menjadi senyap, dan tidak lagi terdengar suara apa pun, para petugas itu menarik nafas dalam-dalam.

“Hem,” pemimpin petugas itu berdesah, “belum lagi sampai tengah malam, mereka sudah mulai berkeliaran.”

“Apakah yang lewat itu hantu-hantu yang menjadi pembicaraan?”

Pemimpin pengawas itu menganggukkan kepalanya, “Ya. Itulah sebabnya kami melarang kalian keluar.”

“Apakah mereka akan menyerang?”

“Kami tidak tahu. Tetapi seandainya mereka hanya menerkam orang-orang yang dilihatnya, kami tidak akan berkeberatan.”

“Lalu, kenapa Tuan menahan aku?” bertanya Swandaru.

“Aku masih sayang akan nyawamu. Kau orang baru di sini.”

“Apakah benar-benar sudah ada yang mati diterkamnya? “

“Mati belum. Tetapi seorang yang mencoba memberani¬kan diri melihat hantu itu, di pagi harinya ia mendadak menjadi sakit keras. Ia mengigau tidak berketentuan. Dan bahwa hantu yang dilihatnya itu sudah merasuk ke dalam tubuhnya. Dengan nada yang marah, hantu yang merasuk itu mengancam, bahwa siapa yang berani melihat hantu-hantu itu sekali lagi, maka tidak akan ada ampun. Nyawanyalah yang akan diambilnya.”

Kiai Gringsing dan kedua muridnya mengangguk-anggukkan ke¬palanya. Perlahan-lahan orang tua itu berdesis, “Aku mengucapkan terima kasih, bahwa Tuan telah mencegah anakku yang gemuk itu.”

“Tetapi hati-hatilah. Anak-anakmu agaknya anak-anak yang bengal. Jangan kau biarkan semuanya itu terjadi atas anak-anakmu itu.”

“Terima kasih, Tuan,” jawab Kiai Gringsing. Lalu, “Tetapi kini perkenankanlah kami minta diri. Kami akan segera kembali ke barak.”

“Kalian masih juga berani keluar?”

“Bukankah hantu itu sudah pergi?”

“Kalian memang orang-orang berani,” desis Wanakerti, “tetapi biarlah kalian tidur di sini. Kalian dapat tidur di atas tikar di sudut itu. Kami para pengawas harus bergantian tidur.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Di dalam hatinya ia bertanya, “Apakah sebenarnya yang mereka awasi?”

Tetapi yang diucapkannya adalah, “Kami akan memenuhi tempat yang sebenarnya dapat Tuan pakai di sini. Biarlah kami akan berjalan cepat-cepat ke barak itu.”

Pemimpin pengawas itu memandangi Kiai Gringsing dengan sorot mata keheranan. Namun kemudian ia berdesis, “Memang orang-orang baru biasanya masih belum mengenal takut. Baiklah. Tetapi kalau kalian mengalami sesuatu, cepat-cepat kembalilah kemari dan tidurlah di sini, di antara para pengawas.”

(***)

From Kasdoelah’s Collection
Retype-Proof: Ki Prastawa
Reproof: Ki Gd Menoreh
Date: 11-15-2008

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:36  Comments (70)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-51/trackback/

RSS feed for comments on this post.

70 KomentarTinggalkan komentar

  1. mas dd , kuwi posisi orangnya apa posisi servernya ?

    D2: Posisi pengunjung, On

  2. tenan yo tak enteni tekanmu le….jam 10.00 thit!!,
    “matur nuwun dateng poro crew ingkan sampun caos tenogo, wektu lan biaya kagem pisowanan wonten in moyo meniko.”

  3. jam 10 WIB atau waktu amrik ??

    DD: WIB sama CST sama kok, cuma beda siang dan malam aja

  4. “Prastawa…., jangan kau undur2 lagi. Cepat serahkan jilid 51 malam ini juga, jam 10 tit” teriak Sekar Mirah.

  5. maaf .. belum bisa batu rakyat Menoreh … sedang sibuk mendapat tugas dari Sultan Pajang memantau perkembangan di Alas Mentaok.

  6. weh… kok masaryo minta malem ini juga?

    Bukannya besok jam 10 pagi?

    xixixi 😀

  7. sabar subur gelis katur jilid seketsiji

  8. Gupala memandang langit sebelah timur yang semburat merah. Dan seakan-akan dia pun menjadi sangat gelisah.

    Gupita berdesis, “agaknya kau menjadi waringuten, ada apakah yang mengganggu pikiranmu?”

    “Matahari seolah-olah lambat sekali bergerak..,” Gupala bergumam

    “Ah, itu hanya perasaanmu saja. Apakah yang kau harapkan dari matahari itu?”

    “Seharusnya matahari itu hendaknya segera meloncat ke atas, sehinga kitab no limah puluh satu menjadi ikut muncul…,”

  9. wah jarang2 lancar, sekali download sung berhasil

  10. belum keliatan juga….

  11. Pandan Wangi menjadi terdiam, diendapkannya kemarahannya. Sedang Swandaru masih asik mengunyah jenang nangka di depannya, tak dihiraukannya permintaan Pandan Wangi barusan.

    Agung Sedayu yang telah mengenal tabiat saudara seperguruannya hanya dapat menghela nafas.
    “Semoga hal ini tidak membuat Pandan Wangi menjadi berpikiran lain. Dia harus lebih dapat memehami watak Swandaru, dengan demikian mereka akan menjadi keluarga yang semakin mapan. Sedang adi Swandaru juga seharusnya ..”

    Belum selesai pemikirannya, tiba-tiba terdengar teriakan Sekar Mirah. “Kakang .. kakang Swandaru.. kenapa kakang masih disini.” Masih berteriak Sekar Mirah melanjutkan, “lihat matahari telah hampir sepenggalah.. cepat kakang… semua sudah menunggu kakang.”

    Swandaru terkejut mendengar teriakan itu. Hampir saja dia tersedak jenang nangka, buru-buru jenag alot itu ditelannya. Agung Sedayu dan Pandan Wangi tak kalah terkejut. Tanpa sadar keduanya mendongak ke atas. “Hampir saatnya..” terdengar Agung Sedayu mendesis.

    “Kakang.. sebentar lagi Ki Gede akan membuka perayaan di banjar desa dan aku tidak ingin tertinggal. Aku ingin berdiri paling depan. Jika kakang lebih menyukai jenang itu. Baik lah kakang disini saja.” Sekar Mirah segera meraih tangan Pandan Wangi. Diliriknya Agung Sendayu agar mengikutinya.

    Agung Sedayu hanya menghela napas. Dilangkahkan kakinya menyusul kedua perempuan itu. “Keramaian di banjar itu begitu menarik .. pasti akan jauh lebih menarik dari jenang nangka itu,” gumamnya.

    Swandaru segera bangkit, masih sempat dimasukkannya beberapa buah jenang nangka dalam bajunya. “Wangi.. Mirah.. tunggu.. bukannya pembukaannya masih lama.. kakang.. tunggu aku, kakang..”

    Perayaan kemenangan itu memang akan berlangsung dalam sepekan, tapi siapa yang mampu menunggu jika dalam perayaan itu akan dibagikan kitab 51. Satu setengah jam dari sekarang .. sedang waktu terus berjalan.
    Jelas .. Sukra tidak mau tertinggal.

  12. Mas DD rakyat Menoreh sudah pada tidak sabar menunggu, harus segera dicermati, kalau tidak bisa pada bergabung dengan Prastawa dkk hehehe…..

  13. Matahari sudah mendekati sepenggalah. Para cantrik sudah mulai berkumpul. Sayang, baru dapat tugas keluar …

  14. ” Ck..ck..ck… Tepat waktu, keluar juga sesuai woro-woronya.. ” gumam gembala tua.

  15. Wah, pas banget. Jam 10 teng ….

  16. akhirnya …..

  17. “Sukra? Hmm, ke mana lagi dia?” gumam Sekar Mirah. “Lele-lele itu belum lagi disiangi. Katanya mau membuatkan mangut,” gerutunya lagi.

    Lalu dibukanya perlahan-lahan pintu lereg yang mengarah ke halaman belakang, dan dengan hati-hati dijengukkannya kepalanya. “Astaga,” desisnya, “sudah sedemikian tinggi matahari. Tetapi kok belum ada juga kabar dari Kakang Agung Sedayu? Apakah ia belum berhasil menguasai dan mengaplod jilid-51?”

  18. “Oh.. oh, ternyata aku yang keliru,” gumam Sekar Mirah cepat-cepat. “Kukira akan masuk lewat pintu butulan, jebulnya jee..”. Dengan tergesa-gesa perempuan itu masuk ke senthong tengah, dan ..kembali ke laptop. Donlod jilid-51.

    Matur suwun.

  19. 😀 😀 😀
    terdengar sukra di atas pohon tertawa, di depannya berserak lontar-lontar berisi kitab 51 😛

  20. Setelah selesai semua bundel ADBM ini, perlu dibuat bundel ADBM versi plesetan…isinya seperti comment yg muncul disetiap jilid….

  21. Hebat….dan salut….ternyata Ki DD Menoreh cepat dan tanggap keinginan rakyat Menoreh yang meletup-letup..hehehe….salut…salut…

  22. jadwal 52 belum ada ya ?

  23. “Ada gambar sampul, berarti ada harapan” jawab Sekar Mirah kepada Ki Sukra yang menanyakan jilid 52.

  24. “Cobalah bersabar, ngger, supaya semuanya berjalan dengan wajar. Dalamilah kitab 51 sebelum beranjak ke tingkat berikutnya.” tambah Ki Sumangkar.

  25. he3
    Menurut peta spasial yg dapat dipercaya, ternyata perguruan windujati sdh menyebar tidak saja di tlatah Demak-Pajang di tanah Jawa, tapi Australia, tanah Melayu, Philipinus, Jepon, Euro, bahkan Amrik..ternyata hebat perguruan orang bercambuk ya…mudah2an ilmunya gak semakin pudar hanya krn bedanya jarak dan waktu..

    GD: Itu pun belum menghitung bahwa pelajaran2 yg diberikan kpd para cantrik di padepokan ini juga direlay oleh padepokan lain (meskipun secara diam-diam). Dan padepokan2 yg merelay itu juga dikunjungi ribuan cantrik.

  26. # On November 12, 2008 at 1:42 pm Aulianda Said:

    “Ada gambar sampul, berarti ada harapan” jawab Sekar Mirah kepada Ki Sukra yang menanyakan jilid 52.
    …..
    sekedar nambah info.. sukra itu “batur” yang tinggal di rumah Agung Sedayu – Sekar Mirah. tugasnya ngisi pakiwan ato bikin mangut (lirik p_sawukir) jadi bukan ki ato kiai 😀

  27. Ki Dede Menoreh, maafkan saya, karena anak saya baru sakit, maka tugas untuk jilid 050 belum bisa aku kerjakan.

    GD: Gpp, Ki Pratama. Mudah2an yg sakit segera saras.

  28. Cool man……..
    tengkyu

  29. wah, baju baru. tambah cantik
    mangan sego kucing, karo nyawang prawan ayu..
    ki dede n ki sukra manteb tenan…

  30. DD, gimana kalau disisipkan kamus bahasa Jawa/Yogya yg menurut saya/rekan2 agak awam : seperti Jebeng, Gandok, Nenggala, dll. sampai sekarang aku belum ngerti apa arti kata2 tsb.

    trim

    D2: Usul yang baik. Akan kita sediakan halaman KAMUS. Para sederek-lah yang memberikan entrinya. Kita nanti tinggal susun menjadi susunan yg mudah.

  31. Beberapa istilah Jawa:

    Gandok = dapur
    Pring ori = bambu ori
    Jebeng = Ngger,Anak. Ki Pemanahan memanggil Sutawijaya sebagai Jebeng
    Pakiwan = lavatory, toilet (berasal dari kata pa-kiwa-an, kiwa = kiri, sebagai gambaran kalau membersihkan dengan tangan kiri)
    Agung = Besar, grand, prominent
    Geni = Api
    Pringgitan = ruangan di belakang pendopo, open structure in front of mansion, behind the pendopo, for showing shadow plays or receiving visitors

    Sumber:
    http://www.bausastra.com
    http://kamus.kapanlagi.com
    Beberapa istilah kemungkinan dapat dicari di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sayang sekali saat ini saya tidak membawa dan memegang KBBI.

  32. nuwun sewu kiai jebeng,

    sak pengertos kulo selaku wargo tlatah mataram (kulo saking bantul red, gandok meniko sanes dapur, anangging ruang tambahan ing kiwo utawi tengen rumah induk.

    (sepengetahuan saya sebagai orang asli mataram ; saya berasal dari bantul red, gandok itu bukan dapur, tetapi ruang tambahan yang besar yang berada di samping kanan atau kiri rumah induk.

    matur nuwun

  33. Hoax Asli,
    Hatur nuwun Nyi untuk 51-nya. Wah gambar covernya Agung Sedayu naik kuda, tapi kok bawa tombak ya? Berarti sudah siap menuju Madiun.

  34. Hua..ha..ha…

    Ki TP sampe nyasar-nyasat sampe sini. Ki TP juga bisa iseng ya.
    Ngaget-ngageti saja

  35. melu kesasar ah ….

    nek ra melu ndak ora dibagehi ….

  36. Asem tenan iki, melu kapusan nyasar mrene

  37. Wah .. senangnya bisa nyasar bareng ….

  38. Podo ngopo nang gondok 51, nyiapin makar yah mau memberontak Negeri Mataram !!!!, hahahahaha , kekekeke 😀 😀

  39. Ki TP seneng jebakane berhasil
    akeh seng nyasar

  40. Wah….

    Guyonan Ki TP memang cespleng.

    Saya yang mulai tadi siang pusing, sekarang jadi sembuh gara-gara ketawa terpingkal-pingkal karena ulah Ki TP yang nyasar dan membawa gerbong beberapa orang ke gandok 51.

    Terima mkasih Ki.

  41. melu-melu kesasar dech ……….

  42. hiks, memang kalo udah sakaw
    jadi gampang ketipu
    he he he

    ikut nyasar juga aah

  43. trims nyi gede kitab 51 nya….udah diunduh

  44. kalau jaman sekarang, Swandaru tentu sudah berteriak :
    “aku galauuuuuuuuuuuu………”

    • pada jaman itu bunyinya “ki mbleh kacau beliau……”

      • wuih…, wis tekan kene
        he he he …. sugeng dalu meh parak esuk Ki

        • Sugeng esuk2,,, 😀

          • …esuk2 maem karo gendhuk…eh..gethuk 😀

      • pada jaman yang akan datang “Ki AS berkicau belia”

        • “kemana dimana kemanaaaaaa,,,,,mungkin kayak gitu ya ki ”

          sugeng enjang sadaya kadang padepokan ADBM.

  45. melu mbukak alas,ben iso d tnduri klopo sawit..gkgkgk

    • wis mbukak…….pinten Ki ? 😀

      • terus terang bukak-bukak-an terang terus

        • sing dibukak sopo jal

          • kartu-as-e lha niku sing menang tur mbeling puoooolll

            • e roro mendut pake kartu as to

              • Njih leres terus dibungkus godhong gedhang niku lho .

                • ..gedhang-e sinten ? 😀

                  • sing gadhah mung kyai-ne .

              • kok malah do mbahas pusoko kangjeng kyai gedhang to

                • Lha nggih to wong niku karemane Nyai A**M

                  • apem ? 😀

                    • o kyai gedang melawan nyai apem ngunu ta wkkkkkk

              • Jan sak nomer tenan ki , niku lho kartu as sing mentul-mentul lan mendut-mendut .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: