Buku 49

Seperti Argajaya, maka ketika kakinya melangkah memasuki ruangan bilik Ki Argapati, hatinya menjadi berdebar-debar. Tetapi ia merasa heran, bahwa di dalam bilik itu sama sekali tidak terdapat para pengawal yang berjaga-jaga.

Ki Argapati yang melihat kedatangannya pun segera bangkit dan duduk di pembaringannya. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Kemarilah, Sidanti.”

Sidanti tidak menjawab. Tetapi yang pertama-tama dilihatnya adakah tombak pendek yang bersandar dinding di atas pembaringan Ki Argapati.

Tetapi segera ia menggeser tatapan matanya kepada Ki Argapati yang duduk dengan nafas yang masih belum teratur benar karena luka-lukanya.

“Duduklah dulu, Sidanti,” orang tua itu mempersilahkan Sidanti duduk di atas dingklik kayu di dekat pembaringannya.

Tetapi Sidanti tidak segera duduk. Ia berdiri saja di tempatnya. Meskipun demikian ia masih juga merasa heran. Bilik tempat Ki Argapati berbaring itu sama sekali tidak seperti yang dibayangkannya. Tidak ada seorang pengawal pun yang ada di dalam. Ki Argapati yang sakit itu tidak juga diapit-apit oleh dua orang pengawal pilihan, kemudian di setiap sudut, dan di sisi pintu, tidak juga ada ujung-ujung senjata yang merunduk ke arahnya.

“Duduklah,” Ki Argapati mengulangi. Tetapi Sidanti masih tetap berdiam diri.

Pandan Wangi-lah yang kemudian membimbingnya dan meletakkannya di atas dingklik itu. Seperti anak-anak yang dibimbing ibunya Sidanti tidak melawan. Ia melangkah dengan berat, dan kemudian duduk di atas dingklik kayu itu dengan kepala tunduk.

“Sudah lama aku ingin berbicara dengan kau, Sidanti,” berkata Ki Argapati, “tetapi lukaku agaknya masih belum mengijinkan. Hari ini aku merasa agak ringan, sehingga aku segera memanggil kau dan pamanmu berganti-ganti.”

Sidanti tidak menjawab. Kepalanya masih saja menunduk.

“Apakah adikmu sudah mengatakan sesuatu kepadamu?”

Sidanti mengangkat wajahnya sejenak, kemudian dipalingkannya kepalanya kepada Pandan Wangi. Tetapi kepalanya itu pun kemudian menunduk lagi tanpa menjawab apa pun juga.

“Aku belum mengatakan apa-apa kepadanya, Ayah,” sela Pandan Wangi. “Aku hanya mengajaknya kemari, agar Ayah mengatakan sendiri maksud Ayah itu.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah, Pandan Wangi. Aku akan mengatakannya seperti aku mengatakan kepada Argajaya.”

Tetapi Sidanti sama sekali tidak menyahut.

Ki Argapati terdiam sejenak. Dipandanginya kepala Sidanti yang menunduk. Tetapi tangkapan mata hati Ki Argapati yang tajam segera merasakan, bahwa hati Sidanti masih belum dapat dilunakkan sama sekali, tidak seperti pamannya Argajaya.

“Anak ini benar-benar keras kepala,” berkata Ki Argapati di dalam hatinya. Meskipun demikian Ki Argapati masih akan mencobanya untuk menjajagi hati Sidanti lebih jauh.

“Sidanti,” katanya, “apakah hatimu sudah terbuka untuk berbicara? Seperti pamanmu Argajaya, aku membawanya berbicara tentang keadaan kita saat ini. Tentang Tanah Perdikan Menoreh, dan tentang masa depannya. Aku ingin bersama melihat, di mana kita sekarang ini berada. Dan ke mana kita masing-masing akan pergi. Kalau kita dapat menemukan persesuaian arah, maka kita akan dapat berjalan bersama-sama.”

Ternyata Sidanti masih belum menjawab. Kepalanya masih menunduk, seakan-akan ia sedang merenungi dirinya sendiri dalam-dalam.

“Sidanti, kenapa kau diam saja?” bertanya Ki Argapati. “Katakanlah apa yang ingin kau katakan. Aku memang ingin mendengarkan isi hatimu dengan terbuka, supaya aku dapat memperhitungkan segala sesuatu buat masa depan Tanah ini.”

Perlahan-lahan Sidanti mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu adalah wajah yang suram dan gelap. Dengan suara parau ia berkata datar, “Kalau kau akan menjatuhkan hukuman atasku, segera katakan. Ternyata aku menjadi muak berada di bilik ini lebih lama lagi.”

“Kakang,” Pandan Wangi memotong, “sadarilah keadaan ini, Kakang. Kita sedang mencari jalan sebaik-baiknya, agar kita menemukan titik pertemuan.”

“Itulah yang sulit. Kalian kini sedang berkuasa atasku. Kalian dapat berbuat apa saja.”

“Tetapi kami tidak ingin berbuat demikian. Kami ingin mencari cara yang baik. Seperti Paman Argajaya, yang dengan hati terbuka menyatakan keinginannya untuk bersama-sama membangun kembali Tanah Perdikan ini.”

“Apakah aku harus berjanji seperti Paman Argajaya itu pula?”

“Tidak, Sidanti,” sela Ki Argapati, “tidak seorang pun yang mengharuskannya. Mungkin aku dapat memaksa berjanji. Tetapi janji yang demikian adalah janji yang tidak akan menghasilkan buah yang wajar. Janji itu sendiri harus terlontar dari hati dan kesadaran diri.”

Jawab Sidanti ternyata telah mengejutkan Pandan Wangi dan Ki Argapati, “Aku tidak akan berjanji apa-apa. Aku tidak merasa wajib untuk berbuat sesuatu.”

“Kakang,” Pandan Wangi hampir berteriak, “kita adalah anak-anak Tanah ini. Kita dilahirkan di atas Tanah ini.”

“Tetapi aku sudah mengkhianati Tanah ini menurut anggapanmu dan anggapan orang-orang yang sekarang ini berkuasa. Kenapa kalian tidak menghukum aku saja? Apakah kalian sedang berusaha untuk memperalat aku, agar perlawanan yang mungkin masih ada itu segera padam?”

“Seandainya demikian, Sidanti,” jawab Ki Argapati, “itu sudah merupakan urusanmu membangun Tanah ini. Dengan demikian maka ketenteraman akan segera pulih kembali.”

“Aku tidak mau diperalat dengan cara itu, dengan cara yang licik. Kalian sudah menang atas pasukanku. Kalian berhak membunuh aku. Aku tidak boleh berkhianat untuk kedua kalinya. Berkhianat menurut anggapanmu dan berkhianat terhadap pasukanku yang telah kau hancurkan. Apalagi berkhianat terhadap guruku, dan………” Sidanti tidak dapat mengatakannya. Terasa sesuatu menahan di kerongkongannya sehingga kata-katanya terputus. Tetapi dengan demikian api kebenciannya kepada Ki Argapati serasa meluap. Tiba-tiba saja ia merasa terlempar pada kenyataannya. Seperti yang dikatakan oleh Pandan Wangi. Dan ia tidak dapat mengingkari kenyataan itu, bahwa Argapati bukan apa-apa baginya.

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa usahanya kali ini tidak akan dapat berhasil. Agaknya hati Sidanti benar-benar telah mengeras seperti batu hitam.

Namun demikian, berbeda dengan Ki Argapati, Pandan Wangi merasa bahwa masih ada harapan untuk merubah sikap kakaknya itu. Meskipun harapan itu tampaknya semakin lama menjadi semakin tipis. Tetapi ia masih berkata, “Apakah kita tidak dapat melupakan apa yang telah terjadi? Atau bahkan kita menganggap hal itu sebagai suatu pengalaman?”

“Tidak, tidak!” Sidanti berteriak.

Pandan Wangi terkejut mendengar teriakan itu. Sekilas dipandanginya wajah ayahnya yang tegang. Terasa bahwa di wajah ayahnya itu telah terbayang warna hatinya yang muram.

“Apakah Kakang Sidanti tidak juga dapat dilunakkan?” pertanyaan itu mulai membelit hatinya.

Dalam pada itu, di ruang tengah beberapa orang duduk dengan cemasnya. Mereka kini sudah beringsut dari depan pintu bilik Sidanti ke depan pintu bilik Ki Argapati. Bahkan kini jumlah mereka telah bertambah pula karena Ki Samekta dan Ki Kerti telah ada di antara mereka.

“Apakah Ki Gede memang memanggil Angger Sidanti?” bertanya Samekta sambil berbisik.

“Ya,” jawab gembala tua itu.

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Kerti pun berkata, “Ki Argapati masih juga dipengaruhi oleh hubungan masa lampau. Bagaimana pun juga Sidanti pernah dianggap sebagai anaknya.”

“Ya,” jawab Samekta, “tetapi apakah pantas bahwa anak itu kini berteriak-teriak begitu di dalam bilik Ki Argapati yang sedang sakit.”

Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Siapa sajakah yang ada di dalam?” bertanya Kerti kemudian.

“Selain Angger Sidanti hanyalah Angger Pandan Wangi.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ia percaya kepada Pandan Wangi. Tetapi hatinya hampir-hampir tidak tahan lagi mendengar Sidanti berteriak-teriak dan membentak-bentak.

“Itu sudah terlalu,” gumam Samekta. “Sedang Sidanti yang bukan tawanan saja, tidak sepantasnya berteriak-teriak dan membentak-bentak seperti itu. Apalagi kini Sidanti adalah tawanan.”

“Kalau ia bukan seorang tawanan, aku kira ia tidak akan membentak-bentak,” berkata gembala tua itu lirih.

“Kenapa?”

“Sebagai seorang tawanan ia merasa bahwa tubuhnya terbelenggu. Karena itu, maka yang dapat dilakukan hanyalah sekedar melepaskan suaranya menembus ikatan-ikatan yang membatasinya.”

“Tetapi akibatnya dapat berbahaya bagi dirinya. Kalau Ki Argapati marah, maka segala kebaikan hatinya akan larut, karena ia adalah manusia biasa.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab, “Sidanti telah dicengkam oleh keputus-asaan dan kehilangan pegangan. Ia menyadari hal itu, tetapi agaknya ia memang memilih jalan yang terdekat untuk mati.”

Samekta dan Kerti mengerutkan keningnya. Namun kepala mereka pun kemudian terangguk-angguk lemah.

Sejenak mereka pun terdiam. Mereka mencoba mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pandan Wangi. Tetapi mereka tidak dapat mendengarnya dengan jelas, apalagi kemudian terdengar suara Pandan Wangi seakan-akan tenggelam di dalam isaknya.

“Jangan membujuk lagi,” suara Sidanti-lah yang terdengar jelas, “aku sudah memutuskan. Kalau kalian akan membunuh aku, segera lakukanlah. Jangan memaksa aku untuk melakukan hal-hal yang tidak akan mungkin bagiku. Aku tidak bertabiat serendah itu.”

“Kau tidak mau memikirkannya, Kakang,” sahut Pandan Wangi, “kau menanggapinya dengan perasaan tanpa nalar. Itu adalah kebiasaan perempuan. Kau adalah seorang anak muda. Seorang laki-laki. Tetapi hatimu digelapi oleh perasaanmu. Seharusnya kau mempergunakan nalarmu, Kakang.”

“Tidak. Aku tidak dapat kau paksa lagi dengan cara apa pun.”

“Kalau begitu, maka kau adalah laki-laki cengeng. Bukan sebaliknya, karena kau tidak dapat mempergunakan nalarmu.”

Wajah Sidanti menjadi merah padam. Sejenak ia membeku. Dipandanginya wajah Pandan Wangi dan Argapati berganti-ganti.

Melihat kakaknya berdiam diri, maka tumbuh kembalilah harapan Pandan Wangi. Karena itu maka suaranya segera menurun, “Bukankah begitu, Kakang? Bukankah kau seorang laki-laki yang berani menghadapi kenyataan? Seharusnya kau memang tidak usah lari. Marilah kita terima apa yang sudah tersedia di hadapan kita. Kalau kita menerimanya dengan ikhlas, maka semuanya akan berlangsung dengan baik.”

Sidanti tidak menjawab. Dengan demikian maka Pandan Wangi pun menjadi semakin berpengharapan. Bahkan Ki Argapati yang sudah berputus asa untuk dapat mengait Sidanti dari kegelapan, menjadi heran. Apakah Pandan Wangi akan berhasil.

“Kau mengerti maksudku bukan, Kakang?”

Sidanti masih tetap berdiam diri.

Perlahan-lahan Pandan Wangi melangkah mendekati tempat duduk kakaknya sambil berkata pula, “Bukankah kau mengerti? Ini bukan kebaikan hati kami. Tidak. Tetapi kita akan bertanggung jawab bersama-sama.”

Namun yang terjadi kemudian benar-benar di luar dugaan Pandan Wangi. Ternyata kediaman Sidanti telah menumbuhkan kelengahan pada Pandan Wangi. Pandan Wangi tidak dapat mencegahnya ketika tiba-tiba saja Sidanti meloncat menyambar tombak yang terletak di atas pembaringan Ki Argapati. Demikian cepatnya, sehingga Pandan Wangi sadar, ketika tombak itu sudah ada di tangan Sidanti.

Argapati pun terkejut bukan buatan. Getaran dadanya yang tergoncang agaknya telah membuat lukanya menjadi seakan-akan terhenti. Dengan darah yang seakan-akan terhenti ia menatap ujung tombaknya itu merunduk ke arah dadanya yang luka.

Pandan Wangi tidak mendapat kesempatan untuk merebut tombak itu dari tangan kakaknya. Tetapi ia tidak tinggal diam menyaksikan ujung tombak itu menembus dada ayahnya. Karena itu, maka dengan secepat-cepat kemampuannya ia meloncat memeluk kakangnya dari belakang.

Tetapi Sidanti telah menjadi wuru. Seakan-akan ia telah kehilangan akal. Tanpa menghiraukan apa pun lagi, maka dikibaskannya Pandan Wangi sekuat-kuatnya.

Pandan Wangi yang belum siap benar menanggapi peristiwa itu, tidak dapat bertahan. Ia terlempar membentur dinding kayu bilik itu, kemudian terjatuh di lantai.

Kini Sidanti berdiri dengan mata yang merah menghadap Argapati yang belum mampu melakukan perlawanan apa pun karena luka-lukanya. Tombak di tangannya kini telah merunduk kembali setelah diguncang oleh Pandan Wangi, tepat mengarah ke dada Ki Argapati.

Benturan tubuh Pandan Wangi pada dinding kayu telah mengejutkan beberapa orang yang berada di luar pintu. Tetapi mereka tidak segera melihat apa yang telah terjadi di dalamnya. Pintu yang terbuka sedikit, tidak tepat pada pembaringan Ki Argapati, sehingga orang-orang yang di luar pintu, tidak melihat Sidanti yang menggenggam tombak telah menggeram seperti seekor harimau yang terluka.

“Suara apakah itu?” bertanya Ki Samekta.

Tetapi yang lain hanya menggelengkan kepalanya saja. Tidak seorang pun yang beranjak dari tempatnya. Mereka agaknya segan untuk memasuki ruangan itu, sebelum mereka dipanggil.

Namun demikian, tanpa mereka sadari, seorang demi seorang telah beringsut dari tempat duduknya semula.

Pandan Wangi yang terbanting di lantai masih sempat melihat kakaknya maju setapak dengan tombak di tangannya. Dan tiba-tiba saja ia terpekik, “Kakang, Kakang Sidanti. Jangan.”

Tetapi Sidanti sama sekali tidak mendengarkan lagi suara ini. Ia maju selangkah lagi. Kini ia sudah memusatkan tenaganya di telapak tangannya yang menggenggam tombak pendek itu.

Ki Argapati benar-benar telah tidak mempunyai kesempatan apa pun. Ia tidak melihat senjata apa pun yang akan dapat menolongnya, sedang tenaganya sama sekali belum cukup kuat untuk melontarkan tubuhnya dari pembaringannya itu. Karena itu, ia hanya menunggu apa yang akan terjadi, ia mengharap bahwa ia masih sempat untuk mengelak apabila Sidanti benar-benar ingin menghunjamkan, tombak pendeknya.

Ternyata suara Pandan Wangi telah mengejutkan mereka yang berada di luar pintu. Serentak mereka berloncatan dan tanpa menunggu lagi, mereka berlari-larian ke bilik Ki Argapati.

Tetapi untuk memasuki pintu itu mereka memerlukan waktu. Sedang Sidanti telah benar-benar siap menusukkan tombaknya.

Terdengar ia menggeram, “Orang-orang Menoreh hanya dapat menghukum mati aku satu kali. Meskipun aku membunuhmu, maka hukuman itu tidak akan dapat ditambah lagi.”

Ketika gembala tua, Ki Samekta, Kerti, dan beberapa orang prajurit meloncat tlundak pintu, maka pada saat itu, mereka kehilangan segala kemungkinan untuk dapat menolong Ki Argapati karena Sidanti sudah mulai mengayunkan tombaknya untuk menusuk langsung ke dada Ki Argapati.

Tetapi dalam kecemasan yang amat sangat, yang telah mencekam setiap dada, mereka melihat kilatan senjata yang langsung menghunjam ke lambung Sidanti. Demikian, cepat dan kerasnya, sehingga Sidanti yang telah mengayunkan tombak itu terdorong ke samping.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Kemudian perlahan-lahan tombak yang sudah hampir saja menembus dada Ki Argapati itu menjadi bergetar, dan terjatuh di lantai.

Yang telah terjadi itu telah benar-benar mencengkam semua orang yang menyaksikannya. Nafas mereka seakan-akan telah berhenti mengalir ketika kemudian mereka melihat, apakah yang sebenarnya telah terjadi.

Pandan Wangi berdiri dengan tubuh gemetar di sisi pembaringan ayahnya. Dengan wajah yang pucat pasi dipandanginya pedangnya yang masih menghunjam di lambung kakaknya yang berdiri tertatih-tatih. Sejenak Sidanti memandang adiknya, namun kemudian ia tidak lagi mampu bertahan. Perlahan-lahan ia jatuh di atas lututnya, sedang darah yang merah mengalir dari lukanya.

Dengan kekuatan terakhirnya Sidanti masih sempat mencabut pedang yang telah terlepas dari tangan Pandan Wangi itu, kemudian meletakkannya di sampingnya.

Pandan Wangi memandanginya dengan wajah yang tegang beku. Namun ketika kemudian Sidanti tidak lagi mampu berdiri di atas lututnya, dan perlahan-lahan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya, terdengar Pandan Wangi menjerit keras sekali, “Kakang. Kakang Sidanti.”

Seperti orang yang kehilangan akal, Pandan Wangi memeluk kakaknya yang sudah hampir kehabisan tenaganya, sehingga justru dengan demikian Sidanti tidak lagi dapat bertahan. Perlahan-lahan ia menelentang dan terbaring dilantai, sedang Pandan Wangi menelungkup memeluknya sambil menangis sejadi-jadinya. Darah Sidanti yang bergelimang di lantai, telah memerahi pakaian gadis itu pula.

“Kakang, Kakang Sidanti.”

Ki Argapati yang masih berada di pembaringan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia beringsut dan memaksa dirinya untuk duduk di pinggir pembaringan, sementara gembala tua, Samekta, dan Ki Kerti serta beberapa orang yang lain telah melingkarinya.

“Kakang, Kakang, kenapa jadi begini, Kakang. Aku tidak sengaja, Kakang. Aku tidak sengaja melukaimu.”

Nafas Sidanti semakin cepat memburu. Ketika ia membuka matanya ia melihat Pandan Wangi yang menangis seperti kanak-kanak, meraung-raung tidak terkendali lagi. Penyesalan yang tiada taranya telah melanda dadanya. Dengan gerak naluriah ternyata ia telah meloncat dan menusuk lambung Sidanti untuk mencegah Sidanti membenamkan ujung tombaknya di dada ayahnya.

Ternyata akibat dari tusukan di lambung anak muda itu terlampau parah, sehingga maut telah membayang di wajahnya.

Dalam suatu saat, ternyata Pandan Wangi memang harus memilih. Dan saat itu terlampau pendek. Hanya sekejap. Ia tidak dapat membuat pertimbangan lebih jauh ketika ia melihat kakaknya sudah siap menusukkan tombak pendeknya ke dada Argapati.

Dan Pandan Wangi pun memang sudah melakukan pilihan itu. Betapa besar ikatan kasih antara kakak-beradik, namun ia tidak dapat membiarkan ayahnya terbunuh di pembaringan selagi ia tidak kuasa berbuat apa-apa. Dan di saat yang sekejap itu, ia telah memilih ayahnya daripada kakaknya meskipun akhirnya ia harus memeras air matanya.

“Pandan Wangi,” terdengar suara Sidanti parau.

“Kakang. Aku minta maaf.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang-orang yang kini berjongkok di sekitarnya melihat Sidanti menyeringai menahan sakit. Namun kemudian mereka menjadi heran dan kemudian terharu ketika mereka melihat Sidanti itu tersenyum, “Kau tidak bersalah, Adikku,” desisnya.

“Aku tidak sengaja, Kakang.”

“Aku tahu bahwa kau memang tidak sengaja. Tetapi dipandang dari segi keharusanmu, kau sudah bertindak tepat. Kau berusaha menyelamatkan ayahmu.”

“Tetapi maksudku tanpa mengorbankan kau.”

“Dalam keadaan ini tidak mungkin, Pandan Wangi,” jawab kakaknya. “Alangkah anehnya hati ini. Justru pada saat terakhir aku melihat cahaya yang terang.”

“Maksudmu, Kakang?”

“Aku merasa bersalah.”

“Kakang,” Pandan Wangi menggucang-guncang tubuh kakaknya.

“Jangan kau guncang, Wangi. Sakit.”

“Tetapi jangan berkata saat-saat terakhir. Kau pasti akan sembuh,” tiba-tiba saja Pandan Wangi dengan nanar mengedarkan tatapan matanya. “Kiai. Kiai,” katanya kepada gembala tua itu, “kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak berbuat sesuatu untuk mengobati luka Kakang Sidanti.”

Gembala tua itu beringsut maju. Tetapi suara Sidanti menjadi semakin lemah, “Tidak ada gunanya. Aku akan mati.”

“Tidak. Tidak. Kau tidak akan mati.”

Sekali lagi Pandan Wangi melihat Sidanti tersenyum. Kemudian dicobanya memandangi Argapati yang duduk di pinggir pembaringannya. “Ayah,” desisnya.

Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Argapati. Panggilan itu selalu didengarnya dahulu. Tetapi di saat-saat api membakar Tanah Perdikan, anak muda itu telah menjadi musuhnya. Kini, ketika jari-jari maut mulai merabanya, ia mendengar panggilan itu lagi.

“Aku minta maaf.”

“Kau tidak bersalah, Sidanti,” suara Ki Argapati berat.

Tetapi Sidanti tertawa, “Maafkan aku, Ayah, jangan berkata aku tidak bersalah.”

Ki Argapati terdiam sesaat.

Dan Sidanti mengulanginya, “Aku mengharap Ayah memaafkan kesalahanku.”

“Ya, ya, Sidanti. Aku maafkan semua kesalahanmu.”

“Terima kasih,” nafas Sidanti menjadi semakin sendat.

Dan yang terdengar adalah suara Pandan Wangi, “Kiai, kenapa Kiai diam saja? Apakah Kiai memang mengharap luka itu tidak dapat ditolong lagi.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, sebagai seorang yang telah mengenal beribu jenis luka, maka luka Sidanti itu tidak akan dapat ditolong lagi.

“Sudahlah,” Sidanti sendiri memang menolak, “aku sudah sampai pada batas,” suaranya menjadi semakin lambat. Lalu, “Kiai, bukankah murid-muridmu ada di sini?”

“Ya. Mereka ada di sini, Ngger.”

“Apakah aku dapat bertemu.”

Gembala itu mengerutkan keningnya, “Apakah maksud Angger Sidanti, anak-anak itu dipanggil kemari?”

Sidanti mengangguk lemah. “Apakah Paman Argajaya juga ada?”

Gembala itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kepada seseorang yang ada di belakangnya ia memberi isyarat untuk memanggil mereka.

Dengan tergesa-gesa orang itu berdiri. Tetapi di muka pintu ia tertegun sejenak. Dipandanginya Ki Argapati, seolah-olah ingin mendapat ketegasannya.

Ketika Ki Airgapati pun kemudian menganggukkan kepalanya, maka orang itu pun berlari ke gandok. Dengan singkat disampaikannya berita tentang Sidanti dan diperintahkannya kedua murid gembala tua itu membawa Ki Argajaya menghadap.

Mereka pun segera memenuhinya pula. Argajaya justru berjalan di paling depan. Kemudian Gupala dan Gupita. Tetapi tidak hanya mereka, Sekar Mirah dan Sumangkar pun ikut serta pula.

Ketika mereka sampai ke dalam bilik itu, Sidanti sudah menjadi terlampau lemah. Tetapi ia masih sempat melihat Argajaya, Agung Sedayu, dan Swandaru berjongkok di sampingnya. Dan ia masih sempat berbisik, “Maafkan aku.”

Agung Sedayu yang dikenal juga bernama Gupita dan Swandaru yang dipanggil Gupala itu menganggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Betapa kebencian mencengkam dada mereka, namun mereka menjadi terharu juga melihat kematian yang tidak disangka-sangka itu.

Dalam pada itu, semua orang yang ada di seputarnya terkejut, ketika tiba-tiba saja Sidanti menghentakkan kepalanya dan seolah-olah ia berusaha untuk bangkit. Tetapi ia sudah terlampau lemah, sehingga ia sama sekali tidak berhasil menggerakkan dirinya. Yang terdengar kemudian suaranya lambat, “Apakah mataku masih juga tidak salah? Apakah benar aku melihat Sekar Mirah.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia menjawab, “Ya, Sekar Mirah memang ada di sini.”

Sidanti tersenyum. Bibirnya bergetar lamban sekali. Dan Pandan Wangi masih mendengar ia berdesis, “Mirah.”

Tidak seorang pun yang dapat mengucapkan kata-kata ketika mereka melihat Sidanti menjadi semakin lemah. Tatapan matanya menjadi semakin redup. Tetapi ia masih berusaha tersenyum. Dipandanginya Argajaya yang seolah-olah menjadi semakin kabur, Argapati, Pandan Wangi, Sekar Mirah, dan yang lain-lain.

Sekali lagi Sidanti menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin menyambung nafasnya yang menjadi semakin pendek. Tetapi ketika ia melepaskan nafas itu, ternyata itu adalah tarikan nafasnya yang terakhir.

Yang terdengar adalah jerit Pandan Wangi yang melengking. Sidanti telah meninggal, justru karena ujung senjatanya, yang tidak dengan sengaja telah menghunjam ke lambung kakaknya yang selama ini masih diharapkannya untuk dapat hidup dan berbuat sesuatu bersama-sama untuk kepentingan Tanah Perdikan Menoreh.

Beberapa orang telah mencoba menenangkan hati gadis itu. Sekar Mirah pun kemudian mendekatinya dan mencoba membawanya pergi meninggalkan mayat Sidanti yang masih terbujur di lantai. Tetapi Pandan Wangi masih saja memeluknya, betapa tubuh itu telah mulai menjadi dingin.

“Pandan Wangi,” bisik Sekar Mirah, “biarlah tubuh Kakang Sidanti segera mendapat perawatan yang sebaik-baiknya.”

Tetapi Pandan Wangi masih belum melepaskannya.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ditatapnya mayat Sidanti yang pucat.

Tiba-tiba dada Sekar Mirah berdesir. Teringat olehnya, bagaimana Sidanti pernah menculiknya dan menyembunyikannya di padepokan Tambak Wedi. Pada saat itu, hatinya yang seakan-akan terbakar oleh kemarahan dan kebencian, seakan-akan berjanji, bahwa pada suatu saat ia menginginkan kepala anak muda itu. Ia pernah mengharap Agung Sedayu berkata kepadanya, “Aku akan pergi ke Menoreh dan akan kembali, dengan membawa kepala Sidanti.”

Tetapi ketika kini ia melihat anak muda itu terbujur sambil memejamkan matanya, hatinya menjadi iba juga. Bagaimana pun juga, Sidanti pernah tinggal serumah dengan keluarganya di Sangkal Putung. Dan tiba-tiba pula ia merasa, bahwa perasaan Sidanti kepadanya saat itu agaknya memang bersungguh-sungguh. Sidanti tidak sekedar ingin melepaskan ketegangan urat syarafnya selagi ia berada di peperangan. Tetapi Sidanti benar-benar mencintainya.

Argajaya, gembala tua yang dikenal juga bernama Kiai Gringring, Argapati yang duduk di pembaringan, dan orang-orang lain yang ada di sekitar mayat Sidanti itu pun telah mencoba untuk menenteramkan hati Pandan Wangi.

Akhirnya tangis gadis itu pun mereda. Sekali lagi Sekar Mirah berbisik di telinganya, “Marilah kita tinggalkan Kakang Sidanti, agar ia segera mendapat perawatan yang sebaik-baiknya. Ternyata bahwa setiap orang masih menaruh hormat kepadanya. Kepada kejantanannya dan kekerasan hatinya. Ia mati setelah ia mempertahankan keyakinannya sampai batas terakhir.”

Pandan Wangi masih terisak-isak. Dan di sela-sela isaknya ia menjawab, “Tetapi kekerasan hatinya itu pulalah yang menyeretnya ke dalam keadaannya yang pahit ini. Kakang Sidanti sama sekali tidak mau melihat kenyataan yang dihadapinya.”

“Ya, hatinya memang sekeras batu. Tetapi itu adalah ciri kejantanannya. Meskipun ia tersesat jalan. Karena itu, maka biarlah ia dihormati karena kekerasan hatinya pula.”

Pandan Wangi tidak menjawab.

“Marilah. Kau pun perlu membersihkan dirimu. Mandi dan berganti pakaian.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi ketika Sekar Mirah membimbingnya, maka perlahan-lahan ia pun melepaskan pelukannya dan bangkit berdiri. Pakaiannya yang kusut telah dinodai oleh darah Sidanti yang menjadi kehitam-hitaman.

“Marilah,” ajak Sekar Mirah.

Sambil menundukkan kepalanya Pandan Wangi melangkah setapak demi setapak meninggalkan bilik itu dibimbing oleh Sekar Merah. Di depan pintu ia berpaling. Sejenak ia berdiri memandangi tubuh kakaknya yang pucat membeku. Namun kemudian ia meneruskan langkahnya meninggalkan bilik itu.

Sepeninggal Pandan Wangi, barulah mayat Sidanti itu diangkat dan dibawa keluar dari bilik Ki Argapati. Atas perintah Ki Argapati, Sidanti dirawat sebagai putera Kepala Tanah Perdikan Menoreh apa pun yang telah dilakukannya.

Dalam pada itu, ketika tubuh Sidanti sedang sibuk dibersihkan dan dirawat seperlunya, Pandan Wangi duduk di dalam biliknya dengan air mata yang selalu membasah pipinya. Yang paling mencengkamnya adalah justru penyesalan yang sangat, bahwa ia adalah lantaran kematian kakaknya itu.

“Kau tidak dapat berbuat lain, Pandan Wangi,” berkata Sekar Mirah. Lalu, “Aku kira setiap orang akan berbuat seperti yang telah kau lakukan dalam saat-saat serupa itu.”

Pandan Wangi tidak menjawab.

“Kau dapat membuat perbandingan, sekedar untuk mengurangi penyesalan yang selalu menyesakkan dadamu. Seandainya kau tidak berbuat demikian, maka apakah kira-kira jadinya. Kau harus bersukur, bahwa kau hadir pada saat itu. Bukan berarti bahwa Kakang Sidanti pantas dikorbankan, tetapi kau sudah menghindarkan korban yang lebih banyak lagi.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk kecil.

“Kau harus berusaha untuk melupakan apa yang sudah terjadi. Dan kau harus mencoba melihat ke masa depan.”

Pandan Wangi mengangguk pula. Setiap kali ia sendiri selalu mengatakan tentang masa depan. Karena itu, ia tidak harus mengorbankan masa depan itu karena peristiwa yang meledak sesaat.

“Tanah ini memerlukan penanganan,” katanya di dalam hati. Dan Pandan Wangi sadar, bahwa ia tidak boleh tenggelam dalam kekecewaan dan kesedihan.

Dalam pada itu, maka di pendapa orang-orang sedang sibuk merawat tubuh Sidanti yang segera akan dimakamkan.

Seperti perintah Ki Argapati, maka Sidanti diperlakukan sebagai seorang putera Kepala Tanah Perdikan. Meskipun ada di antara mereka, para pengawal dan rakyat Menoreh yang melakukannya dengan setengah hati, karena mereka tidak dapat menutup mata, apa yang telah dilakukan oleh Sidanti itu.

Tetapi bagaimana pun juga mereka harus melakukan perintah Kepala Tanah Perdikannya.

Ketika semuanya sudah selesai, maka mayat Sidanti pun segera dimakamkan dengan penghormatan secukupnya. Argajaya, Pandan Wangi dan para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh, gembala tua yang juga bernama Kiai Gringsing serta kedua muridnya, Sumangkar, dan Sekar Mirah hadir di pemakaman itu.

“Aku kehilangan satu-satunya saudara laki-lakiku,” gumam Pandan Wangi ketika mereka kembali dari tanah pekuburan.

“Kau akan segera mendapatkan,” desis Sekar Mirah.

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi terasa bahwa kini hatinya yang kosong menjadi kian sepi.

“Satu-satunya keluarga adalah ayah,” berkata Pandan Wangi seterusnya.

“Hari ini,” jawab Sekar Mirah, “tetapi keluarga itu akan segera berkembang. Bahkan kita akan meninggalkan ayah-ayah kita untuk hidup dalam keluarga yang baru.”

Pandan Wangi tertegun sejenak. Ditatapnya wajah Sekar Mirah yang tersenyum karenanya.

Tetapi Pandan Wangi tidak menyahut. Kepalanya masih selalu tunduk. Terasa bahwa apa yang baru saja terjadi itu adalah suatu goncangan yang sangat berat baginya.

Di rumahnya pun Pandan Wangi seakan-akan kehilangan segala kegairahannya. Ia tidak mau makan dan sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Terbayang-bayang selalu di rongga matanya, Sidanti yang terbaring berlumuran darah. Sebuah luka yang dalam telah menghunjam di lambungnya.

“Akulah yang membunuhnya. Justru aku.”

Atas desakan Swandaru, Agung Sedayu, dan gurunya sendiri, Sekar Mirah selalu berusaha mengawani Pandan Wangi untuk mengurangi kesepian yang mencengkam dadanya. Tetapi bagaimana pun juga Sekar Mirah sudah mencoba, namun agaknya masih saja ada ruang-ruang yang kosong di dalam hati Pandan Wangi.

Dalam saat-saat yang demikian itulah maka Agung Sedayu berkata kepada Swandaru, “Kau lihat, betapa akibat yang sangat parah telah mencengkam hati gadis itu.”

“Ya. Ia menjadi sangat sedih dan menjadi semakin diam.”

“Swandaru,” berkata Agung Sedayu, “Sekar Mirah memang dapat menjadi sekedar isi di dalam kekosongan jiwa Pandan Wangi. Tetapi ia memerlukan seorang kakak. Tidak sekedar menghiburnya, tetapi yang dapat memberinya ketenangan. Ketenangan seorang gadis dewasa.”

“Maksudmu?”

“Aku tahu, bahwa kau bersungguh-sungguh menaruh hati kepada gadis itu, bukan?”

Swandaru mengerutkan keningnya, “Tentu. Aku memang menaruh hati kepada gadis itu. Sepenuh hati.”

“Nah,” berkata Agung Sedayu, “kini adalah waktunya bagimu. Kau akan dapat mengisi kekosongan hatinya.”

Swandaru termenung sejenak, lalu, “Bagaimana aku dapat mengisinya?”

“Jangan kau tunggu gadis itu melamarmu. Kaulah, yang harus datang kepadanya. Dengan bijaksana dan sopan, rebutlah hatinya.”

“Tetapi, tetapi bukankah kau sudah mengatakan kepadanya?”

“Belum sepenuhnya.”

“Kalau begitu, kau pasti bersedia menolong aku.”

“Swandaru,” berkata Agung Sedayu, “kau sendirilah yang harus melakukannya. Ia memerlukan seseorang setelah ia kehilangan kakaknya.”

“Tetapi aku tidak mengerti, bagaimana aku harus mulai.”

“Hem,” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, “pergunakanlah Sekar Mirah. Bukankah kau dapat saja menemuinya bersama Sekar Mirah, kemudian berbicara apa saja?”

Swandaru berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, aku mengerti.”

“Nah, lakukanlah. Semakin lama ia mengalami kekosongan, semakin berbahaya baginya. Ia akan selalu merenung dan memikirkan banyak sekali kemungkinan di dalam hidupnya. Kalau kau tidak segera hadir di dalam hatinya, mungkin ia tidak akan dapat lagi membuka kemungkinan itu bagi siapa pun.”

“Ya, ya. Aku mengerti.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah Swandaru sejenak. Ia melihat sesuatu membayang di wajah yang bulat itu. Agak lain dari kebiasaannya. Ketika dahi Swandaru mulai berkerut, tahulah Agung Sedayu, bahwa adik seperguruannya itu mulai berpikir dengan sungguh-sungguh.

Sebenarnyalah Swandaru memikirkan petunjuk Agung Sedayu itu. Ia sadar, bahwa kekosongan jiwa itu memerlukan isi. Bahkan kemudian ia pun sadar, seandainya Agung Sedayu yang datang kepadanya setiap kali, meskipun membawa pesannya, namun akan dapat terjadi kesalah-pahaman. Justru Agung Sedayu-lah yang akan mengisi kekosongan hati gadis itu.

“Terima kasih,” desisnya, “memang aku harus berbuat sesuatu. Aku sendiri. Tanpa perantara orang lain.”

“Bagus. Tetapi hati-hatilah. Jangan tergesa-gesa supaya tidak terjadi hal yang sebaliknya. Kalau kau salah langkah, maka hatinya tidak akan tersentuh.”

“Ya, ya. Aku mengerti.”

Demikianlah Swandaru mulai berpikir sungguh-sngguh atas masalah yang dihadapinya. Masalah ini memang bukan masalah yang dapat dilakukannya sambil lalu, dengan tertawa dan kemudian dilupakannya. Masalah ini akan menyangkut seluruh hidupnya kelak, yang menurut perhitungan lahiriah masih cukup panjang.

Kali ini Swandaru tidak akan dapat melakukannya dengan cara yang semudah-mudahnya saja. Setiap langkah harus diperhitungkannya masak-masak.

Untunglah bahwa di antara mereka hadir Sekar Mirah yang dapat menjadi jembatan, yang akan menghubungkannya dengan gadis itu.

“Mirah,” berkata Swandaru dalam suatu kesempatan, “sekarang kau harus menolong aku.”

“Apa yang harus aku kerjakan?”

“Kawani aku.”

“Untuk apa?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu kepada Pandan Wangi. Aku harus mengatakannya sendiri. Menurut Kakang Agung Selayu, saat ini Pandan Wangi sedang dicengkam oleh kekosongan jiwa.”

Meskipun Sekar Mirah lebih muda dari Swandaru, tetapi ia lebih cepat dapat mengerti apa yang dimaksud. Karena itu maka katanya sambil tersenyum, “Ah, sudah tentu aku tidak akan dapat mengawanimu. Kau harus pergi sendiri kepadanya.”

“Jangan mengganggu aku, Sekar Mirah.”

“Kau keliru. Sudah tentu maksudnya, kau harus dapat mengisi kekosongan jiwanya kalau kau ingin merebut hatinya. Kalau aku selalu mengawanimu, maka maksud itu tidak akan tercapai. Pandan Wangi akan dibayangi oleh perasaan malu seorang gadis.”

Swandaru mengerutkan keningnya.

“Tetapi Kakang Sedayu mengatakan, bahwa kau dapat menjadi penghubung yang baik.”

“Tentu. Maksudnya, aku hanya sekedar mendekatkan kau kepadanya, sehingga kau mendapat kesempatan itu. Bukan mengawani.”

Swandaru mengangguk-angguk kecil.

“Jadi, bagaimana?”

“Ikuti aku. Tetapi kemudian kau harus melakukannya sendiri.”

“Kapan?”

“Sekarang.”

“Jangan sekarang. Dadaku sudah mulai berdebar-debar.”

“Lalu?”

“Sebaiknya nanti, atau besok, agar aku dapat mengatur perasaanku sebaik-baiknya.”

Sekali lagi Sekar Mirah tertawa. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi kalau kau terlampau lamban maka burung itu akan terlepas dan terbang terlampau tinggi. Padahal kau terlampau pendek, sehingga kau akan mengalami kesulitan untuk meraihnya.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia bersungut-sungut. Adiknya memang nakal. Tetapi bahwa Sekar Mirah telah menyanggupinya untuk mendekatkannya kepada Pandan Wangi, maka anak yang gemuk itu menjadi agak berlega hati.

Ketika saat itu tiba di keesokan harinya, maka Sekar Mirah berkata, “Marilah, bukankah perasaanmu telah tenang. Selagi Pandan Wangi tidak sedang sibuk. Ia sedang duduk di serambi gandok. Baru saja ia membagikan makan para pengawal.”

Swandaru berpikir sejenak. Namun kemudian, “Ayolah, Kakang, sebaiknya kau ikut pula.”

“Ah, ada-ada saja kau. Aku akan mengganggu,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi kehadiran kita tidak akan menimbulkan kecurigaan. Kita menemuinya seperti biasanya saja.”

“Kalau begitu waktu ini pun akan terbuang seperti biasanya pula.”

“Jadi, bagaimana?”

“Pergilah bersama Sekar Mirah. Kemudian Sekar Mirah akan meninggalkan kau berdua.”

“Jangan sekarang. Jangan sekarang.”

“Kapan. Kapan lagi,” Sekar Mirah hampir berteriak. “Kau akan kehilangan waktu. Suatu ketika kau hanya akan melihat orang datang melamarnya, dan kau kehilangan segala kesempatan.”

Swandaru yang juga dikenal bernama Gupala itu termangu-mangu sejenak.

“Tetapi kali ini aku minta kalian mengawani aku.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:35  Comments (26)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-49/trackback/

RSS feed for comments on this post.

26 KomentarTinggalkan komentar

  1. ampuuun daaahh….malah kayak main tak umpet

  2. sabar menunggu sedayu digerebek 2 macan betina

  3. matur nuwun

  4. Gratze, buku 49 sudah muncul

  5. siiip….. tancap terus ……. Matur nuwun kepada pasukan pengawal Menoreh. Tapi….., kenapa ya buku 49 ini beberapa kali gagal saya undhuh. Error di sepertiga terakhir.
    Tetap semangat. Maaf saya belum bisa bantu-bantu lagi.

  6. akhirnya… bisa juga ngunduh jilid 49 ini setelah sempat berjuang beberapa kali…

    matur nuwun

  7. Saya rasa mungkin file upload nya terlalu besar. Saya pun mengalami hal yang sama, dl selalu putus ditengah jalan. Baiknya tunggu file hasil konvert saja (dalam bentuk doc). File nya lebih kecil, downloadnya cepat dan seru nya pun tetap sama.

    Salam, Aulianda

  8. horeee…muncul juga, tambah semangat spt Sutawijaya mbuka alas Mentaok

  9. saya sudah berhasil dunlut semuanya, tapi kok mulai halaman 58 sampai selesai kertasnya putih saja ya, gak ada tulisannya.

    Apakah ada yg mengalaminya juga?

    thanks

  10. poro kadang yang pada gagal ngunduh jilid 49, harap pake DAP / FLASGET / OPERA 9, buat ndownloadnya.. sehingga kalau pada saat download putus koneksi .. bisa nyambung lagi.

    matur nuwun.

  11. tadi siang saya sdh sukses ndownload & mbaca sampai habis, kok gak ada masalah apa2 yak..?? Sekarang lagi menyusun gelar di balik gerumbul ori, siap menyongsong serbuan jilid 50

    nuwun

  12. Konfirmasi…

    ternyata saya dunlutnya gak kelar, sekarang setelah diulang dunlut lagi dah isa kok.

    mungkin karena ukuran file kali ini agak jumbo kali ya

    maaf dan maturnuwun,
    Ki KontosWedul

  13. hiks lom bisa juga downloadna, g suport resume c jadi walau pakai download manager jg percuma.

    Apalagi yg pake dial-up kaya gw

  14. sedih banget neh… donlotnya gagal maning gagal maning

  15. Sedih juga mendengar masih ada warga padepokan yang gagal download.
    Ada baiknya mendengar saran gembala tua, untuk bertapa selama sebulan penuh, menjauhi segala hal-hal yang bersifat duniawi, termasuk komputer, laptop, internet, dll.
    Setelah genap bertapa sebulan penuh, pulanglah, dan jangan lupa mampir di warnet yang punya koneksi Top Banget, unduhlah semua jilid yang ada, niscaya panjenengan akan mendapatkan minimal 25 jilid kitab sakti ADBM yang anda baca selama sebulan kedepan.
    Jangan lupa bawa karung.

  16. “Apakah yang kalian cari?” tanya Kiai Gringsing yang melihat Swandaru dan Agung Sedayu mengaduk-aduk lontar di pringgitan.
    “Saya hendak melihat, apakah sudah ada yang melakukan penulisan ulang buku 49 di lontar ini?” desis Swandaru
    “Iya Guru, kalau belum ada yang menulis ulang di lontar lontar ini, semoga ada yang berniat menuliskannya,” sambung Agung Sedayu.
    “Siapakah yang kau maksud?” tanya Kiai Gringsing kemudian
    “Biarlah Jebeng yang menuliskannya, dia sekarang sepertinya sedang tidak ada yang dilakukannya,” kata Swandaru pula.
    “Hemmm…,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk, “Ya, Baiklah. Kita tanyakan dulu kepada Ki Gede Dede, apakah sudah ada yang bersedia menuliskannya sebelum ini?”
    “Bagaimanakah Ki Dede?” tanya Swandaru pula sambil menjengukkan kepalanya dari jendela seraya menyambar sepotong pizza yang tinggal seiris pula di meja.

  17. Tiba-tiba Pandan Wangi berjalan bergegas dari gandok sambil membawa air sere hangat.
    “Sudahlah, kalian terlambat,” katanya sambil mengangsurkan air sere itu
    “Itu lontarnya sudah tertulis dengan rapi,” sambungnya pula
    “Oooooo,” Swandaru dan Agung Sedayu pun tersenyum sambil berpandang pandangan.
    “Baiklah kalau begitu, kita tunggu kitab no 52 sajalah,” Swandaru menyahut seraya menyerubut air sere itu.

  18. duh bangganya bisa baca adbm, aku nyuwun sewu sediain sarana khusus untuk file djvu, soalnya aku gandrung banget bacanya pake windejapu…… kaya baca bukunya
    kalo bisa dari awal aza (no 1)….

    matur nuwun….
    cantrik gandrung

  19. akhirnya setelah sekian lama tenggelam di pertempuran yang lain, bisa juga mampir ke tanah perdikan menoreh ini

    raden rog rog asem

  20. TJAP DJEMPOL lagi aah….pratanda yen cantrik berharap
    Nyi SENO hadir ning gandhok 49 🙄 🙄

    Matur nuwun Ki GD, beBAHU padepokan ADBM sedaya-nya

  21. test

  22. Menurut Ki Begawan Mintarja, semua manusia pada dasarnya mempunyai sifat dasar yang baik sebagai mahluk ciptaanNYA yang utama.
    Walau solah tingkah para tokoh bisa dikategorikan sebagai orang jahat, namun ketika ajal menjelang, selalu terungkap sifat dasar manusia yang menyadari kebesaranNYA.

    (HUWADUH, NGOMONG APA TO AKU IKI…?)

    • (huwaduh sampean niku ngomong opo ngetik to ki mbleh)

      • he-heeee, (HUWADUH, do NGAPA TO ki GEMBLEH-ki AS IKI…?)

  23. Huebat, kemarin2 komen cantrik di gandok sini sama gandok 50
    ambles tanpa jejak……..jan sekti tenan ki Gembleh, bisa njejaken
    komen tanpo ambLES.

    • nglurug tanpa bala,
      menang tan angasorake,
      komen tanpa amblesssss


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: