Buku 49

Argajaya mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia berkata, “Mungkin kau salah, Wangi. Mereka membuka Alas Mentaok sebagai batu landasan untuk meloncat ke Barat.”

“Aku kira tidak begitu, Paman.”

Argajaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Tetapi entahlah, apa yang terjadi di seberang Kali Praga. Yang penting sekarang Paman diminta datang oleh Ayah. Tetapi Ayah sama sekali tidak akan menjatuhkan keputusan saat ini.”

Ki Argajaya merenung sejenak. Dari sela-sela pintu yang terbuka ia memandang ke luar, ke hijaunya dedaunan. Ketika terasa angin yang silir menyusup lewat pintu yang terbuka menyentuh wajahnya, ia menarik nafas dalam-dalam.

“Marilah, Paman,” berkata Pandan Wangi, “aku antarkan Paman menghadap ayah.”

“Sudah tentu aku tidak akan dapat ingkar,” jawab Argajaya. “Adalah hak ayahmu untuk memanggil aku, bahkan menggantung aku di alun-alun kalau aku dianggapnya sebagai seorang pengkhianat yang telah menodai Tanah Perdikan ini.”

Pandan Wangi menahan nafasnya sejenak. Ditatapnya wajah pamannya yang cekung dan pucat. Tetapi pada wajah itu kini sudah tidak dilihatnya lagi gelora yang menyala seperti sebelum terjadi peperangan yang telah membuat Tanah Perdikan Menoreh menjadi abu. Wajah yang pucat itu kini seolah-olah seperti wajah telaga yang tenang. Pasrah.

“Paman,” berkata Pandan Wangi kemudian, “aku menjamin bahwa ayah tidak akan menghukum Paman, apabila Paman sejak kini masih tetap menjadi seorang putera Menoreh yang bersedia uutuk bersama-sama membangun tanah ini kembali.”

“Jangan, Pandan Wangi,” potong pamannya, “jangan memberikan jaminan apa-apa. Kalau kau berbeda pendirian dengan ayahmu, maka akan timbul persoalan-persoalan berikutnya sebagai akibat jaminan yang kau berikan itu.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sifat-sifat itu masih juga ditemui pada pamannya yang agaknya sudah pasrah.

“Sekarang, bawalah aku menghadap ayahmu. Apa pun yang akan diperlakukan atasku, aku tidak akan dapat ingkar. Aku tidak dapat menolak dengan cara apa pun. Kasar atau halus.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi ia bergeser ketika pamannya perlahan-lahan melangkah ke luar pintu.

Selangkah di luar pintu Ki Argajaya berhenti sejenak. Disekanya matanya, seakan-akan ia menjadi silau melihat sinar matahari yang menyala di halaman. Namun sejenak kemudian ia melangkah lagi dengan kepala tunduk. Ki Argajaya sama sekali tidak mempedulikan siapa saja yang memandanginya dari dekat dan kejauhan. Ia tidak melihat gembala tua, Gupita dan Gupala, Sumangkar dan bahkan Sekar Mirah yang memandanginya dengan tatapan mata yang tidak berkedip.

Perlahan-lahan Ki Argajaya berjalan naik ke pendapa, kemudian masuk ke pringgitan diantar oleh Pandan Wangi. Beberapa langkah di belakangnya, gembala tua itu mengikutinya. Tetapi ia tidak ikut memasuki bilik Ki Argapati. Karena itu, maka ia pun kemudian duduk saja di ruang tengah bersama beberapa orang prajurit yang bertugas mengawasi bilik Sidarti.

Ketika kaki Argajaya memasuki bilik kakaknya yang masih berbaring, rasanya kaki itu menjadi lemah dan gemetar. Karena itu maka langkahnya pun tertegun sejenak. Terlampau sulit baginya untuk mengendalikan perasaannya yang tiba-tiba saja bergolak.

“Kau Argajaya,” terdengar suara Ki Argapati datar.

Ki Argajaya menelan ludahnya.

“Marilah. Duduklah.”

Ki Argajaya tidak menjawab. Tetapi ia maju selangkah.

“Duduklah.”

Pandan Wangi pun kemudian memberikan sebuah dingklik kayu kepadanya.

Ki Argajaya pun kemudian duduk di atas dingklik kayu itu di dekat pembaringannya Ki Argapati.

“Mendekatlah Argajaya. Badanku masih belum terlampau baik untuk duduk terlampau lama.”

Argajaya tidak menjawab dan tidak bergeser dari tempatnya.

Terdengar desah nafas Ki Gede, kemudian Ki Gede itu pun perlahan-lahan bangkit.

Pandan Wangi segera mendekatinya dan menolongnya duduk. Tetapi ia bertanya, “Apakah Ayah tidak terlampau lelah?”

Ki Argapati menggeleng, “Tidak, Wangi.”

Pandan Wangi tidak bertanya lagi. Dibantunya ayahnya menempatkan diri, duduk menghadap kepada adiknya, Argajaya.

Setelah menarik nafas dalam-dalam Ki Argapati berkata, “Argajaya. Kau sudah mendengar akibat dari peperangan yang baru saja terjadi?”

Ki Argajaya yang menundukkan kepalanya itu mengangguk.

“Ya, Kakang. Aku mendengarnya.”

“Baik,” sahut Ki Argapati, “bukankah kau juga mendengar bahwa Tanah Perdikan ini sudah benar-benar menjadi abu?”

“Ya, Kakang.”

“Ini adalah suatu contoh dan pengalaman yang baik bagi masa depan. Setiap perpecahan tidak akan membawa manfaat apa pun bagi Tanah ini. Seandainya Ki Tambak Wedi, kau, dan Sidanti memenangkan perang yang baru saja terjadi itu, kalian pun pasti hanya akan menemukan sisa-sisa seperti Tanah Perdikan ini sekarang. Kerusuhan masih terdapat di mana-mana. Setiap saat rakyat masih selalu dicengkam oleh ketakutan. Mereka yang selalu menghantui rakyat Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Dan tiba-tiba saja Ki Argapati bertanya, “Bagaimana dengan anakmu?”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Dengan kepala yang masih menunduk ia berkata, “Aku tidak tahu, apa yang telah terjadi atasnya.”

“Pandan Wangi sudah mencoba mencarinya.”

Ki Argajaya tidak menyahut, sedang Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Untunglah bahwa mereka tidak membicarakan anak itu lebih jauh.

“Itu adalah salah satu gambaran, Argajaya,” berkata Ki Argapati, “ayah yang terpisah dari anak, anak yang terpisah dari ibu dan isterinya yang terpisah dari suami.”

Argajaya masih tetap berdiam diri.

“Meskipun hal itu dapat dianggap wajar terjadi dalam peperangan, tetapi alangkah baiknya kalau peperangan, perpecahan lebih-lebih di antara keluarga sendiri itu tidak terjadi. Dengan demikian tidak akan ada suami yang terpisah dari isterinya, ibu yang terpisah dari anaknya dan anak yang terpisah dari bapaknya. Lebih menyedihkan lagi, apabila anak dan ayah, adik dan kakak telah memilih pihak yang berlawanan seperti yang sudah terjadi atas kita berdua, justru sebagai pusat perhatian orang-orang dari tlatah Menoreh ini. Maka jalur perpecahan itu akan membelah seluruh rakyat Tanah Perdikan ini. Bahkan akan membelah keluarga-keluarga dan saudara-saudara sekandung seperti kita pula.”

Ki Argajaya masih saja menundukkan kepalanya. Tetapi kata-kata kakaknya itu telah menyentuh hatinya. Terbayang kembali peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di atas Tanah Perdikan ini. Pertempuran demi pertempuran. Kekerasan dan perampasan yang hampir tidak terkendali atas rakyat yang seakan-akan tidak terlindungi lagi.

Dan tiba-tiba Ki Argajaya itu memandang ke dirinya sendiri. Benarkah bahwa ia melakukan perlawanan atas kakaknya itu hanya karena ia memerlukan perlindungan terhadap orang-orang Pajang yang mungkin masih mencarinya sampai ke Tanah Perdikan Menoreh? Benarkah bahwa ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali berpihak kepada Sidanti dan Ki Tambak Wedi karena ia sudah terlanjur terlibat dalam peperangan di Tambak Wedi?

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri, bahwa ia merasa satu-satunya keluarga trah Argapati. Kalau Ki Argapati tidak ada lagi, maka ia adalah satu-satunya waris yang sah atas Tanah Perdikan ini. Sudah tentu ia harus menyingkirkan pandan Wangi pula. Ia tidak lagi terhalang oleh Sidanti, karena ia akan segera dapat mengumumkan bahwa Sidanti sama sekali bukan darah keturunan Ki Argapati.

Tetapi yang terjadi kini adalah sama sekali tidak seperti yang dibayangkannya waktu itu. Yang terjadi, Tanah Perdikan Menoreh kini menjadi abu setelah terbakar oleh api peperangan di antara keluarga sendiri.

Dan Ki Argajaya yang sedang merenung itu kemudian mendengar suara Ki Argapati, “Argajaya, apakah kau merasakan semuanya itu kini?”

Argajaya mengangguk perlahan, “Ya, Kakang. Aku merasakan kini. Dan aku tidak ingkar, bahwa aku telah ikut membakar Tanah Perdikan Menoreh apa pun alasanku. Karena itu, sekarang Kakang dapat menjatuhkan keputusan, apakah aku akan digantung, atau dipancung atau dipicis sekalipun.”

Ki Argapati mengerutkan alisnya. Katanya, “Kau masih seperti dulu. Apakah kau tidak dapat menanggapi keadaan ini dengan cara yang lain-lain. Apakah kau masih saja mengeraskan hatimu meskipun kau sudah melihat sendiri Tanah Perdikan ini terbakar menjadi abu?”

Ki Argajaya mengangkat wajahnya. Sorot matanya memancarkan pertanyaan yang tersimpan di dalam hatinya atas kata-kata kakaknya.

“Argajaya,” berkata Ki Argapati kemudian, “kalau kau masih berkeras hati, maka harapanku untuk membangun Tanah ini akan lenyap sama sekali. Aku sendiri bukan orang yang dapat menahan diri dan bersabar menghadapi persoalan-persoalan yang berat. Apalagi dalam keadaanku sekarang. Karena itu, aku harap kau dapat mengerti maksudku. Aku pun tidak akan dapat merendahkan diri, mohon kepadamu agar kau sudi membantu aku, seperti kau tidak akan mengatakan kepadaku, bahwa kau merasa bersalah, kemudian minta agar kesalahan itu diampuini dan mendapat kesempatan untuk hidup. Tidak. Kau tidak mau dan aku pun tidak, karena kita masing-masing adalah orang-orang yang berhati batu.”

Dada Ki Argajaya tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Dan ia mendengar Ki Argapati berkata seterusnya, “Kau merasa lebih jantan apabila kau digantung atau dipacung di alun-alun, sehingga karena itu kau menantang aku untuk melakukannya.” Argapati berhenti sejenak, lalu, “Argajaya. Kalau aku menuruti perasaanku, aku cenderung untuk memenuhi tantanganmu. Tetapi dengan demikian aku tidak berhasil mengatasi persoalan di antara kita sendiri dengan cara yang baik. Yang aku inginkan, kita dapat membangun Tanah yang sudah menjadi abu ini. Tentu saja dengan ikhlas.”

Ki Argajaya tidak menjawab. Tetapi kepalanya kini tertunduk semakin dalam.

“Kita masing-masing harus bersedia mengorbankan sebagian kecil harga diri kita masing-masing. Mungkin aku terpaksa menelan ucapan-ucapan orang yang tidak senang melihat sikap ini, bahwa aku tidak berani mengambil sikap yang tegas, atau karena kau adalah adik kandungku. Dan kaupun barangkali akan mendapat sebutan seorang pengecut yang minta ampun dan tidak bertanggung jawab setelah kalah di peperangan. Tetapi kalau kelak kita dapat membuktikan bahwa kita berhasil membangun Tanah Perdikan ini sehingga menjadi pulih kembali, maka suara-suara itu akan hilang dengan sendirinya.”

Ki Argajaya tidak menyahut.

“Tetapi sudah tentu, bahwa persetujuan di antara kita harus dibuat dengan ikhlas. Kalau tidak, maka benih-benih api yang akan membakar Tanah ini, kelak masih belum terpadamkan.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Argajaya. Belum pernah ia mendapat sentuhan begitu tajam pada dinding jantungnya, sehingga tanpa sesadarnya kepalanya terangguk-angguk lemah.

“Bagaimana pendapatmu, Argajaya?”

Sejenak ia masih berdiam diri. Tetapi kepalanya masih terangguk-angguk.

“Apakah kau dapat mengerti dan bersedia untuk bersama-sama dengan semua orang yang masih ada dan sejalan dengan pikiran kita untuk membangun kembali Tanah ini.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian diangkatnya kepalanya perlahan-lahan sambil berdesis, “Ya, Kakang. Aku mengerti maksud Kakang. Agaknya meskipun samar-samar aku telah dapat melihat ke dalam diriku sendiri. Apakah memang benar kata-kata Kakang Argapati bahwa aku adalah orang yang keras kepala? Jika demikian, maka biarlah aku mencoba untuk melunakkan diri sendiri. Dan agaknya aku memang harus mengakui bahwa aku kadang-kadang tidak dapat mempertimbangkan sikapku lebih dahulu.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang,” berkata Ki Argapati, “apakah katamu tentang masa depan Tanah ini, tentang kau dan tentang aku? Apakah kau dapat menerima pendapatku?”

Ki Argajaya mengangguk-angguk kecil pula, sambil menyahut perlahan-lahan, “Aku akan menerima kemurahan hati Kakang itu dengan segala senang hati dan terima kasih. Kalau aku memang masih mendapat kesempatan, maka kesempatan itu akan aku pergunakan sebaik-baiknya.”

Sejenak Ki Argapati berdiam diri sambil menatap wajah adiknya seakan-akan ingin mengunyah jawaban itu di dalam hati.

Sepercik harapan telah tumbuh di dalam dada Ki Argapati, bahwa ia akan dapat menyiapkan kembali Tanah Perdikan Menoreh, meskipun ia masih harus tetap mempunyai kecurigaan, bahwa masih ada benih-benih yang dapat menyalakan api di kemudian hari.

“Agaknya laporan-laporan tentang Argajaya ada juga benarnya,” katanya di dalam hati. “Setelah ia mendapat kesempatan menilai perbuatannya, maka agaknya ia menemukan kesadarannya.”

Tanpa sesadarnya Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ketika terpandang olehnya wajah puterinya Pandan Wangi, maka puterinya itu pun mengangguk kecil.

“Agaknya Pandan Wangi menyetujui pembicaraan ini,” katanya di dalam hati pula, “tetapi, apabila pembicaraan nanti sampai pada Sidanti, apakah juga akan dapat selancar ini?”

Sejenak mereka yang ada di dalam ruangan itu saling berdiam diri, tenggelam dalam angan-angan masing-masing.

“Argajaya,” berkata Ki Argapati kemudian, “aku merasa bahwa aku pun akan segera sembuh sama sekali. Kalau kau dapat melupakan apa yang terjadi, maka aku kira Tanah ini akan segera pulih kembali seperti sedia kala.”

Argajaya tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Argajaya,” berkata Ki Argapati kemudian, “aku akan segera mempersiapkan segala sesuatunya. Aku juga akan segera bertemu dengan Sidanti. Mudah-mudahan hatinya pun sudah terbuka. Dengan demikian kita akan segera dapat bersama-sama membangun Tanah yang tinggal sisa-sisanya ini.”

Tetapi dada Argajaya tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Ia mengenal benar sifat Sidanti yang keras seperti batu hitam. Karena itu, apakah usaha Ki Argapati itu akan berhasil?

Sejenak Ki Argajaya melihat ke dirinya sendiri. Ke hatinya yang semula tidak kalah kerasnya dari Sidanti. Namun akhirnya hatinya menjadi luluh. Bukan saja karena ia menyadari segala kekeliruannya, tetapi sebagian juga karena sikap Argapati yang tidak disangka-sangka. Menurut pengenalan Ki Argajaya, kakaknya itu pun berhati padas. Namun agaknya kali ini ia sempat mempergunakan nalarnya. Bukan sekedar perasaannya.

“Argajaya,” berkata Ki Argapati kemudian, “meskipun kita sudah menemukan persetujuan, tetapi aku minta maaf, bahwa aku masih akan mempersilahkan kau kembali ke dalam bilikmu. Mungkin bilik itu sama sekali tidak memadai. Setelah aku menemukan kesamaan pendapat dengan Sidanti, kita akan segera berbuat sesuatu. Kau akan segera dapat mencari anakmu bersama dengan beberapa orang yang akan mengawani kau dalam perjalanan, karena orang-orang yang tidak puas mungkin masih akan melakukan tindakan-tindakan yang tidak sepantasnya.”

“Terserahlah kepada Kakang,” jawab Ki Argajaya.

“Nah, Argajaya, biarlah Pandan Wangi membawamu kembali. Besok atau lusa kita akan bertemu lagi. Hari ini aku akan berusaha bertemu dengan Sidanti supaya masalahnya, lekas selesai.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia tidak dapat menahan diri ketika dari mulutnya meloncat suatu peringatan kepada kakaknya, “Hati-hatilah terhadap Sidanti, Kakang.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Tetapi dari lontaran kata-kata itu ia melihat ketulusan hati Argajaya. Karena itu maka ia menjawab, “Terima kasih Argajaya. Aku akan berhati-hati kepadanya. Tetapi aku telah mengenalnya sejak kecil. Ia adalah anakku.”

Ki Argajaya memandang wajah Argapati sejenak. Tetapi tampaklah kemuraman yang dalam menikam jantungnya. Kata-kata itu telah dipaksanya untuk meloncat dari bibirnya, sedang hatinya sendiri tersayat karenanya.

Namun Ki Argajaya tidak berkata apa pun lagi.

“Argajaya,” Ki Argapatilah yang berkata lagi, “biarlah Pandan Wangi mengantarkan kau.” Kemudian kepada Pandan Wangi ia berkata, “Langsung sajalah kau pergi menjemput kakakmu. Bawalah ia kemari. Aku ingin berbicara pula kepadanya.”

“Baik, Ayah,” jawab Pandan Wangi.

“Marilah, Wangi,” berkata Ki Argajaya. Lalu kepada Ki Argapati, “Aku minita diri Kakang. Aku menunggu apa pun yang akan Kakang lakukan. Tetapi sebelumnya aku mengucapkan diperbanyak terima kasih atas kebaikan hati Kakang itu.”

“Sudahlah. Kita saling memerlukan.”

Pandan Wangi pun kemudian, mengantarkan pamannya keluar dari bilik ayahnya. Di ambang pintu, Pandan Wangi melihat gembala tua itu duduk di antara mereka yang bertugas menjaga Sidanti.

“Hem, gembala itu tidak percaya lagi kepada Paman Argajaya dan barangkali juga kepada Kakang Sidanti,” katanya di dalam hati. Tetapi ia tidak mengucapkan kata-kata itu.

Ketika Argajaya juga melihat gembala itu, maka ia pun segera berpaling. Ia masih belum dapat mengatur perasaannya apabila ia melihat orang-orang dari luar Tanah Perdikan ini, tetapi terlampau banyak ikut mencampuri masalah di dalam wilayah ini.

Karena itu, maka Argajaya pun kemudian melangkah tanpa berpaling lagi diikuti oleh Pandan Wangi. Apalagi ketika di luar pendapa ia melihat Gupita dan Gupala dan bahkan Sekar Mirah ada di antara mereka. Dahinya pun segera menjadi berkerut-merut. Tetapi tidak ada yang dapat dilakukannya selain membuang wajahnya. Ia menjadi muak mendengar suara Gupala dan Gupita dari dalam biliknya, selama Gupala dan Gupita bertugas di luar pintu menungguinya.

“Mereka pun harus pergi. Selama mereka masih ada di atas Tanah ini, Kakang Argapati tidak akan dapat melakukan pekerjaannya sesuai dengan kehendaknya yang murni. Orang-orang ini pun pasti mempunyai maksud pula untuk kepentingan diri mereka sendiri, yang mungkin bertentangan dengan kepentingan Tanah Perdikan ini,” katanya di dalam hati.

Gupala dan Gupita pun sama sekali tidak menegurnya. Bahkan mereka pun kemudian berpaling pula memandang kearah lain.

Sejenak kemudian Ki Argajaya telah masuk kembali ke dalam biliknya. Namun pertemuannya dengan kakaknya menjadikannya semakin menyadari diri. Meskipun perlahan-lahan namun pasti, bahwa Ki Argajaya merasa, bahwa tidak ada jalan lain daripada menundukkan kepalanya kembali di hadapan kakaknya. Baik sebagai seorang saudara muda, maupun sebagai seorang warga Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Argajaya mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Pandan Wangi berkata, “Silahkan, Paman, aku minta diri untuk menemui Kakang Sidanti.”

“O,” Ki Argajaya menjawab, “baiklah. Mudah-mudahan semuanya dapat berjalan lancar seperti yang diharapkan oleh ayahmu. Sekali lagi aku menyampaikan terima kasih atas kemurahannya. Tetapi aku pun berpesan, agar orang-orang asing itu segera diusir dari Tanah ini. Mereka akan menjadi benalu yang memuakkan apabila mereka dibiarkan untuk tetap berada di atas Tanah ini.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. “Maksud Paman?” ia bertanya.

“Orang-orang gila itu. Swandaru, Agung Sedayu, gurunya, dan orang-orang lain yang datang bersamanya. Termasuk perempuan muda itu pula.”

Pandan Wangi menarik nafas. Tetapi ia tidak menjawab. Yang dikatakannya kemudian, “Silahkan Paman beristirahat. Aku akan menemui Kakang Sidanti.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah ke pembaringannya di dalam bilik yang gelap dan lembab.

Sejenak kemudian pintu bilik itu pun tertutup kembali. Argajaya merasa bahwa kini ia kembali terpisah dari dunia di sekitarnya. Dunianya adalah ruangan yang sempit, gelap, dan lembab. Dunia yang sama sekali tidak berarti apa-apa itu.

Ia mengangkat kepalanya ketika ia mendengar pintu, biliknya diselarak dari luar. Dan ia berdesah ketika ia mendengar suara Gupala, “Aku akan menungguinya.”

“Jagalah ia baik-baik,” pesan Pandan Wangi.

“Tentu. Aku akan menjaganya baik-baik.”

Sejenak kemudian tidak terdengar apa-apa lagi. Sepi. Agaknya Pandan Wangi telah pergi meninggalkan pintu biliknya.

Sebenarnyalah bahwa Pandan Wangi telah pergi. Dengan hati yang berdebar-debar ia menuju ke bilik kakaknya. Terasa sesuatu yang lain. Dan gadis itu sadar, bahwa kakaknya Sidanti memang bersikap lain dari pamannya, Ki Argajaya.

“Aku akan mencoba melunakkan hatinya,” katanya di dalam hati. Namun demikian Pandan Wangi sendiri masih ragu-ragu. Apakah ia akan berhasil? Agaknya hati Sidanti benar-benar sudah mengeras, sekeras batu hitam.

“Tetapi kami harus berusaha. Keputusan terakhir terserah kepada ayah,” ia berbicara kepada dirinya sendiri.

Di muka pintu ruangan tengah ia menjadi ragu-ragu sejenak. Ia masih melihat gembala tua itu duduk di antara penjaga bilik Sidanti.

“Marilah, Ngger,” gembala itu mempersilahkan.

Pandan Wangi maju beberapa langkah, kemudian katanya, “Kiai, aku mendapat perintah dari ayah untuk membawa Kakang Sidanti menghadap sekarang.”

“Sekarang?” bertanya gembala itu.

“Ya. Ayah ingin menyelesaikan pembicaraan ini sama sekali. Kemudian ayah akan segera dapat menyusun rencana untuk Tanah Perdikan ini. Rencana yang segera dapat dikerjakan, dan rencana yang akan dikerjakan kemudian.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Pembicaraan antara Ki Argapati dan Sidanti pasti akan merupakan peristiwa yang cukup penting. Sementara itu ia tidak melihat Ki Samekta dan Ki Kerti.

“Karena itu,” berkata Pandan Wangi kemudian, “aku akan menemui Kakang Sidanti sekarang.”

“Ya, ya. Silahkan,” berkata orang tua itu. “Tetapi apakah Angger melihat Ki Samekta dan Ki Kerti?”

“’Mereka berada di antara para pengawal. Mungkin sekarang mereka sedang nganglang atau melihat-lihat apa pun.”

“Apakah mereka tidak dipanggil oleh Ki Argapati?”

“Kali ini tidak.”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Kalau begitu, silahkanlah. Tetapi hati-hatilah.”

“Aku adalah adiknya. Aku mengenal tabiatnya sejak kanak-kanak.”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Pandan Wangi sama sekali tidak dapat melepaskan hubungan yang telah mengikatnya sejak ia dilahirkan. Sebagai dua orang anak yang dilahirkan oleh ibu yang sama, maka Pandan Wangi tetap merasa sebagai seorang adik dan Sidanti adalah seorang kakak. Pergaulan mereka di masa kanak-kanak pun agaknya membekas terlampau dalam di hati gadis itu.

Pandan Wangi pun kemudian melangkah perlahan-lahan mendekati ujung ruangan itu. Di muka pintu bilik Sidanti, Pandan Wangi menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia berusaha menindas setiap perasaan yang telah menghambatnya.

“Sekasar-kasar Kakang Sidanti, ia tetap kakakku. Ia masih berusaha menolongku justru di permulaan pertentangan antara ayah dan Kakang Sidanti itu, sedang Kakang Sidanti sadar, bahwa aku pasti akan berpihak kepada ayah.”

Ketika Pandan Wangi maju semakin dekat, maka seorang pengawal telah mendekatinya dan berkata, “Apakah pintu ini akan dibuka.”

“Ya,” jawab Pandan Wangi.

Pengawal itu pun kemudian maju ke depan pintu. Perlahan-lahan ia meraba selaraknya, dan perlahan-lahan ia mulai menarik. Namun demikian dadanya menjadi kian berdebar-debar. Berbagai bayangan melonjak di kepalanya. Bagaimana kalau tiba-tiba saja pintu ini menyentak terbuka. Kemudian sebuah pukulan melayang ke wajahnya, sehingga ia menjadi pingsan.

Oleh angan-angannya sendiri, maka tangannya menjadi semakin gemetar. Ketika selarak itu telah terlepas, maka tiba-tiba selarak itu sekan-akan meloncat dari tangannya dan jatuh berderak-derak dilantai.

Semua orang terkejut karenanya. Lebih-lebih lagi adalah orang itu sendiri, sehingga ia meloncat beberapa langkah surut sambil menarik pedangnya.

“He, kenapa kau?” bertanya kawannya.

Ketika ia menyadari keadaanya, maka wajahnya menjadi merah padam. Tersipu-sipu ia menyarungkan pedangnya kembali sambil melangkah maju.

“Kenapa kau, he?” bertanya Pandan Wangi.

“Tidak apa-apa,” jawab pengawal itu. Tetapi hatinya masih tetap berdebaran.

Ketika kemudian Pandan Wangi perlahan-lahan membuka pintu, pengawal itu menekan nafasnya. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam ketika dari sela-sela pintu yang mulai terbuka itu ia melihat Sidanti duduk saja di pembaringannya. Bahkan berpaling pun tidak. Seakan-akan ia tidak mendengar pintu itu terbuka dan adiknya melangkah masuk.

“Kakang,” desis Pandan Wangi kemudian.

Tanpa berpaling Sidanti katanya, “Kenapa kau kemari?”

Pandan Wangi tidak segera menyahut. Selangkah ia maju. Ditatapnya wajah kakaknya yang muram dan gelap. Rambutnya yang kusut dan ikat kepalanya yang tersangkut di lehernya.

Terasa dada Pandan Wangi tergetar. Setiap kali ia melihat kakaknya itu dikawani oleh beberapa orang pengawal dan diawasi oleh gembala tua, apabila ia pergi ke sumur atau ke pakiwan. Namun ia tidak melihat wajah yang semuram dan segelap itu.

“Kenapa?” suaranya datar.

Terasa kesepian yang tajam membakar dada anak muda itu. Ia merasa bahwa kini ia tinggal hidup sendiri. Karena itu maka setiap orang sama sekali sudah tidak berarti lagi baginya. Juga Pandan Wangi.

“Kakang,” berkata Pandan Wangi, “aku perlu berbicara sedikit.”

“Tidak,” jawab Sidanti, “tidak ada yang dapat kita bicarakan.”

“Tentu ada Kakang. Soal apa pun juga.”

“Tidak. Pergilah. Tinggalkan aku sendiri.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun ia maju selangkah, “Kakang, aku ingin berbicara kepadamu. Bukankah aku adikmu.”

“Dahulu kau adikku. Tetapi sekarang kau sudah berpihak kepada laki-laki tamak itu.”

Dada Pandan Wangi tergetar. Ia memang sudah menyadari bahwa ia seakan-akan berdiri di simpang jalan yang paling sulit untuk memilih arah. Sidanti adalah kakaknya, dan Argapati adalah ayahnya. Tetapi sama sekali tidak ada hubungan darah antara Argapati dan Sidanti itu. Bahkan sejak dilahirkan, sebuah jurang yang dalam memang telah ternganga di antara keduanya. Betapa pun Ki Argapati mencoba menimbuni jurang itu, namun ketika banjir bandang yang dahsyat melanda dari tebing-tebing pegunungan, maka semua lumpur di dalam jurang yang sedikit demi sedikit tertimbun itu telah hanyut kembali seluruhnya. Dan jurang itu kini menganga semakin dalam dan semakin lebar.

“Kakang,” berkata Pandan Wangi, “apa pun yang telah terjadi atas diri kita masing-masing, tetapi ikatan itu tidak akan dapat berubah. Kau dilahirkan oleh Rara Wulan, dan aku pun dilahirkan oleh perempuan itu pula. Kita tidak akan dapat lari dari kenyataan itu. Kenyataan bahwa kita seibu. Kita adalah kakak-beradik.”

“Aku bukan laki-laki cengeng,” suara Sidanti meninggi, “aku tidak mau terbelenggu oleh ikatan-ikatan yang tidak aku kehendaki. Aku tidak minta dilahirkan oleh perempuan yang melahirkan kau juga. Aku tidak pernah menghendaki apa pun atas kelahiranku. Justru aku merasa tersiksa bahwa aku telah dilahirkan oleh perempuan yang bernama Rara Wulan itu, karena ia berhubungan dengan laki-laki yaug bukan bakal suaminya.”

“Kakang.”

“Apakah kau akan ingkar? Bukankah kau yang mengatakan bahwa kita tidak dapat lari dari kenyataan. Dan kenyataan itu mengatakan bahwa perempuan yang bernama Rara Wulan itu telah berbuat keji karena ia berhubungan dengan Ki Tambak Wedi sehingga aku terlempar ke dunia dengan cacat yang tidak akan terhapuskan. Apakah aku harus berbangga dan berterima kasih atas kejadian serupa itu? Kalau kemudian Rara Wulan itu melahirkan kau juga itu sama sekali tidak aku minta.” Sidanti berhenti sejenak, lalu, “apakah sekarang aku harus tetap mengikatkan diri pada masalah-masalah dan hubungan yang tidak aku kehendaki itu. Tidak. Tidak. Aku kini sudah melepaskan diri dari semuanya itu. Aku adalah aku. Aku tidak terikat oleh siapa pun.”

“Kakang,” suara Pandan Wangi menjadi semakin dalam, “hatimu menjadi gelap. Kau sudah kehilangan dirimu sendiri.”

“Di dalam bilik yang sempit ini aku menemukan diriku. Aku. Aku. Tanpa orang lain aku tetap Sidanti. Dan kini suatu kenyataan pula, yang menurut kau, sebaiknya tidak kita hindari bahwa aku adalah aku sendiri. Tanpa kau, tanpa Argapati, tanpa Tambak Wedi seandainya ia masih hidup, tanpa Argajaya, dan tanpa Rara Wulan seandainya ia masih ada pula.”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. Tetapi matanya mulai basah, “Tidak, Kakang. Tidak mungkin. Kau adalah putera ibuku. Itu tidak akan dapat berubah betapa pun kau membencinya, betapa kau menganggap ia perempuan yang paling hina sekalipun. Kau dapat malu kepada dirimu sendiri, bahwa kau mempunyai seorang ibu bernama Rara Wulan dan seorang ayah bernama Tambak Wedi, tetapi kau tidak dapat menghapusnya. Itu sudah terjadi. Kau sudah lahir. Dan kau adalah kau itu juga.”

Suara Pandan Wangi terpotong oleh isaknya yang seakan-akan menyumbat kerongkongannya. Sejenak ia tidak dapat mengucapkan kata-kata selain suara isaknya yang tertahan-tahan.

Sidanti masih duduk di tempatnya. Ia sama sekali tidak berpaling dan beringsut sama sekali. Tatapan matanya yang tajam, seakan-akan terpaku ke sudut bilik yang sempit itu.

Dengan susah payah Pandan Wangi mencoba menahan perasaannya. Dengan susah payah ia membendung air matanya. Tetapi setitik-setitik air mata itu jatuh pecah di atas lantai.

“Kau hanya akan memamerkan tangismu,” geram Sidanti kemudian.

Pandan Wangi tidak segera menjawab. Dengan ujung bajunya ia mengusap matanya yang basah.

“Kalau kau hanya akan menangis, sebaiknya kau keluar.”

“Tidak. Aku tidak menangis,” jawab Pandan Wangi terputus-putus.

“Bohong! Kau menangis.”

“Tidak.”

“Air matamu mengalir semakin deras.”

“Itu adalah air mata kegadisanku. Tetapi aku tidak mau tunduk pada perasaan itu. Aku harus tetap pada suatu pendirian bahwa kau harus menghadap ayah saat ini. Memang itu bukan ayahmu, itu adalah ayahku. Tetapi kita bersama-sama adalah putera Tanah Perdikan ini yang bersama-sama mempunyai tanggung jawab bagi masa depannya. Kau dilahirkan dan dibesarkan di atas Tanah ini meskipun kau kemudian pergi ke Tambak Wedi. Ibumu adalah anak Tanah ini juga. Kau tidak dapat acuh tidak acuh terhadap masa depan Tanah ini. Mungkin orang yang bernama Ki Tambak Wedi itu seandainya masih hidup sama sekali tidak peduli, apakah Tanah ini menjadi abu atau akan tetap berkembang. Tetapi kau tidak. Kau tidak dapat.”

“Diam! Diam!” bentak Sidanti.

“Kenapa aku harus diam? Marilah kita berbicara tentang diri kita, pendirian kita, sikap kita dan pandangan hidup kita masing-masing. Baik atas Tanah Perdikan Menoreh maupun atas diri kita sendiri.”

“Cukup! Cukup!”

“Aku akan berbicara. Kalau kau akan berbicara, berbicaralah. Mungkin kau akan melepaskan endapan-endapan yang selama ini terpaksa kau simpan di dalam dadamu. Sekarang lontarkanlah semuanya. Mungkin kau akan mengatakan bahwa Argapati adalah seorang yang tamak, yang tidak bertanggung jawab, yang hanya mementingkan dirinya sendiri, yang apa lagi, apa lagi. Kemudian kau dapat menilai orang-orang lain, menilai aku, menilai ibuku dan ibumu itu dan menilai apa pun juga. Berbicaralah, berteriaklah sepuas-puasmu.” Pandan Wangi berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi apa yang sudah terjadi akan tetap seperti yang sudah terjadi itu. Kau akan tetap menjadi anak Rara Wulan seperti aku.”

“Cukup, cukup!” Sidanti berteriak semakin keras, sehingga setiap orang yang berada di ruang tengah menjadi berdebar-debar. Gembala tua yang ada di ruangan itu telah beringsut mendekat. Ia tidak dapat lengah, seandainya Sidanti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Tetapi yang dilihatnya, Sidanti itu tiba-tiba menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sejenak bilik itu menjadi sepi. Hanya desah nafas mereka sajalah yang terdengar, saling berkejaran.

Dengan dada yang berdebar-debar mereka yang berada di luar bilik itu melihat lewat pintu yang masih terbuka, apa yang kira-kira akan terjadi.

Mereka kemudian menahan nafas ketika tiba-tiba saja mereka melihat Pandan Wangi meloncat maju. Dengan serta-merta ia berjongkok di hadapan kakaknya yang masih menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan nada suara yang meninggi Pandan Wangi berkata sambil mengguncangi lengan Sidanti, “Kakang. Kakang. Dengarlah kata-kataku. Aku datang kepadamu sebagai seorang anak Tanah Perdikan ini, dan lebih daripada itu aku tidak akan dapat melepaskan diri dari ikatan kekeluargaan kita. Kakang. Apakah kau tidak sempat melihat ke dalam dirimu, ke masa lampau kita dan ke masa datang yang panjang?”

Sidanti tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat menatap wajah adiknya, sehingga karena itu ia memalingkan wajahnya.

“Kakang. Berbicaralah seperti kau dahulu berbicara kepadaku.”

Sidanti masih tetap berdiam diri.

“Kakang. Kenapa kau diam saja, kenapa?”

Tetapi Sidanti masih tetap mematung.

Akhirnya bagaimanpun juga, Pandan Wangi tetap seorang gadis yang tidak kuat menahan gelora perasaannya. Seperti bendungan yang tidak tahan lagi menahan arus banjir yang melandanya, Pandan Wangi kemudian menangis sejadi-jadinya. Tanpa malu-malu diletakkannya kepalanya di pangkuan kakaknya yang masih duduk diam seperti patung batu.

Tetapi Sidanti tidak mengusirnya. Sidanti tidak lagi berkata. Terasa sesuatu bergetar di dada anak muda yang keras hati itu. Guncangan isak tangis Pandan Wangi telah mengguncang jantungnya pula.

Kembali keduanya terdiam. Tetapi kini yang terdengar adalah isak tangis Pandan Wangi yang semakin keras. Air matanya pun menjadi semakin deras mengalir.

Tetapi Sidanti tidak mengusirnya Sidanti tidak lagi berteriak-teriak. Meskipun hatinya telah mengeras sekeras batu, namun Pandan Wangi tetap mempunyai kesan yang lain padanya. Meskipun ia berusaha, tetapi ia tidak akan dapat melepaskan dirinya dari kenangan masa kanak-kanaknya.

Terbayang di angan-angannya gadis kecil itu menangis memeluknya sambil berkata terputus-putus, “Kakang, anak itu nakal Kakang. Aku dicubitnya. Permainanku diambilnya.”

Di saat-saat yang demikian itulah ia berteriak, “Siapa yang nakal? Tunggu di sini. Aku pilin tangannya.”

Tetapi apakah yang harus dilakukannya kini? Pandan Wangi kini menangis di pangkuannya dalam keadaan yang jauh berbeda dari tangis seorang gadis kecil.

Apalagi pikiran Sidanti sendiri memang sedang kalut oleh keadaan yang tidak menentu baginya. Sidanti tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya. Mungkin Ki Argapati kini sudah menyiapkan seorang pengawal untuk memenggal lehernya, atau menggantungnya di alun-alun. Sedang kini Pandan Wangi sedang membujuknya untuk menghadap ayahnya, agar ia dapat mendengar keputusan hukuman itu.

Terasa dada Sidanti bergetar. Hampir saja ia mendorong Pandan Wangi dan melemparkannya ke sudut ruangan.

“Ia membawa sepasang pedang,” katanya di dalam hati, “Aku dapat mengambilnya dan mempergunakannya. Atau aku dapat menjadikan gadis ini sebagai perisai untuk keluar dari rumah ini.”

Ketika Sidanti hampir saja melakukannya, tiba-tiba tangannya menjadi gemetar. Ia benar-benar tidak dapat berbuat demikian betapa pun ia sendiri sedang dilanda oleh kekalutan hati. Meskipun Sidanti mencoba menyingkirkan segala macam pertimbangan, namun ia masih tetap diam tanpa berbuat sesuatu.

Sejenak kemudian, ketika tangis Pandan Wangi mereda, maka terdengar suaranya kembali, “Kakang, apakah kau mendengarkan aku?”

Sidanti tidak menjawab.

“Akulah yang minta kepadamu.”

“Kau membujuk aku, Wangi. Kau ingin mengeluarkan aku dari bilik ini, dan tidak akan kembali lagi ke mari.”

“Kenapa, Kakang?”

“Sidanti akan tinggal namanya saja,” sahut Sidanti. “Aku menyesal bahwa aku tidak terbunuh di peperangan. Itu akan menjadi jauh lebih baik dari keadaanku sekarang.”

“Tidak. Kalau kau terbunuh, maka tidak akan ada kemungkinan lagi bagimu, untuk turut serta membangun Tanah ini.”

“Sekarang pun tidak.”

“Ada. Seperti Paman Argajaya. Paman telah menyatakan kesediaanya untuk ikut serta membangkitkan Tanah ini kembali.

Sidanti mengerutkan keningnya. “Begitukah dengan Paman Argajaya?”

“Ya.”

Sidanti terdiam sejenak. Wajahnya menjadi tegang kembali. Namun sejenak kemudian ia menarik nafas.

“Argajaya adalah adik Argapati,” katanya. “Aku bukan apa-apanya.”

“Itu tidak penting. Yang penting, kita adalah putera-putera Tanah Perdikan. Pada kitalah terletak tanggung jawab masa depan Tanah ini. Tanah yang kini sudah menjadi abu.”

“He, kau ingin mengatakan bahwa akulah yang telah membakar Tanah ini, dan adalah menjadi tanggung jawabku untuk mengembalikannya kembali.”

“Tidak. Bukan itu. Kita akan melupakan apa yang sudah terjadi. Kita akan melupakannya.”

Sidanti terdiam sejenak. Ditatapnya wajah adiknya dengan saksama. Dilihatnya wajah itu tidak secerah wajahnya dahulu. Betapa sayunya.

Ketika Pandan Wangi kemudian menatapnya dengan mata yang merah karena tangis, Sidanti tidak dapat menolaknya lagi.

“Aku minta kau pergi kepada ayah, Kakang.”

Sidanti tidak menjawab.

“Bukankah kau bersedia?”

Sidanti akhirnya menganggukkan kepalanya.

“Kalau bukan kau, Wangi, aku tidak akan beranjak dari tempat ini apa pun yang akan terjadi atasku. Aku kira aku akan lebih merasa berbahagia kalau aku mati di bilik ini daripada di alun-alun.”

“Aku yang meminta kau pergi.”

Sidanti mengangkat wajahnya. Dipandanginya sudut-sudut bilik ini, seolah-olah ia tidak akan dapat melihatnya lagi.

“Di sini aku tinggal di masa kecil itu. Di bilik ini pula aku tidur. Kadang-kadang sendiri, kadang-kadang bersama Paman Argajaya.”

Sidanti terdiam sejenak, “aku merasa bersukur bahwa aku masih sempat melihat untuk yang terakhir kalinya sebelum aku mati.”

“Kau tidak akan mati.”

“Marilah, Pandan Wangi,” berkata Sidanti, “aku sudah muak melihat wajah-wajah di luar bilik ini. Kau lupa menutup pintu.”

Pandan Wangi berpaling. Ia melihat beberapa orang yang duduk di ruang dalam agak jauh dari pintu bilik itu.

“Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

“Maksudku, mereka adalah orang-orang yang memuakkan. Mereka adalah penjilat-penjilat yang tidak tahu diri.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Ia takut kalau suasana itu akan rusak karenanya. Karena itu, maka ia hanya sekedar menganggukkan kepalanya saja.

Pandan Wangi kemudian berdiri ketika air matanya sudah menjadi agak kering. Sidanti pun berdiri pula dan berjalan mengikuti Pandan Wangi. Sekali-sekali matanya masih juga tertarik pada sepasang pedang di lambung adiknya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.

Ketika ia melintasi ruang tengah, anak muda itu sama sekali tidak mengacuhkan, siapa saja yang duduk di atas tikar pandan itu. Ia hanya sekilas melihat sebuah tombak pendek yang mencuat di antara mereka. Maka sadarlah ia bahwa orang-orang yang duduk itu pasti para pengawal yang sedang menjaganya, sedang di antara mereka adalah gembala tua yang dikenalnya bernama Kiai Gringsing.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:35  Comments (26)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-49/trackback/

RSS feed for comments on this post.

26 KomentarTinggalkan komentar

  1. ampuuun daaahh….malah kayak main tak umpet

  2. sabar menunggu sedayu digerebek 2 macan betina

  3. matur nuwun

  4. Gratze, buku 49 sudah muncul

  5. siiip….. tancap terus ……. Matur nuwun kepada pasukan pengawal Menoreh. Tapi….., kenapa ya buku 49 ini beberapa kali gagal saya undhuh. Error di sepertiga terakhir.
    Tetap semangat. Maaf saya belum bisa bantu-bantu lagi.

  6. akhirnya… bisa juga ngunduh jilid 49 ini setelah sempat berjuang beberapa kali…

    matur nuwun

  7. Saya rasa mungkin file upload nya terlalu besar. Saya pun mengalami hal yang sama, dl selalu putus ditengah jalan. Baiknya tunggu file hasil konvert saja (dalam bentuk doc). File nya lebih kecil, downloadnya cepat dan seru nya pun tetap sama.

    Salam, Aulianda

  8. horeee…muncul juga, tambah semangat spt Sutawijaya mbuka alas Mentaok

  9. saya sudah berhasil dunlut semuanya, tapi kok mulai halaman 58 sampai selesai kertasnya putih saja ya, gak ada tulisannya.

    Apakah ada yg mengalaminya juga?

    thanks

  10. poro kadang yang pada gagal ngunduh jilid 49, harap pake DAP / FLASGET / OPERA 9, buat ndownloadnya.. sehingga kalau pada saat download putus koneksi .. bisa nyambung lagi.

    matur nuwun.

  11. tadi siang saya sdh sukses ndownload & mbaca sampai habis, kok gak ada masalah apa2 yak..?? Sekarang lagi menyusun gelar di balik gerumbul ori, siap menyongsong serbuan jilid 50

    nuwun

  12. Konfirmasi…

    ternyata saya dunlutnya gak kelar, sekarang setelah diulang dunlut lagi dah isa kok.

    mungkin karena ukuran file kali ini agak jumbo kali ya

    maaf dan maturnuwun,
    Ki KontosWedul

  13. hiks lom bisa juga downloadna, g suport resume c jadi walau pakai download manager jg percuma.

    Apalagi yg pake dial-up kaya gw

  14. sedih banget neh… donlotnya gagal maning gagal maning

  15. Sedih juga mendengar masih ada warga padepokan yang gagal download.
    Ada baiknya mendengar saran gembala tua, untuk bertapa selama sebulan penuh, menjauhi segala hal-hal yang bersifat duniawi, termasuk komputer, laptop, internet, dll.
    Setelah genap bertapa sebulan penuh, pulanglah, dan jangan lupa mampir di warnet yang punya koneksi Top Banget, unduhlah semua jilid yang ada, niscaya panjenengan akan mendapatkan minimal 25 jilid kitab sakti ADBM yang anda baca selama sebulan kedepan.
    Jangan lupa bawa karung.

  16. “Apakah yang kalian cari?” tanya Kiai Gringsing yang melihat Swandaru dan Agung Sedayu mengaduk-aduk lontar di pringgitan.
    “Saya hendak melihat, apakah sudah ada yang melakukan penulisan ulang buku 49 di lontar ini?” desis Swandaru
    “Iya Guru, kalau belum ada yang menulis ulang di lontar lontar ini, semoga ada yang berniat menuliskannya,” sambung Agung Sedayu.
    “Siapakah yang kau maksud?” tanya Kiai Gringsing kemudian
    “Biarlah Jebeng yang menuliskannya, dia sekarang sepertinya sedang tidak ada yang dilakukannya,” kata Swandaru pula.
    “Hemmm…,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk, “Ya, Baiklah. Kita tanyakan dulu kepada Ki Gede Dede, apakah sudah ada yang bersedia menuliskannya sebelum ini?”
    “Bagaimanakah Ki Dede?” tanya Swandaru pula sambil menjengukkan kepalanya dari jendela seraya menyambar sepotong pizza yang tinggal seiris pula di meja.

  17. Tiba-tiba Pandan Wangi berjalan bergegas dari gandok sambil membawa air sere hangat.
    “Sudahlah, kalian terlambat,” katanya sambil mengangsurkan air sere itu
    “Itu lontarnya sudah tertulis dengan rapi,” sambungnya pula
    “Oooooo,” Swandaru dan Agung Sedayu pun tersenyum sambil berpandang pandangan.
    “Baiklah kalau begitu, kita tunggu kitab no 52 sajalah,” Swandaru menyahut seraya menyerubut air sere itu.

  18. duh bangganya bisa baca adbm, aku nyuwun sewu sediain sarana khusus untuk file djvu, soalnya aku gandrung banget bacanya pake windejapu…… kaya baca bukunya
    kalo bisa dari awal aza (no 1)….

    matur nuwun….
    cantrik gandrung

  19. akhirnya setelah sekian lama tenggelam di pertempuran yang lain, bisa juga mampir ke tanah perdikan menoreh ini

    raden rog rog asem

  20. TJAP DJEMPOL lagi aah….pratanda yen cantrik berharap
    Nyi SENO hadir ning gandhok 49 🙄 🙄

    Matur nuwun Ki GD, beBAHU padepokan ADBM sedaya-nya

  21. test

  22. Menurut Ki Begawan Mintarja, semua manusia pada dasarnya mempunyai sifat dasar yang baik sebagai mahluk ciptaanNYA yang utama.
    Walau solah tingkah para tokoh bisa dikategorikan sebagai orang jahat, namun ketika ajal menjelang, selalu terungkap sifat dasar manusia yang menyadari kebesaranNYA.

    (HUWADUH, NGOMONG APA TO AKU IKI…?)

    • (huwaduh sampean niku ngomong opo ngetik to ki mbleh)

      • he-heeee, (HUWADUH, do NGAPA TO ki GEMBLEH-ki AS IKI…?)

  23. Huebat, kemarin2 komen cantrik di gandok sini sama gandok 50
    ambles tanpa jejak……..jan sekti tenan ki Gembleh, bisa njejaken
    komen tanpo ambLES.

    • nglurug tanpa bala,
      menang tan angasorake,
      komen tanpa amblesssss


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: