Buku 44

Dalam pada itu Pandan Wangi mendengar gembala tua itu berkata, “Aku berterima kasih atas kepercayaan ini, Ki Gede. Selanjutnya marilah kita bersama-sama berdoa, mudah-mudahan kita berhasil kali ini.”

“Ya, kita akan bersama-sama berdoa,” sahut Ki Argapati. “Kita merasa bahwa kita berada dipihak yang benar.” Ki Argapati itu berhenti sejenak, kemudian, “Kita harus segera menentukan, kapan kita akan berangkat. Aku akan ikut dalam pasukan itu.”

“Ki Gede,” setiap orang terperanjat mendengar keinginan itu. “Ki Gede masih belum sehat sama sekali.”

“Tetapi aku adalah Kepala Tanah Perdikan ini. Dalam peperangan yang menentukan, aku tidak boleh duduk bertopang dagu.”

“Ki Gede tidak sedang bertopang dagu,” desis gembala tua itu. “Sedang duduk saja Ki Gede masih terlampau sulit. Bagaimana Ki Gede dapat bertopang dagu sambil berbaring?”

“Hem,” Ki Gede menarik nafas. Katanya kemudian, “Tetapi aku ingin memimpin penyerangan itu. Aku ingin ikut memasuki induk tanah perdikan itu bersama pasukanku.”

“Bagaimana hal itu dapat dilakukan, Ki Gede?” bertanya Samekta.

“Samekta,” berkata Ki Gede, “kau harus menyiapkan sekelompok kecil pengawal yang dapat kau percaya. Aku akan pergi bersama mereka dengan sebuah tandu. Aku harus memimpin sendiri peperangan ini. Sementara aku mempercayakan perlawanan langsung atas Ki Tambak Wedi kepada dukun tua ini.”

“Ayah,” desis Pandan Wangi, “sebaiknya Ayah tinggal di sini. Kami yang berangkat ke medan, akan selalu mencoba berbuat sebaik-baiknya. Kami mengharap bahwa salah seorang dari kami akan dapat menghadap Ayah untuk melaporkan bahwa kami telah merebut kembali padukuhan induk itu.”

Tetapi Ki Argapati menggeleng, “Tidak. Aku adalah seorang prajurit bagi tanah perdikan, sehingga aku harus berada di medan.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Ki Gede akan mengganggu tugas yang telah dipercayakan kepadaku. Aku harus memperhatikan nenggala Ki Tambak Wedi di satu pihak, di lain pihak aku harus memperhatikan obat yang harus aku sediakan buat Ki Gede.”

Ki Argapati mengusap keringat di keningnya. Katanya, “Tidak. Di peperangan aku tidak memerlukan apa pun juga. Entahlah setelah peperangan itu selesai.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya niat Ki Argapati sudah tidak dapat dihalanginya lagi. Sehingga, karena itu maka katanya, “Ki Gede, memang suatu kebahagiaan bagi seorang prajurit dalam keadaan perang seperti ini, apabila ia berkesempatan untuk memimpin pasukannya langsung di medan perang. Karena itu, apabila Ki Gede memang ingin berada di medan, dan itu sudah menjadi suatu keputusan, kami tidak akan dapat mencegahnya. Namun kita tidak boleh meninggalkan kewaspadaan. Karena itu, aku ingin mengusulkan, apabila Ki Gede benar-benar akan berada di peperangan, maka pengawalan terhadap Ki Gede harus sempurna. Menurut pendapatku tidak ada orang yang paling tepat untuk memimpin pengawalan itu selain Angger Pandan Wangi.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah gembala tua itu sejenak, kemudian kepalanya itu pun tertunduk lagi. Ia dapat mengerti pikiran gembala tua itu, dan ia sendiri sama sekali tidak berkeberatan untuk selalu berada, di samping ayahnya. Memang tidak ada orang yang dapat dipercayanya lebih dari dirinya sendiri.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, aku mengerti dan aku sama sekali tidak berkeberatan. Aku minta kecuali Pandan Wangi, Samekta harus juga selalu berada di dekatku. Kau akan menjadi saluran pimpinanku atas pasukanku.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah, Ki Gede.”

“Nah, selanjutnya terserahlah kepadamu, siapakah yang akan kau bawa di dalam kelompok kecil di sekitarku.”

“Baik, Ki Gede,” jawab Samekta.

“Selanjutnya, kita harus segera bersiap sejak sekarang. Kita akan datang ke induk tanah perdikan itu di malam hari, supaya perasaanku tidak terpengaruh oleh keadaan di sekitar rumah itu, setidaknya masih ada satu dua orang di sekitar padukuhan itu yang aku kenal baik sebelumnya.” Ki Gede berhenti sejenak, lalu, “Siapkan susunan barisanmu Samekta. Besok malam kita akan menyusul orang-orang Ki Tambak Wedi. Tempatkan kedua anak-anak muda yang bernama Gupala dan Gupita itu sebagai lawan Ki Peda Sura. Kalau mereka segera berhasil, maka mereka akan segera dapat membantu Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga yang masih harus berhadapan dengan lawan-lawannya yang lama.”

Dengan serta-merta gembala tua itu mengangkat dadanya. Tetapi ia hanya menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia mengharap biarlah kedua muridnya itulah yang berhadapan dengan Sidanti dan Argajaya. Tetapi apabila demikian yang dikehendaki oleh Ki Gede, ia tidak akan dapat merubahnya. Perintah itu sudah terucapkan, sehingga apabila ia berusaha untuk merubahnya, maka mungkin sekali perasaan kedua pengawal Sutawijaya itu akan tersinggung karenanya.

Maka gembala tua itu pun kemudian menundukkan kepalanya kembali sambil mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak berkata apa pun lagi. Agaknya pembicaraan itu memang sudah selesai. Mereka hanya tinggal melaksanakannya. Dan mudah-mudahan pelaksanaannya dapat sesuai dengan rencana itu.

Dalam pada itu terdengar Ki Gede Menoreh berkata kepada Samekta, “Kau harus menjaga rapat-rapat, agar rencana ini tidak terdengar oleh lawan. Setiap pengawal harus ikut bertanggung jawab, bahwa kita akan berhasil masuk ke induk tanah perdikan. Tetapi kau tidak perlu memberitahukan sekarang, kapan kita akan berangkat. Kau wajib mempersiapkan mereka, tanpa mereka ketahui waktu yang telah kita pilih. Sebab siapa tahu, di antara mereka ada orang-orang yang akan berkhianat.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik, Ki Gede.”

“Nah, aku kira pembicaraan sudah selesai. Kalian akan melakukan tugas kalian masing-masing. Ingat, rahasia ini harus dipegang teguh apabila kita ingin berhasil.” Ki Argapati berhenti sejenak, kemudian, “Dan sebaiknya kau mengirimkan beberapa orang petugas sandi. Kita harus tahu, bahwa mereka tidak akan mendahului kita. Seandainya rencana waktu yang kita tentukan bersamaan, kita harus segera mengambil keputusan.”

“Baik, Ki Gede. Beberapa orang akan berusaha menghubungi orang-orang yang masih setia kepada Tanah ini, yang mungkin dapat memberikan keterangan.”

“Setidak-tidaknya para petugas dapat mengawasi gerakan mereka, apalagi apabila mereka akan menyerang padukuhan ini.”

“Ya, Ki Gede.”

“Baklah. Aku kira pembicaraan ini memang telah selesai.”

Samekta, Kerti, dan Wrahasta segera keluar dari ruangan itu. Kemudian disusul oleh Hanggapati dan Dipasanga. Yang terakhir adalah gembala tua itu setelah melihat luka-luka Ki Argapati.

“Mudah-mudahan obatku menolong,“ katanya.

“Aku menjadi semakin baik,” sahut Ki Argapati.

“Beristirahatlah sebanyak-banyaknya. Waktu kita hanya tinggal malam ini dan sehari besok. Di malam berikutnya kita sudah berada di peperangan.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, Kiai. Aku akan tidur semalam suntuk dan apabila mungkin ditambah dengan sehari besok.”

Gembala itu tersenyum. Katanya, “Tetapi apabila Ki Gede tidak bangun pada saat kami berangkat, Ki Gede akan kami tinggalkan di padukuhan ini.”

Ki Gede Menoreh tertawa, “Aku akan bangun pada saatnya.”

Gembala itu pun kemudian meninggalkan ruangan itu pula. Sehingga di dalam bilik itu tinggallah Ki Argapati ditunggui oleh puterinya, Pandan Wangi.

“Kalau kau ingin beristirahat, tinggalkan aku sendiri, Wangi,” berkata ayahnya.

Pandan Wangi memandang wajah ayahnya yang pucat, meskipun sudah tidak mencemaskannya seperti pada saat ayahnya keluar dari peperangan dalam keadaan pingsan.

“Ayah memang terlalu keras hati,” desis Pandan Wangi. “Dalam keadaan demikian, masih juga ia ingin berada di medan.”

“Kalau kau ingin tidur, tidurlah Wangi,” ulang ayahnya.

“Apakah Ayah tidak memerlukan sesuatu?”

“Sediakan minumku saja.”

“Baik, Ayah.”

Pandan Wangi pun kemudian meletakkan minum ayahnya di atas dingklik kayu dekat di pembaringannya. Kemudian ia pun keluar dan bilik ayahnya.

Tetapi ternyata Pandan Wangi tidak segera pergi tidur ke biliknya. Tanpa disengajanya, ia telah berjalan ke ruang depan. Ia tertegun ketika ia melihat beberapa orang masih duduk sambil berbincang. Mereka adalah Hanggapati, Dipasanga, dan gembala tua itu.

“Apakah Ki Argapati memerlukan kami, Ngger?” bertanya gembala tua itu.

“Tidak, Kiai, Ayah akan beristirahat.”

“O, sebaiknya kau pun beristirahat pula,” sahut Ki Hanggapati.

“Ya, aku pun ingin tidur,” Pandan Wangi menjawab. “Aku hanya sekedar menengok, apakah Paman-paman tidak juga ingin beristirahat?”

“Sebentar lagi kami pun akan tidur,” jawab Dipasanga.

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Silahkan, Paman. Aku akan beristirahat dulu.”

Pandan Wangi pun kemudian masuk ke ruang dalam. Tetapi serasa ada yang memaksanya untuk tidak segera masuk ke dalam biliknya. Kakinya seakan-akan telah membawanya ke belakang dan tanpa sesadarnya, gadis itu telah membuka pintu butulan. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Sepi. Sepi sekali.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

Terasa angin yang silir telah menyentuh tubuhnya, membelai rambutnya yang kusut. Tiba-tiba terasa tubuhnya menjadi segar. Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam.

“Alangkah segarnya udara diatas Tanah ini,” desisnya, “tanah yang harus dipertahankan sampai kemungkinan yang terakhir.”

Pandan Wangi pun kemudian melangkah surut. Kemudian menutup pintu kembali sambil berdesah. Dan tiba-tiba saja ia pun menguap.

Dengan langkah satu-satu dan kepala tunduk, Pandan Wangi pergi ke biliknya. Kini terbayang di dunia angan-angan, pertempuran yang dahsyat di induk tanah perdikan ini. Padukuhan besar yang beberapa saat yang lampau terpaksa dilepaskan karena tekanan pasukan Ki Tambak Wedi yang tidak tertahankan pada saat ayahnya sedang berperang tanding, di bawah Pucamg Kembar.

“Kami harus merebut Tanah itu kembali, dan seluruh tanah perdikan ini.”

Pandan Wangi pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Perlahan ia meletakkan dirinya di pembaringan tanpa melepaskan sepasang pedang di lambungnya.

Demikian lelah gadis itu, sehingga sejenak kemudian ia pun telah tertidur nyenyak. Jarang sekali ia dapat tidur senyenyak itu sejak kemelutnya api pertengkaran di antara keluarga di atas Bukit Menoreh ini. Setiap kali ia selalu diganggu oleh berbagai macam kepedihan perasaan dan kecemasan tentang masa depan Tanah ini. Namun kini Pandan Wangi serasa mendapatkan suatu kepastian, bahwa ayahnya pada suatu saat akan dapat mengembalikan keutuhan Tanah ini meskipun harus melalui banyak sekali rintangan dan kesulitan.

Dalam pada itu dua orang anak-anak muda sedang duduk bersandar sebatang pohon rambutan di halaman belakang. Meskipun mereka sudah terkantuk-kantuk, namun mereka masih juga berbicara dengan suara yang parau. “Kenapa ia hanya sekedar membuka pintu kemudian masuk lagi?” bertanya Gupala.

“Bertanyalah kepadanya,” jawab Gupita.

Gupala tersenyum. Katanya, “Mungkin gadis itu mencari aku. Tetapi karena ia tidak melihat seseorang karena kita terlindung oleh kehitaman bayang-bayang, maka ia segera masuk kembali.”

“Ya.”

“He? Begitukah kira-kira?”

“Ya.”

“Persetan, kau tidur?”

Gupita mengusap matanya. Sebenarnya ia lebih suka tidur dari pada berbincang tanpa ujung dan pangkal.

“Pembicaraan pasti sudah selesai. Mari kita mencari Guru. Mungkin kita akan mendapat tugas baru.”

“Sebentar. Aku masih menunggu kalau-kalau gadis itu membuka pintu itu kembali.”

“Kau sudah menjadi gila. Terserahlah kau. Aku tidak tahan gigitan nyamuk yang tidak terhitung jumlahnya,” desis Gupita.

“Huh, apa katamu seandainya kau menjadi seorang prajurit? Mungkin pada suatu saat kau harus mengendap mengintai musuh tanah yang berawa-rawa? Mungkin tidak hanya sehari dua hari, tetapi berpekan-pekan, bahkan berbulan-bulan?”

“Tetapi sekarang kita tidak sedang mengintai musuh. Kau mengintai menurut seleramu sendiri.”

Gupala tertawa. Jawabnya, “Baiklah. Kau menjadi pemarah sekarang. Marilah kita mendapatkan Guru di ruang depan. Mungkin Guru sudah menanti kita pula.”

Gupita tidak menjawab. Tertatih-tatih ia berdiri sambil mengibaskan pakaiannya yang kotor oleh debu. Kemudian mereka pun berjalan di antara pepohonan di kebun menuju ke ruang depan.

Tetapi langkah mereka tertegun, ketika mereka melihat Guru mereka sedang turun dari tangga pendapa, seorang diri.

“Guru,” desis Gupala.

Gurunnya berpaling. Kemudian katanya, “Marilah kita beristirahat. Kita akan segera mendapat pekerjaan yang penting besok malam.”

“Dimana kita akan tidur?”

“Di gardu.”

“Di regol desa? Apakah kira-kira kita dapat tidur di sana?”

“Kita tidak akan pergi ke regol desa. Di sana terlampau, banyak orang. Kita akan berbicara saja sepanjang malam,” jawab orang tua itu. “Kita akan pergi ke regol di perapatan sebelah. Kita akan menumpang tidur. Di situ hanya ada dua orang penjaga, karena tempat itu bukan tempat yang dianggap pen-ting.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sementara itu kaki mereka pun melangkah menyusur jalan desa, menuju ke gardu di perapatan.

Kedua peronda digardu itu dengan senang hati menerima mereka bertiga. Dengan demikian maka mereka mendapat kawan di malam yang terlampau sepi itu, meskipun, ketiganya hanya sekedar datang untuk tidur.

“Tidurlah,” berkata peronda itu, “aku akan menjaga kalian. Kalau ada nyamuk yang akan menggigit kalian, biarlah aku bunuh sekali.”

Yang mendengar kata-kata itu pun tertawa. Tetapi Gupala tidak mempedulikannya. Langsung saja ia membaringkan dirinya di atas jajaran bambu apus tanpa galar. Meskipun demikian, terasa tubuhnya menjadi nyaman di sejuknya angin yang silir.

“Apakah aku harus berdendang pula,” bertanya salah seorang peronda.

“Jangan,” jawab Gupala antara sadar dan tidak, “suaramu seperti gerobag di jalan yang berbatu-batu.”

Peronda itu pun tertawa, dan Gupala berdesis, “Jangam ribut. Aku akan tidur. Besok aku harus bangun pagi-pagi, sebelum matahari terbit, supaya aku tidak kamanungsan.”

Peronda-peronda itu masih saja tertawa, tetapi mereka tidak menjawab lagi. Dibiarkannya mereka bertiga berbaring bersama-sama. Kemudian mereka tidak mengusiknya lagi ketika ketiga orang itu mendekur. Tidur.

Sementara itu Samekta, Kerti, dan Wrahasta masih sibuk menghubungi para pemimpin kelompok pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Mereka mengatur segala sesuatu yang perlu. Mempersiapkan mereka dengan segala perlengkapan dan senjata.

“Kalian harus dapat mengatur anak buah kalian,” berkata Samekta. “Sebagian dari mereka harus mendapat kesempatan beristirahat. Berganti-ganti sehingga mereka akan mendapat tenaga baru apabila setiap saat diperlukan.”

Para pemimpin kelompok itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Nah, kalian pun harus beristirahat pula,” berkata Kerti. “Sebentar lagi kami juga akan beristirahat. Namun setiap saat kita harus siap untuk bertempur.“

Para pemimpin tertinggi pasukan pengawal itu pun kemudian berpencar. Mereka mendapat bagian tersendiri agar tugas mereka segera selesai, karena mereka pun memerlukan waktu untuk sekedar beristirahat.

Padukuhan itu pun kemudian semakin lama menjadi semakin sepi. Hanya para peronda dan para petugas sajalah yang masih tetap di tempatnya. Sekali-sekali mereka berdua atau bertiga, berjalan mengelilingi padukuhan mereka, singgah dari gardu ke gardu dan dari perondan ke perondan yang lain.

Ketika fajar memerah di ujung Timur, para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah terbangun dan langsung membenahi diri mereka. Kemudian seperti biasanya mereka memencar mengelilingi padukuhan yang diputari oleh pring ori itu.

Para prajurit dan para pemimpin kelompok pun telah terbangun pula. Demikian juga gembala tua yang tidur di gardu perondan di perapatan.

“Aku akan pergi ke parit,” desis gembala tua itu.

“Aku juga, Guru,” berkata Gupita.

“Marilah. Bagaimana dengan Gupala?“

Gupala menggeliat. Namun ia berkata, “Aku juga. Tetapi pergilah dahulu. Aku akan segera menyusul.”

Ketika guru dan kakak seperguruannya pergi meninggalkan mereka, maka Gupala melingkar lagi di gardu perondan itu dan tanpa disadarinya, ia telah tertidur lagi.

Gupala tidak melihat ketika Wrahasta datang ke gardu itu bersama dua orang pengawal.

“He, siapa yang masih tidur itu?” ia bertanya kepada kedua peronda yang berdiri di muka gardu.

“Gupala,” jawab salah seorang dari mereka.

Wrahasta mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu suka kepada anak yang gemuk itu seperti juga kepada kakaknya. Bahkan anak yang gemuk ini agak lebih banyak bicara. Karena itu untuk melepaskan perasaannya, tiba-tiba ia memukul lantai gardu, itu sambil berteriak, “He, siapa yang masih tidur di tengah hari ini?”

Gupala benar-benar terkejut. Meskipun lamat-lamat ia telah mendengar pembicaraan Wrahasta dan kedua peronda di gardu itu, dan dengan sengaja ia tetap berselimut kain panjangnya, namun ia tidak mengira bahwa Wrahasta akan membentaknya begitu keras sambil memukul gardu itu sehingga berderak-derak.

Meskipun demikian, Gupala tidak cepat-cepat bangkit dan meloncat turun. Bahkan sekali lagi ia menggeliat sambil bertanya, “Siapa yang berteriak-teriak di pagi buta ini, he?”

“Bangun anak malas. Cepat! Semua orang telah sibuk dengan berbagai macam pekerjaan, dan kau masih saja tidur mendekur. Kau kira gardu ini disediakan untuk pemalas seperti kau.”

Perlahan-lahan Gupala bangkit. Ditatapnya wajah Wrahasta yang tegang. Namun kemudian anak yang gemuk itu menguap. Katanya, “Semalam aku bangun sampai lewat tengah malam. Sekarang aku masih terlampau kantuk.”

“Setiap orang di sini bangun sampai lewat tengah malam. Bahkan aku hampir tidak tidur semalam suntuk. Kau orang asing di sini, dan kau tidak dapat bermalas-malasan saja. Kau harus mengikuti arus kesibukan yang ada di padukuhan ini.”

“Eh, bukankah aku seorang tamu?” bertanya Gupala.

“Kau bukan seorang tamu yang kami harapkan di sini.”

“Bohong! Ki Argapati memerlukan ayahku dan kami berdua bersama Kakang Gupita. Kami berdua telah membantu kalian di dalam peperangan. Apakah dengan demikian, kau menganggap kami sebagai pemalas yang hanya dapat mengurangi rangsum nasi para pengawal tanah perdikan ini?”

Dada Wrahasta berdesir mendengar jawaban itu. Memang telah ternyata bahwa anak yang gemuk inilah yang telah membunuh Ki Muni, dan bahkan anak yang gemuk ini telah terlukai pula. Karena itu, sejenak Wrahasta terbungkam. Namun ketika terkilas di dadanya, perhubungan yang semakin baik antara kedua anak-anak muda itu dengan Pandan Wangi, maka hatinya telah mulai memanas lagi.

“Aku yang telah berbuat apa saja untuk Tanah ini,” katanya di dalam hati. “Apakah aku akan didesak oleh pendatang yang baru saja hadir di tanah perdikan ini?“

Karena itu, maka kemarahannya pun tumbuh kembali. Katanya, “Apa pun yang telah kau lakukan, aku adalah salah seorang pemimpin pengawal yang mempunyai wewenang untuk memerintah setiap orang di dalam lingkungan pedukuhan ini. Di dalam keadaan perang ini setiap orang harus tunduk kepada perintahku sebagai salah seorang pemimpin.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Aku akan bangun. Bukankah perintahmu kali ini agar aku bangun?”

Kemarahan Wrahasta hampir tidak tertahankan lagi. Apalagi ketika ia melihat Gupala beringsut setapak demi setapak menepi dari gardu perondan. Anak yang gemuk itu serasa acuh tak acuh saja terhadapnya, betapa ia membentak-bentak dan berteriak-teriak.

Para pengawal yang menyaksikan percakapan itu menjadi berdebar-debar. Wrahasta agaknya benar-benar menjadi marah, dan anak yang gemuk itu pun berbuat sekehendak hatinya. Namun para pengawal itu pun menyadari, bahwa sebenarnya Gupala telah dengan sengaja berbuat demikian. Ia pasti merasa tersinggung dan bahkan marah karena bentakan-bentakan Wrahasta. Para pengawal itu pun menjadi heran, bahwa Wrahasta seakan-akan telah menjadi marah tanpa sebab. Mereka tidak mengetahui, bahwa sebab yang sebenamya telah lama tersembunyi di dalam dada anak muda yang bertubuh raksasa itu.

Wrahasta yang dadanya seakan-akan membara itu berteriak, “Kalau kau tidak senang di sini, pergilah. Ki Argapati hanya memerlukan gembala tua itu. Bukan kau dan bukan kakakmu yang cengeng itu.”

“Tidak,” Gupala menggeleng. “Aku dan Kakang Gupita juga diperlukan. Setiap orang diperlukan.“

“Tetapi tanpa kau kami masih akan tetap dapat berbuat apa saja,” Wrahasta menjadi semakin marah.

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Ada perbedaan di antara kedua anak-anak muda yang mengaku diri mereka gembala itu. Seandainya yang dibentak-bentak itu Gupita, mungkin ia akan segera menghindar dan pergi menyusul gurunya ke parit di pinggir padukuhan. Tetapi Gupala tidak berbuat demikian. Ia mempunyai sifat yang agak berbeda, betapapun gurunya berusaha melunakkannya.

Gupala yang telah mencoba menahan diri itu akhirnya tidak dapat melawan hentakan perasaannya. Wajahnya pun telah mulai semburat merah.

Dengan nada yang tinggi ia bertanya, “Apakah sebenarnya maksudmu, Wrahasta?”

Wrahasta yang sedang marah itu pun menjadi semakin marah melihat sikap Gupala yang seakan-akan sengaja menentangnya. Apalagi di hadapan beberapa orang pengawal tanah perdikan. Menurut penilaiannya, ketika ia memaksa Gupita berkelahi melawannya, gembala itu tidak dapat mengalahkannya. Apalagi yang ada kini adalah adiknya yang gemuk itu.

Karena itu, maka dengan suara mengguntur ia menjawab, “Aku ingin sekali-sekali memukul kepalamu, agar kau tidak terlalu sombong di atas Tanah ini. Apa kau sangka Tanah ini memberi tempat kepada orang-orang yang merasa dirinya terlampau diperlukan seperti kau?”

“Aku tidak mengerti,” sahut Gupala. “Aku kira aku tidak pernah menyombongkan diriku. Aku berbuat wajar seperti apa yang sebaiknya aku lakukan. Kalau aku menurut anggapanmu terlambat bangun kemudian kau nilai sebagai suatu kesombongan, alangkah dangkalnya penilaianmu atas seseorang. Dengan demikian maka kaulah yang dapat disebut anak muda yang sombong.”

Wrahasta menggeram. Ia tidak dapat mengekang diri lagi. Karena itu maka selangkah ia maju sambil menunjuk wajah Gupala, “Kau harus minta maaf kepadaku. Kemudian berjanji tidak akan mendekati setiap pimpinan Tanah ini, agar aku tidak menjadi muak. Kalau kau ingin tinggal di sini bersama ayahmu yang memang diperlukan oleh Ki Gede, kau harus berada di regol depan bersama para pengawal yang lain. Kau tidak lebih dari mereka. Kau tidak dapat memanjakan dirimu. Makanmu harus sama seperti mereka, pelayanan terhadapmu harus sama pula.”

“E,” Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya, “kau benar-benar seorang pemimpin yang sangat teliti. Apakah kau tidak mempunyai urusan lain kecuali mengurusi orang tidur dan makan?”

“Persetan!” Wrahasta kian menjadi panas. Serasa segumpal bara tersimpan di dalam dadanya. “Gupala,“ katanya kemudian, “aku benar-benar ingin memukul mulutmu.”

“Mulutku masih cukup berharga buatku. Karena itu, jangan kau lakukan supaya aku tidak berusaha membalas.“

Wrahasta sudah tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba ia meloncat sambil menampar mulut Gupala. Tetapi Gupala benar-benar tidak mau tersentuh tangan Wrahasta. Karena itu, maka ia pun menghindarinya dengan memiringkan mukanya tanpa bergeser dari tempatnya.

Sikap Gupala membuat Wrahasta semakin kehilangan kendali. Dengan serta-merta ia menyerang anak muda yang gemuk itu. Tetapi Gupala kini telah siap untuk menghadapi kemungkinan.

Berbeda dengan Gupita, Gupala sama sekali tidak bermaksud untuk mengalah. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Anak ini sekali-sekali harus diberi pelajaran menghargai orang lain.”

Karena itu, maka Gupala pun kemudian tidak mengekang dirinya lagi. Ketika Wrahasta menyerangnya dengan sebuah pukulan yang keras, maka Gupala pun memiringkan kepalanya. Dengan suatu sentakan ia menarik tangan Wrahasta lewat di atas pundaknya. Berbareng dengan lontaran kekuatannya sendiri, maka Wrahasta pun terseret dan terpelanting jatuh.

Para pengawal terkejut melihat hal itu. Semuanya itu terjadi begitu cepatnya dan tiba-tiba. Karena itu maka sejenak mereka hanya saling memandang. Namun kemudian salah seorang dari mereka segera menyadari keadaan. Karena itu maka ia pun berdesis, “Aku akan memberitahukannya kepada Ki Samekta. Kalau kau mampu lerailah. Kalau tidak, carilah gembala tua, ayah anak muda yang gemuk itu, agar ia berusaha menahan anaknya.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku tidak akan dapat melerainya. Mungkin kepalaku sendiri akan terkilir.“

Yang lain tidak menjawab. Tetapi ia pun segera meloncat berlari-lari mencari Samekta, sedang yang seorang lagi pergi mencari gembala tua yang oleh salah seorang peronda di gardu itu diberitahu bahwa gembala tua itu sedang pergi ke parit.

Sementara itu, sambil menyeringai Wrahasta meloncat berdiri. Ia tidak menyangka, bahwa anak yang gemuk itu demikian tangkas dan cepat.

Namun hal itu telah membuat Wrahasta seakan-akan menjadi gila. Ia sama sekali tidak dapat lagi membuat pertimbangan-pertimbangan apa pun, sehingga ia telah bertekad untuk benar-benar berkelahi.

Terdengar anak muda yang bertubuh raksasa itu menggeram. Kemudian meloncat menerkam lawannya. Gupala yang melihat serangan yang semakin garang itu pun terpaksa harus mengimbanginya. Dengan tangkasnya ia menghindar, dan bahkan kemudian ia pun telah menyerang pula. Meskipun tubuh Wrahasta jauh lebih besar dari Gupala, namun Gupala adalah seorang yang memiliki kekuatan yang cukup besar. Sehingga dalam benturan tenaga yang terjadi, Wrahasta telah terdorong beberapa langkah surut.

Sejenak Wrahasta menjadi heran. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa anak yang gemuk itu mampu menyamai kekuatannya, bahkan melebihinya.

“Ini hanyalah suatu kebetulan,” katanya di dalam hati. “Ia berada dalam keadaan yang lebih baik. Tetapi kalau aku sempat membenturkan seluruh kekuatanku, ia pasti akan menjadi lumat.”

Dengan demikian, maka Wrahasta pun telah menyiapkan dirinya. Kemudian dengan segenap kekuatannya ia menyerang kembali. Sebuah ayuman yang dahsyat telah mengarah ke kening Gupala.

Namun betapa anehnya sifat Gupala, tetapi ia masih juga sempat membuat pertimbangan-pertimbangan. Apalagi setelah ia melihat Wrahasta benar telah kehilangan akal dalam tingkat permulaan dari perkelahian itu. Dengan demikian, maka Gupala justru menjadi agak tenang, karena Wrahasta memanglah bukan lawannya. Kalau ia mau maka ia akan segera dapat mengalahkannya dan bahkan apa pun yang akan dilakukannya.

Tetapi kali ini ia tidak akan berbuat lebih jauh dari memberi sedikit pelajaran kepada Wrahasta. Karena itu, maka ia pun kemudian telah menyerang Wrahasta semakin cepat, tetapi tidak cukup berbahaya.

Serangan Gupala seakan-akan datang dari segenap penjuru. Dengan lincahnya anak yang gemuk itu berloncatan. Tangannya menyambar-nyambar seakan-akan berpuluh-puluh pasang tangan bergerak bersama-sama.

Ternyata bahwa Wrahasta menjadi bingung karenanya. Ia sama sekali tidak berdaya untuk menangkis atau menghindari sentuhan-sentuhan tangan Gupala. Meskipun Gupala tidak bermaksud melumpuhkan lawannya, namun terasa pukulan-pukulan itu semakin lama menjadi semakin sakit. Sekali-sekali Gupala memukul pundak Wrahasta, kemudian tanpa dapat mengelak, Wrahasta terdorong oleh kaki Gupala yang mengenai lambungnya. Demikian Wrahasta berusaha tegak kembali, Gupala telah berhasil menangkap tangan Wrahasta dan menariknya dengan hentakan yang keras berbareng dengan tangannya menampar dagu.

Betapapun juga Wrahasta mencoba mengerahkan segenap kemampuannya, namun ia sama sekali tidak berdaya menghadapi lawannya yang gemuk namun cukup lincah itu. Beradu tenaga pun ternyata Wrahasta yang bertubuh raksasa itu tidak dapat mengatasi lawannya.

Dalam kebingungan dan kegugupannya, Wrahasta tidak dapat berpikir lain kecuali mencabut pedangnya. Namun demikian tangannya meraba hulu senjatanya itu, seperti tatit Gupala meloncat menangkap pergelangan tangannya, kemudian diputarnya ke belakang sambil berdesis, “Jangan bodoh. Kalau kau mengambil pedangmu, berarti kau akan membunuh diri. Kau lihat, bahwa aku pun berpedang? Dan kau harus menyadari bahwa aku dapat bergerak lebih cepat daripadamu. Karena itu, kalau kita berkelahi dengan pedang, maka kau tidak akan dapat ikut dalam peperangan yang akan datang.”

Tetapi Wrahasta yang keras kepala itu menyeringai sambil menggeram, “Persetan! Kau tidak akan mampu melawan pedangku. Kaulah yang harus aku bunuh.”

Tangkapan tangan Gupala itu menjadi semakin keras, dan Wrahasta merasa semakin sakit karenanya. Karena itu betapapun ia menahan diri, tetapi raksasa itu terpaksa berdesis menahan sakit.

“Kau sudah gila,” Gupala pun menggeram. “Jangan main-main dengan pedang kalau kau tidak yakin bahwa kau akan menang.”

“Aku tidak takut mati seandainya kau mampu membunuh aku.”

Seperti dugaan gurunya, Gupala memang bukan seorang yang cukup sabar. Karena itu, maka didorongnya tangan Wrahasta yang terpilin itu, sehingga raksasa itu terhuyung-huyung. Hampir saja ia jatuh terjerembab. Namun ia berhasil menguasai keseimbangan dan berdiri tegak di atas sepasang kakinya yang renggang.

Dikibas-kibaskannya tangannya sambil menggeram, “Kita bertempur sampai mati.”

“Bukan salahku,” sahut Gupala. Kemudian kepada peronda yang melihat dengan kaki gemetar ia berkata, “Kalian menjadi saksi. Aku telah dipaksa untuk melawannya.”

Tetapi para peronda itu sama sekali tidak menjawab. Bahkan mereka menjadi semakin pucat dan gemetar.

Wrahasta yang sudah bermata gelap itu pun tiba-tiba mencabut pedangnya yang besar dan panjang Kemudian berkata dalam nada yang dalam dan datar, “Ayo, cabut senjatamu.”

Tiba-tiba saja Gupala menjadi ragu-ragu. Sekilas dipandanginya peronda yang gemetar. Kemudian ditatapnya wajah Wrahasta yang membara. Namun sementara ia masih ragu-ragu, ia mendengar langkah beberapa orang berlari-lari mendekat. Ketika ia berpaling, dilihatnya beberapa orang pengawal datang beramai-ramai. Mereka agaknya mendengar dari pengawal yang berusaha memberitahukan peristiwa itu kepada Samekta.

Dengan demikian Gupala menjadi semakin ragu-ragu. Terngiang ditelinganya kata-kata gurunya, bahwa orang tua itu tidak dapat melepaskannya sendiri. Karena itu pula maka setiap kali Gupita-lah yang mendapat kesempatan.

“Seandainya Gupita yang mengalami hal ini, apakah yang akan dilakukan?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya.

Beberapa orang pengawal segera memutari kedua orang yang sedang berhadapan itu. Dan mereka pun segera menjadi berdebar-debar karenanya. Wrahasta telah menggenggam senjata di tangannya, namun Gupala masih nampak berdiri termangu-mangu.

“Cepat!” teriak Wrahasta. “Cepat cabut senjatamu!”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling, ke arah wajah-wajah yang tegang di sekitarnya.

“Cepat!” sekali lagi ia mendengar Wrahasta berteriak. “Aku akan mulai. Terserah kepadamu, apakah kau akan melawan dengan pedangmu atau tidak. Aku benar-benar akan membunuhmu.”

Gupala menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat Wrahasta melangkah maju. Sudah tentu ia tidak akan dengan begitu saja menyerahkan lehernya. Apalagi kepada raksasa yang dianggapnya terlampau bodoh itu.

Gupala melangkah surut ketika Wrahasta sudah mulai memutar pedangnya. Dengan nada yang dalam ia bertanya, “Apakah kau sudah benar-benar gila, Wrahasta?”

“Persetan!” mata Wrahasta menjadi semakin membara.

Dalam ketegangan yang memuncak itulah, Samekta datang tergesa-gesa bersama Kerti. Langsung disibakkannya orang-orang yang berada di sekitar Wrahasta dan Gupala yang sedang berhadapan itu. Dengan lantang Samekta berteriak, “He, apakah kalian sudah menjadi gila semua?”

Keduanya serentak berpaling. Mereka melihat wajah Samekta yang merah menahan gelora di dalam perasaannya. Dengan tangan gemetar ia menunjuk kedua orang itu berganti-ganti, “Beginilah jalan yang paling baik bagi kalian?”

“Ia menghina aku,” sahut Wrahasta. “Anak gila itu sama sekali tidak menghiraukan lagi ketetapan yang ada di atas tanah perdikan ini. Bagaimanapun juga aku adalah salah seorang pemimpin di sini. Dan ia adalah seorang pendatang.”

“Apa yang telah dilakukannya?”

“Ia tidak menghiraukan perintahku.”

Samekta mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah perintahmu itu?”

“Aku tidak boleh makan di dapur,” sahut Gupala dengan serta-merta.

“Aku tidak bertanya kepadamu,” bentak Samekta yang sedang marah itu.

Terasa sesuatu melonjak di dada Gupala. Orang ini pun telah menyakitkan hatinya pula. Namun ia masih mencoba menahan diri.

Agaknya Samekta pun telah benar-benar menjadi marah. Sebagai pimpinan tertua ia merasa tersinggung sekali atas peristiwa itu. Selagi seluruh kekuatan dihimpun untuk menghadapi puncak pertentangan di Tanah Perdikan Menoreh, maka telah terjadi perselisihan di dalam kandang sendiri.

“Wrahasta,” berkata Samekta, “aku minta, setiap diri kita masing-masing harus mencoba menyingkirkan persoalan-persoalan yang tidak menguntungkan bagi Tanah ini. Kalau kita masing-masing masih saja membiarkan perasaan kita berbicara, maka kita tidak akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang jauh lebih besar dari persoalan-persoalan sehari-hari, persoalan tetek-bengek yang sama sekali tidak berarti.”

Wrahasta yang masih dibakar oleh perasaannya, dan apalagi ketidak-mampuannya melawan Gupala, masih belum dapat menahan dirinya sehingga ia menjawab, “Jadi, kau menyalahkan aku?”

Samekta mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku menyalahkan kalian berdua. Apa pun alasannya tetapi kalian telah berkelahi, sedang kalian tahu, bahwa kita sedang berada di ambang pintu perang yang akan menentukan keadaan kita.”

“Tetapi apakah dengan demikian aku harus membiarkan orang asing menginjak-injak semua ketetapan dan ketentuan yang berlaku di atas tanah perdikan ini?” teriak Wrahasta.

Samekta yang marah menjadi semakin marah. Namun sebelum ia berteriak pula, terdengar suara Kerti, “Sebaiknya kita yang mencoba memadamkan pertentangan ini jangan terlibat dalam pertentangan baru.” Lalu kepada Wrahasta ia bertanya, “Wrahasta, cobalah kau menuai persoalan yang baru saja terjadi. Apakah sudah sepatutnya kalian bertempur apalagi dengan pedang di tangan? Apakah sebenarnya sumber persoalannya?”

“Aku tidak dapat dihina.” jawab Wrahasta.

“Kalau kalian telah terlibat di dalam pertengkaran, maka sudah tentu masing-masing merasa terhina. Tetapi apabila kalian sempat, cobalah melihat, apakah yang menyebabkan pertentangan dan pertengkaran itu? Dengan demikian maka persoalannya akan dapat diletakkan pada tempat yang sewajarnya dan pada saat yang lebih tepat.”

Wrahasta tidak segera menjawab. Dahinya menjadi berkerut-merut.

“Sudah tentu bahwa kalian tidak sedang mempertengkarkan Ki Tambak Wedi atau Sidanti. Sudah tentu kalian tidak sedang mempertahankan kebenaran Argajaya, bahwa ia telah memihak orang lain dan memusuhi kakaknya sendiri. Nah, sekarang lihat kepada diri sendiri apakah yang kalian pertentangkan? Tentang makan pagi, atau tentang bangun yang terlampau siang atau tentang pelayanan yang berbeda dan yang dapat dianggap pelayanan yang khusus? Begitu? Dan masalah-masalah serupa itu telah mem-buat kalian mempertaruhkan nyawa kalian yang akan menjadí jauh lebih berharga apabila nyawa-nyawa itu kalian pertaruhkan di medan peperangan?”

Wrahasta masih tetap diam. Namun kata-kata Kerti itu berhasil menyentuh hatinya. Tanpa sesadarnya ia mencoba menelusur, sebab-sebab kemarahannya. Namun tiba-tiba ia menggeretakkan giginya, meskipun kepalanya masih tertunduk. Ternyata Wrahasta tidak berani melihat sebab yang sebenarnya dari semua peristiwa itu. Meskipun sekilas melintas pula di kepalanya, perkelahiannya dengan Gupita dan kini dengan Gupala.

Dalam pada itu, ketika semua wajah menjadi tegang, dengan tergesa-gesa Gupita dan gurunya menerobos ke dalam lingkaran yang mengelilingi Wrahasta dan Gupala. Dengan sorot mata yang tajam gembala tua itu memandangi wajah Gupala yang kemudian menunduk dalam-dalam.

“Gupala,” terdengar ia berdesis, “apakah yang telah kau lakukan?”

Gupala tidak menyahut. Tetapi yang terdengar adalah suara Kerti, “Tidak ada apa-apa, Kiai. Semuanya sudah selesai.” Lalu kepada kedua anak-anak muda yang berada di dalam lingkaran, “Bukankah begitu?”

Keduanya tidak menjawab. Dan Kerti berkata lagi untuk mengendorkan suasana yang tegang, “Nah, bukankan mereka diam? Seperti gadis yang ditawari lamaran jejaka, kalau ia diam, berarti ya.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Sukurlah kalau semuanya sudah selesai. Aku mendengar bahwa Gupala telah berkelahi dengan Angger Wrahasta selagi aku berada di parit. Terpaksa aku dengan tergesa-gesa kemari.”

“Nah, masalah ini tidak usah kita perbincangkan lagi,” lalu Kerti berkata kepada para pengawal yang berkerumun, “Semua kembali ke tempat kalian.”

Maka kerumunan orang-orang Menoreh itu pun kemudian menipis, semakin lama semakin habis. Wrahasta pun kemudian meninggalkan tempat itu pergi ke regol induk sambil bersungut-sungut.

Samekta dan Kerti masih berdiri di tempatnya. Sejenak mereka memandangi gembala tua beserta kedua anaknya yang kemudian duduk di gardu itu kembali.

“Wrahasta tidak dapat mengendalikan perasaannya,” desis Samekta.

“Dan kau pun juga. Hampir saja,” sahut Kerti.

Samekta menarik nafas. “Ya. Aku menjadi sangat kecewa atas peristiwa ini. Sudah tentu Wrahasta telah dibakar oleh perasaan cemburu itu. Dan agaknya anak muda yang gemuk ini tabiatnya agak berbeda dari kakaknya. Mungkin ia masih terlampau muda untuk menanggulangi keadaan sebaik-baiknya.”

Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Gembala tua itu pun agaknya sedang menasehati anaknya.”

Keduanya pun kemudian mendekat ke gardu. Beberapa langkah dari gardu itu Samekta berhenti sambil berkata, “Maaf, Kiai. Mudah-mudahan hal yang serupa tidak terjadi lagi.”

“Ya, aku pun minta maaf. Anakku yang seorang ini memang agak bengal.”

Samekta dan Kerti pun kemudian meninggalkan gembala tua itu bersama kedua anaknya untuk menemui Wrahasta. Mereka mengharap bahwa Wrahasta tidak menjadi semakin gila karenanya.

Kedua orang itu menemukan Wrahasta sedang berdiri di muka regol memandang jauh ke dalam rimbunnya batang lalang yang tumbuh semakin liar di luar padukuhan itu.

Kerti menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa hati Wrahasta pasti lagi sakit. Ia merasa semakin jauh dari harapan yang sudah lama diletakkannya kepada gadis puteri Kepala Tanah Perdikannya. Kehadiran kedua gembala muda itu telah merusak segenap impiannya, sehingga karena itu, maka pertimbangannya telah menjadi sumbang.

Samekta dan Kerti tidak segera menyapanya. Tetapi keduanya berhenti beberapa langkah di belakang anak muda yang bertubuh raksasa itu.

Keduanya mengerutkan keningnya ketika mereka melihat Wrahasta berpaling. Dengan tajamnya anak muda itu memandang kedua pemimpin Menoreh itu.

“Apa yang kita tunggu lagi?” tiba-tiba anak muda itu berkata lantang. “Apakah yang kita tunggu? Sekarang dan nanti petang tidak ada bedanya lagi bagi kita. Justru sekarang kita akan mendapat waktu untuk mengejutkan mereka, selagi mereka belum bersiaga.”

“Sabarlah, Anak Muda,” jawab Kerti. “Nanti petang pun mereka pasti belum mengetahui, bahwa kitalah yang akan datang menjenguk mereka.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 5 November 2008 at 01:18  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-44/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sepertinja buku 42 djvu djuga perlu diperbaiki agar jang mau re-type tidak merasa sungkan.

    Dengan demikian ternjata halaman 8, 9, 10, 12, 14, 15, 18,22 sulit dibaca, sehingga kedua gembala itupun belum berhasil menjelesaikan batjaannja.

    D2: Sudah diperbaiki kok. Betul kan Kang Sukra?

  2. betul banget bos DD.
    silakan klik cover untuk mengunduh file adbm42.djvu nya

  3. kok covernya sdh di klik tapi gk kedownload yaa…
    yg kluar cuma file gambarnya aja….

    D2: infonya di halaman berikutnya

  4. bukan di klik kanan kisanak, tapi klik kiri.
    monggo dipun cobi malih.

  5. wah kok ngak bisa tuh ya, mana yang diklik

  6. dari kemarin jilid 44 nya belum nongol-nongol ya?
    apa mas herry masih sibuk atau lagi pesta kemenangan obama ? hehehehhe

    tetap semangat.

  7. Saya tetap setia menanti dari kemarin hingga pagi ini, sebelum kabuuuur dari kantor

  8. Salam kenal para penggemar ADBM Mania, untuk jilid 44 nya kok belum keluar2 jadi penasaran dech…..hehehe…

    Untuk team ADBM tetap semangat….

  9. Hari ini di Singapore banyak orang berdebar2 menunggu hasil undian TOTO S$ 1,5jt, bahkan di loket penjual dkt rumah msh panjang antrian orang mau beli.
    Tapi saya jauh lebih berdebar2 dari mereka, bahkan sampai gemetar menunggu jilid 44 yg dari kemarin belum lahir. Moga2 keewuhan mas Herry lancar semuanya, dan beliau cukup istirahat, shg bisa kembali menurunkan ilmunya lewat jilid 44 dst….

  10. Jian…sabar subur…..taksih kulo tenggo kyai…

  11. Duh gusti nyuwun ngapuro..
    mohon maaf agak t’lat kirimnya, disamping rodo2 n pura2 sibuk cangkulan, juga proses scan jan2-e udah lama cuma harus di proses, diguntang-gunting pke photoshop ben-e ra pating plethot, kmd kpstasnya dikecilkan pke paint dst..dst..

  12. mungkin hari ini bisa hadir double 44 dan 45 , obat nunggu dari kemarin, nuwun

  13. tetap setia menanti…jilid demi jilid ….
    maaf kang herry … kami baru bisa bantu doa dari jauh…

  14. Nuwun sewu lho mas Herry…
    para pemuda padukuhan ini memang penginnya cepet2 terus.. he.. he…
    All the best mas Herry, whatever you do, kami sabar menunggu, mengerti dan percaya bhw panjenengan pasti do the best for us.

  15. saia juga sabar menanti kok

    FYI: Hits akan mencapai 200 ribu

    thanks

  16. ini mungkin yang disebut perang urat syaraf….he..he..
    memang sangat mendebarkan dan gregetan antara harapan untuk melihat adbm-44 dan marah yang dipendam karena ga keluar-luar….sungguh hebat ilmunya mas Herry ini …
    sangat ngegrigisi ilmu dari perguruan Mpu Windujati ini

  17. belum nongol juga jilid 44…

  18. aku yakin… hari ini mas herry jadi orang yang paling dikangenin adbm mania..hehehehe…
    Nek aku dadi tonggone mas herry…. mesti tak ewangi nyecan…. mumpung di rumah ada scan ama djvu solo 3.1 nganggur….
    Bravo mas…..

  19. Halo Mas Herry,.. sebentar lagi sudah mau sore lho,.. Kirimannya sudah ditunggu-tunggu sama orang-orang sa padukuhan adbm, hehehe…

    Salam, Aulianda.

  20. Mas Herry emang pinter bikin deg2an, bolak-balik masuk kok yang tambah banyak commentnya aja he..he…

    sabar2 kisanak semua, seperti agung sedayu, jangan grusa-grusu kayak sidanti, ato swandaru juga ya?

  21. Mas Heri Yth, yen mas heri percoyo, mbok dicoba scane nganggo full colour (biasane pake standar 200 dpi) terus
    ditransfer neng djvu solo 3.1. ngganggo 400 dpi (default 100 dpi) ditanggung hasile apik uk size 800 – 900 kb (nanging uga gumantung kualitas bukune lha jenenge wae buku lawas cetakan tahun 70 an)
    nanging sanajan kaya apa wae wus nrima lan maturnuwun banget marang “kerja keras Mas DD, Mas Heri dkk”.
    ku kan sabar menanti.

    D2: 800-900 kb per halaman? Kalau sebuku 37 halaman, jadi …..

  22. “…sore yang indah sekaliii..hemmm yaa…”

  23. kulo sekeluargo ngaturaken matur nuwun kalih sederek sedoyo.

    lho kok keluargo ?

    lha kulo uring-uringan je.. yen mboten moco adbm ben dino 😀

  24. aku coba scan pake “djvu solo 3.1”, langsung save dalam format djvu, untuk satu mukanya (2 halaman) besar file-nya hanya 30 kb. (menggunakan setting standar, tanpa merubah defaultnya). hasilnya udah sip

  25. maturnuwun semuanya

  26. he he D2 satu buku 800 – 900 Kb full colour, kulo nggih pun asring make kok, sayang aku nggak punya hard copynya, tapi tunggu beberapa hari lagi aku bakal nyumbang djvu full colour

  27. Nyoba buka file pdf pake adobe pdf reader di hp ga bs ya…Pake softw apa ya supaya mudah di baca pk hp?? Trima ksh..

  28. Mas D2, kayaknya ukuran file djvu-nya mendingan di bawah 2000kb deh, soalnya kejadian lagi kaya sebelumnya, mandek di tengah jalan downloadnya.

    thanks.

  29. Wah…wah…wah….., halaman depannya bener-bener apik tenan, cckk…ccckk….cccck…..

    wis jan salut tenan……

  30. Iya,. makin kereen abiss,.. Maju teruss Padepokan ini ,..

    Salam, Aulianda

  31. mugo-mugo sesuk wis sing jilid 44 wis terbit..
    yen ora lak malem mingguku kelabu tenan iki mengko

    D2: Sekarang bisa kok

  32. kulo milai maos adbm jilid 1 th 1968( manawi mboten klentu jilid 1 terbit oktober 1967). milai swargi sedo kulo mboten saget maos malih.
    namung matur sembah nuwun ingkang saget kulo aturaken dumateng sedoyo konco2 ingkang kerso mosting upload, sameniko kulo milai malih maos jilid 1.

  33. Om Sukra: buku 42 msh belum bisa tuh, 🙂
    Admin adbm : Respek dan hormat yg sebesar-besarnya atas kepedulian dan kerja kerasnya melestarikan budaya bangsa ini. Semoga semuanya sehat selalu, dan di lancarkan dalam setiap usahanya. Maturnuwun sanget..

  34. “Bagaimana Wangi…??” tanya Wrahasta.
    “Wah, uambune uapek….!!!” jawab Ki Menggung dengan serta merta.
    “Salah Ki, uambune ledhis..!!!” sergah Ki Bukansms.

    • pol poko’e 😀

      • poko’e 😀 pol amBUNe

        • poko’e gundul pol-pole

          • popo’e….mambu ompol 😀

            • lha trus ompole mambet nopo ki kartu ?

              • :mrgreen:

                • Pesss…………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: