Buku 47

Namun hal itu bagi Gupita adalah pertanda bahwa sebenarnya pihak Ki Gede Pemanahan sendiri diam-diam sudah menyusun kekuatan. Mungkin karena prasangka yang berlebih-lebihan, orang-orang Alas Mentaok itu merasa bahwa Pajang akan segera memusuhinya.

Namun tanpa menjawab pertanyaan Gupita, Sutawijaya berkata, “Aku memerlukan beberapa orang senapati yang mumpuni. Nah, kalian pasti bersedia membantu aku seandaimya terjadi sesuatu kelak.”

Gupita dan Gupala saling berpandangan sejenak. Tampak sesuatu memancar di sorot mata masing-masing. Tetapi ternyata tanggapan mereka justru berbeda.

Sejenak kemudian Sutawijaya mendesak, “Bagamana?

Gupala mengerutkan keningnya. Meskipun ragu-ragu namun ia menjawab, “Apa salahnya?”

“Bagus,” desis Sutawijaya “kalian pasti akan membantu kami. Aku memang sudah menyangka.”

Namun Gupita masih tetap berdiam diri.

“Nah,” berkata Sutawijaya “bagaimana dengan kau Gupita. Aku tahu, bahwa kau selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Tetapi kau sekarang sudah dewasa sepenuhnya. Kau sudah mampu melakukan banyak tindakan di dalam peperangan. Bukankah kau pada suatu ketika, seperti yang terjadi di peperangan, harus mengambil keputusan dengan cepat? Nah, kau harus mengambil pengalaman. Kau dapat melakukan kalau kau mau.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku, harus mengatakannya kepada guru.”

“Aku tahu bahwa kau akan bersikap demikian. Tetapi agaknya gurumu pun akan ikut serta bersama kami. Ayah Ki Gede Pemanahan sendiri telah berpesan untuk memintanya datang ke Alas Mentaok.”

“Apakah Ki Gede Pemanahan mengenal guru?”

Sutawijaya tertawa. “Tidak seorang pun yang mengenal gurumu dengan pasti. Ayah pun tidak. Ki Argapati agaknya juga tidak yakin atau bahkan tidak tahu dengan siapa ia berhadapan. Ki Tambak Wedi dan semua orang yang berhubungan dengan gurumu menganggapnya ia orang yang lain dari nama-nama yang pernah didengar sebelumnya. Satu-satunya ciri yang dapat dipakai sebagai pancadan untuk menduga-duga adalah cambuknya itu. Meskipun gurumu sendiri berkata bahwa banyak sekali orang bersenjata cambuk.”

Gupita mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menyahut.

“Sekarang, ciri itu tambah lagi. Bersenjata cambuk dan mempunyai dua orang murid. Yang seorang bulat seperti kelapa, dan yang lain bertubuh sedang.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam, sedang Gupala tersenyum sambil meraba-raba perutnya.

“Kalau memang guru sudah setuju, aku pun tidak berkeberatan,” berkata Gupita kemudian. “Tetapi untuk mengambil keputusan serupa itu, sebagai seorang murid yang masih berada langsung di bawah pengawasan gurunya, aku tidak dapat bertindak sendiri.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, begitulah sebaiknya,” desisnya. Tetapi Sutawijaya sendiri adalah anak yang nakal. Kadang-kadang ia melanggar peraturan ayahnya sekaligus gurunya, atau melakukan sesuatu tanpa setahu ayahnya itu.

“Dan selanjutnya keputusan terakhir ada pada guru,” sambung Gupita.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya seolah-olah kepada diri sendiri, “Meskipun sebagian Senapati Pajang ikut dengan ayah, tetapi yang sebagian itu terlampau kecil dibanding dengan kekuatan Pajang seluruhnya. Mudah-mudahan kami akan segera meningkatkan kekuatan para pengawal daerah baru itu.”

Gupita mengerutkan keningnya. Hampir tanpa sesadarnya ia berkata, “Itu sudah merupakan persiapan perang.”

Sutawijaya terkejut mendengar tanggapan Gupita. Dengan serta-merta ia berkata, “Tidak, sama sekali tidak. Bukan maksud kami mengadakan persiapan perang.”

Gupita menggigit bibirnya.

“Kami hanya sekedar mengadakan persiapan untuk menjaga diri apabila sesuatu terjadi atas daerah kami yang baru bangkit itu.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Gupala masih meraba-raba perutnya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Memang setiap orang perlu menjaga diri. Juga daerah-daerah baru yang baru lahir seperti Alas Mentaok yang akan menjadi sebuah negeri. Seandainya Pajang tidak berbuat apa-apa, mungkin justru daerah di sekitamya merasa iri. Mungkin Tanah Perdikan Mangir, mungkin Menoreh, atau daerah-daerah lain.”

“Bagaimana dengan Sangkal Putung?” tiba-tiba Sutawijaya bertanya.

“Sangkal Putung tidak terlampau dekat. Tetapi Sangkal Putung tidak akan berkeberatan apa pun atas perkembangan Alas Mentaok. Kalau Alas Mentaok menjadi ramai, perdagangan antara Pajang dan daerah baru itu berkembang, maka Sangkal Putung akan menjadi jalur yang menentukan. Itu akan bermanfaat bagi Sangkal Putung.”

Sutawijaya memandang Gupala dengan sorot mata yang aneh. Sesaat kemudian ia berkata, “Hem, kau memandang persoalan ini dari sudut yang luas. Meskipun tampaknya kau hanya dapat berkelahi dan tertawa-tawa tanpa arti, ternyata pandanganmu cukup tajam.”

Gupala hanya tertawa saja.

“Tetapi bagaimana kalau terjadi sebaliknya?”

“Apa?” anak yang gemuk itu bertanya.

“Kalau yang lewat itu bukan serombongan pedagang, tetapi sepasukan prajurit dari Pajang menuju ke Alas Mentaok.”

Gupala berpikir sejenak. Dan jawabnya sama sekali tidak disangka-sangka oleh Sutawijaya maupun oleh Gupita. Katanya, “Kalau yang lewat sepasukan prajurit, aku harus bersembunyi atau mengungsi.”

Ketiganya tidak dapat menahan hati. Sutawijaya tertawa meledak, meskipun segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sedang Gupita tersenyum kecut.

“Sudahlah,” berkata Sutawijaya kemudian, “aku akan pergi ke ruang tengah. Kalau gurumu sudah selesai dengan Ki Argapati, ia akan mencari aku. Aku masih harus menemui Ki Argapati dalam kesempatan ini.”

“Juga mempersoalkan dibukanya Alas Mentaok?” bertanya Gupala.

“Ya.”

“Mudah-mudahan tidak ada kesulitan dari mana pun,” berkata Gupita perlahan-lahan.

“Tentu. Kami mengharap demikian. Tetapi seandainya ada banjir, kami sudah membuat tanggul.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia merasa bahwa soalnya bukan sekedar membuat tanggul. Namun demikian ia tidak berkata sesuatu lagi. Ia menyerahkan persoalannya kepada gurunya. Apa pun yang harus dilakukannya, ia tidak akan menolak.

Ketika kemudian Sutawijaya masuk kembali ke ruang tengah, yang ditemuinya adalah Samekta dan Kerti yang masih duduk di tempatnya, sehingga anak muda itu bertanya, “Apakah gembala itu masih berada di dalam bilik Ki Argapati?”

Samekta menggelengkan kepalanya. “Tidak. Baru saja ia pergi ke luar.”

“Aku berada di luar.”

“Tetapi ia pergi ke luar lewat pintu butulan. Agaknya Anakmas diharap duduk di sini sebentar.”

Sutawijaya mengangguk-angguk pula. “Baiklah, aku akan menunggunya di sini.”

Sementara itu gembala tua itu pergi kepada kedua muridnya. Ditemuinya Gupala sedang berbaring di atas anyaman daun kelapa, sedang Gupita duduk memeluk lututnya. Beberapa langkah dari mereka, seorang penjaga berjalan helir-mudik dengan tombak di tangan.

“Apakah kalian lelah?” bertanya gurunya.

Gupala segera bangkit. Dengan serta-merta ia bertanya, “Apa kami sudah boleh tidur?”

“Kenapa tidak?”

Gupala menjadi bingung. “Lalu bagaimana dengan tawanan yang berada di dalam bilik itu.”

“Biar saja ia di situ. Kalian berdua dapat tidur berganti-ganti. Tetapi aku kira kalian yang masih muda-muda ini akan dapat bertahan tiga hari tiga malam.”

Gupala mengerutkan keningnya.

“Menurut pendengaranku, waktu Mahapatih Gajah Mada menyelamatkaa rajanya, tujuh hari tujuh malam ia sama sekali tidak beristirahat. Apalagi tidur,” desis gembala itu. “Baru setelah ia mendapat jalan untuk membawa raja itu kembali ke kota, Gajah Mada mau beristirahat.”

Gupita tersenyum, sedang Gupala bersungut-sungut. Katanya, “Kelak, apabila aku menjadi Maha Patih, aku pun akan berjaga-jaga tujuh hari tujuh malam.”

Gupita tidak dapat menahan tertawanya. Katanya “Apa yang akan kau lakukan selama tujuh hari tujuh malam itu?”

“Makan.”

Ketiganya tertawa. Namun Gupala pun segera merebahkan dirinya lagi di atas anyaman daun kelapa itu sambil berdesis, “Memang suatu cara yang baik. Bergantian tidur. Kenapa baru sekarang kita ingat akan hal itu? Sekarang aku tidur, kau bangun Kakang Gupita. Nanti, pada saatnya kau bangun, aku tidur.”

“Bagus. Tetapi kalau nasi masak, aku tidak mau membangunkan kau.”

Gupala tidak menjawab. Tetapi sambil menggaruk-garuk perutnya ia berkata, “Kalau begitu aku pun tidak akan dapat tidur.”

Gurunya tersenyum. Namun kemudian ia berkata, “Aku harus segera kembali ke ruang tengah menunggui Sidanti. Sebentar lagi, apabila semua persiapan sudah selesai, para pemimpin Menoreh akan melepaskan jenazah mereka yang gugur di peperangan ini. Kalau Angger Sutawijaya bersedia tetap berada di ruang tengah, aku akan dapat ikut bersama Samekta dan Kerti.” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu “Apakah kalian sudah bertemu dengan Raden Sutawijaya?”

“Sudah, Guru,” jawab Gupita, “baru saja ia datang kemari.”

“Apa katanya?”

“Tentang Alas mentaok itu lagi,” jawab Gupita.

“Kami diminta untuk membantunya,” sahut Gupala. “Agaknya Raden Suitawijaya memerlukan beberapa orang uutuk itu.”

“Beberapa orang yang bersedia untuk berkelahi,” gumam gurunya. “Tetapi apa katamu berdua?”

“Aku bersedia,” jawab Gupala dengan serta-merta. “Aku tidak dapat berdiri tidak berpihak, sementara kedua pasukan Mentaok dan Pajang akan saling berhadapan.”

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengarti pendirian Gupala. Sangkal Putung seolah-olah terletak di garis yang menghubungkan kedua daerah itu. Kalau anak yang gemuk itu sama sekali tidak menentukan sikap, maka mungkin sekali daerahnya akan tergilas oeh kedua belah pihak.

“Apakah kau sudah menjawab?” bertanya gurunya.

“Sudah guru,” jawab Gupala.

“Dan kau?” bertanya gurunya kepada Gupita.

“Aku menyerahkan persoalannya kepada Guru,” jawab Gupita. “Menurut Riaden Sutawijaya Guru sudah bersedia.”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Persoalan yang dihadapi oleh Gupala memang tidak terlampau rumit. Ia harus berpihak. Berpihak kepada yang memberinya harapan. Apalagi Sutawijaya telah dikenalnya baik-baik sejak lama.

Tetapi soalnya akan berbeda bagi Gupita. Sekali lagi terlintas di dalam angan-angannya, Senapati Pajang di bagian Selatan yang bernama Untara itulah nanti yang akan memegang peranan. Ki Gede Pemanahan sendiri sudah tidak ada di Pajang. Ki Penjawi sudah berada di Pati pula. Maka selain Ki Patih dan Sultan Pajang sendiri, maka Senapati Pajang tidak ada lagi yang mumpuni.

“Apakah mungkin bahwa Angger Agung Sedayu akan berhadapan dengan Angger Untara?” pertanyaan itu selalu mengganggunya. Tetapi ia masih tetap menyimpan pertanyaan itu di dalam hati. Agaknya Gupita sama sekali masih belum teringat untuk memperhitungkannya hal itu.

“Apakah guru benar-benar telah menyetujuinya?” tiba-tiba Gupita bertanya.

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Aku memang sedang mempertimbangkan. Apakah yang sebaiknya aku lakukan. Sutawijaya memang sudah menyampaikan pesan Ki Pemanahan kepadaku.”

“Aku kira kita tidak akan keberatan,” sahut Gupala. “Dengan demikian kita telah membantu bangkitnya suatu daerah baru. Sudah tentu, kita mengharap bahwa tidak akan terjadi apa pun di antara semua pihak. Alas Mentaok, Pajang, Mangir, dan Menoreh. Apalagi Prambanan dan Sangkal Putung.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tatapan matanya melontar ke titik-titik yang sangat jauh.

Wajah orang tua itu tampak menjadi murung. Hampir tidak pernah kedua muridnya melihat gurunya begitu dalam merenungi sesuatu. Sehingga dengan demikian kedua murid-muridnya itu pun untuk sejenak berdiam diri.

Sebenarnyalah berbagai persoalan telah berkecamuk di dalam dada orang tua itu. Masalah Tanah Perdikan Menoreh memang sudah hampir selesai, tetapi masalah-masalah lain telah menunggunya. Tanpa sesadarnya orang tua itu mengamati lukisan di pergelangan tangannya. Sebuah cambuk yang di ujungnya tersangkut selingkar cakra bergerigi sembilan.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Terngiang pertanyaan Ki Argapati tentang lukisan di pergelangan tangannya itu “Kiai, gambar itu adalah ciri dari perguruan Empu Windujati.”

Tiba-tiba gembala tua itu menggelengkan kepalanya. Namun suara Ki Argapati masih terdengar di telinganya “Aku mengenal seorang yang luar biasa. Seorang yang bersenjata cambuk dan yang senang sekali berteka-teki tentang dirinya. Tetapi sudah tentu bukan kau, karena pada saat itu pun umurnya sudah setua kita sekarang.”

Sekali lagi gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam.

Namun tiba-tiba ia tersadar bahwa kedua murid-muridnya sedang memandangnya dengan heran. Sehingga kemudian ia pun berdesis, “Ternyata aku pun lelah sekali. Tempat ini memberikan kesejukan, sehingga aku pun menjadi kantuk karenanya.”

Gupala menarik nafas pula. Sekilas dipandanginya wajah Gupita yang bertanya-tanya.

“Baiklah,” berkata gembala tua itu, “aku akan ke ruang tengah sejenak. Kalau Angger Sutawijaya bersedia, menunggui Sidanti sebentar bersama Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga yang berada di longkangan belakang, aku akan ikut melihat upacara pemakamam.”

“Apakah kami dapat ikut?” bertanya Gupala.

“Tidak usah. Kau punya tugas sendiri.”

Gupala mengerutkan keningnya.

“Tetapi itu pun aku masih belum tahu, kapan persiapan pemakaman itu selesai. Bahkan mungkin malam nanti. Kini baru dipersiapkan lubang-lubang yang cukup banyak.”

“Dari manakah jenazah-jenazah itu diberangkatkan?”

“Sudah jelas tidak dari rumah ini.”

¦”Dari banjar?”

“Ya, dari Banjar.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi matanya sudah menjadi semakin redup oleh kantuk yang seakan-akan semakin mencengkamnya. Apalagi karema silirnya angin dan bunyi burung tekukur di kejauhan.

“Nah, tinggallah kalian di sini. Hati-hatilah supaya bantuan yang sudah kita berikan selama ini kepada Tanlah ini tetap berkesan baik sampai rampung.”

Kedua muridnya menganggukkan kepala mereka sambil menjawab “Baik, Guru.”

Di sepanjang langkahnya, gembala tua itu menundukkan kepalanya sambil merenung dirinya sendiri. Kalau pada suatu saat ia bertemu dengan Ki Gede Pemanahan, maka pertanyaan Ki Gede Menoreh itu pun pasti akan diulang lagi meskipun dengan nada yang berbeda.

Gembala tua itu tanpa disengaja telah mengangguk-anggukkan kepalanya. Berbagai persoalan hilir-mudik di kepalanya.

“Seharusnya masa-masa itu sudah dilupakan orang,” katanya di dalam hati. “Aku pun ingin melupakannya.”

Orang tua itu tertegun sejenak. Ia melihat beberapa orang pengawal memasuki halaman. Sejenak mereka bercakap-cakap dengan pengawal yang sedang bertugas. Kemudian seorang pengawal dengan tergesa-gesa memasuki pendapa langsung keruang tengah.

Gembala itu pun kemudian pergi ke pendapa. Ia melihat Samekta dan Kerti keluar melintasi pendapa itu turun ke halaman. Ketika mereka melihat orang tua itu, mereka pun berhenti.

“Kiai,” berkata Samekta, “persiapan itu sudah hampir selesai. Kalau Kiai ingin menghadirinya, sebentar lagi Kiai supaya pergi ke Banjar bersama Pandan Wangi. Ia ingin melihat juga upacara itu.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Aku akan pergi.”

Ketika Samekta dan Kerti kemudian pergi bersama pengawal itu, ia pun segera masuk ke dalam. Ditemuinya Sutawijaya duduk sendiri sambil mengunyah pondoh beras.

“Ha, aku akan minta tolong kau lagi, Anakmas,” berkata gembala tua itu.

“Apa lagi Kiai?”

“Aku akan melihat upacara pemakaman korban peperangan ini. Aku minta Anakmas sementara tetap tinggal di sini menunggui pintu itu. Di belakang sudah ada Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga.”

“Sendiri?” bertanya Sutawijaya.

“Apakah Angger takut?”

“Soalnya bukan takut. Tetapi bagaimana kalau tiba-tiba aku ingin pergi ke sungai?”

Orang tua itu menarik nafas. Tetapi ia kemudian mengangguk-angguk.

“Baiklah,” berkata orang tua itu, “aku akan minta seorang dua orang pengawal untuk menemani Anakmas di sini.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berbisik, “He, siapakah sebenarnya pimpinan tertinggi yang mewakili Ki Argapati di bidang keprajuritan?”

“Kenapa?”

“Apakah Kiai barangkali?”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. “Aku sudah terlanjur terlibat Anakmas. Memang tidak pantas aku mengatur dan menangani persoalan di Tanah ini terlampau banyak. Tetapi tanpa Ki Argapati mereka masih memerlukan banyak sekali bimbingan.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia berkata, “Pada suatu saat, Mentaok memerlukan pula, Kiai.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Laris juga tenaga tua ini agaknya.”

Sutawijaya tertawa pendek. Katanya, “Suatu kehormatan bagi Kiai.”

Orang tua itu pun menyahut, “Sebenarnya Mentaok tidak memerlukan siapa pun lagi. Mentaok sudah cukup memiliki senapati-senapati yang mumpuni. Ki Gede Pemanahan sendiri adalah seorang panglima yang tidak ada tandingnya. Kenapa orang tua-tua yang tidak berarti seperti aku ini akan dibawanya pula?”

Sutawijaya masih tertawa. Katanya, “Tentu ada sebabnya. Dan Kiai pun aku kira sudah mengetahui pula.”

“Belum,” berkata orang tua itu.

“Apa saja dapat Kiai katakan kepadaku, karena aku memang baru mengenal Kiai sejak di Sangkal Putung. Tetapi mungkin ayah akan berkata lain.”

Gembala itu mengangkat alisnya.

“Ayah memang selalu bertanya tentang Kiai. Tentang seorang yang bersenjata cambuk.”

“Baik, baik,” sahut gembala tua itu, “sekarang aku akan pergi sejenak bersama Angger Pandan Wangi.”

Sutawijaya masih saja tersenyum. Dipandanginya saja orang tua yang masuk ke dalam bilik Ki Argapati. Kemudian sejenak ia tinggal di dalam sebelum orang tua itu keluar lagi dari bilik itu bersama Pandan Wangi.

Ki Argapati tidak berkeberatan, apabila Pandan Wangi pergi sejenak atas namanya menghadiri pemakaman korban-korban peperangan yang telah berjatuhan.

“Dua orang prajurit akan mengawani Angger di sini,” berkata gembala itu kepada Sutawijaya.

Sebenarnyalah bahwa kemudian dua orang prajurit datang dan duduk bersama anak muda itu, sedang dua orang yang lain langsung masuk ke dalam bilik Ki Argapati.

Di sepanjang jalan menuju ke banjar, baik Pandan Wangi maupun gembala tua itu tidak terlampau banyak berbicara. Dalam angan-angan masing-masing bergejolak masalah-masalah yang berbeda-beda. Pandan Wangi masih merenungi abu Tanah Perdikannya yang telah dibakar oleh api peperangan di antara keluarga sendiri, yang digelitik oleh ketamakan Ki Tambak Wedi. Sedangkan gembala itu sedang merenungkan sikap Sutawijaya. Mungkin ayahnya, Ki Gede Pemanahan memang selalu bertanya tentang seorang yang bersenjatakan cambuk. Tetapi apakah pesan Ki Pemanahan ini benar-benar sampai pada suatu kepastian, ia memerlukannya, atau hanya sekedar karena akal Sutawijaya itu sendiri.

Menilik ceritera Sutawijaya sendiri, ayahnya masih meragukannya. Apakah dalam keragu-raguan itu, Ki Gede Pemanahan sudah dapat mengambil suatu sikap.

“Tetapi aku sendiri memang perlu menemuinya,” desis orang tua itu di dalam hatinya.

Dalam pada itu, mereka pun segera sampai ke banjar pula. Sejenak kemudian maka jenazah-jenazah yang berada di banjar itu pun segera diberangkatkan ke pekuburan.

Beberapa orang keluarga mereka yang berhasil dihubungi, telah menitikkan air matanya. Seperti darah yang tertumpah, maka air mata mereka itu pun telah membasahi Tanah Kelahiran mereka.

Sebuah barisan yang panjang telah mengiringi korban-korban peperangan itu. Pandan Wangi, Samekta, Kerti, dan beberapa pemimpin yang lain berjalan di paling depan. Di belakang mereka, gembala tua yang telah ikut menentukan akhir dari peperangan itu pun berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa ia telah turut mengambil bagian dari peperangan yang telah membunuh sekian banyak kawan dan lawan.

Namun terbayang pertentangan yang pasti akan lebih dahsyat berkecamuk apabila Mentaok dan Pajang tidak dapat mengendalikan diri masing-masing. Di dalamnya tidak hanya terdapat seorang Sidanti dan seorang Argajaya. Tetapi di dalamnya terdapat berpuluh-puluh Sidanti dan berpuluh-puluh Argajaya.

Senapati-senapati perang yang pilih tanding akan turun ke medan. Prajurit-prajurit yang tangguh dan panglima-panglimanya yang tidak ada taranya.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Yang terutama menjadi pusat kecemasannya adalah Untara. Senapati muda yang memiliki kemampuan yang besar, yang justru diserahi daerah di sisi Selatan. Apalagi kalau Widura masih juga berada di Sangkal Putung bersama beberapa bagian dari pasukan Pajang.

Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kalau pertentangan jasmaniah harus terjadi, maka masalahnya akan sangat rumit bagi murid-muridnya, terutama Gupita.

Oleh angan-angannya itu, maka gembala tua itu hampir tidak memperhatikan lagi, ketika satu demi satu jenazah-jenazah itu diturun kan ke lubang pembaringannya untuk yang terakhir kali.

Namun salah seorang dari mereka memang telah menarik perhatiannya. Pandan Wangi yang menyandang sepasang pedang di lambungnya itu maju mendekati pekuburaa yang bau saja ditimbun dengan tanah yang merah.

Perlahan-lahan ia berdesis, “Jasamu tidak akan terlupakan, Wrahasta.”

Sejenak kemudian tangannya yang halus meraih segenggam bunga tabur. Ketika bunga itu berjatuhan di atas gundukan tanah yang masih basah itu, air matanya pun menitik. Dikenangnya anak muda yang bertubuh raksasa itu. Dikenangnya betapa anak muda itu mencoba meayentuh perasaannya yang kosong pada waktu itu.

Kepala Pandan Wangi pun menunduk dalam-dalam. Beberapa lama ia berdiri di samping makam Wrahasta. Sekilas terbayang pula pada saat-saat terakhir dari hidupnya. Masih juga anak muda itu bertanya kepadanya.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Ikhlas atau tidak ikhlas ia pernah menganggukkan kepalanya, mengiakan permintaan Wrahasta untuk memperisterikannya. Sekejap sebelum ia melepaskan nafasnya yang terakhir.

Dan kini Wrahasta itu telah dikuburkan di antara para pengawal yang telah gugur dalam menunaikan tugas mereka untuk Tanah Kelahiran.

Satelah semuanya selesai, maka orang-orang yang mengantar jenazah-jenazah itu pun satu-satu meninggalkan pekuburan. Dengan hati yang berat mereka melangkah semakin jauh, meninggalkan orang-orang yang pernah ada di antara mereka. Pernah bergurau dan bertengkar dalam satu lingkungan.

Di jalan kembali Pandan Wangi menjadi semakin diam. Gembala tua yang berjalan di sampingnya sama sekali tidak diacuhkannya. Sekali-sekali ia masih mengusap matanya yang basah.

Ketika Pandan Wangi masuk ke halaman rumahnya, ia tertegun sejenak. Di antara para pengawal yang berjaga-jaga di depan regol dilihatnya seorang anak muda yang gemuk berdiri sambil menyilangkan tangannya.

“Apakah semuanya sudah selesai,” Gupala bertanya sambil melangkah maju.

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. “Ya, semuanya sudah selesai.”

Gupala kemudian berjalan di samping gadis itu, sebelah-menyebelah dengan gurunya.

“Di mana Gupita” gurumya bertanya, “dan kenapa kau berada di situ?”

“Kakang Gupita masih menunggui Ki Argajaya. Aku tidak tahan untuk duduk saja di bawah pohon keluwih itu.”

“Kau tinggalkan Gupita sendiri?”

“Tidak sendiri. Ada beberapa orang pengawal yang menemaninya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Gupala yang mash ingin berbicara menjadi kecewa. Pandan Wangi terlampau murung dan hampir tidak memperhatikan orang-orang lain sama sekali. Tanpa berkata sepatah kata pun lagi gadis itu langsung naik ke pendapa dan masuk ke dalam rumahnya yang kotor.

Gupala berhenti di bawah tangga pendapa. Ditatapnya saja langkah Pandan Wangi sampai hilang di balik pintu pringgitan.

“Kembalilah ke tempatmu,” gurunya berdesis.

“O,” Gupala tergagap, “baiklah. Aku akan kembali ke bawah pohon keluwih. Mudah-mudahan tidak ada sebuah pun yang akan menjatuhi kepalaku yang lagi pening ini.”

Gurunya tidak menjawab. Dengan langkah yang gontai Gupala berjalan ke tempatnya kembali. Namun masih terdengar ia bergumam, “Apakah aku harus menungguinya sampai tua?”

Ternyata hari itu baik Gupita dan Gupala, maupun Ki Hanggapati dan Dipasanga, masih harus tetap berada di tempat masing-masing. Ki Argapati masih belum dapat berbuat sesuatu karena luka-lukanya, sehingga masih belum dapat mengambil suatu sikap bagi Sidanti dan Argajaya. Bahkan Ki Argapati masih juga belum dapat menerima Sutawijaya yang akan menemuinya.

“Kiai,” berkata Sutawjaya, “kalau besok Ki Argapati masih belum dapat menerima seseorang, maka aku kira lebih baik aku kembali ke Mentaok. Ayah pasti sudah terlampau lama menunggu. Bahkan mungkin perkembangan terakhir Mentaok sudah menjadi semakin sibuk, sehingga tenagaku sudah sangat diperlukannya.”

“Lalu, apakah Angger tidak ingin berbicara dengan Ki Argapati?”

“Aku tidak dapat menunggu tanpa batas. Sebaiknya aku berpesan saja kepada Kiai.”

“Tunggulah sampai besok.”

Sutawijaya merenung sejenak. Katanya, “Ya, aku memang akan menunggu sampai besok.”

Malam itu gembala tua itu pun berusaha dengan segenap kepandaian yang ada padanya untuk memperingan penderitaan Ki Argapati. Semalam suntuk gembala tun itu tidak tdur. Juga Pandan Wangi yang menunggui ayahnya hampir tidak dapat memejamkan matanya sama sekali. Hanya kadang-kadang sambil bersandar dinding Pandan Wangi terlena sejenak. Namun kemudian ia segera terbangun kembali.

Di malam hari luka-luka Ki Gede yang parah itu terasa betapa pedihnya, sehingga meskipun ia memiliki daya tahan yang luar biasa kuatnya, namun terdengar sekali-sekali ia berdesis tertahan. Apalagi karena obat-obat yang dipergunakan oleh gembala itu pun menambah nyeri pada luka-luka itu.

Semalaman gembala tua itu duduk dengan tegangnya. Tidak kalah tegang dari pertempuran yang dialaminya semalam. Sekali-sekali ia harus berusaha untuk menahan panas tubuh Ki Argapati yang menanjak, dengan minuman reramuan obat yang dibuatnya.

Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, barulah gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ki Argayati dapat tertidur sejenak. Namun tidur yang sejenak itu akan sangat membantunya.

“Tidurlah, Ngger,” berkata gembala tua itu kepada Pandan Wangi, “mumpung Ki Argapati juga lagi tidur.”

Pandan Wangi mengangguk. Tetapi ia tidak mengambil tikar dan berbaring dilantai. Ia masih saja duduk sambi bersandar dinding. “Aku tidur di sini saja Kiai.”

“Nanti kau terjerembab.”

Pandan Wangi menggeleng. “Tidak.”

Gembala tua itu pun kemudian keluar dari bilik Ki Argapati. Dilihatnya Sutawijaya tidak ada di ruang tengah. Yang ada adalah dua orang pengawal yang menunggui pintu bilik Sidanti.

“Di mana Anakmas Sutawijaya?” bertanya gembala tua itu.

“Ia akan tidur bersama Gupita dan Gupala.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas ia memandang pintu bilik Sidanti. Pintu itu masih tertutup rapat. Selaraknya pun masih terpancang kuat-kuat.

“Anak itu akan tetap merupakan masalah bagi Tanah Perdikan ini,” katanya di dalam bati. “Aku tidak dapat membayangkan bagaimana Ki Argapati akan menyelesaikannya.

Sambil mengangguk-angguk di luar sadarnya gembala tua itu pun kemudian duduk di samping kedun pengawal yang sedang bertugas menunggui pintu bilik Sidanti itu.

Sejenak kemudian maka cahaya yang merah telah membayang di halaman. Semakin lama semakin terang. Para pengawal yang berkesempaan tidur di gandok kanan dan kiri, di ruang-ruang belakang, di pendapa dan di banjar, satu demi satu telah terbangun.

Gembala tua yang belum mendapat kesempatan untuk tidur itu pun telah bangkit pula. Perlahan-lahan ia masuk ke dalam bilik Ki Argapati. Ketika dilihatnya Ki Argapati masih tidur, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

“Agaknya aku berhasil mengobatinya,” desisnya di dalam hati.

Gembala tua itu tersenyum pula ketika melihat Pandan Wangi pun masih tidur bersandar dinding. Rambutnya yang panjang terurai ke bahunya, sedang kedua tangannya bersilang di dada. Gadis itu sama sekali tidak berkeempatan untuk mengurus dirinya sendiri seperti kebanyakan gadis-gadis di masa usia remaja. Pandan Wangi selama ini hanya bergulat dengan pedang dan dengan ayahnya yang terluka.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kedatangan kakaknya di atas Tanah Perdikan ini justru membuat hatinya pedih. Gadis yang seharusnya sedang dibuai oleh usianya itu, kini seakan-akan telah meloncati satu lapisan dalam urut-urutan hidupnya.

“Mudah-mudahan selanjutnya Tanah ini menjadi tenang,” berkata gembala tua itu di dalam hatinya.

Demikianlah, maka gembala tua itu berpengharapan, bahwa hari itu Ki Argapati sudah menjadi jauh lebih baik dari keadaan sehari sebelumnya, sehingga ia dapat menerima Sutawijaya.

Sutawijaya sendiri, setelah membersihkan dirinya, segera masuk ke ruang tengah. Ditemuinya gembala itu duduk di antara dua orang pengawal yang ditinggalkannya semalam.

“Bagaimana Kiai, apakah hari ini aku dapat bertemu dengan Ki Argapati?”

“Mungkin, Ngger. Agaknya Ki Argapati sudah menjadi semakin baik. Tetapi sudah tentu tidak sepagi ini. Siang nanti, aku harap Ki Argapati sudah berkesempatan untuk berbicara.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku menunggu hari ini.

Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan telah menunggu dengan cemas kedatangan puteranya yang sedang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh tanpa mengetahui dengan pasti, apa yang telah terjadi di sana.

Dan Sutawijaya masih harus menunggu satu hari lagi.

Ketika Ki Argapati kemudian terbangun dari tidurmya, ia merasakan bahwa keadaan badannya telah menjadi jauh lebih baik. Lukanya sudah tidak terlampau pedih, dan kepalanya sudah tidak lagi memberati. Meskipun ia masih pening dan terlalu lemah, namun kesadarannya telah sepenuhnya dikuasainya.

Saat itulah yang ditunggu-tunggu oleh gembala tua itu. Ketika Ki Argapati telah dibersihkannya, maka katanya, “Angger Sutawijaya ingin bertemu dengan Ki Gede hari ini. Tetapi lebih baik setelah tengah hari. Keadaan Ki Gede akan menjadi semakin baik.”

“Apakah ada keperluan yang penting?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. “Sebenarnya tidak begitu penting Ki Gede. Tetapi karena ya sudah berada di atas Tanah ini, maka ia memerlukan untuk menemui Ki Gede.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Badannya yang terasa semakin segar membuat pikirannya menjadi segar pula.

Ternyata hari itu Ki Gede sudah dapat menelan makanan sedikikit-sedikit, sehingga badannya tidak terasa sangat lesu. Dengan telaten Pandan Wangi membantu ayahnya menyuapkan makanannya.

Agaknya Pandan Wangi pun menjadi sangat bersukur bahwa ayahnya sudah menjadi semakin baik.

Pada siang harinya, Sutawijaya benar-benar mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Ki Gede, meskipun Ki Gede masih berada di pembaringannya. Tetapi sebelum Sutawijaya memasuki bilik Ki Argapati gembala tua itu sudah berpesan, “Katakan yang paling penting saja Anakmas. Jangan terlampau berkepanjangan, karena Ki Argapati masih belum seharusnya memikirkan masalah-masalah yang berat.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Kemudian desisnya, “Kalau begitu, kenapa aku harus menunggu sampai hari ini? Bukankah aku dapat meninggalkan pesan saja.”

“Kau masih terlampau muda untuk mengerti perasaan orang tua-tua. Meskipun akhirnya kau meninggalkan masalah itu kepada orang lain, tetapi bahwa kau sendiri sudah memerlukan datang menemuinya, bagi orang tua, itu akan banyak memberikan arti. Kau sudah menyatakan kesungguhan hatimu, dengan datang menemuinya sendiri.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah,” katanya.

Kemudian dengan diantar oleh gembala tua itu, Sutawijaya memasuki bilik Ki Argapati.

“Maafkan, Anakmas,” berkata Ki Argapati ketika ia melihat Sutawijaya, “aku tidak dapat menemui Anakmas sebagaimana sebarusnya aku menerima.”

Sutawijaya tersenyum. Sekilas dipandanginya wajah Pandan Wangi yang buram oleh kelelahan yang sangat. Kemudian jawabnya, “Aku tahu apa yang sedang terjadi Ki Gede. Karena itu, silahkan. Ki Gede sedang terluka.”

Sutawijaya dan gembala tua itu pun kemudian duduk di sebuah dingklik kayu di samping pembaringan.

Sementara itu Pandan Wangi duduk di sudut ruangan. Seolah-olah ia selalu ingin menunggui dan mengawasi ayahnya yang baru sakit itu.

Sejenak kemudian maka Sutawijaya pun mulai mengatakan maksudnya dengan hati-hati. Ternyata Sutawjaya adalah anak muda yang memang cerdas. Sebelum ia sampai pada persoalannya, maka katanya, “Ki Argapati, yang pertama-tama, aku ingin menyampaikan salam dari ayah Ki Gede Pemanahan untuk Ki Argapati.”

Ki Argapati tersenyum. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Terima kasih. Terima kasih, Anakmas. Nanti apabila Anakmas kembali, aku pun menyampaikan salam kepada Ki Gede Pemanahan.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baiklah Ki Gede. Aku akan menyampaikannya kepada ayah.”

Ki Argapati yang menemui Sutawijaya sambil berbaring di pembaringannya itu pun kemudian berkata, “Sayang, Anakmas, aku tidak dapat menerima Anakmas sewajarnya. Keadaanku dan keadaan rumah ini sama sekali tidak pantas bagi Anakmas.”

“O,” Sutawijaya menyahut, “aku menyadari keadaan ini Ki Gede. Ki Gede tidak usah menganggap kedatanganku ini sebagai suatu kuujungan yang penting.”

“Bagaimana pun juga, Anakmas adalah orang penting bagi Pajang.”

Sutawijaya tersenyum, dan sebelum ia menjawab Ki Argapati berkata, “Selain salam buat ayahanda Ki Gede Pemanahan, aku juga menyampaikan baktiku kepada Ayahanda Sultan Pajang.”

Sutawijaya kini mengerutkan keningnya. Senyumnya tiba-tiba seperti tersapu dari bibirnya. Namun sejenak kemudian ia memperbaiki kesan di wajahnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, ya Ki Gede, apabila aku menghadap Ayahanda Sultan, maka aku akan menyampaikannya.” Sutawijaya terdiam sejenak. Namun hal itu justru dapat dijadikannya pancadan untuk menyampaikan maksudnya.

Maka anak muda itu pun kemudian berkata, “Tetapi Ki Gede, kesempatanku untuk bertemu dengan Ayahanda Sultan kini terlampau jarang.”

Argapati terperanjat. “Kenapa?” ia bertanya.

“Aku sekarang berada di Mentaok.”

“Alas Mentaok?”

“Ya, Ki Gede. Kami telah membukanya. Desa di pinggir Alas Mentaok sampai ke Pliridan telah kami jadikan modal. Dan kini daerah tersebut menjadi semakin ramai.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam.

Sutawijaya pun berkata selanjutnya, “Kini untuk sementara aku berada bersama Ayahanda Pemanahan.”

Ki Argapati tidak segera menyahut. Tetapi tampaklah sesuatu sedang bergetar di dalam hatinya.

“Ki Gede,” berkata Sutawijaya kemudian, “karena itu pulalah aku datang kemari atas nama ayah Ki Gede Pemanahan.”

Ki Argapati yang mempunyai tangkapan yang tajam itu pun segera mengerti, meskipun Sutawijaya baru mulai menyebut tentang tanah yang baru dibukanya itu. Meskipun demkian Ki Argapati masih tetap berdiam diri dan memberi kesempatan kepada Sutawijaya untuk mengatakannya.

Demikianlah Sutawjaya pun kemudian berceritera tentang Alas Mentaok. Tentang janji Sultan Hadiwjaya atas Tanah Mentaok dan Pati. Tentang Ki Gede Pemanahan yang menganggap bahwa Sultan Pajang telah berkisar dari sifat-sifatnya semula.

Meskipun Sutawjaya selalu mengingat pesan gembala tua untuk tidak mengatakan semua persoalannya, namun ternyata Ki Argapati sendiri langsung dapat menangkap maksud Sutawijaya seluruhnya.

Tetapi Sutawijaya memang seorang anak muda yang bijaksana. Ketika ia hampir mengakhiri keterangannya mengenai Alas Mentaok ia pun berkata, “Tetapi Ki Gede jangan dicengkam oleh masalah yang sebenamya tidak begitu penting ini. Sebaiknya Ki Gede memusatkan perhatian Ki Gede pada Tanah Perdikan yang kini sedang luka parah seperti Ki Gede sendiri yang terluka.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Sekilas ia melihat Pandan Wangi yang duduk di sudut ruangan itu dengan wajah yang tegang. Agaknya gadis itu pun mengikuti pembicaraan ayahnya dengan saksama.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:34  Comments (18)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-47/trackback/

RSS feed for comments on this post.

18 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hee hee kirain 47, dah ada juga….bakal besok minggu siang , untuk malam mingguan dah ada 46…

  2. Saluuuut buat para pengawal tanah perdikan “adbmcadangan” tampilan padukuhan menoreh tambah kece aja…..tks buat kigede yang selalu berbuat yg ter OK buat padukuhan ini…..

  3. malam minggu nunggu sepak bola sambil baca 47 (mudah2an) cepet datang, duh mesti mak nyes, suwun.

  4. kencan sampai tak batalin.demi 47th adbm.saluda buat semua yg telah merelakan semuanya.

  5. kakang,
    mengingat padepokan kita sudah semakin luas. apa tidak sebaiknya mulai dibuat sistem penjagaan yg kuat kakang 🙂

  6. 47
    47
    47
    47
    47….

    biasanya kalo di keplok2 ntar muncul ye??….
    hehehehehe
    bayangin yg nunggu ada 100 ribuan.., kira2 sepenuh stadion senayan kalo lagi nonton bola…wow…!!!

  7. Harap-harap cemas. Wis tak niyati ora mangkat ronda malem minggu buat nungguin 47 je.

  8. btw… blog ini bakal ikutan juga gk ya diacara pesta bloger??

    D2: Kami belum dapat undangan. Tetapi, untuk saat ini Kiai Gringsing masih belum mau membuka jatidirinya. Dia masih senang di dunia maya. Bukan dunia riil.

  9. Sempat hati bardebar-debar dan berdesir….ternyata 47-nya udah nongol….Terima kasih Ki Gede, walaupun masih keadaan terluka parah akibat Nenggala Ki Tambak Wedi tetapi tetap berusaha melayani orang-orang sepedukuhan…..Salut, Teng yu

  10. wah yo kalu sampe dikeluarkan malam ini untuk buku 48 nya yo maknyuss

    maturnuwun
    Ki KontosWedul

  11. Waduh..teganya engkau. Berarti di tempatku, aku harus menunggu sampai jam setengah satu dinihari.

    Ya, baiklah saya unduh besok pagi pagi saja.

    Selamat malam. Mau istirahat dulu setelah ikut melihat lihat pedukuhan di tanah perdikan yang sudah mulai berbenah kembali itu….

  12. (Biar nampak bahwa buku cerita ini antik saya re type dengan ejaan lama. Nuwun)
    AKU akan menunggu, sebentar. Kalau tidak segera ada pemberitahuan dari induk pasukanmu jang sedang bertempur itu, aku akan menjusul mereka. Mungkin mereka memerlukan bantuan.
    ………. dst (panjang sekali)

    GD: Matur nuwun, Ki Kesawa atas sumbangannya untuk pesta kemenangan ini. Mengingat tata guna pelataran padepokan (nyancang kuda, jemur padi, bermain bocah, apel cantrik dll), maka sumbangan Ki Kesawa disimpan di lumbung samping gandok kanan.

  13. Gupala sedang mengetrapkan ajian tuna sathak bathi sanak

    • wah…wah…wah….
      Gupala dari tlatah Lendut Benter sudah sampai disini
      hmm……………

      • inggih Ki Ajar pak Satpam,
        namung sakderma nyobi
        mendhisiki Ki Menggung.

        • 😀

          • mesine anyar-anyar kuabueh

            • sIP…wes pada HADIR,

              tinggal cari NUNUTan andong ning gandOK sebelah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: