Buku 48

PANDAN WANGI menundukkan kepalanya. Sudah terbayang di pelupuk matanya, ayahnya membangun sebuah penjara khusus bagi pamannya Argajaya dan kakaknya Sidanti. Bangunan yang kuat, dipagari oleh papan-papan yang tebal dan deriji-deriji kayu yang besar. Sepasukan pengawal pilihan yang akan mengawasinya siang dan malam, siap dengan senjata masing-masing.

“Sampai kapan?” ia berdesis di dalam hatinya. Ketika terkilas wajah ayahnya yang pucat, maka terbayanglah penderitaan batin orang tua itu, di masa mudanya, pada saat Arya Teja yang baru saja memasuki jenjang perkawinn dengan Rara Wulan. Namun kemudian ternyata bahwa semua impiannya telah buyar, karena merasa telah dikhianati oleh perempuan itu. Dan perempuan itu kemudiam melahirkan Sidanti.

Kepala Pandan Wangi menjadi semakin tunduk. “Wajar sekali apabila ayah sangat membenci Ki Tambak Wedi dan mungkin juga Kakang Sidanti,” katanya pula di dalam hatinya.

“Wangi,” Pandan Wangi terkejut ketika ayahnya menyebut namanya, “sudahlah. Jangam tercengkam oleh keadaan Sidanti itu. Kau akan kehilangan waktu, tenaga dan pikiran yang justru kini sangat diperlukan oleh Tanah Perdikan ini.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. “Ya, Ayah. Aku mengerti.”

“Nah, karena itu, aku percayakan saja pamanmu dan kakakmu kepada mereka yang mendapat beban untuk itu. Lakukanlah tugas-tugasmu yang lain bersama pamanmu Samekta dan Kerti yang barangkali kini masih nganglang membersihkan seluruh Tanah Perdikan ini dari mereka yang berkeras hati dan berkeras kepala, bahkan mereka yang berputus asa. Kita harus menubersihkan diri dahulu, dan barulah kita mulai membangun Tanah.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. “Ya, Ayah.”

“Aku pun sudah menjadi semakin baik, Wangi. Kau tidak usah menunggui aku seperti kemarin. Mintalah dua orang pengawal yang dapat dipercaya, dan suruhlah ia berada di sini. Mungkin aku memerlukan minum atau makan atau keperluan-keperluan apa pun.”

“Baik, Ayah.”

“Kau dapat keluar dari ruangan ini, melihat reruntuhan Tanah Perdikanmu. Dengan demikiam mungkin dapat tumbuh gagasan-gagasan yang akan sangat bermanfaat bagi Tanah ini. Tetapi di dalam ruangan ini angan-anganmu seakan-akan terkunci oleh dinding-dinding yang mati.”

Pandan Wangi mengangguk pula dan menjawab, “Ya, Ayah.”

“Nah, pergilah ke luar untuk melihat-lihat,” berkata ayahnya pula. “Kalau kau selalu berada di ruangan ini kau tidak ubahnya seperti pamanmu Argajaya dan kakakmu Sidanti. Mungkin kau akan segera jemu, meskipun tanpa kau sadari, sehingga kau pun dapat berangan-angan jauh ke dunia yang asing, Kadang-kadang ada baiknya, tetapi kadang-kadang memang dapat menumbuhkan keinginan yang kurang pada tempatnya.”

“Baik, Ayah.”

“Jangan lupa, suruhlah dua orang pengawal mengawani.”

“Baik, Ayah.”

“Sementara Samekta dan Kerti masih sibuk, dalam masalah yang penting, kau dapat berbicara dengan gembala tua itu.”

Sekali lagi Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. “Baik, ayah.

Pandan Wangi pun kemudian melangkah ke luar. Dua pengawal terpilih yang memang sudah disiapkannya, dieuruiwya. meamasuki bilik ayahnya, untuk menjaga dan melayaninya.

“Kemana Ngger?” bertanya gembala tua yang melihatnya keluar ruang dalam.

“Aku akan sekedar melepaskan ketegangan, Kiai.”

“Bagus. Bagus. Itu perlu sekali bagi Angger, yang selama ini seakan-akan selalu dicengkam oleh suasana yang tidak menentu. Sekali-sekali Angger Pandan Wangi memang harus melihat cerahnya matahari, hijaunya dedaunan dan silir angin di bawah pepohonan.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sambil melanjutkan langkahnya ia menjawab, “Ya, Kyai, supaya jantungku tidak mledak karenanya.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Ia sadar, bahwa Pandan Wangi selalu diganggu oleh kekesalan hati selama ini. Karena itu maka ia pun kemudian kembali duduk di antara para pengawal yang mengawasi pintu bilik Sidanti di bagian dalam.

Di ujung gandok, Gupala berbaring sambil mendeadangkan lagu macapat. Lamat-lamat. Suaranya memang tidak begitu baik, tetapi ungkapannya berhasil menyentuh perasaasn pendengarnya. Beberapa orang pengawal yang mendengar suara tembangnya itu pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Bahkan ada di antara mereka yang bergumam, “Ah, anak muda yang gemuk itu membuat aku mengantuk.”

Tetapi Gupala berlagu terus perlahan-lahan. Di sampingnya Gupita duduk sambil menggosok tangkai cambuknya yang melilit di lambung, dengan angkup keluwih.

Langkah Pandan Wangi tertegun ketika telinganya tersentuh suara tembang di kejauhan. Lamat-lamat saja. Tanpa sesadarnya langkahnya seakan-akan dituntun oleh getaran suara Gupala yang menyusuri halaman. Satu-satu langkah Pandan Wangi membawanya berjalan di sepanjang emper gandok menyusup regol samping masuk ke dalam longkangan tengah, kemudian lewat sebuah pintu ia sampai ke ujung belakang gandok.

Pandan Wangi terhenti ketika tiba-tiba ia melihat Gupita yang duduk tepekur sambil menggosok-gosok tangkai cambuknya di samping Gupala yang berbaring sambil berdendang.

“He,” tiba-tiba saja dendang Gupala terputus, “marilah,” sapa Gupala dengan serta-merta. “Apakah kau mendapat tugas untuk melihat tawanan kami?”

Gupita pun kemudian mengangkat wajahnya. Dilihatnya Pandan Wangi berdiri kaku sambil menundukkan kepalanya. Sementara beberapa orang pengawal yang bertebaran di halaman kebun belakang sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka duduk terkantuk-kantuk dan bahkan ada yang tidur mendekur bersandar pepohonan.

Gapala pun segera bangkit dan duduk, di samping Gupita. Sejenak dipandanginya saja wajah gadis yang tunduk itu. Sesaat kemudian ia berpaling ke arah Gupita yang masih juga berdiam diri.

Caption: Demikianlah, maka ketika Pandan Wangi sedang berdiam termangu-mangu di tangga pendapa rumahnya Gupita-lah yang berjalan mendekatinya, meskipun katanya berdebar-debar. Ia sudah mereka-reka alasan yang paling tepat untuk membawa Pandan Wangi meninggalkan padukuhan induk.

Tiba-tiba suasana menjadi kaku, seperti tiang-toang serambi gandok yang tegak tanpa bergerak sama sekali.

Demikian juga ketiga anak-anak muda itu. Gupala, Gupita, dan Pandan Wangi yang masih berdiri.

Namun kekakuan itu kemudian dipecahkan oleh suara teriakan Gupala. Sambil berdiri ia berkata, “He, kenapa tiba-tiba saja kita seperti dicekik hantu.” Kemudian kepada Pandan Wangi ia berkata, “Marilah, barangkali kau membawa perintah atau berita atau kau akan bersama-sama berdendang dengan kami di sini?”

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi ketika tampak olehnya solah anak yang gemuk itu, maka ia pun tersenyum.

“Ha, kau sudah tarsenyum,” berkata Gupala. Tetapi kata-katanya terputus karena Gupita menggamitnya.

Tetapi tanpa ragu-ragu Gupala malahan bertanya, “Kenapa? Apakah aku salah? Maksudku, aku ingin mempersilahkannya.”

“Hus,” desis Gupita, “kenapa kau? Aku tidak melarangmu.”

“Tetapi kau menggamit aku.”

Gupala mengerutkan keningnya. Dan sekali lagi ia melihat Pandan Wangi tersenyum.

“Kalau begitu,” berkata Gupala selanjutnya, “marilah. Duduklah di sini.”

Pandan Wangi masih berdiri di tempatnya.

“Kita bercakap-cakap,” berkata Gupala. “Tetapi, apakah kau sedang bertugas?”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak sedang bertugas apa pun.”

“Bagus. Duduklah. Kita berbicara tentang banyak hal. Tentang yang tidak menjemukan seperti kerjaku selama aku di sini. Menunggui sangkar yang meskipun berisi, tetapi tidak pernah berkicau.”

“Hus,” sekali lagi Gupita berdesis. Dan tiba-tiba saja wajah Pandan Wangi berkerut.

Perlahan-lahan Gupita berbisik, “Bukankah orang itu pamannya.”

“O,” Gupala menjadi gelisah, “tidak. Maksudku, bukan orang ini yang berkicau. Aku memang senang sekali burung. Dan aku ingin memelihara seekor burung di dalam sangkar, supaya berkicau setiap saat.”

Mau tidak mau Pandan Wangi terpaksa tersenyum pula. Hampir tanpa disadarinya ia melangkah maju mendekati kedua anak-anak muda itu. Sekilas dilihat wajah keduanya. Gupita yang tenang datar dan Gupala yang riang dan cerah.

“Keduanya pasti bukan saudara seperti yang mereka katakan,” berkata Paadan Wangi di dalam hatinya. “Keduanya pasti bukan anak gembala yang luar biasa itu. Aku kira keduanya adalah murid-muridnya. Saudara seperguruan.”

Tetapi langkah Pandan Wangi tertegun. Ia berdiri beberapa langkah dari kedua anak-anak muda itu ketika tiba-tiba Gupala bertanya, “Ataukah kau akan melihat-lihat seluruh halaman rumah ini? Marilah aku tunjukkan, barangkali kau ingin melihat apa yang ada di seputar rumah yang sudah tidak terpelihara lagi ini.”

Tetapi sekali lagi kata-kata Gupala terputus ketika Gupita berkata, “Rumah ini rumah Ki Argapati, ayah Pandan Wangi. Kalau kau ingin melihat-lihat, Pandan Wangi-lah yang seharusnya yang mengantar kau.”

“O,” Gupala menjadi semakin gelisah, “lalu, apa yang akan aku lakukan?”

Sekali lagi Pandan Wangi harus tersenyum melihat tingkah laku Gupala. Namun dengan demikian ia menjadi semakin mengenal jiwanya. Jiwanya yang selama ini tertekan oleh berbagai masalah, kesungguhan yang berlebih-lebihan. Lingkungan keluarga yang mengecewakannya setelah ia mengetahui keadaannya yang sebenarnya, perang dan ketegangan di bilik ayahnya yang sakit, maka sikap Gupala benar-benar merupakan kelainan yang segar. Itulah sebabnya, perasaan Pandan Wangi seolah-olah terbuka. Apalagi setelah diketahuinya bahwa api di bukit menorah yang lengkap ternyata ada di padepokan adbmcadangan dotwordpress dotcom. Angin yang silir telah menyusup ke pusat jantungnya. Kedua anak-anak muda itu memberikan nafas yang berbeda dari kehidupannya sehari-hari.

“Atau, kalau begitu,” Gupala tergagap, “duduklah di sini. Di dalam bilik ini tersimpan Ki Argajaya. Selama ini kami mendapat tugas untuk menungguinya siang dan malam. Berganti-ganti. Kadang-kadang harus berdua. Dan Tanah Perdikan ini serasa terlampau sepi bagi kami.”

“Kenapa terlampau sepi?” tiba-tiba Pandan Wangi bertanya.

“Di sini tidak ada penari, penabuh gamelan yang cakap dan tidak ada pula tayub yang meriah.”

“Hus,” desis Gupita.

Pandan Wangi kini tertawa. Katanya, “Tentu ada. Kalau keadaan tidak sepanas ini, kau dapat melihat gadis-gadis Menoreh menari diiringi oleh para penabuh yang cakap. Tetapi ayah memang tidak suka pada tayub.”

Gupala mengangguk, “Benar. Aku juga tidak suka, ayah juga tidak suka. Bahkan melarang tayub di wilayahnya.”

“Siapakah ayahmu?” tiba-tiba Pandan Wangi bertanya, “apakah bukan gembala tua itu?”

Sekali lagi Gupala tergagap. Sejenak ia terbungkam. Namun kemudian ia tertawa, “Tentu saja, ayah memang melarang tayub di wilayahnya. Wilayah ayahku memang tidak mungkin menyelenggarakan tayub karena rakyatnya terdiri dari kambing-kambing.”

Ketiganya tidak dapat menahan tertawa lagi. Gupita, Gupala, dan bahkan Pandan Wangi. Sejenak Pandan Wangi dapat melupakan kepahitan yang selama ini tersimpan di dalam hatinya tentang berbagai masalah yang serasa bertimbun-timbun di dalam dadanya.

Tanpa sesadarnya Pandan Wangi pun kemudian duduk di antara mereka. Wajahnya yang selalu suram itu menjadi cerah. Dan wajah Pandan Wangi yang cerah, adalah wajah yang menyentuh perasaan anak muda yang gemuk itu sampai ke pusat jantung.

Meskipun pembicaraan ketiga anak-anak muda itu masih belum terlampau lancar, namun pembicaraan yang berbeda dari pembicaraan yang setiap hari mencengkam perasaan Pandan Wangi itu, telah berhasil membuatnya sedikit gembira. Kadang-kadang ia tersenyum dan bahkan kadang-kadang ia tertawa.

Ternyata selingan yang demikian itu sangat dibutuhkan oleh Pandan Wangi. Terasa kesegaran merayapi dadanya. Seperti pada saat-saat ia pergi berburu bersama Kerti di hutan-hutan yang tidak terlampau lebat, selagi Tanah ini masih belum dibakar oleh api pertentangan di antara keluarga sendiri.

Dengan demikian, maka di hari-hari berikutnya Pandan Wangi kadang-kadang memerlukan menemui kedua gembala-gembala muda itu untuk sekedar berbicara tentang apa saja. Tentang Tanah Pendikan Menoreh, tentang bukit-bukit kapur, Sungai Praga dan tentang hutan perburuan yang menyenangkan.

“Apakah kau mau menunjukkan hutan itu kepadaku?” bertanya Gupala.

“Tentu,” jawab Pandan Wangi, “tetapi tidak sekarang.”

“Apakah salahnya kalau kita sekarang atau besok pergi ke sana?” bertanya Gupala.

“Tentu tidak mungkin.”

“Besok kita berangkat pagi-pagi benar, supaya sebelum tengah hari kita sudah kembali.”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya, “Aku tidak sampai hati meninggalkan Ayah yang terluka itu sekedar untuk melihat-lihat hutan perburuan.”

Gupala mengerutkan keningnya. Tetapi kepalanya kemudian terangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku pun tidak dapat meninggalkan pintu sangkar batu itu.”

“Hus,” desis Gupita.

“Maksudku, pintu yang tentu tidak disukai oleh penghuni ruangan itu.”

Pandan Wangi tidak menyahut.

“Tetapi sampai kapan aku harus berada di sini?”

“Tidak terlampau lama. Ayah akan membangun ruangan-ruangan yang kuat untuk menyimpan Paman dan Kakang Sidanti.”

“Kapan?”

“Ayah ingin berbicara dahulu dengan Paman dan Kakang Sidanti. Kalau mereka bersedia membantu ayah, maka ayah tidak akan merasa perlu membangun sangkar-sangkar itu.”

“Kalau tidak?”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun Gupala segera berkata, “Baiklah. Kita berbicara tentang hal lain lagi. Sudah tentu yang tidak menyangkut masalah-masalah yang tidak kau sukai.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

Dan Gupala pun kemudian berusaha untuk berbicara tentang masalah-masalah yang sama sekali tidak penting, namun yang dengan demikian dapat mengurangi ketegangan hati Pandan Wangi.

Namun pertemuan yang sering terjadi itu, telah memahat hati Gupala menjadi semakin dalam. Kadang-kadang anak yang pada umumnya selalu bergembira itu menjadi perenung. Kadang-kadang ia duduk sambil memandang jauh menerawang ke ketiadaan.

Gupita segera dapat menangkap perasaan adik seperguruannya. Kali ini agaknya Gupala tidak bergurau. Ia benar-benar telah terpikat oleh gadis Tanah Perdikan Menoreh.

Kadang-kadang hati Gupita sendiri menjadi berdebar-debar tanpa sebab. Sekilas membayang senyum Pandan Wangi yang tertahan-tahan di dalam kepahitan perasaan, setelah ia mengalami guncangan-guncangan yang tidak terkirakan.

Tetapi Gupita adalah seorang anak muda yang sudah terlampau biasa menahan hati. Ia merasa bahwa ia tidak berhak lagi untuk menilai kecantikan gadis Menoreh itu. Ia tidak mau ingkar pada kesediaannya untuk mengikatkan diri kepada seorang gadis yang ditinggalkannya di Sangkal Putung.

Karena itu, Gupita mencoba untuk bersikap lebih dewasa dari Gupala menghadapi persoalannya. Sehingga ia berusaha untuk menjauhkan segala kesan tentang perasaannya sendiri atas gadis itu. Itulah sebabnya, kini ia menyimpan serulingnya. Ia hampir tidak pernah lagi meniup seruling itu. Setiap nada yang dilontarkan oleh serulingnya akan dapat menimbulkan getaran-getaran hati yang paling tersembunyi sekalipun. Apalagi ia sadar, bahwa Pan¬dan Wangi pun tertarik pula kepada nada-nada serulingnya itu.

“Kakang,” pada suatu kali Gupala berkata dengan wajah yang bersungguh-sungguh kepadanya, “apakah Kakang Gupita mau menolong aku?”

Gupita menjadi heran. Karena itu maka ia bertanya, “Apakah yang harus aku tolong?”

Gupala menelan ludahnya. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan hendak mengusir kenangan yang tidak dikehendakinya.

“Tetapi aku tidak tahu, apakah Guru setuju atau tidak.”

“Apa?”

“Kakang,” suara Gupala menjadi semakin lambat.

“He, jangan seperti orang yang kelaparan. Aku tidak mendengar lagi suaramu.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi sangat gelisah, sehingga keringat dinginnya mengalir membasahi leher dan punggungnya.

“Katakan Gupala. Kalau aku dapat membantumu, aku akan membantu.”

“Ya, ya. Aku percaya.”

“Tetapi aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu. Apa kesulitanmu dan apakah keinginanmu.”

“Tetapi apakah guru tidak akan marah?”

“Kalau masalahnya masalah yang wajar, guru tentu tidak akan marah. Tetapi apa itu, katakanlah supaya aku dapat memberitahukan pertimbangan.”

“Itulah.”

“Kenapa itulah? Kau belum mengatakan apa-apa.”

Gupala menjadi semakin gugup. Kini keringatnya sudah menitik dari keningnya.

Beberapa kali bibirnya bergerak-gerak seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu, tetapi suaranya ditelannya kembali sebelum terucapkan.

Gupita melihat kegelisahan yang mencengkam adik seperguruannya itu. Meskipun ia belum pasti, tetapi ia dapat meraba apakah yang akan dikatakan oleh Gupala. Anak itu pada dasarnya tidak ragu-ragu untuk berbuat sesuatu. Ia berkata apa yang ingin dikatakannya, dan kadang-kadang ia melakukan apa saja yang menarik baginya tanpa pertimbangan. Tetapi tiba-tiba ia menjadi gelisah, bimbang dan seakan-akan tidak menentu lagi.

“Gupala,” berkata Gupita sareh, “tenangkan hatimu. Aku kira masalahmu adalah masalah yang penting, sehingga kau mendapat kesukaran untuk mengatakannya. Tetapi masalah yang penting itu pasti langsung menyangkut pribadimu sendiri.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Ya, memang menyangkut pribadiku langsung.”

“Aku sudah menduga. Tetapi katakanlah. Jangan ragu-ragu.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya tersendat-sendat, “Kakang, di sini tidak ada ayah tidak ada ibu. Yang ada hanyalah Kakang dan guru. Tetapi untuk mengatakannya kepada guru, aku masih ragu-ragu. Barangkali Kakang dapat menolongku.”

“Apakah aku harus mengatakannya kepada guru.”

“Tidak, bukan itu,” potong Gupala cepat-cepat. “Maksudku, aku ingin meyakinkan dahulu, apakah aku tidak sedang bermimpi. Apabila semuanya sudah pasti, barulah aku minta Kakang menyampaikannya kepada guru.”

“Lalu apakah sekarang yang akan aku lakukan?”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan minta tolong kepadamu Kakang. Aku ingin meyakinkan, apakah aku benar-benar tidak sedang bermimpi.”

“Ya, aku yakin, kau sekarang memang tidak sedang bermimpi.”

“Bukan, bukan itu. Aku kira kau sudah tahu maksudku.”

“Mungkin. Aku tahu masalahmu. Tetapi aku tidak tahu, cara yang bagaimana yang harus aku lakukan untuk meyakinkan kau.”

Gupala menelan ludahnya. Dengan suara parau ia berkata lirih, “Tolong Kakang, tanyakan kepada Pandan Wangi, apakah ia dapat mengerti perasaanku.”

Gupita mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu bergetar di dadanya. Sesuatu yang sama sekali tidak dikehendaki. Namun dengan sekuat tenaganya perasaan itu ditekannya dalam-dalam. Dengan sadar ia menghadapi keadaannya kini. Sekali lagi ia berkesimpulan, bahwa ia sama sekali sudah tidak berhak menilai Pandan Wangi, apalagi di hadapan Gupala.

Karena itu, maka tiba-tiba Gupita yang sudah terlampau biasa mengendalikan perasaannya itu tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Hem, begitulah hendaknya. Kau adalah seorang laki-laki. Kau harus berani menyatakan perasaanmu.”

“Tetapi, tetapi apakah Kakang Gupita tidak mengalami kesukaran pada masa-masa seperti ini?”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Hubungannya dengan gadis Sangkal Putung itu memang agak berbeda dengan hubungan Gupala dengan Pandan Wangi. Ia tidak perlu menyatakan apa pun kepadanya. Gadis itu seakan-akan langsung mengerti perasaannya, dan bahkan gadis itu pun langsung pula membuka hatinya. Tanpa kata-kata, sikapnya memang sudah meyakinkan. Bahkan kadang-kadang berlebih-lebihan menurut perasaan Gupita.

Tetapi Pandan Wangi bersikap lain. Pandan Wangi sama sekali tidak memberikan kesan apa pun terhadap Gupala. Bahkan setiap kali Gupita mengenangkan masa-masa permulaan ia mengenal gadis itu, dadanya berdesir. Ia melihat sesuatu tersirat di mata gadis itu, seperti ia pernah melihat mata gadis Sangkal Putung itu pula. Namun gadis ini kemudian menundukan kepalanya dan berjalan menjauh. Berbeda dengan sikap gadis Sangkal Putung itu. Ia langsung tertawa sambil mendekatinya dan berkata, “Inilah aku.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam.

“Kakang,” berkata Gupala kemudian, “aku minta tolong kepadamu, bukankah kau tidak berkeberatan? Kau dapat menemui Pandan Wangi di mana kau kehendaki, membawanya sendiri dan menanyakannya apakah ia dapat mengerti perasaanku.”

Gupita termenung sejenak. Tugas itu pasti akan terasa sangat berat baginya. Ia harus menyatakan perasaan seorang anak muda kepada Pandan Wangi. Tetapi anak muda itu adalah Gupala.

“Apakah kelak aku dapat membedakan, bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang aku ucapkan tidak atas namaku sendiri, tetapi atas nama Gupala?” ia bertanya kepada diri sendiri di dalam hatinya. Namun kemudian terasa hatinya itu menghentak, “Aku harus menolongnya. Aku sama sekali tidak berkepentingan.”

Karena Gupita tidak segera menjawab, maka Gupala bertanya dengan cemasnya, “Apakah kau berkeberatan?”

Dengan serta-merta, Gupita menjawab, “Tidak, aku tidak berkeberatan. Tetapi bagaimana dan kapan aku mendapat kesempatan itu.”

“Kapan saja,” jawab Gupala, “kau dapat berpura-pura melihat-lihat hutan perburuan atau melihat apa yang dapat ditunjukkannya kepadamu.”

“Bersama kau?”

“Tentu tidak. Tentu tidak.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tetapi jangan tergesa-gesa. Aku harus mendapatkan waktu yang paling baik.”

“Tentu tidak. Tetapi jangan terlampau lama.”

“Lalu, bagamana dengan bilik itu?”

“Serahkan kepadaku. Aku mempunyai banyak kawan. Para pengawal akan siap membantuku kalau terjadi sesuatu.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Hampir tanpa disadarinya ia berkata, “Baiklah, aku akan menanyakan kepadanya tentang hal itu. Besok atau lusa atau kapan saja aku mendapat kesempatan.”

“Terima kasih,” desis Gupala, “tetapi kau harus pandai menyusun kalimat, agar gadis itu tidak mempunyai kesempatan untuk menolaknya.”

Gupita tidak menjawab. Tetapi ia sudah membayangkan kesulitan yang bakal dihadapinya. Dalam masalah yang wajar saja, ia tidak akan dapat menyatakan sesuatu dengan mudah. Apalagi dalam masalah yang sulit serupa itu, meskipun bukan untuk kepentingannya sendiri.

Namun ia merasa berkuwajiban pula untuk menolong adik seperguruannya betapapun beratnya.

Dengan demikian, maka Gupita selalu berusaha mencari kesempatan untuk dapat berbicara kepada Pandan Wangi tanpa terganggu. Tetapi ia pun selalu berusaha untuk tidak menumbuh¬kan salah paham kepada gadis itu, tentang tingkah lakunya sendiri.

Di halaman rumah itu, Gupita sering menyingkir, apabila Pandan Wangi berkunjung ke ujung gandok. Ia hanya ikut menemuinya sebentar, kemudian dengan alasan apa pun ia berusaha menjauhkan dirinya.

Meskipun demikan Gupala tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengatakan sesuatu, sehingga ia benar-benar tergantung kepada kakak seperguruannya.

“Jangan terlampau lama,” berkata Gupala pada suatu saat kepada Gupita. “Setiap kali kau malah meninggalkan kami sehingga aku menjadi seperti orang bisu karenanya.”

Gupita menganggukanggukkan kepalanya. Ia memang harus melakukannya. Kalau ia menunda-nunda waktu, maka ia sendiri akan selalu merasa dibebani oleh kewajiban yang seakan-akan tidak akan pernah terselesaikan.

“Besok aku akan minta kepadanya untuk menunjukkan daerah-daerah yang asing bagiku. Aku akan mencari kesempatan.”

“Terima kasih, Kakang. Aku kira memang lebih mudah mengatakan masalah orang lain dari masalah diri sendiri.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya.

Demikianlah, maka ketika Pandan Wangi sedang berdiri termangu-mangu di tangga pendapa rumahnya, Gupita-lah yang berjalan mendekatinya, meskipun hatinya berdebar-debar. Ia sudah mereka-reka alasan yang paling tepat untuk membawa Pandan Wangi meninggalkan padukuhan induk. Ia ingin mendapat kesempatan yang benar tidak akan terganggu. Kalau ia tidak berhasil, dan bahkan apalagi menumbuhkan salah paham, maka kesan yang membayang di wajah Pandan Wangi akan segera dapat dilihat orang lain. Kesan itu akan dapat menumbuhkan berbagai pertanyaan pada orang-orang lain yang melihatnya. Tetapi apabila mereka hanya berdua, maka ia akan mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalah pahaman itu.

“Pandan Wangi,” berkata Gupita kemudian, “apakah kau pernah mendengar pesan Ki Argajaya kepada ayah?”

“Apakah pesan itu?” bertanya Pandan Wangi.

“Pamanmu minta agar ayah mencari puteranya yang ikut terlibat dalam persoalan Tanah Perdikan ini. Ia minta agar Ki Argapati sudi memaafkannya.”

“Tentu, ayah tentu akan memaafkannya. Ia masih terlampau muda, sehingga sebenarnya ia masih belum tahu apa yang telah terjadi.”

“Tetapi bukankah anak itu sampai saat ini belum kita ketahui, di mana ia berada?”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengharap ia berada di rumahnya.”

“Apakah kau yakin?”

“Tentu tidak. Tetapi Bibi ada di rumah. Seorang penghubung telah menemuinya, dan menyatakan pesan ayah kepadanya, bahwa bibi tidak perlu cemas. Ayah tidak menyangkutkannya dengan kesalahan paman.”

“Sudah lama?”

“Belum. Tetapi penghubung berikutnya, ternyata tidak kembali kepada ayah.”

“Kenapa?”

“Memang masih ada satu dua orang yang berkeliaran di padukuhan-padukuhan kecil. Mereka masih saja menyebarkan dendam dan kekisruhan.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata, “Pandan Wangi, apakah tidak sebaiknya kita bertanya kepada Bibi Argajaya, apakah puteranya itu ada di rumah.”

“Ayah sudah bertanya lewat penghubung yang pertama. Tetapi bibi menjawab, bahwa anak itu belum juga pulang sejak berkobar peperangan.”

“Tetapi sekarang keadaan sudah agak tenang. Sebenarnya bahwa Ki Argapati pun minta tolong kepada ayah untuk mencarinya, dan ayah sendiri masih belum sempat meninggalkan rumah ini.”

“Kaulah yang harus mencarinya?”

“Tidak harus. Tetapi aku ingin menolong ayah dan pamanmu. Apakah kau berkeberatan?”

“Kenapa berkeberatan?”

“Maksudku, apabila kita bersama-sama pergi ke rumah pamanmu?”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya wajah anak muda itu. Tersirat suatu kenangan, pada saat ia hampir saja terperosok ke dalam bencana yang tidak terbayangkan, ketika ia berhasil melepaskan diri dari tangan beberapa laki-laki yang liar dan buas karena pertolongan kakak dan pamannya. Saat itulah ia melihat gembala ini.

Tiba-tiba Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia berpaling ke arah ujung gandok. Tetapi ia tidak dapat melihatnya, karena pagar dan sudut pendapa yang menjorok di sebelah regol samping.

Pada saat yang mendebarkan hati itu, Pandan Wangi belum pernah melihat gembala yang seorang lagi. Yang gemuk tetapi pandai berkelakar, meskipun agak kurang hati-hati.

“Bagaimana?” desak Gupita, “mumpung masih pagi.”

“Apakah ayah akan mengijinkan?” desis Pandan Wangi.

“Kita hanya pergi sebentar. Tetapi kalau kita berhasil membawanya menghadap, ayahmu dan pamanmu akan sangat senang sekali.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang hanya sebentar apabila ia pergi berkuda. Tetapi apakah sudah tidak akan ada gangguan apa pun di perjalanan.

Sejenak gadis itu berpikir. Sekali-sekali ia berpaling, seakan-akan ia ingin meyakinkan, bahwa ayahnya tidak akan berkeberatan apabila ia pergi sejenak ke runah pamannya, untuk mencari adik sepupunya.

Dalam keragu-raguan itu, terlintas bayangan-bayangan yang menahannya. Tetapi hasrat di dasar hatinya semakin lama menjadi semakin kuat mendorongnya pergi.

“Sudah lama aku tidak melihat tlatah Menoreh,” katanya di dalarn hati. “Seandainya ada gangguan diperjalanan, aku kira aku bersama Gupita akan mempunyai waktu dan kesempatan untuk melepaskan diri. Peronda-peronda pasti akan hilir-mudik di segala jalan-jalan di Tanah Perdikan Menoreh.”

Karena itu, maka tiba-tiba Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Ada dorongan yang lain, kecuali keinginannya untuk melihat-lihat wilayahnya dan sekedar untuk menemukan adik sepupunya.

“Baiklah,” katanya kemudian, “aku akan berkemas.”

“Aku akan memberitahukan kepada ayah. Apalagi Ki Samekta dan Ki Kerti tidak sedang berada di halaman ini.”

“Mereka tidak meronda. Mereka ada di banjar,” jawab Pandan Wangi.

“Karena itu, aku akan memberitahukannya kepada ayah, supaya ia mengerti, bahwa halaman ini sedang kosong.”

“Terserahlah. Tetapi aku tidak akan minta ijin kepada ayah. Aku kira ayah tidak akan mengijinkan. Aku hanya akan mengatakan kepada ayah, bahwa aku akan keluar sebentar, supaya tidak mencari aku.”

“Baiklah,” sahat Gupita.

Maka keduanya pun segera mempersiapkan diri. Menyiapkan kuda masing-masing, dan bukan hanya sekedar mempersiapkan yang tampak oleh mata tetapi terlebih-lebih lagi, Gupita sedang menyiapkan susunan kalimat-kalimat yang akan dikatakannya kepada Pandan Wangi atas nama Gupala.

Ketika Gupita sudah siap, dan Pandan Wangi sudah menunggunya di halaman. Gupala berbisik di telinga kakak seperguruannya, “Kau harus berhasil.”

Gupita menganggukkan kepalanya. Namun ia masih berpesan juga, “Hati-hatilah dengan Ki Argajaya.”

“Percayakan ia kepadaku.”

Gupita pun kemudian meninggalkan halaman rumah Kepala Tanah Perdikan yang sudah dihuni kembali itu, menyusur jalan padukuhan, menuju ke rumah Ki Argajaya. Sejenak kemudian mereka telah melampaui gardu peronda yang terakhir. Kepada para penjaga Pandan Wangi berpesan, bahwa ia akan melihat-lihat padukuhan-padukuhan kecil di sekitar padukuhan induk itu.

“Apakah masih ada hubungan yang ajeg antara para pengawal di sini dan mereka yang ditempatkan di padukuhan-padukuhan lain setiap saat?” bertanya Gupita.

“Ya. Setiap kali penghubung-penghubung dan peronda-peronda hilir-mudik,” jawab Pandan Wangi.

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebenarnya ia menjadi cemas. Kalau setiap kali ia bertemu dengan para peronda dan penghubung di sepanjang jalan, apakah ia akan men¬dapat kesempatan untuk mengatakan maksudnya kepada Pandan Wangi?

Meskipun demikian Gupita masih tetap mengharap, bahwa ia akan dapat melakukan tugasnya dengan baik.

Demikianlah maka mereka berdua berpacu dengan kencangnya menuju ke rumah paman Pandan Wangi. Mereka menyusur jalan yang berbatu-batu, namun kadang-kadang berdebu tebal. Sawah-sawah di sebelah-menyebelah jalan kelihatan sangat kurang terpelihara. Parit-parit menjadi kering, dan rerumputan tumbuh dengan liarnya.

“Keadaan ini harus segera diakhiri,” desis Pandan Wangi, “Parit-parit harus segera mengalir dan sawah-sawah harus ditanami. Kalau keadaan ini berlarut-larut, maka bahaya paceklik yang dahsyat tidak akan dapat dicegah lagi.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti kecemasan yang merayap gadis itu. Sebagai anak satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang masih dapat diharap, maka Pandan Wangi sudah sewajarnya untuk langsung berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas tanahnya.

Tetapi hal itu ternyata kurang menarik perhatian Gupita. Angan-angannya selalu dipenuhi oleh kalimat-kalimat yang akan disampaikannya kepada Pandan Wangi, atas nama adik seperguruannya.

“Menoreh memang memerlukan setiap tenaga yang ada,” berkata Pandan Wangi. Dan Gupita pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Kenapa kau diam saja?” bertanya Pandan Wangi. Baginya Gupita bukannya seorang pendiam. Meskipun tidak sebanyak Gupala namun anak muda ini dapat juga berbicara tentang berbagai macam masalah. Tentang sawah, tanaman, ternak dan bahkan sampai ke jalan-jalan yang silang-menyilang di atas Tanah perdikan ini.

“Aku sedang berpikir tentang adik sepupumu,” jawab Gupita.

“Kita akan segera melihat, apakah ia ada di rumahnya.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ia masih terlampau muda.”

“Ya,” jawab Pandan Wangi.

“Ia masih agak lebih muda dari Gupala.”

“Ya. Aku kira jaraknya ada beberapa tahun.”

“Ya. Apalagi Gupala sekarang. Ia sudah menjadi semakin dewasa.”

“Kenapa sekarang?” bertanya Pandan Wangi.

“Ada perubahan yang terjadi atas dirinya selama ia berada di atas Tanah Perdikan ini.”

“Apa?”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mendapat jalan untuk mengatakannya. Tetapi tiba-tiba saja terasa lehernya seakan-akan tersumbat.

“Perubahan apa yang sudah terjadi pada adikmu itu?” Pandan Wangi mendesak.

Tetapi Gupita menggelengkan kepalanya, “Aku hanya menduga-duga saja.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia merasakan bahwa tidak seluruh perasaan Gupita dituangkannya. Sesuatu pasti masih tersimpan di dalam hatinya.

Namun Pandan Wangi tidak bertanya lagi. Dibiarkannya Gupita menemukan kesempatan untuk mengatakan yang masih bersisa di dalam hatinya.

Meskipun demikian terasa juga jantung Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Betapa ia ingin mengusir getar yang menyentuh-nyentuh batinnya, namun setiap kali terasa sesuatu telah mengguncang isi dadanya.

Pandan Wangi terperanjat ketika tiba-tiba saja Gupita bertanya, “Apakah rumah pamanmu masih jauh?”

Pandan Wangi tergagap. Dengan serta-merta ia menjawab, “Ya. Masih cukup jauh.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilontarkannya pandangan matanya ke persawahan di sekitarnya. Persawahan yang tidak terpelihara.

Tetapi setiap kali ia ingin menyampaikan pesan Gupala terasa lehernya seakan-akan tersumbat. Bahkan kalimat-kalimat yang sudah disusunnya rapi, menjadi pecah berserakan seperti awan dihembus
angin yang kencang.

“Kalau aku memang tidak berkepentingan apa pun, kenapa aku menjadi begitu bodoh dan pengecut,” ia mencoba memaksa dirinya untuk segera sampai pada persoalaanya. Namun mulutnya serasa benar-benar terkunci, sehingga yang dapat dilakukan hanyalah sekedar menelan ludahnya.

“Kita masih akan melampaui dua bulak panjang,” berkata Pandan Wangi.

“O,” Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dengan kuda, jarak itu tidak akan terlampau lama dilampaui.

Dalam pada itu, ia berkata kepada dirinya sendiri, “Ternyata aku masih belum siap benar-benar. Biarlah, nanti setelah kami kembali dari rumah Ki Argajaya.”

Kuda-kuda itu pun kemudian berpacu semakin cepat. Padukuhan yang berada di depan mereka sudah menjadi semakin dekat, sehingga sejenak kemudian mereka telah sampai ke mulut lorong yang memasuki padukuhan itu.

Seorang peronda yang berada di gardu di regol padukuhan itu pun berdiri, sedang kawannya yang lain yang bertugas di luar regol sudah lebih dahulu merundukkan tombaknya.

Tetapi ketika mereka melihat bahwa yang berkuda itu adalah Pandan Wangi, maka mereka pun kemudian menepi. Meskipun demikian petugas yang berdiri di luar regol itu masih bertanya, “Kemanakah kau akan pergi?”

“Aku hanya sekedar melihat-lihat,” jawab Pandan Wangi.

“Hati-hatilah,” berkata penjaga itu, “keadaan masih belum cukup baik. Satu-dua orang dari mereka, masih saja melakukan pengacauan dalam keputus-asaan.”

Sebelum Pandan Wangi menjawab, orang yang lain telah berkata, “Sebaiknya kalian singgah di sini saja. Kalian akan mendapatkan apa saja yang kalian inginkan. Degan kambil ijo, buah-buahan yang lain, sawo, duku dan salak? Di sini kalian tinggal mengambil langsung dari pohonnya.”

Pandan Wangi tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih. Tetapi aku akan meneruskan perjalanan.”

“Memang berbahaya. Kadang-kadang orang-orang yang tidak terduga-duga muncul dari balik gerumbul-gerumbul. Itu akan membahayakan.”

Pandan Wangi tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Gupita yang menegang. Namun kemudian ia berkata, “Kami akan berhati-hati. Dan kami memang tidak akan pergi terlampau jauh.”

“Kau tahu,” berkata penjaga itu, “padukuhan di seberang bulak itu adalah padukuhan Ki Argajaya. Banyak orang di sekitar rumahnya yang masih tetap setia kepadanya. Dalam keadaan sehari-hari mereka tampaknya sudah benar-benar menyerah, dan tidak akan berbuat apa pun. Namun sudah tiga orang di antara kita yang hilang. Benar-benar hilang tidak berbekas. Bahkan seorang penghubung Ki Argapati pun pernah hilang pula di sekitar padu¬kuhan itu.” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Ki Samekta pernah datang ke padukuhan itu dengan sepasukan pengawal. Tetapi kita tidak menemukan apa-apa selain rumah-rumah yang kotor dan tua, petani-petani miskin yang ketakutan dan anak-anak muda yang kehilangan pegangan.”

Pandan Wangi tidak segera menjawab.

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 9 November 2008 at 20:30  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-48/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Upsss…. belum ada ya…
    Oke deh……….
    tengkyu.

  2. trus kpan neh yg 48…? Gak tahan nahan penasaran neh…

  3. matur suwun ki gede 🙂

  4. Ki Dede, matur nuwun sanget…

  5. Tidak ada yang bisa diucapkan kecuali ….teng kiyu banget…buat DD and the genk.

  6. I’am proud with ADBM Crew. Thanks guys.

  7. waaah D2, maksudnya pesta bloger tuh sepertinya untuk lebih mengukuhkan dan mengarahkan para bloger supaya blog nya lebih positif dan bermanfaat untuk masyarakat.
    Maka temanya itu “BLOGGING FOR SOCIETY”..
    btw sifatnya bkn undangan, tapi pendaftaran… cuma dibatesin 1000 blog pendaftar pertama aja yg bisa ikutan..

  8. Oh iya, bwat keterangan lengkapnya bisa diliat di http://pestablogger.com/

    btw, gambarnya Sekar Mirah sama Pandan Wangi bertarung gitu,… aku bener-bener dah gk inget ee ceritanya…

    D2: Kami ngestreni aja, Mas. Terus terang kami belum berani tampil di dunia riil.

  9. Maju terus Mas DD dkk.
    APDBM semakin top markotop…

  10. buku 48 di progress belum ada yang retype ya??

    saya bajak deh, satu buku maksimal besok pagi sudah terlontar ke luar dari komputer saya.

    DD: OK, tak enteni prasetyamu Kakang Manahan.

  11. mohon maaf, kali ini saya ngaret seperti karet yang berderet-deret karena kepepet.

    setengah jilid 048 sudah saya e-mail, setengahnya nanti malam sudah jadi.

    sekali lagi maafkanlah karena aku……

  12. retype jilid 48 akhirnya sudah dapat diupload. baru sekarang lebar pitanya normal kembali.

  13. Kangmas sekalian.. Kok dereng medal tho retype ipun.. Kakang manahan sampun dugi dereng nggih?

  14. Sederek moderator,

    Bisa gak ya saya dapat link-nya file djvu jilid 048 dan 037. Karena yang sudah saya unduh dahulu ternyata rusak.

    Matur nuwun

  15. hikksss……..
    Gupala kok percis karo Ki Menggung ya…????
    katene nembung Pandan Wangi wae ndadak ngongkon Gupita.
    Lha ndisik Ki Menggung ngutus kula nembungake Ni Padmi,
    eh……..malah nyantol dewe.

    • ealah jebul ngono

      • halah, dadi kelingan guYONane Nyi Padmi rikolo isih ru-TIN
        dolan samBANG padepokan GSeta.

        ki Gembleh, ki AS….pengen dapet boCORan, he10x…tunggu
        sebentar, tak eling2 sik ya Ki ???

  16. hmmmm…
    jadi ingat anak tetangga yang nuakalnya bukan main..
    tidak ada tempat yang aman untuk coretan spidol atau pensil warnanya
    meskipun begitu.., tetap lanjutkan…..
    ha ha ha ….
    selamat pagi Ki AS dan Ki gembleh

    • ya, ya, selamat pagi ki satpam nakal 😛

      • sugeng NAkaL sedaya…… 😛 😛

        • nggih ki nakal sugeng gundul hihaaa

          • harak inggih sami nakal sedaya to Ki Menggung….???

            • wis… jan…
              ancene nuakal kabeh….

              • nakal kabeh ora dadi ngopo, sing penting ojo sampe satpam kabeh opo maneh gembleh kabeh 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: