Buku 44

“Tetapi kemungkinan itu pasti ada.”

“Kalau kita tidak mengatakannya kepada siapa pun, maka kemungkinan itu akan sangat dibatasi,” jawab Kerti.

Wrahasta mengerutkan keningnya, kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Aku sudah tidak sabar lagi. Aku tidak betah lagi tinggal di dalam lingkaran pring ori yang sempit ini.”

“Semuanya bersikap serupa. Kami pun sudah tidak tahan lagi tinggal berjejal-jejal di padukuhan yang miskin ini. Makan tidak teratur dan bahkan kadang-kadang tidak memenuhi keinginan dan selera kita masing-masing. Tetapi bagaimanapun juga kita harus mematangkan perhitungan di setiap gerakan, supaya kita tidak akan menyesal lagi kelak.”

Wrahasta tidak menjawab. Tetapi kembali ia memandang ke kejauhan. Seakan-akan ia ingin melihat langsung ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh yang sedang dibakar oleh api pertengkaran di antara keluarga sendiri.

Tiba-tiba raksasa itu menggeram, “Hidup matiku untuk Tanah ini.”

Samekta dan Kerti saling berpandangan sejenak. Kemudian mereka seperti berjanji menarik nafas dalam-dalam.

“Beristirahatlah, Ngger,” desis Kerti.

“Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan di atas tanah ini. Aku akan menghubungi setiap pemimpin kelompok, agar mereka menyiapkan diri mereka sebaik-baiknya.”

“Tetapi perintah penyerangan petang nanti belum dapat dijatuhkan.”

“Aku tahu, aku tahu.”

Wrahasta tidak menunggu jawaban lagi. Ia pun segera melangkah pergi meninggalkan Samekta dan Kerti termangu-mangu ditempatnya.

Beberapa orang yang berada di gardu di samping regol itu pun melihat, betapa Wrahasta bersikap kaku dengan wajah yang berkerut-merut. Mereka pun mengerti apa yang baru saja terjadi atas anak muda yang bertubuh raksasa itu, meskipun mereka tidak mendengar dengan jelas percakapan raksasa yang sedang kecewa itu dengan Samekta dan Kerti.

“Sayang bahwa pertengkaran itu telah terjadi,” desis salah seorang dari para peronda itu.

“Wrahasta kurang dapat mengendalikan diri,” jawab yang lain.

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau mereka tidak tahu benar apa yang terjadi di gardu itu, maka mereka pun akan dibakar pula oleh kekecewaan terhadap anak gembala yang gemuk itu. Tetapi mereka telah mendengar pula, bahwa dengan tiba-tiba seakan-akan tanpa sebab Wrahasta menjadi marah, sehingga keduanya bertengkar. Apalagi anak gembala yang gemuk itu telah menunjukkan kemampuannya di dalam peperangan. Banyak orang yang melihat, bagaimana ia membunuh Ki Muni setelah Ki Muni itu melukainya. Kemudian bagaimana ia bertempur di antara hiruk-pikuk peperangan dan menjatuhkan banyak korban pada lawan.

Sementara itu Samekta dan Kerti pun kemudian pergi ke rumah yang mereka pergunakan sebagai pusat pimpinan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Ketika mereka memasuki halaman rumah itu terdengar Samekta berdesis, “Mudah-mudahan Wrahasta dapat melihat kepentingan yang lebih besar dari kepentingannya sendiri.”

“Aku masih tetap percaya kepadanya,” sahut Kerti.

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Bagi para pemimpin Menoreh, hari terasa terlampau lamban bergerak. Matahari mengambang dengan malasnya, seakan-akan tidak bergerak dari tempatnya. Setiap kali Samekta dan Kerti dengan gelisah melangkah ke luar, memandang ke langit dan berjalan hilir-mudik.

“Aku akan tidur,” berkata Samekta. “Aku akan melupakan waktu yang menjemukan ini.”

“Tidurlah. Kemudian bergantian.”

“Tetapi aku kurang biasa tidur di siang hari.”

“Berbaringlah.”

Samekta pun mencoba untuk tidur. Ia merasa telah disiksa oleh waktu. Sementara Kerti pun kemudian pergi ke gardu di sebelah regol di jalan induk padukuhan itu.

Ketika gembala tua itu pergi ke pondok yang dipakai oleh Ki Argapati untuk melihat perkembangan kesehatannya, maka mawanti-wanti ia berpesan kepada Gupala, “Kau jangan berbuat bodoh lagi. Jagalah dirimu. Kita masih diperlukan.“

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Pergilah ke gardu induk. Ingat, jangan berbuat sesuatu yang dapat menyulitkan keadaan. Kehancuran Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya menjadi kepentingan kita pula. Sadarilah.”

Gupala masih mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia berkata di dalam hatinya, “Asal anak itu tidak menginjak kepalaku. Kalau hal itu dilakukannya, apa boleh buat.” Tetapi bagaimanapun juga. Gupala menyadari, bahwa ia pun berkepentingan juga atas orang-orang yang telah disebut oleh gurunya itu.

Berdua bersama Gupita, Gupala pun pergi ke gardu induk di regol padukuhan. Sambil menundukkan kepalanya, Gupala mencoba menilai keadaan yang sedang dihadapinya.

Anak muda yang gemuk itu tiba-tiba saja menarik nafas sambil berdesah. Adalah kebetulan sekali bahwa Ki Argapati pun sedang berusaha membinasakan Ki Tambak Wedi. Kalau ia bersama kakak seperguruannya dan gurunya bertiga saja, mustahil mereka dapat menghancurkan iblis itu.

“Kita saling memanfaatkan,” desisnya. “Ki Argapati memerlukan kami, dan kami memerlukan pasukan. Betapa dahsyatnya ilmu Guru, tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat melawan seluruh pasukan Ki Tambak Wedi. Dan ternyata Ki Argapati sudah menyediakan pasukan itu buat kami.”

Tanpa sesadarnya Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini terasa olehnya, memang sama sekali tidak menguntungkan bertengkar dengan orang-orang Menoreh dalam keadaan serupa ini. Tetapi ia tidak tahu, kenapa Wrahasta tiba-tiba saja telah membentak-bentaknya. “Orang itu agaknya memang seorang pemarah,“ desisnya, “atau seseorang yang menaruh prasangka terlampau tajam di dalam hatinya. Mungkin ia menyangka bahwa kami adalah orang-orang serupa dengan Ki Peda Sura, yang mendapat janji-janji dari Ki Argapati.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin ia berpendapat demikian. Mungkin.”

Tetapi Gupala tidak bertanya kepada Gupita. Sekilas anak muda yang gemuk itu memandang wajah kakak seperguruannya, tetapi Gupita berjalan sambil menundukkan kepalanya.

“Kakang Gupita pernah mengalami perlakuan serupa,” desisnya di dalam hati.

Ketika keduanya sampai di gardu di dekat regol, mereka melihat beberapa orang sedang berkerumun. Tiba-tiba terasa sesuatu bergetar di dalam dada anak-anak muda itu. Apalagi Gupala. Katanya di dalam hati, “Apakah Wrahasta berada di situ pula?”

Tetapi ternyata Wrahasta tidak ada. Mereka menyambut kedatangan keduanya dengan ramah. Bahkan salah seorang dari mereka, yang pernah mengenal bahwa anak yang gemuk itu senang berkelakar, bertanya, “He, lain kali kalau kau ingin tidur sampai tengah hari, tidurlah di sini. Di belakang gardu, sehingga tidak ada orang yang melihatmu.”

Gupita dan Gupala mengerutkan keningnya. Namun kemudian mereka tersenyum. Sapa itu telah memberikan kesan kepada mereka, bahwa anak-anak muda dari tanah perdikan ini tidak mudah diseret oleh perasaan tanpa pertimbangan. Mereka tidak dengan serta-merta berpihak kepada Wrahasta, apa pun yang sebenarnya telah terjadi.

“Terima kasih,” sahut Gupala, “lain kali. Tetapi apabila tiba-tiba saja kepalaku dipenggal oleh Ki Tambak Wedi, maka aku tidak akan dapat tidur lagi di padukuhan ini.”

Anak-anak di dalam gardu itu tertawa. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kau ingin begitu?”

Gupala menggeleng, “Tentu tidak. Apalagi aku masih ingin makan jenang jagung.”

Anak-anak muda di dalam gardu itu tertawa semakin keras. Salah seorang dari mereka tiba-tiba saja meloncat mendekati Gupala, dan langsung membimbingnya.

“Mari, aku tunjukkan di mana kau harus tidur.”

Gupala tidak menolak. Ia mengikuti saja kemana ia dibawa.

“He, menepi,” berkata anak muda yang menarik tangan Gupala itu. “Tidurlah melekat dinding itu. Kami akan duduk berjajar melindungimu.”

Gupala tertawa. Beberapa orang telah menyibak. Salah seorang berkata, “Nah, tidurlah di situ.”

Tetapi tiba-tiba Gupala mengerutkan keningnya, “He, daun bekas bungkus apa saja itu?”

“Makan pagi kami.”

“Kalian sudah makan pagi?”

“Baru saja.”

“Celakalah kita,” berkata Gupala kepada Gupita, “di gardu di simpang empat itu makanan belum datang. Ketika kami sampai kemari makan sudah lampau.”

“Hus,” desis Gupita. Tetapi anak-anak muda yang mendengarnya tertawa semakin riuh. Salah seorang dari mereka tiba-tiba saja berlari ke belakang gardu itu. Sejenak kemudian ia kembali sambil membawa dua bungkus nasi, “Ini kami masih menyediakan buat kalian.”

Gupita tersenyum kecut, tetapi Gupala menjawab, “Nah, terima kasih. Tetapi mana buat Kakang Gupita?”

“Bukankah itu dua bungkus?”

“O, aku kira ini buat aku sendiri.”

“Macammu,” desis Gupita. Tetapi ia menerima juga sambil tertawa ketika Gupala memberinya sebungkus, “Marilah kita makan, Kakang. Kita tidak perlu malu. Kalau perut kita ingin berisi juga.”

Gupita masih saja tersenyum-senyum. Tetapi ia tidak dapat berbuat seperti Gupala, yang langsung membuka bungkusannya dan makan sendiri di antara anak-anak muda yang terbawa berkepanjangan. Gupita terpaksa menepi dan duduk di sisi gardu itu sambil membuka bungkusannya.

Demikianlah anak-anak muda itu mengisi waktunya sambil berkelakar Tetapi mereka sama sekali tidak melepaskan kewaspadaan. Di muka regol dua orang penjaga tetap di tempatnya mengawasi keadaan. Setiap kali petugas-petugas sandi datang dan pergi dengan keterangannya msasing-masing yang langsung disampaikannya kepada Kerti.

Lewat tengah hari Wrahasta datang ke gardu itu pula. Ketika ia melihat kedua anak-anak muda itu berada di sana juga, ia mengerutkan keningnya. Namun kemudian acuh tidak acuh ia meninggalkan gardu itu. Sejenak ia singgah ke regol. Dipadanginya batang-batang ilalang yang terbentang di hadapannya. Tanpa sesadarnya ia berdesis, “Kalau peperangan ini selesai, maka ilalang itu pun harus dibabat.”

Para penjaga regol, yang mendengar desis itu berpaling. Namun mereka tidak menyahut. Mereka melihat Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian menekan dadanya dengan sebelah telapak tangannya. Tetapi raksasa itu tidak berkata sepatah kata pun lagi. Bahkan dengan tergesa-gesa ia pergi meninggalkan regol itu menuju ke tempat pimpinan pasukan pengawal.

Semakin condong matahari ke Barat, maka padukuhan itu menjadi semakin sibuk. Samekta yang tidurnya ternyata tidak juga dapat dirubah di siang hari, telah memanggil setiap pemimpin kelompok. Meskipun ia belum mengatakan sesuatu, namun para pemimpin kelompok itu telah merasa, bahwa pasti akan ada sesuatu yang penting.

Beberapa orang pemimpin kelompok duduk sambil berbincang di halaman, yang lain di tangga pendapa sambil membelai senjata masing-masing. Sedang yang lain lagi berada bersama para pengawal yang sedang bertugas di regol halaman.

Samekta, Kerti, dan Wrahasta masih berada di pringgitan. Mereka sedang memperbincangkan kemungkinan untuk memberitahukan rencana penyerangan itu kepada para pemimpin kelompok.

“Sebaiknya kedua prajurit dan gembala tua itu hadir di antara kita,” desis Samekta.

Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku sependapat. Bagaimana kau, Wrahasta.”

Wrahasta terperanjat. Ternyata ia tidak mendengar pertanyaan itu dengan baik, sehingga ia bertanya, “Bagaimana Paman?”

Kerti mengerutkan keningnya. Namun ia mengulangi, “Sebaiknya kedua prajurit dan gembala tua itu ada di antara kita sekarang, selagi kita menyampaikan persoalan rencana penyerangan ini kepada para pengawal.”

“O,” Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya, “baik. Aku sependapat.“ Namun Wrahasta itu pun kemudian menundukkan kepalanya kembali. Sesuatu agaknya telah mengganggu angan-angannya. Dan orang-orang tua itu pun segera memahami.

“Aku akan menyuruh seorang penghubung memanggilnya,” desis Samekta.

“Tetapi,” Wrahasta memotong, “pimpinan Tanah Perdikan ini masih belum lengkap. Masih ada seorang lagi yang justru terpenting di antara kita.”

“Siapa? Ki Argapati?”

“Tidak. Sudah jelas bagi kita, Ki Argapati sedang sakit. Kalau ia memaksa diri untuk ikut ke medan perang sebenarnya malahan akan menambah pekerjaan kita saja.”

“Lalu siapakah yang kau maksud?”

“Yang mewakilinya. Satu-satunya keluarganya yang masih setia kepada tanah perdikan ini.”

“Pandan Wangi maksudmu?” bertanya Kerti.

“Ya.”

Kedua orang tua-tua itu menarik nafas dalam-dalam, “Kalau Ki Argapati tidak berkeberatan, baik juga kiranya ia hadir,” gumam Samekta kemudian.

“Baiklah aku sendiri akan memanggil mereka,” berkata Wrahasta kemudian.

“Jangan,” Kerti memotong, “biarlah anak-anak saja yang pergi. Kau tetap di sini. Banyak masalah yang harus kita percakapkan sebelumnya.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil berkata. “Terserahlah kepada Paman kalau aku memang diperlukan di sini.”

“Baiklah kau tinggal di sini,” berkata Samekta pula, “aku akan menyuruh para pengawal yang ada di halaman.”

“Siapakah yang akan Paman suruh?”

Samekta tertegun sejenak. Namun kemudian ia menarik nafas sambil menjawab, “Salah seorang dari para pengawal di halaman.”

Wrahasta tidak menjawab. Tetapi ia pun berdiri juga dan berjalan di belakang Samekta keluar pringgitan.

Ketika ternyata Samekta menyuruh seorang pengawal tanah perdikan untuk menemui Ki Hanggapati dan Dipasanga serta gembala tua itu, maka Wrahasta pun kemudian masuk pula ke dalam pringgitan. Ia telah mendengar juga, penghubung itu harus mencoba menemui Pandan Wangi, apakah ia dapat hadir dalam pembicaraan ini.”

Ternyata mereka tidak perlu menunggu terlampau lama. Setiap orang menyadari, bahwa waktu pada saat-saat yang demikian itu, menjadi sangat berharga. Dan ternyata bahwa Ki Argapati pun telah melepaskan Pandan Wangi untuk ikut mendengar pembicaraan para pemimpin itu.
“Waktunya telah hampir tiba,” desis Samekta di hadapan mereka, “sebentar lagi matahari akan turun dengan cepat.”

Belum seorang pun yang menyahut.

“Petugas sandi yang terakhir datang melaporkan, bahwa tidak ada tanda-tanda yang khusus dapat dilihatnya di padukuhan induk, meskipun orang itu tidak berhasil mendekat. Tetapi kesibukan yang dilihatnya tidak meningkat. Peronda yang nganglang pun tidak bertambah, dan pemusatan itu pun tidak dapat mengatakan, bahwa mereka telah menyiapkan diri seperti kita, dengan diam-diam.”

“Ada perbedaan,” potong Kerti. “mereka tidak dapat melihat kita begitu jelas seperti kita melihat mereka, karena padukuhan ini dikelilingi oleh pring ori.”

“Ya, tetapi padukuhan ini jauh lebih sempit dari padukuhan induk,” sahut Samekta.

“Tetapi kita akan datang dengan gelar. Kita akan datang dari depan beradu dada,” geram Wrahasta.

“Ya,” sahut Samektla, “justru karena itu kita harus benar-benar siap lahir dan batin.”

Para pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah kita sudah siap memberitahukan rencana ini?” bertanya Samekta.

Sejenak mereka saling berpandangan.

“Bagaimanakah pendapat kalian?”

Hanggapati beringsut sejengkal. Katanya, “Kita sudah dikejar waktu. Aku kira saatnya sudah tepat. Kita tidak akan terlambat dengan persiapan kita, dan kesempatan bagi petugas sandi lawan pun sudah dapat dibatasi.”

Yang mendengar kata-kata Hanggapati itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Memang sudah datang waktunya. Dan waktu itu kini serasa mudah berkejaran setelah sekian lama mereka menunggu dengan gelisah.

“Baiklah,” berkata Samekta. “Apakah ada pikiran lain?”

Tidak ada seorang pun yang berbicara. “Jika demikian, aku akan segera menemui para pemimpin kelompok untuk mempersiapkan diri mereka dengan segera. Sebentar lagi, apabila matahari telah terbenam, kita akan segera berangkat.”

Orang-orang yang ada di ruangan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Aku akan menemui para pemimpin di pendapa rumah sebelah,” berkata Samekta.

Maka sebentar kemudian, Samekta telah duduk di hadapan para pemimpin kelompok yang sebentar lagi harus menyusun barisan yang akan pergi ke induk padukuhan. Induk dari Tanah Perdikan Menoreh yang beberapa saat yang lampau telah diambil oleh Sidanti beserta gurunya.

Pada saat Samekta sedang sibuk berbicara tentang rencananya, maka Pandan Wangi yang ikut mendengarkan dengan sepenuh minat, terkejut ketika seseorang menggamitnya.

Ketika gadis itu berpaling, dilihatnya dekat di belakangnya duduk Wrahasta yang justru beringsut maju.

“Maaf, Pandan Wangi,” bisiknya, “aku sudah tidak mempunyai waktu lagi.”

“Ah,” desah Pandan Wangi, “besok atau lusa kita masih akan bertemu.”

Wrahasta menggelengkan kepalanya, “Belum tentu, Pandan Wangi. Siapa tahu aku akan mati malam nanti.”

“Jangan berkata begitu.”

“Kalau hal itu harus terjadi, pasti akan terjadi.”

“Tetapi kita tidak mengharapkan. Aku dan kau mengharap bahwa kita akan bertemu besok, lusa, dan seterusnya.”

“Hanya sekedar bertemu?”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Sesaat-sesaat ia mendengar keterangan Samekta kepada para pemimpin kelompok, namun suaranya kadang-kadang hilang di dalam gemerisik gejolak di hatinya.

“Kau tinggal menjawab sepatah kata,” desak Wrahasta. “Atau kau dapat mempergunakan isyarat. Kau dapat mengangguk atau menggelengkan kepalamu.”

Pandan Wangi masih menunduk.

“Wangi.”

Pandan Wangi sama sekali tidak menjawab dan tidak menggerakkan kepalanya.

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Perang malam nanti adalah perang yang dahsyat. Kita akan berjuang mati-matian untuk merebut padukuhan induk itu. Kita tidak akan meninggalkan medan selagi kita masih hidup. Namun agaknya Sidanti dan Ki Tambak Wedi pun akan bertekad serupa. Mereka tidak akan meninggalkan padukuhan yang telah mereka rebut. Karena itu perang yang akan terjadi adalah perang antara hidup dan mati.”

Pandan Wangi masih tetap berdiam diri.

“Dengan demikian, Pandan Wangi, aku tidak tahu, apakah aku masih akan dapat melihat kau lagi.”

Wajah Pandan Wangi yang tunduk menjadi semakin menunduk. Hatinya serasa tergores oleh perasaan iba. Ia sama sekali tidak bermimpi untuk menganggapi perasaan Wrahasta terhadapnya. Tetapi ia tidak sampai hati untuk menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata anak muda yang mendekati keputus-asaan itu.

“Bagaimana, Wangi?”

Dada Pandan Wangi menjadi pepat. Tenggorokannya serasa tersumbat dan pelupuk matanya menjadi panas. Hampir saja ia lupa bahwa ia sedang duduk di hadapan para pemimpin kelompok pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Hampir saja ia lupa kini membawa sepasang pedang di lambungnya.

Betapa ia bersusah payah menahan perasaannya sebagai seorang gadis di antara hiruk-pikuk pembicaraan mengenai perang.

Pandan Wangi tersentak ketika ia mendengar suara gemuruh, “Kami bersedia untuk mati demi Tanah ini. Demi Tanah ini.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Ia melihat beberapa orang mengepalkan tinjunya.

Namun kembali dadanya serasa retak ketika ia mendengar desis, “Aku pun bersedia mati demi Tanah ini.” Kemudian, “Dan demi kau, Wangi.”

“Oh,” Pandan Wangi mengeluh. Ditekannya telapak tangannya di dadanya.

“Jawablah Wangi, sebelum aku mati.”

Pandan Wangi tidak dapat menahan iba hatinya. Ia tidak dapat bertahan untuk tetap membatu. Karena itu, hatinya yang luluh telah menggerakkan kepalanya. Hampir saja sebuah anggukan kecil. Namun tiba-tiba anggukan kepala itu urung ketika ia mendengar Samekta berkata lantang, “Nah, kembalilah ke pasukanmu. Cepat. Siapkan mereka. Malam ini kita akan merebut kembali padukuhan induk lambang pusat pemerintahan Menoreh, Tanah Perdikan Menoreh.”

Terdengar sejenak hiruk-pikuk di antara para pemimpin kelompok itu. Semuanya ingin menyatakan kesediaan mereka untuk merebut padukuhan induk itu. Namun dengan demikian suara mereka tidak terdengar satu demi satu.

Meskipun demikian Samekta menanggapinya, “Terima kasih. Terima kasih atas kesediaan kalian. Sekarang, pertemuan ini aku bubarkan.”

Hampir serentak orang-orang yang berada di pendapa itu berdiri. Pandan Wangi pun berdiri pula bersama para pemimpin yang lain. Dalam pada itu, para pemimpin kelompok itu pun segera menghambur turun dari pendapa untuk dengan tergesa-gesa kembali ke kelompok masing-masing. Namun dalam pada itu Samekta pun telah mengeluarkan perintah, tidak boleh seorang pun keluar dari padukuhan ini, supaya rencana ini tidak sampai terdengar oleh orang-orang yang tidak berkepentingan, dan bahkan oleh petugas sandi Ki Tambak Wedi. Bahkan Ki Samekta telah memerintahkan untuk mencegah kemungkinan segala macam tanda dan isyarat yang dapat dilontarkan.

Dalam hiruk-pikuk itu Wrahasta telah kehilangan kesempatannya pula untuk dapat berbicara dengan Pandan Wangi. Kerti, Hanggapati, Dipasanga pun kemudian berbicara di antara mereka. Dan Pandan Wangi ikut pula di dalam pembicaraan itu. Sedang Wrahasta yang sedang berdiri dalam kekecewaan itu berpaling ketika Samekta berkata kepadanya, “Kita pun harus berbagi.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita harus bekerja bersama dalam pimpinan seluruh pasukan. Aku akan berada di tengah. Kerti di sayap kiri dan kau berada di sayap kanan.”

“Bagaimana dengan orang-orang yang datang dari luar lingkungan kita itu?”

“Kita tidak dapat menyerahkan pimpinan kepada mereka, biarlah mereka berada di dalam barisan, tetapi supaya pimpinan gelar dapat berlangsung dengan baik, kitalah yang akan memegangnya. Kita akan dapat bekerja bersama dengan cara dan kebiasaan kita seperti yang diajarkan oleh Ki Argapati. Orang lain itu mungkin mempunyai cara dan kebiasaan yang berbeda.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Siapakah yang akan pergi bersamaku?” bertanya Wrahasta.

“Salah satu dari Ki Hanggapati atau Ki Dipasanga.”

“Lalu bagaimana dengan gembala tua itu.”

“Tugasnya menemui Ki Tambak Wedi. Dimana pun Ki Tambak Wedi berada.“

“Lalu kedua anak-anak gila itu?”

“Mereka pun harus mencari Ki Peda Sura.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas ia melihat Pandan Wangi yang berbicara dengan Kerti. Wrahasta tahu benar, bahwa Kerti adalah orang terdekat dari Pandan Wangi sesudah ayahnya. Pada saat-saat Tanah Perdikan Menoreh tidak sedang dilanda api pertentangan, Kerti selalu pergi mengantar gadis itu berburu di hutan perburuan. Untunglah bahwa umur Kerti sudah berada di seputar setengah abad, sehingga tidak menumbuhkan perasaan apa pun di hati raksasa itu. Tetapi tiba-tiba saja datang anak-anak muda yang telah menggelisahkannya.

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Ia telah kehilangan kesempatan untuk mendengar jawaban Pandan Wangi. Kalau pasukan ini telah mulai tersusun, dan kemudian bergerak, maka ia tidak akan dapat berbicara dan mendengar apa pun lagi dari Pandan Wangi.

Tetapi Wrahasta sama sekali tidak ingkar dari kuwajibannya. Betapa hatinya dicengkam oleh kekecewaan tentang dirinya sendiri, namun sebagai seorang pemimpin pengawal ia tetap menengadahkan dadanya. Ia sadar, bahwa terutama anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh selalu memperhatikannya. Kalau ia kehilangan gairah perjuangannya, maka anak-anak muda itu pun akan kehilangan kemantapannya pula. Dan Wrahasta tidak mau menjadi penyebab, apalagi menjadi penentu, dari kekalahan pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh, hanya sekedar karena ia tenggelam di dalam kepahitan perasaan secara pribadi.

Dan Samekta pun kemudian berkata, “Nah, marilah, kita mulai menyusun barisan. Pada saat matahari terbenam, kita keluar dari regol padukuhan ini, langsung menuju ke padukuhan induk dari tanah perdikan ini.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Samekta pun kemudian memberitahukannya kepada Kerti dan Pandan Wangi.

“Angger akan berada bersama Ki Gede,” berkata Kerti.

“Baik, Paman, dan aku akan segera menyampaikannya kepada ayah.”

Sepercik harapan tumbuh di dada Wrahasta, apabila ia dapat pergi bersama Pandan Wangi. Tetapi sekali lagi ia menjadi kecewa ketika gembala tua itu berkata, “Aku pun akan pergi menghadap Ki Gede. Sebelum kita berangkat. Ki Gede harus mendapat pengobatan yang baik. Dan bahwa harus disediakan persedaan obat di perjalanan, apabila tiba-tiba saja Ki Gede memerlukan.” Orang itu berhenti sejenak, lalu katanya kepada Pandan Wangi, “Tetapi Angger harus selalu ingat, dan setiap kali memperingatkan, bahwa Ki Gede harus tetap di atas tandunya. Ki Gede tidak boleh dibakar oleh perasaannya sehingga melupakan luka-lukanya yang masih belum sembuh benar.”

“Baik, Kiai,” jawab Pandan Wangi.

“Nah, marilah kita pergi bersama-sama.”

Ketika Pandan Wangi minta diri kepada para pemimpin yang hadir di pendapa itu, ia melihat mata Wrahasta yang redup. Terasa dada gadis itu berdesir, dan kepalanya pun tertunduk karenanya.

Pandan Wangi mengangkat wajahnya ketika Samekta berkata, “Kami sudah mulai menyusun barisan kami. Pada saatnya kami akan menghadap dan memberitahukan bahwa kami akan segera berangkat.”

“Baik, Paman. Aku akan menyampaikannya kepada ayah.”

Maka Pandan Wangi pun kemudian meninggalkan pertemuan itu bersama gembala tua, yang sedang merawat Ki Argapati.

Dengan cermat gembala tua itu kemudian memeriksa luka-luka di dada Argapati kemudian membubuhinya obat yang baru sebelum mereka berangkat ke medan perang. Sementara Pandan Wangi menceriterakan tentang para pengawal yang dengan setia akan ikut di dalam barisan merebut kembali kekuasaan atas padukuhan induk sebagai lambang kekuasaan atas Tanah Perdikan Menoreh.

Setelah selesai dengan perawatannya atas luka Ki Argapati, maka gembala tua itu pun minta diri, untuk menemui kedua anak-anaknya yang harus diberitahu pula, apakah tugas mereka di dalam peperangan yang akan datang.

“Mudah-mudahan mereka berhasil, Kiai,” berkata Ki Argapati. “Anak-anakmu masih sangat muda. Yang gemuk itu agaknya lebih bebas menggerakkan senjatanya daripada kakaknya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ki Argapati pasti sudah mendengar laporan tentang kedua gembala itu. Memang Gupala lebih memberi kesempatan perasaan berbicara. Juga di medan perang, sehingga ia pasti menelan korban jauh lebih banyak dari Gupita. Orang yang tidak menyaksikan cara mereka bertempur akan menganggap bahwa Gupala mempunyai beberapa kelebihan dari Gupita. Kelebihan itu adalah, Gupala hampir tidak pernah ragu-ragu membelah dada lawan.

Tetapi Gupita mempunyai pembawaan yang lain. Ragu-ragu dan bimbang. Bahkan kadang-kadang ia membayangkan hal-hal yang dapat me-ngurungkan niatnya untuk membinasakan lawannya.

“Di medan yang hiruk-pikuk, keragu-raguannya itu dapat membahayakan jiwanya,” berkata orang tua itu di dalam hati, “tetapi bukan seharusnya ia membunuh lawannya seperti menebas batang-batang ilalang.”

Gembala tua itu menemukan Gupala dan Gupita duduk di atas setumpuk jerami di dekat gardu bersama beberapa orang anak-anak muda. Agaknya mereka pun sedang menunggu penjelasan untuk diri mereka masing-masing.

“Itu ayah datang,” desis Gupita. “Aku harus menemuinya. Mungkin aku harus mengikutinya.”

“Ya, mungkin kau harus mengikuti ayahmu mengambil seekor atau dua ekor kambing. Setelah kita merebut kembali padukuhan induk itu, kita akan bersembunyi,” berkata salah seorang dari mereka.

“Kenapa?”

“Daging panggang.”

“Uh,” Gupala bersungut-sungut, “kau sangka di padukuhan induk itu kekurangan kambing, bahkan sapi atau kerbau? Aku justru akan mengambil lima atau sepuluh ekor kambing. Aku akan menjadi seorang gembala yang kaya.”

“Aku tangkap kau. Bukankah aku pengawal tanah perdikan ini.”

“Tetapi kau tidak akan dapat melihat.”

Anak muda itu tidak sempat menjawab, karena Gupala segera menutup kedua telinganya sambil berlari-lari mendapatkan gurunya. Gupita yang tersenyum melihatnya masih mendengar anak-anak muda itu tertawa dan salah seorang berteriak, “Pengecut. Jangan lari.”

Meskipun Gupala mendengarnya, tetapi ia tidak berpaling. Tangannya masih menyumbat kedua telinganya meskipun tidak terlampau rapat.

“Apa saja yang kalian bicarakan?” bertanya gembala tua itu sambil mengerutkan keningnya.

Gupala menggeleng, “Tidak apa-apa. Sekedar berkelakar.“

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara, itu Gupita pun telah berdiri di samping anak muda yang gemuk itu.

“Sebentar lagi kita akan berangkat,” desis gurunya.

“Ya, aku sudah mendengar,“ sahut Gupita. “Anak-anak muda itu telah mendapat penjelasan dari para pemimpin kelompok masing-masing. Kini mereka telah bersiap. Sebentar lagi mereka harus berkumpul di kelompok masing-masing.”

“Ya, begitulah. Kalian pun harus segera menyiapkan diri pula. Tidak ada waktu lagi untuk bermalas-malas.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita tidak akan berada di dalam barisan. Kita mendapat keleluasaan untuk menemukan lawan-lawan kita. Seperti juga Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-angguk.

“Kau berdua harus mencari Ki Peda Sura,“ berkata gembala tua itu kemudian, “sedang Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga harus berhadapan sekali lagi dengan Sidanti dan Argajaya. Karena keduanya mempunyai kemampuan yang hampir seimbang, maka keduanya dapat bertukar tempat, siapa saja yang dapat mereka temui.”

Gupita dan Gupala menundukkan kepalanya. Terbayang di wajah mereka kekecewaan bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Sidanti atau Argajaya.

“Kau tidak dapat memilih,” berkata orang tua itu, “kau tinggal menerima perintah. Di sini kekuasaan tertinggi berada di tangan Ki Argapati. Dari siapa pun pendapat itu, namun apabila Ki Argapati telah mengiakan, maka keputusan itu sudah menjadi keputusannya.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjawab, “Baiklah. Aku akan melakukannya.” Gupita berhenti sejenak, kemudian, “Lalu bagaimana dengan Guru?”

“Aku harus menghadapi Ki Tambak Wedi,” jawab gurunya. “Sebenarnyalah aku memang berkepentingan. Selama Ki Tambak Wedi itu masih berkesempatan untuk mengganggu, ia akan tetap mengganggu kalian. Seandainya Sidanti sudah tidak ada lagi, ia pasti akan mencari orang lain yang dapat diprgunakannya untuk memuaskan hatinya. Kini tanpa kita duga-duga sebelumnya, kita mendapatkan sepasukan pengawal yang dapat membantu kita, yang menurut sudut pandangan Ki Argapati beruntunglah ia mendapat bantuan kita. Dengan demikian, kita sudah saling membantu.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun ia berdesah, “Tetapi kami semua sama sekali tidak mempunyai kepentingan apa pun dengan Ki Peda Sura.”

“Kepentingan itu akan saling berkait. Apabila kita sudah berada dalam satu kesatuan, kita harus memandang seutuhnya. Jangan sepotong-sepotong seperti itu.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah kakak seperguruannya. Namun Gupita masih saja mengangguk-angguk kecil.

“Nah, bersiaplah. Kita tidak akan selalu bersama-sama di peperangan. Tetapi ingat, kalian harus berhati-hati melawan Ki Peda Sura. Orang itu tidak kalah licik dari orang-orang mereka yang lain. Mungkin kau berdua harus menghadapinya bersama-sama sekelompok anak buahnya. Apabila demikian, kau harus masuk ke dalam garis pertahanan pasukan Menoreh, supaya kau mendapat perlindungan dari orang-orang yang tidak dapat kau lawan satu demi satu. Mereka pasti akan dihadang oleh para pengawal, sedang kau dapat menempatkan dirimu kembali melawan Ki Peda Sura.”

Gupita yang masih mengangguk-anggukkan kepalanya bertanya, “Apakah kami masih harus bersenjata pedang?”

Gurunya menggeleng. “Tidak. Kita sudah menyatakan diri kita di dalam peperangan ini. Meskipun bagi kalian jenis senjata apa pun tidak akan terlampau berpengaruh, namun yang mana yang dapat memberi kemantapan kepada kalian, pergunakanlah.”

Gupala mengangkat alisnya, “Aku akan mempergunakan keduanya.”

Gupita mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya wajah adik seperguruannya itu, kemudaan ditatapnya wajah gurunya yang tersenyum. Orang tua itu berkata, “Tidak selalu senjata rangkap itu menguntungkan. Pandan Wangi memang memiliki kemampuan khusus mempergunakan sepasang pedangnya. Ki Peda Sura pun mempergunakan sepasang bindi, meskipun kadang-kadang ia mempergunakan jenis-jenis senjata yang lain.”

“Aku akan memegang cambuk di tangan kanan dan pedang di tangan kiri,” berkata Gupala.

“Asal salah satu di antaranya justru tidak akan mengganggu.”

Gupala menggeleng, “Aku sudah berlatih mempergunakan keduanya.”

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya bahwa Gupala selalu mencoba-coba mempergunakan apa saja.

“Terserahlah kepadamu. Tetapi kalian harus tetap berhati-hati melawan orang itu. Ia dapat berbuat apa saja.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kami akan selalu mengingat-ingat hal itu,” desis Gupita kemudian, lalu, “tetapi di mana kami harus berada di dalam lingkungan seluruh pasukan.”

“Kau berada di induk pasukan bersama aku. Tetapi di peperangan, kau harus mencari lawanmu,” jawab gurunya. “Ingat, Ki Peda Sura tidak segan-segan melarikan diri dan bersembunyi di dalam hiruk-pikuk peperangan. Memang sulit untuk mencari seseorang yang dengan sengaja bersembunyi di dalam keributan yang demikian.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau kalian berhasil menguasainya, usahakan jangan sampai orang itu berhasil melarikan dirinya.”

“Baik, Guru,” jawab kedua anak-anak muda itu hampir bersamaan.

“Ki Peda Sura akan menjadi hantu yang mengerikan bagi tanah ini apabila ia berhasil melepaskan dirinya. Apalagi apabila Ki Argapati masih belum sembuh benar dan belum dapat langsung memimpin pemerintahan di Tanah Perdikan ini.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Nah, sekarang bersiaplah sambil menunggu perintah lebih lanjut.”

“Baik, Guru,“ jawab mereka bersamaan.

Keduanya pun kemudian kembali ketempat mereka semula. Sambil bersungut-sungut Gupala berkata, “Nah, kalian dengar. Ayahku marah-marah ketika ia mendengar teriakan kalian. Disangkanya aku benar-benar sudah menjadi pengecut dan lari.”

Kawan-kawannya tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Tampangmu memang tampang seorang pengecut.”

Gupala memberengut, namun kemudian ia tertawa.

Sejenak kemudian maka beberapa orang petugas telah membagikan makan bagi setiap orang yang akan ikut pergi ke medan perang. Bagaimanapun juga, mereka harus membekali diri masing-masing dengan kemungkinan yang sejauh-jauhnya.

“He,” berkata salah seorang yang bertubuh kurus, “nikmatilah makan ini sebaik-baiknya. Siapa tahu, bahwa nasi yang kita makan ini adalah butiran-butiran nasi yang terakhir kita kenyam.”

“Hus,” desis kawannya, “mimpi apakah kau tadi malam?”

“Tidak. Aku tidak bermimpi,” jawabnya.

Demikianlah maka para pengawal itu pun kemudian sibuk dengan makan masing-masing. Gupala dan Gupita pun makan pula bersama dengan mereka.

Beberapa saat setelah mereka makan, maka terdengarlah kemudian aba-aba dari beberapa orang pemimpin kelompok. Mereka sengaja tidak mempergunakan tanda-tanda yang biasa diperdengarkan untuk kepentingan serupa, supaya tanda-tanda itu tidak ditangkap oleh orang-orang yang tidak berkepentingan, apalagi petugas-petugas sandi lawan.”

Aba-aba itu pun segera merambat dan setiap orang menyebar ke seluruh padukuhan. Meskipun tanpa tanda apa pun juga, namun tidak seorang pun yang kelampauan.

Demikianlah maka Menoreh telah menyiapkan barisannya. Sementara matahari menjadi semakin dalam bersembunyi di balik bukit.

Para pemimpin Menoreh pun kemudian sibuk menyiapkan pasukan mereka. Pasukan yang telah dibekali oleh pengertian yang mantap, untuk apa mereka pergi berperang.

(***)

From HPrasidi’s Collection
Scan: Ki Warsono Hr
Konvert: Ki Pedo
Retype: Ki Edy
Proof: DD
Date: 11-08-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 5 November 2008 at 01:18  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-44/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sepertinja buku 42 djvu djuga perlu diperbaiki agar jang mau re-type tidak merasa sungkan.

    Dengan demikian ternjata halaman 8, 9, 10, 12, 14, 15, 18,22 sulit dibaca, sehingga kedua gembala itupun belum berhasil menjelesaikan batjaannja.

    D2: Sudah diperbaiki kok. Betul kan Kang Sukra?

  2. betul banget bos DD.
    silakan klik cover untuk mengunduh file adbm42.djvu nya

  3. kok covernya sdh di klik tapi gk kedownload yaa…
    yg kluar cuma file gambarnya aja….

    D2: infonya di halaman berikutnya

  4. bukan di klik kanan kisanak, tapi klik kiri.
    monggo dipun cobi malih.

  5. wah kok ngak bisa tuh ya, mana yang diklik

  6. dari kemarin jilid 44 nya belum nongol-nongol ya?
    apa mas herry masih sibuk atau lagi pesta kemenangan obama ? hehehehhe

    tetap semangat.

  7. Saya tetap setia menanti dari kemarin hingga pagi ini, sebelum kabuuuur dari kantor

  8. Salam kenal para penggemar ADBM Mania, untuk jilid 44 nya kok belum keluar2 jadi penasaran dech…..hehehe…

    Untuk team ADBM tetap semangat….

  9. Hari ini di Singapore banyak orang berdebar2 menunggu hasil undian TOTO S$ 1,5jt, bahkan di loket penjual dkt rumah msh panjang antrian orang mau beli.
    Tapi saya jauh lebih berdebar2 dari mereka, bahkan sampai gemetar menunggu jilid 44 yg dari kemarin belum lahir. Moga2 keewuhan mas Herry lancar semuanya, dan beliau cukup istirahat, shg bisa kembali menurunkan ilmunya lewat jilid 44 dst….

  10. Jian…sabar subur…..taksih kulo tenggo kyai…

  11. Duh gusti nyuwun ngapuro..
    mohon maaf agak t’lat kirimnya, disamping rodo2 n pura2 sibuk cangkulan, juga proses scan jan2-e udah lama cuma harus di proses, diguntang-gunting pke photoshop ben-e ra pating plethot, kmd kpstasnya dikecilkan pke paint dst..dst..

  12. mungkin hari ini bisa hadir double 44 dan 45 , obat nunggu dari kemarin, nuwun

  13. tetap setia menanti…jilid demi jilid ….
    maaf kang herry … kami baru bisa bantu doa dari jauh…

  14. Nuwun sewu lho mas Herry…
    para pemuda padukuhan ini memang penginnya cepet2 terus.. he.. he…
    All the best mas Herry, whatever you do, kami sabar menunggu, mengerti dan percaya bhw panjenengan pasti do the best for us.

  15. saia juga sabar menanti kok

    FYI: Hits akan mencapai 200 ribu

    thanks

  16. ini mungkin yang disebut perang urat syaraf….he..he..
    memang sangat mendebarkan dan gregetan antara harapan untuk melihat adbm-44 dan marah yang dipendam karena ga keluar-luar….sungguh hebat ilmunya mas Herry ini …
    sangat ngegrigisi ilmu dari perguruan Mpu Windujati ini

  17. belum nongol juga jilid 44…

  18. aku yakin… hari ini mas herry jadi orang yang paling dikangenin adbm mania..hehehehe…
    Nek aku dadi tonggone mas herry…. mesti tak ewangi nyecan…. mumpung di rumah ada scan ama djvu solo 3.1 nganggur….
    Bravo mas…..

  19. Halo Mas Herry,.. sebentar lagi sudah mau sore lho,.. Kirimannya sudah ditunggu-tunggu sama orang-orang sa padukuhan adbm, hehehe…

    Salam, Aulianda.

  20. Mas Herry emang pinter bikin deg2an, bolak-balik masuk kok yang tambah banyak commentnya aja he..he…

    sabar2 kisanak semua, seperti agung sedayu, jangan grusa-grusu kayak sidanti, ato swandaru juga ya?

  21. Mas Heri Yth, yen mas heri percoyo, mbok dicoba scane nganggo full colour (biasane pake standar 200 dpi) terus
    ditransfer neng djvu solo 3.1. ngganggo 400 dpi (default 100 dpi) ditanggung hasile apik uk size 800 – 900 kb (nanging uga gumantung kualitas bukune lha jenenge wae buku lawas cetakan tahun 70 an)
    nanging sanajan kaya apa wae wus nrima lan maturnuwun banget marang “kerja keras Mas DD, Mas Heri dkk”.
    ku kan sabar menanti.

    D2: 800-900 kb per halaman? Kalau sebuku 37 halaman, jadi …..

  22. “…sore yang indah sekaliii..hemmm yaa…”

  23. kulo sekeluargo ngaturaken matur nuwun kalih sederek sedoyo.

    lho kok keluargo ?

    lha kulo uring-uringan je.. yen mboten moco adbm ben dino 😀

  24. aku coba scan pake “djvu solo 3.1”, langsung save dalam format djvu, untuk satu mukanya (2 halaman) besar file-nya hanya 30 kb. (menggunakan setting standar, tanpa merubah defaultnya). hasilnya udah sip

  25. maturnuwun semuanya

  26. he he D2 satu buku 800 – 900 Kb full colour, kulo nggih pun asring make kok, sayang aku nggak punya hard copynya, tapi tunggu beberapa hari lagi aku bakal nyumbang djvu full colour

  27. Nyoba buka file pdf pake adobe pdf reader di hp ga bs ya…Pake softw apa ya supaya mudah di baca pk hp?? Trima ksh..

  28. Mas D2, kayaknya ukuran file djvu-nya mendingan di bawah 2000kb deh, soalnya kejadian lagi kaya sebelumnya, mandek di tengah jalan downloadnya.

    thanks.

  29. Wah…wah…wah….., halaman depannya bener-bener apik tenan, cckk…ccckk….cccck…..

    wis jan salut tenan……

  30. Iya,. makin kereen abiss,.. Maju teruss Padepokan ini ,..

    Salam, Aulianda

  31. mugo-mugo sesuk wis sing jilid 44 wis terbit..
    yen ora lak malem mingguku kelabu tenan iki mengko

    D2: Sekarang bisa kok

  32. kulo milai maos adbm jilid 1 th 1968( manawi mboten klentu jilid 1 terbit oktober 1967). milai swargi sedo kulo mboten saget maos malih.
    namung matur sembah nuwun ingkang saget kulo aturaken dumateng sedoyo konco2 ingkang kerso mosting upload, sameniko kulo milai malih maos jilid 1.

  33. Om Sukra: buku 42 msh belum bisa tuh, 🙂
    Admin adbm : Respek dan hormat yg sebesar-besarnya atas kepedulian dan kerja kerasnya melestarikan budaya bangsa ini. Semoga semuanya sehat selalu, dan di lancarkan dalam setiap usahanya. Maturnuwun sanget..

  34. “Bagaimana Wangi…??” tanya Wrahasta.
    “Wah, uambune uapek….!!!” jawab Ki Menggung dengan serta merta.
    “Salah Ki, uambune ledhis..!!!” sergah Ki Bukansms.

    • pol poko’e 😀

      • poko’e 😀 pol amBUNe

        • poko’e gundul pol-pole

          • popo’e….mambu ompol 😀

            • lha trus ompole mambet nopo ki kartu ?

              • :mrgreen:

                • Pesss…………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: