Buku 47

Samekta berpikir sejenak. Kemudian, kepalanya pun terangguk-angguk. Perlahan-lahan ia bergumam seperti kepada diri sendiri, “Agaknya pengawasannya pun menjadi lebih baik.”

“Jadi, apakah hal ini dapat disetujui?”

“Aku setuju, tetapi baiklah hal ini aku beritahukan Angger Pandan Wangi lebih dahuilu.”

Samekia pun kemudian masuk sejenak ke ruang tengah, untuk menemui Pandan Wangi yang sedang mempersilahkan Sutawijaya duduk.

“Terserahlah kepada Paman,” jawab Pandan Wangi.

“Tetapi bagaimana pendapat Angger.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Aku sependapat.”

“Gembala tua itu dapat langsung mengawasinya sambil duduk di ruang ini.”

Sekali lagi Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian maka Sidanti yang masih belum sadar sepenuhnya itu langsung dibawa masuk ke ruang dalam. Setelah dibersihkan, maka ia pun ditempatkan di bilik sebelah kiri. Bilik yang tidak begitu luas, tetapi agak lebih baik dari bilik yang telah ditinggalkannya di bagian belakang rumah itu. Namun dengan demikian kesempatan untuk lolos pun menjadi semakin sempit pula.

Dengan tertib Samekta mengatur pengawasan longkangan belakang. Pengalaman yang baru saja terjadi merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi para pengawal, sehingga meteka pasti tidak akan lengah lagi. Betapa pun lelah mencengkam tubuh masing-masing, tetapi mereka tidak mau bernasib seperti kedua kawannya yang sama sekali tidak sempat melawan ketika Sidanti tiba-tiba saja telah menyerang mereka.

Ketika semuamya sudah dianggap cukup, barulah Samekta dan gembala tua itu turut duduk pula di ruang tengah bersama Sutawijaya.

Namun selama ini agaknya Sutawijaya sama sekali tidak membicarakan apa pun tentang Alas Mentaok dengan segala kemungkinannya. Agaknya ia hanya sekedar berceritera, kenapa ia berada di Tanah Perdikan ini. Dan ceriteranya itu pun sama sekali tidak lengkap seperti apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku hanya sekedar ingin melihat Tanah ini,” katanya, “dan lebih-lebih lagi, aku ingin mencari kawan-kawanku yang menurut pendengaranku sudah lebih dahulu berada di sini.”

Tidak seorang pun yang tidak mempercayainya. Pandan Wangi, Kerti, dan kemudian juga Samekta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Tetapi bagaimana, dengan Mentaok seperti yang dikatakan oleh gembala tua ini?” bertanya Samekta kemudian.

“Ah, itu bukan persoalan lagi.” Sutawijaya berhenti sejenak. “Aku hanya ingin berbicara sedikit dengan Ki Argapati sendiri apabila kesehatannya sudah memungkinkan.”

Semuauya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Hal itu adalah wajar sekali, karena Kepala Tanah Perdikan ini adalah Ki Argapati.

“Tetapi bagaimana kalau pembicaraan itu tidak memungkinkan karena Ki Argapati tidak segera dapat melayani Anakmas,” bertanya Samekta.

“Aku tidak tergesa-gesa dan pembicaraan itu pun tidak begitu penting.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Ternyata penibicaraan mengenai Ki Argapati itu, telah memperingatkan Pandan Wangi kepada ayahnya yang sedang sakit. Karena itu maka katanya kemudian, “Tuan kami persilahkan duduk bersama Paman Samekta dan Paman Kerti. Aku akan menunggui ayah yang masih terbaring di biliknya.”

“O, silahkan,” jawab Sutawijaya.

Dan sejenak kemudian Pandan Wangi pun telah memasuki bilik di ujung kanan yang dipergunakan oleh Ki Argapati.

Sepeninggal Pandan Wangi, maka Sutawijaya pun memanggil Hanggapati dan Dipasanga mendekat. Perlahan-lahan ia bertanya,

“Bagaimana dengan kalian?”

“Baik, Kami tidak mengalami kesulitan apa pun.”

Sutawijaya menganggukkan kepalanya, kemudian katanya kepada Samekta dan Kerti, “Kedua prajurit ini adalah orang-orang yang menjadi kepercayaanku.”

Kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. “Kami sudah menduga bahwa keduanya adalah prajurit-prajurit dari Pajang.”

“Bukan dari Pajang,” Sutawijaya memotong.

Samekta dan Kerti mengerutkan kening mereka. Sejenak mereka saling berpandangan, dan sejenak kemudian mereka memandang wajah Sutawijaya dengan sorot mata yang bertanya-tanya, meskipun tidak terucapkan.

“Memang, mereka bukan prajurit-prajurit Pajang,” Sutawijaya menegaskan, seakan-akan ia dapat membaca isi hati kedua orang-orang tua itu.

“Jadi, prajurit manakah keduanya?”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia tersenyum. “Baiklah, sebut saja ia memang bekas prajurit Pajang.”

“Dan sekarang tidak lagi?”

Sutawijaya menggeleng. “Keduanya sedang melakukan tugas yang tidak kalah pentingnya dengan tugas keprajuritan Pajang.”

Kedua orang-orang tua itu menjadi semakin bingung. Namun mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka tanpa mengerti maksud pembicaraan Sutawijaya.

“Mungkin banyak hal-hal yang tidak jelas bagi kalian,” Sutawijaya itu berkata. “Memang mungkin harus demikan untuk saat ini.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Begitulah.”

Samekta masih mengangguk-angguk dan Kerti menggaruk-garuk keningnya.

“Tetapi kenapa kita berbicara tentang hal-hal yang sulit,” potong gembala tua itu, “kenapa kita tidak berbicara tentang hal-hal yang menyenangkan. Katakanlah, bahwa kita telah menyelesaikan sebagian besar dari tugas kita. Bukankah begitu?”

Samekta dan Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, seharusnya kita mulai membicarakan, kapan kita merayakan kemenangan ini.”

“Ah,” jawab Kerti “kita masih belum tahu, kapan Ki Argapati sembuh.”

“O, ya,” gembala itu mengangguk-angguk. “Nah, kalau begitu, kita berbicara tentang Tanah ini. Apakah kekalahan pasukan Sidanti di padukuhan induk ini sudah berarti kekuatan mereka patah sama sekali?”

“Tidak, Kiai,” Samekta menggeleng, “mungkin masih ada sisa-sisa pengikutnya yang membuat kubu-kubu kecil untuk mempertahankan diri karena mereka masih mempunyai pengharapan atas mimpi mereka yang dibiuskan oleh Sdanti dan Ki Tambak Wedi, atau justru karena putus asa.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun banyak bertanya tentang padukuhan-padukuhan kecil yang mungkin dipergunakan oleh sisa-sisa pasukan Sidanti.

Sementara itu, Guipita dan Gupala duduk termenung di ruang ujung belakang gandok kanan. Di dalam ruangan itu tersimpan Ki Argajaya yang duduk merenungi nasibnya.

Sekali-sekali Gupala berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya.

Katanya kemudian, “Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang paling menjemukan. Aku kira lebih baik tinggal di dalam ruangan itu daripada berjaga-jaga di sini.”

“Hus,” desis Gupita, “apakah kau lebih baik ditahan daripada menjaga tahanan ini.”

“Tentu,” jawab Gupala, “kalau aku yang ditahan, maka apa pun dapat aku lakukan di dalam ruangan itu. Tetapi kita tidak. Kita tidak dapat tidur betapa kantuknya. Sedang Argajaya dapat saja tidur kapan saja ia kehendaki tanpa menghiraukan kita? Tetapi kita tidak dapat. Kita harus menjaga jangan sampai ia lari. Namun Ki Argajaya tidak peduli apakah kita akan melarikan diri ke mana pun.”

“Tetapi dari segi lain.”

“Apa misalnya.”

“Kita dapat melihat udara di luar bilik itu.”

“Hanya sekedar melihat. Tetapi kita terikat juga pada bilik itu.”

“Ah, jangan mengigau. Apa pun yang kau katakan, tetapi kau tidak akan mau bertukar keadaan dengan Ki Argajaya sekarang.”

Kemudian mereka terdiam untuk sejenak. Mereka juga mendengarkan hiruk-pikuk yang terjadi di pendapa rumah itu. Tetapi mereka tidak berani meninggalkan tugas mereka.

Mereka mengetahui apa yang terjadi dari beberapa orang pengawal yang membantu mereka menjaga Ki Argajaya di luar sudut-sudut bilik itu. Tetapi mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka berdua tidak dapat meninggalkan tanggung jawab mereka. Meskipun ada beberapa orang prajurit yang ikut dalam penjagaan itu, tetapi keduanya tidak dapat mempercayakan penjagaan atas Argajaya itu kepada pengawal yang kemampuannya jauh ketinggalan dari Ki Argajaya. Apalagi setelah mereka mendengar, bahwa Sidanti telah berusaha untuk melarikan diri.

“Anak itu memang keras kepala,” desis Gupita.

“Untunglah bahwa niat itu urung karena di pendapa ada seorang anak muda yang bersenjata tombak pendek.”

“Ia tidak sabar lagi menunggu kita.”

Gupala tertawa. Katanya, “Menunggu, adalah pekerjaan yang paling menjemukan.”

Keduanya pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Seperti tugas yang kini sedang mereka lakukan.. Menunggu. Sampai kapan?

Sementara itu Argajaya sendiri duduk termenung di dalam bilik yang pengap. Tanpa sesadarnya ia telah melihat semua peristiwa yang telah terjadi atas dirinya. Berurutan seperti gambar-gambar yang tersusun rapi. Sejak ia meninggalkan Menoreh menuju ke Padepokan Tambak Wedi.

Bukan, bukan hanya sejak keberangkatannya. Tegapi justru jauh sebelum itu. Sejak ia masih kanak-kanak. Kanak-kanak yang manja, dengan seorang kakaknya yang tekun.

“Kakang Argapati adalah seorang kakak yang baik,” anggapan itu tumbuh sejak ia menyadari, apa yang telah dilakukan oleh Arya Teja atasnya.

Terbayang kemudian saat-saat terakhir ia berada di atas Tanah ini sebelum ia pergi menengok Sidanti. Kakaknya masih tetap bersikap baik kepadanya.

Argajaya menarik nafas dalam. Perlahan-lahan ia dapat melihat apa yang terjadi itu dengan hati yang tenang. Memang kadang-kadang harga dirinya masih melonjak mengatasi kesadarannya yang mulai timbul. Tetapi karena suasana ruangan yang sepi, kesendirian yang mencengkam, maka perasaan segera dapat diendapkannya kembali.

Sekali-sekali Argajaya itu berdesah. Bahkan kemudian ia dapat menemukan bintik-bintik terang di dalam hatinya.

Seperti seseorang yang terbangun dari tidurnya dengan sebuah mimpi yang dahsyat, Argajaya mengusap dadany.a. Apa yang telah terjadi atas dirinya ternyata adalah noda-noda yang paling hitam bagi Tanah Perdikan Menoreh.

Baru sekarang ia bertanya, “Kenapa selama ini aku berada di pihak Sidanti?”

Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar kepada dirinya sendiri. Ia tidak dapat menyembunyikan diri dari pengakuan, bahwa ternyata ia telah didorong pamrih-pamrih pribadi yang tidak terkendali.

Argajaya yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Meskipun di dalam ruangan itu tidak ada seorang pun selain dirinya sendiri, namun justru penglihatan dari dalam dirinya itu telah membuatnya menyesal sampai ke dasar hatinya.

Penyesalan itulah yang kemudian telah membuat dirinya pasrah. Ia sama sekali sudah tidak mempunyai niat apa pun lagi. Ia akan menerima nasib apa pun yang akan ditentukan oleh kakaknya atas dirinya.

Perlahan-lahan Argajaya menengadahkan wajahnya. Kini seleret kecerahan membayang di matanya. Ia telah berhasil menyingkirkan kegelisahannya menghadapi masa-masa mendatang. Sehingga dengan demikian, Argajaya yang tidak mengenal menyerah itu kini sama sekali tidak berusaha untuk berbuat apa pun. Kali ini ia telah pasrah. Betapapun keras hatinya, namun penglihatannya yang bening atas semua peristiwa yang dialaminya, telah membuatnya luluh.

Berbeda sekali dengan Sidanti. Ia sama sekali tidak melihat kesalahan yang melekat pada dirinya. Kesadarannya tentang dirinya, bahwa ia bukan anak Argapati, telah membuatnya menjadi tidak terkekang.

Meskipun ia telah gagal untuk melarikan dirinya, namun ia sama sekali tidak mau melihat kenyataan itu.

Ketika perlahan-lahan kekuatannya telah pulih kembali, maka ia pun mulai menilai ruangan yang melingkunginya. Diraba-rabanya dinding yang membatasi ruangan itu. Dari satu sudut ke sudut lain. Dicobanya untuk melihat kelemahan-elemahannya yang mungkin dapat dipergunakannya untuk melepaskan diri.

“Mati dirampok orang dalam perlawanan adalah lebih baik daripada digantung dengan tangan terikat,” katanya di dalam hati. Dengan demikian, maka bagi Sidanti, melarikan diri adalah jalan yang paling baik untuk mati.

Meskipun demikian, ia masih mencoba membuat perhitungan. Ia tidak mau mengalami nasib yang lebih jelek daripada digantung.

Kalau ia melarikan diri dan jatuh di tangan para prajurit kebanyakan, maka ia memang dapat mengalami nasib yang jelek. Mungkin ia tidak akan mati terbunuh, tetapi justru menjadi pengewan-ewan.

Dengan demikian, Sidanti masih juga mempergunakan sedikit perhitungan dengan pikirannya yang sudah kisruh.

Di ruang dalam, Sutawijaya kini duduk dikawani oleh gembala tua itu di samping Dipasanga dan Hanggapati. Samekta dan Kerti telah minta diri untuk melakukan tugas-tugas mereka.

Dengan demikian, maka pembicaraan Sutawijaya kini telah berkisar pada kepentingannya sendiri.

“Kita sudah terlalu lama meninggalkan Ayah Ki Gede Pemanahan di Hutan Mentaok,” berkata Sutawijaya.

Hanggapati dan Dipasanga mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu kita harus segera kembali.”

“Ya,” jawab Hanggapati. “Mungkin Ki Gede Pemanahan memang memerlukan Anakmas.”

“Meskipun demikian, mumpung aku sudah berada di atas Tanah Perdikan ini, aku ingin berbcara dengan Ki Argapati.” Kemudian kepada gembala tua itu ia bertanya, “Apakah mungkin hari ini aku berbicara dengan Ki Gede Menoreh?”

“Aku belum yakin,” jawab orang tua itu, “tetapi baiklah aku akan mengusahakannya.”

“Terima kasih,” berkata Sutawijaya. “Tetapi sebelum aku mengatakannya kepada Ki Argapati, aku memang akan menemui Kiai sendiri. Aku kira sudah sampai waktunya aku mengutarakannya sekarang.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Kini tampaklah kesungguhan membayang di wajahnya.

“Aku memang sudah menduga Anakmas, bahwa pada suatu ketika aku dan kedua anak-anakku itu pasti akan terlibat dalam persoalan Anakmas.”

“Apaboleh buat, Kiai. Aku memerlukannya.”

“Bukankah Angger telah mempunyai beberapa orang senapati yang mumpuni?”

“Ayah Pemanahan?”

“Ya, dan selain itu Ada angger sendiri dan Pamanda Mandaraka yang bijaksana itu?”

“Ya, Kiai. Tetapi aku memerlukan orang yang langsung cakap menangani prajurit di peperangan. Paman Mandaraka adalah orang yang mempunyai pandangan yang tajam sekali. Tetapi apabila terjadi sesuatu dengan Pajang, dalam kenyataan tempur, aku kira Paman Mandaraka tidak akan dapat turun langsung ke medan. Aku juga tidak yakin bahwa Ayahanda Pemanahan dapat melakukannya sendiri.”

“Dengan demikian akulah yang harus jadi banten. Aku harus melakukan tugas yang tidak dapat dilakukan oleh Ki Juru Mertani dan Ki Gede Pemanahan itu. Mereka tidak akan sampai hati melawan langsung berhadapan di medan perang dengan para senapati Pajang, tetapi aku harus menyingkirkan perasaan itu?”

Sutawijaya terkejut mendengar jawaban itu. Ia kemudian merasa bahwa ia telah terdorong kata sehingga agaknya telah menyinggung perasaan orang tua itu.

Namun anak muda yang cerdas itu kemudian tersenyum. Katanya, “Maafkan, Kiai. Aku sama sekali tidak bermaksud demikian. Tetapi aku agaknya telah keliru, sehingga menimbulkan kesan seakan-akan aku berhasrat menempatkan Kiai pada tempat yang sulit, yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.” Sutawijaya berhenti sejenak. Kemudikan dilanjutkannya, “Tetapi baiklah aku tidak mengatakannya dengan kalimat-kalimatku sendiri supaya aku tidak keliru lagi. Sebenarnya ayahlah yang berpesan kepadaku. Kalau aku bertemu dengan seorang tua yang bersenjata cambuk, serta mempunyai kecakapan dalam hal obat-obatan, maka aku harus mengatakannya, bahwa ayah memerlukan.”

“Apakah hanya ada seorang, aku saja, yang menguasai ilmu obat-obatan.”

“Tidak hanya ilmu obat-obatan Kiai, tetapi yang mempunyai ciri senjata cambuk.”

“Itu pun tidak hanya seorang.”

Mungkin kalau aku ketemukan yang lain, aku pun akan mengatakannya demikian kepadanya. Tetapi seluruh Pajang pernah aku jelajahi. Yang aku ketemukan adalah Kiai seorang saja.”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Siapakah nama orang itu? Apakah ayahanda Ki Gede Pemanahan tidak menyebut namanya?”

“Ya, ayah memang menyebut namanya.”

“Nah, apakah nama itu namaku?”

“Siapakah mama Kiai sebenarnya?”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian tersenyum. “Hem,” desahnya, “Anakmas memang seorang yang mapan berbicara.”

Sutawijaya pun tersenyum pula. Katanya kemudian, “Ayah memang menyebut nama itu. Sorotomo, Danumurti, Ragapati, dan masih ada dua nama lagi yang aku terlupa.”

Orang tua itu mengangkat wajahnya. “Nama-nama yang menarik.”

Sutawijaya memperhatikan kesan yang tersirat di wajah orang tua itu dengan seksama. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Orang tua itu benar-benar seorang yang mampu menguasai perasaannya, sehingga sama sekali tidak ada kesan apa pun yang tersirat di wajah yang telah berkerut-merut itu.

“Nama-nama yang baik,” desisnya. “Tetapi Anakmas mengatakan bahwa laki-laki tua yang bersenjata cambuk itu hanya seorang. Sedang Angger menyebut beberapa nama sekaligus.”

“Itulah yang aneh, Kiai,” jawab Sutawijaya. “Karena itu, apakah artinya sebuah nama bagi seseorang seperti laki-laki bersenjata cambuk itu? Ia dapat menyebut dirinya dengan seribu nama. Sorotomo ataukah Danumurti atau Ragapati atau Kiai Gringsing atau Ki Tamu Metir atau seorang gembala tidak bernama atau ………….”

“Kenapa Angger sampai ke nama-nama itu,” potong gembala tua itu.

“Misalnya, Kiai. Hanya sekedar missal,” sahut anak muda itu. “Aku tidak mengatakan bahwa Sorotomo itu juga bernama Kiai Gringsing atau Ki Tanu Metir atau yang lain.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam.

Anak muda itu kemudian melanjutkan “Aku belum selesai, Kiai. Ayah berpesan agar aku menyampaikan pula, bahwa ayah minta pertolongan Kiai untuk membantu menegakkan sebuah daerah baru. Alas Mentaok harus menjadi sebuah negeri.”

“Kenapa aku harus ikut?”

“Menurut ayah, Mentaok akan sangat memerlukannya. Eh, maksudku memerlukan Kiai. Apalagi salah seorang muridnya adalah putera Demang Sangkal Putung.”

Orang tua itu tersenyum, Jawabnya, “Itulah yang penting. Letak Sangkal Putung sangat menguntungkan bagi daerah baru itu untuk menghadapi Pajang. Garis yang menjelujur dari Alas Mentaok, Prambanan, kemudian Sangkal Putung adalah lapis-lapis pertahanan yang pasti tidak tertembus.”

“Ah,” anak muda itu mengerutkan keningnya, “adakah seorang gembala di seluruh Pajang yang begitu cepat menanggapi keadaan medan seperti Kiai.”

“Hem,” gembala itu berdesah.

“Itulah agaknya maka ayahanda telah meminta Kiai untuk datang ke Alas Mentaok.”

Gembala itu tidak segera menjawab.

“Ayah sangat mengharap kedatangan Kiai. Apakah ternyata kemudian ayah keliru, atau akulah yang keliru, terserahlah. Atau barangkali Kiai telah keliru atau lupa menyebut nama sendiri,” anak muda itu pun tertawa.

“Ah, kau ini, Ngger.”

Dan anak muda itu berkata seterusnya, “Tetapi ayah juga berpesan, bahwa apa yang dilakukan ayah sekarang ini tidak sekedar terdorong oleh suara yang pernah didengar dari puncak sebatang pohon kelapa yang hanya berbuah sebutir oleh Ki Ageng Giring. Apakah Kiai sudah mendengar dongeng itu?”

“Belum, Ngger,” namun orang tua itu tertawa sehingga Sutawijaya menyahut, “Ah, Kiai mencoba untuk menyembunyikan diri.”

“Kenapa?” gembala itu mengerutkan keningnya.

“Kiai pasti sudah mendengarnya karena Kiai tertawa.” Kemudian dengan bersungguh-sungguh Sutawijaiya bertanya, “Apakah Kiai percaya bahwa siapa yang minum air kelapa itu dan menghabiskannya sekaligus akan menurunkan raja?”

“Sebaiknya kita percaya,” jawab gembala itu sambil tersenyum. “Jika kemudian ternyata demikian, maka keturunan Ki Pemanahan itu akan menjadi raja.”

“Ah,” Sutawijaya berdesah, “bukan itu soalnya.”

Tetapi gembala tua itu tertawa. Katanya, “Angger memang seorang pemikir yang cemerlang. Sebelum Alas Mentaok itu benar-benar menjadi sebuah negeri, Angger sudah membentengi dengan ketat. Sangkal Pulung, Jati Anom, dan Menoreh adalah suatu lingkaran yang rapat. Sudah tentu Angger akan menghubungi Mangir dan sekitarnya.”

Sutawijaya tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba matanya menjadi redup. Sejenak ditatapnya Hanggapati dan Dipasanga yang terkantuk-kantuk. Mereka merasa lelah sekali, karena semalaman mereka tidak beristirahat sama sekali, dan bahkan telah memeras tenaga di dalam peperangan.

“Kalian lelah sekali,” desis Sutawijaya.

Keduanya tersenyum. “Ya. Tetapi biarlah kami duduk di sini.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya kepada gembala tua itu hampir berbisik, “Tetapi Kiai, jalan ke Selatan itu tidak begitu menggembirakan. Kepala Tanah Perdikan Mangir agaknya mempunyai sikap sendiri.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. “Apa katanya?”

“Mereka merasa, bahwa mereka lebih tua dari Tanah Mentaok yang sedang dibuka itu. Bagi mereka, Mentaok dapat menjadi perintang atas perkembangan Tanah Perdikan itu.”

“Kalau begitu, mereka akan berusaha merintangi perkembangan Alas Mentaok. Bahkan mungkin bekerja bersama dengan Pajang.”

“Dengan Pajang tentu tidak. Tetapi hasrat untuk besar dan berdiri sendiri itulah yang akan dapat menjadi perintang.”

“Apakah hal itu merupakan persoalan yang dapat dianggap bersungguh-sungguh bagi Mentaok?”

“Tetapi sampai saat ini kami masih berusaha untuk membatasi persoalannya, Kiai. Kami seolah-olah tidak mempedulikannya lagi. Mudah-mudahan untuk selanjutnya Mangir tidak mengganggu kami.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Gambaran masa depan yang suram bagi Pajang. Meskipun ia tidak mendasarkan penglihatannya atas perkembangan pusat pemerintahan itu pada peristiwa-peristiwa ajaib, seperti kelapa, yang dipetik oleh Ki Ageng Giring, yang tanpa disengaja airnya telah terminum oleh Ki Gede Pemanahan karena ia kehausan itulah, namun ia memang melihat, bahwa kekuasaan Pajang tidak akan mampu bertahan terlampau lama. Pimpinan pemerintahan di Pajang, yang menggemparkan di masa mudanya itu kemudian tenggelam di dalam kesenangan pribadi yang berlebih-lebihan. Sejak muda Mas Karebet telah menyimpan cacat pada pribadinya, di samping kecemerlangannya yang tidak ada duanya. Di samping kemampuannya sebagai seorang Wira Tamtama, penjelajahannya yang sulit dilakukan oleh orang lain sampai ke tempat-tempat yang terpencil, dan kemudian mencapai puncak kedahsyatannya dengan mengalahkan Kebo Danu dari Banyu Biru, meskipun hal itu telah diatur lebih dahulu. Karebet memberi harapan bagi Pajang yang diambilnya dari Demak. Tetapi cacat yang dibawanya sejak muda, kegemarannya melibatkan diri dengan perempuan justru menonjol ketika ia menjadi Adipati di Pajang. Ratu Kalinyamat telah berhasil memancingnya ke dalam suatu bentrokan yang tidak terhindar lagi melawan Jipang, dengan menjanjikan dua orang gadis cantik kepadanya.

“Sekali tepuk dua lalat terbunuh,” berkata orang tua itu di dalam hatinya. “Sepeninggal Arya Penangsang, takhta tersedia buat Adipati Pajang, sekaligus ia mendapat hadiah dari Ratu Kalinyamat itu.”

Tetapi yang akan disesali oleh Sultan Pajang itu adalah kelalaiannya memberikan Tanah yang sudah disanggupkannya kepada Ki Gede Pemanahan.

Karena ia dibayangi oleh hadiah dua orang gadis cantik itulah, maka tanpa berpikir panjang ia bersedia menyerahkan tanah Pati dan Mentaok kepada mereka yang berhasil membunuh langsung Arya Penangsang dari Jipang.

Kini semuanya itu sudah terlanjur. Hubungan antara Sultan dan Ki Gede Pemanahan yang selama ini menjadi Panglimanya, bagaikan telur yang retak kulitnya. Tidak akan dapat dipulihkannya kembali. Apalagi Ki Gede Pemanahan sudah mulai membuka Alas Mentaok meskipun mungkin hal itu tidak dikehendaki oleh Sultan Pajang.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Memang persoalan-persoalan selama kita masih hidup ini tidak akan ada selesainya. Persoalan Menoreh agaknya sudah semakin terang. Yang tinggal adalah masalah Sidanti dan Argajaya, meskipun persoalan itu akan merupakan persoalan yang sangat rumit bagi Ki Argapati. Apalagi menurut pendengaranku yang belum jelas, baik diucapkan oleh Ki Tambak Wedi maupun Sidanti sendiri, anak itu bukan putera Ki Airgapati.” Orang tua itu mengangguk-angguk sendri, kemudian ia masih berkata kepada diri sendiri, “Dan, sekarang, telah terbuka lagi masalah-masalah baru yang harus dihadapi. Alas Mentaok. Meskipun sebenamya aku masih dapat menghindarkan diri. Tetapi persoalan ini akan langsung bersangkutan dengan Kademangan Sangkal Putung, Prambanan, dan Tanah Perdikan ini.”

Namun lebih daripada itu, agaktnya Ki Gede Pemanahan mempunyai perhitungan tersendiri, kenapa ia dengan sengaja berusaha melibatkan gembala tua itu dalam persoalannya.

“Aku harap Kiai memikirkannya sebaik-baiknya,” tiba-tiba gembala tua itu dikejutkan oleh kata-kata Sutawijaya.

“Aku akan berpikir, Anakmas.”

“Memang barangkali Kiai sama sekali sudah tidak mempunyai pamrih apa pun. Tetapi murid-murid Kiai itu adalah anak-anak muda yang masih menginginkan masa depan yang panjang.”

Orang itua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Adalah lebih baik, kalau Kiai dapat pergi bersamaku ke Mentaok.”

“O, tentu tidak, Ngger. Kecuali kalau Angger tidak tergesa-gesa kembali.”

“Aku harus segera berada di Mentaok, Kiai.”

“Kalau begitu Angger dapat pergi lebih dahulu,” berkata gembala tua itu. “Tetapi bukankah Angger akan bertemu dengan Ki Argapati?”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun dalam pada itu terkilas suatu persoalan yang pasti akan menjadi sangat rumit baginya, apalagi bagi murid-muridnya. Kalau benar-benar terjadi persoalan antara Pajang dan Alas Mentaok, kemudian ia berpihak kepada Sutawijaya bersama kedua murid-muridnya, maka ada kemungkinan mereka akan berhadapan dengan Senapati Pajang di sisi Selatan, Untara.

Orang tua itu menggelengkan kepalanya. Seolah-olah ia ingin mengusir persoalan yang melintas dengan tiba-tiba dikepalanya itu. Namun yang terbayaug justru Untara sendiri berdiri tegak degan pedang di tangan.

“Hem,” orang tua itu berdesah. Namun ia terkejut ketika ia mendengar Sutawijaya bertanya, “Kenapa Kiai?”

Gembala itu tergagap. Namun kemudian ia melihat sesuatu telah melonjak di dada orang tua itu. Tetapi meskipun demikian Sutawijaya itu tidak bertanya lagi.

“Anakmas,” berkata orang tua itu kemudian, “sebaiknya Anakmas memberi kesempatan kepada Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga untuk beristirahat. Bahkan Angger sendiri dapat beristirahat pula di gandok belakang. Atau di ruang yang baru saja ditinggalkan oleh Sidanti. Biarlah aku yang menunggui Anakmas Sidanti di sini.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya Hanggapati dan Dipasanga berganti-ganti.

“Aku dapat beristirahat di mana-mana, Kiai. Kalau memang tidak ada persoalan lagi, barlah aku berada di longkangan di belakang bilik ini. Aku kira di sana ada beberapa helai tikar. Aku dapat beristirahat di antara beberapa orang prajurit yeng bertugas, sekaligus mengawasi bilik Sidanti dari belakang,” sahut Hanggapati.

“Dan Angger Sutawijaya?”

“Aku di sini saja, Kiai.”

“Baiklah. Silahkan Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga ke longkangan. Di sana kalian berdua mungkin masih dapat tidur meskipun hanya sekejap.”

Keduanya pun kemudian meninggalkan ruangan dalam pergi ke longkangan di belakang bilik tempat menyimpan Sidanti. Kedua nya pun kemudian berada di antara para pengawal yang terpilih untuk mengawasi Sidanti.

“Kita dapat beristirahat bergantian,” berkata Ki Hanggapati. “Dengan demikian kita dapat beristirahat dengan tidak digelisahkan oleh apa pun.”

“Baiklah,” jawab Dipasanga, “tetapi siapa yang dahulu? Kita tidak tahu, berapa lama kita dapat beristirahat di sini. Mungkin ada sesuatu yang memaksa kita untuk segera berbuat sesuatu.”

“Kau dulu sajalah. Aku masih ingin minum wedang serbat dahulu.”

Ki Dipasanga tersenyum. Ia masih melihat, seorang pengawal yang tergopoh-gopoh menyorongkan mangkuk kepada Ki Hanggapati sambil berkata, “Silahkan. Silahkan.”

Ki Hanggapati tersenyum, sedang Ki Dipasanga pun kemudian pergi menepi. Kemudian berbaring di sebelah tiang bambu yang dilekati oleh sarang laba-laba yang sudah kehitam-hitaman.

Di ruang tengah Sutawijaya duduk bersama gembala tua. Namun kemudian gembala itu masuk ke dalam bilik Ki Argapati untuk melihat perkembangan kesehatannya.

“Kau sudah terlanjur berada di sini, Ngger,” berkata gembala tua itu. “Aku titip, kalau-kalau Angger Sidanti polah lagi. Jangan biarkan ia pergi, tetapi jangan lukai anak itu.”

“Aku sudah kapok Kai,” jawab Sutawijaya, “nanti aku pula yang disalahkannya.”

“Biar sajalah. Anggap saja itu lagu yang paling merdu seorang gadis dari Bukit Menoreh.”

“Tetapi, Kai sendiri tersinggung karenanya.”

“Aku memang sudah pikun. Aku menyesal sekali.” Orang tua itu berhenti sebentar. “Tetapi aku titip pintu itu.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia hanya tersenyum saja.

Gembala itu pun kemudian masuk ke dalam bilik Ki Argapati.

Pandan Wangi berpaling ketika ia mendengar derit pintu terbuka. “Marilah Kiai,” desis Pandan Wangi. “Ayah sudah agak tenang.

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sokurlah,” jawabnya “mudah-mudahan segera menjadi baik.”

“Tetapi, bagaimana dengan Raden Sutawijaya itu?”

“Ia masih duduk di ruang tengah.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tanpa disangka-sangkanya, terdengar suara Argapati berat perlahan-lahan, “Kau sebut nama Raden Sutawijaya, Wangi.”

Pandan Wangi menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Ya, Ayah.”

“Kenapa dengan Raden Sutawijaya?”

“Ia berada di ruang tengah.”

Jawaban itu agaknya telah mengejutkan Ki Argapati sehingga perlahan-lahan matanya yang selalu terpejam itu terbuka. “Ia berada di sini?”

“Ya, Ki Gede,” gembala tua itulah yang menyahut. “Tetapi jangan hiraukan kehadirannya. Anak nakal itu hanya sekedar ingin tahu. Seperti ayah angkatnya Sultan Pajang yang sekarang, Angger Sutawijaya senang menjelajahi sudut-sudut kerajaan ini.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. “Dan Raden Sutawijaya itu sudi singgah di rumah ini?”

“Beristirahatlah, Ki Gede. Anakmas Sutawijaya akan bermalam di rumah ini. Besok atau kapan saja Ki Gede masih sempat menemuinya apabila keadaan Ki Gede sudah menjadi semakin baik.”

“Raden Sutawijaya akan bermalam di sini?” suarauya agak meninggi.

“Ya.”

“O, di mana kami akan mempersilahkannya. Di sini tidak ada perlengkapan apa pun yang dapat kita pergunakan dengan pantas untuk menerimanya.”

“Jangan hiraukan,” berkata gembala tua itu. “Di Sangkal Putung Anakmas Sutawijaya tidur di gubug, di teggah sawah. Ketika ia memasuki Alas Mentaok untuk melihat-lihat, ia tidur di atas cabang sebatang pohon. Bagi seorang perantau, rumah ini sudah cukup memberikan tempat yang baik,” jawab gembala itu pula.

Ki Argapati tidak segera menjawab. Tetapi tampaklah kekecewaan membayang di wajahnya yang pucat. Apalagi ia sendiri masih belum dapat bangkit dan menerima Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, Putera angkat Sultan Pajang itu.

“Janganlah Ki Gede terlampau memikirkan tamu kecil itu. Serahkan ia kepadaku,” berkata gembala itu.

Ki Argapati mengangguk lemah. “Baiklah, Kiai. Mudah-mudahan Anakmas Sutawijaya tidak kecewa melihat keadaan ini.”

“Tentu tidak. Sekarang Ki Gede sebaiknya beristirahat dan berusaha untuk menenteramkan hati.”

“Ya,” desisnya.

“Tidurlah sebanyak-banyaknya.”

“Ya.”

Orang tua itu pun mengangguk-angguk. Dirabanya pergelangan tangan Ki Argapati yang sudah mulai hangat, kemudaan tengkuknya dan keningnya.

“Mudah-mudahan Ki Gede segera menjadi baik kembali, meskipun agaknya Ki Gede memerlukan waktu untuk memulihkan kekuatan.”

“Ya,” jawabnya, “mudah-mudahan.”

Gembala tua itu pun kemudian duduk di atas dingklik kayu di sudut bilik itu, sedang Pandan Wang duduk di amben pembaringan Ki Argapati di bagian bawah.

Sementara itu, Samekta dan Kerti telah memasuki ruangan dalam kembali. Ketika mereka berdua telah duduk bersama Sutawijaya, maka anak muda yang sudah jemu duduk berdiam diri itu segera berkata, “Aku menjadi lelah duduk di sini saja.”

“Apakah Anakmas akan berbaring? Mungkin memerlukan ruangan tersendiri?”

“Tidak.” Sutawijaya termenung sejenak. Kemudian ia bertanya, “Di mana Gupita dan Gupala?”

“Di belakang. Mereka mengawasi Ki Argajaya.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian karena ia sadar bahwa kedua anak-anak muda itu tidak datang menemuinya karena tugasnya, maka ia pun kemudian berkata, “Aku akan menemui mereka.”

“O, silahkan. Silahkan.”

“Tetapi di sini aku sedang menerima titipan?”

“Apa?” Samekta dan Kerti menjadi heran.

“Pintu itu.”

“Kenapa dengan pitu itu?”

“Bukankah di dalamnya ada Sidanti? Gembala itu menitipkan kepadaku untuk mengawasi kalau-kalau Sidanti kambuh lagi. Nah, sekarang pintu itu aku titipkan kepada kalian berdua. Awasi. Kalau kalian memerlukan sesuatu, Kiai Gringsing berada di ruang itu.”

“Kiai Gringsing?” Samekta bertanya dan Kerti terheran-heran.

“Eh, maksudku gembala tua itu. Ia ada di dalam bilik Ki Argapati untuk melihat luka-lukanya. Kalau ia kembali dan bertanya tentang aku, katakan, aku sedang menemui Gupita dan Gupala.

“Baiklah. Kami berdua akan mengawasi pintu itu.”

Sutawijaya pun kemudian meninggalkan ruangan itu. Seperti petunjuk Samekta, maka ia pun pergi ke bilik tempat Argajaya ditahan untuk menemui Gupita dan Gupala.

Pembicaraan mereka kemudian adalah pembicaraan anak-anak muda. Sutawijaya segera beiceritera tentang Alas Mentaok. Usahanya untuk membuatnya menjadi sebuah negeri.

“Tetapi dengan demikian Sultan Pajang akan tersinggung karenanya.”

“Mudah-mudahan tidak. Apa salahnya kalau daerah itu nanti akan berkembang? Kami tidak akan mengganggu Pajang. Kecuali kalau perkembangan keadaan jadi lain, dan haal-hal yang tidak kita harapkan itu harus terjadi.”

Gupita dan Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudah tentu, bahwa seandainya Ayahanda Sultan Pajang tidak senang melihat perkembangan Alas Mentaok, kami terpaksa tidak dapat mematuhinya. Kami sudah bertekad. Mentaok tidak boleh kalah dari Pati yang sudah lebih dahulu terbuka.

“Jadi bukankah sekarang Ki Gede Pemanahan sudah membuka hutan itu?”

“Tentu sudah.” Kemudian suaranya jadi menurun, “Jangan kau katakan kepada gurumu, Mentaok sudah menjadi suatu desa yang ramai. Banyak orang-orang di padukuhan di sekitarnya kini telah membuka hubungan dengan daerah baru itu.”

Gupita dan Gupala mengerutkan keningnya.

“Kami telah mengumpulkan anak-anak muda yang akan kami persiapkan untuk menjadi pengawal daerah kami yang baru itu. Latihan-latihan yang teratur telah kami adakan hampir di setiap hari.”

“Siapakah yang melatih mereka?”

“Beberapa orang prajurit dari Pajang telah membantu kami membuka hutan itu.”

Gupita dan Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jika demikian, langkah Ki Gede Pemanahan sudah terlalu jauh,” desis Gupita.

Sutawijaya tertawa. Katanya, “Ayah harus mengejar ketinggalannya dari Pati.”

“Kenapa mesti berkejar-kejaran?” bertanya Gupala.

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu memang tidak disangka-sangkanya. Namun akhirnya ia menjawab, “Bukan maksudnya. Tetapi usaha membangun daerah itu adalah usaha yang baik. Sebenarnya Pajang justru harus membantu.”

“Apakah Pajang menghalang-halangi sampai sekarang?” bertanya Gupita.

Sekali lagi Sutawijaya dihadapkan pada pertanyaan yang tidak segera dapat dijawab.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:34  Comments (18)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-47/trackback/

RSS feed for comments on this post.

18 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hee hee kirain 47, dah ada juga….bakal besok minggu siang , untuk malam mingguan dah ada 46…

  2. Saluuuut buat para pengawal tanah perdikan “adbmcadangan” tampilan padukuhan menoreh tambah kece aja…..tks buat kigede yang selalu berbuat yg ter OK buat padukuhan ini…..

  3. malam minggu nunggu sepak bola sambil baca 47 (mudah2an) cepet datang, duh mesti mak nyes, suwun.

  4. kencan sampai tak batalin.demi 47th adbm.saluda buat semua yg telah merelakan semuanya.

  5. kakang,
    mengingat padepokan kita sudah semakin luas. apa tidak sebaiknya mulai dibuat sistem penjagaan yg kuat kakang 🙂

  6. 47
    47
    47
    47
    47….

    biasanya kalo di keplok2 ntar muncul ye??….
    hehehehehe
    bayangin yg nunggu ada 100 ribuan.., kira2 sepenuh stadion senayan kalo lagi nonton bola…wow…!!!

  7. Harap-harap cemas. Wis tak niyati ora mangkat ronda malem minggu buat nungguin 47 je.

  8. btw… blog ini bakal ikutan juga gk ya diacara pesta bloger??

    D2: Kami belum dapat undangan. Tetapi, untuk saat ini Kiai Gringsing masih belum mau membuka jatidirinya. Dia masih senang di dunia maya. Bukan dunia riil.

  9. Sempat hati bardebar-debar dan berdesir….ternyata 47-nya udah nongol….Terima kasih Ki Gede, walaupun masih keadaan terluka parah akibat Nenggala Ki Tambak Wedi tetapi tetap berusaha melayani orang-orang sepedukuhan…..Salut, Teng yu

  10. wah yo kalu sampe dikeluarkan malam ini untuk buku 48 nya yo maknyuss

    maturnuwun
    Ki KontosWedul

  11. Waduh..teganya engkau. Berarti di tempatku, aku harus menunggu sampai jam setengah satu dinihari.

    Ya, baiklah saya unduh besok pagi pagi saja.

    Selamat malam. Mau istirahat dulu setelah ikut melihat lihat pedukuhan di tanah perdikan yang sudah mulai berbenah kembali itu….

  12. (Biar nampak bahwa buku cerita ini antik saya re type dengan ejaan lama. Nuwun)
    AKU akan menunggu, sebentar. Kalau tidak segera ada pemberitahuan dari induk pasukanmu jang sedang bertempur itu, aku akan menjusul mereka. Mungkin mereka memerlukan bantuan.
    ………. dst (panjang sekali)

    GD: Matur nuwun, Ki Kesawa atas sumbangannya untuk pesta kemenangan ini. Mengingat tata guna pelataran padepokan (nyancang kuda, jemur padi, bermain bocah, apel cantrik dll), maka sumbangan Ki Kesawa disimpan di lumbung samping gandok kanan.

  13. Gupala sedang mengetrapkan ajian tuna sathak bathi sanak

    • wah…wah…wah….
      Gupala dari tlatah Lendut Benter sudah sampai disini
      hmm……………

      • inggih Ki Ajar pak Satpam,
        namung sakderma nyobi
        mendhisiki Ki Menggung.

        • 😀

          • mesine anyar-anyar kuabueh

            • sIP…wes pada HADIR,

              tinggal cari NUNUTan andong ning gandOK sebelah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: