Buku 50

WAJAH Swandaru menjadi merah padam. Sambil bersungut-sungut ditatapnya wajah Agung Sedayu sejenak. Ketika ia melihat Agung Sedayu masih juga tersenyum, Swandaru ber¬gumam, “Tidak. Aku tidak sedang sakit.”

Gurunya tidak segera menyahut. Kini dipandanginya wajah Agung Sedayu yang masih juga tersenyum.

“Benar, Guru. Adi Swandaru sedang sakit. Tetapi yang sakit bukan badannya.”

Gurunya menjadi tegang. Dengan nada yang tinggi ia ber¬tanya, “Ya Swandaru, kau sakit? Tetapi yang sakit bukan ba¬danmu?”

Kini sadarlah Swandaru yang gemuk itu, bahwa gurunya pun agaknya telah dengan sengaja mengganggunya. Karena itu maka jawabnya, “Ya. Yang sakit bukan badanku. Tetapi ingatanku.”

Kiai Gringsing dan Agung Sedayu pun kemudian tertawa, sedang Swandaru masih juga bersungut-sungut. Namun akhirnya Kiai Gringsing berkata, “Baiklah. Kalau demikian biarlah Angger Swandaru berada di sini. Aku agak kurang menghiraukan pera¬saannya. Tetapi kini aku mengerti, bahwa memang sebaiknya Anakmas Swandaru tidak ikut serta. Ia memang perlu beristira¬hat sepekan dua pekan.”

Swandaru tidak menjawab. Ditatapnya wajah Agung Se¬dayu yang melemparkan tatapan matanya jauh-jauh.

“Angger Agung Sedayu akan pergi sendiri bersama pa¬sukan kecil itu mengantarkan Ki Argajaya karena hal itu memang diperlukan,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Baik Guru,” jawab Agung Sedayu. Namun tiba-tiba me¬reka berpaling ketika terdengar suara Sekar Mirah, “Aku akan ikut serta bersama Kakang Agung Sedayu menggantikan Kakang Swandaru di dalam pasukan itu.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sekilas ia ber¬paling ke arah Ki Sumangkar, seolah-olah ia berkata, “Apakah kita akan dapat mengijinkannya?”

Ki Sumangkar pun kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah kau perlu ikut bersamanya?” Sumangkar ber¬tanya.

“Ya, Guru,” jawab Sekar Mirah, “Kakang Swandaru merasa perlu untuk tinggal.”

“Tetapi,” berkata Kiai Gringsing, “aku menjadi bingung. Di mana aku harus berada. Aku tinggal di sini atau aku harus pergi bersama Agung Sedayu dan Sekar Mirah?”

“Kenapa Kiai harus pergi bersama aku dan Kakang Agung Sedayu atau menunggui Kakang Swandaru?”

Kiai Gringsing tidak dapat segera menjawab. Tetapi ketika ia memandang wajah Ki Sumangkar, orang tua itu pun mengang¬gukkan kepalanya. Ia tahu bahwa Kiai Gringsing memerlukannya. Adalah kurang bijaksana bahwa yang tua-tua membiarkan anak-anak muda itu tanpa pengawasan, justru mereka telah menyatakan diri mereka saling mengikat.

“Kiai,” berkata Ki Sumangkar kemudian, “aku akan ikut bersama Sekar Mirah dan Angger Agung Sedayu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan agaknya anak-anak muda itu pun kemudian menyadari, kenapa orang-orang tua itu menjadi bingung untuk melepaskan mereka pergi berdua saja.

Dengan demikian, maka meskipun dengan alasan yang lain, Ki Sumangkar turut serta bersama dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah di dalam pasukan kecil yang mengantarkan Ki Argajaya. Atas pendapat Kiai Gringsing, Ki Argapati pun tidak berkeberatan, bahwa kedua orang itu pun pergi bersama Agung Sedayu untuk membantu kesulitan yang mungkin timbul.

Maka setelah pasukan kecil itu bersiap seluruhnya, mereka pun kemudian berangkat meninggalkan induk padukuhan.

Agaknya rombongan kecil itu memang benar-benar telah mena¬rik perhatian. Beberapa orang yang melihatnya segera memberi¬tahukan kepada tetangga-tetangganya, bahwa sekelompok pasukan pe¬ngawal Menoreh telah lewat mengantarkan Ki Argajaya.

“He,” desis seseorang yang melihat pasukan itu, “bu¬kankah di antara mereka itu terdapat Ki Argajaya?”

“Ya, Ki Argajaya? Apakah ia akan dibawa ke tempat hu¬kumannya yang baru?”

“Mungkin, ia akan digantung di bawah Puncang Kembar.”

“Tidak,” seseorang menggeleng, “tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menjalani hukuman. Mungkin ia akan dibebaskan. Bukankah Ki Argapati telah menyerukan pengampunan umum?”

Orang-orang itu pun saling berpadangan. Salah seorang yang tidak mau berteka-teki tiba-tiba berteriak, “He, akan dibawa ke mana orang itu?”

Hampir segenap isi rombongan kecil itu berpaling. Tetapi tidak seorang pun yang menjawab.

“Apakah orang itu akan digantung di bawah Pucang Kem¬bar?” teriak orang itu pula.

Tidak seorang pun juga yang menjawabnya. Namun, pertanyaan itu benar-benar telah menyentuh perasaan Ki Argajaya. Kini ia menyadari, betapa tanggapan rakyat Menoreh kepadanya. Kepada perbuatan yang telah dilakukannya.

Karena itu, maka kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Sebuah pengakuan yang mendalam telah menusuk-nusuk jantungnya. Apalagi ketika dilihatnya sawah-sawah yang kering dan tidak terpelihara. Di sana-sini para petani sedang sibuk memperbaiki parit sehingga mereka masih belum sempat menanami sa¬wahnya yang memang tidak dapat dikerjakannya selama pepe¬rangan berkecamuk.

Hatinya berdesir tajam ketika mereka melewati sebuah regol yang sudah menjadi abu dan belum sempat diperbaiki. Pa¬ra pengawal terpaksa mendampingi Ki Argajaya ketika mereka melihat anak-anak muda yang berkumpul di ujung jalan padukuhannya itu berteriak, “Ha, inilah salah seorang yang telah membakar regol kita.”

“Bukan hanya regol kita,” teriak yang lain, “tetapi ia sudah membakar seluruh Tanah Perdikan Menoreh.”

Terasa dada Ki Argajaya menjadi semakin pepat. Tetapi ia sudah menemukan pengakuan yang pasrah. Ia memang telah melakukan semua kesalahan itu, sehingga ia harus menelan ke¬pahitan perasaan itu tanpa dapat mengelak lagi.

Karena itu maka ia pun kemudian berjalan dengan kepala yang tetap tunduk. Seakan-akan ia tidak berani lagi memandang Tanah Perdikan Menoreh yang porak poranda itu.

“Apakah kita masih akan berjalan jauh?” tiba-tiba salah seorang pengawal berdesis.

Pemimpin pengawal dan kawan-kawannya pun segera berpaling kepadanya. Sudah tentu ia tahu bahwa mereka masih akan berjalan beberapa lama lagi, melintasi beberapa buah bulak dan padukuhan.

“Kenapa?” bertanya pemimpin pengawal.

“Kenapa kita harus mengantarkannya pulang? Apakah orang itu belum pernah melihat jalan di daerah ini?”

Dada Argajaya berdesir. Ternyata bukan saja orang-orang di tepi-tepi jalan yang mengumpatnya. Bahkan di dalam pasukan pengawal ini pun terselip perasaan itu.

Pemimpin pengawal itu pun menjadi berdebar-debar pula. Dugaannya ternyata tidak jauh keliru. Kalau perasaan itu berkembang, maka keadaan akan menjadi panas. Karena itu cepat-cepat ia men¬jawab, “Itu bukan persoalan kita. Kita mengemban perintah Ki Gede Menoreh, apa pun alasannya.”

Ternyata usahanya untuk sementara berhasil. Pengawal itu tidak bertanya lebih lanjut, sedang orang-orang lain yamg mulai di¬jalari oleh perasaan yang serupa, yang agaknya sudah mulai akan terangkat oleh pertanyaan seorang kawannya itu, menjadi terbungkam. Mereka menghormati Kepala Tanah Perdikannya, sehingga mereka patuh menjalani tugas yang dibebankan kepada mereka. Mengantarkan Ki Argajaya dengan selamat sampai di rumahnya, kemudian mengawal rumah itu untuk sementara sam¬pai petugas yang akan menggantikan mereka datang.

Dalam pada itu, di balik gerumbul-gerumbul liar agak di tengah-tengah sawah yang tidak terpelihara, beberapa orang melihat iring-iringan itu dengan wajah yang tegang. Salah seorang daripadanya ada¬lah seorang anak laki-laki yang masih sangat muda.

“Kemana mereka akan pergi?” salah seorang dari me¬reka itu berdesis.

“Ini adalah suatu pameran kebaikan hati Ki Argapati. Mungkin ini adalah satu dari sekian banyak orang yang diam¬puninya dalam rangka pengampunan umum yang telah diteriak¬kan oleh Kepala Tanah Perdikan yang nyaris terbunuh itu.”

Anak yang masih sangat muda yang ada di antara mereka tidak segera dapat menyambung pembicaraan kawan-kawannya. Ia melihat, bahwa di antara rombongan itu adalah ayahnya.

“Bukankah itu Ki Argajaya?” desis seorang kawannya. Anak muda itu mengangguk.

“Agaknya ayah akan diantarkan pulang,” desisnya.

“Pulang? Atau mungkin ke suatu tujuan yang tidak di¬ketahui.”

“Jalan ini adalah jalan pulang. Mungkin ayah telah me¬ngucapkan sumpah untuk tetap setia kepada Ki Gede. Atau janji-janji yang lain.”

“Mungkin. Mungkin juga Ki Argajaya akan menjadi alat yang baik untuk menangkap kita.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Dan kawannya berkata seterusnya, “Aku tidak mengira bahwa Ki Argajaya akan bersedia melakukannya.”

“Apakah kau yakin bahwa ayah akan berbuat demikian?”

“Lalu apalagi?”

“Apakah ayah tidak sedang dibawa ke suatu tempat un¬tuk menjalani hukuman?”

“Aku sependapat dengan kau. Jalan ini adalah jalan pu¬lang bagi Ki Argajaya.”

Anak muda itu terdiam.

“Kita mengangkat senjata justru karena kita membela pendirian Ki Argajaya, Sidanti, dan Ki Tambak Wedi. Aku menaruh hormat yang tinggi kepada Sidanti yang memilih mati dari segala keadaan yang lain. Ia tidak menyerah meskipun ia berhadapan langsung dengan Ki Argapati, yang meskipun orang itu adalah ayahnya sendiri. Itu adalah suatu sikap yang jantan.”

Anak muda itu menjadi tegang.

“Tetapi Ki Argajaya memilih jalan lain.”

“Persetan orang itu,” geram anak muda itu, “aku akan memilih jalan seperti Kakang Sidanti, meskipun ia adalah ayahku sendiri. Tetapi ayah sudah ingkar pada perjuangan kita. Kita sudah terlanjur menyingsingkan lengan baju kita. Kini ayah menyerahkan diri seperti seorang pengecut.”

“Kita akan berhenti bertempur kalau kita sudah mati. Se¬andainya kita menyerah sekalipun, apakah jaminannya bahwa kita akan benar-benar diampuni seperti Ki Argajaya? Seandainya Ki Argajaya tidak akan dipergunakan sebagai alat untuk menjerat kita, aku kira Argapati tidak akan bersikap begitu lunak kepadanya.”

“Kita akan memilih waktu. Aku mengenal halaman rumahku dengan baik. Pasti jauh lebih baik dari pengawal-pengawal yang bo¬doh itu, sehingga meskipun halaman rumah itu dijaga, aku pasti akan dapat memasukinya.”

“Kita tidak akan ingkar pada perjuangan yang sudah kita letakkan. Kalau kita tidak berputus asa, maka lambat laun kita akan mendapat pengikut pula. Kita harus menumbuhkan ketidakpuasan rakyat kepada keadaan yang berkembang kemudian.”

“Aku akan pulang pada suatu saat,” desis anak muda itu, “aku akan menemui ayah di rumah. Kalau ayah berkeras hati, apa boleh buat. Kakang Sidanti juga mati di tangan ayahnya. Bagaimana kalau terjadi sebaliknya?”

“Sidanti mati dibunuh adiknya selagi ia beradu di hadapan ayahnya.”

“Itu tentu sudah diatur sebelumnya.”

Mereka pun kemudian terdiam sejenak. Mereka memandang iring-iringan. itu semakin lama menjadi semakin jauh.

“Persetan dengan mereka,” anak muda itu menggeram pula, “akan datang saatnya kita menuntut.”

“Ya, kita yang sudah dikorbankannya, kemudian diting¬galkannya dalam keadaan yang sulit ini.”

Sekelompok orang-orang itu pun masih memandangi iring-iringan itu untuk sejenak. Namun kemudian mereka segera bergeser dan menghilang di antara tetanaman liar yang tumbuh di sana sini. Mereka sudah berketetapan untuk membalas sakit hati mereka yang mereka tanggungkan selama ini. Kekalahan yang bertubi-tubi dan apalagi kini mereka, merasa tidak berharga sama sekali. Satu-satunya jalan bagi mereka untuk dapat sekedar mengobati sa¬kit hati itu adalah melakukan kekerasan. Siapa pun korbannya. Dan kini mereka telah menemukan sasaran yang menggairahkan. Ki Argajaya yang telah mereka anggap berkhianat.

Ki Argajaya sendiri merasa bahwa ia memang berada di dalam keadaan yang sulit. Ternyata Ki Argapati bukan hanya sekedar ingin mengawasinya, tetapi kecemasan Kepala Tanah Perdikan itu kini benar-benar dapat dirasakannya.

Tetapi ternyata bahwa di dalam lingkungan para pengawal sendiri ada orang-orang seperti yang dicemaskannya itu, meskipua agaknya pemimpin pengawal telah menunjukkan sikapnya yang baik.

Demikianlah iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin mendekati rumah Ki Argajaya. Tetapi semakin banyak pula me¬reka melihat wajah-wajah yang tidak puas dan bahkan memancarkan dendam di hati mereka.

Dengan hati yang berdebar-debar Ki Argajaya kemudian memasuki regol padukuhannya. Iring-iringan itu berhenti sejenak di depan regol karena para pengawal padukuhan itu ingin mende¬ngar keputusan Ki Argapati tentang adiknya itu.

“Ki Argajaya sudah diampuni kesalahannya, seperti juga orang-orang lain yang mendengar seruan Ki Argapati,” pemimpin rombongan pengawal yang mengantarkan Ki Argajaya itu men¬jelaskan.

Pemimpin pengawal padukuhan itu memandang Ki Arga¬jaya dari ujung kakinya sampai ke ikat kepalanya, seakan-akan be¬lum pernah melihat sebelumnya. Dengan nada yang kecut ia bertanya, “Benarkah begitu Ki Argajaya?”

Ki Argajaya merasakan nada yang pahit itu menyentuh perasaannya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa pun juga. Sambil nengangguk ia menjawab, “Ya demikianlah agaknya.”

“Apakah Ki Argajaya tidak memegang tekad perlawanan seperti Sidanti yang mati oleh adiknya sendiri?”

“Aku mengalami perkembangan tanggapan terhadap ke¬adaanku dan keadaan Tanah ini. Ini adalah sikap yang membuat aku dimaafkan oleh Kakang Argapati.”

“Ternyata Sidanti agak lebih jantan dari Ki Argajaya. Ia mati menggenggam tanggung jawab.”

“Aku mengalami perkembangan perasaan, pikiran, dan tanggapan. Ini adalah pertanda bahwa aku masih hidup, seperti orang-orang lain pula. Kadang-kadang keputusan yang telah dibuat hari ini akan disesali di keesokan harinya.”

“Huh, kau memang pandai menyusun kalimat-kalimat itu. Tetapi kau bagi kami tidak lebih dari seorang pengecut.”

Ki Argajaya tidak menjawab. Ia harus menerima peng¬hinaan yang langsung menusuk jantungnya itu.

Pemimpin pengawal yang mengantarkannya pun tidak me¬nyahut. Ia menyadari keadaan yang sedang dihadapinya. Kalau ia ikut campur dalam pembicaraan itu, maka suasananya tidak akan menjadi semakin baik. Karena itu ia telah membatasi diri¬nya untuk membiarkan Ki Argajaya menjawab sendiri pertanya¬an itu selama pembicaraan itu tidak berbahaya bagi segala pihak.

“Bukankah sekarang kau akan pulang ke rumahmu?” tanya pemimpin pengawal itu.

“Ya,” jawab Ki Argajaya.

Tiba-tiba pemimpin pengawal itu menyingkir sambil menbungkukkan kepalanya dalam-dalam, “Silahkan, Tuanku.”

Sekali lagi dada Ki Argajaya berdesir. Tetapi sekali lagi ia harus menelan penghinaan itu.

Sejenak kemudian maka iring-iringan itu pun melanjutkan perjalanannya. Yang menarik perhatian bagi para pengawal bukan saja Ki Argajaya, tetapi seorang gadis yang ada di dalam iring-iringan itu.

“Siapakah gadis itu?” desis salah seorang dari mereka.

Yang lain menggelengkan kepalanya, “Aku pernah meli¬hatnya di rumah Ki Argapati. Mungkin gadis itu kawan Pandan Wangi dari daerah lain, atau mungkin masih ada hubungan keluarga dengannya.”

“Gadis itu datang dari Sangkal Putung,” berkata yang lain. “Gadis itu adalah adik gembala muda yang gemuk, yang ikut membantu kita menumpas pemberontakan Sidanti.”

“Darimana kau tahu.”

“Semua orang mengetahuinya.”

“Aku tidak tahu.”

“Kau memang selalu ketinggalan.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun berdesis, “Kenapa ia ikut bersama iring-iringan ini?”

“Entahlah. Aku tidak tahu. Nanti aku tanyakan kepada¬nya. Mungkin ia memang mencari aku.”

“Huh, sebaiknya sekali-sekali kau melihat bayangan wajahmu di dalam air. Kau akan tahu bahwa kau sama sekali tidak berbentuk.”

Mereka terdiam ketika mereka melihat pemimpin pengawal di padukuhan itu berjalan di depan mereka sambil bersungut-sungut. Ia masih menyesali Ki Argajaya yang telah membakar Tanah Perdikan ini dan meninggalkan bekas yang sukar untuk dihapus¬kan. Sekarang, agaknya ia telah dibebaskan dari segala tuntutan.

Tetapi ternyata pemimpin pengawal itu kemudian berhenti. Ditatapnya para pengawal yang sedang berbicara itu. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa gadis Sangkal Putung yang bernama Sekar Mirah itu ada pula di dalam rombongan ini?”

Pengawal-pengawal itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu,” salah seorang dari mereka menjawab.

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia melanjutkan langkahnya.

“He, ada juga perhatiannya kepada gadis itu,” desis salah seorang dari mereka.

Kawannya tidak menjawab. Dipandanginya saja langkah pemimpin pengawal itu. Kemudian mereka pun saling berpandang¬an satu sama lain. Tetapi mereka tidak berbicara apa pun lagi.

Sementara itu, Ki Argajaya bersama para pengawal yang mengantarkannya menjadi semakin dekat dengan halaman rumah¬nya. Namun ternyata dada Argajaya menjadi kian berdebar-debar. Rumah itu baginya serasa menjadi asing.

Dirumah itulah ia mula-mula bersama Sidanti dan Ki Tambak Wedi merencanakan perlawanan. Pengawal-pengawal yang tinggal di sekitar rumahnya adalah inti dari pasukannya. Apalagi ketika Sidanti menunjukkan beberapa kelebihannya bersama gurunya, maka seakan-akan semakin yakinlah perjuangan mereka untuk men¬dapatkan kemenangan.

Kemudian berdatanganlah orang-orang dari luar tlatah Menoreh yang akan ikut serta di dalam pertarungan antara keluarga itu. Meskipun Ki Argajaya sadar, bahwa mereka tidak akan lebih baik dari perampok-perampok yang melihat medan yang lunak di dalam kemelutnya peperangan, namun Argajaya, Sidanti, dan Ki Tambak Wedi merasa, bahwa pada akhirnya mereka akan dapat menguasai orang-orang itu.

Ternyata bahwa pergaruh mereka semakin lama menjadi semakin besar, sehingga mereka berhasil merebut padukuhan induk dan mendesak Ki Argapati.

Tetapi akhir dari semuanya itu adalah seperti yang disaksi¬kannya kini. Kuburan yang menjadi semakin padat, sawah yang terbengkelai dan permusuhan yang tersebar di mana-mana.

Ki Argajaya seakan-akan tersedar dari lamunannya ketika ia sampai di muka regol rumahnya. Terasa dadanya berdesir tajam sekali. Rumah yang ditinggalkannya beberapa saat itu menjadi seakan-akan sudah bertahun-tahun tidak berpenghuni. Kotor, sepi, dan pintu pringgitan yang tertutup rapat. Tiang-tiang pendapa yang tegak kaku itu bagaikan tubuh-tubuh yang tegang menunggu berakhirnya masa yang pahit.

“Kita sudah sampai,” desis pemimpin pengawal itu, “kami persilahkan Ki Argajaya masuk bersama tamu-tamu itu. Kami akan mengawal di halaman depan dan halaman belakang.”

Ki Argajaya menjadi termangu-mangu. Tetapi ia sadar, bahwa yang disebutnya sebagai tamu-tamunya adalah Agung Sedayu, Sekar Mirah, dan gurunya.

“Kenapa mereka ikut kemari?” katanya di dalam hati, meskipun ia menyadari bahwa mereka harus membantu pemimpin pengawal apabila ia menghadapi kesulitan.

“Silahkan,” pemimpin pengawal itu mengulangi.

“Terima kasih,” sahut Argajaya. Kemudian kepada Agung Sedayu, Sekar Mirah, dan Sumangkar ia berkata, “Mari¬lah. Aku persilahkan kalian melihat-lihat rumah yang menjadi seperti tanah pekuburan ini.”

Tetapi Agung Sedayu menyahut, “Aku akan berada di antara para pengawal, karena aku merupakan bagian dari mereka selagi aku berada di Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Argajaya mengerutkan keningnya. Dan Agung Sedayu berkata selanjutnya, “Silahkanlah Ki Sumangkar dan kau Sekar Mirah. Kawanilah Ki Argajaya yang barangkali akan menjadi kesepian.”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Dipandanginya muridnya sejenak, lalu katanya kepada Agung Sedayu, “Baiklah. Aku dan Sekar Mirah akan mengawani Ki Argajaya.”

Maka ditinggalkannya Agung Sedayu bersama para penga¬wal di luar. Ki Sumangkar mengerti, bahwa Agung Sedayu memang ditugaskan untuk mengawani pemimpin pengawal yang mungkin pada suatu saat akan mengalami kesulitan dari anak buahnya sendiri.

Dikawani oleh Ki Sumangkar dan Sekar Mirah, Ki Argajaya pun kemudian naik ke pendapa. Seperti orang asing ia meman¬dang ke sekitarnya dengan berbagai pertanyaan di dalam hatinya. Tiba-tiba saja tangannya menjadi gemetar ketika ia meraba pintu pringgitan yang tertutup.

Perlahan-lahan Ki Argajaya mengetuk pintu rumahnya. Sekali, dua kali. Tetapi ia tidak mendengar jawaban.

Ketukan itu pun semakin lama menjadi semakin keras. Namun masih belum juga terdengar jawaban.

Ki Argajaya menjadi gelisah. “Apakah istriku tidak di rumah?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi ia tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu.

Sebenarnyalah Ki Argajaya tidak mengetahui, bahwa isterinya benar-benar sudah berada di puncak ketakutannya. Setiap kali pintu diketuk, maka setiap kali hatinya serasa tersayat. Kalau ia membukakan pintu, maka yang ditemuinya adalah orang-orang yang selalu menggetarkan perasaannya.

Kadang-kadang para pengawal Tanah Perdikan, muncul dengan senjata terhunus sambil menggeram, “Aku melihat seseorang bersembunyi di rumah ini.”

Tanpa menunggu jawabnya, para pengawal itu pun langsung memasuki rumahnya dan menggeledah setiap sudut. Tetapi karena tidak diketemukan sesuatu, mereka pun pergi sambil bersungut-sungut.

Namun di saat lain, yang tiba-tiba saja menyusup masuk pada saat pintu dibuka adalah sisa-sisa orang-orang suaminya. Dengan kasar mereka minta persediaan apa saja yang ada. Katanya, “Anakmulah yang memerlukan semua itu.”

Dengan demikian maka perasaan perempuan yang menjadi semakin tua itu bagaikan ilalang yang diombang-ambingkan oleh angin prahara. Tanpa pegangan.

Kini setiap ketukan pintu terasa bagaikan pisau yang menyengat jantungnya. Karena itu, maka ia tidak lagi berani bangkit dari amben bambu di ruang dalam.

“Kalau aku tidak membuka pintu itu, mereka pasti akan mengelilingi rumah ini,” desisnya. Dan perempuan itu memang membiarkan pintu samping rumahnya tetap terbuka. Siang dan malam. Ia tidak perlu lagi membuka pintu, seandainya laki-laki yang kasar dari pihak mana pun juga ingin memasuki rumahnya.

Namun Ki Argajaya tidak mengetahui, bahwa pintu samping itu terbuka. Karena itu ia pun mengetuk semakin lama semakin keras

Nyi Argajaya yang mendengar ketukan itu pun menjadi gelisah pula. Orang-orang yang biasa datang ke rumahnya sudah menge¬tahui, bahwa pintu sebelah selalu terbuka.

Tetapi Nyai Argajaya masih tetap duduk di tempatnya. Dicobanya untuk menduga-duga siapakah kira-kira yang telah mengetuk pintunya itu semakin lama justru menjadi semakin keras.

“Mungkin para pengawal padukuhan ini baru saja diganti dengan orang-orang baru,” katanya di dalam hati, “mereka masih belum tahu bahwa pintu disebelah selalu terbuka.”

Nyai Argajaya menjadi ragu-ragu sejenak. Namun akhirnya ia memutuskan, “Biar sajalah. Kalau mereka mau memecah pintu, biarlah pintu itu dipecah. Kalau salah seorang dari mereka sempat menengok ke samping, mereka pasti akan melihat pintu terbuka.”

Ki Argajaya yang sedang mengetok pintu itu pun menjadi gelisah pula. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Apakah rumah ini benar-benar sudah kosong?”

Tetapi ia tidak berani membenarkan angan-angannya itu. “Tidak,” ia membantah sendiri di dalam hatinya pula, “istriku pasti masih berada di rumah ini.”

Karena itu, maka sekali lagi ia mengetuk semakin keras. Kali ini ia memanggil isterinya dengan suara yang gemetar, “Nyai, Nyai. Apakah kau tidak ada di rumah?”

Ternyata suara itu didengar oleh Nyai Argajaya. Semula ia tidak dapat mengenal lagi suara itu. Namun lambat laun, warna suara yang semula kabur itu, menjadi semakin lama semakin jelas di depan mata hatinya.

“Nyai, Nyai.”

Tiba-tiba Nyai Argajaya menjadi berdebar-debar. Ia tidak percaya lagi pada pendengarnya yang sudah terlampau sering keliru. Namun demikian, suara ini terlampau menarik baginya, sehingga dipasangnya pendengarannya baik-baik.

“Nyai, Nyai.”

Terasa darah perempuan tua yang sudah hampir membeku itu menjadi hangat kembali. Kini ia mulai berpengharapan, bahwa ia tidak salah lagi dengan pendengarannya kali ini.

Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan selangkah-selangkah mendekati pintu. Dengan suara parau tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapa di luar?”

Jawaban itu telah menyentuh perasaan Ki Argajaya, se¬hingga dengan serta-merta ia menjawab, “Aku, Nyai. Argajaya.”

Dada perempuan tua itu berdesir. Tetapi ia tidak segera yakin akan pendengarannya. Sekian lama ia mengalami kekece¬waan. Dan kali ini ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia benar-benar mendengar suara itu.

“Aku, Nyai. Bukakan pintu.”

Kini Nyai Argajaya menjadi semakin yakin, bahwa yang didengarnya itu adalah suara suaminya. Karena itu, maka de¬ngan tergesa-gesa ia pergi ke pintu pringgitan. Dengan tergesa-gesa pula dilontarkannya selarak, sehingga suaranya berderak-derak di lantai.

Dengan serta-merta, perempuan itu membuka daun pintu. Namun hampir saja ia menjadi pingsan ketika yang berdiri di hadapannya adalah seorang laki-laki yang tidak dikenal. Sumangkar.

“O,” terdengar ia mengeluh, “apa lagi yang akan da¬tang di rumah ini.”

Namun sebelum ia kehilangan tenaganya, terasa daun pintu itu terdorong ke samping. Ketika pintu itu terbuka lebar, barulah ia melihat orang-orang lain yang berdiri di luar. Seorang gadis muda dan seorang laki-laki yang pucat.

“Kakang. Kakang Argajaya. Benarkah?”

“Ya, Nyai. Aku Argajaya.”

“O,” tiba-tiba perempuan itu memekik sambil berlari ke arah suaminya.

“Akhirnya kau pulang juga.”

Ki Argajaya memeluk isterinya yang menangis. Ia tidak menghiraukan lagi, siapa saja yang ada di tempat itu. Tetapi ia ingin menumpahkan segala macam kepahitan, kepedihan, dan berbagai perasaan yang bercampur baur di dalam dadanya. Lewat air matanya yang seperti terperas dari pusat jantungnya, Nyai Argajaya menangis sejadi-jadinya.

Ki Argajaya dapat mengerti, betapa berat penderitaan yang dialami oleh isterinya saat ia tidak ada di rumah. Pasti tidak kurang pedihnya dari yang dialaminya sendiri.

“Sudahlah, Nyai,” Ki Argajaya berusaha menenteram¬kan hati istertnya itu, “kita mempunyai dua orang tamu.”

Tetapi Nyai Argajaya seolah-olah tidak mendengar kata-kata itu. Ia masih belum puas menumpahkan segala macam perasaan yang selama ini menyumbat dadanya.

Ki Sumangkar hanya dapat menundukkan kepalanya, sedang Sekar Mirah melemparkan tatapan matanya jauh-jauh. Betapa keras hatinya, tetapi ia pun seorang gadis, sehingga terasa matanya menjadi panas mendengar tangis Ki Argajaya yang memelas.

Seperti kepada Sidanti, kebencian Sekar Mirah kepada Argajaya pun pernah sampai ke puncak ubun-ubunnya. Namun melihat keadaannya, ia tidak dapat mempertahankan perasaannya itu. Seperti pada saat ia melihat mayat Sidanti terbujur di lantai bermandi darah, maka kini ia menjadi iba hati melihat pertemuan dua orang tua yang telah mengalami kepahitan hidup masing-masing.

“Sudahlah, Nyai,” Argajaya masih berusaha menenteram¬kan hati isterinya meskipun tenggorokannya sendiri serasa ter¬sumbat.

“Anakmu, Kakang,” desis perempuan itu.

“Bagaimana dengan anak itu,” bertanya suaminya.

“Ia masih belum kembali.”

“Sama sekali?”

“Ya, sama sekali. Tetapi aku memang pernah melihatnya, hanya seperti bayangan hantu yang tampak sekejap lalu meng¬hilang lagi.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia pun bertanya, “Dengan siapa kau tinggal di rumah ini?”

“Dengan perempuan tua itu, pemomong anakmu.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ia masih di sini?”

“Ia mengawani aku dalam keadaan apa pun.”

“Di mana ia sekarang?”

“Ia berada di rumah belakang. Jarang-jarang sekali ia masuk ke dalam kalau aku tidak memanggilnya.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini dihadapi¬nya keluarganya yang porak-poranda seperti Tanah Perdikan Menoreh ini pula. Dengan demikian ia menjadi semakin menya¬dari, bahwa akibat dari sikap yang keras yang telah menyalakan api peperangan di Tanah ini benar-benar tidak bermanfaat bagi siapa pun.

Mereka pun kemudian bersama-sama duduk di atas sebuah amben yang besar di ruang dalam. Seperti halamannya, maka rumah itu pun seakan-akan sama sekali tidak berpenghuni. Kotor dan tidak terawat.

“Maaf,” desis Nyai Argajaya, “kami tidak dapat me¬nerima kalian dengan cara yang lebih baik.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak apa, Nyai. Di dalam masa-masa seperti ini, kita tidak akan dapat menuntut terlampau banyak. Kita harus memahami keadaan.”

“Tetapi rumah ini benar-benar menjadi rumah hantu.”

Ki Sumangkar tersenyum. “Aku sudah terbiasa berada di tengah-tengah peperangan.”

Ki Argajaya mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba sorot matanya seakan-akan bertanya tentang laki-laki tua yang mengawani Se¬kar Mirah itu.

“Maksudku,” dengan serta-merta Sumangkar menyam¬bung, “aku sudah sering mengalami masa-masa yang pahit. Aku melihat bergesernya kekuasaan dari Denak ke Pajang. Kemu¬dian pergolakan yang seakan-akan tidak ada henti-hentinya antara Pa¬jang dan Jipang. Dengan demikian, aku dapat banyak melihat akibat dari peperangan.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Perang itu pasti lebih dahsyat dari yang kita alami di ini.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Terkenang olehnya sekilas, betapa ia tinggal di hutan-hutan dan di pategalan-pategalan yang terbengkelai, pada saat ia mengikuti pasukan Tohpati yang su¬dah kehilangan arah perjuangannya.

Katanya di dalam hati, “Perang itu di mana-mana sama. Yang menimbulkan kematian, kekerasan, dan penyimpangan dari sifat-sifat kemanusiaan yang wajar.”

Sejenak Sumangkar menundukkan kepalanya. Argajaya hanyut ke dalam suatu kenangan yang mendebarkan. Ia mengang¬kat wajahnya ketika ia mendengar Nyai Argajaya berdiri sambil berkata, “Maaf, aku akan ke dapur sejenak.”

“Jangan menjadi sibuk karena kedatangan kami,” jawab Sumangkar.

Nyai Argajaya menarik nafas, “Hanya airlah yang akan dapat aku sediakan untuk menjamu tamu-tamu kami sekarang.”

“Itu sudah cukup. Dan anggaplah bahwa kami sama se¬kali bukan tamu. Kami akan tinggal di sini beberapa hari.”

“He,” Nyai Argajaya terperanjat. Kemudian ditatapnya wajah suaminya, seolah-olah ia minta pertimbangan.

“Ya,” berkata Ki Argajaya, “mereka datang bersama sepasukan kecil pengawal, mengawani aku di perjalanan. Mereka akan tinggal di sini untuk beberapa lama, untuk melindungi aku dan keluargaku dari dendam yang mungkin tumbuh di pihak-pihak yang terlibat dalam pertengkaran di atas Tanah Perdikan ini.”

“Tetapi,” Nyai Argajaya tidak melanjutkan kata-katanya.

Ki Argajaya ternyata menangkap kegelisahan di dalam hati isterinya. Katanya, “Kita tidak usah malu mengatakan, bahwa kita tidak akan dapat menjamu mereka selama mereka ada di rumah ini. Bukankah begitu.”

Perempuan itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya.

“Bukan tanggungan kita, Nyai,” berkata Ki Argajaya kemudian. “Mereka akan mendapat rangsum mereka dari dapur-dapur yang khusus dibuat untuk anggauta-anggauta pengawal yang bertugas di seluruh Tanah Perdikan ini.”

Perempuan itu mengangguk-angguk pula. Tetapi kini ditatapnya wajah kedua orang tamunya itu. Dan agaknya Ki Argajaya pun menangkap maksudnya. Katanya, “Kedua tamu kita ini pun akan mendapat bagian dari mereka.”

Nyai Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Sokurlah. Aku tidak akan dapat berbuat apa-apa. Keadaanku sudah terlampau parah. Aku hanya mempunyai persediaan yang sangat terbatas. Itu pun aku dapatkan dengan susah payah. Perempuan tua pemomong anakmu itulah yang mencari untuk kami di sini, dengan menukarkan macam-macam barang yang ada dengan beras dan jagung.”

Ki Argajaya mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin menyadari kepahitan hidup isterinya selama ini.

“Kami berdua jangan menjadi beban yang membuat Nyai terlampau sibuk,” ulang Sumangkar kemudian. “Kami sudah mendapat bagian kami di antara pasukan pengawal. Tetapi ha¬nya karena kami termasuk orang-orang yang agak lain dari anggauta pengawal yang lain, maka kami telah dipersilahkan masuk ke¬ dalam rumah ini oleh Ki Argajaya.”

Nyai Argajaya menjadi heran, dan bahkan Ki Argajaya pun bertanya-tanya di dalam hatinya, “Apakah kelainan itu?”

Dan Ki Sumangkar pun meneruskan, “Perbedaan itu ada¬lah, karena aku adalah seorang tua yang barangkali tidak lagi dapat berbuat terlampau banyak seperti anak-anak muda, sedang anakku ini adalah seorang gadis.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil mengu¬sap keningnya ia berkata, “Aku sudah menjadi bingung, karena aku tidak dapat melihat kelainan itu. Justru sekarang aku baru menyadari akan hal itu. Aku hanya menganggap bahwa kalian adalah tamu-tamu kami. Tamu-tamu Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, “Karena itu, silahkan Nyai duduk saja di sini. Kita dapat berbicara tentang banyak hal yang kita alami masing-masing selama ini.

“Terima, kasih, tetapi aku akan merebus air,” Nyai Argajaya pun kemudian meninggalkan ruangan itu. Yang tinggal adalah Sumangkar, Sekar Mirah, dari Argajaya. Namun sejenak mereka hanya saling berdiam diri, meskipun di dalam dada masing-masing menggelepar berbagai masalah yang sedang mereka hadapi di saat-saat yang akan segera datang.

Dalam pada itu, para pengawal segera mencari tempatnya masing-masing tanpa menunggu Ki Argajaya. Mereka seakan-akan me¬ngerti, bahwa Ki Argajaya tidak akan sempat menunjukkan tempat bagi mereka. Karena itu sebagian dari mereka pun segera naik ke pendapa, dan yang lain duduk-duduk di serambi gandok.

“Apakah di sini tidak ada selembar tikar pun?” desis sa¬lah seorang pengawal.

Yang lain, yang duduk di tangga mengerutkan keningnya. Katanya, “Huh, di sini kita akan mengalami kejemuan selama beberapa hari.”

“Beberapa hari?”

“Ya. Apa kau sangka nanti sore kau dapat pulang ke rumah isterimu?”

Kawannya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

“Kalau tidak ada tikar di sini, kita akan tidur di lantai.”

“Tidak. Aku akan mencari belarak, dan aku akan mem¬buat ketepe. Apa bedanya dengan tikar?”

Kawannya tidak menyahut. Sambil menguap ia bersandar pada sebuah tiang. Tetapi sejenak kemudian digeleng-gelengkannya kepalanya. Desisnya, “Aku sudah mulai mengantuk.”

“Persetan dengan Ki Argajaya. Biar saja kalau orang ini dirampok rakyat seperti macan di alun-alun. Apakah keberatannya? Mungkin karena ia adik Ki Argapati. Tetapi ia sudah melawan kakaknya itu. Apa lagi yang harus disayangkan?”

Tidak seorang pun yang menjawab. Namun wajah-wajah mereka telah membayangkan kelesuan. Sejak perang berkecamuk, para pengawal itu seakan-akan belum pernah beristirahat sepenuhnya. Setiap kali mereka masih harus bergilir menjaga daerah-daerah yang terpencil. Dan kini mereka harus mengawal orang yang telah membakar Tanah Perdikan ini menjadi abu.

Namun perintah yang mereka terima harus mereka kerjakan. Betapa pun beratnya, mereka harus melakukannya di halaman yang kotor dan menjemukan itu pula. Dengan hati yang berat mereka harus mendengarkan nama mereka disebut oleh pimpinan me¬reka untuk berjaga-jaga pada waktu-waktu tertentu, berganti-gantian di depan regol halaman dan di bagian belakang rumah itu.

“Kita mencari tikar di gerbang padukuhan ini. Barangkali para pengawal di sana mempunyai kelebihan,” berkata salah seorang dari antara pengawal itu. “Aku mengantuk sekali. Nanti malam aku bertugas. Sekarang aku akan tidur.”

“Carilah. Kalau ada, aku ikut tidur.”

Tetapi yang lain berkata, “Aku akan bertanya kepada Ki Argajaya, apakah di rumah ini tidak ada tikar sama sekali, meskipun tikar lama.”

Demikianlah, maka para pengawal itu pun mulai menempat¬kan dirinya. Tanpa dipersilahkan oleh Ki Argajaya yang masih belum mapan benar meskipun di rumah sendiri, para pengawal itu mencari tempatnya masing-masing. Mereka mencari sendiri tikar di rumah itu. Ternyata mereka masih, menemukan beberapa helai dan bahkan ada di antaranya yang masih baru. Di antara para pengawal itu adalah Agung Sedayu yang selalu dibawa ber¬bincang oleh pimpinan pengawal itu, sementara Sumangkar dan Sekar Mirah yang menjadi tamu Ki Argajaya itu mendapat tempat di ruang dalam.

(Bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:35  Comments (44)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-50/trackback/

RSS feed for comments on this post.

44 KomentarTinggalkan komentar

  1. wih, cepet ya covernya. matur nuwun mas

  2. urutannya, cover, cover baru djv…by the way thanks, semuannya

  3. Sepasang mata Swandaru terus mengawasi Agung Sedayu & Pandanwangi dari balik gerumbul di belakang rumah.
    “Kakang Gupita,… apa yg kau sembunyikan.” Agung Sedayu masih tertunduk & ragu2 utk mengatakannya.Lalu katanya pelan “Pandawangi,…sebenarnya aku menyembunyikan sesuatu darimu. Aku tahu kaupun juga telah menduganya, tetapi hal ini tidak boleh diketahui oleh orang lain, apalagi oleh Gupala. Aku kawatir dia tidak dapat mengendalikan perasaannya. Aku tahu kau telah memberi jawaban atas keinginannya, tetapi aku tidak dapat menipu diriku sendiri. Aku ingin memilikinya…” Dada Swandaru bergetar hebat mendengar kata2 Agung Sedayu, ingin dia segera melompat & menantang kakak seperguruannya itu,… tetapi niatnya segera diurungkan karena dia melihat Agung Sedayu mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Lalu didengarnya suara Agung Sedayu setengah berbisik kepada Pandanwangi seraya mengangsurkan sesuatu “Pandanwangi,… dua hari ini Gupala selalu mencari-cari kitab ini. Aku titipkan kitab ini kepadamu, pastinya Gupala tidak akan berani menggeledahmu…”. Pandanwangi menerimanya, dan memeriksanya, tertulis disitu : kitab bundel ADBM jilid 46 sd 60 lengkap…………………

  4. wah apakah benar yang dikatakan kisanak ini?

    Sudah ada yg megang bundel lengkap?

    wuiiihh… pengeeen (ngeces)

  5. Aku yo pengennn……..

  6. Namun ternyata dengan adanya bisik bisik Agung Sedayu itu pun tidak berapa lama kemudian seluruh padukuhan ADBM menjadi geger.

    Banyak yang bertanya-tanya di dalam hatinya apakah kitab bundel 46 s/d 60 lengkap itu sudah sedemikian nyata untuk dapat segera diunggah dan dinikmati oleh seluruh padukuhan, ataukah masih dalam bentuk bundelan yang menunggu disorot oleh alat yang disebut scanner dan diunggah ke banjar padukuhan ini……

  7. “Benar Ngger, kami memang diutus Ki Demang Sangkal Putung untuk menjemput kalian”, jawab Ki Sumangkar.
    “Semenjak pasukan Pajang ditarik dari Sangkal Putung, berikut pusaka keramat yang selama ini menaungi kehidupan di padukuhan Sangkal Putung ikut ditarik ke Pajang, kami harus meminjam pusaka milik gurumu,Kyai Gringsing yang memiliki pusaka serupa”.
    “Apakah itu Ki..?” setengah berbisik Agung Sedayu bertanya kepada Ki Sumangkar.
    “Scanner Ngger”.
    “Tanpa pusaka itu, bendel yang kau titipkan kepada Pandanwangi tidak akan bisa dinikmati oleh seluruh padukuhan ini….”

  8. hahahahahaha
    ternyata penghuni padepokan ini selera humornya tinggi
    hahahahahha
    tak pikir agung sedayu nitipkan kitab ilmu pedang dari Bu Tong Pay ke Pandang Wangi
    eeeeh jebul nya ……

  9. Agung Sedayu memandang hamparan sawah yang terbengkalai didepannya. Pikirannya menerawang jauh. Sambil mendesah ia membayangkan proyek scanner yang harus dilakukannya hingga buku jilid 396,…

    D2: Aku ingat kamu berjanji jilid2 90-an. Hayo siap2.

  10. Saat ini ada 27 Cantrik yg dengan harap2 cemas nongkrong di alun2 tanah perdikan.

    Menunggu turunnya pusaka jilid 50

    xixixi 😀

    DD: Udah koq

  11. Scanernya, dibawa sutowijoyo ke alas mentaok untuk keperluan pendataan penduduk seluruh mentaok. Nanti akan dititipkan ke kyai gringsing untuk dibawa kembali ke tlatah wordpress. Mungkin sekitar 2 minggu…

  12. Ini sedikit trick editing bagi yang para editor yang belum tahu.

    Pada semua hasil scan ADBM, tanda seru (“) biasanya tercetak sebagai garis datar, dan untuk mengubahnya secara otomatis di MSWord biasanya agak susah. Cara mengganti secara otomatis dengan tehnik “Highlight – Ctrl EE” biasanya ndak jalan, karena garis datar tsb bukan basic letter yang ada di keyboard, melainkan simbol, yang untuk menggantinya dengan yang lain harus diakali.
    Cara yang mudah adalah:

    1. highlight simbol (grs datar) tersebut, terus klik kanan (tright click) dan tekan “copy”. Berarti simbol tsb. sdh tercopy.
    2. lalu spt biasa tekan Ctrl EE untuk mengganti huruf/kata. (muncul dua box, satu utk kata yg akan diganti, yang satu utk kata pengganti)
    3. arahkan cursor pada box kata yang mau diganti. Lalu klik kanan dan pilih “paste”. Simbol tsb sdh siap utk diganti.
    4. pada box kata pengganti, ketikkan kata/huruf pengantinya (dalam contoh di atas kata seru “)
    5. pilih option “replace all”, maka semua garis datar akan berganti dengan tanda seru. Selamat mencoba.

    NB> tehnik ini berlaku untuk semua simbol yang aneh-aneh hasil scan. Semoga hasil proofreading menjadi lebih cepat.

    Wassalam, GI

  13. Beres Boss DD,. silahkan lihat cover jilid-jilid tersebut di multiply saya,.. Dan ejaan nya pun sudah lebih bagus sehingga ngga terlalu ribet konvert nya.

  14. Ampun Ki Gede,

    Kapan kira2 hamba dapat memperoleh sipat kandel ADBM50?

  15. Para Ki sanak semua,
    Mohon informasi, apakah saya yang tidak bisa men download ADBM-50 ini atau memang belum ada kiriman dari Kiai Gringsing?

    GD: Para cantrik lain gak ada masalah tuh?

  16. u mas siamet, menurut ki DD menoreh besuk pahing. karena belum di konpert, tauuuuk? salam………

  17. Ki Slamet .. silakan di ambil menu seperti biasa. Mungkin browser sampeyan memang langsung membuka file DJVU nya sebagai PDF. Ini mengakibatkan alih-alih mengunduh tapi browser internet sampeyan malah berusaha membukanya. Akibatnya gagal maning gagal maning.
    Sarannya ganti browsernya ato non aktifkan otomatis membuka pdf file nya.

  18. apa yang dialami ki slamet, sama dengan saya. muncul tulisan site preview not available pada snap-nya. biasanya tidak masalah kok. tapi ok, aku tunggu saja perkembangan konvert-nya. sabar… sabar…

  19. barusan aku coba lagi bisa kok Ki Hartono ..

  20. maaf, sampai sekarang saya belum bisa baca buku 50. mohon petunjuk kiai gringsing….

  21. mohon petunjuk ki DD, mesu diri dibilik 50 dan 51 belum dapat restu dari ki gede menoreh. padahal dibilik 53 aku sudah dapat menikmati tenaga cadangan. bagaimana langkah yang aku harus lakukan untuk menuntaskan jurus ilmu orang bercambuk?

  22. Terima kasih ki sanak sekalian, terutama ki Sukra

    Saya sudah coba ganti browser dari Mozilla ke IE, hasilnya masih sama tuh. Bagaimana caranya me non aktifkan otomatis buka PDF file nya ki Sukra? (sy GATEK nih hehe…)
    Yang saya heran dari ADBM-1 s/d 49 saya kok bisa buka? apa karena sudah di konvert ya?
    Yah, mungkin saya harus sabar menunggu konvertnya ki DD

    Matur nuwun……….

  23. Sabar Mas Slamet, panjenengan punya problem yg sama dg aku , pramila punika di tunggu saja kompertnya

  24. @ Ki Slamet
    Coba pake google Chrome. untuk unduh gunakan klik kanan, “simpan tautan sebagai ..”
    moga bisa membantu memahaminya.

  25. Ki Ageng Slamet..
    Untuk menikmati hasil unduhan buah DJVU dari kebun DJVU Ki Gede, Panjenegan mesti punya pisau untuk mengupasnya, hasil unduhan tersebut tidak bisa ditelan mentah2.. Apapun alasannya tidak bakalan bisa dinikmati hasil unduhan tersebut. Untuk mendapatkan pisaunya, monggo Panjenengan lihat di halaman lain2. Disitu banyak disajikan beraneka ragam pisau yang bisa untuk mengupas buah DJVU dari kebun Ki Gede.

    Setunggal maleh (satu lagi) Ki Ageng Slamet, hasil dari kebun Ki Gede itu memang berupa DJVU, tapi untuk menghindari serangan kelelawar2 dan binatang2 malam pemakan buah dari kebun DJVU nya Ki Gede, maka Ki Dede membungkusnya (dislongsong) pakai kain PDF. Naahh… untuk membuka bungkusan tersebut itu, dilakukan bersamaan sewaktu Ki Ageng Slamet mengunduh buah DJVU tersebut. Salah satu caranya, Panjenengan harus menambahkan embel2 (extention-nya) dibelangan nama buah (file) yang panjenengan sogrok (unduh ..hehe)

    Contohnya, misalnya Panjenengan akan mengunduh ADMB-jilid-050. Yang mesti Penjengan lakukan adalah dengan meng”KLIK” kanan (biasa yg normal pada posisi kanan) pada mouse(kalau pake mouse), selanjutnya akan ada tulisan “save as target” .. Lhaaaa… sebelum Panjenegan “save” , Panjengan harus menambahkan “.djvu” (titik djvu) dibelakang tulisan (nama file) ADBM-julid-050, tanpa memakai spasi. Hasilnya tulisan tersebut seperti ini “ADBM-jilid-050.djvu”

    Mudah2an, dengan sedikit penjelasn ini, Panjenengan bisa menikmati buah DJVU dari kebun Ki Gede, betul betul masih Fresh… seger… tidak perlu di imbu pakai karbit… hehe

  26. grooooook
    zzzsssssshhhhhh
    zzzzssshhhhhhhh
    (sing ngenteni sampek keturon)
    zzzzsssssshhhhhhh ….. groooook

  27. Kiai Pedo, terima kasih atas usulannya…….dan saya sudah mencobanya.
    Saya juga sudah punya buah DJVU kitab 50 kiriman Ki GD dan Ki DD tetap saja belum bisa di unduh
    Kalau ada yg bantu convert ke file doc baru saya bisa buka…hehe, rupanya memang harus terus bersabar, sementara kisanak sekalian sudah sampai ke kitab 55

    Kiai Pedo nyebut saya tolong jangan keliru kiai Slamet ya (gudel)….hehehe

    Matur nuwun

  28. walah reeeeek rek tibane isih durung njebul
    turu maneh ae……
    grrrrrroooooook
    ssszzzzzzzzhhhh

  29. @ agus mojo
    apanya yang belum ya mas ?

  30. Ki Sukro,
    Cantrik ini mungkin lagi nunggu yg dikonpert ato sudah diketik ulang..

  31. uaaaaahhh……(ngulet)
    nunggu di kompert mas
    hehehehehe
    fasilitase komputerku sangat terbatas and dibatasi
    so aku gak isok ngeinstall dejapu iku (melas pol aku rek) alhasil gak isok mbukak kitab kuning seri seket
    uaaaaah (ngulet maneh)
    sik yo mas Sukro, ki Pedo….. aku tak nutuk’ake turu
    ssszzzzzzh… groooooook

  32. uaaaahhh (ngulet)
    Benar yai Pedo…. aku nunggu kompret’an
    soalnya fasilitas kompterku terbatas & dibatasi hehehe
    (melas temen aku reeeeeek)
    uaaaaaaaaaaaahhh(ngulet maneh)
    sik yo kang Sukro…, yai Pedo… aku tak nganjutno tidur ku….. ssssszzzzzzhhhhhh krooooook… kroook

  33. kang agus .. tangi.. kuwi lho isih anget kompret’ane.

  34. BAGUS , VERY THANX

  35. TJAP DJEMPOL lagi aah….pratanda yen cantrik berharap
    Nyi SENO hadir ning gandhok 50

    Matur nuwun Ki GD, beBAHU padepokan ADBM sedaya-nya

  36. pak SATPAM……nyuwun penCERAHan, kenapa komentar
    cantrik ning gandOK 49=50.

    pada mendelep tak berBEKAS, hilang bak tertelan lubang
    tanpa…….!!???

  37. ah, perdebatan Argajaya, Prastawa, Nyi Argajaya dan kawan Prastawa benar2 hebat, bernas dan bermutu.

    • mutu=ulek-ulek

      • bermutu = berulek-ulek

        • seratus buat ki ndul

          • seratus limapuluh buat ki mbleh

            • tigaratus sepuluh buat ki kartu dan ki mangku

              • Lha sak welase pun trimo mawon

  38. ngulang dr sni ah… Kngen..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: