Buku 50

“Aku hanya sekedar membela diri,” berkata Sekar Mirah selanjutnya. “Ia akan melakukan perbuatan yang terkutuk. Aku menolak tubuhnya. Tetapi ia menerkam seperti serigala lapar. Tanpa aku sengaja, agaknya aku sudah memukul dadanya. Hanya sekali, dan kawanmu ini menjadi pingsan.”

Prastawa menggeram. Tiba-tiba saja ia membentak, “Perem¬puan gila. Kau sangka kau dapat menakut-nakuti aku dengan ceriteramu itu. Kau pasti telah membujuknya sehingga ia menjadi lengah. Kemudian selagi ia lengah, kau sudah mengkhianatinya.”

Sekar Mirah menggeleng, “Tidak. Bukan begitu. Aku sama sekali tidak berbuat curang. Aku menyerangnya beradu dada. Bahkan anak inilah yang telah menyerang aku lebih dahulu.”

“Aku tidak percaya. Kau harus menebus dosamu itu.”

“He, kenapa kau marah kepadaku?” berkata Sekar Mirah, “Kenapa kau tidak menghukum kawanmu yang bertindak tidak sepantasnya?”

“Bohong! Bohong kau!”

Tiba-tiba saja Prastawa meloncat maju selangkah ke depan Sekar Mirah sambil berkata, “Jangan ingkar. Kau tidak dapat lari lagi.”

“Prastawa,” panggil ibunya, “kenapa kau menjadi gila? Gadis ini adalah tamuku.”

“Aku tidak peduli. Tetapi ia sudah mengkhianati kawanku. Itu berarti mengkhianati aku pula.”

“Tidak. Kau belum mengetahui keadaan yang sebenarnya. Jangan terburu nafsu.”

“Aku akan menghukumnya.”

Tiba-tiba mereka pun tertegun. Serentak mereka berpaling. Di muka pintu telah berdiri Ki Argajaya dan Sumangkar.

“Gadis itu tamuku, Prastawa.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak peduli. Ia sudah menghina kawanku. Itu berarti aku dan seluruh kelompokku terhina pula.”

“Kawanmulah yang mencari perkara,” berkata Sekar Mirah. “Kalau ia dapat berlaku sedikit sopan, maka aku kira tidak akan terjadi sesuatu atasnya.”

Tetapi Prastawa sudah tidak mendengarkan lagi. Sambil menggeram ia beringsut setapak, “Aku akan menuntut.”

“Prastawa,” desis Ki Argajaya.

Namun mereka menjadi heran ketika Ki Sumangkar justru berkata, “Apakah kau benar-benar berbuat salah, Sekar Mirah.”

“Tidak. Aku hanya sekedar membela diri.”

“Tidak mungkin,” potong Prastawa. “Kawanku adalah seorang yang mempunyai kekuatan dan kemampuan cukup. Apa¬kah gadis ini dapat membuatnya pingsan tanpa perlawanan apa¬ pun? Aku sudah pasti, ia telah merayunya, kemudian melakukan perbuatan yang menyinggung perasaan ini.”

“Jangan berprasangka, Prastawa,” sahut Ki Argajaya.

“Aku tidak peduli. Jangankan gadis yang tidak aku kenal. Seisi rumah ini, bahkan Ayah sekalipun, apabila berani menghalang-halangi aku, aku tidak akan memaafkannya.”

Ketika Ki Argajaya akan menjawab lagi, Ki Sumangkar menggamitnya sambil berkata, “Baiklah. Kalau anakku memang bersalah, kau dapat menghukumnya. Tetapi hukuman apa yang akan kau berikan?”

Pertanyaan itu telah membuat Prastawa menjadi bingung. Tanpa sesadarnya ia memandang wajah Sekar Mirah yang se¬dang memandanginya pula, sehingga tatapan mata mereka ber¬temu.

Dengan serta-merta keduanya melemparkan pandangan ma¬tanya ke samping. Namun untuk melepaskan desir jantungnya yang serasa menekan seisi dada, anak muda itu berkata, “Aku akan membunuhnya.”

“Benarkah begitu?” bertanya Sumangkar.

Prastawa menjadi ragu-ragu. Dan sebelum ia sempat menjawab, ibunya berkata, “Kau jangan kehilangan akal anakku. Jangan berbuat sebodoh itu.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk ber¬tahan pada pendiriannya. Tetapi sesuatu telah mengaburkan¬nya, sehingga untuk sesaat ia hanya berdiam diri saja.

“Sudahlah. Marilah kita rawat kawanmu itu,” berkata ibunya.

Namun justru dengan demikian, harga diri Prastawa tumbuh kembali, bahkan mencengkam dengan dahsyat. Katanya, “Aku akan menghukumnya. Benar-benar menghukumnya dengan caraku. Aku akan membawanya kepada kawan-kawanku dan memberitahukan kepada mereka apa yang sudah terjadi. Terserahlah kepada me¬reka, apa yang akan mereka lakukan atas gadis ini sebagai hukumannya.”

Kata-kata Prastawa itu benar-benar telah mengejutkan ibu dan ayah¬nya. Namun justru dengan demikian mereka untuk sesaat terdiam mematung. Dengan mata yang hampir tidak berkedip di¬pandanginya anaknya, kemudian Sekar Mirah dan Sumangkar.

Namun dalam keadaan yang demikian itu Sumangkar justru tersenyum, katanya, “Kau mempersulit dirimu sendiri, Anak Muda. Bagaimana kau dapat membawanya ke luar dari ruangan ini?”

Prastawa mengerutkan keningnya. Memang tidak mudah membawa gadis itu keluar dari lingkungan para pengawal di halaman rumah ini.

“Sudahlah, Prastawa,” berkata ibunya. “Kau selalu di¬bayangi oleh dendam yang tidak kunjung padam. Kini tamu yang tidak mengerti apa pun yang terjadi di atas rumah ini, kau jadi¬kan sasaran perasaan dendammu itu.”

“He, apakah gadis ini tidak berbuat apa-apa? Ia sudah me¬rayu kawanku, kemudian mencelakakannya?”

“Tentu tidak,” berkata Sumangkar. “Anakku tidak akan berbuat demikian. Aku yakin bahwa ia tidak berbohong.”

“Aku yakin ia berbohong. Kawanku bukan seorang anak ingusan yang begitu saja dapat dibuatnya pingsan.”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenung, apakah yang harus dikatakan. Namun kemudian ia tersenyum pula, “Bagaimana gadis itu harus membuktikan bahwa ia ber¬kata sebenarnya? Kalau kawanmu ini nanti sadar, barangkali kau dapat melihatnya sendiri, bahwa anak gadisku itu tidak ber¬bohong.”

Tetapi Prastawa tidak mendengarkannya. Tiba-tiba ia menarik pedangnya dan langsung meloncat maju mendekati Sekar Mirah lebih dekat lagi. Tiba-tiba pula ujung pedangnya sudah merunduk ke dada gadis itu.

“Nah, lihat. Aku mempunyai cara yang menarik untuk membawanya ke luar,” berkata Prastawa.

Semuanya yang menyaksikan hal itu terkejut bukan buatan. Sekar Mirah sendiri pun terkejut pula. Hampir saja ia meloncat dan menangkap pergelangan tangan anak muda itu. Tetapi se¬bagai isyarat Sumangkar menggeleng lemah. Sehingga dengan demikian Sekar Mirah pun mengurungkan niatnya. Namun matanya kini tidak berkisar dari tangan anak muda itu. Setiap ge¬rakan yang terlontar di luar sadarnya mungkin sekali akan me¬robek dada gadis itu. Karena itu Sekar Mirah menjadi tegang dan siap untuk melakukan segala usaha untuk menyelamatkan diri apabila keadaan memaksanya.

Sejenak ia memandang Prastawa, kemudian gurunya yang berkerut-merut. Namun tatapan matanya segera kembali ke tangan putera Ki Argajaya.

“Prastawa,” berkata ibunya, “apakah kau benar-benar sudah kehilangan akal.”

“Tidak. Aku akan membawa gadis ini. Tidak seorang pun yang akan berani mengganggu aku, apabila dengan ujung pedang aku menggiringnya ke luar halaman. Setiap tindakan yang men¬curigakan, akibatnya akan menimpa gadis yang malang ini.”

Sejenak mereka termangu-mangu. Ujung senjata Prastawa telah bergetar seperti getar di dalam jantungnya.

Dengan nada yang tinggi ia berkata, “Ayo, tolonglah ka¬wanku itu, supaya ia segera sadar. Aku akan segera meninggal¬kan tempat terkutuk ini. Mungkin gadis ini akan berguna di persembunyianku.”

Dada Ki Argajaya dan isteterinya menjadi berdentangan karenanya. Namun Sumangkar tampaknya masih tetap tenang. Ia yakin bahwa Sekar Mirah tidak akan terlampau banyak menda¬pat kesulitan.

“Berdirilah,” berkata Prastawa.

Sumangkar mengangguk kecil kepada Sekar Mirah. Ia akan mendapat lebih banyak kesempatan, apabila Prastawa akan mem¬bawanya ke luar bilik.

Sekar Mirah pun kemudian berdiri. Seperti yang diduga oleh Sumangkar, Prastawa pun berkata, “Keluar dari bilik ini, supa¬ya kawanku itu segera mendapat pertolongan.”

Sekar Mirah tidak membantah. Ia melangkah maju mengi¬tari tubuh yang masih terbaring di lantai bilik itu. Dengan sudut matanya ia memandang gulungan ujung tikar di pembaringan, tempat ia menyimpan senjatanya.

Sumangkar mengerti iyarat itu, dan ia pun menganggukkan kepalanya.

“Biarlah aku tolong anak muda ini,” berkata Sumangkar. Ki Argajaya ragu-ragu sejenak. Tetapi ia pun bukan orang yang terlampau bodoh menghadapi keadaan itu. Ia menyadari keadaan Sekar Mirah, sehingga ia pun tanggap akan keadaan, bahwa Se¬kar Mirah memang memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya.

Dengan berbagai cara, Sumangkar menolong kawan Pras¬tawa. Digosoknya telinga orang itu dengan minyak, kemudian diangkatnya tangannya tinggi-tinggi berulang kali.

Sejenak kemudian orang itu pun menarik nafas. Perlahan-lahan ia bergerak. Ketika ia membuka matanya, ia terkejut melihat beberapa orang berdiri di sampingnya. Mula-mula kabur, seperti bayangan-bayangan raksasa yang berdiri dekat di sisinya. Namun kemudian pandangan matanya menjadi semakin jelas, sehingga akhirnya ia melihat Ki Argajaya, Nyai Argajaya, dan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, sedang Sekar Mirah dan Prastawa tidak ada di dalam bilik itu.

Dengan kekuatannya yang belum pulih kembali ia men¬coba berdiri. Tertatih-tatih ia berpegangan pada tiang pintu.

“Di mana Prastawa?” ia menggeram.

Prastawa yang berada di luar pintu mendengar pertanyaan itu, sehingga ia pun menjawab, “Aku di sini. Gadis keparat itu ada di sini pula.”

“O,” kawannya berdesis. Sejenak ia menggosok-gosok mata¬nya, kemudian katanya, “aku telah lengah ketika ia memukul dadaku.”

Tidak seorang pun yang menyahut. Ki Argajaya, isterinya, dan Sumangkar membiarkannya ketika anak muda itu dengan langkah yang belum tegak benar keluar dari bilik itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. kemudian sambil memandangi Sekar Mirah ia berkata, “Bagus. Kau berhasil menguasai gadis itu. Ia ter¬nyata terlampau garang.”

Sekar Mirah masih berdiri di tempatnya. Sekali-sekali ia memandang tangan Prastawa, dan kadang-kadang dipandanginya wajah anak muda yang baru saja sadar dari pingsan itu.

Gadis itu masih saja ragu-ragu, apa yang akan dilakukannya. Dalam pada itu, Ki Argajaya bersama isterinya dan Sumangkar pun telah keluar pula dari dalam bilik.

“Prastawa,” berkata ibunya, “sekali lagi aku meng¬harap, kau jangan dibayangi oleh perasaan dendammu. Duduk¬lah, dan berbicaralah dengan ayahmu. Di saat terakhir keadaan Tanah Perdikan ini sudah berangsur menjadi baik, tetapi apakah tidak demikian dengan seisi rumah ini? Apalagi kini kau mem¬buat persoalan baru dengan tamu-tamu ayahmu.”

“Aku tidak peduli,” jawab Prastawa. “Sudah aku kata¬kan, aku tidak akan menghentikan perjuangan. Sekarang aku akan mendengar keputusan Ayah sebelum aku pergi membawa gadis ini.”

“Keputusan tentang apa, Prastawa?” bertanya ayahnya.

“Ayah harus pergi bersama dengan kami meneruskan perjuangan yang masih jauh dan belum selesai ini. Sepeninggal Kakang Sidanti dan gurunya, akulah yang mengambil alih pimpinan se¬belum Ayah dapat melakukannya.”

“O, kau masih belum melihat kenyataan ini,” berkata ayahnya. “Jangan keras hati seperti Sidanti.”

“Ia seorang yang teguh pada pendiriannya. Apakah aku harus berbuat seperti Ayah? Seperti seorang pengecut.”

“Prastawa,” berkata Ki Argajaya, “dengarlah. Kita sebaiknya berbicara dengan tenang.”

“Tidak, dan aku tidak akan melepaskan gadis ini.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Prastawa, aku adalah ayahmu. Kau wajib mendengar kata-kataku.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Aku memang bersalah membawamu dalam kekalutan di atas Tanah Perdikan ini. Tetapi itu suatu kekhilafan. Kini sudah tiba saatnya kita berani menilai diri kita sendiri. Dengan demikian kita akan dapat menen¬tukan sikap yang sebaik-baiknya. Sebaik-baiknya bagi kita sendiri dan terutama sebaik-baiknya bagi Tanah Perdikan Menoreh. Apakah yang dapat kau capai dengan petualangan yang tidak kunjung selesai itu, selagi dendam masih tetap menyala di hati? Prastawa, api yang membakar Tanah ini sudah padam. Tetapi api dendam di dadamu masih tetap kau hembus-hembus dengan segala macam alasan.”

Prastawa termenung sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Ayah mengajari aku memberontak terhadap Paman Argapati. Dan kini Ayah mengajari aku mengkhianati kawan-kawanku.”

Jantung Argajaya serasa tertusuk ujung duri. Sakit sekali. Tetapi ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab. “Kalau sikapku kau artikan demikian, kau tidak terlampau salah. Tetapi aku harus melihat alasan dari kedua sikapku itu. Yang pertama, aku mengajarimu memberontak karena aku dipacu oleh nafsu yang tidak terkendali. Nafsu untuk berkuasa, nafsu untuk dihormati, dan nafsu lain-lain yang sebenarnya hanya sekedar nafsu pemanjaan badani. Kini aku menyadari, bahwa nafsu pemanjaan badani itulah yang sebenarnya telah menyeret aku ke dalam jurang yang kelam seperti sekarang. Dan kau yang masih memiliki hari depan yang jauh lebih panjang dari hari-hariku sendiri, ikut pula terjerumus ke dalam masa yang gelap.” Ki Argajaya ber¬henti sejenak, lalu, “Prastawa, sebenarnya apa yang aku laku¬kan itu semata-mata karena aku ingin melihat kau mendapat tempat yang baik di hari depanmu. Tetapi yang aku dapatkan justru sebaliknya.”

Prastawa merasakan suatu sentuhan di hatinya. Sebenarnya ia menyimpan juga suatu pengakuan di dalam hatinya, bahwa ayahnya telah melakukan sesuatu yang berbahaya untuk dirinya, untuk hari depannya. Tetapi usaha itu gagal, dan yang didapati¬nya adalah sebaliknya.

“Nah, kemudian terserah kepadamu, Prastawa. Apakah kau mau mendengar atau tidak. Menurut pendapatku, seumurmu itu sudah cukup dewasa untuk menilai keadaan. Apakah ayahmu benar-benar seorang pengkhianat seperti yang kau katakan, seorang pengecut, seorang pemberontak dan apa lagi, atau kau melihat sesuatu yang lain dari sebutan-sebutan itu.”

Prastawa tidak menyahut. Tampak keningnya berkerut-merut. Dengan hati yang suram ia mencoba menilai keadaan yang sedang dihadapinya.

Namun tiba-tiba ia mendengar kawannya berkata, “Prastawa, jangan terpengaruh. Kau harus tetap bersikap jantan seperti Si¬danti. Kalau Ki Argajaya akan berkhianat, biarlah ia berkhianat. Tetapi kita harus tetap di dalam garis perjuangan yang panjang. Pantang menyerah. Kita tidak segera akan mati besok atau lusa karena dimakan oleh umur. Kita masih cukup muda. Kita masih mempunyai banyak kesempatan. Hanya orang-orang pikun sajalah yang menyerah begitu saja kepada keadaan.”

Bagaimana pun juga, darah Ki Argajaya berdesir mendengar kata-kata itu. Anak muda itu bukan anaknya. Bukan sanak dan bu¬kan kadang. Namun demikian ia masih menahan diri. Kalau ia berbuat sesuatu atas anak muda itu, maka ia akan menggugah kemarahan Prastawa yang agaknya sudah mulai tersentuh oleh kata-katanya.

Tetapi ucapan kawannya itu telah melemparkan Prastawa kembali ke dalam suatu dunia yang gelap tanpa arah. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Benar. Aku bukan anak-anak yang dapat dibujuk dengan cara apa pun. Aku sudah dewasa, dan aku sudah cukup mampu menentukan sikap,” ia berhenti sejenak. Ditatapnya wajah ayahnya dan ibunya berganti-ganti. Kemudian, “Aku tetap pada pendirianku. Ayah harus memilih. Ikut aku se-bagai pejuang atau tinggal di sini sebagai pengkhianat. Namun dengan demikian Ayah harus menyadari hukuman apakah yang dapat diberikan kepada seorang pengkhianat.”

“Prastawa,” suara ibunyalah yang melengking dengan gemetar, “jangan berkata begitu. Kau tidak dapat melepaskan diri dari aliran darah ayah dan ibumu dalam tubuhmu. Kau adalah anakku dan anak ayahmu pula. Apa pun yang kami lakukan, aku dan ayahmu, tetapi kau adalah anak kami.”

Sekali lagi Prastawa terdiam. Ia memang tidak akan dapat lari dari kenyataan itu. Ia adalah anak ayah dan ibunya. Ba¬gaimana pun juga, dan apa pun yang telah mereka lakukan.

Namun dalam kebimbangan itu ia mendengar kawannya ber¬kata, “Lalu, apakah akibat dari hubungan itu di dalam perjua¬ngan ini. Argapati telah membunuh anaknya. Apakah Argapati tidak tahu bahwa Sidanti itu anaknya, dan apa pun yang telah dilakukannya, ia adalah anaknya, yang dialiri oleh darahnya?”

Terasa dada Argajaya terguncang. Meskipun ia dibebaskan oleh kakaknya dari segala tuntutan karena pengampunan, namun hukuman ini terasa amat menyiksanya. Anaknya sendiri sama sekali tidak menghargainya lagi. Bahkan anak itu telah mengan¬cam untuk membunuhnya.

“Nah, apa katamu?” bertanya kawan Prastawa itu.

“Kakang Argapati tidak membunuhnya,” berkata Arga¬jaya dengan suara yang serak.

“Omong kosong! Aku yakin, pasti Argapati sendiri yang membunuhnya karena anaknya telah dianggapnya berkhianat kepadanya.”

“Tidak. Yang membunuh Sidanti adalah Pandan Wangi. Itu pun tidak disengajanya. Ia tidak dapat menghindari hentakan gerak naluriahnya saat itu ketika justru Sidanti-lah yang akan membunuh Ki Argapati.”

“Seandainya benar, itu adalah perbuatan jantan. Dan Prastawa pun harus berani berbuat demikian.”

Ki Argajaya menekan dadanya dengan telapak tangannya.

“Nah, apa katamu sekarang,” anak muda kawan Pras¬tawa itu kini berdiri bertolak pinggang. “Aalian tidak akan da¬pat berbuat banyak. Gadis ini dapat mati tanpa arti sama sekali, kalau kalian mencoba untuk berbuat sesuatu. Kini sekali lagi kita akan menguji kejantanan Ki Argajaya. Apakah ia berani meng¬hadapi pertanggungan jawab ini, atau gadis inilah yang akan dijadikannya korban, untuk menyelamatkan dirinya.”

“Prastawa,” suara ibunya seolah-olah tersangkut di kerongkongan, “kau jangan mendengarkan kata-kata iblis itu.”

Prastawa mengerutkan keningnya.

“Kau adalah anakku. Aku mengandungmu, kemudian me¬lahirkan kau dengan susah payah, dibayangi maut. Tidak ubahnya seperti orang yang sedang berperang melawan musuh yang tidak tampak.”

“Maksud Ibu, musuh itu adalah aku yang akan lahir?”

“Bukan. Bukan begitu maksudku.”

“Jadi, aku sudah menyusahkan Ibu?”

“Tidak. Juga tidak,” jawab ibunya. “Aku menyambut kedatanganmu dengan harapan dan cita-cita, bahwa ada seseorang yang akan menyambung hidup kami kelak. Sakit dan cemas itu adalah tebusan dari harapan itu. Dan aku dengan senang hati telah menjalaninya.”

“Lalu, apa maksud, Ibu mengatakannya?”

“Prastawa, kemudian aku dan ayahmu mengasuhmu. Mem¬besarkan kau dengan cinta kasih. Apakah kau menyadari? Kalau kau sedang sakit, semalam suntuk aku mendukungmu, karena kau tidak mau diajak oleh orang lain. Dan apakah kau sangka ayahmu dapat tidur sekejap pun? Ayahmu adalah orang terhormat waktu itu. Ia mempunyai banyak pelayan dan pembantu. Ayah¬mu hampir tidak pernah turun ke sawah kalau bukan karena ke¬inginannya. Tetapi menunggui kau sakit, Prastawa, ayahmu tidak dapat menyuruh salah seorang pembantunya, atau bahkan sepuluh atau lima-puluh orang sekalipun. Kalau aku mendukung¬mu disaat kau sakit, ayahmu duduk betapa pun lelah dan kantuk¬nya, sampai saatnya kau tertidur. Dan hal ini harus dilakukannya sendiri, seperti yang dikehendakinya.”

Prastawa tidak segera menjawab. Perlahan-lahan kepalanya tertunduk. Meskipun samara-samar, ia masih dapat mengingat masa-masa ke¬cilnya itu.

Tetapi sekali lagi kawannya berkata, “Itu bukan salah Prastawa. Ia tidak minta dilahirkan. Ia tidak minta dipelihara dengan susah payah. Bukankah salah orang tuanya pula apabila ia lahir di dunia ini? Semua yang kalian lakukan, juga yang dila¬kukan oleh ayah dan ibuku atasku, adalah tanggung jawab orang-orang tua yang telah melahirkan kami.”

“O,” ibu Prastawa menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya, meskipun terdengar kata-katanya, “itukah anggapan anak-anak muda sekarang terhadap orang tuanya?”

“Sudah tentu,” jawab anak muda itu. “Kalian telah me¬lahirkan kami, maka kalian pulalah yang harus memenuhi kebu¬tuhan kami. Seperti kini yang diperlukan oleh Prastawa. Hal ini tidak akan terjadi apabila Prastawa tidak dilahirkan dan Ki Argajaya tidak menuntunnya ke jalan yang sekarang dilaluinya.”

Dada Ki Argajaya menjadi semakin pedih. Namun ternyata isterinya masih juga berkata, “Terserahlah pendapat apa yang ada di dalam kepalamu, Anak Muda, tetapi aku ingin mengajari anakku, bahwa bukan sekedar kemauan kamilah yang telah me¬lahirkannya. Seperti adanya isi dunia ini, maka adanya seseorang merupakan bagian daripadanya. Kami adalah lantaran-lantaran atas ke¬lahiran anak-anak kami. Tetapi asal kelahirannya sama sekali bukan dari kami. Memang kami dapat mencegah diri kami, agar kami tidak menjadi lantaran kelahiran seseorang dengan usaha-usaha badaniah, misalnya seseorang yang tidak kawin, tetapi kuwajiban manusia adalah mempertahankan adanya manusia di muka bumi seperti yang dikehendaki oleh Penciptanya. Prastawa, sebaiknya kau tidak mengikuti jalan pikiran duniawi itu. Jalan pikiran yang sama sekali tidak mempertimbangkan sumber hidup manusia itu sendiri. Tuhan mempercayai manusia untuk melahirkan manusia baru dengan kuwajiban-kuwajiban yang memang dibebankan kepadanya, tetapi manusia-manusia baru itu pun wajib menghargai lantaran kelahiran¬nya atas kekuasaan Tuhan dan atas kepercayaan Tuhan. Bukan¬kah begitu? Dan itu adalah orang tuamu. Ayah dan ibumu. Kalau kau merendahkan harga diri ayah dan ibumu, maka kau telah merendahkan kepercayaan sumber hidupmu atas kedua orang tuamu itu, lantaran-lantaran yang telah dipilihnya.”

Dada Prastawa menjadi berdebar-debar. Yang mengucapkan kata-kata itu adalah ibunya. Ibu yang melahirkannya.

Namun dalam pada itu kawan Prastawa itu pun menjadi ber¬debar pula. Kalau Prastawa terpengaruh oleh orang tuanya, maka ia akan mengalami kesulitan. Ia akan tersudut dan mung¬kin ia akan ditangkap.

Karena itu, maka ia masih berusaha membakar hati Pras¬tawa. Katanya, “Itulah pendapat orang-orang tua, Prastawa. Ia me¬nganggap bahwa kami, anak-anak muda adalah alat-alat untuk memuas¬kan diri. Orang-orang tua sama sekali tidak berbuat apa-apa atas kita tanpa niat mementingkan dirinya sendiri. Mereka ingin menda¬pat tempat bergantung. Kalau mereka berusaha agar kita menjadi manusia yang baik, terhormat dan bahkan kaya raya, adalah ka¬rena kepentingan mereka sendiri. Orang-orang tua itu akan mendapat pujian, dan kelak mendapat tempat di hari tuanya. Itulah sebab¬nya mereka bersusah payah berusaha agar kita menjadi manusia yang melampaui manusia lainnya. Seperti ayahmu yang menginginkan kau menjadi Kepala Tanah Perdikan ini misalnya. Sa¬ma sekali bukan karena kau, bukan karena kepentinganmu, tetapi karena nafsunya sendiri. Nafsu memuaskan diri sendiri itulah.”

“O,” desis ibu Prastawa, “bagaimana kau sampai pada pikiran itu?”

“Kenapa tidak? Ternyata orang-orang tualah yang berusaha menentukan jalan hidup anak-anaknya. Kalau mereka benar-benar mencintai anaknya tanpa pamrih, mereka pasti akan mengikuti jalan pikiran anak-anak muda dan berjuang untuk mereka sesuai dengan jalan, cara, dan cita-cita yang mereka kehendaki. Di sini anak menjadi tujuan pengabdian, bukan alat-alat membanggakan dan memuaskan diri sendiri.”

“Jadi menurut pikiranmu, kasih dan cinta orang tua itu akan melahirkan perbuatan-perbuatan tanpa pertimbagan, dan asal memberikan kepuasan bagi anak-anak mereka? Tidak, Anak Muda. Cinta bukanlah sekedar membenarkan semua perbuatan, memanjakan, dan tanpa arah. Itu salah. Aku memang mempunyai pamrih atas anakku. Tetapi itu untuk kepentingan anakku kelak. Bukan se¬kedar pamrih pribadi. Kalau aku sekedar memanjakan pamrih pribadi, aku dapat menahan kebaikan kepada orang-orang lain, tanpa memerlukan seorang anak pun.”
“Bohong! Semuanya bohong!” anak muda itu memotong. Lalu, “Sekarang, Prastawa, sebelum iblis merasuk ke dalam hati¬mu. Mari, kita keluar dari rumah ini. Sekarang kau harus bertanya, apakah Ki Argajaya bersedia pergi bersama kita atau ti¬dak. Gadis ini akan menjadi tanggungan.”

Kini Prastawa telah benar-benar dicengkam oleh suatu keragu-raguan. Karena itu ia tidak menjawab. Pedangnya sudah tidak lurus lagi mengarah ke lambung Sekar Mirah.

Sekali-sekali terbayang perjuangan yang dianggapnya masih belum selesai. Namun kemudian terngiang kata-kata ibunya, dan bayangan-bayangan di masa kecilnya. Alangkah sejuknya barada di dalam pe¬lukan ayah dan ibu. Apakah kini ia harus melawan keduanya dan menyakiti bukan saja hatinya tetapi juga tubuhnya.

Kawan Prastawa menjadi semakin cemas melihat keragu-raguan itu, melihat wajah Prastawa yang menjadi suram dan tunduk.

“O, agaknya racun itu telah mencengkam perasaan anak itu,” berkata kawan Prastawa di dalam hatinya. Karena itu, maka ia pun segera mencari jalan untuk melepaskan dirinya, se¬andainya Prastawa benar-benar telah terpengaruh oleh kata-kata ayah dan ibunya.

Dalam keheningan itu, tiba-tiba saja kawan Prastawa itu me¬loncat merampas pedang di tangan putera Ki Argajaya yang se¬dang merenung itu. Dengan wajah yang tegang diacungkannya ujung pedang itu ke lambung Sekar Mirah sambil berkata, “Akulah yang kini menguasainya.”

Prastawa sendiri terkejut. Ketika ia menyadari keadaannya, pedangnya sudah berpindah tangan. Selangkah ia terdorong ke samping, kemudian ia tinggal dapat menyaksikan kawannya yang kini menguasai keadaan.

“Semua orang harus menurut perintahku. Kalau tidak, ga¬dis ini akan menjadi korban.”

“Tunggu,” berkata Prastawa.

“Aku tidak yakin bahwa kau mempunyai hati yang teguh.”

Prastawa terdiam sementara kawannya berkata pula, “Kau Prastawa, kau harus mengikuti aku bersama ayahmu.”

Ki Argajaya berdiri saja membeku. Sejenak dipandanginya wajah Sekar Mirah, kemudian wajah Sumangkar. Sedang isterinya menjadi pucat dan gemetar.

“Aku tidak sedang bermain-main. Kalian tidak akan dapat mempengaruhi aku seperti mempengaruhi Prastawa, karena aku bukan apa-apamu.”

“Tetapi dengarlah,” berkata Ki Argajaya. “Di luar rumah ini sepasukan prajurit sedang berjaga-jaga.”

“Aku tidak peduli. Aku menguasai gadis ini. Kalau seorang pun dari mereka tidak tunduk kepada perintahku, maka gadis ini akan mati.”

“Kenapa aku yang akan mati?” tiba-tiba Sekar Mirah ber¬tanya.

“Bodoh. Diam kau, jangan mencoba bertingkah lagi. Aku sekarang sudah siap. Kalau kau sendiri berbuat aneh, kau pun akan mati.”

“Kalau tidak, apakah aku akan kau bawa ke sarangmu?”

“Ya, bersama Prastawa dan Ki Argajaya.”

“Jauh?”

“Diam kau. Jangan banyak berbicara.”

Tetapi sebelum anak muda itu selesai membentak, terasa pedangnya bergetar. Kekuatan yang besar telah mendorong pe¬dangnya ke samping. Ketika ia sadar, maka Sekar Mirah itu telah meloncat beberapa langkah daripadanya.

“Gila, kau sudah gila,” geram anak muda itu.

Kini setiap orang berloncatan menepi. Nyai Argajaya yang ketakutan berdiri di belakang suaminya yang berdiri tegak seperti tonggak.

Anak muda itu kini berdiri melekat dinding dengan pedang terjulur lurus ke depan. Dengan mata yang liar ia berkata, “Kalian benar-benar telah menjadi gila, terutama gadis itu. Aku akan membunuhmu kemudian membunuh setiap orang di dalam ruangan ini.”

“Jangan kehilangan akal,” berkata Sekar Mirah. “Bukankah kau mengenal Ki Argajaya?”

Anak muda itu seakan-akan tidak mendengar kata-kata Sekar Mirah. Setapak ia bergeser mendekati Sekar Mirah. Tetapi Sekar Mirah pun bergeser pula ke samping.

“Kau tidak akan dapat lari,” geram anak muda itu. Sekar Mirah tidak menjawab kata-kata itu, namun justru ia berkata, “Kau seharusnya mengenal kemampuan Ki Argajaya. Kalau Ki Argajaya kehilangan kesabaran, maka ia akan segera bertindak atasmu.”

“Persetan. Tetapi aku pun bukan tikus clurut. Aku adalah satu-satunya orang yang bersenjata di ruang ini,” anak muda itu kemudian berpaling kepada Prastawa. “Prastawa, cepat tentu¬kan, di pihak mana kau berdiri? Apakah kau juga akan berkhianat kepada perjuangan kita?”

Sebelum Prastawa menjawab, terdengar suara Ki Argajaya, “Prastawa. Memang benar. Kau harus segera menentukan si¬kap. Kalau kau memutuskan untuk segera kembali kepada ayah dan ibumu, maka soal anak itu bukanlah soal yang sulit, meskipun ia bersenjata. Tetapi kalau kau benar-benar menganggap aku pengkhianat, dan seharusnya aku dibunuh, maka biarlah aku tidak akan melawan kalau kau memang menghendaki. Tetapi aku memang tidak akan dapat berdiri di pihak mereka yang tidak mau melihat kenyataan.”

Prastawa berdiri membeku di tempatnya. Seakan-akan terjadi benturan yang dahsyat di dalam dadanya.

“Cepat!” anak muda itu membentaknya.

Wajah Prastawa menjadi tegang. Dari keningnya menitik keringat dingin. Sejenak dipandanginya anak muda itu kemu¬dian ayahnya dan ibunya.

“Kaulah yang membawa aku kemari, Prastawa. Apakah kau akan membiarkan aku dibantai di sini karena pengkhianatanmu.”

Ruangan itu pun kemudian serasa dibakar oleh kesenyapan vaag pengap. Dada mereka menjadi sesak, dan darah mereka se¬akan-akan menjadi semakin lambat mengalir. Kini setiap mata hing¬gap pada wajah Prastawa yang tegang dan basah oleh keringat.

Degup jantung anak muda yang memegang pedang itu pun menjadi semakin cepat. Ia hampir tidak sabar lagi menunggu keputusan Prastawa. Sedang Prastawa masih saja diamuk oleh ke¬bimbangan.

Dalam kesenyapan itu terdengar suara Nyai Argajaya, “Prastawa, jangan hanyut pada suatu perasaan sekedar untuk mempertahankan harga dirimu, karena kau tidak mau disebut seorang pengkhianat. Kau harus dapat membedakan, siapakah yang menyebutmu demikian. Kalau yang menyebutmu seorang pengkhianat itu sendiri tidak mengerti tentang dirinya sendiri, apakah kau akan terpengaruh karenanya.”

“Diam, diam kau!” potong anak muda itu. Hampir saja ia meloncat sambil menjulurkan pedangnya. Tetapi langkahnya tertahan karena perempuan itu berdiri di belakang Ki Argajaya. Dan hampir setiap orang di Menoreh mengetahui, bahwa Ki Argajaya memiliki kemampuan yang tidak dapat diabaikan.

Kedua anak-anak muda di ruangan itu, Prastawa dan kawannya, sama-sama menjadi tegang. Tubuh mereka telah basah oleh keringat.

“Cepat, tentukan sikapmu,” geram anak muda itu.

Sekali lagi, semua perhatian telah terampas oleh Prastawa. Wajah-wajah yang tegang memandanginya dengan tajamnya, seolah-olah mereka langsung ingin melihat isi dada anak muda itu.

Ketika Prastawa menggerakkan kepalanya, seakan-akan semua orang berhenti bernafas.

Setelah melampaui perjuangan yang dahsyat di dalam diri¬nya, meskipun dengan penuh keragu-raguan. Prastawa menggeleng¬kan kepalanya sambil berkata lambat hampir tidak terdengar, “Aku tidak dapat melakukannya.”

“He,” anak muda itu terbelalak, “maksudmu?”

“Aku terikat oleh sesuatu yang tidak aku mengerti.”

“Jadi?”

“Aku tinggal di sini.”

“Gila. Gila kau, Prastawa,” wajah anak muda itu menjadi merah padam, serta matanya menjadi bertambah liar. Sejenak dipandanginya Prastawa yang berdiri di atas kakinya yang reng¬gang. Kemudian Ki Argajaya yang sudah bersiaga. Di belakangnya, Nyai Argajaya yang menjadi kian berdebar-debar. Selangkah daripadanva, seorang tua vang tidak dikenalnya yang disebut-sebut sebagai ayah gadis itu. Dan yang terakhir, anak muda itu me¬mandang Sekar Mirah dengan nafas terengah-engah.

Sekar Mirah berdiri tidak begitu jauh daripadanya. Meskipun semuanya tidak bersenjata, tetapi ia harus dapat menguasai orang yang dianggapnya paling lemah. Anak muda itu me¬ngenal kemampuan Prastawa, kemudian Ki Argajaya. Laki-laki tua itu tidak akan banyak artinya baginya. Dan apabila ia dapat menguasai Sekar Mirah, maka gadis itu akan dapat dipakainya un¬tuk perisai.

Tiba-tiba saja anak muda itu meloncat ke arah Sekar Mirah. Ia ingin mengancam gadis itu dengan ujung pedangnya. Dengan suara yang berat ia berkata, “Jangan mencoba melawan.”

Tetapi alangkah terkejutnya, ketika ternyata gadis itu mam¬pu meloncat secepat loncatannya. Ketika ia menjejakkan kakinya di lantai, maka Sekar Mirah telah berada beberapa langkah dari¬padanya.

“Gila. Apakah kau mencoba melarikan diri?” geramnya. Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Terbersit niat di dalam hatinya, untuk menghentikan permainan itu. Anak itu tidak boleh terlampau lama mengalami ketegangan yang dapat membuatnya menjadi benar-benar gila.

Karena itu, justru selangkah ia maju. Katanya, “Jangan menjadi liar. Sudah aku katakan, sebaiknya kau tinggal di sini. Aku kira, kau akan diterimanya pula, apabila kau benar-benar meng¬hentikan segala macam tingkah yang dapat mengganggu keten¬teraman Tanah Perdikan ini.”

“Persetan!” anak muda itu tiba-tiba berteriak. Ia tidak menghiraukan lagi para pengawal yang mungkin mendengarnya dari halaman. “Aku bunuh kau. Kita akan mati bersama-sama.”

Dengan garangnya anak muda itu meloncat maju. Kali ini ia tidak sekedar mengancam. Tetapi ia benar-benar mengayunkan pe¬dangnya, menyerang Sekar Mirah.

Tetapi Sekar Mirah sudah bersiaga. Ia mampu melihat ge¬lagat, bahwa anak muda itu akan menyerangnya apabila ia sudah kehilangan akal.

Karena itu, serangan anak muda itu tidak mengejutkan¬nya. Meskipun ia tidak bersenjata, tetapi murid Sumangkar yang berguru dengan tekun itu, tidak banyak mengalami kesulitan untuk mengelak, sehingga serangan anak muda itu sama sekali tidak menyentuh apa pun.

Dengan kemarahan yang membakar dadanya, anak muda itu menggeram. Dengan menghentakkan kakinya ia meloncat menghadapi Sekar Mirah yang menghindar ke samping.

Tetapi sama sekali tidak disangkanya, bahwa gadis itu mampu bergerak lebih cepat, daripadanya. Ketika ia menyadari keadaannya, gadis itu telah menghantam pergelangan tangannya sehingga ia tidak mampu lagi mempertahankan pedangnya, se¬hingga pedang itu pun terpelanting jatuh.

Betapa tangannya seolah-olah tersengat oleh bara api. Dengan serta-merta ia menarik tangannya sambil mengerang kesakitan. Tetapi belum lagi ia sempat mengusap pergelangan tangannya, terasa tubuhnya terdorong kuat sekali, sehingga terhuyung-huyung ia melangkah surut.

“Gila kau,” anak muda itu mengumpat ketika ia melihat Sekar Mirah memungut pedangnya. Tetapi ketika ia siap melompat maju untuk mencegahnya, langkahnya terhenti, karena tiba-tiba saja ujung pedang itu sudah mengarah ke dadanya.

“Kalau kau meloncat maju, maka ujung pedang ini akan tertancap di dadamu,” desis Sekar Mirah.

Anak muda itu tegak bagaikan patung. Ditatapnya wajah Sekar Mirah yang cantik itu dengan sorot mata yang aneh. Wa¬jah yang cantik itu tiba-tiba saja telah berubah menjadi wajah yang menakutkan. Seperti wajah seorang dewi maut yang sudah siap untuk menarikan tari maut dengan sepucuk pedang.

Tetapi Sekar Mirah tidak beranjak dari tempatnya.

“Prastawa,” desis anak muda itu, “kau telah meng¬khianati kawan-kawanmu pula.”

Prastawa tidak menjawab. Ia masih dicengkam oleh ke¬raguan. Ia tidak mengerti manakah yang sebaiknya dipilih. Se¬perti seseorang yang berdiri di simpang jalan yang membujur lurus dan panjang sekali, seakan-akan sama-sama tidak berujung.

“Apakah kau sengaja menjebak aku di rumah ini?” ber¬tanya kawannya.

Prastawa masih berdiri mematung.

Wajah anak muda itu pun menjadi semakin nanar. Ketakutan yang betapa pun lambatnya, kini telah mulai menyentuh jantung¬nya. Di hadapannya berdiri seorang gadis yang ternyata, terlam¬pau garang, segarang seekor harimau betina. Itulah agaknya, maka ia tidak takut berada di kandang serigala. Di sebelah lain Argajaya berdiri tegak dengan tatapan wajah yang menggetar¬kan jantung. Di sebelahnya, orang tua yang disebut ayah gadis yang garang itu. Agaknya ia tidak segarang anak gadisnya? Sedang di sebelah lain berdiri termangu-mangu seorang anak yang masih terlampau muda, yang justru membawanya masuk ke dalam sarang harimau ini.

Tiba-tiba anak muda itu tidak dapat lagi mengendalikan keta¬kutan yang sudah mencengkam dadanya. Ia tidak mau mati be¬gitu saja. Ia masih akan berusaha di dalam keputus-asaan, untuk keluar dari rumah terkutuk ini.

Karena itu, maka sejenak ia mencoba berpikir. Kemana ia harus melarikan diri, sementara orang-orang yang berdiri di sekitarnya itu seolah-olah telah berubah menjadi sekelompok iblis yang mena¬kutkan, yang siap menerkamnya dan merobek-robek tubuhnya.

Ketika ia tidak lagi dapat menahan ledakan di dadanya, tiba-tiba ia melompat. Sekilas ia teringat pada seutas tali yang masih masih menggantung di dalam bilik dalam.

“He, apakah kau akan lari?” bertanya Sekar Mirah.

Tetapi anak muda itu sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Dengan sekuat-kuat tenaganya ia meloncat masuk ke dalam bilik itu.

Sementara itu, para pengawal yang berada di halaman, lamat-lamat mendengar keributan di dalam rumah. Agung Sedayu yang duduk di sebelah pimpinan pengawal berdesis, “He, kau mendengar se¬suatu di dalam?”

“Ya.”

“Apakah mungkin terjadi keributan?”

Pemimpin pengawal itu ragu-ragu sejenak. “Bagaimana pendapatmu?” ia bertanya. “Kaulah yang lebih mengenal gadis dan gurunya itu.”

“Aku kira tidak akan ada keributan. Tetapi baiklah kita melihatnya.”

Ketika keduannya berdiri, mereka menjadi heran. Mereka memang mendengar keributan. Namun mereka tidak dapat dengan tergesa-gesa memasuki ruangan dalam. Sejenak mereka berdiri di pendapa. Kalau terjadi sesuatu, maka pasti salah satu pihak akan memanggil mereka.

Anak muda yang berlari itu pun kemudian meloncat masuk ke dalam bilik. Semula ia mencoba untuk menutup pintu bilik, tetapi terlambat karena Sekar Mirah telah berada beberapa langkah saja di belakangnya. Karena itu, maka ia harus cepat mencapai tali yang masih tergantung. Tali yang dipergunakan sebagai alat untuk turun masuk ke dalam neraka ini.

Dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada, anak muda itu pun segera menggapai ujung tali itu. Ternyata ia me¬mang cakap memanjat.

Tetapi anak muda itu mengumpat keras-keras ketika tubuhnya terhempas dilantai. Agaknya Sekar Mirah telah meloncat ke atas pembaringannya, kemudian sekali lagi meloncat sambil menga¬yunkan pedang yang dibawanya memutuskan tali yang masih terjuntai itu, tepat di atas tangan anak muda yang sedang me¬manjat itu.

Namun demikian, anak muda itu tidak berhenti sampai se¬kian. Sekali lagi ia meloncat ke luar dan berlari ke arah pintu.

“Ia tidak akan lolos. Biarlah para pengawal menangkap¬nya,” desis Sekar Mirah.

Argajaya yang telah siap untuk menangkapnya, telah ter¬tegun mendengar desis Sekar Mirah, sejenak ia berdiri ter¬mangu melihat anak muda itu berlari ke pringgitan.

Agung Sedayu yamg berada di pendapa bersama pemimpin pengawal itu pun menjadi semakin berdebar-debar mendengar derap orang berlari. Kini mereka tidak dapat menunggu lagi. Meskipun tidak seorang pun yang memanggil mereka, namun keduanya tanpa berjanji telah melangkah ke pintu.

Ketika Agung Sedayu berdiri tepat di muka pintu, ia men¬dengar seseorang membuka selarak dengan tergesa-gesa.

Agung Sedayu menjadi semakin curiga. Kini ia berdiri di ¬muka pintu. Namun ia terkejut ketika tiba-tiba saja pintu itu ter¬buka dan seseorang telah melanggarnya.

Karena Agung Sedayu tidak menduga sama sekali, maka ia pun tidak menghindari benturan itu. Begitu tiba-tiba sehingga Agung Sedayu terdorong beberapa langkah surut. Tetapi anak muda yang juga terkejut itu pun seakan-akan telah terlempar masuk kembali ke pringgitan dan jatuh terbanting di lantai.

Dengan serta-merta ia pun bangkit. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kini ia berdiri di muka Agung Sedayu dan pemimpin pengawal yang sudah meraba hulu pedangnya.

“Siapakah anak ini?” bertanya pemimpin pengawal itu kepada Argajaya yang berdiri termangu-mangu.

Sebelum Argajaya menjawab, Sekar Mirah yang masih me¬megang pedang, maju beberapa langkah. Sambil tersenyum ia berkata, “Kami mendapat dua orang tamu malam ini. Tetapi tamu yang seorang ini agaknya tidak kerasan tinggal di sini.”

Agung Sedayu dan pemimpin pengawal itu mengedarkan tatapan matanya berkeliling. Dilihatnya seorang anak muda yang lain berdiri termangu-mangu dekat di depan dinding bilik di ruang dalam. Dari lubang pintu yang memisahkan pringgitan dan ruang dalam mereka melihat anak muda itu termangu-mangu. Namun me¬reka menarik nafas dalam-dalam, ketika ia melihat Sumangkar berdiri beberapa langkah daripadanya.

(***)

From HPrasidi’s Collection
Scan: Ki Warsono Hr
Convert: Kiai Abu
Retype: Kiai Abu
Proof: Ki Gd Menoreh
Date: 11-15-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:35  Comments (44)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-50/trackback/

RSS feed for comments on this post.

44 KomentarTinggalkan komentar

  1. wih, cepet ya covernya. matur nuwun mas

  2. urutannya, cover, cover baru djv…by the way thanks, semuannya

  3. Sepasang mata Swandaru terus mengawasi Agung Sedayu & Pandanwangi dari balik gerumbul di belakang rumah.
    “Kakang Gupita,… apa yg kau sembunyikan.” Agung Sedayu masih tertunduk & ragu2 utk mengatakannya.Lalu katanya pelan “Pandawangi,…sebenarnya aku menyembunyikan sesuatu darimu. Aku tahu kaupun juga telah menduganya, tetapi hal ini tidak boleh diketahui oleh orang lain, apalagi oleh Gupala. Aku kawatir dia tidak dapat mengendalikan perasaannya. Aku tahu kau telah memberi jawaban atas keinginannya, tetapi aku tidak dapat menipu diriku sendiri. Aku ingin memilikinya…” Dada Swandaru bergetar hebat mendengar kata2 Agung Sedayu, ingin dia segera melompat & menantang kakak seperguruannya itu,… tetapi niatnya segera diurungkan karena dia melihat Agung Sedayu mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Lalu didengarnya suara Agung Sedayu setengah berbisik kepada Pandanwangi seraya mengangsurkan sesuatu “Pandanwangi,… dua hari ini Gupala selalu mencari-cari kitab ini. Aku titipkan kitab ini kepadamu, pastinya Gupala tidak akan berani menggeledahmu…”. Pandanwangi menerimanya, dan memeriksanya, tertulis disitu : kitab bundel ADBM jilid 46 sd 60 lengkap…………………

  4. wah apakah benar yang dikatakan kisanak ini?

    Sudah ada yg megang bundel lengkap?

    wuiiihh… pengeeen (ngeces)

  5. Aku yo pengennn……..

  6. Namun ternyata dengan adanya bisik bisik Agung Sedayu itu pun tidak berapa lama kemudian seluruh padukuhan ADBM menjadi geger.

    Banyak yang bertanya-tanya di dalam hatinya apakah kitab bundel 46 s/d 60 lengkap itu sudah sedemikian nyata untuk dapat segera diunggah dan dinikmati oleh seluruh padukuhan, ataukah masih dalam bentuk bundelan yang menunggu disorot oleh alat yang disebut scanner dan diunggah ke banjar padukuhan ini……

  7. “Benar Ngger, kami memang diutus Ki Demang Sangkal Putung untuk menjemput kalian”, jawab Ki Sumangkar.
    “Semenjak pasukan Pajang ditarik dari Sangkal Putung, berikut pusaka keramat yang selama ini menaungi kehidupan di padukuhan Sangkal Putung ikut ditarik ke Pajang, kami harus meminjam pusaka milik gurumu,Kyai Gringsing yang memiliki pusaka serupa”.
    “Apakah itu Ki..?” setengah berbisik Agung Sedayu bertanya kepada Ki Sumangkar.
    “Scanner Ngger”.
    “Tanpa pusaka itu, bendel yang kau titipkan kepada Pandanwangi tidak akan bisa dinikmati oleh seluruh padukuhan ini….”

  8. hahahahahaha
    ternyata penghuni padepokan ini selera humornya tinggi
    hahahahahha
    tak pikir agung sedayu nitipkan kitab ilmu pedang dari Bu Tong Pay ke Pandang Wangi
    eeeeh jebul nya ……

  9. Agung Sedayu memandang hamparan sawah yang terbengkalai didepannya. Pikirannya menerawang jauh. Sambil mendesah ia membayangkan proyek scanner yang harus dilakukannya hingga buku jilid 396,…

    D2: Aku ingat kamu berjanji jilid2 90-an. Hayo siap2.

  10. Saat ini ada 27 Cantrik yg dengan harap2 cemas nongkrong di alun2 tanah perdikan.

    Menunggu turunnya pusaka jilid 50

    xixixi 😀

    DD: Udah koq

  11. Scanernya, dibawa sutowijoyo ke alas mentaok untuk keperluan pendataan penduduk seluruh mentaok. Nanti akan dititipkan ke kyai gringsing untuk dibawa kembali ke tlatah wordpress. Mungkin sekitar 2 minggu…

  12. Ini sedikit trick editing bagi yang para editor yang belum tahu.

    Pada semua hasil scan ADBM, tanda seru (“) biasanya tercetak sebagai garis datar, dan untuk mengubahnya secara otomatis di MSWord biasanya agak susah. Cara mengganti secara otomatis dengan tehnik “Highlight – Ctrl EE” biasanya ndak jalan, karena garis datar tsb bukan basic letter yang ada di keyboard, melainkan simbol, yang untuk menggantinya dengan yang lain harus diakali.
    Cara yang mudah adalah:

    1. highlight simbol (grs datar) tersebut, terus klik kanan (tright click) dan tekan “copy”. Berarti simbol tsb. sdh tercopy.
    2. lalu spt biasa tekan Ctrl EE untuk mengganti huruf/kata. (muncul dua box, satu utk kata yg akan diganti, yang satu utk kata pengganti)
    3. arahkan cursor pada box kata yang mau diganti. Lalu klik kanan dan pilih “paste”. Simbol tsb sdh siap utk diganti.
    4. pada box kata pengganti, ketikkan kata/huruf pengantinya (dalam contoh di atas kata seru “)
    5. pilih option “replace all”, maka semua garis datar akan berganti dengan tanda seru. Selamat mencoba.

    NB> tehnik ini berlaku untuk semua simbol yang aneh-aneh hasil scan. Semoga hasil proofreading menjadi lebih cepat.

    Wassalam, GI

  13. Beres Boss DD,. silahkan lihat cover jilid-jilid tersebut di multiply saya,.. Dan ejaan nya pun sudah lebih bagus sehingga ngga terlalu ribet konvert nya.

  14. Ampun Ki Gede,

    Kapan kira2 hamba dapat memperoleh sipat kandel ADBM50?

  15. Para Ki sanak semua,
    Mohon informasi, apakah saya yang tidak bisa men download ADBM-50 ini atau memang belum ada kiriman dari Kiai Gringsing?

    GD: Para cantrik lain gak ada masalah tuh?

  16. u mas siamet, menurut ki DD menoreh besuk pahing. karena belum di konpert, tauuuuk? salam………

  17. Ki Slamet .. silakan di ambil menu seperti biasa. Mungkin browser sampeyan memang langsung membuka file DJVU nya sebagai PDF. Ini mengakibatkan alih-alih mengunduh tapi browser internet sampeyan malah berusaha membukanya. Akibatnya gagal maning gagal maning.
    Sarannya ganti browsernya ato non aktifkan otomatis membuka pdf file nya.

  18. apa yang dialami ki slamet, sama dengan saya. muncul tulisan site preview not available pada snap-nya. biasanya tidak masalah kok. tapi ok, aku tunggu saja perkembangan konvert-nya. sabar… sabar…

  19. barusan aku coba lagi bisa kok Ki Hartono ..

  20. maaf, sampai sekarang saya belum bisa baca buku 50. mohon petunjuk kiai gringsing….

  21. mohon petunjuk ki DD, mesu diri dibilik 50 dan 51 belum dapat restu dari ki gede menoreh. padahal dibilik 53 aku sudah dapat menikmati tenaga cadangan. bagaimana langkah yang aku harus lakukan untuk menuntaskan jurus ilmu orang bercambuk?

  22. Terima kasih ki sanak sekalian, terutama ki Sukra

    Saya sudah coba ganti browser dari Mozilla ke IE, hasilnya masih sama tuh. Bagaimana caranya me non aktifkan otomatis buka PDF file nya ki Sukra? (sy GATEK nih hehe…)
    Yang saya heran dari ADBM-1 s/d 49 saya kok bisa buka? apa karena sudah di konvert ya?
    Yah, mungkin saya harus sabar menunggu konvertnya ki DD

    Matur nuwun……….

  23. Sabar Mas Slamet, panjenengan punya problem yg sama dg aku , pramila punika di tunggu saja kompertnya

  24. @ Ki Slamet
    Coba pake google Chrome. untuk unduh gunakan klik kanan, “simpan tautan sebagai ..”
    moga bisa membantu memahaminya.

  25. Ki Ageng Slamet..
    Untuk menikmati hasil unduhan buah DJVU dari kebun DJVU Ki Gede, Panjenegan mesti punya pisau untuk mengupasnya, hasil unduhan tersebut tidak bisa ditelan mentah2.. Apapun alasannya tidak bakalan bisa dinikmati hasil unduhan tersebut. Untuk mendapatkan pisaunya, monggo Panjenengan lihat di halaman lain2. Disitu banyak disajikan beraneka ragam pisau yang bisa untuk mengupas buah DJVU dari kebun Ki Gede.

    Setunggal maleh (satu lagi) Ki Ageng Slamet, hasil dari kebun Ki Gede itu memang berupa DJVU, tapi untuk menghindari serangan kelelawar2 dan binatang2 malam pemakan buah dari kebun DJVU nya Ki Gede, maka Ki Dede membungkusnya (dislongsong) pakai kain PDF. Naahh… untuk membuka bungkusan tersebut itu, dilakukan bersamaan sewaktu Ki Ageng Slamet mengunduh buah DJVU tersebut. Salah satu caranya, Panjenengan harus menambahkan embel2 (extention-nya) dibelangan nama buah (file) yang panjenengan sogrok (unduh ..hehe)

    Contohnya, misalnya Panjenengan akan mengunduh ADMB-jilid-050. Yang mesti Penjengan lakukan adalah dengan meng”KLIK” kanan (biasa yg normal pada posisi kanan) pada mouse(kalau pake mouse), selanjutnya akan ada tulisan “save as target” .. Lhaaaa… sebelum Panjenegan “save” , Panjengan harus menambahkan “.djvu” (titik djvu) dibelakang tulisan (nama file) ADBM-julid-050, tanpa memakai spasi. Hasilnya tulisan tersebut seperti ini “ADBM-jilid-050.djvu”

    Mudah2an, dengan sedikit penjelasn ini, Panjenengan bisa menikmati buah DJVU dari kebun Ki Gede, betul betul masih Fresh… seger… tidak perlu di imbu pakai karbit… hehe

  26. grooooook
    zzzsssssshhhhhh
    zzzzssshhhhhhhh
    (sing ngenteni sampek keturon)
    zzzzsssssshhhhhhh ….. groooook

  27. Kiai Pedo, terima kasih atas usulannya…….dan saya sudah mencobanya.
    Saya juga sudah punya buah DJVU kitab 50 kiriman Ki GD dan Ki DD tetap saja belum bisa di unduh
    Kalau ada yg bantu convert ke file doc baru saya bisa buka…hehe, rupanya memang harus terus bersabar, sementara kisanak sekalian sudah sampai ke kitab 55

    Kiai Pedo nyebut saya tolong jangan keliru kiai Slamet ya (gudel)….hehehe

    Matur nuwun

  28. walah reeeeek rek tibane isih durung njebul
    turu maneh ae……
    grrrrrroooooook
    ssszzzzzzzzhhhh

  29. @ agus mojo
    apanya yang belum ya mas ?

  30. Ki Sukro,
    Cantrik ini mungkin lagi nunggu yg dikonpert ato sudah diketik ulang..

  31. uaaaaahhh……(ngulet)
    nunggu di kompert mas
    hehehehehe
    fasilitase komputerku sangat terbatas and dibatasi
    so aku gak isok ngeinstall dejapu iku (melas pol aku rek) alhasil gak isok mbukak kitab kuning seri seket
    uaaaaah (ngulet maneh)
    sik yo mas Sukro, ki Pedo….. aku tak nutuk’ake turu
    ssszzzzzzh… groooooook

  32. uaaaahhh (ngulet)
    Benar yai Pedo…. aku nunggu kompret’an
    soalnya fasilitas kompterku terbatas & dibatasi hehehe
    (melas temen aku reeeeeek)
    uaaaaaaaaaaaahhh(ngulet maneh)
    sik yo kang Sukro…, yai Pedo… aku tak nganjutno tidur ku….. ssssszzzzzzhhhhhh krooooook… kroook

  33. kang agus .. tangi.. kuwi lho isih anget kompret’ane.

  34. BAGUS , VERY THANX

  35. TJAP DJEMPOL lagi aah….pratanda yen cantrik berharap
    Nyi SENO hadir ning gandhok 50

    Matur nuwun Ki GD, beBAHU padepokan ADBM sedaya-nya

  36. pak SATPAM……nyuwun penCERAHan, kenapa komentar
    cantrik ning gandOK 49=50.

    pada mendelep tak berBEKAS, hilang bak tertelan lubang
    tanpa…….!!???

  37. ah, perdebatan Argajaya, Prastawa, Nyi Argajaya dan kawan Prastawa benar2 hebat, bernas dan bermutu.

    • mutu=ulek-ulek

      • bermutu = berulek-ulek

        • seratus buat ki ndul

          • seratus limapuluh buat ki mbleh

            • tigaratus sepuluh buat ki kartu dan ki mangku

              • Lha sak welase pun trimo mawon

  38. ngulang dr sni ah… Kngen..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: