Buku 51

Tanpa gembala tua dan anak-anaknya. Tanah Perdikan ini pasti akan menjadi lebih parah lagi. Apalagi, apabila luka Ki Argapati tidak dapat disembuhkan.

Pandan Wangi yang sedang mulai dijalari perasaan seorang
gadis merasa menjadi sangat kecewa atas kepergian Swandaru. Ia merasa kehilangan seseorang yang dapat membuatnya tersenyum dan tertawa.

“Aku akan segera kembali,” berkata Swandaru.

“Kau tidak bersungguh-sungguh, seperti apa yang kau lakukan selama ini. Kau selalu mengatakan tentang sesuatu yang tidak benar. Kau mengatakan bahwa pada suatu ketika kau akan ber¬hasil menangkap sesosok tuyul yang sedang mencuri uang di rumahmu. Lain kali kau katakan bahwa seorang kawanmu mempunyai kuda sembrani yang dapat terbang sampai ke bulan. Se-dang yang benar, kau adalah seorang pemimpi.” Pandan Wa¬ngi berhenti sejenak. Lalu, “Dan bagaimana kalau perlawatanmu ke Menoreh ini nanti kau anggap sekedar sebuah mimpi?”

“Mungkin,” jawab Swandaru, “tetapi yang tidak ada hubungannya dengan kau. Sedangkan semua masalah yang ada bubungannya dengan kau, tentu sama sekali bukan sebuah mimpi.”

“Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Maksudku memang demikian.”

“He?”

“Ya. Ya. Aku berkata sebenarnya.”

Wajah Pandan Wangi menjadi bersungut-sungut, tetapi Swan¬daru kemudian berkata, “Aku akan segera kembali membawa tiga ekor, eh, tiga orang, maksudku tiga, bilangan tiga untuk tuyul-tuyul itu.”

“Benar?” tiba-tiba wajah Pandan Wangi menjadi cerah. “Kau akan membawanya untukku?”

“Ya, ya. Tetapi ……….”

“Katakan bahwa kau bersumpah, bahwa kau akan segera kembali membawa tuyul.”

“Eh.”

“Nah, bukankah kau berbohong?”

Swandaru menjadi bingung. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Aku akan membawa tiga sosok tuyul. Aku sudah mem¬punyai dua. Aku tinggal mencari satu.”

“Kau sudah mempunyai dua?”

“Ya.”

“Mana?”

“Itu. Yang satu tuyul jantan, yang lain tuyul betina,”

“Ah, kau,” desah Pandan Wangi.

Namun Swandaru-lah yang menyeringai kesakitan karena Sekar Mirah mencubitnya. “Aku kau anggap tuyul ya? Kalau aku tuyul, termasuk jenis apakah kakaknya?”

“Sudah Mirah. Sudah.”

Pandan Wangi terpaksa tersenyum karenanya. Sebetulnya tangannya pun hampir saja terjulur. Tetapi segera ditariknya kembali, karena Swandaru masih belum menjadi keluarga atau apa pun secara resmi.

Demikianlah, maka rombongan kecil itu pun segera mening¬galkan halaman rumah Ki Argapati. Perpisahan itu agaknya benar-benar berkesan bagi yang pergi dan bagi yang ditinggalkan. Namun Kiai Gringsing berkata kepada mereka, “Kami akan segera kembali. Dan bukankah tanah ini telah menjadi utuh kem¬bali?”

“Kami selalu mengharap kedatangan kalian,” berkata Ki Argapati.

Maka dilepaslah rombongan kecil itu berangkat meninggal¬kan Tanah Perdikan Menoreh.

Ketika beberapa langkah kemudian Sekar Mirah berpaling, tiba-tiba hatinya berdesir. Ia melihat sorot mata anak muda yang bernama Prastawa itu seakan-akan menyala membakar jantungnya. Namun hanya sejenak, karena anak muda itu segera memalingkan wajahnya, memandang ke kejauhan.

Sentuhan tatapan mata yang hanya sekejap itu telah me¬ninggalkan kesan yang aneh bagi Sekar Mirah, meskipun ia ber¬usaha untuk menghalaunya dari hatinya.

“Adalah kebetulan saja ia memandangku,” katanya di dalam hati, “atau barangkali ia mendendamku?”

Ki Argapati, Ki Argajaya, Samekta, Kerti dan yang lain, memandangi mereka sampai rombongan kecil itu hilang di balik sebuah tikungan.

Meskipun demikian, Ki Argapati yang berdiri bersandar pada sebuah torgkat yang panjang berkata perlahan-lahan, “Me¬reka bagaikan sepasukan prajurit yang pulang dari medan. Meskipun mereka hanya berjumlah 5 orang.”

Ki Argajaya yang berdiri di sampingnya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak menjawab. Matanya masih tersang¬kut pada tikungan tempat kelima orang itu menghilang.

Yang mula-mula sekali meninggalkan regol itu adalah Pandan Wangi. Sambil menundukkan kepalanya ia melangkah dengan tergesa-gesa melintasi halaman.

Ayahnya, Ki Argapati, menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, perasaan apakah yang sedang mengganggu puterinya itu. Hati¬nya yang sedang mekar, tiba-tiba terputus meskipun hanya untuk beberapa saat. Namun agaknya, dunianya akan menjadi terlam¬pau sepi untuk sementara.

Karena itu, maka ketika Ki Argapati melihat puterinya itu merenung di biliknya, ia sama sekali tidak menegurnya. Biarlah anak itu berangan-angan sebagaimana kebiasaan gadis-gadis. Kalau puterinya itu selalu dibebani oleh sepasang pedangnya, tanpa mem¬beri kesempatan pribadinya sebagai seorang gadis berkembang, maka kelak Pandan Wangi tidak akan dapat menjadi seorang ibu yang baik.

Argajaya dan puteranya pun segera minta diri pula, kembali ke rumahnya. Mereka datang sekedar melepaskan kelima orang itu meninggalkan Menoreh.

“Aku masih mempunyai pekerjaan di sawah, Kakang,” berkata Argajaya.

“Kau kerjakan sendiri sawahmu?”

“Tentu hanya sebagian kecil. Tenagaku sudah tidak se¬kuat anak-anak muda. Tetapi aku ingin mengisi waktuku dengan kerja.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Prastawa juga?”

“Ya, Paman. Aku harus membantu ayah di rumah.”

“Bagus,” desis Ki Argapati.

Keduanya pun kemudian meninggalkan halaman rumah Ki Argapati. Di atas punggung kuda mereka menyusuri jalan-jalan padukuhan induk, dan kemudian mereka melintas di jalan yang membelah sebuah bulak yang panjang.

“Ayah,” tiba-tiba Prsstawa bertanya, “apakah benar, Sekar Mirah itu adik Swandaru?”

“Ya, kenapa?”

“Keduanya sangat berlainan.”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Mungkin bentuk tubuhnya. Sudah tentu, bagi seorang gadis kurang pantas apabila ia bertubuh gemuk seperti Swandaru. Tetapi justru Swandaru menjadi pantas. Wajahnya yang bulat dan cerah itu memancarkan kesan keterbukaan hatinya.” Ki Argajaya ber¬henti sejenak. Lalu, “Tetapi kalau kau memandang kening, hidung, dan alisnya, keduanya mempunyai banyak persamaan.”

Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia terkejut ketika ia mendengar ayahnya bertanya, “Kenapa?”

“O, tidak apa-apa,” anak muda itu tergagap. Lalu, “Bu¬kankah, Swandaru kelak akan menjadi ipar sepupuku?”

“Ya. Agaknya demikian, meskipun masih belum resmi.”

Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Katanya ke¬mudian, “Sekar Mirah adalah gadis yang luar biasa. Dengan mudah ia menguasai kawanku yang bertubuh kekar seperti badak itu.”

“Gurunya pun luar biasa, meskipun rendah hati seperti guru Swandaru.”

“Tetapi, saudara seperguruan Swandaru itu terlampau sombong.”

“Agung Sedayu maksudmu?”

“Ya. Ia menganggap aku seorang tawanan. Sampai saat ia meninggalkan rumah Paman Argapati.”

“He. Kau salah, Prastawa. Ia anak yang baik. Ia tidak berbuat apa-apa ketika ia melihat kedatanganmu dan kawanmu di rumah beberapa saat yang lalu.”

“Tetapi agaknya ia merasa tidak pantas berbicara dengan aku. Tidak seperti Swandaru, yang suka berkelakar.”

“Itu adalah sifatnya. Ia pendiam.”

Prastawa terdiam sejenak. Terbayang perkelahian yang terjadi sebelum ia kembali kepada ayahnya, ketika Agung Sedayu berada di bukit bersama Pandan Wangi. Kekalahannya saat itu tidak dapat dilupakannya.

Tetapi tiba-tiba terbersit suatu pertanyaan di hatinya, “Kenapa aku mendendam Agung Sedayu, dan tidak kakak Pandan Wangi?”

Prastawa menelan ludahnya.

Dan ayahnya berkata, “Agung Sedayu pun anak yang baik. Memang sifatnya agak berbeda dengan anak yang gemuk itu. Tetapi bukan maksudnya menyombongkan dirinya.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia bertanya, “Apakah benar, Agung Sedayu itu bakal suami Sekar Mirah?”

“Ya. Tetapi itu pun belum resmi seperti Swandaru dan Pan¬dan Wangi, meskipun orang tuanya tidak berkeberatan seperti juga Kakang Argapati.”

Prastawa tidak menjawab. Tetapi ia tidak mengerti, kenapa wajah gadis, yang bernama Sekar Mirah, itu selalu membayang. Gadis itu begitu tenangnya menghadapi keadaan. Pada saat ia datang ke rumahnya, langsung memasuki bilik ibunya yang ditempati oleh gadis, yang bernama Sekar Mirah itu, gadis itu sama sekali tidak menjadi ketakutan. Justru ia tersenyum penuh keper-cayaan kepada diri sendiri, bahwa ia akan dapat mengatasi setiap persoalan yang tumbuh.

“Gadis itu luar biasa,” desisnya tanpa sesadarnya.

Prastawa terkejut ketika ayahnya bertanya, “Siapa?”

“Maksudku, Sekar Mirah itu hampir seperti Kakak Pandan Wangi. Meskipun ia seorang gadis, tetapi ia mampu melindungi dirinya sendiri. Bedanya, Kakak Pandan Wangi bersenjata sepa¬sang pedang yang ringan, justru gadis ini mempunyai senjata yang aneh. Tongkat baja putih dan berkepala tengkorak yang berwarna kekuning-kuningan.”

“Senjata yang diterima turun-temurun, dari guru ke muridnya.”

Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Tetapi ia tidak
berkata-kata lagi.

Namun pertanyaan-pertanyaan Prastawa itu telah memberikan kesan yang aneh pada Ki Argajaya. Agaknya anak itu menaruh per¬hatian pada Sekar Mirah. Tetapi Ki Argajaya tidak tahu, apa¬kah yang agaknya telah menarik hati anaknya. Mungkin justru karena senjatanya yang aneh itu, atau karena jarang sekali terdapat seorang gadis yang memiliki kemampuan seperti Sekar Mirah dan Pandan Wangi di atas Tanah Perdikan ini. Justru kebanyakan gadis-gadis hanya menunggu hari-hari perkawinannya dengan menganyam tikar, atau menunggui perapian untuk membuat gula kelapa di rumah.

“Anak itu akan segera melupakannya,” berkata Ki Arga¬jaya kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, Ki Tanu Metir, Ki Sumangkar, dan murid-muridnya berjalan semakin lama semakin menjauhi pedukuhan induk. Namun di sepanjang jalan beberapa orang yang mengenalnya, selalu menganggukkan kepalanya sambil bertanya, “Kemanakah kalian akan pergi?”

“Kami akan menengok rumah kami,” jawab Kiai Gring¬sing.

“O, apakah kalian tidak akan kembali kemari?”

“Tentu. Kami akan kembali lagi.”

“Selamat jalan.”

“Terima kasih.”

Bahkan ada orang-orang yang mencoba untuk mempersilahkan mereka singgah.

“Kami akan senang sekali kalau kalian tinggal di rumah kami sehari dua hari.”

“Maafkanlah. Kami harus segera menyeberangi sungai Praga.”

“Kenapa tergesa-gesa?”

“Tidak apa-apa. Tetapi anak-anak sudah rindu kepada kampung halaman.”

Demikianlah, maka mereka berlima berjalan semakin lama semakin cepat. Matahari yang memanjat langit pun menjadi se¬makin lama semakin tinggi pula. Panasnya pun menjadi semakin tajam menggigit kulit.

Semakin lama, maka padukuhan-padukuhan pun menjadi semakin jarang dan kecil. Hampir tidak ada lagi orang-orang yang mengenal mereka, Orang-orang di padukuhan-padukuhan itu adalah orang yang setiap hari selalu tenggelam di dalam kerja, seperti yang selalu mereka lakukan sehari-hari. Pagi bangun tidur, makan sekedarnya, lalu pergi ke sawah. Di siang hari mereka berhenti. Makan dan minum. Kemudian mereka melanjutkan kerja sampai matahari menjadi sangat rendah. Di senja hari mereka pulang, singgah di sungai sebentar membersihkan diri dan alat-alat mereka. Barulah mereka pulang. Kadang-kadang mereka masih makan sore, tetapi kadang-kadang sudah tidak lagi. Mereka langsung pergi tidur apabila tidak ada keper¬luan yang penting untuk keluar rumah.

Meskipun demikian, hidup mereka tampaknya sangat tente¬ram. Mereka sama sekali tidak mengacuhkan apa pun yang terjadi di luar pedukuhan mereka. Namun demikian, kemajuan tata kehi¬dupan mereka pun sangat lamban, karena seolah-olah mereka menutup pintu padukuhan mereka dengan tata kehidupan yang sudah mereka miliki itu.

Ternyata, tata kehidupan yang demikian itu sangat menarik perhatian Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah. Kehidupan yang sangat sederhana.

“Apakah mereka akan tetap dalam keadaan yang demikian itu sampai puluhan tahun mendatang?” bertanya Agung Sedayu.

“Tentu tidak.” jawab Kiai Gringsing.

“Tetapi kalau tidak ada seseorang yang berani memasuki daerah itu dengan membawa adat dan cara-cara yang lebih baik untuk meningkatkan kehidupan mereka, mereka akan tetap dalam keadaannya,” sahut Swandaru.

“Bukankah tanah ini masih tlatah Menoreh?” tiba-tiba Kiai Gringsing bertanya.

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Nah. Kalau demikian, akan menjadi tugas Swandaru kelak untuk menerobos masuk sampai ke padukuhan yang terpencil ini.”

“Ah,” desis Swandaru, sedang Sekar Mirah tertawa sambil berkata, “Tetapi jangan kau mulai sejak sekarang. Kau sekarang belum apa-apa di sini.”

“Kupuntir telingamu,” potong Swandaru. Tetapi Sekar Mirah masih saja tertawa.

Sementara itu, langkah mereka menjadi semakin jauh. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, ternyata matahari telah melampaui puncak langit.

“Hem, aku haus,” desis Sekar Mirah.

“Kau tadi membawa bekal makanan dari Pandan Wangi, bukan?” bertanya Swandaru.

“Aku haus, tidak lapar,” jawab Sekar Mirah.

Swandaru terdiam. Tetapi mereka masih berjalan terus.

Sejenak kemudian mereka pun segera sampai ke hutan-hutan rindang. Hutan perburuan yang memanjang, sebelum mereka memasuki hutan lebat di seberatag hutan perburuan ini.

“Apakah kita akan langsung mencari tempat kediaman Ki Gede Pemanahan dan puteranya, Sutawijaya?” bertanya Swan¬daru kemudian.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tentu tidak. Kita ingin mengetahui keadaan sebenarnya. Kalau kita langsung mengunjungi Ki Gede Pemanahan dan puteranya, maka kita tidak akan dapat melihat seluruh segi kehidupan di daerah baru itu. Kita hanya akan melihat apa yang pantas kita lihat, sehingga kita tidak akan dapat menilai daerah itu seperti yang sebenarnya, dipandang dari sudut kepentingan kita masing-masing. Bagi Sangkal Putung dan bagi Tanah Perdikan Menoreh.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Besok kita akan memasuki daerah itu. Kita akan melihat apakah yang sedang tumbuh itu akan bermanfaat bagi kita, bagi daerah-daerah di sekitarnya dan bagi keseluruhan keluarga besar di Pulau Jawa ini.”

“Pulau Jawa?” Swandaru mengerutkan keningnya.

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Swandaru mengerutkan keningnya. Gurunya telah menyebut suatu tempat yang hanya dapat dibayangkan oleh Swandaru, Pulau Jawa. Suatu daerah yang tentu sangat luas.

“Apakah hubungannya daerah yang baru dibuka itu dengan Pulau Jawa?” bertanya Swandaru kemudian.

Gurunya tertawa. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Bukan salahmu, kalau kau mengajukan pertanyaan itu. Akulah yang seharusnya menunjukkan kepadamu, bahwa daerah baru itu akan mempengaruhi keadaan Pulau Jawa seluruhnya.”

“Tetapi, bukankah Pulau Jawa itu terbentang dari ujung Timur sampai ke ujung Barat?”

“Ya.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk mem¬bayangkan, berapa luasnya daerah yang disebut oleh gurunya itu, Pulau Jawa.

“Apakah Pajang juga mempunyai pengaruh yang luas atas Pulau Jawa?” bertanya Agung Sedayu.

“Kau pernah mendengar hal itu?”

“Aku memang pernah mendengar.”

“Nah. Sekarang kalian tahu, bahwa pengalaman kalian itu baru setetes dari air yang melimpah-limpah di telaga. Tetapi untunglah bahwa kalian berada dekat dari pusat pemerintahan, yang mempengaruhi Pulau Jawa itu.”

“Maksud Guru?”

“Meskipun sudah jauh surut, tetapi Pajang memang masih mempunyai pengaruh atas Pulau Jawa. Di saat-saat terakhir Demak masih mengikat kesatuan banyak daerah-daerah di pesisir Utara mem¬bujur ke Timur. Tetapi sebagaimana kalian mengetahui, perpe¬cahan di saat-saat lahirnya Pajang, telah membuat ikatan itu semakin kendor, sehingga banyak sekali daerah-daerah yang merasa berhak berdiri sendiri-sendiri. Kesatuan yang pernah dibina pada jaman Majapahit itu pun sedikit demi sedikit menjadi mundur.”

“Majapahit pernah mempersatukan bukan saja Pulau Jawa,” berkata Agung Sedayu.

“Ya. Nusantara. Pulau-pulau yang dibatasi oleh lautan-lautan yang luas.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang pernah mendengar ceritera tentang kebesaran Majapahit. Perpecahan yang kemudian terjadi, sehingga yang masih dapat dilihatnya adalah perpecahan antara Pajang dan Jipang sepeninggal Sultan Demak yang terakhir.

Sekilas terbayang Kademangan Sangkal Putung yang kaya raya. Tetapi Sangkal Putung adalah sebagian kecil, kecil sekali dari seluruh Pulau Jawa. Seluruh Nusantara.

Namun kemudian terbersit pertanyaan di hatinya, “Benar¬kah Sutawijaya itu mampu berbuat sesuatu yang akan dapat mempengaruhi seluruh pulau Jawa? Memang ia mempunyai banyak kelebihan dari kami, aku dan Kakang Agung Sedayu, tetapi dalam suatu saat kami pun mampu memiliki ilmu setingkat itu. Dan apabila demikian, apakah kami pun mampu berbuat sesuatu yang dapat berkumandang sampai ke ujung-ujung pulau Jawa ini?”

Tetapi Swandaru tetap menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya.

“Kalau kalian ingin lebih jelas lagi,” berkata Kiai Gring¬sing, “bertanyalah kepada Ki Sumangkar. Sebagai seorang yang selalu berada di lingkungan kepatihan, ia pasti jauh lebih menge¬tahui masalah-masalah pemerintahan daripada aku.”

“Ah,” desis Sumangkar. Namun Sekar Mirah segera bertanya, “Benarkah begitu, Guru?”

“Aku adalah seorang juru masak di kepatihan.”

Kiai Gringsing tertawa. Tetapi ia tidak berkata apa-apa.

“Seharusnya Guru sering berceritera kepadaku tentang susunan pemerintahan. Kalau Guru berceritera, hanyalah sekedar garis besarnya saja. Pada suatu saat aku ingin mengetahui lebih banyak lagi, sehingga aku dapat membayangkan tata pemerin¬tahan dari suatu negara yang besar. Bukan sekedar sebuah kademangan. Dengan demikian kami tidak merasa bahwa seolah-olah yang paling penting di muka bumi ini.”

Sumangkar tersenyum. Desisnya, “Kiai membebani aku pekerjaan yang aku tidak mengerti.”

Kiai Gringsing pun tertawa pula. “Sudah waktunya hati anak-anak itu terbuka, melihat dunia yang semakin luas ini. Dengan demikian mereka sadar, bahwa lingkungan mereka sebenarnya amat luas. Bukan sekedar pasukan Tohpati yang berada di sekitar Sangkal Putung, kemudian datang Widura dan Untara membawa sebagian kecil dari pasukannya. Anak-anak harus tahu, bahwa itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan ceritera mengalirnya peme-rintahan sejak jaman dahulu kala. Sejak jaman Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Bahkan sebelumnya, sampai pada jaman kebesaran Majapahit, kemudian menurun dengan pesatnya sejak Demak kehilangan rajanya yang terakhir.

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bukankah masalah Tohpati yang kehilangan sasaran per¬juangannya itu akan menjadi sangat berlainan dengan saat-saat daerah baru yang sedang tumbuh ini? Benturan antara Tohpati dan Untara di sekitar Sangkal Putung adalah merupakan babak-babak terakhir dari tenggelamnya kekuasaan Adipati Jipang. Masalah¬nya merupakan masalah yang dapat dibatasi menjadi masalah setempat, Sangkal Putung. Tetapi yang sedang tumbuh ini mendapat sorotan dari segenap wilayah Pajang, karena justru Ki Gede Pemanahan sendiri yang menyingkir dari lingkungan istana, setelah Ki Penjawi menempati tanahnya yang baru, Pati.”

Kedua orang-orang tua itu tiba-tiba berpaling ketika mereka mendengar Swandaru berdesah.

“Swandaru,” berkata Kiai Gringsing “kau dan Agung Sedayu harus mencoba untuk mengerti masalah-masalah ini. Kalian akan mempunyai wewenang meskipun di daerah yang kecil. Tetapi daerah-daerah yang kecil itulah yang menumbuhkan daerah yang lebih besar dan seterusnya.”

Keduanya pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Terbayang di hadapan mereka masalah yang jauh lebih besar dari api yang membakar Tanah Perdikan Menoreh.

Masalah daerah baru yang dimulai dengan nada yang sum¬bang itu akan langsung menyangkut pimpinan tertinggi peme¬rintah. Seperti pada masa Adipati Jipang masih ada. Bukan sekedar pecahan-pecahan pasukan yang berserakan.

Dengan demikian, maka kelima orang itu harus memper¬siapkan dirinya untuk memasuki suatu daerah yang masih di bayangi oleh kekelaman, seakan-akan mereka hendak meloncat ke dalam gelap. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya ada di belakang kegelapan itu.

Mereka baru mendengar daerah baru itu dari Sutawijaya. Yang barang tentu, akan memiliki masalah-masalah yang dapat dikatakannya. Yang tidak, tentu akan disembunyikannya.

Karena itu, Kiai Gringsing sudah bertekad untuk melihat daerah baru itu langsung tanpa memberitahukan lebih dahulu kepada Sutawijaya, apalagi Ki Gede Pemanahan.

Namun pada hari itu kelima orang itu tidak dapat langsung mencapai Alas Mentaok. Hutan yang lebat di sebelah-menyebelah Kali Praga, agaknya menghambat jalan mereka. Mereka harus mencari jalan setapak yang sering dilalui para pedagang yang saling tukar menukar barang-barang antara mereka yang tinggal di sebelah sungai.

Tetapi kelima orang itu sadar, bahwa kadang-kadang di perjalanan mereka menjumpai penyamun yang masih saja berkeliaran. Apa¬lagi dengan tumbuhnya daerah baru, maka jalan setapak itu menjadi lebih sering dilalui, sehingga para penyamun menjadi semakin mantap melakukan pengintaian. Meskipun demikian, kadang-kadang para penyamun itu gagal melakukan kegiatannya, karena serombongan pedagang yang lewat, dikawal oleh orang-orang yang cukup mampu melayani penyamun-penyamun kecil yang berkeliaran itu.

“Kita bermalam di sebelah Timur sungai,” berkata Kiai Gringsing. “Besok kita mencari tempat yang baik untuk mem¬buat gubug. Kita akan tinggal di tempat itu untuk sementara.”

“Kita akan tinggal?” bertanya Sekar Mirah.

“Ya.”

“Berapa hari?”

“Aku tidak dapat menyebutkan, Mirah. Mungkin sehari, mungkin sebulan.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata, “Sebenarnya aku ingin tinggal bersama Kiai, Kakang Swandaru, dan Kakang Agung Sedayu,” suaranya tiba-tiba merendah. Sambil berpaling kepada gurunya ia bertanya, “Tetapi bagaimana dengan ibu di rumah, Guru?”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab.

Sebenarnya Sumangkar tidak begitu senang untuk ikut men¬campuri persoalan daerah baru itu, meskipun ia mengerti, bahwa masalahnya akan langsung menyangkut Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi sebagai seseorang yang baru saja dilepaskan dari segala tuntutan oleh Pajang, karena ia langsung atau tidak langsung berada di dalam pasukan Tohpati, maka untuk ikut serta di dalam persoalan yang akan menyangkut juga Pajang, ia agaknya menjadi segan. Jauh-jauh telah terbayang di angan-angannya, bahwa ia akan menjumpai banyak kesulitan apabila masalah daerah baru itu nanti berkembang seperti yang diper¬hitungkannya, meskipun tidak dalam waktu yang dekat.

Kalau Ki Gede Pemanahan dan Sultan Pajang masing-masing tetap di dorong oleh perasaannya, maka jarak antara Pajang dan daerah baru itu akan menjadi semakin panjang.

Sudah tentu ia tidak akan dapat menjerumuskan dirinya sekali lagi dalam persoalan-persoalan yang tidak sejalan dengan hati nuraninya, seperti adanya di dalam pasukan Tohpati, karena ia merasa terikat oleh suatu keharusan.

Kali ini, ia pun melihat kedua belah sisi yang saling berha¬dapan itu pun telah mengikatnya. Ia merasa berhutang budi kepada Pajang yang telah melepaskannya dari segala tuntutan. Sultan Pajang tidak menjatuhkan hukuman atasnya, karena ia tahu, bahwa bukan seperti yang dilakukan oleh Tohpati, bahkan oleh Adipati Jipang itulah yang dimaksudkan oleh Sumangkar.

Tetapi ia tahu benar, bahwa penjelasan tentang pendiriannya itu sebagian terbesar diberikan oleh Ki Gede Pemanahan, yang menerima langsung penyerahan sebagian laskar Tohpati, yang menyerah di Sangkal Putung.

Karena itu, apabila ia melibatkan diri di dalam masalah yang sedang tumbuh itu, ia akan menjumpai banyak kesulitan di dalam dadanya sendiri.

Ki Sumangkar terkejut ketika ia mendengar Sekar Mirah mendesaknya, “Bagaimana, Guru. Apakah ibu tidak terlampau cemas?”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Sekar Mirah. Aku tahu kesulitanmu. Kau ingin tinggal di sini bersama kakak-kakakmu, tetapi kau juga mencemaskan ibumu. Bukan¬kah begitu?”

“Ya, Guru.”

“Dan aku juga mengerti, bagaimana perasaan seorang ibu. Padahal, selama ini kau tidak pernah berpisah daripadanya.”

“Ya, Guru.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Gringsing seakan-akan ia minta pertimbangan tentang muridnya itu.

Tetapi yang pertama-tama menyatakan sikapnya adalah Swandaru. “Mirah. Sebaiknya kau pulang saja dahulu. Katakan kepada ayah dan ibu, agar mereka bersiap-siap dengan sepengadeg pakaian yang paling baik yang ada di Sangkal Putung. Seperang¬kat upacara peningset dan pedang bertangkai gading itu.” Swandaru berhenti sejenak. Lalu, “Ceriterakan kepada ayah dan ibu, bahwa kita bersama-sama akan pergi melamar gadis Tanah Perdikan Menoreh. Selain itu, dengan demikian ibu pun tidak akan terlampau lama menunggu. Aku yakin bahwa ibu tidak akan pernah dapat tidur nyenyak setiap malam. Kalau salah seorang dari kita sudah datang, dan membawa kabar baik, maka orang tua kita tidak akan terlampau cemas lagi.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Kenapa bukan kau saja yang pulang?”

“Aku di sini bersama guru dan Kakang Agung Sedayu, itu lebih pantas daripada kau yang tinggal di sini.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Ia memang sedang bimbang, apakah ia tinggal bersama kakaknya dan Agung Sedayu, atau pulang dahulu menemui ibu dan ayahnya.

Dalam kebimbangan itu terdengar Kiai Gringsing berkata kepadanya, “Memang sebaiknya kau kembali lebih dahulu, Sekar Mirah.”

“Apakah aku akan mengganggu di sini?” ia bertanya.

“Tentu tidak,” jawab Kiai Gringsing, “karena kau bukan seorang gadis yang hanya dapat menggantungkan kesela¬matannya kepada orang lain. Kau, seperti juga Pandan Wangi, akan dapat membantu kami apabila terjadi sesuatu. Bahkan sudah tentu juga gurumu, Ki Sumangkar. Tetapi yang kita pikirkan bersama adalah ayah dan ibu. Swandaru pergi sudah sekian lama. Kemudian kau dan gurumu menyusulnya. Tetapi keduanya tidak terdengar kabar beritanya.”

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Wajahnya masih juga dibayangi oleh keragu-raguan.

“Baiklah, kau aku antar pulang, Mirah,” berkata Ki Su¬mangkar. “Seperti kata Kiai Gringsing, soalnya adalah ayah dan ibumu. Terutama sekali ibumu. Meskipun kepergianmu kali ini tidak seperti kepergianmu ke Tambak Wedi, namun sebagai ibu, maka ia pasti akan selalu mengharap kau segera kembali.”

Sejenak Sekar Mirah merenung. Kemudian jawabnya, “Aku akan menentukan kemudian. Biarlah aku ikut semalam dua malam berada di Alas Mentaok.”

Sejenak Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar saling berpan¬dangan. Namun keduanya kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Berkata Kiai Gringsing, “Apakah begitu menurut pertimbanganmu, Adi Sumangkar?”

“Baiklah. Biarlah ia melihat semalam dua malam suasana hutan yang lebat itu, meskipun sebagian sudah menjadi daerah yang ramai.”

Maka mereka pun kemudian memutuskan, bahwa Sekar Mirah akan beserta dengan mereka meskipun hanya semalam atau dua malam di tlatah Alas Mentaok.

Demikianlah, maka ketika hari telah menjadi buram, kelima orang itu pun segera mencari tempat yang baik untuk bermalam. Meskipun mereka sudah berada di sebelah Timur Sungai Praga, tetapi mereka masih belum sampai ke daerah yang telah dibuka oleh Ki Gede Pemanahan.

“Di sini ada jalan,” desis Sekar Mirah.

“Jalan setapak,” sahut Gurunya, “tentu jalan para peda¬gang yang datang dari daerah di luar daerah baru itu, termasuk dari Tanah Perdikan Menoreh.”

“Bukan ini,” jawab Sekar Mirah, “jalan dari Menoreh adalah jalan sempit yang kita lalui. Tetapi ini jalan menuju ke daerah yang lain.”

“Ya, jalan yang serupa. Mungkin ada padukuhan atau tempat-tempat yang berpenghuni di ujung lorong sempit ini.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Memang menarik,” sela Agung Sedayu.

“Apa yang menarik?” bertanya Swandaru. “Lorong ini lorong biasa saja. Apakah anehnya? Seperti juga lorong yang kita lalui ini.”

“Memang, tidak ada hal-hal yang tampaknya menarik. Lorong sempit di tengah-tengah hutan yang lebat. Meskipun masih terlampau sulit untuk dilalui begitu saja, tetapi tampaknya lorong ini memang pernah dilalui orang.”

“Bukan sekedar pernah, tetapi setiap kali. Mungkin sepe¬kan sekali, atau selapan sekali.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkam kepalanya. Sekilas dipandanginya Gurunya yang masih tetap berdiam diri.

“Yang menarik,” berkata Agung Sedayu kemudian, “sebuah simpang empat di tengah-tengah hutan.”

“Ya, simpang empat kecil. Lihat, ujung-ujung lorong ini tam¬paknya aneh. Seperti juga lorong yang menuju ke Menoreh ini, sebelum kita lalui tampaknya aneh pula, seolah-olah sebuah lubang goa di kaki sebuah gunung, yang kadang-kadang terhalang oleh sulur-sulur dan pepohonan yang roboh,” berkata Sekar Mirah.

Dan tiba-tiba saja Kiai Gringsing berkata, “Kita mencari tempat untuk bermalam.”

“Di simpang empat ini?” bertanya Sekar Mirah.

“Tentu tidak,” jawab Kiai Gringsing. “Di sebelahnya. Tetapi tidak terlampau dekat.”

Mereka pun kemudian menemukan tempat yang mereka ke¬hendaki. Secercah tanah yang tidak begitu banyak ditumbuhi oleh pepohonan perdu meskipun agak lembab.

Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah segera member¬sihkan tempat itu. Mereka menimbun ranting-ranting dan dedaunan kering untuk tempat duduk, karena mereka tidak akan tidur sambil berbaring.

“Hati-hatilah dengan ular,” Kiai Gringsing memperingat¬kan, “di sini ada ular yang paling berbisa di seluruh daerah yang pernah diambah kaki manusia,”

“Ular apa, Kiai?”

“Bandotan tanah.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bulu-buluku meremang. Aku lebih senang bertemu dengan Sidanti daripada ular.”

“Tentu setelah Sidanti tidak ada lagi.”

“He,” Swandaru membelalakkan matanya. “Justru seka¬rang kalau ia datang, aku akan mati lemas.”

Agung Sedayu tertawa kecil. “Sudahlah. Kita akan makan,”

“Aku haus,” desis Sekar Mirah.

“Bukankah kau sudah minum tadi di belik dekat sungai Praga?”

“Sekarang aku haus lagi.”

“Tahankanlah. Besok kita cari mata air, kau harus melatih diri menjadi seorang perantau.”

Sekar Mirah terdiam. Dipandanginya Swandaru yang makan bekal mereka dengan lahapnya.

Namun dalam pada itu, simpang empat itu memang menarik perhatian Kiai Gringsing, meskipun tidak dikatakannya. Setiap kali ia berpaling ke arah jalan sempit yang menyilang jalan yang dilaluinya.

“Lorong itu, Kiai,” tiba-tiba Ki Sumangkar berdesis.

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya, “Mungkin aku terlampau hati-hati. Mungkin Swandaru benar, bahwa lorong itu tidak ada anehnya seperti lorong yang kita lalui,” orang tua itu berbisik.

Sumangkar terdiam sejenak. Namun kemudian ia pun meng¬angguk-anggukkan kepalanya pula. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Sementara itu, Swandaru, Agung Sedayu, dan Sekar Mirah, yang telah selesai menyuapi mulut masing-masing, duduk bersandar batang-batang pohon yang tidak terlampau rimbun. Sekali-sekali mereka menggeliat sambil menggosok-gosok kaki mereka yang lelah.

“Kenapa Guru tidak makan?” bertanya Sekar Mirah, “Dan Kiai Gringsing juga tidak?”

“Nanti sajalah,” jawab Sumangkar.

“Kami sudah menyisihkan untuk Kiai berdua.”

“Terima kasih. Biarlah di situ. Nanti, kalau kami sudah lapar, kami akan mengambilnya.”

Sekar Mirah tidak bertanya lagi. Sekali ia menengadahkan wajahnya. Namun tiba-tiba saja bulu-bulunya meremang. Dalam kesu¬raman senja, dedaunan yang rimbun di atasnya tampaknya bagai¬kan tangan-tangan raksasa yang siap untuk menerkamnya.

Swandaru yang kemudian duduk sambil memeluk lututnya memandang jauh menerawang ke dalam kesuraman. Meskipun demikian ia masih sempat melihat sekilas seekor kijang yang berlari kencang.

“He. Kijang,” desisnya.

“Apakah kau akan mengejarnya?” bertanya Agung Sedayu.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih bergumam, “Aku mengharap ada seekor harimau yang menerkam salah seorang dari kita.”

“Kenapa, he?”

“Aku memerlukan kulitnya.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau yakin bahwa kita dapat membunuh harimau itu?”

“Apalagi seekor harimau, sedang Macan Kepatihan pun dapat dibunuh.”

“Tetapi bukan kau yang membunuhnya.”

Swandaru tidak menyahut. Matanya kembali tersangkut ke kejauhan.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang duduk berdekatan, masih juga saling berdiam diri. Sambil memandang murid-muridnya, mereka merenungkan masalah yang mereka hadapi. Daerah baru yang ada di sebelah bagian hutan ini.

Malam pun semakin lama menjadi semakin malam. Karena nyamuk yang berterbangan di telinga Swandaru, anak itu berdesis, “Kita nyalakan perapian, Kiai.”

Tetapi Kiai Gringsing menggeleng. “Kali ini kita tidak menyalakan perapian.”

“Nyamuknya banyak sekali, belum lagi embun yang dingin ini.”

Yang menjawab adalah Sekar Mirah, “Tahankanlah. Kau harus melatih diri menjadi seorang perantau.”

Swandaru tidak menyahut. Diselubungkannya kain panjangnya menutup telinganya.

Namun sebentar kemudian, karena kantuk dan lelah, maka ketiga anak-anak muda itu pun segera jatuh tertidur. Sekar Mirah bersandar sebatang pohon, Swandaru memeluk lututnya dan mem¬benamkan kepalanya di antara lengan-lengannya. Sedang Agung Sedayu duduk bersila sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

“Anak-anak sudah tidur,” desis Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar menganggukkan kepalanya. “Ya. Mereka merasa lelah juga.”

“Lebih dari itu, mereka merasa aman. Itulah sifat anak-anak nakal. Orang tua jugalah yang harus menungguinya.”

Sumangkar tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut.

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka pun merasa perlu pula untuk beristirahat, meskipun tidak tidur senyenyak murid-murid mereka. Bahkan tanpa berjanji, keduanya seolah-olah telah membagi waktu mereka, apabila sesuatu terjadi di tempat yang kurang mereka kenal itu.

Angin yang lembab, yang mengusap tubuh-tubuh mereka, mengalir perlahan-lahan. Daun-daun yang berdesir gemerisik seperti suara orang yang berbisik-bisik.

Lamat-lamat di kejauhan terdengar suara binatang-binatang hutan. Seekor harimau mengaum dengan dahsyatnya, sehingga Swandaru terbangun karenanya.

“Apakah harimau itu akan datang kemari?” desisnya.

Meskipun Agung Sedayu masih saja memejamkan matanya, namun ia menjawab, “Jauh sekali. Apalagi arah angin justru dari arah harimau itu, sehingga bau keringatmu tidak tercium olehnya.”

Swandaru tidak menyahut lagi. Kembali ia membenamkan kepalanya dan menutup telinganya dengan kain panjangnya. Te¬tapi sekali-sekali ia masih juga harus menggaruk-garuk lengannya yang gatal dimakan nyamuk.

Suasana malam di hutan itu telah membuat bulu-bulu roma Sekar Mirah meremang. Tetapi malam ini bukan untuk pertama kalinya ia bermalam. Ketika ia berangkat dari Sangkal Putung, ia pun telah bermalam di perjalanan. Dan sekali di tengah-tengah hutan seperti ini, meskipun Sumangkar membawanya lewat daerah yang tidak selebat tempat ini.

Dalam pada itu, selagi kedua orang-orang tua itu mulai terkantuk-kantuk, tiba-tiba hampir bersamaan mereka mengangkat wajah-wajah mereka. Meskipun masih berbaur dengan desir angin, namun mereka mendengar suara yang lain. Suara yang mereka kenal. Derap kaki-kaki kuda.

Sejenak kedua orang tua itu saling berpandangan. Kemudian perlahan-lahan Kiai Gringsing berdesis, “Kau dengar derap kaki kuda, Adi?”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. “Ya. Aku mende¬ngarnya meskipun agaknya masih jauh sekali.”

“Apakah ada orang yang lewat jalan setapak itu di malam begini?”

Sumangkar tidak segera menyahut. Sekilas disambarnya anak-anak muda yang sedang tidur itu dengan tatapan matanya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.

“Jalan silang itu memang menarik,” desis Kiai Gringsing.

“Mungkin juga, atau sekedar suatu kebetulan.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi ia memasang teli¬nganya baik-baik. Derap kaki-kaki kuda itu terdengar semakin lama menjadi semakin jelas.

Sejenak keduanya seakan-akan membeku. Mereka mencoba menebak, siapakah yang berkuda di malam hari, apalagi di tengah hutan yang lebat ini? Tetapi mereka sama sekali tidak dapat menduga apa pun karena mereka sama sekali belum mengenal daerah dan isi dari daerah ini.

Namun demikian jelas bagi keduanya, bahwa derap kuda itu agaknya menyusur jalan setapak yang menuju ke daerah baru yang sedang berkembang itu.

“Tidak hanya seekor kuda,” tiba-tiba Ki Sumangkar ber¬desis.

“Ya. Tiga atau empat,” sahut Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kembali ia terdiam.

Dalam pada itu, derap kaki-kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin jelas, sehingga ketiga anak-anak muda yang tertidur itu pun terbangun karenanya.

Sambil menggosok matanya, Swandaru mencoba meyakinkan dirinya, apakah ia tidak sedang bermimpi, sedang Agung Sedayu berdesis, “Aku mendengar suara derap kaki kuda.”

“Ha,” sahut Swandaru, “kalau begitu aku tidak ber¬mimpi.”

“Ya,” gumam Sekar Mirah dengan suara parau, “aku juga mendengar.”

“Tenanglah,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “Tinggalah kalian di sini. Aku akan melihat, siapakah yang berkuda di tengah malam itu.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:36  Comments (70)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-51/trackback/

RSS feed for comments on this post.

70 KomentarTinggalkan komentar

  1. mas dd , kuwi posisi orangnya apa posisi servernya ?

    D2: Posisi pengunjung, On

  2. tenan yo tak enteni tekanmu le….jam 10.00 thit!!,
    “matur nuwun dateng poro crew ingkan sampun caos tenogo, wektu lan biaya kagem pisowanan wonten in moyo meniko.”

  3. jam 10 WIB atau waktu amrik ??

    DD: WIB sama CST sama kok, cuma beda siang dan malam aja

  4. “Prastawa…., jangan kau undur2 lagi. Cepat serahkan jilid 51 malam ini juga, jam 10 tit” teriak Sekar Mirah.

  5. maaf .. belum bisa batu rakyat Menoreh … sedang sibuk mendapat tugas dari Sultan Pajang memantau perkembangan di Alas Mentaok.

  6. weh… kok masaryo minta malem ini juga?

    Bukannya besok jam 10 pagi?

    xixixi 😀

  7. sabar subur gelis katur jilid seketsiji

  8. Gupala memandang langit sebelah timur yang semburat merah. Dan seakan-akan dia pun menjadi sangat gelisah.

    Gupita berdesis, “agaknya kau menjadi waringuten, ada apakah yang mengganggu pikiranmu?”

    “Matahari seolah-olah lambat sekali bergerak..,” Gupala bergumam

    “Ah, itu hanya perasaanmu saja. Apakah yang kau harapkan dari matahari itu?”

    “Seharusnya matahari itu hendaknya segera meloncat ke atas, sehinga kitab no limah puluh satu menjadi ikut muncul…,”

  9. wah jarang2 lancar, sekali download sung berhasil

  10. belum keliatan juga….

  11. Pandan Wangi menjadi terdiam, diendapkannya kemarahannya. Sedang Swandaru masih asik mengunyah jenang nangka di depannya, tak dihiraukannya permintaan Pandan Wangi barusan.

    Agung Sedayu yang telah mengenal tabiat saudara seperguruannya hanya dapat menghela nafas.
    “Semoga hal ini tidak membuat Pandan Wangi menjadi berpikiran lain. Dia harus lebih dapat memehami watak Swandaru, dengan demikian mereka akan menjadi keluarga yang semakin mapan. Sedang adi Swandaru juga seharusnya ..”

    Belum selesai pemikirannya, tiba-tiba terdengar teriakan Sekar Mirah. “Kakang .. kakang Swandaru.. kenapa kakang masih disini.” Masih berteriak Sekar Mirah melanjutkan, “lihat matahari telah hampir sepenggalah.. cepat kakang… semua sudah menunggu kakang.”

    Swandaru terkejut mendengar teriakan itu. Hampir saja dia tersedak jenang nangka, buru-buru jenag alot itu ditelannya. Agung Sedayu dan Pandan Wangi tak kalah terkejut. Tanpa sadar keduanya mendongak ke atas. “Hampir saatnya..” terdengar Agung Sedayu mendesis.

    “Kakang.. sebentar lagi Ki Gede akan membuka perayaan di banjar desa dan aku tidak ingin tertinggal. Aku ingin berdiri paling depan. Jika kakang lebih menyukai jenang itu. Baik lah kakang disini saja.” Sekar Mirah segera meraih tangan Pandan Wangi. Diliriknya Agung Sendayu agar mengikutinya.

    Agung Sedayu hanya menghela napas. Dilangkahkan kakinya menyusul kedua perempuan itu. “Keramaian di banjar itu begitu menarik .. pasti akan jauh lebih menarik dari jenang nangka itu,” gumamnya.

    Swandaru segera bangkit, masih sempat dimasukkannya beberapa buah jenang nangka dalam bajunya. “Wangi.. Mirah.. tunggu.. bukannya pembukaannya masih lama.. kakang.. tunggu aku, kakang..”

    Perayaan kemenangan itu memang akan berlangsung dalam sepekan, tapi siapa yang mampu menunggu jika dalam perayaan itu akan dibagikan kitab 51. Satu setengah jam dari sekarang .. sedang waktu terus berjalan.
    Jelas .. Sukra tidak mau tertinggal.

  12. Mas DD rakyat Menoreh sudah pada tidak sabar menunggu, harus segera dicermati, kalau tidak bisa pada bergabung dengan Prastawa dkk hehehe…..

  13. Matahari sudah mendekati sepenggalah. Para cantrik sudah mulai berkumpul. Sayang, baru dapat tugas keluar …

  14. ” Ck..ck..ck… Tepat waktu, keluar juga sesuai woro-woronya.. ” gumam gembala tua.

  15. Wah, pas banget. Jam 10 teng ….

  16. akhirnya …..

  17. “Sukra? Hmm, ke mana lagi dia?” gumam Sekar Mirah. “Lele-lele itu belum lagi disiangi. Katanya mau membuatkan mangut,” gerutunya lagi.

    Lalu dibukanya perlahan-lahan pintu lereg yang mengarah ke halaman belakang, dan dengan hati-hati dijengukkannya kepalanya. “Astaga,” desisnya, “sudah sedemikian tinggi matahari. Tetapi kok belum ada juga kabar dari Kakang Agung Sedayu? Apakah ia belum berhasil menguasai dan mengaplod jilid-51?”

  18. “Oh.. oh, ternyata aku yang keliru,” gumam Sekar Mirah cepat-cepat. “Kukira akan masuk lewat pintu butulan, jebulnya jee..”. Dengan tergesa-gesa perempuan itu masuk ke senthong tengah, dan ..kembali ke laptop. Donlod jilid-51.

    Matur suwun.

  19. 😀 😀 😀
    terdengar sukra di atas pohon tertawa, di depannya berserak lontar-lontar berisi kitab 51 😛

  20. Setelah selesai semua bundel ADBM ini, perlu dibuat bundel ADBM versi plesetan…isinya seperti comment yg muncul disetiap jilid….

  21. Hebat….dan salut….ternyata Ki DD Menoreh cepat dan tanggap keinginan rakyat Menoreh yang meletup-letup..hehehe….salut…salut…

  22. jadwal 52 belum ada ya ?

  23. “Ada gambar sampul, berarti ada harapan” jawab Sekar Mirah kepada Ki Sukra yang menanyakan jilid 52.

  24. “Cobalah bersabar, ngger, supaya semuanya berjalan dengan wajar. Dalamilah kitab 51 sebelum beranjak ke tingkat berikutnya.” tambah Ki Sumangkar.

  25. he3
    Menurut peta spasial yg dapat dipercaya, ternyata perguruan windujati sdh menyebar tidak saja di tlatah Demak-Pajang di tanah Jawa, tapi Australia, tanah Melayu, Philipinus, Jepon, Euro, bahkan Amrik..ternyata hebat perguruan orang bercambuk ya…mudah2an ilmunya gak semakin pudar hanya krn bedanya jarak dan waktu..

    GD: Itu pun belum menghitung bahwa pelajaran2 yg diberikan kpd para cantrik di padepokan ini juga direlay oleh padepokan lain (meskipun secara diam-diam). Dan padepokan2 yg merelay itu juga dikunjungi ribuan cantrik.

  26. # On November 12, 2008 at 1:42 pm Aulianda Said:

    “Ada gambar sampul, berarti ada harapan” jawab Sekar Mirah kepada Ki Sukra yang menanyakan jilid 52.
    …..
    sekedar nambah info.. sukra itu “batur” yang tinggal di rumah Agung Sedayu – Sekar Mirah. tugasnya ngisi pakiwan ato bikin mangut (lirik p_sawukir) jadi bukan ki ato kiai 😀

  27. Ki Dede Menoreh, maafkan saya, karena anak saya baru sakit, maka tugas untuk jilid 050 belum bisa aku kerjakan.

    GD: Gpp, Ki Pratama. Mudah2an yg sakit segera saras.

  28. Cool man……..
    tengkyu

  29. wah, baju baru. tambah cantik
    mangan sego kucing, karo nyawang prawan ayu..
    ki dede n ki sukra manteb tenan…

  30. DD, gimana kalau disisipkan kamus bahasa Jawa/Yogya yg menurut saya/rekan2 agak awam : seperti Jebeng, Gandok, Nenggala, dll. sampai sekarang aku belum ngerti apa arti kata2 tsb.

    trim

    D2: Usul yang baik. Akan kita sediakan halaman KAMUS. Para sederek-lah yang memberikan entrinya. Kita nanti tinggal susun menjadi susunan yg mudah.

  31. Beberapa istilah Jawa:

    Gandok = dapur
    Pring ori = bambu ori
    Jebeng = Ngger,Anak. Ki Pemanahan memanggil Sutawijaya sebagai Jebeng
    Pakiwan = lavatory, toilet (berasal dari kata pa-kiwa-an, kiwa = kiri, sebagai gambaran kalau membersihkan dengan tangan kiri)
    Agung = Besar, grand, prominent
    Geni = Api
    Pringgitan = ruangan di belakang pendopo, open structure in front of mansion, behind the pendopo, for showing shadow plays or receiving visitors

    Sumber:
    http://www.bausastra.com
    http://kamus.kapanlagi.com
    Beberapa istilah kemungkinan dapat dicari di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sayang sekali saat ini saya tidak membawa dan memegang KBBI.

  32. nuwun sewu kiai jebeng,

    sak pengertos kulo selaku wargo tlatah mataram (kulo saking bantul red, gandok meniko sanes dapur, anangging ruang tambahan ing kiwo utawi tengen rumah induk.

    (sepengetahuan saya sebagai orang asli mataram ; saya berasal dari bantul red, gandok itu bukan dapur, tetapi ruang tambahan yang besar yang berada di samping kanan atau kiri rumah induk.

    matur nuwun

  33. Hoax Asli,
    Hatur nuwun Nyi untuk 51-nya. Wah gambar covernya Agung Sedayu naik kuda, tapi kok bawa tombak ya? Berarti sudah siap menuju Madiun.

  34. Hua..ha..ha…

    Ki TP sampe nyasar-nyasat sampe sini. Ki TP juga bisa iseng ya.
    Ngaget-ngageti saja

  35. melu kesasar ah ….

    nek ra melu ndak ora dibagehi ….

  36. Asem tenan iki, melu kapusan nyasar mrene

  37. Wah .. senangnya bisa nyasar bareng ….

  38. Podo ngopo nang gondok 51, nyiapin makar yah mau memberontak Negeri Mataram !!!!, hahahahaha , kekekeke 😀 😀

  39. Ki TP seneng jebakane berhasil
    akeh seng nyasar

  40. Wah….

    Guyonan Ki TP memang cespleng.

    Saya yang mulai tadi siang pusing, sekarang jadi sembuh gara-gara ketawa terpingkal-pingkal karena ulah Ki TP yang nyasar dan membawa gerbong beberapa orang ke gandok 51.

    Terima mkasih Ki.

  41. melu-melu kesasar dech ……….

  42. hiks, memang kalo udah sakaw
    jadi gampang ketipu
    he he he

    ikut nyasar juga aah

  43. trims nyi gede kitab 51 nya….udah diunduh

  44. kalau jaman sekarang, Swandaru tentu sudah berteriak :
    “aku galauuuuuuuuuuuu………”

    • pada jaman itu bunyinya “ki mbleh kacau beliau……”

      • wuih…, wis tekan kene
        he he he …. sugeng dalu meh parak esuk Ki

        • Sugeng esuk2,,, 😀

          • …esuk2 maem karo gendhuk…eh..gethuk 😀

      • pada jaman yang akan datang “Ki AS berkicau belia”

        • “kemana dimana kemanaaaaaa,,,,,mungkin kayak gitu ya ki ”

          sugeng enjang sadaya kadang padepokan ADBM.

  45. melu mbukak alas,ben iso d tnduri klopo sawit..gkgkgk

    • wis mbukak…….pinten Ki ? 😀

      • terus terang bukak-bukak-an terang terus

        • sing dibukak sopo jal

          • kartu-as-e lha niku sing menang tur mbeling puoooolll

            • e roro mendut pake kartu as to

              • Njih leres terus dibungkus godhong gedhang niku lho .

                • ..gedhang-e sinten ? 😀

                  • sing gadhah mung kyai-ne .

              • kok malah do mbahas pusoko kangjeng kyai gedhang to

                • Lha nggih to wong niku karemane Nyai A**M

                  • apem ? 😀

                    • o kyai gedang melawan nyai apem ngunu ta wkkkkkk

              • Jan sak nomer tenan ki , niku lho kartu as sing mentul-mentul lan mendut-mendut .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: