Buku 49

SWANDARU menjadi heran melihat sikap itu. Tetapi kemudian ia pun menyadarinya pula, sehingga tiba-tiba saja sikapnya pun menjadi lain. Dengan nada yang datar ia berkata, “Mirah. Kau di sini bukan berada di rumahmu sendiri. Kau harus mencoba menyesuaikan dirimu.”

Gupita melihat sikap kedua anak-anak muda yang tiba-tiba menjadi kaku itu. Karena itu, maka ia pun mencoba untuk mengatasi keadaan, “Marilah kita teruskan perjalanan yang tinggal beberapa langkah ini.”

Pandan Wangi berpaling kepadanya. Dan Gupita pun berkata pula, “Berjalanlah dahulu. Kaulah yang akan mempersilahkan tamu-tamu kami.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kudanya melangkah lambat mendahului yang lain. Di belakangnya Gupita dan Sumangkar tidak lagi berada di punggung kuda. Mereka pun berloncatan turun dan berjalan bersama-sama dengan Sekar Mirah dan Gupala.

Pandan Wangi-lah yang mendahului masuk ke halaman rumahnya. Didapatinya Samekta dam Kerti berdiri gelisah di tangga pendapa.

“Hem, kau Wangi,” desis Samekta. “Dapat saja kau membuat orang-orang tua berdebar-debar. Dari mana kau, he?”

Pandan Wangi tidak menjawab pertanyaan itu. Tetapi ia langsung memberitahukan kehadiran dua orang tamu, yang salah seorang di antaranya adalah adiknya Gupita.

“Yang seorang?” bertanya Samekta.

“Gurunya,” jawab Pandan Wangi, “seorang yang pasti luar biasa seperti gembala bercambuk itu. Muridnya yang bernama Sekar Mirah, mempunyai kemampuan yang cukup tinggi.”

Samekta mengerutkan keningnya Kemudian ia pun bertanya, “Apakah keperluannya? Tanah Perdikan ini sudah mulai tenang. Apakah mereka akan ikut mengguncang-guncangnya lagi?”

“Tidak, Paman,” jawab Pandan Wangi. “Menilik pembicaraan mereka, agaknya mereka sedang mencari Gupala yang sebenarnya bernama Swandaru.”

“He?”

“Itulah mereka,” berkata Pandan Wangi ketika ia melihat Gupita dan tamu-tamunya memasuki regol.

Samekta sejenak berdiri mematung.

“Sambutlah, Paman. Paman adalah wakil ayah saat ini, sebelum ayah dapat menemui mereka.”

“O,” Samekta tersadar, “marilah,” ajaknya kepada Kerti.

Keduanya pun kemudian menyongsong kedatangan tamu mereka, seorang gadis dengan gurunya yang bernama Sumangkar itu.

Ketika Sekar Mirah melihat Samekta dan Kerti menyongsongnya, maka ia pun bertanya kepada kakaknya, “Yang manakah yang bernama Ki Gede Menoreh?”

“Bukan kedua-duanya,” jawab Swandaru. “Tetapi yang satu, yang di depan itu adalah tetua Tanah Perdikan ini sesudah Ki Argapati. Ialah yang menerima kepercayaan untuk melakukan tugas-tugas pemerintahan. Sedang untuk tugas-tugas yang menyangkut keamanan sebagian terbesar diletakkan pada puterinya itu.”

“Pantas,” desis Sekar Mirah.

“Kenapa?”

“Gadis itu luar biasa.”

“Darimana kau tahu?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi Sumangkar yang mendengar percakapan itu tersenyum. Namun ia tidak sempat menyahut. Sedang Gupita yang meskipun mendengar pula, tetapi ia pura-pura tidak mendengarnya sama sekali.

Gupita-lah yang kemudian memperkenalkan tamu-tamunya kepada Samekta dan Kerti. Keduanya kemudian mempersilahkan Sumangkar dan muridnya untuk naik ke pendapa.

“Di sini tinggal seorang gembala yang aneh,” berkata Samekta kemudian, “yang menurut pengakuannya adalah ayah Gupala dan Gupita. Tetapi sejak semula aku sudah ragu-ragu. Apakah Ki Sumangkar mengenalnya?”

“Siapa?” bertanya Sumangkar.

“Bertanyalah kepada Gupita dan Gupala, siapakah sebenarnya orang yang mengaku ayahnya itu. Seorang gembala yang bersenjata cambuk.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tahu benar siapakah yang dimaksud oleh Samekta itu. Karena itu ia menjawab, “Apakah yang kalian maksud seorang gembala tua bersenjata cambuk, tetapi juga seorang dukun?”

“Tepat,” sahut Kerti. “Dukun itulah yang mengobati luka-luka Ki Argapati dengan cermatnya, sehingga agaknya luka, itu akan segera dapat sembuh.”

Sumangkar mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Tentu aku mengenalnya. Di manakah gembala itu sekarang?”

“Ia ada di dalam.” Kemudian katanya kepada Gupita, “apakah kau tidak mengundang ayahmu supaya ikut menemui tamu kita di sini?”

Gupita tersenyum. Jawabnya, “Baiklah. Aku akan mengundangnya untuk ikut menemui Ki Sumangkar.”

Gupita pun kemudian masuk ke pringgitan. Gembala tua itu sedang duduk di dalam bilik Ki Argapati.

Dengan hati-hati Gupita menjengukkan kepalanya di pintu yang terbuka. Kemudian mengangguk sambil bertanya, “Apakah aku dapat masuk?”

“Masuklah,” desis gembala itu perlahan-lahan.

Gupita pun segera masuk dengan hati-hati pula.

“Siapakah yang masuk?” bertanya Ki Argapati dengan nada datar.

“Gupita, Ki Gede. Anakku.”

“O, apakah, ada keperluan dengan aku?”

“Tidak, Ki Gede,” sahut Gupita perlahan-lahan. “Aku hanya sekedar menemui ayah untuk menyampaikan pemberitahuan.”

“Ada apa?” bertanya gembala itu.

“Ada tamu, Ayah.”

“Siapa?”

“Ki Sumangkar bersama Sekar Mirah, yang agaknya telah diangkat menjadi muridnya.”

Gembala itu mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa. “Baik. Baik, aku akan menemuinya.” Kemudian kepada Ki Gede yang terluka itu gembala tua itu berkata, “Ki Gede, seorang saudaraku datang berkunjung kemari. Aku minta diri sejenak untuk menemuinya.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Apakah Pandan Wangi sudah kembali? Bukankah ia pergi bersamamu, Gupita. Ia minta ijin kepadaku. Tetapi menurut Ki Samekta, ia belum datang sehingga menimbulkan kegelisahan.”

“Ya, Ki Gede,” jawab Gupita, “tetapi ia sudah datang bersama aku. Ia berada di pendapa menemui tamu-tamu kami bersama Ki Samekta dan Ki Kerti.”

“Kemana saja kalian pergi?”

“Kami hanya sekedar melihat-lihat daerah Tanah Perdikan ini. Tetapi kami bertemu dengan Ki Sumangkar di perjalanan, sehingga kami bersama-sama kembali ke rumah ini.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Sokurlah, kalau tidak terjadi sesuatu di perjalanan.”

“Tidak, Ki Gede.”

“Sekarang silahkan, kalau kalian ingin menemui tamu-tamu kalian,” berkata Ki Argapati kemudian.

“Ya, Ki Gede, kalau Ki Gede tidak berkeberatan, Ki Sumangkar pun akan menemui Ki Gede pula. Tidak ada persoalan apa pun yang akan dibicarakan, selain memperkenalkan dirinya.”

“Tentu aku sama sekali tidak berkeberatan.” Ki Gede berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi siapakah Ki Sumangkar itu?”

“Ia pernah menjadi seorang penghuni Kepatihan Jipang. Ki Sumangkar sebenarnya adalah saudara seperguruan Ki Patih Mantahun yang terbunuh di peperangan antara Jipang dan Pajang.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya.

“Tetapi,” gembala itu meneruskan, “Sumangkar telah mendapat pengampunan, karena ia tidak banyak terlibat dalam masalah Jipang dan Pajang.”

Ki Argapati kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Saudara seperguruan Patih Mantahun, bukanlah orang kebanyakan.”

Gembala tua itu tersenyum, “Demikianlah kiranya, Ki Gede.”

“Baik, baik. Aku akan menerimanya dengan senang hati.”

Sejenak kemudian maka Gupita pun mengikuti gurunya keluar dari bilik Ki Argapati. Di ruang tengah mereka berpapasan dengan Pandan Wangi.

“Kemana, Wangi?” bertanya Gupita.

“Menyiapkan minuman untuk tamu-tamu kita.”

“O,” Gupita mengangguk-angguk, lalu, “ayahmu agaknya menjadi gelisah pula.”

“Kenapa?”

“Kita terlampau lama pergi,” sambung Gupita. Lalu diberitahukannya apa yang sudah dikatakan kepada Ki Gede tentang kepergian mereka berdua. “Jangan salah,” pesan Gupita kepada Pandan Wangi, “kalau kau ingin berceritera, sesuaikan ceriteramu dengan ceriteraku.”

Pandan Wangi mengangguk.

“He,” tegur gembala tua, “darimanakah sebenarnya kalian? Jadi apa yang kau katakan kepada Ki Argapati tidak benar?”

“Bukan tidak benar,” jawab Gupta, “tetapi tidak lengkap. Masih ada beberapa hal yang belum kami katakan sekarang.”

Gembala tua itu menarik nafas. Gumamnya, “Anak-anak muda sekarang kadang-kadang memang membuat orang-orang tua kebingungan.”

Gupita tidak menjawab. Ia mengikut saja di belakang gurunya ketika gurunya meneruskan langkahnya ke pendapa, sedang Pandan Wangi pergi ke dapur untuk mengatur jamuan bagi tamu-tamunya, sebelum ia pergi ke bilik ayahnya.

Pertemuan antara dua orang tua-tua di pendapa rumah itu merupakan pertemuan yang meriah. Dengan nada yang tinggi Sumangkar berkata, “Apakah Kiai selamat selama kita tidak bertemu? Dan bagaimanakah kabar tentang kambing-kambingmu?”

Gembala tua itu pun tertawa. Sambil membungkuk dalam-dalam ia menjawab, “Kami selamat semua di sini. Bagaimana dengan kalian, dan Ki Demang Sangkal Putung suami isteri?”

Sumangkar pun tertawa pula. Ia mengenal orang tua itu dengan seribu nama dan seribu warna. Kali ini ia menjadi seorang gembala dengan kedua anak-anaknya.

“Selamat, Kiai,” jawab Sumangkar kemudian. “Ki Demang dan Nyai Demang Sangkal Putung dan seluruh rakyatnya dalam keadaan selamat. Kademangan Sangkal Putung telah mulai berkembang kembali, setelah sekian lama dibayangi oleh ketakutan.”

“Sokurlah. Dan kini Adi Sumangkar sempat berjalan-jalan sampai ke daerah ini.”

“Ya,” jawab Sumangkar, “Ki Demang Sangkal Putung mengharap Angger Swandaru segera kembali. Kini Sangkal Putung telah diserahkan seluruhnya kepada Sangkal Putung sendiri. Pasukan Pajang sama sekali sudah ditarik.”

“Angger Widura?”

“Sudah ditarik pula.”

“Jadi Paman sudah tidak berada lagi di Sangkal Pulung?” bertanya Gupita.

“Tidak,” jawab Sumangkar, “Sangkal Putung sudah dianggap dapat menjaga dirinya sendiri.”

“Dan Kiai masih saja berada di Sangkal Putung itu?”

“Ya,” sahut Sumangkar, “aku diijinkan tinggal. Tetapi setiap saat aku dipanggil, aku harus datang ke Pajang.”

“Kalau Kiai tidak berada di tempat seperti sekarang ini?”

“Aku sudah mendapat ijin.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Sumangkar masih belum memiliki kebebasannya sepenuhnya.

Dan orang tua itu berkata pula, “Tetapi, aku hampir tidak dapat mengenal lagi daerah sebelah Barat Sangkal Putung. Sejak meninggalkan Prambanan, kami merasakan perubahan yang pasti telah menjadi di sebelah Barat. Hutan Tambak Baya rasa-rasanya sudah tidak singup lagi. Sebuah jalan telah dibuka, dan berbagai padukuhan kecil telah dihuni orang. Semakin ke Barat, yang menurut pengenalan kami sebelumnya semakin pepat, karena daerah itu mendekati Alas Mentaok, namun ternyata justru menjadi semakin ramai. Agaknya Alas Mentaok telah dibuka. Dan menurut pendengaran kami, yang membuka alas Mentaok itu adalah Ki Gede Pemanahan dengan puteranya, Mas Ngabehi Loring Pasar.”

Gembala tua beserta anak-anaknya mengerutkan keningnya. Demikian juga Samekta dan Kerti.

“Apakah Alas Mentaok sudah menjadi sebuah kota yang ramai?”

“Belum dapat disebut sebuah kota,” berkata Sumangkar, “tetapi sebuah padukuhan yang besar, meskipun masih belum teratur. Namun setiap hari berdatangan orang-orang baru dari daerah di sekitarnya, dan menetap menjadi penghuni-penghuni baru dari padukuhan yang semakin lama semakin besar itu. Lebih dari itu, mereka yang mengenal siapakah Ki Gede Pemanahan dan siapakah Sutawijaya itu pun segera mengarahkan pandangan matanya kepada mereka. Padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan besar yang baru itu, secara diam-diam mengakui bahwa Ki Gede Pemanahan dan puteranya, akan dapat memberikan bimbingan kepada mereka, sehingga mereka telah berkiblat ke padukuhan yang baru itu. Mereka tiba-tiba merasa, bahwa mereka menjadi terlampau jauh dari Pajang.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi aku tidak tahu, apalagi yaag sudah berkembang di daerah itu, karena aku hanya sekedar lewat.”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimanakah dengan padukuhan-padukuhan di sebelah Timur Alas Mentaok itu sendiri. Prambanan dan Sangkal Putung sendiri misalnya?”

“Alas Mentaok baru menjadi dongeng di daerah kami, Sangkal Putung. Tetapi sekali pernah datang Angger Widura dan beberapa orang perwira yang lain. Mereka berbicara dengan Ki Demang tentang perkembangan daerah baru itu.”

“Apa kata mereka?”

Sumangkar menggeleng, “Aku tidak tahu.”

“Aku mendengar sedikit,” berkata Sekar Mirah.

“Apa kata mereka?”

“Kakang Untara mendapat tugas langsung untuk mengawasi daerah Selatan.”

Terasa dada Gupita berdesir mendengar jawaban itu. Sejak semula mereka yang berada di Menoreh telah menduga, bahwa senapati muda itulah yang akan mendapat tugas yang berat itu.

“Tetapi selanjutnya kami tidak tahu.”

Setiap orang yang mendengarkan ceritera itu hanya sekedar mengangguk-anggukkan kepala mereka, sehingga pada suatu saat Pandan Wangi datang dengan nampan kayu di tangannya, membawa minuman bagi tamu-tamu yang baru datang itu.

Sejenak kemudian, mereka pun telah meneguk air hangat dan menikmati makanan yang dihidangkan untuk mereka. Sedang pembicaraan mereka pun telah berkisar tanpa sesadar mereka.

Dengan demikian, maka tamu-tamu yang bermalam di rumah itu pun menjadi bertambah dengan dua orang. Mereka ditempatkan di gandok, kecuali Sekar Mirah, yang mendapat tempat di ruang dalam.

Namun dengan demikian, setiap kali Sekar Mirah pasti melihat bagaimana Pandan Wangi berusaha melayani kakaknya sebaik-baiknya, meskipun masih tetap di dalam pengawasan yang ketat.

Meskipun Sidanti sendiri tetap acuh tak acuh terhadap siapa pun, tetapi Pandan Wangi sama sekali tidak berkecil hati. Ia bersikap baik dan teliti, seperti juga terhadap pamannya. Namun terasa oleh Pandan Wangi, bahwa sikap kakaknya dan pamannya kini telah menjadi jauh berlainan. Hati pamannya yang sekeras batu padas itu semakin lama akan semakin dapat dilunakkan. Tetapi agaknya tidak begitu mudah bagi Sidanti.

Tetapi Pandan Wangi dapat mengerti. Argajaya adalah adik kandung Argapati, sedang sejak kelahirannya, Sidanti telah dipisahkan oleh jarak yang seakan-akan tidak akan terseberangi lagi dari Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu, meskipun hal itu belum lama disadarinya.

Meskipun demikian, Pandan Wangi tidak segera berputus asa. Meskipun kadang-kadang ia harus menitikkan air matanya.

Betapa besar dendam yang membara di dada Sekar Mirah terhadap Sidanti, namun sikap Pandan Wangi menumbuhkan iba juga di hatinya. Setiap kali ia melihat betapa Pandan Wangi seakan-akan diguncang-guncang oleh perasaannya. Ia berdiri di persimpangan yang sangat sulit.

Argapati adalah ayahnya. Ayah yang dicintai dan mencintanya. Sedang Sidanti adalah kakaknya, yang dilahirkan oleh ibunya pula. Kakak yaag telah banyak menolongnya sejak ia masih kanak-kanak hingga api permusuhan antara ayah dan kakaknya itu sudah mulai kemelut.

“Kalau Kakang Sidanti tetap berkeras hati dan Ayah kemudian kehilangan kesabarannya, maka hatiku pasti akan semakin hancur.” desisnya kepada diri sendiri.

Dengan hadirnya Sekar Mirah, Pandan Wangi merasa mendapat seorang kawan. Meskipun kadang-kadang ia tidak dapat mengerti sifat kawan barunya, adik Gupala yang juga ternama Swandaru itu, namun sedikit banyak ia mendapat tempat untuk mengungkapkan perasaannya.

Atas nasehat Gupita, Gupala, dan gurunya, Sekar Mirah berusaha menyesuaikan dirinya dengan cara hidup Pandan Wangi, meskipun kadang-kadang ia harus memaksa diri. Sebenarnya Sekar Mirah tidak begitu telaten menenggang perasaan seperti gadis puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu. Menurut Sekar Mirah, apabila Sidanti memang berkeras kepala, apa salahnya kalau ia dihukum mati saja meskipun menurut pengertiannya ia adalah putera Argapati sendiri.

“Jangan berkata begitu kepada Pandan Wangi,” Agung Sedayu mencoba menasehatinya.

“Gadis itu terlampau cengeng.”

“Bukan, bukan terlampau cengeng, tetapi perasaannya sangat lembut meskipun ia mampu bertempur dengan sepasang pedangnya di peperangan.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi ia mencoba untuk menahan hatinya. Ia mencoba seolah-olah ia mengerti dan menampung perasaan gadis Menoreh yang lembut itu.

Tetapi di hadapan Swandaru, Sekar Mirah masih juga berkata sambil mencibirkan bibirnya, “He, kaukah yang berkata kepadaku dahulu di Sangkal Putung, bahwa kau akan kembali sambil menjinjing kepala Sidanti?”

“Hus, jangan begitu, Mirah. Hati-hatilah sedikit dengan kata-katamu. Kami semua tidak akan dapat berkata begitu lagi. Kita berhadapan dengan orang-orang yang lain daripada orang-orang Tohpati dan bahkan Sidanti sendiri.”

Sekar Mirah tersenyum. Jawabnya, “Aku mengerti. Mereka mencoba untuk menjadi pahlawan-pahlawan yang luhur budi, yang mengampuni segala kesalahan orang lain, agar dirinya sendiri mendapat pujian atas kebaikan hati itu.”

“Begitukah caramu memandang sikap Ki Argapati, Pandan Wangi, dan orang-orang lain lagi? Apa katamu terhadap Kakang Untara dan Ki Gede Pemanahan yang telah mengampuni Ki Sumangkar, yang sekarang menjadi gurumu?” bertanya Swandaru.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan kakaknya.

“Sudahlah. Jangan kita persoalkan lagi. Kau coba menyesuaikan dirimu. Setidak-tidaknya kau harus menjadi tamu yang baik.”’

“Kau sekarang memandang aku menurut caramu,” berkata Sekar Mirah, “tetapi aku tidak boleh memandang sikap orang lain menurut caraku. Sekarang di dalam pandanganmu aku selalu bersalah, sedang gadis Menoreh itu selalu benar, karena kau sudah jatuh cinta kepadanya.”

“Hus.”

“Karena Sidanti adalah kakak gadis yang kau cintai itu, maka kau pun telah merubah niatmu untuk membalas sakit hatimu. Bukankah kau sudah dua atau tiga kali dipukulnya?”

“Sudahlah. Jangan ribut. Lihat, itu Pandan Wangi mencari kau. Ia membutuhkan seorang kawan yang dapat diajaknya membagi duka. Kau adalah adikku, sehingga kau harus membantu aku, agar ia tidak benci kepadaku.”

“Bukankah ternyata bahwa kita masing-masing mementingkan diri kita sendiri?”

“Ya. Aku tidak ingkar.”

Sekar Mirah menjadi bersungut-sungut. Tetapi ia menyongsong Pandan Wangi yang pergi ke arahnya.

Keduanya pun kemudian berjalan bergandengan ke belakang rumah sambil bercakap-cakap dengan akrabnya.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi harapannya kini menjadi kian membara di dalam dadanya. Kalau Sekar Mirah dapat membantunya, maka kemungkinan untuk mempertautkan hatinya kepada gadis itu akan berhasil.

Dari hari ke hari, maka luka Ki Argapati pun kian menjadi baik. Dengan sangat hati-hati dan lambat laun Ki Argapati mencoba untuk bangkit dan duduk. Gembala tua itu pun dengan telaten selalu menungguinya apabila Ki Argapati mulai dengan perkembangan baru sesuai dengan kesehatannya yang menjadi semakin baik.

“Aku sudah merasa seakan-akan aku sudah sehat sama sekali,” desisnya.

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tampak sesuatu mengganggu pikirannya.

“Kiai,” berkata Ki Argapati, “bagaimana menurut pendapat Kiai dengan keadaanku kemudian? Apakah aku akan dapat pulih kembali seperti sediakala?”

Gembala itu merenung sejenak.

“Berkatalah terus terang. Aku bukan anak-anak lagi.”

“Ki Gede,” berkata gembala tua itu, “aku tidak dapat mengatakan dengan pasti. Meskipun aku tetap berusaha. Namun agaknya ada sesuatu yang kurang pada Ki Gede sekarang, sehingga untuk dapat pulih kembali seperti sediakala, agaknya memerlukan waktu yang sangat panjang.”

Ki Argapati memandang wajah gembala tua itu dengan saksama. Tetapi dari sorot matanya terpancar hatinya yang sudah pasrah kepada pepesten, kepada keharusan yang tidak akan dapat dielakkannya lagi.

Karena itulah maka Ki Argapati tidak lagi menjadi gelisah dan cemas, apa pun yang akan terjadi atasnya. Seandainya ia tidak akan dapat pulih kembali sekalipun. Yang terutama menjadi persoalan di dalam hatinya adalah justru Tanah Perdikan Menoreh. Kalau ia tidak kuasa lagi memimpin tanah ini dan tidak ada orang lain yang dapat dipercayainya, maka Tanah yang kini tinggal abunya ini tidak akan dapat tumbuh dan berkembang kembali. Samekta dan Kerti memang dapat memimpin pemerintahan dalam arti yang sangat sempit. Tetapi untuk mengembangkan apa yang masih tersisa untuk mencapai tingkat yang diharapkan agaknya akan banyak menjumpai kesulitan.

“Tanah ini memerlukan orang kuat,” berkata Ki Argapati di dalam hatinya.

Sekilas terlintas di angan-angannya satu-satunya anaknya Pandan Wangi. Kepadanyalah Ki Argapati menumpahkan segala harapannya.

“Tetapi ia hanya seorang gadis,” desisnya, “bagaimana pun juga nalarnya kadang-kadang terdesak oleh perasaannya.”

“Kiai,” berkata Ki Argapati kepada gembala tua itu, “bagaimana pun juga aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepadamu dan kedua anak-anakmu.”

Gembala tua itu pun tersenyum.

“Tetapi,” berkata Ki Argapati, “aku masih ingin mendapat pertimbanganmu Kiai.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya.

“Apakah yang sebaiknya aku lakukan atas Argajaya dan Sidanti?” bertanya Ki Argapati kemudian.

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kedua orang itu adalah termasuk dalam keluarga Ki Argapati. Karena itu maka sulitlah baginya untuk menyatakan sikapnya. Apalagi bahan-bahan yang ada padanya tentang hubungan kekeluargaan dan sikap Argajaya dan Sidanti atas Menoreh sebelumnya terlampau sedikit.

“Ki Gede,” berkata gembala itu, “kalau aku boleh berterus terang, aku tidak dapat menyatakan apa pun tentang kedua anggota keluarga terdekat Ki Gede itu. Ki Argajaya adalah adik kandung Ki Gede, sedang Sadanti adalah putera Ki Gede.”

“Kau benar Kiai, tetapi apakah katamu setelah kau melihat sikap mereka kini? Menurut laporan yang aku terima, agaknya Argajaya sempat melihat kepada dirinya sendiri. Kepada apa yang sudah dilakukannya. Ia sempat memisahkan mana yang salah dan mana yang benar. Tetapi agaknya Sidanti masih tetap berkeras hati.”

Gembala tua itu menganggukkan kepalanya, “Ya Ki Gede. Memang demikanlah agaknya. Aku memang menjadi heran justru Angger Sidanti sama sekali tidak mau mengerti akan kedudukannya, meskipun gurunya sudah meninggal.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Ia menduga bahwa gembala tua itu belum tahu, hubungan yang sebenarnya antara dirinya dan anak muda yang keras hati itu.

“Itulah yang membuat aku berprihatin,” desis Ki Argapati.

“Ki Gede,” berkata gembala tua itu, “aku kira ada jalan yang dapat Ki Gede tempuh. Tetapi sudah tentu itu bukan satu-satunya.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimana kalau Ki Gede memanggil mereka, dan berbicara langsung dari hati ke hati? Ki Gede akan dapat bertanya kepada mereka, bagaimanakah sikap mereka sekarang.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku memang sudah berpikir demikian. Aku memang berhasrat untuk memanggil mereka. Tetapi sudah tentu tidak bersama-sama.”

“Aku kira memang itu adalah jalan yang sebaik-baiknya. Kini di rumah ini ada dua orang tamu, yang apabila diperlukan dapat membantu Ki Gede dengan pendapat-pendapatnya pula. Terutama Adi Sumangkar.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sesudah aku bertemu dengan keduanya berganti-ganti, aku memang mungkin memerlukan pendapat-pendapat itu.”

“Aku kira mereka tidak akan berkeberatan.”

“Tetapi bukankah kalian masih akan tinggal di Tanah Perdikan ini untuk waktu yang tidak terlampau pendek?”

“Kami berharap bahwa kami akan segera dapat minta diri, Ki Argapati. Perkembangan di sebelah Timur Kali Praga agaknya memerlukan perhatian. Alas Mentaok yang kini sudah menjadi semakin ramai ternyata menjadi pusat perhatian seluruh kerajaan Pajang. Bahkan daerah di sekitarnya kini seakan-akan telah berpaling ke daerah baru itu.”

Ki Argapati menganggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Bagaimana dengan Ki Ageng Mangir?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab, “Aku tidak tahu.”

Ki Argapati merenung sejenak. Tetapi menurut pengenalannya atas Ki Ageng Mangir, agaknya pemimpin Tanah Perdikan di Mangir itu pun tidak akan banyak mengambil peranan di dalam perubahan keadaan yang tidak akan dapat dielakkan lagi. Entahlah apabila Ki Ageng Mangir itu sudah tidak mampu lagi memimpin pemerintahan, dan yang kelak akan menyerahkan pimpinan kepada puteranya. Mungkin puteranya yang kini masih kecil itu akan bersikap lain apabila ia mendengar riwayat perkembangan Tanah Perdikannya dan hadirnya suatu daerah baru di Alas Mentaok yang lebih muda dari Tanah Perdikannya.

“Kiai,” berkata Ki Argapati kemudian, “apalagi menghadapi keadaan yang berkembang terus di sebelah Kali Praga. Tanah Perdikan ini sendiri memerlukan seorang yang kuat. Apabila aku tidak dapat melakukan tugasku dengan baik, maka aku menjadi cemas, bahwa Tanah Perdikan yang kini seakan-akan menjadi lumpuh ini tidak dapat mengikuti perkembangan keadaan, sehingga akhirnya justru ditelan oleh pergeseran yang terjadi di luar Tanah ini sendiri. Apalagi apabila selama ini, kami keluarga Tanah Perdikan ini masih belum dapat mengatasi goncangan-goncangan keadaan yang telah timbul sebagai akibat api yang baru saja membakar Tanah ini.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu, aku memanggil Argajaya segera. Kemudian Sidanti. Aku harus mendapat kepastian, apakah mereka akan ikut serta, atau harus kita tinggalkan.”

Gembala tua itu masih mengangguk-angguk. Memang tidak ada jalan lain daripada berbicara langsung dengan keduanya. Baik Argajaya maupun Sidanti.

“Tetapi,” berkata gembala itu, “apakah Ki Gede tidak menunggu keadaan Ki Gede menjadi semakin baik?”

“Kapan, Kiai?” jawab Ki Argapati. “Kalau aku masih harus menunggu lagi, maka aku kira Tanah Perdikan ini akan banyak kehilangan waktu.”

Gembala tua itu tidak menjawab, ia mengerti bahwa Ki Argapati harus bertindak cepat. Apabila Ki Argapati sudah mempunyai keputusan, apakah yang sebaiknya dilakukan atas Argajaya dan Sidanti, maka ia pun akan segera dapat membuat rencana bagi keseluruhan Tanah Perdikannya, meskipun masih banyak masalah yang harus diatasinya. Putera Ki Argajaya yang masih berkeliaran dengan beberapa orang yang keras kepala, tanah yang kering karena parit-parit yang rusak, persediaan makanan yang menipis, dan panen yang harus segera dapat diusahakan untuk mengatasi kekurangan bahan makanan akibat peperangan.

Menoreh memang harus mengadakan perbaikan di segala bidang, terutama mengembalikan kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya.

Dalam keadaannya, Ki Gede pasti tidak akan dapat bekerja selincah sebelumnya. Badannya sudah tidak memungkinkan lagi meskipun bukan berarti bahwa Ki Gede harus selalu berada di pembaringan.

“Kiai,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian, “aku ingin bertemu dengan Argajaya. Tetapi maaf, aku kira lebih baik tidak seorang pun. yang mendengarkan pembicaraan kami. Bukan karena aku tidak percaya kepada siapa pun juga terutama kepada Kiai, tetapi aku menjaga agar Argajaya dapat berkata dengan hati terbuka.”

Gembala itu mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Ki Gede memerlukan saksi meskipun hanya seorang. Saksi itu bukan orang lain, tetapi sebaiknya adalah Angger Pandan Wangi.”

Ki Argapati merenung sejenak. Katanya, “Apakah, kehadiran Pandan Wangi tidak justru mengganggu?”

“Menurut pendapatku tidak, Ki Gede. Pandan Wangi adalah puteri Ki Gede yang diharap kelak akan berperanan di dalam pemerintahan.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Aku sependapat. Aku minta tolong sama sekali, apakah Kiai dapat membawa keduanya kemari?”

“Maksud Ki Gede aku harus membawa Angger Pandan Wangi dan Ki Argajaya?”

“Ya.”

Gembala itu merenung sejenak. Kemudian, “Sebaiknya biarlah Angger Pandan Wangi sajalah yang membawa pamannya kemari?”

“Tetapi Argajaya adalah seorang yang keras kepala. Meskipun menurut laporan yang kami terima, orang itu sudah menjadi agak lunak, tetapi aku belum mempercayainya sepenuhnya.”

Gembala itu tidak segera menjawab.

“Bagaimana kalau tiba-tiba timbul niatnya untuk melakukan perbuatan yang tidak terpuji?”

“Ki Gede, kami akan mengawasi dari kejauhan.”

“Argajaya dapat berbuat cukup cepat.”

“Tetapi Angger Pandan Wangi adalah seorang gadis yang cukup terlatih, ia mempunyai kemampuan yang seandainya terpaut, tidak terlampau banyak dari Ki Argajaya. Karena itu, setidak-tidaknya ia mempunyai kesempatan bertahan sampai kami datang mendekati mereka.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sependapat, Kiai,” katanya kemudian, “tetapi aku titipkan keselamatan Pandan Wangi kepadamu.”

Gembala itu mengangguk, “Ya. Aku akan mencoba.”

“Baiklah. Aku menunggu kedatangan Argajaya dan Pandan Wangi.”

Gembala tua itu pun kemudian minta diri. Ditemuinya Pandan Wangi, dan diberitahukannya maksud ayahnya untuk berbicara langsung dengan Ki Argajaya.

“Bagus,” Pandan Wangi menjawab dengan serta-merta, “sudah lama aku memikirkan hal itu. Sebaiknya ayah memang berbicara langsung apabila keadaannya sudah memungkinkan.”

“Ya, Ngger. Aku juga mengharap bahwa segala sesuatunya akan segera selesai.”

“Lalu?”

“Kami sudah terlampau lama di sini. Aku dan anak-anakku harus kembali menyeberang Kali Praga dan Alas Mentaok.”

“Bukankah Alas Mentaok sudah mulai ramai?”

“Kami masih harus membuktikan.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Sekilas terbayang kedua anak-anak muda yang mengaku anak gembala tua itu, yang ternyata bernama Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Terasa sesuatu berdesir di dadanya. Apakah ia akan dapat membiarkan keduanya pergi begitu saja tanpa kesan apa pun? Bagaimana dengan pesan Swandaru lewat Agung Sedayu?

Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Ia sudah pasti tidak akan dapat memikirkan Agung Sedayu. Sama sekali tidak akan ada gunanya, karena sudah hadir Sekar Mirah.

Tetapi anak yang gemuk itu pun agaknya, sudah mulai tersangkut di hatinya, meskipun perlahan-lahan. Sikapnya yang terbuka meskipun tidak terhadapnya dan mengenai masalahnya. Tertawanya yang lepas dan tidak tertahan-tahan. Sikap dan tingkah lakunya yang kadang-kadang penuh kejenakaan.

“Bagaimana, Ngger?” suara gembala tua itu mengejutkannya.

“O,” Pandan Wangi tergagap, “maksud Kiai, aku sekarang supaya membawa Paman Argajaya menghadap Ayah?”

“Ya, Ngger, kami akan mengamat-amati dari kejauhan.”

“Kenapa Kiai masih harus mengamat-amati?”

“Ayahmu masih belum mempercayainya sepenuhnya.”

“Aku percaya kepadanya. Paman tidak akan berbuat apa-apa. Karena itu Kiai tidak perlu mengawasinya. Aku bertanggung jawab atas Paman Argajaya.”

Gembala itu menarik nafas dalam-dalam. Ada juga sifat keras hati pada gadis ini, seperti juga pada keluarga Menoreh yang lain. Pada Ki Argapati dan Ki Argajaya, dan meskipun berbeda sumber aliran darahnya, namun juga Sidanti. Bahkan putera Argajaya itu pun ternyata keras kepala juga.

“Kapan ayah akan menerima Paman?” bertanya Pandan Wangi.

“Sekarang ayahmu sudah siap, Ngger.”

“Baik. Baik. Aku akan pergi kebilik Paman di ujung gandok.”
Pandan Wangi pun kemudian berlari-lari pergi ke bilik Ki Argajaya. Gupita, Gupala, dan beberapa orang pengawal terkejut melihat kedatangannya. Bahkan Sekar Mirah dan Sumangkar yang duduk agak jauh dari mereka pun mengerutkan keningnya.

“Kenapa anak itu berlari-lari” desis Sumangkar.

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Tetapi ia pun kemudian berdiri dan berjalan mendekatinya.

Gupita dan Gupala yang merasa diserahi tanggung jawab atas Ki Argajaya serentak berdiri dan bertanya, “Ada apa Wangi?”

“O,” Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam, “Ayah memanggil Paman Argajaya.”

Gupita dan Gupala berpandangan sejenak. Namun kemudian guru mereka pun datang sambil berkata, “Ya, Ki Argapati memanggil Ki Argajaya.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah kalian tidak percaya kepadaku, sehingga ayahmu perlu menjelaskan?”

“Tidak. Sama sekali tidak,” Gupalalah yang menjawab. “Aku percaya kepadamu.”

Pandan Wangi memandang Gupala dengan tajamnya. Dan Gupala berkata terus, “Silahkan mengambil Ki Argajaya.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kemudian ia melangkah menghampiri pintu yang diselarak dari luar. Perlahan-lahan ia menarik selarak itu, lalu perlahan pula pintu bilik itu terbuka.

“Paman,” desis Pandan Wangi sebelum ia memasuki bilik itu.

Argajaya yang duduk termenung di atas pembaringannya mengangkat wajahnya. Ketika ia berpaling, memandang ke arah pintu, dilihatnya seorang gadis dengan ragu-ragu memasuki biliknya.

“Paman,” sekali lagi Pandan Wangi berdesis.

“O,” Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam, “kau Wangi.”

“Ya, Paman.”

“Jangan masuk. Udara sangat lembab dan aku hampir tidak dapat bernafas di dalam bilik yang sempit dan gelap ini.”

Pandan Wangi tertegun sejenak.

“Apakah keperluanmu Wangi?”

“Aku akan berbicara sedikit, Paman.”

Argajaya tidak segera menjawab. Matanya yang menyala kini menjadi cekung dan dalam.

Perlahan-lahan ia berdiri dan melangkah mendekati Pandan Wangi.

“Kau lebih baik tetap berada di muka pintu itu Wangi. Kau tidak akan menjadi sesak nafas.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi ditungguinya pamannya mendekatinya.

“Paman,” katanya kemudian setelah pamannya berdiri di hadapannya, “Ayah memanggil Paman.”

Ki Argajaya mengerutkan keningnya. Kemudian kepalanya terangguk-angguk. Sejenak kemudian ia menarik nafas sambil bertanya, “Wangi, apakah ayahmu sudah menemukan keputusan, hukuman apakah yaag akan dijatuhkan atasku?”

“Tidak, Paman,” jawab Pandan Wangi, “Ayah sekedar ingin berbicara dengan Paman.”

“Apakah yang akan dibicarakan?”

“Aku tidak tahu, Paman. Tetapi sudah terang, tentang Tanah Perdikan ini.”

“Pandan Wangi,” berkata Argajaya, “kau tahu bahwa aku pasti sudah dianggap bersalah oleh ayahmu. Sudah tentu ayahmu akan mengambil suatu keputusan untuk menghukum aku.”

“Tidak, Paman. Tidak.”

“Sejak semula ayahmu tidak mau bertanggung jawab terhadap semua tindakanku dan Sidanti yang menyangkut kekuasaan Pajang. Itulah sebabnya Sidanti mencoba mencari kekuatan dibantu oleh gurunya. Karena aku terlibat dalam masalah Tambak Wedi yang langsung berbenturan dengan kekuasaan Pajang di Selatan yang dipimpin oleh Untara, maka aku tidak mempunyai pilihan lain daripada mencoba mencuri kekuatan bersama Sidanti untuk menghadapi setiap tindakan Pajang atas diri kami.”

“Tetapi ternyata Pajang tidak berbuat apa-apa. Bahkan sekarang mereka tidak akan sempat lagi mengurus masalah-masalah yang kecil seperti itu, Paman.”

“Kenapa?.”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi Ki Gede Pemanahan sudah tidak menjadi panglima lagi. Bersama puteranya mereka membuka hutan Mentaok di sebelah Kali Praga.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:35  Comments (26)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-49/trackback/

RSS feed for comments on this post.

26 KomentarTinggalkan komentar

  1. ampuuun daaahh….malah kayak main tak umpet

  2. sabar menunggu sedayu digerebek 2 macan betina

  3. matur nuwun

  4. Gratze, buku 49 sudah muncul

  5. siiip….. tancap terus ……. Matur nuwun kepada pasukan pengawal Menoreh. Tapi….., kenapa ya buku 49 ini beberapa kali gagal saya undhuh. Error di sepertiga terakhir.
    Tetap semangat. Maaf saya belum bisa bantu-bantu lagi.

  6. akhirnya… bisa juga ngunduh jilid 49 ini setelah sempat berjuang beberapa kali…

    matur nuwun

  7. Saya rasa mungkin file upload nya terlalu besar. Saya pun mengalami hal yang sama, dl selalu putus ditengah jalan. Baiknya tunggu file hasil konvert saja (dalam bentuk doc). File nya lebih kecil, downloadnya cepat dan seru nya pun tetap sama.

    Salam, Aulianda

  8. horeee…muncul juga, tambah semangat spt Sutawijaya mbuka alas Mentaok

  9. saya sudah berhasil dunlut semuanya, tapi kok mulai halaman 58 sampai selesai kertasnya putih saja ya, gak ada tulisannya.

    Apakah ada yg mengalaminya juga?

    thanks

  10. poro kadang yang pada gagal ngunduh jilid 49, harap pake DAP / FLASGET / OPERA 9, buat ndownloadnya.. sehingga kalau pada saat download putus koneksi .. bisa nyambung lagi.

    matur nuwun.

  11. tadi siang saya sdh sukses ndownload & mbaca sampai habis, kok gak ada masalah apa2 yak..?? Sekarang lagi menyusun gelar di balik gerumbul ori, siap menyongsong serbuan jilid 50

    nuwun

  12. Konfirmasi…

    ternyata saya dunlutnya gak kelar, sekarang setelah diulang dunlut lagi dah isa kok.

    mungkin karena ukuran file kali ini agak jumbo kali ya

    maaf dan maturnuwun,
    Ki KontosWedul

  13. hiks lom bisa juga downloadna, g suport resume c jadi walau pakai download manager jg percuma.

    Apalagi yg pake dial-up kaya gw

  14. sedih banget neh… donlotnya gagal maning gagal maning

  15. Sedih juga mendengar masih ada warga padepokan yang gagal download.
    Ada baiknya mendengar saran gembala tua, untuk bertapa selama sebulan penuh, menjauhi segala hal-hal yang bersifat duniawi, termasuk komputer, laptop, internet, dll.
    Setelah genap bertapa sebulan penuh, pulanglah, dan jangan lupa mampir di warnet yang punya koneksi Top Banget, unduhlah semua jilid yang ada, niscaya panjenengan akan mendapatkan minimal 25 jilid kitab sakti ADBM yang anda baca selama sebulan kedepan.
    Jangan lupa bawa karung.

  16. “Apakah yang kalian cari?” tanya Kiai Gringsing yang melihat Swandaru dan Agung Sedayu mengaduk-aduk lontar di pringgitan.
    “Saya hendak melihat, apakah sudah ada yang melakukan penulisan ulang buku 49 di lontar ini?” desis Swandaru
    “Iya Guru, kalau belum ada yang menulis ulang di lontar lontar ini, semoga ada yang berniat menuliskannya,” sambung Agung Sedayu.
    “Siapakah yang kau maksud?” tanya Kiai Gringsing kemudian
    “Biarlah Jebeng yang menuliskannya, dia sekarang sepertinya sedang tidak ada yang dilakukannya,” kata Swandaru pula.
    “Hemmm…,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk, “Ya, Baiklah. Kita tanyakan dulu kepada Ki Gede Dede, apakah sudah ada yang bersedia menuliskannya sebelum ini?”
    “Bagaimanakah Ki Dede?” tanya Swandaru pula sambil menjengukkan kepalanya dari jendela seraya menyambar sepotong pizza yang tinggal seiris pula di meja.

  17. Tiba-tiba Pandan Wangi berjalan bergegas dari gandok sambil membawa air sere hangat.
    “Sudahlah, kalian terlambat,” katanya sambil mengangsurkan air sere itu
    “Itu lontarnya sudah tertulis dengan rapi,” sambungnya pula
    “Oooooo,” Swandaru dan Agung Sedayu pun tersenyum sambil berpandang pandangan.
    “Baiklah kalau begitu, kita tunggu kitab no 52 sajalah,” Swandaru menyahut seraya menyerubut air sere itu.

  18. duh bangganya bisa baca adbm, aku nyuwun sewu sediain sarana khusus untuk file djvu, soalnya aku gandrung banget bacanya pake windejapu…… kaya baca bukunya
    kalo bisa dari awal aza (no 1)….

    matur nuwun….
    cantrik gandrung

  19. akhirnya setelah sekian lama tenggelam di pertempuran yang lain, bisa juga mampir ke tanah perdikan menoreh ini

    raden rog rog asem

  20. TJAP DJEMPOL lagi aah….pratanda yen cantrik berharap
    Nyi SENO hadir ning gandhok 49 🙄 🙄

    Matur nuwun Ki GD, beBAHU padepokan ADBM sedaya-nya

  21. test

  22. Menurut Ki Begawan Mintarja, semua manusia pada dasarnya mempunyai sifat dasar yang baik sebagai mahluk ciptaanNYA yang utama.
    Walau solah tingkah para tokoh bisa dikategorikan sebagai orang jahat, namun ketika ajal menjelang, selalu terungkap sifat dasar manusia yang menyadari kebesaranNYA.

    (HUWADUH, NGOMONG APA TO AKU IKI…?)

    • (huwaduh sampean niku ngomong opo ngetik to ki mbleh)

      • he-heeee, (HUWADUH, do NGAPA TO ki GEMBLEH-ki AS IKI…?)

  23. Huebat, kemarin2 komen cantrik di gandok sini sama gandok 50
    ambles tanpa jejak……..jan sekti tenan ki Gembleh, bisa njejaken
    komen tanpo ambLES.

    • nglurug tanpa bala,
      menang tan angasorake,
      komen tanpa amblesssss


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: