Buku 50

Sekar Mirah tertawa, “Apakah begitu penting bagimu untuk mengetahui namaku.”

Prastawa, putera Ki Argajaya itu mengerutkan keningnya. Sikap Sekar Mirah dirasakannya sangat aneh. Gadis itu sama sekali tidak terkejut, apalagi menjadi ketakutan.

Namun di luar dugaan kawan Prastawa itu pun kemudian berkata, “Prastawa. Kalau gadis ini memang bukan sanak-ka¬dangmu, kenapa ia berada di sini?”

“Aku tidak tahu,” jawab Prastawa.

“Kalau begitu, biarlah aku mengurusnya.”

Prastawa mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” ia bertanya.

Kawannya tiba-tiba saja tertawa, meskipun tidak bersuara. Katanya, “Ia terlampau cantik.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” bertanya Prastawa.

Kawannya masih tertawa. Lalu, “Apakah kita akan mene¬mui Ki Argajaya lebih dahulu? Aku kira lebih baik kau menemui¬nya sendiri. Kau dapat berbicara dengan leluasa.”

“Lalu kau?”

“Aku tinggal di sini, mengawani gadis ini. Aku dapat mencegahnya kalau ia berteriak dan mengejutkan para penjaga.”

Putera Ki Argajaya itu mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Tetapi aku belum melihat Ibu.”

“Nah, carilah ibumu. Katakan maksudmu. Tetapi sebaik¬nya kau berbuat seperti seorang anak terhadap orang tuamu. Berbicara dengan baik dan sopan. Aku yakin, bahwa ayahmu akan mengerti, bahwa perjuangan kita masih panjang.”

“Kau terpancang pada kepentinganmu sendiri.”

“Bukankah kau sejak semula akan pergi sendiri? Tetapi pertimbangan keamanan dirimulah yang membawa aku kemari. Tetapi agaknya tidak ada seorang pengawal pun yang ada di dalam rumah ini.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Dan ia melihat kawannya itu melangkah mendekati Sekar Mirah, “Kau sudah terdampar ke suatu tempat yang barangkali tidak pernah kau impikan.”

“Kenapa,” bertanya Sekar Mirah tanpa beranjak dari tempatnya.

“Kau sangat diperlukan di sini. Kalau kau tetap tinggal di rumah ini, sedang di halaman rumah ini berkerumun serigala-serigala lapar, maka nasibmu tidak akan berketentuan.”

“Aku datang bersama ayah.”

“Siapa ayahmu.”

“Ya ayahku.”

“Kalau ia mencoba menghalangi mereka, ayahmulah yang akan disingkirkannya dahulu.” Anak muda itu berhenti seben¬tar. Sambil berpaling kepada putera Ki Argajaya ia berkata, “Pergilah ke ayahmu. Aku akan menyelamatkan gadis ini. Kau ma¬sih terlampau muda untuk memikirkan seorang gadis cantik ini.”

Putera Ki Argajaya termenung sejenak. Dipandanginya wajah kawannya yang aneh, kemudian ditatapnya Sekar Mirah yang masih tersenyum-senyum saja.

“Apa yang kau tunggu?” bertanya kawan Prastawa itu.

“Aku tidak mengerti, kenapa gadis itu di sini.”

“Jangan hiraukan. Biarlah aku yang mengurusnya. Seka¬rang kau temui ibu dan kemudian ayahmu.”

Sekali lagi Prastawa memandang wajah Sekar Mirah. Ia tidak dapat mengerti, kenapa sikapnya begitu ramah menerima kedatangan orang yang belum dikenalnya, di tempat yang asing baginya.

“Jangan tunggu sampai pagi,” desis kawannya.

Prastawa menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Aku akan menemui Ibu dan Ayah. Tetapi kalau aku tidak dapat berbicara dengan mulutku, maka aku akan berbicara dengan sen¬jataku.”

“Pertimbangkan baik-baik.”

“Aku sudah mengerti.”

“Terserahlah,” ternyata kawannya itu sama sekali sudah tidak menghiraukan lagi apa yang akan dilakukan oleh putera Ki Argajaya itu. Perhatiannya seluruhnya telah ditumpahkannya kepada Sekar Mirah yang masih duduk di tempatnya.

“Hati-hatilah dengan gadis itu,” putera Ki Argajaya masih berpesan, “jangan sampai ia dapat mengganggu acara kita.”

“Serahkan kepadaku. Tetapi kau pun harus berhati-hati pula.”

Putera Ki Argajaya itu pun kemudian dengan sangat hati-hati menyibakkan pintu lereg di bilik itu. Ternyata ruang dalam ru¬mah itu pun sudah sepi. Cahaya lampu minyak yang remang-remang sama sekali tidak menyentuh seorang pun yang masih terbangun.

“He, kenapa kau belum juga keluar?” kawannya ber¬desis.

Putera Ki Argajaya itu berpaling. Tetapi ia tidak berkata apa pun. Namun kawannya menjadi tidak sabar lagi. Kalau saja ia tidak sadar akan tugasnya, maka anak muda itu sudah dilem¬parkannya ke luar bilik.

“Bukankah kita sudah yakin bahwa rumah ini sepi. Aku tidak mendengar apa-apa.”

“Bukankah aku harus berhati-hati?” sahut Prastawa.

Kawannya mengangguk kecil, meskipun ia mengumpat-umpat di dalam hati. Namun ketika sekilas dipandanginya Sekar Mirah masih saja duduk tenang di tempatnya, ia menarik nafas dalam-dalam.

Perlahan-lahan putera Ki Argajaya itu pun kemudian melangkah ke luar. Dengan ragu-ragu ia memandang berkeliling. Sebuah perta¬nyaan terbersit di hatinya, “Di manakah ibu tidur?”

Tetapi ketika ia melihat lampu yang kecil menyala di bilik sebelah, ia pun segera mengetahuinya, bahwa ibunya ada di dalam bilik itu.

“Aku harus menemuinya dahulu, supaya ibu tidak berteriak-teriak.”

Prastawa pun kemudian dengan sangat hati-hati melangkah melintasi ruangan dalam menuju ke pembaringan ibunya. Perlahan-lahan pula ia menarik daun pintunya, kemudian melangkah masuk.

Sementara itu, kawannya masih berdiri tegak di hadapan Sekar Mirah yang belum berkisar dari tempatnya.

“He, siapakah sebenarnya kau?” bertanya anak muda itu.

“Siapa aku itu tidak penting buatmu. Apakah yang kau kehendaki dari aku? Aku bukan orang padukuhan ini, bukan penghuni rumah ini sehingga aku tidak akan dapat memberikan banyak keterangan yang kau ingini.”

“Aku tidak memerlukan keterangan apa pun.”

“Lalu apa yang kau inginkan?”

“Kau.”

“Aku?”

“Ya. Aku ingin membawamu ke luar dari rumah ini.”

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya, “Tidak mungkin. Ayahku ada di rumah ini dan di halaman rumah ini bertebaran para pengawal.”

“Bodoh kau. Aku dapat masuk tanpa mereka ketahui.”

“Kau memanjat?”

“Ya. Aku memanjat atap rumah ini, kemudian turun de¬ngan tali itu.”

“Aku tidak dapat memanjat.”

“Aku dapat mendukungmu. Lihat, tubuhku hampir sebe¬sar tubuh gajah.”

“Akan kau bawa ke mana aku nanti?”

Anak muda itu terdiam sejenak. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Sekar Mirah.

“Ke mana?” Sekar Mirah mengulang.

Anak muda itu termenung sejenak. Sudah lama ia mening¬galkan rumahnya. Sudah tentu ia tidak dapat pulang sambil membawa seorang gadis. Seandainya demikian, maka ia pasti akan segera ditangkap oleh para pengawal yang sekarang sudah menguasai hampir semua sudut-sudut Tanah Perdikan ini.

“Apakah kau mempunyai rumah?”

Tanpa sesadarnya anak muda itu mengangguk, “Ya. Aku punya rumah.”

“Rumahmu sebesar ini?”

“Ya, rumahku sebesar ini.”

“Dan aku akan kau bawa ke rumahmu?

Anak muda itu menjadi kian bingung. Ia tidak mengerti, bagaimana ia harus menjawab.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia berdesah, “Kau tidak mau mengatakan, ke mana aku akan kau bawa.”

Tiba-tiba wajah anak muda itu menjadi tegang. Katanya, “Kau aku bawa ke tempatku sekarang.”

“Kau tentu tinggal bersama kawan-kawanmu. Dan aku akan kau ambil dari daerah serigala lapar dan kau masukkan ke dalam kandang harimau yang juga kelaparan?”

Anak muda itu menjadi semakin bingung. Memang tidak mungkin baginya untuk membawa gadis itu ke sarang persem¬bunyiannya. Di sana terdapat banyak sekali laki-laki yang liar se¬perti dirinya sendiri. Kehadiran Sekar Mirah di antara mereka pasti hanya akan menimbulkan keonaran saja.

Karena itu, maka untuk sejenak laki-laki yang bertubuh se¬perti seekor badak itu berpikir sejenak. Sekali-sekali ditatapnya wa¬jah Sekar Mirah di bawah remang-remang sorot lampu minyak yang redup.

Dan tiba-tiba tanpa sesadarnya laki-laki muda itu bertanya, “Lalu bagaimana sebaiknya?”

Sekar Mirah tersenyum. Katanya, “Kaulah yang menentu¬kan, bagaimana sebaiknya.”

Laki-laki itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudiaan katanya, “Kau ikut aku. Aku tidak tahu ke mana kau akan aku bawa.”

“He, kau aneh sekali.”

“Tidak. Ini bukan hal yang aneh. Aku memerlukan kau dan aku tidak mau dibingungkan oleh tempat dan segala macam.”

“Jadi bagaimana?”

Wajah anak muda itu tiba-tiba menjadi merah. “Ayo, ikut aku.”

“Kau belum mengatakan, ke mana.”

“Jangan bertanya lagi. Kita harus segera keluar dari tem¬pat ini.”

“Jangan tergesa-gesa. Duduklah. Bukankah kau masih me¬nunggu putera Ki Argajaya.”

“Tidak, aku tidak menunggu lagi.”

Sekar Mirah tertawa. Katanya, “Kau seperti anak-anak yang lapar melihat ibunya membawa makanan.”

“Jangan membuat darahku semakin menggelegak.”

“Duduklah.”

“Tidak, Kita harus segera pergi.

“Anak muda,” berkata Sekar Mirah kemudian, “kalau kau memang tidak mempunyai tempat tinggal, kenapa kau tidak menetap di sini saja? Rumah ini terlampau besar untuk dihuni keluarga Ki Argajaya yang sudah terpecah-pecah itu. Mungkin rumah ini dahulu sangat baik dan bersih. Dihuni oleh beberapa orang sanak saudara dan pelayan-pelayan yang sanggup memelihara rumah ini.

“Jangan mengigau,” potong anak muda itu, “ayo, ikut aku. Berdirilah.”

Tetapi Sekar Mirah masih saja tersenyum di tempatnya.

“Kau aneh,” berkata Sekar Mirah, “kau ingin membawa aku tanpa mengerti ke mana kau akan pergi. Sudah aku katakan tinggallah di sini. Atau, aku yang akan membawamu?”

“He?”

“Aku hanya mempunyai seorang saudara laki-laki. Kau dapat aku jadikan saudaraku yang kedua. Aku mempunyai kakak, dan kau akan menjadi adikku.”

“Gila. Gila kau,” tiba-tiba anak muda itu mengumpat-umpat.

“Kau sendirilah yang berteriak. Kalau seisi rumah ini bangun, itu bukan salahku.”

“Aku memerlukan kau tidak sebagai saudara. Aku memer¬lukan kau sebagai seorang perempuan,” laki-laki itu menjadi te¬gang. Lalu, “Ikut aku. Cepat!”

Agaknya ia sudah tidak sabar lagi. Selangkah ia maju me¬nyambar lengan Sekar Mirah dan menariknya. Sekar Mirah tidak melawan. Ia pun terseret beberapa langkah. Namun kemudian tangan anak muda itu dikibaskannya, sehingga pegangannya pun terlepas.

“Kau menyakiti aku,” desis Sekar Mirah.

Namun anak muda itu menjadi heran karenanya. Ia tidak menyangka bahwa Sekar Mirah cukup kuat untuk mengibaskan tangannya, dan apalagi setelah gadis itu berdiri, matanya seakan-akan tidak berkedip lagi memandangi pakaian Sekar Mirah.

“Kenapa kau termenung?” bertanya Sekar Mirah.

“Pakaianmu.”

“Kenapa pakaianku?”

Anak muda itu tidak segera menjawab. Dipandanginya Se¬kar Mirah dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Dan tiba-tiba saja ia berdesis, “Kenapa kau berpakaian seperti itu.”

“Kenapa? Ya, kenapa? Bukankah aku berpakaian biasa?”

Hati anak muda itu kini menjadi semakin berdebaran. Pa¬kaian Sekar Mirah bukanlah pakaian gadis-gadis sewajarnya. Di atas Tanah Perdikan ini, hanya Pandan Wangi sajalah gadis yang mengenakan pakaian seperti yang dipakai oleh Sekar Mirah itu. Karena pakaian itu semula ditutupinya dengan kain panjang yang dipergunakannya sebagai selimut, maka anak muda itu tidak begitu memperhatikannya. Namun agaknya cara berpakaian gadis ini telah menunjukkan suatu ciri yang lain dari gadis-gadis kebanyakan.

“Kenapa kau termenung? Apakah kau tidak mau aku ba¬wa pulang, dan aku jadikan adik laki-laki.”

Jantung anak muda itu kini menjadi semakin cepat ber¬dentang. Tetapi tiba-tiba ia menggeram, “Persetan dengan kau. Aku tidak peduli siapa kau dan kenapa kau berpakaian seperti seorang laki-laki. Tetapi aku tahu pasti, kau seorang gadis. Dengan demikian aku memerlukan kau. Mau tidak mau, kau harus aku bawa ke luar dari tempat ini. Aku dapat membuat kau pingsan, kemudian aku dukung kau ke luar dari dalam bilik ini lewat atap.”

“Aku tidak dapat membayangkan, apakah kau benar-benar da¬pat melakukannya. Kalau tanganmu memegangi tubuhku, bagai¬mana kau dapat memanjat.”

“Gila,” anak muda itu menggeram. Matanya menjadi nanar memperhatikan barang-barang yang ada di dalam bilik itu. Ia ingin mendapat alat yang dapat dipakainya untuk memanjat atap. Tetapi ia tidak melihat sesuatu kecuali sebuah geledeg bambu yang tua.

“Nah, apakah kau menemukan jalan keluar.”

“Gila,” ia menggeram, dan tiba-tiba ia menjadi liar, “aku tidak akan membawamu ke luar.”

“Lalu?”

“Aku memerlukan kau sekarang.”

“Gila,” tiba-tiba wajah Sekar Mirah menjadi merah, “sebaiknya kau pikirkan setiap kalimat yang kau ucapkan.”

“Persetan. Jangan banyak tingkah, supaya aku tidak men¬jadi kasar.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya, ketika ia melihat anak muda itu melangkah maju. Matanya seakan-akan telah menyala dan nafasnya menjadi terengah-engah.

Sekar Mirah surut selangkah. Tetapi ia tidak dapat mundur lagi karena ia sudah berdiri melekat pinggir pembaringannya. Karena itu, ia hanya dapat berdiri dengan tegang memandangi anak muda yang seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat itu.

Sekar Mirah menjadi ngeri juga melihat sorot mata anak muda itu, sehingga kulitnya serasa meremang. Terkenang sesaat tingkah laku Alap-alap Jalatunda di Padepokan Tambak Wedi, ketika ia diambil oleh Sidanti dari Sangkal Putung.

Tetapi Sekar Mirah sekarang bukanlah Sekar Mirah yang dahulu.

Anak muda itu menjadi semakin dekat kepadanya. Terde¬ngar kemudian ia berdesis, “Kau lebih baik tidak menolak. Aku memang tidak akan dapat membawamu ke mana saja. Tetapi se¬karang kita cukup waktu. Prastawa masih harus menyelesaikan persoalannya dengan ayah dan ibunya.”

Tetapi Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau jangan menjadi gila dan liar. Ingat, di sekitar rumah ini para pengawal bertebaran di segala sudut dan hampir di setiap jengkal tanah.”

“Aku tidak peduli.”

“Jangan,” desis Sekar Mirah.

Namun orang itu justru menjadi semakin liar. Matanya menjadi merah dan dadanya berdentangan tidak menentu.

“Jangan menolak.”

“Jangan.”

“Aku tidak dapat dicegah lagi.”

“Aku dapat berteriak.”

“Aku akan membungkam mulutmu.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Menilik sorot mata¬nya, anak muda itu memang tidak akan dapat dicegah lagi.

Belum lagi Sekar Mirah berbuat apa-apa, maka tiba-tiba saja anak muda itu meloncat menerkamnya. Menurut perhitungannya. Se¬kar Mirah tidak akan dapat lolos lagi, karena ia sudah berdiri melekat pembaringan.

Tetapi anak muda itu terkejut, ketika tanpa disangka-sangka ia merasa tangannya yang terulur itu terdorong ke samping. De¬mikian keras dan apalagi didorong oleh kekuatannva sendiri, sehingga anak muda itu terhuyung-huyung membentur dinding kayu.

“He,” bertanya Sekar Mirah, “kenapa kau?”

Anak muda itu menggeram. Tetapi otaknya telah menjadi gelap sehingga ia tidak segera dapat menilai apa yang telah ter¬jadi. Karena itu, maka sekali lagi ia bersiap. Dengan tangan gemetar ia menunjuk wajah Sekar Mirah, “Kau mau mengelak, he? Kaulah yang memulainya, sehingga kau tidak akan dapat menghentikannya sekarang sebelum aku menjadi puas.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dengan sudut mata¬nya ia memandang gulungan tikar di pinggir pembaringannya. Di situlah senjatanya disimpan.

“Aku belum tahu, apakah yang dapat dilakukan oleh anak ini,” katanya di dalam hati. “Tetapi agaknya ia sudah kehilang¬an akal, sehingga tidak akan terlampau sulit mengurusnya.”

Sebenarnyalah bahwa anak muda itu sudah kehilangan akal. Ia sudah tidak tahu lagi apa saja yang mungkin dapat terjadi.

Sementara itu, Prastawa dengan ragu-ragu berdiri di sisi pembaringan ibunya. Tampaknya ibunya tidur terlampau nyenyak. Selama ini Nyai Argajaya memang tidak pernah dapat tidur senyenyak itu. Namun agaknya kedatangan suaminya telah membuat hatinya menjadi lebih tenteram, meskipun masih juga di¬bayangi oleh ketidak-tentuan. Karena itulah maka malam itu ia dapat tidur dengan nyenyaknya.

Sekali-sekali Prastawa menjulurkan tangannya untuk membangunkannya, namun setiap kali tangannya itu ditariknya kem¬bali. Betapa pun juga perempuan yang tidur itu adalah ibunya.

Tetapi ketika teringat akan maksudnya memasuki rumah itu, maka anak muda itu pun menggeretakkan giginya, seolah-olah ia sedang mengumpulkan kekuatan yang ada di dalam dirinya untuk mengatasi getar perasaannya sebagai seorang anak.

Sejenak ia masih diam mematung. Namun sejenak kemudian ia melangkah maju. Dengan tangan gemetar akhirnya ia menyen¬tuh kaki ibunya yang sedang tidur dengan nyenyaknya itu.

Sentuhan itu agaknya telah membagunkan ibunya. Dikedip-kedipkannya matanya yang buram. Seperti bermimpi ia melihat anaknya berdiri tegak di hadapannya.

“Kau, kaukah itu?”

“Ya, Ibu.”

“O,” dengan serta-merta ibunya bangkit, lalu katanya, “kali ini kau tidak boleh pergi lagi, Prastawa. Ayahmu telah kem¬bali. Apakah kau sudah mengetahuinya.”

“Sudah, Ibu.”

“Kau sudah menemuinya?”

Anak muda itu menggelengkan kepalanya.

“Ayahmu ada di ruang dalam,” tiba-tiba ia mengerutkan ke¬ningnya. Sejenak kemudian ia bertanya, “Dari mana kau masuk?”

“Dari lubang itu.”

“Dan kau turun di bilik ibu?”

“Ya, Ibu.”

“Di bilik itu ada seorang gadis yang sedang tidur. Aku lupa mengatakannya, bahwa di atas atap ada sebuah lubang yang dapat ditutup dan dibuka. O, kalau ia tahu, ia pasti akan sangat terkejut.”

“Gadis itu sudah tahu, Ibu.”

“He, dan gadis itu tidak berteriak.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya, Tiba-tiba saja tim¬bul pertanyaan di dalam hatinya, “Ya, gadis itu tidak berteriak. Tampaknya gadis itu seolah-olah justru menunggu kedatangan ka¬mi. Aneh.”

“Bagaimana dengan gadis itu? Apakah kau …….” suara ibunya terputus.

“Maksud ibu, aku telah membunuhnya?”

Ibunya mengangguk lemah.

“Tidak, Ibu. Gadis itu masih ada di dalam biliknya. Ia tidak terkejut sama sekali melihat kehadiranku.”

Nyai Argajaya mengerutkan keningnya. Sejenak ia terdiam sambil menatap wajah anaknya, seakan-akan ia tidak percaya pada keterangannya.

“Aku berkata sebenarnya, Ibu,” seolah-olah anaknya itu pun mengerti apa yang tersirat di dalam hatinya.

“Lalu apakah yang dilakukannya sekarang?”

“Ia masih ada di dalam bilik itu bersama seorang kawanku.”

“He? Jadi kau datang tidak seorang diri?”

“Tidak. Aku datang bersama kawanku. Ia ada di dalam bi¬lik bersama gadis itu.”

“Lalu, lalu apakah yang mereka lakukan? Maksudku, apa¬kah anak muda itu telah membunuh atau mengancam gadis itu?”

“Tetapi gadis itu bersikap baik kepada kami. Ia menge¬tahui kami memasuki ruangan itu. Sambil tersenyum-senyum ia mempersilahkan kami.”

“Ah,” Nyai Argajaya menjadi bingung, “aku tidak me¬ngerti apa yang kau katakan.”

“Sudahlah, jangan hiraukan gadis itu. Ia sudah ada yang mengawaninya. Agaknya gadis itu pun senang mendapatkan se¬orang kawan.”

“Tentu tidak. Aku tidak percaya bahwa ia senang men¬dapatkan kawan. Kawan itu adalah kawan-kawanmu. Aku mengenal mereka.” Ibunya berhenti sejenak, “Sedang aku, orang tua ini pun ngeri melihat kawan-kawanmu dan sikapnya yang liar.”

“Ibu.”

“Tetapi, bukankah kau tidak akan pergi lagi dari rumah ini? Kalau kawanmu itu bersedia, biarlah ia tinggal di sini pula, asal ia tidak membuat keributan. Biarlah ayahmu yang menanggungnya.”

“Tidak!” tiba-tiba anak itu membentak, sehingga ibunya terkejut karenanya.

“O,” Prastawa tergagap, “bukan maksudku mengejut¬kan Ibu. Tetapi kami tidak akan menetap. Kami datang untuk menjemput ayah agar ayah bersedia membantu kami.”

“Prastawa,” ibunya terkejut bukan buatan sehingga ke¬mudian ia berdiri saja dengan mulut ternganga.

“Ibu tidak usah menyingkirkannya. Ini adalah persoalan laki-laki. Kami sudah terlanjur mengangkat senjata. Ayahlah yang pertama-tama telah memulainya. Tetapi kini kamilah yang mendapat kesulitan karenanya Kakang Sidanti sudah terbunuh, orang-orang lain yang memimpin perjuangan ini pun telah terbunuh pula. Apakah ayah akan sampai hati mendapat pengampunan dari Ki Argapati, lalu duduk memeluk lutut di rumah ini sementara sisa-sisa pasukan¬nya berkeliaran dan selalu dikejar-kejar saja oleh para pengawal Menoreh?”

“Jangan. Jangan, Anakku. Baik kau mau pun ayahmu, se¬baiknya tidak memulainya lagi. Aku sudah cukup lama mende¬rita karena pertengkaran antara Kakang Argapati dengan ayahmu itu.”

“Ibu adalah seorang perempuan. Ibu tidak banyak me¬ngerti, kenapa kami berperang.”

“Apakah kau sendiri mengerti kenapa kalian berperang?”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian menarik nafas dalam.

“Tidak, Anakku. Kau tidak boleh terseret oleh arus yang tidak kau mengerti,” berkata ibunya. “Aku yakin kalau ayah¬mu dahulu mempunyai sesuatu pamrih kenapa ia memulainya. Tetapi kini ayahmu sudah berhasil menempatkan dirinya di dalam suatu keadaan yang mau tidak mau harus diakuinya seba¬gai suatu kenyataan.”

Prastawa berdiri mematung. Ditatapnya nyala api yang bergetar disentuh angin malam yang bertiup menyusup dinding.

Tiba-tiba ia menggeram, “Hatiku sudah terbakar. Hati ini sudah terlanjur menyala, dan tidak akan dapat dipadamkan lagi.”

“Jangan begitu, Anakku. Jangan mengeraskan hati di jalan yang sesat.”

“Aku tidak pernah merasa sesat jalan. Ayahlah yang membawa aku memasuki ujung jalan ini. Dan sekarang, aku ha¬rus berjalan sampai ke ujung yang lain.”

“Kau keliru. Ayahmu telah melihat jalan simpang yang dapat menyelamatkan dirinya.”

“Ayah hanya sekedar mementingkan diri sendiri.”

“Tidak, justru keselamatan rakyat Menoreh yang ter¬sisa. Yang tidak ikut menjadi abu karena api yang telah mem¬bakar Tanah Perdikan ini.”

“Itu sikap pengecut.”

Dan tiba-tiba keduanya terkejut ketika mereka mendengar sua¬ra yang serak di muka pintu, “Jadi kau datang untuk menjemput ayahmu sebagai seorang pengecut.”

Prastawa dan ibunya serentak berpaling. Dada mereka ber¬desir ketika mereka melihat Ki Argajaya berdiri di muka pintu dengan wajah yang suram.

Sejenak Prastawa terdiam. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Ya. Ayah seorang pengecut.”

Di luar dugaannya, Ki Argajaya menganggukkan kepalanya, “Ya, aku memang seorang pengecut. Ternyata aku tidak berani melihat Tanah ini menjadi semakin lumat setelah kini menjadi abu.”

“Bohong! Ayah hanya sekedar mementingkan diri sendiri. Keselamatan Ayah sendiri.”

“Prastawa,” suara ayahnya merendah, “marilah, duduk¬lah di ruang dalam. Kita akan berbicara dengan baik. Aku dapat berbicara sebagai seorang ayah, dan kau sebagai seorang anak laki-laki.”

“Tidak. Itu tidak perlu. Aku hanya menuntut agar Ayah tetap ikut di dalam perjuangan ini. Kenapa Ayah tidak menerus¬kan perjuangannya sampai saat terakhir seperti Kakang Sidanti dan Ki Tambak Wedi? Nama mereka akan tetap dikenang. Kalau kami mendapat kemenangan, maka akan dibuat masing-masing sebuah patung dan akan dipasang di gapura induk padukuhan Menoreh.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Sejak sekian lama anaknya berada di dalam lingkungan itu, sehingga hatinya telah men¬jadi beku, terselubung oleh keputus-asaan yang menyeretnya ke dalam keadaannya itu. Tanpa harapan dan cita-cita.

Penyesalan yang dalam telah menikam jantung Ki Arga¬jaya. Anak itu tinggallah satu-satunya anaknya sejak anak perem¬puannya meninggal dunia. Tetapi ia sendiri telah menjerumus¬kannya ke dalam suatu keadaan yang hitam kelam, sehingga anak itu sendiri tidak dapat melihat hari depannya sama sekali.

“Aku memang salah langkah,” katanya di dalam hati. “Maksudku memang merintis jalan bagi anak itu. Tetapi, karena aku tidak berjalan di jalan yang benar, akhirnya aku justru ter¬pelanting ke dalam keadaan yang sangat pahit.”

Ki Argajaya terkejut ketika ia mendengar anaknya ber¬kata, “Bagaimana, Ayah? Apakah Ayah sependapat dengan aku, bahwa perjuangan ini harus diteruskan?”

“Prastawa,” suara Ki Argajaya merendah, “marilah duduk di sini. Bukankah kau tidak tergesa-gesa?”

“Aku tergesa-gesa. Kawanku menunggu aku di bilik ibu.”

“He,” Ki Argajaya mengerutkan keningnya, “maksud¬mu, kau membawa seorang kawan yang kini berada di bilik itu.”

“Ya. Biarlah ia menunggui gadis itu. Kami tidak tahu, apakah yang dapat dilakukannya. Apakah ia akan berteriak, atau ia memang mengharapkan kedatangan seorang laki-laki.”

Ki Argajaya termenung sejenak. Lalu, “Marilah, kau dan kawanmu aku persilahkan duduk sebentar. Yang kita bicarakan adalah masalah yang penting. Sudah tentu tidak dengan cara ini. Berdiri dengan tegang di tengah-tengah pintu.”

Prastawa merenung sejenak. Namun kemudian ia mengge¬leng sambil menghentakkan perasaan sendiri yang mulai tersentuh-sentuh kata-kata orang tuanya, “Tidak. Aku tidak akan duduk. Aku tetap di sini.”

“Tetapi kawanmu itu Prastawa. Sebaiknya kita berbicara sambil mengendapkan perasaan sendiri yang mulai terbuka sehingga aku mengerti keadaanmu yang sebenarnya dan kau mengerti keadaanku yang sebenarnya. Dengan demikian kita akan dapat mengambil kesimpulan daripadanya.”

Prastawa masih termenung.

“Marilah,” ayahnya pun kemudian menarik tangan anak itu. Selangkah Prastawa mengikutinya. Tetapi kemudan ia me¬nyentakkan tangannya sambil berkata, “Tidak! Aku tidak mau.”

Ki Argajaya berdiri membeku. Ditatapnya wajah anak itu sejenak. Kemudian perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Sudah sewajarnya ia bersikap begitu,” berkata di dalam hati. Ia memang tidak dapat ingkar, bahwa ia telah menjerumus¬kan anaknya ke dalam keadaannya yang sekarang.

Tetapi Prastawa itu tidak dapat mengelak ketika ibunya mendekatinya dan berbisik di telinganya, “Marilah bersama ibu, Ngger.”

Prastawa tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk mengibaskan tangan ibunya. Meskipun ia mencoba bertahan di tempatnya, ketika ibunya menariknya, namun kemudian Prastawa pun melangkah mengikutinya.

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Ia melangkah di belakang anaknya yang berjalan bersama ibunya ke ruang tengah.

“O, Kiai sudah bangun?” bertanya Nyai Argajaya.

“Apakah ada tamu malam-malam begini?” bertanya Sumangkar yang telah duduk di pinggir amben.

“Anakku, Kiai,” jawab Nyai Argajaya yang masih membimbing Prastawa.

“O,” Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ini tamu ayahmu, Ngger,” berkata Nyai Argajaya kepa¬da anaknya.

“Apakah orang ini termasuk pengawal yang mengawasi Ayah di sini?”

“Ia tamuku, Prastawa,” sahut ayahnya. “Ia bukan orang Menoreh.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia melangkah surut sambil berkata, “Inikah orang-orang asing yang ikut campur dalam persoalan Menoreh?”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun terse¬nyum sambil berkata, “Aku belum lama berada di sini, Anakmas. Aku datang setelah keadaan menjadi baik kembali. Bahkan aku tidak melihat apa yang telah terjadi di sini.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Ha, sekarang aku tahu. Kau dan anak perempuan itu pasti datang bersama Ayah dan para pengawal. Tentu.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Memang aku dan anakku datang bersama Ki Argajaya. Tetapi kami tidak ikut campur tentang keadaan di atas Tanah Perdikan ini.”

“Sudahlah, Ngger,” berkata ibunya, “jangan hiraukan apa pun juga. Duduklah. Rumah ini adalah rumahmu, milikmu. Sekarang kau berada di rumahmu sendiri. Karena itu jangan gelisah.”

Prastawa masih tetap berdiri di tempatnya.

“Duduklah. Marilah kita berbicara. Apakah kita akan menemukan persesuaian atau tidak, terserahlah kepada keadaan nanti. Tetapi marilah kita mulai dengan hati yang bening, niat yang baik dan harapan-harapan yang dapat memberikan ketenteraman hati. Terutama perempuan-perempuan tua seperti aku.”

Prastawa masih berdiri di tempatnya. Tetapi perlahan-lahan ia berdesis, “Aku tidak datang seorang diri.”

“Marilah kita panggil kawanmu itu.”

“Ia ada di dalam bilik Ibu.”

Dada Nyai Argajaya menjadi berdebar-debar. Sekilas dipandanginya Ki Sumangkar. Tetapi kemudian ia berkata, “Marilah, ber¬sama Ibu.”

Keduanya pun kemudian berjalan ke bilik yang dipergunakan oleh Sekar Mirah. Dalam pada itu, detak jantung Nyai Argajaya menjadi semakin cepat. Ia tidak berani membayangkan apa yang telah terjadi di dalam bilik itu.

“Seandainya kawan Prastawa menjadi gila dan liar, maka malanglah nasib gadis itu.”

Tetapi Nyai Argajaya tidak mengatakannya, meskipun se¬makin dekat mereka dengan daun pintu yang tertutup hatinya menjadi semakin berdebar-debar.

Sejenak kemudian mereka sudah berdiri di depan pintu. Mereka sama sekali tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Sepi.

Putera Ki Argajaya pun menjadi termangu-mangu. Kawannya memang bukan seorang anak muda yang jinak. Orang itu kadang-kadang dapat berbuat liar dan bahkan dapat menjadi buas.

“Apakah yang dilakukan oleh kawanmu itu?” bisik Nyai Argajaya.

Prastawa tidak menyahut. Tetapi perlahan-lahan diketuknya pintu bilik yang tertutup itu.

Tetapi agaknya Nyai Argajaya tidak sabar menunggu. Dengan suara serak ia berkata, “Buka, bukalah.”

Seperti didorong oleh sesuatu yang tidak dimengertinya. Prastawa pun mendorong pintu bilik itu sehingga menganga lebar.

Sejenak mereka berdua dicengkam oleh pemandangan, yang membingungkan sehingga nafas mereka terhenti. Dengan mata terbelalak mereka menyaksikan peristiwa yaag sama sekali tidak mereka duga.

“Bagaimana hal ini dapat terjadi?” desis Nyai Argajaya. Prastawa pun kemudian maju selangkah. Diamatinya sesosok tubuh yang terbaring di lantai. Pingsan.

“Apa yang sudah kau lakukan atasnya,” putera Ki Arga¬jaya itu bertanya.

Sejenak bilik itu dicengkam oleh kesenyapan. Namun kemu¬dian terdengar jawaban, “Aku tidak sengaja. Aku hanya me¬nyentuh dadanya. Aku kira ia mempunyai kekuatan yang dapat dibanggakan.”

Nyai Argajaya masih memandanginya dengan mulut ternga¬nga. Ternyata gadis yang menempati biliknya itu adalah seorang gadis yang luar basa. Dengan tenangnya gadis itu duduk di pinggir pembaringannya.

(Bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:35  Comments (44)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-50/trackback/

RSS feed for comments on this post.

44 KomentarTinggalkan komentar

  1. wih, cepet ya covernya. matur nuwun mas

  2. urutannya, cover, cover baru djv…by the way thanks, semuannya

  3. Sepasang mata Swandaru terus mengawasi Agung Sedayu & Pandanwangi dari balik gerumbul di belakang rumah.
    “Kakang Gupita,… apa yg kau sembunyikan.” Agung Sedayu masih tertunduk & ragu2 utk mengatakannya.Lalu katanya pelan “Pandawangi,…sebenarnya aku menyembunyikan sesuatu darimu. Aku tahu kaupun juga telah menduganya, tetapi hal ini tidak boleh diketahui oleh orang lain, apalagi oleh Gupala. Aku kawatir dia tidak dapat mengendalikan perasaannya. Aku tahu kau telah memberi jawaban atas keinginannya, tetapi aku tidak dapat menipu diriku sendiri. Aku ingin memilikinya…” Dada Swandaru bergetar hebat mendengar kata2 Agung Sedayu, ingin dia segera melompat & menantang kakak seperguruannya itu,… tetapi niatnya segera diurungkan karena dia melihat Agung Sedayu mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Lalu didengarnya suara Agung Sedayu setengah berbisik kepada Pandanwangi seraya mengangsurkan sesuatu “Pandanwangi,… dua hari ini Gupala selalu mencari-cari kitab ini. Aku titipkan kitab ini kepadamu, pastinya Gupala tidak akan berani menggeledahmu…”. Pandanwangi menerimanya, dan memeriksanya, tertulis disitu : kitab bundel ADBM jilid 46 sd 60 lengkap…………………

  4. wah apakah benar yang dikatakan kisanak ini?

    Sudah ada yg megang bundel lengkap?

    wuiiihh… pengeeen (ngeces)

  5. Aku yo pengennn……..

  6. Namun ternyata dengan adanya bisik bisik Agung Sedayu itu pun tidak berapa lama kemudian seluruh padukuhan ADBM menjadi geger.

    Banyak yang bertanya-tanya di dalam hatinya apakah kitab bundel 46 s/d 60 lengkap itu sudah sedemikian nyata untuk dapat segera diunggah dan dinikmati oleh seluruh padukuhan, ataukah masih dalam bentuk bundelan yang menunggu disorot oleh alat yang disebut scanner dan diunggah ke banjar padukuhan ini……

  7. “Benar Ngger, kami memang diutus Ki Demang Sangkal Putung untuk menjemput kalian”, jawab Ki Sumangkar.
    “Semenjak pasukan Pajang ditarik dari Sangkal Putung, berikut pusaka keramat yang selama ini menaungi kehidupan di padukuhan Sangkal Putung ikut ditarik ke Pajang, kami harus meminjam pusaka milik gurumu,Kyai Gringsing yang memiliki pusaka serupa”.
    “Apakah itu Ki..?” setengah berbisik Agung Sedayu bertanya kepada Ki Sumangkar.
    “Scanner Ngger”.
    “Tanpa pusaka itu, bendel yang kau titipkan kepada Pandanwangi tidak akan bisa dinikmati oleh seluruh padukuhan ini….”

  8. hahahahahaha
    ternyata penghuni padepokan ini selera humornya tinggi
    hahahahahha
    tak pikir agung sedayu nitipkan kitab ilmu pedang dari Bu Tong Pay ke Pandang Wangi
    eeeeh jebul nya ……

  9. Agung Sedayu memandang hamparan sawah yang terbengkalai didepannya. Pikirannya menerawang jauh. Sambil mendesah ia membayangkan proyek scanner yang harus dilakukannya hingga buku jilid 396,…

    D2: Aku ingat kamu berjanji jilid2 90-an. Hayo siap2.

  10. Saat ini ada 27 Cantrik yg dengan harap2 cemas nongkrong di alun2 tanah perdikan.

    Menunggu turunnya pusaka jilid 50

    xixixi 😀

    DD: Udah koq

  11. Scanernya, dibawa sutowijoyo ke alas mentaok untuk keperluan pendataan penduduk seluruh mentaok. Nanti akan dititipkan ke kyai gringsing untuk dibawa kembali ke tlatah wordpress. Mungkin sekitar 2 minggu…

  12. Ini sedikit trick editing bagi yang para editor yang belum tahu.

    Pada semua hasil scan ADBM, tanda seru (“) biasanya tercetak sebagai garis datar, dan untuk mengubahnya secara otomatis di MSWord biasanya agak susah. Cara mengganti secara otomatis dengan tehnik “Highlight – Ctrl EE” biasanya ndak jalan, karena garis datar tsb bukan basic letter yang ada di keyboard, melainkan simbol, yang untuk menggantinya dengan yang lain harus diakali.
    Cara yang mudah adalah:

    1. highlight simbol (grs datar) tersebut, terus klik kanan (tright click) dan tekan “copy”. Berarti simbol tsb. sdh tercopy.
    2. lalu spt biasa tekan Ctrl EE untuk mengganti huruf/kata. (muncul dua box, satu utk kata yg akan diganti, yang satu utk kata pengganti)
    3. arahkan cursor pada box kata yang mau diganti. Lalu klik kanan dan pilih “paste”. Simbol tsb sdh siap utk diganti.
    4. pada box kata pengganti, ketikkan kata/huruf pengantinya (dalam contoh di atas kata seru “)
    5. pilih option “replace all”, maka semua garis datar akan berganti dengan tanda seru. Selamat mencoba.

    NB> tehnik ini berlaku untuk semua simbol yang aneh-aneh hasil scan. Semoga hasil proofreading menjadi lebih cepat.

    Wassalam, GI

  13. Beres Boss DD,. silahkan lihat cover jilid-jilid tersebut di multiply saya,.. Dan ejaan nya pun sudah lebih bagus sehingga ngga terlalu ribet konvert nya.

  14. Ampun Ki Gede,

    Kapan kira2 hamba dapat memperoleh sipat kandel ADBM50?

  15. Para Ki sanak semua,
    Mohon informasi, apakah saya yang tidak bisa men download ADBM-50 ini atau memang belum ada kiriman dari Kiai Gringsing?

    GD: Para cantrik lain gak ada masalah tuh?

  16. u mas siamet, menurut ki DD menoreh besuk pahing. karena belum di konpert, tauuuuk? salam………

  17. Ki Slamet .. silakan di ambil menu seperti biasa. Mungkin browser sampeyan memang langsung membuka file DJVU nya sebagai PDF. Ini mengakibatkan alih-alih mengunduh tapi browser internet sampeyan malah berusaha membukanya. Akibatnya gagal maning gagal maning.
    Sarannya ganti browsernya ato non aktifkan otomatis membuka pdf file nya.

  18. apa yang dialami ki slamet, sama dengan saya. muncul tulisan site preview not available pada snap-nya. biasanya tidak masalah kok. tapi ok, aku tunggu saja perkembangan konvert-nya. sabar… sabar…

  19. barusan aku coba lagi bisa kok Ki Hartono ..

  20. maaf, sampai sekarang saya belum bisa baca buku 50. mohon petunjuk kiai gringsing….

  21. mohon petunjuk ki DD, mesu diri dibilik 50 dan 51 belum dapat restu dari ki gede menoreh. padahal dibilik 53 aku sudah dapat menikmati tenaga cadangan. bagaimana langkah yang aku harus lakukan untuk menuntaskan jurus ilmu orang bercambuk?

  22. Terima kasih ki sanak sekalian, terutama ki Sukra

    Saya sudah coba ganti browser dari Mozilla ke IE, hasilnya masih sama tuh. Bagaimana caranya me non aktifkan otomatis buka PDF file nya ki Sukra? (sy GATEK nih hehe…)
    Yang saya heran dari ADBM-1 s/d 49 saya kok bisa buka? apa karena sudah di konvert ya?
    Yah, mungkin saya harus sabar menunggu konvertnya ki DD

    Matur nuwun……….

  23. Sabar Mas Slamet, panjenengan punya problem yg sama dg aku , pramila punika di tunggu saja kompertnya

  24. @ Ki Slamet
    Coba pake google Chrome. untuk unduh gunakan klik kanan, “simpan tautan sebagai ..”
    moga bisa membantu memahaminya.

  25. Ki Ageng Slamet..
    Untuk menikmati hasil unduhan buah DJVU dari kebun DJVU Ki Gede, Panjenegan mesti punya pisau untuk mengupasnya, hasil unduhan tersebut tidak bisa ditelan mentah2.. Apapun alasannya tidak bakalan bisa dinikmati hasil unduhan tersebut. Untuk mendapatkan pisaunya, monggo Panjenengan lihat di halaman lain2. Disitu banyak disajikan beraneka ragam pisau yang bisa untuk mengupas buah DJVU dari kebun Ki Gede.

    Setunggal maleh (satu lagi) Ki Ageng Slamet, hasil dari kebun Ki Gede itu memang berupa DJVU, tapi untuk menghindari serangan kelelawar2 dan binatang2 malam pemakan buah dari kebun DJVU nya Ki Gede, maka Ki Dede membungkusnya (dislongsong) pakai kain PDF. Naahh… untuk membuka bungkusan tersebut itu, dilakukan bersamaan sewaktu Ki Ageng Slamet mengunduh buah DJVU tersebut. Salah satu caranya, Panjenengan harus menambahkan embel2 (extention-nya) dibelangan nama buah (file) yang panjenengan sogrok (unduh ..hehe)

    Contohnya, misalnya Panjenengan akan mengunduh ADMB-jilid-050. Yang mesti Penjengan lakukan adalah dengan meng”KLIK” kanan (biasa yg normal pada posisi kanan) pada mouse(kalau pake mouse), selanjutnya akan ada tulisan “save as target” .. Lhaaaa… sebelum Panjenegan “save” , Panjengan harus menambahkan “.djvu” (titik djvu) dibelakang tulisan (nama file) ADBM-julid-050, tanpa memakai spasi. Hasilnya tulisan tersebut seperti ini “ADBM-jilid-050.djvu”

    Mudah2an, dengan sedikit penjelasn ini, Panjenengan bisa menikmati buah DJVU dari kebun Ki Gede, betul betul masih Fresh… seger… tidak perlu di imbu pakai karbit… hehe

  26. grooooook
    zzzsssssshhhhhh
    zzzzssshhhhhhhh
    (sing ngenteni sampek keturon)
    zzzzsssssshhhhhhh ….. groooook

  27. Kiai Pedo, terima kasih atas usulannya…….dan saya sudah mencobanya.
    Saya juga sudah punya buah DJVU kitab 50 kiriman Ki GD dan Ki DD tetap saja belum bisa di unduh
    Kalau ada yg bantu convert ke file doc baru saya bisa buka…hehe, rupanya memang harus terus bersabar, sementara kisanak sekalian sudah sampai ke kitab 55

    Kiai Pedo nyebut saya tolong jangan keliru kiai Slamet ya (gudel)….hehehe

    Matur nuwun

  28. walah reeeeek rek tibane isih durung njebul
    turu maneh ae……
    grrrrrroooooook
    ssszzzzzzzzhhhh

  29. @ agus mojo
    apanya yang belum ya mas ?

  30. Ki Sukro,
    Cantrik ini mungkin lagi nunggu yg dikonpert ato sudah diketik ulang..

  31. uaaaaahhh……(ngulet)
    nunggu di kompert mas
    hehehehehe
    fasilitase komputerku sangat terbatas and dibatasi
    so aku gak isok ngeinstall dejapu iku (melas pol aku rek) alhasil gak isok mbukak kitab kuning seri seket
    uaaaaah (ngulet maneh)
    sik yo mas Sukro, ki Pedo….. aku tak nutuk’ake turu
    ssszzzzzzh… groooooook

  32. uaaaahhh (ngulet)
    Benar yai Pedo…. aku nunggu kompret’an
    soalnya fasilitas kompterku terbatas & dibatasi hehehe
    (melas temen aku reeeeeek)
    uaaaaaaaaaaaahhh(ngulet maneh)
    sik yo kang Sukro…, yai Pedo… aku tak nganjutno tidur ku….. ssssszzzzzzhhhhhh krooooook… kroook

  33. kang agus .. tangi.. kuwi lho isih anget kompret’ane.

  34. BAGUS , VERY THANX

  35. TJAP DJEMPOL lagi aah….pratanda yen cantrik berharap
    Nyi SENO hadir ning gandhok 50

    Matur nuwun Ki GD, beBAHU padepokan ADBM sedaya-nya

  36. pak SATPAM……nyuwun penCERAHan, kenapa komentar
    cantrik ning gandOK 49=50.

    pada mendelep tak berBEKAS, hilang bak tertelan lubang
    tanpa…….!!???

  37. ah, perdebatan Argajaya, Prastawa, Nyi Argajaya dan kawan Prastawa benar2 hebat, bernas dan bermutu.

    • mutu=ulek-ulek

      • bermutu = berulek-ulek

        • seratus buat ki ndul

          • seratus limapuluh buat ki mbleh

            • tigaratus sepuluh buat ki kartu dan ki mangku

              • Lha sak welase pun trimo mawon

  38. ngulang dr sni ah… Kngen..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: