Buku 51

“Aku ikut, Guru,” minta Swandaru.

“Tinggallah di sini bertiga,” jawab Kiai Gringsing. “Kita belum tahu siapakah mereka itu.”

Swandaru ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk¬kan kepalanya.

“Aku ikut bersama Kiai.” berkata Sumangkar.

“Marilah, kita melihat siapakah mereka itu.” Lalu kata¬nya kepada Agung Sedayu, “Hati-hatilah di sini. Daerah ini meru¬pakan daerah asing yang masih penuh dengan rahasia bagi kita. Kalian harus mengawasi keadaan di segenap arah. Jangan sampai kalian diterkam oleh kesulitan tanpa sempat membela diri sama sekali.”

“Baik, Guru.”

“Aku dan pamanmu Sumangkar akan melihat, apakah se¬benarnya yang kami dengar ini benar-benar suara telapak kaki kuda.”

“Atau Sidanti benar-benar menyusulku?” desis Swandaru.

“Ah, kau,” potong Sekar Mirah. “Lebih baik aku ber¬temu dengan Sidanti yang sebenarnya.”

“Jangan hiraukan Swandaru,” berkata Kiai Gringsing. “Ia sendiri agaknya mulai diraba oleh ketakutan.”

“Tidak, Guru. Aku tidak pernah mengenal takut,” ia berhenti sejenak. Lalu, “Kecuali kepada Sidanti sekarang.”

Mau tidak mau Agung Sedayu terpaksa tersenyum. Katanya, “Biarlah aku yang menemuinya. Ia baik kepadaku.”

Swandaru mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab. Sejenak kemudian, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun meninggalkan ketiga anak-anak muda itu. Dengan hati-hati mereka menyusup semak-semak di bawah pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi menusuk kekelaman malam.

Yang ditinggalkan, ketiga anak-anak muda itu pun mulai menga¬tur diri. Tanpa berjanji mereka bergeser maju dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Agung Sedayu, sebagai orang tertua di antara mereka.

“Kita mengawasi segala arah,” desisnya.

“Apakah kita akan duduk beradu punggung?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu berpikir sejenak, lalu katanya, “Tidak perlu, tetapi kita harus mencoba menguasai semua arah dari tempat kita masing-masing. Bukankah dengan duduk berhadapan kita dapat melihat arah yang berlawanan?”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, kita memang harus berhati-hati dalam suasana yang tidak kita mengerti.”

“Ya.”

“Kita sama sekali tidak dapat membayangkan apa yang ada di sekitar kita. Lebih baik kita dikerumuni oleh binatang-binatang buas daripada rahasia yang sama sekali belum kita kenal.”

“Ya.”

“Menghadapi binatang buas, kita dapat membuat perhi¬tungan yang mapan.”

“Ya.”

“Tetapi,” Sekar Mirah tiba-tiba menyela, “kau berbicara terus, Kakang Swandaru. Kalau ada seseorang yang mengintai kita, kau adalah penunjuk yang baik.”

“O, ya. Aku akan diam.”

“Tetapi, apakah yang akan kau lakukan kalau kita dikeru¬muni oleh binatang buas? Membunuh mereka bersama sekali¬gus?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Memanjat pohon setinggi-tingginya.”

“Ah, kalian berbicara saja,” sekali lagi Sekar Mirah memotong. “Dengar. Derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin dekat.”

“Masih agak jauh,” berkata Swandaru. “Gemanya me¬lontar ke segenap penjuru di dalam hutan yang sepi begini.”

Sekar Mirah tidak menyahut lagi, sedang Agung Sedayu pun kemudian terdiam mendengarkan derap kaki-kaki kuda yang menjadi semakin jelas.

Tanpa mereka sadari, maka mereka pun segera mempersiap¬kan diri masing-masing. Sekar Mirah yang menggenggam tongkat baja putihnya, mulai membelai kepala tongkatnya yang berwarna kekuning-kuningan itu. Sedang tanpa sesadarnya, Swandaru telah meng¬urai cambuk yang membelit di pinggangnya.

Ketiganya pun menjadi semakin lama semakin tegang. Agaknya kuda-kuda itu tidak berlari terlampaui kencang. Mungkin karena jalan yang licin berbatu-batu padas, mungkin karena rintangan-rintangan lain.

Tetapi mungkin juga karena penunggang-penunggangnya sengaja memperlambat jalan kuda mereka untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Sejenak ketiga anak-anak muda yang masih duduk di tempatnya itu saling berpandangan. Namun agaknya mereka tidak tenang duduk saja sambil membelai senjata masing-masing, tiba-tiba tanpa disadarinya Swandaru mulai bergerak sambil berdesis lambat, “Aku akan berdiri.”

Tanpa menunggu jawaban ia pun kemudian bangkit berdiri, diikuti oleh Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Perlahan-lahan mereka bergeser memencar. Masing-masing bersandar pada sebatang pohon yang cukup besar, sehingga seakan-akan mereka telah hilang ditelan oleh batang-batang yang besar itu.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun dengan hati-hati merayap mendekati jalan sempit yang bersilang di tengah-tengah hutan yang lebat itu.

Dengan telunjuknya, Kiai Gringsing memberi isyarat kepada Ki Sumangkar, bahwa mereka akan melihat simpang empat itu, karena menurut perhitungan Kiai Gringsing kuda itu pasti akan melintas di jalan silang, lorong mana pun yang dilaluinya.

Ki Sumangkar pun menganggukkan kepalanya.

Perlahan-lahan mereka semakin maju, sehingga akhirnya mereka berada beberapa langkah saja di sebelah simpang empat kecil itu.

Ternyata kuda-kuda itu masih belum lewat, karena suaranya masih menuju ke arah mereka.

“Kita menunggu di sini.” Kiai Gringsing berbisik. Ki Sumangkar menganggukkan kepalanya.

Sambil menahan desah pernafasan mereka, maka kedua orang tua-tua itu pun berjongkok di balik gerumbul-gerumbul yang rimbun, menunggu kuda-kuda yang sebentar lagi pasti akan lewat.

Ternyata mereka tidak usah menunggu terlampau lama. Sejenak kemudian, tampaklah bayang-bayang kehitaman di gelapnya malam, beberapa ekor kuda melintas di lorong sempit itu. Tepat di jalan silang penunggang kuda yang paling depan menarik ken¬dali kudanya, sehingga kuda itu pun berhenti, diikuti oleh orang-orang yang berada di belakangnya.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar menahan nafasnya, su¬paya orang-orang berkuda itu tidak mendengarnya.

Sejenak kemudian kedua orang itu pun terkejut ketika mereka mendengar salah seorang dari mereka berkata, “Kita tidak menjumpai apa pun. Kita sudah menjelajahi bagian hutan ini.”

Dada kedua orang itu menjadi berdebar-debar. Mereka kenal suara itu. Suara Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, sehingga sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

“Tetapi,” terdengar yang lain menjawab, “sebagian dari rakyat menjadi ketakutan karenanya.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sekarang kemana kita pergi. Ke jalan yang mana?”

“Jalan yang ini menuju ke Kali Praga.”

“Langsung ke Tanah Perdikan Menoreh.”

“Ya, dan yang ini akan menerobos daerah yang masih buas menuju ke tlatah Mangir.”

“Ya,” suara Sutawijaya merendah. “Lalu kita sekarang ke mana? Ternyata kita tidak pernah menjumpai apa pun, meskipun sudah tiga malam kita meronda.”

Sejenak pengikut-pengikut Sutawijaya itu tidak menyahut. Namun sejenak kemudian salah seorang berkata, “Memang sulit untuk menemukan hantu-hantu itu.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Agaknya Sutawijaya sedang mencari sesuatu. Hantu, sebenar¬nya hantu atau seseorang yang telah mengganggu ketenteraman daerah baru ini?

“Apakah kau yakin, bahwa rakyat kita benar-benar telah diganggu oleh hantu-hantu?” Sutawijaya-lah yang bertanya kepada pengikut-pengikutnya.

“Demikianlah menurut pendengaran kami. Hantu itu ber¬kerudung hitam. Tetapi yang dapat dilihat oleh rakyat di pinggir hutan yang belum dibuka, hantu-hantu itu kerkepala tengkorak. Kadang-kadang saja terlihat sepintas apabila kerudung tubuh mereka tersingkap, tulang-tulang iga yang tampak jelas pada dada mereka.”

“Apakah hantu-hantu itu berwujud jerangkong?” bertanya Sutawijaya.

“Ya.”

“Aku ingin melihat,” desis Sutawijaya, “sampai sebe¬sar ini aku belum pernah melihat jerangkong.”

“Bukan saja jerangkong,” terdengar suara yang lain, “kuda-kuda yang mereka pergunakan bertelapak putih yang bercaha¬ya. Seseorang pernah melihat di antara dua sosok jerangkong terdapat sesosok hantu yang lain. Berwarna merah menyala, dan di bagian-bagian tertentu berkeredipan seperti kunang-kunang.”

“Ya. Aku sebenarnya juga pernah mendengar keluhan itu. Tetapi aku kira tidak setajam ini, sehingga baru sekarang aku menaruh perhatian.”

“Hantu-hantu itu benar-benar mengganggu pembukaan daerah-daerah yang sudah direncanakan. Bahkan beberapa orang mulai menyingkir ke daerah yang sudah mulai ramai.”

“Baik. Baik,” jawab Sutawijaya. “Tetapi ke mana kita sekarang?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Aku ingin menemukan sarang hantu,” suara Sutawijaya meninggi sejalan dengan kekesalan hatinya yang memuncak.

“Hantu-hantu itu dapat menghilang,” terdengar seseorang menjawab.

“Aku ingin tahu, apakah hantu-hantu itu mampu melawan pusaka-pusaka Kiai Pasir Sawukir ini, atau Kiai Naga Kemala. Kalau sentuhan ujung tombakku atau ujung keris Ayahanda Ki Gede Pemanahan ini tidak mempan, aku akan bersimpuh di ujung kaki jerangkong-jerangkong itu.”

Suasana menjadi hening. Yang terdengar hanyalah desah nafas Mas Ngabehi Loring Pasar yang sedang menahan perasaannya dan yang tiba-tiba saja bertanya keras-keras, “He, kemana ki¬ta sekarang? Apakah kita akan melanjutkan perjalanan yang tidak berketentuan ini untuk berburu hantu?”

Tetapi suaranya itu pun segera hilang ditelan oleh geram¬nya sendiri di hutan yang sepi itu. Tidak seorang pun dari para pengiringnya yang menjawab.

Terdengar nafas Raden Sutawijaya itu berdesah. Katanya kemudian, “Baiklah. Kita sekarang pulang. Tetapi aku tidak akan berhenti sebelum aku menemukan hantu-hantu itu. Kalau kalian mendengar laporan tentang hantu-hantu itu, kalian harus langsung memberitahukan kepadaku.”

Tetapi Sutawijaya tidak menunggu jawaban. Segera ia menarik kendali kudanya, sehingga kudanya segera bergerak. Sejenak kemudian kudanya itu pun berderap meninggalkan jalan silang, menuju ke daerah yang sudah menjadi ramai dan berpenghuni padat, diiringi oleh para pengawal.

Ketika derap kuda itu menjadi semakin jauh, maka terde¬ngarlah Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar hampir bersamaan menarik nafas dalam-dalam.

“Itulah persoalan yang tumbuh di daerah baru ini,” ber¬kata Kiai Gringsing.

“Persoalan yang menarik. Sama sekali bukan persoalan antara daerah baru ini dengan Pajang. Tetapi justru dengan hantu-hantu.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya kemudian, “Tetapi Anakmas Sutawijaya agaknya tidak percaya, bahwa yang meng¬ganggu daerah barunya ini benar-benar hantu, iblis, dan gendruwo.”

“Tetapi menilik ceritera para pengawalnya itu, agaknya mereka yakin atau setidak-tidaknya ada sedikit kepercayaan bahwa yang berkeliaran dengan bentuk yang menakutkan itu adalah hantu-hantu. Jerangkong dan yang merah-merah itu adalah banaspati.”

“Bagaimana dengan warna-warna yang bercahaya di bagian tubuh mereka?”

“Tentu kita belum dapat menyebutkan, karena kita belum melihatnya sendiri.”

Kedua orang itu pun kemudian merenung sejenak. Mereka mencoba menghubungkan keterangan-keterangan yang didengarnya dari orang-orang yang baru saja lewat di jalan silang itu. Tetapi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Kiai Gringsing berkata, “Aku pun tiba-tiba ingin melihat hantu itu.”

“Aku pun tertarik pula. Seandainya aku tidak membawa Sekar Mirah.”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Tetapi ia ber¬kata, “Adi Sumangkar. Kita menghadapi suatu keadaan yang tidak wajar, apakah menurut pertimbangan Adi, Sekar Mirah dapat ikut serta? Aku yakin bahwa Sekar Mirah bukan seorang penakut, seandainya ia harus bertempur sebagai seorang prajurit di peperangan yang besar pun ia tidak akan gentar. Tetapi seba¬gai seorang gadis, bagaimanakah kira-kira kalau ia melihat sesuatu yang tidak masuk akal, seperti hantu-hantu itu misalnya. Bukankah seorang gadis lebih banyak dikuasai oleh perasaannya daripada nalarnya?”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itulah yang aku pikirkan. Tetapi juga kegelisahan ibunya di rumah menjadi persoalan. Dahulu aku berjanji, bahwa aku tidak akan terlampau lama membawa Sekar Mirah untuk melihat-lihat daerah-daerah di luar kademangan itu, dan sekaligus mencari berita tentang Swandaru.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya ke¬mudian, “Jadi, bagaimana sebaiknya?”

“Aku juga menjadi ragu-ragu seperti Sekar Mirah sendiri. Apalagi persoalan hantu ini sangat menarik perhatianku.”

Kiai Gringsing tidak menyahut.

“Tetapi,” berkata Ki Sumangkar selanjutnya, “aku kira, aku memang lebih baik membawa Sekar Mirah kembali ke Sang¬kal Putung lebih dahulu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,” ka¬tanya, “Memang agaknya lebih baik demikian. Kalau persoalan¬nya bukan persoalan hantu, mungkin Sekar Mirah akan dapat ikut serta.”

“Baiklah. Aku akan mengambil keputusan itu. Aku akan mengatakan kepadanya, bahwa sebaiknya ia kembali lebih da¬hulu ke Sangkal Putung.”

“Aku kira begitu,” sahut Kiai Gringsing.

Demikianlah, maka kedua orang tua itu telah mengambil suatu keputusan, bahwa Sekar Mirah dan Ki Sumangkar akan mendahului Kiai Gringsing dan murid-muridnya, kembali ke Sangkal Putung.

Ketika mereka berdua kembali ke tempat mereka semula, mereka mengangguk-anggukkan kepala, karena mereka melihat ketiga anak-anak muda itu masih juga bersiaga. Sekar Mirah bersandarpada sebatang pohon sambil membelai kepala tongkatnya, sedang Swandaru bermain-main dengan cambuknya. Meskipun Agung Se¬dayu belum mengurai senjatanya sama sekali, tetapi ia sudah memegangi tangkainya erat-erat.

“Bagus,” berkata Kiai Gringsing, “kalian telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang dapat timbul setiap saat.”

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “apalagi ketika aku men¬dengar derap kuda itu agaknya berhenti di jalan silang. Lamat-lamat aku mendengar juga suara seseorang meskipun tidak jelas, apa yang dikatakannya.”

“Ya,” jawab Kiai Gringsing, “salah seorang dari me¬reka telah berbicara dengan keras.”

“Apakah yang mereka bicarakan?” bertanya Swandaru.

“Aku menjadi cemas, bahwa mereka telah melihat Kiai berdua, sehingga timbul salah paham.”

“Tidak. Ternyata mereka hanya orang-orang lewat, seperti orang-orang lain. Agaknya pedagang-pedagang yang membawa dagangannya ke daerah baru itu.”

“Apakah mereka tidak takut bertemu dengan penyamun?” bertanya Sekar Mirah.

“Menilik sikap dan senjata di lambung masing-masing, mereka tidak takut kepada penyamun-penyamun.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

“Sekarang, kita dapat beristirahat dengan tenteram. Ter¬nyata tidak ada apa-apa di hutan ini.”

“Selain ular bandotan,” potong Swandaru.

Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia tidak menyahut. Ia pun kemudian duduk bersandar sebatang pohon. Sekali ia menguap, kemudian menggosok-gosok matanya yang mulai kantuk lagi.

Namun Swandaru masih berkata, “Tetapi, terhadap ular bandotan pun kita tidak usah takut. Guru pasti sudah menyediakan obatnya.”

“Ah, kau,” berkata Kiai Gringsing. “Tidurlah, kalau kau masih ingin tidur.”

Semuanya pun kemudian duduk kembali. Masing-masing mencari tempat yang baik untuk tidur sambil duduk bersandar.

Tetapi orang-orang tua yang melihat Sutawijaya itu pun, sama sekali tidak dapat memejamkan mata. Mereka masih dicengkam oleh teka-teki yang tidak akan dapat mereka pecahkan begitu saja. Mereka memerlukan bahan-bahan yang lebih banyak. Tetapi untuk seterusnya Sumangkar tidak akan dapat ikut serta, karena ia harus mengantarkan Sekar Mirah, kembali ke Sangkal Putung.

Ketika matahari terbit di keesokan harinya, maka kelima orang itu pun segera membenahi dirinya. Mereka akan meneruskan perjalanan, mencari tempat yang baik bagi mereka yang masih akan tinggal di daerah yang baru itu.

“Kita akan segera berpisah,” berkata Sumangkar, “karena aku dan Sekar Mirah akan kembali ke Sangkal Putung.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Katanya, “Jadi kita mendahului, Guru?”

“Ya. Kita mendahului. Bukankah kau juga memikirkan perasaan ibu dan ayahmu?”

Sekar Mirah menganggukkan kepalanya. Tetapi ia ber¬tanya, “Kenapa kita tidak pulang saja bersama-sama?”

“Kakakmu memerlukan bahan yang cukup dari daerah ini. Untuk kepentingan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Me¬noreh. Dua daerah, yang letaknya berseberangan bagi daerah baru ini.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya pula. “Nah, sekarang kau harus minta diri kepada Kiai Gringsing.”

Sekar Mirah memandang gurunya sejenak, lalu berpaling kepada Kiai Gringsing. “Aku minta diri, Kiai.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Hati-hatilah di jalan. Patuhi perintah gurumu, karena jalan yang akan kau lalui adalah jalan yang masih belum memiliki kepastian.”

“Mudah-mudahan kita tidak akan bermalam lagi di jalan,” ber¬kata Ki Sumangkar, “meskipun agaknya kita akan sampai di Sangkal Putung larut malam. Tetapi hutan di seberang Alas Tambak Baya tidak ada lagi yang berbahaya dan lebat.”

“Ya. Sampaikan salamku kepada Ki Demang Sangkal Putung, suami isteri.”

“Baiklah.” Lalu kepada Agung Sedayu dan Swandaru, Ki Sumangkar berkata, “Kawani gurumu. Ia akan segera menemukan permainan baru di Alas Mentaok.”

Kedua anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Dan Agung Sedayu pun segera menjawab, “Baik, Kiai. Kami akan menung¬gui guru di sini beberapa waktu.”

“Apabila kami sudah selesai, kami akan segera menyusul,” sela Swandaru.

Sekar Mirah pun kemudian minta diri pula kepada kakak¬nya dan kepada Agung Sedayu. “Hati-hatilah kalian berdua,” berkata gadis itu. “Daerah ini agaknya memang mempunyai nafas yang menyesakkan.”

“Eh, kau menasehati? Begini segar udara di hutan ini,” Jawab Swandaru.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. “Mudah-mudahan kau menemukan macan tutul. Tetapi ingat, bawa kulitnya pulang ke Sangkal Putung. Aku memerlukannya.”

“Buat apa kau?”

“Selongsong tongkatku. Bukankah lebih baik aku mem¬buat selongsong dan aku gantungkan di punggung seperti pedang?”

“Tidak usah kulit harimau. Kalau aku mendapatkannya akan aku pergunakan sendiri untuk pembalut wrangka pedangku yang bertangkai gading. Aku sudah mempunyai seutas tali yang berwarna kuning keemasan untuk mengikatnya.”

Sekar Mirah memberengut. Tetapi ia tidak berkata apa pun lagi.

Beberapa langkah kemudian, maka mereka pun berpisah. Sekar Mirah dan Ki Sumangkar berjalan lurus ke Timur, mengikuti jalan setapak yang membelah hutan yang lebat, tetapi yang sudah mulai menipis. Sedang Kiai Gringsing dan kedua murid¬nya, akan menjelajahi daerah itu, mencari tempat yang dapat mereka pergunakan untuk tinggal beberapa lama, seperti ketika mereka berada di Tanah Perdikan Menoreh, sebelum mereka secara terbuka berpihak kepada Ki Argapati.

Setelah mereka berpisah, barulah Kiai Gringsing memberitahukan kepada kedua muridnya, apa yang telah dilihatnya semalam bersama Ki Sumangkar.

“Kenapa Guru tidak memanggil kami semalam?” bertanya Swandaru.

“Kenapa kau bertanya begitu?” sahut gurunya.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Memang seharusnya ia tidak usah bertanya begitu.

“Dengan demikian, maka Ki Sumangkar mengambil keputusan bahwa Sekar Mirah harus dibawa kembali. Mungkin ia tidak gentar menghadapi apa pun, tetapi berhadapan dengan hantu, masalahnya jadi lain. Mungkin Sekar Mirah tidak dapat mengendalikan perasaannya melihat wujud-wujud yang mengerikan. Jerangkong, wedon, banaspati, dan jenis-jenis hantu yang lain,” berkata Kiai Gringsing.

“Persetan dengan hantu-hantu,” Swandaru menggeram.

“Jangan congkak,” gurunya tersenyum, “tetapi memang sebaiknya kalian mempersiapkan diri menghadapi masalah yang agaknya tidak mudah kita temui di tempat dan di saat lain.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Agaknya daerah baru ini mempunyai banyak persoalan.” gumam Agung Sedayu, “Suatu ketika Raden Sutawijaya baru berbicara tentang Pajang. Dan kita pun harus bertanya-tanya, apakah yang akan dilakukan oleh Kakang Untara? Sementara ini kita semuanya akan disibukkan oleh hantu-hantu yang agaknya ikut mengambil bagian dalam kesibukan ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Agung Sedayu itu. Tanpa sesadarnya ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Demikianlah agaknya. ”

“Tetapi persoalan daerah ini dengan Pajang, agaknya masih belum terasa kini,” berkata Agung Sedayu kemudian, “lebih-lebih bagi orang kebanyakan.”

“Yang terasa agaknya baru masalah hantu-hantu itu,” sahut Swandaru.

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang yang terasa agaknya barulah masalah hantu-hantu itu.

Mereka yang kini tinggal bertiga itu pun kemudian sam¬pai pada daerah yang sedang dibuka. Dengan sedikit merubah langkah kakinya dan lenggang tangannya, serta pakaian yang paling kumal yang ada padanya. Kiai Gringsing pun kemudian menempatkan dirinya di antara mereka yang dengan suka rela datang dan ikut membuka daerah baru ini.

“Agaknya Ki Gede Pemanahan melakukan pembukaan hutan ini dengan tertib sekali,” Berkata Kiai Gringsing. “Ter¬nyata hutan ini telah terbagi-bagi.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Pembukaan hutan yang dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan agak¬nya telah diatur, sesuai dengan sebuah rencana yang rapi. Bagian-bagian yang telah ditentukan sajalah yang boleh dibuka oleh para pendatang. Mereka tidak boleh menebang hutan sesuka hati mereka. Beberapa orang petugas telah ditempatkan di daerah yang masih akan diperluas, untuk mencegah meluasnya daerah baru ini yang tidak sejalan dengan rencananya Ki Gede Pema¬nahan.

“Nah, kita menyatakan diri sebagai orang-orang yang ingin ikut serta membuka hutan ini,” berkata Kiai Gringsing kepada dua muridnya.

“Kita harus menghubungi petugas-petugas itu,” desis Agung Sedayu.

“Ya. Kita minta ijin untuk ikut serta. Bukankah sampai saat ini masih terus mengalir orang-orang baru yang ingin bertempat tinggal di tlatah yang baru ini?”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mereka pun kemudian dengan caranya yang khusus telah menghubungi para petugas, untuk minta diperkenankan ikut membuka daerah baru itu.

“Siapa namamu, Kek?” bertanya petugas itu.

“Truna Podang,” jawab Kiai Gringsing.

“He, kenapa Podang? Burung Kepodang adalah burung yang manis.”

“Bukankah aku manis juga, Tuan.”

Para petugas itu pun tertawa. “Siapa yang dua orang ini?”

“Anak-anakku, Tuan.”

Para petugas itu pun mengerutkan keningnya. Mereka memandang Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti. Salah se¬orang dari mereka bergumam seperti kepada diri sendiri, “Keduanya tidak mirip sama sekali.”

Dan Kiai Gringsing menjawab, “Keduanya lahir dari ibu yang berlainan.”

“He,” petugas itu membelalakkan matanya. “Kau dapat juga mendapatkan dua orang isteri?”

“Kenapa?”

“Kau yang timpang dan tampaknya sakit-sakitan itu?”

“Ya, kenapa? Apakah aku ini tidak semanis podang? Bu¬kan hanya dua orang itu saja yang mau menjadi isteri-isteriku, Tuan. Tetapi akulah yang berkeberatan.”

Para petugas itu tertawa. Sedang Swandaru mengumpat di dalam hatinya. “Bukan hanya berbeda ibu, tetapi saudara kandung bukan seayah dan ibu.”

“Apakah kalian sudah siap ikut serta menebang hutan?” bertanya para petugas itu.

“Tentu, Tuan. Kami sudah sedia.”

“Dimana isteri-isterimu itu?”

“Keduanya sudah meninggal. Dan aku tidak mau kawin lagi meskipun banyak perempuan yang menghendaki.”

“He, jangan membual!” bentak salah seorang petugas yang tidak senang mendengar kelakar orang tua itu. Tetapi pe¬tugas yang lain tertawa sambil berkata, “Memang sebaiknya kau kawin lagi. Mungkin masih ada nenek-nenek yang mau menjadi isterimu sebelum masuk ke liang kuburnya.”

Kiai Gringsing tertawa dengan nada yang tinggi melengking. “He, kau tertawa seperti kuda meringkik,” berkata sa¬lah seorang dari petugas-petugas itu. “Agaknya suara tertawanya itulah yang menyebabkan kau disebut Truna Podang.”

“Mungkin, Tuan. Memang mungkin sekali.”

“Jangan diajak berbicara,” sela yang lain, “orang ini akan mengigau terus-menerus.” Kemudian kepada Kiai Gring¬sing petugas itu bertanya, “Di mana alat-alatmu?”

“Alat-alat apa, Tuan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kau datang kemari mau apa?” bertanya petugas itu.

“Ikut membuka Alas Mentaok.”

“Kenapa kau tidak membawa alat-alat untuk menebangi pepohonan?”

“Barangkali ada tanah yang sudah bersih, Tuan.”

“Tutup mulutmu,” petugas yang satu itu agaknya ter¬lampau keras. “Bicaralah sungguh-sungguh kalau kau tidak mau aku tampar mulutmu.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dipandanginya beberapa petugas yang lain, yang masih tersenyum-senyum saja. Bahkan kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Kita perlu me¬melihara orang-orang macam ini. Yang tua ini pandai berkicau, anak-anaknya pun tentu pandai menciap-ciap.”

“Lempar saja ia ke tengah-tengah hutan yang lebat. Biarlah ia dimakan hantu yang berkeliaran itu.”

“Tetapi, tetapi kami ingin ikut serta Tuan-Tuan, jangan disangka kami tidak bersungguh-sungguh. Meskipun kami tidak membawa alat-alat untuk itu. Kami menyangka bahwa alat-alat untuk itu telah disediakan di sini.”

“Kau memang bodoh. Apakah kami harus menyediakan alat-alat itu untuk ratusan orang? Setiap hari, masih saja mengalir orang-orang baru yang ingin ikut membuka hutan ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpa¬ling kepada kedua anak-anaknya. Tetapi baik Agung Sedayu maupun Swandaru, tidak dapat memberikan pertimbangan apa pun.

“Jadi bagaimana?” bertanya petugas itu.

“Tetapi, bukankah hal yang demikian itulah yang dikehendaki? Semakin banyak orang yang datang ke tlatah ini, daerah baru ini akan menjadi semakin cepat ramai.”

“Tetapi mereka harus membawa alat-alatnya masing-masing. Kita tidak akan menyediakan apa pun juga di sini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemu¬dian katanya, “Bagaimana kalau kami meminjam?”

“Dari siapa kau meminjam?”

“Dari para petugas di sini. Apakah di sini tidak ada kapak, parang dan sebagainya?”

Petugas itu menggelengkan kepalanya. Bahkan kemudian ia membentak, “Jangan mengganggu tugas kami. Pergilah kamu. Kalian memang tidak menyiapkan diri untuk ikut membuka hutan ini.”

Sejenak Kiai Gringsing merenung. Ia hampir kehabisan akal untuk menyatakan dirinya ikut serta di dalam perluasan tanah garapan di daerah yang baru ini.

“Apakah aku harus langsung ke pusat daerah ini, daerah yang pasti sudah menjadi ramai?” bertanya Kiai Gringsing kepada diri sendiri, “Tetapi menilik pembicaraan Raden Sutawijaya, maka hantu-hantu itu berkeliaran terutama di daerah-daerah yang baru dibuka ini.”

“Menyingkirlah! Jangan berdiri mematung di situ,” ben¬tak seorang petugas.

Dalam kebingungan itu, tiba-tiba seorang petugas yang lain menghampirinya sambil bertanya, “Kau benar-benar tidak mempu¬nyai alat-alat?”

“Tidak, Tuan. Kami tidak mempunyai apa pun di rumah kami. Itulah sebabnya kami mencoba mengadu untung ke daerah baru ini. Tetapi ternyata tanpa modal alat-alat yang tidak kami miliki itu, kami tidak dapat berbuat apa-apa di sini.”

“Apakah kau seorang petani?”

Kiai Gringsing mengangguk. “Ya, Tuan. Kami adalah petani-petani miskin. Bahkan yang paling miskin di daerah kami.”

“Kalau kau tidak mempunyai alat-alat, dengan apa kau bertani?”

“Kami mempunyai beberapa macam alat pertanian. Tetapi tidak ada harganya sama sekali. Cangkul yang geropok, parang yang sudah patah dan sedikit buntung. Tetapi alat-alat itu sudah tidak pantas kami bawa kemari.”

Petugas itu merenungi Kiai Gringsing dan kedua anak-anaknya berganti-ganti. Tersirat keheranan disorot matanya, melihat tubuh Agung Sedayu yang kuat dan Swandaru yang gemuk.

“Bukankah sayang sekali, tuan?” berkata Kiai Gringsing. “Aku mempunyai anak-anak yang masih muda dan kuat. Kalau tenaganya tidak dipergunakan sebanyak-banyaknya, maka ia akan menjadi beban yang sangat berat bagiku. Padahal keduanya sedang menginjak musim makan sebanyak-banyaknya.

“Apakah mereka tidak mau membantu ayahnya?”

“Tentu mereka mau membantu aku. Tetapi alat-alat kamilah yang tidak mencukupi, sehingga kami harus bekerja bergantian.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba kawannya membentak, “Biarlah mereka pergi. Mereka pasti hanya akan mengganggu saja di sini.”

“Tunggu,” jawab kawannya, lalu katanya kepada Kiai Gringsing, “Podang. Eh, bukankah namamu, Truna Podang?”

Kiai Gringsing mengangguk. “Ya.”

“Mungkin kau berguna di sini. Kau pasti pandai berceri¬tera. Meskipun ceritera-ceritera khayal sekalipun. Karena itu, aku menjadi kasihan kepadamu. Kalau kau memang berniat untuk ikut menebangi pepohonan dan membuka hutan, aku akan meminjam¬kan alat-alat kepadamu.”

“He? Tentu kami akan sangat berterima kasih, Tuan.”

“Biasanya di sini orang-orang baru bekerja di dalam kelompok-kelompok. Mereka bersama-sama membuka suatu daerah yang kami tunjukkan kepada mereka, menurut rencana yang sudah disusun. Tetapi karena kalian hanya bertiga, maka kami akan memberikan daerah yang barangkali tidak terlampau sulit dikerjakan.”

“Terima kasih, terima kasih.”

Sebelum petugas itu berkata terus, kawannya telah menyahut, “Buat apa kau pelihara orang-orang malas itu?”

“Aku akan melihat, apakah mereka dapat bekerja atau tidak,” jawab kawannya. Dan kepada Kiai Gringsing ia berkata, “Aku beri kau daerah yang berada di pinggir patok yang sudah kami pasang. Agak di tengah. Apakah kalian sanggup mengerjakannya? Tetapi daerah itu tidak terlalu banyak pohon-pohonnya yang besar.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. “Di mana?” ia bertanya.

“Di bagian Utara. Di bagian ini hutan terlampau lebat untuk kalian bertiga. Tetapi kau perlu mengetahui, bahwa daerah itu tidak akan dapat sesubur daerah yang lebat ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah, Tuan. Meskipun daerah ini subur, tetapi kami tidak akan mampu membukanya, karena kami hanya bertiga.”

“Baiklah. Marilah, kita ambil alat-alat itu. Alat-alat itu bukan milikku sendiri. Tetapi aku mendapat titipan dari mereka yang tidak kerasan tinggal di sini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dan di luar sadarnya ia bertanya, “Kenapa ada yang tidak kerasan sebelum mereka berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka?”

“Satu dua orang yang berhati kecil, kini sedang meng¬hindari daerah ini.”

“Apa pedulimu?” sahut petugas yang lain. Sedang petu¬gas yang bersedia meminjamkan alat-alatnya itu hanya mengerutkan keningnya saja.

Terlintas di kepala Kiai Gringsing pembicaraan Sutawijaya dengan para pengawalnya. Memang ada satu dua orang yang menjadi ketakutan dan meninggalkan daerah-daerah yang masih sedang dibuka, masuk ke tempat yang sudah mulai ramai.

“Marilah. Ikuti aku ke gubukku,” ajak petugas itu.

Kiai Gringsing pun menganggukkan kepalanya. Kemudian diikutinya petugas yang bersedia meminjamkan alat-alat kepadanya dan kepada anak-anaknya. Sedang petugas yang lain, masih ber¬sungut-sungut, “Kau mencari kesulitan. Orang-orang macam itu tidak akan bermanfaat. Ia tidak akan berhasil membuka tanah yang bagaimanapun baiknya.”

Tetapi petugas yang membawa Kiai Gringsing itu tidak mengacuhkannya. Dibawanya Kiai Gringsing langsung ke sebuah gubuk kecil di antara beberapa gubuk yang lain.

“Inilah rumahku selama aku bertugas di pinggir hutan ini,” berkata petugas itu.

Kiai Gringsing dan kedua murid-muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya beberapa buah gubuk-gubuk kecil untuk para petugas. Kemu¬dian gubuk-gubuk yang lebih besar dengan sebuah barak yang panjang.

“Sementara hutan belum dapat dipergunakan oleh mereka yang membuka tanah, mereka kami tampung di sini,” berkata petugas itu.

“Berapa ratus orang yang ada di barak itu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak banyak. Yang tinggal di barak itu selalu bergiliran. Mereka yang sudah berhasil membuka sebidang tanah garapan dan halaman, mereka akan segera mendirikan gubuk-gubuk mereka sendiri. Dan mereka akan tinggal di rumah-rumah mereka yang baru.” Orang itu berhenti sejenak, tetapi suaranya menjadi lambat, “Namun akhir-akhir ini barak-barak itu menjadi semakin penuh kembali.”

“Begitu banyak orang-orang yang datang?”

“Tidak. Sekarang sudah tidak banyak lagi di bagian ini. Tetapi di bagian Selatan-lah yang menjadi semakin ramai.”

“Kenapa?”

“Tetapi aku kira di segala bagian dari hutan yang dibuka ini, nafsu para pembuka hutan menjadi susut.”

“Kenapa?”

“Mereka menjadi ketakutan tinggal di rumah-rumah yang telah mereka bangun sendiri, sehingga mereka kini berhimpit-himpitan di barak itu bersama-sama beberapa keluarga sekaligus. Di siang hari mereka menggarap tanah mereka, tetapi di malam hari mereka berkumpul di sini. Yang tidak mendapat tempat di dalam barak, mereka lebih baik tidur di emper-emper gubuk ini, daripada kembali ke rumah-rumah mereka yang baru selesai mereka bangun.”

“Kenapa?” desak Kiai Gringsing.

“Hantu-hantu penghuni hutan ini, tiba-tiba saja menjadi marah karena penebangan-penebangan ini.”

“Maksud Tuan, hantu-hantu itu sebenarnya hantu atau perampok-perampok dan penyamun-penyamun yang merasa terganggu dengan pembukaan hutan ini?”

“Hantu, sebenarnya hantu,” orang itu berhenti sejenak sambil memandang sudut-sudut gubuknya. “Sebaiknya aku tidak mengatakannya.”

“Kenapa Tuan? Aku ingin mendengarnya.”

“Tetapi, hantu-hantu itu pasti mendengar apa yang aku percakapkan sekarang.”

“Kita tidak berniat jahat. Kita akan mengatakan apa yang benar-benar telah terjadi.”

Petugas itu masih ragu-ragu sejenak.

“Bukankah kita tidak bermaksud apa-apa?”

“Tetapi kau bertanggung jawab?” bertanya petugas itu.

“Aku bertanggung jawab.”

“Kau terlampau berani. Tetapi itu karena kau belum melihat hantu itu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Sebaiknya aku berterus terang. Daerah yang aku tunjukkan kepadamu, adalah daerah yang termasuk baik. Daerah yang sudah mulai ditebang, sehingga pohon-pohonan yang besar sudah tidak banyak lagi. Tanahnya pun cukup subur, tidak seperti yang sudah aku katakan ke¬padamu. Tetapi daerah itu sering dilewati hantu-hantu, bahkan hantu-hantu berkuda semberani.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah kau berani meneruskan kerja yang terbengkelai itu?”

“Aku akan mencoba. Sudah aku katakan, bahwa maksud kita baik. Kita sama sekali tidak akan mengganggu mereka, dan sudah tentu kita mengharap mereka tidak mengganggu kita pula.”

Petugas itu nampak menjadi gelisah. Katanya, “Baiklah, aku pun akan mengatakan apa yang terjadi tanpa maksud jelek.” Ia berhenti sejenak. Lalu, “Beberapa orang dari sekelompok pendatang yang menebang pepohonan, di daerah yang aku katakan kepadamu itu, jatuh sakit.”

“Sakit apa, Tuan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Panastis. Kemudian mengigau,” orang itu berhenti berbicara. Wajahnya menjadi tegang dan keringatnya mengaliri seluruh tubuhnya. “Rasa-rasanya badanku pun menjadi panas.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningya. Tetapi ia menggeleng. “Tidak, Tuan. Memang udara terasa panas sekali. Bukan¬kah aku pun basah oleh keringat?”

“O, jadi kau pun merasa panas?”

“Ya. Panas sekali. Hampir aku tidak betah tinggal di dalam gubuk yang terlalu rendah ini. Ya, gubuk ini memang terlalu rendah, sehingga udara di bawah atap ilalang ini terasa amat panas.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Swandaru dan Agung Sedayu saling berpandangan sejenak. Mereka sama sekali tidak merasakan udara yang panas. Bahkan angin bertiup lewat lubang pintu dari daerah hutan yang hijau lebat itu terasa betapa sejuknya.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:36  Comments (70)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-51/trackback/

RSS feed for comments on this post.

70 KomentarTinggalkan komentar

  1. mas dd , kuwi posisi orangnya apa posisi servernya ?

    D2: Posisi pengunjung, On

  2. tenan yo tak enteni tekanmu le….jam 10.00 thit!!,
    “matur nuwun dateng poro crew ingkan sampun caos tenogo, wektu lan biaya kagem pisowanan wonten in moyo meniko.”

  3. jam 10 WIB atau waktu amrik ??

    DD: WIB sama CST sama kok, cuma beda siang dan malam aja

  4. “Prastawa…., jangan kau undur2 lagi. Cepat serahkan jilid 51 malam ini juga, jam 10 tit” teriak Sekar Mirah.

  5. maaf .. belum bisa batu rakyat Menoreh … sedang sibuk mendapat tugas dari Sultan Pajang memantau perkembangan di Alas Mentaok.

  6. weh… kok masaryo minta malem ini juga?

    Bukannya besok jam 10 pagi?

    xixixi 😀

  7. sabar subur gelis katur jilid seketsiji

  8. Gupala memandang langit sebelah timur yang semburat merah. Dan seakan-akan dia pun menjadi sangat gelisah.

    Gupita berdesis, “agaknya kau menjadi waringuten, ada apakah yang mengganggu pikiranmu?”

    “Matahari seolah-olah lambat sekali bergerak..,” Gupala bergumam

    “Ah, itu hanya perasaanmu saja. Apakah yang kau harapkan dari matahari itu?”

    “Seharusnya matahari itu hendaknya segera meloncat ke atas, sehinga kitab no limah puluh satu menjadi ikut muncul…,”

  9. wah jarang2 lancar, sekali download sung berhasil

  10. belum keliatan juga….

  11. Pandan Wangi menjadi terdiam, diendapkannya kemarahannya. Sedang Swandaru masih asik mengunyah jenang nangka di depannya, tak dihiraukannya permintaan Pandan Wangi barusan.

    Agung Sedayu yang telah mengenal tabiat saudara seperguruannya hanya dapat menghela nafas.
    “Semoga hal ini tidak membuat Pandan Wangi menjadi berpikiran lain. Dia harus lebih dapat memehami watak Swandaru, dengan demikian mereka akan menjadi keluarga yang semakin mapan. Sedang adi Swandaru juga seharusnya ..”

    Belum selesai pemikirannya, tiba-tiba terdengar teriakan Sekar Mirah. “Kakang .. kakang Swandaru.. kenapa kakang masih disini.” Masih berteriak Sekar Mirah melanjutkan, “lihat matahari telah hampir sepenggalah.. cepat kakang… semua sudah menunggu kakang.”

    Swandaru terkejut mendengar teriakan itu. Hampir saja dia tersedak jenang nangka, buru-buru jenag alot itu ditelannya. Agung Sedayu dan Pandan Wangi tak kalah terkejut. Tanpa sadar keduanya mendongak ke atas. “Hampir saatnya..” terdengar Agung Sedayu mendesis.

    “Kakang.. sebentar lagi Ki Gede akan membuka perayaan di banjar desa dan aku tidak ingin tertinggal. Aku ingin berdiri paling depan. Jika kakang lebih menyukai jenang itu. Baik lah kakang disini saja.” Sekar Mirah segera meraih tangan Pandan Wangi. Diliriknya Agung Sendayu agar mengikutinya.

    Agung Sedayu hanya menghela napas. Dilangkahkan kakinya menyusul kedua perempuan itu. “Keramaian di banjar itu begitu menarik .. pasti akan jauh lebih menarik dari jenang nangka itu,” gumamnya.

    Swandaru segera bangkit, masih sempat dimasukkannya beberapa buah jenang nangka dalam bajunya. “Wangi.. Mirah.. tunggu.. bukannya pembukaannya masih lama.. kakang.. tunggu aku, kakang..”

    Perayaan kemenangan itu memang akan berlangsung dalam sepekan, tapi siapa yang mampu menunggu jika dalam perayaan itu akan dibagikan kitab 51. Satu setengah jam dari sekarang .. sedang waktu terus berjalan.
    Jelas .. Sukra tidak mau tertinggal.

  12. Mas DD rakyat Menoreh sudah pada tidak sabar menunggu, harus segera dicermati, kalau tidak bisa pada bergabung dengan Prastawa dkk hehehe…..

  13. Matahari sudah mendekati sepenggalah. Para cantrik sudah mulai berkumpul. Sayang, baru dapat tugas keluar …

  14. ” Ck..ck..ck… Tepat waktu, keluar juga sesuai woro-woronya.. ” gumam gembala tua.

  15. Wah, pas banget. Jam 10 teng ….

  16. akhirnya …..

  17. “Sukra? Hmm, ke mana lagi dia?” gumam Sekar Mirah. “Lele-lele itu belum lagi disiangi. Katanya mau membuatkan mangut,” gerutunya lagi.

    Lalu dibukanya perlahan-lahan pintu lereg yang mengarah ke halaman belakang, dan dengan hati-hati dijengukkannya kepalanya. “Astaga,” desisnya, “sudah sedemikian tinggi matahari. Tetapi kok belum ada juga kabar dari Kakang Agung Sedayu? Apakah ia belum berhasil menguasai dan mengaplod jilid-51?”

  18. “Oh.. oh, ternyata aku yang keliru,” gumam Sekar Mirah cepat-cepat. “Kukira akan masuk lewat pintu butulan, jebulnya jee..”. Dengan tergesa-gesa perempuan itu masuk ke senthong tengah, dan ..kembali ke laptop. Donlod jilid-51.

    Matur suwun.

  19. 😀 😀 😀
    terdengar sukra di atas pohon tertawa, di depannya berserak lontar-lontar berisi kitab 51 😛

  20. Setelah selesai semua bundel ADBM ini, perlu dibuat bundel ADBM versi plesetan…isinya seperti comment yg muncul disetiap jilid….

  21. Hebat….dan salut….ternyata Ki DD Menoreh cepat dan tanggap keinginan rakyat Menoreh yang meletup-letup..hehehe….salut…salut…

  22. jadwal 52 belum ada ya ?

  23. “Ada gambar sampul, berarti ada harapan” jawab Sekar Mirah kepada Ki Sukra yang menanyakan jilid 52.

  24. “Cobalah bersabar, ngger, supaya semuanya berjalan dengan wajar. Dalamilah kitab 51 sebelum beranjak ke tingkat berikutnya.” tambah Ki Sumangkar.

  25. he3
    Menurut peta spasial yg dapat dipercaya, ternyata perguruan windujati sdh menyebar tidak saja di tlatah Demak-Pajang di tanah Jawa, tapi Australia, tanah Melayu, Philipinus, Jepon, Euro, bahkan Amrik..ternyata hebat perguruan orang bercambuk ya…mudah2an ilmunya gak semakin pudar hanya krn bedanya jarak dan waktu..

    GD: Itu pun belum menghitung bahwa pelajaran2 yg diberikan kpd para cantrik di padepokan ini juga direlay oleh padepokan lain (meskipun secara diam-diam). Dan padepokan2 yg merelay itu juga dikunjungi ribuan cantrik.

  26. # On November 12, 2008 at 1:42 pm Aulianda Said:

    “Ada gambar sampul, berarti ada harapan” jawab Sekar Mirah kepada Ki Sukra yang menanyakan jilid 52.
    …..
    sekedar nambah info.. sukra itu “batur” yang tinggal di rumah Agung Sedayu – Sekar Mirah. tugasnya ngisi pakiwan ato bikin mangut (lirik p_sawukir) jadi bukan ki ato kiai 😀

  27. Ki Dede Menoreh, maafkan saya, karena anak saya baru sakit, maka tugas untuk jilid 050 belum bisa aku kerjakan.

    GD: Gpp, Ki Pratama. Mudah2an yg sakit segera saras.

  28. Cool man……..
    tengkyu

  29. wah, baju baru. tambah cantik
    mangan sego kucing, karo nyawang prawan ayu..
    ki dede n ki sukra manteb tenan…

  30. DD, gimana kalau disisipkan kamus bahasa Jawa/Yogya yg menurut saya/rekan2 agak awam : seperti Jebeng, Gandok, Nenggala, dll. sampai sekarang aku belum ngerti apa arti kata2 tsb.

    trim

    D2: Usul yang baik. Akan kita sediakan halaman KAMUS. Para sederek-lah yang memberikan entrinya. Kita nanti tinggal susun menjadi susunan yg mudah.

  31. Beberapa istilah Jawa:

    Gandok = dapur
    Pring ori = bambu ori
    Jebeng = Ngger,Anak. Ki Pemanahan memanggil Sutawijaya sebagai Jebeng
    Pakiwan = lavatory, toilet (berasal dari kata pa-kiwa-an, kiwa = kiri, sebagai gambaran kalau membersihkan dengan tangan kiri)
    Agung = Besar, grand, prominent
    Geni = Api
    Pringgitan = ruangan di belakang pendopo, open structure in front of mansion, behind the pendopo, for showing shadow plays or receiving visitors

    Sumber:
    http://www.bausastra.com
    http://kamus.kapanlagi.com
    Beberapa istilah kemungkinan dapat dicari di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sayang sekali saat ini saya tidak membawa dan memegang KBBI.

  32. nuwun sewu kiai jebeng,

    sak pengertos kulo selaku wargo tlatah mataram (kulo saking bantul red, gandok meniko sanes dapur, anangging ruang tambahan ing kiwo utawi tengen rumah induk.

    (sepengetahuan saya sebagai orang asli mataram ; saya berasal dari bantul red, gandok itu bukan dapur, tetapi ruang tambahan yang besar yang berada di samping kanan atau kiri rumah induk.

    matur nuwun

  33. Hoax Asli,
    Hatur nuwun Nyi untuk 51-nya. Wah gambar covernya Agung Sedayu naik kuda, tapi kok bawa tombak ya? Berarti sudah siap menuju Madiun.

  34. Hua..ha..ha…

    Ki TP sampe nyasar-nyasat sampe sini. Ki TP juga bisa iseng ya.
    Ngaget-ngageti saja

  35. melu kesasar ah ….

    nek ra melu ndak ora dibagehi ….

  36. Asem tenan iki, melu kapusan nyasar mrene

  37. Wah .. senangnya bisa nyasar bareng ….

  38. Podo ngopo nang gondok 51, nyiapin makar yah mau memberontak Negeri Mataram !!!!, hahahahaha , kekekeke 😀 😀

  39. Ki TP seneng jebakane berhasil
    akeh seng nyasar

  40. Wah….

    Guyonan Ki TP memang cespleng.

    Saya yang mulai tadi siang pusing, sekarang jadi sembuh gara-gara ketawa terpingkal-pingkal karena ulah Ki TP yang nyasar dan membawa gerbong beberapa orang ke gandok 51.

    Terima mkasih Ki.

  41. melu-melu kesasar dech ……….

  42. hiks, memang kalo udah sakaw
    jadi gampang ketipu
    he he he

    ikut nyasar juga aah

  43. trims nyi gede kitab 51 nya….udah diunduh

  44. kalau jaman sekarang, Swandaru tentu sudah berteriak :
    “aku galauuuuuuuuuuuu………”

    • pada jaman itu bunyinya “ki mbleh kacau beliau……”

      • wuih…, wis tekan kene
        he he he …. sugeng dalu meh parak esuk Ki

        • Sugeng esuk2,,, 😀

          • …esuk2 maem karo gendhuk…eh..gethuk 😀

      • pada jaman yang akan datang “Ki AS berkicau belia”

        • “kemana dimana kemanaaaaaa,,,,,mungkin kayak gitu ya ki ”

          sugeng enjang sadaya kadang padepokan ADBM.

  45. melu mbukak alas,ben iso d tnduri klopo sawit..gkgkgk

    • wis mbukak…….pinten Ki ? 😀

      • terus terang bukak-bukak-an terang terus

        • sing dibukak sopo jal

          • kartu-as-e lha niku sing menang tur mbeling puoooolll

            • e roro mendut pake kartu as to

              • Njih leres terus dibungkus godhong gedhang niku lho .

                • ..gedhang-e sinten ? 😀

                  • sing gadhah mung kyai-ne .

              • kok malah do mbahas pusoko kangjeng kyai gedhang to

                • Lha nggih to wong niku karemane Nyai A**M

                  • apem ? 😀

                    • o kyai gedang melawan nyai apem ngunu ta wkkkkkk

              • Jan sak nomer tenan ki , niku lho kartu as sing mentul-mentul lan mendut-mendut .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: