Buku 46

NAMUN SUARA cambuk itu masih juga terdengar. Sekali lagi dan sekali lagi.

“Persetan,” desis Ki Peda Sura. “Mungkin akulah yang nanti akan menghentikannya. Tetapi kini lebih baik menyelesaikan kelinci-kelinci bodoh ini. Begitu menyenangkan, seperti menebas batang ilalang.”

Ki Peda Sura tersenyum. Sepasang senjatanya pun kemudian berputar menyambar-nyambar.

Senjata Ki Peda Sura benar-benar telah menimbulkan kengerian pada para pengawal yang bertempur di sekitarnya. Setiap sepasang senjata itu menyentuh lawan, maka senjata lawan itu hampir dapat dipastikan, terlempar dari tangan. Nasibnya kemudian sudah dapat dibayangkan. Tanpa senjata di medan perang yang riuh.

Meskipun demikian para pengawal Taman Perdikan Menoreh yang telah bertekad untuk merebut tanahnya kembali, sama sekali tidak menghindar. Mereka sadar, bahwa kematian adalah akibat yang mungkin akan terjadi. Tetapi harga tanahnya tidak ada ubahnya dengan harga nyawanya.

Demikianlah, maka mereka telah mencoba untuk mengurung Ki Peda Sura dalam sebuah arena yang sempit. Sedang para pengawal yang lain mencoba menarik batas dengan keributan pertempuran di sekitarnya. Namun usaha itu tidak pernah dapat berhasil, karena anak buah Ki Peda Sura menyadari apa yang akan terjadi atas pemimpinnya itu. Karena itu, setiap kali lingkaran itu selalu dapat dipecahkan. Bahkan semakin lama Ki Peda Sura dan orang-orangnya semakin mendesak maju masuk ke dalam garis benturan antara kedua pasukan itu.

“Orang-orang Menoreh berhasil menahan gerak maju Ki Tambak Wedi,” berkata Ki Peda Sura di dalam hatinya, “tetapi tidak bagi Ki Peda Sura. Tidak ada kekuatan yang dapat melawan Ki Peda Sura.”

Dan Ki Peda Sura pun menjadi semakin ganas bersama beberapa orang anak buahnya yang terpercaya.

Dengan demikian maka arena di seputarnya pun menjadi sangat menarik perhatian, sehingga kedua gembala muda yang bernama Gupita dan Gupala pun akhimya berhasil menemukannya.

“Di situ,” desis Gupala, “lihat, bukankah yang berputaran itu sepasang senjatanya?”

Gupita mengerutkan keningnya. Mereka pun segera berlompatan mendekat ketika mereka melihat seorang pengawal terlempar sambil berlumuran darah.

“Cepat!” geram Gupala. “Kebuasan itu harus segera dihentikan. Beberapa orang korban akan berjatuhan lagi tanpa ampun.”

Gupita tidak menjawab. Tetapi matanyalah yang memancarkan kemarahan yang menyala di dadanya. Ia tidak dapat membiarkan para pengawal itu jatuh tersungkur, kemudian yang lain terlempar untuk tidak pernah bangun kembali. Apalagi tindakan-tindakan anak buah Ki Peda Sura yang melampaui sikap wajar di peperangan.

“Mereka sengaja berbuat demikian untuk menakut-nakuti lawan,” berkata Gupita di dalam hatinya. “Kesan-kesan yang mengerikan itu akan membuat setiap hati menjadi kecut.”

Dengan demikian maka keduanya pun segera bergeser semakin mendekat.

Gupala yang agaknya tidak dapat menahan diri lagi, segera meloncat di hadapan orang tua itu sambil berteriak, “Cukup! Kau jangan berbuat gila. Aku sudah menjadi muak.”

Ki Peda Sura mengerutkan keningnya. Kemudian dengan kasar ia bertanya, “Siapa kau? Apakah kau akan melawan aku atau akan membunuh diri.”

“Aku memang akan membunuh. Tetapi bukan diriku sendiri. Aku akan membunuhmu.”

Ki Peda Sura mengerutkan keningnya. Namun kemudian terdengar suara tertawanya, “Jangan mimpi anak muda. Kau lihat, berapa banyak korban yang telah jatuh di sekitarku,”

“Aku percaya, aku telah melihatnya,” jawab Gupala, “tetapi korban berikutnya adalah kau sendiri.”

“Persetan!” Ki Peda Sura menjadi semakin marah. Ia tidak menjawab lagi. Sepasang senjatanya segera berputar menyerang Gupala dengan sangat tiba-tiba.

Gupala terkejut mengalami serangan yang begitu cepatnya mengarah ke kepalanya. Dengan demikian maka ia pun segera meloncat surut. Tetapi arena tidak begitu luas. Di sekitarnya telah terjadi pertempuran yang seru pula, sehingga ia tidak leluasa mengambil jarak dari lawannya.

Namun dalam kesulitan itu, sebuah ledakan cambuk telah memekakkan telinga. Hampir saja ujung juntai cambuk yang panjang itu melingkar di leher Ki Peda Sura. Namun ketangkasannya telah melepaskannya dari sambaran ujung cambuk itu.

“Setan!” orang tua itu mengumpat. Kini dilihatnya Gupala telah siap menyerangnya pula dengan cambuknya. Sekias Ki Peda Sura melihat kilatan yang melingkar di beberapa bagian dari juntai cambuk itu. Semacam karah yang tajam, yang akan mampu mengelupas kulitnya apabila ujung cambuk itu berhasil menyentuh.

Selain Gupala yang gemuk itu, seorang anak muda yang lain, yang pertama-tama menyerangnya dengan cambuknya, telah pula siap melontarkan serangan-serangan berikutnya.

Dan anak itu ternyata telah pernah dikenalnya.

Ki Peda Sura menggeram. Dipandanginya kedua anak-anak muda itu berganti-ganti. Kemantapan tatapan mata keduanya telah membuat hati Ki Peda Sura menjadi berdebar-debar.

Tetapi ia tidak akan dapat tinggal diam. Keduanya itu harus dilawannya dan dibinasakannya.

Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Peda Sura segera melibat keduanya dalam pertempuran. Ki Peda Sura ternyata tidak menunggu kedua anak-anak muda itu menyerangnya lebih dahulu. Tetapi dengan tangkasnya ia meloncat sambil memutar sepasang senjatanya.

Tetapi baik Gupita maupun Gupala telah siap pula menghadapi segala kemungkinan, sehingga karena itu, maka mereka pun segera dapat menanggapi serangan-serangan Ki Peda Sura yang datang sedahsyat angin prahara.

Demikianlah medan pertempuran itu semakin lama menjadi semakin ribut. Masing-masing telah menemukan lawannya. Tidak saja para pemimpin, tetapi setiap orang di dalam masing-masing pasukan yang bertempur itu sedang memeras tenaganya.

Sidanti yang bertempur melawan Hanggapati harus memeras segenap kemampuannya apabila ia ingin menundukkan lawannya. Tetapi lawannya pun telah berusaha sekuat-kuat tenaganya pula untuk mempertahankan dirinya, bahkan Hanggapati pun berusaha untuk dapat mengalahkan Sidanti pula.

Demikian pula Argajaya dengan tombak pendeknya. Agaknya ia sama sekali tidak berpengharapan untuk dapat mengalahkan Dipasanga. Tetapi ia yakin bahwa ia akan dapat bertahan untuk waktu yang lama. Bahkan ia berpengharapan, bahwa ia akan dapat menyimpan tenaga lebih lama dari lawannya.

Tetapi Argajaya adalah seorang yang keras hati. Bagaimana pun juga dihadapinya lawannya dengan dada tengadah. Apabila ia sudah mulai menggerakkan senjatanya, maka ia tidak akan memperhitungkan lagi kemungkinan apa pun yang dapat terjadi atas dirinya. Meskipun demikian ia tidak segera kehilangan akal menghadapi kesulitan.

Dalam hiruk-pikuk pertempuran itu, Wrahasta agaknya masih belum dapat melupakan kawan-kawannya yang telah terbunuh di dalam tugasnya, selagi mereka mendahului pasukan induk membungkam gardu-gardu. Apalagi ketika ternyata korban itu tidak menghasilkan penyelesaian tugas seperti yang diharapkan, karena ternyata bahwa Ki Tambak Wedi masih sempat mengetahui kedatangan pasukan Menoreh, meskipun dengan tergesa-gesa mereka harus menyiapkan diri.

“Setiap orang harus mendapat ganti sepuluh nyawa,” geramnya tidak henti-hentinya. Dan raksasa itu pun kemudian mengamuk sejadi-jadinya.

Tetapi sudah barang tentu bahwa lawannya tidak akan tinggal diam dan membiarkan diri mereka terbunuh. Betapapun juga mereka pasti akan mengadakan perlawanan sekuat-kuat tenaga.

Apalagi Wrahasta tidak terlalu banyak memiliki kelebihan dari lawan-lawannya. Orang-orang Ki Peda Sura yang buas, yang menjadi marah melihat sikapnya, segera berusaha menghancurkannya pula.

Tetapi Wrahasta tidak mempedulikannya. Diayunkannya scnjatanya ke segenap penjuru. Ia kehilangan pengamatan yang mantap atas lawan-lawannya karena kemarahan yang meluap-luap di dalam dadanya. Dengan demikian ia tidak dengan pasti melawan seorang demi seorang. Dilawannya siapa pun yang dilihatnya. Dan perlawanan yang demikian justru berbahaya bagi diri Wrahasta sendiri.

Hanggapati sempat melihat sekilas cara bertempur raksasa yang sedang dipenuhi oleh berbagai macam kekecewaan, kemarahan, dan bermacam-macam perasaan bercampur-baur di dalam hatinya. Tetapi ia tidak sempat berbuat apa pun karena tekanan Sidanti yang tidak dapat dielakkannya. Sidanti yang marah itu pun menyerang lawannya tanpa memberinya kesempatan untuk memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Namun demikian Hanggapati sempat pula menjadi cemas melihat sikap Wrahasta.

Di sayap lain Kerti bertempur dengan cermatnya. Sambil membimbing pasukannya, ia berusaha setapak demi setapak untuk mendesak maju. Bukan sekedar dirinya sendiri, tetapi seluruh sayap yang dipimpinnya.

Tetapi itu bukan pekerjaan yang mudah dapat dilakukan. Meskipun pasukan Ki Tambak Wedi dipersiapkan dengan tergesa-gesa, namun pada dasarnya pasukan itu cukup kuat. Apalagi karena masih saja ada kelompok-kelompok kecil yang mengalir dan menggabungkan diri ke dalam hiruk-pikuknya peperangan.

Dipasanga masih saja berkelahi dengan gigihnya. Ia mencoba untuk tetap dapat memberikan tekanan-tekanan kepada lawannya, meskipun ada saat-saat terjadi sebaliknya.

Satu demi satu korban berjatuhan di kedua belah pihak. Di antara dentang senjata beradu, terdengarlah pekik kesakitan dan rintih yang memelas. Tetapi tidak banyak di antara mereka yang sempat mendapat pertolongan, karena setiap orang sibuk dengan persoalannya masing-masing. Justru persoalan hidup dan mati. Bukan sekedar hidup dan mati bagi diri sendiri, tetapi hidup dan mati bagi seluruh pasukan.

Namun tusukan pertama yang langsung menghunjam ke jantung pertahanan Ki Tambak Wedi itu ada juga hasilnya. Pada benturan yang pertama, pasukan Menoreh telah mampu mengurangi jumlah lawan di gardu-gardu dan dengan anak-anak panah. Hal itu telah memberikan kejutan yang berpengaruh pada seluruh pasukan Ki Tambak Wedi.

Mereka yang pada dasarnya bukan bekas pengawal yang memalingkan wajahnya, bukan pula orang-orang Ki Peda Sura dan orang-orang yang bertualang lainnya, kejadian itu sangat membekas di dalam diri mereka.

Orang-orang yang selama ini adalah petani-petani yang tekun, pedagang-pedagang dan mungkin juga bekas-bekas pengawal, tetapi yang sudah lama meletakkan senjata-senjata mereka, yang karena keadaan telah dikerahkan oleh Argajaya dan Sidanti, kali ini tidak dapat menunjukkan perlawanan seperti yang diharapkan.

Dengan demikian, maka Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya kali ini tidak lagi dapat menepuk dada kekuatan mereka. Tanpa mereka duga, ternyata pasukan Ki Argapati memiliki tekad yang memang mendekati sikap putus asa. Karena mereka berjanji di dalam diri, merebut padukuhan induk, atau tidak kembali sama sekali. Itulah agaknya yang telah mendorong mereka untuk berbuat dan mengorbankan apa saja yang ada. Akibat daripada itu, perlawanan mereka pun benar-benar ngedab-edabi.

Para pengawal itu merasa, bahwa mereka telah terlalu lama terusir dari padukuhan induk. Kalau mereka tidak berhasil sekarang, maka masa depan mereka tidak akan dapat mereka bayangkan.

Beberapa lama pertempuran itu sudah berlangsung dengan serunya. Namun nampaknya kedua pasukan itu mempunyai kekuatan yang seimbang. Kemenangan-kemenangan kecil di garis pertempuran itu terjadi silih berganti. Orang-orang Ki Peda Sura dan petualang-petualang yang lain kadang-kadang tidak dapat menahan hati mereka yang liar. Kemenangan-kemenangan kecil telah membuat mereka berteriak-teriak dan bersorak-sorak. Bukan saja mereka, tetapi keliaran itu agaknya merambat ke segenap pasukan, bahkan pasukan lawan.

Dengan demikian maka berganti-ganti kedua belah pihak bersorak-sorak seperti hendak memecahkan langit. Semakin lama menjadi semakin keras. Dan tandang mereka pun menjadi semakin kasar. Mereka sama sekali tidak lagi menghiraukan pekik kesakitan dan rintihan mereka yang terluka. Bahkan sambil tertawa seperti orang yang kehilangan ingatan, orang-orang yang bertualang di atas Tanah Perdikan Menoreh, dan melibatkan diri dalam api peperangan itu, telah berbuat hal-hal yang mendirikan bulu roma. Selagi lawannya mengaduh sambil memegangi lukanya, dengan tanpa ragu-ragu, orang-orang itu menghunjamkan senjata-senjata mereka. Bahkan kadang-kadang dengan perlahan-lahan.

Ki Tambak Wedi yang bertempur sepenuh tenaga, kadang-kadang sempat juga melihat hal itu terjadi. Tetapi ia sama sekali tidak berkeberatan. Orang-orang Menoreh harus ditakut-takuti dengan perlakuan yang kasar dan buas.

Tetapi harapan mereka, bahwa dengan demikian para pengawal akan gentar, ternyata meleset. Para pengawal justru menjadi marah, dan mereka yang berdarah panas, segera ditumbuhi nafsu untuk melakukan pembalasan.

Gupita yang berkelahi berpasangan dengan Gupala melawan Ki Peda Sura, hampir saja terpekik ketika tiba-tiba sebuah kepala berguling di hadapannya. Sejenak ia terpukau diam. Ia tidak dapat segera mengatasi gejolak yang melanda dinding jantungnya.

“Oh, ternyata di dalam peperangan manusia-manusia ini telah kehilangan sifat-sifatnya,” desisnya di dalam hati.

Saat itu hampir saja dapat dimanfaatkan oleh Ki Peda Sura. Hampir saja kepalanya sendiri pun akan pecah karena pukulan senjata lawannya. Untunglah bahwa Gupala tidak begitu terpengaruh oleh kengerian itu, sehingga ia masih sempat dengan tangkasnya meledakkan cambuknya mengarah ke wajah Ki Peda Sura yang tegang.

Orang tua itu mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Ia terpaksa mengurungkan serangannya dan menghindari ujung cambuk Gupala. Namun yaug sesaat itu, telah memberi kesempatan kepada Gupita untuk menyadari keadannya.

Anak muda itu menggeram sambil menggeretakkan giginya. Kini ia tidak mempunyai pilihan lain. Pertempuran ini telah berubah menjadi ajang pembantaian. Peluapan nafsu yang paling rendah, nafsu yang buas dan mengerikan.

Sejenak kemudian Gupita telah mempersiapkan dirinya. Sekilas terpandang olehnya hirup-pikuk pertempuran di sekitarnya. Kebuasan orang-orang yang mencari keuntungan dari perselisihan yang terjadi di atas tanah perdikan ini.

Terasa darahnya menjadi semakin panas. Kini ditatapnya lawannya yang kasar itu tajam-tajam. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah mendapatkan suatu kepastian di dalam dadanya. Ia telah berhasil mengatasi keragu-raguan. Ia harus membinasakan lawannya.

Sejenak kemudian maka Gupita itu memutar juntai cambuknya di atas kepalanya sambil memusatkan segenap kemampuan dan kegairahan tekadnya. Sesaat kemudian cambuknya itu pun meledak seakan-akan memecahkan selaput telinga.

Ki Peda Sura mengerutkan keningnya. Ia melihat sorot mata Gupita yang telah berubah. Kemudian dipandangnya Gupala yang tertawa-tawa kecil sambil menyerangnya dengan ujung cambuknya.

Orang tua itu melihat perbedaan pada kedua anak-anak muda yang melawannya. Tetapi ia yakin bahwa keduanya bersumber dari perguruan yang sama.

Demikianlah maka pertempuran itu pun segera meningkat semakin seru. Serangan-serangan Gupita menjadi semakin garang, sedang Gupala selalu menempatkan dirinya, dan mengisi setiap kelemahan kakak seperguruannya, meskipun kadang-kadang ia sempat juga tertawa apabila ujung cambuknya mengena.

Ki Peda Sura, yang sekali-sekali tersentuh oleh kedua ujung cambuk itu semakin lama menjadi semakin buas juga. Matanya menjadi semakin merah, dan sekali-sekali terdengar mulutnya mengumpat dengan kata-kata kasar.

Seluruh medan perang menjadi semakin kalut. Semua pihak menjadi semakin kasar, dan dalam keadaan yang demikian nyawa seakan-akan tidak berharga lagi.

Di ujung pertempuran kedua belah pihak saling mendesak, sedang di pusat pertempuran, dua orang tua-tua masih saja berkelahi dengan dahsyatnya.

Ki Tambak Wedi semakin lama menjadi semakin gelisah. Ia yakin bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan orang bercambuk itu. Sedangkan ia tidak dapat mengira-irakan apa yang terjadi di seluruh medan. Tetapi ia kini tidak lagi mempunyai perhitungan bahwa kekuatannya jauh melampaui kekuatan lawannya. Apalagi dengan kehadiran orang bercambuk itu. Kemungkinan terbesar orang bercambuk itu pasti telah membawa kedua murid-muridnya pula.

Tiba-tiba di samping Ki Tambak Wedi telah digemparkan oleh sorak yang memekakkan telinga. Sejenak Ki Tambak Wedi berusaha untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Tetapi demikian garangnya serangan cambuk lawannya sehingga ia tidak berhasil. Karena itu, sambil bertempur terus ia berteriak kepada seorang penghubungnya, “Lihat, apa yang telah terjadi.”

Orang itu pun segera menyusup di daerah pertempuran untuk melihat apakah yang telah terjadi di samping pusat pertempuran itu.

Sorak yang riuh itu adalah sorak para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Mereka tidak dapat menahan perasaan mereka yang sedang meluap-luap.

Sementara itu, pertempuran masih tetap berlangsung dengan sengitnya. Sedang sorak-sorai para pengawal semakin lama menjadi semakin riuh.

Dengan jantung yang mengembang, para pengawal Tanah Perdikan Menoreh bersama-sama rakyat yang setia kepada pemimpinnya, bertempur semakin mantap. Dengan sepenuh harapan mereka menyaksikan bagaimana kedua anak-anak gembala itu berhasil menguasai lawannya, meskipun lawan itu bernama Ki Peda Sura.

Sebenarnyalah bahwa Ki Peda Sura berada dalam kesulitan. Setiap kali ia selalu terdesak. Betapa pun ia berusaha untuk bertahan, tetapi kedua lawannya yang masih muda itu terlampau cepat bergerak di arah yang berbeda-beda. Keduanya demikian baik menyusun serangan yang kadang-kadang dapat membingungkan orang tua yang sudah cukup banyak makan garam peperangan.

Ki Peda Sura adalah seorang yang hampir sepanjang hidupnya berada dalam pertempuran, peperangan, dan perkelahian. Kekerasan, kekasaran, dan kelicikan adalah kelengkapannya sehari-hari. Namun ketika ia harus melawan dua kakak-beradik seperguruan itu, terasa bahwa ia mengalami kesulitan.

Gupita dan Gupala yang telah menemukan kemenangan-kemenangan kecil, segera berusaha untuk memperbanyak kemenangan-kemenangannya. Mereka berusaha agar Ki Peda Sura tidak berhasil memperbaiki kedudukannya. Dengan demikian maka kedua ujung cambuk anak-anak muda itu tanpa henti-hentinya menyerang dari segala arah, sehingga kadang-kadang Ki Peda Sura tidak lagi berhasil menghindarinya.

Ketika terdengar keluhan Ki Peda Sura yang tertahan, serta seleret warna merah membekas di pipinya, maka Gupala telah mendesaknya semakin ketat. Sekali cambuknya berputar. Tetapi ia kali ini tidak menyerang dengan ujung cambuk kali itu. Kali ini ia berusaha membelit kaki lawannya, kemudian dengan suatu hentakan ia menariknya.

Serangan itu sama sekali tidak terduga-duga. Selagi Ki Peda Sura menghindari serangan Gupita, maka begitu kakinya menginjak tanah, kaki itu telah terbelit ujung cambuk Gupala. Dengan demikian maka Ki Peda Sura sama sekali tidak dapat menghindarinya lagi ketika sebelah kakinya terseret oleh ujung cambuk itu.
Sambil menggeletakkan giginya Ki Peda Sura berusaha menarik kakinya. Tetapi keseimbangannya sudah tidak begitu mantap lagi. Dengan demikian, maka Ki Peda Sura justru menjatuhkan dirinya, dan berguling beberapa kali. Sebuah tarikan yang mengejutkan hampir saja melepaskan pegangan Gupala pada pangkal cambuknya. Namun segera ia menyadarinya, sehingga dengan sekuat-kuat tenaganya ia menahan genggamannya.
Sejenak kemudian, belitan itu pun terlepas. Dengan sigapnya Ki Peda Sura meloncat berdiri sambil menggeram. Jantungnya serasa telah terbakar oleh kemarahannya yang meluap-luap. Sementara para pengawal yang menyaksikannya masih saja bersorak-sorak dengan riuhnya, karena serangan-serangan berikutnya yang dilancarkan oleh Gupita telah membuat Ki Peda Sura menjadi agak bingung.

Kesempatan yang demikian itu tidak disia-siakan oleh Gupala dan Gupita. Serangan mereka pun menjadi semakin cepat. Ujung cambuk Gupala berputaran menyambar-nyambar, sedang Gupita yang merendahkan diri pada lututnya, menyerang mendatar dengan dahsyatnya.

Ternyata bahwa gabungan kekuatan Gupita dan Gupala masih berada di atas kemampuan Ki Peda Sura yang bersenjata sepasang bindi. Semakin lama ujung cambuk itu semakin sering menyentuh tubuhnya, meskipun tidak berbahaya. Tetapi perasaan pedih telah mulai merayapi kulitnya ketika keringatnya menjadi semakin banyak mengalir.

Orang tua itu menggeretakkan giginya. Kini ia mencoba untuk berbuat lain. Ia melihat kelemahan pada anak muda yang gemuk itu. Ternyata ia tidak selincah Gupita. Karena itu, timbul niatnya untuk mengalahkan lawannya seorang demi seorang.

Dalam perkelahian berikutnya, tiba-tiba saja tanpa menghiraukan serangan-serangan cambuk Gupita, Ki Peda Sura langsung menerkam Gupala. Kedua bindinya berputaran melindungi dirinya.

Gupala terkejut menerima serangan yang tiba-tiba itu. Dengan tangkasnya ia mencoba menghindar ke samping.

Meskipun ia berhasil menghindari serangan yang pertama, namun Ki Peda Sura agaknya telah benar-benar menjadi wuru. Ia melenting pula seperti seekor bilalang, menyerang Gupala dengan segenap kemampuannya.

Tetapi Gupita tidak tinggal diam. Dengan, sigapnya ia melangkah maju, melecutkan cambuknya langsung mengarah kekening lawan. Namun Ki Peda Sura benar-benar tidak menghiraukannya lagi. Bahkan ia sama sekali tidak menghiraukan ketika ujung cambuk itu meledak di keningnya, dan menyobek kulitnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan darah yang menetes dari lukanya. Tetapi, serangannya atas Gupala menjadi semakin dahsyat.

Gupala menjadi agak bingung mendapat serangan yang membabi buta itu. Yang dapat dilakukan adalah melindungi dirinya dengan putaran juntai cambuknya. Bahkan dengan ayunan bersilang, ia masih mencoba menyerang lawannya.

Ki Peda Sura menyeringai menahan sakit ketika juntai cambuk Gupala mengenai pundaknya. Tetapi ia sudah mengayunkan bindinya mengarah ke dahi Gupala yang berada dalam kesulitan. Gupala tidak dapat merundukkan kepalanya, kalau ia tidak ingin ubun-ubunnya yang pecah, sementara ia tidak sempat meloncat lagi karena hiruk-pikuknya pertempuran. Yang dapat dilakukannya adalah melawan ayunan bindi itu. Tetapi senjatanya adalah senjata lentur yang tidak akan mampu membentur langsung bindi lawan. Meskipun demikian, Gupala tidak berputus asa. Ia mencoba bergeser dan memiringkan tubuhnya, sementara dengan cambuknya berusaha membelit lengan lawannya untuk mencoba merubah arah ayunan bindinya.

Bersamaan dengan itu, Gupita yang melihat bahaya yang hampir menerkam Gupala itu pun segera bertindak cepat. Ujung cambuknya segera membelit pergelangan tangan Ki Peda Sura hampir bersamaan ujung cambuk Gupala sendiri yang membelit lengan. Hampir bersamaan pula keduanya menghentakkan ujung-ujung cambuk itu.

Tetapi ayunan tangan Ki Peda Sura yang dilambari oleh sepenuh kekuatan itu benar-benar mengerikan.

Kedua ujung cambuk itu tidak berhasil menahan ayunan tangan orang tua yang perkasa itu. Karena itu, bindi Ki Peda Sura dengan derasnya menukik turun.

Namun demikian usaha kedua anak-anak muda itu tidak sia-sia belaka. Hentakan ujung-ujung cambuk itu ternyata telah berhasil mempengaruhi arah ayunan bindi Ki Peda Sura. Karena itu maka bindi itu kemudian tidak lagi membentur dahi Gupala, tetapi bindi itu kemudian menyentuh pundak.

Terdengar anak muda yang gemuk itu berdesis pendek. Setapak ia melangkah surut. Terasa pundak kirinya menjadi sakit bukan buatan, dan bahkan seluruh tangannya hampir-hampir tidak lagi dapat digerakkan. Karena itu, maka sejenak kemudian ia menggeram. Matanya menjadi semerah darah yang memerahi kulitnya yang terkelupas

Dalam pada itu, Gupita sama sekali tidak membiarkan Ki Peda Sura mendapat kesempatan berikutnya. Dengan garangnya cambuknya pun kemudian terayun deras sekali mengarah keleher lawannya.

Ki Peda Sura yang sudah terluka di beberapa tempat itu menyadari bahaya yang dapat mencekiknya. Karena itu, maka ia telah mencoba bergeser, namun di luar dugaannya Gupala yang terluka pundaknya menyerangnya dengan dahsyatnya. Sebuah ayunan mendatar langsung mengenai lambungnya.

Sesaat Ki Peda Sura menyeringai menahan pedih. Pedih di lambungnya, di kenignya, di pundaknya dan di beberapa bagian lagi. Kakinya pun telah terkelupas pula pada saat cambuk Gupala membelitnya.

Namun serangan-serangan berikutnya datang beruntun seperti banjir bandang.

Sekali-sekali Ki Peda Sura berloncatan menghindar. Namun di suatu saat ia masih juga mencoba menyerang. Sepasang bindinya terayun-ayun mengerikan.

Tetapi ia menyadari, bahwa agaknya ia telah memeras tenaganya hampir melampaui kemampuan yang ada padanya. Sehingga karena itu maka nafasnya pun menjadi kian terengah-engah, dan bahkan seakan-akan ujungnya telah tersangkut di lubang hidung. Sedang kedua lawannya yang cukup terlatih itu masih berusaha menahan diri agar pada saatnya mereka dapat melakukan tekanan terakhir atas lawannya.

Ki Peda Sura menyadari kesalahannya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia memang harus memeras tenaganya, karena ia menyadari bahaya yang dapat menyentuhnya. Ia mengharap bahwa dengan mencurahkan segenap kekuatan dan kemampuan ia akan segera mengakhiri perkelahian, setidak-tidaknya ia dapat mengurangi satu dari kedua lawannya. Tetapi rencana itu tidak dapat dilaksanakannya.

Gupita dan Gupala justru menjadi semakin garang. Serangan-serangan mereka menjadi kian cepat. Apalagi Gupala yang terluka pundaknya. Nafsunya serasa telah dibakar oleh titik darahnya yang merah. Tandangnya menjadi kian cepat dan bahkan kadang-kadang menjadi kasar.

Akhirnya, Ki Peda Sura tidak dapat mengelak lagi. Memang timbul niatnya untuk melarikan diri, tetapi kedua anak muda itu mengurungnya dengan ketat. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain kecuali bertempur terus. Sedang anak buahnya masih juga sibuk melayani para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang semakin mendesak.

Namun terasa betapa tenaganya menjadi semakin lama semakin lemah. Kedua bindinya sudah tidak lagi sebuas semula. Ayunannya tidak lagi berdesing-desing seperti prahara.

Gupala yang sedang dibakar oleh kemarahannya itu mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Ketika Ki Peda Sura sedang sibuk melayani serangan Gupita, maka Gupala tidak dapat bersabar lagi. Tiba-tiba saja ia menggenggam cambuknya di tangan kirinya yang lemah karena luka di pundaknya. Selagi Ki Peda Sura kehilangan keseimbangan, maka anak yang wuru itu melompat yang memekik tinggi. Pedangnya terjulur lurus ke depan.

Sejenak kemudian terdengar Ki Peda Sura mengeluh tertahan. Terasa ia terdorong ke samping, kemudian perasaan sakit yang amat sangat telah menyengat lambungnya. Ia sadar, bahwa yang menyentuhnya kini bukanlah sekedar ujung cambuk yang meskipun berkarah rapat. Tetapi yang menghunjam di lambungnya kini adalah ujung pedang. Pedang Gupala.

Dengan mata yang liar Ki Peda Sura memandang wajah Gupala yang geram. Tetapi anak muda itu tidak segera mencabut pedangnya, justru dengan segenap kekuatannya ia menghentakkan tangannya, membenamkan pedang itu semakin dalam.

Ki Peda Sura menggeliat. Tetapi kemudian terhuyung-huyung sejenak.

Sorak-sorai para pengawal meledak seperti hendak meruntuhkan langit. Ujung-ujung senjata terangkat tinggi-tinggi, sementara yang lain masih sibuk berkelahi di garis batas benturan kedua pasukan itu.

Orang tua itu pun kemudian jatuh terjerambab. Ia masih sempat menatap wajah kedua anak-anak muda yang berdiri berdampingan. Tanpa sesadarnya Ki Peda Sura itu berdesis, “Kalian memang luar biasa. Kalian memang anak-anak muda yang tangguh.”

Ki Peda Sura tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Sesaat ia masih memandangi wajah-wajah yang tegang di atasnya. Namun kemudian semuanya menjadi kabur.

Ki Peda Sura menghembuskan nafas yang penghabisan sebelum ia dapat merabai seluruh Tanah Perdikan. Sebelum ia berhasil memasuki rumah demi rumah dengan leluasa. Yang baru dapat dilakukan adalah merampas satu-dua rumah yang tidak mendapat perlindungan, disetiap kerusuhan. Tetapi belum begitu banyak, dan ia mati terjebak oleh nafsunya itu.

Sejenak Gupita dan Gupala saling berpandangan. Kini mereka telah kehilangan lawan. Sementara perang masih berkecamuk.

“Pundakku harus ditukar dengan seratus pundak,” geram Gupala.

“Kau sudah kejangkitan penyakit Wrahasta itu,” sahut Gupita.

Gupala tidak segera menjawab. Dipandanginya mayat Ki Peda Sura yang terbujur diam.

“Lalu apa kerja kita sekarang? Membunuh sebanyak-banyaknya?” bertanya Gupala.

Gupita merenung sejenak Namun kemudian ia menjawab, “Gupala, aku kira sekarang Guru sedang bertempur mati-matian melawan Ki Tambak Wedi. Kalau mereka dibiarkan berkelahi seorang melawan seorang, aku kira, sepuluh hari perkelahian yang demikian itu tidak akan dapat selesai.”

Gupala mengerutkan keningnya. Sejenak ia terdiam di dalam hiruk-pikuknya perkelahian yang masih berkecamuk di sekitarnya. Sejenak ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi maksudmu, kita membantu Guru?” desis Gupala.

Gupita menganggukkan kepalanya, “Begitulah.”

Gupala menjadi ragu-ragu sejenak. Dilihat seorang lawan dengan sangat bernafsu menyerang seorang pengawal yang sedang dalam kesulitan. Tiba-tiba saja Gupala meloncat sambil menjulurkan pedangnya.

Ia tidak perlu mengulanginya. Orang yang tersentuh ujung pedangnya itu terpelanting jatuh di tanah. Mati.

Gupita menggeleng-gelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan adik seperguruannya. Kalau anak muda yang gemuk itu tidak bertindak cepat, maka seorang pengawal pasti telah terbunuh.

Gupala kemudian mengamat-amati pedangnya yang berlumuran darah. Disarungkannya pedangnya itu sambil berkata, “Mari, kita melihat bagaimana Guru berkelahi.”

Keduanya pun kemudian meninggalkan medan. Mereka tidak begitu cemas lagi akan nasib para pengawal, karena Ki Peda Sura sudah tidak ada lagi.

Namun demikian, Gupala masih juga menyeringai karena pundaknya yang pedih, sehingga tangan kirinya terasa seakan-akan menjadi lumpuh.

Kematian Ki Peda Sura segera sampai ke telinga Ki Tambak Wedi. Wajah orang tua itu sejenak menjadi tegang. Kematian Ki Peda Sura akan dapat berakibat dua kemungkinan. Anak buahnya menjadi ketakutan dan sedikit demi sedikit meninggalkan arena, yang pasti akan diikuti oleh orang-orang yang mereka bawa atau mereka akan menjadi gila dan mengamuk sejadi-jadinya.

Tetapi kemungkinan yang terakhir itu pun tidak akan banyak bermanfaat. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pasti menjadi berbesar hati sepeninggal Ki Peda Sura, sehingga mereka akan menjadi bertambah berani.

Ki Tambak Wedi tidak dapat lagi menyembunyikan kegelisahannya. Orang-orang yang berhasil membunuh Ki Peda Sura itu sudah kehilangan lawan-lawannya. Lalu apakah yang akan mereka kerjakan?

Dugaan Ki Tambak Wedi sama sekali tidak meleset ketika tiba-tiba saja muncul dua orang anak-anak muda di arenanya. Kedua anak-anak muda yang juga bersenjata cambuk.

Dengan isyarat Ki Tambak Wedi kemudian memanggil orang-orangnya yang terpercaya. Mereka harus membantunya, apabila kedua anak-anak muda bercambuk itu akan berkelahi bersama dengan gurunya.

Sejenak Gupita dan Gupala memperhatikan pertempuran itu. Pertempuran antara dua orang yang berilmu jauh lebih tinggi dari ilmu mereka. Keduanya memiliki kemampuan, dan pengalaman yang seimbang, sehingga karena itu, maka pertempuran semakin lama menjadi kian seru. Tidak ada tanda-tanda bahwa salah seorang dari mereka akan terdesak, apalagi dikalahkan. Meskipun senjata Ki Tambak Wedi jauh lebih pendek dari juntai cambuk lawannya, namun kelincahannya telah banyak menolongnya membebaskannya dari ujung cambuk itu, sementara senjatanya yang berujung rangkap itu berputar mengerikan.

Gupita dan Gupala merasa, bahwa apabila mereka berdua harus melawan Ki Tambak Wedi seperti mereka melawasi Ki Peda Sura, mereka pasti akan mengalami banyak kesulitan. Tetapi di sini ada gurunya. Keseimbangan itu pasti akan segera bergeser, apabila keduanya ikut serta pula di dalam pertempuran itu.

Gupita dan Gupala masih tetap termangu-mangu di tempatnya. Mereka berusaha untuk mengerti, kesan gurunya tentang kehadirannya.

Ternyata gurunya pun tidak berkeberatan. Sesaat, pada waktu pandangan gurunya menyambar mata Gupita, orang tua itu menganggukkan kepalanya.

“Kita sudah mendapat ijin,” desis Gupita.

“Ya, aku juga melihat Guru mengangguk,” sahut Gupala.

Keduanya pun kemudian mendekat. Dengan cambuk di tangan, mereka siap untuk menerjunkan diri di dalam peperangan yang dahsyat itu.

Tetapi belum lagi mereka berhasil masuk ke dalam arena itu, tiba-tiba beberapa orang pengawal kepercayaan Ki Tambak Wedi telah menyergap mereka, setelah mereka menggeser lawan-lawan mereka. Dengan berbagai macam senjata mereka mencoba membatasi keduanya, agar mereka tidak dapat mempengaruhi perkelahian antara dua orang tua-tua itu.

Gupala yang memang sedang meluap karena pundaknya yang terluka, tidak dapat menahan diri lagi. Segera ia berloncatan sambil memutar cambuknya. Sejenak kemudian cambuk itu pun telah meledak-ledak di udara, kemudian menyambar satu dua orang yang berdiri di paling dekat.

Gupita pun tidak dapat tetap tinggal diam. Ia memang harus membuka jalan sebelum bersama adiknya ia akan ikut di dalam pertempuran melawan Ki Tambak Wedi.

Sementara itu di bagian lain dari pertempuran, masih saja berlangsung dengan sengitnya. Ternyata kelompok-kelompok kecil masih saja mengalir dari padukuhan induk. Empat orang, lima orang bahkan kadang-kadang delapan orang sekaligus. Dengan tergesa-gesa mereka segera menggabungkan diri dalam riuhnya peperangan.

Meskipun demikian, ternyata jumlah yang kecil itu semakin lama menjadi jumlah yang semakin besar, sehingga akhirnya terasa juga pengaruhnya. Sidanti dan Argajaya agaknya berhasil memikat orang-orang di berbagai padukuhan di sekitar padukuhan induk, dan bahkan di padukuhan-padukuhan terpencil di lereng-lereng bukit, selain orang-orang yang tidak dikenal di tlatah Menoreh.

Dengan demikian terasa, bahwa kekuatan pasukan Ki Tambak Wedi yang bertambah-tambah itu menjadi semakin kuat, sedang jumlah para pengawal menjadi kian susut karena korban yang berjatuhan di peperangan.

Sidanti yang bertempur melawan Ki Hanggapati, mencoba mengerahkan segenap kemampuannya. Kemarahan dan nafsu yang menyala di dadanya seakan-akan telah menambah kemampuannya, sehingga Ki Hanggapati terpaksa beberapa kali melangkah surut.

Serangan-serangan Sidanti bagaikan badai yang tiada taranya menghantam bibir hutan yang lebat.

Namun Hanggapati bukan pula anak ingusan di peperangan. Itulah sebabnya maka ia masih tetap bertahan meskipun ia kadang-kadang harus menghindar dan menghindar.

Di sayap yang lain, Dipasanga harus mengerahkan segenap kemampuannya pula. Adik Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang telah terlanjur memusuhi kakaknya itu, sama sekali tidak lagi dapat melangkah surut. Karena itu, tidak ada jalan lain baginya, kecuali meneruskan peperangan ini.

Sementara itu, Gupita dan Gupala perlahan-lahan berhasil menguasai lawan-lawannya. Satu demi satu mereka terlempar dari lingkaran. Sehingga akhirnya Gupita dan Gupala berhasil mendekati arena pertempuran gurunya.

Sejenak mereka tertegun. Mereka masih harus berusaha menyesuaikau diri. Di mana mereka hadir, dan bagaimana sebaiknya mereka mempengaruhi peperangan itu.

Gupala mengerutkan keningnya sambil mengangguk-anggukkan. Melawan Ki Tambak Wedi baginya lebih baik mempergunakan senjata panjang, meskipun lentur. Adalah sangat berbahaya apabila ia mempergunakan pedangnya.

Perlahan-lahan keduanya menjadi semakin dekat. Kemudian mereka berpencar, mengambil arah masing-masing. Sedang cambuk mereka telah tergenggam erat-erat. Sekali-sekali mereka terpaksa menjauh, dan bahkan sekali-sekali mereka masih juga harus melayani para pengawal Ki Tambak Wedi. Namun kemudian para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang lain telah berhasil menempatkan diri mereka melawan orang-orang Ki Tambak Wedi untuk memberi kesempatan kepada Gupita dan Gupala membantu ayahnya melawan Ki Tambak Wedi.

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan itu, Ki Tambak Wedi menjadi semakin marah. Tetapi sepercik kecemasan memang telah meraba hatinya. Betapa pun tidak berarti, tetapi kedua anak-anak muda itu pasti akan dapat mempengaruhi keseimbangan peperangan.

“Keduamya pula yang telah membunuh Ki Peda Sura,” geram Ki Tambak Wedi di dalam hatinya. Namun yang terlontar dari mulutnya adalah sebuah teriakan nyaring, “Ayo, majulah bersama-sama, supaya pekerjaanku segera selesai.”

Gembala tua itu tidak menjawab. Dipandanginya kedua murid-muridnya sejenak. Setelah mereka mendapat tempatnya masing-masing, maka gembala tua itu pun segera mendesak lawannya.

Ki Tambak Wedi kini harus berpikir sebaik-baiknya. Bagaimana ia harus melawan ketiga orang yang bersenjata cambuk itu. Lawan yang sama sekali tidak diperhitungkannya, namun yang agaknya justru ikut menentukan akhir dari peperangan ini.

Sejenak kemudian maka Ki Tambak Wedi harus mengumpat-umpat di dalam hati. Tiga ujung cambuk meledak-ledak di sekitarnya. Beruntun tanpa kendat. Yang satu disahut yang lain, kemudian yang lain lagi meledak pula di sebelah telinganya.

“Gila, gila!” Ki Tambak Wedi tiba-tiba berteriak. Suara cambuk yang memekakkan telinga itu sungguh-sungguh memuakkan.

Namun demikian Ki Tambak Wedi berusaha untuk mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Tetapi untuk melawan ketiganya, Ki Tambak Wedi akan segera mengalami kesulitan, karena satu dari yang tiga itu, memiliki kemampuan yang seimbang dengan kemampuannya sendiri.

Namun yang paling membakar jantungnya adalah ledakan-ledakan cambuk yang seakan-akan berputaran di telinganya. Ledakan-ledakan yang kadang-kadang membingungkannya.

“Setan alas!” ia mengumpat. Dicobanya untuk menilai kekuatan kedua anak-anak muda itu, “Aku harus menerkam mereka satu demi satu, sehingga kemudian aku tidak akan terganggu lagi oleh suara-suara bising yang memuakkan.”

Ki Tambak Wedi menegangkan keningnya. Kini arah serangannya justru dipusatkan kepada kedua anak-anak muda itu. Tetapi sudah tentu bahwa gurunya tidak akan membiarkannya. Setiap kali Ki Tambak Wedi melakukan tekanan, maka setiap kali gembala tua itu pun telah mendesaknya pula.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:34  Comments (27)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-46/trackback/

RSS feed for comments on this post.

27 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur nuwun buat tim moderator, bekal bacaan untuk menemani tugas luar kota selama seminggu sudah cukup banyak nih karena beberapa jilid ADBM sudah duduk manis di dalam laptop. Apalagi kalau hari ini sudah bisa ngunduh jilid 46, wah betapa senangnya. Dengan penuh harap dan berdebar2 aku akan setia menunggunya sampai malam nanti. Sekali lagi matur nuwun.

    Salam

    • betul ki lazuardi..
      kami juga lagi nunggu apdet fesbuknya.
      hehe

  2. waduh biyuuuuuuuuuuuuuuuung
    selak ra betah

  3. Alhamdulillah sabtu minggu ini ga’ jadi bengong. jilid 46 dah mendarat di laptop. Matur nuwun.

    rgds

  4. Kok di tempat saya belom ada linknya?

    pakde Ikhsan kok sudah dapet, linknya disebelah mana tho?

    thanks

  5. siippp, siippp, tengok bolak-balik akhirnya dateng juga jilid 46, maturnuwun..

  6. Dengan demikian, ternjata ADBM er jang sedang menulis ini tidak dapat mengutjapkan sepatah katapun karena terpesona.

    Di hadapanja telah terbentang lajar jang penuh warna warni jang dipulas oleh gambar gambar jang indah disertai angka angka jang menjadikan halaman itu mendjadi demikian indahnja…………

  7. Alhamdulillah…akhirnya lahir juga…..
    Terima kasih Team ADBM.
    Matur nuwun

  8. Ternyata nggak perlu nunggu samapi malam, meski harus diulang tiga kali, jilid 46 nayampai juga. Alhamdulillah …… Sekarang tinggal H2C siapa tahu ada susulannya? Matur nuwun sebelum dan sesudahnya.

    Salam

  9. walah, jilid 46 dah habis dilahap trus yg 47 kapan yaa,

  10. buku 046 halaman 07 s/d 40 siap meluncur melalui e-mail saudara Dd.

  11. hehehe….balik ke masa lalu…sing penting no 46…..
    monggo..monggo…

  12. ikutan dah yang penting 46 juo

  13. melu lah…
    46 pokoke..

  14. nostalgila……………donk

    • Monggo Ki

  15. ikut juga yang penting AMPAT ENAM

  16. papat karo enem melu rek!!
    timbang gak ono maneh nggone

  17. Sederek sedoyo … ini kitab 246 kok isi 046 .. apa saya salah gandok paseban?

  18. lagi nostalgia, mengenang masa lalu…

  19. mau tanya dimana alamat website yang bisa mbaca ADBM secara lengkap ya. matursuwun

    S disini !

  20. TJAP DJEMPOL ah….pratanda yen napak tilase wis tekan gandhok 46.
    Matur nuwun Ki GD, matur nuwun Nyi Seno.

    • jempole mantep tenan sampe materai nggak ketok 🙄

      • TJAP DJEMPOL aah….pratanda yen cantrik berharap
        Nyi SENO hadir ning gandhok 46.

        Matur nuwun Ki GD, beBAHU padepokan ADBM sedaya-nya

        • ra melu cap-capan jempol ah, mangsine ditelasne ki ndul

          • ra melu gocek-gocekan jempol ah, manggise wis ditelasne ki ndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: