Buku 51

“AGAKNYA Prastawa ada di rumah,” desis Agung Sedayu.

“Ya,” jawab Sekar Mirah, “ia baru datang malam ini.”

Prastawa menjadi semakin gelisah.

“Bersama anak ini?” Agung Sedayu melanjutkan.

“Ya,” berkata Sekar Mirah selanjutnya, “anak ini ingin menjemput aku dan membawa pergi ke rumahnya.”

Dahi Agung Sedayu menjadi berkerut-merut karenanya. Namun Sekar Mirah segera berkata, “Tetapi kami, maksudku, Ki Argajaya dan seisi rumah ini, mengharap ia tinggal di sini bersama putera Ki Argajaya itu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bertanya, “Apakah anak itu sudah menyatakan keinginannya untuk kembali ke rumah ini?”

“Ya. Ia sudah amat merindukan keluarganya,” jawab Sekar Mirah. “Tetapi ia tidak berani memasuki rumah ini lewat pintu depan, karena para pengawal ada di halaman dan kebun belakang rumah ini.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia ma¬sih belum mengerti, bagaimana anak itu dapat memasuki rumah ini tanpa diketahui oleh para pengawal.

Tetapi agaknya pemimpin pengawal itu tidak sekedar ber¬tanya-tanya di dalam hati, karena pertanyaan itu kemudian diucap¬kannya, “Dari mana ia memasuki rumah ini?”

“Ada dua kemungkinan,” jawab Sekar Mirah, “demikian hebatnya kedua anak-anak muda ini, atau para pengawal telah tertidur semuanya.”

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Kami selalu bersiaga di halaman.”

Sekar Mirah tersenyum. “Tetapi suatu kenyataan. Anak itu telah berada di dalam rumah ini.”

Pemimpin pengawal itu dan Agung Sedayu saling berpan¬dangan sejenak.

“Tetapi kenapa anak ini akan berlari?” bertanya Agung Sedayu tiba-tiba.

Sekar Mirah terdiam sejenak, namun kemudian ia menjawab, “Ia tidak yakin, bahwa ia dapat diterima oleh keluarga ini. Bahkan ia ingin membawa aku bersamanya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya anak muda yang berdiri temangu-mangu itu.

“Tetapi jangan marah kepadanya,” Sekar Mirah melanjutkannya, “mungkin sudah terlampau lama ia ditinggalkan kekasihnya, sehingga ia menjadi salah lihat. Aku sudah mena¬warkan, apakah ia bersedia menjadi adikku, karena aku hanya mempunyai seorang saudara laki-laki.”

Anak muda itu masih berdiri dengan tegangnya. Sedang Agung Sedayu memandanginya dengan hampir tidak mengedipkan matanya.

Namun akhirnya Sekar Mirah berkata, “Yang penting kemudian, apakah kehadiran Prastawa dapat diterima seperti kehadiran Ki Argajaya di antara para pemimpin Menoreh yang lain, dalam hubungannya dengan pengampunan umum bersama-sama kawannya ini apabila ia bersedia?”

Agung Sedayu berpaling kepada pemimpin pengawal itu. Katanya, “Aku tidak tahu apakah jawabnya?”

“Aku melihat betapa besar kerinduan yang bergolak di dalam dada Ibu dan anak. Juga di dalam dada Ki Argajaya. Apa¬kah kalian sampai hati untuk memisahkannya kembali?”

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Lalu ka¬tanya, “Itu bukan hakku. Aku akan menyampaikannya kepada Ki Argapati, sementara anak itu berada di dalam pengawasan kami di sini. Tetapi aku sendiri juga mempunyai anak. Aku da¬pat mengerti arti perpisahan yeng lama antara orang tua dan anaknya. Namun pengampunan itu berada di luar kekuasaanku.”

“Ki Argapati akan mengampuninya,” desis Agung Se¬dayu. “Aku condong pada pendapat itu. Aku harap keluarga ini dapat segera pulih kembali.”

Tidak seorang pun yang menyahut, sehingga ruangan itu dicengkam oleh kesenyapan. Hanya wajah-wajah yang tegang sajalah yang saling memandang berganti-ganti.

Ketika Nyai Argajaya berpaling ke arah Prastawa, maka di¬lihatnya anak muda itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Suara Agung Sedayu pulalah yang kemudian memecahkan kesenyapan. “Aku akan ikut berusaha, agar semuanya dapat segera kembali seperti sediakala. Tanah Perdikan Menoreh, dan setiap keluarga yang selama ini terpecah-belah. Mungkin oleh ketakutan sehingga mereka mengungsi tercerai-berai, mungkin karena sudut pandangan yang berlainan. Mungkin oleh sebab-sebab yang lain.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Semuanya masih diam, seakan-akan membeku di tempatnya.

Agung Sedayu pun kemudian terdiam pula. Sehingga dengan demikian ruangan itu kembali menjadi sepi. Hanya desah-desah nafas sajalah yang terdengar bersahut-sahutan.

Dalam pada itu, Prastawa yang menundukkan kepalanya itu pun seakan-akan mendapat kesempatan untuk mengerti tentang dirinya sendiri selama ini. Seakan-akan terbayang di kepalanya, dirinya sendiri dan beberapa orang kawan-kawannya berkeliaran tidak menentu. Mereka sama sekali tidak mempunyai tujuan apa pun dengan segala macam perbuatan mereka, selain melepaskan dendam.

“Apakah hal itu akan bermanfaat untuk dipertahankan lebih lama lagi?” pertanyaan itu melonjak di dalam dadanya.

Selagi ia dibayangi oleh masalah-masalah yang telah mendebarkan jantungnya, tiba-tiba saja terdengar suara ibunya, “Prastawa, apakah kau sudah menemukan keputusan yang mantap. Tidak ragu-ragu?”

Prastawa mengangkat wajahnya. Sejenak ditatapnya wajah ayahnya yang sedang memandanginya pula. Tiba-tiba dari sela-sela bi¬birnya terdengar suaranya lambat sekali. “Maafkan aku, Ayah.”

“Prastawa,” Ibunya hampir memekik.

“Aku menyadari kesalahanku. Bagaimana pun juga, aku berhadapan dengan orang tuaku.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Nyai Argajaya tidak dapat menahan perasaan yang melonjak di dadanya. Tiba-tiba ia berlari ke arah anak muda itu. Seperti anak-anak yang sedang tumbuh, dipeluknya Prastawa sambil menitikkan air matanya. Katanya, “Kau memang harus kembali padaku, Ngger. Kau tidak boleh pergi berkeliaran tidak menentu.”

Prastawa tidak menjawab. Kepalanya tertunduk di dalam pelukan ibunya. Tetapi matanya pun menjadi basah karenanya.

Sekar Mirah yang berdiri di pringgitan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Agung Sedayu yang membeku di samping pemimpin pengawal yang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku tidak akan pergi lagi, Ibu,” desis Prastawa. “Meskipun seandainya Paman Argapati tidak memaafkan aku. Aku akan mengangkat wajahku untuk menerima segala macam hukumanku.”

“Kami, aku dan ayahmu akan mohon kepadanya, agar kau mendapat kesempatan hidup di antara kami,” suara Nyai Argajaya menjadi parau.

Prastawa tidak menyahut. Ketika perlahan-lahan ibunya melepaskan pelukannya, anak muda itu mengusap matanya yang kemerah-merahan.

Dalam pada itu, anak muda kawan Prastawa yang masih berdiri termangu-mangu itu tiba-tiba meyadari keadaannya. Dengan na¬nar ia memandang berkeliling. Di muka pintu berdiri Agung Sedayu dan pemimpin pengawal. Di samping pintu dalam, Sekar Mirah menimang-nimang pedang yang dirampas dari tangannya, meskipun kepalanya menunduk, sedang di ruang dalam terdiri Ki Argajaya dan orang tua yang disebut ayah Sekar Mirah. Agak jauh masuk ke dalam, Prastawa dan ibunya.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar, “Bagaimana dengan kau?”

Anak muda itu terkejut. Dilihatnya Agung Sedayu melang¬kah maju sehingga tanpa disadarinya, ia pun mundur setapak.

“Aku harap kau pun dapat menilai keadaan. Kalau kau masih menganggap bahwa perjuanganmu sekarang ini masih per¬lu dilanjutkan, maka kau adalah seorang pemimpi yang malang. Bukan saja karena kau sudah kehilangan kekuatan, tetapi yang lebih parah lagi, kau sudah kehilangan tujuan.” Agung Sedayu berhenti sejenak. Lalu, “Apakah kau masih akan berpikir?”

Anak muda itu tidak menjawab.

“Sedang saat yang kau hadapi kini pun tidak akan dapat kau atasi, apa yang dapat kau lakukan saat ini?”

Anak muda itu masih berdiam diri.

“Kalau kau masih dapat berpikir bening, sebaiknya kau menyerah. Sudah tentu perlakuan atasmu berbeda dengan perlakuan atas Prastawa. Tetapi kau pun pasti akan mendapat ke¬sempatan, seperti yang pernah diumumkan oleh Ki Argapati, bahwa Ki Argapati akan memberikan pengampunan kepada me¬reka yang menyadari keadaan mereka, sejauh itu tidak berbahaya bagi Menoreh. Nah, pertimbangkan.”

Anak itu sama sekali tidak menjawab.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Pilihlah. Apakah kau akan kami bawa sebagai seorang yang menyerah dan menyadari keadaan, atau kau harus kami tangkap dan kami bawa ke padukuhan induk Tanah Perdikan ini sebagai tawanan?”

Wajah anak itu menjadi tegang, ia sedang berjuang di antara kenyataan yang dihadapinya dan harga dirinya sebagai se¬seorang yang menganggap dirinya seorang pejuang yang tidak ingkar.

“Pilihlah,” desis Agung Sedayu.

Namun wajah itu pun kemudian mengendor. Dari sela-sela bi¬birnya terdengar suaranya dalam, “Aku menyerah.”

Agung Sedayu, pemimpin pengawal, dan Sekar Mirah meng¬anggukkan kepalanya. Mereka merasa, bahwa jalan yang akan ditempuh oleh Ki Argapati akan menjadi semakin lancar untuk memulihkan kembali Tanah yang sudah tersobek-sobek dari dalam itu sendiri.

Malam yang kelam menjadi semakin kelam. Dingin telah merasuk sampai ke tulang. Namun beberapa wajah telah dihiasi dengan senyum yang bening.

(***)

BAG. IV
YANG SEDANG TUMBUH

PAGI yang cerah telah membangunkan Tanah Perdikan Menoreh yang sedang lelap. Perlahan-lahan mulailah kehidupan yang berlangsung dari hari ke hari. Setiap kali lebih sibuk dari hari yang kemarin, karena tanah-tanah yang kering telah mulai di¬airi, sawah yang tidak digarap, telah mulai dicangkul, dan pasar-pasar telah mulai terisi oleh para pedagang yang selama ini bersembunyi di pengungsiannya.

Ketika matahari menebarkan sinarnya di lambung pegunung¬an, pedati yang memuat bahan-bahan makanan telah mulai mengalir ke pusat-pusat perdagangan di padukuhan-padukuhan yang berserakan di sepanjang tanah Perdikan yang mulai sembuh dari luka-lukanya, akibat perang yang berkecamuk di antara keluarga sendiri.

Sekelompok demi sekelompok, sisa-sisa pasukan Sidanti telah kembali memenuhi panggilan Ki Argapati. Apalagi setelah Pras¬tawa hilang dari lingkungan mereka. Maka gerombolan-gerombolan yang semula merasa, bahwa satu-satunya jalan adalah menumbuhkan pe¬rasaan takut, ngeri, dan penyebaran pembalasan dendam, mulai menyadari keadaan mereka, bahwa mereka masih mungkin me¬nemukan jalan kembali ke dalam kehidupan yang wajar, tidak seperti rusa yang sedang diburu di tengah-tengah semak-semak yang rimbun, yang selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.

Betapapun lambatnya namun pasti, bahwa luka Ki Argapati pun akan sembuh pula. Tetapi ada sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia, bahwa Ki Argapati tidak dapat pulih kembali seperti sediakala. Betapa pun dukun tua yang bernama Ki Tanu Metir berusaha, namun pada akhirnya ia hanya dapat mengucap sukur kepada Tuhan, bahwa Ki Argapati masih juga dapat sembuh dari luka-lukanya, meskipun ada sesuatu yang telah diambil daripadanya. Kaki kiri Ki Argapati seakan-akan telah mengalami kelumpuhan karena urat-urat yang terputus oleh luka-lukanya. Sedang tangan kirinya pun mengalami kelemahan yang meskipun tidak separah kakinya, namun tangannya itu tidak lagi dapat bergerak leluasa.

“Tuhan telah mengutukku,” desisnya setiap kali. “Aku ternyata tidak mampu mengendalikan Tanah yang dipercayakan kepadaku sebaik-baiknya. Kini Tanah ini telah menjadi tenang. Te¬tapi seperti tanah ini, maka tubuhku pun tidak dapat pulih se¬perti sediakala.”

Meskipun demikian, Ki Argapati tidak menjadi putus-asa. Ia tidak menyesali nasibnya dengan keluhan-keluhan yang cengeng. Meskipun kaki dan tangannya tidak dapat pulih kembali, namun ia masih selalu berada di punggung kudanya, mengelilingi Tanah Perdikan Menoreh yang telah mulai hijau kembali. Tanah yang membentang dari perbukitan di sebelah Barat sampai ke daerah-daerah yang berhutan di sebelah Barat Kali Praga, rasa-rasanya sudah mulai hidup kembali.

Dengan bimbingan Ki Argapati, maka Tanah Perdikan Me¬noreh mulai mengobati diri mereka. Mereka mulai menyembuhkan luka-luka yang agak parah sedikit demi sedikit.

Demikian juga dendam yang selama ini tersebar di atas Ta¬nah itu pun sedikit demi sedikit mulai mencair dari setiap dada. Terutama anak-anak mudanya, yang semula terbagi di dua pihak.

Meskipun masih ada satu dua yang mengeraskan hatinya di dalam kesesatan, namun pada umumnya Tanah Perdikan Me¬noreh sudah menjadi baik. Seperti juga Ki Argapati yang menjadi baik. Namun di dalam lubuk hatinya paling dalam, maka masih juga terdapat cacat seperti cacat pada tubuh Ki Argapati.

Ki Argajaya, adik Ki Argapati, telah dapat menampakkan dirinya kembali di antara rakyat Menoreh. Karena kesungguhannya, serta seluruh keluarganya ikut membangun Tanah yang sudah hampir menjadi abu itulah, maka perlahan-lahan ia mendapatkan tempatnya kembali sebagai adik seorang Kepala Tanah Perdikan.

Perlahan-lahan, seperti pertumbuhan Tanah Perdikan itu, tumbuh dan mekar pulalah perasaan yang tersimpan di dada gadis satu-satunya dari Kepala Tanah Perdikan itu. Putera Ki Demang Sangkal Putung, ternyata lambat-laun mendapatkan tempat di hatinya. Sifatnya yang gembira dan terbuka, telah membuat Pandan Wangi sedikit demi sedikit melupakan kepahitan yang bertimbun-timbun telah menimpanya.

Dengan sadar, Agung Sedayu berusaha untuk tidak mengganggu hubungan yang sedang mekar di hati kedua anak-anak muda itu. Apalagi Sekar Mirah untuk sementara masih juga berada di atas Tanah Perdikan itu. Sedang kedua orang-orang tua, Kiai Gringsing dan Sumangkar, seperti gembala-gembala yang sedang tekun menunggui domba-domba gembalaan mereka, masih juga berada di Menoreh. Selain menunggui murid-murid mereka, maka kedua orang tua itu pun dapat menjadi kawan bercakap-cakap yang mapan bagi Ki Argapati.

“Kalau kalian tinggalkan kami, maka aku akan kehilangan kawan berbicara di sore hari,” berkata Ki Argapati kepada mereka berdua.

Keduanya tersenyum. Kiai Gringsing pun kemudian menjawab, “Apakah tidak ada orang tua di atas Tanah Perdikan ini?”

“Mereka terlampau tua untuk bercakap-cakap tanpa arti,” jawab Ki Argapati sambil tersenyum. “Mereka sukar untuk berbicara tentang bermacam-macam persoalan yang tidak menegangkan urat syaraf, namun bermanfaat bagi pengalaman pengenalan kita atas kehidupan di sekitar kita. Mereka, orang-orang tua di Meno¬reh hanya senang berbicara tentang air, padi yang sedang tumbuh, bintang Gubuk Penceng, bintang Waluku dan bintang Panjer saja.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tertawa. Berkata Ki Su¬mangkar, “Itu pertanda bahwa mereka adalah petani-petani yang rajin. Petani-petani yang tekun di dalam kerja. Kawan mereka yang terdekat adalah air, musim, dan bintang-bintang yang memberikan petunjuk kepada mereka, kapan mereka harus memulai musim tanam padi, musim tanam palawija, dan musim-musim yang lain, termasuk musim mencari ikan di sungai Praga.”

“He, kau pandai juga membaca pertanda bintang?”

“Aku juga seorang petani.”

“Petani di istana Kepatihan Jipang.”

Sumangkar tertawa. “Aku petani, juru masak, dan sekaligus pemomong di Kepatihan.”

“Jabatan rangkap yang sukar dikerjakan bersama-sama.”

Ketiga orang tua-tua itu tertawa. Di dalam kepala mereka ter¬lintas kenangan masa silam mereka. Terutama Sumangkar. Namun, meskipun ia tertawa seperti anak-anak yang mendapatkan permainan, namun terasa desir yang halus telah menyengat dada¬nya. Kenangan itu sebenarnya tidak begitu menyenangkannya. Tetapi perasaan itu sama sekali tidak berkesan di wajahnya.

Dalam pada itu, Kiai Gringising pun kemudian berkata, “Tetapi bagaimana pun juga, akan datang saatnya, kami minta diri.”

“Ya, aku pun menyadari. Tetapi sudah tentu tidak besok atau lusa.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Terkilas sesu¬atu di dalam angan-angannya, tetapi ia tidak mengatakannya.

Di luar rumah, Pandan Wangi duduk di bawah sejuknya pepohonan di kebun belakang. Di sebelahnya, seorang anak muda yang gemuk duduk bersandar sebatang pohon melandingan.

Mereka tampaknya sedang asyik bercakap-cakap. Mempercakapkan diri mereka sendiri. Sedang di dalam dada mereka, api cinta telah mulai menyala.

“Setiap saat guru dapat membawa aku pergi, Wangi,” kata Swandaru.

“Kapan, Kakang?” bertanya Gadis itu.

“Aku tidak tahu,” berkata Swandaru, “tetapi aku mengharap tidak segera.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya jauh menusuk bayangan dedaunan yang menari-nari di atas tanah yang kering.

“Tetapi sebelum aku meninggalkan Tanah Perdikan ini, aku akan minta guruku, mewakili ayah dan ibuku, untuk sementara menyampaikan lamaranku, sampai pada saatnya ayah dan ibuku sendiri akan aku minta datang kepada ayahmu.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Aku harap bahwa pada suatu saat kau pun dapat melihat Kademangan Sangkal Putung. Meskipun tidak sebesar Tanah Perdikan ini, tetapi Sangkal Putung adalah daerah yang subur dan kaya raya.”

“Aku ingin sekali melihat daerah itu,” berkata Pandan Wangi. “Apakah Sangkal Putung sudah tidak pernah diganggu oleh gerombolan-gerombolan seperti yang pernah kau ceriterakan kepadaku?”

Swandaru menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sejak mereka dihancurkan di padepokan Tambak Wedi, maka tidak ada lagi gangguan yang berarti bagi kademangan itu.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah Sangkal Putung memiliki sawah yang luas?”

“Ya, amat luas sawah dan pategalan. Dari ujung sampai ke ujung, Sangkal Putung tampak hijau segar.”

“Aku pasti akan senang sekali,” desis Pandan Wangi.

“Orangnya pun cukup ramah dan baik seperti orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.”

“O. Menyenangkan sekali.”

“Dan kau akan tinggal di daerah itu kelak.”

Tetapi Pandan Wangi pun kemudian mengerutkan kening¬nya. Tiba-tiba saja sorot matanya menjadi buram.

“Tetapi,” suaranya menurun, “apakah kelak aku harus meninggalkan Tanah Perdikan ini?”

“Aku mempunyai kewajiban atas Kademangan Sangkal Putung,” jawab Swandaru. “Aku akan menggantikan ayah yang menjadi semakin tua.”

“Aku mengerti. Tetapi bagaimana dengan Tanah ini? Ayah pun menjadi semakin tua, dan aku adalah satu-satunya anaknya.”

Kening Swandaru pun berkerut pula. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera dapat men¬jawab. Ia mengerti kerisauan perasaan gadis itu. Kalau ia men¬jadi isterinya kelak, gadis itu wajib mengikutinya ke Sangkal Putung. Tetapi sebagai satu-satunya anak Kepala Tanah Perdikan ini, ia akan menggantikan ayahnya. Suaminyalah yang kelak harus menjadi Kepala Tanan Perdikan ini. Tetapi bakal suaminya yang gemuk itu mempunyai kewajiban sendiri atas tanah kela¬hirannya.

“Tetapi jangan hiraukan semuanya itu,” berkata Swan¬daru kemudian. “Kita akan dirisaukan oleh masalah yang masih akan datang kelak. Jangan hiraukan supaya hati kita tidak risau kali ini. Pada saatnya kita pasti akan menemukan cara, bagaimana kita akan memecahkan masalah ini.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Sekarang kita hanya akan membuang-buang waktu saja. Senyum kita akan terganggu oleh masalah-masalah yang masih jauh. Jangan hiraukan.”

Pandan Wangi pun kemudian tersenyum pula. Kini ia sudah mengenal anak yang gemuk itu agak lebih baik lagi. Swandaru tidak mau diganggu oleh angan-angan yang suram. Ia ingin menikmati keriangan hari ini. Dan itu dapat menghiburnya di saat-saat kepe¬dihan menyentuh jantungnya.

“Kenapa kita mesti bermuram hati?” berkata Swandaru setiap kali. “Lihatlah langit yang cerah. Hati kita pun harus cerah pula karenanya.”

Dan Pandan Wangi pun berusaha untuk menyesuaikan diri¬nya. Perlahan-lahan ia menemukan kegembiraannya kembali. Kini ia sudah mulai berkeliaran lagi di hutan-hutan perburuan. Tidak sendiri, tetapi bersama-sama dengan kawan-kawannya yang agaknya sesuai dengan keadaannya. Kadang-kadang, Pandan Wangi pergi berburu ber¬sama Swandaru, Sekar Mirah, dan Agung Sedayu. Namun ka¬dang-kadang ia hanya berdua saja dengan anak muda yang gemuk itu, meskipun dalam waktu yang sangat terbatas sekali, karena Ki Argapati selalu mengawasi mereka, meskipun tidak mengekang terlampau keras. Juga Kiai Gringsing, tidak pernah membiarkan keduanya lepas dari pengawasannya, karena apabila Swandaru tergelincir bersama Pandan Wangi, karena gelora remaja mereka, maka semua hubungan yang baik itu pun akan menjadi rusak karenanya. Ki Argapati pasti menganggap muridnya sebagai seorang anak muda yang kurang menghargai hubungan yang dianggap suci menjelang terjalinnya suatu keluarga.

Diketahui atau tidak diketahui, Swandaru selalu tidak per¬nah lepas dari pengamatan dukun tua itu.

Hubungan kedua anak-anak muda itu pun sama sekali tidak lepas dari pengamatan Argapati. Sebagai seorang ayah ia mengerti, betapa di hati anaknya sedang tumbuh perasaan seorang gadis dewasa. Ia menyadari bahwa Pandan Wangi dan Swandaru Geni telah saling mencintai.

Dan Ki Argapati tidak berkeberatan atas cinta yang sedang bersemi itu, meskipun belum seorang pun yang pernah menyata¬kannya kepadanya, sebagai seorang ayah.

Karena Swandaru mempunyai kesibukan sendiri, maka Agung Sedayu pun mengisi waktunya dengan kesibukannya sendiri. Kadang-kadang ia bersama Sekar Mirah mengikuti Ki Argapati menge¬dari tlatah Menoreh yang sedang membangun, diiringi oleh para pemimpin Menoreh yang lain. Namun kadang-kadang ia pergi seorang diri mengikuti Ki Argapati tanpa pengawal. Sedang di saat yang lain, Agung Sedayu berpacu di jalan-jalan yang berbatu padas, di lereng-lereng bukit bersama Samekta atau Kerti. Bahkan kadang-kadang Agung Sedayu, hanya berdua saja bersama Sekar Mirah menjelajahi sawah dan pategalan.

Dengan demikian, maka kedua anak-anak muda itu rasa-rasanya bukan lagi orang asing di Tanah Perdikan Menoreh. Setiap orang Tanah Perdikan Menoreh mengenal mereka berdua. Setiap orang Tanah Perdikan Menoreh menghormati keduanya sebagai orang yang berjasa bagi Tanah Perdikan ini. Bahkan, anak-anak muda yang sebaya dengan Agung Sedayu sambil berkelakar menyebut mereka berdua sebagai, Sepasang Orang Berkuda.

Agung Sedayu dan Sekar Mirah hanya tertawa saja men¬dengar sebutan itu. Bahkan Agung Sedayu sering berdesis kepada Sekar Mirah, “Lain kali, kalau Adi Swandaru sudah tidak terlampau sibuk dengan masalahnya, dan kedua anak-anak itu sering berpacu di sepanjang jalan-jalan Tanah Perdikan Menoreh, akan tum¬buh sebutan baru bagi kita semua.”

“Sebutan apa kira-kira itu, Kakang?” bertanya Sekar Mirah.

“Dua pasang Orang-orang Berkuda.”

Sekar Mirah tertawa. Katanya kemudian, “Tetapi mereka tidak akan sempat melakukannya.”

“Sekarang. Tetapi pada suatu saat, mereka pasti akan tertarik. Apalagi Pandan Wangi adalah satu-satunya anak Ki Argapati.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Pandan Wangi adalah satu-satunya pewaris Tanah Perdikan ini.”

Namun demikian, di saat-saat terakhir, Ki Argapati banyak berbicara mengenai Tanah Perdikan ini justru dengan Agung Sedayu, selain dengan pemimpin-pemimpin Menoreh sendiri. Ki Argapati sangat menghargai pikiran-pikiran Agung Sedayu yang mantap, yang dapat memberikan jawaban atas kesulitan yang berkembang di saat-saat Menoreh sedang menyembuhkan dirinya sendiri.

“Kedua murid Kiai Gringsing ini memang agak berbeda,” berkata Ki Argapati di dalam hatinya. “Namun nampaknya Agung Sedayu agak lebih bersungguh-sungguh dari Swandaru. Anak ini mempunyai daya pikir yang luar biasa kuatnya. Pantas, kalau ia adalah adik dari Panglima Pajang yang berkuasa di daerah Selatan, Untara.”

Meskipun demikian, Ki Argapati sama sekali tidak kecewa terhadap Swandaru. Katanya kepada diri sendiri, “Anak muda yang gemuk ini mempunyai kegembiraan dan kemampuan menye¬suaikan diri dengan keadaan, meskipun agak terlampau didorong oleh perasaannya. Tetapi ia adalah seorang anak muda yang kuat dan terbuka.”

Karena itulah, maka ketika pada suatu saat, Kiai Gringsing atas permintaan Swandaru menyampaikan permohonannya kepada Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan itu tidak terkejut lagi.

“Maaf, Ki Gede. Agaknya aku terlampau berani menda¬hului ayah dan ibu muridku. Tetapi anggaplah bahwa apa yang aku sampaikan itu sekedar pemberitahuan, bahwa ada hasrat dari Swandaru, untuk meminang puteri Ki Gede. Pada suatu saat, tentu ayah dan ibunya akan datang mengunjungi Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Ki Argapati tersenyum. Katanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku mengerti. Dan aku tidak akan dapat berbuat lain kecuali mengijinkan anakku memilih bakal suaminya sendiri.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Gringsing. “Muridku akan sangat berterima kasih pula.”

“Aku mengenal muridmu yang gemuk itu. Aku mengeta¬hui serba sedikit tentang anak muda itu. Karena itu maka keputusanku untuk mengijinkan Pandan Wangi memilih bakal suami¬nya, sama sekali bukan berarti bahwa aku telah melepaskannya sama sekali.”

“Anak itu anak bengal, bodoh, dan kadang-kadang agak kurang mengendalikan dirinya.”

“Ia periang dan berhati terbuka,” Ki Gede Menoreh mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku tidak berkeberatan apa pun.”

Kabar itu benar-benar telah menggembirakan hati Swandaru, sehingga tanpa sesadarnya ia memukul pundak Agung Sedayu sambil berkata, “Akhirnya aku pun mendapatkan seorang gadis.”

“Hus,” desis Agung Sedayu. “Kenapa tidak? Kau cukup tampan. Wajahmu cerah seperti matahari.”

“Cukup, cukup,” potong Swandaru.

Agung Sedayu tertawa, dan akhirnya Swandaru dan Sekar Mirah pun tertawa pula.

Namun dengan demikian, maka Swandaru pun mulai berpikir untuk segera pulang ke rumahnya, menyampaikan masalahnya itu kepada ayah dan ibunya. Meskipun ia yakin bahwa ayah dan ibunya tidak berkeberatan, namun tiba-tiba saja di luar sadarnya ia berkata, “Ayah dan ibu harus segera pergi ke Tanah Perdikan ini sebelum jalan dari Sangkal Putung kemari menjadi sulit dan bahkan tertutup.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“Bukankah telah tumbuh suatu daerah baru di atas Alas Mentaok yang dibuka oleh Ki Gede Pemanahan dan puteranya, Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sambil mengang¬guk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Memang mungkin hal itu akan menjadi masalah. Tetapi mungkin pula, jalan justru menjadi bertambah baik karena daerah baru itu.”

Kedua muridnya tidak menjawab. Sumangkar yang ada di antara mereka pun tidak menyahut pula.

Dengan demikian maka mereka pun sejenak saling berdiam diri. Namun kini tanpa mereka sadari, angan-angan mereka telah ber¬geser dari pembicaraan mereka semula. Mereka tidak lagi mem¬bayangkan apakah orang tua Swandaru akan dengan senang hati memenuhi permintaan anaknya yang ingin kawin dengan seorang gadis, yang berasal dari tempat yang cukup jauh, yang tidak berasal dari kademangannya sendiri? Apakah ayah dan ibunya masih belum mempunyai seorang calon isteri bagi anak laki-lakinya?

Tetapi menilik sikapnya yang terbuka atas anak gadisnya yang telah membuat hubungan dengan Agung Sedayu, yang ber¬asal dari Jati Anom itu, maka agaknya Ki Demang Sangkal Putung pun tidak akan berkeberatan.

Kini yang mereka pikirkan dan mereka bayangkan, adalah suatu daerah baru di Alas Mentaok. Daerah yang dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan dan puteranya, Sutawijaya.

Dalam keheningan itu kemudian terdengar Agung Sedayu berkata, “Tetapi, apakah ketika Ki Sumangkar dan Sekar Mirah melintasi daerah baru itu, tidak ada tanda-tanda apa pun yang dapat memberikan petunjuk, apakah yang kira-kira akan berkembang di sana?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang sulit untuk menilai apakah yang sedang berkembang di daerah baru itu. Aku tidak dapat mengatakan, apakah daerah itu akan men¬jadi bertambah baik bagi lalu lintas atau justru menjadi semakin sulit.”

“Tetapi bagaimana dengan perjalanan Kiai bersama Sekar Mirah pada saat Kiai melintasi daerah itu?”

“Kami memilih jalan yang paling aman. Kami melingkar daerah-daerah yang sedang berkembang, yang mendapat pengawasan yang tajam.” Ki Sumangkar berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi yang kami dengar di sepanjang jalan, daerah baru itu selain membangun wilayahnya, namun juga langsung membangun pertahanannya.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

“Itulah yang merupakan teka-teki bagiku,” berkata Ki Sumangkar. “Tetapi aku sudah berusaha untuk menjauhi masalah tata pemerintahan di mana pun. Aku tidak akan lagi menghiraukan apa yang terjadi di Pajang dan daerah yang baru itu, supaya aku tidak terlibat dalam keadaan yang kadang-kadang cengkah dengan hati nuraniku.”

Kiai Gringsing tersenyum. Sepintas terbayang olehnya, keragu-raguan Sumangkar pada saat-saat pasukan Jipang yang menjadi liar di bawah pimpinan Tohpati, masih merupakan masalah bagi Pajang.

“Pada suatu saat, aku akan melihat daerah baru itu,” berkata Kiai Gringsing.

“Aku ikut bersama Guru. Sekaligus aku ingin menemui ayah dan ibu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah. Kalau begitu, kita akan menyelam sekaligus minum sebanyak-banyaknya,” berkata Swandaru.

“Apakah perutmu masih kurang gembung?” bertanya Sekar Mirah.

”Ini bukan masalah perut, tetapi masalah yang penting.”

“Penting bagi siapa?” bertanya Sekar Mirah.

“Bagi Sangkal Putung. Kau tahu, bahwa Sangkal Putung terletak di sekitar garis yang menghubungkan dua kekuasaan itu.”

“Kenapa dengan Pajang dan daerah baru itu?” berta¬nya Sekar Mirah.

“Aku tidak tahu pasti. Itulah yang ingin aku ketahui sejauh-jauh mungkin. Tetapi menurut pendengaran kami di sini, agak¬nya hubungan antara Pajang dan daerah baru itu tidak begitu baik.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sebagai seseorang yang telah lama berada di lingkungan kepatihan, yang hampir setiap hari mempersoalkan tata pemerintahan negara, Sumangkar tidak dapat mengingkari bahwa di dalam dirinya telah tumbuh bebe¬rapa pertimbangan mengenai masalah itu. Tetapi sejauh-jauh dapat dilakukan, ia tidak ingin mengucapkannya. Seperti yang telah dikatakan, ia akan menghindari masalah-masalah yang bersangkut paut dengan masalah pemerintahan.

“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, yang tiba-tiba saja bertanya, “bagaimanakah tanggapan Adi sebenarnya atas hal ini? Mustahillah kalau Adi Sumangkar tidak melihat masalah yang sedang berkembang. Di dalam tata pemerintahan, dan masalah-masalah yang berhubungan dengan itu, Adi Sumangkar pasti jauh lebih tajam penglihatannya daripada aku.”

Tetapi Sumangkar menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mempunyai bahan yang cukup untuk menilai perkembangan dae¬rah baru itu, Kiai.”

“Eh, kau ini,” desis Kiai Gringsing. “Tetapi baiklah. Agaknya Adi memang sedang berusaha untuk menjauhi masalah-masalah yang demikian. Begitu?”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Baiklah. Kita akan melihat kelak, apa yang telah terjadi. Tetapi, bukankah Adi Sumangkar telah mengetahui, bahwa Ki Pemanahan telah meninggalkan istana dan pulang ke Sela, sebe¬lum Mentaok diserahkan dengan resmi?”

“Ya. Aku mendengarnya?”

“Baik. Itulah yang sebenarnya menjadi masalah. Dan Sangkal Putung terletak di antara dua pihak yang terlibat dalam masalah itu. Mungkin Adi Sumangkar tidak menaruh minat untuk ikut mempersoalkan masalah itu. Tetapi Sekar Mirah tidak akan dapat acuh tidak acuh. Sangkal Putung pernah menjadi pusat pertahanan pasukan Pajang menghadapi Tohpati dan pasukannya.”

“Bukan begitu,” Sumangkar mencoba membetulkannya. “Yang benar, Pajang telah meletakkan pasukannya untuk mem¬bantu rakyat Sangkal Putung. Bukankah begitu, Angger Swandaru?”

“Ya. Begitulah.”

“Tepat,” sahut Kiai Gringsing. “Aku keliru. Dan seka¬rang, bagaimana dengan Sangkal Putung?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Kiai Gringsing memang mencoba menariknya ke dalam masalah itu. Tetapi ia masih menggelengkan kepalanya. “Tergantung sekali kepada Ki Demang di Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. Ternyata Sumangkar masih tetap berusaha untuk mengelakkan usaha Kiai Gringsing untuk menyatakan pendapat¬nya tentang keadaan Alas Mentaok sekarang.

“Memang, yang paling baik bagi kita adalah melihat sen¬diri keadaan daerah baru itu,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Tepat,” Swandaru menyahut. “Kapan kita berangkat?”

“Huh,” Sekar Mirah mencibirkan bibirnya. “Kalau kau, tentu kepentinganmu sendirilah yang lebih dahulu kau pikirkan. Pulang untuk mengajak ayah dan ibu kemari.”

“Tidak,” jawab Swandaru, “sama sekali tidak. Tetapi seandainya demikian, aku pun tidak akan menolak.”

Gurunya dan Ki Sumangkar tersenyum. Dan Sekar Mirah menyahut, “Jangan terlampau banyak tingkah. Bukankah kamu juga setuju bahwa ayah dan ibu kita undang untuk datang ke Tanah Perdikan ini?”

“He,” Swandaru mengerutkan keningnya. “Kenapa kau marah-marah saja kepadaku? Kau kira akan merampas segala perhatianaAyah dan ibu, hingga mereka tidak sempat mengurusmu?”

“Apa urusanku?”

“Ini,” sahut Swandaru sambil menunjuk Agung Sedayu.

“Sombong kau,” Sekar Mirah mencubit lengan Swandaru sehingga anak itu menyeringai.

“Mirah, he.”

“Nah, lihat. Kau sekarang terlampau cengeng. Tentu kau ingin bukan aku lagi yang mencubitmu.”

“Sudahlah. Aku menyerah. Aku memang tidak pernah menang berbantah dengan kau. Apalagi sekarang, kau mempunyai pengawal dan aku hanya sendiri.”

“Jangan, jangan.” Swandaru itu pun kemudian meloncat menjauhi adiknya yang sudah menjulurkan tangannya untuk men¬cubitnya lagi. Dan tiba-tiba saja ia menyentuh punggung Agung Sedayu sambil bertanya, “Kenapa kau diam saja?”

Agung Sedayu hanya tersenyum saja. Tetapi ia tidak menya¬hut.

“Dengarlah,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kita akan segera minta diri kepada Ki Argapati. Aku kira dua tiga hari lagi. Selain mengurus soal Swandaru, kita singgah untuk melihat-lihat Alas Mentaok sekarang.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ayah dan ibu Swandaru pasti sudah menunggu Sekar Mirah pula. Ibunyalah yang pasti selalu cemas.”

“Ya. Kita tahu hati seorang ibu. Karena itu, baiklah kita memutuskan saja. Lusa kita berangkat.”

“Semakin cepat makin baik,” sela Swandaru.

“Makin cepat apa?” bertanya Agung Sedayu. “Makin cepat kita meninggalkan tempat ini atau makin cepat kita kem¬bali ke tempat ini?”

Swandaru merenung sejenak. Jawabnya, “Kedua-duanya. Makin cepat kita pergi untuk semakin cepat kita kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.”

“Pantas,” desis Sekar Mirah.

Ketika Swandaru membuka mulutnya untuk menjawab, gurunya mendahului, “Kau tidak usah membantah. Semua orang tahu, bahwa kau memang ingin demikian.”

“Aku memang tidak akan membantah, Guru. Aku justru akan mengiakannya.”

Yang mendengar jawaban itu tertawa. Bahkan Sekar Mirah pun tersenyum pula.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, menyampaikan maksud itu kepada Ki Argapati, di saat-saat mereka duduk di pendapa ketika senja menjadi semakin gelap.

“Begitu tergesa-gesa?” Ki Argapati mengerutkan keningnya.

“Memang kami agak tergesa-gesa, Ki Gede, tetapi juga tergesa-gesa untuk segera kembali bersama ayah dan ibu Swandaru.”

Ki Argapati tersenyum. Katanya, “Tetapi akulah yang akan menjadi kesepian.”

“Tanah Perdikan ini sudah akan pulih kembali. Ki Argajaya lambat laun berhasil memperbaiki namanya sendiri.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,” katanya kemudian, “kami, orang-orang Menoreh, menunggu keda¬tangan kalian. Harapan kami beserta dengan murid Kiai yang gemuk itu. Karena Pandan Wangi adalah satu-satunya anakku.”

Kiai Gringsing dan Sumangkar mengangguk-anggukkan kepala¬nya. Mereka menyadari, bahwa tumpuan harapan Ki Argapati dan seluruh rakyat Menoreh ada pada Swandaru.

Dan tiba-tiba saja tumbuh pertanyaan di hati Kiai Gringsing, “Apakah Swandaru menyadarinya? Ia tidak sekedar meminang Pandan Wangi. Tetapi ia meminang Pandan Wangi beserta se¬gala macam kewajiban yang akan besertanya.”

“Kapan Kiai akan berangkat?” bertanya Ki Argapati.

“Lusa,” jawab Kiai Gringsing, “kami akan berangkat pagi-pagi.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Ka¬mi akan menyediakan semua keperluan kalian. Apakah kalian akan memerlukan kuda?”

Kiai Gringsing merenung sejenak. Ketika ia memandang wajah Sumangkar, orang tua itu pun tampak ragu-ragu.

“Bagaimana, Adi Sumangkar?”

“Bukankah kita ingin melihat-melihat keadaan di sepanjang ja¬lan?”

Kiai Gringsing mengangguk. Dan sebelum ia menjawab, Ki Argapati sudah bertanya lebih dahulu, “Maksud Kiai, me¬lihat keadaan daerah baru itu?”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. “Ya. Kami ingin melihat daerah baru itu.”

“Kumandangnya sudah sampai ke sebelah Sungai Praga. Terutama kumandangnya tentang perdagangan. Mereka memer¬lukan beberapa jenis barang dari Menoreh. Para pedaganglah yang lebih dahulu telah melakukan hubungan tidak resmi. Tetapi laporan tentang daerah baru itu sudah ada padaku.” Ki Argapati diam sejenak. Lalu, “Kebetulan sekali, kalau Swandaru mendapatkan beberapa kesimpulan tentang daerah itu kelak, sebelum Tanah ini menentukan sikap.”

Kiai Gringsing dan Sumangkar mengangguk-anggukkan kepala¬nya. Namun mereka menyadari, bahwa dengan demikian Swan¬daru sudah mulai membawa tugas bagi Tanah Perdikan ini. Dan tugas itu berat baginya, meskipun cara mengucapkannya cukup sederhana. Tetapi kesimpulan yang akan dibawa Swandaru itu menentukan, sesuai dengan kata-kata Ki Gede di Menoreh, “Se¬belum Tanah ini menentukan sikap.”

“Sudah sewajarnya,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “anak itu harus mulai belajar bersikap dan berbuat dengan bersungguh-sungguh.”

Namun seandainya tidak ada yang memperingatkan, maka pasti Swandaru hanya sekedar akan melihat perkembangan Ta¬nah yang baru dibuka itu menurut seleranya sendiri. Bukan se¬lera suatu Tanah Perdikan yang besar, Menoreh, yang langsung atau tidak langsung akan menjadi tetangga dekat dari daerah baru itu.

Demikianlah, maka pada hari yang ditentukan, Kiai Gring¬sing, Ki Sumangkar, dan murid-muridnya telah siap meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, untuk memulai dengan perjalanannya ke Timur.

Dengan rendah hati, Kiai Gringsing menyatakan bahwa me¬reka akan lebih senang berjalan kaki saja sambil melihat-lihat keadaan daerah-daerah yang dilaluinya.

Segenap pemimpin Tanah Perdikan Menoreh, Ki Argajaya, dan puteranya, mengantar mereka sampai ke regol halaman rumah Ki Argapati. Meskipun mereka bukan orang-orang Menoreh, tetapi apa yang sudah mereka lakukan buat Menoreh ternyata tidak segera dapat dilupakan. Mereka telah ikut serta mema¬damkan api yang membakar Tanah Perdikan ini dengan berbagai macam cara. Kasar dan halus. Lahiriah dan batiniah.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:36  Comments (70)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-51/trackback/

RSS feed for comments on this post.

70 KomentarTinggalkan komentar

  1. mas dd , kuwi posisi orangnya apa posisi servernya ?

    D2: Posisi pengunjung, On

  2. tenan yo tak enteni tekanmu le….jam 10.00 thit!!,
    “matur nuwun dateng poro crew ingkan sampun caos tenogo, wektu lan biaya kagem pisowanan wonten in moyo meniko.”

  3. jam 10 WIB atau waktu amrik ??

    DD: WIB sama CST sama kok, cuma beda siang dan malam aja

  4. “Prastawa…., jangan kau undur2 lagi. Cepat serahkan jilid 51 malam ini juga, jam 10 tit” teriak Sekar Mirah.

  5. maaf .. belum bisa batu rakyat Menoreh … sedang sibuk mendapat tugas dari Sultan Pajang memantau perkembangan di Alas Mentaok.

  6. weh… kok masaryo minta malem ini juga?

    Bukannya besok jam 10 pagi?

    xixixi 😀

  7. sabar subur gelis katur jilid seketsiji

  8. Gupala memandang langit sebelah timur yang semburat merah. Dan seakan-akan dia pun menjadi sangat gelisah.

    Gupita berdesis, “agaknya kau menjadi waringuten, ada apakah yang mengganggu pikiranmu?”

    “Matahari seolah-olah lambat sekali bergerak..,” Gupala bergumam

    “Ah, itu hanya perasaanmu saja. Apakah yang kau harapkan dari matahari itu?”

    “Seharusnya matahari itu hendaknya segera meloncat ke atas, sehinga kitab no limah puluh satu menjadi ikut muncul…,”

  9. wah jarang2 lancar, sekali download sung berhasil

  10. belum keliatan juga….

  11. Pandan Wangi menjadi terdiam, diendapkannya kemarahannya. Sedang Swandaru masih asik mengunyah jenang nangka di depannya, tak dihiraukannya permintaan Pandan Wangi barusan.

    Agung Sedayu yang telah mengenal tabiat saudara seperguruannya hanya dapat menghela nafas.
    “Semoga hal ini tidak membuat Pandan Wangi menjadi berpikiran lain. Dia harus lebih dapat memehami watak Swandaru, dengan demikian mereka akan menjadi keluarga yang semakin mapan. Sedang adi Swandaru juga seharusnya ..”

    Belum selesai pemikirannya, tiba-tiba terdengar teriakan Sekar Mirah. “Kakang .. kakang Swandaru.. kenapa kakang masih disini.” Masih berteriak Sekar Mirah melanjutkan, “lihat matahari telah hampir sepenggalah.. cepat kakang… semua sudah menunggu kakang.”

    Swandaru terkejut mendengar teriakan itu. Hampir saja dia tersedak jenang nangka, buru-buru jenag alot itu ditelannya. Agung Sedayu dan Pandan Wangi tak kalah terkejut. Tanpa sadar keduanya mendongak ke atas. “Hampir saatnya..” terdengar Agung Sedayu mendesis.

    “Kakang.. sebentar lagi Ki Gede akan membuka perayaan di banjar desa dan aku tidak ingin tertinggal. Aku ingin berdiri paling depan. Jika kakang lebih menyukai jenang itu. Baik lah kakang disini saja.” Sekar Mirah segera meraih tangan Pandan Wangi. Diliriknya Agung Sendayu agar mengikutinya.

    Agung Sedayu hanya menghela napas. Dilangkahkan kakinya menyusul kedua perempuan itu. “Keramaian di banjar itu begitu menarik .. pasti akan jauh lebih menarik dari jenang nangka itu,” gumamnya.

    Swandaru segera bangkit, masih sempat dimasukkannya beberapa buah jenang nangka dalam bajunya. “Wangi.. Mirah.. tunggu.. bukannya pembukaannya masih lama.. kakang.. tunggu aku, kakang..”

    Perayaan kemenangan itu memang akan berlangsung dalam sepekan, tapi siapa yang mampu menunggu jika dalam perayaan itu akan dibagikan kitab 51. Satu setengah jam dari sekarang .. sedang waktu terus berjalan.
    Jelas .. Sukra tidak mau tertinggal.

  12. Mas DD rakyat Menoreh sudah pada tidak sabar menunggu, harus segera dicermati, kalau tidak bisa pada bergabung dengan Prastawa dkk hehehe…..

  13. Matahari sudah mendekati sepenggalah. Para cantrik sudah mulai berkumpul. Sayang, baru dapat tugas keluar …

  14. ” Ck..ck..ck… Tepat waktu, keluar juga sesuai woro-woronya.. ” gumam gembala tua.

  15. Wah, pas banget. Jam 10 teng ….

  16. akhirnya …..

  17. “Sukra? Hmm, ke mana lagi dia?” gumam Sekar Mirah. “Lele-lele itu belum lagi disiangi. Katanya mau membuatkan mangut,” gerutunya lagi.

    Lalu dibukanya perlahan-lahan pintu lereg yang mengarah ke halaman belakang, dan dengan hati-hati dijengukkannya kepalanya. “Astaga,” desisnya, “sudah sedemikian tinggi matahari. Tetapi kok belum ada juga kabar dari Kakang Agung Sedayu? Apakah ia belum berhasil menguasai dan mengaplod jilid-51?”

  18. “Oh.. oh, ternyata aku yang keliru,” gumam Sekar Mirah cepat-cepat. “Kukira akan masuk lewat pintu butulan, jebulnya jee..”. Dengan tergesa-gesa perempuan itu masuk ke senthong tengah, dan ..kembali ke laptop. Donlod jilid-51.

    Matur suwun.

  19. 😀 😀 😀
    terdengar sukra di atas pohon tertawa, di depannya berserak lontar-lontar berisi kitab 51 😛

  20. Setelah selesai semua bundel ADBM ini, perlu dibuat bundel ADBM versi plesetan…isinya seperti comment yg muncul disetiap jilid….

  21. Hebat….dan salut….ternyata Ki DD Menoreh cepat dan tanggap keinginan rakyat Menoreh yang meletup-letup..hehehe….salut…salut…

  22. jadwal 52 belum ada ya ?

  23. “Ada gambar sampul, berarti ada harapan” jawab Sekar Mirah kepada Ki Sukra yang menanyakan jilid 52.

  24. “Cobalah bersabar, ngger, supaya semuanya berjalan dengan wajar. Dalamilah kitab 51 sebelum beranjak ke tingkat berikutnya.” tambah Ki Sumangkar.

  25. he3
    Menurut peta spasial yg dapat dipercaya, ternyata perguruan windujati sdh menyebar tidak saja di tlatah Demak-Pajang di tanah Jawa, tapi Australia, tanah Melayu, Philipinus, Jepon, Euro, bahkan Amrik..ternyata hebat perguruan orang bercambuk ya…mudah2an ilmunya gak semakin pudar hanya krn bedanya jarak dan waktu..

    GD: Itu pun belum menghitung bahwa pelajaran2 yg diberikan kpd para cantrik di padepokan ini juga direlay oleh padepokan lain (meskipun secara diam-diam). Dan padepokan2 yg merelay itu juga dikunjungi ribuan cantrik.

  26. # On November 12, 2008 at 1:42 pm Aulianda Said:

    “Ada gambar sampul, berarti ada harapan” jawab Sekar Mirah kepada Ki Sukra yang menanyakan jilid 52.
    …..
    sekedar nambah info.. sukra itu “batur” yang tinggal di rumah Agung Sedayu – Sekar Mirah. tugasnya ngisi pakiwan ato bikin mangut (lirik p_sawukir) jadi bukan ki ato kiai 😀

  27. Ki Dede Menoreh, maafkan saya, karena anak saya baru sakit, maka tugas untuk jilid 050 belum bisa aku kerjakan.

    GD: Gpp, Ki Pratama. Mudah2an yg sakit segera saras.

  28. Cool man……..
    tengkyu

  29. wah, baju baru. tambah cantik
    mangan sego kucing, karo nyawang prawan ayu..
    ki dede n ki sukra manteb tenan…

  30. DD, gimana kalau disisipkan kamus bahasa Jawa/Yogya yg menurut saya/rekan2 agak awam : seperti Jebeng, Gandok, Nenggala, dll. sampai sekarang aku belum ngerti apa arti kata2 tsb.

    trim

    D2: Usul yang baik. Akan kita sediakan halaman KAMUS. Para sederek-lah yang memberikan entrinya. Kita nanti tinggal susun menjadi susunan yg mudah.

  31. Beberapa istilah Jawa:

    Gandok = dapur
    Pring ori = bambu ori
    Jebeng = Ngger,Anak. Ki Pemanahan memanggil Sutawijaya sebagai Jebeng
    Pakiwan = lavatory, toilet (berasal dari kata pa-kiwa-an, kiwa = kiri, sebagai gambaran kalau membersihkan dengan tangan kiri)
    Agung = Besar, grand, prominent
    Geni = Api
    Pringgitan = ruangan di belakang pendopo, open structure in front of mansion, behind the pendopo, for showing shadow plays or receiving visitors

    Sumber:
    http://www.bausastra.com
    http://kamus.kapanlagi.com
    Beberapa istilah kemungkinan dapat dicari di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sayang sekali saat ini saya tidak membawa dan memegang KBBI.

  32. nuwun sewu kiai jebeng,

    sak pengertos kulo selaku wargo tlatah mataram (kulo saking bantul red, gandok meniko sanes dapur, anangging ruang tambahan ing kiwo utawi tengen rumah induk.

    (sepengetahuan saya sebagai orang asli mataram ; saya berasal dari bantul red, gandok itu bukan dapur, tetapi ruang tambahan yang besar yang berada di samping kanan atau kiri rumah induk.

    matur nuwun

  33. Hoax Asli,
    Hatur nuwun Nyi untuk 51-nya. Wah gambar covernya Agung Sedayu naik kuda, tapi kok bawa tombak ya? Berarti sudah siap menuju Madiun.

  34. Hua..ha..ha…

    Ki TP sampe nyasar-nyasat sampe sini. Ki TP juga bisa iseng ya.
    Ngaget-ngageti saja

  35. melu kesasar ah ….

    nek ra melu ndak ora dibagehi ….

  36. Asem tenan iki, melu kapusan nyasar mrene

  37. Wah .. senangnya bisa nyasar bareng ….

  38. Podo ngopo nang gondok 51, nyiapin makar yah mau memberontak Negeri Mataram !!!!, hahahahaha , kekekeke 😀 😀

  39. Ki TP seneng jebakane berhasil
    akeh seng nyasar

  40. Wah….

    Guyonan Ki TP memang cespleng.

    Saya yang mulai tadi siang pusing, sekarang jadi sembuh gara-gara ketawa terpingkal-pingkal karena ulah Ki TP yang nyasar dan membawa gerbong beberapa orang ke gandok 51.

    Terima mkasih Ki.

  41. melu-melu kesasar dech ……….

  42. hiks, memang kalo udah sakaw
    jadi gampang ketipu
    he he he

    ikut nyasar juga aah

  43. trims nyi gede kitab 51 nya….udah diunduh

  44. kalau jaman sekarang, Swandaru tentu sudah berteriak :
    “aku galauuuuuuuuuuuu………”

    • pada jaman itu bunyinya “ki mbleh kacau beliau……”

      • wuih…, wis tekan kene
        he he he …. sugeng dalu meh parak esuk Ki

        • Sugeng esuk2,,, 😀

          • …esuk2 maem karo gendhuk…eh..gethuk 😀

      • pada jaman yang akan datang “Ki AS berkicau belia”

        • “kemana dimana kemanaaaaaa,,,,,mungkin kayak gitu ya ki ”

          sugeng enjang sadaya kadang padepokan ADBM.

  45. melu mbukak alas,ben iso d tnduri klopo sawit..gkgkgk

    • wis mbukak…….pinten Ki ? 😀

      • terus terang bukak-bukak-an terang terus

        • sing dibukak sopo jal

          • kartu-as-e lha niku sing menang tur mbeling puoooolll

            • e roro mendut pake kartu as to

              • Njih leres terus dibungkus godhong gedhang niku lho .

                • ..gedhang-e sinten ? 😀

                  • sing gadhah mung kyai-ne .

              • kok malah do mbahas pusoko kangjeng kyai gedhang to

                • Lha nggih to wong niku karemane Nyai A**M

                  • apem ? 😀

                    • o kyai gedang melawan nyai apem ngunu ta wkkkkkk

              • Jan sak nomer tenan ki , niku lho kartu as sing mentul-mentul lan mendut-mendut .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: