Buku 47

Dalam pada itu Sutawijaya berkata pula, “Anggaplah bahwa kedatanganku ini hanya sekedar memberitahukan, bahwa aku akan segera menjadi tetangga Tanah Perdikan ini. Ki Gede dan aku nanti akan dapat membuat jembatan yang melangkahi Sungai Praga, sehingga hubungan kami akan menjadi semakin baik.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih terlalu lemah, tetapi nalarnya telah mampu mengungkap semua pembicaraan Sutawijaya, sehingga kemudian Ki Argapati itu berkata dalam nada yang datar, “Maaf, Anakmas Sutawijaya. Mungkin aku mendahului Anakmas. Tetapi sebaiknya aku memang mengatakannya supaya tidak menjadi teka-teki yang tidak terjawab nanti, apabila Angger telah meninggalkan Tanah Perdikan ini.”

Ketika Ki Argapati berhenti sejenak, Sutawijaya menjadi berdebar-debar.

“Anakmas, kalau aku tidak salah menanggapi pembicaraan Anakmas, maka di seberang Kali Praga akan segera tumbuh suatu padukuhan baru. Padukuhan yang dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan dan puteranya, pasti bukan sekedar padukuhan yang kecil. Tetapi aku yakin bahwa padukuhan itu akan segera berkembang.” Ki Argapati berhenti sejenak, namun kemudian dilenjutkannya setelah menarik nafas panjang-panjang, “Bagiku Anakmas, perkembangan daerah baru itu akan memberikan banyak keuntungan. Setidak-tidaknya kami akan dapat membuka hubungan yang saling menguntungkan. Apa yang tidak kami punyai di sini, sedangkan yang tidak kami punyai itu ada berlebih-lebihan di tempat Anakmas, maka pasti bahwa Anakmas tidak berkeberatan untuk memberikannya kepada kami, dan sebaliknya. Tetapi yang menjadi pertanyaan kami, apakah Ki Gede Pemanahan sudah mendapat ijin, maksudku ijin yang sebenarnya ijin, dari Ayahanda Sultan Hadiwijaya?”

Sutawijaya tidak segera menyahut. Dibiarkannya Ki Argapati untuk berkata selanjutnya, “Menilik ceritera Anakmas, agaknya Ki Gede Pemanahan telah menyatakan sikapnya tanpa menghiraukan Sultan Pajang lagi. Apakah dengan demikian masalahnya tidak akan berkepanjangan?”

Namun tiba-tiba Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Banyak masalah yang dapat kami persoalkan Ki Gede. Tetapi aku tidak ingin mengganggu Ki Gede saat ini. Biarlah apa yang aku katakan sekedar merupakan bahan pembicaraan Ki Gede beserta para pemimpin Tanah Perdikan ini.”

Argapati menarik nafas dalam-dalam pula. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah, Anakmas. Kami memang tidak akan mampu berbuat banyak saat ini, selagi masalah kami sendiri masih belum selesai. Aku sudah mendapat laporan, bahwa Sidanti dan Argajaya menunggu penyelesaian. Para pengungsi yang harus kembali ke tempatnya masing-masing, dan masih banyak lagi.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa untuk sementara persoalan yang dikemukakan kepada Ki Argapati yang terluka itu sudah cukup. Meskipun masih ada masalah yang penting biarlah disampaikan oleh gembala tua itu. Karena itu maka ia pun berkata, “Ki Gede, meskipun belum semua masalah dapat aku katakan, namun aku merasa beruntung sekali mendapat kesempatan bertemu dengan Ki Gede. Apa yang sudah aku katakan akan menjadi bahan pertimbangan Ki Gede.”

Ki Gede mengangguk-angguk pula. “Baiklah anakmas.” Ki Gede berhenti sejenak. Namun tiba-tiba dipandanginya gembala tua yang duduk terangguk-angguk sambil berkata, “Anakmas, apakah Ki Gede Pemanahan tidak pernah menyebut perguruan Windu Jati dalam hubungannya dengan usahanya membuka alas Mentaok.”

Pertanyaan itu telah mengejutkan gembala tua itu. Namun kesan itu hanya melintas sekejap di wajahnya.

Sutawijaya sendiri hanya termangu-mangu saja. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ki Argapati. Ki Argapati yang terluka itu sempat tersenyum, katanya, “Mungkin Anakmas belum pernah mengenal Padepokan Windu Jati. Padepokan yang selalu diliputi oleh teka-teki.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Ya, Ki Gede, aku memang belum mengenal Padepokan Windu Jati.”

“Sudahlah, Anakmas,” berkata Ki Argapati kemudian, “jangan hiraukan padepokan itu. Mungkin Ayahanda Ki Gede Pemanahan sudah memperhitungkannya.”

“Kini,” berkata Sutawijaya kemudian “aku minta diri.”

Meskipun Ki Argapati mencoba menahanmya untuk satu dua hari, namun Sutawijaya berkeras untuk meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, sehingga akhirnya Ki Argapati harus melepaskannya.

Pada hari itu juga Sutawijaya benar-benar meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, selelah ia minta diri pula kepada Gupita dan Gupala. Sekali lagi Sutawijaya memperingatkan bahwa sebentar lagi alas Mentaok akan menjadi sebuah negeri yang tidak akan kalah ramainya dari Pati.

Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga pun ikut bersama Sutawijaya kembali ke Alas Mentaok. Dengan demikian pengawasan terhadap Sidanti kini dilakukan oleh sekelompok pengawal pilihan, langsung di bawah pengamatan gembala tua itu.

Sementara itu Gupala yang duduk bersandar tiang di ujung belakang gandok bersungut-sungut, Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga telah bebas dari pekerjaan yang menjemukan ini. “Seandainya diperkenankan oleh guru aku akan mengikutinya sekarang. Aku sudah jemu sekali disiksa oleh tugas ini.”

Gupita berpaling. Dipandanginya wajah adik seperguruannya itu. Kemudian katanya, “Apakah kau sudah mencoba mengatakannya kepada guru?”

“Aku yakin, bahwa kita pasti masih harus berada di tempat ini sampai waktu yang tidak terbatas.”

Gupita mengerutkan keningnya sejenak. Kemudian katanya, “Apakah kau sudah benar-benar ingin mennggalkan tempat ini. Kalau kau memang sudah tidak kerasan di sini, biarlah aku yang minta ijin kepada guru. Aku masih mengharap bahwa kita akan diijinkannnya mengusul Sutawijaya.”

Gupala tidak segera menyahut.

“Biarlah guru tinggal di sini sementara.”

Gupala masih berdiam diri.

“Bagaimana? Bagiku tidak ada yang mengikat di atas Tanah ini. Kau juga agaknya tidak ada sesuatu yang dapat menarik perhatianmu.”

Gupala yang bersungut-sungut itu menjadi semakin muram. Namun tiba-tiba ia tersenyum, “Ah, kau.”

“Jadi bagaimana?”

“Biarlah aku di sini untuk sementara.”

Gupita pun tertawa pula. Ia tahu apa yang tergetar di dalam hati Gupala meskipun ia tidak tapat menyembunyikan kepada diri sendiri, getaran-getaran yang serupa. Namun Gupita adalah seseorang yang sudah biasa mengendalikan dirinya. Bahkan agak berlebih-lebihan.

Sementara itu, Alas Mentaok memang sudah menjadi semakin ramai. Hubungan dengan padukuhan-padukuhan di sekitarnya menjadi semakin luas. Namun perkembangan Alas Mentaok itu tidak lepas dari pengamatan Pajang. Meskipun daerah itu akhirnya diserahkan dengan resmi kepada Ki Gede Pemanahan, namun persoalan pada tingkat pertama dalam hubungannya dengan tanah itu, sama sekali kurang menguntungkan, sehingga seakan-akan ada sepucuk duri yang tajam membatasi antara Pajang dan Alas Mentaok.

Seperti yang dicemaskan oleh guru Gupita dan Gupala, maka sebenarnyalah pimpinan prajurit di Pajang telah memerintahkan seorang senopati yang bernama Untara untuk mengamati perkembangan daerah baru itu.

Dalam pada itu terbersit pula kecemasan di dada senapati muda itu. Adiknya, Agung Sedayu yang pergi ke daerah Barat melintasi hutan Mentaok dan menyeberangi sungai Praga bersama Swandaru dan gurunya, Kiai Gringsing, masih belum kembali. Apabila dalam perjalanan mereka kembali, mereka menentukan Alas Mentaok sudah menjadi kota yang ramai, mereka pasti akan tertahan di sana. Tetapi Untara tidak berbuat sesuatu. Ia hanya dapat menunggu dalam kecemasan.

Sementara itu, para pengawal di tanah Perdikan Menoreh masih sibuk membersihkan dirinya. Di sana-sini kadang-kadang masih terjadi benturan-benturan kecil. Tapi pada umumnya mereka yang selama ini telah tersesat mempercayai seruan pengampunan Ki Gede Menoreh.

Argajaya yang dikenal berhati sekeras batu-batu padas, ternyata mulai memandang ke dalam dirinya sendiri. Tanah Perdikan Menoreh kini seakan-akan telah menjadi abu, dibakar oleh api pertentangan di antara keluarga sendiri, sehingga untuk membangun Menoreh, diperlukan semua kemampuan, yang ada di atas Tanah Perdikan itu. Harta, benda, tenaga maupun pikiran.

Gembala tua yang masih berada di Tanah Perdikan Menoreh itu pun menjadi heran ketika ia melihat perubahan sikap Argajaya. Pada suatu kesempatan, atas permintaan Ki Argapati, gembala tua itu menemui Ki Argajaya.

Meskipun perasaan tinggi hati masih juga nampak pada sikapnya, namun Argajaya sudah mulai bersikap lain.

“Ki Argapati masih terluka,” berkata gembala tua itu, “sehingga ia masih belum sempat mengunjungimu.”

“Aku tidak mengharap kunjungan siapa pun,” berkata Argajaya.

“Aku tahu,” berkata gembala tua itu, “tetapi adalah wajar sekali, bahwa Ki Argapati selalu memperhatikan kau. Kau adalah saudara muda daripadanya.”

Argajaya tidak menyahut. Kepalanya menjadi tertunduk dalam-dalam.

“Aku memang mendapat pesan dari Ki Argapati untuk menemui dan menyampaikan kepadamu akan hal itu.”

Ki Argajaya masih betdiam diri. Tetapi dari sikapnya, gembala tua itu dapat meraba, bahwa Argajaya yang keras hati itu sudah mulai melihat kesalahan sendiri.

Ketika Ki Argajaya kemudian mengangkat wajahnya, gembala tua itu menunggu, apakah yang akan dikatakannya.

“Kiai,” berkata Ki Argajaya itu kemudian, “apakah yang dikatakan oleh Kakang Argapati?”

“Ki Argapati pernah berkata kepadaku bahwa semua tenaga dan kekuatan oang yang masih ada harus dikerahkan untuk membangun kembali Tanah Perdikan ini.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mungkin Kakang Argapati benar-benar berkata demikian. Tetapi itu tidak ditujukan kepadaku. Kakang Argapati pasti lebih menghargai Kiai dan murid-murid Kiai itu, meskipun mereka orang asing bagi kami di sini.”

“Tidak. Bukan begitu. Semua tenaga yang masih mungkin dipergunakan harus dipergunakan. Apalagi tenaga putra-putra Menoreh sendiri.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya lebih ditujukan kepada diri sendiri, “Tetapi tidak untuk aku.”

“Kenapa?” bertanya gembala tua itu. “Kalau kau sudah melihat kesalahan sendiri, kemudian bersedia untuk memperbaiki, apakah salahnya?”

“Apakah aku pernah bersalah?”

“Kepada Tanah Perdikan ini dan kepada Ki tAirgapati?”

Sekali lagi Argajaya menundukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berdesis, “Ya. Aku ikut membakar Tanah ini. Itu semata-mata karena kebodohanku dan keragu-raguan Kakang Argapati sendiri. Kalau ia tidak membiarkan kami dicengkam oleh kegelisahan karena permusuhan dengan orang-orang Pajang, maka kami tidak akan berbuat begitu bodoh.”

“Tetapi perhitungan siapakah yang benar? Orang-orang Pajang pun tidak akan begitu bodoh menyeberangi sungai Praga tanpa memperhitungkan bahaya yang mengancam di seberang. Apalagi Pajang yang belum sempat tegak benar itu sudah mulai goyah kembali.”

Ki Argajaya tidak segera menjawab.

“Ternyata Ki Argapatti adalah seorang yang berpandangan sangat tajam. Dan kau harus berbangga karenanya, bahwa kau mempunyai seorang kakak seperti itu.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku tahu, Kakang Argapati adalah seorang yang berpijak pada ketentuan yang sudah digariskannya. Dan itu akan berlaku bagi siapa pun, meskipun bagi adiknya sendiri. Siapa yang bersalah akan menerima hukuman. Aku pun pasti akan dihukumnya.” Argajaya berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi aku tidak akan ingkar. Aku akan menjalaninya dengan dada tengadah. Itu sudah menjadi akibat yang aku perhitungkan.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Teringat olehnya sikap Argajaya di ujung Gunung Baka, di tepian Kali Opak. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi ujung tombak Sutawijaya, meskipun tombaknya sendiri sudah terlepas dari tangannya. Ia masih berani menantang agar anak muda itu membunuhnya. Baginya memang lebih baik mati daripada mengaku kalah.

Sikap itu kini masih juga terasa, meskipun nadanya sudah lain. Kini ia melihat kesalahan itu ada di dalam dirinya. Tetapi dengan jantan ia bertanggung jawab atas kesalahannya.

“Ki Argajaya,” berkata gembala itu “pada suatu saat Ki Argapati akan memanggilmu. Ia ingin berbicara langsung dengan kau sendiri.”

“Ia akan memberitahukan hukuman apakah yang dipilihnya untukku.” Ki Argajaya berhenti sejenak. Setelah menelan ludahnya ia meneruskan, “Kiai, akulah yang telah melakukan kesalahan ini. Karena itu, aku minta tolong kepadamu apabila Kiai masih sempat untuk menemukan anakku. Ia masih terlampau muda. Mungkin Kakang Argapati mau memaafkannya. Ia hanya sekedar hanyut saja ke dalam arus yang tidak dimengertinya.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Baik. Baiklah. Aku akan mencarinya. Mungkin orang-orang lain akan berusaha pula. Aku sendiri akan mengatakannya kepada Ki Argapati permintaan itu, agar anak itu tidak dipersalahkannya pula. Aku yakin bahwa Ki Argapati tidak akan berkeberatan. Bahkan secara umum Ki Argapati sudah menyerukan pengampunan bagi mereka yang menyerah. Tetapi bagi mereka yang melanjutkan perlawanan karena sikap putus asa, mereka akan benar-benar dihancurkan.”

Argajaya menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi dengan nada yang dalam ia bertanya, “Kakang Argapati menyerukan pengampunan umum bagi mereka yang melawannya selama ini?”

“Ya.”

Argajaya menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Argapati tidak akan dapat membuat berates-ratus tiang gantungan di alun-alun,” berkata gembala itu. “Tetapi ada nilai yang lebih tinggi dari kesulitan tiang gantungan itu. Ki Argapati memang memiliki jiwa besar. Ia melihat masa depan Tanah ini sebagai suatu kenyataan. Tetapi ia pun dapat bertindak tegas terhadap mereka yang mencoba merintangi usahanya.”

Argajaya masih tetap berdiam diri. Pandangan matanya jauh menyusup pintu yang tidak tertutup rapat. Sudah agak tama ia tersekap di dalam bilik yang sempit. Sepi dan sendiri. Sudah agak lama ia mendapat kesempatan mempertimbangkan keadaannya, apa yang sudah, sedang, dan akan dilakukan.

Dan karena Argajaya tidak segera menjawab, maka gembala itu pun berkata selanjutnya, “Ki Argajaya, sebenarnyalah bahwa Ki Argapati ingin mengetahui sikapmu sekarang, setelah kau merenung beberapa saat lamanya.”

Bagaimana pun juga, ternyata Ki Argajaya tetap seorang yang tinggi hati. Meskipun ia mengakui di dalam hatinya sampai ke segenap relung, namun ia menjawab, “Aku akan mengatakannya kepada Ki Argapati. Baik ia sebagai kakakku mau pun ia sebagai Kepala Tanah Perdikan yang telah mampu mempertahankan diri dari sebuah guncangan yang dahsyat. Aku akan mengatakan sikapku kepadanya. Tidak kepada siapa pun. Tidak kepadamu, Kiai. Karena kau bukan apa-apa di sini. Kau bukan pemimpin dan bukan tetua Tanah ini.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya.

“Jangan kau kira,” berkata Argajaya, “bahwa, tanpa kau, persoalan Tanah ini tidak akan dapat selesai. Kau sama sekali tidak kami perlukan di sini.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian tersenyum. “Ya. Ya. Kau memang tidak memerlukan aku, kecuali untuk sekedar mencari anakmu yamg hilang. Tetapi aku tidak akan ingkar atas tugas kemanusiaan itu. Kalau aku dapat menemukannya, aku akan berusaha menolongnya. Menariknya dari arus yang telah kau sediakan sendiri untuk menyeret anakmu yang tidak bersalah itu.”

Wajah Argajaya menegang sejenak. Tiba-tiba tubuhnya serasa menjadi lemah. Kepalanya perlahan-lahan menunduk. Tetapi ia tidak mengatakan sepatah kata pun.

“Baiklah, Ki Argajaya,” berkata gembala itu, “aku akan menyampaikan semua pesanmu, semua jawabanmu dan semua yang aku ketahui kepada Ki Argapati.”

Argaayaya masih tetap berdiam diri.

“Apakah kau masih mempunyai pesan?”

Argajaya seakan-akan acuh tidak acuh saja, meskipun tampak di wajahnya kekecewaan dan kegelisahan.

“Jadi, bagaimana?” bertanya gembala itu.

Ki Argajaya tetap tidak menjawab.

“Baiklah. Baiklah. Aku minta diri.”

Argajaya sama sekali tidak bergerak. Kepalanya pun tidak. Dibiarkannya saja gembala tua itu berjalan ke pintu yang tidak tertutup rapat.

Namun ketika tangan orang tua itu telah meraih daun pintu lereg, terdengar ia berkata, “Kiai. Aku tidak akan minta apa pun kepadamu, selain pesan tentang anakku.”

Gembala itu berbalik. Sebuah senyum membayang di wajahnya. “Aku akan berusaha.”

“Leherku sudah aku siapkan buat umpan tiang gantungan. Tetapi aku harap anak laki-laki itu tidak.”

“Aku akan berusaha.”

“Hem,” Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia menggeram, “Kau terlampau berkuasa di sini Kiai. Sebenarnya kau harus menyingkir. Kau terlampau banyak ikut campur dalam persoalan kami.”

“Bukan maksudku, Ki Argajaya,” jawab orang tua itu, “tetapi aku justru telah mengorbankan diriku untuk menjadi pesuruh lengkap dari Ki Argapati. Dari mengobati lukanya sampai masalah-masalah keluarga seperti ini.”

“Bohong! Apakah yang telah kau tuntut daripadanya? Separo dari Tanah Perdikan ini? Sepertiga atau kau ingin salah seorang muridmu menjadi menantunya yang dengan demikian akan menjadi pewaris Tanah ini?”

“He?” gembala tua itu justtru berdiri tegak dengan penuh keheranan. Sama sekali tidak terlintas di kepalanya tuntutan serupa itu. Separo Tanah ini atau menantu? Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab, “Pertanyaanmu aneh. Kau pasti pernah mendengar, apa yang aku dapatkan dari Pajang setelah aku dan murid-muridku membantu memecahkan padepokan Tambak Wedi? Kami mempertaruhkan nyawa kami tanpa pamrih.”

“Bohong!” Argajaya hampir berteriak. “Kau anggap kau berkelahi tanpa pamrih? Jangan kau kira aku tidak tahu Kiai. Kau ingin menyelamatkan Kademangan Sangkal Putung, kademangan ayah dari salah seorang muridmu. Kau ingin menyingkirkan Angger Sidanti dari Sekar Mirah, seorang gadis yang diinginkan oleh muridmu yang lain. Tanah dan Perempuan adalah lambang perjuangan laki-laki jantan. Katakan sekarang bahwa kau tidak mempunyai pamrih apa pun. Juga atas Tanah Perdikan ini? Aku yakin kau mempunyai pamrih serupa.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Kepalanya digeleng- gelengkannya, seolah-olah ia ingin meyakinkan dirinya sendiri atas kata-kata Argajaya itu.

“Eh, begitu bodoh aku ini,” katanya. “Sebagian memang benar. Tetapi terlampau murah untuk menilai seluruh perjuangan kami atas dasar itu, tanpa menilai sikap orang-orang yang bersembunyi di balik dinding padepokan Tambak Wedi.” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu, “Apakah kau dapat menyebut pembebasan Sangkal Putung dan Sekar Mirah itu suatu pamrih?”

Argajaya terdiam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan gembala itu. Apakah perjuangan untuk membebaskan Sangkal Putung dari ancaman Tambak Wedi dan pembebasan Sekar Mirah itu pamrih atau memang tujuan perjuangan mereka.

“Aku pun menjadi sangat bodoh,” desisnya di dalam hati.

“Sudahlah, sebaiknya kita tidak berbantah tentang lelucon-lelucon yang tidak kita pahami. Sekarang, aku akan menghadap Ki Argapati untuk melihat lukanya dan menyampaikan laporan.”

“Kiai,” tiba-tiba suara Argajaya merendah, “bagaimana dengan keadaan Sidanti sekarang?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dalam keadaannya itu Argajaya masih juga sempat bertanya tentang keadaan Sidanti. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya gembala itu menjawab, “Bak. Keadaannya cukup baik, meskipun ia harus tetap berada di tempatnya.”

Argajaya menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak bertanya apa pun lagi.

“Apakah Ki Argajaya masih mempunyai pesan tentang apa pun?”

Ki Argajaya menggeleng, tetapi tidak sepatah kata pun terlontar dari bibirnya.

“Baiklah. Aku akan minta diri. Kalau Ki Argajaya memerlukan sesuatu, di luar ada beberapa orang yang dapat kau panggil.”

“Aku sudah tahu,” tiba-tiba Argajaya menjawab lantang, “aku sudah tahu kalau seseorang yang ditahan pasti dijaga oleh beberapa orang. Mereka sama sekali tidak berada di situ, menyediakan diri melayani aku apabila aku memerlukan mereka. Tetapi mereka mengawasi kalau-kalau aku akan lari.”

Gembala itu menarik nafas. Katanya “Ya, begitulah kira-kira.”

“Kalau Kiai mau meninggalkan ruangan ini silahkanlah. Jangan mengatakan lelucon-lelucon yang tidak perlu lagi bagiku.”

Gembala itu mengangguk-angguk. “Baik. Baik. Aku memang terlampau banyak berbicara.”

Maka gembala itu pun kemudian meninggalkan ruangan yang suram itu. Ketika pintu kemudian ditutup dan diselarak, sekali lagi gembala itu menarik nafas dalam-dalam. Yang berada di dalam ruangan itu adalah adik Kepala Tanah Perdikan ini sendiri.

“Tetapi apa boleh buat. Semakin tinggi kedudukan seseorang, apabila ia berniat jahat, ia menjadi semakin berbahaya,” berkata gembala itu di dalam hatinya.

Ketika kemudian gembala itu menemui Argapati, selain untuk mengobati luka-lukanya, maka dikatakannya pula apa yang telah dibicarakannya dengan Argajaya. Seperti yang dipesankan Argajaya, gembala tua itu menyinggung pula tentang anak laki-laki yang mohon diampunkan segala kesalahannya.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia selama ini tidak pernah membeda-bedakan sikap kepada siapa pun yang bersalah, tetapi ketika yang bersalah itu adalah adiknya sendiri, maka dadanya pun serasa diguncang-guncang. Apalagi dada itu masih terasa pedih karena luka yang masih cukup parah.

“Baiklah, Kiai,” berkata Ki Argapati, “betapa pun beratnya, adalah kuwajibanku untuk menyelesaikannya.”

“Kemudaan juga masalah Sidanti, Ki Gede,” berkata gembala itu.

Ki Argapati terdiam sejenak. Tatapan matanya yang lurus ke atas, serasa akan menembus langit-langit yang terbentang di atas pembaringannya.

“Temuilah anak itu, Kiai,” berkata Ki Argapati tiba-tiba. “Aku minta tolong. Tidak ada orang lain yang dapat aku percaya.”

Belum lagi gembala itu menjawab, terdengar Pandan Wangi menyahut, “Aku dapat melakukannya, Ayah.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau memang dapat melakukannya, Pandan Wangi. Tetapi kita belum dapat menjajagi perasaan Sidanti sekarang.”

“Biarlah aku menemuinya.”

“Kau dapat menemuinya kemudian.”

“Biarlah aku yang pertama-tama menemuinya, Ayah. Sebelum orang lain. Aku benharap bahwa Kakang Sidanti dapat mengatakan isi hatinya kepadaku. Karena aku adalah adiknya.”

Sesuatu terassa berdesir di dada orang tua itu. Pandan Wangi, satu-satunya anak yang diharapkan mewarisi Tanah Perdikan ini memang adik Sidanti. Tetapi, setelah Sidanti membakar Tanah Perdikan ini menjadi abu, semakin terasa olehnya, jarak yang terbentang di antara mereka.”

“Bagainyana, Ayah? Apakah Ayah lebih percaya kepada orang lain daripada kepadaku?”

Ki Argapati tidak mancegahnya lagi. Meskipun demikian ia berkata, “Baiklah Pandan Wangi. Kau dapat mengunjunginya. Tetapi untuk kebaikanmu sendiri, biarlah gembala itu mengikutimu.”

“Apakah gunanya?”

“Tidak apa-apa. Itu hanya sekedar sikap hati-hati.”

“Kakang Sidanti tidak akan berbuat apa-apa kepadaku. Aku yakin.”

“Tetapi apakah salahnya orang itu menyaksikan pertemuanmu dengan Sidanti.”

Pandan Wangi merenung sejenak. Kemudian ia menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Apa boleh buat, apabila ayah menghendaki.”

Pandan Wangi pun kemudian minta diri kepada ayahnya sejenak untuk menemui kakaknya, Sidanti, yang berada di ujung lain dari ruangan tengah itu.

“Tolong, Kiai, amatilah anak-anak itu.”

Gembala itu mengangguk, “Baiklah, Ki Gede. Aku akan mengamati mereka. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu, karena tampaknya mereka sangat baik.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis, “Itulah yang membuat kepalaku selama ini menjadi semakin pening.”

Gembala tua itu pun kemudian meninggalkan bilik Ki Argapati pula mengikuti Pandan Wangi. Ia masih melihat Pandan Wangi berbicara dengan para pengawal yang bertugas menjaga Sidanti.

“Apakah Ki Argapati sudah mengijinkan?” salah seorang dari mereka bertanya.

“Tentu. Aku mendapat perintah dari ayah untuk menemuinya.”

Pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Silahkan.”

“Aku juga,” sela gembala tua yang sudah berdiri di belakang para pengawal itu.

Pandan Wangi pun kemudian membuka selarak pintu bilik itu. Tetapi tanpa disangka-sangka, pintu itu tiba-tiba telah terbuka. Sidanti sudah siap menyerang siapa saja yang berada di muka pintu. Seperti seekor harimau lapar ia meloncat menerkam Pandan Wangi.

Pandan Wangi tidak menyangka, bahwa Sidanti akan berbuat demikian, sehingga karena itu, ia sama sekali tidak bersiap menghadapinya.

Meskipun demikian Pandan Wangi telah terlalih lahir dan batinnya menghadapi setiap persoalan. Meskipun ia tidak bersiap sama sekali, namun gerak naluriahnya telah melemparkannya selangkah ke samping secepat terkaman Sidanti. Namun demikian, tangan Sidanti masih berhasil mengenai pundaknya, sehingga gadis itu terdorong beberapa langkah surut. Dengan susah payah ia berusaha, untuk tetap tegak dan menguasai keseimbangannya.

Para pengawal yang melihat peristiwa itu pun segera berloncatan memencar dengan senjata masing-masing. Mereka sadar bahwa Sidanti adalah seorang yang berilmu tinggi. Apalagi dalam keadaan serupa itu.

Namun ternyata Sidanti tidak dapat berbuat terlampau banyak. Ketika ia akan menyerang para pengawal, maka terasa sebuah telapak tangan melekat di tengkuknya. Dengan tangkasnya ia merendahkan dirinya, berputar pada lututnya sambil memukul tangan yang sudah mencengkam tengkuknya itu. Namun ia tidak berhasil. Tiba-tiba saja terasa seakan-akan seluruh sendi-sendinya terlepas, dan Sidanti itu pun kehilangan tenaganya.

“Jangan terlampau bernafsu, Ngger,” desis gembala tua itu.

Sidanti masih mencoba untuk tetap berdiri di atas kedua kakinya. Dengan suara gemetar ia menjawab, “Apakah kau masih tidak puas dengan segala campur tanganmu di mana pun, he tua bangka?”

Gembala tua itu tidak menjawab. Dibimbingnya Sidanti untuk kembali ke dalam biliknya. Kemudian diletakkannya ia di pembaringannya.

“Pergi, pergi kau!” anak muda itu membentak.
Tetapi gembala tua itu masih tetap berdiri di tempatnya.

“Pergi kataku!” Sidanti berteriak.

“Tenanglah, Ngger. Sebaiknya Angger mencoba menenangkan diri sejenak. Adikmu, Angger Pandan Wangi ingin bertemu.”

Sdanti mengerutkan keningnya. Ketika ia memandangi pintu, ia melihat Pandan Wangi berdiri tegak dengan kaki renggang dan sepasang pedang di lambungnya.

“Kau akan membunuh aku?” bertanya Sidanti dengan kasar.

Tampaklah wajah gadis itu menjadi terlampau muram. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa demikianlah sambutan kakaknya atas kedatangannya.

Perlahan-lahan ia menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak, Kakang. Aku sekedar ingin melihat keadaan Kakang di sini.”

“Sambil menengadahkan dada menyorakkan kemenanganmu?”

“Sama sekadi tidak, Kakang. Sama sekali tidak. Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah di antara kita berdua. Bagaimana pun akhirnya, kita tinggal menemukan Tanah Perdikan ini yang telah menjadi abu.”

“Dan kau akan menyalahkan aku? Kau akan menuduh akulah yang menyebabkan Tanah Perdikan ini kini menjadi hancur? Kau akan menunjuk hidungku sambil berkata, bahwa aku adalah seorang pengkhianat.”

Pandan Wangi menggeleng. Tetapi tampak keragu-raguan membayang di wajahnya, meskipun mulutnya berkata, “Tidak, Kakang.”

“Bohong! Jangan mencoba menipu aku. Meskipun kau menggeleng dan mulutmu berkata ‘tidak,’ tetapi sorot matamu tidak dapat kau pungkiri.

Pandan Wangi menjadi bingung. Bagaimana ia menghadapi kakaknya yang kini seakan-akan menjadi sangat asing, baginya.

“Kakang,” Pandan Wangi mencoba membujuknya, “marilah kita melupakan apa yang sudah terjadi. Aku akan minta agar ayah pun mau melupakannya. Marilah kita menghadapi masa depan dengan tekad baru. Reruntuhan ini seharusnya kita tegakkan kembali.”

“Huh,” Sidanti mencibirkar bibirnya, “aku bukan anak-anak yang dapat kau bujuk dengan sepotong gula kelapa.” Tiba-tiba Sidanti berteriak, “Ayo, katakan kepada Argapati, kepada ayahmu itu. Kalau ia akan membunuh aku, cepatlah dikerjakan. Aku sudah siap.”

“Jangan berpikir begitu, Kakang. Ayah tidak akan melakukannya.”

“Omong kosong! Ayah itu adalah ayahmu. Bukan ayahku. Ia tidak akan memperlakukan kau seperti memperlakukan aku. Lihat, aku sudah dikurungnya seperti kambing di dalam kandang yang kotor pengap ini.”

“Tetapi bukan maksudnya. Ruangan rumah ini tidak ada yang tidak kotor, Kakang. Semua bilik-biliknya seperti bilik hantu.”

“Dan akulah yang mengotorinya, setelah rumah ini aku duduki beberapa lama. Begitu maksudmu?”

Pandan Wangi menarik nafas. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan berhadapan dengan Sidanti yang lain sama sekali dari Sidanti yang dikenalnya.

“Benar juga kata ayah,” berkata gadis itu di dalam hatinya, “dan benar juga gembala tua itu. Kalau ia tidak mengawani aku, mungkin Kakang Sidanti telah berbuat sesuatu di luar dugaan. Setidak-tidaknya ia akan berusaha melarikan dirinya kembali.”

Pandan Wangi terperaujat ketika tiba-tiba Sidanti berkata lantang, “Tinggalkan aku sendiri.”

“Kakang,” berkata Pandan Wangi. Ia masih berusaha untuk yang terakhir kalinya, “Orang lain pun akan diampuni. Apalagi kau. Tanah ini memerlukan apa saja yang dapat membantu menegakkannya kembali. Apalagi tenagamu, Kakang.”

“Diam! Diam kau perempuan celaka. Kau selalu berbicara tentang ayahmu. Kau sangka aku tidak tahu, bahwa kami, yang kalian anggap tawanan itu akan kalian pekerjakan seperti sapi dan lembu? Aku tidak mau. Lebih baik aku dibunuh daripada aku harus merangkak menarik bajak.”

“Kau keliru, Kakang.”

“Pergi! Pergi kau dari sini! Pergi! Kau juga tua bangka. Aku tidak memerlukan kalian sama sekali.” Tiba-tiba Sidanti berusaha untuk bangkit, sambil mengepalkan tinjunya. Tetapi ia terduduk kembali. Ternyata kekuatannya masih belum pulih sama sekali, sehingga hanya matanya sajalah yang seakan-akan menyala membakar seluruh ruangan.

Pandan Wangi dan gembala tua itu masih berdiri termangu-mangu di tempatnya. Kini mereka benar-benar dihadapkan pada kekerasan hati Sidanti. Ia sama sekali tidak mau melihat kenyataan yang dihadapinya, yang justru semuanya itu telah membuat hatinya menjadi semakin gelap.

Bayangan-bayangan yang hitam selalu merupakan kabut yang menghantuinya. Ia samta sekali tidak dapat melihat, apa yang akan terjadi di hari-hari mendatang. Karena itulah maka Sidanti itu berbuat berlebih-lebihan di dalam kelam.

Pandan Wangi akhirnya merasa, bahwa saatnya masih tidak tepat untuk dapat berbicara dengan baik. Hati Sidanti sama sekali masih belum terbuka. Karena itu, ketika Sidanti sekali lagi berteriak mengusirnya, ia berkata, “Baik, Kakang. Aku akan pergi.”

Bersama gembala tua itu, akhirnya Pandan Wangi meninggalkan bilik Sidanti. Sementara kemudian Sidanti mendengar slarak pintu bergerit di luar.

Suara itu tiba-tiba saja telah membangkitkan kemarahan yang tidak tertahankan lagi. Dengan serta-merta ia meloncat tertatih-tatih ke arah pintu yang tertutup rapat. Dengan sisa-sisa tenaganya ia memukul pintu itu sekuat-kuatnya. Tetapi kekuatannya memang belum pulih kembali. Karena itu luapan perasaan yang tidak terkendali itu telah membuatnya seakan-akan kehilangan kesadaran.

Ketika ia menghentakkan dtrinya, menghantam pintu itu sekali lagi, maka seluruh sisa-sisa kekuatannya yang memang belum pulih itu seakan-akan telah terkuras habis, sehingga perlahan-lahan Sidanti terjatuh di muka pintu. Meskipun tangannya mencoba meraih dan berpegangan uger-uger, tetapi akhirnya dengan lemahnya ia terduduk bersandar dinding.

“Dukun gila. Ia telah menyihir aku, sehingga aku kehilangan sebagian dari kekuatanku,” ia menggeram.

Dalam pada itu, gembala tua itu masih berdiri di luar pintu. Dengan dada yang berdebar-debar ia mendengar usaha Sidanti untuk memecah pintu. Bahkan para pengawal pun telah siap dengan senjata masing-masing, sedang Pandan Wangi berdiri dengan penuh kebimbangan beberapa langkah dari pintu yang berderak-derak itu. Namun setiap kali perasaan seorang gadis telah menyentuh-nyentuh jantungnya. Yang berada di dalam bilik yang kotor pengap itu adalah kakaknya. Kakak yang baik baginya sejak kanak-kanak. Tetapi keadaan dan jalan yang bersimpangan telah membuat mereka berhadapan.

Ketika bilik itu seakan-akan sudah menjadi tenang, maka gembala tua itu pun berdesis, “Sudahlah, Ngger, tinggalkan bilik ini. Kembalilah kepada Ki Argapati. Mungkin Ki Argapati memerlukan minum atau pelayanan apa pun.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. “Baik, Kiai.”

“Biarlah aku untuk sementara tinggal di sini,” berkata gembala tua itu.

Pandan Wangi pun kemudian meninggalkan pintu bilik itu dengan kepala tunduk. Perlahan-lahan ia berjalan di ruang tengah, menuju ke bilik ayahnya. Kini ia melihat, bahwa ayahnya memang bersikap hati-hati. Bukan sekedar didorong oleh kemarahanaya kepada Sidanti sajalah ia membatasi dan mengawasi anak itu dengan sangat ketat. Tetapi Sidanti memang berbahaya.

Demikian ia memasuki bilik ayahnya, terdengar ayahnya bertanya, “Kau tidak apa-apa, Pandan Wangi?”

Pandan Wangi menjadi heran mendengar pertanyaan itu, seolah-olah ayahnya melihat apa yang baru saja terjadi.

Karena Pandan Wangi tidak segera menyahut, maka Ki Argapati melanjutkannya, “Aku mendengar lamat-lamat suara Sidanti berteriak-teriak. Apakah ia marah karena kunjunganmu yang dianggapnya menghina?”

Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Kini ia semakin yakin, bahwa ayahnya mengenal Sidanti lebih baik daripadanya.

Perlahan-lahan maka ia pun menjawab, “Ya, Ayah.”

“Aku sudah menduga. Itulah sebabnya, aku semula mencegahmu untuk menemuinya.”

Kepala Pandan Wangi pun menjadi semakin menunduk.

“Anak yang keras dan tinggi hati itu tidak akan dapat mengerti perasaanmu. Kau pasti disangkanya datang untuk mengatakan bahwa kau telah menang, dan Sidanti telah kalah. Atau bahkan lebih daripada itu, kau dianggapnya akan berbuat sewenang-wenang saja atasnya.”

“Ya, Ayah,” desis Pandan Wangi hampir tidak terdengar.

Ayahnya yang sedang sakit itu ternyata dapat membaca perasaan kedua kakak-beradik itu meskipun tidak tepat benar.

“Pandan Wangi,” berkata Ki Argapati kemudian, “kalian berdua memang terlampau dilibat oleh perasaan kalian, sehingga suasana yang terjadi justru sebaliknya dari yang kalian harapkan. Kau selalu dicengkam oleh perasaan seorang adik yang baik, yang merasa berhutang budi dan barangkali kau ingin menunjukkan bahwa kau adalah seorang adik. Sementara itu Sidanti dibayangi oleh kegagalan-kegagalan yang dialaminya. Kematian orang-orang terdekat dan justru perasaan bersalah di dasar hatinya. Tetapi ia ingin meniadakan perasaan-perasaan itu, sehingga ledakan-ledakan yang demikian akan terjadi.”

Pandan Wangi mengangguk-angguk kecil.

“Kalau aku sudah berangsur baik, Wangi,” berkata Ki Argapati, “aku akan memanggil pamanmu Argajaya dan Sidanti berganti-ganti. Aku ingin berbicara langsung dengan mereka satu-persatu. Apakah aku masih dapat mengharapkan mereka, atau tidak sama sekali. Kalau aku masih dapat berharap tentang mereka, biarlah mereka mendapat kesempatan untuk ikut membangun kembali reruntuhan Tanah Perdikan yang parah ini. Tetapi kalau tidak, apa boleh buat. Mereka tidak boleh justru menjadi penghalang yang selalu mengganggu kerja kami saja.”

“Jika demikian, apakah yang akan Ayah lakukan atas mereka? Apakah mereka akan dihukum mati?”

Argapati menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Aku belum memikirkannya sampai begitu jauh. Tetapi setidak-tidaknya mereka harus dikurung dalam sangkar yang kuat untuk waktu yang tidak terbatas. Sebab kami yakin, bahwa kami tidak akan dapat mempergunakan tenaga Gupala dan Gupita terus-menerus. Pada suatu saat mereka pasti akan meninggalkan Tanah Perdikan ini.”

(***)
“Kutipan dan penyiaran lesan/tertulis harus seijin penulis.”

From HPrasidi’s Collection
Scan: Ki Warsono Hr
Convert: Ki Pedo
Retype: Ki Edy
Proof: Ki GD

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:34  Comments (18)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-47/trackback/

RSS feed for comments on this post.

18 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hee hee kirain 47, dah ada juga….bakal besok minggu siang , untuk malam mingguan dah ada 46…

  2. Saluuuut buat para pengawal tanah perdikan “adbmcadangan” tampilan padukuhan menoreh tambah kece aja…..tks buat kigede yang selalu berbuat yg ter OK buat padukuhan ini…..

  3. malam minggu nunggu sepak bola sambil baca 47 (mudah2an) cepet datang, duh mesti mak nyes, suwun.

  4. kencan sampai tak batalin.demi 47th adbm.saluda buat semua yg telah merelakan semuanya.

  5. kakang,
    mengingat padepokan kita sudah semakin luas. apa tidak sebaiknya mulai dibuat sistem penjagaan yg kuat kakang 🙂

  6. 47
    47
    47
    47
    47….

    biasanya kalo di keplok2 ntar muncul ye??….
    hehehehehe
    bayangin yg nunggu ada 100 ribuan.., kira2 sepenuh stadion senayan kalo lagi nonton bola…wow…!!!

  7. Harap-harap cemas. Wis tak niyati ora mangkat ronda malem minggu buat nungguin 47 je.

  8. btw… blog ini bakal ikutan juga gk ya diacara pesta bloger??

    D2: Kami belum dapat undangan. Tetapi, untuk saat ini Kiai Gringsing masih belum mau membuka jatidirinya. Dia masih senang di dunia maya. Bukan dunia riil.

  9. Sempat hati bardebar-debar dan berdesir….ternyata 47-nya udah nongol….Terima kasih Ki Gede, walaupun masih keadaan terluka parah akibat Nenggala Ki Tambak Wedi tetapi tetap berusaha melayani orang-orang sepedukuhan…..Salut, Teng yu

  10. wah yo kalu sampe dikeluarkan malam ini untuk buku 48 nya yo maknyuss

    maturnuwun
    Ki KontosWedul

  11. Waduh..teganya engkau. Berarti di tempatku, aku harus menunggu sampai jam setengah satu dinihari.

    Ya, baiklah saya unduh besok pagi pagi saja.

    Selamat malam. Mau istirahat dulu setelah ikut melihat lihat pedukuhan di tanah perdikan yang sudah mulai berbenah kembali itu….

  12. (Biar nampak bahwa buku cerita ini antik saya re type dengan ejaan lama. Nuwun)
    AKU akan menunggu, sebentar. Kalau tidak segera ada pemberitahuan dari induk pasukanmu jang sedang bertempur itu, aku akan menjusul mereka. Mungkin mereka memerlukan bantuan.
    ………. dst (panjang sekali)

    GD: Matur nuwun, Ki Kesawa atas sumbangannya untuk pesta kemenangan ini. Mengingat tata guna pelataran padepokan (nyancang kuda, jemur padi, bermain bocah, apel cantrik dll), maka sumbangan Ki Kesawa disimpan di lumbung samping gandok kanan.

  13. Gupala sedang mengetrapkan ajian tuna sathak bathi sanak

    • wah…wah…wah….
      Gupala dari tlatah Lendut Benter sudah sampai disini
      hmm……………

      • inggih Ki Ajar pak Satpam,
        namung sakderma nyobi
        mendhisiki Ki Menggung.

        • 😀

          • mesine anyar-anyar kuabueh

            • sIP…wes pada HADIR,

              tinggal cari NUNUTan andong ning gandOK sebelah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: