Buku 46

“Nafsu yang menyala-nyala di dalam dadanya telah mendorongnya untuk membenci ayahnya sedemikian jauh,” berkata gembala tua itu di dalam hatinya. “Atau mungkin Ki Tambak Wedi telah meracuninya dengan pengertian yang lain?”

Tetapi gembala tua itu tidak dapat menemukan jawabnya. Kini yang harus dilakukan adalah berbuat sesuatu sehingga ia dapat melumpuhkan Sidanti dan menangkapnya hidup-hidup.

Sementara itu Gupita dan Gupala telah menemukan pula lingkaran pertempuran Argajaya melawan Dipasanga. Ternyata bahwa kemampuan mereka hampir tidak berselisih. Desak mendesak. Kadang-kadang Argajaya terpaksa beringsut surut beberapa langkah, namun kemudian ia berhasil mendesak lawannya beberapa langkah maju. Senjata-senjata mereka menyambar-nyambar tidak henti-hentinya. Tombak pendek Argajaya berputar dan mematuk dari segenap penjuru, mengitari tubuh lawannya. Namun agaknya Dipasanga pun tidak segera bingung menghadapinya, meskipun kadang-kadang ia harus meloncat beberapa langkah untuk mengambil jarak.

Namun agaknya sorak-sorai tentang matinya Ki Tambak Wedi, justru agak lebih berpengaruh pada Argajaya. Tanpa Tambak Wedi perjuangan mereka tidak akan berhasil. Apabila benar Ki Tambak Wedi terbunuh, maka api peperangan yang sudah terlanjur berkobar di atas Tanah Perdikan ini tidak akan ada artinya apa-apa, selain pembunuhan dan kekerasan yang bengis.

Tetapi seperti Sidanti, Argajaya pun berusaha untuk tidak mempercayainya. Setiap kali ia berkata di dalam hati, “Ki Tambak Wedi adalah seorang tua yang pilih tanding. Melawan Kakang Argapati selagi ia saras sekalipun, Ki Tambak Wedi tidak akan dapat dikalahkannya, dan apalagi terbunuh. Justru kini Kakang Argapati sedang terluka parah. Maka yang paling mungkin terjadi adalah sebaliknya. Justru Ki Tambak Wedi-lah yang membunuh Ki Argapati apabila ia terjun ke peperangan.”

Dengan demikian maka Ki Argajaya pun mencoba untuk mengerahkan sisa-sisa tenaganya. Ia ingin dapat menguasai lawannya segera. Apabila Dipasanga dapat dilumpuhkannya, maka sayap ini akan sepera dikuasai. Kerti dan bahkan Samekta tidak akan banyak berarti.

“Mudah-mudahan Sidanti pun dapat membunuh lawannya pula,” katanya di dalam hati.

Namun, belum lagi Argajaya berhasil mendesak Dipasanga, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran dua orang anak-anak muda di arena peperangan.

Sejenak Argajaya terpaku diam di tempatnya memandangi Gupita dan Gupala yang muncul hampir berbareng dengan cambuk di tangan masing-masing.

“Jadi ………,” Argajaya berdesis, “orang bercambuk yang selama ini dibayangkan ternyata adalah kalian. Bukan orang-orang yang kau pergunakan untuk sekedar mengelabui kami.”

“Ya. kami memang berada di peperangan selama ini,” jawab Gupala.

“Persetan! Kenapa kalian selalu bersembunyi, dan baru sekarang menampakkan diri?”

“Kami tidak pernah bersembunyi.”

“Tetapi kalian tidak pernah menyatakan diri kalian dengan jujur. Kalian selalu curang dan licik.”

“Apakah kami tidak jujur? Aku tidak tahu maksudmu. Aku bertempur di peperangan ini. Dan aku bersama kakakku telah berhasil membunuh Ki Peda Sura, sementara Guru telah mengantarkan Ki Tambak Wedi ke ujung tombak Ki Argapati. Kenapa kami tidak jujur? Mungkin karena kami baru sekarang bertemu dengan kau. Dan itu bukan berarti bahwa kami bersembunyi. Di peperangan lawan tersebar dari ujung sampai ke ujung gelar. Kami tidak perlu memilih. Tidak ada keharusan pada kami untuk bertempur melawan Ki Argajaya, bukan yang lain.”

Argajaya menggeram. Ditatapnya wajah kedua anak-anak muda itu berganti-ganti. Kemudian berpindah kepada Dipasanga yang berdiri tegak dengan wajah yang tegang.

Dalam pada itu terdengar Gupala berkata kepada Dipasanga, “Ki Dipasanga, kami mendapat perintah untuk menangkap Ki Argajaya hidup-hidup.”

“Persetan!” teriak Argajaya. “Tidak seorang pun dapat menyentuh kulitku selagi aku masih bernafas.”

Gupala mengerutkan keningnya, sedang Gupita menarik nafas dalam-dalam. Adiknya memang selalu menuruti perasaannya saja. Pernyataannya itu sudah tentu telah membakar hati Argajaya yang memang sudah sekeras batu-batu padas di perbukitan.

Dipasanga pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sesaat ia tidak menjawab.

Karena tidak seorang pun yang menyahut, maka Gupala berkata seterusnya. Kali ini kepada Argajaya, “Nah, bukankah kau bersedia membantu kami? Bukan untuk kepentingan kami, tetapi untuk kepentingan Tanah Perdikan Menoreh. Tanah Perdikan yang kini sedang kisruh oleh pokal Ki Tambak Wedi. Sekarang Ki Tambak Wedi sudah mati.”

Tubuh Argajaya telah menjadi gemetar menahan kemarahan yang menyesak dadanya, sehingga jawabnya kasar, “Bunuh aku, baru aku akan menyerah.”

“Bukan begitu,” sahut Gupita. “Maksud kami, apakah kau tidak mempertimbangkan kemungkanan lain daripada menghancurkan Tanah Perdikan ini. Kalau peperangan ini berlangsung terus, maka korban akan menjadi semakin banyak. Hal itu tidak akan menguntungkan kedua belah pihak. Sedang kedua belah pihak yang kini berhadapan adalah dari pecahan keluarga sendiri selain Ki Tambak Wedi. Dan Ki Tambak Wedi yang menurut dugaanku telah menyalakan api peperangan ini, sekarang telah terbunuh.”

“Tidak. Aku bukan kepompong yang paling bodoh,” Argajaya berteriak. “Apakah kau sangka bahwa aku tidak mempunyai otak untuk berpikir dan bersikap, sehingga kau menganggap aku sekedar sebagai peraga yang digerakkan oleh Ki Tambak Wedi? Tidak. Aku mempunyai kepentingan dengan peperangan ini. Aku mempunyai suatu cita-cita. Tanah ini tidak boleh menjadi Tanah yang banci, yang tidak mempunyai jangka sama sekali. Tanah yang sekedar harus menundukkan kepala kepada Kakang Argapati apa pun yang diinginkannya.”

Gupala tiba-tiba memotong, “He, bukankah kau adik Ki Argapati itu? Kalau ada kekurangan di dalam pemerintahannya, kau dapat menyampaikannya langsung kepadanya. Kenapa kau harus menempuh jalan ini? Apakah kau sendiri sebenarnya ingin menjadi Kepala Tanah Perdikan? Tetapi dengan demikian kau harus berkelahi melawan Sidanti.”

“Diam!” terak Argajaya yang menjadi semakin marah. Anak muda yang gemuk itu berbicara sekehendaknya sendiri tanpa menghiraukan apa pun juga. “Apa pun yang akan aku lakukan. Aku tidak akan menyerah sebelum aku mati. Nah, bunuhlah aku sekarang. Itu akan lebih baik. Kenapa kau tidak membawa kawanmu yang seorang itu, anak Pemanahan yang sombong.”

“Apakah kau akan bertemu? Ia ada di sini pula sekarang.”

Wajah Argajaya menjadi semakin membara. Sejenak ditatapnya wajah Gupala yang tersenyum-senyum. Bahkan ia melanjutkan, “Kalau kau mau ikut aku, mari, aku bawa kau kepadanya.”

“Persetan!” dada Argajaya serasa akan meledak karenanya.

Dan anak yang gemuk itu masih saja tersenyum. Bahkan kemudian ia berkata kepada Ki Dipasanga, “Ki Dipasanga, marilah aku dan Kakang Gupita mendapat perintah untuk membantu Ki Dpasanga menangkap Ki Argajaya. Hidup-hidup. Sebab ia adalah adik Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Tetapi sebelum Dipasanga menjawab, Argajaya telah tidak dapat lagi menahan dirinya. Dengan garangnya ia meloncat sambil berteriak, “Kubunuh kau lebih dahulu.”

Tetapi Gupala pun telah menyiapkan dirinya. Segera ia bergeser menghindari serangan Argajaya yang sekedar didorong oleh kemarahan yang meluap-luap sehingga sasarannya tidak dapat dicapainya.

Dengan demikian, maka pertempuranpun segera dimulai kembali. Bukan saja Gupala, tetapi Gupita dan Dipasanga pun harus ikut pula.

Menangkap Argajaya hidup-hidup bukanlah pekerjaan yang mudah meskipun mereka adalah Gupita, Gupala dan Dipasanga yang masing-masing memiliki kemampuan yang seimbang dengan Argajaya, bahkan mungkin melampauinya meskipun hanya selapis.

Argajaya yang merasa dirinya terkepung, sama sekali tidak berpikir lagi untuk mempertahankan hidupnya, karena ia tahu bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan ketiga lawannya yang sudah dikenalnya. Argajaya dapat mengerti, betapa ketiganya mempunyai ilmu yang memungkinkan untuk menangkapnya. Namun untuk mati tidaklah terlampau sukar daripada bertahan untuk hidup. Karena itu, dibayangi oleh perasaan putus asa ia mengamuk sejadi-jadinya. Tombaknya menyambar-nyambar tidak henti-hentinya ke segenap arah untuk melindungi dirinya. Bukan karena ia tidak mau mati oleh senjata lawannya, tetapi ia ingin membawa salah seorang dari mereka atau lebih, untuk mati bersama-sama.

Gupala sekali-sekali menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengumpat ia berbisik kepada Gupita, “Kenapa kita harus menangkapnya hidup-hidup. Apakah salahnya kalau ia terbunuh di peperangan?”

“Hus, jangan kehilangan akal. Kita harus berusaha menangkapnya hidup-hidup. Betapa sulitnya.”

Gupala mengecutkan dahinya. Tangannya seakan-akan menjadi gatal. Membunuh Argajaya dalam keadaan itu sebenarnya tidak terlampau sulit. Tetapi membujuknya untuk menyerah adalah pekerjaan yang justru terlampau sulit.

“Kita harus merebut senjatanya,” desis Gupita.

“Aku sudah terluka,” geram Gupala, “kalau kita tidak berhasil maka lukaku akan bertambah, dan barangkali aku akan mati untuk menangkap Argajaya hidup. Aku dan barangkali juga kau dan Ki Dipasanga, sementara Argajaya tidak akan tertangkap.”

“Kita akan mencoba.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa pun dadanya serasa akan bengkah. Tetapi ia harus tunduk seperti yang dipesankan oleh gurunya.

Dengan demikian maka sekali lagi mereka mencoba, menangkap Argajaya yang mengamuk seperti serigala lapar. Ia sama sekali sudah kehilangan tujuan perkelahiannya, selain mati bersama lawan sebanyak-banyaknya dapat dilakukan.

Tetapi Gupita sama sekali tidak kehilangan akal. Meskipun Dipasanga kadang-kadang mengalami kesulitan dengan sikap Argajaya itu, namun ternyata ia cukup dewasa menghadapi lawannya. Ki Dipasanga lebih baik meloncat surut menghindari benturan-benturan yang berbahaya daripada kemungkinan senjatanya menembus dada lawannya yang putus asa itu.

Gupalalah yang berkelahi tidak dengan sepenuh kemauan. Kadang-kadang saja ia menyerang, kemudian bertolak pinggang sambil memegangi tangkai cambuknya sementara Gupita dan Dipasanga bertempur terus. Bahkan Gupala masih juga sempat melepaskan ketegangan di dadanya dengan menyerang orang-orang Sidanti yang bertempur di sekitarnya dengan ujung cambuknya.

Gupita yang kadang-kadang melihat tingkah laku Gupala itu hanya dapat menarik nafas. Ia tahu, betapa anak muda yang gemuk itu menahan diri sekuat-kuatnya agar tangannya tidak terlanjur menyerang lawannya di tempat-tempat yang berbahaya.

Sementara itu Gupita sendiri berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk melumpuhkan Argajaya. Kalau ia mampu melepaskan senjatanya, maka kemungkinan untuk menangkapnya akan menjadi semakin luas.

“Buat apa membiarkannya hidup-hidup?” Gupala masih saja bertanya.

Gupita mengerutkan keningnya. Jawabnya hampir berbisik, “Kita hanya sekedar melakukan perintah Guru.”

Gupala tidak bertanya lagi. Dipandanginya Argajaya dengan tajamnya. Namun tiba-tiba ia berbalik dan menyerang seorang dari pasukan lawan dengan cambuknya. Ketika cambuk itu menggeletar, terdengarlah pekik kesakitan. Hanya sejenak, kemudian seseorang jatuh tersungkur.

“Jangan gila,” desis Gupita. Tetapi Gupala sama sekali tidak mengacuhkannya.

Dengan susah payah Gupita dan Dipasanga berhasil memeras tenaga Argajaya yang terbatas. Perlahan-lahan namun pasti, tenaga Argajaya menjadi semakin susut. Keringatnya seakan-akan terperas dari segenap permukaan kulitnya, dan bahkan nafasnya pun menjadi semakin dalam di rongga dadanya.

Tetapi Argajaya benar-benar berhati batu. Ia sama sekali tidak berpikir dan tidak mempertimbangkan, untuk merubah pendiriannya. Apa pun yang terjadi, ia akan berkelahi terus sampai mati.

“Lihat,” bisik Gupita, “tenaganya sudah jauh susut.”

“Tidak ada gunanya. Ia akan mati dengan sendirinya. Nafasnya akan terputus oleh kelelahan. Kita hanya akan kehilangan waktu. Kalau sejak sekarang kita bunuh saja orang itu, kita sendiri tidak akan kehabisan nafas.”

“Aku tidak berani melanggar perintah Guru. Bahkan Ki Dipasanga sama sekali tidak berhasrat melanggarnya.”

Gupala menarik dahinya tinggi-tinggi, sehingga kerut-merut yang dalam tergores dari ujung sampai ke ujung.

Ternyata Gupala pun kemudian melihat betapa Argajaya hampir kehilangan seluruh kekuatannya. Kini ia berdiri terhuyung-huyung, meskipun senjatanya masih tetap tergenggam erat-erat. Bahkan oleh dorongan nafsu yang melonjak-lonjak di dalam dadanya, ia masih mampu menyerang dengan dahsyatnya, meskipun kemudian ia hampir-hampir kehilangan keseimbangan.

Kini Gupita sampai pada rencananya yang terakhir. Ia harus merebut tombak pendek itu. Kemudian melumpuhkan lawannya dan menangkapnya. Kalau perlu membuatnya kehilangan tenaga untuk berbuat apa pun.

Dengan isyarat kedipan mata, Gupita mengajak Ki Dipasanga untuk mencoba mengakhiri perkelahian itu. Kemudian ia berbisik kepada Gupala, “Kesempatan sudah terbuka Gupala, bantulah melakukan perintah Guru. Menangkap Argajaya hidup-hidup. Bagaimana pun juga ia adalah adik Ki Argapati. Agaknya Guru tidak mau membuat Ki Argapati merasa kehilangan.”

Gupala mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang Argajaya yang benar-benar sudah kehabisan nafas. Sebenarnya membunuh orang itu sama mudahnya dengan memijat ujung dahi sendiri. Orang yang sudah tidak mampu berdiri tegak itu, berdiri terhuyung-huyung bertelekan tangkai tombaknya. Namun demikian Argajaya masih berkata lantang di sela-sela desah nafasnya yaug memburu, “Ayo, siapakah di antara kalian yang jantan? Apakah kalian pengecut yang tidak berani melihat darah. Ini dadaku. Ayo, bunuh aku dengan segala macam senjata yang ada padamu.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Terbayang olehnya, Argajaya itu berdiri tegak di atas pasir tepian Kali Opak. Meskipun waktu itu senjatanya sudah terlepas dari tangannya, namun ia masih menengadahkan dadanya sambil berkata, “Ayo, kalau kau jantan bunuh aku.”

Dan kini sikap itu diulanginya. Apalagi senjatanya kini masih tetap di dalam genggaman.

“Jangan menunggu terlampau lama, Gupala,” desis Gupita.

Gupala pun kemudian melangkah maju. Mereka bertiga mengambil arah yang berbeda-beda. Sementara Argajaya masih menggeram. Tatapan matanya menjadi liar, dan wajahnya seakan-akan menyala.

Sementara itu Gupala berdesis, “Tidak mungkin menangkapnya tanpa melukainya. Kalau luka itu kemudian membunuhnya, itu sama sekali bukan salah mereka yang melukainya.”

Namun Gupala terkejut ketika ia mendengar suara cambuk meledak. Agaknya Gupita sudah mulai dengan usahanya melepaskan senjata Argajaya dari tangannya.
Ledakan itu telah mendorong Argajaya beberapa langkah. Terhuyung-huyung ia mencoba menghindar. Meskipun Gupita sama sekali tidak ingin melukainya, tetapi cambuk itu meledak beberapa cengkang saja di depan wajahnya.

“Ayo anak iblis, kaulah yang akan mati pertama-tama,” desis Argajaya di sela-sela desah nafasnya.

Gupita tidak menjawab. Tetapi ia melangkah maju, sehingga Argajaya terpaksa mundur setapak. Tetapi Argajaya itu terlonjak ketika tiba-tiba saja kakinya serasa disengat oleh panasnya bara api, disertai sebuah ledakan yang memekakkan telinga. Ternyata bahwa Gupala telah menyerang mata kaki Argajaya dengan ujung cambuknya.

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat mencegah adik seperguruannya, agar anak yang gemuk itu tidak justru menjadi semakin nekat untuk melepaskan sesak di dadanya.

Tetapi Dipasanga pun ternyata mengambil kesempatan itu. Senjatanya segera terjulur mengarah ke dada Argajaya. Dengan susah payah Argajaya menangkis senjata Dipasanga. Namun dengan cepatnya Dipasanga menarik senjatanya dan mengurungkan serangannya.

Argajaya yang semakin lemah itu justru terhuyung-huyung oleh tarikan tenaganya sendiri. Beberapa langkah ia terseret ke samping. Dengan susah payah ia bertahan sehingga ia tidak terjatuh.

Tetapi Gupala benar-benar tidak dapat menahan diri. Dalam keadaan yang demikian sekali lagi cambuknya meledak. Dan sekali lagi Argajaya terloncat karena ujung cambuk Gupala mematuk kakinya.

Tetapi keadaan sama sekali tidak menguntungkan. Keseimbangannya benar-benar tidak dapat dikuasainya lagi, sehingga tanpa dapat ditolong lagi. Argajaya terhuyung-huyung jatuh tertelentang. Ia masih mencoba bertahan pada sebelah tangannya. Tetapi ketika sekali lagi cambuk Gupita menyambar tangan itu, maka Argajaya benar-benar terguling di tanah yang berdebu.

Sejenak Gupita terpaku di tempatnya. Tetapi tiba-tiba ia melihat sebuah kesempatan. Selagi Argajaya mencoba berguling menjauh, maka kali ini ujung cambuk Gupita-lah yang mengejarnya. Sebuah sengatan telah mengenai pergelangan tangan kanannya yang masih menggenggam tombaknya erat-erat. Terdengar sebuah keluhan tertahan, namun tombak itu tidak terlepas dari tangannya.

Gupita mengerutkan keningnya. Orang ini benar-benar bukan saja berhati batu, tetapi berhati baja.

Karena itu, sekali lagi Gupita melecutkan cambuknya. Kali ini ujung cambuknya membelit tangkai tombak Argajaya. Dengan sepenuh tenaga Gupita menghentakkan cambuknya untuk memaksa tombak Argajaya terlepas dari tangannya.

Gupala yang melihat usaha itu segera membantu dengan caranya. Selagi Argajaya bertahan, agar tombaknya tidak, terlepas maka Gupala segera menyambar tangan Argajaya dengan cambuknya. Bertubi-tubi, sehingga karah-karah besi pada juntai cambuknya itu seakan-akan telah mengelupaskan seluruh kulit di pergelangan tangan Argajaya.

Betapa sakitnya tangan Argajaya yang telah melelehkan darah itu. Tetapi ia sama sekali tidak membuka genggaman tangannya. Bahkan kemudian sambil berbaring di tanah kedua tangannya menggenggam senjatanya itu erat-erat.

Gupala hampir saja menjadi waringuten. Hampir saja ia kehilangan kesabaran dengan menyerang Argajaya di bagian yang berbahaya. Untunglah bahwa Dipasanga berbuat lebih cepat. Dilepaskannya senjatanya, kemudian dengan tangkasnya ia meloncat menimpa Argajaya yang sudah kelelahan itu. Dengan sekuat tenaganya ia mencoba mendekap tangan Argajaya dari belakang. Sejenak keduanya berguling-guling. Tetapi kemudian Gupita dan Gupala pun ikut serta membantu. Dengan demikian maka Argajaya telah dipaksa untuk melepaskan tombaknya, karena Gupita dengan sekuat tenaganya merebut tembak itu dari tangannya, sedang Dipasanga memeganginya dari belakang.

Tetapi usaha itu ternyata tidak segera berhasil. Sejenak mereka tarik menarik, seperti kanak-kanak berebut barang mainan.

Sekali lagi Gupala kehilangan kesebaran. Tiba-tiba saja tangannya yang berat itu terayun. Sebuah pukulan sisi telapak tangan telah menyentuh tengkuk Argajaya, sehingga dengan tiba-tiba seluruh kekuatannya seakan-akan lenyap dari tubuhnya. Perlawanannya pun tiba-tiba berhenti, sehingga justru Gupita yang menarik tombaknya terdorong beberapa langkah sehingga hampir saja jatuh tertelentang.

Ketika Gupita kemudian berhasil menguasai keseimbangannya dan berdiri tegak dengan kaki renggang, maka dilihatnya Argajaya telah terkulai dengan lemahnya, menelungkup di tanah. Sejenak Gupita terpaku diam. Ditatapnya wajah Gupala yang tegang dengan tajamnya.

“Aku hanya menyentuhnya,” desis Gupala.

“Mudah-mudahan kau tidak membunuhnya,” suara Gupita tertahan-tahan.

Dipasanga-lah yang kemudian berjongkok di sampingnya. Perlahan-lahan ia mengangkat tubuh Argajaya yang lemah itu. Namun dengan serta-merta ia berkata, “Ia masih tetap hidup.”

Kemudian tubuh itu pun dibaringkannya di tanah. Dengan pengetahuan yang ada, Gupita mencoba memijit-mijit bagian di bawah telinganya. Kemudian menggerakkan tangannya perlahan-lahan.

Nafas Ki Argajaya perlahan-lahan mulai mengalir lewat lubang-lubang hidungnya. Satu-satu, namun kemudian semakin lama menjadi semakin lancar.

“Kelelahan,” berkata Dipasanga. “Sentuhan tangan Gupala tidak menentukan.”

“Nah, bukankah kau hanya mendorongnya? Meskipun seandainya aku tidak memukul tengkuknya betapa pun lambatnya, ia akan pingsan karena nafasnya yang hampir terputus.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya. Ia terlampau banyak mencurahkan tenaganya.”

“Tentu. Ia tidak mau tertangkap hidup-hidup. Kalau ia sadar, maka ia akan melakukan perlawanan lagi.”

Kita harus membawanya ke belakang garis peperangan.”

Gupita pun kemudian memanggil beberapa orang pengawal untuk menggantikan tempatnya, maka Dipasanga dan Gupala-lah yang mendapat kesempatan.

“Tetapi kau sedang berhadapan dengan manusia-manusia meskipun ia lawanmu,” berkata Gupita.

“Tentu. Justru aku berhadapan dengan manusia-manusialah aku benar-benar harus mempertahankan hidupku. Karena mereka sedang berusaha untuk membunuhku.”

“Kau dapat mempertahankan hidupmu. Tetapi perlakuanmu terhadap lawan-lawanmu adalah perlakuan seorang prajurit jantan, dengan mengindahkan segala sopan-santun peperangan.”

“Maksud Kakang?”

“Jangan bertindak berlebih-lebihan. Banyak contoh telah kau lihat, bahwa kelakuan yang demikian tidak memberikan apa-apa kepada kita.”

Gupala mengangguk. Tetapi ia mengumpat di dalam hati, “Persetan. Bagaimana aku dapat berbuat sopan terhadap manusia-manusia yang buas dan liar itu?” Meskipun kemudian terdengar suara di dasar hatinya, seolah-olah suara gurunya, “Apakah kau juga harus menjadi buas dan liar?”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat Dipasanga telah mulai melibatkan diri di peperangan, sedang para pengawal telah mengangkat tubuh Argajaya dan membawanya ke belakang garis perang bersama Gupita.

Tetapi untuk sejenak Gupala masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Ia memandangi saja bagaimana Dipasanga mengayunkan senjatanya. Meskipun orang itu bertempur di antara orang-orang yang kasar, namun ia tetap dapat menguasai dirinya, meskipun ia tidak kurang tangkas dan cepat.

Sekilas terbayang di rongga matanya, prajurit Pajang yang berada di Sangkal Putung, selagi mereka bertempur melawan pasukan Tohpati dan Ki Tambak Wedi di padukuhan Tambak Wedi.

Tanpa mengurangi nilai-nilai peperangan dan ketahanan mempertahankan diri, Gupala dapat melihat perbedaan cara yang dipergunakan oleh orang-orang Ki Tambak Wedi yang bercampur-baur dengan orang-orang Ki Peda Sura, dengan cara yang dipergunakan oleh Ki Dipasanga.

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Namun keningnya menjadi berkerut-merut apabila ia melihat bahwa para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pun sebagian terbesar sama sekali tidak mampu menahan diri, sehingga mereka berkelahi tidak ubahnya seperti cara-cara yang dipergunakan oleh lawan-lawan mereka.

Tiba-tiba Gupala menggeleng, “Aku tidak boleh mempergunakan cara itu.” Dan tanpa sesadarnya ia berkata kepada diri sendiri, “Benar juga pesan Kakang Gupita.”

Dan sesaat kemudian Gupala pun telah menerjunkan dirinya di dalam peperangan dengan cambuknya yang panjang. Sekali-sekali terdengar sebuah teriakan nyaring, kemudian pekik kesakitan. Tetapi Gupala selalu mencoba mengekang dirinya untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela di peperangan. Ia menghindari perlakuan yang dapat menumbuhkan kesan kekejaman tanpa batas, meskipun kadang-kadang cambuknya tanpa dikekendakinya sendiri, telah mengelupas kulit-kulit wajah lawannya.

Ternyata bahwa garis peperangan telah bergeser semakin mendekati padukuhan induk. Pasukan Sidanti sudah tidak lagi dapat dibimbing oleh pemimpin-pemimpin kelompoknya. Bahkan pemimpin-pemimpin kelompok yang ada pun sama sekali sudah tidak berpengharapan lagi. Berita tentang Argajaya pun segera merayap dari ujung ke ujung pasukan.

Bahkan orang-orang yang tidak dapat melihat dengan pasti, apakah yang telah terjadi dengan Argajaya segera meneriakkan kematiannya. Sehingga dengan demikian maka gairah perlawanan orang-orang Sidanti itu sama sekali telah lenyap. Bahkan beberapa orang anak buah Ki Peda Sura yang sama sekali sudah tidak dapat mengharapkan apa-apa lagi karena kekalahan yang tidak disangka-sangka itu, telah mulai bimbang.

“Buat apa kita bertempur?” desis seseorang kepada kawannya.

Kawannya menggeleng, “Kami masih mengharap dapat bertahan. Meskipun besok kita harus lari, tetapi kita masih mendapat kesempatan untuk mencari sesuatu di induk Tanah Perdikan ini sendiri. Tetapi agaknya keadaan berkembang lain.”

“Apakah kita menunggu leher kita terputus di atas Tanah yang ternyata sangat gersang ini.”

“Sepeninggal Ki Peda Sura, kita memang sudah tidak berpengharapan lagi.”

Demikianlah sikap itu menjalar dari seorang keorang yang lain. Bahkan orang-orang yang datang ke Tanah Perdikan itu dengan maksud serupa, yang bukan anak buah Ki Peda Sura pun telah dijangkiti oleh pendirian itu. Mereka sama sekali tidak dapat mengharap apa-apa lagi dari peperangan ini.

Bahkan satu dua di antara mereka telah meninggalkan peperangan itu dengan diam-diam.

Dengan demikian maka pasukan yang tampaknya masih tetap berada di dalam gelar itu sama sekali sudah tidak mempunyai kekuatan lagi. Senapati yang tinggal satu-satunya adalah Sidanti.

Namun ternyata bahwa Sidanti tidak mampu berbuat banyak. Ia tidak dapat menguasai seluruh medan, karena ia sendiri sedang sibuk bertempur melawan Hanggapati.

Apalagi disadarinya, bahwa sepasang mata selalu mengawasinya, dari antara para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

“Anak itu memang luar biasa,” desis orang yang masih memandanginya hampir tanpa berkedip. “Tenaga dan kemampuannya ngedab-edabi. Sayang ia jatuh ketangan yang salah, sehingga ia pun telah tersesat jalan.”

Namun kesesatan itu tidak mengurangi kekaguman gembala tua yang sedang menunggui pertempuran yang masih saja berlangsung dengan sengitnya.

Gembala tua itu mengerutkan keningnya ketika ia melibat warna-warna semburat merah membayang di langit. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam, “Semalam kami telah bertempur. Mudah-mudahan setelah matahari terbit pagi nanti, semuanya akan dapat diselesaikan. Masalah-masalah yang selama ini seakan-akan mencengkam Tanah Perdikan ini, mudah-mudahan dapat diuraikan. Dan api yang selama ini berkobar akan dapat dipadamkan.”

Dan tiba-tiba orang tua itu menyadari, bahwa kini ia masih menghadapi seorang anak muda yang berhati baja. Kalau anak ini sudah dapat dikuasainya, maka pasukan lawan sama sekali sudah tidak mempunyai seorang pimpinan pun. Pasukan itu pasti akan segera terpecah.

Karena itu, maka gembala tua itu melangkah semakin dekat. Tetapi ia masih tertarik melihat cara Sidaniti mempergunakan senjatanya. Dengan demikian ia masih termenung sejenak memandangi pertempuran itu.

Orang tua menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar beberapa meneriakkan kematian Argajaya. Seakan-akan berita itu sudah sedemikian meyakinkan, bahwa Argajaya telah mati terbunuh.

Sidanti yang mendengar berita itu dari teriakan-teriakan yang seakan menjalar itu mengangkat wajahnya sejenak. Ia ingin meyakinkan pendengarannya. Dan suara yang merambat itu masih saja menggema, “Argajaya mati! Argajaya mati!”

“Persetan!” Sidanti menggeram. “Aku tidak memerlukan siapa pun lagi. Ayo, siapa lagi yang akan maju ke medan ini? Kau orang tua bangka? Kenapa kau diam saja? Apakah kau takut melawan aku, he?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika dipandangnya Hanggapati sejenak orang itu menarik nafas dalam-dalam. Hanggapati yang kebetulan juga memandanginya, seolah-olah bertanya kepadanya seperti Sidanti, “Kenapa kau diam saja?”

Dan pertanyaan itulah yang telah mendorongnya untuk maju lagi. Tetapi ia masih berkata, “Kenapa kau mengeraskan niatmu serupa itu Sidanti?”

“Jangan banyak bicara. Bunuh aku atau aku membunuhmu.”

“Kau menjadi putus asa, seolah-olah hari-hari mendatang adalah hari-hari yang sangat gelap bagimu. Seharusnya kau percaya bahwa Ki Argapati akan bersikap adil. Kau adalah anaknya. Dan demikianlah seorang bapa. Betapa pun ia bersakit hati, tetapi apabila anak itu telah kembali ke pangkuannya dengan penuh penyesalan, maka ia akan dimaafkan.”

“Bohong. Kau mencoba menjebak aku. Argapati bukan ayahku.”

Sekali lagi gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Bahkan tidak sesadarnya ia mengusap dada dengan sebelah tangannya, “Kau benar-benar keras hati, Ngger.”

“Diam! Diam!”

Dan Sidanti tidak menunggu lagi. Sekali lagi ia menyerang Hanggapati yang untuk sejenak masih sempat memandang gembala tua itu dengan penuh pertanyaan di wajahnya, “Kiai mau apa sebenarnya?”

Orang tua itu menangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya peperangan yang masih berlangsung untuk sejenak. Kemudian dipandanginya arena yang kecil tempat Hanggapati berkelahi melawan Sidanti yang menjadi wuru.

Ternyata bahwa dalam keadaan yang seakan-akan tidak terkuasai lagi. Sidanti menjadi sangat berbahaya. Beberapa kali Hanggapati meloncat surut. Namun dengan demikian, perhatian Sidanti sebagian terbesar tertuju kepada lawannya, hampir tidak terbagi, selama laki-laki tua itu belum berbuat apa-apa.

Namun kemudian hal itu terjadi. Darah Sidanti seakan-akan jadi membeku dengan tiba-tiba ketika ia merasa sebuah tangkapan yang tidak dapat dilawannya, pada tengkuknya. Sebuah tangan yang kuat, telah mencengkamnya, seakan-akan sebuah jepitan besi telah menghimpit lehernya. Perlahan-lahan namun tidak dapat dilawannya, tubuhnya serasa menjadi semakin lemah. Akhirnya Sidanti merasa, bahwa tangannya sama sekali tidak mampu lagi untuk digerakkannya. Pandangan matanya menjadi kabur dan nafasnya menjadi kian sesak.

“Tidurlah anak manis,” terdengar sebuah desis ditelinganya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Bahkan kemudian matanya pun menjadi semakin kabur.

Hanggapati memandanginya dengan penuh keheranan. Ia berdiri tegak di tempatnya sambil memandang Sidanti yang pingsan terbaring di tanah, sedang laki-laki tua itu telah berjongkok di sisi tubuh Sidanti yang terbaring itu.

“Aku memerlukannnya hidup-hidup,” berkata orang tua itu kepada Hanggapati.

Hanggapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

Ditatapnya Sidanti yang sama sekali sudah tidak berdaya lagi. Agaknya orang tua itu telah berhasil menekan simpul syaraf Sidanti yang langsung mempengaruhi pusat syarafnya.

“Aku akan membawanya ke belakang garis peperangan ini,” berkata laki-laki tua itu. “Mudah-mudahan api yang membakar Tanah Perdikan ini segera akan padam.”

“Lalu, bagaimana dengan pasukan lawan?” bertanya Hanggapati.

“Usirlah mereka bersama-sama dengan Kerti, Samekta, dan para pengawal yang lain.”

“Tetapi,” orang tua itu mengerutkan keningnya, “aku harus bertemu dengan Samekta. Ia harus menyediakan sepasukan pengawal yang segera dapat digerakkan menguasai seluruh daerah peperangan, terutama padukuhan induk.”

Hanggapati mengerutkan keningnya.

“Orang-orang yang datang dari luar Tanah Perdikan ini dan yang kemudian akan melarikan diri, pasti akan mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya selagi padukuhan-padukuhan ini kosong.”

Hanggapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudahlah. Bantulah Kerti menyelesaikan tugasnya di sini.”

“Baik, Kiai.”

Orang tua itu pun kemudian memapah Sidanti di pundaknya dan membawanya mundur kebelakang garis peperangan. Namun ia masih sempat menemui Samekta setelah seorang penghubung memanggilnya.

“Jangan terlambat,” berkata orang tua itu mengakhiri pesannya. “Agaknya satu dua orang telah meninggalkan peperangan ini dengan diam-diam. Jalan lari itulah mereka akan mempergunakan kesempatan.”

“Baik, Kiai,” jawab Samekta kemudian.

Maka sepeninggal gembala tua itu, Samekta menjadi semakin sibuk. Untunglah bahwa gairah perlawanan pasukan Sidanti yang telah kehilangan pemimpin-pemimpinnya itu telah menurun jauh sekali, sehingga pasukan itu terus didorong mundur oleh pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh bersama rakyat yang setia kepada pemimpinnya.

Dengan cepat Samekta menunjuk beberapa orang yang dipercayanya. Mereka harus menebar ke segenap sudut padukuhan induk yang mungkin akan dilalui oleh pendatang yang dibawa Ki Peda Sura atau kawan-kawan mereka. Memang tidak mustahil bahwa sambil melarikan diri mereka akan mencari kesempatan dalam kekosongan untuk merampok dan merampas kekayaan yang tersisa.

Seperti juga para pemimpin pasukan pengawal yang lain, Samekta memperhitungkan, bahwa perlawanan pasukan lawan tidak akan dapat bertahan sampai fajar. Karena itu, maka sepasukan pengawal yang telah dipilihnya segera diperintahkannya untuk mendahului. Mereka mendapat tugas untuk mengamankan padukuhan induk, sebelum pasukan pengawal seluruhnya memasuki daerah itu.

Pertempuran itu kini benar-benar telah menjadi berat sebelah. Pasukan yang semula dipimpin oleh Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya, dan Ki Peda Sura itu sudah mulai pecah.

Mereka menyadari bahwa tidak ada lagi yang dapat mengikat mereka di dalam kesatuan karena pemimpin-pemimpin mereka telah habis. Itulah sebabnya, maka pasukan itu sama sekali tidak lagi dapat menyesuaikan diri.

Hanya beberapa orang yang menjadi berputus asa sajalah yang masih bertempur dengan gigih, karena mereka merasa bahwa mereka tidak akan mendapat tempat lagi di hari-hari mendatang di atas Tanah Perdikan ini. Tetapi mereka sudah tidak mendapat kesempatan untuk berpikir lagi. Mereka merasa bahwa tidak akan ada gunanya menyesal, sehingga karena itu, maka lebih baik bagi mereka untuk binasa sama sekali. Sebab apabila Tanah Perdikan ini kembali dikuasai oleh Ki Argapati dan orang-orang yang setia kepadanya, maka mereka yang selama ini berpihak kepada Sidanti dan Argajaya pasti akan dianggap sebagai pengkhianat. Itulah sebabnya, maka kematian adalah jalan yang sebaik-baiknya.

Tetapi ada juga yang memilih jalan lain. Lari. Ke mana pun.

Demikianlah maka seperti awan yang dihembus oleh angin, perlahan-lahan pasukan yang telah kehilangan pimpinan itu terpecah, kemudian berserakan tanpa arah. Yang mati, matilah di peperangan. Sedang yang masih hidup berlari-larian tidak menentu.

Sementara itu, seperti yang diperhitungkan oleh gembala tua, beberapa orang anak buah Ki Peda Sura dan kawan-kawan mereka memang mencoba mempergunakan kesempatan dalam kekisruhan itu. Tetapi pasukan khusus yang dikirim oleh Samekta, telah memasuki padukuhan induk itu lebih dahulu. Mereka segera memencar ke segenap sudut, sehingga mereka dapat langsung mengawasi orang-orang yang melarikan diri dan mencoba memasuki rumah-rumah yang masih berpenghuni.

Perkelahian-perkelahian kecil segera terjadi antara orang-orang liar itu melawan para pengawal. Tetapi hal itu tidak terjadi terlalu lama. Mereka yang telah menjadi gelisah dan bingung itu, segera meninggalkan padukuhan itu, berlari mencari selamat.

Sambil mengumpat-umpat tidak habis-habisnya, mereka berusaha menemukan jalan untuk kembali ke sarang-sarang mereka, meskipun salah seorang pemimpin mereka yang mereka segani, Ki Peda Sura sudah terbunuh.

Namun sebagian dari mereka tidak berhasil keluar dari padukuhan induk itu, karena tindakan yang cepat dari para pengawal. Korban di antara mereka masih juga berjatuhan satu-satu.

Pasukan pengawal yang marah merasa mendapat kesempatan untuk melepaskan dendam yang membara di hati mereka setelah beberapa lama mereka terusir dari padukuhan induk, dari padukuhan-padukuhan lain di sekitarnya. Bahkan ada di antara mereka yang terpaksa meninggalkan halaman dan milik mereka yang mereka kumpulkan, sedikit demi sedikit. Sehingga dengan demikian, maka dengan, nafsu yang menyala-nyala pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh, berusaha mengejar lawan-lawan mereka.

Tetapi sejenak kemudian beberapa penghubung telah menyebarkan perintah Samekta. Para pengawal tidak diperkenankan berlaku kasar dan menuruti perasaan masing-masing. Yang penting mereka harus memasuki padukuhan induk tanpa menghiraukan lawan yang melarikan diri terpecah belah.

“Kita harus segera menyusun diri. Menguasai seisi Tanah Perdikan ini sebaik-baiknya,” perintah Samekta.

Beberapa kelompok pengawal menjadi ragu-ragu atas perintah itu. Sekian lama mereka menahan kemarahan yang seolah-olah akan meledak di dada masing-masing. Kini mereka mendapat kesempatan itu. Apalagi di dalam pertempuran yang baru saja terjadi, apakah mereka harus melepaskan lawan itu begitu saja?

Namun dalam keragu-raguan itu, mereka merasa bahwa mereka tidak dapat berbuat sekehendak hati. Mereka mempunyai pemimpin, perintahnya harus didengar. Sehingga dengan demikian maka mereka harus patuh dan melakukan perintah itu.

Meskipun demikian ada juga beberapa kelompok pengawal yang tidak segera mematuhinya. Mereka masih mempergunakan kesempatan terakhir untuk melepaskan dendamnya terhadap pengikut Tambak Wedi yang menjadi sumber penderitaan seluruh rakyat Menoreh.

“Kita harus melepaskan mereka,” berkata seorang penghubung kepada seorang pemimpin kelompok yang sedang kalap.

“Persetan!” geramnya. “Aku harus membunuh orang itu.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:34  Comments (27)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-46/trackback/

RSS feed for comments on this post.

27 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur nuwun buat tim moderator, bekal bacaan untuk menemani tugas luar kota selama seminggu sudah cukup banyak nih karena beberapa jilid ADBM sudah duduk manis di dalam laptop. Apalagi kalau hari ini sudah bisa ngunduh jilid 46, wah betapa senangnya. Dengan penuh harap dan berdebar2 aku akan setia menunggunya sampai malam nanti. Sekali lagi matur nuwun.

    Salam

    • betul ki lazuardi..
      kami juga lagi nunggu apdet fesbuknya.
      hehe

  2. waduh biyuuuuuuuuuuuuuuuung
    selak ra betah

  3. Alhamdulillah sabtu minggu ini ga’ jadi bengong. jilid 46 dah mendarat di laptop. Matur nuwun.

    rgds

  4. Kok di tempat saya belom ada linknya?

    pakde Ikhsan kok sudah dapet, linknya disebelah mana tho?

    thanks

  5. siippp, siippp, tengok bolak-balik akhirnya dateng juga jilid 46, maturnuwun..

  6. Dengan demikian, ternjata ADBM er jang sedang menulis ini tidak dapat mengutjapkan sepatah katapun karena terpesona.

    Di hadapanja telah terbentang lajar jang penuh warna warni jang dipulas oleh gambar gambar jang indah disertai angka angka jang menjadikan halaman itu mendjadi demikian indahnja…………

  7. Alhamdulillah…akhirnya lahir juga…..
    Terima kasih Team ADBM.
    Matur nuwun

  8. Ternyata nggak perlu nunggu samapi malam, meski harus diulang tiga kali, jilid 46 nayampai juga. Alhamdulillah …… Sekarang tinggal H2C siapa tahu ada susulannya? Matur nuwun sebelum dan sesudahnya.

    Salam

  9. walah, jilid 46 dah habis dilahap trus yg 47 kapan yaa,

  10. buku 046 halaman 07 s/d 40 siap meluncur melalui e-mail saudara Dd.

  11. hehehe….balik ke masa lalu…sing penting no 46…..
    monggo..monggo…

  12. ikutan dah yang penting 46 juo

  13. melu lah…
    46 pokoke..

  14. nostalgila……………donk

    • Monggo Ki

  15. ikut juga yang penting AMPAT ENAM

  16. papat karo enem melu rek!!
    timbang gak ono maneh nggone

  17. Sederek sedoyo … ini kitab 246 kok isi 046 .. apa saya salah gandok paseban?

  18. lagi nostalgia, mengenang masa lalu…

  19. mau tanya dimana alamat website yang bisa mbaca ADBM secara lengkap ya. matursuwun

    S disini !

  20. TJAP DJEMPOL ah….pratanda yen napak tilase wis tekan gandhok 46.
    Matur nuwun Ki GD, matur nuwun Nyi Seno.

    • jempole mantep tenan sampe materai nggak ketok 🙄

      • TJAP DJEMPOL aah….pratanda yen cantrik berharap
        Nyi SENO hadir ning gandhok 46.

        Matur nuwun Ki GD, beBAHU padepokan ADBM sedaya-nya

        • ra melu cap-capan jempol ah, mangsine ditelasne ki ndul

          • ra melu gocek-gocekan jempol ah, manggise wis ditelasne ki ndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: