Buku 49

Agung Sedayu tidak dapat menghindar lagi ketika Swandaru menarik tangannya. Sehingga kemudian mereka bertiga berjalan ke serambi gandok.

Tetapi apa yang dikatakan oleh Agung Sedayu. Pembicaraan mereka sama sekali tidak dapat mengarah seperti yang dimaksudkan. Ketegangannya hampir tidak berkata apa-apa, karena Pandan Wangi nampaknya masih diliputi oleh kepedihan hati.

Sekali-sekali Sekar Mirah-lah yang mencoba menenteramkan hatinya seperti yang setiap kali dilakukannya. Seperti setiap kali ia mendengar kata-kata Sekar Mirah, maka Pandan Wangi selalu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lihat,” bisik Agung Sedayu, “kau tidak akan mendapat kesempatan.”

Swandaru mengerutkan keningnya.

Akhirnya Swandaru benar-benar tidak berbuat apa-apa, karena Pandan Wangi kemudian dipanggil oleh ayahnya.

“Maaf,” berkata gsdis itu, “ayah memanggil aku.”

“Silahkan,” jawab Sekar Mirah, “tetapi di saat lain kami akan selalu mengawani kau kalau kau memerlukan.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, “Terima kasih.”

Namun demikian tumbuhlah sebuah pertanyaan di hatinya. Sekar Mirah setiap hari sudah selalu mengawaninya. Kenapa tiba-tiba ia harus berkata, bahwa ia selalu akan mengawani di kesempatan lain?

“Tetapi katanya ‘Kami akan selalu mengawani’. Kami, bukan aku,” berkata Pandan Wangi di dalam hatinya.

Ia merasa aneh, bahwa ia sempat mempersoalkan kata-kata itu di dalam hatinya yang sedang pepat. Bahkan sekali-sekali terbayang wajah-wajah yang telah menggetarkan jantungnya. Dalam kekosongan jiwa, wajah-wajah itu rasanya menjadi semakin terbayang. Bahkan semakin dibayangkannya di dalam hatinya.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun meninggalkan anak-anak muda itu berserta Sekar Mirah, masuk dalam bilik ayahnya.

Sepeninggal Pandan Wangi, Sekar Mirah tertawa berkepanjangan meskipun ia berusaha menahannya. Ditatapnya wajah kakaknya yang kecewa dan sekaligus gelisah.

“Nah, apakah yang kau dapatkan?”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi dahinya menjadi berkerut-merut.

“Lain kali,” berkata Agung Sedayu, “berbuatlah lebih baik. Kalau kau tetap ragu-ragu, maka kau akan kehilangan banyak waktu. Siapa tahu, besok atau lusa kita harus sudah meninggalkan tempat ini. Sepeninggal Sidanti, agaknya tidak banyak lagi yang harus dilakukan oleh Ki Argapati untuk mengatasi pertentangan yang setiap kali masih akan meledak.”

“Anak Argajaya masih belum diketemukan.”

“Ah, anak-anak itu tidak banyak dapat berbuat. Ia masih belum mempunyai sikap sekuat Sidanti. Kalau pada suatu saat ia bertemu dengan ayah ibunya, ia akan segera tunduk kepada mereka.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Di dalam setiap tindakan kau pasti lebih cepat mengambil keputusan daripadaku. Kau kadang-kadang menjadi jengkel karena aku selalu saja menunggu dan menurut kau ragu-ragu. Tetapi sekarang kau lebih ragu-ragu daripadaku.”

“Tetapi persoalan ini belum pernah aku hadapi,” jawab Swandaru.

“Berapa kali kau akan menghadapi masalah serupa ini, Kakang?” bertanya Sekar Mirah.

“Maksudku, aku masih sangat asing.”

“Cobalah.”

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Aku akan menemuinya dengan Sekar Mirah. Kemudian biarlah Sekar Mirah meninggalkan aku.”

Sekar Mirah tersenyum.

“Sungguh. Aku bersungguh-sungguh.”

Sambil melangkah Sekar Mirah berkata, “Aku percaya. Tetapi marilah kita pergi. Aku akan menemui guru.”

“Untuk apa?”

“He, apakah kita akan selamanya di sini? Bukankah pada suatu saat kita akan kembali ke tempat kita masing-masing? Ayah dan Ibu dahulu berpesan, kami jangan terlampau lama di perjalanan. Ibu pasti menunggu kita dengan gelisah. Aku akan bertanya kepada guru, apakah kami dapat menunggu kau yang maju mundur ini.”

“Hus, jangan mengacaukan perasaanku. Kau dan Ki Sumangkar harus menunggu sampai aku selesai dengan persoalan ini.”

“Kau belum mulai. Kapan akan selesai.”

Swandaru menjadi bersungut-sungut karenanya. Tetapi ia tidak menjawab. Sambil mengikuti langkah adiknya ia menundukkan kepalanya. Sedang Agung Sedayu berjalan di sampingnya. Tetapi mereka pun kemudian tidak berkata apa pun juga.

Sehari-harian Swandaru hanya berbaring saja di ujung gandok, di atas sebuah lincak kayu. Wajahnya tampak bersungguh-sungguh dan gelisah sekaligus. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Direka-rekanya apa yang akan dikatakan seandainya ia nanti benar-benar dapat berbicara dengan Pandan Wangi.

Namun tiba-tiba sesuatu telah meledak di dadanya, “Kenapa aku tiba-tiba saja menjadi pengecut?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Di dalam pergaulan sehari-hari ia dapat berbuat wajar, berbicara dan bahkan bergurau, dengan gadis itu. Tetapi apabila masalahnya membentur perasaannya terhadap gadis itu, tiba-tiba saja lehernya seakan-akan menjadi berkerut terlampau pendek.

“Aku tidak boleh berlaku demikian,” katanya kepada diri sendiri, “aku harus mulai dengan sikap yang bersungguh-sungguh.”

Perlahan-lahan maka Swaudaru pun kemudian menemukan kepercayaan kepada diri sendiri. Katanya di dalam hati, “Seandainya aku menunda-nunda, maka akhirnya aku pun harus sampai pada masalah itu. Aku harus sampai pada suatu batas, bahwa aku harus mengucapkannya dengan mulutku sendiri.”

Demikianlah di saat Swandaru mendapat kesempatan untuk menjumpai Pandan Wangi bersama Sekar Mirah ketika senja turun di serambi belakang, sikapnya sudah berlainan. Meskipun dadanya masih juga berdebar-debar, tetapi Swandaru tampaknya sudah menjadi tenang.

“Apakah Ki Argapati sudah menjadi semakin baik?” bertanya Sekar Mirah.

“Ya, gembala tua yang ternyata bernama Kiai Gringsing itu dengan tekun merawatnya”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ia seorang dukun yang luar biasa,” desis Sekar Mirah. “Namanya bukan saja Kiai Gringsing. Ketika ia pertama kali muncul di Sangkal Putung, ia memakai pakaian gringsing. Tetapi ia dikenal juga dengan nama Ki Tanu Metir.”

“Tidak,” sahut Swandaru, “ia menyebut dirinya Kiai Gringsing pertama-tama ketika ia menjumpai Kakang Agung Sedayu di perjalanan ke Sangkal Putung.”

“O,” Sekar Mirah mengerutkan keningnya.

Sementara itu, Swandaru meneruskan ceriteranya tentang dukun yang aneh itu, sehingga akhirnya ia menjadi muridnya bersama Agung Sedayu.

“Sampai saat ini, aku masih belum tahu benar, siapakah sebenarnya Kiai Gringsing itu.”

Pandan Wangi mendengarkannya dengan penuh minat.

Namun tiba-tiba ia berpaling ketika Sekar Mirah meloncat berdiri, “He, ada yang harus aku tanyakan kepada guruku di padepokan Ki Gede Menoreh di adbmcadangan dot wordpress dot com.”

“Sesuatu. Tunggulah kau di sini sebentar. Hanya sebentar.”

“Apa?”

Sekar Mirah tidak menunggu jawaban. Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan Pandan Wangi dan Swandaru sambil berkata, “Teruskan ceriteramu, Kakang. Aku tidak lama.”

“He,” Pandan Wangi memanggil.

Sekar Mirah berpaling sambil tersenyum. Tetapi ia berjalan.

Swandaru dan Pandan Wangi yang ditinggalkannya sejenak menjadi termangu-mangu. Mereka memandangi langkah Sekar Mirah yang hilang di sudut serambi.

Tetapi Swandaru yang benar-benar ingin menyatakan perasaannya, dan yang perlahan-lahan telah menemukan keberanian itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Biar saja anak itu pergi.”

Pandan Wangi tidak menjawab, tetapi kepalanya tiba-tiba saja tertunduk dalam-dalam.

“Sampai di mana aku tadi berceritera?” bertanya Swandaru.

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa pembicaraan mereka masih akan tetap dapat berjalan lancar. Namun ia tidak menjawab.

“O, ya, kita sudah sampai di jilid limapuluh tiga” berkata Swandaru, “aku sendiri sampai sekarang tidak tahu, siapakah sebenarnya guruku.”

“Aneh,” desis Pandan Wangi tiba-tiba.

“Apa yang aneh.”

“Kau. Kau yang sudah sekian lama berguru, masih juga tidak tahu siapakah gurumu.”

“Memang aneh.”

“Dan sekarang, aku dan orang-orang Menoreh lebih-lebih lagi tidak tahu. Bukan saja siapa gurumu itu, tetapi siapakah kau sebenar-benarnya. Mula-mula kau mengaku seorang gembala. Kemudian adikmu itu mengatakan bahwa kau bukan bernama Gupala, tetapi Swandaru yang kau tambahi sendiri menjadi Swandaru Geni, anak seorang Demang di Sangkal Putung.”

Swandaru tersenyum.

“Kakakmu itu pun orang aneh.”

Swandaru tertawa pendek. Katanya, “Kami memang kumpulan orang aneh-aneh. Tetapi itu adalah ajaran guru. Guru orang aneh. Murid-muridnya pun orang aneh pula.”

Pandan Wangi pun tersenyum pula.

“Tetapi kepadamu aku pasti harus berterus terang,” berkata Swandaru kemudian. Terasa bahwa nadanya menjadi agak gemetar.

Pandan Wangi mengangkat wajahnya, memandang langit yang menjadi semakin hitam. Tanpa memandang Swandaru itu berkata, “Kenapa?”

Swandaru menjadi agak bingung. Tetapi kemudian ia menjawab, “Karena kau pemilik rumah ini, di mana aku, kakak seperguruanku, adikku, dan guru tinggal.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menyahut, sehingga suasana menjadi hening sejenak.

Dan tiba-tiba saja terdengar Pandan Wangi menarik nafas panjang. Panjang sekali. Meskipun yang ada di sampingnya kini adalah Gupala, yang ternyata bernama Swandaru itu, namun sekali melintas juga bayangan gembala yang lain, yang telah menyentuh hatinya dengan suara serulingnya.

Tetapi sudah pasti bahwa ia tidak akan dapat menyebut namanya lagi di dalam hatinya, karena kini sudah pasti baginya bahwa telah terjadi ikatan antara gembala yang pandai bermain seruling itu dengan Sekar Mirah.

“Aku memang tidak memerlukannya,” ia menghentak di dalam hatinya sendiri. Namun kemudian terasa seolah-olah dunianya menjadi sepi. Apalagi sepeninggal Sidanti.

Terasa kekosongan yang sunyi telah melihatnya. Di dalam saat-saat tertentu ia merasa, seakan-akan terlempar ke dalam suatu dunia yang asing. Kadang-kadang ia merasa berdiri di atas jalur yang panjang sekali. Seolah-olah tidak ada ujung dan pangkalnya. Kadang-kadang ia seakan-akan berdiri di sebuah padang yang luas. Luas sekali tanpa tepi. Hanya kadang-kadang ia melihat ayahnya berdiri di kejauhan. Dengan luka di dadanya ia berjalan tertatih-tatih. Lambat sekali.

Dalam kesepian, dalam kesendirian di dunia yang serasa asing dan sunyi itu hadir seorang anak nuuda. Anak muda yang mempunyai beberapa kelebihan dari anak-anak muda yang lain.

Tiba-tiba terasa sesuatu telah menyentuh hatinya. Sentuhan-senyuhan yang semula tidak begitu terasa, kini benar-benar telah menumbuhkan kesan yang agak mendalam.

Dalam keadaan itu, Swandaru tidak mau kehilangan kesempatan. Ia harus sampai pada pokok masalah yang selama ini telah direndamnya. Karena itu, maka ia masih juga berusaha mencari jalan, untuk dapat sampai pada masalah itu.

Karena Pandan Wangi masih juga diam saja maka Swandaru itu pun bertanya, “Kenapa kau tiba-tiba terdiam?”

Pandan Wangi berpaling. Tetapi ia tidak menjawab.

Swandaru menjadi agak gelisah. Namun ia tidak mau mundur lagi. Dengan suara yang semakin gemetar, ia kemudian bertanya, “Pandan Wangi, pada suatu saat aku dan rombonganku yang kecil ini pasti akan meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, tidak akan ada salahnya kalau kau mengenal aku bukan sebagai murid seorang guru yang selalu terselubung.”

Pandan Wangi masih tetap berdiam diri.

“Apakah Sekar Mirah sudah mengatakan tentang dirinya dan diriku?”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Nah, baiklah. Kalau ia berkata bahwa aku adalah anak seorang Demang di Sangkal Putung itu berarti bahwa ia berkata sebenarnya.”

Sekali lagi Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Dan selain Sekar Mirah, apakah Kakang Agung Sedayu sudah pernah mengatakan sesuatu tentang dirinya sendiri?”

“Belum,” jawab Pandan Wangi lambat.

“Mungkin. Mungkin ia tidak akan mengatakan tentang dirinya sendiri, sehingga sampai saat ini kau pasti belum mengenalnya dengan baik. Ia adalah seorang anak Jati Anom. Kakaknya adalah seorang Senapati Pajang yang mempunyai daerah kekuasaan di sepanjang sisi Selatan Pulau ini. Tetapi yang penting bukan itu.” Swandaru berhenti sejenak, lalu, “Yang penting bagiku adalah Kakang Agung Sedayu pernah mengatakan sesuatu tentang diriku?”

Sepercik warna merah membayang di wajah Pandan Wangi. Kini ia merasa bahwa ia sudah diseret ke dalam suatu pembicaraan pribadi yang berat.

Dengan demikian Pandan Wangi menjadi semakin tunduk. Diusapnya keringatnya yang membasahi keningnya. Kemudian dengan jari-jarinya ia mempermainkan ujung kain panjangnya. Tetapi Pandan Wangi masih tetap berdiam diri.

“Pandan Wangi,” desis Gupala, “kau belum menjawab pertanyaanku.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah Kakang Agung Sedayu yang kau panggil sehari-hari dengan nama Gupita itu sudah pernah mengatakan sesuatu pesan dari padaku?”

Tiba-tiba kepala Pandan Wangi terangguk lemah.

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kini ia sudah, hampir sampai pada pokok pembicaraannya. Karena itu, meskipun dadanya menjadi semakin berdebar-debar ia berkata selanjutnya, “Bagaimanakah jawabmu?”

Pandan Wangi tidak segera menjawab. Kepalanya kini terangkat. Dipandanginya hitamnya malam yang kini telah merata. Hijaunya dedaunan yang menjadi kelam dan seolah-olah bersembunyi di balik kegelapan.

Sejemput angin yang silir mengalir mengusap wajah-wajah yang menegang itu. Di kejauhan sinar obor yang lemah telah menyentuh kulit mereka yang menjadi merah tembaga.

Tetapi Pandan Wangi tidak segera menjawab. Di dalam dirinya masih saja terjadi gelora yang mengguncang jantungnya. Namun ia tidak akan dapat lari dari kenyataan, bahwa Swandaru memang mempunyai sentuhan-sentuhan yang membekas di hatinya.

“Bagaimana, Pandan Wangi?” desak Swandaru.

Pandan Wangi menarik nafas. Kemudian terdengar suaranya lemah sekali, “Tetapi Agung Sedayu belum mengatakan pesanmu seluruhnya. Tiba-tiba kalimat-kalimatnya terganggu oleh gerombolan di bawah pimpinan adik sepupuku sendiri.”

“Tetapi bukankah kau sudah tahu maksudnya?”

Swandaru menggerutu di dalam hatinya ketika ia melihat Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Belum. Aku belum tahu maksudnya.”

“Tetapi, menurut Kakang Agung Sedayu, ia sudah mengatakannya.”

“Kalau begitu akulah yang tidak mendengarnya,” jawab Pandan Wangi. “Jalan itu memang menegangkan, sehingga perhatianku terlampau banyak tertuju kepada daerah yang sedang kami lewati daripada yang lain-lain.”

“O,” Swandarulah yang kini menundukkan kepalanya, “memang mungkin pesan itu sama sekali tidak berharga bagimu, sehingga kau sama sekali tidak berkesempatan untuk mendengarkannya.”

Pandan Wangi terkejut mendengar suara Swandaru yang tiba-tiba mendatar itu, sehingga ia pun berpaling. Ketika dilihatnya Swandaru menunduk dalam-dalam maka ia pun berdesis, “Tidak. Bukan maksudku untuk mengabaikannya. Tetapi, aku tidak dapat menangkapnya dengan jelas karena berbagai macam keadaan. Aku sudah mencoba untuk mengetahuinya, tetapi tidak seluruhnya aku mengerti.”

“Apakah kesanmu terhadap yang sedikit itu?” desak Swandaru.

Namun jawaban yang didengarnya sama sekali tidak diduganya. Sambil menundukkan kepalanya Pandan Wangi menjawab, “Aku tidak dapat mengatakan sesuatu. Aku takut kalau pesan yang sedikit itu keliru.”

Swandaru menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa sesadarnya. Kini sudah pasti baginya untuk mengatakan sendiri. Agaknya Pandan Wangi memang ingin mendengar hal itu daripadanya.

Setelah beberapa kali ini menarik nafas dalam-dalam, maka ia berkata lambat, “Begitulah, Pandan Wangi. Seperti yang aku pesankan kepada Kakang Agung Sedayu,” Swandaru berhenti sejenak. Kemudian, “Seperti yang dinasehatkan oleh Kakang Agung Sedayu kepadaku. Katanya “Swandaru, kau harus mulai dengan suatu sikap hidup yang baru karena umurmu sudah cukup dewasa. Kalau kau memang menaruh hati kepadanya, katakanlah berterus terang.” Dan aku memang tidak ingkar lagi akan hal itu.”

Swandaru berhenti sejenak. Ia menunggu kesan Pandan Wangi atas kata-katanya itu, tetapi Pandan Wangi masih tetap berdiam diri.

“Begitulah Pandan Wangi, dan aku sekarang telah mencoba memenuhi petunjuk Kakang Agung Sedayu.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Sekali lagi dilontarkannya tatapan matanya jauh ke alam gelap. Tanpa memandangi Swandaru ia berkata, “Hanya sekedar memenuhi pesan Kakang Agung Sedayu?”

“O, tidak. Tidak,” cepat-cepat Swandaru menyahut. Kini keringatnya sudah mengalir membasahi tubuhnya. Betapa ia mengatur perasaannya, namun terasa jantungnya menjadi semakin cepat berdebaran.

“Bukan maksudku, Pandan Wangi,” katanya, “tetapi aku memang harus mengatakannya. Maksudku bahwa aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku perbuat. Dan Kakang Agung Sedayu memberi nasehat itu kepadaku.”

Pandan Wangi menundukkan kepalanya pula. Malam menjadi semakin lama semakin gelap, dan obor di regol butulan halaman belakang terombang ambing disentuh angin. Lamat-lamat tampak bayangan para penjaga yang hilir-mudik, meskipun tidak begitu jelas.

Dalam pada itu, seseorang yang sedang berjalan ke regol belakang berhenti sejenak di balik bayangan yang kelam. Tatapan matanya yang tajam memandang kedua sosok tubuh yang duduk di serambi. Meskipun keduanya tidak tersentuh langsung oleh sinar-sinar lampu, tetapi tampak olehnya betapa mereka sedang berbicara bersungguh-sungguh.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun melangkah pergi sambil menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu berdesir di dadanya. Namun kemudian ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

“Mudah-mudahan Swandaru berhasil,” desisnya. “Tidak pantas lagi aku memikirkan tentang seseorang.”

Sambil menggigit bibirnya orang itu pun sekali lagi berpaling. Tetapi orang itu, Agung Sedayu, tidak berhenti. Ia sadar bahwa ia harus berdiri di atas kaki yang kuat. Perasaannya memang kadang-kadang menjadi agak lentur. Namun ia mencoba melawannya sekuat-kuatnya.

Sementara itu Swandaru sendiri duduk dengan gelisahnya. Punggungnya menjadi basah oleh keringat. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam, karena serasa dadanya tersumbat oleh perasaannya yang bergejolak.

“Pandan Wangi,” berkata Swandaru kemudian. Dikerahkannya segenap keberaniannya, sehingga meledaklah kata-katanya, “Aku ingin mendengar jawabmu, apakah kau bersedia menjadi imbangan hidupku kelak?”

Pertanyaan Swandaru yang terlampau langsung itu ternyata telah menggetarkan isi dadanya. Terasa darah-darahnya seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir.

Kini mulutnya justru menjadi seakan-akan terbungkam. Ia memang mengharapkan Swandaru mengatakan hal itu langsung kepadanya. Bukan sekedar pesan atau cara-cara yang miring. Tetapi ia ingin mendengarnya langsung. Namun justru karena ia kini mendengar pertanyaan itu langsung, maka sejenak ia menjadi kebingungan.

Swandaru yang dengan segala macam usaha dengan pengerahan keberaniannya telah berhasil melontarkan pertanyaan itu, seakan-akan merasa dadanya menjadi terlampau lapang. Seakan-akan ia telah melontarkan sesuatu yang selama ini membebaninya. Karena itu, kini darahnya menjadi tidak terasa terlampau panas, sedang dadanya tidak lagi berguncang-guncang. Bahkan karena Pandan Wangi tidak segera menjawab ia mendesaknya, “Kau belum menjawab, Pandan Wangi.”

Untunglah bahwa cahaya obor di kejauhan tidak mencapai langsung ke tempat mereka, sehingga Swandaru tidak melihat wajah itu menjadi kemerah-merahan.

“Aku sudah mengucapkannya,” berkata Swandaru pula, “dan aku ingin mendengar kau menjawabnya.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak berpaling kearah Swandaru. Perlahan-lahan ia berkata, “Kakang Swandaru. Aku adalah seorang gadis. Sudah menjadi kelaziman bagi seorang gadis Menoreh, bahwa lamaran itu ditujukan kepada orang tuanya. Demikian pula aku. Sebaiknya Kakang Swandaru memintanya kepada ayah.”

“Tetapi, bagaimana dengan kau sendiri, Wangi. Aku ingin mendengar perasaanmu.”

“Aku tidak dapat menentukan sesuatu atas diriku sendiri.”

“Tetapi bukankah kau mempunyai perasaan itu?” suara Swandaru menjadi gelisah kembali. “Aku tidak peduli, apakah jawaban orang tuamu nanti. Tetapi bagaimana perasaanmu sendiri?”

“Tidak, Kakang Swandaru,” sahut Pandan Wangi, “kau tidak dapat untuk tidak menghiraukan suara ayahku. Suara ayah itu pasti menentukan. Kalau ayah berkata ya, maka semua itu akan terjadi, tetapi kalau ayah berkata tidak, maka semuanya tidak akan dapat terjadi.”

“Aku tahu, aku tahu,” nada suara Swandaru meninggi, “tetapi aku ingin tahu perasaanmu sendiri. Kalau kau berkata ya, aku akan berusaha melamarmu lewat ayahmu, meskipun memang mungkin juga ditolak dan urung. Tetapi kalau kau berkata tidak, maka aku tidak akan berbuat apa-apa. Meskipun seandainya ayahmu mengijinkan, tetapi aku tidak mendapatkan kau seutuhnya.”

Pandan Wangi tidak dapat mengelak lagi. Ketika Swandaru kemudian bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu, Pandan Wangi?” maka dengan wajah yang merah dan bibir yang gemetar gadis itu menjawab parau, “Apakah kau akan menemui ayah?”

“Tentu. Seandainya bukan aku, karena itu juga tidak lazim, tetapi ayah atau orang-orang tua yang lain, itu pun akan tergantung kepada jawabanmu.”

“Datanglah kepadanya. Bertanyalah kepada ayah.”

“Aku akan melakukannya, tetapi setelah aku mendapat kepastian. Aku juga mempunyai adik seorang gadis. Aku kira adat kita tidak akan jauh berbeda. Kalau seseorang datang melamar, maka orang tuanya akan menjawab ‘Aku akan menanyakannya dahulu kepada gadisku’. Bukankah ayahmu nanti akan berkata begitu juga? Nah, sebelumnya aku sudah membawa jawabnya. Meskipun aku tidak akan dapat mendahului jawaban ayahmu, tetapi setidak-tidaknya aku berpengharapan untuk mendapatkan kau seutuhnya. Kau dan perasaanmu. Kalau kau kemudian mengiakannya, itu bukan karena ayahmu yang mendesaknya. Aku tahu pasti, kalau kau sendiri tidak berkeberatan.”

Pandan Wangi benar-benar sudah tersudut. Sedang Swandaru mendesaknya lagi, “Bagaimana, Wangi?”

Gadis itu tidak dapat menghindarinya. Karena itu, maka betapa pun beratnya, dianggukkannya kepalanya.

“Terima kasih, terima kasih,” terdengar Swandaru berdesis, “aku sudah mengerti perasaanmu sekarang. Aku memang sudah menduga. Tunggulah. Aku akan memenuhi segala macam upacara adat kelak. Tetapi sudah tentu aku harus kembali dahulu ke Sangkal Putung. Namun selain ayahku, aku mempunyai orang tua di sini, guruku. Mungkin sebelum ayahku datang, guruku akan dapat membicarakannya dengan ayahmu. Guruku, guru adikku itu, dan Kakang Agung Sedayu.” Swandaru berhenti sejenak, lalu, “Begitu, bukankah begitu?”

Namun ketika ia tanpa sesadarnya menyentuh lengan Pandan Wangi gadis itu beringsut sejengkal.

Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi ia sadar, bahwa sentuhan di antara mereka memang tidak dibenarkan.

Pandan Wangi sendiri tidak tahu, kenapa ia harus bergeser. Ia tidak mengelak, ketika tangannya dibimbing oleh gembala yang lain di peperangan setelah mereka berkelahi melawan Ki Peda Sura.

“Saat itu, perasaanku telah dirampas oleh tegangnya peperangan,” ia mencoba mencari jawabnya.

“Nah,” terdengar suara Swandaru, “nanti malam aku akan dapat tidur nyenyak, Pandan Wangi. Dan aku akan mengatakannya kepada guruku. Apakah ia dapat berbuat sesuatu sebelumnya, mendahului ayah dan ibuku di Sangkal Putung.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Kembali kepalanya tunduk dalam-dalam. Dan malam pun menjadi semakin malam.

Akhirnya kedua anak-anak muda itu menjadi seakan-akan tersadar, bahwa mereka telah terlampau lama duduk berdua, di dalam keremangan malam yang tidak langsung dicapai oleh cahaya obor di kejauhan.

Karena itu, ketika Swandaru mendengar tembang macapat yang melontar dari gandok di sebelah Barat, ia berkata, “Sudahlah Pandan Wangi, aku sudah puas dengan jawabanmu. Aku merasa bahwa kehadiranku di atas Tanah Perdikan ini tidak sia-sia. Bukan saja untuk kepentingan Tanah Perdikanmu, tetapi untuk kepentinganku pula.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk lemah.

“Hari sudah menjadi semakin malam. Aku sudah mendengar salah seorang pengawal membaca tembang macapat.”

Sekali lagi kepala Pandan Wangi terangguk.

Swandaru kemudian berdiri dan melangkah menjauhi serambi. Sekali ia berhenti dan berpaling.

“Apakah kau tidak akan masuk ke dalam,” ia bertanya ketika ia masih melihat Pandan Wangi duduk di tempatnya.

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.

“Masuklah,” berkata Swandaru, “malam akan menjadi terlampau dingin.”

Perlahan-lahan Pandan Wangi pun berdiri. Seperti bukan kehendaknya sendiri. Ia pun melangkah, menuju ke pintu butulan. Sejenak kemudian ia pun segera hilang di balik pintu.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun meneruskan langkahnya kembali ke ujung gandok. Tugasnya bersama Agung Sedayu masih belum dicabut, menunggui bilik Argajaya, meskipun sudah tidak seketat semula.

Malam itu rasa-rasanya menjadi malam yang terlampau segar bagi Swandaru. Kadang-kadang ia tersenyum sendiri mengenangkan pembicaraannya. Ia merasa sebagai seorang pahlawan yang telah memenangkan perang.

“Apakah kau berhasil?” bertanya Agung Sedayu ketika ia melihat Swandaru berbaring sambil memandang langit-langit biliknya.

“Agaknya aku merasa berhasil,” jawab Swandaru, “aku masih perlu meyakinkan.”

Agung Sedayu tersenyum, “Apa yang akan kau yakinkan?”

“Kebenaran kata-katanya.”

Sambil tertawa Agung Sedayu menepuk bahunya, “Kau memang harus yakin.”

Swandaru tidak menjawab. Ia masih tetap berbaring ketika Agung Sedayu meninggalkan biliknya. Dan Swandaru itu pun tidak mendengar Agung Sedayu bergumam, “Mudah-mudahan kau menemukan kebahagiaan.”

Di ruang dalam, Sekar Mirah sempat juga mengganggu Pandan Wangi yang tersipu-sipu. Karena Sekar Mirah tidak juga berhenti, maka Pandan Wangi pun kemudian berlari menuju ke pintu bilik ayahnya. Namun kemudian, berjingkat ia masuk. Dengan demikian ia berhasil melepaskan dirinya dari Sekar Mirah.

Tetapi pertemuan dan pengakuan merupakan jenjang kehidupan baru bagi keduanya. Keduanya tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh perasaan masing-masing, sehingga hampir setiap orang segera dapat melihat, bahwa ada sesuatu yang berkembang di hati keduanya.

Namun bukan saja hati Swandaru dan Pandan Wangi yang telah berkembang. Keadaan di Tanah Perdikan Menoreh pun telah berkembang pula.

Ki Argapati yang mengikuti keadaan dengan seksama, meskipun ia masih tetap berada di pembaringannya, pada suatu kesempatan telah memanggil Argajaya untuk menghadap, dikawani oleh Pandan Wangi, Samekta, dan Ki Kerti.

“Aku percaya kepadamu,” berkata Ki Argapati kepada adiknya setelah mereka berbincang panjang, “mudah-mudahan kau tidak menyia-nyiakan kepercayaanku itu.”

“Aku sudah menyesali semuanya itu, Kakang. Bukan karena aku sudah tidak berdaya lagi. Tetapi aku melihat noda-noda yang melekat di hati ini. Aku memang banyak dipengaruhi oleh pamrih dan ketamakan. Kalau semula aku hanya dicemaskan oleh kejaran orang-orang Pajang, namun kemudian masalahnya menjadi berkembang terlampau jauh, sehingga aku harus malu kepada diri sendiri.”

“Baiklah. Atas persetujuan kami, kau kami ijinkan pulang ke rumahmu.”

“Kakang?”

“Ya. Aku kira kau tahu apa artinya.” Ki Argapati menarik nafas, kemudian, “kau telah ditunggu oleh suatu kewajiban bagi Tanah perdikan ini.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ketahuilah, bahwa anakmu masih belum dapat kami ketemukan. Ia masih berada di antara orang-orang yang belum dapat diyakinkan, bahwa apa yang mereka lakukan adalah sia-sia.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengerti bahwa anaknya telah berada di antara gerombolan orang-orang yang dengan putus asa telah melakukan apa saja tanpa tujuan, selain memuaskan nafsu kekerasan mereka.

“Pulanglah, mungkin anakmu akan datang kepadamu. Ia masih terlampau muda.”

“Baiklah, Kakang. Mudah-mudahan aku dapat menjumpainya dan menjinakkannya.”

“Cobalah,” Argajaya berhenti sejenak. Ia tampak menjadi ragu-ragu, namun kemudian, “Tetapi, kau pun jangan salah mengerti. Apakah kau memerlukan perlindungan? Mungkin seseorang telah menjadi sakit hati atau mencoba untuk melakukan sesuatu atasmu.”

Argajaya menarik nafas pula. Semakin dalam ia menyadari bahwa kakaknya seharusnya tidak mengatakan bahwa ia perlu dilindungi, tetapi ia agaknya memang perlu diawasi.

“Mana yang baik bagi, Kakang,” jawab Argajaya.

“Jangan salah mengerti. Menurut perhitunganku, masih ada orang yang akan melakukan sesuatu yang berbahaya bagimu, karena sikapmu. Kau pasti akan dianggap bersalah terhadap mereka, karena justru kau menyadari keadaanmu yang sebenarnya.”

Argajaya tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Ia dapat mengerti sikap kakaknya. Dan karena itu maka ia tidak menolaknya. Meskipun berat ia berkata, “Baiklah, Kakang. Kalau Kakang menganggap perlu.”

“Aku masih menganggap perlu,” jawab Argapati. “Mungkin dari orang-orangmu sendiri yang kini tidak dapat terkendali. Tetapi mungkin juga dari pihak lain. Rakyat yang merasa terjerumus ke dalam kesulitan karena peperangan yang baru lalu dan mereka pasti akan melemparkan kesalahan kepada Sidanti dan gurunya. Apabila yang ada kemudian tinggal kau sendiri, maka kau akan dapat menjadi sasaran kemarahan mereka.”

Ki Argajaya menganggukkan kepalanya. Memang alasan kakaknya dapat diterima, di samping dugaannya yang lain, bahwa kakaknya masih perlu mengawasinya.

Demikianlah maka Ki Argajaya pada hari itu juga telah diijinkan meninggalkan bilik sempit yang dihuninya selama ini. Bilik yang sempit, gelap, dan pengap. Kebebasan yang didapatnya kali ini terasa sebagai suatu kurnia yang tidak ternilai harganya. Kini ia dapat melihat alam yang terbentang. Tidak hanya sesempit sebuah bilik dan bayangan dedaunan yang kadang-kadang dapat dilihatnya dari sela-sela pintunya apabila sedang terbuka.

Diantar oleh sepasukan kecil pengawal, Argajaya akan pulang ke rumahnya. Untuk mengurangi bahaya yang dapat menerkamnya setiap saat, Ki Argapati telah berpesan dengan sungguh-sungguh kepada pemimpin pengawal itu, “Ingat, kau jangan sampai melakukan kesalahan. Aku sudah memaafkan kesalahan Argajaya dengan beberapa macam pertimbangan. Bahkan aku sudah mengumumkan pengampunan umum. Kau harus mengawasi anak buahmu dan setiap orang di sekitar rumah Argajaya. Tidak boleh ada dendam yang dilontarkan kepadanya. Bukan karena Argajaya adikku, tetapi aku mempunyai banyak pertimbangan. Aku mengampuni semua orang yang mau mendengarkan seruanku dan dengan kesungguhan hati berusaha ikut membangunkan kembali Tanah yang sudah hampir runtuh ini.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tampaknya ia tidak begitu yakin. Bukan karena ia sendiri tidak dapat menyingkirkan dendam di hatinya, tetapi apakah ia akan mampu membendung perasaan seluruh anak buahnya dan bahkan rakyat di sekitarnya?

“Apakah kau ragu-ragu?” bertanya Ki Argapati.

“Tugas ini sangat berat bagiku,” jawab pemimpin pengawal itu.

“Ya, aku tahu bahwa tugasmu sangat berat. Tetapi aku harap kau dapat melakukannya.”

Orang itu tidak segera menyahut.

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Mungkin kau memerlukan seorang kawan?”

Pemimpin itu menganggukkan kepalanya.

Ki Argapati berpikir sejenak. Tampaklah wajahnya menjadi tegang. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Panggillah gembala tua itu.”

Pemimpin pasukan itu ragu-ragu sejenak. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan bilik Ki Argapati memanggil gembala tua yang kini juga disebut Kiai Gringsing itu.

“Kiai,” berkata Ki Argapati, “aku memerlukan bantuan Kiai.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

“Aku masih mengharap Kiai berada di Tanah Perdikan ini beberapa saat. Hanya beberapa saat saja.”

“Maksud Ki Gede?”

“Aku akan meminjam anak-anakmu. Salah seorang atau keduanya.”

“Untuk?”

Maka diceriterakannya maksudnya. Untuk melindungi Argajaya ia memerlukan sepasukan prajurit. Tetapi pemimpin prajurit itu memerlukan kawan, karena ia agak bimbang atas kemampuannya melakukan tugas yang berat ini. Ia merasa bahwa ia tidak hanya sekedar berhadapan dengan banyak kemungkinan yang datang dari sekelilingnya. Mungkin sisa-sisa pasukan Argajaya sendiri yang mendendam, mungkin rakyat yang marah, tetapi juga mungkin timbul dari pasukannya itu sendiri.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti kesulitan pemimpin pasukan itu. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah, Ki Gede. Aku akan menyuruh kedua anak-anakku itu mengikuti Ki Argajaya, karena tugas mereka selama ini pun adalah menjaganya di dalam bilik itu.”

“Terima kasih,” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tetapi ketika Kiai Gringsing mengatakannya kepada Swandaru, tampak betapa ia menjadi kecewa. Bahkan sambil berdesah ia menjawab, “Guru, apakah aku boleh beristirahat?”

Kiai Gringsing menjadi heran mendengar jawaban itu. Swandaru adalah seorang anak muda yang lebih senang berada dilingkungan ketegangan daripada duduk menunggu sambil bertopang dagu. Tetapi tiba-tiba kini sikapnya menjadi lain.

“Lalu apakah yang akan kamu lakukan?”

“Aku minta ijin untuk beristirahat barang sejenak di rumah ini. Aku ingin beberapa hari tidak lagi dibebani oleh tugas-tugas yang berat.”

Kiai Gringsing masih belum mengerti, kenapa tiba-tiba tabiat muridnya ini berubah. Namun sebelum orang tua itu menanyakannya kepada Swandaru sendiri, Agung Sedayu telah mendahuluinya, “Biarlah aku berangkat sendiri untuk kali ini, Guru.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Tetapi sambil tersenyum dipandanginya wajah Swandaru yang murung.

“Kenapa?” gurunya mendesak.

“Adi Swandaru sedang sakit.”

“Sakit,” guruya menjadi semakin heran, “apakah yang sakit? Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku? Meskipun segalanya tergantung kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi kita wajib berusaha. Dan aku akan berusaha untuk mengobatinya.”

(***)

From HPrasidi’s Collection
Scan: Ki Warsono Hr
Convert: Ki Pedo
Retype: Ki Edy
Proof: Ki Gd Menoreh
Date: 11-14-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:35  Comments (26)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-49/trackback/

RSS feed for comments on this post.

26 KomentarTinggalkan komentar

  1. ampuuun daaahh….malah kayak main tak umpet

  2. sabar menunggu sedayu digerebek 2 macan betina

  3. matur nuwun

  4. Gratze, buku 49 sudah muncul

  5. siiip….. tancap terus ……. Matur nuwun kepada pasukan pengawal Menoreh. Tapi….., kenapa ya buku 49 ini beberapa kali gagal saya undhuh. Error di sepertiga terakhir.
    Tetap semangat. Maaf saya belum bisa bantu-bantu lagi.

  6. akhirnya… bisa juga ngunduh jilid 49 ini setelah sempat berjuang beberapa kali…

    matur nuwun

  7. Saya rasa mungkin file upload nya terlalu besar. Saya pun mengalami hal yang sama, dl selalu putus ditengah jalan. Baiknya tunggu file hasil konvert saja (dalam bentuk doc). File nya lebih kecil, downloadnya cepat dan seru nya pun tetap sama.

    Salam, Aulianda

  8. horeee…muncul juga, tambah semangat spt Sutawijaya mbuka alas Mentaok

  9. saya sudah berhasil dunlut semuanya, tapi kok mulai halaman 58 sampai selesai kertasnya putih saja ya, gak ada tulisannya.

    Apakah ada yg mengalaminya juga?

    thanks

  10. poro kadang yang pada gagal ngunduh jilid 49, harap pake DAP / FLASGET / OPERA 9, buat ndownloadnya.. sehingga kalau pada saat download putus koneksi .. bisa nyambung lagi.

    matur nuwun.

  11. tadi siang saya sdh sukses ndownload & mbaca sampai habis, kok gak ada masalah apa2 yak..?? Sekarang lagi menyusun gelar di balik gerumbul ori, siap menyongsong serbuan jilid 50

    nuwun

  12. Konfirmasi…

    ternyata saya dunlutnya gak kelar, sekarang setelah diulang dunlut lagi dah isa kok.

    mungkin karena ukuran file kali ini agak jumbo kali ya

    maaf dan maturnuwun,
    Ki KontosWedul

  13. hiks lom bisa juga downloadna, g suport resume c jadi walau pakai download manager jg percuma.

    Apalagi yg pake dial-up kaya gw

  14. sedih banget neh… donlotnya gagal maning gagal maning

  15. Sedih juga mendengar masih ada warga padepokan yang gagal download.
    Ada baiknya mendengar saran gembala tua, untuk bertapa selama sebulan penuh, menjauhi segala hal-hal yang bersifat duniawi, termasuk komputer, laptop, internet, dll.
    Setelah genap bertapa sebulan penuh, pulanglah, dan jangan lupa mampir di warnet yang punya koneksi Top Banget, unduhlah semua jilid yang ada, niscaya panjenengan akan mendapatkan minimal 25 jilid kitab sakti ADBM yang anda baca selama sebulan kedepan.
    Jangan lupa bawa karung.

  16. “Apakah yang kalian cari?” tanya Kiai Gringsing yang melihat Swandaru dan Agung Sedayu mengaduk-aduk lontar di pringgitan.
    “Saya hendak melihat, apakah sudah ada yang melakukan penulisan ulang buku 49 di lontar ini?” desis Swandaru
    “Iya Guru, kalau belum ada yang menulis ulang di lontar lontar ini, semoga ada yang berniat menuliskannya,” sambung Agung Sedayu.
    “Siapakah yang kau maksud?” tanya Kiai Gringsing kemudian
    “Biarlah Jebeng yang menuliskannya, dia sekarang sepertinya sedang tidak ada yang dilakukannya,” kata Swandaru pula.
    “Hemmm…,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk, “Ya, Baiklah. Kita tanyakan dulu kepada Ki Gede Dede, apakah sudah ada yang bersedia menuliskannya sebelum ini?”
    “Bagaimanakah Ki Dede?” tanya Swandaru pula sambil menjengukkan kepalanya dari jendela seraya menyambar sepotong pizza yang tinggal seiris pula di meja.

  17. Tiba-tiba Pandan Wangi berjalan bergegas dari gandok sambil membawa air sere hangat.
    “Sudahlah, kalian terlambat,” katanya sambil mengangsurkan air sere itu
    “Itu lontarnya sudah tertulis dengan rapi,” sambungnya pula
    “Oooooo,” Swandaru dan Agung Sedayu pun tersenyum sambil berpandang pandangan.
    “Baiklah kalau begitu, kita tunggu kitab no 52 sajalah,” Swandaru menyahut seraya menyerubut air sere itu.

  18. duh bangganya bisa baca adbm, aku nyuwun sewu sediain sarana khusus untuk file djvu, soalnya aku gandrung banget bacanya pake windejapu…… kaya baca bukunya
    kalo bisa dari awal aza (no 1)….

    matur nuwun….
    cantrik gandrung

  19. akhirnya setelah sekian lama tenggelam di pertempuran yang lain, bisa juga mampir ke tanah perdikan menoreh ini

    raden rog rog asem

  20. TJAP DJEMPOL lagi aah….pratanda yen cantrik berharap
    Nyi SENO hadir ning gandhok 49 🙄 🙄

    Matur nuwun Ki GD, beBAHU padepokan ADBM sedaya-nya

  21. test

  22. Menurut Ki Begawan Mintarja, semua manusia pada dasarnya mempunyai sifat dasar yang baik sebagai mahluk ciptaanNYA yang utama.
    Walau solah tingkah para tokoh bisa dikategorikan sebagai orang jahat, namun ketika ajal menjelang, selalu terungkap sifat dasar manusia yang menyadari kebesaranNYA.

    (HUWADUH, NGOMONG APA TO AKU IKI…?)

    • (huwaduh sampean niku ngomong opo ngetik to ki mbleh)

      • he-heeee, (HUWADUH, do NGAPA TO ki GEMBLEH-ki AS IKI…?)

  23. Huebat, kemarin2 komen cantrik di gandok sini sama gandok 50
    ambles tanpa jejak……..jan sekti tenan ki Gembleh, bisa njejaken
    komen tanpo ambLES.

    • nglurug tanpa bala,
      menang tan angasorake,
      komen tanpa amblesssss


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: