Buku 44

Tiba-tiba Wrahasta menyusul sampai ke pintu. Ia masih melihat Pandan Wangi berputar, kemudian hilang di balik sudut. Namun ia mengangguk-anggukkan kepalanya ketika ia melihat Gupala dan Gupita menjadi semakin jauh di halaman belakang. Agaknya mereka akan melalui butulan, pergi ke sungai kecil yang mengalir di pinggir padukuhan ini.

Namun hatinya menjadi semakin tidak tenteram. Anak muda itu seakan-akan menjadi semakin rapat bergaul dengan Pandan Wangi, dan agaknya Pandan Wangi pun menerima kehadiran mereka dengan hati terbuka. Apalagi agaknya anak yang gemuk itu mempunyai tanggapan yang lain kepadanya. Tidak seperti kakaknya agak lebih tenang.

“Sayang, Ki Argapati sedang membutuhkan ayah mereka. Kalau tidak, keduanya pasti sudah aku usir dengan paksa. Aku tidak senang melihat kehadiran mereka dipadukuhan ini,” desis Wrahasta. “Tetapi untuk sementara aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

Pandan Wangi yang kemudian masuk kembali ke dalam rumah itu lewat butulan samping, langsung pergi ke bilik ayahnya. Dengan hati-hati ia memasukinya dan kemudian duduk di atas sebuah dingklik kayu di sudut ruangan.

Perlahan-lahan ia menarik nafas dalam-dalam. Terasa debar jantungnya menjadi semakin cepat.

“Bagaimana aku harus menghindarinya?” pertanyaan itu selalu mengganggunya. Namun Pandan Wangi memasa, bahwa pada suatu saat ia harus mengambil suatu sikap. Ia tidak akan dapat untuk seterusnya menghindar dan menghindar. Karena ia menyadarinya, bahwa bukanlah suatu penyelesaian. Pada saatnya ia harus menjawab “Ya” atau “Tidak.”

Selama ini, meskipun hanya setitik, agaknya Wrahasta selalu berpengharapan. Sehingga apabila kelak pada saatnya ia mendengar jawaban yang lain, maka hatinya pasti akan patah. Akibatnya akan dapat terungkap dalam berbagai-bagai bentuk.

Karena itu Pandan Wangi menjadi semakin bingung. Sekali-sekali dipandanginya wajah ayahnya yang pucat, kemudian dilemparkannya tatapan matanya ke sudut bilik, ke atas sebuah ajuk-ajuk lampu minyak. Warna yang kehitam-hitaman membayang di dinding di sebelah ajuk-ajuk itu. Di malam hari, apabila lampu menyala, maka asapnya selalu menyentuh dinding itu.

Pandan Wangi tidak menyadari, berapa lama ia duduk di tempat itu. Ia seakan-akan tersadar ketika ia mendengar desah napas ayahnya.

Dengan serta-merta Pandan Wangi berdiri. Dihampirinya pembaringan ayahnya perlahan-lahan.

“Wangi,” desis ayahnya.

“Ya, Ayah.”

“Apakah sejak tadi kau berada di sini?”

“Tidak Ayah. Aku sudah pergi ke dapur dan ke luar.”

“O,” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan, “di manakah orang-orang yang lain?”

“Di luar, Ayah. Mereka pun sedang beristirahat di serambi depan. Bahkan mungkin paman-paman sedang tidur pula.”

“Kedua prajurit itu?”

“Juga di luar.”

“Dan kedua gembala muda itu?”

“Mereka berada di belakang, Ayah. Apakah Ayah akan memanggilnya?”

Tetapi Ki Argapati menggelengkan kepalanya, “Tidak sekarang, Wangi. Aku masih ingin beristirahat. Tetapi badanku sudah terasa jauh lebih baik.” Ki Argaparti berhenti sejenak, “Beritahukan kepada pamanmu Samekta. Aku memerlukannya dan para pemimpin yang lain. Aku ingin berbicara nanti sesudah senja.”

“Baik, Ayah.” Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia ingin menanyakan apakah ayahnya ingin makan. Tetapi ia cemas, kalau-kalau Wrahasta masih berada di dapur.

Namun demikian, ia terpaksa mengesampingkan kecemasannya itu dan bertanya kepada ayahnya, “Apakah Ayah ingin makan?”

Ki Argapati menggelengkan kepalanya, “Tidak, Wangi. Tetapi berilah aku minum.”

Pandan Wangi pun kemudian mendekatkan mangkuk minuman ke mulut ayahnya yang berusaha mengangkat kepalanya.

“Terima kasih,” desis ayahnya kemudian. “Sekarang temuilah pamanmu Samekta. Kita harus membicarakan kelanjutan dari peperangan ini supaya kita tidak terlambat. Aku kira saat ini Tambak Wedi dan Sidanti pun sedang memikirkan suatu cara untuk menebus kekalahannya hari ini.”

Sebenarnyalah bahwa Tambak Wedi yang sedang dilanda oleh kemarahan, kekecewaan, keragu-raguan, dan segala macam perasaan yang bercampur baur, lagi duduk bersama Sidanti, Argajaya, Ki Peda Sura, dan beberapa orang pemimpin pasukannya yang lain. Setiap kali orang tua itu menggeram, menghentak-hentakkan tangannya dan kadang-kadang berteriak tanpa sebab.

Sidanti adalah salah seorang yang paling kecewa karena pasukannya harus ditarik mundur. Tetapi di hadapan gurunya yang sedang marah itu, Sidanti sama sekali tidak berkata apa pun. Ia mengenal tabiat guru dan sekaligus ayahnya itu dengan baik, selama ia berada di padepokan Tambak Wedi. Dalam keadaan yang demikian, tidak seorang pun yang berani membantahnya.

“Kita telah salah menilai,” geramnya. “Ternyata di dalam lingkungan setan itu terdapat orang-orang yang tidak pernah kita perhitungkan.”

Sidanti menundukkan kepalanya, sedang Argajaya mengangguk-angguk.

“Ki Peda Sura,” tiba-tiba Tambak Wedi bertanya, “kenapa kau menghindari lawanmu?”

“Aku tidak mau mati,” jawab Ki Peda Sura.

“Gila. Apakah kau sudah mcnjadi seorang pengecut. Di peperangan, mati adalah akibat yang wajar. Tetapi aku memang tidak ingin kau mati. Aku ingin kau membunuh musuhmu.”

“Aku telah membunuh dan melukai lebih dari sepuluh orang. Kalau aku tidak menghindari orang berkumis lebat itu, akulah yang mati dan dengan demikian aku tidak dapat membunuh lagi. Orang berkumis itu pun sebenarnya tidak begitu mengecutkan hati. Tetapi ia bekerja bersama beberapa orang. Kerja sama yang sangat baik, sehingga aku menghindarinya.”

Ki Tambak Wedi sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tidak pernah menaruh perhatian terhadap seseorang yang berkumis. Ada seribu orang berkumis di dalam pasukan Ki Argapati.

“Kita tidak boleh menunggu Argapati sembuh dan dapat maju ke peperangan lagi,” berkata Ki Tambak Wedi. “Kita harus cepat-cepat menyusun kekuatan. Tanpa Ki Muni dan Ki Wasi. Ternyata mereka hanya mampu berbicara saja, berteriak-teriak. Tetapi mereka sama sekali tidak berarti apa-apa di peperangan.”

“Ki Wasi terbunuh oleh orangnya sendiri,” desis Argajaya.

“Itu lebih baik daripada ia berkhianat,” jawab Ki Tambak Wedi. “Nah, kalian harus segera mempersiapkan diri. Seluruh pasukan harus segera dapat digerakkan kembali dalam waktu yang sangat dekat.”

Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya ragu-ragu, “Tidak mungkin terlampau cepat Ki Tambak Wedi. Pasukan kita telah terpukul cukup parah. Aku kira kita memerlukan waktu dua tiga hari untuk menyusun pasukan itu kembali. Kalau benar Kakang Argapati tidak dapat bertahan, dan terjatuh di peperangan, itu berarti bahwa lukanya memang terlampau parah. Kalau tidak, ia pasti mampu tetap berdiri sampai tidak seorang lawan pun yang melihatnya. Karena itu, maka aku kira, dalam waktu dua tiga hari ini, Kakang Argapati pasti masih belum akan dapat bangun.”

“Tiga hari adalah batas terakhir,” jawab Ki Tambak Wedi. Lalu kepada Ki Peda Sura, “Bagaimana dengan orang-orangmu?”

“Kenapa dengan mereka?”

“Aku memerlukan beberapa orang terkuat lagi dari orang-orangmu untuk melawan setan-setan yang sekarang ada di Menoreh ini. Kau harus menyusun kelompok-kelompok kecil dari orang-orangmu yang terkuat.”

“Kenapa hanya orang-orangku? Di sini ada orang-orang lain yang cukup kuat pula.”

“Tetapi kau adalah gerombolan yang terbesar dan terpercaya. Aku lebih percaya kepadamu daripada orang-orang lain.”

Ki Peda Sura menggeleng-gelengkan kepalanya, “Berat. Terlampau berat menghadapi orang-orang Argapati.”

“Lalu bagaimana maksudmu?”

“Aku lebih baik menarik diri.“

“Gila. Kau gila. Dalam keadaan serupa ini kau menarik diri? Itu juga suatu pengkhianatan.”

“Lawan-lawanmu ternyata terlampau sulit untuk dikalahkan.”

“Tetapi Argapati sendiri sudah hampir mati.”

“Seperti saat-saat lampau, ia akan tiba-tiba muncul lagi di peperangan.”

“Mungkin, tetapi ia tidak akan dapat bertempur sepenuh tenaganya.”

“Tetapi aku lebih baik membawa orang-orangku merampok daripada harus berperang melawan Ki Argapati.”

“Gila. Itu tidak mungkin.”

“Kenapa tidak? Aku bukan orangmu yang harus tunduk kepadamu.”

“Tetapi kita sudah membuat perjanjian.”

“Aku ingin membatalkan perjanjian.”

“Gila, kau gila Peda Sura. Kau tidak dapat membatalkan perjanjian itu. Itu adalah suatu pengkhianatan. Dan kau harus menyadari, hukuman dari seorang pengkhianat.”

“Apa?” tiba-tiba Ki Peda Sura tersenyum, “Kau akan menghukum aku? Kau sangka aku semacam katak yang begitu saja dapat kau injak-injak?”

“Tapi aku mampu membunuhmu.”

“Mungkin aku akan mati, tetapi separo dari anak buahmu pasti akan mati juga. Orang-orangku yang tersisa akan dapat memanggil beberapa orang yang dapat membakar tanahmu menjadi abu. Kami meskipun tanpa aku, dapat menjelajahi ujung tanahmu ini sampai ke ujung yang lain, membunuh setiap orang dan merampas semua milik mereka, selagi kau berkelahi melawan Argapati.”

“Baik,” tiba-tiba Sidanti tidak dapat menahan hati, “marilah kita bertempur sampai sampyuh. Biarlah kita binasa semuanya. Apakah kau kira kau dapat menakut-nakuti kami?”

“Apakah begitu yang kau kehendaki, Sidanti?” jawab Ki Peda Sura.

Hampir saja Sidanti meloncat menerkam orang itu. Tetapi Ki Tambak Wedi berhasil menahannya. “Duduklah yang baik, Sidanti.”

Sadanti menggeram, tetapi ia duduk kembali di tempatnya. Ternyata betapa kemarahan membakar dada gurunya, orang tua itu masih dapat lebih menahan hati daripadanya sendiri.

Peda Sura masih duduk tenang-tenang saja di tempatnya. Bahkan ketika Sidanti telah duduk kembali ia berkata, “Kenapa tidak kau biarkan saja anak itu mati?”

“Jangan membakar hatinya lagi,” bentak Ki Tambak Wedi. “Kita ternyata adalah orang-orang yang paling bodoh di dunia. Kita bercita-cita setinggi langit, tetapi kita tidak pernah setia kepada cita-cita itu sendiri. Masalah-masalah yang tidak berarti kadang-kadang selalu kita anggap lebih penting dan lebih berharga untuk dipersoalkan.”

Sidanti hanya dapat menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan sorot matanya yang membara.

Dalam pada itu Argajaya masih mematung di tempatnya. Kadang-kadang ia mengerutkan keningnya, kadang-kadang mengangguk-anggukkan kepalanya, namun kadang-kadang ia mengeretakkan giginya.

Ki Peda Sura seolah-olah sama sekali tidak memperhatikan orang-orang yang berada di sekitarnya. Namun ternyata orang-orangnyalah yang telah mempersiapkan diri mereka diam-diam.

“Ki Peda Sura,” berkata Ki Tambak Wedi kemudian, “marilah kita persoalkan masalah yang sedang kita garap sekarang. Kita sudah tidak dapat berhenti di tengah-tengah jalan. Kita harus berjalan terus. Memang kau dapat memeras kami dalam saat-saat seperti ini. Tetapi seperti kau, kami pun dapat berbuat dengan sikap putus asa. Kalau kita membenturkan diri kita satu sama lain, maka akulah yang pasti akan tetap hidup. Harapan terbesar Sidanti dan Argajaya pun akan tetap hidup pula. Kematian orang lain dapat kami kesampingkan, apabila kami telah kehilangan arah perjuangan kami. Tetapi tidak demikian dengan kami. Aku, Sidanti, Argajaya, dan anak-anak muda, bahkan setiap laki-laki di atas Bukit Menoreh ini akan tetap berjuang untuk mencapai suatu cita-cita yang telah kita pahatkan di dalam hati.”

“Cita-cita itu adalah cita-cita kalian. Bukan cita-cita kami.”

“Benar, tetapi bukankah di dalam perjanjian itu telah tersebutkan bahwa kau akan mendapat banyak manfaat dari kemenangan ini? Dan bukankah manfaat itu juga suatu cita-cita bagimu?”

“Terlampau berat. Sama sekali tidak seimbang dengan korban yang harus aku berikan.”

“Tetapi itu lebih baik daripada kau tumpas di sini bersama-sama dengan kami. Katakanlah seperti yang kau ramalkan, separo dari kami. Kemudian kami menyerah, dan Sidanti akan diterima kembali oleh ayahnya. Sementara itu, kami akan menumpas sisa-sisa orang-orangmu di sarangmu.”

“Gila. Kalian jangan mencoba menakut-nakuti dan memperbodoh kami.”

“Dan kau jangan mencoba berkhianat.”

“Aku akan bekerja terus buat kau, tetapi selain yang tersebut dalam perjanjian, aku memerlukan tanahmu di bagian selatan membujur ke timur sampai ke kali Praga.”

“Gila,” sekali lagi Sidanti meloncat berdiri, bahkan kali ini bersama-sama dengan Argajaya. Dengan suara yang bergetar Argajaya berkata, “Kau akan memeras kami dengan cara yang licik itu, Peda Sura?”

Peda Sura mengerutkan keningnya. Ia tidak dapat duduk tenang-tenang saja, karena agaknya Sidanti dan Argajaya menjadi benar-benar marah mendengar tuntutannya itu.

“Ya, aku memang memerlukan tanah itu.”

Mata Sidanti telah menjadi semerah darah. Namun Ki Tambak Wedi berkata, “Duduklah. Duduklah. Kita tidak boleh menjadi gila oleh kekalahan kecil yang baru saja terjadi.”

Sidanti dan Argajaya masih saja berdiri di tempatnya.

“Dudukkah,” sekali lagi terdengar suara Ki Tambak Wedi.

Sidanti dan Argajaya menggeram, tetapi mereka duduk kembali di tempatnya.

“Permintaanmu telah membuat kami merasa tersinggung Ki Peda Sura,” berkata Ki Tambak Wedi.

“Terserahlah menurut penilaianmu. Tetapi kami tidak akan dapat membiarkan orang-orang kami mati terbunuh di sini tanpa imbalan yang cukup.”

“Apakah kau telah merencanakan untuk memperluas daerah perampasanmu sampai ke Mangir, Pliridan dan bahkan langsung ke seberang Hutan Mentaok?”

Ki Peda Sura tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Begitu?” desak Ki Tambak Wedi.

“Ya,” akhirnya Ki Peda Sura menjawab.

“Kau gila. Kau sangka Ki Ageng Mangir itu anak kecil yang dapat kau takut-takuti.”

“Persetan.”

“Dan kau sangka kau dapat melawan Daruka dan orang-orangnya dari Alas Mentaok?”

“Persetan pula dengan kelinci-kelinci kecil di Alas Mentaok itu.”

“Bagus. Kalau sudah kau pertimbangkan masak-masak, kau tentu akan tetap pada pendirianmu.”

“Tentu. Dan itu akan lebih baik buat kau. Kau akan mendapat seluruh Tanah Perdikan ini, selain seleret tanah di pasisir sampai ke Kali Praga itu.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Aku sependapat.”

“Guru,” Sidanti tiba-tiba memotong.

“Jangan gelisah Sidanti. Kita tidak mempunyai pilihan lain dalam keadaan serupa ini. Kita harus memenangkan peperangan ini.“

“Tetapi ……….” sambung Argajaya.

“Itu adalah keputusanku.”

Sidanti dan Argajaya terdiam. Namun serasa mereka menyimpan segumpal bara di dalam dada mereka.

“Jadi, kau terima syaratku, Tambak Wedi,” berkata Ki Peda Sura sambil menyipitkan matanya.

“Ya, aku terima syarat itu.”

Ki Peda Sura mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil memandang wajah Sidanti dan Argajaya berganti-ganti. Wajah-wajah yang seolah-olah telah terbakar.

“Aku percaya kepadamu, Ki Tambak Wedi,” berkata Ki Peda Sura. “Kita adalah orang laki-laki yang meletakkan nilai diri pada kata-kata dan perbuatan. Dan kau adalah salah seorang yang mempunyai nama yang menggemparkan, tidak saja di sebelah Selatan bumi Pajang, tetapi kau telah benar-benar mampu mengguncang pimpinan pemerintahan. Karena itu, kau tidak akan menelan ludah yang telah titik di atas tanah.”

“Ya. Aku pertaruhkan namaku atas janjiku.”

“Terimu kasih,” sahut Ki Peda Sura, “biarlah aku menyiapkan orang-orangku untuk peperangan yang lebih besar dan waktu yang tidak terbatas.”

“Ya, lakukanlah. Aku memerlukan setiap orang di dalam pasukanku. Secepat mungkin. Aku tidak dapat menunggu sampai terlambat. Apalagi sampai orang-orang Pajang semakin banyak berdatangan.”

Ki Peda Sura tertawa. Kemudian ia pun berdiri meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh beberapa orang yang lain.

Begitu Ki Peda Sura keluar dari pintu, Sidanti dan Argajaya tidak dapat bersabar lagi. Hampir bersamaan mereka bertanya, “Kenapa Guru memenuhi permintaan itu?”

Tetapi Ki Tambak Wedi tersenyum. Jawabnya, “Apakah kau kira aku akan memenuhinya kelak.”

“Tetapi Kiai telah mempertaruhkan nama Kiai.”

“O, kau sangka namaku adalah nama yang bersih seputih kapas? Biarlah. Namaku adalah nama yang memang aku korbankan untuk kepentingan kalian, untuk kepentingan Tanah Perdikan ini.” Ki Tambak Wedi berhenti sejenak, lalu, “Setelah kita selesai dengan Argapati, maka kita akan segera menyelesaikan tikus-tikus yang hanya akan meringkihkan kita saja.”

Sidanti tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk. Ia tidak begitu senang mempergunakan cara itu. Cara seorang pengecut.

“Jangan terlampau terikat oleh kejantanan dalam hubungan dengan orang-orang seperti Ki Peda Sura,” berkata Ki Tambak Wedi kemudian. “Orang itu terlampau licik. Dan kita pun harus licik pula menghadapinya.”

Sidanti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Juga Argajaya tidak berkata sepatah kata pun lagi.

“Beristirahatlah kalian. Sebentar lagi kalian harus bekerja keras. Menghimpun semua kekuatan yang ada. Kalian harus segera mendapat tenaga baru dari ujung sampai ke ujung Tanah Perdikan ini yang kira-kira dapat kita pergunakan. Kita harus mendapatkan kekuatan sedikit-dikitnya sebanyak yang telah kita pergunakan.”

“Hampir setiap orang telah berada di dalam barisan,” jawab Argajaya.

“Kita masih menyimpan banyak tenaga. Kalian belum memanggil orang-orang yang berada di lereng-lereng Bukit Menoreh dan di pesisir Selatan.”

“Aku sangsi, apakah mereka sependirian dengan kita. Samekta pasti telah sampai ke sana pula. Dan sebagian dari mereka pasti telah terpengaruh olehnya.”

“Kita jelajahi Tanah Perdikan ini.”

“Baiklah,” jawab Argajaya, “aku akan mencobanya. Aku memerlukan waktu sehari. Kemudian sehari lagi untuk menghimpun setiap kekuatan yang telah terkumpul.”

“Di hari ketiga kita telah siap untuk menggempur pedukuhan yang dibentengi dengan pring ori itu,” geram Ki Tambak Wedi, lalu, “semakin cepat selesai, pasti akan semakin baik. Di pihak Argapati pun jumlah pasukannya pasti sudah berkurang. Dan mereka tidak akan berkesempatan untuk mendapatkannya lagi dari luar pagar itu.”

“Mudah-mudahan,” desis Argajaya.

“Kita harus yakin,” sahut Ki Tambak Wedi. “Nah, aku pun akan beristirahat pula. Kalian harus melakukan tugas kalian sebaik-baiknya tanpa menunggu perintah lagi. Ingat, jagalah perasaan kalian, sehingga tidak menimbulkan persoalan yang dapat mengganggu kekuatan kita.”

Sidanti dan Argajaya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dan sejenak kemudian mereka pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.

Ketika Ki Tambak Wedi tinggal duduk seorang diri, maka tampaklah ia merenung. Ia menjadi sangat kecewa atas kekalahan yang baru saja dialaminya. Orang-orang yang tidak diperhitungkan ternyata tiba-tiba saja telah muncul di peperangan. Dan justru orang-orang itu adalah orang-orang yang ikut menentukan.

“Secepatnya Argapati harus terbunuh. Secepatnya.”

Iblis lereng Merapi itu menggeretakkan giginya. Ia pun kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Seperti orang yang kurang yakin, maka ia pun melihat orang-orangnya yang masih mampu untuk bertempur di waktu-waktu yang dekat.

“Jangan berkecil hati. Kesalahan yang terjadi adalah kesalahan kecil dalam penempatan pimpinan. Kesalahan itu adalah kesalahan yang memang sulit untuk dihindari. Tetapi kita sekarang telah mengetahui kekuatan lawan dengan pasti. Mereka mempergunakan orang-orang yang datang dari luar Tanah ini. Karena itu, kita harus menghancurkan mereka, merebut tanah ini dari kekuasaan orang gila pangkat dan derajat, sehingga melupakan kepentingan seluruh rakyat Tanah Perdikan Menoreh.”

Orang-orang di dalam pasukan Ki Tambak Wedi itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Meskipun sebagian dari mereka menjadi ragu-ragu, namun setiap kali mereka memantapkan pendirian mereka, “Sidanti adalah anak Argapati, dan Argajaya adalah adiknya. Mereka bersama-sama telah melawannya. Apalagi aku. Bukan sanak bukan kadangnya. Kalau Argapati tidak mempunyai kesalahan yang besar, maka keduanya pasti tidak akan sampai pada perlawanan antara hidup dan mati seperti ini.”

Dengan demikian, maka mereka pun telah menentapkan diri mereka sendiri dalam pilihannya, tanpa mengerti arti yang sesungguhnya. Apakah sebenarnya yang sedang mereka lakukan itu.

Pada saat Sidanti, Argajaya dan pembantu-pembantunya sedang sibuk mempersiapkan orang-orang mereka, memberikan pengharapan dan beberapa macam janji-janji, dan Ki Peda Sura yang sedang tertawa-tawa di antara anak buahnya, maka pada saat itu pula Ki Argapati sedang berbaring di pembaringannya, dikerumuni oleh para pemimpin pasukannya.

Mereka berpaling ketika mereka melihat seorang gadis yang memasang lampu di ajuk-ajuk di sudut ruangan.

“Duduklah pula di sini, Pandan Wangi,” desis ayahnya.

Pandan Wangi pun kemudian melangkah mendekat dan duduk di pembaringan ayahnya pula.

“Kita akan berbicara tentang peperangan,” berkata ayahnya. Dan Pandan Wangi pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kemarilah, mendekatlah semua,” berkata Ki Argapati kepada para pemimpin itu.

Mereka pun kemudian menarik dingklik-dingklik kayu mereka mendekati pembaringan Ki Argapati. Mereka adalah gembala tua yang telah mengobati Ki Argapati, kedua orang pengawal Sutawijaya, Hanggapati dan Dipasanga, kemudian Samekta, Kerti, dan Wrahasta.

Tetapi Ki Argapati masih mencari-cari di antara mereka. Sehingga kemudian ia bertanya, “Dimana kedua anak-anak itu?”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Dipandanginya wajah Pandan Wangi yang menjadi gelisah karenanya. Hampir saja ia mengatakan tentang keduanya, namun ketika dilihatnya alis Wrahasta yang berkerut, maka ia pun mengurungkan niatnya. “Biar orang lain sajalah yang menjawabnya,” katanya di dalam hati.

“Dimana?” ulang Ki Argapati.

“Mereka berada di halaman, Ki Gede,” jawab gurunya.

“Suruhlah mereka masuk.”

“Sudahlah, Ki Gede, biarlah mereka berada di halaman. Mereka hanya akan memenuhi ruangan ini saja. Biarlah aku nanti menyampaikan kepada mereka setiap keputusan.”

“Tetapi aku belum bertemu dengan mereka sejak pertempuran berakhir.”

“Mereka baik-baik saja, Ki Gede. Hanya Gupala tersentuh senjata Ki Muni yang tajamnya memang bukan main. Itulah yang telah membakar perasaannya, sehingga ia kehilangan kendali.”

“Tidak, bukan karena kehilangan kendali,” jawab Ki Argapati. “Adalah wajar sekali, di setiap peperangan, pada suatu saat terpaksa membasahi senjata dengan darah lawan. Justru aku akan mengucapkan terima kasih kepada mereka.”

“Akan aku sampaikan kepada mereka, Ki Gede,” berkata gembala tua itu.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak menaruh suatu kecurigaan apa pun tentang kedua anak-anak muda itu. Ki Argapati yang masih harus tetap berbaring itu sama sekali tidak mengerti, perasaan apa yang sebenarnya sedang bergolak di dada puterinya, di dada Wrahasta, dan pengamatan gembala tua itu atas kedua anak-anaknya. Gembala itu sudah mendengar ceritera tentang kedua anak-anaknya, sikap Wrahasta dan hubungan-hubungan lain yang memungkinkan persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan. Karena itu, sebagai orang tua yang mencoba untuk menghindari persoalan-persoalan yang tidak perlu, maka ia sudah berusaha, membatasi kedua anak-anaknya.

“Baiklah,” berkata Ki Argapati kemudian, “kalau mereka lebih senang menunggu di luar. Aku kira yang ada di dalam ruangan ini sudah cukup lengkap untuk mewakili setiap orang di dalam pasukan kita.”

“Begitulah,” jawab gembala tua itu.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenung, dan sejenak kemudian ia berkata, “Sayang, lukaku menjadi kambuh. Padahal kita sudah tersudut dalam suatu keadaan yang harus cepat kita tanggapi.”

Mereka yang mendengar, mengangguk-anggukkkan kepala tanpa mereka sadari. Karena apa yang dikatakan oleh Ki Argapati itu adalah yang mereka katakan di dalam hati masing-masing.

“Kalau kita terlambat, maka Tambak Wedi akan datang lagi bersama pasukannya yang lebih kuat.”

“Ya, Ki Gede,” jawab Samekta, “mungkin Ki Tambak Wedi menjadi mata gelap dan berbuat semakin jauh menyesatkan orang-orang dari Tanah Perdikan ini. Hubungan dengan orang-orang semacam Ki Peda Sura, sebenarnya sama sekali tidak menguntungkan bagi Tanah ini.”

“Tentu. Dan tidak mustahil apabila Ki Tambak Wedi akan terdorong semakin jauh lagi dalam hubungan itu.”

“Dengan demikian kita harus menanggapinya secepat-cepatnya.”

“Jadi bagaimana pendapatmu, Samekta?”

Samekta tidak segera menjawab. Tanpa disadarinya ia berpaling, memandangi wajah gembala tua yang sedang berkerut-merut.

“Ki Gede,” berkata Samekta kemudian, “meskipun bukan orang Menoreh, tetapi mereka yang sudah membantu kita, agaknya akan dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan yang baik meskipun tidak mengikat.”

“Tentu, tentu,” sahut Ki Argapati. “Nah, bagaimana pertimbangan kalian?”

Hanggapati, Dipasanga, dan gembala tua itu merenung sejenak. Yang mula-mula berbicara adalah gembala tua itu, “Kalau aku diperkenankan memberikan pertimbangan, Ki Gede, maka sebaiknya kita tidak menunggu saja di dalam lingkungan pring ori ini. Sebelum mereka menyadari apa yang terjadi setelah peperangan ini, sebaiknya kita menyusul mereka, masuk kembali ke induk Tanah Perdikan ini.”

Ki argapati mengerutkan keningnya. Namun ia melihat setiap orang mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan Wrahasta menyambung, “Ya Ki, Gede. Itu adalah jalan yang paling dekat untuk mengambil kembali Tanah ini dari tangan mereka. Saat-saat ini mereka pasti sedang menyusun kekuatan mereka kembali. Aku kira apabila kita menyusul mereka, mereka pasti akan terperanjat. Sedang induk Tanah Perdikan itu justru tidak mempunyai pagar pring ori serapat ini.”

Ki Argapati masih belum menjawab. Tampaklah wajahnya yang suram itu menegang. Kemudian perlahan-lahan terdengar ia berdesis, “Tetapi aku masih belum dapat bangkit dari pembaringan ini.”

Setiap orang di dalam ruangan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka mengerti, betapa Ki Argapati sedang dikungkung oleh luka yang parah di dadanya itu. Selain daripada itu, mereka pun mengerti pula, bahwa Ki Gede telah memperingatkan, siapakah di antara mereka yang sanggup untuk melawan Ki Tambak Wedi?

Karena itu, maka ruangan itu menjadi hening sejenak.

“Tetapi,” Ki Argapati pun kemudian berbicara pula perlahan-lahan, “kita memang tidak dapat menunggu lagi. Soalnya sekarang, bagaimana kita harus melawan iblis yang paling licik itu.”

Gembala tua yang ada di dalam bilik itu pun menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah sampai pada suatu batas tertentu, di mana ia tidak akan dapat bergurau lagi. Kalau ia kali ini harus menyatakan cirinya, maka ia pun harus menyelesaikannya sekaligus. Karena itu, maka ia pun tidak segera menemukan suatu sikap yang mantap untuk segera menyanggupi untuk melawan Ki Tambak Wedi.

Hanggapati dan Dipasanga pun hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka berdua tidak akan dapat menyatakan diri mereka untuk bersama-sama melawan Ki Tambak Wedi, karena mereka berdua pun tidak yakin, bahwa Ki Tambak Wedi dapat mereka tundukkan.

Dengan demikian maka sekali lagi mereka yang ada di dalam ruangan itu terdiam sejenak.

“Ki Gede,” Samekta-lah kemudian yang memecahkan kediaman mereka, “kalau Ki Tambak Wedi sempat menyiapkan pasukannya dan bahkan mungkin menghimpun orang-orang yang masih bertebaran di desa-desa kecil di atas Tanah Perdikan ini, entah dengan cara apa pun yang akan ditempuhnya, maka kita akan menghadapi kesulitan.”

“Ya, aku mengerti Samekta,” jawab Ki Argapati, “pendapat itu adalah pendapat yang paling baik saat ini. Tetapi yang membuat kita bertanya-tanya, siapakah lawan Ki Tambak Wedi. Hanya itu.”

Samekta menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia memandangi wajah gembala tua yang duduk sambil mengangguk-angguk kecil.

“Apakah ia mampu,” desis Samekta di dalam hatinya, “di dalam peperangan ini ternyata ia dapat mengusir Ki Peda Sura yang tingkat ilmunya tidak terlampau jauh dibawah Ki Tambak Wedi. Tetapi apakah ia bersedia dan mampu untuk berhadapan dengan Ki Tambak Wedi sendiri, meskipun seandainya diperlukan satu atau dua orang untuk membantunya.”

Dalam keragu-raguan itu Wrahasta berkata, “Ki Gede. Kita memang tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, bagaimanakah seandainya kita menyusun suatu kelompok kecil dari orang-orang pilihan untuk menghadapi Ki Tambak Wedi?”

Ki Argapati mengangguk-angguk, “Memang mungkin dilakukan, Wrahasta. Nah, bagaimana menurut pertimbanganmu.”

“Mungkin dua tiga orang yang akan memimpin kelompok kecil itu. Ki Hanggapati, Ki Dipasanga, dan salah seorang dari kami, maksudku, Paman Samekta, Paman Kerti, atau aku.”

Ki Argapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Lalu bagaimana pertimbanganmu mengenai Sidanti dan Argajaya?”

“Kita dapat membuat kelompok-kelompok serupa. Pandan Wangi didampingi oleh salah seorang dari kami, dan yang lain bersama-sama melawan yang seorang dari mereka.”

Gembala tua yang duduk terangguk-angguk itu pun masih juga terangguk-angguk. Ia merasakan keanehan sikap Wrahasta ini. Di dalam susunannya sama sekali tidak disinggung-singgung Gupala dan Gupita, juga dirinya sendiri. Tetapi gembala tua itu masih juga berdiam diri.

“Wrahasta,” berkata Ki Argapati itu, “pada dasarnya, pikiran itu adalah pikiran yang sebaik-baiknya. Kita harus mengambil jalan itu untuk melawan para pemimpin di dalam pasukan Ki Tambak Wedi. Hanya mungkin kau masih melupakan beberapa orang yang ada diantara kita. Dukun tua ini, dan kedua anak-anaknya.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Dipandanginya gembala tua itu. Kemudian katanya, “Kita akan berterima kasih kalau ia bersedia membantu kita Ki Gede. Kita masih mempunyai seorang lawan. Ki Peda Sura. Biarlah mereka bersama-sama melawan Ki Peda Sura.”

Argapati mengerutkan keningnya. Katanya, “Wrahasta, bukankah kau tahu, bahwa gembala tua itu seorang diri dapat mengalahkan Ki Peda Sura, dan salah seorang anaknya bersama-sama dengan Pandan Wangi mampu melukainya? Kau dapat mengambil kesimpulan, kemungkinan yang dapat mereka lakukan untuk peperangan ini.”

“Itu adalah pertimbangan yang bijaksana,” sahut Kerti, “Ki Sanak ini memiliki kemampuan di atas kita. Setidak-tidaknya ia mampu melawan Ki Peda Sura. Nah, bagaimana kalau pikiran Wrahasta itu mendapat perubahan sedikit. Maksudku, biarlah dukun tua ini menempatkan diri bersama satu dua orang untuk melawan Ki Tambak Wedi.”

Dada Wrahasta menjadi berdebar-debar. Sebenarnya ia mengakui, bahwa memang kemungkinan itulah yang paling baik. Tetapi dengan demikian, kedudukan gembala itu akan menjadi semakin kuat, sehingga kedua anak-anaknya pun menjadi semakin mantap pula berada di lingkungan Tanah Perdikan ini. Padahal bagi Wrahasta, kedua anak-anak gembala itu merupakan duri yang serasa selalu menyengat dagingnya.

Hampir saja Wrahasta berteriak menolak pendapat Kerti itu. Namun ternyata ia tidak dapat mencari alasan yang lebih baik lagi. Karena itu, maka tanpa mengucapkan jawaban ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan kesan di wajahnya.

Yang terdengar adalah suara Ki Argapati lambat, “Pendapatmu tepat Kerti. Tetapi biarlah aku bertanya kepadanya, karena ia seorang tamu bagi kita di sini, apakah ia bersedia melakukannya. Seandainya ia bersedia, maka aku percaya, bahwa ia tidak memerlukan orang lain untuk melawan Ki Tambak Wedi.”

Kerti mengerutkan keningnya. Kemudian mengangguk perlahan. Dipandanginya wajah gembala tua yang masih menunduk itu. Kemudian wajah Ki Argapati yang pucat. Ketika terpandang olehnya wajah Wrahasta, maka orang tua itu melihat sepercik kekecewaan membayang di sorot matanya.

Tetapi Wrahasta tidak dapat mencegah pertimbangan Ki Argapati itu. Karena ia tidak akan dapat membuat kemungkinan yang lebih baik daripada itu.

Ruangan itu menjadi hening sejenak. Mereka seakan-akan menunggu sikap gembala tua yang masih tetap berdiam diri itu.

“Bagaimana pendapat Ki Sanak?” bertanya Ki Argapati. “Kau sudah mendengar apa yang seharusnya aku katakan kepadamu.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam.

“Tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik daripada itu. Kami sudah tidak dapat melihat kekuatan di atas bukit ini yang mampu untuk melakukannya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Berbagai per-timbangan telah memenuhi dadanya. Namun akhirnya ia sampai pada kepentingan yang lebih dekat pada diri sendiri.

“Aku seharusnya tidak melibatkan diri terlampau jauh di dalam persoalan ini,” katanya di dalam hati. “Tetapi apabila aku melepaskan kemungkinan kali ini, maka akibatnya akan menjadi sangat jauh. Memang tidak ada orang yang dapat ditempatkan di ujung pasukan untuk melawan Ki Tambak Wedi. Kalau aku tidak bersedia melakukannya kali ini, maka sudah pasti, bahwa perjuangan Ki Argapati tidak akan segera berhasil. Bahkan mungkin pada suatu ketika Ki Tambak Wedi akan berhasil menguasai seluruh daerah perbekalan pasukan pengawal ini, sehingga lambat atau cepat, Menoreh akan jatuh ke tangannya pula. Akibatnya tidak hanya akan berpengaruh di atas tanah ini, tetapi pasti akan sampai ke seberang Kali Praga. Apalagi Alas Mentaok yang akan tumbuh. Mangir, Pliridan, dan akan sampai pula ke sebelah Alas Mentaok dan Alas Tambak Baya.”

Gembala tua itu menarik nafas. Bahkan terbayang di kepalanya, Ki Tambak Wedi akan terus melawat ke Timur, ke Pajang dan daerah di sekitarnya. Apalagi agaknya Pajang baru disaput oleh awan yang suram, sepeninggal Ki Gede Pemanahan.

“Bagaimana Kiai?” bertanya Ki Argapati kemudian karena gembala tua itu masih belum menjawab.

Perlahan-lahan orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun bertanya, “Tetapi apakah kalian percaya kepadaku bahwa aku akan dapat melawan Ki Tambak Wedi.”

Ki Argapati yang sedang terluka itu tersenyum. Katanya, “Betapa kami dapat menduga akhir dari pertempuran itu? Namun menurut perhitunganku, maka kau akan dapat melakukannya. Bagaimanapun kau mencoba merendahkan dirimu, tetapi kami tidak akan salah memandang kemampuan yang ada padamu, Kiai.”

“Hem,” gembala tua itu menarik nafas. Sekilas disambarnya wajah Wrahasta yang tegang.

“Kami sangat mengharap bantuanmu, Ki Sanak,” berkata Ki Argapati. “Mungkin kau mentertawakan aku, bahwa dalam penyelesaian Tanah ini aku harus mencari bantuan kepada orang lain.” Ki Argapati berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi Tanah ini berada dalam keadaan darurat. Kami harus melawan kekuatan yang membahayakan. Dan kami tahu, bahwa kau dan anak-anakmu pun mempunyai tujuan serupa.”

Gembala tua itu tidak segera menjawab. Ia masih dicengkam oleh kebimbangan.

“Kami, seluruh tanah perdikan ini menunggu keputusanmu,“ desis Ki Argapati.

Wrahasta mengerutkan keningnya. Ia tidak sependapat dengan Ki Argapati, yang seolah-olah menggantungkan nasib tanah perdikan ini kepada orang tua itu.

“Apakah yang dapat dilakukannya tanpa kami? Tanpa seluruh pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pemimpinnya?”

Namun dadanya berdesir ketika ia mendengar justru orang tua itu yang mengucapkannya. Katanya, “apakah artinya aku seorang diri, Ki Gede? Kekuatan Menoreh terletak pada para pengawalnya. Kalau aku kemudian ikut serta di dalamnya, aku hanyalah setitik air di dalam lautan.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Wradrasta yang tegang itu menundukkan kepalanya, seolah-olah orang tua itu melihat isi dadanya dan telah menyebutkannya.

Namun dengan demikian, Wrahasta melihat suatu kelebihan pada orang tua itu. Orang tua yang oleh orang-orang Menoreh sendiri telah dianggap sebagai satu-satunya penolong yang dapat melepaskan tanah ini dari bencana, ternyata orang itu sendiri tidak melepaskan pengakuan, bahwa sebenarnya kekuatan terbesar adalah terletak pada orang-orang Menoreh sendiri.

“Kiai,” berkata Ki Gede, “kau memang seorang yang aneh. Tetapi baiklah aku bertanya sekali lagi, apakah kau bersedia bekerja bersama kami mengalahkan kekelaman maksud Ki Tambak Wedi untuk menguasai Tanah ini?”

Gembala tua itu termenung. Namun kemudian perlahan-lahan kepalanya bergerak-gerak. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Baiklah, Ki Gede. Lepas dari masalah Tanah Perdikan Menoreh, aku memang mempunyai persoalan dengan orang itu.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia bertanya, “Persoalan apakah yang telah melibat kalian?”

Gembala itu menggelengkan kepalanya, “Persoalan yang langsung dan bahkan terlampau pribadi.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, persoalan yang terlampau pribadi.” Ia berhenti sejenak, kemudian, “Adalah kebetulan sekali. Kebetulan bagi tanah perdikan ini, bahwa kau berada di sini dengan persoalanmu itu, sehingga kau akan terlibat dalam pertentangan di antara keluarga Menoreh.”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah,” berkata Ki Argapati, “masalah yang lain tidak akan terlampau sulit. Gembala tua ini akan langsung berhadapan dengan iblis dari lereng Gunung Merapi itu. Aku percaya kepadanya dan aku sama sekali tidak meragukan kemenangan yang bakal datang.”

Beberapa orang di dalam ruangan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Pandan Wangi menunggu keputusan ayahnya dengan hati yang berdebar-debar. Dan ia melihat, bahwa pembicaraan itu agaknya sudah akan segera selesai.

Namun sekilas Pandan Wangi melihat juga wajah Wrahasta yang menegang. Dan Pandan Wangi menjadi berdebar-debar karenanya. Apabila pada suatu ketika Wrahasta tidak dapat mengekang dirinya lagi, maka akibatnya tidak akan menyenangkannya, dan bahkan tidak akan menyenangkan bagi tanah perdikan ini.

“Setiap unsur di dalam pasukan ini memang menentukan,” desis Pandan Wangi di dalam hatinya. “Apabila salah satu dari unsur-unsur ini tanggal, maka akibatnya akan membuat kita menyesak untuk waktu yang lama. Agaknya kekuatan yang ada di dalam pasukan ini terlampau terbatas, sehingga kita memerlukan seluruhanya. Tidak boleh ada satu pun yang tinggal.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 5 November 2008 at 01:18  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-44/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sepertinja buku 42 djvu djuga perlu diperbaiki agar jang mau re-type tidak merasa sungkan.

    Dengan demikian ternjata halaman 8, 9, 10, 12, 14, 15, 18,22 sulit dibaca, sehingga kedua gembala itupun belum berhasil menjelesaikan batjaannja.

    D2: Sudah diperbaiki kok. Betul kan Kang Sukra?

  2. betul banget bos DD.
    silakan klik cover untuk mengunduh file adbm42.djvu nya

  3. kok covernya sdh di klik tapi gk kedownload yaa…
    yg kluar cuma file gambarnya aja….

    D2: infonya di halaman berikutnya

  4. bukan di klik kanan kisanak, tapi klik kiri.
    monggo dipun cobi malih.

  5. wah kok ngak bisa tuh ya, mana yang diklik

  6. dari kemarin jilid 44 nya belum nongol-nongol ya?
    apa mas herry masih sibuk atau lagi pesta kemenangan obama ? hehehehhe

    tetap semangat.

  7. Saya tetap setia menanti dari kemarin hingga pagi ini, sebelum kabuuuur dari kantor

  8. Salam kenal para penggemar ADBM Mania, untuk jilid 44 nya kok belum keluar2 jadi penasaran dech…..hehehe…

    Untuk team ADBM tetap semangat….

  9. Hari ini di Singapore banyak orang berdebar2 menunggu hasil undian TOTO S$ 1,5jt, bahkan di loket penjual dkt rumah msh panjang antrian orang mau beli.
    Tapi saya jauh lebih berdebar2 dari mereka, bahkan sampai gemetar menunggu jilid 44 yg dari kemarin belum lahir. Moga2 keewuhan mas Herry lancar semuanya, dan beliau cukup istirahat, shg bisa kembali menurunkan ilmunya lewat jilid 44 dst….

  10. Jian…sabar subur…..taksih kulo tenggo kyai…

  11. Duh gusti nyuwun ngapuro..
    mohon maaf agak t’lat kirimnya, disamping rodo2 n pura2 sibuk cangkulan, juga proses scan jan2-e udah lama cuma harus di proses, diguntang-gunting pke photoshop ben-e ra pating plethot, kmd kpstasnya dikecilkan pke paint dst..dst..

  12. mungkin hari ini bisa hadir double 44 dan 45 , obat nunggu dari kemarin, nuwun

  13. tetap setia menanti…jilid demi jilid ….
    maaf kang herry … kami baru bisa bantu doa dari jauh…

  14. Nuwun sewu lho mas Herry…
    para pemuda padukuhan ini memang penginnya cepet2 terus.. he.. he…
    All the best mas Herry, whatever you do, kami sabar menunggu, mengerti dan percaya bhw panjenengan pasti do the best for us.

  15. saia juga sabar menanti kok

    FYI: Hits akan mencapai 200 ribu

    thanks

  16. ini mungkin yang disebut perang urat syaraf….he..he..
    memang sangat mendebarkan dan gregetan antara harapan untuk melihat adbm-44 dan marah yang dipendam karena ga keluar-luar….sungguh hebat ilmunya mas Herry ini …
    sangat ngegrigisi ilmu dari perguruan Mpu Windujati ini

  17. belum nongol juga jilid 44…

  18. aku yakin… hari ini mas herry jadi orang yang paling dikangenin adbm mania..hehehehe…
    Nek aku dadi tonggone mas herry…. mesti tak ewangi nyecan…. mumpung di rumah ada scan ama djvu solo 3.1 nganggur….
    Bravo mas…..

  19. Halo Mas Herry,.. sebentar lagi sudah mau sore lho,.. Kirimannya sudah ditunggu-tunggu sama orang-orang sa padukuhan adbm, hehehe…

    Salam, Aulianda.

  20. Mas Herry emang pinter bikin deg2an, bolak-balik masuk kok yang tambah banyak commentnya aja he..he…

    sabar2 kisanak semua, seperti agung sedayu, jangan grusa-grusu kayak sidanti, ato swandaru juga ya?

  21. Mas Heri Yth, yen mas heri percoyo, mbok dicoba scane nganggo full colour (biasane pake standar 200 dpi) terus
    ditransfer neng djvu solo 3.1. ngganggo 400 dpi (default 100 dpi) ditanggung hasile apik uk size 800 – 900 kb (nanging uga gumantung kualitas bukune lha jenenge wae buku lawas cetakan tahun 70 an)
    nanging sanajan kaya apa wae wus nrima lan maturnuwun banget marang “kerja keras Mas DD, Mas Heri dkk”.
    ku kan sabar menanti.

    D2: 800-900 kb per halaman? Kalau sebuku 37 halaman, jadi …..

  22. “…sore yang indah sekaliii..hemmm yaa…”

  23. kulo sekeluargo ngaturaken matur nuwun kalih sederek sedoyo.

    lho kok keluargo ?

    lha kulo uring-uringan je.. yen mboten moco adbm ben dino 😀

  24. aku coba scan pake “djvu solo 3.1”, langsung save dalam format djvu, untuk satu mukanya (2 halaman) besar file-nya hanya 30 kb. (menggunakan setting standar, tanpa merubah defaultnya). hasilnya udah sip

  25. maturnuwun semuanya

  26. he he D2 satu buku 800 – 900 Kb full colour, kulo nggih pun asring make kok, sayang aku nggak punya hard copynya, tapi tunggu beberapa hari lagi aku bakal nyumbang djvu full colour

  27. Nyoba buka file pdf pake adobe pdf reader di hp ga bs ya…Pake softw apa ya supaya mudah di baca pk hp?? Trima ksh..

  28. Mas D2, kayaknya ukuran file djvu-nya mendingan di bawah 2000kb deh, soalnya kejadian lagi kaya sebelumnya, mandek di tengah jalan downloadnya.

    thanks.

  29. Wah…wah…wah….., halaman depannya bener-bener apik tenan, cckk…ccckk….cccck…..

    wis jan salut tenan……

  30. Iya,. makin kereen abiss,.. Maju teruss Padepokan ini ,..

    Salam, Aulianda

  31. mugo-mugo sesuk wis sing jilid 44 wis terbit..
    yen ora lak malem mingguku kelabu tenan iki mengko

    D2: Sekarang bisa kok

  32. kulo milai maos adbm jilid 1 th 1968( manawi mboten klentu jilid 1 terbit oktober 1967). milai swargi sedo kulo mboten saget maos malih.
    namung matur sembah nuwun ingkang saget kulo aturaken dumateng sedoyo konco2 ingkang kerso mosting upload, sameniko kulo milai malih maos jilid 1.

  33. Om Sukra: buku 42 msh belum bisa tuh, 🙂
    Admin adbm : Respek dan hormat yg sebesar-besarnya atas kepedulian dan kerja kerasnya melestarikan budaya bangsa ini. Semoga semuanya sehat selalu, dan di lancarkan dalam setiap usahanya. Maturnuwun sanget..

  34. “Bagaimana Wangi…??” tanya Wrahasta.
    “Wah, uambune uapek….!!!” jawab Ki Menggung dengan serta merta.
    “Salah Ki, uambune ledhis..!!!” sergah Ki Bukansms.

    • pol poko’e 😀

      • poko’e 😀 pol amBUNe

        • poko’e gundul pol-pole

          • popo’e….mambu ompol 😀

            • lha trus ompole mambet nopo ki kartu ?

              • :mrgreen:

                • Pesss…………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: